12 2.1 Telaah Literatur
2.1.1 Pengertian Lurik
Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garis-garis yang merupakan lambang kesederhanaan, sederhana dalam penampilan maupun perbuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Selain sebagai penutup dan melindungi tubuh, lurik juga berfungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya. Lurik menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Kata Lurik berasal dari akar kata rik berarti garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalur-jalur sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Jawa (Mangunsuwito:2002) pengertian lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek yang berarti garis-garis dalam bahasa Indonesia. Menurut Nian S. Djoemena dalam bukunya yang berjudul Lurik, Garis-garis dan Bertuah dalam bukunya dijelaskan mengenai proses
pembuatan kain lurik berserta alat yang digunakan. Selain itu juga diuraikan pula mengenai macam-macam motif lurik, makna, waktu pemakaian, dan fungsinya secara garis besar terutama dalam acara ritual keagamaan dan dalam upacara perkawinan.
Dari berbagai definisi diatas disebutkan disimpulkan bahwa lurik merupakan kain yang diperoleh melalui proses penenunan dari seutas benang (lawe) yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi selembar kain tenun. Proses diawali dari pembuatan benang tukel, tahap pencelupan yaitu pencucian dan pewarnaan, pengelosan dan pemaletan, penghanian, pencucukan, penyetelan dan penenunan. Motif atau corak yang dihasilkan berupa garis-garis vertikal maupun horisontal yang dijalin sedemikian rupa sesuai warna yang dikehendaki dengan berbagai variasi.
2.1.1.1 Makna pada lurik
Kata Lurik berasal dari akar kata rik berarti garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Melalui kain lurik terdapat filosofi dan makna lurik yang tercermin pada motif dan warnanya. Ada corak yang dianggap sakral dan memberi petuah, nasehat, petuah, harapan, berbagai unsur seperti warna, motif terutama kepercayaan yang menyertai kain lurik, membuat nilai lurik menjadi tinggi. Keberadaan kain ini tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan sehingga keberadaannya selalu mengiringi berbagai upacara perkawinan dan ritual adat.
2.1.1.2 Macam corak lurik
Corak tradisional lurik ditenun menurut aturan tertentu, baik dalam hal pewarnaan atau perpaduan warna maupun tata susunannya. Corak kain lurik diberi nama yang erat
kaitannya dengan daur, falsafah atau pandangan kehidupan keprcayaan si pemakai. Corak lurik secara garis besar dapat dibagi dalam corak dasar yaitu:
1. Corak lajuran, corak dimana lajur atau garis-garisnya membujur searah benang lungsi. 2. Corak pakan malang, corak dimana lajur atau garis-garisnya melintang searah benang
pakan.
3. Corak cacahan atau kotak-kotak., corak yang terjadi dari persilangan antara corak lajuran dan corak pakan malang. Menurut Bian S. Djoemena (2000) mengenai nama-nama corak lurik yang terkenal antara lain:
1. Corak Klenthing Kuning 10. Melati Secontong
2. Sodo Sakler 11. Kembang Bayam
3. Lasem 12. Ketan Ireng
4. Tuluh Watu 13. Dom Dlesep
5. Lompong Keli 14. Loro-pat
6. Kinanthi 15. Jaran Dawuk
7. Kembang Telo 16. Kijing Miring
8. Ketan Ireng 17. Kunang Sekebon
9. Ketan Salak 18. Kembang Mindi
2.1.2 Pengertian Produk Unggulan Daerah
Produk Unggulan Daerah (PUD) merupakan produk yang berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh usaha kecil dan menengah, koperasi dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki daerah setempat baik berupa sumber daya alam (bahan baku), sumber daya manusia (kemampuan masyarakat, penguasaan teknologi, dukungan
infrastruktur, dan kondisi sosial budaya setempat), budaya lokal yang berkembang dilokasi tertentu.
Produk Unggulan Daerah (PUD) menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2014 merupakan produk baik berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh koperasi, usaha skala kecil dan menengah yang potensial untuk dikembangkan dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki oleh daerah baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya lokal serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah yang diharapkan menjadi kekuatan ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat sebagai produk yang potensial yang memiliki daya saing, daya jual, dan daya dorong menuju dan mampu memasuki pasar global. Sedangkan yang disebut pengembangan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan produk unggulan daerah melalui perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan. 2.1.2.1 Model pengembangan Produk Unggulan Daerah
Model pengembangan Produk Unggulan Daerah jangka menengah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan antara lain melalui:
1. Peningkatan kualitas daya tarik PUD 2. Peningkatan kualitas infrastruktur 3. Peningkatan promosi dan investasi PUD 4. Peningkatan kerjasama
5. Peningkatan peran serta masyarakat 6. Peningkatan perlindungan terhadap PUD
Produk unggulan adalah produk yang potensial dikembangkan pada suatu wilayah dengan memanfaatkan sumber daya alam, sumber daya manusia lokal yang berorientasi pasar dan ramah lingkungan. Sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan siap menghadapi persaingan global.
2.1.2.2 Kriteria produk atau komoditi unggulan
Kriteria produk atau komoditi unggulan itu merupakan hasil usaha masyarakat pedesaan menurut prof. Dr. Ir. Soemarno, M.S.,
1. Mempunyai daya saing tinggi di pasaran (keunikan, kualitas bagus, harga murah) 2. Memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang potensial dapat di kembangkan 3. Mempunyai nilai tambah tinggi bagi massyarakat pedesaan
4. Secara ekonomi menguntungkan dan bermanfaat meningkatkan perekonomian 5. Layak didukung oleh modal bantuan atau kredit.
Kriteria produk unggul menurut Unkris Satya Wacana Salatiga adalah komoditi yang memenuhi persyaratan kecukupan sumber daya lokal, keterkaitan komoditas, posisi bersaing dan potensi bersaing yaitu komoditas potensial, komoditas andalan, komoditas unggulan. Dari kriteria memunculkan pengelompokkan komoditas berikut:
1. Komoditas potensial adalah komoditas daerah yang memiliki potensi untuk berkembang karena keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif terjadi misal karena kecukupan ketersediaan sumberdaya lokal, teknologi produksi lokal serta sarana dan prasarana lokal lainnya.
2. Komoditas andalan adalah komoditas potensial yang dapat dipandang dapat dipersandingkan dengan produk sejenis di daerah lain karena disamping memiliki keunggulan komparatif juga memiliki efisiensi usaha yang tinggi
3. Komoditas unggulan adalah komoditas yang memiliki keunggulan kompetitif, karena telah memenangkan persaingan dengan produk sejenis didaerah lain.
Sebuah produk dikatakan unggul jika memiliki daya saing sehingga mampu untuk menangkal produk pesaing di pasar domestik dan ataumenembus pasar ekspor (Sudarsono, 2001).
2.1.3 Pengertian Bisnis Keluarga
Bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis. Menurut penelitian yang dilakukan Andreas dalam Susanto (2007) mengklasifikasikan bisnis keluarga sebagai perusahaan yang sahamnya minimal 25% dimiliki oleh keluarga tertentu atau jika kurang 25% terdapat anggota keluarga yang mempunyai jabatan pada dewan direksi atau dewan komisaris perusahaan. Menurut John L. Ward dan Craig E. Arnoff, suatu perusahaan dinamakan perusahaan keluarga apabila terdiri dari dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan. Menurut Pozza (2007) definisi dari bisnis keluarga (family businness) bisa dilihat dari:
1. Kontrol ownership dari dua anggota keluarga atau lebih , dari keluarga atau partnership dari keluarga.
2. Strategi dalam manajemen perusahaan dipengaruhi oleh anggota keluarga baik sebagai advisor dalam anggota dewan atau menjadi pemegang saham.
3. Lebih peduli pada hubungan keluarga.
Menurut Robert G. Donnelley dalam bukunya “The Fanily Business” suatu organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan. Maka definisi
bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis.
2.1.3.1 Jenis-jenis bisnis keluarga
Menurut Susanto (2007) ada dua bisnis keluarga antara lain yaitu 1. Family Owned Enterprises (FOE)
Perusahaan dimiliki keluarga akan tetapi dikelola oleh eksekutif profesional dari luar lingkungan keluarga. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasi dilapangan dan tidak ikut mengendalikan perusahaan agar supaya pengelolaan perusahaan berjalan secara profesional. Dengan pembagian peran anggota keluarga dapat mengoptimalkan diri dalam fungsi pengawasan saja. 2. Family Business Enterprises(FBE)
Pada Family Business Enterprises perusahaan yang dimiliki dan dikelola keluarga pendirinya. Keluarga berperan baik pengelolaan dan kepemilikan dipegang oleh orang yang sama, posisi penting dalam perusahaan dipegang oleh anggota keluarga.
2.1.3.2 Keuntungan Dan Kendala Bisnis Keluarga a. Keuntungan Bisnis Keluarga
1. Sangat membantu mengenai kepercayaan dan cara yang bagus untuk mengajak semua anggota keluarga demi keamanan generasi selanjutnya.
2. Keluarga memiliki kecenderungan untuk tetap bersatu dalam masa-masa sulit Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan bisnis keluarga yaitu
a. Mencampuradukan bisnis dengan urusan pribadi bisa berdampak buruk pada hubungan keluarga, maka pastikan membuat batasan-batasan yang jelas tentang bisnis.
b. Pastikan bahwa komunikasi antar keluarga tidak menjadi halangan. c. Perlakukan bisnis keluarga sebagaimana mestinya.
d. Pastikan bahwa setiap anggota keluarga memiliki peranan yang jelas dalan bisnis. e. Setiap anggota keluarga diperlakukan secara adil.
f. Berusaha untuk mengembangkan rencana menjalankan bisnis secara bergantian. g. Sebelum terjun menjalankan usaha seiap anggota keluarga wajib mendapatkan
pengalaman sebelum mereka bergabung. b. Kendala menjalankan bisnis keluarga
1. Kurangnya profesionalisme dalam anggota keluarga akhirnya muncul mitos “generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan”. 2. Sering terjadinya konflik dalam bisnis keluarga, suksesi, kompetensi dan budaya dalam
perusahaan keluarga.
3. Ketergantungan terhadap anggota keluarga
2.1.4 Keberlanjutan Bisnis Keluarga (Family Business Sustainability)
2.1.4.1 Pengertian Keberlanjutan Bisnis Keluarga (Family Business Sustainability) Menurut Marpa (2012:97) sukses pada perusahaan keluarga didefinisikan sebagai penyerahan tongkat kepemimpinan dari pemilik-pendiri atau pemilik pengelola (incumbent) kepada seseorang suksesor, baik merupakan anggota keluarga maupun bukan anggota keluarga yaitu seorang pengelola profesional. Transisi dalam perusahaan keluarga menyangkut tentang pengalihan kepemilikan, pengalihan manajemen, dan pengalihan aturan-aturan (governance). Karakteristik yang menentukan kinerja bisnis keluarga adalah pemilik otoriter, masalah komunikasi dengan saudara, motivasi
keberhasilan, perbedaan pendapat, kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan suksesi pada generasi kedua dan ketiga.
Keberlanjutan bisnis keluarga merupakan suatu permasalahan yang paling serius, untuk keberlanjutan maka hal yang penting diperhatikan adalah suksesi kepemimpinan dari satu generasi kepemilikan kedepan. Menurut penelitian sekitar 30% mentransfer ke generasi kedua, 10-15% dari generasi kedua ke generasi ketiga (Poza, 2009; Ward, 1987), dan hanya 4% ke generasi keempat (Poza, 2009), dan melalui survei 77% bisnis keluarga gagal dan dinyatakan bangkrut setelah kematian pendirinya.
2.1.4.2 Suksesi
Masalah terpenting dalam keberlanjutan usaha keluarga adalah masalah suksesi, suksesi merupakan bukan satu-satunya penentu kelanggengan bisnis keluarga. Terdapat tujuh langkah dalam melakukan suksesi bisnis keluarga (Susanto. 2007):
1. Mengevaluasi struktur kepemilikan
2. Mengembangkan gambaran struktur yang diharapkan setelah suksesi 3. Mengevaluasi keinginan keluarga
4. Mengembangkan proses pemilihan
5. Melatih dan memonitoring penerus masa depan
6. Melakukan aktivitas team building dari keluarga, menciptakan dewan direksi yang efektif
7. Memasukkan penerus pada saat yang tepat.
Perencanaan suksesi terdiri dari tiga pola yaitu menurut (Susanto. 2007):
2. Informal Planned Succession yaitu perencanaan suksesi yang lebih mengarah pada pemberian pengalaman.
3. Unplanned Succession dimana pemberian kekuasaan pada generasi selanjutnya berdasarkan pada keputusan dari pemilik yang bersifat sepihak.
2.1.4.3 Kinerja Bisnis
Salah satu faktor yang dianggap penting terhadap keberlanjutan bisnis keluarga adalah kinerja bisnis keluarga. Temuan ini disampaikan oleh Tan et al. (2002) yang mengemukakan bahwa semakin konsisten kinerja perusahaan untuk jangka waktu tertentu, maka semakin bessar pula peluang keberlanjutannya. Temuan serupa disampaikan oleh Kausari (2014), dimana perusahaan yang selalu memantau kinerja akan memiliki posisi unggul dipasar dan mampu mewujudkan keberlanjutan yang baik.
Tabel 2.1 Keterlibatan anggota keluarga
pada perusahaan keluarga: 1. Jumlah anggota keluarga yang
terlibat dalam perusahaan 2. Posisi anggota keluarga dalam
perusahaan keterlibatan anggota keluarga dalam hal keuangan
Kinerja Bisnis
1. Financial Measure (Pendekatan tradisional untuk mengukur keberhasilan organisasi)
2. Market/Customer Permormance (Mempresentasikan hubungan organisasi dengan pelanggan)
3. Process Performance (Mencerminkan efisiensi organisasi dan melihat perbaikan)
4. People Development Performance (Mengakui peran pentik stakeholder) 5. Future Performance (Mengukkur
kesiapan masa depan organisasi).
Sumber: Cruz, Christina, Justo, Rachida, De Castro, Julio o (2012); Kim Y, Gao F.Y (2013); Shinnar, Rachel S., Cho Seonghee., Rogof, Edward G. (2013); Matlz (2003). 2.1.5 Keberhasilan Usaha
2.1.5.1 Pengertian Keberhasilan Usaha
Pengertian keberhasilan usaha menurut Suyanto (2010: 179), keberhasilan usaha industri kecil dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kinerja usaha industri kecil dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan dalam pencapaian maksud atau tujuan yang diharapkan, sebagai ukuran keberhasilan usaha suatu perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek seperti kinerja keuangan dan image perusahaan dan laba usaha yang berhasil dicapai oleh pengusaha dalam kurun waktu tertentu (Waridah, 1992). Berhasil atau tidaknya suatu usaha dapat diketahui dari membesarnya skala usaha yng dimilikinya (Dedi haryadi, 1998).
Keberhasilan usaha identik dengan perkembangan perusahaan, istilah itu diartikan sebagai suatu proses peningkatan kuantitas dari dimensi perusahaan. Perkembangan perusahaan adalah prooses dalam pertambahan jumlah karyawan, peningkatan omset penjualan dan lain- lain (Bienayme dalam Novari, 2002). Menurut Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, kewirausahaan adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, memiliki nilai tambah, memberi manfaat dan
menciptakan lapangan kerja dan hasilnya berguna untuk orang lain. Dalam berwirausaha tentu saja untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis dibutuhkan karakteristik wirausaha dan faktor pendukung keberhasilan wirausaha lainnya.
Menurut Ina Primiana (2009:49) mengemukakan bahwa keberhasilan usaha adalah permodalan sudah terpenuhi, penyaluran yang produktif, dan tercapainya tujuan organisasi. Menurut Dwi Riyanti (2003:29) keberhasilan usaha yaitu usaha kecil berhasil karena wirausaha memiliki otak yang cerdas yaitu kreatif, mengikuti perkembangan teknologi dan dapat menerapkan secara proaktif sehingga definisi keberhasilan usaha adalah keberhasilan dari bisnis mencapai tuannya dimana keberhasilan tersebut didapatkan dari wirausaha dan hal tersebut terlihat dari efisiensi proses produksi yang dikelompokkan berdasarkan efisiensi secara teknis dan ekonomis, target perusahaan yang ditentukan oleh manajer pemilik usaha, peermodalan, skala usaha, hasil atau laba, jenis usaha atau pengelolaan, kinerja keuangan, serta image perusahaan.
2.1.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha
Keberhasilan usaha dapat diketahui dari dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor internal antara lain kualitas sumber daya manusia, struktur organisasi, sistem manajemen yang digunakan, budaya bisnis, jaringan bisnis dengan pihak luar, kekuatan modal, tingkat enterpreunership, penguasaan tentang pengelolaan bisnis.
2. Faktor eksternal dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor pemerintah dan non pemerintah, faktor pemerintah antara lain yaitu kebijakan pemerintah, otonomi daerah, tingkat demokrasi, untuk faktor non pemerintah contohnya natara lain
sistem perekonomian, kultur budaya masyarakat setempat, kondisi infrastruktur, tingkat pendidikan masyarakat, perburuhan, dan lingkungan global.
Menurut penelitian Luk dalam Suyatno (2010:179) berkaitan dengan faktor penentu keberhasilan usaha dari hasil penelitiannya menemukan bahwa keberhasilan usaha kecil ditandai oleh inovasi produk, perilaku mengambil resiko. Menurut Murphy menemukan bahwa keberhasilan usaha disumbangkan oleh kerja keras, dedikasi, dan komitmen terhadap pelayanan dan kualitas. Penentu keberhasilan usaha hasil identifikasi penelitian Luk pada dasarnya adalah cerminan dari kemampuan usaha (pengetahuan, sikap, dan keterampilan), pengalaman yang relevan, motivasi kerja dan tingkat pendidikan seorang pengusaha.
2.1.5.3. Dimensi Keberhasilan Usaha
Menurut Samir (2005:33) mengemukakan bahwa indicator dalam mengukur keberhasilan usaha atau kinerja organisasi yaitu
1. Produktivitas yang diukur melalui perubahan output kepada perubahan di semua factor (modal dan tenega kerja)
2. Perubahan di tingkat kepegawaian (output, teknologi, modal, mekanisme penyesuaian dan pengaruh terhadap perubahan status).
3. Rasio finansial (mengurangi biaya pegawai dan meningkatkan nilai tambah pegawai.
Beberapa indikator dalam menentukan keberhasilan usaha menurut Henry Faizal Noor (2007:397) sebagai berikut
Merupakan tujuan dari suatu bisnis, laba usaha merupakan selisih Antara pendapatan dengan biaya.
2. Produktifitas dan efisiensi
Produktifitas suatu usaha akan menentukan besar kecilnya suatu produksi, hal ini berpengaruh terhadap penjualan dan menentukan tentang bessar kecilnya pendapatan, sehingga berpengaruh terhadap besar kecilnya laba yang diperoleh. 3. Daya saing
Suatu kemampuan bersaing dalam menjalankan suatu usaha dalam bersaing merebut perhatian konsumen dan loyalitas konsumen. Di dalam suatu bisnis bias dikatakan berhasil apabila dapat mengalahkan para pesaingnya dan dapat mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi pesaing.
4. Kompetensi dan etika usaha
Kompetensi merupakan akumulasi dari suatu pengetahuan, hasil penelitian dan pengalaman dalam suatu bidangnya sehingga dapat berinovasi dan menunjukan kereatifitas sesuai dengan tuntutan zaman.
5. Citra baik
Citra baik perusahaan terbagi menjadi dua yaitu trust internal dan trust external. Trust internal adalah amanah atau trust dari orang yang ada di dalam perusahaan. Trust external adalah timbulnya rasa amanah atau rasa percaya dari segenap stakeholder perusahaan, baik itu konsumen, pemasok, pemerintah maupun masyarakat luas dan para pesaing.
Indikator dari keberhasilan usaha menurut Dwi Riyanti (2003:28) kriteria untuk mennetukan keberhasilan usaha:
1. Jumlah produksi 2. Jumlah pelanggan 3. Perluasan usaha
4. Perluasan daerah pemasaran 5. Perbaikan sarana fisik 6. Pendapat usaha
Indikator keberhasilan usaha menurut Suryana (2003:85) terdiri dari 1. Modal
2. Pendapatan 3. Volume penjualan 4. Output produksi 5. Tenaga kerja
Dilihat dari beberapa pendapat dan pandangan mengenai dimensi keberhasilan usaha maka yang digunakan dalam penelitian ini menurut pendapat Dwi Riyanti (2003:28) bahwa dimensi keberhasilan usaha adalah peningkatan dalam akumulasi modal atau peningkatan modal, jumlah produksi, jumlah pelanggan, perluasan usaha, perluasan daerah pemasaran, perbaikan sarana fisik, dan pendapat usaha.
2.1.6 Harapan Pelanggan (Customer Expectations)
2.1.6.1 Pengertian Harapan Pelanggan (Customer Expectations)
Harapan pelanggan diyakini mempunyai peranan yang besar dalam evaluasi kualitas produk (barang dan jasa) dan kepuasan pelanggan. Harapan pelanggan pada dasarnya ada hubungan yang erat antara penentuan kualitas dan kepuasan pelanggan (Tjiptono, 1997:28).
Harapan pelanggan selalu ada karena empat hal menurut Kertajaya, 2004:223. Terdiri dari:
1. Individual Need (kebutuhan perseorangan menjadi faktor yang penting)
2. Word of mouth (pelanggan biasa punya harapan tertentu karena cerita orang lain, cerita orang bias dianggap referensi).
3. Past experience atau pengalaman masa lalu
Jika orang sudah mempunyai pengalan baik di masa lalu maka akan dapat menerima pelayanan minimal sama dengan yang dulu.
4. External communication (berjanji sesuatu kepada pelanggan dalam rangka menarik pelanggan).
2.1.6.2 Tingkat Harapan Pelanggan
Zeithaml, L Berry dan Parasuraman mengemukakan pendapat terdapat sepuluh faktor yang mempengaruhi tingat harapan pelanggan. Menurut David, L, H (2005) mengemukakan cara untuk mempengaruhi harapan pelanggan terdapat 7 yaitu
1. Menetapkan kebenaran: kepercayaan harus diperoleh dan dipengaruhi oleh orang lain yang mereka percaya..
2. Mendidik, semakin banyak pelanggan mengetahui semakin baik pula mereka memahami kompleksitas usaha.
3. Jelaskan (menunjukan pada pengalaman)
4. Lakukan secara pribadi, pelanggan tidak akan mengubah pikiran mereka atau mengakui kurangnya pengetahuan yang dimiliki didepan umum.
5. Tunjukan pada mereka, biarkan pelanggan nmengalami manfaat dari ide dan saran sebelum mencoba untuk menjual ide dan saran tersebut.
6. Keseimbangan memberi dan menerima.
7. Harapan semakin lama semakim menguat jika dibiarkan saja, perhatian sedini mungkin.
2.1.6.3 Faktor-faktor yang menentukan harapan pelanggan
Menurut Zeithaml (1993) melakukan sebuah penelitian khusus dalam sector jasa dan menemukan bahwa harapan pelanggan terhadap kualitas suatu jasa terbentuk oleh beberapa factor yaitu:
1. Enduring Service Intensifiers
Merupakan faktor yang memiliki sifat stabil serta mendorong pelanggan untuk meningkatkan sensitivitasnya terhadap suatu jasa. Pelanggan akan berharap bahwa dirinya pantas untuk dilayai dengan baik jika pelanggan yang lain dilayani dengan baik oleh pemberi jasa yang bersangkutan.
2. Personal Needs
Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang yang mendasar bagi kesejahteraannya akan sangat menentukan dalam penciptaan harapannya. Kebutuhan tersebut mencakup kebutuhan fisik, kebutuhan social dan kebutuhan psikologis.
3. Transitory Service Intensifiers
Adalah factor individual yang memiliki sifat sementara (jangka pendek) yang bias meningkatkan sensitivitas pelanggan atas suatu jasa. Faktor ini mencakup sebagai berikut:
a. Situasi darurat disaat pelanggan sangat membutuhkan jasa serta menginginkan perusahaan untuk bias membnatunya, misalnya jasa asuransi yang menangani kecelakaan lalu lintas.
b. Jasa terakhir yang dipakai oleh pelanggan dan dijadikan sebagai acuan pelanggan untuk menentukan baik atau tidaknya jasa tersebut.
4. Perceived Service Alternativies
Persepsi yang dimiliki pelanggan atas derajat atau tingkat pelayanan perusahaan lain yang sejenis. Apabila pelanggan mempunyai beberapa alternative pilihan, maka harapannya terhadap suatu jasa akan semakin besar pula.
5. Self Perceived Service Roles
Meruoakan persepsi pelanggan mengenai derajat atau tingkat keterlibatannya dalam mempengaruhi jasa yang diterimanya. Apabila pelanggan terlibat dalam proses pemberian jasa, lalu jasa yang diterima tidak baik maka pelanggan tidak bisa sepenuhnya memberikan kesalahan pada sang pemberi jasa.
6. Situtational Factors
Segala kemungkinanyang dapat mempengaruh kinerja jasa dan berada diluar kendali penyedia jasa itu sendiri.
7. Explicit Service Promises
Pernyataan secara personal ataupun non personal oleh perusahaan mengena jasanya kepada pelanggan. Pernyataan tersebut bisa berupa perjanjian, iklan ataupun komunikasi dengan karyawan perusahaan.
8. Implicit Service Promises
Faktor ini mengenai petunjuk yang berhubungan dengan jasa, yang memberikan kesimpulan bagi pelanggan mengenai jasa yang akan diberikan bagi pelanggan mengenai jasa yang akan diberikan dan seharusnya diberikan.
Pernyataan secara personal maupun non personal yang disampaikan oleh orang lain selain perusahaan kepada pelanggan.
10. Past Experience
Mencakup hal-hal yang diketahui pelanggan dari yang pernah diterimanya dimasa lalu.
Harapan pelanggan dari waktu ke waktu selalu berkembang seiring dengan banyaknya informasi yang diterima pelanggan dan juga semakin bertambahnya pengalaman pelanggan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelanggan. Lovelock (2007) mengatakan setiap konsumen pasti memiliki harapan dalam membuat suatu keputusan pembelian, harapan inilah yang memiliki peran besar sebagai standar perbandingan dalam mengevaluasi kualitas produk tersebut maupun kepuasan konsumen. Ketika konsumen mendapatkan suatu produk sesuai dengan harapan atau terpenuhinya harapan pelanggan maka konsumen akan mempertahankan produk yang didapat sehingga tinggi pula tingkat untuk mewujudkannya. Maka disimpulkan bila semakin besar harapan pelanggan terpenuhi maka semakin tinggi untuk mewujudkannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Parasuraman, A; Berry, leonard L; Zeithaml, Valarie A (1991) dengan metode kualitatif harapan pelanggan tentang layanan dikategorikan menjadi lima diantaranya yaitu:
1. Reliability (keandalan) merupakan kemampuan untuk melakukan layanan sesuai yang dijanjikann andal dan akurat.
2. Tangibles (nyata) merupakan penampilan fasilitas fisik, peralatan kantor, personel dan materi komunikasi yang digunakan.
3. Responsiveness (tanggap) merupakan kesediaan untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan yang cepat.
4. Assurance (jaminan) merupakan pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka untuk menyampaikan kepercayaan dan keyakinan.
5. Empaty (empati) merupupakan rasa peduli, perhatian individual yang diberikan kepada pelanggan.
Teori harapan pelanggan (Customer Expectations) digunakan dalam penelitian ini untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan harapan pelanggan, semakin besar harapan pelanggan Lurik Prasojo terpenuhi maka akan semakin tinggi pula tingkat untuk mewujudkannya dan pada akhirnya dapat menciptakan suatu kerjasama antara pengusaha dan pelanggan untuk tetap saling besinergi demi membangun perekonomian baik lingkungan sekitar maupun nasional dan lurik Prasojo dapat mempertahankan dan menjaga eksistensi dalam usahanya.
2.1.7 Difusi Inovasi
Teori difusi inovasi muncul pada tahun 1903 oleh Sosiolog Perancis bernama Gabriel Tarde yang memperkenalkan kpada public Kurva Difusi bentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini menjelaskan bahwa suatu inovasi dilakukam oleh seseorang diperhatikan melalui dimensi waktu. Dalam kurva tersebut terdapat dua sumbu yakni sumbu yang menjelaskan tingkat adopsi dan sumbu yang menjelaskan dimensi waktu. Difusi menurut Rogers dalam buku Diffusion of Innovations (1983:10) dijelaskan bahwa:
“Diffution as he process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system”. Rogers mendefinisikan
yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi perlahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi social. Teori difusi inovasi pada esensinya menjelaskan bagaimana sebuah gagasan dan ide baru dikomunikasikan pada sebuah kultur atau kebudayaan. Bahwa teori ini berfokus pada bagaimana sebuah gagasan atau ide baru dapat dan dimungkinkan diadopsi oleh suatu kelompok. Unsur-unsur difusi terdiri dari empat macam yaitu (1) inovasi, (2) saluran komunikasi, (3) jangka waktu tertentu, (4) anggota sistem social (Abdillah hanafi, 1981:24). Sesuatu bisa dikatakan inovasi karena mempunyai karakteristik yaitu (1) keuntungan relative (relative advantages), (2) kompabilitas (compatibility), (3) kompleksitas (complexity), (4) triabilitas (triability), (5) observalitas (observability).
Teori difusi inovasi membuktikan bahwa anggota sistem sosial dapat terkena pengaruh untuk menerima suatu inovasi melalui suatu perantara atau opinion leader. Apabila terjadi penyampaian informasi inovasi melalui suatu individu-individu tertentu terlebih dahulu sebagai opinion leader, maka terlihat adanya model two step flow of communication (komunikasi dua tahap). Opinion leader berperan sebagai dalam mengkomunikasikan inovasi yang didapat kepada khalayak atau individu lain, model komunikasi dua tahap ini melibatkan komunikasi interpersonal dan media massa (Onong, 1986:76). Teori ini pada prinsipnya dikenal dengan pemuka pendapat atau disebut dengan agen perubahan. Penyampaian suatu inovasi kepada anggota system sosial tidak hanya lewat satu perantara saja melainkan seseorang dapat terkena efek disebarkannya inovasi secara langsung dari agen perubahan. Model penyampaian dapat melalui dua yaitu model multi tahap (multi step) dan (multi step of communication) dengan komunikasi dua tahap (two step flow of communication). Menurut Everett Rogers dan Floyd G. Shoemaker
(1973) merumuskan teori ini dengan memberikan asumsi bahwa ada empat tahapan dalam suatu proses difusi inovasi yaitu
1. Pengetahuan : Kesadaran individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi.
2. Persuasi : Individu membentuk atau memiliki sikap yang menyetejui atau menolak inovasi tersebut.
3. Keputusan : Individu terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi.
4. Konfirmasi : Individu akan mencari pendapat yang menguatkan keputusan tang telah diambil, namun dia dapat berubah dari keputusan yang diambil sebelumnya jika pessan-pessan mengenai inovasi yang diterimanya berlawanan satu dengan yang lainnya.
Dengan teori difusi inovasi yang sudah diterapkan oleh lurik Prasojo dapat mengkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat atau pelanggan terkait penciptaan inovasi produk yang dihasilkan dengan berbagai keahlian dan kemampuan sang pengelola dalam hal mendesaign produk yang dihasilkan dari Lurik Prasojo dengan kreativitas yang tinggi yang hanya berbahan dasar lurik yang dikombinasikan menghasilkan berbagai macam barang-barang dengan kualitas tinggi dan mempunyai nilai jual yang tinggi misalnya lurik disulap menjadi barang kebutuhan sehari-hari seperti tas, koper, baju, sarung bantal, topi dll dan bermacam-macam pernak-pernik dengan ide-ide yang kreatif sang penerus lurik Prasojo lah Mbak Maharani Setyawan membuat daya tarik pelanggan semakin meningkat dan mampu menjadi daya tarik para wisatawan baik masyarakat kota Klaten maupun dari luar Klaten untuk menyambangi pabrik Prasojo maupun melakukan
pemesanan lewat media sosial, dengan mempertahankan dan menomorsatukan kualitas diharapkan lurik Prasojo dapat mempertahankan eksistensinya hingga generasi ke empat dan seterusnya.
2.1.8. Resource Based View
Teori Resource Based View (RBV) merupakan teori yang membahas mengenai sumber daya yang dimiliki perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Menurut Wernerfelt menjelaskan bahwa menurut pandangan RBV perusahaan akan unggul dalam persaingan usaha dan mendapatkan kinerja keuangan yang baik dengan cara memiliki, menguasai dan memanfaatkan sumber asset-aset strategis yang penting (asset berwujud dan tidak berwujud). Berdasarkan pendekatan RBV, sumber daya atau asset yang telah eksis adalah bundle dan sumber daya ini mempengaruhi kinerja dengan casual ambiguity. Karena itu adalah sukar untuk menengarai bagaimana sumber daya secara individual dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan usaha tanpa memperhitungkan interdepensi dengan asset lainnya.
Pandangan RBV bahwa sumber daya yang dimiliki perusahaan jauh lebih penting daripada struktur industry dalam memperoleh dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Menurut pendekatan ini sumber daya merupakan kunci tertentu akan memberikan perusahaan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Kunci model RBV didasarkan atas identifikasi sumber data dasar yang merupakan fondasi utama dalam menemukan dan mengembangkan kompetitif inti. Ciri-ciri sumber daya yang berharga dalam perusahaan antara lain
1. Sumber daya tersebut dapat menambah nilai perusahaan atau value.
2. Langka (rare) idealnya tidak ada pesaing yang memiliki sumber daya yang sama. 3. Sumber daya tersebut sebaiknya sukar ditiru (hard to imitate)
4. Sumber daya tidak harus bernilai, langka, dan sukar ditiru akantetapi perusahaan juga harus mempunyyai kemampuan dalam memanfaatkannya (ability to eksploit).
Relevansi teori RBV pada usaha lurik Prasojo, jika suatu perusahaan atau usaha itu memiliki kekuatan internal yang baik maka usaha tersebut memiliki kekuatan untuk bersaing dalam menghadapi para pesaing yang ada di pangsa pasar. Jika lurik Prasojo memiliki sumber daya (resource) yang baik dan kapabilitas (capabilities) yang baik pula maka lurik Prasojo mampu bersaing menghadapi para pesaing di pangsa pasar yang selalu tidak menentu akan permintaan yang selalu berubah-ubah di pangsa pasar.
2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya
Penelitian terdahulu dimaksudkan untuk menggali informasi tentang ruang penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini.
Penelitian Terdahulu Tabel 2.2
Hasil Penelitian Terdahulu
Judul, Pengarang,Tahun Permasalahan Temuan
Menurut penelitian yang dilakukan Andreas dalam
Klasifikasi bisnis keluarga
sebagai perusahaan yang sahamnya minimal 25% dimiliki oleh keluarga tertentu
Susanto (2007) atau jika kurang 25% terdapat anggota keluarga yang mempunyai jabatan pada dewan direksi atau dewan komisaris perusahaan.
penelitian Luk dalam Suyatno (2010:179)
faktor penentu
keberhasilan usaha
menemukan bahwa
keberhasilan usaha kecil ditandai oleh inovasi produk, perilaku mengambil resiko Menurut Murphy Faktor penentu
keberhasilan usaha
menemukan bahwa
keberhasilan usaha
disumbangkan oleh kerja keras, dedikasi, dan komitmen terhadap pelayanan dan kualitas.
Tan et al. (2002) faktor yang dianggap penting terhadap keberlanjutan bisnis keluarga adalah kinerja bisnis
mengemukakan bahwa
semakin konsisten kinerja perusahaan untuk jangka waktu tertentu, maka semakin besar pula peluang keberlanjutannya.
Temuan disampaikan oleh Kausari (2014)
faktor yang dianggap penting terhadap keberlanjutan bisnis
Temuannya adalah dimana perusahaan yang selalu memantau kinerja akan memiliki posisi unggul dipasar dan mampu mewujudkan keberlanjutan yang baik. Hasil identifikasi
penelitian Luk
Penentu keberhasilan usaha
cerminan dari kemampuan usaha (pengetahuan, sikap,
dan keterampilan),
pengalaman yang relevan, motivasi kerja dan tingkat
pendidikan seorang
pengusaha. Penelitian yang dilakukan
oleh Parasuraman, A; Berry, leonard L; Zeithaml, Valarie A (1991) dengan metode kualitatif
Harapan pelanggan tentang layanan dikategorikan menjadi lima
Maka disimpulkan bila semakin besar harapan pelanggan terpenuhi maka semakin tinggi pula tingkat loyalitas pelanggan.
Menurut Zeithaml (1993)
melakukan sebuah
penelitian khusus dalam sector jasa
Faktor-faktor yang menentukan harapan pelanggan
Menemukan bahwa harapan pelanggan terhadap kualitas suatu jasa terbentuk oleh sepuluh factor antara lain
Enduring Service Intensifiers, personal need, transitory service intensifiers, perceived service alternativies, self perceived service roles, situtational factors, explicit service promises, implicit service promises, word of mouth (rekomendasi dari orang lain), past experience 2.3 Alur Penelitian
Bagan 2.1
Alur pembahasan telaah literatur
Bagaimana usaha Lurik Prasojo dalam keberlangsungan usaha mempertahankan eksistensinya
Lurik Prasojo
Keberhasilan Lurik Prasojo dalam mempertahankan eksistensi di tengah persaingan usaha sejenis di masyarakat
Faktor Keberhasilan menjalankan usaha pada Lurik Prasojo
Mengungkap Faktor Keberhasilan Usaha pada Lurik Prasojo