11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan menjelaskan teori terkait dengan bahasan penelitian yaitu teori tentang peri urban dan morfologi. Dari masing-masing kedua teori tersebut akan dilakukan sintesis teori. Sintesis teori peri urban digunakan untuk pembatasan ruang lingkup wilayah penelitian sedangkang sintesis komponen morfologi digunakan untuk menemukan variabel penelitian. Tahap ini selanjutnya akan menjadi dasar untuk pencarian data pada tahap selanjutnya.
2.1 Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan sebuah kerangka untuk memudahkan pembaca untuk memahami pembangunan teori penelitian. Berikut merupakan kerangka teori dari penelitian:
Gambar 2.1 Kerangka Teori Pola Morfologi Kota Surakarta Dan Wilayah Peri Urban Di Sekitarnya Sumber : Peneliti , 2018
Pola Morfologi Kota Surakarta Dan Wilayah Peri Urban Di Sekitarnya Komponen Morfologi Kota Pola Variabel Peri urban Karakteristik Definisi digilib.uns.ac.id
12
2.2 Peri Urban
Terkait dengan penggunaan lahannya, daerah pinggiran merupakan wilayah yang banyak mengalami perubahan penggunaan lahan terutama perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian yang disebabkan adanya pengaruh perkembangan kota di dekatnya. Daerah pinggiran sebagai wilayah “peri urban”. Wilayah Peri Urban (WPU) didefinisikan sebagai wilayah yang ditandai dengan percampuran kenampakan fisikal kekotaan dan kedesaan. Wilayah peri urban merupakan wilayah yang letaknya di luar batas administrasi kota yang ditandai dengan proses pertambahan luas lahan terbangun (Yunus, 2008). Wilayah perkotaan di Indonesia telah berkembang dengan pesat pada periode tahun 1983‐1993. Pada periode tersebut telah terjadi perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian sebanyak kurang lebih 40.000 Ha/tahun dalam periode tahun tersebut (Setiawan et al, 2006). Di pihak lain, WPU juga berbatasan langsung dengan perdesaan dan sementara itu di dalamnya masih banyak penduduk desa yang masih menggantungkan kehidupan dan penghidupannya pada sektor pertanian. Konflik antara mempertahankan lahan pertanian untuk kepentingan sektor kedesaan di satu sisi dan melepaskan lahan pertanian di sisi lain untuk kepentingan perkembangan fisikal baru sektor kekotaan merupakan bentuk konflik pemanfaatan lahan paling mencolok. Menurut Bintarto (1983) peri urban adalah wilayah yang berada di perbatasan kota yang wilayahanya di luar batas administrasi kota. Wilayah dengan ciri kota dibuktikan dengan adanya transisi daerah tidak terbangun seperti lahan pertanian yang berubah menjadi lahan terbangun seperti permukiman dan bangunan lainnya. Wilayah peri urban merupakan wilayah dengan karakteristik campuran antara struktur lahan kedesaan (masih banyak lahan pertanian atau tidak tebangun) dan lahan kekotaan (lahan terbangun) dengan kata lain transisi perkotaan dan perdesaan (Wehrein, 1942 dalam Bryant, 1982). Pada wilayah peri urban memiliki perubahan penggunaan lahan yang tinggi. Berubahnya lahan pertanian menjadi lahan non pertanian dan lahan terbangun merupakan salah satu karakteristik wilayah peri urban. Besly dan Russwurnm (1986, dalam Giyarsih, 2009) mengusulkan empat karakter yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan suatu daerah dapat disebut sebagai peri urban atau
urban fringe, yaitu: sebelumnya merupakan daerah perdesaan dengan dominasi penggunaan
lahan untuk pertanian dan komunitas masyarakat perdesaan; merupakan daerah yang menjadi sasaran serbuan perkembangan kota serta menjadi ajang spekulasi tanah bagi para pengembang; merupakan daerah yang diinvasi oleh penduduk perkotaan dengan karakter sosial perkotaan; dan merupakan daerah di mana berbagai konflik muncul, terutama antara penduduk pendatang dengan penduduk asli, antara penduduk kota dengan penduduk desa, serta antara petani dan pengembang.
13
Subroto dan Setyadi (1997 dalam Giyarsih, 2009) menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan urban fringe adalah sebagai daerah transisi bukan daerah antara desa dan kota, namun daerah perdesaan yang menyatu dengan daerah perkotaan yang diwarnai oleh disparitas karakter desa dan kota yang kuat baik secara fisik spatial dan sosio kultural.
Kepadatan pada wilayah peri urban lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya. Pada wilayah ini pertambahan penduduk tinggi (Kurtz dan Eicher, 1958). Untuk sintesisi kriteria wilayah peri urban dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.1 Sintesis Karakteristik Peri Urban
Teori
Sintesis
Bintarto (1983) Yunus (2008)
Kurtz dan Eicher (1958)
Daerah yang berada pada batas luar kota (administrasi) kecuali kota wilayah yang letaknya di luar batas administrasi kota Wilayah yang berada di luar batas administrasi kota Kawasan yang memiliki kepadatan lebih rendah dari kota resmi, namun lebih tinggi diantara wilayah didalamnya Kawasan yang memiliki kepadatan lebih rendah dari kota resmi, namun lebih tinggi diantara wilayah didalamnya Luas penggunaan lahan terbangun lebih dari 75% dari luas wilayah Luas penggunaan lahan terbangun lebih dari 75% dari luas wilayah
Peningkatan jumlah penduduk dalam jangka waktu tertentu Peningkatan jumlah penduduk dalam jangka waktu tertentu
Sumber : Bintarto (1983), Yunus (2008), Kurtz dan Eicher (1958) 2.3 Morfologi
Morfologi merupakan kenampakan fisik kawasan yang ditinjau dari struktur yang membentuk bentuk kenampakan tertentu. Kenampakan fisik morfologi bukan hanya bentuk melainkan adanya hubungan antar kawasan (Putri, Rahayu, & Putri, 2016). Menurut Yunus dalam (Putri, Rahayu, & Putri, 2016) penggunaan lahan merupakan salah satu komponen dalam morfologi. Karakteristik kenampakan penggunaan lahan pada wilayah pinggiran berupa lahan terbangun dengan fungsi permukiman, jasa, dan industri.
2.3.1 Bentuk/Pola Morfologi
Bentuk morfologi dibedakan menjadi bentuk kompak dan bentuk tidak kompak. Bentuk kompak meliputi bentuk bujur sangkar, empat persegi panjang, bulat, kipas, pita, dan gurita. Bentuk tidak kompak meliputi bentuk terpecah, berantai, terbelah, tidak berpola dan stellar.
14
Menurut Hudson (1972) terdapat tujuh bentuk kenampakan fisik atau morfologi antara lain satelit atau pusat baru, radial, cincin, liniear bermanik, kompak, memancar dan bentuk kota di bawah tanah. Sedangkan menurut Russwurm (1980) hanya terdapat empat bentuk yaitu, konsentris, konstelasi, memanjang dan terserak. Empat bentuk tersebut mengalami perubahan karena adanya perkembangan waktu dan perubahan-perubahan fisikal lainnya.
Bentuk morofologi menurut (Yunus, 2000) : a. Bentuk bujur sangkar
Bentuk bujur sangkar menunjukkan adanya kesempatan perluasan ke segala arah yang relatif seimbang didukung dengan adanya jalur transportasi yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang pesat pada jalur tersebut. Penggunaan lahan pada bentuk ini pada bagian pusat adalah berupa perdagangan dan jasa kemudian sisanya berupa permukiman. Pola jaringan jalan pada bentuk bujur sangkar adalah pola radial konsentris dan grid. Sedangkan untuk pola bangunan pada bentuk bujur sangkar ini terlihat homogen karena memiliki konfigurasi bentuk serta kerapatan yang merata. (Nelson, 1958, dalam Yunus, 2000)
b. Bentuk empat persegi panjang
Pada bentuk ini pola bangunan tersebar dengan pola memanjang pada salah satu sisi dengan tingkat kepadatan rendah yang terkonsentrasi pada jaringan jalan memanjang. Pola jalan pada bentuk ini adalah grid. Pada bentuk ini jalur transportasi tidak terlalu memberikan pengaruh. Hambatan yang ditemui adalah hambatan-hambatan fiskal perkotaan. (Nelson, 1958, dalam Yunus, 2000)
c. Bentuk kipas
Bentuk kipas disini dimaksudkan dengan bentuk setengah lingkaran. Dalam hal ini perkembangan yang mengarah dari luar lingkaran relatif seimbang. Pola bangunan pada bentuk kipas cenderung tersebar ke berbagai arah dengan kerapatan yang seimbang. Memiliki pola jalan grid dan radial konsentris. Biasanya bentuk ini terbentuk pada daerah pelabuhan, perairan (delta sungai) dan pegunungan. (Yunus, 2000, hal. 116-117) d. Bentuk bulat
Bentuk ini merupakan bentuk yang paling ideal. Hal ini dikarenakan perkembangan ke arah luar dapat dikatakan seimbang dari semua sisi. Pada bentuk bulat kepadatan terletak pada pusat kawasan kemudian menurun ketika menjauhi pusat kawasan. Memiliki pola bangunan homogen karena tersebar secara teratur ke berbagai arah dan pola jalan radial konsentris ke segala arah. (Yunus, 2000, hal. 116-117)
e. Bentuk pita
15
Bentuk ini hampir mirip dengan bentuk empat persegi panjang tetapi karena dimensi memanjangnya lebih besar daripada melebar maka bentuk ini mendapat klasfikasi sendiri. Pada bentuk ini jalur transportasi cukup memberikan pengaruh dibandingkan dengan bentuk empat persegi panjang. Dengan hambatan fiskal berupa lembah, lereng serta pegunungan yang mengakibatkan terhambatnya perkembangan areal menyamping. Pola jalan pada bentuk ini adalah grid. Dengan pola bangunan heterogen dengan kerapatan tidak teratur. (Yunus, 2000, hal. 118-119)
f. Bentuk gurita
Bentuk ini sama halnya dengan bentuk pita, yaitu memiliki pola bangunan yang mengikuti pola jalan tetapi pada bentuk ini tidak hanya satu arah jalur transportasi tetapi beberapa arah. Bentuk ini dapat tercipta apabila daerah pinggiran atau “hinter land” tidak memberikan hambatan-hambatan fisik. Penggunaan lahan beragam memiliki fungsi lebih kompleks dibandingkan kawasan lainnya disepanjang jalan. Pola bangunan pada bentuk ini adalah heterogen dengan kerapatan terpusat tinggi. Pola jalan pada bentuk ini adalah radial konsentris dan grid. (Yunus, 2000, hal. 118-120)
g. Bentuk yang tidak berpola
Bentuk ini biasanya ditemui pada daerah dengan kondisi geografis tertentu seperti kepulauan. Pola jalan pada bentuk ini dapat radial konsentris, grid maupun tidak berpola. Pola bangunan pada bentuk ini berupa heterogen dengan kerapatan yang menyebar tidak beraturan. (Yunus, 2000, hal. 120)
h. Bentuk terpecah
Bentuk ini muncul dari bentuk yang kompak tetapi dalam skala kecil. Kenampakannya adalah dikelilingi oleh areal pertanian dan dihubungkan dengan jalur transportasi yang memadai. Untuk negara berkembang biasanya tercipta dari daerah-daerah permukiman. Biasanya terbentuk ketika lahan di luar kota induk memadai. Kawasan perkotaan yang baru tidak menempel dengan kota induknya tetapi membentuk pola tersendiri pada daerah-daerah pertanian disekitarnya. (Yunus, 2000, hal. 121)
i. Betuk berantai
Bentuk ini hampir mirip dengan bentuk terpecah tetapi karena terjadinya hanya di sepanjang rute tertentu. Lahan terbangun disepanjang jalur transportasi dipisahkan oleh lahan tidak terbangun, jadi seolah-olah merupakan mata rantai yang dihubungkan oleh jalur transportasi. Memiliki pola jalan radial konsentris atau grid. Dengan pola bangunan heterogen. (Yunus, 2000, hal. 122)
j. Bentuk terbelah
16
Bentuk ini hampir mirip dengan bentuk kompak namun berhubung ada perarian yang cukup lebar membelah jadi terlihat seperti dua bagian yang terpisah. Dengan pola jalan ke segala arah dan pola bangunan heterogen dengan kerapatan menyebar tidak teratur yang bervariasi. (Yunus, 2000, hal. 123)
k. Bentuk stellar
Kondisi morfologi seperti ini biasanya terdapat pada kota-kota besar yang dikeliling oleh kota-kota satelit. Terdapat sub-sub kawasan yang menyebar dan dihubungkan melalui pola jalan radial konsentris dengan kepadatan tinggi. Kawasan pusat dan sub pusat dipisahkan oleh lahan tidak terbangun.
a) Bujur sangkar b) empat persegi panjang c) kipas
d) bulat e) pita f) gurita
g) tidak berpola h) terpecah i) berantai
j) terbelah k) stellar
Gambar 2.2 Bentuk Morfologi Sumber : (Yunus, 2000, hal. 114-124)
17 Tabel 2.2 Indikator Bentuk Morfologi
Bentuk morfologi Indikator/parameter Sumber
Bujur sangkar - Perluasan ke segela arah - Pertumbuhan pesat pada jalur
transportasi
- Penggunaan lahan pada pusat berupa perdagangan dan jasa, sisanya permukiman
- Pola jaringan jalan berupa pola radial konsentris dan grid - Pola bangunan; homogen dengan kerapatan merata
Yunus (2000)
Empat persegi panjang
- Pola jaringan jalan berupa grid - Pola bangunan; tersebar dengan
pola memanjang(homogen), kerapatan tersebar
Yunus (2000)
Kipas - Perkembangan yang mengarah dari luar relatif seimbang - Pola jaringan jalan berupa grid
dan radial konsentris - Pola bangunan; tersebar ke
berbagai arah(homogen) dengan kerapatan seimbang - Biasa terjadi pada daerah
pelabuhan perairan (delta sungai) dan pegunungan
Yunus (2000)
Bulat - Perkembangan ke arah luar seimbang
- Pola jaringan jalan berupa radial konsentris ke segala arah - Pola bangunan; homogen dan
tersebar secara teratur - Kerapatan memusat kemudian
menurun
Yunus (2000)
Pita - Pola jaringan jalan berupa grid - Pola bangunan; heterogen,
kerapatan tidak teratur - Jalur transportasi memberikan
pengaruh
Yunus (2000)
Gurita - Penggunaan lahan beragam dengan pusat kawasan
memiliki fungsi lebih kompleks dibandingkan kawasan lainnya - Pola jaringan jalan radial
konsentris dan grid
- Pola bangunan mengikuti pola jalan ke beberapa arah - Pola bangunan; heterogen
dengan kerapatan terpusat tinggi
Yunus (2000)
Tidak berpola - Pola jaringan jalan radial konsetris, grid, dan tidak berpola
Yunus (2000)
18
Bentuk morfologi Indikator/parameter Sumber
- Pola bangunan; heterogen dengan kerapatan tidak beraturan
Terpecah - Dikelilingi areal pertanian - Dihubungkan jalur transportasi
Yunus (2000) Berantai - Lahan terbangun dan non
terbangun dipisahkan jalur transportasi
- Pola jaringan jalan grid - Pola bangunan; heterogen
Yunus (2000)
Terbelah - Dibelah oleh perairan cukup lebar
- Pola jaringan jalan ke segela arah
- Pola bangunan; heterogen dengan kerapatan menyebar bervariasi
Yunus (2000)
Stellar - Terdapat pada kota besar yang dikelilingi kota satelit
- Pusat kawasan menyebar - Pola jaringan jalan radial
konsentris
- Kawasan pusat dan sub pusat terpisahkan lahan non terbangun
Yunus (2000)
Sumber : Yunus (2000)
2.3.2 Komponen Morfologi
Morfologi memiliki tiga komponen dalam mencermati kondisi fisik kawasan. Komponen tersebut ditinjau dari penggunaan lahan kawasan yang mencerminkan aktivitas kawasan, pola sirkulasi atau pola jaringan jalan yang menghubungkan antar kawasan, dan pola bangunan beserta fungsinya (Soetomo, 2009). Menurut Conzen (2003), tiga unsur morfologi kota yaitu unsur-unsur penggunaan lahan, pola-pola jalan dan tipe-tipe bangunan. Juga menurut Smailes (1955) komponen yang digunakan sebagai pembentuk fisik keruangan atau morfologi kawasan adalah penggunaan lahan, pola jalan dan tipe bangunan. (Astutik, Tallo, & Pratiwi, 2014). Dari beberapa definisi tersebut didapatkan tiga variabel penelitian berupa penggunaan lahan, pola jaringan jalan dan pola bangunan. Sintesis variabel dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 2.3 Sintesis Komponen Morfologi
Teori
Variabel
Smailes (1955) Conzen (2003) Soetomo (2009)
Penggunaan lahan Penggunaan lahan Penggunaan lahan Penggunaan lahan Pola jalan Pola-pola jalan Pola sirkulasi atau
pola jaringan jalan
Pola jaringan jalan Tipe bangunan Tipe-tipe bangunan Pola bangunan Pola Bangunan (pola
dan tipe)
Sumber : Smailes (1955) dalam Yunus, Conzen (2003) dalam Yunus, Soetomo (2009)
2.4 Definisi Operasional
19
Menurut (Sugiyono, 2010), variabel merupakan suatu atribut atau nilai atau sifat dari orang, objek, atau keguatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini yang diambil dari komponen morfologi, yaitu penggunaan lahan, pola jaringan jalan dan bangunan. Berikut adalah penjabaran variabel penelitian :
2.4.1 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan salah satu komponen dalam morfologi. Karakteristik kenampakan penggunaan lahan pada wilayah pinggiran berupa lahan terbangun dengan fungsi permukiman, perdagangan dan jasa, dan industri (Yunus, 2008). Penggunaan lahan dalam morfologi ditinjau dari komposisi penggunaan lahan yang mencerminkan penggunaan lahan campuran atau tidak (Putri, Rahayu, & Putri, 2016). Penggunaan lahan sangat mempengaruhi perwujudan fisik kawasan terutama dalam menentukan kawasan terbangun dan tidak terbangun. 2.4.2 Pola Jaringan Jalan
Pola jalan didalam kota merupakan salah satu unsur dari morfologi kota. Ada tiga tipe sistem pola jalan yang dikenal menurut (Yunus, 2000) yaitu : pola jalan tidak teratur, pola jalan radial konsentris dan pola jalan bersudut siku atau grid.
a. Pola jalan tidak teratur
Pada sistem ini terlihat adanya ketidakteraturan sistem jalan baik ditinjau dari segi lebar maupun arah jalannya (memiliki banyak cabang). Begitu pula dengan peletakkan rumah satu sama lain tidak menunjukkan keteraturan. Ketidak teraturan ini terlihat pada pola jalannya yang melingkar-lingkar, lebarnya bervariasi dengan cabang-cabang yang banyak.
b. Pola jalan radial konsentris
Pada pola jalan radial konsentris ini terdapat pemusatan pada jaringan jalan dengan pola melingkar dari pusat hingga wilayah pinggiran. Pada pola ini juga jalan memiliki simpang atau cabang yang banyak dan saling terhubung. Dalam pola ini ada beberapa sifat khusus yang langsung mencirikannya yaitu bagian pusat merupakan daerah kegiatan utama, memiliki pola keteraturan geometris biasanya berpusat lalu menjari ke berbagai arah.
c. Pola jalan bersiku atau grid
Bagian kotanya terbagi menjadi blok-blok empat persegi panjang dengan jalan-jalan yang paralel longitudinal dan tranversal membentuk sudut siku-siku.
20 Gambar 2.3 Pola Jaringan Jalan
Sumber : Morlok (1978: 684)
2.5.3 Pola Bangunan
Menurut (Tyas, Danial, & Izjrail, 2013) tipologi tektur kawasan dibagi menjadi tiga yaitu homogen, heterogen dan tidak jelas. Tekstur kawasan sendiri merupakan derajat keteraturan dan kepadatan massa dan ruang. Menurut variasi massa dan ruangnya, secara teoritik ada tiga tipologi tekstur kawasan,yaitu :
a. Tekstur homogen ; hanya terdapat satu pola penataan kawasan dengan konfigurasi bentuk-bentuk yang cenderung sama, dan biasanya memperlihatkan suatu tingkat kepadatan tinggi. b. Tekstur heterogen ; terdapat dua atau lebih pola penataan kawasan dengan konfigurasi
bentuk yang cukup bervariasi, masih memiliki lahan non terbangun didalamnya.
c. Tektur tidak jelas ; pola penataan kawasan tidak terstruktur. Biasanya terbentuk atas sebab-sebab tertentu. Terlihat seperti kawasan yang tidak terencana dengan baik dengan tingkat kepadatan tinggi.
Gambar 2.4 Tekstur Kawasan Sumber : (Tyas, Danial, & Izjrail, 2013)