• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang mempunyai peranan penting ditinjau dari sudut sosial, ekonomi, dan ekologis. Fungsi utama sebagai penyeimbang ekosistem dan penyedia berbagai kebutuhan hidup bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Sumberdaya hutan mangrove, selain dikenal memiliki potensi ekonomi sebagai penyedia sumberdaya kayu juga sebagi tempat pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), dan juga sebagai daerah untuk mencari makan (feeding ground) bagi ikan dan biota laut lainnya, juga berfungsi untuk menahan gelombang laut dan intrusi air laut kearah darat. Ekosistem mangrove ini merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi. Kawasan ekosistem mangrove memiliki 3 fungsi utama yaitu (1). fungsi fisis meliputi pencegah abrasi, perlindungan terhadap angin, pencegah instrusi garam dan penghasil energi serta hara, (2). fungsi biologis meliputi sebagai daerah tempat bertelur dan sebagai asuhan biota, tempat bersarang burung dan habitat alami biota lainnya, (3). fungsi ekonomis meliputi sebagai sumber bahan bakar kayu dan arang, perikanan, pertanian, makanan, minuman, bahan baku kertas, keperluan rumah tangga, tekstil, serat sintesis, penyamakan kulit dan obat-obatan (Kordi 2012).

Hutan mangrove menangkap dan mengumpulkan sedimen yang terbawa arus pasang surut dari daratan lewat aliran sungai. Hutan mangrove selain melindungi pantai dari gelombang dan angin merupakan tempat yang dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem mangrove juga sebagai plasma nutfah (genetic pool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat mangrove merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan tersebut dan sebagai tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground), tempat bertelur dan memijah (spawning ground) dan tempat berlindung yang aman bagi berbagai juvenile dan larva ikan serta kerang (shellfish) dari predator (Cooper et al 1995).

Hutan mangrove di Indonesia sekitar 8,6 juta hektar, terdiri atas 3,8 juta hektar di dalam kawasan hutan dan 4,8 juta hektar di luar kawasan hutan. Kerusakan hutan mangrove di dalam kawasan hutan sekitar 1,7 juta hektar atau 44,73 persen dan kerusakan di luar kawasan hutan 4,2

(2)

juta hektar atau 87,50 persen, antara tahun 1982-1993 telah terjadi pengurangan hutan mangrove seluas 513.670 ha atau 46.697 ha per tahunnya (Gunawan & Anwar 2005). Menurut Asian Wetland Bureau luas hutan mangrove Indonesia hanya tersisa 2,5 juta ha, dan untuk pemulihan fungsi hutan mangrove diperlukan rehabilitasi atau restorasi.

Pentingnya dilakukan perhitungan nilai ekonomi kawasan mangrove bertujuan untuk memberikan gambaran nilai ekonomi total yang dikandung oleh ekosistem mangrove. Nilai ini selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam aktivitas pemanfaatan yang akan dilakukan di kawasan mangrove tersebut. Dengan diketahuinya nilai ekonomi total dari ekosistem mangrove ini, diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam aktivitas pemanfaatan dan pengelolaan kawasan mangrove. Dengan demikian, terjadinya pemanfaatan mangrove tidak memberikan dampak buruk dan degradasi mangrove di masa mendatang.

(3)

PEMBAHASAN

Fungsi Ekosistem Hutan Mangrove

Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem Mangorove juga sebagai plasma nutfah (geneticpool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat Mangorove memiliki banyak manfaat baik bagi satwa liar maupun masyarakat pesisir pantai. Menurut Santoso dan Arifin (1998), hutan mangrove memiliki fungsi ekologis dan ekonomis yang diuraikan sebagai berikut :

1. Fungsi ekologis :

 Pelindung garis pantai dari abrasi,

 Mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan,  Mencegah intrusi air laut ke daratan,

 Tempat berpijah aneka biota laut,

 Tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga,

 Sebagai pengatur iklim mikro. 2. Fungsi ekonomis :

 Penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan makanan, obat-obatan),

 Penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna),

 Penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung,  Pariwisata, penelitian, dan pendidikan.

Selain manfaat-manfaat yang telah disebutkan di atas, menurut Irwanto (2006) hutan mangrove juga memiliki manfaat biologis seperti :

 Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan.

 Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang.  Tempat berlindung, bersarang dan berkembang.biak dari burung dan satwa lain.  Sumber plasma nutfah & sumber genetik.

(4)

Permasalah pada Ekosistem Mangrove

Kerusakan mangrove dapat terjadi secara alamiah atau melalui tekanan masyarakat. Secara alami umumnya kadar kerusakannya jauh lebih kecil daripada kerusakan akibat ulah manusia. Kerusakan alamiah timbul karena peristiwa alam seperti adanya topan badai atau iklim kering berkepanjangan yang menyebabkan akumulasi garam dalam tanaman. Banyak kegiatan manusia di sekitar kawasan hutan mangrove yang berakibat perubahan karakteristik fisik dan kimiawi di sekitar habitat mangrove sehingga tempat tersebut tidak lagi sesuai bagi kehidupan dan perkembangan flora dan fauna di hutan mangrove.

Tekanan tersebut termasuk kegiatan reklamasi, pemanfaatan kayu mangrove untuk berbagai keperluan, misalnya untuk pembuatan arang dan sebagai bahan bangunan, pembuatan tambak udang, reklamasi dan tempat pembuangan sampah di kawasan mangrove yang menyebabkan polusi dan kamatian pohon. Lokasi habitat mangrove yang terletak di kawasan garis pantai, laguna, muara sungai menempatkan posisi habitat tersebut rentan terhadap akibat negatif reklamasi pantai.

Ekonomi dan Jasa Lingkungan Mangrove

Mangrove memproduksi nutrien yang dapat menyuburkan perairan laut, mangrove membantu dalam perputaran karbon, nitrogen dan sulfur, serta perairan mengrove kaya akan nutrien, baik nutrien organik maupun anorganik. Rata-rata produksi primer mangrove yang tinggi dapat menjaga keberlangsungan populasi fauna perairan; ikan, kerang dan satwa liar. Mangrove menyediakan tempat perkembangbiakan dan pembesaran bagi beberapa spesies hewan khususnya udang, sehingga biasa disebut tidak ada mangrove tidak ada udang.

Diantara jasa lingkungan ekosistem hutan yang menjadi isu penting adalah fungsinya dalam menyerap karbon. Karbon dioksida (CO2) merupakan salah satu gas rumah kaca dan

karena berfungsi sebagai perangkap panas di atmosfer, menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Fungsi dan nilai ekonomi serapan karbon tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan mangrove rehabilitasi berikut:

(5)

Potensi serapan CO2 pada hutan mangrove strata I (umur 5 tahun) sebesar 18,65 CO2/

ha/tahun cukup besar jika dibandingkan dengan yang terjadi pada hutan pinus. Tanaman pinus umur 5, 11, dan 24 tahun mengabsorsi masing-masing sebesar 10,53 ton CO2/ha/tahun; 21,09 ton

CO2/ha/tahun; dan 14,76 ton CO2/ ha/tahun. Hal ini dapat menunjukkan bahwa hutan mangrove

ini pada kelas umur yang sama yakni 5 tahun dengan tanaman yang di darat mampu menyerap CO2 dalam jumlah yang lebih besar yakni 10,53 ton/ha/tahun untuk hutan pinus dan 18,65

ton/ha/ tahun untuk hutan mangrove. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa nilai kompensasi yang dapat diperoleh dari hutan mangrove akan lebih besar jika dibandingkan dengan nilai kompensasi karbon tanaman di darat (Holidah & Saprudin, 2010).

Manfaat Fauna Perairan

Masyarakat nelayan yang bermukim di sekitar kawasan hutan mangrove dengan jumlah hari efektif penangkapan per tahun 240 hari (8 bulan) dapat menjaring ikan dengan produksi 24.000 ekor/ha/tahun dalam luas efektif habitat ikan sekitar 60 persen dari luas kawasan hutan mangrove sehingga peran hutan mangrove terhadap hasil ikan ini sangat nyata dapat dinikmati oleh masyarakat setempat. Selain ikan, masyarakat juga mendapat hasil hutan mangrove dari tangkapan kepiting. Kepiting yang ditangkap oleh masyarakat dalam wilayah tangkapan sekitar ±0,2 ha dengan jumlah hari efektif kegiatan penangkapan per tahun adalah 240 hari (8 bulan) memanen sebanyak 3.000 kg/ha/tahun dengan harga kepiting Rp 15.000/kg, dimana luas efektif habitat kepiting sekitar 50 persen dari luas kawasan hutan mangrove. Potensi dan nilai ekonomi fauna perairan dalam ekosistem mangrove disajikan pada Tabel 2. Besar-kecilnya hasil jasa tidak langsung dan nilai manfaat hutan mangrove tersebut disebabkan oleh perbedaan luas daerah tangkapan, waktu yang digunakan untuk menangkap, dan nilai jual di pasar yang berbeda-beda.

(6)

Tabel 2. Potensi Hutan Mangrove sebagai Tempat Mencari Makan dan Daerah Asuhan Berbagai Jenis Biota di Sulawesi Selatan

Selain memiliki manfaat langsung, hutan bakau juga memiliki potensi manfaat tidak langsung. Manfaat tidak langsung (Indirect Use Values) merupakan manfaat fisik dan biologis. Sebagai contoh, hutan mangrove memiliki manfaat sebagai peredam gelombang laut yang jika manfaat ini hilang, pemerintah harus menyediakan biaya khusus untuk pembuatan breakwater sehingga tidak terjadi intrusi air laut ke daratan.

Manfaat pilihan dan manfaat keberadaan juga merupakan bagian penting dari hutan mangrove. Manfaat keberadaan dihitung menggunakan Contingent Value Method (CVM), sedangkan manfaat pilihan dihitung dengan mempertimbangkan manfaat keanekaragaman hayati yang ada di lokasi tersebut.

Prinsip Konservasi

Keterbatasan luas dan sebaran ekosistem hutan mangrove, fungsi dan nilai ekosistem mangrove yang tinggi bagi ekosistem lain, terutama ekosistem diperairan laut, pantai dan pesisir serta ekosistem daratan, telah melibatkan berbagai sektor untuk mengelolanya. Ekosistem mangrove dengan peran tersebut dikelola untuk dapat menunjang berbagai aspek pembangunan terutama di sektor ekonomi. Sektor yang mengelola konservasi dan pemanfaatan ekosistem mangrove diantaranya sektor kehutanan, pertanian, perikanan dan kelautan, pertambangan, perhubungan dan pertahanan keamanan. Dilain pihak telah terjadi degradasi ekosistem dan fungsi mangrove sehingga dalam pengelolaan pemanfaatan diperlukan upaya konservasi dan rehabilitasi guna mempertahankan fungsi tersebut. Karena tingkat kerusakan mangrove yang

(7)

berdampak pada pengurangan luas hutan mangrove, fungsi dan nilai manfaatnya sangat tinggi, perlu dirancang suatu penataan wilayah pengelolaan mangrove.

Hal ini merupakan salah satu strategi pemulihan ekosistem untuk tujuan peningkatan pemanfaatannya oleh sektor-sektor yang membidangi berbagai aspek kelestarian dan pemanfaatan, seperti fungsi ekosistem mangrove yang mendukung produktivitas perikanan dapat dikelola oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan, sebagai sumber pangan oleh Kementerian Pertanian, dan fungsi lindung serta konservasi oleh Kementerian Kehutanan. Dengan demikian upaya pelestarian ekosistem, pemulihan fungsi dan manfaat mangrove terbagi ke dalam tanggungjawab masing-masing sektor yang mengelola wilayah pengelolaan mangrove tersebut. Pengembangan fungsi pemanfaatan dan konservasi yang ditata dalam wilayah pengelolaan perlu didukung dengan aspek hukum yang mengatur fungsi dan tanggungjawab serta kolaborasi pengelolaan antar sektor yang terlibat dalam pengelolaan manfaat maupun konservasi mangrove. Keterbatasan luas, tingginya nilai manfaat dan tingkat kerusakan serta banyaknya sektor yang terlibat mengharuskan adanya peraturan pemerintah khusus dalam pengelolaan mangrove. Peraturan dan penegakan hukum yang kuat diharapkan mampu membawa masing-masing sektor terkait untuk mengelola kawasan mangrove dengan prinsip konservasi agar nilai manfaat meningkat dan berkesinambungan.

Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Hutan Mangrove

Hutan mangrove selain bermanfaat bagi satwa liar yang ada di dalamnya juga bermanfaat bagi manusia di sekitar ekosistem tersebut. Manfaat yang didapat merupakan manfaat langsung dengan tanpa merusak ekosistem hutan tersebut. Berikut merupakan manfaat hutan mangrove bagi masyarakat :

1. Pengelolaan batik mangrove

Proses pewamaan batik mangrove dikerjakan dengan alami. Untuk perebusan warna dilakukan selama 10 hari. Bahan-bahan pewamaan batik mangrove lebih banyak dari limbah mangrove, antara lain kaliptropis, bin taro, pah, bringtonia, helgua gimnoriva.

Bahan pewamaan mangrove merupakan limbah pohon mangrove yang dibuat sirup namun masih bisa dimanfaatkan menjadi wama batik. Dari pewamaan ini kemudian diambil dengan canting.

(8)

2. Pengelolaan pakan berbasis buah mangrove

Kelompok-kelompok perempuan dilatih keterampilan mengolah buah mangrove menjadi pangan/penganan berupa: pia mangrove, dodol, stick, cake, pudding, kerupuk dan keripik. Buah mangrove yang diolah menjadi bahan pangan terdiri dari jenis Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia spp, dan Sonneratia caseolaris.

3. Pengelolaan ekowisata mangrove

Hutan mangrove juga memiliki potensi besar yang dapat dijadikan sebagai lokasi wisata. Ekosistem mangrove yang unik serta satwa yang beranekaragam seperti bekantan, monyet ekor panjang, dan berbagai jenis burung air merupakan daya tarik tersendiri dari ekosistem ini. Selain itu masyarakat juga bisa berwisata sekaligus membantu melestarikan lingkungan dengan ikut menjaga ataupun melakukan penanaman di sekitar hutan mangrove yang bersifat peduli lingkungan.

(9)

PENUTUP

Upaya pemulihan hutan mangrove sangat diperlukan mengingat peran dan nilai kawasan mangrove dari aspek ekologi, ekonomi dan jasa lingkungan. Pengelolaan dan pelestarian mangrove yang terdegradasi dapat dengan cara merehabilitasi. Potensi ekologi yang mendukung nilai ekonomi hutan mangrove diantaranya adalah fauna laut yang menjadi sumber ekonomi masyarakat pantai. Jasa lingkungan yang diperoleh adalah nilai stok karbon pada tegakan, penghasil nutrisi bagi perairan pantai dan, habitat untuk pelestarian satwa liar.

Peran dan keterlibatan masyarakat dalam restorasi ekosistem mangrove sangat penting. Daya tumbuh mangrove yang rendah, selain akibat gangguan hama dan manusia juga dari gangguan fisik perairan pantai. Guna mengatasi hal tersebut diperlukan keikutsertaan masyarakat dalam rehabilitasi yang dirancang dalam model silvofishery.

Pengelolaan pada ekosistem mangrove ini dapat dilakukan secara berkala atau berkelanjutan jika melihat dari tiga aspek yang telah disebutkan di atas, yaitu people (aspek sosial), planet (aspek ekologis), dan profit (aspek ekonomi). Ketiga aspek ini sangat berkaitan karena tanpa mempertimbangkan planet dan people makan potensi hutan mangrove ini akan hilang begitu saja. Pemanfaatan hutan mangrove yang dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekologi dan sosial tentu dapat melestarikan hutan ini bagi generasi mendatang.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Cooper, J.A.G., T.D. Harrison, and A.E.L. Ramm. 1995. The role of estuaries in large marine ecosystems: examples from the Natal coast, South Africa. In: Okemwa, E. & Sherman, K. (eds) Large Marine Ecosystems, IUCN, Gland, Switzerland.

Irwanto, 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat mangrove. www.irwantoshut.com. Diunduh pada tanggal 20 juni 2015.

Gunawan, H dan C. Anwar. 2005. Analisis Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah. Info Hutan Vol. II, No.4 : 239-248. Badan Litbang Kehutanan. Bogor. Halidah dan Saprudin. 2010. Potensi dan Nilai Jasa tidak langsung hutan mangrove di Kabupaten

Sinjai Sulawesi Selatan. Info Hutan Vol. VII, No.1 : 21-30. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.

Kordi, M.G.H., 2012. Jurus Jitu Pengelolaan Tambak untuk Perikanan Ekonomis. Lily Publishers. Yogyakarta.

Santoso N. dan H.W. Arifin. 1998. Rehabilitas Hutan Mangrove Pada Jalur Hijau Di Indonesia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove (LPP Mangrove). Jakarta, Indonesia. Saprudin dan Halidah. 2012. Potensi Nilai Manfaat Jasa Lingkungan Hutan Mangrove di

Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 9 (3) : 213-219.

Gambar

Tabel 2. Potensi Hutan Mangrove sebagai Tempat Mencari Makan dan Daerah Asuhan Berbagai Jenis Biota di Sulawesi Selatan

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan GPS bagi pengendara ojek online di Kota Malang menurut Pasal 106 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Ankutan Jalan bukan termasuk larangan

[r]

Berdasarkan data keluhan pasien dari hasil survei kepuasan pelanggan pada bulan juli 2013, buku kritik dan saran pelanggan pada bulan Mei dan September 2013, studi

Semua siswa dan guru setuju jika dibuatkan suatu media pembelajaran fisika untuk materi fluida statis yang dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar dalam

Salah satu fenomena baru dari keragaman Islam yang kini muncul secara relatif meluas di Indonesia ialah gerakan yang memperjuangkan penerapan syari’at Islam

9% di aspek perencanaan sumber daya manusia, 8% di aspek kepemimpinan karena sulit mengarahkan dan mengendalikan karyawan serta sistem kompensasi upah karena belum adanya

 pula.2 Menurut Kementerian Kesehatan Kementerian Kesehatan (1982) men (1982) menyatakan bahwa yatakan bahwa pada pada beberapa N beberapa Negara maju, egara maju, Badan

Memahami letak geografis yang sanggat mengancam rasa nasionalisme peserta didik maka pak Purnomo selaku guru sejarah turut aktif dalam pengembangan rasa