• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN SISWA DALAM KESULITAN BELAJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERMASALAHAN SISWA DALAM KESULITAN BELAJ"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERMASALAHAN SISWA DALAM KESULITAN BELAJAR

(Contoh Studi Kasus Terhadap Dwi Deva Yanti Siswi SMK Muhammadiyah Cawas) Disusun guna memenuhi Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Layanan Bimbingan Konseling

Dosen Pengampu : Drs. H.Djumali, M.Pd.

Di susun oleh :

Retna Widayani A 210 090 055

PENDIDIKAN EKONOMI AKUNTANSI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)

Identitas Responden :

A. Nama Responden : Dwi Deva Yanti No. Induk : 6822

Jurusan : Tata Niaga / Pemasaran

Sekolah : SMK Muhammadiyah Cawas Klaten Alamat Sekolah : Jl. Barepan, Barepan, Cawas, Klaten Alamat : Kr. Wuni 06/03, Jambakan, Bayat, Klaten

B. Nama Orang Tua :

a. Ayah : Sobari b. Ibu : Iyut Priyanti

Alamat : Kr. Wuni 06/03, Jambakan, Bayat, Klaten

Deskripsi Kasus

Deva Adalah Siswi dari Sekolah SMK Muhammadiyah Cawas, Klaten. Sekarang kelas XI Jurusan yang diambil adalah Tata Niaga / Pemasaran. Dia adalah anak kedua dari 4 saudara. Dia tinggal bersama Orang tuanya di Dukuh Karang Wuni 06/03, Jambakan, Bayat, Klaten. Dan pekerjaan Orang tuanya adalah buruh. Dia tugasnya sebagai pelajar tetapi dia juga membantu Orang tuanya untuk menambah ekonomi keluarganya dengan menyanyi di tempat makan/lestoran dan sering kali dapat panggilan menyanyi di tempat hajatan.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Tetapi dalam kegiatan pembelajaran dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar , siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari pelajaran yang diterimanya dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar tersebut seperti halnya yang dialami oleh Dwi Deva Yanti siswi SMK Muhammadiyah Cawas yang sulit dalam pemahaman pelajaran.

Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis. Sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

B. Rumusan Masalah

1. Mengidentifikasi berbagai permasalahan siswa dalam kesulitan belajar. 2. Langkah mengatasi permasalahan pembelajaran.

3. Penyelesaian permasalah dalam kesulitan belajar yang dihadapi Responden.

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui berbagai permasalahan siswa dalam kesulitan belajar. 2. Untuk mengetahui langkah mengatasi permasalahan pembelajaran.

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Teori

1. Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :

a. Learning Disorder atau Kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya yang mengalami kekacauan belajar potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan. Sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.

b. Learning Disfunction adalah gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat kelamian, atau gangguan psikologis lainnya.

c. Under Achiever adalah mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

d. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. e. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala

dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

(5)

a. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).

b. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.

c. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater).

2. Faktor permasalahan dalam kesulitan belajar a. Kondisi tempat belajar.

Yang di maksud tempat belajar disini adalah sekolah, rumah, perpustakaan ataupun tempat lainnya yang di gunakan untuk belajar. Tempat belajar ini harus tenang, nyaman, tenteram dan terhindar dari kegaduhan serta kebisingan yang dapat menggangu konsentrasi siswa. maka jika suasana tenang dan tentram suasana belajar akan menjadi kondusif, transfer ilmu berjalan lancar.

b. Teman dalam belajar bisa guru ataupun siswa lainnya.

Teman disini adalah guru yang bisa diajak diskusi dan teman sepenanggungan dalam belajar sehingga terdapat persepsi yang sama tentang aktivitas yang di lakukan. kontradiksi tidak ada sehingga kebingungan siswa terkait kegiatan tersebut dapat di hindarkan, sehingga siswa menganggap bahwa belajar itu mudah dan yang di mengerti atau di maknai oleh dia juga sama dengan pengertian orang lain di sekitar.

c. Sarana prasarana belajar.

(6)

d. Motivasi dalam belajar.

Motivasi adalah dorongan dari dalam diri setiap individu siswa. jika siswa tidak memiliki motivasi belajar, terus bagaimana dia mau belajar, dorongan saja tidak ada. maka penting bagi kita memberi motivasi kepada anak didik kita terkait motivasi atau dorongan dalam kita melaksanakan kegiatan belajar.

e. Dukungan pihak lain dalam belajar.

Dukungan adalah konsumsi mental siswa. dengan kita memberikan banyak dukungan dan perhatian kepada siswa, berarti kita telah membantunya 50 % dalam proses belajarnya. sebab setelah itu pasti siswa tinggal melaksanakan saja apa tugasnya selanjutnya berjalan sesuai dengan apa yang di berikan kepada siswa f. Arti belajar itu sendiri.

Banyak orang salah mengartikan apa itu belajar, kalau kita salah mengartikan maka susahlah bagi meningkatkan kemampuan belajar kita. Kebanyakan orang mengartikan belajar adalah bagi anak anak, bagi remaja, bagi orang muda ataupun hanya bagi orang yang bersekolah atau kuliah. padahal tidak. belajar adalah untuk selamanya, belajar adalah sepanjang usia kita, belajar adalah bagi semua jenjang usia maupun umur. maka kita harus menanamkan hal tersebut bagi anak-anak kita suya mereka paham bahwa belajar adalah tidak terbatas umur dan itu dilakukan untuk dirinya sendiri.

Dengan memahami berbagai faktor tersebut, hendaknya kita paham tentang akar masalah dan solusinya bagi anak anak kita supaya anak didik kita menjadi anak yang cerdas, pandai dan terhindar dari sifat kemalasan dalam menuntut ilmu.

B. Langkah-langkah penyelesaian Masalah Kesulitan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi kasus

(7)

(2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :

Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.

Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.

Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.

 Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

 Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

2. Identifikasi Masalah

(8)

3. Diagnosis

Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.

4. Prognosis

Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi. 5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)

Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

6. Evaluasi dan Follow Up

(9)

tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

 Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;

 Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan

 Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:

 Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.  Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.

 Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).

 Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).  Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya

 Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.

(10)

C. Penyelesaian Permasalahan Dalam Kesulitan Belajar Yang Dihadapi Dwi Deva Yanti

Berdasarkan hasil wawancara secara langsung dengan Dwi Deva Yanti mengatakan bahwa faktor yang membuatnya mengalami kesulitan belajar adalah :

1. Kurang menaruh minat terhadap pelajaran sekolah.

2. Banyak melakukan aktivitas atau pekerjaan yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, malas belajar.

3. Memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah 4. Sering izin tidak mengikuti pelajaran sekolah.

5. Kelemahan dalam kondisi keluarga ( status ekonomi, pendidikan )

Permasalahan dalam kesulitan belajar yang dihadapi Dwi Deva Yanti, maka dapat diberi cara penyelesaian masalah sebagai berikut :

1. Untuk pemecahan masalah bagi siswa yang kurang menaruh minat tehadap pelajaran sekolah dan malas belajar, guru harus bisa memberi inovasi pelajaran dalam kelas, pemberian tugas dan tugas rumah yang mempunyai nilai pendidikan.

2. Untuk pemecahan masalah bagi siswa yang memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah, guru mengarahkan agar siswa merubah cara belajarnya dengan cara menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan diri siswa tersebut karena setiap siswa mempunyai perbedaan dalam belajar.

3. Untuk pemecahan masalah bagi siswa yang sering izin, dari sekolah harus memberi penegasan dalam aturan sekolah dan tata tertib yang ada dan mencari penyebab sering izinnya siswa dengan menemui orang tua.

(11)
(12)

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Marsudi Saring, (2003), Layanan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Surakarta : UMS Press

Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Prayitno (2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

http://lbbsuprauno.blogspot.com/2010/04/mengatasi-kemalasan-anak-dalam-belajar.html.Jumat, 4 Juni 2010 jam 11.30 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini Bertujuan untuk menganalisis dan mendiskripsikan tingkat kesulitan soal pemecahan masalah Matematika ditinjau dari komponen-komponen soal: jenis

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan tingkat kesulitan soal pemecahan masalah dalam buku siswa matematika kelas IX kurikulum 2013 ditinjau dari

Hasil penelitian menyatakan (1) kesulitan aspek memahami masalah yaitu siswa tidak biasa mengerjakan soal cerita dengan langkah pemecahan masalah polya, siswa masih kurang

Hasil penelitian menyatakan (1) kesulitan aspek memahami masalah yaitu siswa tidak biasa mengerjakan soal cerita dengan langkah pemecahan masalah polya, siswa

kesulitan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan soal stoikiometri melalui tahap-.. tahap pemecahan

Kesulitan-kesulitan tersebut menunjukkan bahwa subjek masih harus diberikan penguatan konsep, prinsip dan pemecahan masalah verbal secara bertahap dan berulang

Penelitian ini berhasil mengumpulkan data deskriptif mengenai banyak soal pemecahan masalah. Karakteristik soal berdasarkan tingkat kesulitan yang ditinjau dari jenis

Berdasarkan reduksi data dan penyajian data, dapat disimpulkan bahwa kesulitan yang di dalam siswa SMP kelas VII dalam pemecahan masalah matematika yaitu siswa