PENGARUH WAKTU FERMENTASI DAN KONSENTRASI GULA TERHADAP KONSENTRASI BIOETANOL DARI NIRA SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Ketersediaan energi merupakan syarat mutlak dalam pelaksanaan pembangunan nasional baik pada saat ini maupun pada masa yang akan datang. Kebutuhan energi saat ini umumnya didominasi oleh energi fosil yaitu minyak bumi, gas bumi, dan batubara. Dalam laporannya, OPEC menempatkan rata-rata permintaan minyak pada tahun 2010 sebesar 86,55 juta barel per hari (bph) dan meningkat sebesar 1,39 juta bph atau sekitar 1,61% pada tahun 2011 menjadi 87,94 juta bph (Anonim 1, 2011). Peningkatan permintaan minyak bumi meng-akibatkan persediaan minyak bumi

semakin menipis. Cadangan minyak dunia diperkirakan mulai menyusut pada tahun 2010 dan akan habis pada tahun 2050 (Dagget, 2006).

Solusi untuk memecahkan krisis energi berbasis fosil adalah mendapatkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui, murah, mudah didapat, dan ramah lingkungan. Sumber energi alternatif tersebut, diantaranya berasal dari tanaman yang dapat dikonversi menjadi biofuel. Biofuel merupakan sumber energi alternatif yang dapat diperoleh dari berbagai tanaman. Salah satu jenis biofuel adalah bioetanol (Dyartanti, 2009).

Bioetanol merupakan etanol yang

PENGARUH WAKTU FERMENTASI DAN KONSENTRASI

GULA TERHADAP KONSENTRASI BIOETANOL DARI

NIRA SORGUM

(Sorghum bicolor L. Moench

)

Dianty Rosirda Dewi Kurnia, Rispiandi, Dinda Wulandari, Maya Oktavia

Jurusan Teknik Kimia-Politeknik Negeri Bandung Jl. Terusan Gegerkalong Hilir – Ds Ciwaruga, Bandung 40012

e-mail : diantyrosirda@gmail.com e-mail : rispiandi@gmail.com

Abstrak. Pengaruh Waktu Fermentasi dan Konsentrasi Gula Terhadap Konsentrasi Bioetanol dari Nira Sorgum (Sorghum Bicolor L. Moench). Peningkatan permintaan bahan bakar fosil (minyak bumi) mengakibatkan persediaan minyak bumi semakin menipis. Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil yang sedang dikembangkan. Bioetanol dapat dibuat dari biomassa yang mengandung komponen gula, pati, maupun selulosa. Dalam penelitian ini bioetanol dibuat dari nira yang berasal dari batang sorgum melalui fermentasi dengan memanfaatkan Saccharomyces cerevisiae. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi, konsentrasi substrat gula awal terhadap konsentrasi bioetanol yang dihasilkan serta yield etanol terhadap substrat tertinggi. Fermentasi dilakukan selama 24,48,72, dan 96 jam

0

dengan konsentrasi gula awal 140–210 g/l pada kondisi anaerob, suhu 30 C, pH awal 5, konsentrasi starter 9% (v/v ), dan kecepatan pengadukan 100 rpm. Hasil percobaan tot

menunjukkan bahwa konsentrasi etanol tertinggi yaitu 8,41% diperoleh pada waktu fermentasi 48 jam dan konsentrasi gula awal 148 g/l. Yield etanol terhadap substrat tertinggi diperoleh pada konsentrasi gula awal 148 g/l yaitu (Y ) 52,5%. Pemurnian p/s

0

bioetanol dilakukan dengan distilasi pada suhu 78 C selama 3 jam sehingga diperoleh bioetanol dengan konsentrasi 53,96%.

Kata kunci : bioetanol, fermentasi, nira sorgum, Saccharomyces cerevisiae

1                                                              

POLBAN

(2)

dibuat dari bahan nabati (bahan-bahan bergula, berpati, atau berselulosa) atau biomassa lain (SNI 7390 : 2008) melalui fermentasi. Fermentasi merupakan proses yang memanfaatkan mikroba untuk menghasilkan metabolit primer dan m e t a b o l i t s e k u n d e r d a l am su atu lingkungan yang dikendalikan.

Salah satu sumber bioetanol adalah sorgum. Sorgum merupakan tanaman s e r e l i a y a n g p o t e n s i a l u n t u k dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah yang kurang produktif dan kering di Indonesia. Sorgum merupakan tanaman multifungsi yang dapat dijadikan sumber bioetanol karena memiliki kandungan gula total yang cukup tinggi yaitu sebesar 11-16% (Direktorat Jendral Perkebunan, 1996). Nilai ini sesuai dengan kebutuhan gula sebesar 10-18% (Riadi, 2007) untuk fermentasi menghasilkan etanol dengan bantuan S. cerevisiae. Menurut Vecchiet ( 2 0 1 0 ) , s o r g u m m a n i s d a p a t memproduksi bioetanol sebesar 3,95-4,74 t/ha.

Bioetanol dari nira sorgum merupakan sumber energi alternatif yang dapat terus dikembangkan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi dan konsentrasi gula terhadap konsentrasi bioetanol yang dihasilkan.

METODE

Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan adalah nira dari batang sorgum. Sebelum digunakan sebagai media produksi, nira sorgum dimurnikan dengan cara sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.

Mikroorganisme

Sumber kultur murni S. cerevisiae d i p e r o l e h d a r i L a b o r a t o r i u m

Mikrobiologi dan Teknologi Bioproses Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi B a n d u n g . S t r a i n S . c e r e v i s i a e ditumbuhkan dalam media agar miring Glucose Yeast Extract Agar (GYEA) pada

0

suhu inkubasi 30 C ± 2 selama 2 hari. Media Pertumbuhan

Media yang digunakan untuk menentukan laju pertumbuhan adalah Glucose Yeast Extract Broth (GYEB) dan

0

disterilisasi pada suhu 121 C dengan tekanan 1,2 bar selama 30 menit.

Media Produksi

Media yang digunakan untuk produksi etanol adalah campuran nira sorgum, urea 0,5%, dan KH PO 0,5% dari 2 4

berat nira, yang ditambahkan dengan starter 9% (Sari, 2009). pH media diatur pada pH 4,5-5,5 dan disterilisasi pada

0

suhu 121 C dengan tekanan 1,2 bar selama 30 menit.

P e n e n t u a n L a j u P e r t u m b u h a n Maksimum

P e n e n t u a n l a j u p e r t u m b u h a n dilakukan melalui kurva pertumbuhan y a n g b e r l a n g s u n g s e c a r a b a t c h menggunakan 2,25 ml inokulum aktif yang ditambahkan ke dalam labu erlenmeyer yang berisi 22,75 ml media GYEB steril. Selanjutnya diinkubasi pada

0

suhu 30 C ± 2 (Herdiawan dan Utami, 2008), dan kecepatan pengadukan 100 rpm (Retnowati dan Sutanti, 2009). Sampling dilakukan setiap 30 menit selama 12 jam. Metode yang digunakan adalah spektrofotometri.

Produksi Bioetanol

Produksi bioetanol dilakukan secara batch pada kondisi anaerob dalam erlenmeyer 50 ml dengan volume media 25 ml. Pada tahap ini, media produksi ditambahkan dengan 9% (v/v ) starter tot

yang sebelumnya telah diinkubasi hingga fase eksponensial. Untuk menentukan pengaruh waktu fermentasi dilakukan

Jurnal Fluida Volume 9 , Nomor 1, Mei 2013, hlm. 1-6 2                                                              

POLBAN

(3)

sampling berdasarkan variasi waktu fermentasi, yaitu 1 hari, 2 hari, 3 hari, dan 4 hari. Setelah diperoleh waktu optimum, dilakukan fermentasi dengan variasi konsentrasi gula awal yaitu 148 , 160, 180, dan 205 g/l pada kondisi operasi yang sama.

Bioetanol yang dihasilkan dipisahkan dari endapannya dengan cara sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.

Setelah diperoleh kondisi optimum maka dilakukan fermentasi pada 250 ml media produksi pada kondisi operasi yang sama serta waktu dan konsentrasi gula awal optimum yang didapat pada penelitian sebelumnya.

Pemurnian dan Analisis Produk

Produk bioetanol dimurnikan dengan

0

cara distilasi pada suhu 78 C selama 3 jam (Suryanto, 1999).

Analisis fisika dari produk yang dilakukan adalah pengukuran indeks bias menggunakan refraktometer dan massa jenis, sedangkan analisis kimia adalah p e n e n t u a n k o n s e n t r a s i b i o e t a n o l menggunakan kromatografi gas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Fermentasi etanol dari nira sorgum dilakukan menggunakan dua variasi yaitu p e n g a r u h w a k t u f e r m e n t a s i d a n konsentrasi substrat gula awal.

Sebelum digunakan sebagai media produksi, nira sorgum dimurnikan dengan cara sentrifugasi untuk mengurangi pengotor-pengotor yang masih terdapat dalam nira. Hasil analisis nira disajikan pada Tabel 1.

3

Dianty Rosirda Dewi Kurnia dkk.,Pengaruh Waktu Fermentasi dan Konsentrasi Gula

Tabel 1. Komposisi Nira Sorgum Parameter Komposisi nira sorgum (%)

Penelitian Literatur

Kadar abu 0,282 1,28-1,57

Kadar air 70 80

Brix 15,5 13,6-18,4

Gula total 20,5 11-16

Sumber : Direktorat Jendral Perkebunan, 1996

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa komposisi nira sorgum yang digunakan dalam penelitian mengandung kadar abu yang lebih kecil dibandingkan dengan literatur. Kadar abu menunjukkan jumlah kandungan zat-zat anorganik yang terkandung dalam nira sorgum. Proses sentrifugasi yang dilakukan terhadap nira sorgum secara nyata dapat menurunkan kadar abu tersebut. Konsentrasi gula total yang lebih tinggi yaitu 20,5% dan kadar air <70% d i b a n d i n g k a n d e n g a n l i t e r a t u r menandakan kualitas nira sorgum yang digunakan pada penelitian lebih baik dan dapat digunakan sebagai bahan baku produksi bioetanol.

P e n e n t u a n L a j u P e r t u m b u h a n Maksimum S. cerevisiae

P e r o l e h a n l a j u p e r t u m b u h a n maksimum S. cerevisiae dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.Kurva Pertumbuhan S. cerevisiae

Dari Gambar 1 dapat disebutkan bahwa S. cerevisiae mempunyai laju pertumbuhan maksimum pada menit ke-330 hingga menit ke-450. Pada fase ini, metabolisme peningkatan jumlah sel cukup tinggi sehingga S. cerevisiae dapat digunakan sebagai starter untuk produksi bioetanol. Nilai laju pertumbuhan spesifik maksimum (µ ) adalah 0,002 m

-1

menit .

P e n g a r u h Wa k t u F e r m e n t a s i Terhadap Produksi Bietanol

Waktu mempunyai peranan penting dalam proses fermentasi. Dalam perkembangannya mikroorganisme                                                              

POLBAN

(4)

memerlukan waktu untuk menghasilkan enzim sebagai biokatalis untuk konversi gula menjadi etanol (Alamsyah, 2007). Variasi waktu fermentasi dilakukan dalam media produksi yang mengandung 205 g/l gula awal (konsentrasi gula nira asli).

Hasil pengukuran konsentrasi etanol menggunakan kromatografi gas selama 96 jam disajikan di Gambar 2.

Gambar 2. Kurva Hubungan antara konsentrasi etanol (%) terhadap waktu fermentasi (jam) Gambar 2 menunjukkan bahwa waktu optimum fermentasi adalah < 48 jam dengan konsentrasi etanol tertinggi sebesar 6,49%. Konsentrasi etanol meningkat seiring dengan bertambahnya waktu mulai jam ke-0 hingga jam ke-48. Hal ini berhubungan dengan jumlah pengurangan konsentrasi gula sebagai substrat pada tiap waktu fermentasi. Gula digunakan sebagai makanan untuk p e r t u m b u h a n S . c e re v i s i a e d a n pembentukan etanol sebagai produk fermentasi sehingga selama fermentasi konsentrasi gula akan menurun.

Pengaruh Konsentrasi Substrat (Gula) Awal terhadap Produksi Bioetanol

Konsentrasi gula mempunyai peranan yang sangat penting dalam f e r m e n t a s i s e b a b b a h a n d e n g a n konsentrasi gula terlalu tinggi mempunyai efek negatif pada S. cerevisiae, baik pada p e r t u m b u h a n m a u p u n a k t i v i t a s fermentasinya (Isroi, 2008). Konsentrasi gula yang baik adalah pada 10-18% (Riadi, 2007).

Proses fermentasi etanol dilakukan dengan variasi konsentrasi substrat gula

awal yaitu 148 g/l, 160 g/l, 180 g/l, dan 205 g/l. Konsentrasi 205 g/l merupakan konsentrasi nira sorgum asli, tanpa p e n g e n c e r a n . H a s i l p e n g u k u r a n konsentrasi etanol disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan antara Konsentrasi Etanol (%) dengan Konsentrasi Gula Awal (g/l)

Berdasarkan Gambar 3 terlihat bahwa konsentrasi etanol tertinggi diperoleh pada konsentrasi gula awal 148 g/l yaitu sebesar 8,41%.

P a d a u m u m n y a , k e n a i k a n konsentrasi substrat gula akan menaikkan perolehan etanol karena semakin banyak s u b s t r a t y a n g d i g u n a k a n u n t u k metabolisme S. cerevisiae, etanol yang dihasilkan akan semakin banyak. Namun, terdapat batas maksimal konsentrasi substrat untuk proses fermentasi etanol (Supriyanto dan Wahyudi, 2006).

Jika dibandingkan perolehan etanol dari konsentrasi gula awal 148 g/l dengan konsentrasi gula awal 160 g/l dan 180 g/l menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi gula produktivitas etanolnya berkurang. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi gula yang terlalu tinggi akan menjadi penghambat (inhibitor) baik pada pertumbuhan S.cerevisiae maupun aktivitas fermentasinya sehingga akan menurunkan produktivitas etanol (Mushlihah dan Herumurti, 2010).

Profil fermentasi etanol pada variasi konsentrasi gula awal disajikan pada Gambar 4.

Jurnal Fluida Volume 9 , Nomor 1, Mei 2013, hlm. 1-6 4                                                              

POLBAN

(5)

Gambar 4. Fermentasi Etanol pada Berbagai Variasi Konsentrasi Gula Awal (a) 148 g/l (b)

160 g/l (c) 180 g/l (d) 205 g/l. ( ) Konsentrasi Etanol; ( ) Konsentrasi

Biomassa; ( ) Konsentrasi Gula Gambar 4 menunjukkan profil fermentasi etanol yang meliputi kinetika pertumbuhan S. cerevisiae, penggunaan substrat, dan pembentukan etanol.

Pada Gambar 4 terlihat adanya penurunan konsentrasi gula seiring dengan bertambahnya waktu fermentasi. Hal ini menunjukkan adanya penggunaan substrat gula oleh S. cerevisiae sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan dan metabolisme sel. Pada awal fermentasi terlihat penurunan konsentrasi gula yang cukup drastis. Hal ini terjadi karena pada a w a l f e r m e n t a s i S . c e r e v i s i a e membutuhkan substrat dalam jumlah yang lebih banyak untuk pertumbuhan, b a i k m e m p e r b a n y a k m a u p u n mempertahankan hidup sel. Hal tersebut terjadi pada jam ke-0 hingga jam ke-24. Setelah jam ke-24, penggunaan gula sebagai substrat mulai stabil.

Pada Gambar 4 terlihat bahwa penurunan gula lebih berasosiasi dengan pertumbuhan biomassa dibandingkan dengan pembentukan produknya. Hal ini dapat dilihat dari konsentrasi etanol tertinggi yang dihasilkan pada setiap peningkatan konsentrasi gula. Disini kenaikan konsentrasi gula awal tidak tampak berpengaruh pada produksi bioetanol.

Pada fermentasi, kadar gula yang tinggi akan menyebabkan gula tersebut termetabolisme lebih cepat. Hal ini akan membutuhkan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi. Disisi lain S. cerevisiae m e n g h a s i l k a n m i s e l i u m p a d a pertumbuhannya, yang mengakibatkan media fermentasi menjadi lebih pekat. Hal ini mempengaruhi transfer oksigen di d a l a m f e r m e n t a s i . K o n d i s i i n i menyebabkan substrat yang ada hanya d a p a t m e n i n g k a t k a n k o n s e n t r a s i b i o m a s s a t a n p a m e n i n g k a t k a n konsentrasi produk.

Etanol merupakan produk metabolit primer dari siklus hidup S. cerevisiae karenaetanol akan terbentuk selama fase pertumbuhan S. cerevisiae tersebut. Gambar 4 (d) memperlihatkan pola pembentukan produk etanol hampir menunjukkan pola pembentukan produk yang berasosiasi dengan pertumbuhan biomassa, namun perolehan yield produk 5

a)

d) b)

c)

Dianty Rosirda Dewi Kurnia dkk.,Pengaruh Waktu Fermentasi Dan Konsentrasi Gula

                                                             

POLBAN

(6)

sorgum adalah :

1) Dilakukan variasi konsentrasi starter untuk meningkatkan yield etanol terhadap substrat.

2) Dilakukan variasi konsentrasi gula awal di bawah konsentrasi 148 g/l sehingga dapat diperoleh konsentrasi gula optimum.

3) Dilakukan pemurnian sebelum distilasi yaitu proses adsorpsi h i d r o f o b i k m e n g g u n a k a n magnesium silika (Putro dan Ardhiany, 2010) dan setelah distilasi dilakukan pemurnian lebih lanjut dengan adsorpsi menggunakan zeolit (Herdiawan dan Utami, 2008) untuk memperoleh bioetanol dengan konsentrasi yang lebih tinggi.

etanol terhadap substrat (Y ) tertinggi, P/S

diperoleh pada konsentrasi substrat gula awal 148 g/l.

Pemurnian Bioetanol

P e m u r n i a n d i l a k u k a n u n t u k meningkatkan konsentrasi bioetanol. Bioetanol hasil fermentasi sebesar 8,41% dimurnikan dengan distilasi pada suhu

0

78 C selama 3 jam sesuai titik didih etanol

0

yaitu 78,4 C (Perry's Handbook). Dari hasil distilasi diperoleh konsentrasi bioetanol sebesar 53,96% dengan nilai indeks bias 1,353 dan berat jenis 0,9025 g/mL.

Berdasarkan hasil perhitungan stoikiometri, bioetanol yang seharusnya diperoleh adalah 17,27 gram, sedangkan perolehan bioetanol dari penelitian adalah 5,415 gram. Dari hasil tersebut diperoleh yield sebesar 31,35%, sedangkan

berdasarkan perolehan volume bioetanol dihasilkan yield sebesar 40,54%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa gula tidak seluruhnya terkonversi menjadi etanol tetapi lebih berperan dalam pertumbuhan biomassa.

Konversi etanol dan efisiensi fermentasi nira sorgum menjadi etanol pada penelitian ini berturut-turut adalah 52,7% dan 41,84%. Rendahnya nilai efisiensi fermentasi dapat disebabkan oleh adanya etanol yang menguap selama fermentasi, adanya etanol yang tersisa pada residu saat proses distilasi karena distilasi merupakan cara pemisahan atas dasar kesetimbangan fasa uap dan fasa cair maka tidak akan diperoleh hasil pemisahan yang sempurna, serta terjadinya kehilangan etanol pada saat distilasi karena over heating sehingga etanol tidak terkondensasi dan lolos ke luar.

Jurnal Fluida Volume 9 , Nomor 1, Mei 2013, hlm. 1-6 6

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1) Waktu fermentasi optimum pada proses fermentasi etanol adalah 48 jam dengan konsentrasi etanol tertinggi yaitu 53,96%.

2) Konsentrasi substrat gula awal yang menghasilkan konsentrasi etanol tertinggi adalah pada fermentasi etanol dengan konsentrasi gula awal 148 gr/l.

3) Yield etanol terhadap substrat (YP/S) tertinggi yaitu 52,5%.

Saran

Beberapa aspek dapat dilakukan untuk mengembangkan penelitian tentang fermentasi etanol dari nira                                                              

POLBAN

(7)

DAFTAR RUJUKAN

Alamsyah.2007.Produksi Bioetanol Dari Biji Sorgum (Sorghum Biocolor L Moech) Secara Fermentasi Sebagai Bahan Bakar Alternatif (online). http://perpustakaan.poliupg.ac.id/ps view.php?id=fea78186&page=30&a ll=1 (16 Maret 2012).

Almodares dan M.R Hadi. 2009. Production of Bioethanol from Sweet Sorghum. Iran. Department of Biology, Sciences and Research Branch of Fars, Islamic Azad University.

Anonim 1. 2011. OPEC Proyeksikan Permintaan Minyak Dunia 2011 Naik

( o n l i n e ) .

http://bataviase.co.id/node/640419. (23 Januari 2012).

Dagget, Dave. 2006. Alternate Fuelled Aircraft, Product Development Commercial Airplanes, Boeing (online).

http://www.scribd.com/doc/2198153 5/Ethanol-ketela. (24 Januari 2012). Direktorat Jenderal Perkebunan. 1996.

Sorgum manis komoditi harapan di propinsi kawasan timur Indonesia. R i s a l a h S i m p o s i u m P ro s p e k T a n a m a n S o r g u m u n t u k Pengembangan Agroindustri, 17- 18 Januari 1995. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian No.4-1996: 6- 12.

Dyartanti. 2010. Ethanol Fuel Grade dari Garut Sebagai Bahan Bakar Alternatif Pengganti Petroleum (Bensin) (online).

file:///E:/Semester%205/literatur%2 0buat%20TA/Full%20net%20sorgu m/Biofuel%20_%20lppm.uns.ac.id. htm. (23 Januari 2012).

Herdiawan, Lucky dan Rika Nita Utami. 2008. Pembuatan Bioetanol dari Singkong. Bandung : Teknik Kimia

7

Dianty Rosirda Dewi Kurnia dkk.,Pengaruh Waktu Fermentasi dan Konsentrasi Gula

Politeknik Negeri Bandung.

Mushlihah, Siti dan Welly Herumurti. 2010. Pengaruh pH dan Konsetrasi Zymomonas Mobilis untuk Produksi Etanol dari Sampah Buah Jeruk. S u r a b a y a : J u r u s a n Te k n i k Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

P, Agustinus Eka dan Amran halim. 2009. Pembuatan Bioethanol dari Nira Siwalan Secara Fermentasi Fese Cair Menggunakan Fermipan. Semarang : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Putro, Agung Nur Hananto dan Sherviena

Amanda Ardhiany. 2010. Proses Pengambilan Kembali Bioetanol Hasil Fermentasi Dengan Metode Adsorpsi Hidrophobik. Semarang : Jurusan Teknik Kima Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Perry,Robbery H. Dan Don W. Green. P e r r y ' s C h a m i c a l E n g i n e e r s Handbook.

Riadi, Lieke. 2007. Teknologi Fermentasi. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Sakina, Elma dan Pratiwi. 2011. Kajian Awal Pembuatan Etanol dari Nasi Aking. Bandung : Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.

Sari, Ratna Putri Puspita. 2009. Pembuatan Etanol Dari Nira Sorgum D e n g a n P r o s e s F e r m e n t a s i. Semarang : Teknik Kimia Universitas Diponegoro.

Silvania, Sarah dan Tiara Puspita Dewi. 2011. Fermentasi Asam Laktat dari Sukrosa Menggunakan Lactobacillus Delbroeckii. Bandung : Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.

Supriyanto, Tri dan Wahyudi. 2009. Proses Produksi Etanol oleh Saccharomyces Cerivisiae dengan Operasi Kontinyu Pada Kondisi Vakum. Semarang : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.                                                              

POLBAN

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :