Dampak Inflasi, Kesehtan, dan pendidikan
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi middle income country mengalami pertumbuhan yang tinggi hal terlihat dari pertumbuhan GDP middle income country sekittar 4,9 % pada tahun 2012. pertumbuhan ekonomi middle income country disebakan terjadinya krisis ekonomi pada Negara eropa sehingga investor menanamkan modal di Negara middle income country yang memiliki potensi ekonomi yang besar di masa depan, mereka memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia sebagai kekuatan daya beli dan tenaga kerja yang murah dan terampil
Pertumbuhan ekonomi middle income yang tinggi yang disebakan oleh sumber daya manusia yang murah dan terampil(SDM) dan kekuatan daya beli.Pertumbuhan ekonomi ekonomi middle income akan berkesinambungan jika negara mampu mengembangan SDM dan tingkat daya beli.Negara yamg memiliki good governance yang baik akan mengembangan SDM. Negara yamg memiliki good governance dapat menjaga stabilitas inflasi agar tidak mempegaruhi daya beli. meningkatkan pertumbuhan.Akses masyrakat atas kesehatan masyarakat dapt ditingkatkan dengan memberikan subsidi pada fasilitas kesehatan
Pendidikan merupakan hal yang mempegaruhi pertumbuhan ekonomi .pendidikan dapat meningkatkan human capital. Hal ini dikarenkan pendidikan meningkatkan skill , knowledge sehingga dapat mendorong tingkat produktivitas tenaga kerja.Ekonom menyadari bahwa investasi dalam pendidikan lebih memiliki return yang tinggi untuk masa depan dibandignkan dengan konsumsi.Ekonom percaya bahwa “ impressive rise “ Pada pendapatan perkerja pada negara industry disebakan tumbuhnya human capital dan Negara lower income disebutkan tidak mencukupinya investasi pada pendidikan (manusia).
untuk bekerja lebih efisien. Sebaliknya, ekonom heterodoks telah menekankan peran pertumbuhan meningkatkan governance, yang berfokus pada kapasitas tata kelola untuk mengatasi kegagalan pasar bercokol dalam mengalokasikan aset, memperoleh meningkatkan produktivitas teknologi dan memelihara stabilitas politik dalam konteks
transformasi sosial yang cepat
LITERATUR REVIEW
Sejumlah studi empiris telah membuat jelas pentingnya matriks institusional (lihat Knack dan Keefer, 1995). Matriks institusional yang luas terdiri struktur insentif yang akan menentukan kuantitas dan kualitas investasi.Kuncinya adalah bagaimana caranya agar institusi tidak akan menghambat proses perubahan kelembagaan dan ekonomi.lembaga-ekonomi dan politik telah menjadi penghalang utama bagi pembangunan, masih merupakan kendala utama bagi dunia ketiga dan ekonomi transisi
Shalendra D. Sharma dalam Taiwan Journal of Democracy (et.al) mengatakan
Kemampuan untuk merespon secara efektif terhadap
tantangan-tantangan ini banyak tergantung pada sumbangan
kelembagaan masing-masing negara. Membangun dan memperkuat
institusi hibah ini merupakan prasyarat untuk pemerintahan yang
baik, karena perkembangan ekonomi yang berkelanjutan adalah
mustahil tanpa pemerintahan yang baik.
Pertumbuhan yang cepat itu memerlukan intervensi pelengkap pertumbuhan yang dapat ditingkatkan oleh negara-negara dan kemampuan pemerintahan untuk memastikan bahwa peraturan dilaksanakan secara efektif (Aoki, Kim dan Okuno-Fujiwara, 1997; Khan dan Jomo, 2000). Hal ini dikarenakan negara menciptakan insentif dan kesempatan untuk membantu alokasi sumber daya atau akuisisi teknologi, pasar sendiri mungkin juga tidak cukup sebagai mekanisme pendisiplinan. Kapasitas Pemerintahan sekarang diminta untuk memastikan bahwa masalah moral hazard tidak menumbangkan strategi pertumbuhan meningkatkan. Persyaratan pemerintahan yang tepat tergantung pada mekanisme khusus melalui mana upaya negara untuk mempercepat akuisisi teknologi dan investasi
kumpulan data menyediakan indeks untuk sejumlah variabel kunci yang mengukur kinerja negara dalam memberikan penguatan pasar pemerintahan. Lima indeks yang relevan dalam set data untuk 'korupsi dalam pemerintahan', 'rule of law', 'kualitas birokrasi', 'penolakan kontrak pemerintah', dan 'risiko pengambilalihan'. Indeks ini memberikan ukuran sejauh mana pemerintahan mampu mengurangi biaya transaksi terkait yang dianggap perlu untuk pasar yang efisien
Dalam data cross-section dan times series regresi Fischer (1993) and De Gregorio (1993)menemukan adanya hubungan negative inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi dan pertumbuhan yang berkorelasi positif ketika tingkat inflasi rendah sekitar 2%-3%. Sebaliknya, inflasi dan pertumbuhan berkorelasi negatif, tetapi hubungan ini convex, sehingga penurunan pertumbuhan terkait dengan peningkatan dari 10 persen menjadi 20 persen inflasi jauh lebih besar daripada yang terkait dengan bergerak dari 40 persen menjadi 50 persen. mereka menemukan bahwa hubungan inflasi pertumbuhan negatif jelas di kedua waktu dan cross-section data itu berkorelasi negative.
GOMME (1993)mengkaji hal yang serupa dengan yang ditentukan oleh Cooley dan Hansen, yaitu, peningkatan inflasi menyebabkan hasil penurunan lapangan kerja. Menurut penelitian GOMME itu, alokasi efisien memenuhi syarat bahwa nilai marjinal unit terakhir dari konsumsi saat ini sama dengan biaya marjinal unit terakhir dari pekerjaan. Kenaikan inflasi mengurangi nilai marjinal unit terakhir hari ini konsumsi, sehingga mendorong masyarakat untuk bekerja kurang.
Pendidikan telah lama dipandang sebagai penentu penting dari kesejahteraan ekonomi. Literatur Pertumbuhan teoritis menekankan setidaknya tiga mekanisme melalui mana pendidikan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pertama, pendidikan dapat meningkatkan modal manusia yang melekat dalam angkatan kerja, yang meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan sehingga transisi menuju tingkat ekuilibrium output yang lebih tinggi (seperti dalam augmented teori pertumbuhan neoklasik, lih. Mankiw et al. (1992)). pendidikan dapat meningkatkan kapasitas inovatif ekonomi, dan baru pengetahuan tentang teknologi baru, produk, dan proses mendorong pertumbuhan (seperti dalam teori pertumbuhan endogen, lih., misalnya, Lucas (1988), Romer (1990), Aghion dan Howitt (1998)).
METODOLOGY
Negara Ratio Anggaran
kesehatan/penduduk Inflasi GDP/penduduk pendidikan(completed primary) governance effevtiveness
Arab Saudi 758 19.8 20,778 106 -0.43
Afrika Selatan 689 5.5 7,508 0.37
Egypt, Arab Rep. 137 10.1 946 98 -1.29
India 59 8.2 1,489 97 -1.20
Indonesia 95 4.5 3,557 108 -0.82
Korea Selatan 1,616 1 22,590 101 1.23
Lao PDR 37 3.5 1,233 93 -0.91
Data yang digunakan merupakan data dari 19 negara yang berada di Asia pasifik.Data memiliki proporpsi yang diklasifikasikan berdasarkan pendaptan per capita. Negara high income sebesar 26% Negara upper middle income 27% ,dan Negara lower middle income 47%.Data penelitian 19 Negara Asia Pasifik ini memiliki mean GDP per cap $ 9,896 ,mean inflasi tahunan 5,3%.
Data disusun dengan mengunakan table cross-section dengan 1 variable dependent GDP/capita dan 4 variable independent. Analisa dampak variable independent terhadap variable dependent mengunakan multiple regression (OLS).
INDIKATOR SIMBOL SUMBER DATA
GDP Per CAPITA** GDPCAP WORLD BANK INDICATOR
INFLASI INFL WORLD BANK INDICATOR
EXPENDITURE HEALTH Per CAPITA EXPHEALTH WORLD BANK INDICATOR
GOVERNMENT effectiveness GOVEFFECT WORLD GOVERNMENT INDICATOR
Nilai residue (e) dari variable ini memiliki probability 5,7% dengan jarque-bera 5,73 sehingga data dapat disebut distribusi normal sehingga data ini dapat lakukan uji t-stat. tingkat heteroskedasitas menujukan probalitas niali t-stat dari uji breusch-pagan-godfrey ialah 23,27% dengan nial t-stat 1,62 ,hal ini menunjukan bahwa model ini homoskedasitas.
Grafik resid01 menujukan secara visual bahwa sebaran residue tidak memiliki pola yang jelas (tidak berpola).secara visual menunjukan bahwa standar deviasi dari residue homoskedasitas.
-20,000
-10,000 0 10,000 20,000 30,000 40,000
2 4 6 8 10 12 14 16 18
RESID01
Model ekonometrika yang digunakan untuk mengnalisa korelasi pendidikan ,pengeluaran kesehatan, government effectiveness dan inflasi terhdap GDP per capita mengunakan model linear.
GDPCAP=f(C,infl,GOVEFFECT, EXPHEALTH, PRIMARYSCHOOL)
GDPCAP = α + β0 infl + β1 GOVEFFECT + β2
EXPHEALTH + β3
PRIMARYSCHOOL
( linear 1.1)
log(GDPCAP)=f{(C,log(infl,GOVEFFECT,log( EXPHEALTH), log(PRIMARYSCHOOL)} log-linear(2.1)
log(GDPCAP) = α + β0 log(infl) + β1 GOVEFFECT + β2
log(EXPHEALTH) +
β3 log(PRIMARYSCHOOL)
log-linear(2.1)
Model ekonometrika yang digunakan untuk menganalisa korelasi government effectiveness dan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi mengunakan model log-linear
Log(gdpcap)= f{(C,
GOVEFFECT, log(PRIMARYSCHOOL)} dibobot dengan residue^2
log(GDPCAP) = α + β0 GOVEFFECT + β2
β3 log(PRIMARYSCHOOL)
log-linear
(2.2)
Presentasi Hasil dan Diskusi Tabel Regresi 1.1
Tabel Korelasi 1.2
, GDP/capita 1, INFL , -272.3113*** (89.20958)
2, GOVEFFECT, -1386.461 (890.6811)
3, EXPHEALTH, 11.65281*** (0.380395)
4, PRIMASCHOOL, 715.0146*** 53.28867
6 C , -6.56E+04*** (4862.855)
R2 ,0.463718
GDP_PENDUDU
K GOVERNANCE_EFFEVTIVENESS INFLASI PENDIDIKAN_COMPLETED_PRI RATIO_ANGGARAN_KE SEHATAN GDP_PENDU
DUK 1.000000 0.489438 -0.204737 0.599338 0.405783 GOVERNANC
E_EFFEVTIVE NESS
0.489438 1.000000 -0.557171 0.610961 0.507194
INFLASI -0.204737 -0.557171 1.000000 -0.188562 -0.158055 PENDIDIKAN_
COMPLETED _PRI
0.599338 0.610961 -0.188562 1.000000 0.158743
RATIO_ANGG ARAN_KESE
HATAN
0.405783 0.507194 -0.158055 0.158743 1.000000
Tabel korelasi 1.2 menujukan model linear (1.1) tidak memiliki multikolinearitas .Multikolinearitas dapat dideteksi dengan analisa korelasi. Pada table korelasi 1.2 menunjukan tidak korelasi yang melebihi rule of thumb 0,7. Hal ini memungkinkan kemampuan untuk menolak hipotesis awal (H0) lebih besar.
Tabel korelasi 1.2 menunjukan inflasi berdampak negative terhadap semua variable .Inflasi berkorelasi negative 0,21 terhadap GDP per capita . completion primary berkorelasi positif positive 0,6 terhdap GDP per capita. Health expenditure berkorelasi positif 0,4 terhadap GDP per capita. Government effectiveness berkorelasi positif 0,49 terhadap GDP per capita. Hal ini menujukan variable completion primary, health expenditure, dan government effectivennes berkorelasi 50% dalam perbaikan tingkat GDP per capita.
Tabel regresi 1.2 memiliki goodness of fit (R2) 50% Hal menunjukan model linear(1.1) dapat menjelaskan 50% tetang fenomena variasi GDP per capita di Asia Psifik.tingkat inflasi terhadap GDP per capita sebesar -272,3 hal ini menunjukan peningkatan 1% dari inflasi menurukan GDP per capita di wilayah Asia Pasifik sebesar $273,3.peningkatan 1% dari primary completion (persentase siswa menyelesaikan pendidikan dasar) meningkatkan $715 ,01 di wilayah Asia pasifik .Pengeluran pemerintah terhadap kesehatan memiliki pengaruh positif terhdap GDP per capita,kenaikan $1 Pengeluran pemerintah terhadap kesehtan meningkatkan GDP per capita sebesar $ 11,65 .Nilai autonomous (dasar) jika semua variable 0 ialah $-65.600 untuk tingkat GDP per capita wilayah Asia Pasifik
Tabel Regresi 2.1
Log(GDPCAP)
LOG(INFL) -0.304718***
(0.055201)
GOVRNEFFECT -0.23253
(0.2316)
LOG(EXPHEALTH) 0.609401***
(0.086972)
LOG(PRIMARYSCHOOL) 4.448333***
(0.747181)
C -15.08833***
(3.614837)
R2 0.570362
significant α=10% ** significant α=5%
*** significant α=1%
Tabel Korelasi 2.2
LOG GDPCAP GOVRNEFFE CT
HELATHEXPEND INFLASI PRIMARYCOM PLE GDPCAP 1 0.55988 0.646824 -0.426147 0.548734 GOVRNEFFECT 0.55988 1 0.632872 -0.690673 0.585432 HELATHEXPEND 0.646824 0.632872 1 -0.373092 0.33095
INFLASI -0.426147 -0.690673 -0.373092 1 -0.291901 PRIMARYCOMPLE 0.548734 0.585432 0.33095 -0.291901 1
Tabel korelasi 2.2 menujukan model log-linear (2.1) tidak memiliki multikolinearitas .Multikolinearitas dapat dideteksi dengan analisa korelasi. Pada table korelasi 2.2 menunjukan tidak korelasi yang melebihi rule of thumb 0,7. Hal ini memungkinkan kemampuan untuk menolak hipotesis awal (H0) lebih besar.
berkorelasi positif 0,6 terhadap log GDP per capita. Hal ini menujukan variable INFL, health expenditure, completion primary dan government effectivennes berkorelasi 60% dalam meningkatan perubahan GDP per capita capita.
Tabel regresi 2.1 memiliki goodness of fit (R2) 60% Hal menunjukan model log-linear(2.1) (dapat menjelaskan 60% tentang fonemena variasi peningkatan perubahan GDP per capita di Asia Psifik.Perubahan inflasi menyebabakan perubahan GDP per capita – 0,3% ini mengindikasiakan peningkataninflasi akan mengurangi GDP per capita sebesar di Asia Pasifik.Hal ini menujukan inflasi memiliki inelastisitas terhadap GDP per capita di Asia pasifik. Pengeluran pemerintah terhadap kesehatan menyebakan perubahan 0,6% terhadap perubahan GDP per capita memiliki inelastisitas terhadap perubahan GDP per capita.
completion primary (persentase siswa menyelesaiakan pendidikan dasar)menyebakan perubahan GDP per capita 4,4%, hal ini mengindikasikan pendidikan bepegaruh besar dalam peningkatan GDP per capita karena mempunyai elatisitas yang besar terhadap perubahan GDP per capita . Nilai autonomous (dasar) jika semua variable 0 ialah -15% untuk perubahan GDP per capita wilayah Asia Pasifik. Government effectiveness tidak signifiaknt untuk peninkatan untuk model log-linear(1.1)
Pada dua model linear(1.1) dan model log-linear(2.1) Government Effectiveness insignificant .Menurut literature Aoki, Kim dan Okuno-Fujiwara, 1997; Khan dan Jomo, 2000 menyatakan pemerintahan yang efektif akan meningkatkan pelengkap pertumbuhan.Kami mencoba untuk membuat model log-linier (2.2)model pertama mengunakan OLS (log-linear) tanpa pembobotan dengan u2 .Kedua kami mengunakan OLS(Log-linear) dengan pembobotan u2 .Hasil F-stat model tanpa pembobotan u2 4,433227 .Model dengan pembobotan u2 memiliki F-stat 23,69446. Model dengan pembobotan u2 lebih baik untuk menjelaskan hubungan Government effectiveness dan primary completion terhdap perubahan GDP per capita
Not Weighting series: u^2
Weighting series: u^2
Weight type: Variance (average scaling)
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
GOVEFFECT 0.950115 0.135942 6.989120 0.0000 LOG(PRIMARYSCHOOL) 8.413493 2.598354 3.238008 0.0060 C -30.24956 11.91012 -2.539821 0.0236
Weighted Statistics
R-squared 0.771946 Mean dependent var 5.826299 , log(GDP/capita)
1, GOVEFFECT, 0.473105* (0.230925)
2, LOG(PRIMARYSCHOOL ), 3.666793*** (1.081528)
3, C -8.611568 (4.97931)
R2 ,0.387749
*significant α=10% ** significant α=5% *** significant α=1%
Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey
Model log-linear(2.2)tanpa pembobotan u2 memiliki heterokedasitas yang menyebabkan standar error dari model Model log-linear(2.2)tanpa pembobotan u2 menjadi lebih besar.Model log-linear(2.2) ( dengan pembobotan u2 tidak memiliki heterokedasitas , hal ini dapat didektesi dengan uji Breusch-Pagan-Godfrey memiliki F-stat 2,076 prob 16% .
Kami mengunakan model log-linear(2.2) ( dengan pembobotan u2 ) dipilih untuk melihat pengaruh government effectiveness terhdap perubahan GDP per capita di Asia Pasifik .Membaiknya 1% indeks dari kaufman (government effectiveness )akan meningkatkan 0,9% GDP per capita di Asia Pasifik.Completion primary ( persentase siswa menyelesaikan pendidikan)memiliki hasil yang sama pada model linear (1.1)dan model lof-linear(2.1) elatisitas yang lebih besar dari 1.Nilai autonomous (nila dasar)
KESIMPULAN.
Sembilan belas negara yang berada Asia Pasifik yang menjadi sampel ialah middle-income country memiliki pertumbuhan di sekitar 4,9% hal didukung oleh perbaikan disektor pendidikan ini terlihat pada model log-linear (2.1) yang memiliki elastisitas yang besar untuk meningkatkan perubahan GDP per capita.Inflasi sebgai penghambat middle country untuk meningkatkan perubahan GDP per capita. Government effectiveness Memiliki kontribusi untuk baik untuk mengedalikan inflasi hal ini terlihat dari table korelasi 2.1 berkorelasi -0,6 .
DAFTAR PUSTAKA
Goka,Vikesh dan hanif,Subrina, RELATIONSHIP BETWEEN INFLATION AND ECONOMIC GROWTH,working paper, Reserve Bank:Fiji
E A Hanushek, dan L Wo¨ ßmann, Education and Economic Growth,
International Encyclopedia of Education, Oxford: Elsevier
D. Sharma,Shalendra , Democracy, Good Governance, and Economic Development, Taiwan Journal of Democracy, Volume 3, No.1: 29-62
MARY M. SHIRLEY,HANDBOOK OF NEW INSTITUTION ECONOMICS,buku,springer:oxford
Guillem López-Casasnovas ,The role of health on economic growth,working paper, Dept. of Economics and Business, Univ.
Pompeu Fabra