• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Kontrasepsi

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti “melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma.19

Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat antara lain dapat dipercaya, tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan, daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan, tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus, tidak memerlukan motivasi terus menerus, mudah pelaksanaannya, murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, dan dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.4

Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk mempunyai anak lagi. Kontrasepsi permanen adalah kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.19

Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu :19

1) Cara kontrasepsi sederhana, terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat. Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontrasepsi dengan

(2)

alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly, atau tablet berbusa (vaginal tablet).

2) Cara kontrasepsi modern/metode efektif. Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi tidak permanen dapat dilakukan dengan pil, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), suntikan, dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan matoda mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita), dan vasektomi (sterilisasi pada pria).

2.2. Pengertian Pasangan Usia Subur (PUS)

Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang terikat dalam perkawinan yang sah, yang istrinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun, dan secara operasional termasuk pula pasangan suami istri yang istrinya berumur kurang dari 15 tahun dan telah haid atau istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid.1

Berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan usia subur (PUS) yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan.19

PUS yang menggunakan alat kontrasepsi disebut peserta/akseptor KB. Peserta KB adalah PUS yang sedang menggunakan salah satu metode kontrasepsi. Sedangkan peserta KB aktif adalah peserta KB yang sedang menggunakan salah satu metode kontrasepsi secara terus-menerus tanpa diselingi kehamilan. Adapula yang disebut peserta KB baru yaitu PUS yang baru pertama kali menggunakan alat/cara

(3)

kontrasepsi dan atau PUS yang kembali menggunakan metode kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.2

2.3. Pengertian Keluarga Berencana

Menurut WHO (World Health Organization) keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.20

Keluarga berencana tidak hanya berarti membatasi jumlah anak, misalnya hanya sampai dua anak saja. Keluarga berencana berarti mengatur waktu kelahiran, perbedaan umur antara anak-anak, mendidik anak, dan peningkatan kebahagiaan suami-istri.21

Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, Keluarga Berencana didefenisikan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta mesyarakat, melalui pendewasaan umur perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga, untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. 21

Secara umum KB dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan adanya perencanaan

(4)

keluarga yang matang maka kehamilan merupakan suatu hal yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi.22

Dalam pengertian sempitnya (secara khusus) keluarga berencana dalam kehidupan sehari-hari berkisar pada pencegahan konsepsi atau pencegahan terjadinya pembuahan atau mencegah pertemuan antara sel mani dari laki-laki dan sel telur dari wanita sekitar persetubuhan.22

2.4. Sejarah dan Perkembangan Keluarga Berencana

Masalah keluarga berencana dapat disoroti oleh etika individual, etika sosial, dan etika seksual.21 Gerakan KB bermula dari kepeloporan beberapa tokoh di dalam dan luar negeri. Pada awal abad ke-19, di Inggris, upaya keluarga berencana mula-mula timbul atas prakarsa sekelompok orang yang menaruh perhatian pada masalah kesehatan ibu. Maria Stopes (1880-1950) menganjurkan pengaturan kehamilan di kalangan kaum buruh di Inggris. Di Amerika Serikat dikenal Margareth Sanger (1883-1966) yang dengan Program Birth Control-nya merupakan pelopor Keluarga Berencana Modern.23

Pada 1917 didirikan National Birth Control League dan pada November 1921 diadakan American National Birth Control Conference I. Salah satu hasil konferensi tersebut adalah pendirian American Birth Control League dengan Margareth Sanger sebagai ketuanya. Pada tahun 1948, Margareth Sanger ikut mempelopori pembentukan International Committee on Planned Paranthood yang dalam konferensinya di New Delhi pada 1952 meresmikan berdirinya International Planned

(5)

Parenthood Federation (IPPF). Sejak saat itu berdirilah perkumpulan – perkumpulan Keluarga Berencana di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. 23

Pelopor KB di Indonesia adalah Dr. Sulianti Saroso pada tahun 1952 yang menganjurkan para ibu untuk membatasi kelahiran, karena Angka Kelahiran Bayi sangat tinggi. Pada tanggal 23 Desember 1957 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) diresmikan oleh dr. R. Soeharto sebagai ketua. Beliau memperjuangkan terwujudnya keluarga sejahtera melalui 3 macam usaha yaitu mengatur kehamilan/menjarangkan kehamilan, mengobati kemandulan, dan memberi nasehat perkawinan. 20

Pada Februari 1967 telah dilaksanakan Kongres pertama PKBI yang mengharapkan agar program KB dicanangkan sebagai program pemerintah. Pada November 1968 berdirilah Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang diawasi dan dibimbing oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat, merupakan kristalisasi dan kesungguhan pemerintah dalam kebijaksanaan. Tahun 1970 pengelolaan program KB dikelola oleh suatu badan independent, yaitu Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menggantikan LKBN, yang pertanggungjawabannya langsung kepada Presiden RI.23

Program KB di Indonesia mengalami perkembangan pesat, ditinjau dari sudut tujuan, ruang lingkup geografi, pendekatan, cara operasional, dan dampaknya terhadap pencegahan kelahiran. Sejak Pelita III dampak demografis dari Program KB memperhatikan target penurunan tingkat kelahiran kasar, yaitu dengan menetapkan target penurunan 50% dari 44 tahun 1971 menjadi 22 pada tahun 1990. Sedangkan pada Pelita V Program KB Nasional mencanangkan gerakan KB Nasional, yaitu

(6)

gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.23

Tahap selanjutnya program KB menjadi Gerakan KB yang ditujukan terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manumur dilandasi oleh Undang-Undang No.10 tahun 1992 tentang kependudukan dan keluarga sejahtera. Ini berarti bahwa tahapan yang akan dilaksanakan merupakan tahap pembinaan yang semakin teknis dalam mewujudkan keluarga sejahtera dan berkualitas. 20

Pada tanggal 29 Juni 1994 Presiden Soeharto mencanangkan gerakan pembangunan keluarga sejahtera yang merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan masing-masing keluarga. Pelayanan yang diberikan dan strategi yang digunakan selalu berupaya memuaskan pelanggan sehingga sekarang program KB bukan semata-mata kepentingan pemerintah melainkan sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Masyarakat dan calon akseptor sudah lebih memahami keuntungan dan manfaat penggunaan kontrasepsi. Sistem pelayanan yang diterapkan sekarang adalah sistem cafeteria dimana masyarakat sudah mampu memilih sendiri cara kontrasepsi apa yang terbaik dan cocok untuknya. Petugas kesehatan memberikan KIE (Keluarga Informasi Edukasi) atau konseling dan pengambil keputusan adalah pasangan suami istri.20

(7)

2.5. Tujuan Keluarga Berencana20

Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan :

1) Tujuan demografi yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan laju pertumbuhan penduduk (LPP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan menurunkan angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate) dari 2,87 menjadi 2,0 per wanita pada tahun 2015. Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan jumlah penduduk.

2) Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.

3) Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.

4) Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang akan menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas.

5) Tujuan akhir KB adalah tercapainya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera serta

membentuk keluarga berkualitas. Keluarga berkualitas artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi.

(8)

2.6. Sasaran Keluarga Berencana 2.6.1. Sasaran Langsung

Adapun sasaran langsung dari Program KB adalah Pasangan Umur Subur (PUS) yaitu pasangan yang wanitanya berumur antara 15 – 49 tahun, karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari sehingga memberikan efek langsung penurunan fertilisasi.20

2.6.2. Sasaran Tidak Langsung20

1) Kelompok remaja umur 15 – 19 tahun, remaja ini memang bukan merupakan target untuk menggunakan alat kontrasepsi secara langsung tetapi merupakan kelompok yang beresiko untuk melakukan hubungan seksual akibat telah berfungsinya alat-alat reproduksinya. Sehingga program KB disini lebih berupaya promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta kejadian aborsi.

2) Organisasi-organisasi, lembaga kemasyarakatan serta instansi pemerintah maupun swasta serta tokoh masyarakat dan pemuka agama yang diharapkan dapat memberikan dukungan dalam melembagakan NKKBS.

(9)

2.7. Manfaat KB 2.7.1. Manfaat Umum24 a. Untuk Istri

Ada beberapa manfaat ber-KB bagi istri diantaranya istri lebih sehat, lebih cantik, lebih awet muda, lebih mesra dengan suami, lebih mempunyai waktu untuk mendidik, mengasuh, dan memberikan perhatian pada anak, serta memperkecil jam kerja produktif karena hamil atau melahirkan.

b. Untuk Suami

Sedangkan manfaat ber-KB bagi suami dapat membuat beban keluarga menjadi lebih ringan (beban pikiran, tanggung jawab, biaya), hubungan suami istri selalu terpenuhi, serta dapat memperhatikan dan mendidik anak menjadi lebih baik. c. Untuk Anak

Manfaat bagi anak yang orang tuanya ber-KB dapat memperoleh perhatian dan kasih sayang dari orang tua yang cukup, dan kesempatan pendidikan yang lebih baik serta kesehatannya.

d. Untuk Keluarga

Bagi keluarga sendiri manfaat KB diantaranya dapat memperkecil biaya santunan untuk melahirkan, bisa menabung, banyak waktu luang, bekerja lebih baik karena tidak banyak masalah, pendapatan bisa diatur untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, serta keluarga lebih sehat, sejahtera, dan bahagia.

(10)

2.7.2. Manfaat Khusus24

a. Untuk yang berumur dibawah 30 tahun dapat menciptakan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.

b. Untuk yang berumur diatas 30 tahun (jumlah anak lebih dari 4) menyelamatkan dari kematian karena resiko melahirkan.

Perencanaan keluarga yang baik akan mencegah bahaya yang berkaitan dengan kehamilan sebagai berikut :25

1) Terlalu muda. Wanita dibawah umur 17 tahun lebih sering mengalami kematian persalinan dan tubuh belum cukup matang untuk melahirkan. Bayi-bayi mereka lebih sering meninggal sebelum mencapai umur 1 tahun.

2) Terlalu tua. Wanita umur subur yang sudah tua akan mengalami bahaya, terutama bila mereka mempunyai masalah kesehatan lain atau sudah terlalu banyak melahirkan.

3) Terlalu dekat. Tubuh wanita memerlukan waktu untuk memulihkan tenaga dan kekuatan diantara kehamilan.

4) Terlalu banyak. Seorang wanita dengan anak lebih dari 4 akan lebih sering mengalami kematian karena perdarahan setelah persalinan dan penyebab lainnya.

(11)

2.8. Indikator Keluarga Berencana

Indikator KB yang umum dipakai adalah :26

1) Pernah Pakai KB (Ever Users) yaitu PUS yang pernah memakai alat/cara KB. 2) Angka Prevalensi Kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) yaitu angka

yang menunjukkan berapa banyaknya PUS yang sedang memakai kontrasepsi pada saat pencacahan dibandingkan dengan seluruh PUS.

3) Kontraseptif Mix yaitu banyaknya PUS yang memakai alat/cara KB tertentu per 100 pasangan umur subur (PUS).

2.9. Metode Kontrasepsi

Metode kontrasepsi adalah suatu cara yang digunakan untuk mencegah/menghindari terjadinya kehamilan. Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien, kerena masing-masing mempunyai kesesuaian dan kecocokan individual bagi setiap klien.3

Faktor yang mempengaruhi pemilihan suatu metode kontrasepsi adalah efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian dan efek samping, serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain hal tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta peran dari agama dan kultur budaya mengenai kontrasepsi tersebut. Faktor lainnya adalah frekuensi

(12)

bersenggama, kemudahan untuk kembali hamil lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari kontrasepsi tersebut di masa depan.3

Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi .dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap).22

Metode kontrasepsi dapat digunakan oleh pasangan umur subur secara rasional berdasarkan fase-fase kebutuhan seperti berikut ini :

Masa Menunda Kesuburan/Kehamilan27

Sebaiknya istri menunda kehamilan pertama sampai berumur 20 tahun.

1) Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan adalah kembalinya kesuburan yang tinggi/reversibilitas yang tinggi. Artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin hampir 100%. Hak ini penting karena pada masa ini akseptor belum mempunyai anak. Selain itu efektivitasnya juga tinggi. Artinya tingkat terjadinya kegagalan pada pemakaian alat kontrasepsi kecil. Hal ini penting karena kegagalan penggunaan alat kontrasepsi dapat menyebabkan kegagalan program dan akan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi.

2) Kontrasepsi yang cocok berdasarkan prioritas urutan kontrasepsi yang disarankan adalah Pil KB, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) , Cara sederhana, Implant/AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit), dan Suntikan .

3) Alasan : umur dibawah 20 tahun adalah umur sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan dan secara psikologis masih belum matang. Prioritas penggunaan kontrasepsi pil oral, karena reversibilitasnya tinggi. Sedangkan

(13)

penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda masih sering bersenggama (frekuensi tinggi), sehingga tingkat kegagalan tinggi. Penggunaan AKDR bagi yang belum mempunyai anak pada masa ini merupakan pilihan terakhir, terlebih bagi calon peserta dengan kontraindikasi terhadap pil oral.

Masa Mengatur Kesuburan/ Menjarangkan Kelahiran3

Umur terbaik bagi ibu untuk melahirkan adalah umur antara 20 – 35 tahun. 1) Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan adalah efektivitas dan reversibilitas cukup

tinggi karena akseptor masih mengharapkan punya anak lagi, dapat dipakai 3–4 tahun sesuai dengan jarak kelahiran yang direncanakan, dan tidak menghambat produksi ASI, karena ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun dan akan mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak.

2) Keluarga perlu mengadakan konsultasi ke tenaga kesehatan dalam memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan kondisi suami istri. Prioritas urutan penggunaan alat kontrasepsi yang disarankan menurut kondisi dan kebaikannya. Pada umur 20 tahun disarankan menggunakan AKDR, Suntikan KB, Pil Mini KB, Pil KB, Implant, dan cara sederhana. Sedangkan pada umur 35 tahun urutan prioritas kontrasepsi adalah AKDR, Suntikan KB, Pil Mini KB, Pil KB, Implant, cara sederhana, dan kontap.

3) Alasan : umur antara 20 – 35 tahun merupakan umur yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan. Segera setelah anak pertama lahir, maka dianjurkan untuk memakai AKDR sebagai pilihan utama. Kegagalan yang menyebabkan

(14)

kehamilan cukup tinggi, namun disini tidak/kurang berbahaya karena yang bersangkutan berada pada umur mengandung dan melahirkan yang baik.

Masa Mengakhiri Kesuburan/ Tidak Hamil Lagi3,21

Pada umumnya setelah keluarga mempunyai 2 anak dan umur istri telah melebihi 35 tahun sebaiknya tidak hamil lagi.

1) Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan berupa efektivitas sangat tinggi. Kegagalan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi dan akseptor tidak mengharapkan punya anak lagi. Dapat dipakai untuk jangka panjang, dan sebaiknya tidak dapat menambah kemungkinan terjadinya kelainan/penyakit. 2) Kontrasepsi yang cocok, urutan kontrasepsi yang disarankan antara lain

KONTAP, AKDR, Implant, Suntik KB, cara sederhana, dan Pil KB.

3) Hal ini dikarenakan ibu-ibu dengan umur diatas 35 tahun dianjurkan untuk tidak hamil/tidak punya anak lagi, karena alasan medis dan alasan lainnya. Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap. Susuk KB dan AKDR merupakan pilihan berikutnya apabila belum bersedia menggunakan kontap. Dalam kondisi darurat, maka kontap cocok dipakai dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB, AKDR maupun suntikan dalam arti mengakhiri kesuburan. Pil kurang dianjurkan karena umur ibu yang relatif tua mempunyai kemungkinan meningkatkan penyakit-penyakit yang sudah ada, kegagalan pemakaian tinggi, dan banyaknya efek samping dan kontraindikasi pemakaian estrogen pada umur yang relatif meningkat.

(15)

Ada beberapa pandangan yang membedakan jenis-jenis metode kontrasepsi sehingga para pengguna dan tenaga kesehatan dapat mengetahui kontrasepsi secara baik. Pengelompokan lain, adalah :

1) Cara alamiah, meliput i metode senggama terputus dan metode kalender. 2) Cara sederhana, terdiri dari penggunaan kondom, jelly, diafragma, spermisida. 3) Alat kontrasepsi hormonal, yakni: pil, suntikan dan implant.

4) Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD) yang dikenal dalam beberapa jenis desain, seperti spiral (lippes loop), Cu T, Cu 7, multiload.

5) Kontrasepsi mantap, yakni tubektomi untuk wanita dan vasektomi untuk laki-laki. Sering juga digunakan pengelompokan menjadi metode kontrasepsi sederhana, metode kontrasepsi efektif, dan metode kontrasepsi mantap.20

2.10. Pembagian Metode Kontrasepsi 2.10.1. Metode Kontrasepsi Sederhana

Metode kontrasepsi sederhana meliputi kondom, Coitus Interuptus, KB Alami (metode kalender, suhu basal, dan lender serviks), diafragma, dan kontrasepsi kimiawi/spermicide (tablet vagina, kream dan jelly, aerosol/busa, dan tissu vagina/intravag). Pada metode kontrasepsi sederhana akan dijelaskan mengenai kondom sebagai berikut.20

(16)

a. Kondom

Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada penis sebagai tempat penampungan cairan sperma yang dikeluarkan pria pada saat senggama sehingga tidak tercurah pada vagina. Bentuknya ada 2 macam, yaitu polos dan berputing. 20

Kondom cukup efektif bila digunakan secara tepat dan benar secara konsisten pada setiap kali berhubungan seksual. Secara ilmiah angka kegagalan kondom yaitu 2 – 12 per 100 perempuan per tahun.3 Tingkat keberhasilannya (efektifitas) 80 – 95%.24 a.1. Jenis/tipe Kondom20

1) Sebagian besar kondom terbuat dari karet lateks halus dan berbentuk silinder bulat, umumnya panjang 15 – 20 cm, tebal 0,03 – 0,08 mm, garis tengah sekitar 3,0 – 3,5 cm, dengan satu ujung buntu yang polos atau berpentil dan dipangkal yang terbuka bertepi bulat. Namun untuk sekarang telah tersedia dalam ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari standard.

2) Sebagai usaha untuk meningkatkan akseptabilitas, telah diperkenalkan variasi kondom yang berpelumas, mengandung spermatiside, berwarna, memiliki rasa, dan beraroma.

3) Tersedia kondom anti alergi, yang terbuat dari karet lateks dengan rendah residu dan tidak dipralubrikasi.

4) Kondom yang lebih tebal dan melebihi standard, dipasarkan terutama untuk hubungan intim per-anus pada pria homoseks untuk memberikan perlindungan tambahan terhadap penularan HIV/AIDS. Standard kondom dilihat dari ketebalannya. Pada umumnya standard ketebalannya adalah 0,02 mm.

(17)

a.2. Cara Kerja

Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi wanita. Selain itu, Kondom satu-satunya alat kontrasepsi yang mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu pasangan ke pasangan yang lain.20 a.3. Keuntungan

Keuntungan menggunakan kondom diantaranya murah, mudah didapat dan dapat dibeli secara umum, tidak ada persyaratan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan/tidak perlu resep dokter, tidak memerlukan pengawasan khusus dari tenaga kesehatan, mudah cara pemakaiannya dan dapat dipakai sendiri, serta tidak mengurangi kenikmatan bersenggama. 20

a.4. Kekurangan

Kekurangan dari penggunaan kondom diantaranya kurang praktis karena harus dipakai setiap kali akan melakukan hubungan seksual, harus selalu ada persediaan, sedikit mengganggu, selalu harus memakai kondom yang baru, kadang-kadang ada yang tidak tahan (alergi) terhadap karetnya, tingkat kegagalan cukup tinggi, dan dapat sobek bila memasukkannya tergesa-gesa.20

a.5. Indikasi

Semua pasangan usia subur yang ingin berhubungan seksual dan belum menginginkan kehamilan, dan pria yang ingin berpartisipasi dalam program KB.3

(18)

a.6. Kontraindikasi

Kondom tidak menunjukkan adanya kontraindikasi medis yang mutlak. Kontraindikasinya bila secara psikologis pasangan tidak dapat menerima kondom, Malformasi penis, salah satu dari pasangan alergi terhadap karet lateks, dan pasangan yang tingkat pendidikannya rendah.3

a.7. Efek Samping

Kecewa karena gagal/bocor dan alergi namun jarang terjadi. Hal ini dapat diatasi dengan mengganti kondom berkualitas yang lebih baik jika bocor, anjurkan cara pemakaian yang benar, dan ganti metode kontrasepsi yang lain.3

2.10.2. Metode Kontrasepsi Efektif

Metode Kontrasepsi Efektif adalah metode yang dalam penggunaannya mempunyai efektifitas atau tingkat kelangsungan pemakaian tinggi serta angka kegagalan rendah bila dibandingkan dengan metode kontrasepsi sederhana. Metode ini terdiri dari pil KB, suntik KB, AKBK, dan AKDR.20

a. Pil KB

Pil KB adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet di dalam strip yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron atau yang hanya terdiri dari hormon progesterone saja. Efektifitas pemakaian pil sangat tinggi tetapi ini tergantung pada disiplin pemakai. Kegagalan teoritis lebih dari 0,35%, tetapi dalam praktek berkisar 1-8% untuk pil kombinasi, 3-10% untuk mini pil.20

(19)

a.1. Jenis Pil KB20

1) Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

2) Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

3) Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

a.2. Jenis Tablet Menurut Dosis20

1) Tablet dosis tinggi (High Dose) : Berisi 50 mcg

High Dose adalah tablet yang mengandung estrogen 50-150mcg dan progesteron 1-10 mg. Yang termasuk jenis ini adalah Tablet KB Noriday (dari Population Council) dan Tablet KB Ovostat (PT Organon).

2) Pil dosis rendah (Low Dose) : Berisi 30 mcg

Low Dose adalah pil yang mengandung 30-50 mcg estrogen dan kurang dari 1 mg progesteron. Yang termasuk jenis ini adalah Pil KB Microgynon 30 (PT Schering) atau kimia farma Lisensi Schering dan Pil KB Marvelon (PT Organon).

3) Pil Mini

Pil Mini adalah pil yang mengandung hormon progesteron kurang dari 1 mg. Yang termasuk jenis ini adalah Pil KB Exluton.

(20)

a.3. Jumlah Tablet

Jumlah tablet pada setiap strip bervariasi, yaitu 28 tablet dan 21 tablet. Pada strip yang berisi 28 tablet terdiri dari 21 tablet yang mengandung hormon estrogen dan progesteron, serta 7 tablet yang mengandung vitamin. Pada strip yang berisi 21 tablet, kesemuanya mengandung hormon estrogen dan progesteron.20

a.4. Cara Kerja Pil Kontrasepsi24

1) Menekan ovulasi yang akan mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur. 2) Mengendalikan lendir mulut rahim menjadi lebih kental sehingga sperma sukar

dapat masuk ke dalam rahim. 3) Menipiskan lapisan endometrium. a.5. Keuntungan

Keuntungan penggunaan pil KB adalah reversibilitasnya tinggi, mudah menggunakannya, mengurangi rasa sakit pada waktu menstruasi, mencegah anemia defisiensi zat besi, mengurangi kemungkinan infeksi panggul dan kehamilan ektopik, mengurangi resiko kanker ovarium, cocok sekali digunakan untuk menunda kehamilan pertama dari PUS muda, tidak mempengaruhi produksi ASI pada pil yang mengandung progesteron antara lain exluton/mini pil, dan tidak mengganggu hubungan seksual.3

a.6. Kekurangan

Disamping keuntungan yang ada, pil mempunyai beberapa kekurangan antara lain memerlukan disiplin dari pemakai, harga pil relatif lebih mahal, dapat mengurangi ASI pada pil yang mengandung estrogen, dapat meningkatkan resiko infeksi klamidia, nyeri payudara, amenorea, kenaikan berat badan, perubahan emosi,

(21)

berhenti haid, mual, dapat meningkatkan tekanan darah, dan tidak dianjurkan pada wanita yang berumur diatas 30 tahun karena akan mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh.24

a.7. Indikasi

Indikasi penggunaan pil adalah siklus haid tidak teratur, umur subur, telah mempunyai anak atau yang belum mempunyai anak, anemia karena haid yang berlebihan, nyeri haid yang hebat, wanita yang menginginkan kontrasepsi oral dengan keefektifan yang tinggi, riwayat hamil ektopik dan riwayat keluarga yang menderita kanker ovarium.3

a.8. Kontraindikasi

Adapun kontraindikasi pil adalah menyusui kecuali pil mini, pernah sakit jantung, tumor/keganasan, kelainan jantung, varises dan darah tinggi/hipertensi (> 160/90 mmHg), perdarahan pervagina, migraine, penyakit Hepatitis, wanita yang berumur > 40 tahun, dan perokok berat (> 15 batang per hari) yang berumur > 35 tahun.28

a.9. Efek Samping

Adapun efek samping yang dirasakan berupa perdarahan pervagina/Spotting, tekanan darah meningkat, perubahan berat badan, kloasmatromboemboli, air susu berkurang, rambut rontok, varises, perubahan libido, depresi, pusing dan sakit kepala.28

(22)

b. Suntikan KB20

Terdapat dua jenis kontrasepsi hormon suntikan KB. Jenis yang beredar di Indonesia adalah :

1) Yang hanya mengandung hormon progesteron yaitu Depo Provero 150 mg, Depo Progestin 150 mg, Depo Geston 150 mg, dan Noristerat 200 mg.

2) Yang mengandung 25 mg Medroxy progesteron acetat dan 5 mg estradiol cypionate yaitu Cyclofem.

Efektifitas suntik KB sangat tinggi, kegagalan kurang dari 1%. b.1. Cara Kerja Suntik KB20

1) Mencegah lepasnya sel telur dari indung telur wanita.

2) Mengentalkan lendir mulut rahim sehingga menghambat spermatozoa (sel mani) masuk ke dalam rahim.

3) Menipiskan endometrium sehingga tidak siap untuk kehamilan. 4) Kecepatan transport ovum melalui tuba berubah.

b.2. Keuntungan

Keuntungan penggunaan suntik KB adalah praktis, efektif dan aman, jangka panjang, tidak mempengaruhi ASI, cocok digunakan untuk ibu menyusui, dapat menurunkan kemungkinan anemia, resiko terhadap kesehatan kecil, tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak diperlukan pemeriksaan dalam, efek samping sangat kecil, dan klien tidak perlu menyimpan obat suntik.28

b.3. Kekurangan

Beberapa kekurangan pada KB suntik adalah sering menimbulkan perdarahan yang tidak teratur (spotting, breakthrough bleeding), dapat menimbulkan

(23)

amenorea, ketidakpraktisannya, karena harus melalui suntikan sehingga kemungkinan tertular penyakit lain seperti Hepatitis B dan HIV ada, dan gangguan perdarahan.28

b.4. Indikasi

KB suntik cocok dipergunakan pada ibu-ibu yang baru saja bersalin dan menyusukan anak, ibu-ibu yang sudah cukup mempunyai anak, dan tidak dianjurkan untuk ibu-ibu yang belum mempunyai anak atau baru mempunyai 1 anak.28

b.5. Kontraindikasi

Kontraindikasi pemakaian KB suntik antara lain tersangka hamil, perdarahan akibat kelainan ginekologi yang tidak diketahui penyebabnya, adanya tanda-tanda tumor/keganasan, dan adanya riwayat penyakit jantung, hati, tekanan darah tinggi, kencing manis (penyakit metabolisme), paru berat.28

b.6. Efek Samping

Adapun efek samping yang dirasakan akseptor KB suntik adalah gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan libido, perubahan berat badan, sakit kepala, hematoma, serta infeksi dan abses (karena jarum suntik yang tidak bersih dari hama/ steril.20

c. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK/IMPLANT)

Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) atau Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan di bawah kulit. Preparat yang terdapat saat ini adalah implant dengan nama dagang “NORPLANT”. Di Indonesia, implant diperkenalkan dengan nama KB susuk.20

(24)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah pemasangan implant terdapat peningkatan kadar Levonorgestrel (LNG) pada darah tepi dengan cepat, mencapai 3,0 – 4,5 nmol/L setelah 24 jam, suatu kadar progestin yang mampu menekan ovulasi. Angka kegagalan kumulatif dalam tahun pertama kurang dari 1 per 100 wanita dan tetap rendah sampai 5 tahun, yakni kira-kira 3 per 100 wanita.20

c.1. Jenis20

1) Norplant. Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.

2) Implanon. Terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.

3) Jadena dan Indoplant. Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun . Keuntungan utama dari Jadena ada;lah pemasangannya lebih mudah dibandingkan Norplant.

c.2. Cara Kerja28

1) Membuat lendir serviks lebih kental sehingga mengganggu penetrasi spermatozoa untuk masuk lebih dalam lagi.

2) Mengganggu motilitas tuba sehingga transport sperma mau pun telur terganggu. 3) Mengganggu kapasitasi spermatozoa sehingga kemampuan membuahi menurun. 4) Mengganggu pemasakan endometrium sehingga mengganggu implantasi telur

(25)

5) Mengganggu keseimbangan hormon estrogen, progesterone, dan gonadotropin, sehingga menghambat ovulasi.

c.3. Keuntungan

Keuntungan pemakaian implant adalah tidak menekan produksi ASI/ tidak mengganggu laktasi, praktis, efektif, tidak ada faktor lupa, masa pakai jangka panjang (5 tahun), membantu mencegah anemia, khasiat kontrasepsi susuk berakhir segera setelah pengangkatan implant (reversibilitasnya tinggi), pemasangannya relatif mudah, keefektifannya yang sangat tinggi (one year pregnancy rate-nya 0,2 – 0,5 per 100 wanita) sehingga continuation rate-nya tinggi, dengan cepat dapat menekan ovulasi, tidak mengganggu hubungan seks, dan tidak memberikan efek samping estrogen.28

c.4. Kekurangan

Kerugiannya adalah implant harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih, lebih mahal dari pada pil KB atau suntikan dan cara KB jangka pendek lainnya, sering mengubah pola haid, wanita tidak dapat menghentikan pemakaiannya sendiri, beberapa wanita mungkin enggan menggunakan cara yang belum dikenalnya, susuk mungkin dapat terlihat dibawah kulit.3

c.5. Indikasi

Implant diberikan kepada wanita-wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama tetapi tidak bersedia menjalani kontap atau menggunakan AKDR, dan wanita-wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen.3

(26)

c.6. Kontraindikasi

Kontraindikasi pemakaian implant adalah hamil atau disangka hamil, penderita penyakit hati, penyakit jantung (kelainan kardiovaskuler), kelainan haid, darah tinggi, diabetes melitus, perdarahan melalui vagina yang tidak diketahui sebabnya, tumor/keganasan, kanker payudara, kelainan jiwa (psikosis, neurosis), varikosis, dan riwayat kehamilan ektopik.29

c.7. Waktu Pemasangan dan Pengangkatan/Ekstraksi

Waktu yang paling baik untuk pemasangan Norplant adalah sewaktu haid berlangsung atau masa pra-ovulasi dari siklus haid sehingga adanya kehamilan dapat disingkirkan. Keenam kapsul yang masing-masing mengandung 36 mg levonorgestrel ditanamkan pada lengan kiri atas (atau lengan kanan atas akseptor yang kidal) lebih kurang 6 – 10 cm dari lipatan siku.28

Pengangkatan implant dilakukan atas indikasi merupakan permintaan akseptor (umpama ingin hamil lagi), timbulnya efek samping yang sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan biasa, sudah habis masa pakainya, dan terjadi kehamilan.28

c.8. Efek Samping

Adapun efek samping yang dirasakan pada penggunaan kontrasepsi Implant dapat berupa gangguan haid (amenorrhea dan methrorhagie), depresi, keputihan, mual-mual, anoreksi, sakit kepala, jerawat, perubahan libido, perubahan berat badan, hematoma, dan infeksi.29

(27)

d. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim/Intra Uterine Device (AKDR/IUD)

IUD (Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyethylene). Bentuk yang umum dan mungkin banyak dikenal oleh masyarakat adalah bentuk spiral. Sebelum dipasang, kesehatan ibu harus diperiksa dahulu untuk memastikan kecocokannya (Subrata, 2000:33).30

AKDR bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi yang terbaik. Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil (Maryani, 2002).30 Sebagai kontrasepsi, AKDR tipe T efektifitasnya sangat tinggi yaitu berkisar antara 0,6 – 0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan). Sedangkan AKDR dengan progesteron antara 0,5 – 1 kehamilan per 100 perempuan pada tahun pertama penggunaan.20

d.1. Jenis-jenis IUD di Indonesia31

1) Copper-T adalah IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene dimana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang baru ini melepaskan lenovorgestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal 5 tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.

2) Copper-7 adalah IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan

(28)

ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.

3) Multi Load adalah IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.

4) Lippes Loop adalah IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis ini (Askep kesehatan, 2008).

d.2. Cara Kerja IUD30

1) Menghambat kemampuan sperma masuk ke tuba falopi.

(29)

3) IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

Tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam usaha meningkatkan penggunaan dan memperbaiki kerja IUD adalah waktu/saat pemasangan, teknik khusus yang digunakan untuk mendapat keyakinan bahwa letak IUD sudah benar dalam uterus, dan peranan tenaga paramedik.

d.3. Keuntungan

Keuntungan penggunaan IUD diantaranya karena praktis, ekonomis, mudah dikontrol, aman untuk jangka panjang, dan kembalinya masa kesuburan cukup tinggi, efektifitasnya tinggi, IUD (AKDR) dapat efektif segera setelah pemasangan, metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti), tidak mempengaruhi hubungan seksual, meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil, tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A), tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI, dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi), dapat digunakan sampai menopause (1 tahun lebih setelah haid terakhir), tidak ada interaksi dengan obat-obat, dan membantu mencegah kehamilan ektopik.3,32

d.4. Kekurangan

Salah satu kekurangan IUD adalah tidak mencegah IMS termasuk HIV / AIDS. Selain itu, rasa takut selama pemasangan, sedikit nyeri dan perdarahan/spotting terjadi segera setelah pemasangan, klien tidak dapat melepas

(30)

IUD sendiri, mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui, tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik, perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.3,32

d.5. Indikasi

IUD merupakan cara KB efektif terpilih yang sangat diprioritaskan pemakaiannya pada ibu dalam fase menjarangkan kehamilan dan mengakhiri kesuburan serta menunda kehamilan. Selain itu IUD juga diberikan kepada wanita yang menginginkan kontrasepsi efektif yang berjangka panjang tetapi belum menginginkan atau masih takut menggunakan metode sterilisasi, wanita yang tidak ingin repot minum pil setiap hari atau mempunyai kontraindikasi pil, wanita yang sedang menyusui, dan wanita di atas 35 tahun apalagi perokok.27

d.6. Kontraindikasi

Terdapat sekelompok wanita yang tidak diperkenankan memakai IUD karena mempunyai kelainan atau penyakit yang menjadi kontraindikasi untuk pemasangan alat kontrasepsi IUD yaitu perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya, tumor kandung, tersangka hamil, radang panggul akut, riwayat kehamilan ektopik, anemia berat, metroragia, riwayat radang panggul, dan kelainan bawaan rahim.29,30

d.7. Efek Samping

Efek samping yang umum terjadi berupa perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan (spotting) antarmenstruasi, keputihan dan rasa nyeri di perut, serta saat haid lebih sakit, ekspulsi , infeksi dan translokasi.24

(31)

Selain itu juga bisa terjadi komplikasi lain seperti merasakan sakit dan kejang selama 3 – 5 hari setelah pemasangan, perdarahan pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia, dan perforasi dinding uterus.28 d.8. Pemasangan IUD

Prinsip pemasangan IUD adalah menempatkan IUD setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Pada dasarnya IUD dapat dipasang setiap saat dengan syarat tidak ada kontraindikasi pemasangan. IUD dapat dipasang dalam keadaan berikut ketika haid sedang berlangsung, yakni pada hari-hari pertama atau pada hari terakhir haid, sewaktu postpartum, sewaktu postabortum, dan beberapa hari setelah haid terakhir.28

Setelah pemasangan dilakukan pemeriksaan ulang/lanjutan. Pemeriksaan dilakukan 1 minggu sesudah pemasangan. Pemeriksaan kedua 3 bulan kemudian dan selanjutnya tiap 6 bulan.29

2.10.3. Metode Kontrasepsi Mantap (KONTAP)

Kontrasepsi mantap adalah salah satu cara kontrasepsi dengan tindakan pembedahan atau dengan kata lain setiap tindakan pembedahan pada tuba Falloppii wanita atau vas deferens pada pria yang mengakibatkan pasangan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi. Kontap disebut juga sterilisasi. Sterilisasi pada wanita disebut dengan tubektomi (MOW/medis operatif wanita) sedangkan para pria dikenal dengan vasektomi (MOP/medis operatif pria).20

(32)

Kontap dilakukan bila pasangan sudah tidak menginginkan keturunan karena merasa anaknya sudah cukup atau bila dengan alat kontrasepsi lain tidak cocok. Kontap merupakan pilihan terakhir dan peserta kontap harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Persyaratan umum untuk menjadi akseptor kontap adalah sukarela, bahagia, dan sehat.20

Beberapa pertimbangan untuk menerima sterilisasi diantaranya:33

1) Pertimbangan-pertimbangan medis yakni membebaskan orang tua dari kekhawatiran kehamilan dan menyelamatkan hidup ibu yang mempunyai kontraindikasi kehamilan

2) Pertimbangan-pertimbangan sosial diantaranya mencegah peledakan penduduk, mencegah pengaruh dari peledakan penduduk seperti kelaparan, wabah, dan membantu bagi orang-orang tua yang mempunyai kesulitan ekonomi.

3) Pertimbangan-pertimbangan pribadi untuk menghilangkan kekhawatiran mempunyai atau melahirkan anak-anak cacad bawaan, atau kurang cerdas, mengatasi masalah ketidakmampuan memelihara keluarga besar, memenuhi keinginan untuk tidak mempunyai anak lagi, mengatasi gangguan terhadap hubungan perkawinan yang disebabkan ketakutan terhadap kehamilan, dan mengatasi masalah kurang efektifnya atau kurang menyenangkannya metode-metode keluarga berencana lainnya.

(33)

a. Tubektomi/ MOW

Tubektomi adalah suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara tindakan mengikat dan atau memotong pada kedua saluran tuba. Dengan demikian maka ovum yang matang tidak akan bertemu dengan sperma karena adanya hambatan pada tuba. Tekniknya beraneka ragam seperti Tubektomi lapraskopik, kuldoskopik, kolpotomi posterior dan minilaparatomi. Tubektomi minilaparatomi labih dikenal dengan sterilisasi minilap karena sayatannya di dinding perut kecil (mini) yaitu kira-kira 2,5 cm.20

Cara kerjanya dengan menghambat perjalanan sel telur wanita sehingga tidak dapat dibuahi sel sperma. Tingkat keberhasilannya hampir 100%.26 Angka kegagalannya hanya 0,2 – 0,4 per 100 wanita per tahun. Kegagalan dapat terjadi karena tiga hal yaitu kehamilan luteal, kesalahan teknis, dan terjadi rekanalisasi tuba.28

a.1. Waktu Pelaksanaan Tubektomi20

Tubektomi dapat dilakukan kapan saja asalkan wanita tersebut tidak hamil. Tubektomi dapat dilakukan pada keadaan:

1) Pasca persalinan, sebaiknya dalam jangka waktu 48 jam pasca persalinan.

2) Pasca keguguran, dapat dilakukan pada hari yang sama dengan evakuasi rahim atau keesokan harinya.

3) Dalam masa interval (keadaan tidak hamil), sebaiknya dilakukan dalam 2 minggu pertama dari siklus haid atau pun setelahnya, seandainya calon akseptor menggunakan salah satu cara kontrasepsi dalam siklus tersebut.

(34)

a.2. Keuntungan Tubektomi

Keuntungan tubektomi adalah efektifitas langsung setelah sterilisasi, permanen, tidak ada efek samping jangka panjang, tekniknya mudah sehingga dapat dilakukan oleh dokter umum, perlengkapan dan peralatan bedah sederhana, dapat dilakukan di RS kecil atau di Puskesmas, dapat dilakukan dengan anestesi lokal, luka pembedahan dapat diperlebar jika diperlukan, kegagalan teknik sangat rendah dan keberhasilan hampir 100% (mencegah kehamilan 0,1/100 wanita per tahun), waktu pembedahan singkat, dan biaya relatif murah, prosedur dapat dilakukan tanpa dirawat, masa penyembuhan pasca bedah singkat, dan tidak mengganggu hubungan seksual.20,24

a.3. Kekurangan Tubektomi

Beberapa kekurangan tubektomi berupa resiko dan efek samping bedah tetap ada, bersifat permanen, dan tidak terlindung dari penyakit menular seksual.24

a.4. Indikasi Tubektomi

Seminar Kuldoskopi Indonesia pertama di Jakarta (18 – 19 desember 1972) menyimpulkan sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita yang memenuhi syarat-syarat berikut : 27

1) Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup 2) Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup 3) Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup

Pada konferensi khusus Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia di Medan (3 – 5 Juni 1976) dianjurkan pada umur antara 25 – 40 tahun, dengan jumlah anak sebagai berikut : 27

(35)

1) Umur antara 25 – 30 tahun dengan 3 anak atau lebih 2) Umur antara 30 – 35 tahun dengan 2 anak atau lebih 3) Umur antara 35 – 40 tahun dengan 1 anak atau lebih

Umur suami hendaknya sekurang-kurangnya 30 tahun, kecuali apabila jumlah anak telah melebihi jumlah yang diinginkan oleh pasangan tersebut.27

Di bagian Obstetri/Ginekologi Fakultas Kedokteran USU/ RSUPP Medan, berhubungan dengan tingginya angka kematian perinatal dan bayi, serta pentingnya anak lelaki bagi beberapa suku di Sumatera Utara, digunakan rumus 120 yang disesuaikan dengan persyaratan sterilisasi sukarela. Dengan ini syarat untuk sterilisasi adalah umur wanita × jumlah anak hidup dengan paling sedikit 1 anak laki-laki, harus tidak kurang dari 120, dengan umur wanita terendah 25 tahun. Namun, rumus 120 tersebut dewasa ini tidak begitu dipegang teguh lagi sehubungan dengan beratnya tekanan pertumbuhan penduduk.33

a.5. Kontraindikasi Tubektomi

Kontraindikasi tubektomi adalah penyakit jantung, penyakit paru-paru, turunnya rongga dada (Hernia Diagfragmatika), turunnya tali pusar (Hernia Umbilikalis), dan radang akut selaput perut (Peritonitis Akut).24

b. Vasektomi/ MOP

Vasektomi adalah operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong vas defferens sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama. Bekas operasi hanya berupa satu luka kecil

(36)

ditengah atau diantara kiri dan kanan kantong zakar. Vasektomi tidak sama dengan kebiri atau kastrasi yang mengangkat buah pelir (testis).20

Cara kerjanya dengan menghalangi transport (jalannya) spermatozoa (sel sperma) sehingga tidak dapat membuahi sel telur.22

b.1. Keuntungan Vasektomi

Keuntungan dari vasektomi yaitu tidak ada mortalitas, morbiditas kecil sekali, pasien tidak perlu dirawat di RS, dilakukan dengan anestesi lokal/ pembiusan setempat dan hanya berlangsung ± 15 menit, tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental, tidak mengganggu libido seksualitas, sifatnya permanen dan tidak ada resiko kesehatan, efektif, karena dapat dicek kepastiannya di laboratorium, tidak mengganggu hubungan seks selanjutnya, operasi kecil ini tidak membutuhkan biaya besar, cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,3/100 wanita per tahun.25

b.2. Kekurangan Vasektomi

Kekurangan dari vasektomi yakni harus dengan tindakan pembedahan, masih adanya keluhan seperti kemungkinan perdarahan dan infeksi, harus menunggu sampai hasil pemeriksaan sperma 0 dalam beberapa hari atau minggu untuk dapat berhubungan dengan bebas agar tidak terjadi kehamilan, bersifat permanen, tidak terlindung dari penyakit menular seksual, tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai anak lagi.22

b.3. Indikasi Vasektomi

Adapun indikasi dilakukannya vasektomi adalah harus secara sukarela, mendapat persetujuan istri, jumlah anak yang cukup, mengetahui akibat-akibat vasektomi, umur calon akseptor tidak kurang dari 30 tahun, dan pasangan suami istri

(37)

telah mempunyai anak minimal 2 orang, dan anak paling kecil harus sudah berumur diatas 2 tahun.20

b.4. Kontraindikasi Vasektomi

Adapun kontraindikasi vasektomi diantaranya adalah apabila ada peradangan kulit atau penyakit jamur didaerah skrotum, ada tanda-tanda orchitis/ Epididimis, menderita DM yang tidak terkontrol, dan menderita kelainan pembekuan darah.25 b.5. Vasektomi dianggap gagal bila28

1) Pada analisa sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi atau 10 – 15 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa

2) Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azosperma 3) Istri (pasangan) hamil

f. Efek Samping Vasektomi

Efek samping setelah dilakukan vasektomi dapat berupa timbul rasa nyeri, abses pada bekas luka, dan pembengkakan kantung biji zakar karena perdarahan (Hematoma).28

2.11. Tempat Pelayanan Kontrasepsi

Tempat pelayanan KB adalah tempat dimana peserta/akseptor KB memperoleh pelayanan alat kontrasepsi yang digunakannya. Peserta KB dapat memperoleh pelayanan kontrasepsi di klinik/rumah sakit pemerintah maupun di klinik/rumah sakit swasta. Ada juga yang dapat diperoleh di apotik.1

Klinik KB adalah tempat/lokasi yang secara tetap memberikan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat/PUS, dari yang sifat pelayanannya

(38)

sederhana seperti di Puskesmas/Puskesmas Pembantu, sampai pada yang sangat canggih pelayanannya (paripurna) seperti di rumah sakit. Berdasarkan status pemilikan atau pengelolaannya, klinik KB dibedakan atas 2 macam yaitu :2

1) Klinik KB Pemerintah adalah klinik KB yang dikelola dan dibiayai oleh pemerintah, seperti Puskesmas, rumah sakit pemerintah, klinik KB milik TNI/POLRI, dan klinik KB milik instansi pemerintah lainnya.

2) Klinik KB Swasta adalah klinik KB yang dikelola dan dibiayai oleh swasta atau LSOM, seperti praktek bidan/dokter, klinik KB perusahaan, klinik KB IBI, dan klinik KB swasta lainnya.

Alat kontrasepsi kondom dan pil KB dapat diperoleh di apotik, RS, Klinik KB, Puskesmas, Tim Keluarga Berencana Keliling (TKBK), Pos Alat Keluarga Berencana Desa (PAKBD), Pembantu Petugas Keluarga Berencana Desa (PPKBD), dokter, dan bidan swasta.34

Suntik KB, Implant/AKBK, dan IUD/AKDR dapat diperoleh/dilakukan di rumah sakit, klinik, puskesmas, praktek dokter dan bidan swasta. Sedangkan kontap seperti tubektomi hanya dapat dilakukan di rumah sakit dan puskesmas atau klinik KB yang memiliki tenaga terlatih untuk melakukan tubektomi/MOW.34

2.12. Keluarga Sejahtera

Berdasarkan UU No.10 tahun 1992 ditetapkan bahwa gerakan KB berkembang menjadi gerakan keluarga sejahtera. Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki

(39)

hubungan yang sama, selaras, seimbang antar anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.35

Tingkatan Keluarga Sejahtera (KS) adalah suatu tingkatan yang menyatakan kesejahteraan suatu keluarga. Dilihat dari segi tahapan pencapaian tingkat kesejahteraan, maka keluarga dikelompokkan atas 5 tahap (BKKBN, 1999) yaitu :35 1) Keluarga Prasejahtera (Pra-S) yakni keluarga yang belum dapat memenuhi

kebutuhan dasar secara minimal seperti pengajaran, agama, sandang, pangan, papan, dan kesehatan.

2) Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I) adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal (sesuai kebutuhan dasar pada keluarga pra sejahtera) tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan social psikologis keluarga seperti pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan.

3) Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II) adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan psikologis tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan perkembangan (menabung dan memperoleh informasi).

4) Keluarga Sejahtera Tahap III (KS III) adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan pada tahapan keluarga I dan II namun belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) maksimal terhadap masyarakat dan berperan secara aktif dalam masyarakat.

5) Keluarga Sejahtera Tahap III Plus (KS III+) adalah keluarga yang dapat memenuhi semua kebutuhan keluaga pada tahapan I sampai dengan III.

(40)

2.13. Epidemiologi Alat Kontrasepsi 2.13.1. Distribusi Alat Kontrasepsi

Peserta KB di Indonesia masih didominasi oleh perempuan. Pemerintah dengan berbagai sumber daya yang ada telah berupaya untuk meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB. Namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Dalam RPJMN 2004-2009 kesertaaan pria ber KB ditargetkan sebesar 4,5%. Hasil SDKI 2007 menunjukkan kesertaan pria baru mencapai 1,5%.36

Berdasarkan Mini Survei Pemantauan PUS tahun 2005, persentase peserta KB aktif terhadap PUS menurut kelompok umur wanita, yang tertinggi pada kelompok umur 30-34 tahun (71,0%) dan 35-39 tahun (71,0%), dan terendah kelompok umur ≤ 19 tahun (41,0%).37

Berdasarkan Susenas tahun 2007, persentase peserta KB aktif terhadap PUS (all method) menurut provinsi di Indonesia sebesar 66,0%. Persentase tinggi dicapai oleh Bali (78,0%), Bengkulu (78,0%), Jawa Timur (74,0%), dan Jawa Barat (74,0%). Sedangkan persentase rendah ditempati oleh Papua (39,0%), Maluku (47,0%), dan Nusa Tenggara Timur (48,0%). 37

Berdasarkan Pemantauan PUS melalui Mini Survei 2008, persentase berdasarkan semua cara kontrasepsi tertinggi dicapai oleh Provinsi Bengkulu (77,5%) dengan semua cara modern sebesar 77,3%. Alat kontrasepsi yang banyak digunakan suntikan (46,9%), pil (17,0%), implant (7,0%), IUD (3,8%), MOW (1,6%), kondom (0,6%), dan MOP (0,2%). Sedangkan persentase terendah adalah Provinsi Papua (35,4%) untuk semua cara kontrasepsi. Alat kontrasepsi yang banyak digunakan

(41)

adalah suntik (21,4%), pil (8,5%), implant (2,9%), MOW (2,1%), MOP (0,3%), IUD (0,1%), dan kondom (0,1%).16

Berdasarkan Mini survey 2008, alat kontrasepsi yang banyak digunakan di Indonesia adalah suntik KB (36,4%), dengan persentase suntik KB tertinggi di Provinsi Banten (47,6%) dan terendah di Provinsi Papua Barat (19,9%). Kemudian pil (17,9%), dengan persentase tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (35,8%) dan terendah di Provinsi Bali (7,4%). Penggunaan IUD (5,1%), dengan persentase tertinggi di Provinsi Bali (31,8%) dan terendah di Provinsi Papua (0,1%). Pemakaian Implant di Indonesia (3,7%) dengan persentase tertinggi di Provinsi Gorontalo (10,4%) dan terendah di Provinsi NAD (0,6%).16

Pemakaian alat kontrasepsi MOW di Indonesia tahun 2008 sebesar 2,1%, dengan persentase tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (4,3%) dan Sumatera Utara (4,3%) dan terendah di Provinsi Bali (0,1%). Sedangkan kondom (0,7%), dengan persentase tertinggi di DI Yogyakarta (2,4%) dan terendah di Provinsi Maluku Utara (0,1%). Penggunaan alat kontrasepsi terendah tahun 2008 di Indonesia adalah kontrasepsi MOP hanya 0,2%, dengan persentase tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (0,6%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Barat (0,0%).16

(42)

2.13.2. Determinan Alat Kontrasepsi a. Faktor Host

a.1. Umur

Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan. (Depdiknakes, 2002). Umur yang dimaksud disini adalah umur akseptor KB. Umur mempengaruhi akseptor dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dari faktor-faktor umur dapat ditentukan fase-fase penggunaan alat kontrasepsi yang ideal. Umur kurang 20 tahun merupakan fase-fase menunda kehamilan, umur antara 20-35 tahun adalah fase menjarangkan kehamilan, dan umur antara 35 tahun lebih merupakan fase mengakhiri kehamilan. 20

Berdasarkan Mini Survei Pemantauan PUS tahun 2007, persentase peserta KB aktif terhadap PUS menurut kelompok umur wanita, kelompok umur ≤ 19 tahun (42,0%), 20-24 tahun (57,0%), 25-29 tahun (64,0%), 30-34 tahun (69,0%), 35-39 tahun (72,0%), 40-44 tahun (69,0%), dan 45-49 tahun (58,0%). 38

Penelitian-penelitian terdahulu sudah banyak mengungkapkan tentang adanya hubungan umur dengan penggunaan kontrasepsi. Dari penelitian yang dilakukan di Kecamatan Cipayung Jakarta Timur, Jatipura (1994:552) melaporkan ada hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan penggunaan kontrasepsi. Mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda. 38

a.2. Jenis Kelamin

Indonesia telah mulai melaksanakan pembangunan yang beorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender dalam hal KB. Namun demikian, partisipasi pria

(43)

dalam ber-KB masih sangat rendah yaitu sekitar 1,3 persen (SDKI 2002-2003). Hal ini selain disebabkan oleh keterbatasan macam dan jenis alat kontrasepsi laki-laki, juga oleh keterbatasan pengetahuan mereka akan hak-hak dan kesehatan reproduksi serta kesetaraan dan keadilan gender. Demikian pula, penyelenggaraan KB dan kesehatan reproduksi masih belum mantap dalam memperhatikan aspek kesetaraan dan keadilan gender. 10

Program keluarga berencana dirancang berwawasan gender, artinya alat kontrasepsi disediakan untuk perempuan maupun laki-laki. Namun dalam pelaksanaannya pada tahun 1994 partisipasi perempuan secara nasional jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki yakni sebesar 52,1% dengan segala metode, sedangkan laki-laki sebesar 0,9 % dengan metode kondom dan 0,7 % vasektomi.36 a.3. Pendidikan

Pendidikan menunjukkan hubungan yang positif dengan pemakaian jenis kontrasepsi. Artinya semakin tinggi pendidikan cenderung memakai kontrasepsi efektif. Hal itu dikarenakan pendidikan dapat memperluas pengetahuan mengenai alat kontrasepsi, mengetahui keuntungan yang diperoleh dengan memakai alat kontrasepsi, meningkatkan kecermatan dalam memilih alat kontrasepsi yang dibutuhkan dan juga kemampuan untuk mengetahui akibat sampingan masing-masing alat kontrasepsi. 39

Meningkatnya partisipasi wanita dalam pendidikan akan mengurangi jumlah anak yang dilahirkan. Hal ini terutama disebabkan oleh meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab dalam hidup berumah tangga. Di samping itu meluasnya kesempatan untuk mengikuti pendidikan akan menyebabkan

(44)

penundaan umur perkawinan pertama serta besar pengaruhnya dalam upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas penduduk. 12

b. Environment

b.1. Jumlah Anak

Jumlah anak adalah banyaknya anak yang dilahirkan dan masih hidup. Dalam hal ini erat kaitannya dengan paritas. Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang diteliti seseorang wanita (Kamus Besar Indonesia 1990). Berdasarkan pengertian tersebut maka paritas mempengaruhi pemilihan jenis alat kontrasepsi. Hal ini dikarenakan akseptor yang mempunyai anak lebih dari empat cenderung mengalami resiko tinggi persalinan. Apabila terjadi kehamilan tersebut digolongkan dalam kehamilan resiko tinggi. 12

Berdasarkan hasil penelitian Mutiara (1998) di Wilayah Indonesia Timur dengan desain Cross Sectional yang memperoeh hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak masih hidup dengan penggunaan kontrasepsi. Responden yang memiliki anak 2 orang atau lebih memiliki kemungkinan sebesar 2,42 kali untuk menggunakan salah satu cara kontrasepsi dibandingkan dengan yang tidak memiliki anak atau baru memiliki 1 anak (p = 0,000 ; 95% CI = 2,08 – 2,82). 40

b.2. Ekonomi

Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa menghasilkan uang. Salah satunya dengan bekerja. Ekonomi juga cakupan urusan keuangan rumah tangga (Depdiknas, 2002). Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal

(45)

ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan.12 Faktor-faktor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi, pekerjaan, dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. 27

b.3. Pelayanan Keluarga Berencana

Saat ini belum semua fasilitas pelayanan kesehatan primer dapat melayani KB dan kesehatan reproduksi. Sesuai dengan kesepakatan internasional, ICPD (International Conference on Population and Development) 1994, pada tahun 2015, semua pelayanan kesehatan primer harus dapat melayani KB. Di samping itu, masih banyak pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi yang kurang efektif dan efisien untuk jangka panjang. 29

Berdasarkan mini survey tahun 2007, tempat memperoleh pelayanan KB tertinggi adalah klinik swasta (46,5%), sedangkan di klinik pemerintah (44,7%).10

b.4. Keluarga Sejahtera

Kondisi lemahnya ekonomi keluarga mempengaruhi daya beli termasuk kemampuan membeli alat dan obat kontrasepsi. Keluarga miskin pada umumnya mempunyai anggota keluarga cukup banyak. Jumlah keluarga miskin menggunakan kriteria Keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I alasan ekonomi (Pendataan Keluarga BKKBN) pada tahun 2003 adalah 15,8 juta keluarga. Kemiskinan menjadikan mereka relatif tidak memiliki akses dan bersifat pasif dalam berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas diri dan keluarganya. 10

(46)

Pada gilirannya, kemiskinan akan semakin memperburuk keadaan sosial ekonomi keluarga miskin tersebut. Demikian pula, tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembinaan ketahanan keluarga, terutama pembinaan tumbuh-kembang anak, masih lemah. Hal di atas akan menghambat pembentukan keluarga kecil yang berkualitas. 10

Referensi

Dokumen terkait

Masalah utama yang dijumpai pada mesin screw press adalah terjadinya keausan pada ulir screw press akibat torsi dan tekanan kerja dari konus yang menekan buah sawit

Beberapa penelitian menerapkan terapi kognitif perilaku dan terapi interpersonal yang dimana dapat mencegah onset awal dari terjadinya gangguan depresi pada

Menurut KDIGO tahun 2012, terdapat berbagai golongan antihipertensi yang direkomendasikandapat menurunkan tekanan darah sehingga mencegah terjadinya komplikasi

Dalam hubungannya dengan pencegahan infeksi, sarana dan prasarana kerja adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial,

Sekresi saliva hanya didapat melalui sistem saraf simpatis yang menyebabkan terjadinya vasokonstriksi dan menurunkan aliran darah ke kelenjar saliva, sehingga sel-sel asini

Kandungan ekstrak kulit buah naga merah yang berperan sebagai antibakteri, seperti flavonoid, steroid, dan saponin akan mencegah terjadinya infeksi berlebih pada luka bakar,

Kateter yang sering digunakan untuk mencegah terjadinya phlebitis adalah kateter yang dibuat daripada silicon dan poliuretan karena kurang menyebabkan iritasi

Glovis Diamond” 2019 yang ditimbulkan dari adanya alat BWMS ini di kapal MV Glovis Diamond guna mencegah terjadinya pencemaran ekosistem air laut oleh air ballast yang dibuang di