MAKALAH FILSAFAT

52 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MAKALAH FILSAFAT

MAKALAH FILSAFAT

FILSAFAT, ILMU DAN

FILSAFAT, ILMU DAN

KEBENARAN

KEBENARAN

OLEH

OLEH

(2)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN A.

A. LATAR BELAKANGLATAR BELAKANG

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, dan berfilsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong ragu-ragu, dan berfilsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti dalam kesemestaan yang tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak kita lahir sampai kita Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak kita lahir sampai kita meninggal. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang pada diri kita meninggal. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang pada diri kita sendiri, apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu?apakah ciri-ciri yang sendiri, apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu?apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu?bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang ilmu?bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar?kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran ilmu?mengapa benar?kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran ilmu?mengapa kita mesti mempelajari ilmu?dan seterusnya.

kita mesti mempelajari ilmu?dan seterusnya.

Seorang yang berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap Seorang yang berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah diketahuinya, mengakui kelemahan dan sempitnya ilmu pengetahuan yang telah diketahuinya, mengakui kelemahan dan sempitnya ilmu yang dimilikinya. Dia diumpamakan seorang yang berpijak dibumi sedang yang dimilikinya. Dia diumpamakan seorang yang berpijak dibumi sedang menengadah kelangit yang penuh bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya menengadah kelangit yang penuh bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berada dipuncak gunung dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berada dipuncak gunung memandang lembah dan jurang dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya memandang lembah dan jurang dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.

dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik

Karakteristik berfikir berfikir filsafat filsafat yanyang peg pertama adalah rtama adalah sifat msifat menyeluruh. enyeluruh. SeorangSeorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri.

(3)

Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konsentrasi pengetahuan yang lain. Dia Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konsentrasi pengetahuan yang lain. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama dan ingin yakin ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama dan ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan.

apakah ilmu itu membawa kebahagiaan. B.

B. TUJUANTUJUAN

Dalam makalah ini, penyusun mencoba untuk mengkaji keterkaitan antara Dalam makalah ini, penyusun mencoba untuk mengkaji keterkaitan antara filsafat, ilmu dan kebenaran, dengan menguraikan masing-masing pengertiannya filsafat, ilmu dan kebenaran, dengan menguraikan masing-masing pengertiannya untuk mencapai sebuah kesinambungan yang sinergi antara filsafat, ilmu dan untuk mencapai sebuah kesinambungan yang sinergi antara filsafat, ilmu dan kebenaran.

(4)

BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN A. A. FILSAFATFILSAFAT Filsafat ,

Filsafat , philosophy philosophy, dalam bahasa Inggeris, atau, dalam bahasa Inggeris, atau philosophya philosophya dalam Yunanidalam Yunani mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan.

mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan. PhilosPhilos(cinta) atau philia(cinta) atau philia(persahabatan,(persahabatan, tertarik kepada) dan

tertarik kepada) dan sophossophos (kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan,(kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi. Secara etimologi, filsafat berarti kecintaan pengalaman praktis, inteligensi. Secara etimologi, filsafat berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Filsuf atau filosof berarti orang yang cinta akan terhadap kebijaksanaan. Filsuf atau filosof berarti orang yang cinta akan kebijaksanaan. Kata “kebijaksanaan” dalam pengertian filsafat umumnya adalah kebijaksanaan. Kata “kebijaksanaan” dalam pengertian filsafat umumnya adalah “kebenaran sejati”. Sehingga filsafat diartikan sebagai suatu tindakan berpikir  “kebenaran sejati”. Sehingga filsafat diartikan sebagai suatu tindakan berpikir  yang menggunakan akal budi untuk mencari dan menemukan kebenaran hakiki. yang menggunakan akal budi untuk mencari dan menemukan kebenaran hakiki.

Dari pengertian tersebut filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas Dari pengertian tersebut filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas kehidupan kita. Untuk mengerti apa filsafat itu, orang perlu menggunakan akal kehidupan kita. Untuk mengerti apa filsafat itu, orang perlu menggunakan akal   budinya untuk merenungkan relaitas hidupnya, “apa itu hidup? Mengapa saya   budinya untuk merenungkan relaitas hidupnya, “apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Persoalannya, apakah orang atau alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Persoalannya, apakah orang atau peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang relaitas? Aristoteles menyebut manusia sebaga

relaitas? Aristoteles menyebut manusia sebagai “binatang berpikir”.i “binatang berpikir”.

1.

1. Berbagai Pengertian Filsafat, Diantaranya :Berbagai Pengertian Filsafat, Diantaranya : a)

a) Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, filsafat diartikan dalamDalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, filsafat diartikan dalam tiga definisi:

tiga definisi:

o

o Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikatPengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat

segala yang ada, sebab, asal, dan hukum-hukumnya. segala yang ada, sebab, asal, dan hukum-hukumnya.

o

o Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan.Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan. o

o Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi.Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi.

b)

b) Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmuSonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuat

(5)

tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang.

tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Thinking about Thinking about  thinking.

thinking. c)

c) Beberapa filsuf mengajukan beberapa definifi pokok seperti:Beberapa filsuf mengajukan beberapa definifi pokok seperti:

o

o Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik sertaUpaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta

lengkap tentang seluruh realitas lengkap tentang seluruh realitas

o

o Upaya untuk melukiskan hakekat realitas akhir dan dasar serta nyata,Upaya untuk melukiskan hakekat realitas akhir dan dasar serta nyata, o

o Upaya untuk menentukan batas-batas jangkauan pengetahuan:Upaya untuk menentukan batas-batas jangkauan pengetahuan:

sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya. sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya.

o

o Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan

pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan

o

o Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yangDisiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang

ada katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat. ada katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat. d)

d) Penulis sendiri mendefinisikan ilmu filsafat sebagai disiplin ilmu yangPenulis sendiri mendefinisikan ilmu filsafat sebagai disiplin ilmu yang mencari dan menggeluti segala yang ada sehingga sampai pada suatu mencari dan menggeluti segala yang ada sehingga sampai pada suatu kebijaksanaan universal dengan mengunakan akal budi guna kebijaksanaan universal dengan mengunakan akal budi guna merumuskanya secara sistematis, metodis dan dapat merumuskanya secara sistematis, metodis dan dapat dipertanggungjawabkan secara akal budi pula.

dipertanggungjawabkan secara akal budi pula.

2.

2. Ciri-Ciri FilsafatCiri-Ciri Filsafat

Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Sementara itu

yang mempunyai karakteristik tertentu. Sementara itu Sidi GazalbaSidi Gazalba (1976)(1976) yang dikutip oleh oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa ciri yang dikutip oleh oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa ciri ber-Filsafat atau berfikir ber-Filsafat adalah :

Filsafat atau berfikir Filsafat adalah : radikalradikal,, sistematiksistematik, dan, dan universaluniversal..  Radikal

 Radikal bermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidakbermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekwensinya dengan tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekwensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum

terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum , Sistematik  , Sistematik  artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan,

dan dapat dipertanggungjawabkan, UniversalUniversal artinya berfikir secaraartinya berfikir secara menyeluruh tidak pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas.

menyeluruh tidak pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas. Sementara itu menurut

Sementara itu menurut SudartoSudarto (1996) yang dikutip oleh Uhar(1996) yang dikutip oleh Uhar Suharsa

(6)

a.

a. MetodisMetodis : menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh filsuf : menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh filsuf  (ahli filsafat)

(ahli filsafat) dalam proses berfikirdalam proses berfikir b.

b. SistematisSistematis : berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam: berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis.

suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis. c.

c. KoherenKoheren : diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang: diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang bertentangan dan tersusun secara logis

bertentangan dan tersusun secara logis d.

d. RasionalRasional : mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis (sesuai: mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis (sesuai dengan kaidah logika)

dengan kaidah logika) e.

e. Komprehensif Komprehensif  : berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut: berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut (multidimensi).

(multidimensi). f.

f. RadikalRadikal : berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai: berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya

pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya g.

g. UniversalUniversal : muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah pada: muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah pada realitas kehidupan manusia secara keseluruhan

realitas kehidupan manusia secara keseluruhan

Dengan demikian berfilsafat atau berfikir filsafat bukanlah sembarang Dengan demikian berfilsafat atau berfikir filsafat bukanlah sembarang berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah

disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah homo sapienhomo sapien, hal ini, hal ini tidak serta merta semua manusia menjadi Filsuf, sebab berfikir filsafat tidak serta merta semua manusia menjadi Filsuf, sebab berfikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berfikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang berfikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran.

sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran.

3.

3. Objek FilsafatObjek Filsafat

Pada dasarnya filsafat atau

Pada dasarnya filsafat atau berfilsafberfilsafat bukanlah sesuatu yang asing danat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin serta dapat difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu mungkin serta dapat difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, difikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran.

dipertanyakan, difikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran.

L

Lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segalaapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia

(7)

 Ewing

 Ewing dalam bukunyadalam bukunya Fundamental Questions of PhilosophyFundamental Questions of Philosophy (1962) yang(1962) yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa pertanyaan-pertanya

pertanyaan pokok filsafat an pokok filsafat ((secara tersirat menunjukan objek filsafat secara tersirat menunjukan objek filsafat ) ialah :) ialah : TruthTruth (kebenaran), Matter (materi), Mind (pikiran), The Relation of matter and mind  (kebenaran), Matter (materi), Mind (pikiran), The Relation of matter and mind  (hubungan antara materi dan pikiran), Space and Time (ruang dan waktu), (hubungan antara materi dan pikiran), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab-sebab), Freedom (kebebasan), Monism versus Pluralism (serba Cause (sebab-sebab), Freedom (kebebasan), Monism versus Pluralism (serba tunggal lawan serba jamak), dan God (Tuhan)

tunggal lawan serba jamak), dan God (Tuhan)

Pendapat-pendapat tersebut di atas menggambarkan betapa luas dan Pendapat-pendapat tersebut di atas menggambarkan betapa luas dan mencakupnya objek filsafat baik dilihat dari substansi masalah maupun sudut mencakupnya objek filsafat baik dilihat dari substansi masalah maupun sudut pandang nya terhadap masalah, sehingga dapat disimpulkan bahwa objek pandang nya terhadap masalah, sehingga dapat disimpulkan bahwa objek filsafat adalah segala sesuatu yang maujud dalam sudut pandang dan kajian filsafat adalah segala sesuatu yang maujud dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam (radikal). Secara lebih sistematis para akhli membagi objek yang mendalam (radikal). Secara lebih sistematis para akhli membagi objek filsafat ke dalam objek material dan obyek formal. Obyek material adalah filsafat ke dalam objek material dan obyek formal. Obyek material adalah objek y

objek yang ang secara wujudnya secara wujudnya dapat dijadikan bdapat dijadikan bahan ahan telaahan dalam telaahan dalam berfikberfikir,ir, sedangkan obyek formal adalah objek yang menyangkut sudut pandang dalam sedangkan obyek formal adalah objek yang menyangkut sudut pandang dalam melihat obyek material tertentu.

melihat obyek material tertentu. Menurut

Menurut   Endang Saefudin Anshori  Endang Saefudin Anshori(1981) yang dikutip oleh Uhar(1981) yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) objek material filsafat adalah sarwa yang ada (segala Suharsaputra (2004) objek material filsafat adalah sarwa yang ada (segala sesuatu

sesuatu yang yang berwujud), yberwujud), yang ang pada pada garis garis besarnya besarnya dapat dibagi dapat dibagi atas atas tigatiga persoalan pokok yaitu : 1). Hakekat Tuhan; 2). Hakekat Alam; dan 3). persoalan pokok yaitu : 1). Hakekat Tuhan; 2). Hakekat Alam; dan 3). Hakekat manusia, sedangkan objek formal filsafat ialah usaha mencari Hakekat manusia, sedangkan objek formal filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal terhadap objek material filsafat. Dengan demikian keterangan secara radikal terhadap objek material filsafat. Dengan demikian objek material filsafat mengacu pada substansi yang ada dan mungkin ada objek material filsafat mengacu pada substansi yang ada dan mungkin ada yang dapat difikirkan oleh manusia, sedangkan objek formal filsafat yang dapat difikirkan oleh manusia, sedangkan objek formal filsafat menggambarkan tentang cara dan sifat berfikir terhadap objek material menggambarkan tentang cara dan sifat berfikir terhadap objek material tersebut, dengan kata lain objek formal filsafat mengacu pada sudut pandang tersebut, dengan kata lain objek formal filsafat mengacu pada sudut pandang yang digunakan dalam memikirkan objek material filsafat.

yang digunakan dalam memikirkan objek material filsafat.

B.

B. PEMIKIRAN PEMIKIRAN DAN PDAN PRODUK FRODUK FILSAFATIILSAFATI 1.

(8)

Sejarah filsafat dapat diperiodisasi ke dalam empat periode (Sudarto. Sejarah filsafat dapat diperiodisasi ke dalam empat periode (Sudarto. 1996)

1996) yang yang dikutdikutip ip oleh Uhar oleh Uhar SuharsaputSuharsaputra (2004) ra (2004) yaitu :yaitu : a.

a. Tahap/masa Yunani kuno (Abad ke-6 S.M sampai akhir abad ke-3 S.M)Tahap/masa Yunani kuno (Abad ke-6 S.M sampai akhir abad ke-3 S.M) b.

b. Tahap/masa Abad Pertengahan (akhir abad ke-3 S.M sampai awal abad ke-Tahap/masa Abad Pertengahan (akhir abad 3 S.M sampai awal abad ke-15 Masehi)

15 Masehi) c.

c. Tahap/masa Modern (akhir abad ke-15 M sampai abad ke-19 Masehi)Tahap/masa Modern (akhir abad ke-15 M sampai abad ke-19 Masehi) d.

d. Tahap/masa dewasTahap/masa dewasa ini/filsafat a ini/filsafat kontemporer (abad ke-20 Masehi)kontemporer (abad ke-20 Masehi)

Sementara itu K. Bertens dalam bukunya Ringkasan Sejarah Filsafat Sementara itu K. Bertens dalam bukunya Ringkasan Sejarah Filsafat (1976)

(1976) yanyang dikutip oleh g dikutip oleh Uhar SuhaUhar Suharsaputra (2004) mrsaputra (2004) menyusun topienyusun topik-topikk-topik pembahasannya sebagi berikut :

pembahasannya sebagi berikut : a.

a. Masa Purba YunaniMasa Purba Yunani b.

b. Masa Patristik dan Abad pertengahanMasa Patristik dan Abad pertengahan c.

c. Masa ModernMasa Modern

Pembagian periodisasi yang nampaknya lebih rinci, d

Pembagian periodisasi yang nampaknya lebih rinci, dikemukaikemukakan olehkan oleh Susane K. Langer (Donny Gahral Adian, 2002)

Susane K. Langer (Donny Gahral Adian, 2002) yang membagi sejarah filsafatyang membagi sejarah filsafat ke dalam enam tahapan yaitu :

ke dalam enam tahapan yaitu : a.

a. Yunani Kuno (+ 600 SM)Yunani Kuno (+ 600 SM) b.

b. Filsuf-filsuf Manusia YunaniFilsuf-filsuf Manusia Yunani c.

c. Abad Pertengahan (300 SMAbad Pertengahan (300 SM –  – 1300M)1300M) d.

d. Filsafat Modern (17-19 M)Filsafat Modern (17-19 M) e.

e. Positivisme (Abad 20 M)Positivisme (Abad 20 M) f.

f. Alam SimbolisAlam Simbolis

  Masa Yunani Kuno.

  Masa Yunani Kuno. Pada tahap awal kelahirannya filsafatPada tahap awal kelahirannya filsafat menamp

menampakkan diri akkan diri sebagi suatu bentuk sebagi suatu bentuk mitologi, serta dongeng-dongeng yangmitologi, serta dongeng-dongeng yang dipercayai oleh Bangsa Yunani, baru sesudah Thales (624-548 S.M) dipercayai oleh Bangsa Yunani, baru sesudah Thales (624-548 S.M) mengemukakan pertanyaan aneh pada waktu itu, filsafat berubah menjadi mengemukakan pertanyaan aneh pada waktu itu, filsafat berubah menjadi suatu bentuk pemikiran rasional (logos). Pertanyaan Thales yang suatu bentuk pemikiran rasional (logos). Pertanyaan Thales yang menggambarkan rasa keingintahuan bukanlah pertanyaan biasa seperti apa menggambarkan rasa keingintahuan bukanlah pertanyaan biasa seperti apa

(9)

rasa kopi ?, atau pada tahun keberapa tanaman kopi berbuah ?, pertanyaan rasa kopi ?, atau pada tahun keberapa tanaman kopi berbuah ?, pertanyaan Thales yang merupakan pertanyaan filsafat, karena mempunyai bobot yang Thales yang merupakan pertanyaan filsafat, karena mempunyai bobot yang dalam sesuatu yang ultimate (bermakna dalam) yang mempertanyakan tentang dalam sesuatu yang ultimate (bermakna dalam) yang mempertanyakan tentang Apa sebenarnya bahan alam semesta ini (What is the nature of the world stuff  Apa sebenarnya bahan alam semesta ini (What is the nature of the world stuff  ?), atas pertanyaan ini indra tidak bisa menjawabnya, sains juga terdiam, ?), atas pertanyaan ini indra tidak bisa menjawabnya, sains juga terdiam, namun Filsuf berusaha menjawabnya. Thales menjawab Air (Water is the namun Filsuf berusaha menjawabnya. Thales menjawab Air (Water is the basic principle of the universe), dalam pandangan Thales air merupakan basic principle of the universe), dalam pandangan Thales air merupakan prinsip dasar alam semesta, karena air dapat berubah menjadi berbagai wujud prinsip dasar alam semesta, karena air dapat berubah menjadi berbagai wujud

Kemudian silih berganti Filsuf memberikan jawaban terhadap bahan Kemudian silih berganti Filsuf memberikan jawaban terhadap bahan dasar (Arche) dari semesta raya ini dengan argumentasinya masing-masing. dasar (Arche) dari semesta raya ini dengan argumentasinya masing-masing. Anaximandros (610-540 S.M) mengatakan Arche is to Apeiron, Apeiron Anaximandros (610-540 S.M) mengatakan Arche is to Apeiron, Apeiron adalah sesuatu yang paling awal dan abadi, Pythagoras (580-500 S.M) adalah sesuatu yang paling awal dan abadi, Pythagoras (580-500 S.M) menyatakan bahwa hakekat alam semesta adalah bilangan, Demokritos menyatakan bahwa hakekat alam semesta adalah bilangan, Demokritos (460-370 S.M) berpendapat hakekat alam semesta adalah Atom, Anaximenes 370 S.M) berpendapat hakekat alam semesta adalah Atom, Anaximenes (585-528 S.M) menyatakan udara, dan Herakleitos (544-484 S.M) menjawab asal 528 S.M) menyatakan udara, dan Herakleitos (544-484 S.M) menjawab asal hakekat alam semesta adalah api, dia berpendapat bahwa di dunia ini tak ada hakekat alam semesta adalah api, dia berpendapat bahwa di dunia ini tak ada yang tetap, semuanya mengalir. Variasi jawaban yang dikemukakan para filsuf  yang tetap, semuanya mengalir. Variasi jawaban yang dikemukakan para filsuf  menandai dinamika pemikiran yang mencoba mendobrak dominasi mitologi, menandai dinamika pemikiran yang mencoba mendobrak dominasi mitologi, mereka mulai secara intens memikirkan tentang Alam/Dunia, sehingga sering mereka mulai secara intens memikirkan tentang Alam/Dunia, sehingga sering dijuluki sebagai Philosopher atau akhli tentang Filsafat Alam (Natural dijuluki sebagai Philosopher atau akhli tentang Filsafat Alam (Natural Philosopher), yang dalam perkembangan selanjutnya melahirkan Ilmu-ilmu Philosopher), yang dalam perkembangan selanjutnya melahirkan Ilmu-ilmu kealaman.

kealaman.

Pada perkembangan selanjutnya, disamping pemikiran tentang Alam, Pada perkembangan selanjutnya, disamping pemikiran tentang Alam, para akhli fikir Yunani

para akhli fikir Yunani pun banyak ypun banyak yang ang berupaya memberupaya memikirkan tentang hidikirkan tentang hidupup kita (manusia) di Dunia. Dari titik tolak ini lahir lah Filsafat moral (atau kita (manusia) di Dunia. Dari titik tolak ini lahir lah Filsafat moral (atau filsafat sosial) yang pada tahapan berikutnya mendorong lahirnya Ilmu-ilmu filsafat sosial) yang pada tahapan berikutnya mendorong lahirnya Ilmu-ilmu sosial. Diantara filsuf terkenal yang banyak mencurahkan perhatiannya pada sosial. Diantara filsuf terkenal yang banyak mencurahkan perhatiannya pada kehidupan

kehidupan manusia manusia adalah adalah Socrates Socrates (470-399 (470-399 S.M), S.M), dia dia sangat sangat menentangmenentang ajaran kaum Sofis

ajaran kaum Sofis Yang

Yang cenderung cenderung mempermainkan mempermainkan kebenaran, kebenaran, Socrates Socrates berusahaberusaha meyakinkan bahwa kebenaran dan kebaikan sebagai nilai-nilai yang objektif  meyakinkan bahwa kebenaran dan kebaikan sebagai nilai-nilai yang objektif  yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dia mengajukan yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dia mengajukan

(10)

pertanyaan pada siapa saja yang ditemui dijalan untuk membukakan batin pertanyaan pada siapa saja yang ditemui dijalan untuk membukakan batin warga Athena kepada kebenaran (yang benar) dan kebaikan (yang baik). Dari warga Athena kepada kebenaran (yang benar) dan kebaikan (yang baik). Dari prilaku

prilakunya nya ini ini pemerintpemerintah ah Athena Athena menganggap menganggap SocratSocrates es sebagai sebagai penghasutpenghasut,, dan akhirnya dia dihukum mati dengan jalan meminum racun.

dan akhirnya dia dihukum mati dengan jalan meminum racun.

Sesudah Socrates meninggal, filsafat Yunani terus berkembang dengan Sesudah Socrates meninggal, filsafat Yunani terus berkembang dengan Tokohnya Plato (427-347 S.M), salah seorang murid Socrates. Diantara Tokohnya Plato (427-347 S.M), salah seorang murid Socrates. Diantara pemikira

pemikiran n Plato yang Plato yang penting adalah penting adalah berkaitan dengan berkaitan dengan pembagian relaitas kepembagian relaitas ke dalam dua bagian yaitu realitas/dunia yang hanya terbuka bagi rasio, dan dunia dalam dua bagian yaitu realitas/dunia yang hanya terbuka bagi rasio, dan dunia yang terbuka bagi pancaindra, dunia pertama terdiri dari idea-idea, dan dunia yang terbuka bagi pancaindra, dunia pertama terdiri dari idea-idea, dan dunia ke dua adalah dunia jasmani (pancaindra), dunia ide sifatnya sempurna dan ke dua adalah dunia jasmani (pancaindra), dunia ide sifatnya sempurna dan tetap, sedangkan dunia jasmani selalu berubah. Dengan pendapatnya tersebut, tetap, sedangkan dunia jasmani selalu berubah. Dengan pendapatnya tersebut, menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikan pendapatnya menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikan pendapatnya Herakleitos dengan pendapatnya Permenides, menurut Herakleitos segala Herakleitos dengan pendapatnya Permenides, menurut Herakleitos segala sesuatu selalu berubah, ini benar kata Plato, tapi hanya bagi dunia Jasmani sesuatu selalu berubah, ini benar kata Plato, tapi hanya bagi dunia Jasmani (Pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali (Pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali sempurna dan tidak dapat berubah, ini juga benar kata Plato, tapi hanya sempurna dan tidak dapat berubah, ini juga benar kata Plato, tapi hanya berlaku pada dunia idea saja.

berlaku pada dunia idea saja.

Dalam sejarah Filsafat Yunani, terdapat seorang filsuf yang sangat Dalam sejarah Filsafat Yunani, terdapat seorang filsuf yang sangat legendaris yaitu Aristoteles (384-322 S.M), seorang yang pernah belajar di legendaris yaitu Aristoteles (384-322 S.M), seorang yang pernah belajar di Akademia Plato di Athena. Setelah Plato meninggal Aristoteles menjadi guru Akademia Plato di Athena. Setelah Plato meninggal Aristoteles menjadi guru pribadinya Alexander Agung selama dua tahun, sesudah itu dia kembali lagi pribadinya Alexander Agung selama dua tahun, sesudah itu dia kembali lagi ke Athena dan mendirikan Lykeion, dia sangat mengagumi ke Athena dan mendirikan Lykeion, dia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Plato meskipun dalam filsafat, Aristoteles mengambil jalan yang pemikiran Plato meskipun dalam filsafat, Aristoteles mengambil jalan yang berbeda (Aristoteles pernah mengatakan-ad

berbeda (Aristoteles pernah mengatakan-ada juga a juga yang berpendapat bahwa iniyang berpendapat bahwa ini bukan ucapan Aristoteles- Amicus Plato,

bukan ucapan Aristoteles- Amicus Plato, magis amica veritasmagis amica veritas –  – Plato memangPlato memang sahabatku, tapi kebenaran lebih akrab bagiku

sahabatku, tapi kebenaran lebih akrab bagiku  –  –  ungkapan ini terkadangungkapan ini terkadang diterjemahkan bebas menjadi “Saya mencintai Plato, tapi saya lebih mencintai diterjemahkan bebas menjadi “Saya mencintai Plato, tapi saya lebih mencintai kebenaran”)

kebenaran”)

Aristoteles mengkritik tajam pendapat Plato

Aristoteles mengkritik tajam pendapat Plato tentang idea-idea, menuruttentang idea-idea, menurut Dia yang umum dan tetap bukanlah dalam dunia idea akan tetapi dalam Dia yang umum dan tetap bukanlah dalam dunia idea akan tetapi dalam benda-benda jasmani itu sendiri, untuk itu Aristoteles mengemukakan teori benda jasmani itu sendiri, untuk itu Aristoteles mengemukakan teori Hilemorfisme

(11)

benda j

benda jasmani memiliki asmani memiliki dua hal dua hal yaitu byaitu bentuk dan entuk dan matermateri, i, sebagai contoh,sebagai contoh, sebuah patung pasti memiliki dua hal yaitu materi atau bahan baku patung sebuah patung pasti memiliki dua hal yaitu materi atau bahan baku patung misalnya kayu atau batu, dan bentuk misalnya bentuk kuda atau bentuk misalnya kayu atau batu, dan bentuk misalnya bentuk kuda atau bentuk manusia, keduanya tidak mungkin lepas satu sama lain, contoh tersebut manusia, keduanya tidak mungkin lepas satu sama lain, contoh tersebut hanyal

hanyalah uah untuk ntuk memumemudahkan pemahaman, sebab dalam pdahkan pemahaman, sebab dalam pandangan Aristotelesandangan Aristoteles materi dan bentuk itu merupakan prinsip-prinsip metafisika untuk materi dan bentuk itu merupakan prinsip-prinsip metafisika untuk memperkukuh dimungkinkannya Ilmu pengetahuan atas dasar bentuk dalam memperkukuh dimungkinkannya Ilmu pengetahuan atas dasar bentuk dalam setiap benda konkrit. Teori hilemorfisme juga menjadi dasar bagi setiap benda konkrit. Teori hilemorfisme juga menjadi dasar bagi pandangannya tentang manusia, manusia terdiri dari materi dan bentuk, bentuk pandangannya tentang manusia, manusia terdiri dari materi dan bentuk, bentuk adalah jiwa, dan karena bentuk tidak pernah lepas dari materi, maka adalah jiwa, dan karena bentuk tidak pernah lepas dari materi, maka konsekwensinya adalah bahwa apabila manusia mati, jiwanya (bentuk) juga konsekwensinya adalah bahwa apabila manusia mati, jiwanya (bentuk) juga akan hancur.

akan hancur.

Disamping pendapat tersebut Aristoteles juga dikenal sebagai Bapak Disamping pendapat tersebut Aristoteles juga dikenal sebagai Bapak Logika yaitu suatu cara berpikir yang teratur menurut urutan yang tepat atau Logika yaitu suatu cara berpikir yang teratur menurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat. Dia adalah yang pertama kali berdasarkan hubungan sebab akibat. Dia adalah yang pertama kali memben

membentangkan cara tangkan cara berpikir teratur berpikir teratur dalam dalam suatu sissuatu sistem, yang intem, yang intisarinyatisarinya adalah Sylogisme (masalah ini akan diuraikan khusus dalam topik Logika) adalah Sylogisme (masalah ini akan diuraikan khusus dalam topik Logika) yaitu

yaitu menarik menarik kesimpulakesimpulan n dardari i kenyatkenyataan aan umum umum atas hatas hal yang al yang khususkhusus (Mohamma

(Mohammad Hattd Hatta, 1964).a, 1964).   Abad Pertengahan

  Abad Pertengahan. Semenjak meninggalnya Aristoteles, filsafat terus. Semenjak meninggalnya Aristoteles, filsafat terus berkembang dan mendapat kedudukan yang tetap penting dalam kehidupan berkembang dan mendapat kedudukan yang tetap penting dalam kehidupan pemikiran manusia meskipun dengan corak dan titik tekan yang berbeda. pemikiran manusia meskipun dengan corak dan titik tekan yang berbeda. Periode sejak meninggalnya Aristoteles (atau sesudah meninggalnya Periode sejak meninggalnya Aristoteles (atau sesudah meninggalnya Alexander Agung (323 S.M) sampai menjelang lahirnya Agama Kristen oleh Alexander Agung (323 S.M) sampai menjelang lahirnya Agama Kristen oleh Droysen (Ahmad Tafsir. 1992) disebut periode Hellenistik (Hellenisme adalah Droysen (Ahmad Tafsir. 1992) disebut periode Hellenistik (Hellenisme adalah istilah yang menunjukan kebudayaan gabungan antara budaya Yunani dan istilah yang menunjukan kebudayaan gabungan antara budaya Yunani dan Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno). Dalam masa ini Filsafat Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno). Dalam masa ini Filsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif, serta ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif, serta kurang memperhatikan Metafisika, dengan semangat yang Eklektik kurang memperhatikan Metafisika, dengan semangat yang Eklektik (mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak Mistik.

(mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak Mistik. Di dunia Islam (Umat Islam) lahir

Di dunia Islam (Umat Islam) lahir filsuf-filsuf terkenal seperti Al Kindifilsuf-filsuf terkenal seperti Al Kindi (801-865 M),

(12)

(1058-1111 M), dan Ibnu Rusyd (1126-1198), sementara itu di dunia Kristen (1058-1111 M), dan Ibnu Rusyd (1126-1198), sementara itu di dunia Kristen lahir Fils

lahir Filsuf-filsuf antara laiuf-filsuf antara lain sepen seperti rti Peter AbelPeter Abelardus (1079-1180), Alardus (1079-1180), Albertusbertus Magnus (1203-1280 M), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Mereka ini Magnus (1203-1280 M), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Mereka ini disamping sebagai Filsuf juga orang-orang yang mendalami ajaran agamanya disamping sebagai Filsuf juga orang-orang yang mendalami ajaran agamanya masing-masing, sehingga corak pemikirannya mengacu pada upaya masing-masing, sehingga corak pemikirannya mengacu pada upaya mempertahankan keyakinan agama dengan jalan filosofis, meskipun dalam mempertahankan keyakinan agama dengan jalan filosofis, meskipun dalam banyak hal terkadang ajaran Agama dijadikan Hakim untuk memfonis benar banyak hal terkadang ajaran Agama dijadikan Hakim untuk memfonis benar tidaknya suatu hasil pemikiran Filsafat

tidaknya suatu hasil pemikiran Filsafat (Pemikiran Rasional).(Pemikiran Rasional).   Masa Modern.

  Masa Modern. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwaPara filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini bukan satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. -- Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan disangkal lagi. -- Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearly and distinctly", "clara et distincta". "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearly and distinctly", "clara et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.

(13)

Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang (res extensa, "extention") atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi dibagi-bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia

otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesinmemiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan).

kecerdasan buatan).

Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran. bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran. Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dua hal merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan

hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul

(14)

gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain hanyal

hanyalah "a ah "a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)". Kausalitas.

Kausalitas. Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batuJika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable" (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan "probable" (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja. Hume merupakan yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja. Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masin

masing-masing pendekatan benar separuh, dan g pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah salah separuh. Benarlah bahwabahwa penge

pengetahuan kita tentang dunia tahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, berasal dari indera kita, namun dalam akal kitanamun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"), mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.

(15)

Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini. Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti kini. Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahiran kembali"). modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahiran kembali"). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana. Filsuf penting adalah N kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana. Filsuf penting adalah N Macchiavelli (1469-1527), Thoman Hobbes (1588-1679), Thomas More Macchiavelli (1469-1527), Thoman Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). Periode kedua adalah zaman (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). Periode kedua adalah zaman Barok, yang menekankan akal budi. Sistem filsafatnya juga menggunakan Barok, yang menekankan akal budi. Sistem filsafatnya juga menggunakan menggunakan matematika. Para filsuf periode ini adalah Rene Descrates, menggunakan matematika. Para filsuf periode ini adalah Rene Descrates, Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1710). Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1710). Periode ketiga ditandai dengan fajar budi ("enlightenment" atau Periode ketiga ditandai dengan fajar budi ("enlightenment" atau "Aufklarung"). Para filsuf katagori ini adalah John Locke (1632-1704), G "Aufklarung"). Para filsuf katagori ini adalah John Locke (1632-1704), G Berkeley (1684-1753), David Hume (1711-1776). Dalam katagori ini juga Berkeley (1684-1753), David Hume (1711-1776). Dalam katagori ini juga dimasukkan Jean-Jacques

dimasukkan Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) dan Rousseau (1712-1778) dan ImmanueImmanuel l Kant. Kant. MasaMasa kini (1800-sekarang).

kini (1800-sekarang).

Filsafat masa kini merupakan aneka bentuk reaksi langsung atau Filsafat masa kini merupakan aneka bentuk reaksi langsung atau taklangsung atas pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). taklangsung atas pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknya berdasarkan suatu Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknya berdasarkan suatu prinsip. Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan prinsip. Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani. pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani. Namun celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus Namun celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus dilaksanakan, sebab jika betul-betul mutlak, tentunya maha sempurna, dan jika dilaksanakan, sebab jika betul-betul mutlak, tentunya maha sempurna, dan jika maha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung maha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang sedang-menj

sedang-menjadi itu, adi itu, yanyang g sering sedang-menjadi-lebih-sempusering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah rna bukanlah ideide ("Yang Mutlak"), namun adalah materi belaka. Maksudnya, yang ("Yang Mutlak"), namun adalah materi belaka. Maksudnya, yang sesungguhnya ada adalah materi (alam benda); materi adalah titik pangkal sesungguhnya ada adalah materi (alam benda); materi adalah titik pangkal segala sesuatu dan segala sesuatu yang mengatasi alam benda harus segala sesuatu dan segala sesuatu yang mengatasi alam benda harus dikesampingkan. Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur dikesampingkan. Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur pemikiran ini. Itulah faham yang dicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach pemikiran ini. Itulah faham yang dicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach

(16)

(1804-1872). Sayangnya, materi itu sendiri tidak bisa menjadi mutlak, karena (1804-1872). Sayangnya, materi itu sendiri tidak bisa menjadi mutlak, karena pastilah ada yang-ada-di-luar-materi yang "mengendalikan" proses dalam pastilah ada yang-ada-di-luar-materi yang "mengendalikan" proses dalam materi itu

materi itu untuk materi bisa untuk materi bisa menjamenjadi-lebih-sempurna-dari-sebelumnydi-lebih-sempurna-dari-sebelumnya.a.

Kesalahan Hegel adalah tidak menerima bahwa Yang Mutlak itu Kesalahan Hegel adalah tidak menerima bahwa Yang Mutlak itu berdiri sendiri dan ada-diatas-segalanya, dalam arti tidak dalam satu realitas berdiri sendiri dan ada-diatas-segalanya, dalam arti tidak dalam satu realitas dengan segala yang sedang-menjadi tersebut. Dengan mengatakan Yang dengan segala yang sedang-menjadi tersebut. Dengan mengatakan Yang Mutak itu

Mutak itu menjamenjadi, Hegel pada di, Hegel pada dasarnya meniadakan kemutlakan. Dalam caradasarnya meniadakan kemutlakan. Dalam cara sama, dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi, maka materialisme sama, dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi, maka materialisme pun jatuh dalam kubangan yang sama.

pun jatuh dalam kubangan yang sama.

Dari sini dapat difahami munculnya sejumlah aliran-aliran penting Dari sini dapat difahami munculnya sejumlah aliran-aliran penting dewasa ini: Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dewasa ini: Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3 tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah. dan suku bangsa melalui 3 tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah. Manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis" dibutuhkan figur Manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis" dibutuhkan figur dewa-dewa untuk "menerangkan" kenyataan. Meningkat remaja dan mulai dewa-dewa untuk "menerangkan" kenyataan. Meningkat remaja dan mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah. Aliran positivisme matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah. Aliran positivisme dianut oleh August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan H dianut oleh August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan H Spencer (1820-1903), dan dikembangkan menjadi neo-positivisme oleh Spencer (1820-1903), dan dikembangkan menjadi neo-positivisme oleh kelompok filsuf lingkaran Wina.

kelompok filsuf lingkaran Wina.

Marxisme (diberi nama mengikuti tokoh utama Karl Marx,

Marxisme (diberi nama mengikuti tokoh utama Karl Marx, 1818-1883)1818-1883) mengajarkan bahwa kenyataan hanya terdiri atas materi belaka, yang mengajarkan bahwa kenyataan hanya terdiri atas materi belaka, yang berkembang dalam proses dialektis (dalam ritme tesis-antitesis-sintesis). Marx berkembang dalam proses dialektis (dalam ritme tesis-antitesis-sintesis). Marx adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap awal). Feuerbach adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap awal). Feuerbach berpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan berpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan agama hanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) agama hanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) manusia tentang dirinya sendiri. Menurut Feuerbach, yang ada bukan Tuhan manusia tentang dirinya sendiri. Menurut Feuerbach, yang ada bukan Tuhan yang mahaadil, namun yang ada hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. yang mahaadil, namun yang ada hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. Dari sini dapat difahami mengapa Marx berkata, bahwa "agama adalah candu Dari sini dapat difahami mengapa Marx berkata, bahwa "agama adalah candu bagi rakyat", karena agama hanya membawa manusia masuk dalam "surga bagi rakyat", karena agama hanya membawa manusia masuk dalam "surga fantasi", suatu pelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. fantasi", suatu pelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. Selanjutnya Marx menegaskan bahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas Selanjutnya Marx menegaskan bahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas perkembangan masyarakat dan sejarah. Yang justru dibutuhkan adalah aksi perkembangan masyarakat dan sejarah. Yang justru dibutuhkan adalah aksi

(17)

untuk mengarahkan perubahan dan untuk itu harus dikembangkan untuk mengarahkan perubahan dan untuk itu harus dikembangkan hukum-hukum obyektif mengenai perkembangan masyarakat. hukum obyektif mengenai perkembangan masyarakat. [Catatan. Soekarno mengklim telah mencetuskan marhaenisme sebagai [Catatan. Soekarno mengklim telah mencetuskan marhaenisme sebagai marxisme diterapkan dalam situasi dan kondisi Indonesia. Kualifikasi marxisme diterapkan dalam situasi dan kondisi Indonesia. Kualifikasi "penerapan dalam situasi dan kondisi Indonesia" (apapun itu) pastilah tidak  "penerapan dalam situasi dan kondisi Indonesia" (apapun itu) pastilah tidak  membuat faham marhaenisme sebagai suatu aliran filsafat dan pastilah tidak  membuat faham marhaenisme sebagai suatu aliran filsafat dan pastilah tidak  harus sama dengan faham marxisme sebagai diterapkan di dalam lingkungan harus sama dengan faham marxisme sebagai diterapkan di dalam lingkungan masyarakat lain.]

masyarakat lain.]

Ditangan Friedrich Engels (1820-1895), dan lebih-lebih oleh Lenin, Ditangan Friedrich Engels (1820-1895), dan lebih-lebih oleh Lenin, Stalin dan Mao Tse Tung, aliran filsafat Marxisme ini menjadi gerakan Stalin dan Mao Tse Tung, aliran filsafat Marxisme ini menjadi gerakan komunisme, yaitu suatu ideologi politik praktis Partai Komunis di negara komunisme, yaitu suatu ideologi politik praktis Partai Komunis di negara mana saja untuk merubah dunia. Sangat nyata bahwa dimana saja Partai mana saja untuk merubah dunia. Sangat nyata bahwa dimana saja Partai Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkari Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkari hak-hak azasi manusia, dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak ber hak azasi manusia, dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak ber keTuhanan pula!).

keTuhanan pula!).

Eksistensialime merupakan himpunan aneka pemikiran yang memiliki Eksistensialime merupakan himpunan aneka pemikiran yang memiliki inti sama, yaitu keyakinan, bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya inti sama, yaitu keyakinan, bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia konkrit, dan bukan pada hakekat (esensi) (eksistensi) manusia konkrit, dan bukan pada hakekat (esensi) manusia-pada-umumnya. Manusia-pada-umumnya tidak ada, yang ada hanya manusia ini, umumnya. Manusia-pada-umumnya tidak ada, yang ada hanya manusia ini, manusia itu. Esensi manusia ditentukan oleh eksistensinya. Tokoh aliran ini J manusia itu. Esensi manusia ditentukan oleh eksistensinya. Tokoh aliran ini J P Sartre (1905-1980), Kierkegaard (1813-1855), Friederich Nietzche P Sartre (1905-1980), Kierkegaard (1813-1855), Friederich Nietzche (1844-1900), Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel 1900), Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973).

Marcel (1889-1973).

Fenomenologi merupakan aliran (tokoh penting: Edmund Husserl, Fenomenologi merupakan aliran (tokoh penting: Edmund Husserl, 1859-1938) yang ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, 1859-1938) yang ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. "Zuruck zu den sachen selbst" -- kembali konsep-konsep, atau teori umum. "Zuruck zu den sachen selbst" -- kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita "mengambil jarak" dari obyek itu, gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita "mengambil jarak" dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain, dan melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain, dan

(18)

gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu "berbicara" sendiri mengenai gejala itu kita cermati, maka obyek itu "berbicara" sendiri mengenai hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita. hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita. Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, dan studi-studi keagamaan (misalnya kajian atas

dan studi-studi keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci).kitab suci).

Pragmatisme tidak menanyakan "apakah itu?", melainkan "apakah Pragmatisme tidak menanyakan "apakah itu?", melainkan "apakah gunanya itu?" atau "untuk apakah itu?". Yang dipersoalkan bukan "benar atau gunanya itu?" atau "untuk apakah itu?". Yang dipersoalkan bukan "benar atau salah", karena ide menjadi benar oleh tindakan tertentu. Tokoh aliran ini: John salah", karena ide menjadi benar oleh tindakan tertentu. Tokoh aliran ini: John

Dewey (1859-1914).

Dewey (1859-1914).

Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahiran kembali dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain.

kelahiran kembali dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain. Disampin

Disamping g itu masih ada aliran filsafat itu masih ada aliran filsafat analianalitik tik yang menyibukyang menyibukkan dirikan diri dengan analisis bahasa dan analisis atas konsep-konsep. Dalam berfilsafat, dengan analisis bahasa dan analisis atas konsep-konsep. Dalam berfilsafat,   jangan katakan jika hal itu tidak dapat dikatakan. "Batas-batas bahasaku   jangan katakan jika hal itu tidak dapat dikatakan. "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku". Soal-soal falsafi seyogyanya dipecahkan melalui adalah batas-batas duniaku". Soal-soal falsafi seyogyanya dipecahkan melalui analisis atas bahasa, untuk mendapatkan atau tidak mendapatkan makna analisis atas bahasa, untuk mendapatkan atau tidak mendapatkan makna dibalik bahasa yang digunakan. Hanya dalam ilmu pengetahuan alam dibalik bahasa yang digunakan. Hanya dalam ilmu pengetahuan alam pernyataan memiliki makna, karena pernyataan itu bersifat faktual. Tokoh pernyataan memiliki makna, karena pernyataan itu bersifat faktual. Tokoh pencetus: Ludwig Wittgenstein (1889-1952).

pencetus: Ludwig Wittgenstein (1889-1952).

Akhirnya sejak 1960 berkembang strukturalisme yang menyelidiki Akhirnya sejak 1960 berkembang strukturalisme yang menyelidiki pola-pola dasar yang tetap yang terdapat dalam bahasa-bahasa, agama-agama, pola-pola dasar yang tetap yang terdapat dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem dan

sistem-sistem dan karya-karya kesusasteraan.karya-karya kesusasteraan.

C.

C. FILSAFAT DAN ILMUFILSAFAT DAN ILMU 1.

1. Pengertian Ilmu (Ilmu Pengetahuan)Pengertian Ilmu (Ilmu Pengetahuan)  Ilmu

 Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusunadalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk

untuk menerangkan menerangkan gejala-gejala-gejala gejala tertentu tertentu dibidang dibidang (pengetahuan) (pengetahuan) ituitu (( Kamus Besar Bahasa Indonesia Kamus Besar Bahasa Indonesia))

2.

2. Ciri-Ciri Ilmu (Ilmu Pengetahuan)Ciri-Ciri Ilmu (Ilmu Pengetahuan)

Secara umum dari pengertian ilmu dapat diketahui apa sebenarnya Secara umum dari pengertian ilmu dapat diketahui apa sebenarnya yang menjadi ciri dari ilmu, meskipun untuk tiap definisi memberikan titik yang menjadi ciri dari ilmu, meskipun untuk tiap definisi memberikan titik

(19)

berat yang berlainan. Menurut

berat yang berlainan. Menurut The Liang GieThe Liang Gie secara lebih khusussecara lebih khusus menyeb

menyebutkan ciri-ciri utkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :ilmu sebagai berikut : 1.

1. Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan) 2.

2. Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan salingSistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantun

bergantung dan g dan teratur)teratur) 3.

3. Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi) 4.

4. Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci) 5.

5. Verifikatif (dapat Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannyadiperiksa kebenarannya)) 3.

3. Tujuan Ilmu (Ilmu Pengetahuan)Tujuan Ilmu (Ilmu Pengetahuan) Sheldon G. Levy

Sheldon G. Levy yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004)yang dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2004) menyatakan bahwa

menyatakan bahwa science has three primary goals. The first is to be able toscience has three primary goals. The first is to be able to understand what is observed in the world. The second is to be able to predict  understand what is observed in the world. The second is to be able to predict  the events and relationships of the real world. The third is to control aspects the events and relationships of the real world. The third is to control aspects of the real world,

of the real world, sementara itusementara itu Kerlinger Kerlinger menyatakan bahwamenyatakan bahwa the basic aim of the basic aim of  science is theory.

science is theory.dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa tujuan dari ilmudengan demikian dapatlah dikatakan bahwa tujuan dari ilmu adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, disamping untuk menemukan atau memformulasikan teori, dan teori di dunia, disamping untuk menemukan atau memformulasikan teori, dan teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan tentang sesuatu itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan tentang sesuatu sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan dengan kepahaman maka prediksi sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dengan probabilitas yang cukup tinggi, asalkan teori kejadian dapat dilakukan dengan probabilitas yang cukup tinggi, asalkan teori tersebut telah t

tersebut telah teruji kebenarannyaeruji kebenarannya 4.

4. Struktur IlmuStruktur Ilmu

Struktur ilmu menggambarkan bagaimana ilmu itu tersistimatisir Struktur ilmu menggambarkan bagaimana ilmu itu tersistimatisir dalam suatu lingkungan (boundaries), di mana keterkaitan antara unsur-unsur dalam suatu lingkungan (boundaries), di mana keterkaitan antara unsur-unsur nampak secara jelas. Menurut Savage & Amstrong, struktur ilmu merupakan nampak secara jelas. Menurut Savage & Amstrong, struktur ilmu merupakan A scheme that has been devided to illustrate relationship among facts, A scheme that has been devided to illustrate relationship among facts, concepts, and generalization. Dengan demikian struktur ilmu merupakan concepts, and generalization. Dengan demikian struktur ilmu merupakan ilustrasi hubungan antara fakta, konsep serta generalisasi, keterkaitan tersebut ilustrasi hubungan antara fakta, konsep serta generalisasi, keterkaitan tersebut membentuk suatu bangun struktur ilmu, sementara itu menurut H.E. Kusmana membentuk suatu bangun struktur ilmu, sementara itu menurut H.E. Kusmana struktur ilmu adalah seperangkat pertanyaan kunci dan metoda penelitian yang struktur ilmu adalah seperangkat pertanyaan kunci dan metoda penelitian yang akan membantu memperoleh jawabannya, serta berbagai fakta, konsep, akan membantu memperoleh jawabannya, serta berbagai fakta, konsep,

(20)

generalisasi dan teori yang memiliki karakteristik yang khas yang akan generalisasi dan teori yang memiliki karakteristik yang khas yang akan mengantar kita untuk memahami ide-ide pokok dari suatu disiplin ilmu yang mengantar kita untuk memahami ide-ide pokok dari suatu disiplin ilmu yang bersangkutan.

bersangkutan.

Dengan demikian nampak dari dua pendapat di atas bahwa terdapat Dengan demikian nampak dari dua pendapat di atas bahwa terdapat dua hal pokok dalam suatu struktur ilmu yaitu :

dua hal pokok dalam suatu struktur ilmu yaitu : a.

a. A body of Knowledge (kerangka ilmu) yang terdiri dari fakta, konsep,A body of Knowledge (kerangka ilmu) yang terdiri dari fakta, konsep, generalisasi, dan teori yang menjadi ciri khas bagi ilmu yang generalisasi, dan teori yang menjadi ciri khas bagi ilmu yang bersangkutan sesuai dengan boundary yang dimilikinya

bersangkutan sesuai dengan boundary yang dimilikinya b.

b. A mode of inquiry. Atau cara pengkajian/penelitian yang mengandungA mode of inquiry. Atau cara pengkajian/penelitian yang mengandung pertanyaan dan metode penelitian guna memperoleh jawaban atas pertanyaan dan metode penelitian guna memperoleh jawaban atas permasalahan yang berkaitan dengan ilmu tersebut.

permasalahan yang berkaitan dengan ilmu tersebut.

Kerangka ilmu terdiri dari unsur-unsur yang berhubungan, dari mulai Kerangka ilmu terdiri dari unsur-unsur yang berhubungan, dari mulai yang konkrit yaitu fakta sampai level yang abstrak yaitu teori, makin ke fakta yang konkrit yaitu fakta sampai level yang abstrak yaitu teori, makin ke fakta makin spesifik, sementara makin mengarah ke teori makin abstrak karena makin spesifik, sementara makin mengarah ke teori makin abstrak karena lebih bersifat umum. Bila digambarkan akan nampak sebagai berikut :

lebih bersifat umum. Bila digambarkan akan nampak sebagai berikut :

TEORI TEORI GENERALISASI GENERALISASI KONSEP-KONSEP KONSEP-KONSEP FAKTA-FAKTA FAKTA-FAKTA

Gambar 2.1. Bagan Stuktur Ilmu Gambar 2.1. Bagan Stuktur Ilmu

Dari gambar tersebut nampak bahwa bagian yang paling dasar adalah Dari gambar tersebut nampak bahwa bagian yang paling dasar adalah fakta-fakta, fakta-fakta tersebut akan menjadi bahan atau digunakan untuk fakta-fakta, fakta-fakta tersebut akan menjadi bahan atau digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep, bila konsep-konsep menunjukan ciri mengembangkan konsep-konsep, bila konsep-konsep menunjukan ciri keumuman maka terbentuklah generalisasi, untuk kemudian dapat keumuman maka terbentuklah generalisasi, untuk kemudian dapat diformulasikan menjadi teori. Fakta-fakta sangat dibatasi oleh nilai transfer diformulasikan menjadi teori. Fakta-fakta sangat dibatasi oleh nilai transfer Increasing transfer  Increasing transfer  value  value  Increasing  Increasing  specificity  specificity 

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :