• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI KELUARGA DALAM MENERAPKAN NILAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI KELUARGA DALAM MENERAPKAN NILAI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

STRATEGI KELUARGA DALAM MENERAPKAN NILAI-NILAI AGAMA UNTUK PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK

(STUDI DI KELURAHAN DAPU-DAPURA)

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi yang dilakukan oleh keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak, selain itu untuk mengidentifikasi dan menganalisis kendala yang dihadapi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak.

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Dapu-Dapura Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak, dilakukan dengan cara: strategi keluarga dalam menentukan tindakan preventif yaitu, melaksanakan kewajiban sebagai orangtua untuk memenuhi hak-hak anak, mendidik anak dengan kasih sayang, menanamkan nilai agama sejak dini, menghindari anak dari pengaruh negatif, strategi keluarga dalam menentukan pola hubungan dalam keluarga yaitu: menghindari pola sosialisasi represif (otoriter), menghindari pola sosialisasi permisif, dan dengan pemberian pola sosialisasi partisipatoris (demokratis); Strategi keluarga dalam menentukan metode untuk menerapkan nilai-nilai agama yaitu: menggunakan metode ganjaran dan hukuman, menggunakan metode didacticteaching (nasihat), dan menggunakan metode pemberian contoh teladan. Kendala-kendala atau tantangan yang dihadapi keluarga dalam menerapkan proses sosialisasi terdiri dari sosialisasi dalam lingkungan keluarga, sosialisasi dalam lingkungan sekolah, dan sosialisasi dalam lingkungan masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian anak yaitu keturunan (warisan biologis), lingkungan alam dan lingkungan sosial. nilai-nilai agama untuk mengembangkan kepribadian anak yaitu: berupaya mengatasi kendala yang berasal dari faktor internal anak, kendala dari pengaruh teman sepergaulan anak, kendala dari pengaruh perubahan lingkungan sosial dan media massa (globalisasi).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah keseluruhan strategi yang dilakukan oleh keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama ini, saling berhubungan satu sama lain dan bersifat komplementer, sehingga keseluruhan strategi ini mutlak dilakukan untuk bisa mengembangkan kepribadian anak yang baik. Akan tetapi strategi yang paling efektif adalah penanaman pendidikan agama sejak dini dan pemberian contoh teladan merupakan aspek yang paling penting.

(2)

FAMILY STRATEGIES FOR IMPLEMENTING RELIGIOUS VALUES TO SHAPE CHILD’S PERSONALITY

(A STUDY IN DAPU-DAPURA VILLAGE)

By : Hasmira Said Dan Kabiba

ABSTRACT

This study aimed to describe and analyse the strategies used by family for implementing religious values to shape child’s personality, as well as to describe and analyse challenges faced by family in implementing religious values to shape child’s personality. The study was conducted at Dapu-dapura village in Kendari sub district, of Kendari regency.. The results of the study indicated that to implement religious values that can shape child’s personality, the family use the followings:the strategiesused by family to determine preventive actions, which include doing parents’ obligation to fulfill their children’s rights, educating with love, instilling religious values at early ages, protecting children from negative influences; the strategiesused to determine patterns of relationship within the family, which include avoiding patterns of repressive (authoritative) socialization, avoiding patterns of permissive socialization, and implementing patterns of participatory (democratic) socialization; the strategies used to determine methods of applying religious values, which include rewards and punishment method, didactic teaching method, and exemplary actions of well-mannerism. The religious values to develop children’s personality include: efforts to overcome challenges that come from the internal factors of the child, from the influences of friends, and from the influences of social environmental changes and mass media (globalization). This study concluded that all strategies employed by family to implement religious values are interconnected and complementary in nature, so that all the strategies must definitely be used in order to develop child’s good personality. However, the most effective strategy is instilling religious values at early ages and the most important one is demonstrating examples of good behaviors

(3)

I PENDAHULUAN

Memasuki era globalisasi seperti sekarang ini, kemajuan teknologi dan informasi semakin terbuka lebar tanpa ada batas geografis dan wilayah. Keterbukaan ini mengakibatkan timbulnya masalah sosial yang semakin kompleks, termasuk nilai baik dan buruk yang menjadi bingkai dan pola tingkah laku kehidupan keluarga dalam masyarakat. Salah satu akibat yang dirasakan adalah semakin beratnya tugas yang diemban orang tua khususnya dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk membentuk kepribadian anak-anaknya. Pendidikan anak merupakan proses yang sangat penting dan mendasar bagi keluarga untuk membentuk anak menjadi dewasa dan memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupan di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat, yang tercermin terutama pada keimanan kepada ajaran agamanya dan tingkah laku (akhlak) yang dapat diteladani.

Keluarga (terutama orang tua) adalah institusi pendidikan informal yang mempunyai tugas mengembangkan kepribadian anak dan mempersiapkan mereka menjadi anggota masyarakat yang baik. Penerapan nilai-nilai agama akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan intelektualitas dan emosi anak. Adapun perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh peran orang tuanya. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga beriman (religius) akan memiliki penghayatan dan pengamalan agama yang baik, karena anak cenderung mengikuti orang tuanya. Sedangkan anak yang diasuh dalam lingkungan keluarga yang tidak taat dalam menjalankan ajaran agama, besar kemungkinan tidak menjalankan ajaran agama baik, atau mungkin tidak sama sekali, sebab tidak ada figur yang dia teladani.

Menurut Darajat, perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilalui sebelumnya, terutama ketika anak memasuki masa pertumbuhan yakni antara usia 0 s/d 12 tahun. Jika pada pada masa pertumbuhan pertama seorang anak tidak mendapatkan pendidikan dan pengalaman keagamaan,

maka setelah menginjak usia dewasa ia akan cenderung bersifat negatif terhadap agama(Barmawi, 1993: 50).

Agama sebagai salah satu “ ruh “ masyarakat dalam arti konstruksi nilai yang menjiwai kehidupan masyarakat, menurut Durkheim merupakan salah satu bentuk implikasi sosiologis yang riil dan dipastikan ada di setiap sejarah suatu komunitas sosial manapun (Durkheim, 2005).Oleh karena itu,hubungan antar agama dan masyarakat ibarat saudara kembar dan tidak dapat dipisahkan (R. Scarf, 1995:29-69).

Dengan demikian, di tengah proses interaksi sosial yang terjadi, agama sudah barang tentu tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan sebuah keluarga sebagai sub sistem institusi terkecil dibandingkan dengan sistem sosial yang lainnya.

Peningkatan peran keluarga serta pemberdayaannya dalam mendidik anak menghadapi masa depan, terkait dengan suatu strategi yang mengacu kepada hubungan ayah dan ibu, sebab pendidikan anak tersebut berada ditangan kedua orang tuanya. Sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya yang difasilitasi oleh pemerintah atau swasta tidaklah cukup dalam pembentukan sumberdaya manusia yang berkarakter dan bermoral.

Penyimpangan norma agama, norma sosial serta kemerosotan moral ditengah kehidupan yang serba materialistik dan hedonistik mewarnai kehidupan di dalam masyarakat sekitar kita. Dunia pendidikan sering tercoreng oleh prilaku anak didiknya seperti tindakan amoral, seks bebas (free sex), tawuran, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. Lebih jauh lagi trend korupsi merasuki semua level kehidupan, pemerintahan, dunia usaha sampai pada penegak hukum itu sendiri.

(4)

akhlak hanya mendapat porsi 10 % (Anwar, Suara Hidayatullah, 2008:72).

Kelurahan Dapu-dapura sebagai lokasi penelitian berada tepat di tengah-tengah pusat keramaian kota yang dikelilingi oleh berbagai fasilitas hiburan dan pusat perdagangan (perekonomian). Hal ini nampak pada berbagai bangunan yang menyediakan berbagai sarana untuk keperluan tersebut, antara lain: sarana hiburan malam seperti cafe dan hotspot, lounge dan sebagainya. Selain fasilitas hiburan,lokasi inipun di kelilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan seperti pusat pertokoan emas, toserba, pasar sentral Kendari yang menyediakan berbagai produk dagangan.

Kondisi wilayah ini yang menawarkan berbagai sarana tersebut di atas, cenderung memberikan pengaruh bagi prilaku masyarakat yang menempati atau bermukim di sekitar lokasi tersebut. Hal ini terlihat dari berbagai perilaku yang ditonjolkan oleh anggota masyarakat khususnya kaum remajanya. Sebagian anggota masyarakat cenderung berperilaku yang mengarah kepada kehidupan yang serba pragmatis,hedonistis, terlihat dari segi penampilan dan gaya hidup mereka yang mencerminkan kehidupan yang lebih mengutamakan aspek materialistik dan hedonistik, dengan menikmati sebanyak-banyaknya segala fasilitas yang bersifat duniawi tersebut.

Berbeda dengan hal di atas, ditengah fenomena kehidupan yang serba hedonis tersebut, terdapat sebagian masyarakat yang cenderung masih memegang nilai-nilai agama (Islam) tanpa terjebak ke arus kehidupan yang materialistik. Hal ini terlihat dari kepribadian anggota masyarakat lainnya,baik kaum muda maupun kaum tuanya, yang masih mempertahankan dan mengutamakan nilai-nilai agama ketimbang nilai materialistik.

Agama yang banyak dianut oleh penduduk Kelurahan Dapu-dapura adalah agama Islam. Kondisi toleransi beragama terjalin dengan baik, sehingga perbedaan keyakinan diantara warga tersebut tidak menjadikan timbulnya konflik masyarakat.

Ini terlihat sarana peribadatan mesjid dan gereja berdampingan.

Kondisi kehidupan masyarakat khususnya pola hidup masyarakat yang berbeda pada lingkungan sosial ini, menimbulkan berbagai asumsi yang menarik untuk dikaji, khususnya bagaimana keluarga menyikapi fenomena mengenai kondisi sosial yang kompleks dan implikasi negatifnya mengarah kepada budaya materialisme dan hedonisme, serta menjurus kepada pembentukan kepribadian yang negatif.

Berangkat dari beberapa asumsi di atas, maka penulis mencoba mengangkat masalah tersebut dalam bentuk penelitian ilmiah, untuk melihat dan menganalisis strategi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak di Kelurahan Dapu-dapura.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan umum yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak di Kelurahan Dapu-dapura.

2. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran keluarga dalam mewariskan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak di kelurahan Dapu-dapura.

3. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis kendala-kendala yang dihadapi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak di Kelurahan Dapu-dapura.

Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat merangsang adanya pengembangan penelitian-penelitian sejenis lainnya di masa yang akan datang sehingga ditemukan konsep-konsep baru yang berkaitan dengan penerapan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak.

2. Secara Praktis

(5)

orang tua guna perbaikan dan peningkatan perannya dalam upaya pembentukan kepribadian anak. b. Menambah wawasan dan memberi

manfaat yang besar bagi penulis sebagai orang tua dan bagi pembaca lainnya akan pentingnya nilai-nilai agama dalam pembentukan kepribadian anak.

II METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Dapu-dapura Kecamatan Kendari pada bulan Januari 2015 hingga Maret 2015. Dipilihnya lokasi ini dengan pertimbangan dan asumsi bahwa, kondisi lingkungan yang mudah mengalami perubahan dan perkembangan dari berbagai aspek, menyebabkan berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat, bauk yang bersifat positif maupun negatif.

Informan Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah individu yaitu orangtua yang memiliki anak-anak yang sudah dewasa dan dapat memberikan informasi tentang bagaimana strategi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian, sejak anak-anak mereka masih kecil hingga dewasa.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui tiga cara yaitu :

a. Teknik Observasi

Teknik observasi dilakukan pada awal penjajakan atau pengumpulan informasi mengenai keadaan lokasi penelitian, sampai melakukan pengamatan terhadap aktivitas keluarga sehari-hari.

b. Teknik Wawancara

Wawancara yaitu dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Interview yang digunakan adalah interview terpimpin di mana

pewawancara terlebih dahulu menggunakan kuisioner yang akan diajukan kepada informan (interview guide), tetapi penyampaian pertanyaan bisa secara bebas (Dudung, 2000:63). c. Teknik Dokumentasi

Penelaahan dokumen tertulis (studi kepustakaan), diperoleh data melalui penelusuran literatur melalui berbagai macam sumber, seperti buku, majalah, jurnal ilmiah, maupun hasil penelitian yang dianggap relevan.

Teknik Analisis Data

Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif (Miles dan Huberman 1984 ; 15-21),

1. Reduksi Data

Dari lokasi penelitian, data lapangan dituangkan dalam uraian laporan yang lengkap dan terinci. Data dan laporan lapangan kemudian direduksi, dirangkum, dan kemudian dipilah-pilah hal yang pokok, difokuskan untuk dipilih yang terpenting kemudian dicari tema atau polanya (melalui proses penyuntingan, pemberian kode dan pentabelan).

2. Penyajian Data

Penyajian data (display data) dimasudkan agar lebih mempermudah bagi peneliti untuk dapat melihat gambaran secara keseluruhan atau bagianbagian tertentu dari data penelitian.

3. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi

Pada penelitian kualitatif, verifikasi data dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian dilakukan. Sejak pertama memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu mencari pola tema, hubungan persamaan, hipotetsis dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk kesimpulan yang masih bersifat tentatif.

(6)

memadai, maka perlu diadakan pengujian ulang, yaitu dengan cara mencari beberapa data lagi di lapangan, dicoba untuk diinterpretasikan dengan fokus yang lebih ter arah. Dengan begitu, analisis data tersebut merupakan proses interaksi antara ke tiga komponan analisis dengan pengumpulan data, dan merupakan suatu proses siklus sampai dengan aktivitas penelitian selesai.

III Hasil dan Pembahasan

Pembahasan

1. Strategi Keluarga Dalam Menerapkan Nilai-nilai Agama Untuk Pembentukan Kepribadian Anak.

Meningkatnya fenomena anak yang berkepribadian buruk saat ini, sangat mencemaskan keluarga dan masyarakat. Namun kita harus selalu optimis, jangan menyerah dalam melakukan pendidikan terhadap anak, karena banyak cara yang bisa ditempuh agar anak kelak memiliki kepribadian yang baik. Untuk mengatasi berbagai masalah di atas, perlu dikaji kembali pola pendidikan yang selama ini dilakukan oleh keluarga. Pola pendidikan yang cenderung bertujuan memenuhi ambisi-ambisi kekuasaan dan pencerdasan otak tanpa diimbangi pembentukan karakter dan kepribadian manusia, tampaknya bukan hanya tidak cocok bagi umat manusia, melainkan justru menjerumuskan mereka pada kepribadian yang materialisme.

Selayaknya pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga, terlebih lagi pendidikan akhlak anak (sosialisasi nilai-nilai). Pola pendidikan dalam keluarga harus dilakukan setiap waktu, tanpa mengenal adanya waktu yang terbuang dengan percuma tanpa adanya pendidikan orang tua. Orang tua harus memastikan bahwa setiap tingkah lakunya adalah sebuah proses pendidikan (sosialisasi) yang akan diserap oleh anak, baik atau buruknya kepribadian anak tergantung dari pola asuhnya. Dengan demikian, sosialisasi akan menghasilkan pribadi-pribadi luhur demi masa depan umat manusia yang lebih baik.

a. Strategi Dalam Menentukan

Tindakan-Tindakan Preventif

Keluarga Dalam Proses Nilai-Nilai Agama Pada Anak.

Strategi yang paling mendasar dalam proses sosialisasi pada anak adalah dengan melakukan tindakan-tindakan preventif. Penentuan tindakan preventif akan memberikan landasan yang kuat bagi anak untuk menghindari pengaruh negatif dari berbagai aspek. Berikut ini terdapat beberapa tindakan preventif yang digunakan oleh keluarga dalam upaya mendidik nak-anaknya.

1. Mengajarkan Kepada Anak Tentang Penguasaan Diri

2. Melaksanakan Kewajiban Sebagai Orang Tua Untuk Memenuhi Hak-Hak Anak

3. Mendidik Anak Dengan Kasih Sayang

4. Menanamkan Nilai Agama Sejak Dini 5. Menghindari Anak dari Pengaruh

Negatif

6. Upaya Bila Anak Terlanjur Bermasalah

a. Sabar dan Optimis.

Pijakan awal yang harus dipegang oleh orang tua adalah bersikap sabar dan optimis. Orang tua harus menahan diri agar tidak mencela dan menjauhi anaknya. Orang tua harus tetap bertahan dalam keadaan tersebut dan tidak putus asa untuk melakukan usaha untuk mengubah sikap anaknya.

b. Menegakkan Kembali Fungsi Keluarga

Hal ini harus menjadi perhatian penuh mengingat kehidupan modern bisa berpotensi menghilangkan fungsi-fungsi keluarga. Orang tua harus mengintropeksi diri apakah fungsi keluarga sudah berjalan secara baik atau belum, jika belum maka ia harus segera menjalankan fungsi-fungsinya.

c. Memberi Teladan

(7)

menghrapan anak-nak tidak larut dalam perilaku buruk, maka orang tua harus memberi contoh rill bahwa mereka adalah orang yang memiliki perilaku yang mulia.

d. Adil dalam mendidik

Orang tua harus mencabut perilaku tidak adil pada anak-anaknya. Mengubah sikap menjadi adil pada semua anak-anaknya, tanpa membeda-bedakan anak dari sudut kemampuannya, tentu merupakan jalan yang terbaik agar anak-anak kembali merasakan cinta kasih dari orang tuanya.

e. Perbaiki pola hubungan dengan anak

Hal paling mendasar dalam hubungan orang tua dan anak adalah komunikasi, modal dasarnya adalah berempati dengan remaja, hindarilah ucapan yang bernada menggurui, menyalahkan, dan ucapan-ucapan lain yang mengandung pemaksaan.

f. Memberitahu balasan yang diberikan Allah

Langkah ini bisa dilakukan jika tingkah laku anak sulit diperbaiki. Memberi tahu akibat buruk dari perilaku yang menyimpang, dan janji manis dari perilaku yang mulia. Hal ini penting dilakukan, akan tetapi hal ini hendaknya tidak dilakukan secara frontal kepada anak, sampaikan dalam bentuk cerita ringan disela-sela interaksi antara anak dan orang tuanya.

g. Berdo’a dan tawakkal

Do’a orang tua yang dipanjatkan secara khususdan mengharap penuh pada Allah agar anaknya berubah menjadi anak yang berperilaku baik, hal ini sangat penting, karena doa orang tua untuk anaknya sangat mungkin dikabulkan oleh Allah SWT. Selain itu, tawakal tau memasrahkan semua hasil mendidik, membimbing, dan mendoakan anak kepada Allah SWT.

b. Strategi Keluarga dalam Menentukan Pola-Pola Sosialisasi Nilai-Nilai Agama pada Anak

Keluarga dalam melaksanakan fungsi sosialisasinya, dapat memilih dan menggunakan pola sosialisasi atau gaya mendidiknya. Terdapat beberapa pola sosialisasi yang berbeda-beda yang dijumpai pada setiap keluarga. Pola-pola sosialisasi antara lain dibagi menjadi tiga pola, yaitu: sosialisasi otoriter atau represif, sosialisasi permisif atau pemberian kebebasan penuh, dan sosialisasi partisipatoris atau demokratis. 1. Menghindari Pemberian Pola

Sosialisasi Represif (Otoriter)

Orang tua memiliki pola tersendiri dalam menjalin hubungan dengan anak-anaknya. Salah satunya adalah pola otoriter. Otoriter atau authoritarian alias penguasa mutlak masih sering dipilih para orang tua disekitar kita dalam mendidik anak-anaknya.

Orang tua yang otoriter biasanya beralasan bahwa tindakan otoriter tersebut adalah demi kebaikan anaknya atau agar ia patuh kepadanya. Padahal, secara tidak sadar ia telah memaksakan mereka dengan ego mereka kepada anak-anaknya. Anak tidak dipandang sebagai individu yang merdeka yang memiliki pikiran dan kecendrungan yang unik dan berbeda dengan orang tuanya. Sehubungan dengan pola pendidikan yang otoriter ini dapat dilihat pada pola atau gaya ini diterapkan oleh para informan dalam mendidik anak-anaknya.

(8)

memiliki pendidikan yang cukup baik dan memiliki wawasan serta pergaulan yang cukup luas tentang dampak dari pemberian pola pendidikan tertentu terhadap perkembangan kepribadian anak.

Orang tua yang otoriter biasanya cenderung kaku, ia selalu ingin anaknya mentaati keinginannya dan melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginannya, entah anak suka atau tidak dengan keinginan tersebut. Setiap kali ingin melakukan sesuatu, orang tua yang otoriter cenderung mengatakan “tidak” daripada “ya”. Kondisi demikian menurut istilah Freire (2002:19) disebut dehumanization (penidakmanusiaan), lawan dari humanization (pemanusiaan) sehingga anak tampak seperti robot atau boneka bagi orang tuanya. Orang tua memerintah, anak harus melaksanakan, dan orang tua mengatur, anak diatur. Singkatnya orang tua sebagai subyek, sedangkan anak sebagai obyek. Dehuminisasi terjadi pada anak dan orang tua sekaligus, dengan dehumanisasi orang tua menyalahi kodratnya sebagai pendidik dan pengasuh yang seharusnya memenusiakan anknya, sedangkan anaknya menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan.

2. Menghindari Pemberian Pola Sosialisasi Permisif (Membebaskan)

Pola sosialisasi permisif adalah kebalikan dari pola sosialisasi otoriter, jika otoriter adalah penggunaan kekuasaan secara mutlak maka permisif berarti tidak ada penggunaan kekuasaan secara berarti, bahkan member kebebasan seluas-luasnya pada anak. Orang tua yang permisif tidak memberikan pedoman dan prinsip hidup kepada anak-anaknya. Anak dibiarkan berperilaku sesuai keinginannya tanpa control dan hukuman. Gaya permisif yang digunakan orang tua biasanya

didorong oleh faktor-faktor. Keputusasaan orang tua dalam mengubah perilku anak, takut kehilngan cinta dari anaknya, lemahnya tekad dan kemampuan orang tua, ketidakkompakan ayah dan ibu dalam memilih pola sosialisasi, tidak tega melihat anaknya mengalami kekurangan dalam hal materi, orang tua sibuk dengan pekerjaam dan tuntutan karir.

Mengenai pola sosialisasi permisif ini, para informan umumnya tidak menerapkan dalam mendidik anak-anak, karena dengan memberikan kebebasan penuh dan memanjak anak kelak akan menyusahkan dan membebani orang tua. Berdasarkan Hasil wawancara dari beberapa informan, menunjukkan bahwa pada umumnya mereka menghindari sifat permisif ini, karena mereka menyadari akibat yang sangat fatal jika memberikan kebebasan penuh dan memanjakkan anak secara belebihan. Dari hasil observasipun Nampak bahwa para informan ini sangat memperhatikan masalah pendidikan dan kedisiplinan anak, Nampak anak-anak meskipun sudah dewasa selalu memperlihatkan kehidupan yang teratur, hal ini terbukti anak-anak mereka umumnya dapat menyelesaikan pendidikannya sampai pada jenjang yang tinggi.

(9)

anak-anaknya juga terlihat sederhana dan bersahaja, tanpa menggunakan barang-barang yang mewah dan berlebihn.

3. Pemberian Pola Sosialisasi Partisipatori (Demokratis)

Pola Pengasuhan partisipatori atau demokrasi yang diterapkan orang tua dalam anaknya adalah pola yang paling ideal diterapkan pada masa sekarang ini. Pola ini didasarkan atas orang tua melibatkan anak untuk berpartisipasi dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga.

Orang tua yang menerapkan pola demokratis dalam mendidik anak-anaknya, lebih banyak melakukan diskusi dan memberikan penjelasan dan alasan-alasan yang membantu anak agar mengerti mengapa ia diminta melakukan suatu aturan.

Sebagian besar informan dalam penelitian ini menerapkan pola hubungan dalam mendidik anaknya dalam pola demokratis tersebut. Umumnya mereka beranggapan bahwa pola otoriter apalagi pola permisif mempunyai banyak kelemahan dan tidak sesuai lagi diterapkan secara utuh pada anak-anak zaman sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar informan menggunakan pola sosilisasi yang partisaporis (demokratis) dalam mendidik anak, karena pola ini didasarkan merupakan pola hubungan yang paling sesuai dan bermanfat disbanding pola sosialisasi yang lain. Pola demokrasi lebih mengutamakan adanya kebersamaan antara seluruh anggota keluarga. Agaknya kunci yang pokok adalah hubungan yang akrab antara orang tua dengan anak-anaknya, apalagi bagi anak yang menginjak usia remaja. Tekanan yang terlalu kuat pada spritualisme akan mengakibatkan anak sulit untuk mempelajari dan memahami realita

kehidaupan sehari-hari. Kalau tekanannya terlampau kuat dengan kebendaan, maka anak tidak akan dapat menghargai hasil-hasil yang dicapai dengan jerih payah, dia tidak mengenal artinya bekerja keras untuk mencapai sesuatu secara jujur.

c. Strategi Keluarga Dalam Menentukan Metode Untuk Menerapkan Nilai-Nilai Agama Pada Anak

Berbeda dengan motivasi internal, motivasi eksternal berasal dari luar, misalnya pujian dan janji (memberi sesuatu) atau ancaman yang berasal dari orang lain. Motivasi eksternal berlaku sementara atau mudah hilang. Tujuannya agar anak melakukan sesuatu secara suka rela, maksimal, tidak terpaksa, sebagaimana diharapkan orang tua. Jadi, tidak ada salahnya memotivasi anak dengan pujian atau janji memberi hadiah-hadiah lain yang bersifat simbolis dan mendidik setelah anak melakukan kegiatan yang diinginkan orang tua. Pemberian janji dan ancaman dalam batas-batas tertentu memang wajar, namun demikian hal ini bukan berarti orang tua bebas memberikan hadiah agar anaknya berkelakuan baik.

Selain itu cara memberi motivasi kepada anak untuk mengerjakan sesuatu atau menghindari sesuatu adalah dengan metode pemberian nasehat-nasehat atau ceramah-ceramah yang berguna bagi pengembangan kepribadian. Juga yang sangat penting dari semua metode untuk memotivasi anak agar berkepribadian mulia adalah dengan memperlihatkan keteladanan yang dicontohkan oleh orang tua. Berikut ini akan dijelaskan tentang strategi penggunaan metode atau cara kerja yang diterapkan bagi informan penelitian untuk memberikan motivasi pada anak-anak agar mengikuti harapan orang tuanya:

1. Menggunakan Metode Ganjaran (Hadiah) dan Hukuman

(10)

pada anak-anaknya. Namun harus dipahami, dibandingkan dengan hukuman, memberi imbalan (penguatan positif) akan jauh lebih efektif dalam membangun pola perilaku baru. Efek hukuman sifatnya menekan, sehingga hukuman selalu harus diberikan dengan cara yang memiliki makna bagi anak-anak. Supaya hukuman efektif, penting sekali bagi anak untuk mengetahui dengan jelas hubungan antara perbuatannya dengan hukuman yang ia terima. Hukuman akan sangat kurang efektif kalau dilaksanakan lama setelah perbuatan tercela dilakukan, hukuman yang tertunda akan mengaburkan tujuannya, setidaknya bagi anak-anak yang masih kecil.

Memberikan penjelasan dan alasan mengapa anak diberikan ganjaran atau dihukum, akan meningkatkan efektifitas ganjaran dan hukuman itu, karena alasan dan penjelasan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan pengendalian diri di kalangan anak-anak utamanya anak yang lebih besar. Penggunaan metode sosialisasi berupa ganjaran (pemberian hadiah) dan hukuman juga diterapkan oleh para informan dalam penelitian ini.

Menyimak hasil wawancara dari beberapa informan, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar informan menggunakan metode ganjaran dan hukuman sesuai dengan kondisi dan perilaku anak. Untuk perilaku anak yang positif biasanya diberikan motivasi yang positif pula, akan tetapi sebaliknya jika anak berperilaku negatif, maka orang tua pada umumnya memberi hukuman yang menyadarkan kesalahan yang telah dibuat oleh anak, tetapi umumnya mereka menghindari hukuman yang menyakiti anak. Hukuman dari orang tua yang selalu mempraktekkan apa yang dinasihatkan, biasanya lebih efektif dari pada orang tua yang tidak memberi keteladanan.

2. Menggunakan Metode Didactic Teaching (Ceramah/Nasehat)

Selain metode tersebut di atas, metode didactic teaching juga digunakan dalam proses sosialisasi nilai-nilai sosial agama. Dengan metode ini kepada anak diajarkan berbagai macam pengetahuan dan pembentukan kepribadian melalui pemberian informasi, ceramah, penjelasan, dan nasihat. Metode ini digunakan dalam mendidik anak dalam keluarga, agar anak bisa memahami suatu perilaku yang patut atau tidak patut dilakukan, melalui media komunikasi dengan orang tuanya.

Mengenai pola hubungan anak dengan orang tuanya melalui metode komunikasi secara langsung seperti pemberian informasi, penjelasan ceramah, atau nasihat dari orang tua, maka pada umumnya para informan juga menjelaskan bahwa metode ini juga merupakan cara yang efektif dan penting dilakukan dalam mendidik anak-anaknya. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa informan, dapat disimpulkan bahwa metode dengan memberikn penjelasan, ceramah, nasihat, dan sebagainya, merupakan metode yang digunakan oleh informan dalam penelitian ini, karena mereka merasakan perlunya pemberian motivasi kepada anak melalui komunikasi verbal ini, disamping itu anak juga membutuhkan perhatian seperti iyu untuk memperluas perhatian mereka tentang hal-hal yang positif ataupun negatif dalam kehidupannya.

Penggunaan metode Didactic Teaching ini memberikan banyak manfaat bagi perkembangan kepribadian anak, akan tetapi dalam penggunaannya hendaknya dihihindari beberapa hal berikut iniagar tidak memberikan dampak yang tidak diinginkan oleh orang tua ( Arifuddin, 2009:102 ), antara lain:

(11)

dalam berbicara tampak bahwa orang tua tidak mau memahami kondisi anak.

2. Memerintah tanpa memberi penjelasan, yaitu percakapan orang tua sering diwarnai oleh kata-kata yang bernada perintah.

3. Menghina dengan perkataan dan tertawaan, yaitu; penghinaan atau pelecehan bisa terjadi oleh kata-kata atau tawa yang menyakitkan.

4. Selalu mengancam, yaitu : intimidasi atau gertakan agar anak yang digertak takut dan menurut, akibat yang ditimbulkan oleh ancaman tersebut sangat buruk bagi anak-anak.

3. Menggunakan Metode Pemberian Contoh

Keteladanan itu lebih utama, mendidik anak akan lebih berhasil dengan memberi teladan, dari pada menasihati atau menyuruh meskipun dengan halus, lebih-lebih dengan kekerasan. Karena itu, berilah teladan yang baik terhadap keluarga, lakukanlah kebaikan-kebaikan sebelum menyuruh orang lain terutama anak untuk berbuat kebaikan.

Mengenai pentingnya orang tua memberikan keteladan yang baik pada anak-anaknya, dapat diketahui dari pendapat para informan yang umumnya menyatakan bahwa menunjukkan contoh teladan adalah metode yang paling tepat dan efektif dalam mendidik anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Berdasarkan informasi dari para informan, kita bisa menyimpulkan bahwa metode mendidik dengan memberikan keteladanan kepada anak merupakan metode yang paling penting dibanding metode yang lain misalnya memberi nasihat atau ganjaran dan hukuman kepada anak Hal ini bukan berarti kedua metode yang disebutkan terakhir tidak penting, melainkan seluruh metode mendidik itu perlu diterapkan karena memiliki kunggulan tersendiri

sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi tanpa adanya metode ontoh teladan maka metode mendidik yang lainnya tidak akan efektif menghasilkan anak yang berkepribadian baik.

2. Peran Keluarga Dalam Mewariskan Nilai-nilai Agama

Salah satu fungsi keluarga atau orang tua yang penting adalah sebagai seorang pendidik, yang dapat menanamkan nilai-nilai agama (akhlak) melalui contoh yang baik atau keteladanan untuk anak-anaknya. Menanamkan kecerdasan agama kepada anak jauh lebih sulit daripada kecerdasan intelegensinya. Orang tua dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anak melalui berbagai cara dengan terlebih dahulu menyepakati nilai-nilai agama yang akan dikembangkan.

Beragam nilai-nilai agama yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya, juga disosialisasikan oleh semua informan kepada anaknya,

a. Menanamkan Nilai Keimanan dan Ketaqwaaan.

(12)

b. Mengajarkan Nilai Sopan Santun Menanamkan nilai sopan santun dapat diawali orang tua dengan cara, antara lain: mengucapkan salam ketika akan masuk rumah; berpamitan saat akan keluar rumah; bersikap sopan dalam pergaulan dan saat berkomunikasi dengan anggota keluarga; tidak berkata yang tidak sopan atau melecehkan lawan jenis; bila meminta bantuan sebaiknya tidak dengan memperlihatkan sikap memerintah; ajarkan pada anak agar meminta izin/mengetuk pintu terlebih dahulu saat akan masuk kamar orang lain; mengingatkan anak untuk menghargai aturan-aturan atau nilai budaya lain, dan sebagainya.

Beragam jenis nilai-nilai agama yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya,juga disosialisasikan oleh semua informan kepada anaknya.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas yang pada umumnya senada dengan seluruh informan dalam penelitian ini, maka dapat didefinisikan bahwa terdapat beberapa nilai moral yang dapat dijadikan fokus pendidikan karakter atau kepribadian, antara lain: nilai-nilai agama.

c. Mengajarkan Nilai Kejujuran Kejujuran merupakan nilai yang harus diaktualisasikan dalam segala hal, oleh siapa saja dan dimana saja. Kejujuran perlu ditanamkan oleh orang tua terhadap anak-anaknya, baik dalam keluarga maupun di masyarakat. Hilangnya kejujuran akan menimbulkan saling curiga sehingga akan membuat hidup tidak tenteram. Menanamkan nilai kejujuran dalam keluarga, berkaitan dengan kemampuan orang tua dan anak untuk mengatakan yang sebenarnya yang terjadi dan mendorong orang lain untuk membuat hal serupa. Selain dengan

memberikan teladan, orang tua dapat menerapkan sifat jujur terhadap anak-anak dengan tidak mencurigai kejujuran salah seorang anak.

d. Mengajarkan Nilai Kerajinan Ciri orang yang rajin adalah selalu dengan melaksanakan tugas dengan baik dan benar, menyediakan waktu untuk menyelesaikan tugas, dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan. Kewajiban orang tua untuk senantiasa memotivasi atau memperhatikan kecendrungan sikap dan perilaku anaknya, apakah termasuk anak yang pemalas atau rajin. Selain dengan memberikan teladan untuk menerapkan nilai ini, orang tua dapat mengajak anak-anaknya untuk melaksanakan tugas bersama-sama (sebelum atau setelah sekolah), dan mengkoreksi hasil dari tugas yang dikerjakan oleh anak.. e. Mengajarkan Nilai Disiplin

Disiplin adalah suatu sikap yang selalu menepati waktu dan mematuhi aturan yang telah disepakati. Disiplin merupakan sikap yang harus tertanam dalam peribadi setiap orang. Setiap anggota keluarga sebaiknya menjadi orang yang disiplin, karena dengan disiplin semua hal menjadi tertib danlancar. Orang tua seyogyanya menerapkan nilai disiplin yang dimulai dari keluarga, dengan penekanan yang sama kepada seluruh anggota keluarga. Hindari memberikan toleransi kepad anak yang tidak mematuhi aturan karena anak tersebut perlu mendapat perhatian lebih. f. Mengajarkan Nilai Kesabaran

(13)

menanamkan nilai kesabaran kepada anak, yaitu: menyadarkan agar bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa pada saat melakukan sesuatu; Tidak selalu menekankan bahwa anak perempuan yang harus lebihah sabar; Saat anak menginginkan sesuatu, selalu menekankan untuk bersabar (karena orang sabar disayang Tuhan); Memberi contoh cara bersabar dengan tidak gampang meluapkan sikap amarah, dan tidak bertindak gegabah ketika diejek orang; Menginginkan untuk tidak melaksanakan pekerjaan secara asal-asalan, dan tidak berprinsip yang penting selesai; menanamkan pentingnya bersabar agar tidak menuruti hawa nafsu untuk berbuat amoral; Mengajak anak untuk tidak emosional dalam menghadapi kesulitan; Menunjukkan kesediaan untuk memaafkan kesalahan atau kekhilafan anak sertaanggota keluarga lainnya, sehingga anak dapat mencontohnya.

3. Kendala-kendala Yang Dihadapi Keluarga Dalam Menerapkan Nilai-Nilai Agama Untuk Pembentukan Kepribadian Anak.

a. Kendala-Kendala Yang Berasal dari Faktor Internal Anak

1. Sifat Bawaan Dari Anak

Manusia pada

kenyataannya sangat beragam, antara manusia yang satu mempunyai perbedaan dengan yang lainnya, baik dalam hal berfikir, bertingkah laku, bersikap, perasaan, maupun gerik-geriknya. Keragaman tersebut dapat dilihat pada perbedaan dua anak bersaudara dalam sebuah keluarga. Menurut sebagian psikolog, hal demikian dapat terjadi karena disebabkan oleh dua faktor pokok, yaitu faktor pembawaan dan faktor lingkungan.

Sifat merupakan cirri-ciri tingkah laku yang banyak

dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam setiap individu seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh, dan cenderung bersifat stabil. Selain itu, bahwa dalam setiap individu terdapat beberapa sifat yang saling berhubungan satu sama lain dan kesemuanya merupakan pola tingkah laku yang menentukan bagaimana watak atau karakter seseorang. Mengenai kendala-kendala yang dihadapi orang tua dalam mendidik anak yang berasal dari faktor internal anak seperti sifat bawaan.

Berdasarkan penuturan para informan, maka disimpulkan bahwa terdapat tantangan atau hambatan dalam mendidik anak, yang disebabkan sifat kecendrungan pembawaan anak yang berbeda-beda dengan sifat anak-anak lainnya meskipun mereka lahir dari lingkungan yang sama

2. Tempramen/watak

(14)

kata hati orang yang bersangkutan. (Purwanto dalam Baharuddin,2007:92).

b. Kendala-kendala Yang Berasal Dari Faktor Eksternal

1. Kendala-Kendala Dari Teman Sepergaulan

Salah satu kendala atau tantangan yang dihadapi oleh orang tua dalam mendidik anak adalah besarnya pengaruh negatif yang dibawa oleh teman-teman sepergaulan anak, khususnya ketika anak mulai beranjak remaja.

Berdasarkan uraian pengalaman beberapa informan, dapat diketahui bahwa salah satu tantangan atau hambatan dalam memberikan sosialisasi pada anak, adalah ketika anak mulai memiliki teman sepergaulan yang condong mengajak anak untuk menentang orang tua. Pengaruh teman sepergaulan anak mulai nampak ketika anak berusia remaja..

2. Kendala-Kendala Dari Pengaruh Perubahan Lingkungan Sosial dan Media Massa (Pengaruh Globalisasi)

Kehidupan keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat tidak terlepas dari “serangan” budaya global melalui media-media ini. Gaya hidup, relasi-relasi terlebih pola piker masyarakat yang juga anggota keluarga sedikit-demi sedikit akan berubah mengikuti aneka kebudayaan yang masuk. Inilah yang menjadi tantangan kehidupan keluarga di era globalisasi ini.

Berdasarkan penuturan beberapa informan, maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya informan penelitian menyadari tentang dampak positif dan dampak negatif yang

ditimbulkn oleh pengaruh globalisasi khususnya kemajuan teknologi dan media masa terhadap perkembangan kepribadian anak. Untuk mencegah dampak negatifnya, maka sejak awal mereka sudah mengantisipasi kmungkinan tersebut.

IV PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai strategi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Strategi keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak yang baik, adalah dengan cara : menentukan dan memilih tindakan-tindakan preventif, menentukan dan memilih pola-pola nilai-nilai agama pada anak, dan strategi keluarga dalam menentukan dan memilih metode untuk menerapkan nilai-nilai agama. Keseluruhan strategi yang dilakukan oleh keluarga dalam menerapkan nilai-nilai agama, saling berhubungan satu sama lain dan bersifat komplementer, sehingga keseluruhan strategi ini mutlak dilakukan untuk bisa mengembangkan kepribadian anak yang baik.

2. Peran Keluarga dalam mewariskan nilai-nilai agama untuk pembentukan kepribadian anak adalah antara lain dengan megajarkan nilai sopan santun,

nilai kepedulian, mengajarkan nilai suka menolong, mengajarkan nilai bertanggung jawab, nilai,nilai kesabaran, nilai keimanan dan ketakwaan dalam menjalankan syariat agama dan sebagainya.

(15)

Selain itu, setiap individu terdapat beberapa sifat yang saling berhubungan satu sama lain kesemuanya merupakan pola tingkah laku yang menentukan bagaimana watak atau karakter seseorang; kendala-kendala dari pengaruh teman sepergaulan anak, besarnya pengaruh negatif yang dibawa oleh teman-teman sepergaulan anak; kendala-kendala dari media massa dan media elektronik (globalisasi), timbulnya gejala-gejala distorsi moral yang diakibatkan oleh serangan budaya global melalui media massa dan media elektronik. Keseluruhan kendala ini merupakan tantangan yang harus diatasi oleh keluarga.

Saran

Berdasarkan temuan hasil penelitian sebagaimana telah disimpulkan di atas, maka disarankan:

1. Agar anak-anak memiliki kepribadian yang baik dan terhindar dari pengaruh-pengaruh pelanggaran nilai-nilai agama yang dapat merusak moral (akhlak) maka penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga perlu diberikan kepada anak sejak dini. Mengingat besarnya peranan yang dimainkan keluarga dalam penanaman nilai-nilai moral (agama) terhadap anak maka perlu dilakukan kerjasama yang baik antara pihak lembaga keluarga, lembaga pendidikan Formal (sekolah) dengan masyarakat. 2. Mengingat besarnya peranan orang tua

dalam penanaman nilai-nilai moral (agama) pada anak maka pengetahuan tentang nilai-nilai agama tidak hanya penting diberikan kepada anak, tetapi juga terhadap orang tua. Minimnya pengetahuan agama pada orang tua juga mempengaruhi kualitas kepeibadian anak. Oleh karena itu dipandang perlu untuk merumuskan pola-pola pembinaan orang tua secara terencana oleh pemerintah bekerjasama dengan pihak sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar dan Arsyad Ahmad, 2007, Pendidikan Anak Dini Usia (Panduan Praktis Bagi Ibu dan Calon Ibu). Bandung, Alfabeta, CV.

Abdurrahman, Dudung, 2000, Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta : Galang Press

Arifuddin, 2009, Hubungan Antara Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Geografi di Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Singaraja, Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja. Baharuddin, 2007, Psikologi Pendidikan,

Refleksi teoritis Terhadap Fenomena, Jogyakarta. Penerbit Ar-Ruzz Media Group.

Barmawi, Bakir Yusuf, 1993, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, Semarang: Dina Utama.

Durkheim, Emile, 2005, The Elementary Forms of The Religious Life. terj. Inyiak Ridwan Muzir,Yogyakarta: IRCiSod.

Freire, Paulo, 2002, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan judul asli The Politic of Education: Culture, Power and Liberation terj. Agung Prihantoro, Fuad Arif Fudiyartanto, (Yogyakarta: ReaD bekerjasama dengan Pustaka Pelajar), Cet. IV.

Miles, M.B. dan Huberman, A.M., 1984. Analisis Data Kualitatif. Buku tentang Sumber-sumber Baru. Terjemahan dari Qualitative Data Analysis : A Sourcebook of New Methods. Jakarta : UI Press

Referensi

Dokumen terkait

Didapati stres kerja memiliki pengaruh negatif atau tinggi tingkat stess yang dialami karyawan semakin menurun kinerja yang dihasilkan begitu juga sebaliknya,

Sebelum meninggal, Umar bin Khattab membentuk dewan formatur yang bertugas memilih penggantinya kelak, yaitu Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash,

Lokasi penelitian ini dipilih karena menurut peneliti bahwa di kampus Bina Widya Universitas Riaukota Pekanbaru tersebut sangat banyak mahasiswi yang menggunakan

Jurnal dan Skripsi Ainy, Qurrotu, Studi Komparasi prestasi Maharoh Qiro’ah Bahasa Arab Santri Tahfidz dan Santri Nontahfidz di Kelas Marhalah 2 Madrasah Diniyah Nurul Ummah

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara serum seng dengan jumlah CD4 pada lansia yang tinggal di Panti Jompo, serta untuk mencari prevalensi

Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT.. 01 TAHUN 2019 Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menjabarkan dan mendeskripsikan markaz Bahasa Arab DLWI dalam

SPONSORSHIP PT DAYA ADIRA MUSTIKA TERHADAP RESPON BOBOTOH PERSIB PADA SEPEDA MOTOR HONDA DI KOTA BANDUNG TAHUN 2011”.. 1.3

wisatawan muda asal Eropa dan Australia tersebut terkadang mem- bawa akibat yang kurang baik bagi wisatawan. Keamanan mereka temyata kurang terjamin. Beberapa pengalaman