KONTRIBUSI PENDAPATAN PEMELIHARAAN TERNAK SAPI DALAM SISTEM INTEGRASI JAGUNG DAN TERNAK SAPI DI LAHAN KERING

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KONTRIBUSI PENDAPATAN PEMELIHARAAN TERNAK

SAPI DALAM SISTEM INTEGRASI JAGUNG DAN TERNAK

SAPI DI LAHAN KERING

(Livestock Income Contribution of Integrated Corn Plant and Beef Cattle at

Upland)

ENI SITI ROHAENI, AHMAD SUBHAN, NOOR AMALI, SUMANTO danA. DARMAWAN

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan Jl. Panglima Batur Barat No.4, Banjarbaru

ABSTRACT

This paper aims at finding out the income contribution of cattle rearing by integrated system at upland representing the study results at Sumber Mulia Village, Pelaihari Sub district, Tanah Laut Regency. This activity was carried out by surveys on cooperators of integrated corn and livestock assessment activities, and by interviewing non-cooperator farmers. The activities were conducted at dry season, from July to December 2004. The area of the corn plant observed was 3 ha with a scale of cattle rearing of 20 heads. The study results showed that livestock rearing in integrated system at dry season provided an income contribution amounted Rp 9,747,800 or 49.96%. The non integrated system farmers at dry season experienced financial loss due to feed scarcity and resulted in decreasing growth. Based on these results it is known that integrated system can increase the income contribution amount 124.69% compared to that of non-integrated one. The R/C yielded from the corn farming system and livestock in integrated system is 1.32, whereas that of non integrated system is 1.14.

Key Words: Integrated, Cattle, Corn, Dry Season, Income, R/C, Upland, Tanah Laut ABSTRAK

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi pendapatan pemeliharaan ternak sapi dalam sistem integrasi di lahan kering yang merupakan hasil studi di Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Kegiatan ini dilakukan dengan cara survei terhadap kooperator pada kegiatan pengkajian integrasi jagung dan ternak dan pada petani non kooperator dengan cara wawancara. Kegiatan ini dilakukan pada musim kemarau yaitu pada bulan Juli sampai Desember 2004. Luas tanam jagung yang diamati 3 ha dengan skala pemeliharaan ternak sapi sebanyak 20 ekor. Hasil kajian diketahui bahwa pemeliharaan ternak sapi dalam sistem integrasi pada musim kemarau memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 9.747.800 atau 49,96%. Kontribusi pendapatan dari pemeliharaan ternak sapi yang dilakukan petani non sistem integrasi pada musim kemarau mengalami kerugian karena kelangkaan pakan sehingga pertumbuhan menurun. Berdasarkan hasil ini diketahui bahwa sistem integrasi dapat meningkatkan kontribusi pendapatan dibandingkan tanpa sistem integrasi sebesar 124,69%. Nilai R/C yang dihasilkan untuk usahatani jagung dan sapi pada sistem integrasi sebesar 1,32 sedang sistem non integrasi 1,14.

Kata Kunci: Integrasi, Ternak Sapi, Jagung, Musim Kemarau, Pendapatan, R/C, Lahan Kering, Tanah Laut

PENDAHULUAN

Usaha tani ternak sebagai bagian dari sektor pertanian dapat diintegrasikan dengan usaha tani tanaman pangan atau perkebunan. Artinya dapat saling menunjang untuk saling mengisi dalam meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan produk samping usaha.

Peran ternak dapat dimasukkan dalam bagian integral sistem usaha tani untuk saling mengisi dan bersinergi yang memberi hasil dan nilai tambah optimal. Tanaman, baik dari tanaman semusim ataupun tanaman tahunan tidak hanya menghasilkan pangan sebagai produk utama, tetapi juga menghasilkan produk samping. Hasil samping tersebut berupa limbah

(2)

pertanian yang dengan cara-cara sederhana dapat diubah menjadi pakan ternak (BADAN LITBANG PERTANIAN, 2000).

Jagung merupakan salah satu komoditas pertanian yang cukup potensial baik sebagai pangan maupun pakan. Kabupaten Tanah Laut yang merupakan salah satu daerah lahan kering di Kalimantan Selatan merupakan sentra produksi jagung. Produktivitas jagung yang dihasilkan berkisar antara 4-6 ton/ha dengan 2 kali tanam per tahun. Tanaman jagung selain menghasilkan biji jagung, juga dihasilkan limbah berupa daun dan batang jagung. Bila jagung dijual dalam bentuk pipilan maka akan dihasilkan limbah berupa janggel jagung. Janggel ini masih mempunyai nilai nutrien yang dapat digunakan sebagai pakan ternak sapi (AMALI et al., 2002). Produksi janggel yang dihasilkan berkisar antara 0,75−1,3 ton/Ha dengan rataan 1 ton/Ha (AMALIet al., 2003). Produksi ini berpotensi sebagai pakan terutama pada musim panen dan atau sebagai stok saat musim kemarau. Pakan tersebut oleh ternak dapat ditransformasi menjadi pangan yang bermutu (daging, telur dan susu).

Ternak sapi bagi petani berfungsi sebagai penghasil pupuk kandang dan tabungan yang memberikan rasa aman pada saat kekurangan pangan (paceklik) di samping berfungsi sebagai ternak kerja (NAJIB et al., 1997). Ternak selain menghasilkan produk utama juga menghasilkan hasil samping berupa feses dan urine yang sampai saat ini masih dianggap masalah. Dengan inovasi yang sederhana dapat diubah menjadi kompos yang bermutu, dan nilai kompos yang dihasilkan ternyata cukup besar. Penggunaan kompos pada lahan pertanian akan mendukung kelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan Organic Farming yang berdaya saing tinggi (BADAN LITBANG PERTANIAN, 2000). Keberadaan sapi potong sangat erat kaitannya dengan kegiatan lainnya karena sapi potong merupakan bagian dari kehidupan petani terutama dalam memanfaatkan limbah pertanian dan sebagai penghasil pupuk kandang yang cukup potensial.

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi pendapatan pemeliharaan ternak sapi dalam sistem integrasi di lahan kering yang merupakan hasil studi di Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

MATERI DAN METODE

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, dengan cara survei terhadap kooperator pada kegiatan pengkajian integrasi jagung dan ternak dan pada petani non kooperator dengan cara wawancara. Kegiatan ini dilakukan pada musim kemarau yaitu pada bulan Juli sampai Desember 2004. Luas tanam jagung yang diamati 3 ha dengan skala pemeliharaan ternak sapi sebanyak 20 ekor.

Teknologi yang diintroduksikan pada kegiatan pengkajian integrasi jagung dan ternak sapi sebagai berikut:

Teknologi budidaya jagung

Teknologi budidaya jagung yaitu dengan memanfaatkan kotoran sapi menjadi fine compost sehingga menurunkan biaya produksi yang dikeluarkan untuk pembelian pupuk kotoran ayam dan mengurangi pencemaran lingkungan. Tahapan teknologi budidaya jagung yaitu:

Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor.

Tanam:

Jagung (varietas BISI 2) ditanam dengan cara ditugal (kedalaman ± 5 cm), jarak tanam 70 x 20 cm 1 tanaman per lubang. Benih jagung yang telah dimasukkan ke dalam lubang tanam segera ditutup dengan tanah maupun pupuk kandang.

Pemupukan:

Sepertiga bagian urea diberikan saat tanam dan dua pertiga urea diberikan saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Pupuk SP-36 dan KCl seluruhnya diberikan pada saat tanam. Pupuk tersebut diberikan dengan cara ditugal atau dilarik di samping barisan tanaman, kemudian ditutup rapat. Pupuk kandang diberikan seluruhnya pada saat tanam sekaligus sebagai penutup lubang tanaman jagung/pupuk kimia.

Pemeliharaan:

Pemeliharaan yang dilakukan yaitu penyulaman, penyiangan dan pembumbunan, dan pengendalian hama/ penyakit. Penyulaman dilaksanakan antara

(3)

5–7 hari setelah tanam. Penyulaman tidak boleh dilakukan sampai terlambat, sebab akan menyebabkan pertumbuhan dan waktu masak tidak serempak. Penyiangan dilaksanakan saat tanaman jagung berumur 30 hari setelah tanam. Pembumbunan dilaksanakan setelah tanaman berumur 30 hari, agar tanaman kokoh dan tidak mudah rebah. Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT).

Panen:

Jagung yang siap dipanen adalah jagung yang secara fisiologis telah masak, dengan ciri-ciri antara lain; kelobot berwarna kuning kecoklatan, timbul jaringan hitam pada pangkal biji, biji mengkilap dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas.

Teknologi budidaya ternak sapi

Teknologi yang diintroduksikan yaitu perbaikan manajemen berupa pemeliharaan ternak secara terkurung dengan kandang kolektif, pemberian pakan lengkap sebanyak 3% dari bobot hidup, pemberian UMB (Urea Multinutrient Block) sebanyak 250 gram/ekor/minggu, pencegahan penyakit dengan cara pemberian obat cacing dan vitamin B compleks. Ternak sapi disediakan air minum sebanyak 40-50 liter/ekor/hari. Pakan lengkap yang diberikan pada ternak, terlebih dahulu diadaptasikan selama 3 minggu yaitu pada minggu pertama diberikan 1 kg/ ekor/hari, minggu kedua 2 kg/ekor/hari dan minggu ketiga 3 kg/ekor/hari. Pada minggu keempat pakan lengkap diberikan sekitar 3% dari bobot hidup sapi.

Teknologi fine compost

Kotoran sapi yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk dasar untuk tanaman jagung. Kotoran sapi ini difermentasi dengan menggunakan probiotik (Stardec) selama minimal 3 minggu sehingga dihasilkan fine compost. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan fine compost yaitu: kotoran sapi 1.000 kg, Stardec 2,5 kg, urea 2,5 kg, SP-36 2,5 kg, serbuk gergaji 100 kg, abu gosok 100 kg, Kalsit/dolomite 2 kg dan air. Cara

pembuatan : bahan seperti stardec, urea, SP-36 dan kalsit dicampur merata (bahan A), kotoran sapi dicampur dengan serbuk gergaji dan abu gosok secara merata (B), bahan A dan B dicampur merata dan ditambahkan air sehingga diperoleh kadar air kira-kira 60%, inkubasi selama 3 minggu, setiap minggu lakukan pembalikan, kotoran sapi yang difermentasi dilakukan di bawah naungan, atau ditutup dengan terpal/daun pisang/daun kelapa, penutupan dilakukan agar tidak kena panas dan hujan langsung.

HASIL DAN PEMBAHASAN Usahatani jagung dan ternak

Produktivitas jagung yang diperoleh dengan penggunaan pupuk kandang dari kotoran sapi sebanyak 70−80 zak/ha dapat mencapai 6,33 ton/ha jagung pipilan kering. Hasil tersebut relatif tidak berbeda dengan rata-rata hasil jagung yang ditanam petani dengan menggunakan kotoran ayam di sekitar lokasi pengkajian yakni berkisar antara 5−8,5 ton/ha dengan rataan 6,4 ton/ha. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kandang antara kotoran ayam dan kotoran sapi dengan dosis 2−3 ton/ha, produksi jagung yang dihasilkan relatif tidak berbeda jauh. Pemakaian kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah yang berdampak positif pada peningkatan hasil panen sehingga mewujudkan usaha agribisnis yang berdaya saing dan ramah lingkungan (PAMUNGKAS dan HARTATI, 2004).

Bila ditinjau dari segi biaya untuk pembelian pupuk kandang, memerlukan biaya sebesar Rp 280.000/ha, sedang kotoran ayam sebesar Rp 560.000/ha. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kotoran sapi dapat menghemat biaya produksi sebesar Rp 280.000/ha atau menghemat sekitar 7,55% dari biaya produksi. Berdasarkan luasan tanam jagung di Tanah Laut pada tahun 2004 yaitu 10.404 ha, jika digunakan pupuk dengan kotoran sapi maka dapat menghemat sekitar 2,9 milyar rupiah. Potensi kotoran sapi di Kabupaten Tanah Laut sangat besar melihat populasi ternak sejumlah 63.000 ekor (DINAS PETERNAKAN, 2004) sehingga bila diasumsikan dapat menghasilkan kotoran sebanyak 5

(4)

kg/ekor maka akan diperoleh sejumlah 315 ton/hari. Potensi pupuk yang dihasilkan selama ini belum dimanfaatkan dengan optimal, sementara pupuk kotoran ayam disamping harganya cukup mahal dan terkadang saat diperlukan tidak tersedia. Hasil ini menunjukkan bahwa kotoran sapi dapat menjadi alternatif pengganti pupuk kotoran ayam.

Berdasarkan analisis terhadap biaya dan pendapatan (Tabel 1) dari usahatani jagung diperoleh hasil bahwa pendapatan dari jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi lebih tinggi sekitar Rp 168.000 atau 5,44% dari jagung yang dipupuk kotoran ayam. Nilai R/C yang dihasilkan lebih tinggi pada jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi (1,88). Hal ini disebabkan karena adanya penekanan

pembelian pupuk dari kotoran ayam menjadi kotoran sapi (7,55%). Beberapa asumsi yang digunakan yaitu harga jagung yang berlaku Rp 1.100/kg, harga kotoran ayam Rp 7.000/zak (sampai ditempat), kotoran sapi Rp 3.500/zak.

Pada Tabel 2 bila dihitung analisis biaya dan pendapatan serta nilai R/C pada pemeliharaan ternak sapi dengan asumsi bahwa harga bibit Rp 15.000/kg, hijauan Rp 100/kg, obat-obatan Rp 5.000/ekor/3 bulan, kandang Rp 15.000/ekor/3 bulan dan upah tenaga kerja 1 HOK (Hari Orang Kerja) Rp 20.000, kotoran ternak yang dihasilkan dalam keadaan kering Rp 2.500/kg, dan harga pakan lengkap Rp 500/kg. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pemeliharaan dengan teknologi yang diintroduksikan lebih sedikit yaitu 1 orang Tabel 1. Analisis biaya dan pendapatan usahatani jagung per ha

Jumlah (Rp)

Uraian Fisik Nilai (Rp)

Perlakuan Kontrol Input Bibit jagung 15 kg 26.000 425.600 425.600 KCl 2 zak (100 kg) 140.000 280.000 280.000 Urea 6 zak (300 kg) 53.000 318.000 318.000 SP-36 2 zak (100 kg) 75.000 150.000 150.000

Pupuk kotoran ayam 80 zak 7.000 - 560.000

Pupuk kotoran sapi 80 zak 3.500 280.000 -

Kapur 10 zak (500 kg) 15.000 150.000 150.000

Herbisida DMA 3 lt 19.000 57.000 57.000

Insektisida 300 ml 50.000 50.000 50.000

Bajak 1 kali 250.000 250.000 250.000

Upah melarik 1 kali 130.000 130.000 130.000

Upah tanam 3 kantg 30.000 90.000 90.000

Upah memupuk 80 zak 1.000 80.000 80.000

Upah menyemprot 3 orang 25.000 75.000 75.000

Upah memetik 200 zak 2.250 450.000 450.000

Upah angkut 2 kali 50.000 100.000 100.000

Upah memipil 6,3 ton 30.000 190.000 -

6,4 ton 30.000 - 192.000 Pengeringan 6,3 ton 100.000 633.000 - 6,4 ton 100.000 - 640.000 Jumlah (Rp) 3.708.600 3.997.600 Output Jagung 6,33 ton 1.100 6.963.000 - 6,4 ton 1.100 - 7.084.000 Jumlah (Rp) 6.963.000 7.084.000 Pendapatan (Rp) 3.254.400 3.086.400 R/C 1,88 1,77

(5)

mampu memelihara sebanyak 10 ekor dengan alokasi waktu sekitar 0,2 jam/ekor atau 0,025 HOK/ekor sedang pemeliharaan kontrol diperlukan waktu 0,4 jam/ekor atau 0,05 HOK/ ekor. Hasil analisis diketahui bahwa nilai R/C yang diperoleh dari teknologi yang diintroduksikan/kooperator sebesar 1,19 sedang kontrol 0,99. Berdasarkan analisis diketahui bahwa pemeliharaan ternak sapi pada musim kemarau bila dilakukan secara tradisional tidak layak untuk diusahakan. Hal ini disebabkan karena pakan yang disediakan baik dari segi jumlah dan mutunya tidak mencukupi sehingga pertumbuhan terhambat. Oleh karena itu pemeliharaan ternak sapi pada musim kemarau perlu penanganan dan pengelolaan yang lebih intensif misalnya dengan penyediaan dan penyusunan pakan lengkap. Berdasarkan hasil ini diketahui bahwa teknologi yang diintroduksikan lebih baik karena menghasilkan produksi yang lebih baik dan akhirnya meningkatkan pendapatan petani. Beberapa hasil penelitian lain yang dilaporkan nilai R/C yang dihasilkan dari pemeliharaan ternak sapi berkisar antara 1,12 −1,3. Hasil pengkajian yang dilaporkan SUNANDAR et al. (1999) diketahui hasil analisis finansial usaha penggemukan selama 90 hari pemeliharaan dengan skala 12 ekor diperoleh nilai R/C 1,13 dengan pakan yang diberikan hijauan 20

kg/ekor/hari dan ampas tahu 5 kg/ekor/hari dengan jenis sapi PO.

Hasil pada kegiatan ini meskipun nilai R/C yang dihasilkan tidak terlalu tinggi, namun bila dilihat pendapatan yang dihasilkan dari usahatani ternak sapi sebesar Rp 487.000/ekor per tiga bulan. Jumlah ini cukup besar dan mempunyai prospek yang cerah apalagi didukung dengan potensi alam, limbah pertanian yang melimpah dan permintaan konsumen akan daging yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Pada bahasan di atas diketahui bahwa PBHH yang dihasilkan dari ternak kelompok kontrol yang dipelihara pada musim kemarau rata-rata hanya 0,14 kg/ekor/hari, namun pada pemeliharaan di luar musim kemarau PBHH yang dihasilkan lebih tinggi yaitu berkisar antara 0,1−0,5 kg/ekor/hari dengan rataan 0,22 kg/ekor/hari. Berdasarkan data di atas dilakukan analisis biaya dan pendapatan dari usaha ternak sapi yang dipelihara di luar musim kemarau. Hasil yang diperoleh (Tabel 3), diketahui bahwa pendapatan yang disumbangkan dari penggemukan ternak sapi sebesar Rp. 79.210/ekor per tiga bulan dengan nilai R/C yang diperoleh sebesar 1,03. Pemeliharaan ternak di luar musim kemarau masih layak untuk diusahakan karena nilai R/C yang dihasilkan di atas 1.

Tabel 2. Analisis biaya dan pendapatan usaha pemeliharaan ternak sapi di lahan kering pada musim kemarau selama 90 hari, skala 20 ekor, Desa Sumber Mulia, Kec. Pelaihari, Kab. Tanah Laut

Kooperator Kontrol Uraian

Fisik Nilai Fisik Nilai

Input Bibit sapi Pakan lengkap Hijauan UMB Obat-obatan Tenaga kerja Kandang Jumlah 152 kg 3,52 kg 2 kg 0,038 kg Rp 5.000/ekor 0,025HOK/ekor Rp 2.790/ekor 45.600.000 3.168.000 360.000 68.400 100.000 900.000 55.800 50.252.200 151 kg - 15kg - Rp 5.000/ekor 0,05 HOK/ekor Rp 2.790/ekor 45.300.000 - 2.700.000 - 100.000 1.800.000 55.800 49.955.800 Output Bibit sapi Kotoran Jumlah 197 kg 300 karung 59.100.000 900.000 60.000.000 163,6 kg 10 karung 49.080.000 300.000 49.380.000 Pendapatan 9.747.800 -575.800 R/C 1,19 0,99

(6)

Peningkatan pendapatan melalui sistem integrasi

Pada Tabel 4 diketahui bahwa sistem integrasi dapat meningkatkan pendapatan yang diperoleh petani. Kontribusi pendapatan dari pemeliharaan ternak sapi dalam sistem integrasi jagung dan ternak yang dilakukan pada musim kemarau sebesar 49,96%. Peningkatan pendapatan yang diperoleh petani dari sistem non integrasi ke sistem integrasi sebesar Rp 10.827,600/musim atau 124,69%. Selain pendapatan, nilai R/C yang dihasilkan meningkat dari 1,14 menjadi 1,32 atau sebesar

15,79%. Hal ini sesuai dengan pernyataan KUSNADI dan PRAWIRADIPUTRA (1993) bahwa integrasi ternak dan tanaman dapat meningkatkan pendapatan antara 14,9−129,4%. Hal ini menunjukkan bahwa sistem integrasi layak untuk diusahakan karena dapat meningkatkan pendapatan petani, manfaat lainnya yaitu menekan biaya produksi dan berkesinambungan (LEISA: Low External Input Sustainable Agriculture).

Menurut PAMUNGKAS dan HARTATI (2004), sistem integrasi ternak dalam usahatani merupakan salah satu upaya untuk mencapai optimalisasi produksi pertanian. Upaya ini Tabel 3. Analisis biaya dan pendapatan usaha ternak sapi kelompok kontrol yang dipelihara di luar musim

kemarau selama 90 hari dengan skala 20 ekor

Uraian Fisik Nilai (Rp) Jumlah (Rp)

Input Bibit sapi 151 kg x 20 ekor 15.000 45.300.000

Hijauan 15 kg/ekor/hari 100 2.700.000

Obat-obatan 20 ekor 5.000 100.000

Tenaga Kerja 90 HOK 20.000 1.800.000

Kandang 20 ekor 2.790 55.800

Jumlah 49.955.800

Output

Bibit sapi 170,8 kg x 20 ekor 15.000 51.240.000

Kotoran sapi 100 zak 3.000 300.000

Jumlah 51.540.000

Pendapatan 1.584.200

R/C 1,03

Tabel 4. Analisis biaya dan pendapatan dari sistem integrasi dan non integrasi di lahan kering dengan luas tanam jagung 3 ha dan 20 ekor ternak sapi per musim

Integrasi Kontrol Uraian Nilai (Rp) % Nilai (Rp) % Input Jagung 11.125.800 18,13 11.992.800 19,36 Sapi 50.252.200 81,87 49.955.800 80,64 Jumlah 61.378.000 100,00 61.948.600 100,00 Output Jagung 20.889.000 25,82 21.252.000 30,09 Sapi 60.000.000 74,18 49.380.000 69,91 Jumlah 80.889.000 100,00 70.632.000 100,00 Pendapatan Jagung 9.763.200 50,04 9.259.200 106,51 Sapi 9.747.800 49,96 -575.800 -6,51 Jumlah 19.511.000 100,00 8.683.400 100,00 R/C 1,32 1,14

(7)

telah banyak dilakukan yang secara signifikan mampu memberikan nilai tambah baik pada hasil tani maupun terhadap produktivitas ternak. Usaha ternak sapi terpadu dapat menekan biaya produksi, terutama terhadap penyediaan hijauan pakan, sebagai sumber tenaga kerja serta dapat memberikan kontribusi dalam penghematan pembelian pupuk.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari pengkajian ini adalah: 1. Kontribusi pendapatan yang dihasilkan dari

ternak sapi dengan sistem integrasi sebesar 49,96%.

2. Nilai R/C yang dihasilkan dari sistem integrasi antara jagung dan ternak sapi sebesar 1,32 sedang pada sistem non integrasi sebesar 1,14.

3. Sistem integrasi dapat meningkatkan pendapatan sebesar 124,69% per musim dibanding cara lama/kontrol/non integrasi dengan skala luas tanam 3 ha dan jumlah sapi 20 ekor.

DAFTAR PUSTAKA

AMALI, N., A. DARMAWAN, SUMANTO, A. SUBHAN,

PAGIYANTO dan S. NURAWALIYAH. 2002. Pengkajian adaptif sapi potong dalam sistem usahatani tanaman pangan di lahan kering Kalsel. BPTP Kalimantan Selatan. Banjarbaru. AMALI, N., E.S. ROHAENI, A. DARMAWAN,

SUMANTO, A. SUBHAN, PAGIYANTO dan S.

NURAWALIYAH. 2003. Pengkajian adaptif sapi potong dalam sistem usahatani tanaman pangan di lahan kering Kalsel. BPTP Kalimantan Selatan. Banjarbaru.

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

PERTANIAN. 2000. Integrasi Sapi di lahan Pertanian (Crop Livestock Production Systems). Jakarta.

DINAS PETERNAKAN PROPINSI KALIMANTAN

SELATAN. 2004. Buku Saku Peternakan. Dinas

Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan. Banjarbaru.

DIWYANTO, K. dan B. HARYANTO. 2003. Integrasi

Ternak dengan Usaha Tanaman Pangan. Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi di BPTP Kalimantan Selatan. 8-9 Desember 2003 di Banjarbaru.

KUSNADI, U. dan B.R. PRAWIRADIPUTRA. 1993.

Produktivitas ternak domba dalam sistem usahatani konservasi lahan kering di DAS Citanduy. Risalah lokakarya penelitian dan pengembangan sistem usahatani konservasi di DAS Citanduy, Linggarjati, 9–11 Agustus. 1988. hlm. 205-293.

NAJIB, M., E.S. ROHAENI dan TARMUDJI. 1997. Peranan ternak sapi dalam sistem usahatani tanaman pangan di lahan kering. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 18–19 Nopember 1997. Jilid II. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 759–766.

PAMUNGKAS, D. dan HARTATI. 2004. Peranan ternak

dalam kesinambungan sistem usaha pertanian. Pros. Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman Ternak. Denpasar, 20–22 Juli 2004. Puslitbang Peternakan, BPTP Bali dan CASREN. hlm. 304−312.

SUNANDAR, N., E. SUJITNO dan N.S. DIMYATI. 1999. Keragaan usaha penggemukan sapi Peranakan Onggol jantan di pondok Pesantren Darunnajah Desa Argapura Kecamamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1−2 Desember 1998. Jilid II. hlm. 627−630.

DISKUSI Pertanyaan:

1. Apa keuntungan lainnya supaya usaha ini lebih menarik? 2. Apakah hanya tongkol jagung saja yang dimanfaatkan?

3. 20 ekor/3 ha, apa sudah merupakan jumlah yang optimal, kira-kira berapa? 4. Jumlah sapi yang dapat dipelihara agar tidak mengganggu kegiatan lainnya?

(8)

5. 20 ekor sapi/3 ha apa sudah cukup efisien hasilnya bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan?

6. Analisis apa yang digunakan dalam dasar penetapan budidaya ini? 7. Apa yang dimaksud dengan lahan kering?

8. 20 ekor sapi/3 ha untuk berapa peternak?

9. Satu peternak mampu mengolah berapa ha jagung dan berapa ekor sapi? 10. Apa sarannya untuk meningkatkan R/C?

11. Mengapa kotoran sapi tidak masuk dalam hitungan?

12. Berapa banyak pupuk yang dihasilkan dari seekor sapi dan berapa kebutuhan pupuk untuk 1 ha lahan?

13. Mohon dijelaskan, mengapa dalam kegiatan ini tenaga kerja lebih hemat?

Jawaban:

1. Keuntungan yang diperoleh:

a. Menekan biaya pembelian pupuk sebesar Rp. 280.000/ha (7,55%) (dari kotoran ayam ke kotoran sapi). Penghematan total sebesar 2,9 M/tahun dengan asumsi luas tanaman jagung di Kabupaten Tanah Laut 10,404 ha dan dosis pupuk 3 ton/ha.

b. Menekan biaya tenaga kerja (sekitar 50%).

c. Membuka cabang usaha baru yang menjual pakan lengkap.

2. Yang dimanfaatkan hanya tongkol jagung saja dalam kajian ini karena limbah lain seperti daun dan batang kering di pohon sulit didapat, hal ini berkaitan dengan kebiasaan petani yang memanen jagung kering di pohon karena hemat biaya penjemuran, tenaga kerja dan gudang.

3. Satu ha jagung menghasilkan 1 ton tongkol jagung, bila diberikan 2 kg tongkol jagung per hari maka dapat menampung ternak sebanyak 5-6 ekor sapi selama 3 bulan.

4. Dengan luas tanam jagung 3 ha dan 20 ekor sapi, maka pertanian dapat berlanjut (sustainable) Yang menjadi dasar karena kegiatan ini adalah integrasi tanaman jagung dan ternak sapi maka teknologi yang diintrodukisikan yang terkait dengan budidaya jagung, budidaya sapi dan satu teknologi yang mengaitkan antara 2 komoditi yaitu pengolahan kotoran sapi menjadi fine compost untuk digunakan sebagai pupuk jagung.

5. Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem yang miskin hara, defisit akan air dan relatif rentan erosi

6. Dalam kajian ini 3 ha dan 20 ekor sapi dikelola oleh 1 kelompok ternak yaitu Rumpun Pemuda Tani, tidak atas nama pribadi peternak.

7. Kelompok tani mampu mengolah lahan antara 1-5 ha (rata-rata 1,5 ha/KK) dan ternak sapi antara 3-10 ekor (rata-rata 8 ekor).

(9)

8. Saran untuk meningkatkan R/C dari ternak sapi, terutama dengan cara perbaikan dari segi manajemen, bibit dan pakan. Khusus untuk pakan adalah dengan memanfaatkan limbah pertanian secara optimal melalui pengolahan dan pengawetan.

9. Kotoran sapi sudah masuk dalam hitungan output dan sudah tercantum di dalam makalah lengkap.

10. Dari hasil kajian diketahui bahwa kotoran sapi sebanyak 5 kg/ekor/hari, dalam bentuk kering, siap untuk difermentasikan. Kebutuhan pupuk untuk lahan jagung khusus di Kabupaten Tanah Laut antara 2,5-5 ton/ha. Dalam kajian ini dosis pupuk sapi yang digunakan 2,5 ton/ha (hasil fermentasi/fine compost).

11. Tenaga kerja khusus untuk sistem integrasi lebih hemat karena ternak sapi dikandangkan, jadi waktu petani yang menggembala, mencari rumput/pakan, mencari lokasi diperolehnya rumput tidak diperlukan lagi. Ternak sapi dikandangkan dan diberi pakan lengkap yang dibuat secara kelompok.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :