Hak Akses ke Rekam Medis dalam Kerangka JKN Hak Akses ke Rekam Medis dalam Kerangka JKN
Dalam tulisan sebelumnya, kita bahas tentang proses verifkasi oleh Dalam tulisan sebelumnya, kita bahas tentang proses verifkasi oleh Verifkator !J"K# "alah yang sering menimbulkan perdebatan
Verifkator !J"K# "alah yang sering menimbulkan perdebatan adalah soal hak
adalah soal hak akses ke RM# $idak %arang ter%adi ketegangan gara&akses ke RM# $idak %arang ter%adi ketegangan gara& gara beda pemahaman tentang hak tersebut#
gara beda pemahaman tentang hak tersebut# Dasar pembahasan tentang rekam med
Dasar pembahasan tentang rekam medis dia'ali dari is dia'ali dari pasal ()&(*pasal ()&(* ++ !raktek Kedokteran nomor -.//(0
++ !raktek Kedokteran nomor -.//(0 !asal ()0
!asal ()0
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib (1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.
membuat rekam medis.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi (2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan.
setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan.
(3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan (3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.
petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan. asal !"#
asal !"#
(1) $okumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam asal !% merupakan (1) $okumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam asal !% merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien.
rekam medis merupakan milik pasien.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga (2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan
kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
kesehatan.
(3) &etentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (3) &etentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan eraturan 'enteri.
ayat (2) diatur dengan eraturan 'enteri.
al itu didukung juga oleh asal 1" huru (h) ** 1!+2- tentang &eterbukaan al itu didukung juga oleh asal 1" huru (h) ** 1!+2- tentang &eterbukaan normasi ublik, bahwa data dalam Rekam 'edis adalah termasuk yang
normasi ublik, bahwa data dalam Rekam 'edis adalah termasuk yang dikecualikan dari keharusan terbuka bagi publik.
dikecualikan dari keharusan terbuka bagi publik.
asal tentang rekam medis itu disusul dengan pasal tentang rahasia kedokteran# asal tentang rekam medis itu disusul dengan pasal tentang rahasia kedokteran# (1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib (1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
menyimpan rahasia kedokteran.
(2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, (2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, a
hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundangundangan.tau berdasarkan ketentuan perundangundangan. (3) &etentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan eraturan (3) &etentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan eraturan 'enteri.
'enteri.
Sebagai turunan dari pasal !%/!" tersebut, diterbitkan ermenkes 2%0+2- tentang Sebagai turunan dari pasal !%/!" tersebut, diterbitkan ermenkes 2%0+2- tentang Rekam 'edis. ada pasal 12 menjelaskan bahwa#
Rekam 'edis. ada pasal 12 menjelaskan bahwa#
(1) erkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan (1) erkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan 12 3si rekam medis merupakan milik pasien 12 3si rekam medis merupakan milik pasien
142 3si rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 12 dalam 142 3si rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 12 dalam bentuk ringkasan rekam medis
bentuk ringkasan rekam medis
1(2 Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 1(2 Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 142142 dapat diberikan, di5atat atau di5opy oleh pasien atau orang yang dapat diberikan, di5atat atau di5opy oleh pasien atau orang yang
diberi kuasa atau atas persetu%uan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu#
Ringkasan Rekam Medis adalah salah satu isi dari berkas RM untuk pasien ra'at inap sesuai pasal 4 ayat 12# Kemudian di%elaskan pada pasal ( bah'a0
162 Ringkasan pulang sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat 12 harus dibuat oleh dokter atau dokter digi yang melakukan
pera'atan pasien#
12 3si ringkasan pulang sebagaimana dimaksud pada ayat 162 sekurang&kurangnya memuat0
a# 3dentitas pasien
b# diagnosis masuk dan indikasi pasien dira'at
5# ringkasan hasil pemeriksaan fsik dan penun%ang, diagnosis akhir, pengobatan dan tindak lan%ut
d# nama dan tanda tangan dokter atau dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan
!erdebatan tentang hak akses oleh verifkator !J"K bermula dari kondisi di a'al JKN# "aat dia'ali 6 Januari /6(, regulasi yang ada baru !ermenkes )-./64 tentang tari7 3NA&89s dan !ermenkes *6./64 tentang !elaksanaan JKN# elum ada panduan yang baku dari Kemkes, bagaimana proses penerapan 3NA&89s#
"aat itu, verifkator beker%a sesuai !anduan $eknis Verifkasi yang diterbitkan oleh !J"K# !asal ( ayat 142 ++ "J"N (/.//(
me'a%ibkan !J"K untuk selalu meningkatkan efsiensi dan e7ektiftas pelayanan kesehatan, pengendalian mutu dan
pembayaran pelayanan# Maka dalam !anduan $eknis tersebut ada beberapa bagian yang memang membutuhkan akses ke rekam medis misalnya0
6# Harus memverifkasi episode pera'atan sesuai dengan isi dari 8atatan !erkembangan $erintegrasi agar sinkron dengan instruksi D!J!#
# Harus memverifkasi kesesuaian D!J! dengan tindakan dan.atau pelayanan yang diberikan#
4# Harus memverifkasi apakah tidak ada double&klaim atas tindakan yang diberikan#
(# !ada kasus berbiaya tinggi, bila perlu dilakukan kun%ungan ke bangsal#
Hal itu didukung %uga :perilaku; oknum R" yang misalnya senga%a melakukan A!" :fkti7; agar mendapatkan klaim ganda# Atau
ditemukannya suatu tindakan tertentu padahal tidak ada Dokter "pesialis yang sesuai untuk tindakan tersebut di R" yang
bersangkutan# Juga didapatkannya over&diagnosis sehingga
menimbulkan klaim berlebih# Kondisinya tidak mudah, karena sekali lagi, sama&sama belum ada regulasi Kemkes yang baku#
aru pada bulan Juni, terbit !ermenkes *./6( tentang !etun%uk $eknis !enerapan 3NA&89s# !ermenkes ini dinyatakan :berlaku
surut pe 6 Januari /6(;# Jadilah kemudian ter%adi lagi perubahan dalam hal a5uan proses verifkasi# Akibatnya ada beberapa klaim yang kemudian dinyatakan sebagai over&5laim# Kasus&kasus ini kemudian men%adi beban di belakang, karena sebagai pengelola keuangan, !J"K dianggap tidak akuntabel dan pruden 'alaupun alasannya karena memang belum ada regulasi baku dari Kemkes saat itu# !ada akhirnya bahkan !J"K diharuskan menarik kembali klaim yang terlan%ur di5airkan pada kasus dengan over&5laim
tersebut# Jelas ini bukan perkara mudah# "aran penulis0 serahkan kasus&kasus over&5laim dalam periode Januari&Juni /6( itu ke Kemkes untuk mendapatkan keputusan mengingat salah satu masalahnya adalah baru terbitnya !ermenkes *./6( pada akhir Juni /6(#
Kembali ke soal akses ke RM, disusul kemudian !ermenkes <./6( tentang !elaksanaan JKN# !ada ab V tentang !endanaan Huru7 A nomor - bah'a0
9. Klaim yang diajukan oleh fasilitas kesehatan terlebih dahulu
dilakukan verifikasi oleh verifikator BPJS Kesehatan yang tujuannya adalah untuk menguji kebenaran administrasi pertanggungjawaban pelayanan yang telah dilaksanakan oleh fasilitas kesehatan. Ketentuan mengenai verifikasi klaim FKTP dan FKRTL diatur lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Verifikasi Klaim yang diterbitkan BPJS Kesehatan. Jadi memang secara legal, Petunjuk Teknis Verifikasi Klaim terbitan
BPJSK adalah sah. Untunglah dalam edisi revisinya, keharusan akses terhadap RM dan kunjungan ke bangsal tersebut sudah dikoreksi. Alasan utama hak akses terhadap RM itu didasarkan pada pasal 13
Permenkes 269/2008 tentang RM bahwa:
(1) Pemanfaatan rekam medis dapat dipakai sebagai: a. pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien
b. alat bukti dalam proses penegakan hukum, disiplin kedokteran dan kedokteran gigi, etika kedokteran dan etika kedokteran gigi.
c. keperluan pendidikan dan penelitian
d. dasar pembayar biaya pelayanan kesehatan e.datastatistikkesehatan
Didukung pula pada Pasal 5-6 Permenkes 36/2012 tentang Rahasia Kedokteran bahwa:
(1) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pembukaan rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terbatas sesuai kebutuhan.
Pasal 6:
(1) Pembukaan rahasia kedokteran untuk kepentingan kesehatan pasien sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 meliputi:
a. kepentingan pemeliharaan kesehatan, pengobatan, penyembuhan dan perawatan pasien
b. keperluan administrasi, pembayaran asuransi atau jaminan pembiayaan kesehatan.
(2) embukaan rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huru a dilakukan dengan persetujuan dari pasien.
(3) embukaan rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huru b dilakukan dengan persetujuan dari pasien baik secara tertulis maupun sistem inormasi elektronik.
(!) ersetujuan dari pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dinyatakan telah diberikan pada saat pendataran pasien di asilitas pelayanan kesehatan.
() $alam hal pasien tidak cakap untuk memberikan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), persetujuan dapat diberikan oleh keluarga terdekat atau pengampunya.
Di titik inilah terjadi perbedaan pandangan. Karena untuk kepentingan pembayaran asuransi, maka dianggap memiliki akses ke RM. Hemat penulis, kita kembalikan ke pokok masalahnya saja:
1. RM adalah informasi rahasia kedokteran
2. Yang menjadi hak pasien adalah ISI Rekam Medis dalam bentuk Ringkasan Medis.
3. Berarti yang dapat diberikan oleh atau diperoleh sebagai kuasa dari pasien adalah Ringkasan Medis.
4. Pemberian kuasa dari pasien dalam klausul kontrak asuransi komersial adalah berbasis sukarela. Sedangkan dalam konteks JKN adalah diwajibkan oleh UU.
Untuk itu, hendaknya dapat kita sepakati bahwa akses yang diberikan kepada Verifikator BPJSK adalah Ringkasan Medis (atau sering juga disebut Resume Medis). Menilik aturan tentang isi Ringkasan Medis (pasal 4), seharusnya sudah cukup memenuhi informasi yang
dibutuhkan oleh verifikator.
Hanya kita juga perlu bercermin bahwa ringkasan medis itu menjadi cukup bila dilengkapi sebagaimana seharusnya. Menjadi pangkal persoalan bila rekam medis (termasuk ringkasan medis) tidak
dilengkapi, maka menjadikan proses verifikasi sulit dilakukan. Bila proses verifikasi terhambat, paling jelas terjadi keterlambatan proses klaim. Bahkan bukan tidak mungkin menjadikan “pending” secara
berlarut-larut.
Lantas bagaimana bila ternyata muncul keraguan pada sisi verifikator? Dapat dimintakan penjelasan melalui prosedur umpan balik. Bila tetap belum dirasa meyakinkan, arahnya adalah ke TKMKB untuk dilakukan
audit medik.
Siapa yang berhak melakukan audit medik? Akan dibahas pada tulisan selanjutnya.