MODERNISASI USAHA TANI KELAPA RAKYAT
1)Zainal Mahmud
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111
1) Naskah disarikan dari bahan Orasi Ahli Pe-neliti Utama yang disampaikan pada tanggal 16 Februari 1999 di Bogor.
PENDAHULUAN
Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa kelapa merupakan komoditas yang paling luas penyebarannya di wilayah Nusantara. Kelapa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masya-rakat dengan peran yang berbeda-beda, mulai dari untuk pemenuhan kebutuhan sosial dan budaya sampai untuk kepen-tingan ekonomi, sehingga dijuluki tree of
life, pohon kehidupan. Status yang
demi-kian membuat bentuk usaha tani kelapa yang berkembang di masyarakat berbeda-beda pula, bergantung pada tujuan yang mendasarinya.
Areal kelapa yang mencapai 3,74 juta ha atau 27% dari total areal perkebunan merupakan tanaman perkebunan yang terluas saat ini (Tondok 1998). Luasan ini tentunya tidak termasuk tanaman kelapa yang tumbuh dan berkembang secara alami di berbagai pulau yang dihuni atau tidak dihuni oleh manusia. Sekitar 3,59 juta ha atau 96% merupakan perkebunan rakyat
yang diusahakan secara monokultur atau polikultur dan atau pekarangan, dengan melibatkan sekitar 20 juta jiwa (Kasryno et
al. 1998, Sulistyo 1998).
Produktivitas aktual perkebunan ke-lapa rakyat masih sangat rendah karena diusahakan secara tradisional. Perkem-bangan usaha tani kelapa sangat lambat atau tidak ada perkembangan sama sekali. Tragisnya, nilai tukar produk utama kelapa malah menurun dengan munculnya sub-stitusi dari komoditas lain. Lambatnya perkembangan usaha tani kelapa bukanlah disebabkan tidak tersedianya teknologi, tetapi lebih ditentukan oleh status petani dan status kelapa itu sendiri.
Tingkat pendidikan, wawasan, dan ekonomi petani sangat mempengaruhi perkembangan usaha tani kelapa, demikian pula dengan asal muasal dari kebun ter-sebut. Petani yang memperoleh kebun ke-lapa dari warisan biasanya hanya me-mungut hasilnya saja, tidak akan mem-perhatikan pemeliharaannya. Berbeda de-ngan petani yang membangun kebun ke-lapa dengan menanam sendiri akan meng-urus kebunnya dengan baik. Kondisi yang demikian diperburuk lagi oleh karakter yang dimiliki tanaman kelapa. Kelapa Dalam lokal dengan proporsi 95,8% dari luas areal kelapa di Indonesia, dalam kondisi
lingkungan tumbuh yang sesuai akan tetap berbuah walaupun tidak dipelihara. Ba-nyak lagi karakter lain yang tidak merang-sang petani untuk melakukan pemeliha-raan.
Kenyataan ini sangat kontroversial bila dibandingkan dengan potensi sumber daya fisik dan biologik yang dimiliki oleh perkebunan kelapa untuk dikembangkan menjadi usaha yang padat teknologi, padat modal, dan sekaligus padat karya, yang barangkali tidak dijumpai pada komoditas perkebunan lainnya. Mayang dan buah kelapa dapat menghasilkan berbagai pro-duk primer dan sekunder, bahkan propro-duk tersier untuk keperluan pasar domestik dan ekspor. Batangnya untuk kayu pertu-kangan, bagian tanaman yang lain dipakai untuk keperluan sosial dan budaya, se-dangkan lahan di antara pohon kelapa sangat potensial untuk kegiatan usaha tani lain, seperti penanaman tanaman sela dan peternakan.
Untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki oleh perkebunan kelapa rakyat tersebut, perlu dilakukan moder-nisasi usaha tani kelapa rakyat. Moder-nisasi usaha tani adalah perpaduan ko-mersialisasi usaha tani dan penggunaan teknologi mutakhir yang diaplikasikan dalam suatu sistem, yaitu Sistem Usahatani Kelapa Terpadu (SUKT). SUKT adalah kegiatan usaha bersama berskala ekonomi yang dilakukan oleh sekelompok petani pemilik kebun sehamparan. Luas hamparan ditentukan oleh lingkup usaha tani yang akan dilakukan. Lingkup usaha tani dapat berupa: (1) penganekaragaman produk kelapa, yaitu produk primer dan atau se-kunder; (2) penganekaragaman komo-ditas, seperti pengusahaan tanaman sela dan/atau ternak; atau (3) penganeka-ragaman produk kelapa dan komoditas.
POTENSI PERKEBUNAN KELAPA RAKYAT
Berikut ini kesimpulan secara ringkas betapa besarnya potensi yang tersimpan pada perkebunan kelapa rakyat, mulai dari luas areal dan produksi sampai dengan potensi lahan untuk mengusahakan ta-naman sela dan ternak, serta pengolahan hasil samping dan manfaat lain yang berpeluang untuk dikembangkan.
Luas Areal
Kelapa diusahakan di seluruh provinsi di Indonesia yang tersebar pada ketinggian 0-700 m dpl, pada tanah mineral sampai tanah gambut, beriklim basah sampai kering. Areal terkonsentrasi di tiga wilayah, yaitu Sumatera (32,8%), Jawa dan Bali (26,2%), serta Sulawesi (18,4%). Jika di-lihat dari luas wilayah dalam hubungannya dengan luas areal kelapa yang ada maka potensi pengembangan terdapat di Su-matera, Kalimantan, dan Papua.
Data sementara menunjukkan bahwa luas areal kelapa tahun 1996 mencapai 3.745.486 ha, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan areal kelapa terluas dan sekitar sepertiga areal kelapa dunia berada di Indonesia. Kelapa yang diusa-hakan sebagian besar adalah kelapa Dalam lokal (95,8 %), sedangkan sisanya adalah kelapa hibrida terutama kultivar PB-121. Dalam kurun 30 tahun (1967-1996), luas areal kelapa bertambah dengan laju per-tumbuhan 3,1%/tahun.
Produksi
Produksi kelapa secara nasional mening-kat rata-rata 3,0%/tahun dalam periode 1967-1996. Pada tahun 1996, produksi
kelapa Indonesia mencapai 2.718.902 ton setara kopra. Peningkatan produksi ini terutama disebabkan oleh peningkatan luas areal sebesar 3,1%. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa produktivitas tanaman kelapa Dalam yang relatif tetap pada tingkat 1,1 ton setara kopra/ha/tahun, sedang kelapa hibrida selama 3 tahun terakhir telah melampui 1 ton setara kopra/ ha. Pada perkebunan besar negara dan swasta justru terjadi penurunan produk-tivitas rata-rata terutama 8 tahun terakhir.
Potensi Lahan
Pengusahaan kelapa secara monokultur tidak efisien dalam memanfaatkan potensi lahan dan tenaga kerja keluarga yang ter-sedia. Tanaman kelapa umumnya ditanam dengan jarak berkisar antara 7 m x 7 m sampai 10 m x 10 m untuk kelapa Dalam dengan kepadatan rata-rata sekitar 130-180 pohon/ha. Tanaman kelapa yang diusa-hakan secara intensif pada kondisi optimal menghasilkan buah sekitar 100-200 butir/ pohon/tahun. Produksi bahan kering tahunan sekitar 5,1-9,7 g/m2/hari. Laju
tumbuh tanaman pada lingkungan yang optimal berkisar antara 15 -35 g/m2/hari (De
Vries dalam Akuba dan Rumokoi 1997). Laju produksi bahan kering berbanding lurus dengan energi radiasi surya yang dimanfaatkan, sehingga data yang dikemu-kakan menggambarkan bahwa tanaman kelapa yang diusahakan secara mono-kultur walaupun dengan masukan yang tinggi, tidak efisien dalam memanfaatkan radiasi surya. Radiasi surya yang diterus-kan dan tidak dicegat oleh tanaman berkisar antara 5-85%, bergantung pada umur tanaman.
Tanaman kelapa hanya menggunakan 30-40% dari ruang di atas tanah (air space)
selama hidupnya, yang berarti tingkat penutupan rendah, sehingga risiko pen-cucian unsur hara melalui erosi tinggi. Ke-dalaman akar terkonsentrasi pada lapisan tanah setebal 30-120 cm dalam radius 2 m (Reynolds 1995), yang berarti ada sekitar 70-75% tanah tidak digunakan. Anilkumar dan Wahid (1988) dengan menggunakan isotop P untuk menentukan pola aktivitas akar tanaman berumur 9 tahun, menda-patkan 80% akar aktif berada pada radius 2 m sekitar pohon pada kedalaman 25-60 cm. Hal ini berarti efisiensi penggunaan lahan oleh tanaman kelapa sangat rendah dan berdampak terhadap penggunaan tenaga kerja yang tidak efisien.
Efisiensi penggunaan tenaga kerja pada pengusahaan kelapa monokultur rendah. Hasil penelitian di Sulawesi Utara menunjukkan bahwa tenaga kerja keluarga yang tersedia rata-rata di daerah sentra produksi sebanyak 51 HOK/bulan. Tenaga kerja yang digunakan dalam usaha tani kelapa dan usaha tani lainnya sebanyak 24,7 HOK/bulan atau 48,4% dari tenaga kerja tersedia. Jumlah jam kerja berkisar antara 2-8 jam/hari (Akuba et al. 1992). Pengusahaan kelapa produktif yang intensif memerlukan tenaga kerja rata-rata 120 HOK/ha/tahun. Fattah (1984) me-nyatakan bahwa di Sulawesi Tengah, tenaga kerja yang digunakan dalam peng-usahaan kelapa sebanyak 62,6 HOK/ha/ tahun dan 45 HOK di antaranya adalah tenaga kerja keluarga. Gambaran kelebihan tenaga kerja umumnya hanya terjadi di daerah pertanaman kelapa di lahan kering, sebaliknya di lahan pasang surut terjadi kelangkaan tenaga kerja. Masalah tenaga kerja merupakan masalah yang serius da-lam pengembangan SUKT, terutama di la-han pasang surut dan lala-han kering di luar Jawa.
Tanaman Sela dan Ternak
Pertanaman kelapa monokultur menye-diakan lahan dan ruang yang luas di atas tanah. Lahan yang tersisa tersebut dapat dimanfaatkan untuk tanaman sela dan ter-nak. Masalah yang dihadapi adalah ku-rangnya radiasi surya akibat naungan dari tajuk kelapa yang berpengaruh terhadap unsur iklim mikro lainnya seperti suhu, kelembapan udara, dan angin. Oleh karena itu, pemilihan komoditas yang akan di-introduksi di bawah kelapa merupakan kunci keberhasilan SUKT. Jenis tanaman dan ternak yang diintroduksi harus me-menuhi persyaratan berikut:
1. Tanaman sela tidak lebih tinggi dari tanaman kelapa selama periode per-tumbuhannya, serta sistem perakaran dan tajuknya menempati horison tanah dan ruang di atas tanah yang berbeda. 2. Tanaman sela tidak merupakan ta-naman inang bagi hama dan penyakit kelapa yang berbahaya, dan tanaman sela tidak peka dari tanaman kelapa terhadap serangan hama dan penyakit tersebut.
3. Pengelolaan tanaman sela dan ternak tidak menyebabkan kerusakan ta-naman kelapa, terjadinya erosi, dan kerusakan tanah.
4. Tanaman sela sesuai untuk diusahakan pada ketinggian 0-500 m dpl, dengan kisaran curah hujan 1.500-3.500 mm/ tahun dan bulan kering (curah hujan <130 mm) maksimal 3 bulan berturut-turut.
5. Tanaman sela toleran terhadap naung-an dengnaung-an intensitas radiasi 50-200 W/ m2, suhu rata-rata 25o-27o C, dan
ke-lembapan 80%.
Pengembangan tanaman sela dan ternak di bawah kelapa memiliki beberapa
keuntungan, yaitu: (1) meningkatkan dan menganekaragamkan sumber pendapatan petani; (2) meningkatkan hasil pertanian dan produksi pangan; (3) memperkecil biaya pemeliharaan tanaman kelapa; (4) mempersingkat waktu berbuah kelapa karena pertumbuhan yang baik; (5) memperluas kesempatan kerja di pedesa-an; (6) memperkecil risiko kerusakan akibat serangan hama dan penyakit; (7) mening-katkan dan mempertahankan kesuburan tanah serta memperkecil erosi; (8) naungan kelapa berpengaruh positif terhadap ternak akibat menurunnya suhu sehingga ternak terhindar dari cekaman panas; dan (9) limbah hasil pertanian meningkat yang dapat digunakan sebagai pakan.
Peluang pengembangan SUKT me-nimbulkan berbagai tantangan, seperti: 1. Kompetisi antara tanaman sela dan
kelapa terhadap radiasi surya, unsur hara, dan air menghendaki kombinasi tanaman yang tepat berdasarkan sum-ber daya yang tersedia. Penelitian un-tuk skrining jenis-jenis tanaman sela yang toleran terhadap naungan sangat diperlukan.
2. Penanaman berbagai jenis tanaman sela memerlukan tambahan masukan seperti pupuk dan pestisida.
3. Pengembangan ternak kemungkinan menyebabkan pemadatan tanah. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan cara pengelolaan ternak yang tidak ber-pengaruh buruk pada struktur tanah. 4. Pengembangan tanaman sela dan
ter-nak menghendaki tingkat keterampilan petani yang tinggi. Upaya peningkat-an keterampilpeningkat-an petpeningkat-ani melalui kursus dan pelatihan diperlukan. Kerja sama antara peneliti dan penyuluh perlu le-bih diintensifkan untuk meningkatkan keterampilan petani dan transfer tek-nologi.
Hasil Samping
Sasaran pengembangan agroindustri di pedesaan antara lain adalah untuk men-jamin pemasaran produk petani dan me-ningkatkan pendapatan serta kesejah-teraan petani. Ketersediaan teknologi te-pat guna skala pedesaan yang diin-tegrasikan dengan industri yang lebih besar atau industri pengolahan lanjut akan memungkinkan pengembangan pola-pola kemitraan yang saling menguntungkan antara petani dan pihak industri.
Perkembangan teknologi telah meng-ubah arah industri pengolahan daging kelapa dari minyak makan menjadi produk-produk pangan lain dan industri kimia yang memiliki nilai tambah tinggi. Di samping itu, telah berkembang teknologi peman-faatan bagian lain tanaman kelapa yang semula merupakan limbah menjadi produk-produk yang memiliki pasar, baik di dalam negeri maupun ekspor, seperti sabut, tem-purung, nata de coco, mebel, gula, dan alkohol. Tersedianya teknologi skala kecil yang efisien, baik yang menghasilkan produk akhir maupun produk antara untuk diolah lebih lanjut dalam industri besar, memungkinkan pengembangan agroin-dustri hingga ke pedesaan.
Berbagai teknologi telah dikembang-kan untuk mengolah produk-produk dari kelapa di luar minyak, tetapi tingkat in-vestasinya relatif masih terbatas. Salah satu kelebihan kelapa adalah memungkinkan dibangun suatu industri terpadu mulai dari produk sekunder hingga produk akhir. Industri berbahan baku kelapa dengan produk utama bukan minyak makan baru terdapat di beberapa daerah seperti Riau, Lampung, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Selatan.
Meskipun berbagai teknologi produk berbahan baku kelapa telah tersedia dan
beberapa pabrik telah beroperasi, ternyata petani belum dapat merasakan manfaat dari peningkatan nilai tambah tersebut. Petani baru berperan sebagai penyedia bahan baku, berupa kopra atau kelapa butiran segar bagi industri pengolahan. Peme-rintah telah mengembangkan pola-pola kemitraan antara petani dan investor se-perti PIR kelapa, tetapi ternyata belum membuka peluang bagi petani untuk ikut memperoleh manfaat dari peningkatan nilai tambah yang ditimbulkan oleh industri.
Dalam rangka meningkatkan penda-patan dan kesejahteraan petani melalui pengembangan agroindustri berbasis ke-lapa di pedesaan, teknologi hasil kegiatan penelitian dapat menjadi faktor kunci. Ketersediaan teknologi tepat guna skala pedesaan yang diintegrasikan dengan industri yang lebih besar atau industri pengolahan lanjut, akan memungkinkan pengembangan pola-pola kemitraan yang saling menguntungkan antara petani dan pihak industri. Dengan demikian, akan tercipta suatu sistem agroindustri yang memungkinkan petani dan pengusaha menikmati nilai tambah secara adil dan wajar.
Manfaat Lain
Sampai dengan Pelita VI, kultivar-kultivar kelapa yang dikembangkan sangat terba-tas pada kelapa Dalam dan hibrida. Peng-gunaan kultivar-kultivar ini ditujukan un-tuk memenuhi kebutuhan industri peng-olahan kelapa yang pada umumnya meng-hasilkan produk tradisional seperti minyak kelapa dan kelapa parut kering. Akibat peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perkembangan teknologi, produk-produk yang dibutuhkan makin beragam. Hal ini menghendaki karakteristik kelapa
yang berbeda. Kelapa tidak hanya di-perlukan untuk industri pangan dan non-pangan, tetapi juga berfungsi sebagai tanaman hias dan minuman penyegar.
Kultivar kelapa yang cocok untuk ke-dua fungsi ini adalah kelapa Genjah karena karakteristik yang dimilikinya, yaitu pe-nampilan tanaman yang berbatang pendek dan mahkota daun yang lebih kecil dari-pada kelapa Dalam dan hibrida. Ukuran buah kecil, warna buah menarik, daging dan air buah berasa manis, serta berbuah lebih cepat. Kultivar kelapa Genjah yang telah dikoleksi di Instalasi Penelitian Kelapa Mapanget, Sulawesi Utara sebanyak 19 kultivar. Kultivar-kultivar tersebut di arah-kan pengembangannya ke pinggiran kota, daerah wisata, dan lahan pekarangan.
USAHA TANI KELAPA RAKYAT DAN MASALAHNYA
Pengusahaan kelapa yang dilakukan oleh petani dari dahulu sampai sekarang tidak mengalami perkembangan yang berarti di-bandingkan dengan perkembangan tek-nologi. Berbagai teknologi budi daya dan pengolahan hasil telah tersedia. Belum terserapnya teknologi tersebut tidak ter-lepas dari masalah-masalah internal kelapa itu sendiri, mulai dari aspek produksi, pengolahan, pemasaran sampai dengan kelembagaan.
Pola Pengusahaan
Tanaman kelapa umumnya diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat, yaitu 96% dari total areal dengan luas pemilikan rata-rata 1,1 ha/KK (Direktorat Jenderal Perkebunan 1996). Sebagian besar kelapa diusahakan dalam bentuk usaha tani
monokultur, sedang pengembangan usaha tani polikultur belum sepenuhnya mene-rapkan teknologi anjuran. Penelitian di tiga kabupaten di Sulawesi Utara menunjukkan petani yang mengusahakan kelapa secara monokultur berkisar antara 20,0-41,9% (Akuba et al. 1992).
Kelapa diusahakan dalam bentuk pola kebun dan pekarangan. Pola kebun umum-nya diterapkan di luar Jawa, sedang di Jawa sebagian besar (53,8%) pola pekarangan (Asnawi 1985). Pemeliharaan tanaman umumnya berupa pengendalian gulma di sekitar pohon yang dilakukan bersamaan dengan panen buah setiap 2-3 bulan. Usa-ha pengendalian Usa-hama dan penyakit yang menimbulkan kerugian pada kelapa belum dilakukan. Pengolahan kelapa di tingkat petani terbatas pada pengolahan kopra atau minyak kelapa ataupun kelapa dijual dalam bentuk butiran. Di Sulawesi Utara, petani responden yang mengolah kopra sebanyak 75,6%, dan yang menjual kelapa butiran 15,7% (Akuba et al. 1992).
Pengolahan Hasil
Masalah-masalah yang dihadapi dalam pengolahan hasil kelapa pada pengem-bangan SUKT berkisar pada aspek tek-nologi, ketersediaan bahan baku (jumlah dan mutu), sumber daya manusia, infra-struktur, serta kelembagaan dan kebijakan pendukung.
Teknologi
Hasil utama dari kelapa selama ini adalah minyak makan, sehingga kelapa seakan-akan identik dengan minyak mseakan-akan. Sejak kelapa sawit muncul sebagai penghasil minyak makan yang lebih efisien, peranan
kelapa sebagai sumber minyak makan makin tergeser, khususnya di dalam negeri. Industri pengolahan kelapa bukan minyak makan belum berkembang yang disebabkan oleh: (1) keterbatasan infor-masi tentang potensi kelapa dan sumber teknologi bagi investor baru; (2) keter-batasan modal petani dan pengusaha kecil untuk pengembangan industri selain mi-nyak kelapa; (3) struktur industri peng-olahan minyak yang masih didominasi oleh minyak kelapa karena pengolahan minyak dapat diterapkan dalam skala rumah tangga sampai skala besar; dan (4) keter-batasan infrastruktur di daerah sumber bahan baku.
Permasalahan mendesak yang perlu diupayakan pemecahannya adalah pe-ngembangan teknologi proses berskala kecil/pedesaan untuk menghasilkan pro-duk akhir maupun propro-duk antara yang dapat diolah lebih lanjut oleh industri be-sar. Teknologi semacam ini mempunyai arti strategis karena: (1) memungkinkan ngembangan agroindustri sampai di pe-desaan, termasuk wilayah dengan infra-struktur terbatas; (2) memberi peluang kepada petani untuk ikut menikmati nilai tambah yang tercipta dari agroindustri kelapa; (3) membuka lapangan kerja hingga ke pedesaan; (4) menjamin suplai bahan baku dalam jumlah dan mutu yang sesuai kebutuhan industri lanjutan; dan (5) me-ningkatkan efisiensi kinerja industri besar. Berbagai teknologi proses dan reka-yasa telah dikembangkan melalui serang-kaian penelitian, tetapi umumnya masih pada skala penelitian. Pengembangan lebih lanjut ke arah skala operasional masih merupakan masalah. Selain itu, teknologi-teknologi tersebut masih bersifat parsial, padahal untuk pengolahan seluruh kom-ponen hasil kelapa diperlukan pengolah-an ypengolah-ang terintegrasi agar diperoleh nilai
tambah yang besar. Peranan swasta sangat penting artinya dalam upaya mendorong pengembangan industri pengolahan ke-lapa terpadu di pedesaan.
Ketersediaan Bahan Baku Rendahnya produktivitas kelapa pada tingkat petani berpengaruh terhadap efisiensi pabrik pengolahan. Dengan tingkat produktivitas saat ini, suatu pabrik pengolahan harus mendapat bahan baku dari areal dua kali lebih luas. Selain itu, industri pengolahan umumnya berada relatif jauh dari areal pertanaman kelapa. Demikian pula areal tanaman menyebar (tidak kompak) sehingga meningkatkan komponen biaya transportasi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi olahan, pengembangan industri peng-olahan diusahakan dilakukan di sentra produksi atau dekat dengan sentra pro-duksi.
Sumber Daya Manusia Agroindustri kelapa merupakan industri padat karya. Industri pengolahan yang memperoleh bahan baku dalam bentuk kelapa butiran menyebabkan pekerjaan melepaskan tempurung dan testa (kulit ari daging buah) harus dilakukan secara ma-nual. Kualifikasi tenaga yang dibutuhkan cukup luas, mulai dari tenaga berkete-rampilan rendah sampai dengan tenaga berketerampilan khusus untuk meng-operasikan mesin-mesin dan menjalankan manajemen.
Apabila pengembangan industri ini sampai ke pedesaan, maka penyediaan tenaga berketerampilan rendah tidak ada masalah. Permasalahan yang akan
di-hadapi adalah yang berkaitan dengan budaya, etos kerja, dan disiplin, yang pada gilirannya akan menentukan produktivitas dan mutu kerja mereka. Kebutuhan tenaga berketerampilan khusus akan dihadapkan pada keengganan pekerja untuk bekerja di lokasi terpencil dan adanya tuntutan im-balan yang lebih tinggi. Sekiranya tenaga berkualifikasi demikian direkrut dari te-naga setempat akan dihadapkan pada kelangkaan tempat pelatihan yang spesifik untuk bidang industri kelapa.
Jika pengembangan agroindustri di arahkan pada suatu sistem yang terinteg-rasi antara industri yang tersebar di tangan petani atau kelompok tani dengan industri pengolahan lanjut, maka permasalahan SDM tersebut juga akan dialami. Meski-pun tingkat keahlian yang disyaratkan untuk industri kecil lebih rendah, tetap diperlukan tenaga dengan keterampilan khusus. Masalah efisiensi dan kelayakan mutu produk olahan industri kecil untuk diolah dalam industri besar sangat di-tentukan oleh mutu SDM. Tinggi rendah-nya nilai tambah yang mungkin diraih oleh pengelola industri kecil sangat ditentukan oleh tingkat efisiensi usahanya.
Kelembagaan
Agroindustri adalah cabang usaha yang tergolong berisiko tinggi. Margin yang diperoleh tidak terlalu besar, sangat di-pengaruhi oleh iklim, situasi pasar inter-nasional, dan daya simpan produk yang sangat terbatas. Bagi agroindustri kelapa yang berbasis kelapa perkebunan rakyat, risiko tersebut diperbesar lagi dengan tersebarnya areal dan pengelolaan kebun yang sangat beragam, sistem kepemilikan lahan, serta terbatasnya infrastruktur. Oleh karena itu, untuk merangsang
berkem-bangnya agroindustri diperlukan keterse-diaan dan penataan berbagai kelembagaan yang secara efektif dapat meredam ber-bagai risiko serta memungkinkan pelaku-pelakunya, termasuk petani, dapat mem-peroleh keuntungan atau manfaat yang optimal. Masalah yang berhubungan de-ngan kelembagaan pembinaan petani, lembaga permodalan, peraturan dan ke-bijakan pemerintah, serta keterikatan petani produsen dan industri pengolahan sangat menentukan perkembangan agroindustri kelapa.
Agar petani dapat terlibat sebagai pe-laku dalam sistem agribisnis kelapa maka pembinaan petani tidak hanya pada aspek berproduksi (on farm), tetapi juga aspek pengolahan hasil dan manajemen (off
farm). Penyediaan modal yang mudah dan
murah untuk investasi usaha tani dan in-dustri pengolahan akan sangat membantu petani atau kelompok tani untuk berkiprah dalam sektor pengolahan hasil. Aspek yang tidak kalah pentingnya dari modalan adalah aksesibilitas dan per-syaratan kredit. Diperlukan suatu formula khusus yang disertai bimbingan penge-lolaan kredit dengan persyaratan yang didasarkan atas kelayakan usaha.
Pengembangan lebih lanjut pola-pola keterkaitan antara petani atau industri kecil dengan industri besar perlu terus didorong agar semua pihak yang telibat dapat mem-peroleh manfaat yang wajar dan adil. Pola hubungan antara petani kelapa dan per-usahaan besar yang telah ada, seperti bapak angkat, mitra usaha, dan PIR, belum memungkinkan petani ikut menikmati nilai tambah yang terjadi dalam proses industri. Petani hanya sekedar penjual atau penye-dia bahan baku dalam bentuk kelapa butiran atau kopra bagi perusahaan besar. Hubungan seperti itu lebih bermakna ter-jaminnya kontinuitas suplai bahan baku
bagi perusahaan, sebab tanpa hubungan formal pun petani tetap menjual hasil kelapanya. Dalam pola hubungan demi-kian, seluruh nilai tambah yang tercipta dalam industri hanya dinikmati oleh perusahaan besar. Dalam pola-pola kemi-traan demikian, meskipun petani menjual kelapa dalam bentuk butiran, hanya da-ging kelapa yang memiliki nilai ekonomi. Tempurung dan air kelapa belum dihargai karena harga pembelian merupakan harga konversi dari kopra. Jika pembeli kemudian mengolah kedua bagian buah tersebut, berarti diperoleh secara gratis.
Ada dua alternatif agar petani dapat ikut menikmati nilai tambah tersebut. Pertama, dengan menempatkan petani sebagai pemegang saham dalam sistem agribisnis berbasis kelapa. Kedua, me-ngembangkan pengolahan skala kecil untuk menghasilkan produk antara yang selanjutnya diolah dalam industri besar. Upaya menciptakan hubungan kemitraan usaha yang demikian merupakan pekerjaan yang sulit. Kemauan, kerelaan, dan peng-hayatan terhadap sistem perekonomian nasional oleh para pengusaha atau in-vestor sangat menentukan. Di samping itu, perlu seperangkat aturan dan iklim yang kondusif dari pihak pemerintah, sebagai persyaratan terciptanya hubungan yang harmonis antara usaha tani kecil dan industri besar.
Apabila proses pembentukan hubung-an bisnis dalam rhubung-angka pengembhubung-anghubung-an agribisnis berbasis kelapa yang tangguh sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, maka posisi petani akan sangat lemah. Akibatnya, petani hanya sekedar sebagai salah satu faktor produksi dalam suatu agroindustri yang mudah diper-mainkan untuk kepentingan industri. Jika demikian, maka kehadiran agroindustri di
pedesaan bukan mengangkat kesejah-teraan petani, tetapi lebih mengukuhkan dan memperbesar kesenjangan penda-patan.
Sistem penyediaan informasi yang mampu menjangkau pedesaan secara ce-pat perlu mendace-pat perhatian untuk men-dukung agroindustri dalam era globalisasi. Sudah saatnya kita mengembangkan bukan saja market intelligence, tetapi juga
technology intelligence khusus untuk
sek-tor agroindustri. Prasarana perhubungan, listrik, air bersih, dan telekomunikasi di kawasan pertanaman kelapa rakyat praktis tidak tersedia atau sangat terbatas. De-ngan kondisi demikian, kecil kemung-kinannya untuk mendorong industri besar ke pedesaan. Akibat keterbatasan jalan dan jembatan, sejumlah industri pengolahan sabut dan tempurung kesulitan menda-patkan bahan baku. Dalam kondisi de-mikian biaya pengumpulan menjadi mahal sehingga harga di tingkat petani sangat rendah. Harga yang sangat rendah terse-but tidak merangsang petani untuk men-jual sabut dan tempurung kelapa.
Mengingat pembangunan prasarana khususnya jalan dan jembatan sangat ma-hal, maka pengembangan industri kecil skala rumah tangga atau kelompok tani dengan hasil berupa produk setengah jadi merupakan salah satu cara efektif meng-atasi masalah keterbatasan prasarana tersebut. Kelangkaan tenaga listrik dapat menjadi kendala penting dalam pengem-bangan industri skala rumah tangga atau pedesaan. Keterbatasan infrastruktur me-rupakan salah satu penyebab utama in-vestor kurang berminat mengembangkan agroindustri di pedesaan. Sebelum hal ini teratasi, maka pemberian insentif mungkin dapat menjadi kompensasi yang memadai bagi investor.
SISTEM USAHA TANI KELAPA TERPADU
Peranan ekonomi komoditas kelapa belum optimal bila dilihat dari segi pendapatan petani, pemenuhan kebutuhan bahan baku, dan sumber devisa. Pendapatan petani kelapa monokultur yang hanya sekitar Rp2,50 juta/ha/tahun atau Rp200.000/ bulan tergolong rendah dibandingkan dengan kebutuhan fisik minimum yang berkisar antara Rp300.000-Rp 400.000/KK (5 orang).
Kebutuhan bahan baku belum ter-penuhi. Sebagai gambaran, industri mi-nyak kelapa memerlukan bahan baku 1.955.090 ton setara kopra per tahun, sedang yang tersedia hanya 1.160.277 ton setara kopra atau sekitar 60% dari kebu-tuhan.
Kontribusi perolehan devisa kurang dari 1%, padahal peluang peningkatan baik dari jenis maupun ragam produk yang da-pat diekspor sangat besar. Produk-produk kelapa yang diekspor sebagian besar ada-lah produk tradisional seperti kopra, mi-nyak kelapa, bungkil, dan tepung kelapa. Produk-produk ini di pasar internasional menghadapi persaingan yang ketat dari produk yang sama dari negara lain mau-pun produk substitusi. Di samping itu, per-mintaan terhadap produk-produk tersebut telah mencapai titik jenuh.
Belum optimalnya peranan ekonomi kelapa tidak terlepas dari masalah-masalah internal kelapa itu sendiri, mulai dari aspek produksi, pengolahan, dan pemasaran sampai dengan kelembagaan. Di bidang produksi, produktivitas kelapa masih sa-ngat rendah, yaitu 1,1 ton setara kopra/ ha/tahun. Tingkat produktivitas ini tidak mengalami banyak perubahan selama 30 tahun terakhir, tahun 1967-1997. Hal ini
terjadi karena belum diterapkannya tek-nologi anjuran seperti penggunaan benih unggul, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, kesesuaian iklim dan lahan, serta peremajaan. Di sisi lain, usaha tani monokultur yang dilakukan pada sebagian besar pertanaman kelapa saat ini dan usaha tani polikultur yang masih sub-sisten, membatasi peluang petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih layak. Di bidang pengolahan, beberapa ma-salah yang dihadapi adalah: (1) struktur industri pengolahan kelapa didominasi oleh industri pengolahan minyak; (2) in-dustri pengolahan berbagai produk ber-skala kecil, bersifat parsial, belum dalam bentuk suatu unit terpadu; dan (3) seba-gian industri pengolahan tidak berada di sumber bahan baku.
Di bidang pemasaran, permintaan ter-hadap produk-produk tradisional terutama minyak kelapa di dalam negeri maupun internasional telah mengalami kejenuhan. Bahkan mulai menurun dengan adanya produk substitusi yang lebih murah, se-perti minyak kelapa sawit.
Di bidang kelembagaan, lembaga-lembaga produksi, pengolahan, dan pe-masaran belum terkait satu sama lain. Akibatnya terjadi inefisiensi usaha yang pada akhirnya menimbulkan biaya tinggi.
Masalah-masalah yang sedang diha-dapi perkelapaan nasional harus segera diselesaikan agar petani kelapa dapat hidup layak, kebutuhan bahan baku dapat ter-penuhi, dan peranan kelapa sebagai sum-ber devisa meningkat. Melihat kom-pleksnya permasalahan, upaya penanga-nannya haruslah merupakan suatu sistem yang terpadu antara bidang-bidang per-masalahan tersebut.
Pendekatan untuk mengatasi masalah didasarkan pada perubahan paradigma
pembangunan perkebunan dari pende-katan komoditas ke pendepende-katan sistem, yaitu SUKT. Pendekatan SUKT dikem-bangkan berdasarkan analisis terhadap komponen-komponen di dalam suatu sistem agribisnis. Pendekatan ini bersifat partisipatif, dinamis, dan multidisiplin dalam upaya menganalisis kompleksitas sistem tersebut. Dalam konteks pemba-ngunan perkebunan wilayah, pendekatan SUKT dikembangkan untuk mencoba melihat suatu permasalahan secara holis-tik, sehingga upaya pemecahannya tidak bersifat parsial. Secara umum, SUKT me-miliki ciri spesifik lokasi, dinamis, sesuai dengan kondisi biofisik, sosial ekonomi, serta kebutuhan dan kemampuan peng-guna, akrab lingkungan, dan dapat me-ningkatkan nilai tambah produk pertanian serta pendapatan petani. Aktivitas utama SUKT meliputi: (1) penganekaragaman produk kelapa, yaitu produk primer dan/ atau sekunder; (2) penganekaragaman komoditas, seperti pengusahaan tanaman sela dan atau ternak; atau (3) penganeka-ragaman produk kelapa dan komoditas.
SUKT yang diterapkan harus berwa-wasan teknologi, lingkungan, dan agri-bisnis sehingga tercipta sistem usaha ber-kelanjutan yang menjamin peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Kriteria yang harus dipenuhi SUKT adalah sebagai berikut:
1. Mencapai sasaran agronomi
(agro-nomic desirability); sistem yang
dite-rapkan harus dapat menjamin pe-ningkatan dan kelangsungan produksi kelapa, tanaman sela atau ternak di bawah kelapa.
2. Memenuhi kelayakan sosial ekonomi (social economic feasibility); sistem yang diterapkan sesuai dengan ke-adaan sosial petani dan menghasilkan
nilai tambah yang dapat meningkatkan pendapatan petani.
3. Praktis diterapkan (applicable); sesuai dengan keterampilan yang dimiliki pe-tani.
4. Didukung oleh tersedianya kelemba-gaan yang membantu petani dalam penyediaan sarana produksi, tekno-logi, unit pengolahan, dan penciptaan pasar bagi produk-produk yang di-hasilkan.
Aspek produksi dalam SUKT meliputi: (1) penetapan areal perkelapaan yang memenuhi skala ekonomi; (2) pemilihan jenis-jenis tanaman sela dan ternak yang sesuai dengan karakteristik tanaman ke-lapa, spesifik lokasi serta memiliki pasar; (3) penyediaan sarana produksi; dan (4) introduksi teknologi budi daya.
Aspek pengolahan meliputi penentuan produk dan penyediaan paket teknologi pengolahan produk kelapa dan tanaman sela. Pemilihan produk kelapa yang di-hasilkan bergantung pada prospek produk kelapa secara nasional, regional dan in-ternasional, tersedianya teknologi peng-olahan dalam skala kecil dan menengah, dan kemampuan petani mengadopsi tek-nologi pengolahan. Prinsip pemilihan pro-duk kelapa yang akan diolah adalah: (1) pengolahan seluruh hasil kelapa, (2) mutu produk sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan, (3) memenuhi skala pengolahan dalam suatu sistem agribisnis, dan (4) memiliki prospek pasar yang baik. Aspek pemasaran berupa usaha menciptakan kelembagaan pasar bagi produk-produk yang dihasilkan oleh SUKT.
SUKT bertujuan mengaktualisasikan potensi sumber daya perkebunan kelapa rakyat dengan memodernisasikan usaha tani kelapa rakyat melalui perpaduan
ko-mersialisasi usaha tani dan penggunaan teknologi mutakhir (pengusahaan terpadu) dalam bentuk pola kebun atau pekarang-an. Dengan SUKT diharapkan: (1) sumber daya fisik perkebunan kelapa dapat di-manfaatkan secara optimal; (2) kelangkaan bahan baku bagi industri pengolahan kelapa teratasi dengan meningkatnya pro-duktivitas tanaman kelapa; (3) kebutuhan petani untuk hidup layak terpenuhi dengan meningkatnya pendapatan melalui pe-ningkatan produktivitas lahan dan ta-naman kelapa; (4) tumbuh dan berkem-bangnya kelembagaan dan industri baru dari hasil tanaman sela dan ternak; (5) transfer teknologi dipercepat; (6) petani kelapa menjadi pelaku di dalam sistem agribisnis kelapa; dan (7) sumbangan kelapa terhadap devisa meningkat.
Ciri utama dari SUKT adalah keter-paduan antarsubsistem produksi, peng-olahan, dan pemasaran, serta keterpaduan aktivitas dalam setiap subsistem tersebut. Dalam subsistem produksi, keterpaduan diharapkan terjadi pada beberapa aspek, yaitu: (1) pemilihan komoditas yang di-kembangkan di bawah kelapa; (2) ham-paran yang memenuhi skala agribisnis (minimum 500 ha); dan (3) aktivitas budi daya.
Pada subsistem pengolahan, integrasi pengolahan berbagai produk kelapa dalam satu unit pengolahan sangat diperlukan. Salah satu keunggulan dari komoditas kelapa adalah memungkinkan dibangun suatu industri terpadu dengan produk yang sangat beragam sampai ke yang paling hilir yang memanfaatkan produk-produk oleokimia. Tersedianya teknologi skala kecil yang efisien, baik yang meng-hasilkan produk akhir maupun produk antara untuk diolah lebih lanjut oleh industri besar, memungkinkan
pengem-bangan agroindustri hingga ke pedesaan. Kombinasi teknologi pengolahan produk kelapa yang berpeluang untuk dipadukan dalam satu industri pengolahan terpadu skala pedesaan meliputi: (1) minyak kelapa, bungkil, nata de coco, arang tempurung, serat sabut dan debu sabut; (2) minyak kelapa, bungkil, minuman ringan, arang tempurung, serat sabut, dan debu sabut; (3) santan, pakan, nata de coco, arang tempurung, serat sabut, dan debu sabut; (4) minyak kelapa, gula kelapa, nata de coco, bungkil, arang tempurung, serat sabut, dan debu sabut; dan (5) kopra, nata de coco, arang tempurung, serat sabut, dan debu sabut. Selain industri pengolahan terpadu, terbuka peluang untuk pengem-bangan industri pengolahan produk dari tanaman sela dan ternak.
Dalam pengembangan industri peng-olahan terpadu, keterkaitan antara petani produsen dari industri kecil tampaknya masih perlu dicarikan model dan meka-nisme kemitraan yang tepat agar para pe-tani dapat ikut memperoleh manfaat dari nilai tambah yang tercipta dalam agro-industri berbasis kelapa. Peluang petani untuk memiliki saham dalam subsistem pengolahan akan memungkinkan petani ikut menikmati nilai tambah dari industri kelapa. Pada subsistem pemasaran, par-tisipasi dari pihak swasta dan lembaga penyedia modal diperlukan untuk mem-bantu memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh industri pengolahan ter-padu skala pedesaan. Partisipasi tersebut berbentuk kemitraan, pembinaan, dan penyediaan modal.
SUKT dapat dikembangkan dalam dua pola, yaitu pola kebun (hamparan) dan pola pekarangan. Pengembangan SUKT pola kebun harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem wilayah, terutama pemilihan
komoditas yang akan dikembangkan di bawah kelapa.
Pekarangan adalah sumber daya lahan yang sangat potensial untuk pengem-bangan SUKT dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Luas lahan pekarang-an di Indonesia mencapai 5.117.400 ha dpekarang-an 74% atau 3.776.441 ha berada di pedesaan (Akuba dan Mahmud 1991). Kelebihan pekarangan untuk pengembangan SUKT yaitu dekat dengan keluarga petani, mudah untuk pengawasan, mudah untuk pe-meliharaan tanaman dan ternak, tidak terlalu terpengaruh oleh perbedaan musim karena kebutuhan air lebih mudah ter-penuhi, dan pekarangan biasanya lebih subur dibanding kebun karena limbah rumah tangga dapat dijadikan pupuk organik. Bagi keluarga, pekarangan ber-fungsi sebagai sumber makanan tambahan, apotik hidup, estetika dan kesehatan, serta sumber tambahan pendapatan.
Kelapa ditinjau dari aspek biologis dan fisik tanaman dapat menjadi salah satu komponen sistem usaha terpadu di lahan pekarangan. Pengusahaan kelapa dengan pola pekarangan ditemukan di Jawa dan di daerah transmigrasi. Pengusahaan kelapa di pekarangan memberikan tambahan pendapatan yang nyata bagi petani (As-nawi 1985; Amrizal et al. 1986).
PENUTUP
Usaha tani kelapa monokultur dengan pe-milikan lahan yang sempit, produktivitas rendah, dan produk kelapa butiran, kopra, atau minyak belum mampu memenuhi kebutuhan petani untuk hidup layak. Kondisi ini diperburuk dengan status petani kelapa sebagai salah satu bagian dari faktor produksi, belum sebagai pelaku di dalam sistem.
Pertanaman kelapa merupakan sumber daya yang sangat potensial untuk di-kembangkan usaha taninya secara hori-zontal dan vertikal, seperti tanaman sela, penggembalaan ternak, dan penganeka-ragaman produk kelapa serta pemanfaatan limbahnya. Untuk mengoptimalkan pe-manfaatan potensi sumber daya tersebut diperlukan suatu sistem usaha tani yang terpadu dari hulu sampai ke hilir, sehingga dapat mengentaskan masalah-masalah yang dihadapi selama ini. Sistem usaha tani kelapa terpadu (SUKT) diharapkan men-jadi solusi, di mana petani menmen-jadi pelaku di dalam sistem.
DAFTAR PUSTAKA
Akuba, R.H. dan Z. Mahmud. 1991. Coco-nut farming system at pekarangan. Indust. Crops Res. J. 4(1): 33-42. Akuba, R.H., J.G. Kindangen, H. Hasni, R.
Rahman, dan N.M. Mokodongan. 1992. Survei pengusahaan kelapa di Sulawesi Utara. Laporan Penelitian Pola Pengem-bangan Kelapa di Sulawesi Utara. Balai Penelitian Kelapa, Manado. hlm. 5-49. Akuba, R.H. dan M.M. Rumukoi. 1997. Sistem Usahatani Berbasis Kelapa. Balai Penelitian Kelapa, Manado. 280 hlm..
Amrizal, M. Djafar, dan R.H. Akuba. 1986. Pemanfaatan lahan pekarangan trans-migrasi Semboja II Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Kelapa 1(1): 21-27. Anilkumar, K.S. and P. Wahid 1988. Root
activity pattern of coconut palm. Ole-agineux 43(8-9): 337-342.
Asnawai, S. 1985. Tanaman kelapa rakyat di Pulau Jawa. Balai Penelitian Kelapa, Manado.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 1996. Sta-tistik Perkebunan Indonesia. Kelapa.
Direktorat Jenderal Perkebunan, Ja-karta. 106 hlm.
Fattah, M. 1984. Pemilikan kebun kelapa sebagai sumber pendapatan masya-rakat Sulawesi Tengah. Tesis, Institut Pertanian Bogor.
Kasryno, F., Z. Mahmud, dan P. Wahid. 1998. Sistem usahatani berbasis ke-lapa. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa IV. Bandar Lampung, 21-23 Ap-ril 1998. Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Tanaman Industri, Bogor. Reynolds, S.G. 1995.
Pasture-cattle-co-conut systems. FAO, Bangkok. 668 pp.
Sulistyo, R. 1998. Pemberdayaan petani dalam usahatani kelapa. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa IV, Bandar Lampung, 21-23 April 1998. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanam-an Industri, Bogor.
Tondok, A. R. 1998. Pemanfaatan peluang pengembangan kelapa dalam meng-hadapi era globalisasi. Prosiding Kon-ferensi Nasional Kelapa IV, Bandar Lampung, 21-23 April 1998. Pusat Pe-nelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor.