• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1 SALAGIA - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1 SALAGIA - Test Repository"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

DI SMK N 1 SALATIGA

x

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

Guna Memperoleh G elar Sarjana Pendidikan Islam (S. P d .I)

Pada Jurusan Tarbiyah

Perpustakaan STAIN Salatiga

121

04

003

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAM A ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

(2)

Dra. Siti Asdiqoh Dosen STAIN Salatiga Jl. Stadion NO. 03 Salatiga

Salatiga, 5 September 2007

Setelah kami teliti dan kami adakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudara:

Nama : Sobirin

NIM : 12104 003

Jurusan/Progdi : Tarbiyah/PAI

Judul : PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM MELALUI PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1 SALATIGA.

Bersama ini mohon agar naskah skripsi saudara tersebut di atas agar dapat segera di munaqosyahkan.

(3)

P E N G E S A H A N

Skripsi Saudara: Sobirin dengan Nomor Induk Mahasiswa 121 04 003 yang

berjudul: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI

PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1

SALATIGA telah dimunaqosyahkan pada Sidang Panitia Ujian Sekolah Tinggi

Agama Islam Negeri pada hari: Senin, 1 Oktober 2007 M. yang bertepatan dengan tanggal 19 Ramadhan 1428 H dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Tarbiyah

1 Oktober 2007 M. Salatiga,

---19 Ramadhan 1428 H.

PANITIA UJIAN

Kerta Sidang Sekretaris Sidang

NIP. 150 289 271

Pembimbing

Dra. Siti Asdiqoh NIP. 150 267 136

(4)

DEKLARASI

Bismillahirrahmaanirrahim

Dengan penuh kejujuran dan tanggungjawab, peneliti menyatakan

bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pemah ditulis oleh orang lain atau

pemah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran orang

lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan

rujukan.

Apabila dikemudian hari temyata terdapat materi atau pikiran-pikiran

orang lain di luar refemsi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup

mempertanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini dihadapan sidang

munaqosyah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 17 Agustus 2007

(5)

Setiap usaha belum pasti menghasilkan

,

namun hasil tidak akan ada tanpa usaha

.

(6)

1. Bapak dan Ibu tercinta, yang telah menyayangiku sejak kecil, memberi

motivasi dan kesempatan untuk menuntut ilmu.

2. Abah dan Umi, yang telah menyayangiku dan memberikan bantuan moril

maupun materiil sejak aku di Salatiga.

3. G irl Friend, Istikomah Nur Awaliyah yang telah memberi motivasi dan

dukungan, serta memberi bantuan material dan immaterial hingga skripsi ini

dapat selesai.

4. Kawan-kawan di FPPI Kota Salatiga, Mapala MITAPASA dan LPM

(7)

sebagai pahlawan revolusioner Islam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah

kepada Rasul Akhir Zaman, Muhammad SAW, yang telah menata moral umat

manusia dengan suri tauladan.

Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur, penulisan skripsi dengan judul

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI

PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DI SMK N 1

SALATIGA ini telah selesai. Skripsi ini merupakan salah satu syarat guna

memperoleh gelar Saijana Pendidikan Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam

Negeri (STAIN) Salatiga. Kami haturkan terima kasih yang tak terhingga kepada

pihak-pihak yang telah membantu terwujudnya skripsi ini.

Peneliti yakin, skripsi ini tidak akan terwujud tanpa ada pertolongan dari

Allah SWT dan bantuan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi. Maka,

dengan segala kerendahan hati, kami menghaturkan terima kasih kepada:

1. Ketua STAIN Salatiga, Drs. Imam Sutomo, M.Ag.

2. Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga, Drs. Sa’adi, M.Ag

3. Ketua Program Studi PAI STAIN Salatiga, Fatchurrahman, M.Pd

4. Pembimbing skripsi, Dra. Siti Asdiqoh atas segala ilmu, waktu, tenaga

dan bimbingan yang telah diberikan kepada kepada peneliti dengan

segala kesabaran dan keikhlasan.

(8)

dengan mudah.

7. Guru-guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, Pak Untoro

dan Bu Mutmainah serta segenap keluarga besar SMK N 1 Salatiga

yang telah menerima peneiiti dengan rasa kekeluargaan.

8. Siswa-siswa SMK N 1 Salatiga, yang telah banyak membantu peneiiti

dalam pangumpulan data.

9. Kawan-kawan aktivis UKM di STAIN Salatiga, yang telah memberi

dukungan, saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat terwujud.

Penulis yakin, skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan terdapat

kekurangan. Maka, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari

siapa saja. Besar harapan kami, skripsi ini bisa bermanfaat kepada pihak-pihak

terkait secara khusus, dan bagi semua pembaca secara umum. AMIN.

Salatiga, Agustus 2007

Peneiiti

(9)

Kabupaten Kendal 05 September 1983. Tempat tinggal di RT 01 RW 01

Bangunrejo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Proses belajar dimulai pada tahun 1989 di TK Pusporini Bangunrejo.

Kemudian melanjutkan di SD Bangunrejo dan lulus pada tahun 1994. melanjutkan

di SMP N 1 Patebon tahun 1999, SMK NU 01 Kendal lulus pada tahun 2002.

Pada tahun 2002 masuk di STAIN Salatiga mengambil Jurusan Tabiyah Program

Studi Pendidikan Guru Kelas MI (PGK MI) lulus tahun 2004, kemudian transfer

pada Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Aktif di

beberapa UKM seperti, Mapala MITAPASA, LPM DinamikA, dan aktif di

organisasi ekstra kampus yaitu Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Kota

Salatiga.

Setiap tahapan dalam kehidupan merupakan suatu proses yang wajib

dilalui oleh setiap manusia baik suka, duka, tawa dan sedih adalah seni sebuah

kehidupan untuk menuju sebuah perubahan.

Salatiga, Agustus 2007

Penulis

Sobirin NIM. 12104003

(10)

Nota Pembimbing ... ii

Lem bar Pengesahan ... iii

Deklarasi ... iv

Motto ... v

Persembahan ... vi

Kata Pengantar ... vii

Daflarlsi ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Penegasan Istilah... 5

C. Rumusan M asalah... 7

D. Tujuan Penelitian ... 7

E. Manfaat Hasil Penelitian ... 8

F. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II HAKIKAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. A. Pengertian Pendidikan... 11

B. Teori-Teori Pendidikan dan Persekolahan... 15

C. Kritik terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara um um ... 18

(11)

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 23

B. Penetapan Subyek Penelitian... 24

C. Metode Pengumpulan D ata... 26

D. Teknik Analisis D ata... 27

E. Tahap-tahap Penelitian... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. 1. Sejarah SMK N 1 Salatiga... 34

2. Data informan... 36

B. Gambaran Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) 1. Pengertian Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 38

2. Ciri-ciri Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 38

3. Komponen-komponen Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 39

4. Tahapan-tahapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (D SL )... 39

5. Prinsip-prinsip Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 42

6. Indikator keberhasilan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (D SL)... 42

C. Latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama

Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL)

(12)

a. Proses belajar mengajar... . 45

b. Pengembangan M ateri... . 50

c. Penggunaan M edia... . 52

d. Sistem Evaluasi... . 55

e. Pola hubungan guru dan sisw a... . 56

C. Keunggulan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (D SL )... . 59

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... . 61

B. Saran... . 64

C. Penutup... . 67

Lampiran-lampiran

(13)

A. Latar Belakang

Orang bijak mengatakan ada tiga prioritas dalam pembangunan

bangsa, yang pertama pendidikan, yang kedua pendidikan dan yang ketiga

juga Pendidikan. Berarti dalam suatu bangsa bidang pendidikan sangat

penting sekali. Tidak ada satu-pun negara besar yang bisa maju dan

berkembang pesat tanpa pendidikan. Pendidikan adalah modal utama suatu

bangsa.1 Karena pengalaman menunjukan, kemajuan suatu bangsa dan silih

bergantinya peradaban dunia, tergantung kemajuan pendidikan. Sejalan

dengan itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan

memunculkan tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan.

Tesis bahwa bahwa pendidikan memberi konstribusi secara

signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang

bersifat aksiomatik. Berbagai kajian akademis dan penelitian empiris telah

membuktikan keabsahan tesis itu.2 Menurut William Schweke dalam Smart

Money: Educatioan and Economic Development (2004), pendidikan tidak

hanya melahirkan human resources yang unggul dan berkualitas,

mempunyai pengetahuan yang luas, dan berketerampilan serta menguasai

1 Eko Budiraharjo, Manunggal, Edisi Mei-Juli/Tahun XXVIII, 2004, hlm.3

2 Amich Alhumami, Pendidikan dan Pembangunan Ekonomi, Kompas, Selasa. 3 Mei 2005, him. 4

(14)

teknologi, tetapi juga memberikan iklim yang sehat dan kondusif bagi

pertumbuhan ekonomi.3

Pencapaian pendidikan pada semua level niscava akan meningkatkan

pendapatan dan prokduktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan

menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai

problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan

welfare dependency yang menjadi beban sosial politik pemerintah.4

Pendidikan dengan demikian merupakan agenda besar yang tidak

saja menjadi kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakannya, melainkan

pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan dan partisipasi aktif dari semua

elemen bangsa tanpa terkecuali. Meski begitu, tidak kemudian masing-

masing elemen bangsa dapat mengeijakan sendiri-sendiri secara terpisah

(particular) dan terpencar (sporadic), justru pada saat seperti ini perlu

adanya kerjasama, baik antar elemen mayarakat maupun antara elemen

bangsa dengan pemerintah. Pola keija seperti ini kemudian meniscayakan

adanya emansipasi dan partisipasi aktif masyarakat yang lebih bersifat

buttom up (dari bawah ke atas), dari pada yang berpola top down (dari atas

3 Sumartini, PENDIDIKAN ALTERNATE UNTUK KAUM MARGINAL (Studi Kasus Di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Desa Kalibening Kecamatan Tingkir Kota Salatiga 2005),

Skripsi tidak diterbitkan, Salatiga, STAIN Salatiga. Tarbiyah/PAl, 2005, him. 9

(15)

ke bawah) dan over sentralistik, seperti yang pemah diterapkan pada zaman

Orde Baru.5

Mempertimbangkan hal tersebut, serta melihat realitas yang ada, bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia tergolong masih rendah, dibandingkan dengan Negara-negara lain bahkan antar Negara ASEAN. Peringkat indeks pengembangan SDM dari UNDP, Indonesia menduduki peringkat ke 102 dari 150 negara, sedang peringkat daya saing SDM menurut International Institute For Management Development (IIMD-2001), Indonesia menduduki peringkat ke 49, sedang Singapura pada urutan ke 2, Malaysia urutan 29, Thailand urutan ke 38, sedangkan Philipina berada pada urutan ke 40. Oleh karena itu kualitas sumber daya manusia merupakan suatu kebutuhan mutlak yang harus segera diupayakan.6

Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era

globalisasi, aspek kualitas yang perlu di bangun pada setiap diri siswa, tidak

terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja, tetapi meliputi

kemampuan siswa menepis (filter) pengaruh zaman. Kekuatan daya tepis ini

banyak ditentukan dari tingkat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT

yang dimiliki masing-masing siswa.7

Disisi lain, perilaku dan akhlak sebagian siswa sangat jauh dari

harapan antara cita dan fakta. Data menunjukan kenakalan dan tawuran

semakin memprihatinkan. Penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada

tahap membahayakan, pergaulan bebas dan gaya hidup hedonis semakin

meningkat, kebiasaan nongkrong di pinggir jalan dan mejeng di pusat

perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa. Semua ini menjadi bukti,

5 Ahmad El-Chumaedy, Menyegarkan Kembali Sisdiknas Untuk Membangun Civil Society dan Demokrasi. vvww. komunitasdemokrasi.or.id

6 TIM IMTAQ MCiMP PAI SMK, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK, Kirana Cakra B uana, Jakarta, 2003, him. 1

(16)

ada yang salah dalam proses pendidikan, diperparah lagi dengan orientasi

yang tidak benar yang dilakukan sebagian lembaga pendidikan.8

Segala upaya telah banvak dilaksanakan termasuk di dalamnya upaya

pengembangan kurikulum yang telah disesuaikan dengan perkembangan

ilmu pegetahuan dan teknologi. Namun di dalam pelaksanaanya terdapat

permasalahan tentang pelaksanaan pelajaran pendidikan agama dan budi

pekerti di sekolah-sekolah baik itu SD/SLTP maupun SMU/SMK.

Permasalah tersebut antara lain adalah masih kurangnya jam pengajaran baik

kualitas maupun kuantitasnya perminggu dan beban berat sekolah terhadap

perbaikan dan peningkatan kualitas moral siswa yang masih membayangi,

padahal tanggung jawab itu bukanlah semata-mata dari pihak sekolah,

namun seluruh elemen yang ada di masyarakat.

Berbagai macam kurikulum yang ditawarkan oleh pemerintah dari

CBSA sampai KBK, dari kesemuanya itu banyak menawarkan solusi-solusi

cerdas tetapi, ketika diterapkan di lapangan banyak juga yang gagal.

Kurikulum termasuk di dalamnya pembelajaran, memang berbeda antara

pembelajaran mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lainya,

antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Contoh pembelajaran

pendidikan agama Islam yang telah di kembangkan di SMK N 1 Salatiga

yang telah menjadi pelopor penggunaan strategi pembelajaran pendidikan

agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sisiem Langsung (DSL) bagi

(17)

Pembelajaran ini sangat bagus sekali karena proses belajamya bisa di

manapun dan kapanpun asa! masih dalam sekitar sekolah. Dan siswa tidak

akan canggung untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ataupun

pendapat, karena mentomya teman sendiri atau kakak kelasnya.

Pada tanggal 2 Agustus s/d 2 September 2006 STAIN Salatiga

mengadakan PPL untuk Strata 1 Jurusan Tarbiyah, salah satu tempat PPL-

nya di SMK N 1 Salatiga. Pada saat itu juga penulis merupakan salah satu

peserta PPL di SMK N 1 Salatiga yang menggunakan pembelajaran

Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung

(DSL), dan itu menjadi inspirasi penulis untuk meneliti lebih dalam

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem

Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga.

B. Penegasan Istilah

Untuk mempermudah pemahaman serta untuk menentukan arah yang

jelas dalam menyusun skripsi ini, maka penulis memandang perlu

memberikan penegasan dan maksud penulisan judul sebagai berikut:

1. Pembelajaran adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan

serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,

mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.9

(18)

2. Pendidikan Agama Islam adalah usaha-usaha secara sadar dan

sistematik dan pragmatik dalam membantu anak didik supaya mereka

hidup sesuai dengan ajaran Islam.10

3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah seperangkat unsur yang

terdapat dalam pendidikan yang berorientasi pada ajaran agama Islam

yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan dalam

mencapai tujuan.

4. Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) merupakan program

pembinaan keagamaan siswa yang terintregrasi antara Proses Belajar

Mengajar (KBM) di kelas (inlra) dan kegiatan siswa di luar jam

pelajaran atau tatap muka (ekstra).11 Dari penjelasan di atas penulis

dapat memahami maksud dari pendekatan Dakwah Sistem Langsung

(DSL) dalam penelitian ini yaitu pendekatan yang lebih

mengutamakan bimbingan keagamaan yang dilakukan oleh teman

sebayanya secara berkelompok di dalam dan luar sekolah dengan

pertemuan sepekan sekali, dengan waktu pelaksanaan berdasarkan

kesepakatan keloinpoknya masing-masing tetapi masih dalam

koordinasi guru Pendidikan Agama Islam.

(19)

C. Rumusan Masalah

1. Apakah yang melatarbelakangi penerapan Pembelajaran Pendidikan

Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di

SMK N 1 Salatiga?

2. Bagaimanakah pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1

Salatiga yang meliputi;

a. Proses belajar mengajar

b. Pengembangan Materi

c. Penggunaan Media

d. Sistem Evaluasi

e. Pola hubungan guru dan siswa

3. Apa saja keunggulan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui

pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan

Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di

SMK N 1 Salatiga?

2. Untuk mengetahui pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama

Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N

1 Salatiga meliputi;

(20)

b. Pengembangan materi

c. Penggunaan media

d. Sistem evaluasi

e. Pola hubungan guru dan siswa

3. Untuk mengetahui keungguian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).

E. Manfaat Penelitian

Penulis mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat bermanfaat

bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) sebagai acuan atau referensi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama

Islam dan pedoman guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ingin

menerapkan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan ini.

Di samping itu, penulis juga berharap bahwa gambaran pendekatan Dakwah

Sistem Langsung (DSL) yang telah dihasilkan melalui penelitian ini dapat

memberikan kontribusi yang positif bagi dunia pendidikan kita.

F. Sistematika Penulisan Skripsi

BAB I : PENDAHULUAN.

Berisi tentang pendahuluan yang memuat Latar Belakang

Masalah, Penegasan Istilah, Rumusan Masalah, Tujuan

Penelitian, Manfaat Hasil Penelitian, dan Sistematika

(21)

BAB II

BAB III

BAB IV

: HAKIKAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

Berisi tentang pengertian Pendidikan, Teori-Teori Pendidikan

dan Persekolahan, Kritik terhadap Pembelajaran Pendidikan

Agama Islam secara umum, Model-model Pendidikan Agama

Islam.

: METODOLOGI PENELITIAN.

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian.

B. Penetapan Subyek Penelitian.

C. Metode Pengumpulan Data.

D. Teknik Analisis Data

E. Tahap-tahap Penelitian.

: HASIL PENELITIAN.

Berisi tentang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam SMK

N 1 Salatiga yang terdiri atas:

A. 1. Sejarah SMKN 1 Salatiga

2. Data informan

B. Gambaran Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL)

Berisi tentang Pengertian Dakwah Sistem Langsung

(DSL), Ciri-ciri Dakwah Sistem Langsung (DSL),

Komponen-komponen Dakwah Sistem Langsung (DSL),

Tahapan-tahapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

dengan menggunakan Pendekatan Dakwah Sistem

(22)

Langsung (DSL), Indikator keberhasilan Pendekatan

Dakwah Sistem Langsung (DSL).

C. Latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan

Agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem

Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga.

D. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui

pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1

Salatiga yang meliputi:

1. Proses belajar mengajar

2. Pengembangan materi

3. Penggunaan media

4. Sistem evaluasi

5. Pola hubungan guru dan siswa

E. Keunggulan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung

(DSL).

BABY : PENUTUP.

(23)

A. Hakikat Pendidikan Agama Islam.

1. Pengertian Pendidikan.

Teori-teori tentang pengertian pendidikan tidak pemah mencapai

keseragaman definisi. Pendidikan diartikan secara berbeda-beda, tergantung

pada siapa yang mendefinisikannya. Di bawah ini penulis akan memaparkan

pengertian pendidikan dari beberapa sumber.

a. Dalam Al-Qur'an dan Al-Hadis pengertian pendidikan tercakup dalam

kata rc.bba kata kerja dari tarbiyyah, 'allama kata kerja dari ta'liim dan

addaba kata keija dari ta'diib.

Misalnya:

Ya Tuhan, sayangilah keduanya (orang tuaku) sebagaimana mereka

telah mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. 12

Dia yang mengajarkan kepada manus ia apa yang tidak diketohuinya. 13

6 1 j d u l j Ax>i

Ibunya telah mendidiknya dan kamu telah dididik oleh ibumu. 14

12 QS. al-Israa: 24 13 QS. al-Alaq: 5

^ A rs U m o i /r/ziM *

Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta,

1992, him . 54

(24)

a. Kata kerja Rabba ( C5“f j ) memiliki beberapa arti, antara lain

mengasuh, mendidik, dan memelihara. Adapun kata attarbiyah

Baidawi dalam kitab tafsimya, Anwa al Tam il wa Asrar al Tamvil

diartikan sebagai penyampaian sesuatu pada kesempumaan secara

bertahap atau sedikit demi sedikit. Menurut Al-Asfahani dalam

bukunya Mufradatu al Raghib kata tersebut berarti menjadikan atau

mengembangkan sesuatu melalui proses tahap demi tahap sampai batas

kesempumaannya. Selanjutnya Abdurrahman al Bani menerangkan

lebih lengkap bahwa, ditinjau dari asal bahasanya istilah aitarbiyyah

mencakup empat unsur:

1) Memelihara pertumbuhan fitrah manusia.

2) Mengembangkan potensi dan kelengkapan manusia yang beraneka

macam (terutama akal budinya).

3) Mengarahkan fitrah dan potensi manusia menuju

kesempumaannya.

4) Melaksanakannya secara bertahap sesuai dengan irama

perkembangan anak.15

pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan

keterampilan.16

( ) yang merupakan bentuk masdar dari ( J ) menurut Imam

(25)

Al-Qur'an sering menggunakan kata-kata allama, misalnya dalam

firman-firman Allah berikut ini:

Ig-lS

1

j

Allah mengajarkan kepada Adam dan Hawa nama-nama semuanya.'7

LI

a

I

c

.

^ U ll

J l a j

Berkatalah Sulaiman: " Wahai manusia, telah diajarkan kepada kami

pengertian bunyi burung 16 17 18 19

(jLnll

A

a

I

c

-

p

Yang telah mengajarkan al Qur an. Yang telah menciptakan manusia.

M engajarnyapandai bicara.]9

c. Kata kerja addaba ( ) dapat diartikan mendidik yang lebih tertuju

pada penyempumaan akhlak budi pekerti.20

Dari definisi-defmisi di atas penulis dapat menyimpulkan atau

menarik benang merah yaitu, pendidikan adalah suatu proses pendewasaan

diri individu (kognitif, afektif dan psikomotorik) agar mampu mengemban

tugas sosial dalam masyarakat dimana ia hidup. Pendidikan mempunyai arti

yang sangat luas, berupa pengalaman-pengalaman yang diperoleh di

sekolah, masyarakat, keluarga dan lembaga-lembaga edukatif lainnya.

(26)

1. The aggregate o f all the processes by which a person develop

abilities, attitudes and other form s o f behavior o f positive value in

the society in which he lives.

2. The social process by which people are subjected to the influence

o f a selected and controlled environment (specially that the school)

so the may attain sosial competence and optimum individual

development2'

c. Menurut M.J. Langeveld Pendidikan adalah kegiatan membimbing anak

manusia menuju kedewasaan dan kemandirian.21 22 23

d. Menurut Kartini Kartono Pendidikan adalah proses pembudayaan,

proses kultural atau proses kultivasi untuk mengembangkan semua bakat

dan potensi manusia guna mengangkat diri sendiri dan dunia

sekitarnya pada taraf human?2

e. Menurut Profesor Richey dalam buku “Planning fo r Teaching, an

Introduction to Education dinyatakan bahwa, istilah pendidikan

berkenaan dengan fungsi luar dari pemeliharaan dan perbaikan

kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang

baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan tanggungjawabnya

di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih

luas dari pada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja.

21 Lester D. Crow and Alice Crow, Educational Psychology, New York, America Book Company, 1948, him. 4 dalam Drs. H. M. Djumberansyah Indar, Filsafat Pendidikan Karya Abditama, Surabaya, 1994, him. 17

(27)

Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang esensial yang

memungkinkan masyarakat yang kompleks modem. Fungsi pendidikan

ini mengalami proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan

formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di

luar sekolah.24

f. Menurut Profesor Lodge dalam buku Philosophy o f Education

menyatakan The word education is used, sometimes in a wider,

sometimes in a narrower sense. In the wider sense, all experience is said

to the educative. In the narrower sense education is retricted to that

function o f the community, which consists, is passing on its traditions, its

background, and its outlook, to the members o f the rising generation. ~5

2. Teori-Teori Pendidikan dan Persekolahan

Teori-teori pendidikan dan persekolahan erat kaitannya dengan teori

pengajaran. Abdul Hamid Shoidi al-Zantani menegaskan bahwa ada

perbedaan antara pendidikan dengan pengajaran. Pendidikan mempunyai

definisi yang lebih luas. Dia berpendapat bahwa segala proses pendewasaan

diri individu ialah pendidikan. Sedangkan pengajaran adalah bagian dari

pendidikan, menuju proses maturity individu yang berkaitan dengan transfer

o f knowledge, skill dan Iain-lain.26

Cakupan pendidikan yang sangat luas juga disampaikan oleh

Mahmud Yunus dan Muhammad Qasim Bakar bahwa pendidikan tidak

24 Tim Dosen IKIP Malang, Penganlar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1987, him. 4

25 Kartini Kartono, op.cit. him. 5

(28)

mempunyai batasan yang jelas, tetapi menurut mereka untuk membatasi

pendidikan tergantung dari cara mendefinisikan pendidikan itu sendiri.

Menurut mereka pendidikan adalah usaha-usaha untuk memhantu individu

mencapai kematangan jasmani, akal, moral sehingga ia mampu hidup

mandiri, secara individual dan sosial.27

Pendapat di atas juga diperkuat oleh pendapat Crow and Crow

bahwa pendidikan bukan hanya sekolah, yang menyangkut masalah

pelajaran dan pengajaran ilmiah, tetapi juga menyangkut pembentukan

konsep perilaku dan pola kehidupan masyarakat.28

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang diadakan

atau dibentuk oleh masyarakat karena masyarakat merasa butuh suatu ruang

khusus yang menyediakan waktu total untuk melakukan kerja-kerja

pendidikan. Orang tua tidak mungkin mendidik anaknya secara optimal

karena banyak kesibukan yang harus dijalani, maka biasanya orang akan

memasukkan anaknya ke sekolah karena sekolah dianggap sebagai salah

satu tempat berlangsungnya proses pendidikan.

Sejarah atau asal-usul tentang sekolah sudah dimulai sejak masa

filosof Yunani, Plato dan Aristophanes, karena kedua filosof tersebut yang

telah meninggalkan catatan tertulis mengenai ruang kelas dan sekolah.

Sekolah pertama orang Athena kuno memang sederhana. Sekolah itu hanya

berupa tambahan dari suatu program pendidikan yang dititikberatkan pada

"7 Mahmud Yunus dan Muhammad Qasim Bakar, Al-Tarbiyah wa al-Ta'Iim, Dar al-Salam, Gontor. Ponorogo, 1990

(29)

latihan kemiliteran, atletik, musik dan puisi. Mengajarkan membaca,

menulis dan berhitung boleh dikatakan hanya sebagai pertimbangan

sampingan. Aslinya pendidikan di Athena bersifat tutorial, suatu aspek

hubungan perorangan yang seringkali juga bersifat erotik. Ketika Athena

menjadi lebih demokratis dan jumlah muridnya juga lebih banyak daripada

gurunya, maka secara berangsur-angsur hubungan tutorial digantikan dengan

pengajaran kelompok atau klasikal.29

Menurut Roem Topatimasang, sekolah mengacu pada suatu sistem,

suatu lembaga, suatu organisasi besar, dengan segenap kelengkapan

perangkatnya: sejumlah orang yang belajar dan atau mengajar, sekawanan

bangunan gedung, secakupan peralatan, serangkaian kegiatan terjauwal,

selingkupan aturan dan sebagainya.30

Jika pendidikan berlangsung seumur hidup, maka sekolah

mempunyai batas akhir. Jika semua kurikulum yang ada di sekolah telah

dilalui oleh peserta didik, maka ia dinyatakan telah lulus dari sekolahnya.

Dari informasi-informasi di atas maka penulis dapat memaparkan perbedaan

antara pendidikan dan persekolahan dalam bentuk matrik sebagai berikut:

T A B E L 1

Perbedaan Antara Pendidikan Dan Persekolahan

NO PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN

1 Bersifat luas Bersifat sempit dan terbatas

Everett Reimer. Sekitar Eksislensi Sekolah. Hanindita Graha Widya, Yogyakarta, 1987. hlm.25

30 Roem Topatimasang. Sekolah itu Candu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 1998,

(30)

2 Tidak mempunyai kurikulum Mempunyai kurikulum yang

terbatas

3 Berlangsung di mana saja Umumnya berlangsung di gedung

sekolah

4 Berlangsung pada waktu yang Berlangsung pada waktu yang

tidak ditentukan telah di atur (terjadwal)

5 Berlangsung seumur hidup Bersifat temporal dan berjenjang

3. Kritik Terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara

umum.

a. Kurangnya waktu Jam Pengajaran.31

Keterbatasan waktu 2 (dua) jam pelajaran perminggu. 2 (dua)

jam pelajaran tersebut merupakan waktu yang sangat singkat. Ditambah

belum efektif dan efisienya pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di

SMK/SMA dalam membina keagamaan siswa baik melalui kegiatan

intra kurikuler maupun ektra kurikuler yang dikelola secara baik dan

berkes i nam bungan.

b. Guru kurang kreatif dalam penyampaian materi.32

Masih banyak guru Pendidikan Agama Islam dalam

penyampaian materi kurang kreatif, hanya menggunakan metode

ceramah melulu dan hanya terbatas pada ruangan kelas sehingga

2006

31 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 5 Desember

(31)

kebanyakan siswa dalam menerima materi masih setengah-tengah dan

menjenuhkan. Sehingga banyak siswa yang tidur disaat guru

menyampaikan materi.

c. Siswa diperlakukan sebagai obyek dalam pembelajaran.33

Guru menganggap bahwa siswa tidak mempunyai

kompetensi dalam dirinya, sehingga guru masih menganggap siswa

adalah anak kecil yang harus diperlakukan over protec. Seharusnya

siswa diperlakukan sebagai subyek dalam pembelajaran, yang harus

dihormati dan dihargai segala kewajiban dan haknya dalam

pembelajaran.

d. Masih menggunakan metode konvensional.34

Kebanyakan guru pendidikan agama masih banyak

menggunakan metode konvensional dalam pembelajaran pendidikan

agama Islam. Misalnya : hanya ceramah dan tanya jawab dalam

mengajarkan pendidikan agama Islam tidak lebih dari itu.

e. Guru kadangkala terjebak pada ungkapan yang memojokan agama

tertentu.

Ungkapan itu setidaknya dikatakan oleh Djohan Efendi

dalam bedah buku berjudul "Lebih Tajam dari Pedang: Refleksi Agama-

agama Tentang Paradoks Kekerasaan" yang berlangsung di aula

Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta. "Harus ada refleksi dari setiap

33 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 5 Desember 2006

iA Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 5 Desember

(32)

agama, apakah kita menuju pada masyarakat yang selalu bermusuhan

atau sebagai saudara sebangsa," ujar Efendi, usai acara bedah buku

tersebut (Media Indonesia, 6/2/06).35

f. Pendidikan Agama melahirkan insan yang fanatik.36

Saat ini cukup terasa bagaimana Pendidikan Agama telah

melahirkan insan yang fanatik, walaupun tidak semua. Yang acapkali

cenderung hanya memandang agamanya yang paling benar dan

memusuhi siapapun yang tidak mau menerimanya.

"Kita juga menyaksikan lahirnya insan yang kemudian

mengagungkan agamanya sebagai yang paling unggul dan dengan cepat

menampilkan sikap yang mudah tersinggung," ujar Megawati. Sikap

militan yang menyertainya, katanya juga sering mengedepankan paham

bahwa apa saja yang berbeda haras dimusnahkan dan dianggap sebagai

suatu tugas suci.37

Menurat penulis saran atas kritik yang dikemukakan di atas

adalah dengan menggunakan pendekatan Quantum Teaching

dikombinasikan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) karena

kedua pendekatan ini sama-sama memandang siswa sebagai subyek

didik yang mampu berkembang sendiri dan mampu menentukan arah

perkembanganya mau kemana dengan sedikit bantuan dan stimulus dari

luar (guru, buku, koran, internet dll) sehingga ia bisa belajar tanpa batas

35 http://www.beritaindonesia.co.id/data/arsip/agama/index.php?page=2

36 Fanatik yang dimaksud disini adalah fanatik yang sempit dan fanatik destruktif, sebab fanatik yang positif adalah fanatik yang memegang teguh ajaran agamanya.

(33)

waktu yang ditentukan dan berbuat apa yang baik untuk dirinya tanpa

mengambil dan menyakiti hak-hak orang lain atau agama lain.

4. Model-model Pendidikan Agama Islam.

a. Model Dakwah Sistem Langsung (DSL).38

Model Dakwah Sistem Langsung (DSL) merupakan program

pembinaan keagamaan siswa yang terintregrasi antara Proses Belajar

Mengajar (KBM) di kelas (intra) dan kegiatan siswa di luar jam

pelajaran atau tatap muka (ekstra).39

b. Model Sistem Kontrak.40

Model Sistem Kontrak adalah model Pendidikan Agama Islam

yang menggunakan sistem kontrak antara siswa dengan guru Agama,

dan kontrak itu berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara siswa dan

guru, jika yang melanggar kontrak tersebut mendapat sanksi.

c. Model Penanaman Nilai Moral.41

Model Penanaman Nilai merupakan model Pendidikan Agama

Islam yang lebih mengutamakan penanaman nilai-nilai keagamaan

dalam kegiatan belajar mengajar. Mana nilai-nilai yang harus ditauladani

dan mana yang hams diamalkan dan lain-lain.

38 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N 1 Salatiga, 19 Desember 2006

39 TIM IMTAQ MGMP PAI SMK, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK,Kirana Cakra Buana, Jakarta. 2003, him. 6

40 Wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam SMK N I Salatiga, 19 Desember 2006

(34)

d. Model Konvensional.42

Model Konvensional ini merupakan model klasik dalam

Pendidikan Agama Islam, model ini tidak relevan lagi untuk zaman

sekarang karena guru biasanya memberikan tugas rumah dan

kebanyakan menggunakan metode ceramah melulu dan hanya terbatas

(35)

A. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.

Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian

kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller adalah tradisi

tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung

pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan

berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam

peristilahannya.35

Bogdan dan Taylor mendefmisikan metodologi kualitatif sebagai

prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.36

Menurut S. Nasution, penelitian kualitatif disebut juga penelitian

naturalistik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan bercorak

kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur.

Disebut naturalistik. karena situasi lapangan penelitian bersifat "natural"

atau wajar, sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi, diatur dengan

eksperimen atau test.37 *

35 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung. 2003, him. 3

36 Loc.cit.

37 S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung, 2003, him. 18

(36)

Penelitian kualitatif hasilnya bersifat obyektif, berlaku sesaat dan

setempat kemudian pada umumnya dilakukan pada penelitian sosial

sedangkan data yang dikumnulkan dinyatakan dalam bentuk nilai relatif.38

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif. Penelitian

diskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan

informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala

menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.39

Penelitian diskriptif ini melakukan analisa hanya sampai pada taraf

diskriptif yaitu menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis,

sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan simpulkan.40 Simpulan

yang diberikan jelas atas dasar data faktual sehingga semuanya dapat

dikembalikan langsung pada data yang diperoleh.

B. Penetapan Subyek Penelitian

Lokasi Penelitian berada di SMK N 1 Salatiga yang beralamat di

Jl. Nakula Sadewa 1/3 Salatiga 50722 dengan nomer telepon (0298) 323566,

atau tepatnya di Dukuh Kembangarum Kelurahan Mangunsari Kecamatan

Sidomukti.

Berdasarkan hasil survey awal yang di lakukan di SMK N 1 Salatiga

ditemukan suatu fenomena bahwa di sana telah diterapkan Pendekatan

Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam pembelajaran Pendidikan Agama

;s Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula.

Cet. ke-II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2004. him. 113

Suharsini Arikunto. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta, Cet. ke-VIl, 2005, him. 234

(37)

Islam selanjutnya, penetapan subyek penelitian dibedakan atas kelompok

key informan dan kelompok informan sehingga keduanya dapat

dimanfaatkan secara optimal dan proporsional. Adapun perbedaan kedua

kolompok subjek tersebut adalah :

a. Key Informan t

Subyek yang dikelompokkan sebagai key informan adalah

mereka yang mengungkapkan data penelitian atas pemahaman dan

perilaku tentang dirinya sendiri. Dengan demikian data yang

terhimpun dalam penelitian diperoleh dari subyek yang

bersangkutan secara langsung, baik melalui observasi atau

wawancara. Termasuk kelompok ini adalah siswa-siswa, para

mentor dan para pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI).

b. Informan

Subyek yang dikelompokan sebagai informan adalah

mereka yang tahu informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan

penerapan pendekatan Dakwah Si stem Langsung (DSL) dan proses

pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), meskipun

mereka juga pengajar, tetapi dalam hal ini informasi yang diminta

darinya bukan tentang dirinya melainkan orang lain. Informasi

yang diberikan digunakan sebagai petunjuk pengembangan

(38)

C. Metode Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi adalah penyeledikan yang dijalankan sccara sistematis

dan sengaja dilakukan dengan menggunakan alat indera terhadap kejadian

dan langsung ditangkap pada waktu kejadian.41

Meode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang: Proses

Belajar Mengajar, Bagaiamana mengembangkan materi, Media yang

digunakan, Sistem mengevaluasinya, Hubungan guru dan siswa.

2. Wawancara

Wawancara menurut Lexy J. Moleong adalah percakapan dengan

maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu

pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang

diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.42

Wawancara dalam penelitian kualitatif biasanya merupakan jenis

wawancara tidak terstruktur. Tujuannya ialah memperoleh keterangan yang

terinci dan mendalam mengenai perspektif yang ada dalam hati dan pikiran

orang lain karena hal ini tidak bisa didapat dengan cara observasi. Tetapi

pada penelitian kali ini menggunakan wawancara terstruktur.

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang: Proses

Belajar Mengajar, Bagaimana mengembangkan materi, Media yang

digunakan, Sistem mengevaluasinya, Hubungan guru dan siswa, dengan key

informan; Siswa-siswa SMK N 1 Salatiga, para pengajar Pendidikan Agama

(39)

Islam, dan informanya Pengajar Pendidikan Agama Islam, dan Tim MGMP

PAI kota Salatiga.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.4j

Dalam penelitian ini metode dokumentasi untuk mengumpulkan data

tentang sejarah sekolah SMK N 1 Salatiga, data key informan, transkip nilai

siswa dan dokumen-dokumen yang terkait.

D. Teknik Analisis Data

Secara umum, penelitian dengan metode kualitatif merupakan

penelitian non hipotesis, sehingga tidak perlu merumuskan hipotesis. Maka

proses analisis datanya seperti yang dikemukakan Moleong Lexy adalah

proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori,

dan susunan uraian dasar, sehingga dapat menemukan hipotesis keija yang,

disarankan oleh data.43 44

Secara prosedural data yang diperoleh dengan mengoptimalkan

metode penelitian yang digunakan, direduksi, disajikan, disimpulkan dan

diverifikasi. Hasil reduksi data tersebut kemudian diverbalkan dan dipilah-

pilah menurut kategori datanya. Sebelumnya dipersiapkan antisipasi

terhadap kemungkinan reduksi data serta merumuskan konsep.

43 Sukandarrumudi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula,

Cet. Ke-II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2004, him. 101

(40)

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,

menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu dan

kemudiaan mengorganisasikan data sehingga dapat mengarah pada simpulan

akhir. Tahapan berikutnya adalah pengajian data dilakukan dalam rangka

upaya pemahaman terhadap sekumpulan informasi yang tersusun. Tahapan

ini tidak boleh terlepas dari analisis, sehingga data dapat tersaji rapi dan

sistematis. Sesudah data tersaji, maka proses penarikan simpulan-simpulan

dilakukan sejak penelitian bermula sampai berakhir, seluruh data yang telah

direduksi dan tersaji, diteliti dan tinjau ulang sehingga data yang diperoleh

teruji validitasnya.

Dalam penelitian ini metode analisa data yang digunakan yaitu

triangulasi (keabsahan). Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan

data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan

pengecekan atau pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang

digunakan yaitu triangulasi dengan sumber dan metode.

Triangulasi dengan sumber dan metode berarti membandingkan dan

rnengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui

waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dicapai dengan

jalan:

1. Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil

wawancara

2. Membandingkan apa yang dikatakan siswa dengan apa yang

(41)

3. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen

yang terkait.

4. Membandingkan apa yang dikatakan Key Informan dan

Informan.

E. Tahap-tahap Penelitian.

Dalam penelitian ini ada beberapa tahap-tahap yang dilakukan oleh

peneliti, antara lain :

1. Kegiatan Administrasi, yang meliputi pengajuan izin

operasional untuk melakukan penelitian kepada Ketua STAIN

Salatiga dan Kepala Sekolah SMK N 1 Salatiga. menyusun

pedoman wawancara dan observasi lapangan serta administrasi

lain.

2. Kegiatan lapangan.

a. Survey awal untuk mengetahui gambaran lokasi penelitian.

b. Memilih sejumlah orang untuk menjadi key informan dan

informan.

c. Melakukan observasi lapangan dan mewawancarai

sejumlah key informan dan informan sehingga langsung

mendapatkan data.

d. Memimjam dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk

(42)

e. Menyajikan data dengan susunan dan urutan yang

memungkinkan dan memudahkan untuk dilakukan

pemaknaan.

f. Mereduksi data dengan cara membuang data-data yang

lemah atau menyimpang. Setelah mulai tampak adanya

kekurangan data sebagai akibat proses reduksi, selanjutnya

direncanakan untuk mengumpulkan data tambahan sebagai

akibat proses reduksi.

g. Melakukan veriflkasi untuk membuat kesimpulan,

kesimpulan sebagai diskripsi temuan penelitian.

3. Kegiatan penyusunan laporan akhir.

Tabel Kegiatan Penelitian.

Hari/Tanggal Kegiatan Penelitian Keterangan

Sabtu, - Meminta Surat

-18 November Permohonan Penelitian di

2006 Bagian Akademik STAIN

Salatiga.

Senin, - Mengajukan Surat

-20 November Permohonan Penelitian ke

2006 SMK N 1 Salatiga.

Kamis, - Menanyakan Surat

-23 November Permohonan Penelitian di

(43)

N 1 Salatiga.

- Kemudian menemui

Waka. Kurikulum untuk

menayakan Surat

29 November mengajar. guru Agama

(44)
(45)

Senin-Rabu, - Pengolahan data dan

-5-15 Maret penulisan laporan

(46)

A. 1. Sejarah SMK N 1 Salatiga

Pada tahun 1967 di Salatiga belum ada Sekolah Menengah Ekonomi

Tingkat Atas (SMEA) Negeri. Pada tahun yang sama dibentuklah panitia

pendiri SMEA persiapan negeri, yang diketuai dan didukung oleh bapak

Walikota Salatiga Letkol S. Soegiman dan didukung oleh Muspida.

Dengan persetujuan kepala perwakilan Departemen Pendidikan dan

Pengajaran Propinsi Jawa Tengah No : IDPL/435/67 17 Januari 1967,

beridirilah SMEA dengan status persiapan di Salatiga.

Pada tanggal 25 Mei 1968 teijadi peningkatan status dari persiapan

menjadi negeri melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Pengajaran

Republik Indonesia Nomor : 191/UUK/31968. Hal ini membawa

kebahagiaan tersendiri bagi SMEA Negeri.

Dibalik kegembiraan itu rnasih terselip keprihatinan, sebab SMEA

Negeri belum memiliki gedung sekolah sendiri. SMEA Negeri menumpang

di SMP Negeri Salatiga. Keadaan ini menyebabkan SMEA Negeri masuk

siang hari, kepala sekolah saat itu adalah bapak Sri Sadana, BA.

Pada tahun 1973, SMEA Negeri menempati tanah dan bangunan di

jalan Jendrai A. Yani Nomor 14 Salatiga yang pada saat itu mengalami

perbaikan-perbaikan. Bapak Sri Sadana, BA menjadi kapala sekolah hingga

1982. Dan sebagai gantinya adalah bapak R. Soeyono yang memimpin

(47)

SMEA Negeri Salatiga hingga 1993. Pada saat kepemimpinan beliaulah

SMEA Negeri Salatiga menempati gedung bam yang dibangun oleh Negara

mulai tanggal 1 Agustus 1992.

Gedung dan bangunan sekolah berdiri diatas tanah seluas 13.795 meter

persegi tersebut berlokasi di desa Kembang Arum dan menghabiskan dana

sekitar 1.7 miliyar mpiah dimana dana pembangunan itu mendapat bantuan

dari ADB (Asean Develoment Bank). Bahkan ADB juga memberi bantuan

untuk perabot dan peralatan praktek termasuk Second Vocational Education

sebesar 2 milyar mpiah.

Pada tanggal 1 Juli 1993 bapak Soeyono selaku kepala sekolah

digantikan oleh bapak Drs. Soeparmo dari SMEA Negeri 2 Semarang.

Beliau menjadi kepala sekolah sampai tanggal 19 Januari 1994. Mulai 14

Januari 1994 pimpinan SMEA Negeri Salatiga dijabat oleh bapak Drs. FX.

Soewito dari SMEA Negeri 1 Solo. Pada bulan januari 1996 terjadi

pergantian kepala sekolah SMEA Negeri Salatiga bapak Drs. FX. Soewito

diganti oleh bapak Drs. S. Djoko Legowo. Pada tanggal 28 November 1998

bapak Drs. S. Djoko Legowo diberi tugas untuk memimpin SMEA Negeri

Blora sehingga SMEA Negeri Salatiga mengalami kekosongan kepala

sekolah. Untuk mengisi kekosongan ini maka, untuk menjalankan tugas

kepala sekolah bapak Sutopo B.Sc ditunjuk sebagai kepala sekolah YMT.

Namun bapak Sutopo, B.Sc selaku YMT kepala sekolah SMEA Negeri

(48)

maka sebagai gantinya adalah bapak Moh. Badhowi dari STM Pertanian

Negeri Boyolali selaku YMT kepala sekolah di SMK Negeri 1 Salatiga.

Pada tanggal 16 Januari 2000, bapak Moh. Badhowi selaku YMT

kepala sekolah digantikan oleh bapak Drs. Moeljono, M.Pd. Bapak Drs.

Moeljono, M.Pd memimpin SMK Negeri 1 Salatiga selama ± 7 tahun

tepatnya pada tanggal 1 Maret 2007 beliau digantikan oleh bapak Bambang

Dwi Hersedianto, S.Pd sebagai kepala sekolah tetap SMK Negeri 1 Salatiga

hingga sekarang.

2. Data Informan

a) Guru ini merupakan koordinator guru-guru pendidikan agama Islam di

SMK N 1 Salatiga. Orangnya agak kurus, rumah beliau di Perumahan

Pondok Telaga Mukti II, Tingkir Salatiga. Pendidikan terakhir beliau

adalah SI PAI di IAIN Walisongo semarang, beliau juga menjadi

pembina pramuka di tempatnya mengajar. Selain sebagai guru beliau

juga sering diminta ngisi-ngisi pengajian di tempatnya ia tinggal. Dan

beliau berinisial Un.

b) Orang ini berinisial Mu, kecil tetapi perawakanya tegas seperti layaknya

laki-laki maklum suami beliau adalah polisi, beliau memang termasuk

guru baru di SMK N 1 Salatiga. Beliau guru pindahan dari SMA N 2

Salatiga. la tinggal di Bener, Kab. Semarang atau tepatnya didekat

pabrik Mulyojati. Pendidikan terakhir beliau adalah Sarjana Muda PAI

di IAIN Walisongo Semarang. Saat ini beliau masih merampungkan

(49)

c) Perawakanya ramah dan enak diajak bicara tetapi ia agak gendut selain

sibuk dikegiatan pramuka ia juga sibuk di OSIS maklum karena ia

menjabat ketua OSIS SMK N 1 Salatiga periode ini. Ia tinggal di

Perumahan Tingkir Indah, di SMK N 1 Salatiga ia mengambil Jurusan

Tata Boga. Ia berinisial Ay.

d) Ketika kita memandang sekilas bocah ini pasti kita akan terpesona. Ia

berinisial Ul, tinnggal di Grogol, Salatiga atau tepatnya di Pondok

Pesantren AL-Falah selain sebagai siswa ia juga menjabat ketua SKI di

Sekolahnya. Ia bercita-cita menjadi seorang koki makanya ia mengambil

jurusan Tata Boga.

e) Siswa yang satu ini menjadi orang sangat penting di organisasi pramuka

bagaimana tidak soalnya ia menjabat sebagai ketua pramuka di tempat ia

mencari ilmu. Ia berinisial Id, tinggal di Bubudan, Sumberejo. Mungkin

cita-citanya ia ingin jadi wiraswatawan sehingga ia mengambil jurusan

Penjualan.

f) Siswa ini mengambil jurusan Adminitrasi Perkantoran ditempatnya ia

belajar. Ia berinisial Ra, tinggal di Cengek, Tingkir Salatiga oleh teman-

temanya ia biasa dipanggil lemot. Dia pemah magang di STAIN Salatiga

selama ± 4 bulan tepatnya di UPT Perpustakaan.

g) Siswa yang satu ini tinggal didekat stadion Kridanggo atau tepatnya di

jalan Kridanggo No.30 A Salatiga, ia mengambil jurusan Tata Boga

(50)

dengan barang elektronnik-nya (handphone). Di rumahnya ia sering

dipanggil Tandos. la berinisial Ta.

B. Gambaran Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL)

1. Pengertian Dakwah Sistem Langsung (DSL).

Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) merupakan program

pembinaan keagamaan siswa yang terintregrasi antara Proses Belajar

Mengajar (KBM) di kelas (intra) dan kegiatan siswa di luar jam pelajaran

atau tatap muka (ekstra).42 Dari penjelasan diatas penulis dapat memahami

maksud dari pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) dalam penelitian

ini yaitu pendekatan yang lebih mengutamakan bimbingan keagamaan yang

dilakukan oleh teman sebaya-nya secara berkeiompok didalam dan luar

sekolah dengan pertemuan sepekan sekali, dengan waktu pelaksanaan

berdasarkan kesepakatan kelompoknya masing-masing tetapi masih dalam

koordinasi guru Pendidikan Agama Islam.

2. Ciri-ciri Dakwah Sistem Langsung (DSL).

a. Menggunakan kitab A1 Qur’an dalam setiap pembelajaran

b. Adanya mentor sebaya dalam belajar kelompok

c. Menggunakan Buku Mentor

d. Mengedepankan pemahaman dari pada hafalan43

e. Melibatkan semua elemen yang ada di sekolah

(51)

f. Guru hanya menjadi fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar

(KBM)

g. Penilaianya tidak hanya dari guru Agama Islam44

3. Komponen-komponen Dakwah Sistem Langsung (DSL).

a. Wali Kelas

b. Guru Pendidikan Agama Islam

c. Guru BP

d. Pengurus Seksi Kerohanian Islam (SKI) OSIS45

e. Orang tua46

4. Tahapan-tahapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan

menggunakan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).

- Pertama ; Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas

Strategi kegiatan belajar mengajar di kelas yang dilakukan oleh guru

Pendidikan Agama Islam ditempuh dengan pola pendekatan Al-

Qur’an, langkah-Iangkah yang harus dilakukan sebagai berikut:

a. Pentahapan.

• Tahap I ; 10-15 menit : Mengecek, mengulang, bacaan Al-

Qur’an siswa.

• Tahap II ; 50-60 menit : Pembahasan materi pokok sesuai

dengan persiapan dengan memakai modul bahan ajar

Pendidikan Agama Islam dengan Pendekatan A l-Q ur’an

44 Wawancara dengan guru Agama SMK N I Salatiga, 5 Desember 2006

45 Wawancara dengan guru Agama SMK N 1 Salatiga, 5 Desember 2006

(52)

untuk SM K ” yang disusun oleh Tim IMTAQ-MGMP

Pendidikan Agama Islam SMK.

• Tahap III ; 10-15 menit : Mengontrol dan memeriksa

kegiatan keagamaan yang dilakukan siswa dalam “Buku

Praktikum dan Penilaian Pendidikan Agama Islam ”.

b. Pembahasan Materi

• Pengantar tentang materi yang akan dipelajari, manfaat

materi tersebut dalam meningkatkan pemahaman.

pengalaman atau kesadaran beragama dan tujuan pendidikan.

• Pembahasan materi diawali dengan salah satu siswa

membaca ayat Al Qur’an dan terjemahanya yang menjadi

pokok bahasan. Dapat diteruskan ayat-ayat munasabah (ayat

yang berhubungan) yang tersedia di buku Modul Bahan Ajar.

• Test penguasaan bahan dan pemahaman. guru bertanya siswa

menjawab.

• Konsolidasi, sebagai usaha pembetulan pemahaman siswa

yang kurang pas terhadap materi yang dipelajari.

Kedua ; Kegiatan mentoring pendidikan agama Islam yang

diselenggarakan di luar jam sekolah.

Mentoring Pendidikan Agama Islam adalah suatu kegiatan

pembinaan siswa yang beriangsung secara periodik dengan

bimbingan seorang mentor. Pola pendekatan teman sebaya

(53)

efektif serta memiliki keunggulan tersendiri. Mentor Pendidikan

Agama Islam dilakukan di Iuar kelas ditujukan untuk mengajak para

siswa untuk lebih mengenal, mencintai dan mengamalkan ajaran

Islam dengan metode pendekatan “Kakak Adik" yaitu belajar

bersama selayaknya dengan kakak kita sendiri, jadi ketika para siswa

tidak paham dengan materi yang dibahas maka, para siswa tidak

malu untuk bertanya begitu sebaliknya jika sang mentor belum

paham materi yang dibahas maka, para siswa menjelaskan materi

tersebut. Untuk itu, disiapkan beberapa perangkat pendukung

kegiatan mentoring Pendidikan Agama Islam, terdiri dari : Materi

Mentoring, kurikulum atau silabus dan metode penyampaian

Mentoring Pendidikan Agama Islam.

Kegiatan ini diharapkan mampu menghilangkan kendala

komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa di kelas. Mentor

diharapkan menjadi kakak dan menjadi tempat mengeluarkan isi hati

bagi para anggota mentoring. Kemudian, melalui komunikasi dua

arah dan hubungan kekeluargaan, diharapkan mentor dapat

memasukan nilai-nilai keimanan dan keislaman kepada anggota

kelompoknya.

Ketiga ; Kegiatan Mandiri Siswa

a. Kegiatan Keagamaan di Sekolah

b. Kegiatan Keagamaan di Rumah/Keluarga

(54)

5. Prinsip-prinsip Dakwah Sistem Langsung (DSL).

Prinsip yang digunakan dalam pelaksanaan mentoring Pendidikan

Agama Islam adalah sebagai berikut:

a. Pelaksanaan mentoring hams menarik (Fun)

b. Pelaksanaan mentoring hams selalu segar (Fresh)

c. Peserta mencurahkan perhatian sepenuhnya pada proses mentoring

(Focus)47

d. Hubungan mentor dan peserta mentoring selayaknya teman sebaya

(Friendly)48

6. Indikator keberhasilan Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL).

a. Meningkatnya hasil belajar siswa dari pada hasil belajar siswa yang

diajar dengan metode pendekatan konvensional.

b. Meningkatnya ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 95%

dibandingkan siswa yang diajarkan dengan metode konvensional

dengan ketuntasan materi hanya sampai 40%.49

c. Terjadi pembahan signifikan terhadap perilaku siswa dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam dan peningkatan pengamalan

Agama Islam.50

d. Suasana lingkungan sekolah mendukung baik pengajar umum

maupun pengajar keahlian.51

47 Taufik Yuwono, Fakhrudin, Andra Prima Putra, Pembinaan Agama Mela/ui Pendekaian Kelompok Sebaya (Mentoring) (Jntuk Menurunkan Angka Tawuran Pelajar SMA/SMK (Studi Kasus : Pelaksanaan Mentoring Agama Islam di DKI Jakarta). Institut Teknologi Scpuluh Nopembcr (ITS), Surabaya, 2004

48 Taufik Yuwono, Fakhrudin, Andra Prima Putra. Loc.cit.

(55)

C. Latar belakang penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

melalui Pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1

Salatiga.

Untuk mendapatkan informasi tentang latar belakang penerapan

pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem

Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga peneliti hanya mewawancarai

seorang guru agama Islam yaitu Un. Mengapa peniliti memilih beliau,

karena beliau adalah koordinator guru agama Islam di SMK N 1 Salatiga

dan yang pertama kali ikut penataran guru agama Islam di Semarang tentang

pendekatan DSL yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan

(LPMP) Jateng.

Menurut penuturan beliau, “Penerapan pembelajaran pendidikan agama

Islam melalui pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N I

Salatiga mulai diterapkan pada tahun ajaran 2004/2005. Alasan mendasar

mengapa guru-guru agama Islam di sini menerapkan pendekatan itu, karena

selama ini guru-guru agama Islam di SMK N 1 Salatiga memandang

pembelajaran pendidikan agama Islam yang dulu hanya menekankan dari

aspek kognitif, sedangkan aspek yang lain seperti afektif dan psikomotorik

tidak ditekankan. Padahal kalau ngomong pendidikan harus menekankan

ketiga aspek tersebut, apalagi pendidikan agama Islam. Terns pada bulan

Juli 2004 ada undangan penataran guru agama Islam di Semarang tentang

pendekatan DSL yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan 51

(56)

(LPMP) Jateng dengan mendatangkan langsung tutor dari TIM IMTAQ

MGMP PAI DKI Jakarta yang telah sukses menerapkan pendekatan ini.

Kemudian ilmu (pendekatan yang diberikan) yang diperoleh dari penataran

tersebut kami coba terapkan di sekolahan ini.”

Dari hasil wawancara di atas peneliti menganalisa bahwa latar belakang

penerapan pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pendekatan

Dakwah Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga yaitu guru-guru

agama Islam di SMK N 1 Salatiga selama ini memandang pembelajaran

pendidikan agama Islam yang dulu hanya menekankan dari aspek kognitif,

sedangkan aspek afektif dan psikomotorik tidak. Lalu pada bulan Juli 2004

ada undangan penataran guru agama Islam di Semarang tentang pendekatan

DSL yang diadakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP)

Jateng. Tutor penataran tersebut dari TIM IMTAQ MGMP PAI DKI Jakarta

yang telah sukses menerapkan pendekatan DSL. Setelah penataran tersebut

guru-guru agama Islam sepakat untuk menerapkan pendekatan yang telah

diperoleh di penataran itu.

D. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui Pendekatan Dakwah

Sistem Langsung (DSL) di SMK N 1 Salatiga berdasarkan hasil

(57)

1. Proses belajar mengajar.

a. Un

Menurut heliau, “Kegiatan PAI dengan DSL diselenggarakan

dalam bentuk kegiatan yang intergral antara kegiatan intra dan

kegiatan ekstra berupa kegiatan bimbingan keagamaan di sekolah,

di rumah dan di masyarakat serta kegiatan mandiri siswa.”

b. Mu

Pengakuan beliau, “Memeriksa buku mentor pada saat belajar

mengajar, mengapa saya katakan begitu karena di buku mentor itu

akan terlihat kegiatan keagamaan siswa setiap harinya jika

misainya ada yang bolong dalam melaksanakan sholat saya akan

menegumya jika, sebaliknya saya akan memujinya dan

memberikan pengantar materi kepada siswa kemudian saya beri

tugas untuk mendiskusikanya.”

c. Ay

Menurut pengakuan ia, ‘'Dengan menggunakan mentor yaitu

buku yang diberikan untuk memonitoring kagiatan sehari-hari

siswa dan sharing bareng dengan guru agama Islam.”

d. Ul

Menurut ia, “Dengan menggunakan mentor jadi mentor

diberikan kepada siswa untuk mencatat kegiatan keagamaan sehari-

(58)

e. Id

la menuturkan, “Proses belajar mengajar ini sangat

menyenangkan karena kita bisa memahami makna dari materi yang

diberikan, jadi menimbulkan rasa rugi jika tidak mengikuti

pelajaran karena pelajaranya disampaikan dengan diselingi

humor.’'

f. Ra

Menurut saya, “Proses belajar mengajar Pendidikan Agama

Islam dengan menggunakan pendekatan Dakwah sistem langsung

(DSL) saya rasa cukup efektif dan menyenangkan, karena dengan

pendekatan tersebut semua hal yang belum kita mengerti dapat kita

tanyakan secara langsung. Selain itu kita bisa lebih memahami

materi yang diberikan karena dapat bertukar pikiran secara

langsung tanpa malu-malu.”

g. Ta

Menurut penuturan dia, “Pendekatan keagamaan yang

dilakukan dengan secara langsung. Dengan melalui curhat atau

diskusi dengan teman sebayanya dan membahas tentang

kegamaan.”

• Analisa data hasil wawancara tentang proses belajar

mengajar.

Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik

Gambar

Tabel Kegiatan Penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

agama Islam, pembinaan akhlak siswa melalui pembelajaran pendidikan. agama islam, penelitian terdahulu, dan

Berhubungan dengan orientasi tersebut, pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam konteks kurikulum 2013 harus dilakukan melalui pembelajaran yang aktif dan kreatif

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs N 6 Bantul perlu dilakukan karena inovasi strategi pembelajaran Pendidikan Agama

Penelitian yang dilakukan oleh Idris Harun dengan judul Efektifitas Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.5 Penelitian pada karya

Adapun perubahan yang dilakukan siswa setelah guru Pendidikan Agama Islam menerapkan pendekatan persuasif dalam meningkatkan pengamalan ibadah siswa seperti, siswa rajin melaksanakan

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, penulis dapat menyimpulkan bahwa Efektivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMK N 10 Padang, yaitu: Efektifitas

HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan Kognitif-Sosial Perspektif Albert Bandura Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Teori Bandura dalam konsepnya menyatakan bahwa meskipun

3.2 Peranan Majelis Dikdasmen dalam dakwah Muhammadiyah khususnya dalam khususnya dalam bidang Pendidikan Agama Islam Sebagai Majelis yang membidangi pendidikan berperan penting