TUGAS KULIAH
“ ANATOSIS BIBLIOGRAFI TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN HASIL BELAJAR “
( mata kuliah kajian evaluasi asesmen )
Di susun oleh :
Muhammad Bangun Qian Santang
( 124564059 )
Program Studi Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial (FIS)
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Menurut Wand dan Brown, "evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu" (Nurkancana dan Sunartana, 1990: 11). Selain itu, Rasyid dan Mansur (2008: 3) mendefinisikan evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. Dengan evaluasi, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa. Yang lebih penting lagi, hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong pendidik untuk mengajar lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik. Jadi, evaluasi memberikan informasi bagi kelas dan pendidik untuk meningkatkan proses belajar mengajar.
Menurut pendapat Hamalik (2006: 159), evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Kirtpatrick (1998) menyarankan tiga komponen yang harus dievaluasi dalam pembelajaran, yaitu pengetahuan yang dipelajari, ketrampilan apa yang dikembangkan, dan sikap apa yang perlu diubah (dalam Rasyid dan Mansur, 2008: 3). Namun, untuk keperluan evaluasi diperlukan teknik evaluasi yang bervariasi dan tepat tujuan.
Guru sebagai evaluator hendaknya mengetahui dan memahami hakikat teknik-teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam mengukur dan menilai hasil belajar. Karena melalui mengukur, seorang guru akan memperoleh data kuantitatif terhadap hasil belajar siswa. Hasil tersebut dapat diketahui melalui angka-angka yang diperoleh dalam pengukuran masing-masing siswa dengan berpatokan pada suatu ukuran. Selain itu, juga dapat dilakukan melalui sebuah penilaian, yaitu siswa dinilai berdasarkan angka-angka yang diperolehnya; bersifat kualitatif
Dalam KBBI, teknik diartikan sebagai sebuah model atau sistem mengerjakan sesuatu. Akan tetapi, istilah teknik dapat juga diartikan sebagai “alat”. Jadi dalam istilah teknik evaluasi hasil belajar terkandung arti alat–alat (yang digunakan dalam rangka melakukan) evaluasi hasil belajar.
Menurut Arikunto (2002: 31) terdapat dua alat evaluasi, yakni teknik tes dan nontes. Dengan teknik tes, maka evaluasi hasil belajar itu dilakukan dengan jalan menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan teknik nontes maka evaluasi hasil belajar dilakukan tanpa menguji peserta didik.
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan (Nurkancana dan Sunartana, 1990: 34).
Pendapat yang lain dikemukakan oleh Rasyid dan Mansur (2008: 11), bahwa "tes merupakan salah satu cara menaksir besarnya tingkat kemampuan manusia secara tidak langsung, yaitu melalui respon seseorang terhadap sejumlah stimulus atau pertanyaan." Oleh karena itu, agar diperoleh informasi yang akurat dibutuhkan tes yang handal.
Teknik tes menurut Indrakusuma dalam (Arikunto, 2002: 32) adalah “suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang di inginkan seseorang dengan cara yang boleh dikatakan cepat dan tepat”.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara, prosedur, atau alat yang sistematis dan objektif untuk mengevaluasi tingkah laku (kognitif, afektif, dan psikomotor) siswa atau sekelompok siswa berdasarkan nilai standar yang telah ditetapkan.
Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:
1. Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu, dan
2. Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.
Menurut Sudjana (2008: 35), tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu sebagai berikut.
mengetahui taraf peserta didik untuk masalah yang berkaitan dvengan kognitif, yaitu pengetahuan dan pemahaman. Tes lisan dapat berupa individual dan kelompok. Tes individual, yaitu suatu tes yang diberikan kepada seorang siswa, sedangkan tes kelompok, yaitu suatu tes yang diberikan kepada kepada sekolompok siswa secara bersamaan.
Tes tertulis adalah suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara tertulis. Tes tertulis dapat dibedakan menjadi tes esai atau uraian dan tes objektif.
Tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini siswa dituntut untuk mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan. Tes uraian layaknya tes yang lain, memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri.
Adapaun keunggulan pemakaian tes uraian, yaitu:
1. Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi 2. Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, dengan baik dan benar sesuai
dengan kaidah-kaidah bahasa
3. Dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yakni berpikir logis, analitis, dan sistematis
4. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving); dan
5. Mudah membuat soalnya sehingga guru dapat secara langsung melihat proses berpikir siswa.
Adapun kelemahan tes uraian, yaitu:
1. Sampel tes sangat terbatas, karena tidak dapat menguji semua bahan yang telah diberikan, seperti pada tes objektif yang dapat menanyakan banyak hal melalui sejumlah pertanyaan;
2. Sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan, maupun dalam memerikasanya; dan
3. Tes ini biasanya kurang reliabel, mengungkap aspek yang terbatas, pemeriksanya memerlukan waktu yang lama sehingga tidak praktis bagi kelas yang jumlah siswanya relatif banyak.
uraian berstruktur.
Kelemahan dari tes uraian bebas adalah sukar menilainya karena jawaban siswa bisa bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena bergantung pada guru sebagai penilainya.
Dalam bentuk uraian terbatas, pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi (a) ruang lingkupnya, (b) sudut pandang menjawabnya, dan (c) indikator-indikatornya. Contoh pertanyaan uraian terbatas, misalnya
"Indayang sambatang tiga tetujon malajahin basa Bali!"
Dilihat dari keterbatasa pertanyaannya, maka tes ini jauh lebih mudah dan tepat dalam mengevaluasi jawaban siswa, karena kriteria jawaban yang benar telah diketahui oleh guru.
Bentuk tes uraian yang ketiga adalah tes uraian berstruktur. Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan soal-soal esai. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan bebas menjawabnya. Soal yang berstruktur berisi unsur-unsur (a) pengantar soal, (b) seperangkat data, dan (c) serangkaian subsoal. Adapun contoh uraian berstruktur adalah sebagai berikut.
Hasil belajar selain dievaluasi melalui teknik tes, dapat juga dievaluasi melalui teknik nontes. Kenyataan di lapangan adalah guru cenderung lebih banyak menggunakan teknik tes dalam melakukan evaluasi hasil belajar siswa, dibandingkan dengan teknik nontes.
Evaluasi dengan menggunakan teknik tes hanya mengacu pada aspek-aspek kognitif (pengetahuan) berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Jika dibandingkan dengan teknik tes, teknik nontes jauh lebih komprehensif, dalam artian dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai aspek dari individu atau kelompok siswa sehingga tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif saja, tetapi juga pada aspek yang lain seperti afektif dan psikomotor. Adapun jenis teknik nontes yang dimaksud, yaitu wawancara, kuesioner, skala, observasi, studi kasus, dan sosiometri.
mempersiapkan pertanyaan lebih awal, namun pewawancara bebas dan secara langsung bertanya kepada siswa terkait materi tertentu.
Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan kuesioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya.
Ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.
Skala adalah alat untuk mengukur nilai sikap, minat, perhatian, dan sebagainya, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentung rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Skala dapat dibedakan menjadi dua, yaitu skala pendidikan (rating scale) dan skala sikap.
Mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinuum atau suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai terendah. Rentangan dapat dalam bentuk huru (A, B, C, D, E), angka (4, 3, 2, 1, 0), atau 10, 9, 8, 7, 6, 5. Sedangkan rentangan kategori bisa tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang.
Skala sikap yang sering digunakan yaitu skala Likert. Dalam skala ini, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik penyataanpositif maupun negatif, dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, atau sangat tidak setuju.
Observasi atau pengamatan digunakan untuk mengukur tingkah laku siswa atau sekelompok siswa. Melalui pengamatan dapat diketahui bagaimana sikap dan perilaku siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasi dalam suatu kegiatan, proses kegiatan yang dilakukannya, kemampuan, bahkan hasil yang diperoleh dari kegiatannya.
Ada tiga jenis observasi, yaitu (a) observasi langsung, (b) observasi dengan alat (tidak langsung), dan (c) observasi partisipasi. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat. Observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat pengamatan. Observasi partisipasi adalah pengamatan yang dilakukan dengan melibatkan diri dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.
Studi kasus digunakan untuk memperoleh data mengenai pribadi siswa secara mendalam dalam kurun waktu tertentu. data yang dikumpulkan merupakan kasus yang dialami oleh siswa. Pada umumnya kasus-kasus yang menjadi permasalahan, yaitu kegagalan belajar, tidak dapat menyesuaikan diri, gangguan emosional, frustasi, dan sering membolos serta kelainan-kelainan perilaku siswa. Data hasil penilaian melalui alat-alat penilaian tersebut sangat bermanfaat, baik bagi guru maupun bagi siswa, dalam upaya memperbaiki proses dan hasil belajar-mengajar di sekolah.
Sosiometri digunakan untuk memperoleh data mengenai hubungan sosial siswa di kelasnya atau dalam kelompoknya.
Penilaian berbasis kelas adalah penilaian oleh guru dalam rangka proses pembelajaran yang merupakan proses pengumpulan dan penggunaaan informasi dan hasil belajar peserta didik untuk tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian belajar.
memotivasi belajar peserta didik dengan cara mengenal dan memahami diri serta merangsang untuk melakukan usaha perbaikan. Dengan demikian penilaian berbasis kelas berfungsi sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan evaluasi dan instrospeksi. Adapun manfaat penilaian berbasis kelas antara lain:
1. Memberi umpan balik pada program jangka pendek yang dilakukan oleh peserta didik dan guru dalam kegiatan proses belajar,
2. Memberi kegunaan hasil pembelajaran peserta didik dengan melibatkan peserta didik secara maksimal,
3. Membantu pembuatan laporan lebih bagus serta menaikkan efisiensi pembelajaran, dan
4. Mendorong pengajaran sebagai proses penilaian formatif.
Bagi peserta didik, penilaian berbasis kelas sangat bermanfaat untuk memantau pembelajaran dirinya secara lebih baik dan labih menitik beratkan pada kemampuan, ketrampilan, dan nilai.
Sedangkan bagi orang tua, penilaian berbasis kelas di antaranya bermanfaat untuk: 1. Mengetahui kelemahan dan peringkat anaknya,
2. Mendorong orang tua peserta didik untuk melakukan bimbingan kepada anaknya, dan
3. Melibatkan orang tua peserta didik untuk melakukan diskusi dengan guru atau sekolah dalam hal perbaikan kelemahan peserta didik.
Beberapa prinsip penilaian berbasis kelas yang perlu diperhatikan guru dalam rangka pencapaian kompetensi adalah: motivasi, validitas, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, menyeluruh, dan edukatif. Adapun karakteristik utama dari penilaian berbasis kelas di antaranya adalah terciptanya pusat belajar dan berakar dalam proses pembelajaran serta adanya umpan balik. alam pembelajaran Matematika, ciri-ciri penilaian berbasis kelas yang dilakukan di antaranya sebagai berikut:
1. Menilai semua kompetensi dasar,
3. Pelaksanaan penilaian dapat dilakukan pada setiap kali peserta didik selesai belajar satu atau lebih kompetensi dasar,
4. Hasil penilaian dianalisis dan hasil analisis digunakan untuk menentukan program tindak lanjutnya yang berupa program remedial atau pengayaan,
5. Aspek yang dinilai adalah hasil belajar peserta didik yang berupa kemahiran matematika yang mencakup kemampuan pemahaman konsep, penalaran, pemecahan masalah, komunikasi, dan prosedur serta sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
6. Penilaian dapat dilakukan dengan teknik tes dan non tes, 7. Penilaian mencakup aspek kognitif dan non kognitif, dan
8. Penilaian dilaksanakan selama prosespembelajaran berlangsung, (di tengah atau akhir setiap pertemuan sebagaipenilaian proses) dan pada akhir belajar suatu kompetensi dasar (sebagai penilaian hasil).
Penerapan penilaian berbasis kelas dilakukan sesuai dengan jenis dan bentuk penilaian yang digunakan di kelas. Dalam penggunaan penilaian berbasis kelas, hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Guru memahami lebih awal pembelajaran peserta didik dan mampu menerapkan pengajaran yang tepat sehingga teknik penilaian berbasis kelas dapat dilaksanakan.
2. Guru menjelaskan tujuan kegiatan pembelajaran peserta didik dan mampu menerapkannya sehingga teknik penilaian berbasis kelas dapat dilaksanakan. 3. Guru menentukan kompetensi peserta didik sehingga teknik penilaian berbasis
kelas digunakan berdasarkan kompetensi siswa tersebut.
4. Guru memilih teknik penilaian berbasis kelas yang tepat untuk memberikan umpan balik perbaikan pengajaran bagi guru dan pembelajaran bagi siswa.
5. Guru memilih gaya pengajaran secara konsisten sehingga dapat diterapkan dengan mudah dan jelas teknik penilaian berbasis kelas.
6. Guru dan peserta didik mampu menggunakan informasi belajar siswa secara maksimal melalui teknik penilaian berbasis kelas.
8. Peserta didik perlu mengetahui teknik penilaian berbasis kelas yang digunakan di kelas.
Berbagai jenis penilaian berbasis kelas yang dapat digunakan guru antara lain adalah tes tertulis, tes perbuatan, pemberian tugas, penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian hasil kerja siswa, penilaian sikap, dan penilaian portfolio. Tentunya, guru harus yakin bahwa tak ada satupun jenis penilaian yang tepat untuk setiap saat. Jenis penilaian yang digunakan sangat bergantung kepada kompetensi dasar yang duraikan dalam kurikulum. Adapun dalam pembelajaran Matematika, komponen program penilaian pembelajaran mencakup jenis tagihan dan instrumen penilaian. Tagihan adalah cara ujian atau penilaian yang dilaksanakan. Instrumen penilaian dirinci menjadi bentuk instrumen dan contoh instrumen. Berbagai bentuk instrumen penilaian berupa tes yang dapat digunakan guru antara lain adalah: pertanyaan lisan, pilihan ganda, uraian objektif, uraian bebas, jawaban singkat (isian singkat), menjodohkan, portofolio, dan performans (unjuk kerja). Adapun untuk instrumen penilaian non tes meliputi angket, inventori, dan pengamatan. Secara rinci jenis tagihan dan bentuk instrumen yang digunakan diuraikan sebagai berikut.
Kinerja praktikum merupakan pencapaian yang diperoleh siswa setelah memahami berbagai keterampilan yang dipelajari dan dilatihkan. Penilaian tersebut dapat memperhatikan aspek proses atau prosedur yang dilakukan dan atau aspek produk yang dihasilkan serta sikap yang muncul bersamaan dengan keterampilan untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu. Penilaian praktikum dapat menggunakan tes tertulis, tes lisan, tes identifikasi, tes praktikum, daftar centang atau skala penilaian, laporan, atau portofolio (Doran, 1980; Ebel & Frisbie, 1986; Russell & Harlen, 1990;Gronlund, 1993; Berg & Giddings, 1992; Nitko, 1996) dalam Sapriati (2006).
prosedur pengembangan instrumen yang benar, dan dilengkapi dengan rambu-rambu penilaian yang jelas.
Asesmen merupakan suatu proses terintegrasi untuk menentukan ciri dan tingkat belajar dan perkembangan belajar siswa. Menurut Mardapi dalam Rasyid (2007) bahwa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam asesmen adalah akurat, ekonomis, dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu sistem penilaian yang digunakan di setiap lembaga pendidikan harus mampu (1) memberi informasi yang akurat, (2) mendorong peserta didik belajar, (3) memotivasi tenaga pendidik mengajar, (4) meningkatkan kinerja lembaga, dan (5) meningkatkan kualitas pendidikan.
Asesmen Kinerja yaitu penilaian terhadap proses perolehan penerapan pengetahuan dan keterampilan melalui proses pembelajaran yang menunjukan kemampuan siswa dalam proses dan produk. Asesmen kinerja adalah suatu prosedur yang menggunakan berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan sejauhmana yang telah dilakukan dalam suatu program. Pemantauan didasarkan pada kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut. Asesmen kinerja adalah penelusuran produk dalam proses. Artinya, hasil-hasil kerja yang ditunjukkan dalam proses pelaksanaan program itu digunakan sebagai basis untuk dilakukan suatu pemantauan mengenai perkembangan dari satu pencapaian program tersebut (Marhaeni, 2007). Menurut Berk (1986) dalam Rasyid (2007), asesmen kinerja adalah proses mengumpulkan data dengan cara pengamatan yang sistematik untuk membuat keputusan tentang individu. Asesmen kinerja terutama sangat sesuai dalam menilai keterampilan proses sains. Keterampilan proses siswa yang dapat dinilai meliputi keterampilan proses intelektual (seperti keterampilan observasi, berhipotesis, menerapkan konsep, merencanakn serta melakukan penelitian, dan lain-lain). Asesmen kinerja sangat tepat bila digunakan dalam kegiatan praktikum biologi. Bentuk asesmen kinerja yaitu kinerja klasikal, asesmen kinerja kelompok, asesmen kinerja personal.
Tes essay merupakan contoh yang sangat umum dari suatu asesmen berbasis kinerja, tetapi ada banyak contoh lain, meliputi produksi artistik, eksperimen dalam sains, presentasi lisan, dan menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah dunia-nyata. Penekanan pada melakukan, tidak hanya mengetahui; pada proses dan juga produk. Selain itu, asesmen dari kemampuan siswa untuk membuat observasi, memformulasikan hipotesis, mengumpulkan data, dan menggambarkan konklusi saintifik valid dapat membutuhkan penggunaan asesmen kinerja. Asesmen kinerja menentukan suatu basis bagi guru dengan mengevaluasi keefektivan proses atau prosedur yang digunakan (misalnya pendekatan untuk pengumpulan data, manipulasi instrumen) dan produk yang dihasilkan dari kinerja suatu tugas (misalnya, laporan hasil lengkap, senikerja lengkap)
Asesmen kinerja seringkali menunjuk pada asesmen otentik dengan menekankan bahwa guru mengases kinerja sementara siswa terlibat dalam pemecahan masalah dan pengalaman belajar yang dinilai dalam kebenaran diri mereka sendiri, bukan sebagai makna menilai prestasi siswa. Bagaimanapun, tidak semua asesmen kinerja adalah otentik dalam pengertian bahwa guru melibatkan siswa dalam menyelesaikan masalah real (Linn & Gronlund, 1995:13) dalam Jacob (2011). Asesmen kinerja diperlukan siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan dengan melakukan secara aktual. Asesmen kinerja diperlukan untuk mengobservasi dan evaluasi keterampilan.
Menurut UPI (2011), cara melaksanakan asesmen kinerja, dapat dikelompokkan menjadi: 1. Asesmen Kinerja klasikal digunakan untuk mengases kinerja siswa secar keseluruhan
dalam satu kelas keseluruhan. Menurut Wulan Asesmen kinerja klasikal terbukti paling mudah dan efisien untuk digunakan dalam kegiatan praktikum sehari-hari. Format penilaiain ini paling sederhana dan dapat menilai kinerja siswa secara keseluruhan. Guru juga dapat memperoleh feed back lebih menyeluruh tentang keterampilan siswa di kelasnya. Melalui penilaian kinerja klasikal ini, pencapaian tujuan praktikum dapat dilihat secara umum dan langsung pada seluruh siswa.
dinilai kinerjanya pada praktikum selanjutnya, sehingga dengan beberapa kegiatan praktikum, guru dapat menilai kinerja seluruh kelompok.
3. Asesmen Kinerja individu untuk mengases kinerja siswa secara individu. Menurut Wulan Asesmen kinerja secara individual paling tepat dipilih untuk mengungkap sikap dan keterampilan personal siswa. Dengan jumlah siswa yang sangat banyak, asesmen kinerja individual ini agak sulit dilakukan. Untuk kemudahan proses asesmen kinerja individual, guru dapat mengawali dengan dengan hanya mengakses beberapa siswa sesuai kesanggupan guru. Sebagian siswa lainnya dapat dinilai kinerjanya pada paraktikum selanjutnya sehingga dengan beberapa kegiatan praktikum guru dapat menilai kinerja seluruh siswa.
Terdapat tiga komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian (scoring guide). Tugas kinerja adalah suatu tugas yang berisi topik, standar tugas, deskripsi tugas, dan kondisi penyelesaian tugas. Rubrik performansi merupakan suatu rubrik yang berisi komponen-komponen suatu performansi ideal, dan deskriptor dari setiap komponen-komponen tersebut. Cara penilaian kinerja ada tiga, yaitu (1) holistic scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan impresi penilai secara umum terhadap kualitas performansi; (2) analytic scoring, yaitu pemberian skor terhadap aspek-aspek yang berkontribusi terhadap suatu performansi; dan (3) primary traits scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan beberapa unsur dominan dari suatu performansi (Marhaeni, 2007).
Asesmen kinerja pada prinsipnya lebih ditekankan pada proses keterampilan dan kecakapan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Asesmen ini sangat cocok digunakan untuk menggambarkan proses, kegiatan, atau unjuk kerja. proses, kegiatan, atau unjuk kerja dinilai melalui pengamatan terhadap siswa ketika melakukannya. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Misalnya penilaian terhadap kemampuan siswa merangkai alat praktikum untuk percobaan sederhana dilakukan selama siswa merangkai alat, bukan sebelum atau setelah alat dirancang (UPI, 2011).
mengamati siswa saat siswa sedang bekerja atau melakukan tugas belajar, atau guru dapat menguji hasil-hasil yang dapat dicapai, serta menilai (judge) tingkat penguasaan/kecakapan yang dicapai siswa (UPI, 2011).
Asesmen kinerja tidak hanya bergantung pada jawaban benar atau salah. Sebagaimana halnya dengan asesmen bentuk essay, observasi yang dilakukan oleh guru dalam rangka melakukan pertimbangan-pertimbangan subyektif berkenaan dengan level prestasi yang dicapai siswa. Evaluasi ini didasarkan pada perbandingan kinerja siswa dalam mencapai standar excellent (keunggulan, prestasi) yang telah dicapai sebelumnya (UPI, 2011).
Sebagaimana tes essay, pertimbangan guru digunakan sebagai dasar penempatan kinerja siswa pada suatu kesatuan/kontinum tingkatan-tingkatan prestasi yang terentang mulai dari tingkatan yang sangat rendah sampai tingkatan yang sangat tinggi. Hal-hal yang harus kita pahami tentang asesmen kinerja adalah kita mendesain dan mengembangkan asesmen kinerja untuk digunakan kelak di kelas kita sendiri. Metodologi asesman kinerja bukanlan suatu obat yang mujarab, bukan penyelamat guru, dan juga bukan merupakan suatu kunci untuk menilai kurikulum yang sebenarnya. Asesmen ini semata-mata merupakan alat yang memberikan cara-cara yang efisien dan efektif untuk menilai beberapa (bukan keseluruhan) hasil-hasil dari proses pendidikan yang dipandang berguna (UPI, 2011).
Pada pelaksanaannya, guru dapat mengatur secara fleksibel kinerja-kinerja yang akan diases dalam kurun waktu tertentu. Misalnya dalam dua semester guru merencanakan untuk mengases keterampilan setiap siswa dalam membuat larutan. Guru merencanakan dalam dua semester tersebut empat kali kegiatan yang menuntut siswa membuat larutan. Maka guru dapat membagi siswa ke dalam empat kelompok siswa yang akan di akses Siswa kelompok pertama akan diases pada kegiatan pembuatan larutan pertama, kelompok berikutnya diases pada pembuatan larutan yang berikutnya. Sehingga setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai keterampilannya dalam membuat larutan. Asesmen kinerja yang digunakan oleh guru tersebut adalah asesmen kinerja individu.
untuk mendokumentasikan perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Paulson (1991) mendefinisikan portofolio sebagai kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian, dan bukti refleksi diri.
Portofolio adalah kumpulan hasil karya seorang siswa, sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja, yang ditentukan oleh guru atau oleh siswa bersama guru, sebagai bagian dari uasaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum.
Portofolio dalam arti ini, dapat digunakan sebagai instrumen penilaian atau salah satu komponen dari instrumen penilaian, untuk menilai kompetensi siswa, atau menilai hasil belajar siswa. Portofolio demikian disebut juga ‘portofolio untuk penilaian’ atau ‘portofolio penilaian’.
Aspek yang diukur dalam penilaian portofolio adalah tiga domain perkembangan psikologi anak yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Portofolio dapat diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedagogis, maupun sebagai ajektif. Sebagai suatu wujud benda fisik portofolio adalah bundel, yaitu kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test), tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes akhir (post-test) dan sebagainya. Sebagai suatu proses sosial pedagogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berwujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun sikap (afektif). Adapun sebagai suatu ajektif portofolio seringkali dihubungkan dengan konsep pembelajaran atau penilaian yang dikenal dengan istilah pembelajaran berbasis portofolio atau penilaian berbasis portofolio.
Berdasarkan pengertian tentang evaluasi, penilaian, asesmen dan portofolio, maka dapat disimpulkan bahwa asesmen portofolio dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses, hasil pertumbuhan, perkembangan wawasan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik yang bersumber dari catatan dan dokumen pengalaman belajarnya di dalam suatu pembelajaran. Dalam konteks penilaian, asesmen portofolio juga diartikan sebagai upaya menghimpun kumpulan karya atau dokumen peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisir yang diambil selama proses pembelajaran, digunakan oleh guru dan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.
Portofolio siswa untuk penilaian atau assesmen portofolio merupakan kumpulan produksi siswa, yang berisi berbagai jenis karya seorang siswa, misalnya:
Hasil proyek, penyelidikan, atau praktik siswa yang disajikan secara tertulis atau
dengan penjelasan tertulis.
Gambar atau laporan hasil pengamatan siswa, dalam rangka melaksanakan tugas
untuk mata pelajaran yang bersangkutan.
Analisis situasi yang berkaitan atau relevan dengan mata pelajaran yang
bersangkutan.
Deskripsi dan diagram pemecahan suatu masalah dalam mata pelajaran yang
bersangkutan.
Laporan hasil penyelidikan tentang hubungan antara konsep-konsep dalam mata
pelajaran atau antar mata pelajaran.
Penyelesaian soal-soal terbuka.
Hasil tugas pekerjaan rumah yang khas, misalnya dengan cara yang berbeda
dengan cara yang diajarkan di sekolah, atau dengan cara yang berbeda dari cara pilihan teman-teman sekelasnya.
Laporan kerja kelompok.
Hasil kerja siswa yang diperoleh dengan menggunakan alat rekam vidio, alat
rekam audio dan computer.
Fotokopi surat piagam atau tanda penghargaan yang pernah diterima oleh siswa
Hasil karya dalam mata pelajaran yang bersangkutan, yang tidak ditugaskan oleh
guru (atas pilihan siswa sendiri, tetapi relevan dengan mata pelajaran yang bersangkutan).
Cerita tentang kesenangan atau ketidaksenangan siswa terhadap mata pelajaran
yang bersangkutan.
Cerita tentang usaha siswa sendiri dalam mengatasi hambatan psikologis, atau
usaha peningkatan diri, dalam mempelajari mata pelajaran yang bersangkutan.
Laporan tentang sikap siswa terhadap pelajaran.
Bagi seorang guru, penilaian portofolio walaupun sedikit lebih rumit tetapi bisa memiliki banyak kegunaan. Seperti misalnya:
Mendorong pembelajaran mandiri
Memperjelas pandangan mengenai apa yang dipelajari Membantu mempelajari pembelajaran
Mendemonstrasikan kemajuan berdasarkan keluaran yang diidentifikasikan Membuat interseksi antara instruksi dan penilaian
Memberikan jalan kepada siswa untuk menilai diri mereka sebagai pemelajar Memberikan kemungkinan untuk pengembangan dukungan ‘peer’
Mengetahui bagaiman Portofolio dapat memperbaiki proses persiapan
Aspek yang diukur dalam asesmen portofolio adalah tiga ranah perkembangan
KESIMPULAN
Prinsip-prinsip evaluasi hasil belajar terdiri atas sembilan, yaitu sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, dan akuntabel.
Ciri-ciri evaluasi hasil belajar yaitu evaluasi dilaksanakan untuk mengukur hasil belajar, pengukuran secara kuantitatif, kegiatan evaluasi menggunakan unit dan satuan yang lengkap, prestasi belajar yang dicapai bersifat relatif, dan hasil belajar sering terjadi kekeliruan pengukuran (error).
Ranah kognitif berhubungan erat dengan kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, rnemahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan kemampuan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral. Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Abas Sudjiono. (1995). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Anonim. (2006). Pedoman Model Penilaian Kelas KTSP TK-SD-SMP-SMA-SMK. MI-MTS-MA-MAK. Jakarta: BP Cipta Jaya.
Burhanudin Tola. (2006). Penilaian Diri. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian Dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.
BSNP. (2007). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. http://dikmenum.go.id/dataapp/kurikulum/3.%20PANDUAN%20PENILAIAN%20KEL
%205%20MAPEL/C_Panduan_Kel_Mapel_Ipteks.pdf (diakses tanggal 15 Maret 2015). Djemari Mardapi. (1999). Survei Kegiatan Guru dalam melakukan Penelitian di Kelas. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UNY
Daniel J. Mueller (1992). Mengukur Sikap Sosial Pegangan Untuk Peneliti dan Praktisi. Bumi Aksara. Jakarta
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/kana-hidayati-mpd/pelatihan-di-man-3-yk.pdf http://kamriantiramli.wordpress.com/tag/asesmen-kinerja/
http://dikatara.wordpress.com/2011/12/01/penilaian-portofolio/
https://mgmpmatsatapmalang.files.wordpress.com/2011/11/instrumen-penilaian-mat-smp.pdf
http://www.academia.edu/6403478/JENIS_DAN_TEKNIK_PENILAIAN_HASIL_BELAJAR
Maman Rachman. (2003). Filsafat Ilmu. Semarang: UPT MKU UNNES.
Masnur Muchlis. (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Mimin Haryati. (2008). Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung persada Press.
Nana Sudjana. (1995). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nana Syaodih Sukmadinata. (2006). Metode Penelitian Pendidikan., Bandung: Remaja Rosdakarya
Suharsimi Arikunto. (2006). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Surapranata, Sumarna. Hatta, M. (2006). Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.