BAB I PENDAHULUAN. masa remaja, masa dewasa, lanjut usia (lansia) sampai meninggal. Lansia

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap manusia mengalami daur hidup yang sama, mulai dari lahir masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, lanjut usia (lansia) sampai meninggal. Lansia merupakan suatu tahap kehidupan yang akan dilalui oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. Menurut Hurlock (1999) masa lanjut usia adalah periode terakhir dari perjalanan hidup manusia yaitu suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat. Ketika individu memasuki lanjut usia, ia akan dihadapkan pada perubahan dan penurunan dalam hal fisik, kemampuan berpikir, kondisi kepribadian dll.

Perubahan dan penurunan yang terjadi akan mendorong individu lanjut usia menghadapi banyak masalah kehidupan. Menurut Suardiman (2001) masalah-masalah tersebut antara lain masalah ekonomi (seperti produktivitas kerja yang menurun, memasuki masa pensiun yang menyebabkan berkurangnya pendapatan, semakin kecilnya peluang kerja), masalah sosial budaya (seperti berkurangnya kontak sosial dengan keluarga, teman dan masyarakat, nilai sosial yang mengarah pada kehidupan individualistik), masalah psikologis (seperti kesepian, terasing dari lingkungan, ketidakberdayaan, kurang percaya diri, ketergantungan, keterlantaran terutama bagi lansia yang miskin, post power syndrome dan sebagainya), dan masalah kesehatan (seperti penurunan fungsi fisik dan rentan terhadap berbagai penyakit).

(2)

Masalah kesehatan ternyata tidak bisa terlepas dari masalah psikologis. Menurut Achir (dalam Munandar, 2001), sejak dulu telah diketahui bahwa faktor emosional erat kaitannya dengan kesehatan mental lansia. Aspek emosional yang terganggu, kecemasan, apalagi stres berat secara tidak langsung dapat mengganggu kesehatan fisik (tubuh) yang akan berakibat buruk terhadap stabilitas emosi. Penelitian yang dilakukan Sherman terhadap 101 orang di Amerika Serikat membuktikan adanya kaitan erat antara emosi yang tidak terkendali dengan kesehatan fisik seseorang. Individu yang mudah marah, gelisah dan sedih berkepanjangan beresiko dua kali lipat terserang penyakit seperti asma, radang persendian, sakit kepala, gangguan pencernaan, tukak lambung, kanker dan penyakit jantung (Goleman, 2004).

Salah satu dari penyakit kronis yang biasa muncul pada lansia adalah penyakit jantung koroner, yang disingkat dengan PJK. Menurut National Center for Health Statistic, penyakit jantung menduduki urutan pertama, dari enam penyebab utama kematian orang Amerika usia 65 tahun atau lebih, dengan jumlah 2.173 dengan angka per 100.000 populasi dari kelompok usia tersebut (Santrock, 2002). Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 7 juta orang meninggal akibat PJK di seluruh dunia pada tahun 2002. Angka ini diperkirakan meningkat hingga 11 juta orang pada tahun 2020. Menurut Hasil Survei Kesehatan Nasional tahun 2001 menunjukkan tiga dari 1.000 penduduk Indonesia menderita PJK (Tjang, 2006).

Penyakit jantung koroner adalah penyakit akibat dari penyempitan dan penyumbatan arteri koroner yang berfungsi untuk menyuplai jantung dengan darah yang penuh dengan oksigen. Peredaran darah menjadi tersumbat dengan adanya plak. Kondisi ini disebut atherosclerosis (Sarafino, 2006).

(3)

Penyakit jantung koroner berhubungan dengan gaya hidup dan biologis serta emosi negatif (Sarafino, 2006). Adanya perubahan gaya hidup ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara Barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan (Yayasan Jantung Indonesia, 2003). Ada beberapa faktor gaya hidup dan biologis yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner antara lain sejarah keluarga tentang penyakit jantung, tekanan darah tinggi, tingginya level kolesterol LDL dan low HDL, fisik yang lemah, diabetes, obesitas, stress (Sarafino, 2006). Emosi negatif memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan (Gross, 1998). Berdasarkan hasil penelitian, baik pria atau wanita yang memiliki level yang tinggi pada depresi dan kecemasan cenderung lebih rentan terkena penyakit jantung. Ada dua alasan yang dapat menjelaskan hal ini. Yang pertama saat emosi negatif terjadi, maka gaya hidup sehat berkurang. Alasan kedua jika emosi negatif berdampak pada keadaan psikologis yang dapat menyebabkan penyakit jantung, orang-orang dengan tipe kepribadian A juga lebih cenderung terkena penyakit jantung. Sebab mereka adalah orang-orang yang reaktif, serta memiliki tingkat kemarahan dan permusuhan yang tinggi (Sarafino, 2006).

Menurut Sarafino (2006), beberapa faktor risiko dari penyakit jantung koroner telah diidentifikasi dan beberapa diantaranya digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah seperti status pendidikan, mobilitas sosial, kelas sosial, usia, gender, sejarah keluarga, ras

(4)

dan lain-lain, dan faktor yang dapat diubah seperti perilaku merokok, obesitas, gaya hidup yang menetap, stress kerja dan tipe perilaku. Soeharto (2000) juga membagi dua penyebab penyakit jantung koroner, yang terdiri dari faktor risiko alami dan faktor risiko gabungan. Faktor risiko alami terdiri dari keturunan, jenis kelamin, umur dan riwayat kesehatan pribadi. Serta faktor risiko gabungan yang terdiri dari riwayat keluarga, olahraga, umur, merokok, tekanan darah, kegemukan, jenis kelamin, kadar kolesterol total dan kadar kolesterol LDL.

Penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) umumnya merasa kesal (Soeharto, 2000), dan memiliki level kecemasan dan depresi yang lebih tinggi hingga sampai satu atau dua tahun kemudian (Sarafino, 2006). Dalam keadaan demikian mereka menjadi mudah marah kepada orang lain. Meskipun ini tidak kelihatan berarti pada awalnya tetapi tidak dapat dibiarkan saja (Soeharto, 2000).

Kondisi keadaan emosional penderita penyakit jantung koroner seperti diatas tentunya akan menimbulkan kondisi yang semakin memburuk bagi para lansia. Hal ini disebabkan karena pada umumnya emosi lansia memiliki tingkat sensitifitas emosional yang meningkat, kurang gairah, kurang mampu menghadapi tekanan (stress), merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi. Menurut hasil penelitian Malatesta dan Kalnok (1984), kondisi kesehatan yang menurun merupakan sumber terbesar munculnya emosi negatif seperti kesedihan. Keadaan seperti ini tentunya akan membuat kondisi emosi yang dirasakan akan semakin tidak stabil, apalagi diikuti dengan ketidakberhasilan menemukan jalan keluar dari masalah yang timbul sebagai akibat dari proses menua.(Achir dalam Munandar, 2001).

(5)

Secara tidak langsung sikap lansia terhadap penyakit kronis yang dialami (PJK), akan memberikan pengaruh tekanan psikologis yang meningkat. Lansia akan merasa semakin cemas, muncul adanya perasaan khawatir, takut terhadap kematian, tidak berdaya, lemas, tidak percaya diri, ingin bunuh diri, tidak tentram, dan gelisah (Hurlock, 1990). Keadaan emosional seperti diatas tentunya merupakan jenis-jenis dari emosi negatif. Oleh sebab itu, sebagai lansia yang menderita PJK, diharapkan untuk mampu meminimalisir perasaan atau emosi-emosi negatif yang dirasakan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menangani masalah ini adalah dengan meningkatkan kemampuan regulasi emosi. Regulasi emosi ialah kemampuan secara fleksibel untuk mengendalikan emosi yang dirasakan dan ditampilkan sesuai dengan tuntutan lingkungan (Denham dalam Coon, 2005). Saat melakukan regulasi emosi, seseorang belajar untuk mengurangi atau mengendalikan emosi negatif dan mempertahankan atau membangun emosi positif (Kostiuk & Fouts, 2002).

Seseorang yang mampu meregulasi emosinya akan mendapatkan dampak positif bagi kesehatan fisik, tingkah laku, dan hubungan sosial (Davidson, Putnam & Larson dalam Gross, 1999). Sementara itu, regulasi emosi juga dapat membuat individu berpikir jernih, bersikap lebih tenang serta bijaksana dalam bertindak. Tindakannya dapat diperhitungkan dengan baik sehingga tidak mendatangkan kerugian bagi individu itu sendiri dan dapat berdampak besar terhadap peningkatan kesehatan mental seseorang (Wismanto & Agustina, 2000). Dampak regulasi emosi bagi hubungan sosial adalah seseorang dapat memperbaiki hubungan interpersonal, menumbuhkan cinta antar manusia, meningkatkan rasa solidaritas, berkomunikasi dengan tulus dan terbuka

(6)

sehingga lebih mudah akrab maupun bersahabat dengan orang lain (Mischel & Shoda, 2004).

Lansia yang menderita penyakit jantung koroner diharapkan untuk mampu meningkatkan kemampuannya dalam meregulasi emosi sehingga dapat mengurangi tingkat risiko PJK yang dialami. Hal ini disebabkan karena keadaan emosional yang tidak stabil juga berpengaruh terhadap kinerja dari jantung sendiri. Menurut Krause (dalam Coon, 2005), salah satu faktor yang mempengaruhi regulasi emosi seseorang adalah religiusitas. Seseorang yang tinggi tingkat religiusitasnya akan berusaha untuk menampilkan emosi yang tidak terlalu berlebihan bila dibandingkan dengan orang yang tingkat religiusitasnya lebih rendah. Drikarya (dalam Widiyanta 2005) mendefinisikan religiusitas sebagai kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan yang harus dilaksanakan yang berfungsi untuk mengikat dan mengutuhkan seseorang atau kelompok orang dalam hubungannya dengan Tuhan atau sesama manusia serta alam sekitarnya. Selanjutnya Glock dan Stark (dalam Anggasari, 1997) mengatakan bahwa keberagamaan seseorang menunjuk pada ketaatan dan komitmen seseorang terhadap agamanya. Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya religiusitas adalah suatu penghayatan ajaran agama yang mengarah kepada ketaatan dan komitmen seseorang dalam melaksanakan ajaran agamanya. Menurut Glock dan Stark (dalam Ancok dan Suroso, 2005) religiusitas sendiri memiliki lima dimensi dan salah satunya adalah praktek agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Dalam agama Islam, dimensi peribadatan (praktek ibadah) menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji,

(7)

membaca Al’Quran, doa, zikir, ibadah kurban, iktikaf di masjid pada bulan puasa dan sebagainya.

Dimensi peribadatan (praktek ibadah) yang menyangkut pelaksanaan shalat yang dipilih penulis untuk lebih melihat kaitannya dengan regulasi emosi. Hal ini disebabkan karena shalat merupakan ibadah yang wajib dilakukan setiap hari oleh setiap umat islam. Rahayu (2005) menyebutkan bahwa shalat adalah kegiatan yang menggabungkan antara kegiatan fisik, mental, dan spiritual. Tidak hanya itu, shalat mampu memberikan makna tak hanya bagi diri individu, tetapi juga bagi hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan sosial manusia yang satu dengan yang lain. Tegaknya shalat berarti menyatukan pikir (akal, emosi), mental (spiritual, keikhlasan) dan lahir (fisik, perbuatan) dalam satu titik keseimbangan yang harmonis.

Shalat mempunyai banyak manfaat bagi setiap orang yang melaksanakannya. Manfaat shalat yang dirasakan dapat diperoleh melalui gerakan-gerakan dalam shalat, keteraturan dalam pelaksanaanya dan kekhusyukan ketika menjalaninya.

Menurut Hembing (2006), setiap gerakan-gerakan shalat mempunyai arti khusus bagi kesehatan dan punya pengaruh pada bagian-bagian tubuh seperti kaki, ruas tulang punggung, otak, lambung, rongga dada, pangkal paha, leher. Berikut adalah ringkasan yang bermanfaat untuk mengetahui tentang daya penyembuhan di balik pelaksanaan sholat sebagai aktivitas spiritual. Gerakan-gerakan shalat bila dilakukan dengan benar, selain menjadi latihan yang menyehatkan juga mampu mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hembing menemukan bahwa berdiri tegak pada waktu shalat membuat seluruh saraf menjadi satu titik pusat pada otak, jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang pungggung lurus dan bekerja secara normal, kedua kaki yang tegak lurus pada

(8)

posisi akupuntur, sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh tubuh. Belum lagi gerakan sujud yang setiap rakaat dua kali hingga jumlahnya sehari 34 kali.

Menurut Abdullah (2006) salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri bagi setiap individu khususnya bagi mereka yang telah lansia, baik pria maupun wanita adalah konsisten melaksanakan shalat lima waktu secara teratur. Pelaksanaannya yang konsisten mampu membentengi diri dari serangan penyakit jantung, tersumbatnya peredaran darah, infeksi pada persendian tubuh, peningkatan kolesterol pada tubuh dan juga osteoporosis. Shalat dengan gerakan tubuh dan waktunya yang teratur sangat bermanfaat untuk tubuh, sekaligus ia merupakan ibadah ruhiyah. Dzikir, tilawah dan doa-doanya sangat baik untuk pembersihan jiwa dan melunakkan perasaan. Berdasarkan penemuan-penemuan mutakhir yang menyatakan bahwa kesehatan tubuh dan penyakit sebenarnya berasal dari penyakit jiwa, dan banyak penyakit tubuh sesungguhnya dapat disembuhkan melalui ketenangan jiwa, maka shalat dapat dilihat sebagi sarana kesehatan tubuh juga (Banna dalam Nurdin, 2006). Shalat jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusyuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan ndividu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (Sholeh 2006).

Shalat melibatkan unsur badan dan jiwa yang menghasilkan bio-energi serta mempunyai efek meredakan ketegangan dan kecemasan (Irma, 2003). Saat melakukan shalat pikiran dan mental tertata sedemikian rupa sehingga perasaan batin menjadi lebih tenang, hening dan khusyuk. Dalam keadaan tenang gelombang otak manusia mencapai

(9)

8-12 gelombang perdetik, merupakan saat yang paling optimal untuk memperbaharui daya ingat jangka panjang kita, secara praktis membantu mencegah pikun dini (Wratsangko, 2006). Shalat membuat jiwa menjadi tenang, tidak gelisah, takut atau khawatir, membawa keteguhan hati dan sikap optimis serta ketenangan jiwa (Rafi’udin & Zainudin 2004). Hal ini sejalan dengan pendapat Hasan (2000) mengatakan salah satu hikmah shalat yaitu sebagai penenang jiwa orang resah gelisah. Basyarahil (2001) juga mengatakan bahwasanya shalat dapat menimbulkan ketenangan hati dan ketentraman batin. Firman Allah SWT dalam Al’Quran surat Thaha:14 dan Ar-Ra’du :28:

“Tegakkan shalat untuk mengingat-Ku. (Qs. Thaha:14) “Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs.Ar-Ra’du: 28)

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya shalat yang dilakukan dengan gerakan yang tepat, teratur dan khusyuk akan menjadi faktor penentu seseorang merasakan manfaat shalat. Manfaat shalat yang dirasakan seperti ketenangan, kententraman batin, meredakan ketegangan, kecemasan, tidak gelisah, takut, khawatir, membawa keteguhan hati, sikap optimis dan sebagainya menunjukkan adanya proses kemampuan regulasi yang meningkat dari setiap pelaksananya. Namun dalam pelaksanaannya tidak semua orang dapat melakukan shalat dengan ketiga faktor penentu diatas, ditambah dengan karakteristik dari sampel penelitian penulis yang telah lansia, penulis akhirnya memutuskan hanya ingin melihat bagaimana kaitan antara shalat dan regulasi emosi bila hanya melihat dari pelaksanaan keteraturan shalat lima waktunya saja.

Dari penjelasan diatas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan keteraturan shalat lima waktu dengan kemampuan regulasi emosi pada lansia penderita jantung koroner.

(10)

B. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana hubungan keteraturan sholat lima waktu dengan kemampuan regulasi emosi pada lansia penderita jantung koroner.

C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam memberikan informasi dan perluasan teori dibidang psikologi klinis, yaitu mengenai hubungan antara keteraturan shalat lima waktu dengan kemampuan regulasi emosi .

Selain itu juga, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber kepustakaan di bidang psikologi klinis sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai penunjang untuk bahan penelitian lebih lanjut.

2. Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan bagi banyak kalangan, antara lain:

a. Masyarakat umum dapat mengetahui hubungan keteraturan shalat lima waktu dengan regulasi emosi pada lansia penderita jantung koroner.

b. Bagi lansia khususnya yang mengalami penyakit jantung koroner diharapkan untuk mampu melaksanakan shalat lima waktu secara teratur, selain sebagai kewajiban tentunya dapat dilakukan sebagai salah satu latihan fisik yang dapat memberikan banyak manfaat untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi c.Sebagai referensi bagi Praktisi Psikologi khususnya bidang Psikologi Klinis

(11)

D. Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan

Berisi penjelasan mengenai latar belakang permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: Landasan Teori

Bab ini menguraikan landasan teori yang mendaari masalah yang menjadi objek penelitian, meliputi landasan teori dari keteraturan shalat lima waktu, regulasi emosi, lansia, dan penyakit jantung koroner.

BAB III : Metode Penelitian

Berisi metode yang digunakan dalam penelitian yang mencakup variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi, sampel, dan metode pengambilan sampel, metode pengumpulan data, prosedur pelaksanaan penelitian, metode analisis data.

BAB IV : Analisa Data dan Pembahasan

Berisi gambaran subjek penelitian, uji asumsi penelitian, hasil utama penelitian, hasil tambahan dan diskusi yang merupakan pembahasan dan pembanding hasil penelitian sebelumnya

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan hasil penelitian dan saran penyempurnaan penelitian berikutnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :