• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. banyak. Berdasarkan data dari Pusat Data Informasi Nasional (PUSDATIN)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. banyak. Berdasarkan data dari Pusat Data Informasi Nasional (PUSDATIN)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan sebuah negara dengan penyandang disabilitas yang cukup banyak. Berdasarkan data dari Pusat Data Informasi Nasional (PUSDATIN) Kementrian Sosial tahun 2010, tercatat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia berjumah 11.580.117. Jumlah tersebut terbagi dalam beberapa kategori, yaitu tuna netra yang berjumlah 3.474.053 atau 30%, tuna daksa berjumlah 3.010.830 atau 27 %, tuna rungu berjumlah 2.547.626 atau 22 %, tuna grahita berjumlah 1.389.614 atau 12 %, dan sisanya 1.158.012 atau 9 % adalah penyandang disabilitas kronis (kompasiana.com). Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah penyandang tuna daksa menjadi yang terbanyak kedua setelah tuna netra dan diprediksi jumlahnya akan semakin bertambah di tiap tahunnya. Tuna daksa adalah sebutan bagi orang yang memiliki disabilitas tubuh/cacat tubuh. Manungson (1998) menjelaskan bahwa secara umum tuna daksa memiliki pengertian sebagai ketidakmampuan tubuh secara fisik untuk menjalankan fungsi tubuh seperti pada keadaan normal. Kata tuna daksa ini digunakan untuk memperhalus kata cacat fisik sebagai salah satu upaya untuk mengurangi stigma atau pandangan negatif masyarakat terhadap mereka yang memiliki kekurangan fisik. Di samping itu, Efendi (2006) menjelaskan bahwa tuna daksa adalah keidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan karena berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna. Jadi tuna daksa adalah keadaan seorang individu yang tidak mampu melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan normal karena salah satu anggota tubuhnya tidak berfungsi secara normal.

(2)

Penyebab seseorang menjadi seorang tuna daksa ini sangat beragam, diantaranya karena bawaan lahir, bencana alam, kecelakaan dan sebab lainnya. Efendi (2006) menjelaskan bahwa penyebab tuna daksa ini dapat terjadi ketika fase sebelum lahir, saat kelahiran, dan sesudah kelahiran. Di samping itu, Hallahan & Kauffman (1994) menjelaskan bahwa tuna daksa disebabkan oleh dua hal, pertama karena bawaan lahir atau yang biasa disebut dengan congenital anomalies, dan tuna daksa yang disebabkan karena terjadinya kecelakaan atau bencana serta terkena penyakit setelah seseorang lahir. Jadi kondisi tuna daksa ini dapat disebabkan karena adanya kelainan sebelum kelahiran, disaat proses kelahiran, dan setelah proses kelahiran baik karena kecelakaan ataupun tidak berfungsinya salah satu bagian tubuh setelah lahir karena adanya infeksi atau penyakit.

Tuna daksa ini dapat dibagi ke dalam 2 tipe, yaitu tuna daksa ortopedi dan tuna daksa saraf (Efendi, 2006). Tuna daksa ortopedi ini ditandai dengan adanya kelainan pada sebagian anggota tubuh sehingga menghambat aktivitas secara normal. Contohnya adalah adanya amputasi pada salah satu anggota tubuh akibat adanya kecelakaan/bencana dan pertumbuhan anggota tubuh yang tidak sempurna. Kemudian tipe yang kedua adalah tuna daksa saraf yang ditandai dengan adanya kerusakan sistem saraf akibat kecelakaan ataupun penyakit yang menghambat pertumbuhan anggota tubuh, contohnya adalah cerebral palsy.

Di Indonesia, banyaknya tuna daksa dapat disebabkan salah satunya karena tingginya angka kecelakaan dan bencana alam yang terjadi. Berdasarkan survei yang dilakukan WHO menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan kelima dengan jumlah kecelakaan lalu lintasnya tertinggi (Putri, 2015). Banyaknya kecelakaan dan ditambah banyaknya bencana alam di Indonesia tentunya beresiko membuat korban menjadi tuna daksa. Berdasarkan hal tersebut, seseorang yang menjadi tuna daksa yang

(3)

mengalami bencana ataupun kecelakaan tentunya mendapat tekanan hidup yang lebih berat, karena mereka memerlukan upaya yang lebih besar untuk menerima dan beradaptasi dengan kondisi yang baru. Hal ini disebabkan karena mereka yang terlahir sebagai seseorang yang normal, kemudian saat terkena bencana atau kecelakaan mereka cacat dan menjadi seorang tuna daksa. Feist & Feist (2012) menjelaskan bahwa kekurangan yang terdapat pada salah satu bagian tubuh individu dapat mempengaruhi individu tersebut secara menyeluruh. Ditambahkannya bahwa hilangnya salah satu anggota tubuh mempengaruhi daya kemandirian dalam menjalani aktivitas, sehingga harus melakukan penyesuaian diri terus menerus dengan segala bentuk perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi setelah seseorang menjadi tuna daksa tersebut dapat berpotensi menjadi stressor yang dapat mengakibatkan stres. Hal ini diperkuat dengan dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa individu yang menyandang disabiltas akan mengalami perubahan emosi yang ditunjukkan dengan adanya rasa cemas hingga mambuat stres, bahkan dapat membuat depresi (Hancock, Craig, & Dickson, 1993).

Kondisi stres merupakan kondisi dimana adanya pengalaman yang disertai dengan emosi negatif yang dapat dilihat dari perubahan fisiologis, kognitif, dan perilaku (Taylor, 2012). Stres tentunya diawali/disebabkan oleh stressor yang merupakan kejadian atau pengalaman negatif yang terjadi di dalam hidup. Thoits (1995) menjelaskan hal yang berpotensi dapat menjadi stressor adalah adanya kejadian atau pengalaman buruk yang terjadi dalam kehidupan, ketegangan dan perselisihan dengan orang lain. Carver & Connor-Smith (2010) menjelaskkan bahwa stres dapat terjadi ketika seseorang merasa terancam. Dijelaskan bahwa untuk melihat stres dapat ditinjau dari ancaman yang merupakan peristiwa/pengalaman yang berdampak buruk, dan bahaya yang merupakan persepsi dari dampak buruk tersebut.

(4)

Di samping itu juga adanya kehilangan yang merupakan persepsi dari sesuatu yang ingin dicapai untuk menghadapi dampak tersebut.

Stres yang dialami para penyandang tuna daksa tentunya banyak disebabkan oleh perubahan yang muncul pada saat awal-awal dan pasca dirinya menjadi tuna daksa. Perubahan yang terjadi yaitu pada diri sendiri dalam upaya untuk menyesuaikan diri dengan kondisinya yang baru ataupun perubahan yang terjadi pada lingkungan di sekitarnya. Hasil penelitian Pande & Terawi (2011) menyebutkan bahwa perubahan yang terjadi di dalam diri penyandang tuna daksa adalah berupa masalah kesehatan, kesejahteraan, kualitas hidup, dan penyesuaian diri dengan keadaan cacat itu sendiri. Di samping itu stressor yang datang dari luar dirinya mulai dari adanya diskriminasi, pemenuhan hak-hak dasar yang masih lemah, adanya perlakuan yang tidak benar dari keluarga ataupun masyarakat, dan masih banyak lainnya. Physical Disability and Rehabilitation Advisory Working Group menjelaskan bahwa penyandang tuna daksa sering mendapatkan diskriminasi, stigma negatif dan secara ekonomi dan sosial pun mereka juga kurang beruntung sehingga lebih beresiko memiliki kualitas hidup yang rendah (CBM, 2007). Ditambahkan bahwa di bidang pendidikan dan kesempatan kerja pun mereka mengalami bias dalam proses seleksinya karena alasan kondisi tubuh yang tidak normal, kemudian tuna daksa ini juga dipandang menjadi beban bagi keluarga, masyarakat, pelayanan sosial dan juga dari pelayanan kesehatan secara umum.

Diskriminasi yang sering dijumpai adalah kurangnya akses pada tempat-tempat umum, belum terpenuhinya fasilitas-fasilitas umum, tidak adanya kesetaraan dalam perolehan pekerjaan, serta pendidikan bagi para penyandang tuna daksa (Nadia, 2013). Diskriminasi juga muncul dalam masalah perolehan pekerjaan, yang faktanya menyebutkan bahwa kesempatan kerja semakin sempit seiring dengan banyaknya stigma atau stereotip negatif mengenai kondisi tubuh mereka. Hasil penelitian

(5)

menyebutkan bahwa di dalam pekerjaan, orang cacat mendapatkan kesempatan kerja yang lebih sedikit, hal ini disebabkan karena adanya prasangka dan praktik diskriminasi dalam bidang ketenagakerjaan (Hosain dkk, 2002). Hal ini dibuktikan dengan berita yang menyebutkan bahwa realisasi seleksi CPNS belum memenuhi undang-undang disabilitas yang sudah berlaku. Di samping itu juga pelaksanaan tes yang dilakukan dirasa masih mengurangi hak-hak sebagai seorang penyandang disabilitas (Purnama, 2014).

Pemenuhan hak-hak dasar bagi para penyandang tuna daksa yang masih lemah, turut berperan besar menjadi salah satu stressor. Keadaan ini diperburuk dengan pemahaman masyarakat yang masih kurang terhadap para penyandang tuna daksa ini, sehingga banyak munculnya stigma negatif, bahkan sampai pada tahap isolasi bagi mereka. Harian Republika menyebutkan bahwa banyaknya penyandang disabilitas yang hidup dibawah garis kemiskinan dan banyak keluarga yang justru menganggap para penyandang disabilitas ini menjadi beban keluarga dan memperlakukan para penyandang disabilitas dengan tidak pantas (Putri, 2015).

Dalam upaya mendapat data yang langsung dari lapangan, peneliti melakukan pencarian fakta mengenai para penyandang disabilitas yang bersumber dari tanyangan talkshow yang ditayangkan di media elektronik. Berdasarkan tayangan talkshow “Kick Andy” yang tayang pada tanggal 29 Maret 2015, dijumpai fakta bahwa masih ada penyandang disabilitas yang kondisi psikologisnya terpuruk. Selain merasakan dampak fisik, mereka merasakan kesedihan dan perasaan tidak menerima saat pertama mengalami kejadian yang membuatnya menjadi tuna daksa. Di samping itu masih banyak diskriminasi dan stigma negatif yang datang dari lingkungannya, seperti ejekan dan kutukan terhadap masa depan yang membuat minder dan malu. Cemooh tersebut

(6)

memaksa para penyandang tuna daksa ini untuk mengurung diri dirumah dan menjauhi lingkungannya.

Beberapa uraian diatas jelas menunjukkan gambaran bawasanya masih banyak para penyandang disabilitas ini mengalami kondisi terpuruk menghadapi kenyataan baru sebagai penyandang disabilitas. Di sisi lain, masih banyak juga stressor bagi para penyandang disabilitas baik dalam bentuk diskriminasi dan stigma negatif. Di samping itu, juga masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyandang disabilitas ini. Para penyandang disabilitas sudah seharusnya mendapat perlakuan yang sama dengan orang normal, bahkan hal ini sudah tertulis di dalam undang-undang tentang penyandang cacat yang tercantum dalam UU RI no.4 tahun 1997 yang menyebutkan bahwa penyandang cacat memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama untuk menjadi bagian dari masyarakat Indonesia (Indonesia, 1997). Ditambahkannya bahwa setiap penyandang disabilitas berhak memperoleh pendidikan, pekerjaan, penghidupan, dan perlakuan yang sama dalam mengembangkan bakat yang dimiliki.

Dibalik banyaknya stressor yang terjadi di kehidupan para penyadang tuna daksa seperti yang telah diurakan diatas, ternyata masih ada beberapa orang yang bagian dari para penyandang tuna daksa yang mampu mengatasi stressor dan mampu untuk menerima keadaannya sebagai tuna daksa, bahkan mampu melampaui capaian orang pada umumnya. Usaha-usaha tersebut nampak pada diri M, seorang tuna daksa yang yang berhasil menjadi juara di cabang olahraga renang padahal ia hanya memiliki 1 tangan dan 1 kaki. Pada tayangan sebuah talkshow “Hitam Putih” yang ditayangkan pada tanggal 27 november 2014, saat disinggung mengenai pandangan negatif yang diterimanya dari lingkungannya terhadap kondisi fisiknya, M tidak menghiraukan dan selalu mengingat pesan dan ajaran dari orang tuanya yang selalu mendorong dirinya untuk tidak malu dengan kondisinya dan selalu percaya diri dengan kemampuan yang

(7)

dimiliki. Di samping itu di dalam tanyangan sebuah talkshow “Kick Andy” pada tanggal 29 Maret 2015 juga membuktikan bahwa ada orang-orang penyandang disabilitas yang mampu keluar dari masa sulitnya. Hal ini ditunjukkan oleh HB seorang penyandang tuna daksa karena kecelakaan kerja dan harus diamputasi kedua tangannya. Walaupun HB menunjukkan perasaan depresi di masa awal menjadi tuna daksa, dirinya masih bisa untuk bersyukur dan dengan ikhlas menerima kondisinya. HB mengungkapkan bahwa dengan kekurangannya, justru dapat memberikan motivasi dan dorongan semangat bagi orang-orang yang normal ataupun orang yang kondisinya sama dengan dirinya. Jawaban tersebut menjadi salah satu bukti bahwa masih ada penyandang disabilitas tidak kalah dengan stressor/tekanan yang ada, namun justru bisa menunjukkan kemampuan untuk mengatasi tekanan yang datang, bahkan mampu untuk menjadi seorang pemenang.

Kemampuan untuk menghadapi stressor/tekanan di dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah coping. Secara teoritis, coping didefinisikan sebagai sebuah usaha dari perubahan perlaku dan kognitif secara terus menerus untuk mengelola tuntutan internal ataupun eksternal yang dinilai menekan atau melebihi kemampuan seseorang (Lazarus & Folkman, 1984). Ketika muncul banyak stressor dan membuat seseorang menjadi stres, coping merupakan salah satu jalan untuk keluar dari kondisi yang menekan tersebut. Sementara itu, kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya juga dapat diartikan sebagai coping (Skinner et al, 2003). Coping ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi, Lazarus & Folkman (1984) menjabarkan strategi coping menjadi dua, yaitu problem focused coping dan emotion focused coping. Problem focused coping diartikan sebagai upaya penyelesaian yang berfokus pada masalah yang terjadi, diawali dengan mendefinisikan masalah, menghasilkan alternatif solusi, memilih dan bertindak menyelesaikan masalah tersebut. Emotion focused coping

(8)

diartikan sebagai proses kognitif yang diarahkan untuk mengurangi tekanan emosional yang diakibatkan dari permasalahan. Pada Emotion Focused Coping ini banyak berasal dari teori dan penelitian proses defensif yang dilakukan oleh individu untuk menghadapi stres (Lazarus & Folkman, 1984). Sukses atau tidaknya seseorang dalam melakukan coping tentunya dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam kontrol diri, emosi postitif, dan kemampuan diri seseorang tersebut (Folkman & Moskowitz dalam Santrock, 2006). Selain kemampuan dari internal individu, coping juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti dukungan sosial dan lainnya yang didapat dari lingkungan. Sebuah penelitian menemukan bahwa seorang penyandang disabilitas memerlukan usaha yang lebih berat untuk melakukan coping, karena harus mengatasi efek jangka pendek setelah dirinya menjadi penyandang disabilitas sebelum mengatasi akibat jangka panjang yang ditimbulkan dari keadaannya sebagai dan pasca menjadi penyandang disabilitas (Pande & Terawi, 2011).

Keadaan tuna daksa yang membuat ketidakmampuan fisik untuk melakukan fungsinya dengan normal, dan banyaknya stressor yang dialami, tentunya membuat mereka merasa tertekan dan dapat menjadi stres bahkan menjadi depresi. Namun dibalik itu ternyata masih terdapat individu penyandang disabilitas mampu untuk melakukan coping, sehingga mampu menerima keadaan dirinya dan keluar dari tekanan serta masa sulit yang dialami. Dinamika coping untuk mengatasi stressor pada para penyandang tuna daksa ini menjadi menarik karena belum semua penyandang tuna daksa mampu untuk menerima dirinya dan menghadapi stressor yang ada. Hal itu ditunjukkan dengan tidak sedikit dari para penyandang cacat ini menjadi harus hidup miskin dan menyambung hidupnya dengan menjadi gelandangan bahkan menjadi pengemis. Kementrian Sosial Direktorat Rehabilitasi Tuna Sosial menyebutkan bahwa jumlah gelandangan dan pengemis di seluruh Indonesia mencapai jumlah 30.019 orang. Jumlah

(9)

tersebut sudah termasuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), gelandangan dan pengemis lanjut usia, disabilitas (cacat), dan psikotik (gangguan kejiwaan) (Jerry, 2015).

Berdasarkan hal tersebut, peneliti memiliki ketertarikan untuk mengetahui bagaimana dinamika seorang penyandang tuna daksa melakukan coping terhadap stressor yang ada, sehingga mereka dapat menerima kondisi dan keluar dari masa sulitnya. Di samping itu, juga untuk mengetahui faktor apa saja yang mampu mempengaruhi munculnya coping pada penyandang tuna daksa.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami proses dinamika dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya coping pada individu penyandang tuna daksa.

C. Manfaat Penelitian

Berikut adalah uraian manfaat penelitian ini, yaitu: 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian ilmu psikologi klinis dan psikologi perkembangan, khususnya terkait proses coping yang dilakukan individu penyandang tuna daksa.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi subjek dalam menghadapi stres dalam kehidupan pasca tuna daksa di kemudian hari sebagai self prepared untuk menghadapi stressor.

(10)

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai proses coping yang dilakukan para penyandang tuna daksa, sehingga dapat memberikan refrensi bagi masyarakat luas ataupun yayasan sosial penyandang disabilitas dalam memberikan perlakuan yang tepat sesuai dengan kebutuhan para penyandang tuna daksa.

Referensi

Dokumen terkait

Responden lain dari penelitian ini misalnya bapak Muhri (54 tahun) seorang penjual minuman asal Kuningan mengaku hanya menggunakan modal bantuan dari teman yang telah membawanya

Proses transportasi pada proses produksi brown paper yang merupakan waste adalah proses perpindahan material dari Gudang Bahan Baku ke Hydrapulper, transportasi

Router adalah perangkat yang akan melewatkan IP dari suatu jaringan ke jaringan yang lain, menggunakan metode addressing dan protocol tertentu untuk melewatkan paket data

Dalam hal penerapan pelaksanaan Peraturan Daerah yang digunakan adalah masih berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Badung Tingkat II Badung Nomor 29 Tahun 1995

Penyusunan Rencana Program dalam RENSTRA 2009-2012 berlandaskan upaya menjadikan Program Studi Pendidikan Bidan menjadi institusi pendidikan bidan yang terkemuka

Observasi Siklus II Refleksi Siklus II Hasil Peningkatan pemanfaatan perpus dalam kategori sedang.. 43 perpustakaan sekolah, standar sarana dan prasarana perpustakaan,

Robot ini berbasis Arduino Uno, menggunakan Magnetic compass sebagai penunjuk arah robot, sensor ultrasonik sebagai pendeteksi halangan berdasarkan pantulan gelombang,

Pada beberapa virus, bagian sebelah luar dari kapsid diketemukan adanya selubung virus (envelope) atau membran yang menyelubungi kapsid yang berasal dari membran inang.. Selubung