DI SMK N 1 SALATIGA
x
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Memperoleh G elar Sarjana Pendidikan Islam (S. P d .I)
Pada Jurusan Tarbiyah
Perpustakaan STAIN Salatiga
121
04
003
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAM A ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
Dra. Siti Asdiqoh Dosen STAIN Salatiga Jl. Stadion NO. 03 Salatiga
Salatiga, 5 September 2007
Setelah kami teliti dan kami adakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudara:
Nama : Sobirin
NIM : 12104 003
Jurusan/Progdi : Tarbiyah/PAI
Judul : PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM MELALUI PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1 SALATIGA.
Bersama ini mohon agar naskah skripsi saudara tersebut di atas agar dapat segera di munaqosyahkan.
P E N G E S A H A N
Skripsi Saudara: Sobirin dengan Nomor Induk Mahasiswa 121 04 003 yang
berjudul: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI
PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1
SALATIGA telah dimunaqosyahkan pada Sidang Panitia Ujian Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri pada hari: Senin, 1 Oktober 2007 M. yang bertepatan dengan tanggal 19 Ramadhan 1428 H dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Tarbiyah
1 Oktober 2007 M. Salatiga,
---19 Ramadhan 1428 H.
PANITIA UJIAN
Kerta Sidang Sekretaris Sidang
NIP. 150 289 271
Pembimbing
Dra. Siti Asdiqoh NIP. 150 267 136
DEKLARASI
Bismillahirrahmaanirrahim
Dengan penuh kejujuran dan tanggungjawab, peneliti menyatakan
bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pemah ditulis oleh orang lain atau
pemah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran orang
lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan
rujukan.
Apabila dikemudian hari temyata terdapat materi atau pikiran-pikiran
orang lain di luar refemsi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup
mempertanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini dihadapan sidang
munaqosyah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.
Salatiga, 17 Agustus 2007
Setiap usaha belum pasti menghasilkan
,
namun hasil tidak akan ada tanpa usaha
.
1. Bapak dan Ibu tercinta, yang telah menyayangiku sejak kecil, memberi
motivasi dan kesempatan untuk menuntut ilmu.
2. Abah dan Umi, yang telah menyayangiku dan memberikan bantuan moril
maupun materiil sejak aku di Salatiga.
3. G irl Friend, Istikomah Nur Awaliyah yang telah memberi motivasi dan
dukungan, serta memberi bantuan material dan immaterial hingga skripsi ini
dapat selesai.
4. Kawan-kawan di FPPI Kota Salatiga, Mapala MITAPASA dan LPM
sebagai pahlawan revolusioner Islam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah
kepada Rasul Akhir Zaman, Muhammad SAW, yang telah menata moral umat
manusia dengan suri tauladan.
Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur, penulisan skripsi dengan judul
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI
PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1
SALATIGA ini telah selesai. Skripsi ini merupakan salah satu syarat guna
memperoleh gelar Saijana Pendidikan Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Salatiga. Kami haturkan terima kasih yang tak terhingga kepada
pihak-pihak yang telah membantu terwujudnya skripsi ini.
Peneliti yakin, skripsi ini tidak akan terwujud tanpa ada pertolongan dari
Allah SWT dan bantuan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi. Maka,
dengan segala kerendahan hati, kami menghaturkan terima kasih kepada:
1. Ketua STAIN Salatiga, Drs. Imam Sutomo, M.Ag.
2. Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga, Drs. Sa’adi, M.Ag
3. Ketua Program Studi PAI STAIN Salatiga, Fatchurrahman, M.Pd
4. Pembimbing skripsi, Dra. Siti Asdiqoh atas segala ilmu, waktu, tenaga
dan bimbingan yang telah diberikan kepada kepada peneliti dengan
segala kesabaran dan keikhlasan.
dengan mudah.
7. Guru-guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, Pak Untoro
dan Bu Mutmainah serta segenap keluarga besar SMK N 1 Salatiga
yang telah menerima peneiiti dengan rasa kekeluargaan.
8. Siswa-siswa SMK N 1 Salatiga, yang telah banyak membantu peneiiti
dalam pangumpulan data.
9. Kawan-kawan aktivis UKM di STAIN Salatiga, yang telah memberi
dukungan, saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat terwujud.
Penulis yakin, skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan terdapat
kekurangan. Maka, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari
siapa saja. Besar harapan kami, skripsi ini bisa bermanfaat kepada pihak-pihak
terkait secara khusus, dan bagi semua pembaca secara umum. AMIN.
Salatiga, Agustus 2007
Peneiiti
Kabupaten Kendal 05 September 1983. Tempat tinggal di RT 01 RW 01
Bangunrejo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Proses belajar dimulai pada tahun 1989 di TK Pusporini Bangunrejo.
Kemudian melanjutkan di SD Bangunrejo dan lulus pada tahun 1994. melanjutkan
di SMP N 1 Patebon tahun 1999, SMK NU 01 Kendal lulus pada tahun 2002.
Pada tahun 2002 masuk di STAIN Salatiga mengambil Jurusan Tabiyah Program
Studi Pendidikan Guru Kelas MI (PGK MI) lulus tahun 2004, kemudian transfer
pada Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Aktif di
beberapa UKM seperti, Mapala MITAPASA, LPM DinamikA, dan aktif di
organisasi ekstra kampus yaitu Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Kota
Salatiga.
Setiap tahapan dalam kehidupan merupakan suatu proses yang wajib
dilalui oleh setiap manusia baik suka, duka, tawa dan sedih adalah seni sebuah
kehidupan untuk menuju sebuah perubahan.
Salatiga, Agustus 2007
Penulis
Sobirin NIM. 12104003
Nota Pembimbing ... ii
Lem bar Pengesahan ... iii
Deklarasi ... iv
Motto ... v
Persembahan ... vi
Kata Pengantar ... vii
Daflarlsi ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Penegasan Istilah... 5
C. Rumusan M asalah... 7
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Hasil Penelitian ... 8
F. Sistematika Penulisan ... 8
BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. A. Pengertian Pendidikan... 11
B. Teori-Teori Pendidikan dan Persekolahan... 15
C. Kritik terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara um um ... 18
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 23
B. Penetapan Subyek Penelitian... 24
C. Metode Pengumpulan D ata... 26
D. Teknik Analisis D ata... 27
E. Tahap-tahap Penelitian... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN. A. 1. Sejarah SMK N 1 Salatiga... 34
2. Data informan... 36
B. Gambaran Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) 1. Pengertian Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 38
2. Ciri-ciri Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 38
3. Komponen-komponen Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 39
4. Tahapan-tahapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (D SL )... 39
5. Prinsip-prinsip Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 42
6. Indikator keberhasilan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 42
C. Latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL)
a. Proses belajar mengajar... . 45
b. Pengembangan M ateri... . 50
c. Penggunaan M edia... . 52
d. Sistem Evaluasi... . 55
e. Pola hubungan guru dan sisw a... . 56
C. Keunggulan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (D SL )... . 59
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... . 61
B. Saran... . 64
C. Penutup... . 67
Lampiran-lampiran
A. Latar Belakang
Orang bijak mengatakan ada tiga prioritas dalam pembangunan
bangsa, yang pertama pendidikan, yang kedua pendidikan dan yang ketiga
juga Pendidikan. Berarti dalam suatu bangsa bidang pendidikan sangat
penting sekali. Tidak ada satu-pun negara besar yang bisa maju dan
berkembang pesat tanpa pendidikan. Pendidikan adalah modal utama suatu
bangsa.1 Karena pengalaman menunjukan, kemajuan suatu bangsa dan silih
bergantinya peradaban dunia, tergantung kemajuan pendidikan. Sejalan
dengan itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan
memunculkan tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan.
Tesis bahwa bahwa pendidikan memberi konstribusi secara
signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang
bersifat aksiomatik. Berbagai kajian akademis dan penelitian empiris telah
membuktikan keabsahan tesis itu.2 Menurut William Schweke dalam Smart
Money: Educatioan and Economic Development (2004), pendidikan tidak
hanya melahirkan human resources yang unggul dan berkualitas,
mempunyai pengetahuan yang luas, dan berketerampilan serta menguasai
1 Eko Budiraharjo, Manunggal, Edisi Mei-Juli/Tahun XXVIII, 2004, hlm.3
2 Amich Alhumami, Pendidikan dan Pembangunan Ekonomi, Kompas, Selasa. 3 Mei 2005, him. 4
teknologi, tetapi juga memberikan iklim yang sehat dan kondusif bagi
pertumbuhan ekonomi.3
Pencapaian pendidikan pada semua level niscava akan meningkatkan
pendapatan dan prokduktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan
menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi.
Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai
problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan
welfare dependency yang menjadi beban sosial politik pemerintah.4
Pendidikan dengan demikian merupakan agenda besar yang tidak
saja menjadi kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakannya, melainkan
pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan dan partisipasi aktif dari semua
elemen bangsa tanpa terkecuali. Meski begitu, tidak kemudian masing-
masing elemen bangsa dapat mengeijakan sendiri-sendiri secara terpisah
(particular) dan terpencar (sporadic), justru pada saat seperti ini perlu
adanya kerjasama, baik antar elemen mayarakat maupun antara elemen
bangsa dengan pemerintah. Pola keija seperti ini kemudian meniscayakan
adanya emansipasi dan partisipasi aktif masyarakat yang lebih bersifat
buttom up (dari bawah ke atas), dari pada yang berpola top down (dari atas
3 Sumartini, PENDIDIKAN ALTERNATE UNTUK KAUM MARGINAL (Studi Kasus Di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Desa Kalibening Kecamatan Tingkir Kota Salatiga 2005),
Skripsi tidak diterbitkan, Salatiga, STAIN Salatiga. Tarbiyah/PAl, 2005, him. 9
ke bawah) dan over sentralistik, seperti yang pemah diterapkan pada zaman
Orde Baru.5
Mempertimbangkan hal tersebut, serta melihat realitas yang ada, bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia tergolong masih rendah, dibandingkan dengan Negara-negara lain bahkan antar Negara ASEAN. Peringkat indeks pengembangan SDM dari UNDP, Indonesia menduduki peringkat ke 102 dari 150 negara, sedang peringkat daya saing SDM menurut International Institute For Management Development (IIMD-2001), Indonesia menduduki peringkat ke 49, sedang Singapura pada urutan ke 2, Malaysia urutan 29, Thailand urutan ke 38, sedangkan Philipina berada pada urutan ke 40. Oleh karena itu kualitas sumber daya manusia merupakan suatu kebutuhan mutlak yang harus segera diupayakan.6
Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era
globalisasi, aspek kualitas yang perlu di bangun pada setiap diri siswa, tidak
terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja, tetapi meliputi
kemampuan siswa menepis (filter) pengaruh zaman. Kekuatan daya tepis ini
banyak ditentukan dari tingkat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT
yang dimiliki masing-masing siswa.7
Disisi lain, perilaku dan akhlak sebagian siswa sangat jauh dari
harapan antara cita dan fakta. Data menunjukan kenakalan dan tawuran
semakin memprihatinkan. Penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada
tahap membahayakan, pergaulan bebas dan gaya hidup hedonis semakin
meningkat, kebiasaan nongkrong di pinggir jalan dan mejeng di pusat
perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. Semua ini menjadi bukti,
5 Ahmad El-Chumaedy, Menyegarkan Kembali Sisdiknas Untuk Membangun Civil Society dan Demokrasi. vvww. komunitasdemokrasi.or.id
6 TIM IMTAQ MCiMP PAI SMK, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK, Kirana Cakra B uana, Jakarta, 2003, him. 1
ada yang salah dalam proses pendidikan, diperparah lagi dengan orientasi
yang tidak benar yang dilakukan sebagian lembaga pendidikan.8
Segala upaya telah banvak dilaksanakan termasuk di dalamnya upaya
pengembangan kurikulum yang telah disesuaikan dengan perkembangan
ilmu pegetahuan dan teknologi. Namun di dalam pelaksanaanya terdapat
permasalahan tentang pelaksanaan pelajaran pendidikan agama dan budi
pekerti di sekolah-sekolah baik itu SD/SLTP maupun SMU/SMK.
Permasalah tersebut antara lain adalah masih kurangnya jam pengajaran baik
kualitas maupun kuantitasnya perminggu dan beban berat sekolah terhadap
perbaikan dan peningkatan kualitas moral siswa yang masih membayangi,
padahal tanggung jawab itu bukanlah semata-mata dari pihak sekolah,
namun seluruh elemen yang ada di masyarakat.
Berbagai macam kurikulum yang ditawarkan oleh pemerintah dari
CBSA sampai KBK, dari kesemuanya itu banyak menawarkan solusi-solusi
cerdas tetapi, ketika diterapkan di lapangan banyak juga yang gagal.
Kurikulum termasuk di dalamnya pembelajaran, memang berbeda antara
pembelajaran mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lainya,
antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Contoh pembelajaran
pendidikan agama Islam yang telah di kembangkan di SMK N 1 Salatiga
yang telah menjadi pelopor penggunaan strategi pembelajaran pendidikan
agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sisiem Langsung (DSL) bagi
Pembelajaran ini sangat bagus sekali karena proses belajamya bisa di
manapun dan kapanpun asa! masih dalam sekitar sekolah. Dan siswa tidak
akan canggung untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ataupun
pendapat, karena mentomya teman sendiri atau kakak kelasnya.
Pada tanggal 2 Agustus s/d 2 September 2006 STAIN Salatiga
mengadakan PPL untuk Strata 1 Jurusan Tarbiyah, salah satu tempat PPL-
nya di SMK N 1 Salatiga. Pada saat itu juga penulis merupakan salah satu
peserta PPL di SMK N 1 Salatiga yang menggunakan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung
(DSL), dan itu menjadi inspirasi penulis untuk meneliti lebih dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem
Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga.
B. Penegasan Istilah
Untuk mempermudah pemahaman serta untuk menentukan arah yang
jelas dalam menyusun skripsi ini, maka penulis memandang perlu
memberikan penegasan dan maksud penulisan judul sebagai berikut:
1. Pembelajaran adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan
serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.9
2. Pendidikan Agama Islam adalah usaha-usaha secara sadar dan
sistematik dan pragmatik dalam membantu anak didik supaya mereka
hidup sesuai dengan ajaran Islam.10
3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah seperangkat unsur yang
terdapat dalam pendidikan yang berorientasi pada ajaran agama Islam
yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan dalam
mencapai tujuan.
4. Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) merupakan program
pembinaan keagamaan siswa yang terintregrasi antara Proses Belajar
Mengajar (KBM) di kelas (inlra) dan kegiatan siswa di luar jam
pelajaran atau tatap muka (ekstra).11 Dari penjelasan di atas penulis
dapat memahami maksud dari pendekatan Dakwah Sistem Langsung
(DSL) dalam penelitian ini yaitu pendekatan yang lebih
mengutamakan bimbingan keagamaan yang dilakukan oleh teman
sebayanya secara berkelompok di dalam dan luar sekolah dengan
pertemuan sepekan sekali, dengan waktu pelaksanaan berdasarkan
kesepakatan keloinpoknya masing-masing tetapi masih dalam
koordinasi guru Pendidikan Agama Islam.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah yang melatarbelakangi penerapan Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di
SMK N 1 Salatiga?
2. Bagaimanakah pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1
Salatiga yang meliputi;
a. Proses belajar mengajar
b. Pengembangan Materi
c. Penggunaan Media
d. Sistem Evaluasi
e. Pola hubungan guru dan siswa
3. Apa saja keunggulan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui
pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di
SMK N 1 Salatiga?
2. Untuk mengetahui pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N
1 Salatiga meliputi;
b. Pengembangan materi
c. Penggunaan media
d. Sistem evaluasi
e. Pola hubungan guru dan siswa
3. Untuk mengetahui keungguian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).
E. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat bermanfaat
bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) sebagai acuan atau referensi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam dan pedoman guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ingin
menerapkan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan ini.
Di samping itu, penulis juga berharap bahwa gambaran pendekatan Dakwah
Sistem Langsung (DSL) yang telah dihasilkan melalui penelitian ini dapat
memberikan kontribusi yang positif bagi dunia pendidikan kita.
F. Sistematika Penulisan Skripsi
BAB I : PENDAHULUAN.
Berisi tentang pendahuluan yang memuat Latar Belakang
Masalah, Penegasan Istilah, Rumusan Masalah, Tujuan
Penelitian, Manfaat Hasil Penelitian, dan Sistematika
BAB II
BAB III
BAB IV
: HAKIKAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.
Berisi tentang pengertian Pendidikan, Teori-Teori Pendidikan
dan Persekolahan, Kritik terhadap Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam secara umum, Model-model Pendidikan Agama
Islam.
: METODOLOGI PENELITIAN.
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian.
B. Penetapan Subyek Penelitian.
C. Metode Pengumpulan Data.
D. Teknik Analisis Data
E. Tahap-tahap Penelitian.
: HASIL PENELITIAN.
Berisi tentang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam SMK
N 1 Salatiga yang terdiri atas:
A. 1. Sejarah SMKN 1 Salatiga
2. Data informan
B. Gambaran Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL)
Berisi tentang Pengertian Dakwah Sistem Langsung
(DSL), Ciri-ciri Dakwah Sistem Langsung (DSL),
Komponen-komponen Dakwah Sistem Langsung (DSL),
Tahapan-tahapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
dengan menggunakan Pendekatan Dakwah Sistem
Langsung (DSL), Indikator keberhasilan Pendekatan
Dakwah Sistem Langsung (DSL).
C. Latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem
Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga.
D. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui
pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1
Salatiga yang meliputi:
1. Proses belajar mengajar
2. Pengembangan materi
3. Penggunaan media
4. Sistem evaluasi
5. Pola hubungan guru dan siswa
E. Keunggulan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung
(DSL).
BABY : PENUTUP.
A. Hakikat Pendidikan Agama Islam.
1. Pengertian Pendidikan.
Teori-teori tentang pengertian pendidikan tidak pemah mencapai
keseragaman definisi. Pendidikan diartikan secara berbeda-beda, tergantung
pada siapa yang mendefinisikannya. Di bawah ini penulis akan memaparkan
pengertian pendidikan dari beberapa sumber.
a. Dalam Al-Qur'an dan Al-Hadis pengertian pendidikan tercakup dalam
kata rc.bba kata kerja dari tarbiyyah, 'allama kata kerja dari ta'liim dan
addaba kata keija dari ta'diib.
Misalnya:
Ya Tuhan, sayangilah keduanya (orang tuaku) sebagaimana mereka
telah mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. 12
Dia yang mengajarkan kepada manus ia apa yang tidak diketohuinya. 13
6 1 j d u l j Ax>i
Ibunya telah mendidiknya dan kamu telah dididik oleh ibumu. 14
12 QS. al-Israa: 24 13 QS. al-Alaq: 5
^ A rs U m o i /r/ziM *
Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta,
1992, him . 54
a. Kata kerja Rabba ( C5“f j ) memiliki beberapa arti, antara lain
mengasuh, mendidik, dan memelihara. Adapun kata attarbiyah
Baidawi dalam kitab tafsimya, Anwa al Tam il wa Asrar al Tamvil
diartikan sebagai penyampaian sesuatu pada kesempumaan secara
bertahap atau sedikit demi sedikit. Menurut Al-Asfahani dalam
bukunya Mufradatu al Raghib kata tersebut berarti menjadikan atau
mengembangkan sesuatu melalui proses tahap demi tahap sampai batas
kesempumaannya. Selanjutnya Abdurrahman al Bani menerangkan
lebih lengkap bahwa, ditinjau dari asal bahasanya istilah aitarbiyyah
mencakup empat unsur:
1) Memelihara pertumbuhan fitrah manusia.
2) Mengembangkan potensi dan kelengkapan manusia yang beraneka
macam (terutama akal budinya).
3) Mengarahkan fitrah dan potensi manusia menuju
kesempumaannya.
4) Melaksanakannya secara bertahap sesuai dengan irama
perkembangan anak.15
pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan
keterampilan.16
( ) yang merupakan bentuk masdar dari ( J ) menurut Imam
Al-Qur'an sering menggunakan kata-kata allama, misalnya dalam
firman-firman Allah berikut ini:
Ig-lS
1
j
Allah mengajarkan kepada Adam dan Hawa nama-nama semuanya.'7
LI
aI
c.
^ U ll
J l a j
Berkatalah Sulaiman: " Wahai manusia, telah diajarkan kepada kami
pengertian bunyi burung 16 17 18 19
(jLnll
A
aI
c-
pYang telah mengajarkan al Qur an. Yang telah menciptakan manusia.
M engajarnyapandai bicara.]9
c. Kata kerja addaba ( ) dapat diartikan mendidik yang lebih tertuju
pada penyempumaan akhlak budi pekerti.20
Dari definisi-defmisi di atas penulis dapat menyimpulkan atau
menarik benang merah yaitu, pendidikan adalah suatu proses pendewasaan
diri individu (kognitif, afektif dan psikomotorik) agar mampu mengemban
tugas sosial dalam masyarakat dimana ia hidup. Pendidikan mempunyai arti
yang sangat luas, berupa pengalaman-pengalaman yang diperoleh di
sekolah, masyarakat, keluarga dan lembaga-lembaga edukatif lainnya.
1. The aggregate o f all the processes by which a person develop
abilities, attitudes and other form s o f behavior o f positive value in
the society in which he lives.
2. The social process by which people are subjected to the influence
o f a selected and controlled environment (specially that the school)
so the may attain sosial competence and optimum individual
development2'
c. Menurut M.J. Langeveld Pendidikan adalah kegiatan membimbing anak
manusia menuju kedewasaan dan kemandirian.21 22 23
d. Menurut Kartini Kartono Pendidikan adalah proses pembudayaan,
proses kultural atau proses kultivasi untuk mengembangkan semua bakat
dan potensi manusia guna mengangkat diri sendiri dan dunia
sekitarnya pada taraf human?2
e. Menurut Profesor Richey dalam buku “Planning fo r Teaching, an
Introduction to Education dinyatakan bahwa, istilah pendidikan
berkenaan dengan fungsi luar dari pemeliharaan dan perbaikan
kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang
baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan tanggungjawabnya
di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih
luas dari pada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja.
21 Lester D. Crow and Alice Crow, Educational Psychology, New York, America Book Company, 1948, him. 4 dalam Drs. H. M. Djumberansyah Indar, Filsafat Pendidikan Karya Abditama, Surabaya, 1994, him. 17
Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang esensial yang
memungkinkan masyarakat yang kompleks modem. Fungsi pendidikan
ini mengalami proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan
formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di
luar sekolah.24
f. Menurut Profesor Lodge dalam buku Philosophy o f Education
menyatakan The word education is used, sometimes in a wider,
sometimes in a narrower sense. In the wider sense, all experience is said
to the educative. In the narrower sense education is retricted to that
function o f the community, which consists, is passing on its traditions, its
background, and its outlook, to the members o f the rising generation. ~5
2. Teori-Teori Pendidikan dan Persekolahan
Teori-teori pendidikan dan persekolahan erat kaitannya dengan teori
pengajaran. Abdul Hamid Shoidi al-Zantani menegaskan bahwa ada
perbedaan antara pendidikan dengan pengajaran. Pendidikan mempunyai
definisi yang lebih luas. Dia berpendapat bahwa segala proses pendewasaan
diri individu ialah pendidikan. Sedangkan pengajaran adalah bagian dari
pendidikan, menuju proses maturity individu yang berkaitan dengan transfer
o f knowledge, skill dan Iain-lain.26
Cakupan pendidikan yang sangat luas juga disampaikan oleh
Mahmud Yunus dan Muhammad Qasim Bakar bahwa pendidikan tidak
24 Tim Dosen IKIP Malang, Penganlar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1987, him. 4
25 Kartini Kartono, op.cit. him. 5
mempunyai batasan yang jelas, tetapi menurut mereka untuk membatasi
pendidikan tergantung dari cara mendefinisikan pendidikan itu sendiri.
Menurut mereka pendidikan adalah usaha-usaha untuk memhantu individu
mencapai kematangan jasmani, akal, moral sehingga ia mampu hidup
mandiri, secara individual dan sosial.27
Pendapat di atas juga diperkuat oleh pendapat Crow and Crow
bahwa pendidikan bukan hanya sekolah, yang menyangkut masalah
pelajaran dan pengajaran ilmiah, tetapi juga menyangkut pembentukan
konsep perilaku dan pola kehidupan masyarakat.28
Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang diadakan
atau dibentuk oleh masyarakat karena masyarakat merasa butuh suatu ruang
khusus yang menyediakan waktu total untuk melakukan kerja-kerja
pendidikan. Orang tua tidak mungkin mendidik anaknya secara optimal
karena banyak kesibukan yang harus dijalani, maka biasanya orang akan
memasukkan anaknya ke sekolah karena sekolah dianggap sebagai salah
satu tempat berlangsungnya proses pendidikan.
Sejarah atau asal-usul tentang sekolah sudah dimulai sejak masa
filosof Yunani, Plato dan Aristophanes, karena kedua filosof tersebut yang
telah meninggalkan catatan tertulis mengenai ruang kelas dan sekolah.
Sekolah pertama orang Athena kuno memang sederhana. Sekolah itu hanya
berupa tambahan dari suatu program pendidikan yang dititikberatkan pada
"7 Mahmud Yunus dan Muhammad Qasim Bakar, Al-Tarbiyah wa al-Ta'Iim, Dar al-Salam, Gontor. Ponorogo, 1990
latihan kemiliteran, atletik, musik dan puisi. Mengajarkan membaca,
menulis dan berhitung boleh dikatakan hanya sebagai pertimbangan
sampingan. Aslinya pendidikan di Athena bersifat tutorial, suatu aspek
hubungan perorangan yang seringkali juga bersifat erotik. Ketika Athena
menjadi lebih demokratis dan jumlah muridnya juga lebih banyak daripada
gurunya, maka secara berangsur-angsur hubungan tutorial digantikan dengan
pengajaran kelompok atau klasikal.29
Menurut Roem Topatimasang, sekolah mengacu pada suatu sistem,
suatu lembaga, suatu organisasi besar, dengan segenap kelengkapan
perangkatnya: sejumlah orang yang belajar dan atau mengajar, sekawanan
bangunan gedung, secakupan peralatan, serangkaian kegiatan terjauwal,
selingkupan aturan dan sebagainya.30
Jika pendidikan berlangsung seumur hidup, maka sekolah
mempunyai batas akhir. Jika semua kurikulum yang ada di sekolah telah
dilalui oleh peserta didik, maka ia dinyatakan telah lulus dari sekolahnya.
Dari informasi-informasi di atas maka penulis dapat memaparkan perbedaan
antara pendidikan dan persekolahan dalam bentuk matrik sebagai berikut:
T A B E L 1
Perbedaan Antara Pendidikan Dan Persekolahan
NO PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN
1 Bersifat luas Bersifat sempit dan terbatas
Everett Reimer. Sekitar Eksislensi Sekolah. Hanindita Graha Widya, Yogyakarta, 1987. hlm.25
30 Roem Topatimasang. Sekolah itu Candu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 1998,
2 Tidak mempunyai kurikulum Mempunyai kurikulum yang
terbatas
3 Berlangsung di mana saja Umumnya berlangsung di gedung
sekolah
4 Berlangsung pada waktu yang Berlangsung pada waktu yang
tidak ditentukan telah di atur (terjadwal)
5 Berlangsung seumur hidup Bersifat temporal dan berjenjang
3. Kritik Terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara
umum.
a. Kurangnya waktu Jam Pengajaran.31
Keterbatasan waktu 2 (dua) jam pelajaran perminggu. 2 (dua)
jam pelajaran tersebut merupakan waktu yang sangat singkat. Ditambah
belum efektif dan efisienya pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di
SMK/SMA dalam membina keagamaan siswa baik melalui kegiatan
intra kurikuler maupun ektra kurikuler yang dikelola secara baik dan
berkes i nam bungan.
b. Guru kurang kreatif dalam penyampaian materi.32
Masih banyak guru Pendidikan Agama Islam dalam
penyampaian materi kurang kreatif, hanya menggunakan metode
ceramah melulu dan hanya terbatas pada ruangan kelas sehingga
2006
31 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 5 Desember
kebanyakan siswa dalam menerima materi masih setengah-tengah dan
menjenuhkan. Sehingga banyak siswa yang tidur disaat guru
menyampaikan materi.
c. Siswa diperlakukan sebagai obyek dalam pembelajaran.33
Guru menganggap bahwa siswa tidak mempunyai
kompetensi dalam dirinya, sehingga guru masih menganggap siswa
adalah anak kecil yang harus diperlakukan over protec. Seharusnya
siswa diperlakukan sebagai subyek dalam pembelajaran, yang harus
dihormati dan dihargai segala kewajiban dan haknya dalam
pembelajaran.
d. Masih menggunakan metode konvensional.34
Kebanyakan guru pendidikan agama masih banyak
menggunakan metode konvensional dalam pembelajaran pendidikan
agama Islam. Misalnya : hanya ceramah dan tanya jawab dalam
mengajarkan pendidikan agama Islam tidak lebih dari itu.
e. Guru kadangkala terjebak pada ungkapan yang memojokan agama
tertentu.
Ungkapan itu setidaknya dikatakan oleh Djohan Efendi
dalam bedah buku berjudul "Lebih Tajam dari Pedang: Refleksi Agama-
agama Tentang Paradoks Kekerasaan" yang berlangsung di aula
Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta. "Harus ada refleksi dari setiap
33 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 5 Desember 2006
iA Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 5 Desember
agama, apakah kita menuju pada masyarakat yang selalu bermusuhan
atau sebagai saudara sebangsa," ujar Efendi, usai acara bedah buku
tersebut (Media Indonesia, 6/2/06).35
f. Pendidikan Agama melahirkan insan yang fanatik.36
Saat ini cukup terasa bagaimana Pendidikan Agama telah
melahirkan insan yang fanatik, walaupun tidak semua. Yang acapkali
cenderung hanya memandang agamanya yang paling benar dan
memusuhi siapapun yang tidak mau menerimanya.
"Kita juga menyaksikan lahirnya insan yang kemudian
mengagungkan agamanya sebagai yang paling unggul dan dengan cepat
menampilkan sikap yang mudah tersinggung," ujar Megawati. Sikap
militan yang menyertainya, katanya juga sering mengedepankan paham
bahwa apa saja yang berbeda haras dimusnahkan dan dianggap sebagai
suatu tugas suci.37
Menurat penulis saran atas kritik yang dikemukakan di atas
adalah dengan menggunakan pendekatan Quantum Teaching
dikombinasikan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) karena
kedua pendekatan ini sama-sama memandang siswa sebagai subyek
didik yang mampu berkembang sendiri dan mampu menentukan arah
perkembanganya mau kemana dengan sedikit bantuan dan stimulus dari
luar (guru, buku, koran, internet dll) sehingga ia bisa belajar tanpa batas
35 http://www.beritaindonesia.co.id/data/arsip/agama/index.php?page=2
36 Fanatik yang dimaksud disini adalah fanatik yang sempit dan fanatik destruktif, sebab fanatik yang positif adalah fanatik yang memegang teguh ajaran agamanya.
waktu yang ditentukan dan berbuat apa yang baik untuk dirinya tanpa
mengambil dan menyakiti hak-hak orang lain atau agama lain.
4. Model-model Pendidikan Agama Islam.
a. Model Dakwah Sistem Langsung (DSL).38
Model Dakwah Sistem Langsung (DSL) merupakan program
pembinaan keagamaan siswa yang terintregrasi antara Proses Belajar
Mengajar (KBM) di kelas (intra) dan kegiatan siswa di luar jam
pelajaran atau tatap muka (ekstra).39
b. Model Sistem Kontrak.40
Model Sistem Kontrak adalah model Pendidikan Agama Islam
yang menggunakan sistem kontrak antara siswa dengan guru Agama,
dan kontrak itu berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara siswa dan
guru, jika yang melanggar kontrak tersebut mendapat sanksi.
c. Model Penanaman Nilai Moral.41
Model Penanaman Nilai merupakan model Pendidikan Agama
Islam yang lebih mengutamakan penanaman nilai-nilai keagamaan
dalam kegiatan belajar mengajar. Mana nilai-nilai yang harus ditauladani
dan mana yang hams diamalkan dan lain-lain.
38 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 19 Desember 2006
39 TIM IMTAQ MGMP PAI SMK, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK,Kirana Cakra Buana, Jakarta. 2003, him. 6
40 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N I Salatiga, 19 Desember 2006
d. Model Konvensional.42
Model Konvensional ini merupakan model klasik dalam
Pendidikan Agama Islam, model ini tidak relevan lagi untuk zaman
sekarang karena guru biasanya memberikan tugas rumah dan
kebanyakan menggunakan metode ceramah melulu dan hanya terbatas
A. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.
Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller adalah tradisi
tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung
pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan
berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam
peristilahannya.35
Bogdan dan Taylor mendefmisikan metodologi kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.36
Menurut S. Nasution, penelitian kualitatif disebut juga penelitian
naturalistik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan bercorak
kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur.
Disebut naturalistik. karena situasi lapangan penelitian bersifat "natural"
atau wajar, sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi, diatur dengan
eksperimen atau test.37 *
35 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung. 2003, him. 3
36 Loc.cit.
37 S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung, 2003, him. 18
Penelitian kualitatif hasilnya bersifat obyektif, berlaku sesaat dan
setempat kemudian pada umumnya dilakukan pada penelitian sosial
sedangkan data yang dikumnulkan dinyatakan dalam bentuk nilai relatif.38
Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif. Penelitian
diskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan
informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala
menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.39
Penelitian diskriptif ini melakukan analisa hanya sampai pada taraf
diskriptif yaitu menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis,
sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan simpulkan.40 Simpulan
yang diberikan jelas atas dasar data faktual sehingga semuanya dapat
dikembalikan langsung pada data yang diperoleh.
B. Penetapan Subyek Penelitian
Lokasi Penelitian berada di SMK N 1 Salatiga yang beralamat di
Jl. Nakula Sadewa 1/3 Salatiga 50722 dengan nomer telepon (0298) 323566,
atau tepatnya di Dukuh Kembangarum Kelurahan Mangunsari Kecamatan
Sidomukti.
Berdasarkan hasil survey awal yang di lakukan di SMK N 1 Salatiga
ditemukan suatu fenomena bahwa di sana telah diterapkan Pendekatan
Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam pembelajaran Pendidikan Agama
;s Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula.
Cet. ke-II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2004. him. 113
Suharsini Arikunto. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta, Cet. ke-VIl, 2005, him. 234
Islam selanjutnya, penetapan subyek penelitian dibedakan atas kelompok
key informan dan kelompok informan sehingga keduanya dapat
dimanfaatkan secara optimal dan proporsional. Adapun perbedaan kedua
kolompok subjek tersebut adalah :
a. Key Informan t
Subyek yang dikelompokkan sebagai key informan adalah
mereka yang mengungkapkan data penelitian atas pemahaman dan
perilaku tentang dirinya sendiri. Dengan demikian data yang
terhimpun dalam penelitian diperoleh dari subyek yang
bersangkutan secara langsung, baik melalui observasi atau
wawancara. Termasuk kelompok ini adalah siswa-siswa, para
mentor dan para pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI).
b. Informan
Subyek yang dikelompokan sebagai informan adalah
mereka yang tahu informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan
penerapan pendekatan Dakwah Si stem Langsung (DSL) dan proses
pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), meskipun
mereka juga pengajar, tetapi dalam hal ini informasi yang diminta
darinya bukan tentang dirinya melainkan orang lain. Informasi
yang diberikan digunakan sebagai petunjuk pengembangan
C. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi adalah penyeledikan yang dijalankan sccara sistematis
dan sengaja dilakukan dengan menggunakan alat indera terhadap kejadian
dan langsung ditangkap pada waktu kejadian.41
Meode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang: Proses
Belajar Mengajar, Bagaiamana mengembangkan materi, Media yang
digunakan, Sistem mengevaluasinya, Hubungan guru dan siswa.
2. Wawancara
Wawancara menurut Lexy J. Moleong adalah percakapan dengan
maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang
diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.42
Wawancara dalam penelitian kualitatif biasanya merupakan jenis
wawancara tidak terstruktur. Tujuannya ialah memperoleh keterangan yang
terinci dan mendalam mengenai perspektif yang ada dalam hati dan pikiran
orang lain karena hal ini tidak bisa didapat dengan cara observasi. Tetapi
pada penelitian kali ini menggunakan wawancara terstruktur.
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang: Proses
Belajar Mengajar, Bagaimana mengembangkan materi, Media yang
digunakan, Sistem mengevaluasinya, Hubungan guru dan siswa, dengan key
informan; Siswa-siswa SMK N 1 Salatiga, para pengajar Pendidikan Agama
Islam, dan informanya Pengajar Pendidikan Agama Islam, dan Tim MGMP
PAI kota Salatiga.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.4j
Dalam penelitian ini metode dokumentasi untuk mengumpulkan data
tentang sejarah sekolah SMK N 1 Salatiga, data key informan, transkip nilai
siswa dan dokumen-dokumen yang terkait.
D. Teknik Analisis Data
Secara umum, penelitian dengan metode kualitatif merupakan
penelitian non hipotesis, sehingga tidak perlu merumuskan hipotesis. Maka
proses analisis datanya seperti yang dikemukakan Moleong Lexy adalah
proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori,
dan susunan uraian dasar, sehingga dapat menemukan hipotesis keija yang,
disarankan oleh data.43 44
Secara prosedural data yang diperoleh dengan mengoptimalkan
metode penelitian yang digunakan, direduksi, disajikan, disimpulkan dan
diverifikasi. Hasil reduksi data tersebut kemudian diverbalkan dan dipilah-
pilah menurut kategori datanya. Sebelumnya dipersiapkan antisipasi
terhadap kemungkinan reduksi data serta merumuskan konsep.
43 Sukandarrumudi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula,
Cet. Ke-II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2004, him. 101
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,
menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu dan
kemudiaan mengorganisasikan data sehingga dapat mengarah pada simpulan
akhir. Tahapan berikutnya adalah pengajian data dilakukan dalam rangka
upaya pemahaman terhadap sekumpulan informasi yang tersusun. Tahapan
ini tidak boleh terlepas dari analisis, sehingga data dapat tersaji rapi dan
sistematis. Sesudah data tersaji, maka proses penarikan simpulan-simpulan
dilakukan sejak penelitian bermula sampai berakhir, seluruh data yang telah
direduksi dan tersaji, diteliti dan tinjau ulang sehingga data yang diperoleh
teruji validitasnya.
Dalam penelitian ini metode analisa data yang digunakan yaitu
triangulasi (keabsahan). Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan
data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan
pengecekan atau pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang
digunakan yaitu triangulasi dengan sumber dan metode.
Triangulasi dengan sumber dan metode berarti membandingkan dan
rnengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dicapai dengan
jalan:
1. Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil
wawancara
2. Membandingkan apa yang dikatakan siswa dengan apa yang
3. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen
yang terkait.
4. Membandingkan apa yang dikatakan Key Informan dan
Informan.
E. Tahap-tahap Penelitian.
Dalam penelitian ini ada beberapa tahap-tahap yang dilakukan oleh
peneliti, antara lain :
1. Kegiatan Administrasi, yang meliputi pengajuan izin
operasional untuk melakukan penelitian kepada Ketua STAIN
Salatiga dan Kepala Sekolah SMK N 1 Salatiga. menyusun
pedoman wawancara dan observasi lapangan serta administrasi
lain.
2. Kegiatan lapangan.
a. Survey awal untuk mengetahui gambaran lokasi penelitian.
b. Memilih sejumlah orang untuk menjadi key informan dan
informan.
c. Melakukan observasi lapangan dan mewawancarai
sejumlah key informan dan informan sehingga langsung
mendapatkan data.
d. Memimjam dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk
e. Menyajikan data dengan susunan dan urutan yang
memungkinkan dan memudahkan untuk dilakukan
pemaknaan.
f. Mereduksi data dengan cara membuang data-data yang
lemah atau menyimpang. Setelah mulai tampak adanya
kekurangan data sebagai akibat proses reduksi, selanjutnya
direncanakan untuk mengumpulkan data tambahan sebagai
akibat proses reduksi.
g. Melakukan veriflkasi untuk membuat kesimpulan,
kesimpulan sebagai diskripsi temuan penelitian.
3. Kegiatan penyusunan laporan akhir.
Tabel Kegiatan Penelitian.
Hari/Tanggal Kegiatan Penelitian Keterangan
Sabtu, - Meminta Surat
-18 November Permohonan Penelitian di
2006 Bagian Akademik STAIN
Salatiga.
Senin, - Mengajukan Surat
-20 November Permohonan Penelitian ke
2006 SMK N 1 Salatiga.
Kamis, - Menanyakan Surat
-23 November Permohonan Penelitian di
N 1 Salatiga.
- Kemudian menemui
Waka. Kurikulum untuk
menayakan Surat
29 November mengajar. guru Agama
Senin-Rabu, - Pengolahan data dan
-5-15 Maret penulisan laporan
A. 1. Sejarah SMK N 1 Salatiga
Pada tahun 1967 di Salatiga belum ada Sekolah Menengah Ekonomi
Tingkat Atas (SMEA) Negeri. Pada tahun yang sama dibentuklah panitia
pendiri SMEA persiapan negeri, yang diketuai dan didukung oleh bapak
Walikota Salatiga Letkol S. Soegiman dan didukung oleh Muspida.
Dengan persetujuan kepala perwakilan Departemen Pendidikan dan
Pengajaran Propinsi Jawa Tengah No : IDPL/435/67 17 Januari 1967,
beridirilah SMEA dengan status persiapan di Salatiga.
Pada tanggal 25 Mei 1968 teijadi peningkatan status dari persiapan
menjadi negeri melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Pengajaran
Republik Indonesia Nomor : 191/UUK/31968. Hal ini membawa
kebahagiaan tersendiri bagi SMEA Negeri.
Dibalik kegembiraan itu rnasih terselip keprihatinan, sebab SMEA
Negeri belum memiliki gedung sekolah sendiri. SMEA Negeri menumpang
di SMP Negeri Salatiga. Keadaan ini menyebabkan SMEA Negeri masuk
siang hari, kepala sekolah saat itu adalah bapak Sri Sadana, BA.
Pada tahun 1973, SMEA Negeri menempati tanah dan bangunan di
jalan Jendrai A. Yani Nomor 14 Salatiga yang pada saat itu mengalami
perbaikan-perbaikan. Bapak Sri Sadana, BA menjadi kapala sekolah hingga
1982. Dan sebagai gantinya adalah bapak R. Soeyono yang memimpin
SMEA Negeri Salatiga hingga 1993. Pada saat kepemimpinan beliaulah
SMEA Negeri Salatiga menempati gedung bam yang dibangun oleh Negara
mulai tanggal 1 Agustus 1992.
Gedung dan bangunan sekolah berdiri diatas tanah seluas 13.795 meter
persegi tersebut berlokasi di desa Kembang Arum dan menghabiskan dana
sekitar 1.7 miliyar mpiah dimana dana pembangunan itu mendapat bantuan
dari ADB (Asean Develoment Bank). Bahkan ADB juga memberi bantuan
untuk perabot dan peralatan praktek termasuk Second Vocational Education
sebesar 2 milyar mpiah.
Pada tanggal 1 Juli 1993 bapak Soeyono selaku kepala sekolah
digantikan oleh bapak Drs. Soeparmo dari SMEA Negeri 2 Semarang.
Beliau menjadi kepala sekolah sampai tanggal 19 Januari 1994. Mulai 14
Januari 1994 pimpinan SMEA Negeri Salatiga dijabat oleh bapak Drs. FX.
Soewito dari SMEA Negeri 1 Solo. Pada bulan januari 1996 terjadi
pergantian kepala sekolah SMEA Negeri Salatiga bapak Drs. FX. Soewito
diganti oleh bapak Drs. S. Djoko Legowo. Pada tanggal 28 November 1998
bapak Drs. S. Djoko Legowo diberi tugas untuk memimpin SMEA Negeri
Blora sehingga SMEA Negeri Salatiga mengalami kekosongan kepala
sekolah. Untuk mengisi kekosongan ini maka, untuk menjalankan tugas
kepala sekolah bapak Sutopo B.Sc ditunjuk sebagai kepala sekolah YMT.
Namun bapak Sutopo, B.Sc selaku YMT kepala sekolah SMEA Negeri
maka sebagai gantinya adalah bapak Moh. Badhowi dari STM Pertanian
Negeri Boyolali selaku YMT kepala sekolah di SMK Negeri 1 Salatiga.
Pada tanggal 16 Januari 2000, bapak Moh. Badhowi selaku YMT
kepala sekolah digantikan oleh bapak Drs. Moeljono, M.Pd. Bapak Drs.
Moeljono, M.Pd memimpin SMK Negeri 1 Salatiga selama ± 7 tahun
tepatnya pada tanggal 1 Maret 2007 beliau digantikan oleh bapak Bambang
Dwi Hersedianto, S.Pd sebagai kepala sekolah tetap SMK Negeri 1 Salatiga
hingga sekarang.
2. Data Informan
a) Guru ini merupakan koordinator guru-guru pendidikan agama Islam di
SMK N 1 Salatiga. Orangnya agak kurus, rumah beliau di Perumahan
Pondok Telaga Mukti II, Tingkir Salatiga. Pendidikan terakhir beliau
adalah SI PAI di IAIN Walisongo semarang, beliau juga menjadi
pembina pramuka di tempatnya mengajar. Selain sebagai guru beliau
juga sering diminta ngisi-ngisi pengajian di tempatnya ia tinggal. Dan
beliau berinisial Un.
b) Orang ini berinisial Mu, kecil tetapi perawakanya tegas seperti layaknya
laki-laki maklum suami beliau adalah polisi, beliau memang termasuk
guru baru di SMK N 1 Salatiga. Beliau guru pindahan dari SMA N 2
Salatiga. la tinggal di Bener, Kab. Semarang atau tepatnya didekat
pabrik Mulyojati. Pendidikan terakhir beliau adalah Sarjana Muda PAI
di IAIN Walisongo Semarang. Saat ini beliau masih merampungkan
c) Perawakanya ramah dan enak diajak bicara tetapi ia agak gendut selain
sibuk dikegiatan pramuka ia juga sibuk di OSIS maklum karena ia
menjabat ketua OSIS SMK N 1 Salatiga periode ini. Ia tinggal di
Perumahan Tingkir Indah, di SMK N 1 Salatiga ia mengambil Jurusan
Tata Boga. Ia berinisial Ay.
d) Ketika kita memandang sekilas bocah ini pasti kita akan terpesona. Ia
berinisial Ul, tinnggal di Grogol, Salatiga atau tepatnya di Pondok
Pesantren AL-Falah selain sebagai siswa ia juga menjabat ketua SKI di
Sekolahnya. Ia bercita-cita menjadi seorang koki makanya ia mengambil
jurusan Tata Boga.
e) Siswa yang satu ini menjadi orang sangat penting di organisasi pramuka
bagaimana tidak soalnya ia menjabat sebagai ketua pramuka di tempat ia
mencari ilmu. Ia berinisial Id, tinggal di Bubudan, Sumberejo. Mungkin
cita-citanya ia ingin jadi wiraswatawan sehingga ia mengambil jurusan
Penjualan.
f) Siswa ini mengambil jurusan Adminitrasi Perkantoran ditempatnya ia
belajar. Ia berinisial Ra, tinggal di Cengek, Tingkir Salatiga oleh teman-
temanya ia biasa dipanggil lemot. Dia pemah magang di STAIN Salatiga
selama ± 4 bulan tepatnya di UPT Perpustakaan.
g) Siswa yang satu ini tinggal didekat stadion Kridanggo atau tepatnya di
jalan Kridanggo No.30 A Salatiga, ia mengambil jurusan Tata Boga
dengan barang elektronnik-nya (handphone). Di rumahnya ia sering
dipanggil Tandos. la berinisial Ta.
B. Gambaran Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL)
1. Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL).
Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) merupakan program
pembinaan keagamaan siswa yang terintregrasi antara Proses Belajar
Mengajar (KBM) di kelas (intra) dan kegiatan siswa di luar jam pelajaran
atau tatap muka (ekstra).42 Dari penjelasan diatas penulis dapat memahami
maksud dari pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam penelitian
ini yaitu pendekatan yang lebih mengutamakan bimbingan keagamaan yang
dilakukan oleh teman sebaya-nya secara berkeiompok didalam dan luar
sekolah dengan pertemuan sepekan sekali, dengan waktu pelaksanaan
berdasarkan kesepakatan kelompoknya masing-masing tetapi masih dalam
koordinasi guru Pendidikan Agama Islam.
2. Ciri-ciri Dakwah Sistem Langsung (DSL).
a. Menggunakan kitab A1 Qur’an dalam setiap pembelajaran
b. Adanya mentor sebaya dalam belajar kelompok
c. Menggunakan Buku Mentor
d. Mengedepankan pemahaman dari pada hafalan43
e. Melibatkan semua elemen yang ada di sekolah
f. Guru hanya menjadi fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar
(KBM)
g. Penilaianya tidak hanya dari guru Agama Islam44
3. Komponen-komponen Dakwah Sistem Langsung (DSL).
a. Wali Kelas
b. Guru Pendidikan Agama Islam
c. Guru BP
d. Pengurus Seksi Kerohanian Islam (SKI) OSIS45
e. Orang tua46
4. Tahapan-tahapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan
menggunakan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).
- Pertama ; Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas
Strategi kegiatan belajar mengajar di kelas yang dilakukan oleh guru
Pendidikan Agama Islam ditempuh dengan pola pendekatan Al-
Qur’an, langkah-Iangkah yang harus dilakukan sebagai berikut:
a. Pentahapan.
• Tahap I ; 10-15 menit : Mengecek, mengulang, bacaan Al-
Qur’an siswa.
• Tahap II ; 50-60 menit : Pembahasan materi pokok sesuai
dengan persiapan dengan memakai modul bahan ajar
“Pendidikan Agama Islam dengan Pendekatan A l-Q ur’an
44 Wawancara dengan guru Agama SMK N I Salatiga, 5 Desember 2006
45 Wawancara dengan guru Agama SMK N 1 Salatiga, 5 Desember 2006
untuk SM K ” yang disusun oleh Tim IMTAQ-MGMP
Pendidikan Agama Islam SMK.
• Tahap III ; 10-15 menit : Mengontrol dan memeriksa
kegiatan keagamaan yang dilakukan siswa dalam “Buku
Praktikum dan Penilaian Pendidikan Agama Islam ”.
b. Pembahasan Materi
• Pengantar tentang materi yang akan dipelajari, manfaat
materi tersebut dalam meningkatkan pemahaman.
pengalaman atau kesadaran beragama dan tujuan pendidikan.
• Pembahasan materi diawali dengan salah satu siswa
membaca ayat Al Qur’an dan terjemahanya yang menjadi
pokok bahasan. Dapat diteruskan ayat-ayat munasabah (ayat
yang berhubungan) yang tersedia di buku Modul Bahan Ajar.
• Test penguasaan bahan dan pemahaman. guru bertanya siswa
menjawab.
• Konsolidasi, sebagai usaha pembetulan pemahaman siswa
yang kurang pas terhadap materi yang dipelajari.
Kedua ; Kegiatan mentoring pendidikan agama Islam yang
diselenggarakan di luar jam sekolah.
Mentoring Pendidikan Agama Islam adalah suatu kegiatan
pembinaan siswa yang beriangsung secara periodik dengan
bimbingan seorang mentor. Pola pendekatan teman sebaya
efektif serta memiliki keunggulan tersendiri. Mentor Pendidikan
Agama Islam dilakukan di Iuar kelas ditujukan untuk mengajak para
siswa untuk lebih mengenal, mencintai dan mengamalkan ajaran
Islam dengan metode pendekatan “Kakak Adik" yaitu belajar
bersama selayaknya dengan kakak kita sendiri, jadi ketika para siswa
tidak paham dengan materi yang dibahas maka, para siswa tidak
malu untuk bertanya begitu sebaliknya jika sang mentor belum
paham materi yang dibahas maka, para siswa menjelaskan materi
tersebut. Untuk itu, disiapkan beberapa perangkat pendukung
kegiatan mentoring Pendidikan Agama Islam, terdiri dari : Materi
Mentoring, kurikulum atau silabus dan metode penyampaian
Mentoring Pendidikan Agama Islam.
Kegiatan ini diharapkan mampu menghilangkan kendala
komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa di kelas. Mentor
diharapkan menjadi kakak dan menjadi tempat mengeluarkan isi hati
bagi para anggota mentoring. Kemudian, melalui komunikasi dua
arah dan hubungan kekeluargaan, diharapkan mentor dapat
memasukan nilai-nilai keimanan dan keislaman kepada anggota
kelompoknya.
Ketiga ; Kegiatan Mandiri Siswa
a. Kegiatan Keagamaan di Sekolah
b. Kegiatan Keagamaan di Rumah/Keluarga
5. Prinsip-prinsip Dakwah Sistem Langsung (DSL).
Prinsip yang digunakan dalam pelaksanaan mentoring Pendidikan
Agama Islam adalah sebagai berikut:
a. Pelaksanaan mentoring hams menarik (Fun)
b. Pelaksanaan mentoring hams selalu segar (Fresh)
c. Peserta mencurahkan perhatian sepenuhnya pada proses mentoring
(Focus)47
d. Hubungan mentor dan peserta mentoring selayaknya teman sebaya
(Friendly)48
6. Indikator keberhasilan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).
a. Meningkatnya hasil belajar siswa dari pada hasil belajar siswa yang
diajar dengan metode pendekatan konvensional.
b. Meningkatnya ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 95%
dibandingkan siswa yang diajarkan dengan metode konvensional
dengan ketuntasan materi hanya sampai 40%.49
c. Terjadi pembahan signifikan terhadap perilaku siswa dalam
pembelajaran pendidikan agama Islam dan peningkatan pengamalan
Agama Islam.50
d. Suasana lingkungan sekolah mendukung baik pengajar umum
maupun pengajar keahlian.51
47 Taufik Yuwono, Fakhrudin, Andra Prima Putra, Pembinaan Agama Mela/ui Pendekaian Kelompok Sebaya (Mentoring) (Jntuk Menurunkan Angka Tawuran Pelajar SMA/SMK (Studi Kasus : Pelaksanaan Mentoring Agama Islam di DKI Jakarta). Institut Teknologi Scpuluh Nopembcr (ITS), Surabaya, 2004
48 Taufik Yuwono, Fakhrudin, Andra Prima Putra. Loc.cit.
C. Latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
melalui Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1
Salatiga.
Untuk mendapatkan informasi tentang latar belakang penerapan
pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem
Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga peneliti hanya mewawancarai
seorang guru agama Islam yaitu Un. Mengapa peniliti memilih beliau,
karena beliau adalah koordinator guru agama Islam di SMK N 1 Salatiga
dan yang pertama kali ikut penataran guru agama Islam di Semarang tentang
pendekatan DSL yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan
(LPMP) Jateng.
Menurut penuturan beliau, “Penerapan pembelajaran pendidikan agama
Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N I
Salatiga mulai diterapkan pada tahun ajaran 2004/2005. Alasan mendasar
mengapa guru-guru agama Islam di sini menerapkan pendekatan itu, karena
selama ini guru-guru agama Islam di SMK N 1 Salatiga memandang
pembelajaran pendidikan agama Islam yang dulu hanya menekankan dari
aspek kognitif, sedangkan aspek yang lain seperti afektif dan psikomotorik
tidak ditekankan. Padahal kalau ngomong pendidikan harus menekankan
ketiga aspek tersebut, apalagi pendidikan agama Islam. Terns pada bulan
Juli 2004 ada undangan penataran guru agama Islam di Semarang tentang
pendekatan DSL yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan 51
(LPMP) Jateng dengan mendatangkan langsung tutor dari TIM IMTAQ
MGMP PAI DKI Jakarta yang telah sukses menerapkan pendekatan ini.
Kemudian ilmu (pendekatan yang diberikan) yang diperoleh dari penataran
tersebut kami coba terapkan di sekolahan ini.”
Dari hasil wawancara di atas peneliti menganalisa bahwa latar belakang
penerapan pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pendekatan
Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga yaitu guru-guru
agama Islam di SMK N 1 Salatiga selama ini memandang pembelajaran
pendidikan agama Islam yang dulu hanya menekankan dari aspek kognitif,
sedangkan aspek afektif dan psikomotorik tidak. Lalu pada bulan Juli 2004
ada undangan penataran guru agama Islam di Semarang tentang pendekatan
DSL yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP)
Jateng. Tutor penataran tersebut dari TIM IMTAQ MGMP PAI DKI Jakarta
yang telah sukses menerapkan pendekatan DSL. Setelah penataran tersebut
guru-guru agama Islam sepakat untuk menerapkan pendekatan yang telah
diperoleh di penataran itu.
D. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui Pendekatan Dakwah
Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga berdasarkan hasil
1. Proses belajar mengajar.
a. Un
Menurut heliau, “Kegiatan PAI dengan DSL diselenggarakan
dalam bentuk kegiatan yang intergral antara kegiatan intra dan
kegiatan ekstra berupa kegiatan bimbingan keagamaan di sekolah,
di rumah dan di masyarakat serta kegiatan mandiri siswa.”
b. Mu
Pengakuan beliau, “Memeriksa buku mentor pada saat belajar
mengajar, mengapa saya katakan begitu karena di buku mentor itu
akan terlihat kegiatan keagamaan siswa setiap harinya jika
misainya ada yang bolong dalam melaksanakan sholat saya akan
menegumya jika, sebaliknya saya akan memujinya dan
memberikan pengantar materi kepada siswa kemudian saya beri
tugas untuk mendiskusikanya.”
c. Ay
Menurut pengakuan ia, ‘'Dengan menggunakan mentor yaitu
buku yang diberikan untuk memonitoring kagiatan sehari-hari
siswa dan sharing bareng dengan guru agama Islam.”
d. Ul
Menurut ia, “Dengan menggunakan mentor jadi mentor
diberikan kepada siswa untuk mencatat kegiatan keagamaan sehari-
e. Id
la menuturkan, “Proses belajar mengajar ini sangat
menyenangkan karena kita bisa memahami makna dari materi yang
diberikan, jadi menimbulkan rasa rugi jika tidak mengikuti
pelajaran karena pelajaranya disampaikan dengan diselingi
humor.’'
f. Ra
Menurut saya, “Proses belajar mengajar Pendidikan Agama
Islam dengan menggunakan pendekatan Dakwah sistem langsung
(DSL) saya rasa cukup efektif dan menyenangkan, karena dengan
pendekatan tersebut semua hal yang belum kita mengerti dapat kita
tanyakan secara langsung. Selain itu kita bisa lebih memahami
materi yang diberikan karena dapat bertukar pikiran secara
langsung tanpa malu-malu.”
g. Ta
Menurut penuturan dia, “Pendekatan keagamaan yang
dilakukan dengan secara langsung. Dengan melalui curhat atau
diskusi dengan teman sebayanya dan membahas tentang
kegamaan.”
• Analisa data hasil wawancara tentang proses belajar
mengajar.
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik