BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

36 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

7

HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Tekanan Anggaran Waktu

2.1.1.1 Pengertian Anggaran Waktu

Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010:160) dalam Prolentina (2011) mendefinisikan anggaran waktu adalah:

“Suatu audit disusun dengan memprediksi waktu yang dibutuhkan pada setiap tahap dalam program audit untuk berbagai tingkat auditor dan menjumlahkan prediksi tersebut, yaitu dengan mengestimasi jumlah jam yang dibutuhkan oleh setiap level staf dan mengestimasi out of pocket cost.

Sedangkan menurut Konrath (2002:183) dalam Pratiwi 2008 yang berjudul “Auditing A Risk analysis Approach Fifth Edition” mengatakan:

“The time budget estimates the hours required to complite each phase of the audit. It’s broken down to audit area and level of staff person (e.g., assistant, senior auditor, manager, partner). The timing of spesific needs (i.e., interim audit work, inventory observation and other year-end procedures, final audit work) should also be included in the time budget in order to facilitate staff scheduling.”

(2)

Dan M. Guy, Alderman dan Winter (1990) dalam Siti Marfuah (2011) Mengatakan :

“Time budget is an element of planning used by auditors. which simply establishes quidelines in number of hours for each section of the audit”

2.1.1.2 Penyusunan dan Pengendalian Time Budget

Richard W Houston (1999:71) dalam jurnal yang berjudul “The Effect of Fee Pressure and Client Risk on Audit Seniors Time Budget dalam Pratiwi (2008) mengungkapkan bahwa:

“Audit seniors’ completed preliminary time budgets and assessed risk for a fictitious continuing audit client. Because seniors’ time budget decisions may not fully represent planned audit procedures and expected audit effort, senior also proposed changes to the plan and estimated actual or reported audit hours to provide descriptive data”.

Time budget tidak memuat keseluruhan dari prosedur audit yang harus dilakukan dan membuka kemungkinan terjadinya perubahan dalam time budget. Untuk penugasan yang pernah dilakukan sebelumnya atau penugasan rutin, catatan waktu yang terperinci atas kerja audit pada tahunan sebelumnya merupakan faktor yang penting untuk menentukan time budget yang baru perlu dilakukan bila waktu total pada time budget yang lalu dinilai lebih. Selain itu harus dilakukan perhitungan secara tepat mengenai waktu ini, karena sangat penting dalam penentuan fee dan memperhitungkan biaya penugasan. Time budget juga merupakan alat yang penting bagi auditor senior untuk mengukur efisiensi staf dan menetapkan untuk setiap langkah dari perjanjian kerja apakah kerja audit mengalami kemajuan pada tingkat yang memuaskan.

(3)

Dalam penyusunan time budget menurut Wallace (1998:131) dalam Pratiwi (2008) harus mempertimbangkan hal-hal antara lain:

1. The client’s size, indicated by it’s gross assets, sales, number of employees, etc

2. The location of client facilities.

3. The anticipated accounting and auditing problem. 4. The competence and experience of staff available.

Penyusunan anggaran waktu harus mempertimbangkan kapasitas atau lingkup manajemen perusahaan mulai dari jumlah asset, jumlah karyawan, penjualan dan lainnya. Kemudian lokasi perusahaan karena jauh atau dekatnya klien berpengaruh kepada anggaran yang akan digunakan. Selain itu harus mempertimbangkan pembukuan antisipasi dan masalah pemeriksaan. Jangan lupa dalam membuat anggaran waktu harus melihat kompetensi dan pengalaman staff yang tersedia.

2.1.1.3 Tekanan Anggaran Waktu

Menurut Herningsih (2001) dalam Burmansyah (2008) mengungkapkan sebagai berikut:

“ Time budget pressure adalah keadaan dimana auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun, atau terdapat pembatasan waktu dalam anggaran yang sangat ketat.”

Tekanan anggaran waktu merupakan gambaran normal dan system pengendalian auditor. Tekanan yang dihasilkan oleh anggaran waktu yang ketat

(4)

secara konsisten berhubungan dengan perilaku disfungsional. Tekanan anggaran waktu adalah keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembahasan waktu anggaran yang sangat ketat dan kaku ( Sososutikno, 2003 dalam Andini 2011).

Menurut Gregory A. Liyangarachchi (2007:62) dalam Indra Firmansyah, Y.Casmadi, Puji Barkah (2010) mengungkapkan time budget pressure adalah :

Keadaan atau desakan yang kuat terhadap auditor yang melaksanakan langkah-langkah audit yang telah disusun agar bisa mencapai target waktu yang dianggarkan.

Menurut Whittington, dkk (1992) dalam Plorentina (2011) mengenai time budget pressure :

“ There is always pressure to complete and audit within the estimated time ability to do satisfactory work when given abundant time is not sufficient qualifications, for time is never abundant ”.

Ada pun pengertian dalam http://www.akuntansiku.com tekanan anggaran waktu adalah :

“Suatu keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembatasan waktu dalam anggaran yang sangat ketat dan kaku “

Adapun untuk mengukur time budget pressure menurut Indra Firmansyah, Y. Casmadi, Puji Barkah (2010) dalam jurnalnya “ Pengaruh time budget pressure terhadap kualitas auditor pada kantor akuntan publik di Bandung “ menyatakan :

1) Pemahaman auditor atas time budget 2) Tanggung jawab terhadap Time budget

(5)

3) Penilaian kinerja auditor 4) Penentuan fee

2.1.1.4 Penggolongan Time Budget Pressure

Penggolongan time budget pressure menurut Herningsih (2001) dalam Imam Wahyudi dkk (2011) mengemukakan bahwa time budget pressure digolongkan menjadi dua dimensi yaitu:

1) Time budget pressure yaitu keadaan dimana auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun, atau terdapat pembatasan waktu dalam anggaran yang sangat ketat;

2) Time deadline pressure yaitu kondisi dimana auditor dituntut untuk menyelesaikan tugas audit tepat pada waktunya.

Fungsi anggaran dalam pemeriksaan adalah sebagai dasar estimasi biaya audit, alokasi staf ke masing-masing pekerjaan dan evaluasi kinerja staf auditor. Time pressure yang diberikan oleh Kantor Akuntan Publik kepada auditornya bertujuan untuk mengurangi biaya audit. Semakin cepat waktu pengerjaan audit, maka biaya pelaksanaan audit akan semakin kecil. Keberadaan time pressure ini memaksa auditor untuk menyelesaikan tugas secepatnya atau sesuai dengan anggaran waktu yang telah ditetapkan. Pelaksanaan prosedur audit seperti ini tentu saja tidak akan sama hasilnya bila prosedur audit dilakukan dalam kondisi tanpa time pressure. Agar menepati anggaran waktu yang telah ditetapkan, ada kemungkinan bagi auditor untuk melakukan pengabaian terhadap prosedur audit bahkan pemberhentian prosedur audit.

(6)

2.1.2 Perilaku Disfungsional

2.1.2.1 Definisi Perilaku Disfungsional

Edy Sudjana dan Tjitohadi Sawarjono dalam jurnalnya ( Perilaku Disfungisonal Auditor : perilaku yang tidak mungkin dihentikan ) menyatakan :

“ Perilaku disfungisonal auditor merupakan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh auditor dalam melakukan audit “

Sedangkan menurut Kelley dan Margheim (1990); Otley dan Pierce (1996b) dalam Siti Marfuah (2011) menyatakan :

“ Perilaku audit disfungsional adalah setiap tindakan yang dilakukan auditor dalam pelaksanaan pekerjaan audit yang dapat mengurangi atau menurunkan kualitas audit secara langsung maupun tidak langsung “

Perilaku-perilaku yang mereduksi kualitas audit secara langsung dilakukan melalui tindakan seperti; penghentian prematur prosedur audit, review yang dangkal terhadap dokumen klien, bias dalam pemilihan sampel, tidak memperluas scope pengujian ketika terdeteksi ketidak beresan, dan tidak meneliti kesesuaian perlakuan, akuntansi yang diterapkan klien (Kelley dan Margheim, 1990; Otley dan Pierce 1996a). Tindakan-tindakan seperti yang disebutkan di atas secara langsung mereduksi kualitas audit karena auditor memilih untuk tidak melaksanakan seluruh tahapan program audit secara cermat dan seksama. Dalam literatur auditing, tindakan-tindakan seperti yang disebutkan di atas dikelompokkan sebagai perilaku RKA (Malone dan Robert, 1996; Otley dan Pierce, 1996a; Herrbach, 2001; Pierce dan Sweeney 2004).

(7)

Selain tindakan yang dapat mereduksi kualitas audit secara langsung, perilaku disfungsional lainnya yang terjadi dalam praktek audit adalah tindakan auditor dengan cara tidak melaporkan seluruh waktu audit yang digunakan untuk melaksanakan tugas audit. Pada literatur auditing tindakan dengan memanipulasi atau tidak melaporkan waktu audit yang sesungguhnya disebut dengan perilaku underreporting of time (URT) (Lightner et al., 1982; Otley dan Pierce, 1996a).

Tindakan seperti ini berhubungan secara tidak langsung dengan penurunan kualitas audit, dimana auditor melaksanakan semua tahapan program audit. Meskipun demikian, perilaku URT dapat mengakibatkan KAP mengambil keputusan internal yang salah seperti; penetapan anggaran waktu audit untuk tahun berikutnya yang tidak realistis, evaluasi kinerja staf yang tidak tepat dan selanjutnya dapat mendorong perilaku RKA untuk penugasan berikutnya (McNair, 1991; Otley dan Pierce, 1996a).

Perilaku RKA dan URT selain digolongkan sebagai perilaku disfungsional dapat juga digolongkan sebagai perilaku tidak etis. Perilaku tidak etis adalah setiap tindakan yang diperbuat seseorang yang dapat berdampak buruk pada pihak lain, dimana tindakan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan atau aturan yang berlaku dan moral (Jones 1991). Kurangnya kejujuran dan integritas dengan menyajikan data yang salah merupakan salah satu ciri perilaku tidak etis (Arens dan Loebecke, 2002).

Perilaku RKA dan URT termasuk dalam kategori perilaku tidak etis karena auditor memanipulasi laporan kinerja tugas yang dibebankan KAP pada mereka yaitu dengan mengurangi pekerjaan yang seharusnya dilaksanakan dan melaporkan waktu

(8)

audit yang lebih singkat dari waktu aktual yang digunakan. Kedua bentuk perilaku tersebut juga merupakan pelanggaran terhadap standar audit profesional dan kebijakan KAP (Margheim dan Pany, 1986; Otley dan Pierce, 1996a)

Perilaku disfungsional auditor difokuskan pada dua, yaitu Premature Sign-Off (RKA) yang merupakan perilaku disfungsional yang dianggap mengurangi kualitas audit secara langsung, dan URT (Under Reporting of Time) yang dianggap mengurangi kualitas audit secara tidak langsung (Kelley dan Margheim (1990); Otley dan Pierce (1996b) dalam Siti Marfuah (2011).

2.1.2.2 Premature Sign-Off

Premature Sign Off (PMSO) merupakan suatu keadaan yang menunjukkan auditor menghentikan satu atau beberapa langkah audit yang diperlukan dalam prosedur audit tanpa menggantikan dengan langkah yang lain (Marxen, 1990 dalam Sososutikno, 2003).

Penghentian prematur atas prosedur audit merupakan tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak melaksanakan atau mengabaikan satu atau beberapa prosedur audit yang disyaratkan, namun auditor mendokumentasikan semua prosedur audit telah diselesaikan secara lengkap (Alderman dan Deitrick, 1982; Raghunathan, 1991 dalam Siti Marfuah 2011).

Penelitian-penelitian yang lebih awal tentang perilaku RKA terutama difokuskan pada satu tipe perilaku RKA yang dianggap paling serius yaitu penghentian prematur atas prosedur audit (premature sign-off) [misalnya; Alderman

(9)

dan Deitrick, 1982; Margheim dan Pany, 1986; Raghunathan, 1991]. Penghentian prematur atas prosedur audit merupakan tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak melaksanakan atau mengabaikan satu atau beberapa prosedur audit yang disyaratkan, namun auditor mendokumentasikan semua prosedur audit telah diselesaikan secara lengkap (Alderman dan Deitrick, 1982; Raghunathan, 1991). Hasil penelitian Rhode (1978) dalam Alderman dan Deitrick (1982) menunjukkan mayoritas (hampir 60 persen) dari respondennya mengakui mereka kadang-kadang melakukan penghentian prematur atas prosedur audit. Hasil penelitian berikutnya yang dilakukan Alderman dan Deitrick (1982) dan Raghunathan (1991) mengkonfirmasi temuan tersebut.

Temuan dari penelitian-penelitian berikutnya yang dilakukan oleh Kelley dan Margheim (1990), Malone dan Robert (1996), Otley dan Pierce (1996a), Herrbach (2001) dan Pierce dan Sweeney (2004) menunjukkan selain penghentian premature prosedur audit, berbagai bentuk tindakan lainnya yang dilakukan auditor dalam pelaksanaan program audit yang berpotensi mereduksi kualitas audit. Tindakan tindakan tersebut meliputi:

1. Review yang dangkal terhadap dokumen klien. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak memberi perhatian yang memadai atas keakuratan dan validitas dokumen klien.

(10)

2. Pengujian terhadap sebahagian item sampel. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak melaksanakan prosedur audit pada seluruh item sampel yang didesain dalam program audit.

3. Tidak menginvestigasi lebih lanjut item yang diragukan. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak memperluas scope pengujian ketika terdeteksi suatu transaksi atau pos yang mencurigakan.

4. Penerimaan atas penjelasan klien yang lemah. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan menerima penjelasan klien sebagai substitusi atau pengganti suatu bukti audit yang tidak diperoleh selama pelaksanaan audit.

5. Tidak meneliti prinsip akuntansi yang diterapkan klien. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak meneliti lebih lanjut kesesuaian perlakuan akuntansi yang diterapkan klien dengan prinsip akuntansi.

6. Pengurangan pekerjaan audit pada level yang lebih rendah dari yang disyaratkan dalam program audit. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan mengurangi pekerjaan audit yang dilakukan dari yang seharusnya dilaksanakan sesuai dengan program audit.

7. Penggantian prosedur audit dari yang ditetapkan dalam program audit. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak mengikuti prosedur yang ditetapkan dalam program audit.

(11)

8. Pengandalan berlebihan terhadap hasil pekerjaan klien. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan mengandalkan bukti audit atas hasil pekerjaan yang dilakukan klien.

9. Pendokumentasian bukti audit yang tidak sesuai dengan kebijakan KAP. Suatu tindakan yang dilakukan auditor dengan tidak mendokumentasikan bukti audit atas pelaksanaan suatu prosedur audit yang disyaratkan sesuai program audit yang ditetapkan oleh KAP.

2.1.2.3Under Reporting of Time (URT)

Bentuk lain perilaku audit disfungsional yang terjadi dalam praktek audit adalah tindakan auditor dengan memanipulasi laporan waktu audit yang digunakan untuk pelaksanaan tugas audit tertentu atau disebut sebagai Under Reporting of Time (URT).

Berbeda dengan perilaku RKA yang berpengaruh secara langsung terhadap penurunan kualitas audit, tindakan URT sering dipandang auditor tidak berpengaruh terhadap kualitas audit karena auditor menyelesaikan program audit secara lengkap dan seksama (Mc Nair, 1991). Hasil penelitian yang dilakukan Dirsmith dan Covalski (1985) menunjukkan auditor yang melakukan URT meyakini bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk dedikasi dan loyalitas individu auditor terhadap KAP.

Under Reporting of Time (URT) terjadi ketika auditor melaporkan waktu audit yang lebih singkat (underreport) dari waktu aktual yang dipergunakan untuk

(12)

menyelesaikan tugas audit tertentu (Adam dan Lightner, 1982; Otley dan Pierce, 1996b dalam Siti Marfuah 2011)

Penyampaian penggunaan waktu yang lebih singkat juga menghasilkan keputusan yang dibuat seseorang auditor menjadi lebih buruk, mempersulit kebutuhan untuk merevisi anggaran, serta mengakibatkan timbulnya tekanan anggaran waktu untuk pelaksanaan audit di waktu yang akan datang (Donalley et al., 2003 dalam Wilopo 2006).

Meskipun demikian, perilaku URT merupakan tindakan disfungsional yang pada akhirnya berdampak pada kualitas audit dan KAP (Kelley dan Margheim, 1990; McNair, 1991; Otley dan Pierce, 1996a). McNair (1991) mengemukakan perilaku URT adalah perilaku disfungsional, karena tindakan URT berdampak negatif pada lingkungan audit. Perilaku URT berpengaruh pada proses pengambilan keputusan internal KAP dalam berbagai bidang seperti; penyusunan anggaran waktu, evaluasi atas kinerja personal auditor, penentuan fee, serta pengalokasian personal auditor untuk mengerjakan tugas audit (Lightner et al., 1982; Otley dan Pierce, 1996a), dan selanjutnya berpengaruh terhadap penurunan kualitas audit (Mc Nair 1991; Otley dan Pierce, 1996a).

Temuan dari penelitian yang dilakukan Fleming (1990) dan Otley dan Pierce (1996a) menunjukkan realisasi anggaran waktu audit tahun sebelumnya merupakan faktor utama yang dipertimbangkan KAP dalam penyusunan anggaran waktu audit. Ketika auditor melakukan tindakan URT, maka anggaran waktu audit tahun

(13)

berikutnya menjadi tidak realistis. Anggaran waktu yang tidak realistis mengakibatkan auditor menghadapi kendala anggaran waktu dalam menyelesaikan tugas audit pada penugasan berikutnya, dan sebagai konsekuensinya dapat mengakibatkan keberlanjutan URT, penyelesaian tugas yang tidak tepat waktu atau tindakan RKA pada tahun berikutnya (Lightner et al., 1982; Shapeero et al., 2003). McNair (1991) menemukan tindakan URT yang dilakukan auditor dalam pelaksanaan prosedur audit pada periode sebelumnya memicu auditor melakukan perilaku RKA dalam menyelesaikan program audit pada penugasan berikutnya.

Perilaku URT juga berdampak terhadap penilaian yang dilakukan KAP atas kinerja personal auditor. Ketika auditor bertindak dengan cara URT, maka penilaian yang dilakukan KAP atas kinerja auditor menjadi tidak tepat. Hasil penelitian Kelley dan Seiler (1982) dan Lightner et al., (1982) mengindikasikan auditor yang menjadi responden mereka meyakini bahwa penyelesaian tugas audit pada batas anggaran waktu audit (walaupun dengan URT) merupakan faktor penting untuk keberlanjutan karier mereka di KAP. Sebagai tambahan, Lightner et al., (1982) menemukan auditor yang melakukan URT meyakini bahwa tindakan tersebut menghasilkan penilaian kinerja personal mereka yang lebih baik, pengakuan supervisor atas kompetensi mereka, serta kenyamanan kerja yang meningkat.

2.1.3 Kualitas Audit

2.1.3.1 Pengertian Audit

(14)

Association (AAA) dalam Ika Pertama (2011) auditing adalah:

“Auditing is a systematic process of objectivity obtaining and evaluating evidence regarding assertions about economic actions and events to ascertain the degree of correspondence between those assertions and estabilished criteria and communicating the results to interested users”.

Auditing merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif yang berhubungan dengan asersi-asersi tentang tindakan-tindakan dan peristiwa-peristiwa ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuain antara asersi-asersi tersebut dan kriteria yang diterapkan, serta mengkomonikasikan hasilnya kepada pengguan informasi tersebut.

Definisi auditing menurut Arens (2001) dalam Fajriyah (2010) adalah sebagai berikut :

”Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and estabilished criteria. Auditing should be done by a competent, independent person”.

Auditing adalah proses yang ditempuh oleh seseorang yang kompeten dan independen agar dapat menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti mengenai informasi yang terukur dalam suatu entitas (satuan) usaha untuk mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dengan kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh seseorang yang kompeten dan independen.

Menurut Mulyadi (2008) dalam Prolentina (2011) menyatakan :

“ Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara

(15)

pernyataan-pernyataantersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan ”

2.1.3.2 Jenis Audit

Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu (Goldman dan Barlev, 1974 dalam Meutia, 2004):

1) Audit laporan keuangan (financial statement audit) yaitu audit yang dilakukan oleh auditor eksternal terhadap laporan keuangan kliennya untuk memberikan pendapat apakah laporann keuangan tersebut disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan;

2) Audit kepatuhan (compliance audit), yang bertujuan untuk menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peraturan, dan undang-undang tertentu. Audit kepatuhan biasa disebut fungsi audit internal, karena dilakukan pegawai perusahaan;

3) Audit operasional (operational audit), merupakan penelaahan secara sistematik aktivitas operasi organisasi dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional, auditor diharapkan melakukan pengamatan yang objektif dan analisis yang komprehensif terhadap operasional-operasional tertentu.

(16)

Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasly (2007:218) yang diterjemahkan oleh Tim Dejacarta dalam Ika Pertama (2011) menyatakan terdapat dua tujuan spesifik audit,

yaitu :

1) Tujuan umum berkait saldo

Tujuan umum berkait saldo terdiri dari: • Eksistensi

Tujuan ini menyangkut apakah angka-angka dimasukkan dalam laporan keuangan memang seharusnya dimasukkan.

• Kelengkapan

Tujuan ini menyangkut apakah semua angka-angka yang seharusnya dimasukkan memang diikut sertakan secara lengkap.

• Akurasi

Tujuan akurasi mengacu ke jumlah yang dimasukkan dengan jumlah yang benar.

• Klasifikasi

Klasifikasi digunakan untuk menunjukkan apakah setiap pos dalam daftar klien telah dimasukkan dalam akun yang benar.

• Pisah Batas

Tujuannya adalah untuk memutuskan apakah transaksi telah dicatat dalam periode yang tepat.

(17)

• Kecocokan Rincian

Tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa rincian dalam daftar memang dibuat dengan akurat, dijumlahkan secara benar dan sesuai dengan buku besar.

• Nilai Realisasi

Tujuan ini berkaitan dengan apakah suatu saldo akun telah dikurangi untuk penurunan dari biaya historis menjadi realisasi.

• Hak dan Kewajiban

Tujuan ini merupakan cara akuntan publik memenuhi asersi mengenai hak dan kewajiban.

• Penyajian dan Pengungkapan

Untuk mencapai tujuan penyajian, akuntan publik melakukan pengujian untuk menyakinkan bahwa semua akun neraca dan laporan laba rugi serta informasi yang berkaitan telah disajikan dengan benar dalam laporan keuangan.

2) Tujuan audit umum berkait transaksi terdiri dari: • Eksistensi

Tujuan ini berkaitan apakah transaksi yang dicatat secara aktual memang terjadi.

• Kelengkapan

Tujuan ini menyangkut apakah seluruh transaksi yang seharusnya ada dalam jurnal secara aktual telah dimasukkan.

(18)

• Akurasi

Tujuan ini menyangkut keakuratan informasi untuk transaksi akuntansi. • Klasifikasi

Transaksi yang dicantumkan dalam jurnal diklasifikasikan dengan tepat • Saat Pencatatan Kesalahan saat pencatatan jika transaksi tidak dicatat pada

tanggal transaksi terjadi. • Posting Pengikhtisaran

Transaksi yang tercatat secara tepat dimasukkan dalam berkas induk dan di ikhtisarkan dengan benar.

2.1.3.4 Pengertian Kualitas Audit

Kottler (1997) dalam Nurhayati (2003) mendefinisikan kualitas sebagai keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang mendukung kemampuan untuk memuaskan kebutuhan.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) mendefinisikan kualitas sebagai mutu, keseluruhan dari semua atribut dan karakteristik dari sebuah produk atau jasa, seperti yang dibutuhkan dan diharapkan.

Sedangkan kualitas audit menurut De Angelo (1981) dalam Simajuntak (2008) sebagai gabungan probabilitas seorang auditor untuk dapat menemukan dan melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien. Seorang auditor dituntut untuk dapat menghasilkan kualitas pekerjaaan yang tinggi, karena auditor mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pihak-pihak yang

(19)

berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan termasuk masyarakat. Tidak hanya bergantung pada klien saja.

Sedangkan menurut Dopouch dan Simunic dalam Eunike (2007) menyatakan bahwa kualitas audit :

“ Memproksi kualitas audit berdasarkan reputasi Kantor Akuntan Publik ” AAA Financial Accounting Standard Committee (2000) dalam Christiawan (2002) menyatakan bahwa:

“ kualitas audit ditentukan oleh 2 hal, kompetensi (keahlian) dan independensi, kedua hal tersebut berpengaruh langsung terhadap kualitas dan secara potensial saling mempengaruhi. Lebih lanjut, persepsi pengguna laporan keuangan atas kualitas audit merupakan fungsi dari persepsi mereka atas independensi dan keahlian auditor.”

Kesimpulan penting dari pernyataan di atas adalah bahwa audit berkualitas adalah audit yang dilaksanakan oleh orang yang kompeten dan independen. Auditor yang kompeten adalah auditor yang memiliki kemampuan teknologi, memahami dan melaksanakan prosedur audit yang benar, memahami dan menggunakan metode penyampelan yang benar, dan lain-lain. Probabilitas auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran tergantung dari kompetensi yang dimiliki auditor tersebut (Indah, 2010).

Adapun untuk mengukur kualitas audit Menurut Deis dan Giroux (1992) dalam M. Nizarul Alim (2007) dkk yaitu sebagai berikut :

(20)

1. Lama waktu auditor telah melakukan pemeriksaan terhadap suatu perusahaan (tenure), semakin lama seorang auditor telah melakukan audit pada klien yang sama maka kualitas audit yang dihasilkan akan semakin rendah,

2. Jumlah klien, semakin banyak jumlah klien maka kualitas audit akan semakin baik karena auditor dengan jumlah klien yang banyak akan berusaha menjaga reputasinya,

3. Kesehatan keuangan klien, semakin sehat kondisi keuangan klien maka akan ada kecenderungan klien tersebut untuk menekan auditor agar tidak mengikuti standar, dan

4. Review oleh pihak ketiga, kualitas audit akan meningkat jika auditor tersebut mengetahui bahwa hasil pekerjaannya akan direview oleh pihak ketiga.

Halim (2004) dalam Andini (2011) menyimpulkan faktor-faktor penentu kualitas audit terdiri dari : 1) Pengalaman, 2) Pemahaman industri klien, 3) Respon atas kebutuhan klien, dan 4) Ketaatan pada standar umum audit.

Sedangkan menurut Panduan Manajemen Pemeriksaan BPK (2002) dalam Prasita dan Priyo (2007) standar kualitas audit terdiri dari:

1. Kualitas strategis yang berarti hasil pemeriksaan harus memberikan informasi kepada pengguna laporan secara tepat waktu.

2. Kualitas teknis berkaitan dengan penyajian temuan, simpulan, dan opini atau saran pemeriksaan yaitu penyajiannya harus jelas, konsisten, dan obyektif.

(21)

3. Kualitas proses yang mengacu kepada proses kegiatan pemeriksaan sejak perencanaan, pelaksanaan, pelaporan sampai dengan tindak lanjut pemeriksaan.

Dalam SPAP yang dikeluarkan IAI tahun 2001 menyatakan bahwa kriteria atau ukuran mutu mencakup profesional auditor. Kriteria mutu profesional auditor seperti yang diatur dalam Standar Umum auditing (SPAP:IAI, 2001) meliputi:

a) Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.

b) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

c) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama

Menurut Simamora, Henry (2002:47) dalam Prolentina (2011), ada 8 prinsip yang harus dimiliki seseorang auditor dalam menjalankan profesinya, yaitu :

1. Tanggung jawab profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

(22)

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

3. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

4. Objektivitas

Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

5. Kompetensi dan Kehati-hatian profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan hati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional.

6. Kerahasiaan

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan.

7. Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

(23)

8. Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan.

Menurut Donald dan William (1982) dalam Hartinto (2004) independensi auditor independen mencakup dua aspek, yaitu:

1. Independensi sikap mental berarti adanya kejujuran dalam diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif, tidak memihak dalam diri auditor dalam menyatakan pendapatnya.

2. Independensi penampilan berarti adanya kesan masyarakat bahwa auditor independen bertindak bebas atau independent, sehingga auditor harus dapat menghindari keadaan atau faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat meragukan kebebasannya.

2.1.4 Hubungan tekanan anggaran waktu dengan perilaku disfungsional

Time budget pressure suatu audit mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku disfungsional auditor Otley dan Pierce, (1996) dalam Edy Suprianto (2009). Semakin besar tingkat time budget pressure maka akan semakin besar pula kemungkinan auditor untuk melakukan audit quality reduction behaviour (AQRB), dan Under reporting of time (URT). Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Soobaroyen dan Chengabroyan (2005) dalam Edy Suprianto (2009) mengatakan bahwa time budget pressure suatu audit yang besar mempunyai pengaruh

(24)

positif terhadap perilaku disfungsional auditor terdiri dari audit quality reduction behaviour (AQRB), premature sign-off (PSO) dan under reporting of time (URT) .

Penelitian yang dilakukan oleh Kelley dan Margheim (1990) dalam jurnal Edy Sujana dan Tjitohadi (2006) menunjukkan bahwa perilaku disfungsional auditor diukur berdasarkan anggaran yang ketat pada tingkat yang berbeda. Perilaku disfungsional dapat terjadi pada tingkat anggaran waktu yang sangat mudah atau sangat sulit dicapai. Perilaku disfungsional yang lebih rendah pada tingkat sangat tinggi atas tekanan anggaran lebih memungkinkan mengarah pada perasaan kecewa dan kelalaian terhadap etika dan kualitas pekerjaan.

Penelitian Rhode (1978) dalam Alderman dan Deitrick (1982) merupakan studi paling awal yang dilakukan untuk menginvestigasi perilaku auditor yang tidak pantas dalam pelaksanaan program audit (Alderman dan Deitrick, 1982). Hasil penelitian Rhode (1978) menunjukkan mayoritas anggota AICPA yang menjadi respondennya mengakui mereka kadang-kadang melakukan tindakan audit disfungsional dalam pelaksanaan program audit. Faktor yang mendorong perilaku tersebut adalah; (1) kendala anggaran waktu audit, (2) tahapan audit yang dipertimbangkan tidak penting, (3) batas waktu penyelesaian audit yang ditetapkan klien, dan (4) kebosanan dalam melakukan pekerjaan audit.

Alderman dan Deitrick (1982) mereplikasi dan memperluas penelitian Rhode (1978). Perluasan dilakukan dengan cakupan responden yang lebih luas yaitu dengan melibatkan auditor dari seluruh posisi pada organisasi KAP yang bekerja pada KAP

(25)

nasional dan KAP Big Eight. Hasil studi mereka mengkonfirmasi temuan Rhode (1978). Secara rinci hasil penelitian mereka menunjukkan 31 persen dari auditor yang berpartisipasi meyakini bahwa penghentian prematur prosedur audit terjadi dalam praktik, dan tindakan tersebut cenderung dilakukan pada pengujian pengendalian intern dan prosedur audit yang dipersepsikan tidak penting. Mereka juga menemukan penghentian prematur prosedur audit lebih mungkin dilakukan auditor pada posisi level bawah (junior dan senior) dibandingkan auditor pada posisi level atas (manajer dan partner).

Konsisten dengan temuan Rhode (1978), alasan utama melakukan penghentian prematur prosedur audit adalah kendala anggaran waktu. Kelley dan Seiler (1982) melakukan survei terhadap auditor yang bekerja di KAP multinasional, regional dan nasional untuk menginvestigasi tekanan anggaran waktu yang dirasakan auditor dan cara yang ditempuh auditor untuk menanggulangi kendala anggaran waktu. Responden meliputi auditor staf, senior, manajer, dan partner. Hasil studi mereka menunjukkan auditor pada posisi level bawah (junior dan senior) merasakan tekanan anggaran waktu pada level yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor pada posisi level atas (manajer dan partner). Lebih lanjut hasil studi mereka mengindikasikan tekanan anggaran waktu yang dirasakan berhubungan positif dengan perilaku audit disfungsional.

Penelitian Lightner et al., (1982) difokuskan untuk menginvestigasi perilaku URT dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut. Perilaku URT

(26)

diukur dengan meminta responden menunjukkan seberapa sering mereka dapat memenuhi anggaran waktu jika mereka melaporkan seluruh waktu yang digunakan untuk pelaksanaan audit. Hasil studi mereka menunjukkan lebih dari 63 persen responden melakukan tindakan URT. Faktor utama yang mendorong perilaku tersebut adalah anggaran waktu yang ketat. Hasil temuan mereka mengindikasikan semakin sulit anggaran waktu dicapai, maka semakin meningkat perilaku URT. Mereka juga menemukan permintaan dari supervisor untuk melakukan tindakan URT dan keyakinan individual (yaitu perilaku URT menghasilkan evaluasi kinerja personal mereka menjadi lebih baik) berpengaruh terhadap kecenderungan auditor melakukan tindakan URT.

Ponemon (1992) melakukan studi eksperimen untuk menginvestigasi dampak tekanan anggaran waktu terhadap perilaku URT. Partisipan penelitian terdiri dari 88 auditor dari KAP berskala nasional. Ponemon (1992) menugaskan subyek (auditor) pada grup kontrol (tidak ada anggaran waktu) dan grup perlakuan (anggaran waktu ketat). Setiap subyek ditugaskan untuk menyelesaikan rekonsiliasi bank tanpa ada supervisi. Hasil penelitian tersebut mengindikasikan auditor dalam kondisi tekanan anggaran waktu cenderung melakukan perilaku URT dalam pelaksanaan prosedur audit, terutama jika kesadaran moral auditor rendah.

Otley dan Pierce (1996a) menguji anteseden dan konsekuen tekanan anggaran waktu. Responden mereka adalah auditor senior yang bekerja pada KAP yang termasuk Big-Six di Irlandia. Tekanan anggaran waktu dioperasionalisasikan dengan

(27)

ketercapaian anggaran waktu yang dirasakan auditor dalam pelaksanaan program audit. Hasil studi Otley dan Pierce (1996a) menunjukkan terdapat hubungan linier antara tekanan anggaran waktu yang dirasakan (ketercapaian anggaran waktu yang dirasakan) dengan perilaku audit disfungsional (RKA dan URT). Mereka juga menemukan fee dari klien, program audit dan partisipasi dalam penyusunan anggaran waktu audit berpengaruh terhadap ketercapaian anggaran waktu yang dirasakan dalam pelaksanaan program audit.

Tekanan anggaran waktu yang dirasakan auditor dalam pelaksanaan program audit dapat mempengaruhi perilaku auditor dalam pelaksanaan program audit. Akers dan Eton (2003) mengemukakan jika auditor merasakan terdapat tekanan anggaran waktu dalam pelaksanaan tugas audit, maka auditor mungkin bertindak dengan salah satu dari cara berikut:

1. Melaksanakan prosedur audit sebagaimana mestinya dan melaporkan waktu aktual yang digunakan dalam pelaksanaan tugas tersebut. Dalam hal ini auditor menanggulangi kendala anggaran waktu dengan cara fungsional. 2. Melaksanakan prosedur audit sebagaimana mestinya, tetapi memanipulasi

catatan waktu dengan tidak melaporkan waktu audit aktual yang digunakan untuk pelaksanaan tugas audit. Dalam hal ini auditor menanggulangi kendala anggaran waktu dengan melakukan perilaku URT.

3. Tidak melakukan prosedur audit sebagaimana mestinya, tetapi auditor mengklaim bahwa mereka telah melakukan prosedur audit sebagaimana

(28)

mestinya. Dalam hal ini auditor menanggulangi kendala anggaran waktu yang dirasakan dengan perilaku RKA.

2.1.5 Pengaruh tekanan anggaran waktu dengan kualitas audit.

Adapun hubungan antara tekanan anggaran waktu dan professional terhadap kualitas audit Menurut Pratiwi (2008) dalam Prolentina (2011) :

“ Pengaruh positif yang ditimbulkan dari adanya tekanan time budget antara lain terpacunya kinerja auditor untuk dapat menyelesaikan pekerjaanya tepat pada waktunya. Sementara itu pengaruh negatif dari adanya tekanan time budget ini berpotensi menimbulkan sikap dalam tindakan profesional yang dapat mengurangi kualitas audit dan laporan audit yang dihasilkan. “

Tekanan anggaran waktu yang dihadapi oleh profesional dalam bidang pengauditan dapat menimbulkan tingkat stress yang tinggi dan mempengaruhi sikap, niat, dan perilaku auditor serta mengurangi perhatian mereka terhadap aspek kualitatif dari indikasi salah saji yang menunjukkan potensial kecurangan atas pelaporan keuangan (Dezoort, 2002 dalam Prama Jaka, 2011).

Tekanan waktu (time pressure) suatu keadaan di mana auditor mendapatkan tekanan dari Kantor Akuntan Publik tempatnya bekerja, untuk menyelesaikan audit pada waktu dan anggaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya, sebagaimana pendapat Sumekto (2001) dalam Imam Wahyudi,dkk (2011) mengungkapkan bahwa batasan waktu memang ada/telah terjadi dan justru berdampak negative terhadap kinerja auditor.

(29)

Faktor yang mempengaruhi kualitas audit adalah tekanan anggaran waktu yang diberikan oleh klien. Tekanan anggaran waktu menyebabkan stress individual yang muncul akibat tidak seimbangnya tugas dan waktu yang tersedia serta mempengaruhi etika professional melalui sikap, nilai, perhatian, dan perilaku auditor ( Sososutikno dan Christina, 2003 dalam Andini, 2011). Tekanan anggaran waktu salah satunya disebabkan oleh tingkat persaingan yang semakin tinggi antar Kantor Akuntan Publik (KAP) (Irene, 2007 dalam Simajuntak, 2008).

Teori keperilakuan menjelaskan hubungan antara variable tekanan anggaran waktu dengan kualitas audit. De Zoort dan Lord (1997) dalam Nataline, (2007) yang menyebutkan bahwa saat menghadapi tekanan anggaran waktu, auditor akan memberikan respon dengan dua cara yaitu, fungsional dan disfungsional. Jadi dengan adanya tekanan anggaran waktu dapat mempengaruhi perilaku auditor yang kemudian menyebabkan penurunan kualitas audit.

Tekanan anggaran waktu merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja seorang (Ahituv dan Igbaria, 1998). Bagi KAP sendiri tekanan waktu merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari dalam menghadapi iklim persaingan antar KAP. KAP harus mampu menglokasikan waktu secara tepat dalam menentukan besarnya kos audit. Alokasi waktu yang terlalu lama dapat berarti kos audit yang semakin besar, akibatnya klien akan menanggung fee audit yang besar pula. Hal ini bisa menjadi kontraproduktif mengingat ada kemungkinan klien memilih menggunakan KAP lain yang lebih kompetitif.

(30)

Waktu pengauditan harus dialokasikan secara realistis, tidak terlalu lama atau terlalu cepat. Waggoner dan Cashell (1991) menyatakan bahwa alokasi waktu yang terlalu lama justru membuat auditor lebih banyak melamun/berangan-angan dan tidak termotivasi untuk lebih giat dalam bekerja. Sebaliknya apabila alokasi waktu yang diberikan terlalu sempit, maka dapat menyebabkan perilaku yang kontraproduktif, dikarenakan adanya tugas tugas yang diabaikan. Dalam risetnya ini, Waggoner dan Cashell (1991) menemukan bahwa makin sedikit waktu yang disediakan (tekanan anggaran waktu semakin tinggi), maka makin besar transaksi yang tidak diuji oleh auditor.

Anggaran waktu dianggap sebagai faktor timbulnya kerja audit dibawah standar dan mendorong terjadinya pelanggaran terhadap standar audit dan perilaku-perilaku yang tidak etis (Azad 1994). McDaniel (1990) menemukan bahwa tekanan anggaran waktu menyebabkan menurunnya efektifitas dan efisiensi kegiatan pengauditan. Pada program terstruktur penurunan efektifitas ini semakin besar, sementara pada program yang tidak terstruktur efisiensi audit akan mengalami penurunan yang signifikan.

Dari paparan ini tampak bahwa tekanan anggaran waktu akan menghasilkan kinerja buruk auditor. Kualitas audit bisa menjadi semakin buruk, bila alokasi waktu yang dianggaran tidak realistis dengan kompleksitas audit yang diembannya. Coram dkk (2003) menghasilkan temuan terkait yang menunjukkan semakin menurunnya kualitas audit dikarenakan anggaran waktu yang sangat ketat.

(31)

2.1.6 Pengaruh perilaku disfungsional dengan kualitas audit.

Dalam studinya, Azad (1994) dalam Andini (2011) menemukan bahwa kondisi yang tertekan (secara waktu), auditor cenderung berperilaku disfungsional, misal melakukan premature sign off, terlalu percaya pada penjelasan dan presentasi klien, serta gagal mengivestigasi isu-isu relevan, yang pada gilirannya dapat menghasilkan laporan audit berkualitas rendah

Perilaku RAQPs merupakan masalah yang serius karena mengurangi kualitas audit secara langsung (Otley dan Pierce, 1996a; McNair, 1991 dalam Siti Marfuah 2011). Penelitian-penelitian yang lebih awal tentang perilaku RAQPs terutama difokuskan pada satu tipe perilaku yang dianggap paling serius yaitu penghentian prematur atas prosedur audit (premature sign-off).

Sedangkan Otley dan Pierce (1996b) dan Pierce dan Sweeney (2004) dalam Siti Marfuah (2011) mengidentifikasikan berbagai bentuk tindakan lainnya yang dilakukan auditor dalam pelaksanaan program audit yang berpotensi mereduksi kualitas audit. Tindakan-tindakan tersebut meliputi:

1. Review yang dangkal terhadap dokumen klien. 2. Pengujian terhadap sebahagian item sampel.

3. Tidak menginvestigasi lebih lanjut item yang diragukan. 4. Penerimaan atas penjelasan klien yang lemah.

(32)

6. Pengurangan pekerjaan audit pada level yang lebih rendah dari yang disyaratkan dalam program audit.

Tindakan-tindakan tersebut bersama-sama dengan premature Sign-Off merupakan tindakan yang secara langsung mengurangi kualitas audit karena auditor secara sengaja mereduksi efektivitas bukti-bukti audit yang dikumpulkan. Dengan demikian bukti audit yang dikumpulkan tidak memadai secara kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini akan menyebabkan kemungkinan auditor membuat judgment dan opini yang salah akan semakin tinggi (Coram et al., 2003). Malone dan Robert (1996) mengemukakan meskipun terdapat mekanisme internal dan eksternal dalam mengendalikan mutu pekerjaan audit, auditor kadang-kadang mengkompromikan kualitas audit karena mereka memilih untuk tidak melaksanakan seluruh tahapan program audit secara cermat dan seksama.

Berbeda dengan perilaku RAQPs yang berpengaruh secara langsung terhadap penurunan kualitas audit, tindakan URT sering dipandang auditor tidak berpengaruh terhadap kualitas audit karena auditor menyelesaikan program audit secara lengkap dan seksama (McNair, 1991). Meskipun demikian, perilaku URT merupakan tindakan disfungsional yang pada akhirnya berdampak pada kualitas audit dan KAP (Kelley dan Margheim, 1990; McNair, 1991; Otley dan Pierce, 1996b). McNair (1991) mengemukakan perilaku URT adalah perilaku disfungsional, karena tindakan URT berdampak negatif pada lingkungan audit.

(33)

Perilaku URT berpengaruh pada proses pengambilan keputusan internal KAP dalam berbagai bidang seperti; penyusunan anggaran waktu, evaluasi atas kinerja personal auditor, penentuan fee, serta pengalokasian personel auditor untuk mengerjakan tugas audit (Otley dan Pierce, 1996b), dan selanjutnya berpengaruh terhadap penurunan kualitas audit (Mc Nair 1991; Otley dan Pierce, 1996b).

Temuan dari penelitian Otley dan Pierce (1996b) menunjukkan realisasi anggaran waktu audit tahun sebelumnya merupakan faktor utama yang dipertimbangkan KAP dalam penyusunan anggaran waktu audit. Ketika auditor melakukan tindakan URT, maka anggaran waktu audit tahun berikutnya menjadi tidak realistis. Anggaran waktu yang tidak realistis mengakibatkan auditor menghadapi kendala anggaran waktu dalam menyelesaikan tugas audit pada penugasan berikutnya, dan sebagai konsekuensinya dapat mengakibatkan keberlanjutan URT, penyelesaian tugas yang tidak tepat waktu atau tindakan RAQPs pada tahun berikutnya.

2.2 Kerangka Pemikiran

Menurut Sukrisno Agoes (2004:46) dalam Plorentina (2011) Kantor Akuntan Publik adalah:

“ Suatu bentuk organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berusaha dibidang pemberian jasa professional dalam praktik akuntan publik ”.

(34)

“ Auditor dituntut untuk melakukan efisiensi biaya dan waktu dalam melaksanakan audit. Akhir-akhir ini tuntutan tersebut semakin besar dan menimbulkan time budget”.

Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010:160) anggaran waktu adalah :

“Suatu audit disusun dengan memprediksi waktu yang dibutuhkan pada setiap tahap dalam program audit untuk berbagai tingkat auditor dan menjumlahkan prediksi tersebut”.

Menurut Kelley dan Margheim (1990); Otley dan Pierce (1996b) dalam Siti Marfuah (2011) menyatakan :

“ Perilaku audit disfungsional adalah setiap tindakan yang dilakukan auditor dalam pelaksanaan pekerjaan audit yang dapat mengurangi atau menurunkan kualitas audit secara langsung maupun tidak langsung “

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Nama Judul Kesimpulan Perbedaan Persamaan

1. Indra Firmansyah,Y. Casmandi, Puji Barkah (2010) “Pengaruh Time budget pressure terhadap kualitas auditor. (Pada Kantor Akuntan Publik di Bandung) Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh yang kuat antara Time Budget Pressure terhadap Kualitas Auditor Variabel X2 kualitas audit Variable X1 time budget pressure

(35)

2. Christina Sososutiksno (2005) Relation of time budget pressure by Dysfunctional Behaviour and, Its Influence to Audit Quality

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan anggaran waktu berpengaruh positif terhadap perilaku prematur sign-off, di bawah-pelaporan waktu, dan perilaku pengurangan kualitas audit. Sebaliknya, disfungsional perilaku yang tercermin dari perilaku prematur sign-off, di bawah Variabel Y : Perilaku Disfungsional 1. Variabel X1 time budget pressure 2. Variable Y: Kualitas audit

Berdasarkan uraian teoritis, maka variabel independen penelitian adalah tekanan anggaran waktu dan perilaku disfungsional serta variabel dependen adalah kualitas audit. Hubungan antara tekanan anggaran waktu, perilaku disfungsional dan kualitas audit dapat digambarkan dalam kerangka sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Tekanan Anggaran Waktu

Perilaku Disfungsional

(36)

2.3 Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, penulis menetapkan hipotesis penelitian sebagai berikut.

H1: Tekanan anggaran waktu berhubungan dengan perilaku disfungsional. H2: Tekanan anggaran waktu berpengaruh terhadap kualitas audit.

H3 : Perilaku disfungsional berpengaruh terhadap kualitas audit.

H4 : Tekanan anggaran waktu dan perilaku disfungsional berpengaruh terhadap kualitas audit

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :