lembaga ekonomi islam di indonesia.pptx

63 

Teks penuh

(1)

LEMBAGA-LEMBAGA

EKONOMI ISLAM DI

INDONESIA

(2)

LEMBAGA-LEMBAGA EKONOMI ISLAM DI

INDONESIA

1. Bank

2. Asuransi

3. Pasar Modal 4. Zakat

5. Wakaf

6. Lembaga gadai

7. Koperasi

8. Perusahaan Pembiayaan

9. Dewan Syariah Nasional

(3)

OTORITAS JASA KEUANGAN

UU 21 tahun 2011 ttg Otoritas Jasa Keuangan

Otoritas Jasa Keuangan adalah lembaga yang

independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang

pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan di sektor jasa keuangan

OJK melakukan tugas pengaturan dan pengawasan

secara terpadu, independen, dan akuntabel terhadap:

Kegiatan jasa keuangan di bidang PerbankanKegiatan jasa keuangan di bidang Pasar Modal

(4)

Kegiatan Jasa Ruang Lingkup OJK

Perbankan

Segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan,

kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah sebagaimana dimaksud dalam UU mengenai perbankan

Pasar Modal (UU Pasar Modal)

Kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan

Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.

Industri Keuangan Non-Bank

Kegiatan jasa keuangan yang disediakan oleh lembaga keuangan selain

(5)
(6)
(7)

PERBANKAN SYARIAH

BANK SYARIAH

BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH BANK UMUM

SYARIAH

BANK UMUM KONVENSIONAL

UNIT USAHA SYARIAH

PERBANKAN SYARIAH

(8)

PENDIRIAN BANK SYARIAH

UU No 21/ 2008 ttg Perbankan Syariah

PBI Nomor 11/15/PBI/2009 - Perubahan Kegiatan Usaha

Bank Konvensional Menjadi Bank Syariah,

PBI 11/10/PBI/2009 ttg Unit Usaha Syariah

Bank hanya dapat didirikan dan melakukan kegiatan

usaha setelah memperoleh izin BI

Bentuk badan hukum Bank Islam adalah PERSEROAN

TERBATAS

Pemberian izin dilakukan dalam 2 tahap:

1. Persetujuan prinsip, yaitu persetujuan untuk melakukan

persiapan pendirian Bank

2. Izin usaha, yaitu izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan

(9)

1. PERSETUJUAN PRINSIP

PERMOHON

AN BI

• Dokumen

pendukung (SE 11/9/Dpbs) • Setoran modal

paling kurang 30% dari modal disetor minimum

* BI

melakukan: a. Penelitian

dokumen b. Analisis c. Fit and

proper test

* Presentasi oleh pihak yang

mengajukan permohonan

DITOLAK

* Berlaku 1 tahun sejak tanggal

mendapat izin usaha

* Mengajukan permohonan izin usaha

(10)

2. IZIN USAHA

PERMOHON

AN BI

• Dokumen

pendukung (SE 11/9/Dpbs) • Pelunasan

minimum modal disetor

* BI

melakukan: a. Penelitian

dokumen b. Fit and

proper test apabila terjadi

penggantia n pihak-pihak

DITOLAK *Bank wajib melakukan kegiatan usaha paling lambat 60 hari sejak tanggal terbit izin usaha *Presiden Direktur Bank wajib lapor

(11)

MODAL

BUS

Modal disetor paling kurang Rp1 triliunBPRS

Modal disetor paling kurang Rp2 miliar untuk di wilayah Jabodetabek

Modal disetor paling kurang Rp1 miliar untuk wilayah ibukota propinsi di luar wilayah Jabodetabek

(12)

KONVERSI PERBANKAN

BUS tidak dapat dikonversi menjadi BUK

BPRS tidak dapat dikonversi menjadi BPR

BUK dapat dikonversi menjadi BUS

BPR dapat dikonversi menjadi BPRS

Konversi yang dilakukan BUK menjadi BUS dan BPR

menjadi BPRS harus mendapat izin perubahan kegiatan

(13)

PEMBENTUKAN UNIT USAHA SYARIAH

Pembentukan UUS dilakukan dengan mendapat

izin usaha

dari BI

(14)

PEMISAHAN UUS DARI BUK

BUK yang memiliki UUS wajib memisahkan UUS menjadi

BUS apabila:

a. Nilai aset UUS telah mencapai 50% (lima puluh persen) dari total nilai aset BUK induknya; atau

b. Paling lambat 15 (lima belas) tahun sejak berlakunya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Pemisahan dapat dilakukan dengan

a. Mendirikan BUS baru  dapat dilakukan oleh 1 atau lebih BUK yang memiliki UUS

b. Mengalihkan hak dan kewajiban UUS kepada BUS yang telah ada  hanya dapat dilakukan dengan BUS yang memiliki

(15)

HUBUNGAN KELEMBAGAAN PERBANKAN

DEWAN SYARIAH NASIONAL

SYARIAH

DEWAN PENGAWAS SYARIAH

DIREKSI DEWAN

KOMISARIS

KOMITE PERBANKAN SYARIAH

(16)
(17)

Kajian terhadap Asuransi

Pemahaman terhadap asuransi konvensional adalah haram,

yang terkandung dalam unsur gharar, maisir, dan riba

1. Unsur gharar terdapat pada bentuk akad (perikatan) yang melandasi

penutupan polis. Akad yang terdapat pada asuransi konvensional

dikategorikan sebagai aqd tabaduli atau akad pertukaran yaitu

pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. Unsur

gharar ini juga terdapat pada sumber dana pembayaran klaim pada asuransi konvensional adalah tidak jelas asalnya.

2. Unsur maisir terjadi apabila peserta asuransi (pemegang polis)

membatalkan kontraknya pada masa reversing period, ia tidak akan

menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagian kecil saja (biasanya kurang dari 5%).

3. Unsur riba terkandung dalam melakukan usaha dan investasi yang

(18)

Perkembangan Asuransi Syariah

Tahun 1994 didirikan PT Syarikat Takaful Indonesia yang

terdiri dari dua anak perusahaan:

PT Asuransi Takaful Keluarga asuransi jiwaPT Asuransi Takaful Umum asuransi kerugian

Perusahaan asuransi syariah berkembang menjadi:

Asuransi Jiwa Syariah

Asuransi Kerugian Syariah

Unit Syariah Asuransi Jiwa Syariah

(19)

Perizinan Usaha Asuransi Syariah

Pasal 3, 4, 32 dan 33 KMK No. 426/KMK.06/2003

Usaha asuransi atau usaha reasuransi dengan prinsip syariah

dapat dilakukan dengan cara:

Pendirian baru perusahaan asuransi atau perusahaan

reasuransi dengan prinsip syariah;

Konversi dari perusahaan asuransi atau perusahaan

reasuransi konvensional menjadi perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah;

Pendirian kantor cabang baru dengan prinsip syariah oleh

perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi konvensional;

Konversi dari kantor cabang perusahaan asuransi atau

(20)

Perizinan Usaha Asuransi Syariah

(cont’d)

Persyaratan permohonan izin usaha asuransi syariah

dan izin pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari perusahaan asuransi konvensional,

persyaratan umum (termasuk tenaga ahli asuransi

syariah dan modal kerja kantor cabang dengan prinsip syariah);

memiliki Dewan Pengawas Syariah perusahaan;

pengesahan DPS perusahaan atas sumber modal

(21)

Persyaratan Permodalan

JENIS PERUSAHAAN MODAL DISETOR MINIMUM

Perusahaan Asuransi Rp100 miliar

Perusahaan Reasuransi Rp200 miliar Perusahaan Pialang

Asuransi/Reasuransi Rp1 miliar

Perusahaan Asuransi

berdasarkan prinsip syariah Rp50 miliar Perusahaan Reasuransi

berdasarkan prinsip syariah Rp100 miliar

UNIT SYARIAH dari MODAL KERJA MINIMUM

Perusahaan Asuransi Rp25 miliar

Perusahaan Reasuransi Rp50 miliar

Biro Perasuransian

(22)

Persyaratan Permodalan

(PP No.39 Tahun 2008)

JENIS PERUSAHAAN MODAL DISETOR MINIMUM

Perusahaan Asuransi Rp100 miliar Perusahaan Reasuransi Rp200 miliar Perusahaan Pialang

Asuransi/Reasuransi Rp1 miliar

Perusahaan Asuransi

berdasarkan prinsip syariah Rp50 miliar Perusahaan Reasuransi

berdasarkan prinsip syariah Rp100 miliar

UNIT SYARIAH dari MODAL KERJA MINIMUM

Perusahaan Asuransi Rp25 miliar

(23)

PELAKU USAHA ASURANSI & USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH

(24)

INDIKATOR KEUANGAN USAHA ASURANSI & REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH

(25)

2005 2006 2007 2008 2009 2010

Perkembangan Klaim Bruto Usaha Asuransi Dengan Prinsip Syariah Tahun 2005 - 2010

Asuransi Kerugian & Reasuransi Syariah Asuransi Jiw a Syariah Total Asuransi Syariah

d

2005 2006 2007 2008 2009 2010

-

Perkembangan Kontribusi Bruto Usaha Asuransi Dengan Prinsip Syariah Tahun 2005 - 2010

Asuransi Kerugian & Reasuransi Syariah Asuransi Jiw a Syariah Total Asuransi Syariah

d

(26)

PERKEMBANGAN USAHA ASURANSI & USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH

2005 2006 2007 2008 2009 2010 -

Perkembangan Aset Usaha Asuransi Dengan Prinsip Syariah Tahun 2005 - 2010

Asuransi Kerugian & Reasuransi Syariah Asuransi Jiw a Syariah Total Asuransi Syariah

d

2005 2006 2007 2008 2009 2010

-

Perkembangan Investasi Usaha Asuransi Dengan Prinsip Syariah Tahun 2005 - 2010

Asuransi Kerugian & Reasuransi Syariah Asuransi Jiw a Syariah Total Asuransi Syariah

(27)
(28)

Pasar Modal Syariah di Indonesia

Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan

Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek

Awal pelaksanaan pasar modal syariah di Indonesia

adalah

Penerbitan pertama kali reksa dana syariah yaitu reksa dana Danareksa Syariah pada tanggal 25 Juni 1997

Penerbitan obligasi syariah pada akhir 2002,

(29)

Jakarta Islamic Index (JII)

Tujuan pembentukan Jakarta Islamic Index (JII) adalah

“untuk meningkatkan kepercayaan investor untuk

melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di Bursa”.

Saham-saham yang tercatat pada Jakarta Islamic Index

(JII) merupakan benchmark bagi saham-saham yang

(30)

OJK

Emiten

Manajer Investasi

Investor

(31)

Faktor-faktor Pengaruh Perkembangan Pasar

Modal Syariah

Menurut hasil penelitian Badan Pengawas Pasar Modal

(Bapepam) antara lain adalah:

Perkembangan macam instrumen pasar modal sesuai dengan syariah yang dikuatkan dengan fatwa DSN-MUI.

Perkembangan transaksi sesuai syariah atas instrumen pasar modal syariah.

(32)

Kriteria Emiten Syariah

Jenis usaha, produk barang, jasa yg diberikan dan akad serta cara pengelolaan perusahaan Emiten yang menerbitkan Efek Syariah tdk boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah

Jenis Usaha Yg Bertentangan adalah

– Perjudian, permainan yg tergolong judi atau perdagangan yang dilarang

– Lembaga keuangan konvensional

– Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman yg haram.

– Produsen, distributor, dan atau penyedia barang atau jasa yg merusak moral dan bersifat mudarat

– Melakukan investasi pada Emiten yg pd saat transaksi tingkat hutang perusahaan kpd lembaga keuangan ribawi lebih dominan dr

(33)

Lanjutan

Emiten yang menerbitkan Efek Syariah wajib

menandatangani dan memenuhi akad yg sesuai dg syariah

Emiten yang menerbitkan Efek Syariah wajib menjamin

kegiatan usahanya memenuhi prinsip Syariah

Apabila suatu saat Emiten tidak bisa memenuhi

(34)

Efek Syariah

Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam

Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan

pelaksanaannya yang akad, cara,dan kegiatan usaha

(35)

Kriteria Efek Syariah

Tidak melakukan kegiatan usaha yang bertentangan

dengan prinsip syariah;

Memenuhi rasio-rasio keuangan sebagai berikut:

(36)

Kegiatan Usaha Yg Tidak Sesuai Prinsip Syariah

(Keputusan Ketua Bapepam LK No : Kep-181/BL/2009 Tanggal : 30 Juni 2009)

Perjudian dan permainan yang tergolong judi;

Perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain:

– perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa; dan

– perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu; • Jasa keuangan ribawi, antara lain:

– bank berbasis bunga; dan

– perusahaan pembiayaan berbasis bunga;

Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;

Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan antara lain:

– barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi);

– barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau

(37)

JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)

Tujuan pembentukan JII: meningkatkan kepercayaan

investor utk melakukan investasi pd saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di Bursa.

Saham-saham yang tercatat pada JII mrpkn benchmark

(38)
(39)

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ZAKAT DI

INDONESIA

Isl

am

masuk

ke

a,

Indonesi

mengajarkan

ruk

un Isl

am

, di

a ZAK

antarany

AT

(40)
(41)

Cont’d

(42)

Peraturan Perundang-undangan mengenai Zakat

1967

• Disusun RUU Zakat oleh Menteri Agama (diharapkan dapat bekerja sama dengan Menteri Sosial dan Menteri Keuangan)

• MenKeu berpendapat, peraturan zakat cukup diatur dalam Peraturan Menteri Agama

1968 - 1999

• PMA No. 4 dan % Tahun 1968

tentang

pembentukan Badan Amil Zakat dan Baitul Mal di tingkat pusat, propinsi, dan kabupaten/kotam adya

• Masing-masing propinsi

membentuk BAZ yang bersifat semi pemerintah, seperti BAZIS Aceh, SumBar, SumSel,

Lampung, JaBar, KalSel, KalTim, SulUt, NTB, dll

1999 - 2013

• UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat

• Pembentukan BAZNAS

berdasar Keppres No. 8 Tahun 2001 tentang Badan Amil Zakat Nasiional

• KHES Buku III tentang Zakat dan Hibah

(43)

Pola Kelembagaan Zakat 1968 - 1999

1. Lembaga zakat hanya mengumpulkan zakat fitrah

(contoh, Jawa Barat).

2. Lembaga zakat berfokus pada pengumpulan zakat mal,

termasuk pula infaq dan sadaqah (contoh, DKI Jakarta).

3. Lembaga zakat mengumpulkan zakat fitrah dan zakat

(44)

Kelembagaan Zakat 1999 - 2011

Presiden

BAZ

Dibentuk pemerintah

LAZ

Dibentuk masyarakat

(45)

Kelembagaan Zakat 2011

Presiden

UPZ

LAZ

Menteri

(46)

Badan Amil Zakat Nasional

BAZNAS adalah lembaga yang melakukan pengelolaan

zakat secara nasional

merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang

(47)

Tugas dan Fungsi BAZNAS

Tugas BAZNAS

Mengelola zakat secara nasional

Fungsi BAZNAS

1. Perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat;

2. Pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat;

3. Pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat; dan

(48)

Cont’d

Untuk melaksanakan tugas dan fungsi BAZNAS pada

tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dibentuk BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota

Pola kelembagaan zakat adalah meliputi pengumpulan

(49)

Unit Pengelola Zakat

UPZ adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh

BAZNAS untuk membantu pengumpulan zakat

UPZ dibentuk oleh BAZNAS, BAZNAS provinsi, dan

BAZNAS kabupaten/kota dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya

UPZ dapat dibentuk pada instansi pemerintah, badan

usaha milik negara, badan usaha milik daerah,

perusahaan swasta, dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri serta dapat membentuk UPZ pada tingkat

(50)

Lembaga Amil Zakat

LAZ adalah lembaga yang dibentuk masyarakat yang

memiliki tugas membantu pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat

Pembentukan LAZ wajib mendapat izin Menteri atau

(51)

Syarat LAZ

Izin hanya diberikan apabila memenuhi persyaratan

paling sedikit:

1. Terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang mengelola bidang pendidikan, dakwah, dan sosial;

2. Berbentuk lembaga berbadan hukum; 3. Mendapat rekomendasi dari BAZNAS; 4. Memiliki pengawas syariat;

5. Memiliki kemampuan teknis, administratif, dan keuangan untuk melaksanakan kegiatannya;

6. Bersifat nirlaba;

7. Memiliki program untuk mendayagunakan zakat bagi kesejahteraan umat; dan

(52)

Putusan MK ttg JR

UU Pengelolaan Zakat

Mengabulkan sebagian permohonan para pemohon terkait pasal 18,

pasal 38 dan pasal 41 UU Pengelolaan zakat.

Pasal 18: persyaratan perizinan dan pendirian,

Pasal 38: pengelolaan zakat tanpa izin ditindak pidana kriminalisasi,

Pasal 41: amil zakat perseorangan yang tidak memiliki izin.

Persyaratan perizinan yang termaktub dalam Pasal 18 ayat 2 tidak

bersifat kumulatif. Seluruh persyaratan dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) tidak harus berlatar belakang organisasi kemasyarakatan Islam.

Pasal 38 dan 41 tentang tindak pidana, LAZ yang terdiri dari Amil

tidak harus memiliki izin dan tidak dapat dikriminalisasi. Cukup melaporkan laporan pengelolaan zakat kepada pengawas syariah eksternal atau pemegang kewenangan di wilayah yang

(53)
(54)

SEJARAH PERATURAN WAKAF DI INDONESIA

AGRARIA PASAL 49 AYAT (3)

UU NO. 5 TH 1960 TTG

POKOK

AGRARIA PASAL 49 AYAT (3)

PENDAFTARAN TANAH MENGENAI

PERWAKAFAN TANAH MILIK

PMDN NO. 6 TH 1977 TTG TATA

PENDAFTARAN TANAH MENGENAI

PERWAKAFAN TANAH MILIK

PMA NO. 1 TH 1978 TTG PERATURAN

PELAKSANA PP NO. 28 TH 1977

PMA NO. 1 TH 1978 TTG PERATURAN

PELAKSANA PP NO. 28 TH 1977

PERATURAN DIRJEN BIMAS ISLAM NO. KEP/D/75/1978 TTG

FORMULIR PEDOMAN PELAKSANAAN

PERATURAN-PERATURAN TTG PERWAKAFAN TANAH MILIK

PERATURAN DIRJEN BIMAS ISLAM NO. KEP/D/75/1978 TTG

FORMULIR PEDOMAN PELAKSANAAN

PERATURAN-PERATURAN TTG PERWAKAFAN TANAH MILIK

(55)

KELEMBAGAAN WAKAF DI INDONESIA

Wakaf harta lainnya Wakaf Uang

Wakaf Tanah MENTERI

AGAMA

PPAIW (KUA)

BADAN WAKAF INDONESIA

L K S B P N

WAKIF: Perseorangan,

Organisasi, Badan Hukum

NAZHIR:

(56)

WAKIF

Perseorangan persyaratan:

1. dewasa;

2. berakal sehat;

3. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum; dan

4. pemilik sah harta benda wakaf.

Organisasi

Hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan

organisasi untuk mewakafkan harta benda wakaf milik organisasi sesuai dengan anggaran dasar organisasi yang bersangkutan

Badan hukum

Hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan badan

(57)

NAZHIR

Perseorangan memenuhi persyaratan:

1. warga negara Indonesia; 2. beragama Islam;

3. dewasa; 4. amanah;

5. mampu secara jasmani dan rohani; dan

6. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

Organisasi memenuhi persyaratan :

1. pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan

(58)

CONT’D

Badan hukum memenuhi persyaratan:

1. pengurus badan hukum yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan

2. badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang.undangan yang berlaku;

(59)

TUGAS NAZHIR

1. rnelakukan pengadministrasian harta benda wakaf;

2. mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf

sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukannya;

3. mengawasi dan melindungi harta benda wakaf;

4. melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan Wakaf

(60)

Lembaga Keuangan Syariah

Bank penerima Wakaf Uang

1. Bank Syariah Mandiri

2. BNI Syariah

3. Bank Muamalat

4. Bank DKI Syariah

5. Bank Mega Syariah Indonesia

6. Bank BTN Syariah

7. Bank Bukopin Syariah

8. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jogja Syariah

9. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Barat Syariah

10. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jateng Syariah

11. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Riau Syariah

(61)

BADAN WAKAF INDONESIA

Lembaga independen

BWI berkedudukan di ibukota Negara dan dapat

membentuk perwakilan di Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota sesuai dengan kebutuhan

Keanggotaan BWI diangkat dan diberhentikan oleh

Presiden.

Keanggotaan Perwakilan BWI di daerah diangkat dan

(62)

TUGAS DAN WEWENANG BWI

1. melakukan pembinaan terhadap Nazhir dalam

mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf;

2. melakukan pengelolaan dan pengembangan harta

benda wakaf berskala nasional dan internasional;

3. memberikan persetujuan dan/atau izin atas

perubahan peruntukan dan status harta benda wakaf;

4. memberhentikan dan mengganti Nazhir;

5. memberikan persetujuan atas penukaran harta benda

wakaf;

6. memberikan saran dan pertimbangan kepada

(63)

WASSALAM

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...