• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN DAGING SAPI DI PT.X

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN DAGING SAPI DI PT.X"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak— Untuk mengatasi adanya isu-isu terkait dengan food safety pada daging sapi perlu dilakukan pembuatan sistem

penelusuran khususnya produk daging sapi. PT.X ialah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang meat processing yang kedepannya akan menggunakan sistem penelusuran dalam proses bisnisnya yang terdiri dari peternak, dan pemotong. Dalam perancangan sistem penelusuran daging sapi ini digunakan metode unified modelling language, teknologi barcode dan juga perancangan perangkat lunak.

Kata Kunci: Traceability, Barcode, Unified Modelling Language (UML).

I. PENDAHULUAN.

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum memiliki sistem untuk melakukan identifikasi, registrasi, dokumentasi, dan traceability sapi secara nasional. Bahkan alur yang jelasnya pun belum ada [1]. Salah satu negara yang sudah menerapkan sistem traceability dalam pengolahan data pangan terutama daging sapi ialah Australia, dimana pemerintahnya membentuk badan Meat Live Australia (MLA) dengan tujuan untuk mengedukasi manfaat daging sapi Australia keseluruh dunia dengan menerapkan proses ternak yang alami, teknologi yang canggih serta sistem yang terjaga sejak sapi lahir, salah satunya ialah sistem traceability pada sapi tersebut (Kompas,2013). Selain Australia, Cina juga merupakan negara yang telah menerapkan sistem penelusuran yang ketat untuk sumber pangan para penduduknya, seperti daging sapi. Bermula dari adanya isu mengenai kualitas daging sapi, kesehatan sapi ternak, dan nutrisi dari daging sapi tersebut, pemerintah Cina membuat sistem penelusuran sumber pangan tersebut untuk mengembalikan kepercayaan masyarakatnya terhadap kualitas daging sapi yang layak dikonsumsi

PT.X merupakan salah satu perusahaan yang berlokasi di Jawa Timur, yang bergerak dibidang pengelolahan sapi dan daging. PT.X ini memiliki beberapa kegiatan proses bisnis yakni terdiri dari peternakan dan penggemukan sapi, penjualan sapi, serta pemotongan sapi dan daging. Dalam menjalankan proses bisnisnya tersebut kedepannya PT.X akan menerapkan sistem penelusuran dan pengkodean terhadap produk sapi dan daging sapinya untuk meminimalisir terjadinya kesalahan serta mewaspadai adanya isu-isu terkait dengan food safety yang telah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan hasil pencarian informasi dan pengamatan yang dilakukan mengenai kondisi aliran ternak dan daging sapi di Surabaya yakni hingga saat ini daging sapi di Surabaya di supply berasal dari peternak lokal dan impor, hal ini berdasarkan oleh pernyataan Direktorat Penelitian dan

Pengembangan pemberantasan Korupsi Republik Indonesia(2013). Berdasarkan hal tersebut biasanya sulit dibedakan asal dari daging sapi yang dijual dipasaran dan metode pemotongan yang tidak diketahui secara jelas. Dengan adanya penerapan sistem penelusuran tersebut nantinya PT.X akan dapat mengidentifikasi asal-usul dari bibit ternaknya sehingga dengan begitu PT.X akan dapat mengurangi atau meminimalisir kerugian yang ditimbulkan akibat kesalahan informasi yang didapatkan terkait dengan kualitas sapi tersebut.

Dalam penelitian ini sistem traceability yang digunakan lebih sederhana dan mudah untuk diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia, yakni menggunakan software sistem penelusuran yang nantinya digunakan untuk menyimpan database dan melacak serta menelusuri sapi dan daging dengan teknologi barcode. Selain itu software sistem penelusuran ini nantinya dapat digunakan oleh pihak-pihak yang terkait dalam rantai pasok sapi dan daging yang terdapat pada PT.X seperti peternak, pemotong sapi dan pemotong daging sapi-karkas.

[2]

II. METODEPENELITIAN A. Identifikasi Kondisi Eksisting

Identifikasi kondisi eksisting pada PT.X dilakukan dengan kunjungan dan observasi secara langsung pada unit amatan sehingga diketahui secara lebih real mengenai kondisi yang ada saat ini terkait sistem penelusuran yang telah ada dalam proses bisnisnya. Selain melakukan identifikasi juga dilakukan pengumpulan data dengan wawancara secara langsung pada pihak-pihak yang bersangkutan pada PT. X dan melakukan observasi kondisi secara langsung di PT.X, pengumpulan data ini digunakan sebagai inputan untuk proses selanjutnya yakni pengolahan data.

B. Pembuatan Aliran Bisnis Proses Objek Amatan

Tahap ini merupakan tahap penyusunan model bisnis proses pada PT.X yang dilakukan dengan mengidentifikasi input, proses, dan output. Dari identifikasi hal tersebut kemudian dibuat flowchart untuk menjadi dasar penentuan titik penelusuran.

C. Menentukan Letak Titik Penelusuran

Berdasarkan flowchart yang dibuat pada sub bab sebelumnya kemudian dilakukan penentuan titik penelusuran. Pada titik penelusuran yang dipilih tersebut akan dilakukan record data dari sapi dan daging sapi.

D. Menentukan Data-Data yang Di-Record Pada Sistem Penelusuran

RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN

DAGING SAPI DI PT.X

Harwiyani, Anissa dan Vanany, Iwan

Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111

(2)

Sebelum melakukan penentuan rangkaian penomoran barcode, perlu dilakukan penentuan data-data yang nantinya digunakan untuk mempermudah dalam penentuan struktur barcode. Data-data yang digunakan diantaranya yaitu kode unit bagian proses bisnis, kode kota asal ternak di Jawa Timur, kode jenis ternak, kode jenis karkas besar, kode jenis karkas kecil dan data jenis identifikasi penyakit ternak sapi.

E. Penentuan Rangkaian Barcode

Pada tahap ini akan dilakukan penentuan terhadap struktur pelabelan yakni informasi apa saja yang akan dicantumkan pada produk sapi dan daging sapi, dengan menggunakan serial angka pada barcode.

F. Membuat Unified Modelling Language

Pada tahap ini akan dilakukan pembuatan UML untuk rancangan sistem penelusuran, dimana Unified Modeling Language (UML) adalah bahasa spesifikasi standar untuk mendokumentasikan, menspesifikasikan, dan membangun sistem penelitian ini yaitu terdiri dari class diagram, usecase diagram, dan sequence diagram.

G. Implementasi dan Verifikasi Sistem Penelusuran Daging Sapi

Tahap implementasi diartikan sebagai tahap uji coba perangkat lunak yang telah dirancang sebelumnya. Selain dilakukan ujicoba juga akan dilakukan penjelasan interface terhadap perangkat lunak sistem penelusuran daging sapi tersebut. Verifikasi meliputi analisis dari perangkat lunak yang dibuat, apakah dengan perangkat lunak tersebut terjadi proses efisiensi untuk sistem penelusuran daging sapi di PT.X, serta apakah kekurangan dan kelebihan dengan adanya sistem inisiasi perangkat lunak tersebut. Selain itu verifikasi ini juga sebagai dasaran dari pembuatan saran bagi perancangan sistem traceability daging sapi selanjutnya, agar dapat memperbaiki kekurangan pada perancangan sistem traceability pada penelitian ini. Kemudian dilakukan pula analisa manfaat dan biaya terkait dengan sistem penelusuran daging sapi dengan menggunakan benefit cost ratio.

III. HASILDANDISKUSI A. Alur Aktivitas Proses Bisnis PT.X

Mulai Seleksi Bibit Sapi Registrasi Sapi Baru Penomoran Sapi Pengecekan Kondisi Sapi Penggemukan Penjualan Sapi Pemotongan Pengiriman Pemotongan Karkas Besar Pemotongan Karkas Kecil Pengepakan Distribusi Selesai Pembelian Sapi Pembiakan

Gambar 3.1 Alur Aktivitas Proses Bisnis PT.X

Proses alur aktivitas yang dilakukan di PT.X dimulai dari pembelian sapi atau pemilihan bibit sapi yang kemudian dilakukan ternak sapi, untuk setiap sapi yang baru masuk atau baru lahir maka dilakukan registrasi sapi baru yang kemudian diberikan penomoran sesuai dengan nomor

urut sapi dimana proses pemberian nomor ini hanya terdapat pada dokumen kantor, kemudian dilakukan pengecekan kondisi fisik sapi secara berkala selama proses penggemukan, dimana proses pengecekan fisik ini dilakukan oleh pihak peternak yang telah ahli untuk mengidentifikasi keterjangkitan penyakit pada ternak sapi. Setelah proses penggemukan mencapai berat badan sapi yang diinginkan atau yang ditargetkan kemudian dilakukan proses penjualan sapi secara langsung kepada konsumen atau dilakukan proses pemotongan sapi oleh pihak pemotong yang kemudian dilanjutkan dengan proses pemotongan daging sapi menjadi bagian-bagian karkas besar dan karkas kecil. Setelah daging sapi terpisah menurut bagian karkas kecilnya kemudian dilakukan proses pengepakan yang kemudian didistribusikan di wilayah jawa timur atau langsung dikirim kepada konsumen.

B. Letak Titik Penelusuran

Dalam letak titik penelusuran sistem penelusuran daging sapi ini terbagi menjadi lima bagian yakni peternak, kandang penggemukan, pemotong 1, pemotong 2 dan konsumen, dimana pada bagian peternak terdapat penyimpanan data dan pemberian ID sapi setelah dilakukan pemeriksaan dan pendaftaran sapi, setelah itu terdapat pengiriman sapi ke bagian kandang penggemukan yang di dalam proses perpindahannya terdapat label kirim. Pada bagian kandang penggemukan terdapat proses penggemukan dan pemeriksaan berat badan yang kemudian dilakukan pengiriman sapi ke bagian pemotong 1 yang juga didalamnya terdapat label kirim, di bagian pemotong 1 terdapat penyimpanan data setelah proses pengepakan dan pemotongan karkas besar, dan sebelum dilakukan pengiriman ke pemotong 2 terdapat pembuatan SSCC. Pada bagian pemotong 2 juga terdapat proses simpan data dan pembuatan SSCC setelah proses pemotongan karkas kecil dan pengepakan. Titik penelusuran dapat dilakukan di bagian penerimaan sapi di pemotong 1, penerimaan sapi di pemotong 2, dan penerimaan konsumen.

C. Rancangan Barcode dan Label

Rancangan barcode yang dibuat meliputi barcode untuk label eartag, label kirim, label first cut¸label second cut, dan serial shipping container code(SSCC). Untuk label eartag didalamnya terdapat 12 digit barcode yang terdiri dari nomor peternakan, tahun daftar, dan no urut sapi pada unit peternakan yang ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.2 Rangkaian Barcode Eartag

Gambar 3.3 Rancangan Eartag Sapi

Rancangan barcode selanjutnya ialah untuk label kirim sapi yang terdiri dari 14 digit barcode yang meliputi 12 digit nomor

(3)

eartag, dan dua digit nomor unit pemotong 1 tujuan pengiriman, yang dapat dilihat pada gambar 3.4 dibawah ini.

Gambar 3.4 Rancangan Barcode Label Kirim

Pada gambar 3.5 dibawah ini ialah rancangan label kirim yang digunakan dalam proses pengiriman sapi ke konsumen, yang didalamnya terdapat informasi jenis sapi, berat sapi, tempat lahir sapi, tanggal kirim, ID pengirim, nomor eartag, serta disease identification.

Gambar 3.5 Label Kirim

Pada first cutting atau pemotongan karkas kecil sebelum dilakukan proses pengiriman juga akan dibuat label pengiriman yang berupa label first cutting yang didalamnya terdapat informasi jenis sapi, berat karkas kecil, tempat lahir sapi, tanggal potong, ID pemotong, nomor eartag, tanggal kirim, ID pengirim, serta nomor barcode yang terdiri dari 13 digit sesuai dengan rancangan rangkaian barcode apda tabel 3.6.

Gambar 3.6 Rancangan Barcode

Gambar 3.7 Label FirstCutting

Label second cutting ialah label yang digunakan untuk proses setelah dilakukannya pemotongan karkas kecil yang disebut juga sebagai label produk, yang didalamnya terdapat informasi identifikasi perusahaan dan informasi pemotongan karkas kecil, yang nantinya label produk ini akan digunakan oleh konsumen untuk melakukan penelusuran .

Gambar 3.7 Label SecondCutiing / Product Label Label SSCC digunakan untuk proses pengiriman daging sapi dari pemotongan karkas besar ke pemotongan karkas kecil dan dari pemotongan kakas kecil ke konsumen, dengan SSCC ini proses pengiriman dan pengolahan informasi menjadi lebih cepat, karena dalam satu SSCC akan terdapat banyak kode label first dan second cut tergantung pengirimannya.

Gambar 3.8 Label SSCC D. Perancangan Unified Modelling Language

Use case diagram merupakan salah satu syarat dalam pembuatan model dalam sistem. Use case memungkinkan untuk mempermudah komunikasi antara user dan stakeholder mengenai sistem yang dimaksudkan. Use case diagram menunjukan interaksi antara sistem dan entitas diluar sistem. Entitas diluar sistem disebut sebagai aktor, dimana aktor mempresentasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pengguna ataupun hal-hal lain diluar system.

Berdasarkan use case diagram sistem penelusuran daging sapi pada gambar 3.9 dibawah diketahui bahwa terdapat beberapa aktor yang terlibat yakni peternak, admin peternak, pemotong 1, admin pemotong 1, pemotong 2, admin pemotong 2, dan konsumen.

(4)

Admin Peternak Peternak Admin Pemotong 1 Pemotong 1 Admin Pemotong 2 Pemotong 2 Registrasi Admin Peternak

Daftar Sapi Baru

Cetak Eartag Sapi Input Data Sapi

Cetak Label Kirim

Input ID Peternak

Registrasi Admin Pemotong1

Cek Label Kirim

Input ID Pemotong 1

Input Tanggal Penerimaan & Pemotongan 1st cut

Update Berat Sapi

Cetak Label First Cutting

Cek Label First Cutting

Input Tanggal Penerimaan & Pemotongan 2nd Cut

Cetak Label Second Cutting Registrasi Admin

Pemotong 2

Konsumen

Di Dalam Sistem Di Luar Sistem

«extends» «extends» Input Data Pengiriman 1st cut Cetak Label SSCC 1 Input Data Pengiriman 2nd Cut Cetak Label SSCC 2 «extends» Input ID Pemotong 2

Gambar Use Case Diagram Sistem Penelusuran Daging Sapi E. Analisa Pengguna Sistem Penelusuran Daging Sapi

Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa prosentase pengguna tertinggi dari sistem penelusuran daging sapi ini yakni unit pemotong karkas kecil dengan prosentase 39 persen, dan sisanya ialah digunakan oleh unit pemotong sapi dan karkas besar dan peternakan dengan masing-masing prosentase yaitu 31% dan 30%. Pengguna tertinggi ialah unit pemotong karkas kecil, hal ini disebabkan oleh jumlah unit karkas kecil yang dimiliki oleh PT.X ialah yang paling banyak diantara unit yang lainnya.

F. Benefit and Cost Analysis

Menurut Sparling dan Sterling (2004) manfaat yang berkaitan dengan pelaksaan traceability dapat dikategorikan menjadi empat yaitu terdiri dari pengaturan dan pengawasan (regulatory benefits ), pasar dan respon konsumen (market and customer respons), manajeman penarikan dan resiko (recall and risk management), serta rantai pasok (supply chain benefits) [3]

Dari beberapa benefit diatas kemudian akan dikonfersikan menjadi benefit cost yang terdiri dari reduce backward transportation, reduce labor cost, increase customer satisfaction and demand. Dan berdasarkan perhitungan total benefit pada tabel 3.2 dibawah ini didapatkan total benefit per tahun ialah Rp 3.793.800.000.

Tabel 3.2 Total Benefits per Tahun

. Pada tabel 3.1 dibawah ini ialah benefit yang nantinya akan didapatkan dari sistem penelusuran daging sapi.

Tabel Benefit Sistem Penelusuran Daging Sapi

Dari total benefit yang ada kemudian akan dilakukan perhitungan benefit cost ratio dengan cara membagi nilai benefit denngan nilai investasi annual selama lima tahun kedepan dengan menggunakan suku bunga 7,5%. Pada perhitungan benefit cost ratio ini dibagi menjadi dua alternatif yakni dengan pembelian komputer dan tanpa pembelian komputer, dan didapatkan nilai benefit cost ratio masing-masing 7,37 dan 10,74 yang berarti dengan jenis investasi dengan pembelian komputer setiap rupiah yang diinvestasikan untuk sistem penelusuran daging sapi ini akan memiliki manfaat sebesar 7,37 rupiah. Sedangkan untuk jenis investasi tanpa pembelian komputer akan memiliki manfaat sebesar 10,74 rupiah untuk setiap rupiah yang diinvestasikan untuk sistem penelusuran daging sapi.

(5)

Tabel 3.3 Benefit cost ratio

IV. KESIMPULAN

Perancangan sistem penelusuran daging sapi pada penelitian ini dilakukan dengan membuat aliran bisnis proses pada objek amatan yakni PT.X yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang peternakan dan meat processing, kemudian dari aliran bisnis proses yang dibuat tersebut, dilakukan pembuatan letak titik penelusuran yang mencangkup tiga unit bisnis yang terdapat di PT.X yakni peternak, pemotong karkas besar, dan pemotong karkas kecil. Kemudian dilakukan penentuan data-data yang di-record dalam sistem penelusuran daging sapi dan rangkaian barcode yang nantinya digunakan pada eartag sapi, label kirim, label pemotongan karkas besar, label pemotongan karkas kecil, dan label SSCC. Tahap terakhir dari proses perancangan sistem penelusuran daging sapi ini ialah pembuatan Unified Modelling Language yang terdiri dari use case diagram, class diagram, dan sequence diagram.

Sistem penelusuran daging sapi yang dirancang mengimplementasi teknologi barcode yang berupa General Trade Identification Number (GTIN) dan Serial shipping container code (SSCC). Penomoran GTIN diaplikasikan pada beberapa bagian dalam sistem penelusuran daging sapi yang dibuat yakni pada perancangan nomor identifikasi eartag sapi, pada barcode yang tertera pada label kirim sapi, pada barcode yang tertera pada label first cutting, dan pada barcode yang tertera pada label second cutting atau label produk. Sedangkan untuk SSCC diaplikasikan dalam label kirim daging sapi atau yang disebut dengan label SSCC 1 dan SSCC 2 pada sistem penelusuran daging sapi, dimana dengan menggunakan label SSCC ini proses identifikasi akan lebih cepat dan mudah.

Perangkat lunak yang dibuat pada penelitian tugas akhir ini mengacu pada hasil dari perancangan sistem penelusuran daging pada PT.X yang telah disesuaikan dengan proses bisnis yang dilakukan oleh PT.X. Perancangan perangkat lunak sistem penelusuran daging sapi ini dibuat untuk memungkinkan proses penelusuran sapi dan daging sapi serta penyimpanan database sapi dan daging sapi, yang nantinya dapat digunakan oleh pihak-pihak yang bersangkutan di PT.X seperti admin peternak, admin pemotong 1, dan admin pemotong 2 serta para konsumen yang akan melakukan penelusuran daging sapi.

Pada proses pembuatan perangkat lunak sistem penelusuran daging sapi ini juga dilakukan proses validasi pada tahap akhirnya, yang dimana proses validasi ini dilakukan oleh pihak pakar yang ahli dibidang traceability dan oleh pengguna atau user dari pihak PT.X dengan menggunakan analisa kuisioner. dari hasil proses validasi ini nantinya akan dijadikan input-an bagi perbaikan dan pengembangan sistem penelusuran daging sapi selanjutnya. Selain dilakukan proses validasi juga dilakukan analisa benefits dan biaya terhadap sistem penelusuran daging sapi yang nantinya juga dapat dijadikan sebagai bahan

pertimbangan dalam implementasi sistem penelusuran daging sapi ini.

DAFTARPUSTAKA

[1] Guntoro, S. (2012). Membudidayakan Sapi Bali. Yogyakarta: Kanisius.

[3] Jianying, F., Zetian, F., Zaiqiong, W., Mark, X., & Xiaoshuan, Z. (2012). Development and Evaluation on A RFID Based Traceability System for Cattle/Beef.

[3] Sparling, D., & Sterling, B. (2004). Food Traceability : Understanding Business Value. RCM Technologies Canada.

Gambar

Gambar 3.1  Alur Aktivitas Proses Bisnis PT.X
Gambar 3.4 Rancangan Barcode Label Kirim
Gambar Use Case Diagram Sistem Penelusuran Daging Sapi  E.  Analisa Pengguna Sistem Penelusuran Daging Sapi
Tabel 3.3 Benefit cost ratio

Referensi

Dokumen terkait

Pada diagram berjenjang (gambar 4.13) Aplikasi Penilaian Kinerja Karyawan Outsourcing ini terdapat 10 proses yang akan dilakukan yaitu, proses mencatat data

Pada dasarnya sistem pengiriman data yang dirancang bangun pada penelitian ini dibuat sederhana, yakni berupa informasi analog berupa frekuensi audio, dengan tujuan

Dari gambar di atas terlihat bahwa ada alur dari proses Input Data Pengiriman Motor pada marketing , dimulai dari marketing melihat Tabel Sales Order , lalu

pada Buffa & Sarin (1996) terdapat beberapa solusi metode yang dapat digunakan dalam proses penjadwalan produksi, antara lain metode first come first served

Dengan adanya sistem informasi administrasi pengiriman barang ini nantinya diharapkan akan lebih memudahkan dalam proses administrasi pengiriman barang, karena

Proses pengiriman pesan merupakan salah satu proses yang dapat dilakukan oleh member melalui aplikasi messaging berbasis voice interaction bagi penyandang tunanetra

pada Buffa & Sarin (1996) terdapat beberapa solusi metode yang dapat digunakan dalam proses penjadwalan produksi, antara lain metode first come first served

Dalam sistem yang baru ini akan dibuat berupa sistem yang dapat membantu semua pendataan yang dilakukan menggunakan aplikasi yang berbasiskan website yang