SURAT PENCATATAN
CIPTAAN
Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:
Nomor dan tanggal permohonan : EC00201970377, 9 September 2019 Pencipta
Nama :
(1) Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si (2) Dra. Roimil Latifa, M.Si., M.M (3) Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes (4) Endrik
Nurrohman, S.Pd., M.Pd
Alamat : Perum Muara Sarana Indah F-15, RT 001 RW 005, Kelurahan Mulyoagung, Kecamatan Dau, Malang, Jawa Timur, 65151
Kewarganegaraan : Indonesia
Pemegang Hak Cipta
Nama : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Alamat : Jalan Raya Tlogomas No. 246, Malang, Jawa Timur, 65144
Kewarganegaraan : Indonesia
Jenis Ciptaan : Buku
Judul Ciptaan : Atlas Morfologi Anatomi Beluntas (Pluchea Indica) Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama
kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia
: 23 Agustus 2019, di Malang
Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali dilakukan Pengumuman.
Nomor pencatatan : 000153476
adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.
Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL
Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS. NIP. 196611181994031001
i KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan atlas tentang morfolgi dan anatomi tumbuhan beluntas dengan tepat waktu. Atlas ini disusun dengan tujuan sebagai sumber belajar peserta didik untuk membantu dalam proses kegiatan belajar dan mengajar serta meningkatkan pemahaman dan pengembangan konsep– konsep peserta didik tentang struktur morflogi dan anatomi beluntas. Kami berharap atlas tumbuhan beluntas ini dapat menambah referensi dalam pembelajaran tingkat menengah dan perguruan tinggi.
Atlas ini merupakan luaran dan produk hasil penelitian, terimakasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan untuk pemberi dana penelitian dari Kementrian Riset Dan Tekonologi Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEK DIKTI) dengan skim penelitian Penelitian Unggulan Dasar Perguruan Tinggi (PUDPT), terimakasih juga penulis ucapkan untuk Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, direktur DPPM UMM, Dekan FKIP UMM dan rekan-rekan dosen Pendidikan Biologi, serta pihak yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan Atlas.
Malang, Agustus 2019
Penulis
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
PENDAHULUN ... iii
A. Sekilas tentang Beluntas ... 1
B. Klasifikasi Beluntas ... 1
1. Morfologi Daun (Folium) ... 2
2. Morfologi Batang (Caulis) ... 7
3. Morfologi Akar (Radix). ... 8
4. Morfologi Bunga Beluntas ... 9
5. Anatomi Daun Beluntas ... 10
6. Anatomi Batang Beluntas ... 11
7. Anatomi Akar Beluntas ... 12
8. Anatomi Modifikasi Epidermis (Stomata) ... 13
9. Anatomi Modifikasi Epidermis (Trikoma) ... 14
DAFTAS PUSTAKA ... 15
iii
PENDAHULUAN
Atlas ini didalamnya membahas tumbuhan beluntas berkaitan dengan struktur morfologi dan anatomi pada organ daun, batang, akar, dan bunga. Pengamatan dan hasil gambar dilakukan secara langsung. Atlas berisi tentang morfologi beluntas membahas seputar bagian-bagian daun, sifat-sifat daun, morfologi batang membalas sifat batang, permukaan batang, bentuk batang, dan tipe percabangan pada batang. Pada akar membahas seputar bagian-bagian akar. Bunga dibahas tentang bagian-bagian bunga, juga dilengkapi dengn foto hasil pengamatan.
Pengamatan anatomi pada organ daun, batang, dan akar diiris secara melintang. Anatomi yang dibahas adalah tentang berbagai macam jaringan yang menyusun organ batang, akar, dan daun tumbuhan beluntas. Pengamatan anatomi terdiri dari pengamatan preparat segar yang secara langsung didapatkan melalui irisan tumbuhan beluntas segar, preparat dengan pewarnaan safranin, dan pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Pengamatan anatomi juga dilengkapi dengan modifikasi pada jaringan epidermis yaitu stomata dan trikoma. Secara keseluruhan Atlas ini memuat tentang hasil pengamatan secara langsung tentang morfologi dan anamoti tumbuhan Beluntas.
1
BELUNTAS
(Pluchea indica)
Gambar 1. Tumbuhan Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
A. Sekilas tentang Beluntas
Beluntas merupakan tanaman herba yang telah banyak dimanfaatkan sebagai pangan dan sediaan obat bahan alam. Beluntas hidup dan tumbuh secara liar, tingginya bisa mencapai 2-3 meter dan umumnya tumbuhan ini ditanam sebagai tanaman pagar. Nama daerah: beluntas (Melayu), baluntas, baruntas (Sunda), luntas (Jawa), baluntas (Madura), lamutasa (Makasar), lenabou (Timor), sedangkan nama asing untuk tanaman beluntas adalah Luan Yi (China), Phatpai (Vietnam), dan Marsh fl eabane (Inggris). Nama simplisia beluntas adalah Plucheacea folium
(daun),Plucheacea radix (akar).
B. Klasifikasi Ilmiah Beluntas
Klasifikasi beluntas menurut Pujowati (2006) adalah Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Pluchea Spesies : Pluchea indica
2
1. Morfologi Daun (Folium)
Daun beluntas berwarna hijau terang, permukaan daunya bagian bawah dan atas terdapat rambut-rambut berwarna putih yang merupakan modifikasi dari jaringan epidermis yaitu trikoma daun. Daun bertangkai pendek dengan panjang kurang lebih sekitar 1 cm. Daun beluntas letaknya berselang-seling, berbentuk bulat telur sungsang. Ujung daunya runcing. Tepi daun bergerigi. Pangkal daunya tumpul. Susunan tulang daunya menyirip. Helaian daunya oval. Daging daunya perkamen atau perkamenteus.
Keterangan: a. Bentuk daun b. Ujung daun c. Pangkal Daun
d. Susunan tulang daun e. Tepi daun
f. Daging daun
Gambar 1. Morfologi Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 2. Bagian-bagian daun Beluntas
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
b a c d e f
3
a. Bentuk (Bangun) daun (Circumscruptio)
b. Ujung daun (Apex Folii)
Bentuk daun beluntas yaitu bulat telur sungsang (Abovatus), yaitu seperti bulat telur tetapi bagian yang lebar terdapat dekat ujung daun.
Gambar 3. Bentuk/ bangun Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Ujung daun Beluntas runcing (acutus), yaitu kedua tepi daun di kanan dan kiri itu tulang daun sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuanya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 90o).
Gambar 4. Ujung Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 5a,5b. Ujung Daun Beluntas (Pengamatan SEM)
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
a
4
c. Pangkal Daun (Basis folii)
d. Susunan Tulang daun Beluntas (Nervatio atau Venatio)
Gambar 6. Pangkal Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Daun beluntas memiliki pangkal daun yang meruncing, pangkal daun ini biasa ditemui pada daun tumbuhan dengan bangun daun yang bulat telur sungsang atau daun bangun sudip.
Susunan tulang daun beluntas yaitu bertulang daun menyirip (Penninervis). Mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan pangkal daun. Dari ibu tulang daun ini ke samping keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunanya seperti sirip-sirip pada ikan.
Gambar 7 Susunan Tulang Daun Beluntas
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 8. Susunan Tulang Daun Beluntas
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
5
e. Tepi Daun
Gambar 10a, 10b dan 10c. Tepi Daun Beluntas Pengamatan SEM Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Tepi daun beluntas bertoreh. Termasuk tepi daun yang bertoreh merdeka, tergolong kelompok dengan tepi daun yang berberigi (Serratus), yaitu sinus dan angulus sama lancipnya.
Gambar 9. Tepi Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
a
b
6
f. Daging daun (Intervenium)
g. Warna daun
Daging daun beluntas seperti perkamen (Perkamenteus), yaitu tipis tetapi tidak cukup kaku.
Gambar 13 Daging Daun Beluntas Pengamatan SEM
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 11 Daging Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Daun beluntas berwarna hijau terang, permukaan daunya bagian bawah dan atas terdapat rambut-rambut berwarna putih yang merupakan modifikasi dari jaringan epidermis yaitu trikoma daun
Gambar 12 Warna Daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
7
2. Morfologi Batang (Caulis)
Gambar 15 Percabangan Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi,
2019 Gambar 14 Batang Beluntas
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Tumbuhan Beluntas memiliki Batang yang jelas, jenis batang yang berkayu (Lignosus) yaitu batang yang biasa keras dan kuat dan berkayu. Batang beluntas tidak terlalu besar, keras karena berkayu pada batang yang sudah tua atau pada bagian bawah tumbuhan. Batang beluntas berbentuk bulat (teres), permukaan batangnya berambut, arah tumbuhnya batang tegak lurus yaitu arahnya lurus ke atas, dengan banyak percabangan dan batang utama selalu lebih besar dibandingkan percabangannya (monopodial).
keterangan: a. Warna batang b. Bentuk batang c. Arah tumbuh batang c. Percabangan Batang
a c b d
8
3. Morfologi akar (Radix).
Keterangan: a. Pangkal akar
b. Akar Lembaga/ akar tunggang c. serabut akar
d. Tudung akar, paling ujung.
System perakaran beluntas yaitu akar tunggang, dimana akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang
bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil.
Gambar 16 akar Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi,
2019
a
b c
9
4. Morfologi Bunga Beluntas
Bunga majemuk, keluar dari ketiak daun, berbentuk bunga bonggol dan bergagang atau duduk.
Keterangan:
a. Tangkai bunga
b. Mahkota bunga (ungu) c. Kelopak bunga
Gambar 17a, 17b, belum mekar, 17c, dan 17d mekar Bunga Beluntas
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
a b c d a c b
10
5. Anatomi Daun Beluntas
Keterangan :
a. Jaringan Epidermis bawah b. Jaringan / pembuluh angkut c. Derivat Epidermis/ trikoma d. Jaringan Tiang
e. Jaringan Palisade f. Jaringan Epidermis atas
Gambar 19 Anatomi daun Beluntas Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 20a dan 20b Anatomi daun Beluntas Pengamatan SEM
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 18 Anatomi daun Beluntas Perbesaran 400x
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
a b d e a b c d f c a b b a
11
6. Anatomi Batang Beluntas
Gambar 21a perbesaran 40x, dan 21b Anatomi preparat Segar dan 21c pewanaan safranin batang Beluntas 100x
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 22a dan 22b Anatomi batang Beluntas SEM
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Keterangan: a. Jaringan Epidermis b. Xylem c. Floem d. empulur e. korteks f. sklerenkim a b c e d f e f a c b d b a b c a a b d e f
12
7. Anatomi Akar Beluntas
Gambar 23a persebsaran 40x, dan 23b Anatomi preparat Segar dan 23c pewanaan safranin batang Beluntas
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Keterangan: a. Jaringan Epidermis b. Xylem c. Floem d. empulur e. korteks f. sklerenkim g. Perisikel h. Lapisan Berambut
Gambar 24a dan 24b Anatomi batang Beluntas SEM
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
a b c d e f g h e g h d f b c a a b c a b
13
8. Anatomi modifikasi epidermis (Stomata)
Gambar 25a perbesaran 100x, dan 25b perbesaran 400x Stomata daun
beluntas preparat Segar Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 26a dan 26b Stomata daun beluntas pengamatan SEM Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Stomata pada daun beluntas berbentuk ginjal, dengan sel penjaga pada kedua sisinya. terdapat sel tetangga pada permukaan daun pada sekelilingnya. Keterangan: a. Porus stomata b. Sel Penjaga c. Sel tetangga a b a a c a b c b a
14
9. Anatomi Modifikasi Epidermis (Trikoma)
Trikoma pada daun beluntas termasuk trikoma glanduler pada bagian ujungnya/ kepala trikoma.
Keterangan: a. Kepala trikoma b. Badan trikoma
Gambar 27a perbesaran 100x, dan 27b Trikoma pada batang muda
beluntas diperbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Gambar 28a dan 28b Trikoma batang muda daun beluntas pengamatan SEM
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
a b a b a b a b
15 DAFTAR PUSTAKA
Fahn, A. 1995. Anatomi Tumbuhan. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Fitriyansyah, Mohammad Irfan., Indradi, Raden Bayu. 2018. Review: Profil Fitokimia Dan Aktivitas Farmakologi Beluntas. Farmaka. 16 (2): 337-346
Pujowati P. 2006.Pengenalan Ragam Tanaman Lanskape Asteraceae. Bogor. Institut pertanian bogor
Tambaru, elis. 2015. Identifikasi Karakteristik Morfologi Dan Anatomi Stomata Flaceortia inermis Roxb. Di Kawasan Kampus UNHAS Tamalanrea makasar.
Jurnal Alam Dan Lingkungan. 6 (11): 37-41
Tjitrosoepomo, gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
16 TENTANG PENULIS
Rr. Eko Susetyarini, lahir di Samarinda 6 Agustus 1965, menyelesaikan pendidikan Strata 1 di pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember, pendidikan jenjang Magister didapatkan di Universitas Airlangga Surabaya dengan konsentrasi Biologi Reproduksi. Pendidikan S3 Pendidikan Biologi didapatkan di Universitas Negeri Malang. Aktif sebagai tenaga pendidik di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, aktif melakukan penelitian dari DIKTI dan mengikuti pertemuan dan kegiatan ilmiah baik Nasional maupun Internasional.
Roimil Latifa, lahir di kota Malang pada 20 Maret 1963. Menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pendidikan jenjang Magister didapatkan di Universitas Airlangga Surabaya dengan konsentrasi Biologi Reproduksi dan Magister Managemen Universitas Muhammadiyah Malang. Aktif sebagai tenaga pendidik di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Kepala Laboratorium Biologi UMM, aktif melakukan penelitian dari DIKTI dan mengikuti pertemuan dan kegiatan ilmiah baik Nasional maupun Internasional.
Poncojari Wahyono, lahir di Ngawi 12 Januari 1962
,
menyelesaikan pendidikan Strata 1 di pendidikan Biologi FKIP Universitas Negeri Yogyakarta, pendidikan jenjang Magister dan Doktor didapatkan di Universitas Airlangga Surabaya. Pada saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP UMM. Aktif sebagai tenaga pendidik di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, aktif melakukan penelitian dari DIKTI dan mengikuti pertemuan dan kegiatan ilmiah baik Nasional maupun Internasional.Endrik Nurrohman, dilahirkan di Banyuwangi, 28 Januari 1993. Menyelesaikan pendidikan Strata 1 di pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, pendidikan jenjang Magister Pendidikan Biologi didapatkan di Universitas Negeri Malang. Pengalaman mengajar dan bekerja penulis di Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai tenaga kependidikan dan analis. Penulis aktif diberbagai seminar dan pertemuan ilmiah Nasional.