PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

16  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Perusahaan pada umumnya mempunyai keinginan untuk tumbuh dan berkembang. Keadaan perekonomian nasional yang tidak menentu membuat setiap perusahaan sebagai roda penggerak harus mampu mengelolanya sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien dalam berbagai kondisi. Perkembangan perusahaan dari tahun ke tahun selalu mengalami perkembangan yang pasang surut, hal tersebut diikuti oleh adanya persaingan yang ketat antar perusahaan demi tercapainya tujuan perusahaan. Persaingan antar perusahaan menjadi semakin ketat terutama setelah diterapkannya sistem perdagangan bebas dalam era globalisasi, termasuk dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam lingkungannya.

Dalam menghadapi kondisi perekonomian yang terjadi dan perusahaan dapat memasuki pasar global, maka seluruh instrumen ekonomi yang dimiliki oleh perusahaan harus mempunyai daya saing yang kuat serta memiliki program dan strategi yang dapat menghadapi pesaing-pesaing yang ada sehingga mampu mencapai tujuannya, dalam hal ini tujuan perusahaan yaitu kemakmuran pemegang saham yang dapat dilihat melalui meningkatnya nilai perusahaan yang tercermin dari harga sahamnya. Maksimalisasi kemakmuran pemegang saham melalui meningkatnya nilai perusahaan berkaitan dengan tujuan jangka panjang perusahaan. Maka setiap perusahaan tidak boleh mengabaikan tujuan jangka panjangnya yaitu meningkatkan nilai perusahaan melalui meningkatnya harga saham dan hanya meningkatkan laba jangka pendek saja. Setiap perusahaan harus dapat menciptakan berbagai instrument ekonomi yang kuat agar dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hal tersebut tidak lepas dari tersedianya modal, sumber modal yang dibutuhkan perusahaan dapat diperoleh dengan berbagai cara. Salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperolehnya adalah melalui pasar modal.

(2)

Likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Masalah likuiditas berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi. Menurut Mekaryanawati dan Misbachul Ulum ; 2009, Likuiditas perusahaan dapat diketahui dari neraca dengan membandingkan aktiva lancar (current assets) dengan utang lancar (current liabilities), hasil perbandingannya disebut current ratio . Tingkat likuiditas antar perusahaan berbeda-beda. Investor menilai suatu perusahaan salah satunya dengan menggunakan rasio likuiditas yang angka-angkanya dapat diperoleh melalui laporan neraca perusahaan. Tingkat likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi nilai tingkat likuiditasnya maka perusahaan akan semakin diminati oleh investor sehingga akan meningkatkan tingkat keuntungan perusahaan tersebut.

Dalam jangka panjang kinerja keuangan perusahaan dan pergerakan saham umumnya bergerak searah, dalam hal ini kinerja perusahaan diwakili return on investment. ROI merupakan laba operasi bersih terhadap total aktiva. Investor menggunakan ROI untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktivanya untuk menghasilkan laba dari investasi. Analisa ROI merupakan salah satu analisa yang digunakan investor dalam menentukan harga saham suatu perusahaan. Semakin tinggi tingkat pengembalian atas investasi yang disebabkan karena margin laba atas penjualan meningkat akan menyebabkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan meningkat, maka semakin besar pula kemungkinan harga saham naik. ROI banyak digunakan dalam bisnis untuk menganalisis atau mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, hal ini berkaitan erat dengan tingkat keuntungan atau pendapatan yang diharapkan dari kepemilikan saham. Apabila perusahaan dapat menunjukkan tingkat profitabilitas yang baik maka akan semakin banyak investor yang tertarik untuk membeli saham. Apabila tingkat profitabilitas suatu perusahaan tinggi

(3)

maka semakin besar pula dividen yang diberikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham.

Dalam pencapaian tujuan utama perusahaan manajer keuangan perlu melakukan kebijakan dividen. Masalah dalam kebijakan dividen dan pembayaran dividen mempunyai dampak yang sangat penting bagi para investor maupun bagi perusahaan yang akan membayarkan dividennya. Pada umumnya para investor mempunyai tujuan meningkatkan kesejahteraannya yaitu dengan mengharapkan return dalam bentuk dividen maupun capital gain. Di lain pihak, perusahaan juga mengharapkan adanya pertumbuhan secara terus menerus untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, yang sekaligus juga harus memberikan kesejahteraan yang lebih besar kepada para pemegang sahamnya. Tentunya hal ini akan menjadi unik karena kebijakan dividen adalah sangat penting untuk memenuhi harapan para pemegang saham terhadap dividen. Dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham tergantung kepada kebijakan masing-masing perusahaan sehingga memerlukan pertimbangan yang lebih serius dari menajemen perusahaan. Kebijakan dividen atau keputusan dividen pada hakikatnya adalah menentukan porsi keuntungan yang akan dibagikan kepada para pemegang saham yang akan ditahan sebagai bagian dari laba ditahan.

Dengan mengetahui kebijakan dividen yang ditetapkan oleh perusahaan maka investor dapat mempertimbangkan untuk membeli saham perusahaan yang bersangkutan. Semakin besar dividen yang dibagikan kepada pemegang saham maka pemegang saham akan semakin tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan karena pemegang saham mengartikannya sebagai sinyal bahwa kinerja perusahaan semakin membaik. Oleh karena itu manajer keuangan sebagai pengelola perusahaan harus dapat menetapkan kebijakan dividen secara tepat dalam kebijakan yang optimal agar dapat memaksimumkan nilai perusahaan yang tercermin dalam harga saham guna memakmurkan pemegang saham. Kebijakan yang optimal berusaha menetapkan keseimbangan antara dividen saat ini dan

(4)

pertumbuhan di masa mendatang yang memaksimumkan harga saham perusahaan.

Pada penelitian ini penulis memilih salah satu industri perusahaan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu industri food and beverages. Pemilihan industri food and beverages karena sektor industri ini lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh perubahan kondisi perekonomian. Walaupun terjadi krisis ekonomi, kelancaran produksi industri food and beverages masih terjamin karena kondisi apapun konsumen tetap membutuhkan produk makanan dan minuman. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan ingin memasuki sektor ini, sehingga persaingan makin tajam.

Pada tanggal 26 September 2007 harga saham DAVO cukup stabil yaitu pada kisaran harga Rp.245, meskipun pada bulan agustus mencapai titik terendah yaitu Rp.175 dalam 1 tahun terakhir. Kestabilan ini terjadi karena adanya sinyal positif mengenai prospek kedepan DAVO. Tanggal 21 November 2007 harga saham DAVO melemah hingga pada level Rp.215, meskipun demikian harga saham tersebut diyakini oleh investor akan terbawa ke level Rp.275. Tanggal 25 Januari 2008 harga saham DAVO berada pada harga Rp.300 yang merupakan harga yang berada dilevel tertinggi sebelum bulan februari 2008. Hal tersebut dipicu oleh kenaikan laba kotor yang cukup signifikan oleh perusahaan tersebut sebesar 88,1% seiring dengan pertumbuhan penjualan hasil olahan kakao. Tanggal 14 April 2008 harga saham PT Davomas Abadi melemah sebesar 1,96% ditutup pada level harga Rp.250 per lembar, karena dipengaruhi oleh penurunan harga kakao di pasar komoditas dan kondisi tekanan pasar akibat dari melemahnya pasar regional. Saham DAVO sempat mengalami penurunan ke level Rp.240 pada tanggal 21, 22, 23 April akan tetapi pada tanggal 25 menguat kembali pada harga Rp.250 naik sekitar 4,17% yang disebabkan naiknya harga komoditas kakao. Harga saham DAVO mencapai titik terendah terjadi pada 16 Agustus 2007 melemah ke level Rp.175, disebabkan karena laporan keuangan tengah tahunan menunjukkan penurunan margin laba sekitar 20% dibanding dengan tahun 2006 dalam periode yang sama. Laporan keuangan

(5)

Davomas perseroan pada semester pertama 2007 mencatat laba bersih Rp 103,73 miliar dibanding semester yang sama tahun 2006 Rp.128,89 miliar. Penurunan laba bersih ini terjadi terutama akibat tidak adanya pendapatan luar biasa yang pada tahun lalu mengangkat laba bersih perseroan. Disamping itu perseroan harus menanggung beban lain-lain bersih sebesar Rp.79,67 miliar. Harga tertinggi terjadi pada bulan 4 Februari 2008 disebabkan tingginya harga komoditas di pasar global, PT Davomas mampu memberikan return tertinggi dibanding 32 saham blue chips segi capital gain yaitu sebesar 550% dari 32 saham serta sentimen positif atas masuknya investor asing dalam kepemilikan saham (Andysept.blogspot.com,2008).

Berdasarkan uraian dan fenomena di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh variable-variabel yang mempengaruhi nilai perusahaan (harga saham) pada industri food and beverages periode 2004-2008. Variabel-variabel tersebut adalah tingkat likuiditas, ROI, dan kebijakan dividen. Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam sebuah skripsi yang berjudul :

PENGARUH TINGKAT LIKUIDITAS, ROI, DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA INDUSTRI FOOD AND BEVERAGES YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2004-2008.

1.2. Identifikasi Masalah

Mengacu kepada hal-hal di atas yang melatarbelakangi penelitian ini, maka penulis mengidentifikasi permasalahan yang ada pada penelitian kali ini kepada hal-hal sebagai berikut:

1. Bagaimana perkembangan tingkat likuiditas perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008?

2. Bagaimana perkembangan ROI perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008?

3. Bagaimana perkembangan kebijakan dividen perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004- 2008 ?

(6)

4. Bagaimana perkembangan nilai perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004- 2008?

5. Bagaimana pengaruh tingkat likuiditas, ROI, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004- 2008 secara simultan dan parsial?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, penulis bermaksud untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun skripsi yang merupakan salah satu prasyarat yang harus dipenuhi oleh penulis dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi program studi Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama Bandung.

Sesuai dengan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis perkembangan tingkat likuiditas perusahaan industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008.

2. Untuk menganalisis perkembangan ROI perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008.

3. Untuk menganalisis perkembangan kebijakan dividen perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004- 2008.

4. Untuk menganalisis perkembangan nilai perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004- 2008.

5. Untuk menganalisis pengaruh tingkat likuiditas, ROI, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan pada industri Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2004- 2008 secara simultan dan parsial.

(7)

1.4. Kegunaan Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, penulis berharap agar hasil penelitian yang dilakukan dapat berguna bagi pihak-pihak sebagai berikut :

1. Emiten

Penelitian ini diharapkan akan dapat bermanfaat bagi pihak perusahaan sebagai bahan masukan dan pertimbangan yang berarti dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

2. Penulis

Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman di mana penulis dapat memperoleh gambaran nyata serta dapat menerapkan pengetahuan secara teoritis yang diperoleh di bangku kuliah.

3. Civitas akademik

Diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dibidang manajemen keuangan, serta menjadi bahan referensi bagi penelitian-penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan tingkat likuiditas, ROI, dan kebijakan dividen.

1.5. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Suatu perusahaan agar aktivitasnya dapat berjalan dengan baik tentunya perusahaan akan membutuhkan dana. Kebutuhan dana perusahaan dapat diperoleh salah satunya melalui pasar modal. Pasar modal menurut UU RI No. 18 tahun 1995 merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.Bursa mempertemukan penawaran dan permintaan dana jangka panjang dalam bentuk efek. Adapun tujuan pasar modal di Indonesia adalah mengerahkan dana dari masyarakat agar dapat disalurkan di sektor-sektor produktif dan ikut mewujudkan pemerataan pendapatan melalui kepemilikan berbagai instrumen pasar modal.

(8)

Saham didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud dari saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang bersangkutan. Bagi perusahaaan bersangkutan yang diterima dari hasil penjualan sahamnya akan tetap tertanam di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya meskipun bagi pemegang saham sendiri itu bukanlah merupakan penanaman yang permanen karena setiap waktu pemegang saham dapat menjualnya (Sundjaja dan Berlian 2003 : 436).

Investasi berupa saham merupakan bentuk investasi yang menarik bagi perusahaan, namun harus disadari bahwa investasi tersebut juga mengandung risiko yang besar. Bahkan investor dapat kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan dalam bentuk saham apabila emiten saham yang dibelinya atau dimilikinya mengalami kebangkrutan. Oleh karena itu, pemilihan saham suatu perusahaan dan informasi mengenai perubahan harga saham sangat penting untuk diketahui investor sebelum memutuskan investasi di pasar modal. Agar pihak-pihak yang bersangkutan khususnya investor dapat memperoleh informasi yang memadai dan akurat maka perlu diadakan interpretasi terhadap laporan keuangan perusahaan.

Harga saham merupakan fair price yang dapat dijadikan sebagai proksi nilai perusahaan (Hasnawati, 2005). Harga saham dalam penelitian ini merupakan harga pasar saham dalam pasar sekunder. Pasar sekunder adalah pasar untuk memperdagangkan saham yang telah beredar. Harga saham pada pasar sekunder ditentukan oleh para investor melalui pertemuan dan penawaran. Harga pasar saham memiliki nilai yang berbeda-beda untuk setiap waktu

Laporan keuangan merupakan suatu media yang dapat menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Laporan keuangan menurut Sundjaja dan Barlian (2002 : 68) adalah :

(9)

Laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data-data atau aktivitas tersebut.

Namun dalam menginterprestasikan laporan keuangan dibutuhkan suatu tindak lanjut analisa agar laporan keuangan tersebut dapat menjadi informasi yang lebih tepat dan akurat. Dengan adanya analisis laporan keuangan, pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan dapat menjadikan laporan keuangan tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan bermanfaat bagi perusahaan atau pemegang saham karena dapat memberikan informasi yang penting dalam memprediksi perubahaan harga saham.

Prastowo dan Juliaty (2002 : 52), menjelaskan bahwa :

Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membedah laporan keuangan ke dalam unsur-unsurnya, menelaah masing-masing unsur tersebut dan menelaah hubungan di antara unsur-unsur tersebut dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik dan tepat atas laporan keuangan itu sendiri.

Analisis laporan keuangan seringkali memasuki aktivitas untuk membuat berbagai macam transformasi atas laporan keuangan. Teknik analisis tersebut memungkinkan untuk dilakukannya identifikasi, pengkajian dan perangkuman hubungan-hubungan yang signifikan dari data keuangan perusahaan teknik yang biasa digunakan dalam hal seperti ini adalah analisis rasio keuangan.

Menurut Susan Irawati ( 2006 : 22) yang dimaksud rasio keuangan : Rasio keuangan merupakan suatu teknik analisis dalam bidang manajemen keuangan yang dimanfaatkan sebagai alat ukur kondisi-kondisi keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu, ataupun hasil-hasil usaha dari suatu perusahaan pada satu periode tertentu dengan jalan membandingkan 2 buah variabel yang diambil dari laporan keuangan perusahaan, baik daftar neraca maupun rugi-laba.

Manajemen keuangan membicarakan pengelolaan keuangan, yang pada dasarnya dapat dilakukan dengan baik oleh invidu, perusahaan maupun pemerintah.

(10)

Menurut Darsono (2006 : 1) menerangkan bahwa :

Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh sumber modal yang semurah- murahnya dan menggunakannya seefektif, seefisien, dan seproduktif mungkin untuk memperoleh laba.

Di dalam suatu perusahaan seorang manajer keuangan sangat berperan penting dalam proses pengambilan keputusan. Manajer keuangan memiliki tiga keputusan penting dalam melaksanakan fungsi manajemen keuangan. Fungsi manajemen keuangan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan kebijakan pembagian dividen. Ketiga fungsi manajemen keuangan tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya

(Wright & Feris : 1997 dalam Hasnawati, 2005).

Seorang manajer keuangan dalam kaitannya dengan pelaksanaan fungsi manajemen keuangan di dalam suatu perusahaan juga harus memperhatikan keadaan atau tingkat likuiditas perusahaannya.

Martono dan D. Agus Harjito (2002:5) menyatakan bahwa :

Rasio Likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang jangka pendeknya (termasuk bagian dari hutang jangka panjang yang jatuh temponya dalam waktu satu tahun lagi) dari aktiva lancarnya.

Current ratio = s Liabilitie Current assets Current . .

Current ratio mengukur seberapa jauh aktiva lancar perusahaan bisa dipakai untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Aktiva lancar terdiri atas : kas, surat berharga, piutang dagang dan persediaan. Hutang lancar terdiri atas : hutang dagang, hutang wesel jangka pendek, dan hutang jangka panjang yang sudah saatnya jatuh tempo pada tahun yang bersangkutan, hutang gaji, hutang bunga dan hutang-hutang lain yang jatuh tempo pada tahun yang bersangkutan. Terdapat tiga rasio membandingkan kas dengan utang lancar untuk mengukur kewajiban perusahaan (cash obligations): current ratio, cash ratio, cash flow from operations ratio.

Likuiditas perusahaan dipertimbangkan sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini karena rasio likuiditas bertujuan menaksir kemampuan keuangan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dan

(11)

komitmen pembayaran keuangannya. Semakin tinggi angka rasio likuiditas akan semakin baik bagi para investor. Perususahaan yang memiliki rasio likuiditas tinggi akan diminati oleh para investor dan cenderung akan berimbas pada harga saham yang cenderung akan naik karena tingginya permintaan (Mekaryanawati dan Misbachul Ulum, 2009).

Perusahaan tentu tidak akan terlepas dari tujuan mencapai keuntungan yang besar. Kinerja keuangan perusahaan dapat dianalisis melalui rasio-rasio yang mengukur dan menilai kinerja perusahaan terutama rasio yang menunjukkan efektivitas pengelolaan investasi oleh perusahaan dengan kemampuannya dalam mengelola laba. Rasio yang digunakan untuk mengukurnya ialah ROI.

Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2004 : 74) :

ROI (Return On Investment) menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa dipoles dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Modal Rata -Rata Bersih Laba ROI

Dalam jurnalnya Haryanto dan Toto Sugiharto S. (2003) mengatakan bahwa profitabilitas perusahaan adalah salah satu cara untuk menilai secara tepat sejauh mana tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas investasinya. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan di masa mendatang maka banyak investor yang akan menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut. Dan hal itu tentu saja mendorong harga saham naik menjadi tinggi. Karena harga saham merupakan refleksi dari nilai perusahaan yang bersangkutan, maka dengan harga saham yang naik dapat dikatakan nilai perusahaan tersebut pun tinggi.

Kebijakan dividen mempunyai dampak yang sangat penting bagi para investor maupun perusahaan yang akan membayarkan dividennya. Pada umumnya para investor mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan yaitu dengan mengharapkan return dalam bentuk dividen maupun capital gain. Di lain pihak, perusahaan juga mengharapkan adanya

(12)

pertumbuhan secara terus-menerus untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya yang juga sekaligus mensejahterakan para pemegang sahamnya. Kebijakan dividen tersebut menimbulkan dua akibat yang bertentangan. Oleh karena itu penetapan besarnya dividen yang dibagikan kepada pemegang saham akan menjadi sangat penting dan merupakan tugas manajer keuangan untuk mengambil kebijakan dividen yang optimal. Artinya manajer keuangan harus mampu menjaga keseimbangan di antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang yang memaksimumkan harga saham sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Kebijakan dividen menurut Martono dan Harjito (2007: 253) :

Kebijakan dividen (dividend Policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.

Dividen merupakan sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, karenanya dividen akan dibagikan jika perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividend payout ratio. Sartono (2001 : 73) menjelaskan bahwa :

Dividend Payout Ratio (DPR) adalah persentase laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen atau rasio antara laba yang dibayarakan dalam bentuk dividen dengan total laba yang tersedia bagi pemegang saham.

Dari pengertian tersebut maka Dividend Payout Ratio (DPR) dapat diformulasikan sebagai berikut :

Dividend Payout Ratio (DPR) ditentukan oleh perusahaan dalam membayarkan dividen kepada para pemegang saham setiap tahun, pembayaran dilakukan berdasarkan besar kecilnya laba bersih setelah pajak. Rasio ini menunjukan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham biasa perusahaan yang berupa dividen kas. Jumlah dividen yang dibayarkan akan mempengaruhi kesejahteraan para pemegang saham.

(13)

Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Nilai perusahaan dapat diukur dari tinggi rendahnya harga saham di perusahaan yang bersangkutan. Semakin tinggi harga saham, maka semakin tinggi juga kemakmuran pemegang saham. Martono dan Harjito (2002 : 13), mengatakan bahwa :

Nilai perusahaan (Value of Firm) berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan kemakmuran pemegang saham (nilai saham). Memaksimumkan nilai perusahaan disebut juga sebagai memaksimumkan kemakmuran pemegang saham (Stockholder wealth maximization) yang dapat diartikan juga sebagai memaksimumkan harga saham biasa dari perusahaan (maximizing the price of the firm s common stock).

Kinerja badan usaha akan direspon oleh investor di pasar modal yang akhirnya akan mempengaruhi harga saham. Harga saham yang terbentuk ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran saham tersebut di pasar.

Penelitian (I G. K. A. ULUPUI) hasil penelitian mengungkapkan bahwa variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemodal akan memperoleh return yang lebih tinggi jika kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin tinggi. Dugaan mengenai ini adalah karena setelah krisis ekonomi investor mulai memperhatikan manajemen kas, piutang, dan persediaan perusahaan sebelum mengambil keputusan berinvestasi di pasar modal. Menurut (Annas Misbachul Munir, 2007) memberikan bukti bahwa secara parsial terdapat

pengaruh yang signifikan antara ROI terhadap nilai perusahaan.

Menurut penelitian (Nurmala, 2006) hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Pengaruh kebijakan dividen tersebut sangat kecil sekali. Pembayaran atas dividen tidak perlu dilakukan, karena tidak akan berpengaruh terhadap kemakmuran para pemegang saham dan juga tidak akan menaikan harga saham suatu perusahaan. Dengan demikian, perusahaan harus mempunyai rencana investasi yang menguntungkan untuk dilaksanakan sepanjang tahun

(14)

Berdasarkan uraian di atas, maka kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.1

Bagan Kerangka Pemikiran

Sumber : Penulis

ROI

Current Ratio

Pasar Modal

Penilaian Saham Melalui Fungsi Keuangan Kebijakan Dividen Tingkat Likuiditas Laporan Keuangan Industri Food and Beverages

Keterangan : = Diteliti = Tidak Diteliti

Dividen Payout Ratio Nilai Perusahaan (Harga Saham)

(15)

1.6. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hubungan hal tersebut. Dalam penelitian ini hipotesis yang akan diuji adalah ada atau tidaknya hubungan yang ditimbulkan oleh variabel independent (variabel X) terdapat variabel dependent (variabel Y) baik secara langsung maupun tidak langsung, serta untuk mengetahui kuat atau tidaknya hubungan antara kedua variabel tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis dari penelitian ini adalah :

a. Tingkat likuiditas, ROI, dan Kebijakan Dividen secara simultan berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada Industri Food and Beverages yang go public di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008. b. Tingkat Likuiditas, ROI, dan Kebijakan Dividen secara parsial

berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada Industri Food and Beverages yang go public di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008.

1.6. Metodologi Penelitian

Penulis menganalisis laporan keuangan perusahaan pada Industri Food and Beverages yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008 dengan terlebih dahulu melakukan pengumpulan data dan fenomena-fenomena yang terkait dengan penelitian melalui studi pustaka dan studi litelatur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif - verifikatif.

Menurut M. Nazir (2003: 54):

Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

Sedangkan metode verifikatif (inferensi) menurut Rasdihan Rasyad (2003: 6):

(16)

Metode yang digunakan untuk melakukan perkiraan (estimasi) dan pengujian hipotesis.

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda, dan analisis korelasi. Kemudian metode analisis statistik yang digunakan adalah metode analisis statistik secara bersamaan (simultan) yaitu uji hipotesis yang dilakukan dengan cara uji statistik F yang bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh variabel X1, X2, X3 secara simultan terhadap

variabel Y . Sedangkan analisis statisik secara sendiri (parsial) yaitu uji hipotesis yang dilakukan dengan cara uji statistik t dari masing-masing variabel.

1.7. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini mengambil sampel pada perusahaan-perusahaan industri Food and Beverages yang telah Go Public di Bursa Efek Indonesia. Pengambilan sumber data diperoleh dari internet melalui situs

www.idx.co.id, Indonesian Capital Market Directory (ICMD), dan Pojok Bursa Universitas Widyatama yang berlokasi di jalan Cikutra-Sekejati, Bandung. Adapun waktu penelitian dilakukan mulai bulan Maret 2010 sampai dengan selesai.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di