• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Engagement dan Kepuasan Karyawa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gambaran Engagement dan Kepuasan Karyawa"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Gambaran

Engagement

dan Kepuasan Karyawan Pada PT. XYZ

SETA A. WICAKSANA1, ESTU PRATIWI NOVASARI2, SANCHIA SURYA JANITA3

[1]

Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa – Jakarta Selatan 12640

[1]

Email: [email protected]

[3]

Email: [email protected]

[1]

Humanika Consulting

Jl. Perkutut VI No. 10, Ciputat Timur – Tangerang Selatan 15412 Email: [email protected]

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik terkait

kebutuhan dan ekspektasi karyawan terhadap perusahaan. Penelitian ini dilakukan pada karyawan PT. XYZ yang terdiri dari bagian periklanan dan bagian komunikasi pemasaran. Jumlah sampel penelitian sebanyak 127 responden. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner yang dikembangkan oleh Humanika Consulting pada tahun 2016 yang terdiri dari 92 aitem dengan nilai koefisien reliabilitas 0,747. Penelitian ini bersifat longitudinal dan analisis data menggunakan deskriptif berdasarkan persentase untuk kepuasan kayawan dan menggunakan skor index untuk tingkat

engagement. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan berada pada kategori

engaged dan tingkat kepuasan karyawan PT. XYZ berada pada angka 65.7% yang termasuk ke dalam kategori sedang.

Kata kunci : engagement karyawan, kepuasan karyawan, periklanan, komunikasi pemasaran

Abstract: The purpose of this research can provide a better understanding of the needs and expectations of employees to the company. This research was conducted on employees of PT. XYZ consisting of advertising and marketing communications sections. Respondents of this research were 127 employee. Data collection tool used is a questionnaire developed by Humanika Consulting in 2016 which consists of 92 items with a value of reliability coefficient of 0,747. This study is longitudinal and data analysis uses descriptive percentage for employee satisfaction and using index score for engagement level. The result of analysis shows that most of the employees are in the engaged category and the level of employee satisfaction of PT. XYZ is at 65.7% which is included in the medium category.

Keywords: employee engagement, employee satisfaction, advertising, marketing communication

PENDAHULUAN

Dalam menghadapi berbagai

tantangan di era globalisasi, setiap perusahaan

membutuhkan dukungan sumber daya manusia

yang handal dan kompeten (Bakker & Leitter,

2010). Sumber daya manusia dianggap sebagai

komponen vital suatu perusahaan karena

memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja

perusahaan, sumber daya manusia dengan

kinerja yang maksimal pun akan

mengantarkan perusahaan pada berbagai

(2)

Adanya persaingan ketat yang

dihadapi oleh perusahaan membuat kebutuhan

akan karyawan yang energik dan berdedikasi

tinggi meningkat, yaitu karyawan yang

memiliki engagement dalam menjalani

pekerjaannya (Bakker & Leitter, 2010).

Engagement karyawan dalam pekerjaannya

menjadi perhatian utama pada banyak

organisasi karena berhubungan dengan

kesejahteraan dan kinerja karyawan (Knight,

Patterson & Dawson, 2016). Robertson &

Cooper (2010) menyebutkan bahwa karyawan

yang memiliki engagement kerja tinggi akan

bekerja secara aktif dan mencoba untuk

melakukan segala sesuai dengan maksimal.

Karyawan yang memiliki engagement kerja

tinggi juga akan bekerja dengan penuh rasa

semangat serta merasakan hubungan yang

mendalam terhadap perusahaan tempat mereka

bekerja, karyawan dengan engagement tinggi

akan selalu berusaha berinovasi dan bergerak

maju ke depan bersama organisasi (Truss,

Soane, Edwards, Wisdom, Croll & Burnett,

2006).

Schaufeli, Salanova, González-Romá

& Bakker (2002) mendefinisikan engagement

kerja sebagai keadaan positif, pemenuhan,

pandangan terhadap kondisi kerja yang

dikarakteristikkan dengan adanya vigor,

dedication dan absorption. Menurut Schaufeli, Salanova, González-Romá & Bakker (2002),

vigor mengacu pada tingkat energi dan resiliensi mental yang tinggi ketika sedang

bekerja, kemauan berusaha sungguh-sungguh

dalam pekerjaan serta gigih dalam menghadapi

kesulitan. Dedication diartikan sebagai

perasaan yang penuh makna, antusias,

inspirasi, kebanggaan dan tantangan.

Absorption dikarakteristikkan dengan konsentrasi penuh, minat yang mendalam

terhadap pekerjaan di mana waktu terasa

berlalu begitu cepat dan sulit melepaskan diri

dari pekerjaan.

Menurut Schaufeli, Salanova,

González-romá & Bakker (2002), pegawai

dengan engagement kerja yang tinggi memiliki

rasa keterikatan yang energik dan efektif

dengan aktivitas kerja mereka, mereka pun

mampu melihat sejauh mana diri mereka

sanggup menangani seluruh tuntutan pekerjaan

yang mereka miliki. Schaufeli, Salanova,

González-romá & Bakker (2002)

menyebutkan bahwa karyawan dengan

engagement kerja tinggi senang melakukan hal-hal di luar pekerjaannya, mereka tidak

bekerja keras karena suatu dorongan batin

yang kuat dan tak tertahankan melainkan

karena bagi mereka pekerjaan yang mereka

lakukan merupakan hal yang menyenangkan.

Schaufeli, Taris & Renen (2007)

menyebutkan melalui hasil penelitiannya

bahwa engagement kerja berhubungan negatif

dengan kelelahan kerja pada karyawan, dalam

hal ini daitemukan bahwa semakin tinggi

engagement kerja karyawan maka semakin rendah kemungkinan untuk terjadi kelelahan

kerja pada diri karyawan tersebut. Hasil

penelitian Hakanen, Bakker & Schaufeli

(2006) pun menunjukkan bahwa engagement

kerja memiliki andil dalam meningkatkan

kinerja dan komitmen organisasi pada

karyawan. Rudolph & Baltes (2016)

mengemukakan melalui hasil penelitiannya

(3)

kerja bahwa pengaturan kerja yang fleksibel

seperti kebijakan formal yang memungkinkan

karyawan untuk mengelola pekerjaannya

secara bebas memiliki pengaruh positif

terhadap engagement kerja karyawan.

Secara teoritis, individu dengan

engagement tinggi memiliki pengalaman yang lebih positif dan keterikatan yang lebih besar

dengan organisasi mereka yang pada

gilirannya dapat meningkatkan kepuasan kerja

mereka (Sonnentag, Volmer & Spychala,

2008). Kepuasan kerja pun menjadi suatu hal

yang penting karena memiliki andil dalam

mempengaruhi produktivitas seorang

karyawan (Keles, 2015). Kepuasan kerja

adalah sikap umum seorang karyawan

terhadap pekerjaannya yang menunjukkan

adanya kesesuaian antara harapan seseorang

yang timbul dengan imbalan yang disediakan

oleh pekerjaan (Robbins, 2003).

Menurut Alessandri, Borgogni &

Latham (2016), karyawan yang puas terhadap

pekerjaannya akan menunjukkan kinerja yang

lebih tinggi dari waktu ke waktu daripada

pekerja yang tidak puas dengan pekerjaannya.

Marinez-Marti & Ruch (2016) pun

mengungkapkan hal serupa dalam studi

longitudinalnya bahwa engagement kerja dan

kepuasan karyawan di Switzerland

menunjukkan adanya hubungan positif, yakni

semakin tinggi engagement kerja karyawan

semakin tinggi pula kepuasan yang

dimilikinya. Dalam penelitian longitudinal

tersebut dijelaskan bahwa prediktor terbaik

dari kepuasan kerja adalah interaksi antara tiga

hal yakni kesenangan (pleasure), keterikatan

(engagement) dan kebermaknaan (meaning).

Kepuasan kerja dapat terbentuk dari

iklim organisasi, persepsi individu dan

evaluasi pekerjaannya yang dipengaruhi oleh

keadaan unik dalam diri individu seperti

kebutuhan, nilai dan harapan (Sempane,

Rieger, Roodt, 2002). Menurut Martins &

Coetzee (2007) apabila karyawan tidak puas

dengan pekerjaannya, mereka akan mencari

peluang kerja di organisasi lain dan

meninggalkan perusahaan lamanya tanpa rasa

bersalah. Robbins & Judge (2015)

mengungkapkan bahwa individu yang

memiliki tingkat kepuasan kerja tinggi

umumnya memiliki sikap positif terhadap

pekerjaan mereka, jika mereka memiliki

tingkat kepuasan kerja yang rendah, mereka

pun akan memiliki sikap negatif terhadap

pekerjaannya.

Pada tahun 2015, peneliti telah

melakukan survei mengenai tingkat

engagement dan kepuasan karyawan di PT.

XYZ, namun hasil survei tersebut

menunjukkan angka yang cukup rendah untuk

tingkat engagement dan kepuasan

karyawannya. Di tahun 2016, survey yang

sama kembali dilakukan untuk mendapatkan

pemahaman yang lebih baik terkait kebutuhan

dan ekspektasi karyawan serta menentukan

langkah improvement yang tepat bagi

perusahaan.

Masalah penelitian. Bagaimana

gambaran engagement dan kepuasan kerja

pada karyawan PT. XYZ pada tahun 2016 ?

Tujuan penelitian. Hasil penelitian

ini diharapkan dapat memberikan pemahaman

yang lebih baik terkait kebutuhan dan

(4)

Melalui hasil penelitian ini, diharapkan

perusahaan dapat mengevaluasi kekuatan dan

kelemahan perusahaan berdasarkan persepsi

karyawan terhadap perusahaan serta dapat

menjadi bahan pertimbangan untuk

menentukan langkah improvement selanjutnya

yang akan diambil oleh perusahaan.

Engagement Karyawan. Konsep

Engagement karyawan pertama kali diperkenalkan oleh Kahn (1990), yakni

karyawan yang terlibat secara fisik, kognitif

dan emosional dalam pekerjaan mereka serta

mengalami rasa bermakna, kemananan

psikologis (adanya rasa percaya dan kemanan

di tempat kerja) serta ketersediaan (rasa

memiliki sumber daya fisik dan psikologis

yang diperlukan dalam pekerjaan).

Engagement karyawanadalah keadaan positif, pemenuhan, pandangan terhadap kondisi kerja

yang dikarakteristikkan dengan adanya vigor,

dedication dan absorption (Schaufeli, Salanova, González-Romá & Bakker, 2002).

Engagement karyawan didefinisikan sebagai pengalaman kerja yang dimiliki oleh seorang

pekerja yang mengacu pada tingkat energi dan

stimulasi, perasaan penuh makna serta minat

yang mendalam terhadap pekerjaan (Bakker &

Leiter, 2010).

Berdasarkan uraian diatas, definisi

engagement karyawan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengalaman positif,

pemenuhan, pandangan terhadap kondisi kerja

yang ditandai melalui adanya tingkatan energi,

perasaan penuh makna dan mendalam

terhadap pekerjaan.

Menurut Schaufeli, Salanova,

González-Romá & Bakker (2002),

engagement karyawan memiliki tiga dimensi diantaranya adalah:

a. Vigor

Mengacu pada tingkat energi dan

resiliensi mental yang tinggi ketika

sedang bekerja, kemauan berusaha

sunguh-sunguh dalam pekerjaan dan gigih

dalam menghadapi kesulitan.

b. Dedication

Mengacu pada perasaan yang penuh

makna, antusias, inspirasi, kebanggan dan

tantangan.

c. Absorption

Dikarakteristikkan dengan konsentrasi

penuh, minat yang mendalam terhadap

pekerjaan di mana waktu terasa berlalu

begitu cepat dan sulit melepaskan diri dari

pekerjaan.

Menurut Bakker (2009) terdapat tiga

faktor dari engagement karyawan yaitu:

1. Job resources, mengacu pada aspek fisik, sosial dan organisasional dari pekerjaan

yang memungkinkan individu untuk

mengurangi adanya tuntutan pekerjaan

serta biaya baik secara psikologis maupun

fisiologis yang berhubungan dengan

pekerjaan, mencapai target pekerjaan

serta menstimulasi pertumbuhan,

pembelajaran serta perkembangan

personal individu.

2. Salience of Job Resource, mengacu pada seberapa penting sumber daya pekerjaan

(5)

3. Personal Resources, terkait dengan karakteristik yang dimiliki oleh pekerja

seperti kepribadian, usia, sifat dan

sebagainya.

Kepuasan Kerja. Kepuasan kerja

adalah sikap umum seorang karyawan

terhadap pekerjaannya yang menunjukkan

adanya kesesuaian antara harapan seseorang

yang timbul dengan imbalan yang disediakan

oleh pekerjaan (Robbins, 2003). Brief &

Weiss (2002) menyebutkan bahwa kepuasan

kerja mengacu pada evaluasi kognitif dan

afektif seseorang dalam pekerjaannya.

Menurut Hawell & Dipboye (dalam Munandar,

2014) kepuasan kerja merupakan hasil

keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak

sukanya tenaga kerja terhadap beberapa aspek

dari pekerjaannya, dengan kata lain kepuasan

kerja mencerminkan sikap tenaga kerja

terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja

merupakan berkaitan dengan persepsi dan

evaluasi individu terhadap pekerjaannya, dan

persepsi yang ada dipengaruhi oleh kebutuhan,

nilai dan harapan khas seseorang. individu pun

akan mengevaluasi pekerjaan mereka

berdasarkan faktor yang dianggap penting bagi

mereka (Sempane, Rieger & Roodt, 2002).

Berdasarkan pemaparan diatas,

definisi kepuasan kerja yang digunakan dalam

penelitian ini adalah sikap umum karyawan

terhadap pekerjaan yang dipengaruhi oleh

kebutuhan, nilai dan harapan dari karyawan.

Perrins (2003) menyebutkan terdapat

beberapa hal yang menjadi aspek kepuasan

kerja diantaranya adalah:

a. Komunikasi antara karyawan dan atasan

di perusahaan.

b. Pekerjaan yang memberikan tantangan.

c. Penyampaian visi yang jelas

d. Kesempatan berkarir

e. Kesempatan untuk dapat mengambil

keputusan

dikemukakan oleh Hewitt (2008) adalah:

a. Work (aktivitas pekerjaan yang dihadapi)

b. Opportunities

Berdasarkan uraian diatas, aspek

kepuasan kerja yang digunakan dalam

penelitian ini merupakan aspek gabungan dari

Perrins (2003) dan Hewiit (2008), yakni:

a. Leadership

Leadership adalah proses pengaruh sosial di mana pemimpin mencari anggota yang

bersedia berpartisipasi secara sukarela

untuk mencapai tujuan organisasi

(Omolayo, 2007)

b. Self motivation–can do attitude

Motivasi diri merupakan hal yang perlu

dimiliki untuk menggali potensi diri dan

berkaitan dengan semangat serta

keinginan untuk sukses dan memiliki

(6)

dan pencapaian seseorang (Singh dkk,

2002)

c. System management

Sistem manajemen digunakan sebagai

pendekatan guna menghadapi tantangan

kompetitif yang dihadapi oleh organisasi

dan digunakan untuk mempersiapkan

sumber daya manusia yang terencana

(Alam, Saeed, Sahuddin & Akter, 2013).

d. Performance development

Performance devopment merupakan proses berkelanjutan yang melibatkan

karyawan dan atasan mereka serta

berfokus pada pengembangan karyawan

sebagai tenaga professional (Busi &

Bititci, 2006)

e. Recognition and compensation benefit

Karyawan cenderung termotivasi untuk

meningkatkan kinerjanya apabila

mendapat penghargaan seperti pengakuan

karyawan. Pengakuan mengacu pada

pujian atau catatan pribadi yang ditujukan

kepada karyawan terkait pencapaian

mereka (Gostick & Elton, 2007).

Kompensasi merupakan komponen

mendasar dalam pengelolaan sumber daya

manusia yang mencakup imbalan ekonom

dalam bentuk upah, gaji, tunjangan,

kompensasi tidak langsung atau gaji tidak

tambahan (Tessema, Ready & Embaye,

2013)

f. Company images and values

Company image merupakan citra organisasi yang telah dikenal baik oleh

masyarakat, sedangkan company value

terkait dengan nilai-nilai yang diterapkan

pada suatu perusahaan (Lemmink, Schujf

& Streukens, 2003)

g. Working environment

Spector (1997) menyebutkan bahwa

kebanyakan bisnis yang mengabaikan

lingkungan kerja dalam organisasi mereka

berdampak buruk pada kinerja karyawan.

h. Team work and collaboration

Team work dan collaboration pada karyawan di lingkungan kerja akan

membangkitkan emosi positif dan

kepuasan kerja karyawan (Perrins, 2003).

Spector (1997) menjelaskan bahwa

faktor kepuasan kerja terbagi atas faktor

lingkungan dan faktor personal.

1) Faktor lingkungan

a) Individu ingin bekerja di lingkungan

yang nyaman dan aman, lingkungan

yang bersih, modern dan lengkap.

b) Self-Improvement

Pekerja ingin meningkatkan

keterampilan, kemampuan, pengetahuan

dan mempelajari hal baru terutama yang

dapat memberikan pertumbuhan pribadi.

c) Reward

Gerald & Dorothee (2004) menyebutkan

bahwa penghargaan berkorelasi positif

dengan kepuasan kerja.

d) Supervision

Kepuasan kerja secara positif

dipengaruhi oleh dukungan dan

pengakuan supervisor terhadap

karyawan. Komunikasi antara

supervisor dan bawahan menentukan

sikap karyawan terhadap pekerjaan

mereka.

(7)

Karyawan yang memiliki hubungan

yang baik dengan rekan kerja cenderung

puas dengan pekerjaan mereka.

Karyawan pun lebih suka bekerja

Dalam literatur disebutkan bahwa

terdapat perbedaan antara gender dan

kepuasan kerja, dalam hal ini

perempuan lebih puas terhadap kondisi

kerja dan hubungan sosial sedangkan

laki-laki lebih puas dengan gaji dan

promosi jabatan.

b. Tingkat pendidikan

Kepuasan kerja dapat menurun seiring

dengan meningkatnya tingkat

pendidikan, Perrins (2003)

menyebutkan bahwa pekerja dengan

pendidikan tinggi seringkali tidak puas

dengan pekerjaan yang dilakukan

berulang-ulang.

c. Senioritas

Menurut Green (2000) kepuasan kerja

berkorelasi negatif dengan senioritas,

yakni semakin tinggi senioritas yang

terjadi di perusahaan maka semakin

rendah kepuasan kerja karyawan di

perusahaan tersebut.

METODE

Kategori Penelitian. Penelitian ini

termasuk penelitian longitudinal yakni

penelitian yang dilakukan untuk mengetahui

pola perubahan yang berkaitan dengan waktu

(Kumar, 2011), dalam penelitian ini pola

perubahan waktu yang ingin diketahui ialah

perubahan engagement dan kepuasan

karyawan pada tahun 2015 dan 2016.

Penelitian ini bersifat non eksperimental dan

deskriptif.

Responden Penelitian. Populasi dan

sampel dalam penelitian ini adalah seluruh

karyawan di PT. XYZ. Sampel dalam

penelitian ini adalah 127 orang karyawan PT.

XYZ.

Prosedur Penelitian. Adapun

prosedur yang digunakan dalam penelitian ini

diantaranya adalah:

a. Menentukan permasalahan penelitian

berdasarkan fenomena di lapangan

b. Melakukan review literatur mengenai hal

yang ingin diteliti yakni peneliti

melakukan review literatur mengenai

keterikatan kerja dan kepuasan karyawan.

c. Menentukan pendekatan dan desain

penelitian. Adapun pendekatan dalam

penelitian ini adalah kuantitatif dan

desain penelitiannya adalah

non-eksperimen.

d. Menentukan alat pengumpul data yang

digunakan yaitu alat ukur keterikatan

kerja dan kepuasan karyawan yang dibuat

oleh Humanika Consulting (2016). Dalam

menyiapkan alat pengumpul data ada

beberapa tahap yang dilakukan

diantaranya adalah:

 Tahap persiapan: mereview kembali

aitem yang sudah dibuat oleh PT. XYZ

sebelumnya, menambahkan dimensi

(8)

 Tahap uji coba: dilaksanakan, bersamaan dengan tahap pengambilan

data.

e. Membuat proposal penelitian yang terdiri

dari latar belakang, perumusan masalah,

hasil review literatur hingga metode

penelitian.

f. Menentukan teknik pengolahan data yaitu

statistik deskriptif menggunakan karena

peneliti ingin mengetahui gambaran

engagement kerja dan kepuasan karyawan pada karyawan di PT. XYZ.

g. Tahap pengambilan data: pengambilan

data disebarkan melalui aplikasi google

doc.

h. Analisis data, analisis data dilakukan

dengan bantuan software SPSS.

Instrumen Penelitian. Alat ukur

dalam penelitian ini menggunakan kuesioner

yang dikembangkan oleh Humanika

Consulting (2016). Alat ukur tersebut

merupakan alat ukur yang menggabungkan

kedua aspek dari 2 variabel penelitian yaitu

variabel 1 (engagement karyawan) dan

variabel 2 (kepuasan karyawan) dalam satu

kuesioner, sehingga dalam satu kali

pengukuran dapat mengungkapkan dua hal

secara bersamaan.

Pada variabel Engagement kerja

disusun berdasarkan tiga dimensi yaitu vigor,

dedication dan absorption menurut Schaufeli, Salanova, González-Romá & Bakker (2001).

Sedangkan kepuasan kerja disusun

berdasarkan 8 aspek menurut Perrins (2003)

dan Hewiit (2008) yaitu leadership, self

motivation, system management, performance

development, recognition and compensation benefit, company images and values, working environment, dan team work and collaboration.

Alat ukur terdiri dari 92 aitem

favorable dan unfavorable berbentuk skala likert yang berjumlah 6 pilhan. Reliabilitas alat

ukur ini sebesar 0,747 yang berarti alat ukur

ini dapat diterima dan memiliki reliabilitas

yang tinggi, karena menurut Nunnaly

koefisien reliabilitas sebesar 0,5 sampai 0,6

dapat diterima (Kelinger & Lee, 2000).

Sedangkan rentang validitas alat ukur ini

adalah 0,2 sampai 0,6 berarti semua aitem

pada alat ukur ini dinyatakan valid karena

menurut Nisfiannoor (2009), jika nilai aitem

>0,2 dapat dikatakan aitem tersebut valid.

Hasil pengukuran engagement

karyawan akan berbentuk index dan hasil

kepuasan kerja karyawan akan berbentuk

presentase. Berikut ini adalah tabel yang

menjelaskan tentang pengkategorian hasil

engagement karyawan dan kepuasan kerja karyawan.

Tabel 1. Kategorisasi engagment karyawan

dan kepuasan kerja karyawan

Kategorisasi Kepuasan

Kerja

Engagement Karyawan

Tinggi Lebih dari

83.2%

Rendah Kurang dari

33.4%

Kurang dari

(9)

HASIL

Gambaran partisipan. Dari hasil

penelitian ini, didapat gambaran umum dari

partisipan. Gambaran yang dipaparkan

didasari pola modus dari partisipan. Dari 127

partisipan, perbandingan jumlah partisipan

berdasarkan jenis kelamin adalah 59,8%

perempuan berbanding 40,2% laki-laki.

Umumnya usia dari para partisipan adalah

20-30 tahun (48.8% dari 127 partisipan). Dilihat

dari lama bekerja, para partisipan umumnya

telah bekerja selama 1-3 tahun (35,4%),

dibawah 1 tahun (29,1%), 3-10 tahun (23,6%)

dan di atas 10 tahun (11,8%).

Dalam perusahaan PT. XYZ terdapat

2 bagian, yaitu bagian periklanan dan

komunikasi pemasaran. Partisipan dari bagian

periklanan sebanyak 91 orang dan bagian

komunikasi pemasaran sebanyak 36 orang.

Tingkat engagement karyawan

secara keseluruhan. Dalam penelitian ini

sebagian besar karyawan berada pada kategori

engaged yakni 76.4% dan 22.8% lainnya

merupakan karyawan yang sangat engagement,

sedangkan karyawan yang tidak menunjukkan

engagement hanya 0.8%.

Tingkat kepuasan kerja karyawan

secara keseluruhan. Tingkat kepuasan

karyawan PT. XYZ berada pada angka 65.7%

yang termasuk ke dalam kategori sedang.

Aspek yang memiliki persentase tertinggi

addalah self motivation can do attitude yakni

75.3%, angka tersebut pun menunjukkan

bahwa motivasi diri merupakan salah satu

aspek yang paling memiliki andil dalam

membentuk kepuasan seorang karyawan

terhadap pekerjaannya. Aspek dengan

persentase paling rendah adalah recognition

and compensation benefit yaitu 57.5%, hal ini pun memiliki arti bahwa pengakuan atasan

atau perusahaan serta kompensasi yang

diberikan perusahaan merupakan aspek yang

paling kecil andilnya dalam membentuk

kepuasan karyawan.

Tabel 2. Tingkat Kepuasan Kerja

Karyawan Keseluruhan

Aspek Persentase Kepuasan

Karyawan Working Environment 64.2%

Recognition and

Compensation Benefit 57.5% Self Motivation Can

do attitude 75.3% System Management 58.2%

Team Work and

Collaboration 72.5%

Keseluruhan 65.7%

Hasil penelitian selanjutnya akan

mepaparkan gambaran kepuasan karyawan

dan engagement karyawan berdasarkan bagiannya, seperti bagian periklanan dan

bagian komunikasi pemasaran yang dilihat

dari divisi, jabatan dan fungsinya.

Divisi bagian periklanan terdiri dari

service, digital identity, activator + soleram, touchpoin, communication. Sedangkan divisi pada bagian komunikasi pemasaran terdiri dari

(10)

General Affair, Marketing Communication).

Untuk jabatan dibagian periklanan dan

komunikasi pemasaran dibagi menjadi dua,

yaitu executive dan member, kemudian

fungsinya dibagi dua, yaitu bisnis unit dan

service.

Tabel 3. Tingkat Engagement Karyawan Bagian Periklanan

Aspek

Divisi Jabatan Fungsi

S

Tabel 4. Tingkat Kepuasan Kerja Karyawan Bagian Periklanan

Aspek

Divisi Jabatan Fungsi

S

Engagement Karyawan Bagian Periklanan. Tabel 3 menunjukkan bahwa

secara keselurahan disemua divisi tingkat

(11)

pada aspek dedication. Hal tersebut

menunjukkan bahwa jika dilihat dari divisinya

para karyawan merasa engaged karena

perasaan yang penuh makna, antusias,

terinspirasi, bangga dan tertantang dalam

menjalankan pekerjaannya.

Jika dilihat dari jabatan, executive dan

member keduanya sama-sama memiliki

tingkat engagement yang tinggi pada aspek

dedication. Hasilnya berbeda jika dilihat berdasarkan fungsinya. Pada bisnis unit aspek

engagement yang tertinggi adalah dedication,

sedangkan pada fungsi service aspek

engagment yang tertinggi adalah vigor.

Kepuasan Kerja Karyawan Bagian

Periklanan. Berdasarkan tabel 4, Secara

merata tingkat kepuasan pada kategori self

motivation can do attitude pada kategori sedang namun memiliki persentase yang tinggi

dibandingkan yang lainnya. Berarti seluruh

warga telah mendapatkan pekerjaan (tasks)

sesuai dengan passion nya.

Demikian juga dengan tingkat

kepuasan yang juga hampir merata pada team

wor k and collaboration, kecuali pada divisi

Digital Identity yang memiliki kepuasan sama sedang namun secara persentase lebih rendah

(di bawah 60%) dari pada divisi yang lainnya.

Kerjasama antar tim/bisnis unit di perusahaan

ini berjalan dengan baik, yang berespon positif

hanya 41,2%.

Secara keseluruhan terkait kategori

recognition and compensation benefit berada pada katagori sedang, dengan tiga divisi yang

memiliki tingkat kepuasan di bawah 60%,

yaitu Service, Digital Identity dan Touch Point,

dimana ketiga divisi ini berespon negatif

terkait dengan pernyataan aitem berikut

perusahaan memberikan penghasilan sesuai dengan beban tugas/jabatan saya. Sedangkan

pada kategori system management berada

dikategori sedang, namun ada tiga divisi yang

memiliki tingkat kepuasan di bawah 60 %

yaitu Digital Identity, Activator + Soleram dan

Communication, dimana ketiga divisi ini berespon negatif terkait dengan pernyataan

aitem mengenai tujuan organisasi dan

kebijakan organisasi yang belum dapat

diterima dengan baik.

Digital Identity secara keseluruhan memiliki kategorisasi sedang dalam aspek

(recognition and compensation benefit, system management, working environment, dan team wor k and collaboration) dengan presentase lebih rendah dibandingkan divisi lainnya.

Recruitment dan seleksi yang telah

dilakukan sudah tepat mendapatkan warga

dengan yang sesuai dengan karakteristik

pekerjaannya, namun perlu dikembangkan dan

ditingkatkan dalam merekrut dan menyeleksi

tidak hanya tepat dengan pekerjaannya tapi

sesuai juga dengan budaya organisasinya.

Sehingga passion tidak hanya diarahkan pada

pekerjaannya saja tapi dengan organisasinya

juga.

Adanya pengaruh system management

terhadap pola kerjasama yang terjadi dalam

tim pada tim Digital Identity, sehingga penting

melakukan pembenahan terkait mekanisme

pembagian kerja pada divisi Digital Identity.

Prioritas utama penyelesaian ini

adalah pada recognition and compensation

(12)

dengan beban kerja yang ada, program job analysis dan workload analysis hingga Job evaluation serta remuneration system dapat

menjawab juga pada system management. Jika

dua hal tersebut dilakukan akan meningkatkan

team work and collaboration.

Dilihat dari jabatan. Dua hal yang

cenderung positif adalah company image dan

team work and collaboration, dimana keduanya memiliki kepuasan sedang dengan

persentase kepuasan yang memiliki point

cenderung tinggi antara Executive dan Member.

Pada kedua jabatan tersebut, yang

memiliki gap paling tinggi adalah pada aspek

recognition and benefit, kedua-duanya berada di areal sedang namun persentase kepuasan

kelompok Executive terkait hal ini adalah

68,6% lebih tinggi daripada Member 54,3%.

Hal yang serupa terjadi pada kategori system

management dimana Executive memiliki

tingkat kepuasan 64,1% lebih tinggi

dibandingkan dengan Member 56,0%.

Sehingga dapat disimpulkan dalam Member

ada dua hal penting, yaitu recognition and

compensation benefit dan system management

yang perlu mendapatkan perhatian.

Berdasarkan hasil tersebut, program

pengembangan yang dimiliki sudah sesuai

dengan kebutuhan di jabatan ini, dengan

mempertahankan dan menjadikan model

dengan menambahkan penelitian kualitatif

seperti, wawancara mendalam yang tepat

untuk dibuatkan program – program di bagian

yang lain. Metode kualitatif dapat menggali

akan kebutuhan yang sesuai anatara organisasi

dan jabatan ini, mengingat jabatan pada level

ini masuk pada kategori executive.

Adanya gap persepsi akan kepuasan

antara Executive dan Member, dimana

Member memiliki point yang lebih rendah

dibandingkan Executive, sehingga program –

program pengembangan banyak diarahkan

kepada karyawan melalui Executive.

Walaupun leadership dan pengembangan

bukan menjadi isu utama dalam kepuasan ini,

para Executive dirasakan masih perlu

mengembangkan diri dalam sisi leadership

dan coach (pengembangan) untuk meningkatkan kepuasan bagi para karyawan.

Bisnis Unit dan Service Unit memiliki

tiga aspek yang memiliki nilai yang tinggi

pada tingkat kepuasan sedang, yaitu aspek self

motivation can do, team work and collaboration dan company images and values, dan keduanya memiliki gap yang kecil.

System management merupakan nilai yang terkecil dari aspek-aspek lainnya pada

Bisnis Unit dan Service Unit. Recognition dan

compensation and benefit, juga menduduki nilai terendah dari aspek yang lainnya ketika

dilihat dari Bisnis Unit dan Service Unit. Hal yang menarik adalah gap yang cukup besar

antara Bisnis Unit dan Service Unit mengenai

aspek ini.

performance development memang

bukan hal yang menjadi isu utama dalam

tingkat kepuasan karyawan, namun jika dilihat

dari gap yang ada antara Bisnis Unit dan

Service Unit, ada gap yang cukup besar dibandingkan aspek yang lainnya.

Diperlukan IDP (Individual

Development Planning) untuk setiap warga

khususnya service unit untuk mendapatkan

(13)

masa yang akan datang. Pengembangan bukan

saja hanya dari pihak eksternal, namun para

leader yang dapat menjadi coach untuk pengembangan karyawan dari sisi internal.

Tabel 5. Tingkat Engagement Karyawan Bagian Komunikasi Pemasaran

Aspek

Divisi Jabatan Fungsi

Communication Group

Services (F in&Acc, HCD, GA, Marcomm)

Executive Member Bisnis

Unit Service

Vigor 3.86 4.18 4.30 3.69 3.96 4.07

Dedication 3.91 4.15 4.40 3.65 4.02 4.04

Absorption 3.90 4.08 4.34 3.66 3.96 4.08

Tabel 6. Tingkat Kepuasan Kerja Karyawan Bagian Komunikasi Pemasaran

Aspek

Divisi Jabatan Fungsi

Communication Group

Services (F in&Acc, HCD, GA, Marcomm)

Executive Member Bisnis

Unit Service

Company images &

Value 69.2% 70.0% 73.7% 64.9% 70.5% 67.0%

Leadership 64.5% 65.5% 71.3% 60.9% 65.6% 67.2%

Performance

Development 67.3% 67.0% 78.6% 60.9% 71.2% 66.8% Working

Environment 61.5% 68.7% 68.3% 58.8% 62.8% 65.2% Recognition and

Compensation

Benefit 53.7% 62.0% 61.7% 50.6% 56.5% 55.3% Self Motivation

Can do attitude 74.2% 75.3% 80.5% 68.3% 75.3% 72.6% System

Management 56.3% 65.3% 61.3% 54.9% 58.3% 57.6% Team Work and

Collaboration 73.2% 78.7% 79.5% 70.7% 75.3% 74.6%

Engagement Karyawan Bagian

Komunikasi Pemasaran. Tabel 5

menunjukkan bahwa divisi Communication

Group memiliki tingkat engagement yangg

paling tinggi pada aspek dedication.

Sedangkan pada divisi service memiliki

tingkat paling tinggi pada aspek vigor. Hal

tersebut menunjukkan bahwa divisi

Communication Group lebih merasa penuh makna, antusias, terinspirasi, bangga dan

tertantang dalam menjalankan pekerjaannya

(14)

Jika dilihat dari jabatan, menunjukkan

bahwa jabatan Executive memiliki tingkat

engagement yangg paling tinggi pada aspek

dedication. Sedangkan pada jabatan Member

memiliki tingkat paling tinggi pada aspek

vigor. Hasilnya sama jika dilihat berdasarkan

fungsinya. Pada bisnis unit aspek engagement

yang tertinggi adalah dedication, sedangkan

pada fungsi service aspek engagment yang

tertinggi adalah vigor.

Kepuasan Kerja Karyawan Bagian

Komunikasi Pemasaran. Self motivation

can do, team work dan collaboration, dan

company image and values merupakan 3 aspek

yang memiliki point lebih tinggi pada dua

divisi dibandingkan aspek-aspek lainnya,

namun semua aspek pada kategori kepuasan

sedang.

Perlu adanya perhatian pada divisi

Communication Group pada aspek recognition and compensation benefit dan system management dengan melakukan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara

untuk mendapatkan hal-hal yang menjadi

kebutuhan. Selain itu, menggunakan program

job analysis, job evaluation and gradding dan

remuneration system.

System management dan Recognition and Compensation Benefit tampak lebih dominan dengan nilai-nilai kecil dikedua

jabatan. Performance management menarik

untuk diperhatikan karena ada 1 jabatan yang

nilainya lebih kecil dibandingkan jabatan

lainnya, yaitu jabatan Member.

Pengelompokkan berdasarkan karakter

unit kerjanya ada yang Bisnis dan Service,

yang memiliki aspek tertinggi adalah team

wor k and collaboration dan self motivation-can do attitude. Sedangkan yang memiliki

nilai terendah jatuh pada aspek system

management dan recognition and compensation benefit, baik antara Bisnis Unit dan Service.

Performance management menjadi gap terbesar jika dikelompokkan dalam

karakteristik pekerjaan dimana Service

memiliki nilai lebih kecil dibandingkan bisnis.

Menjadi prioritas untuk memberikan

kesempatan pelatihan kepada bagian Service

sesuai dengan kebutuhan organisasi dan

individu yang bersangkutan yang tertuang

dalam IDP. IDP akan digunakan secara

serempak untuk mendapatkan pengembangan.

Juga membuat metode pengembangan ini

bagian dari recognition system.

KESIMPULAN

Secara menyeluruh rata-rata tingkat

kepuasan karyawan PT. XYZ adalah Cukup

Puas. Hal yang mendukung kepuasan mereka

adalah (1) self motivation, secara individu

mereka memiliki talent sebagai seorang kreatif

dan bekerja pada pekerjaan kreatif, (2)

teamwork and collaboration,, mereka menikmati penyelesaian pekerjaan bersama

dengan rekan-rekan kerjanya dan (3) company

image & value, karyawan memiliki nilai-nilai yang sama dengan organisasi.

Pada penelitiani ini ditemukan dua

aspek yang kurang memuaskan karyawan,

yaitu recognition and compensation benefit

dan system management .

(15)

Saran Metodologi. Memperdalam

data menggunakan kualitatif dengan cara

melakukan wawancara, menggunakan

konstruk yang sama dengan penelitian

sebelumnya, melanjutkan penelitian yang

dikaitkan dengan Business Impact (profit,

growth revenue, productivity, customer satisfaction, Turn Over, Health and safety dan penelitian dilakukan dalam jangka panjang dan

berkelanjutan.

Saran Praktis. Dibutuhkan proses

seleksi yang dapat mengukur terkait persepsi,

nilai dan kepribadian, sehingga mendapatkan

talent yang tepat. Tidak hanya tepat dengan

kerjaannya, akan tetapi tepat pada

organisasinya. Kemudian mengembangkan

system performance management dan

performance pay, untuk meningkatkan

kompetisi dalam tim dan individu.

Memberikan pengembangan dan pelatihan

berdasarkan Individual Development Planning

(IDP). Menyediakan fasilitas sesuai dengan

tuntutan pekerjaan. Contoh: Wifi yang cepat

dan stabil, spesifikasi computer. Terakhir,

manajemen lebih mengembangkan iklim dan

suasana kerja yang hangat, menyenangkan dan

kebersamaan dalam meningkatkan kompetisi,

kreatif dan inovatif individu & kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

(2008). Engaging employees for business

success. UK: Hewitt Associates. Alessandri, G., Borgogni, L., & Latham, G. P.

(2016). A dynamic model of the

longitudinal relationship between job

satisfaction and supervisor-rated job

performance. International

Association of Applied Psychology. 66 (2), 1-26.

Organizational behavior: affect in the

workplace. Annual Review of

Psychology. 53, 279-307.

Busi, M., & Bititci, U. S. (2006).

Collaborative performance

management: present gaps and future

research. International Journal of

Productivity and Performance Management, 7-25.

Gerald, M., & Dorothee, L. (2004).

Relationship of professionalism,

rewards, market orientation and job

satisfaction among medical

professionals; the case of Certified

Nurse–Midwives. Journal Business

Research. 57 (2), 1042-1053.

Gostick, A., & Elton, C. (2007). The daily carrot principle: 365 ways to enhance your career and life. New York: Simon & Schuster.

Hakanen, J. J., Bakker, A. B., & Schaufeli, W.

B. (2006). Burnout and work

engagement among teachers. Journal

of School Psychology, 43, 495-513. Keles, H. (2015). The relationship between

learned resourcefulness and job

satisfaction: a research on staff of

higher education in turkey.

(16)

Knight, C., Patterson, M., & Dawson, J.

(2016). Building work engagement: A

systematic review and meta-analysis

investigating the effectiveness of work

engagement interventions. Journal of

Organizational Behaviour, 1-12. Lemmink, J., Schuijf, A., & Streukens, S.

(2003). The role of corporate image

and company employment image in

explaining application intensions.

Journal of Economic Psychology, 1-15. Martinez-Marti, M. L., & Ruch, W. (2016).

The relationship between orientations

to happiness and job satisfaction one

year later in a representative sample of

employee in switzerland. Journal

Happiness Study, 1-15.

Martinz, N., & Coetzee, M. (2007).

Organisational culture, employee

satisfaction, perceived leader

emotional competency and personality

type: an exploratory study in a south

african engineering company. Journal

of Human Resource Management, 20-32.

Omolayo, B. (2007). Effect of leadership style

on job-related tension and

psychological sense of community in

work organizations: a case study of

four organizations in lagos state,

nigeria, bangladesh. Bangladesh

e-Journal of Sociology, 1-12.

Perrin, T. (2003). Working today:

Undertanding what drives employee engagement. United States: U.S. Report.

Robbins, S. P. (2003). Organizational

behavior concepts, controversies, application 8th ed. New Jersew, USA: Precentice-hall International.

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2015).

Organizational Behavior. United States: Pearson.

Robertson, I. T., & Cooper, C. L. (2010). Full

engagement: the integration of

employee engagement and

psychological well-being. Leadership

& Organization Development Journal. 31(4), 324-336.

Rudolph, C., & Baltes, B. (2016). Age and

healthy jointly moderate the influence

of flexible work arrangements on

work engageent: evidence from two

empirical studies. Journal of

Occupational Health Psychology, 1-19.

Saleh, S. (2014). Malaysian students'

motivation towards physics learning.

European Journal of Science and Mathematics Education. 2(4), 223-232. Schaufeli, W. B., Salanova, M., Romá, V. G.,

& Bakker, A. B. (2002). The

measurement of engagement and

burnout: a two sample confirmatory

factor analytic approach. Journal of

Happinness Studies, 71-92.

Schaufeli, W. B., Taris, T. W., & Rhenen, W.

V. (2008). Workaholism, Burnout, and

Work Engagement: Three of

Employee Well-being? Applied

(17)

Sempane, M. E., Rieger, H. S., & Roodt, G.

(2002). Job satisfaction in relation to

organisatioal culture. Journal of

Industrial Psychology, 28 (2), 23-30. Sonnentag, S., Volmer, J., & Spychala, A.

(2008). Job performance. In J. Barling

& C.L Cooper (Eds.). The Sage

Handbook of Organizational Behavior. Volume 1: Micro approaches, 427-447.

Spector, P. E. (1997). Job satisfaction:

application, assessment, causes and consequences. Thousand Oaks: Sage Publications, Inc.

Tentama, F. (2015). Peran kepuasan kerja

terhadap kinerja pada guru pegawai

negeri sipil (pns) di yogyakarta.

Jurnal Psikologi Undip. 1, 1-8.

Tessema, M. T., Ready, K. J., & Embaye, A. B.

(2013). The effects of employee

recognition, pay, and benefits on job

satisfaction: cross country evidence.

Journal of Business and Economics. 4(1), 1-12.

Williams. (2010). Performance Development.

Retrieved September 3, 2017, from

Williams College: Human Resources:

Gambar

Tabel 1. Kategorisasi engagment karyawan
Tabel 3. Tingkat Engagement Karyawan Bagian Periklanan
Tabel 6. Tingkat Kepuasan Kerja Karyawan Bagian Komunikasi Pemasaran

Referensi

Dokumen terkait

Temuan penelitian untuk mengidentifikasi tingkat perilaku agresi pada siswa pada dua SMK Muhammadiyah di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa (a) kategori sangat tinggi

yang bagus menjadi prasyarat fundamental bagi keberhasilan reaksi PCR secara keseluruhan. Sen­ sitivitas PCR merupakan fungsi dari jumlah siklus dan kadar serta integritas dari

Hal ini disebabkan, selain beberapa orang ahli antropologi dan sejarawan yang telah merujuk kepada beberapa buah legenda dan mitos, untuk mengupas aspek asal

Driver adalah program peranti lunak yang memungkinkan komputer Anda untuk berkomunikasi dengan perangkat yang disambungkan, seperti printer, drive hard disk, mouse, atau

Teknik pembiusan dengan penyuntikkan obat yang dapat menyebabkan pasien mengantuk, tetapi masih memiliki respon normal terhadap rangsangan verbal dan tetap dapat mempertahankan

Selain karena adanya kesalahan dalam pengisian formulir SSP pemindahbukuan dapat dilakukan juga jika terdapat kesalahan pengisian data pembayaran pajak melalui

Vasodilator yang bekerja langsung adalah obat tahap III yang bekerja dengan merelaksasikan otot-otot polos dari pembuluh darah terutama arteri, sehingga

Judul Tesis : HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI DAN INTAKE ZAT GIZI DENGAN TINGGI BADAN ANAK BARU MASUK SEKOLAH (TBABS) PADA DAERAH ENDEMIS GAKY DI KECAMATAN PARBULUAN