• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.1 Kondisi Fisik

4.1.1 Geografi dan Administrasi

Kecamatan Payangan merupakan salah satu kecamatan dari tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Gianyar. Secara geografis terletak diantara koordinat 8o18’48” - 8o29’40” Lintang Selatan dan 115o13’29,0” - 115o17’36,7” Bujur Timur. Luasnya 75,88 km2 merupakan wilayah kecamatan terluas di Kabupaten Gianyar atau 20,62 persen dari luas Kabupaten Gianyar, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : sebelah Utara berbatas-batasan dengan Kabupaten Bangli, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tegallalang, sebelah Selatan dengan Kecamatan Ubud dan sebelah Barat dengan Petang (Kabupaten Badung).

Secara administrasi Kecamatan Payangan terdiri dari 9 desa, seperti ditunjukkan pada Gambar 7, dengan batas wilayah masing-masing dirinci seperti Tabel 10 berikut. Kecamatan Payangan berada di sebelah Baratdaya pada jarak 20,25 km ditinjau dari pusat kota Gianyar.

 

Tabel 10 Batas Kecamatan Payangan Menurut Desa di Kecamatan Payangan

No. Desa

Letak Wilayah

Utara Selatan Barat Timur

1 Buahan Kaja Ds. Langgahan Ds. Buahan Sungai Ayung Ds. Puhu/Kerta 2 Buahan Ds. Buahan Kaja Ds. Petang (Bdg) Ds. Petang (Bdg) Ds. Puhu 3 Kerta Ds. Bangua (Bngl) Ds. Puhu Ds. Buahan Ds. Taro 4 Puhu Ds. Kerta Ds. Melinggih Ds. Buahan Ds. Taro 5 Kelusa Ds. Bresela Ds. Payogan Ds. Melinggih Kld. Ds. Keliki 6 Bresela Ds. Taro Ds. Kelusa Ds. Bikian Ds. Sebatu 7 Bukian Ds. Puhu Ds. Kelusa Ds. Melinggih Ds. Taro/Bresela 8 Melinggih Kelod Ds. Melinggih Ds. Kedewatan S. Ayung (Bdg) Ds. Kelusa 9 Melinggih Ds. Puhu Ds. Melinggih Kld. S. Ayung (Bdg) Ds. Bukian/Kelusa Kec. Payangan Bangli Ubud/Petang Petang (Badung) Ubud/Tegallalang Sumber : Depkimpraswil (2003)

(2)

Gambar 7 Peta Administrasi Kecamatan Payangan PAYANGAN TEGALLALANG UBUD UBUD TAMPAK SIRING Kerta Puhu Bukian Buahan Buahan Kaja Kelusa Melinggih Bresela Melinggih Kelod 115°16'26"E 115°16'26"E 115°14'24"E 115°14'24"E 8° 19 '4 0" S 8° 19 '4 0" S 8° 21 '4 2" S 8° 21 '4 2" S 8° 23 '4 4" S 8° 23 '4 4" S 8° 25 '4 6" S 8° 25 '4 6" S 8° 27 '4 8" S 8° 27 '4 8" S PETA ADMINISTRASI KECAMATAN PAYANGAN Sumber Peta : Bappeda Kab. Gianyar

±

0 1 2 3 Kilometers Kecamatan Payangan LEGENDA : Batas Desa Batas Kecamatan Batas Kabupaten Jalan Sungai Bresela Buahan Buahan Kaja Bukian Kelusa Kerta Melinggih Melinggih Kelod Puhu SKALA : KAB. BANGLI KAB. BADUNG KAB. BADUNG

(3)

4.1.2 Geologi dan Jenis Tanah

Kecamatan Payangan termasuk kawasan dengan batuan induk yang berasal dari abu vulkan intermedier. Tanah yang terbentuk dari batuan ini adalah jenis tanah regosol coklat kekuningan dan regosol berhumus. Jenis tanah ini memiliki kepekaan terhadap erosi yang cukup tinggi karena dalam proses pembentukannya masih tergolong muda dan belum mengalami pelapukan secara sempurna sehingga cenderung bersifat porus.

4.1.3 Iklim

Kabupaten Gianyar dan wilayah Bali pada umumnya beriklim laut tropis, dipengaruhi oleh angin musim dan terdapat musim kemarau sekitar bulan Juni-September dan musim hujan sekitar bulan Desember-Maret yang diselingi oleh musim pancaroba. Curah hujan dipengaruhi oleh keadaan iklim dan perputaran atau pertemuan arus udara, sehingga jumlah curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat.

Berdasarkan hasil pencatatan, curah hujan bulanan sepanjang tahun 2009 di Kecamatan Payangan berkisar antara 24 – 960 mm. Bulan Nopember merupakan bulan dengan curah hujan rendah selama tahun 2009 dengan curah hujan 24 mm, dan bulan terbasah adalah bulan Januari dengan curah hujan 960 mm. Temperatur udara rata-rata di Kabupaten Gianyar mencapai 27oC dengan suhu minimum rata-rata 24oC dan suhu maksimum rata-rata 30oC. Kelembaban udara rata-rata 75,50% berkisar antara 74% hingga 77%. Perkembangan keadaan iklim dalam kurun waktu lima tahun ditampilkan pada Tabel 11.

Tabel 11 Keadaan Iklim Rata-Rata di Kabupaten Gianyar Tahun 2003-2007

Keadaan Iklim Tahun

2003 2004 2005 2006 2007

1. Suhu (oC) 27,00 27,00 27,00 27,00 27,00 2. Kelembaban Udara (%) 75,50 75,50 75,50 75,50 75,50 3. Curah Hujan (mm/th) 1.243 1.135 1.952 1.670 2.097

4. Hari Hujan (hari) 56 50 85 68 92

(4)

4.1.4 Hidrologi

Hidrologi wilayah dapat ditinjau dari keberadaan sumber-sumber air, baik itu dari air permukaan maupun air bawah tanah. Ketersediaan air di wilayah penelitian didukung oleh air permukaan yang bersumber dari air sungai seperti Sungai Ayung dan Sungai Wos yang mempunyai aliran kontinyu sepanjang tahun atau disebut sungai perennial. Jenis air permukaan juga bisa berasal dari mata air dengan potensi yang berbeda dan penyebarannya tidak sama. Kapasitas air sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, iklim, daerah tangkapan, vegetasi, dan struktur geologi. 

4.1.5 Pemanfaatan Ruang

Pemanfaatan ruang dalam wilayah penelitian menggambarkan penggunaan lahan pada saat ini. Penggunaan lahan seperti terlihat pada Tabel 12, didominasi oleh tegalan seluas 3428 Ha atau 45,18% dari luas keseluruhan yaitu 7.588 Ha dan kedua terbesar adalah berupa lahan persawahan seluas 1.925 Ha (25,37%). Selanjutnya merupakan lahan pemanfaatan lainnya 21,85% dan diikuti pemanfaatan untuk permukiman serta sebesar 0,58% untuk lahan kuburan.

Tabel 12 Penggunaan Lahan Wilayah Payangan Tahun 2009

No Desa

Penggunaan Lahan (Ha)

Jumlah (Ha)

Sawah Tegalan

Permu-kiman Kubu-ran Lainnya 1. Buahan Kaja 270,00 161,81 32,05 4,50 606,64 1.075,00 2. Buahan 150,00 494,00 93,03 4,50 208,47 950,00 3. Kerta 153,00 871,95 31,69 10,00 375,36 1.442,00 4. Puhu 313,00 787,00 67,03 5,00 218,97 1.391,00 5. Kelusa 203,00 279,40 62,01 3,77 101,82 650,00 6. Bresela 153,00 79,27 50,56 1,23 7,94 292,00 7. Bukian 209,00 429,10 90,56 6,00 104,34 839,00 8. Melinggih Kelod 252,00 154,55 46,51 3,79 5,15 462,00 9. Melinggih 222,00 170,92 59,56 5,21 29,31 487,00 Jumlah 1.925,00 3.428,00 533,00 44,00 1.688,00 7.588,00 Persentase 25,37 45,18 7,02 0,58 21,85 100,00

(5)

4.2 Sosial dan Budaya 4.2.1 Demografi

Berdasarkan hasil registrasi penduduk di Kecamatan Payangan dalam 5 tahun terakhir menunjukkan, komposisi penduduk laki-laki dan perempuan hampir berimbang tiap tahun. Kondisi ini bisa dilihat dari nilai sex ratio yang berkisar antara 99,64 sampai 100,55. Dilihat dari sebaran penduduk dalam luas wilayah 75,88 km2 mencapai 461 jiwa/km2 pada tahun 2005, terus meningkat sampai pada tahun 2008 dan tahun 2009 menjadi 473 jiwa/km2.

Laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Payangan selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 sebesar 1,9%, menjadi 0,42% pada periode berikutnya (2007-2008) dan terus menurun sampai pada periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 menjadi 0,15%. Secara lebih rinci kondisi penduduk di Kecamatan Payangan bisa dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Kondisi Penduduk Kecamatan Payangan Tahun 2005-2009

No Jenis Data Tahun

2005 2006 2007 2008 2009 1. Laki-Laki (L) 17.529 17.780 17.869 17.915 17.938 2. Perempuan (P) 17.433 17.845 17.905 17.944 17.975 3. Penduduk (L+P) 34.962 35.625 35.774 35.859 35.913 4. Sex Ratio 100,55 99,64 99,80 99,84 99,79 5. Kepadatan/km2 461 469 471 473 473 6. Pertumbuhan (%) 1,9 0,42 0,24 0,15

Sumber : BPS Kab. Gianyar (2010)

4.2.2 Pendidikan

Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan suatu penduduk secara umum berkorelasi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkannya. Peningkatan SDM melalui pendidikan bisa dilakukan karena pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran dan interaksi sosial. Melalui pendidikan proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) terjadi. Pendidikan juga merupakan instrumen utama dalam internalisasi, adaptasi, akulturasi, pewarisan

(6)

nilai-nilai antar generasi dan penciptaan budaya baru tanpa meninggalkan karakteristik budaya setempat.

Dilihat dari perspektif ekonomi, pendidikan dapat memacu pertumbuhan suatu wilayah. Peningkatan kualitas pendidikan akan meningkatkan produktivitas yang berimbas pada peningkatan pendapatan, menurunya kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat.

Penduduk Payangan dalam lima tahun terakhir, tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkannya masih didominasi oleh tamatan SD yaitu pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 tetap sebesar 15.631 orang dan cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir menjadi 15.885 orang pada tahun 2009. Menyusul lulusan SLTP dan SMU yang memiliki kecenderungan yang sama dalam lima tahun terakhir. Berbeda halnya dengan lulusan akademi/PT yang menurun dalam dua tahun terakhirnya. Data selengkapnya ditunjukkan dalam Tabel 14.

Tabel 14 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kecamatan Payangan Tahun 2005-2009

No Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 1. Belum Sekolah 2.948 2.948 2.948 3.477 3.481 2. Belum Tamat SD 3.259 2.948 3.259 3.581 3.585 3. SD 15.631 15.631 15.631 15.861 15.885 4. SLTP 7.002 7.002 7.002 7.183 13.338 5. SMU 5.029 5.029 5.029 5.136 5.146 6. Akademi/PT 642 642 642 621 622

Sumber : BPS Kab. Gianyar (2010)

4.2.3 Ketenagakerjaan

Perkembangan ketenagakerjaan di Kecamatan Payangan selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 seperti tertuang dalam Tabel 15, sempat mengalami sedikit kenaikan pada tahun 2007, kemudian naik lagi di tahun 2008 menjadi 27.476 orang dan tidak ada kenaikan sampai tahun 2009. Pada tahun 2009, sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian sebanyak 15.006 orang (54,61%), selanjutnya sektor perkebunan sebanyak 3.725

(7)

orang (13,56%) dan ketiga terbanyak menyerap tenaga kerja adalah sektor peternakan yang sebanyak 3.680 orang ( 13,39% ).

Tabel 15 Jumlah Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha di Kecamatan Payangan Tahun 2005-2009

No Lapangan Usaha Tahun

2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian 15.002 15.002 15.002 15.006 15.006 2. Peternakan 3.370 3.370 3.370 3.680 3.680 3. Perikanan 142 142 142 142 142 4. Perkebunan 3.527 3.527 3.527 3.725 3.725 5. Perdagangan 1.285 1.285 1.285 1.289 1.289 6. Industri 2.871 2.871 2.877 2.598 2.598

7. Listrik, Air Minum 10 10 10 11 11

8. Angkutan 875 875 875 224 224

9. Perbankan, Lembaga Keuangan - - - 261 261 10. Pemerintahan, Jasa-Jasa 2.135 2.135 2.135 540 540

Jumlah 29.217 29.217 29.223 27.476 27.476

Sumber : BPS Kab. Gianyar (2010)

4.2.4 Budaya

Budaya Bali secara umum dan Payangan pada khususnya tidak bisa terlepas dari yang namanya kesenian. Kesenian dalam perspektif orang Bali merupakan bagian dari kehidupan sosio religi masyarakat. Kegiatan berkesenian akan selalu melengkapi setiap kegiatan keagamaan masyarakat sebagai rasa syukur dan bakti mereka kehadapan Sang Pencipta. Pada perkembangannya kegiatan berkesenian telah menimbulkan banyak corak dan ragamnya sebagai bentuk kreatifitas masyarakat yang tinggi.

Kenyataan ini bisa dilihat dari semua desa yang ada di Payangan mempunyai sekehe/organisasi kesenian diantaranya seperti sekehe gong/gambelan, topeng, barong, wayang, sekehe santhi, dan lainnya. Sekehe yang mendominasi adalah sekehe gong dimana di tiap desa terdapat 3 sampai dengan 9 sekehe. Untuk sekehe wayang wong ada di Desa Buahan Kaja, di Desa Melinggih Kelod ada sekehe kecak, dan di Desa Melinggih ada sekehe gambuh.

(8)

4.2.5 Kelembagaan

Kehidupan sosial budaya masyarakat Payangan dan di Bali pada umumnya memiliki keunikan dibandingkan daerah lainnya di luar Bali. Dalam tata pemerintahan disamping adanya pemerintahan yang bersifat administratif, juga ada kelembagaan sebagai bagian dari kapital sosial yang bersifat adat sesuai

sociocultural masyarakatnya. Kelembagaan adat yang dikenal dengan sebutan desa pakraman (desa adat) merupakan salah satu bentuk pemerintahan di Bali

yang khas dan sudah terstruktur.

Desa pakraman mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata karma pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun-temurun dalam ikatan Khayangan

Tiga atau Kahyangan Desa yang berpegang pada falsafah hidup berdasarkan

konsep Tri Hita Karana, Tatwam Asi, dan Desa Kala Patra. Ketiga konsep ini memiliki hubungan yang sangat relefan dari segi konsep berkelanjutan dalam pengembangan suatu wilayah.

Aspek berkelajutan merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan suatu wilayah. Konsep keberlanjutan yaitu dengan tetap terjaganya keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai tiga unsur penting.

Secara lebih luas dan sebelumnya telah ada, aspek keberlanjutan bisa dilihat melalui konsep Tri Hita Karana (Parhyangan, Pawongan, dan

Palemahan), yang diartikan sebagai hubungan antara manusia dengan Tuhan,

hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya. Di dunia ini manusia merupakan salah satu penentu dari ketiga unsur ini, karena melalui manusia keseimbangan-keseimbangan baru akan terbentuk. Konsekuensi dari terbentuknya keseimbangan baru merupakan dampak dari hukum sebab-akibat, sehingga diantara komponen alam perlu adanya saling menjaga (Tatwam Asi). Untuk mampu menjaga keseimbangan dengan lebih baik, manusia harus mampu menyesuaikan diri pada tempat, waktu, dan situasi kondisi dalam alam dan lingkungan yang ditempatinya (Desa Kala Patra).

Desa Pakraman sebagai local wisdom mempunyai karakteristik yang sangat spesifik sebagai suatu sistem kekerabatan yang mewarnai kehidupan sosial budaya masyarakat. Desa pakraman memiliki wilayah atau palemahan yang

(9)

terdiri dari satu atau lebih banjar pakraman yang merupakan satu kesatuan. Batas wilayah yang dimiliki secara fisik ditentukan oleh batas-batas alam seperti sungai, bukit, sawah, jalan, dan sebagainya.

Setiap kegiatan adat dan keagamaan diatur melalui aturan adat tersendiri yang tertuang kedalam peraturan desa yang disebut dengan awig-awig. Kehadiran awig-awig di dalam masyarakat merupakan alat pembersatu sekaligus sebagai alat kontrol dalam tatalaku dan perbuatan masyarakat desa. Jaringan organisasi yang terdapat didalam struktur masyarakat adat merupakan jalur penyampaian pendapat dan pembahasan keputusan yang solid. Kuatnya ikatan kekerabatan dan ikatan emosional dapat dijadikan modal dasar dengan prinsip partisipatif untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam pemerintahan adat, masing‐masing desa adat bersifat otonom dengan segala perangkat yang dimilikinya, dimana setiap desa adat mempunyai aturan tersendiri yang berlaku bagi desa/banjar yang bersangkutan. Walaupun demikian, aturan-aturan yang tertuang dalam awig‐awig sama sekali tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku dalam pemerintahan administratif.

Di Kecamatan Payangan pada tahun 2009 secara keseluruhan tercatat seperti ditunjukkan dalam Tabel 16, ada sebanyak 48 desa adat dengan 59 banjar adat. Dalam tatakelola air untuk irigasi terdapat kelembagaan tradisional yang disebut dengan subak. Subak merupakan sistem irigasi yang memiliki kearifan lokal dan berbasiskan masyarakat (Sutawan 2003).

Tabel 16 Jumlah Desa Adat, Banjar Adat, dan Subak di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Desa Desa Adat Banjar Adat Subak Yeh

1. Buahan Kaja 8 8 10 2. Buahan 5 5 2 3. Kerta 8 8 6 4. Puhu 6 7 10 5. Kelusa 3 6 4 6. Bresela 1 3 1 7. Bukian 8 11 8 8. Melinggih Kelod 4 6 4 9. Melinggih 5 5 3 48 59 48

(10)

Terdapat dua macam subak berdasarkan fungsinya, yaitu subak yeh (subak) untuk pertanian lahan basah terdata sebanyak 48 subak yang terdistribusi di masing-masing desa. Untuk pertanian lahan kering disebut subak abian sejumlah 17 yang hanya terdapat di beberapa desa saja. Organisasi pemuda atau

sekehe truna sebagai wadah kaula muda menyalurkan aspirasi dan kreatifitasnya

dalam ruang gerak pembangunan, terdapat disemua desa pada masing-masing banjar.

4.3 Perekonomian

Perekonomian masyarakat Payangan bertumpu pada sektor-sektor seperti pertanian, industri, perdagangan dan jasa. Sebagai masyarakat agraris, pertanian menjadi sektor utama yang dikembangkan dengan didukung oleh ketersediaan lahan yang memadai. Perkembangan perekonomian masyarakat juga ditunjang oleh keberadaan koperasi-koperasi dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang ada di setiap desa.

4.3.1 Pertanian

Kegiatan pertanian secara luas yang meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Payangan. Pertanian tanaman pangan yang banyak dikembangan oleh petani meliputi tanaman padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, dan kacang tanah (Tabel 17). Hasil produksi tanaman-tanaman ini selain untuk dijual sebagian dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Tabel 17 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi, dan Produktifitas Pertanian Tanaman Pangan di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Jenis Tanaman Luas Tanam (ha) Luas panen (ha) Produksi (ton) Produktifitas (kw/ha) 1. Padi 3.761 3.761 2.0795,73 55,29 2. Jagung 110 60 301,17 50,20 3. Ubi Jalar 170 137 2.189,14 159,79 4. Ubi Kayu 170 137 2.183,14 159,35 5. Kacang Tanah 67 67 144,32 21,54

(11)

Tanaman padi sebagai tanaman utama yang menempati luas lahan 3.761 ha mencapai hasil produksi sebesar 2.0795,73 ton dengan produktifitas mencapai 55,29 kw/ha. Kalau dilihat dari produktifitasnya tanaman ubi jalar dan ubi kayu yang tinggi yaitu mencapai 159,79 kw/ha dan 159,35 kw/ha. Komoditi lain yang dikembangkan oleh masyarakat Payangan adalah tanaman hortikultura seperti ditunjukkan dalan Tabel 18, dimana pada tahun 2009 berdasarkan kuantitasnya, tanaman cabe rawit mencapai produksi paling tinggi yaitu 15.087 kw, disusul oleh tanaman buncis dengan produksi 8.281 kw, kubis sebesar 2.050 kw, petsai atau sawi sebesar 1.605 kw, labu siam, tomat, cabe dengan masing-masing produksi mencapai 319 kw, 290 kw, dan 140 kw.

Kapasitas produksi dari budidaya tanaman sayur-sayuran maupun pertanian lainnya dilakukan berdasarkan kebutuhan dan besarnya permintaan pasar. Peningkatan permintaan bisa dilakukan melalui perbaikan kualitas dan kuantitas produksi dengan dukungan produktifitas yang memadai. Komoditi sayur-sayuran bisa dijadikan produk unggulan bila dilakukan pengelolaan dengan baik dan benar (Suambara 2007).

Tabel 18 Produksi Sayuran di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Jenis Tanaman Produksi (kw)

1. Kubis 2.050 2. Petsai/sawi 1.605 3. Cabai 140 4. Tomat 290 5. Buncis 8.281 6. Cabe Rawit 15.087 7. Labu Siam 319

Sumber : BPS dan Bappeda Kabupaten Gianyar (2010a)

Pada tanaman buah-buahan ada berbagai macam tanaman buah yang dikembangkan, seperti terinci pada Tabel 19. Jenis tanaman pisang menempati jumlah terbanyak yaitu mencapai 262.568 pohon dengan produksi 1.720 ton per tahun. Tanaman pisang banyak diusahakan masyarakat karena disamping dipanen buahnya, permintaan pasar terhadap daun pisang juga banyak terutama jenis

pisang batu. Berikutnya tanaman jeruk sejumlah 39.969 pohon dengan produksi

(12)

Jenis buah-buahan banyak dibutuhkan masyarakat Bali untuk memenuhi keperluan upacara-upacara keagamaan. Peluang pasar yang tercipta cukup besar, sehingga untuk memenuhinya masyarakat Payangan mengusahakan berbagai macam tanaman buah-buahan dan mencapai lebih dari tigabelas jenis yang tersebar di semua desa di Kecamatan Payangan.

Tabel 19 Jumlah Pohon dan Produksi Buah-Buahan di Kecamatan Payangan Tahun 2009 No Jenis Tanaman Pohon Produksi (ton) No Jenis Tanaman Pohon Produksi (ton) 1. Jeruk 39.969 488,9 8. Rambutan 4.536 68 2. Sawo 997 24 9. Salak 26.993 8,8 3. Nanas 2.480 3,3 10. Apokat 1.570 93,8 4. Pepaya 5.559 1,2 11. Mangga 773 3,25 5. Pisang 262.568 1.720 12. Manggis 7.408 226,9 6. Nangka 9.582 155 13. Durian 6.600 80 7. Duku 285 - 14. Lainnya 303 -

Sumber : BPS Kab. Gianyar (2010)

Tanaman perkebunan yang diusahakan masyarakat payangan melalui perkebunan rakyat, umumnya merupakan perkebunan campuran. Jenis tanaman perkebunan yang banyak diusahakan masyarakat Payangan adalah tanaman kopi, cengkeh, kelapa, tembakau, kakao, dan panili, yang pada tahun 2009 mencapai luas tanam dan produksi seperti terlihat dalam Tabel 20.

Tabel 20 Luas Tanam dan Produksi Perkebunan di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Jenis Tanaman Luas Tanam (ha) Produksi (kw)

1. Kopi 256,93 1.198,60 2. Cengkeh 23,00 41,70 3. Kelapa 991,00 5.271,60 4. Tembakau 15,00 101,30 5. Kakao 204,40 1.163,30 6. Panili 25,35 11,90

(13)

Peternakan yang dibudidayakan masyarakat Payangan pada tahun 2009 seperti terlihat pada Tabel 21 dapat dibedakan menjadi ternak besar yaitu sapi dengan populasi 17.301 ekor. Ternak kecil yang terbanyak dipelihara adalah babi 42.192 ekor dan kambing populasinya cukup sedikit hanya 13 ekor. Ternak unggas yang dipelihara terdiri dari ayam ras petelor maupun pedaging, ayam buras, dan itik. Populasi unggas terbanyak diusahakan adalah ayam buras 118.385 ekor dan yang paling sedikit populasi itik sebanyak 13.960 ekor.

Tabel 21 Populasi Ternak di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Jenis Ternak Populasi

1. Sapi 17.301

2. Kambing 13

3. Babi 42.192

4. Ayam Ras Petelor 20.000

5. Ayam Ras Pedaging 91.300

6. Ayam Buras 118.385

7. Itik 13.960

8. Lainnya 218

Sumber : BPS Kab. Gianyar (2010)

4.3.2 Industri

Sektor industri yang berkembang di Kecamatan Payangan adalah industri kategori sedang, kecil, dan yang terbanyak adalah kerajinan rumah tangga sejumlah 1.829 buah yang mampu menyerap sebanyak 3.404 orang tenaga kerja. Industri kecil sebanyak 34 buah dengan serapan tenaga kerja 179 orang, industri sedang hanya ada 4 buah menyerap tenaga kerja 104 orang, untuk industri besar sementara ini belum ada (Tabel 22).

Tabel 22 Banyaknya Perusahaan Industri dan Tenaga Kerja yang Terserap di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Katagori Industri Jumlah (buah) Tenaga Kerja (orang)

1. Besar - -

2. Sedang 4 104

3. Kecil 34 179

4. Kerajinan Rumah Tangga 1.829 3.404

(14)

Produk yang dihasilkan dari industri-industri tersebut ada berupa jajanan tradisional, kerajinan kayu, dan ukir-ukiran. Pembuatan jajanan tradisional biasanya untuk memenuhi keperluan upacara maupun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kerajinan kayu maupun ukir-ukiran perkembangannya semakin bagus seiring banyaknya peminat dan pesanan untuk memenuhi kebutuhan sektor pariwisata.

4.3.3 Perdagangan dan Jasa

Pergerakan perekonomian di Kecamatan Payangan ditunjang oleh adanya kegiatan perdagangan dan jasa sebagai tempat perputaran finansial yang menunjang denyut nadi perekonomian kawasan Payangan. Kegiatan perdagangan yang banyak berkembang adalah pasar umum untuk memenuhi berbagai keperluan masyarakat, rumah makan, warung maupun toko yang menjual kebutuhan sehari-hari, dan art shop yang menjual barang-barang kerajinan seni sebagai penyedia barang-barang cenderamata bagi wisatawan.

Usaha jasa yang berkembang diantaranya bank, LPD, dan KUD, disamping itu ada juga usaha jasa perseorangan dan koperasi-koperasi. Keberadaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang dikelola oleh desa pakraman untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan simpan pinjam untuk keperluan konsumtif maupun modal usaha. Banyaknya sarana perdagangan dan jasa dalam lima tahun terakhir dirinci dalam Tabel 23.

Tabel 23 Sarana Perdagangan dan Jasa di Kecamatan Payangan Tahun 2005 - 2009

No Jenis Sarana Tahun

2005 2006 2007 2008 2009 1. Pasar Umum 2 2 2 2 2 2. Restoran/Rumah Makan 5 5 6 4 4 3. Warung 344 344 362 358 358 4. Art Shop 19 19 19 12 12 5. Bank - - - 5 5 6. LPD - - - 48 48 7. KUD - - - 1 1

(15)

4.4 Kehutanan

Wilayah Payangan maupun Kabupaten Gianyar tidak mempunyai kawasan hutan, yang ada hanya berupa daerah berhutan seperti hutan rakyat, hutan milik, hutan adat, dan sempadan mata air. Hutan rakyat berada di atas tanah milik dan tanah adat. Hutan milik, adalah hutan rakyat yang dibangun dan dikelola di atas tanah-tanah milik; hutan adat atau hutan desa adalah hutan yang dibangun dan dikelola di atas tanah desa.

4.5 Kondisi Sarana dan Prasarana 4.5.1 Pos dan Telekomunikasi

Sarana komunikasi memegang peranan penting di era informasi seperti sekarang ini, baik elektronik maupun non elektronik. Tidak mengherankan kalau kebutuhannya semakin hari semakin meningkat. Demikian halnya di Kecamatan Payangan, sarana komunikasi ini tersedia beraneka ragam sesuai kebutuhannya, baik berupa surat, televisi, radio, telepon, maupun telepon seluler.

Walaupun banyak pilihan sarana komunikasi yang cepat, efektif, dan efisien, jasa pos masih memegang peranan penting. Untuk Kecamatan Payangan tersedia satu kantor pos pembantu yang terletak di Desa Melinggih sebagai kota kecamatan. Banyaknya sarana komunikasi di Kecamatan Payangan secara terinci ditunjukkan dalam Tabel 24.

Tabel 24 Banyaknya Sarana Komunikasi di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Desa Kantor Pos

Pembantu

Pesawat

Televisi Radio Telepon HP

1. Buahan Kaja - 916 600 25 600 2. Buahan - 800 500 27 800 3. Kerta - 1.027 100 12 946 4. Puhu - 1.081 150 50 1.100 5. Kelusa - 1.008 800 20 758 6. Bresela - 531 416 5 750 7. Bukian - 1.547 570 45 1.528 8. Melinggih Kelod - 1.010 1.600 60 1.141 9. Melinggih 1 4.552 4.500 400 1.001 Jumlah 1 12.472 9.236 644 8.624

(16)

4.5.2 Transportasi

Jalan merupakan prasarana transportasi yang sangat vital dan strategis untuk memperlancar aksesibilitas dan kegiatan perekonomian. Meningkatnya pembangunan antar wilayah menuntut pula peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilisasi penduduk dan memperlancar arus lalu lintas barang dan jasa dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Terbangunnya prasarana transportasi di wilayah Payangan berpengaruh pada semakin pesatnya perkembangan antar desa, dimana sampai tahun 2009 telah terbangun 100 km jalan beraspal dengan ditunjang pembangunan jembatan yang tersebar antar desa dan sebagian merupakan jalan diperkeras dan jalan tanah (Tabel 25). Jalan-jalan yang terbangun dengan cukup memadai telah menghubungkan wilayah Payangan dengan Ubud dan Tegallalang, bahkan telah terbangun jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Payangan dengan wilayah Kabupaten Bangli.

Tabel 25 Prasarana Transportasi di Kecamatan Payangan Tahun 2009

No Desa Jenis Permukaan Jalan (km) Jumlah

Jembatan Aspal Diperkeras Tanah

1. Buahan Kaja 10 - 3 - 2. Buahan 12 - - 2 3. Kerta 15 - 10 2 4. Puhu 10 3 12 - 5. Kelusa 8 1 5 2 6. Bresela 8 - 5 - 7. Bukian 15 2 1 1 8. Melinggih Kelod 7 - - 1 9. Melinggih 15 - 1 1 Jumlah 100 6 37 9

Sumber : BPS Kab. Gianyar (2010)

Seiring perkembangan prasarana, sarana transportasi juga mengalami peningkatan. Namun demikian khusus angkutan umum, baik itu untuk barang maupun orang kapasitasnya masih perlu lebih ditingkatkan. Hal ini perlu dilakukan karena angkutan umum adalah angkutan yang bersifat massal, sehingga

(17)

bila penyediaannya mengikuti sistem yang standar akan mampu menciptakan moda transportasi yang efektif dan efisien serta dapat mengimbangi prasarana yang ada dalam menunjang kegiatan perekonomian wilayah Payangan.

4.5.3 Listrik dan Air Bersih

Pemasangan jaringan listrik di Payangan sudah menyeluruh, semua desa dan banjar telah terjangkau, dimana jumlah pelanggan sampai dengan tahun 2009 sebanyak 11.827 pelanggan. Penggunaan listrik di Payangan dewasa ini sudah semakin luas, apalagi dengan terbangunnya gardu induk di Desa Melinggih, penggunaannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja, tetapi telah digunakan sebagai sarana produksi, misalnya dalam pembuatan sanggah (bangunan suci). Tenaga listrik telah banyak digunakan untuk mendorong pertumbuhan industri pedesaan, seperti: ukiran, menjahit, dan pembuatan kue, sehingga kebutuhan listrik tiap tahun cenderung terus mengalami peningkatan.

Kondisi ini perlu diimbangi dengan pasokan listrik dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk meningkatkan produktifitas industri pedesaan maupun untuk keperluan lainnya. Peningkatan kapasitas terpasang dan perluasan jangkauan pelayanan menjadi hal penting yang perlu dilakukan.

Air bersih sebagai sumber utama kehidupan di bumi sangat mempengaruhi kesehatan manusia (Soma 2011), sehingga ketersediaan air bersih sangatlah penting. Jangkauan pelayanan air bersih dari PDAM di Kecamatan Payangan masih kurang memadai. Pemenuhan kebutuhan air bersih sebagian masih diusahakan sendiri oleh masyarakat melalui swadaya dan dikelola bersama, dengan menyadap dari mata air setempat, dialirkan melalui perpipaan untuk ditampung ke dalam bak penampungan, selanjutnya disalurkan ke masing-masing warga.

4.6 Kondisi Kepariwisataan

Kecamatan Payangan memiliki potensi dan daya tarik yang tinggi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Bentang alam dengan lembah-lembah sungai serta hamparan persawahan yang berteras menciptakan pemandangan yang indah dan alami. Ditambah oleh suasana lingkungan tenang

(18)

dengan udara yang bersih dan nyaman menciptakan pemandangan yang menyejukkan hati.

Kehidupan masyarakat Payangan masih kental dengan adat dan budaya, dimana pada saat perayaan-perayaan tertentu, seperti upacara di pura-pura sering dipentaskan berbagai kesenian dari masyarakat setempat maupun dari desa lainnya. Berbagai potensi yang ada bila dikemas dengan baik akan dapat dijadikan obyek dan daya tarik wisata. Apalagi Wilayah Payangan berada pada posisi yang strategis, yaitu berada di jalur pariwisata Ubud.

Pengembangan pariwisata Payangan didukung dengan berdirinya hotel-hotel dan penginapan serta tersedianya tempat-tempat rekreasi seperti ditunjukkan pada Tabel 26. Untuk melayani berbagai permintaan wisatawan, terdapat empat buah hotel berbintang yaitu satu berada di Desa Puhu dan Desa Melinggih, serta dua di Desa Melinggih Kelod. Untuk hotel melati ada sebanyak empat buah masing-masing ada di Desa Buahan, Desa Puhu, Desa Kelusa, dan Melinggih Kelod. Pondok wisata keberadaannya cukup banyak, yaitu ada 38 buah yang tersebar di beberapa desa, sedangkan untuk tempat rekreasi ada 10 buah. Desa Bresela dan Desa Bukian belum terdapat sarana pariwisata, namun disana banyak terdapat pengrajin yang membuat berbagai barang seni untuk keperluan wisatawan.

Tabel 26 Banyaknya Sarana Akomodasi dan Rekreasi di Kecamatan Payangan Tahun 2010

No Desa

Jenis Akomodasi Rekreasi &

Hiburan Umum Hotel Berbintang Hotel Melati Pondok Wisata 1. Buahan Kaja ‐ ‐ 3 ‐  2. Buahan ‐ 1 11 2  3. Kerta ‐ ‐ 4 3  4. Puhu 1 1 10 ‐  5. Kelusa ‐ 1 5 1  6. Bresela ‐ ‐ ‐ ‐  7. Bukian ‐ ‐ ‐ ‐  8. Melinggih Kelod 2 1 2 2  9. Melinggih 1 ‐ 3 2  Jumlah 4 4 38 10 

(19)

Berdasarkan draft Ranperda RTRW Kabupaten Gianyar Tahun 2011-2030, wilayah Payangan dijadikan bagian dari kawasan pariwisata Ubud sebagai kawasan pariwisata alam, meliputi Desa Melinggih Kelod, Desa Melinggih, dan Desa Puhu, seperti terlihat pada Gambar 8. Hal ini karena potensi yang dimiliki desa-desa cukup besar sebagai kawasan pengembangan wisata.

Model pengembangan wisata yang paling cocok dikembangkan adalah pariwisata yang berbasiskan masyarakat. Pengembangan pariwisata berbasiskan masyarakat adalah pengembangan pariwisata yang mendukung keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata dan dapat dipertanggungjawabkan dari aspek sosial maupun lingkungan (CIFOR 2004).

Pola pengembangan pariwisata berbasiskan masyarakat memiliki banyak keuntungan, selain mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat setempat juga mampu membuka lapangan pekerjaan. Selain itu, pengembangan pariwisata berbasiskan masyarakat juga mampu melestarikan lingkungan dan adat budaya setempat.

(20)

Gambar 8 Peta Kawasan Pariwisata Kecamatan Payangan     Kerta Puhu Bukian Buahan Buahan Kaja Kelusa Melinggih Bresela Melinggih Kelod PAYANGAN TEGALLALANG UBUD UBUD TAMPAK SIRING 115°16'26"E 115°16'26"E 115°14'24"E 115°14'24"E 8° 19 '4 0" S 8° 19 '4 0" S 8° 21 '4 2" S 8° 21 '4 2" S 8° 23 '4 4" S 8° 23 '4 4" S 8° 25 '4 6" S 8° 25 '4 6" S 8° 27 '4 8" S 8° 27 '4 8" S PETA KAWASAN PARIWISATA Sumber Peta : Bappeda Kab. Gianyar

±

0 1 2 3 Kilometers Kecamatan Payangan LEGENDA : Batas Desa Batas Kecamatan Batas Kabupaten Jalan Sungai Kawasan Pariwisata SKALA : KAB. BANGLI KAB. BADUNG KAB. BADUNG

Gambar

Tabel 10 Batas Kecamatan Payangan Menurut Desa di Kecamatan Payangan
Gambar 7  Peta Administrasi Kecamatan Payangan PAYANGANTEGALLALANGUBUDUBUDTAMPAK SIRINGKertaPuhuBukianBuahanBuahan KajaKelusaMelinggihBreselaMelinggih Kelod115°16'26"E115°16'26"E115°14'24"E115°14'24"E8°19'40"S8°19'40"S8°21'42"S8
Tabel 11 Keadaan Iklim Rata-Rata di Kabupaten Gianyar Tahun 2003-2007
Tabel 12 Penggunaan Lahan Wilayah Payangan Tahun 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

PNK sesuai bersyarat LP<, TPLK dan TPLB, sesuai peternakan, tanaman keras/perdagangan, perhutanan kembali, karet, kelapa, kopi robusta , coklat, cengkeh, lada, tebu , biji jambu

Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa pola usahatani pada SIMANTRI 074 adalah integrasi antara tanaman perkebunan (kakao, cengkeh, kelapa dalam, pisang), tanaman hijauan

Beberapa keuntungan yang dirasakan masyarakat dalam membudidayakan tanaman perkebunan adalah modal awal hanya dikeluarkan pada awal penanaman yang selanjutnya tanaman

Selain itu, juga menurunkan produktivitas pertanian dengan menginvasi lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan perkebunan kakao, kelapa, kelapa sawit dan tembakau yang tidak

Varietas tanaman bunga anggrek Dendrobium bunga potong yang diusahakan, hingga saat ini meskipun mengalami beberapa kali penanaman dan mengalami penurunan

Hasil penelitian menunjukkan k esesuaian lahan di Pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan untuk komoditas perkebunan tanaman panili, kelapa sawit, kelapa, pala dan

Selain itu, juga menurunkan produktivitas pertanian dengan menginvasi lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan perkebunan kakao, kelapa, kelapa sawit dan tembakau

Data analisis kesesuaian lahan aktual tanaman perkebunan di Kecamatan Selo Unit lahan Kesesuaian lahan aktual Kopi Arabika Tembakau Cengkeh Kakao Teh I N–wa S3–wa/eh S3–rc/eh N–wa