Peran Serta komite sekolah dalam manajemen sekolah di SMA Swasta dan negeri sekotamadya Yogyakarta - USD Repository

105 

Teks penuh

(1)

PERAN SERTA KOMITE SEKOLAH

DALAM MANAJEMEN SEKOLAH

DI SMA SWASTA DAN NEGERI SEKOTAMADYA

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Disusun oleh:

VERONICA KRISNIATI

031324005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PERAN SERTA KOMITE SEKOLAH

DALAM MANAJEMEN SEKOLAH

DI SMA SWASTA DAN NEGERI SEKOTAMADYA

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Disusun oleh:

VERONICA KRISNIATI

031324005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 15 Januari 2008

Penulis

Veronica Krisniati

(6)
(7)
(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : VERONICA KRISNIATI

Nomor Mahasiswa : 031324005

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : PERAN SERTA KOMITE SEKOLAH DALAM MANAJEMEN SEKOLAH DI SMA SWASTA DAN NEGERI SEKOTAMADYA YOGYAKARTA

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupaun memberikan royalty kepada saya selamA tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyatan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 15 Januari 2008

Yang menyatakan

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus yang telah

mencurahkan rahmat, kasih, dan segala mukjizat sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar Sarjana Pendid ikan Program Studi Pendidikan Ekonomi. Skripsi

ini berjudul “Peran Serta Komite Sekolah Dalam Manajemen Sekolah di SMA Negeri

dan Swasta Sekotamadya Yogyakarta”.

Dalam penyusunan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan

bantuan baik material maupun spiritual yang sangat berarti, maka penulis sangat

mengucapkan terima kasih pada:

1. Bapak Drs. T. Sarkim., M. E., Ph. D selaku dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M. Si selaku ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M. Si selaku ketua Program Studi Pendidikan

Ekomoni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M. Si selaku dosen Pembimbing I yang telah

(10)

ix

5. Bapak Drs. P. A. Rubiyanto selaku dosen Pembimbing II yang telah

membimbing proses penulisan skripsi ini.

6. Bapak atau Ibu Kepala Sekolah di SMA Negeri dan Swasta sekotamadya

Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian di sekolahnya.

7. Bapak atau Ibu Pengurus dan Anggota Komite Sekolah di SMA Negeri dan

Swasta sekotamadya Yogyakarta yang telah bersedia memberikan

pandapatnya dalam kuesioner penelitian.

8. Orang tuaku FX. Saliman (Alm) dan Th. Murdayati terima kasih atas kasih

sayang, cinta, doa, materi dan segala bentuk pengorbanan yang diberikan.

9. Keluarga kakakku Mbak Tri, untuk biaya kuliah, materi, doa dan segala

bantuk bantuan yang telah diberikan.

10.Keluarga kakakku Tari, untuk materi dan doa yang telah diberikan.

11.Keluarga kakakku Naryo, untuk maemnya tiap hari dan segala bentuk bantuan

yang telah diberikan.

12.Keluarga Budhe Din, keluarga oom Slamet, mbak entin terima kasih bantuan

material dan spiritualnya.

13.Pakdhe Romo Paiman, terima kasih untuk selalu menyelipkan doa untuk

keponakanmu ini dihadapan Tuhan Yesus.

14.Sahabat dan teman-temanku: Maria (thanks komputernya), Wahyu (kapan

nyusul…), Nungki dan Niken (kok ga akrap lagi?), Benny (please de…maaf

(11)

x

Diah and gank, We, Ur, Ning, Rin, Is, Rino, Liust serta teman PE’03 dan

PAK’03 (maturtengkyu…).

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

skripsi ini, tetapi penulis berharap semoga skripsi ini berguna bagi para pembacanya.

(12)

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……….. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………... ii

HALAMAN PENGESAHAN ……… iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……….. iv

MOTTO …...……… v

PERSEMBAHAN……… vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

KATA PENGANTAR…….……… viii

DAFTAR ISI.……… xi

DAFTAR TABEL….……… xv

ABSTRAK….………... xvi

ABSTRACT..……… xvii

BAB I PENDAHULUAN….……… 1

A. Latar Belakang…..………. 1

B. Rumusan Masalah..……… 3

C. Tujuan Penelitian……… 3

D. Manfaat Penelitian ………. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 5

A. Perkembangan Sistem Pendidikan Nasional..………. 6

(13)

xii

a. Hubungan Masya rakat dengan Pendidikan………... 9

b. Hubungan Manajemen Sekolah dengan Pendidikan………. 10

c. Tujuan Manajemen Sekolah untuk Pendidikan………. 11

d. Alasan Diterapkan Manajemen Sekolah……… 12

e. Aspek Yuridis Penerapan Manajemen Sekolah….………… 13

C. Komite Sekolah Wujud Peran Serta Masyarakat dalam Bidang Pendidikan….……… 15

a. Arti Komite Sekolah………. 15

b. Fungsi Komite Sekolah ….………... 16

c. Peranan Komite sekolah………... 17

D. Penelitian Terdahulu………. 20

a. Penelitian oleh Septiadhi……….. 20

b. Penelitian oleh Susilowati..……….. 21

E. Kerangka Pikiran………... 23

BAB III METODE PENELITIAN ……… 25

A. Jenis Penelitian……….. 25

B. Subjek dan Objek Penelitian ……… 25

C. Lokasi dan Waktu penelitian ……… 26

D. Populasi dan Sampel Penelitian ………... 26

E. Variabel, Definisi Operasional dan Pengukuran ……….. 27

F. Data yang dicari ……… 30

G. Teknik Pengumpulan Data ………... 30

(14)

xiii

I. Teknik Pengujian Instrumen ……….. 33

BAB IV GAMBARAN UMUM………... 36

A. Letak Geografis Kota Madya Yogyakarta ……… 36

B. Komite Sekolah………. 38

C. Daftar SMU di Kota Madya yang Menjadi Tempat Penelitian. 43 BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN………. 45

A. Analisis Data……….. 45

a. Validitas ……… 45

b. Reliabilitas….……… 46

c. Analisis Data Kuesioner ……… 47

B. Pembahasan ………... 52

BAB VI PENUTUP ……….. 59

A. Kesimpulan ……… 59

B. Saran …..……… 61

DAFTAR PUSTAKA ……….. 62

LAMPIRAN 1 Kuesione r Penelitian...……… 64

LAMPIRAN 2 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas………. 68

LAMPIRAN 3 Skor Hasil Jawaban kuesioner dari Responden………. 76

(15)

xiv LAMPIRAN 5

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kisi-kisi instrumen kuesioner……… 34

Tabel 2 Struktur Komite Sekolah..………. 42

Tabel 3 Sepuluh Sekolah yang Menjadi Tempat Penelitian……... 44

Tabel 4 Enam Sekolah Yang Menjadi Temapat Penelitian……… 44

Tabel 5 Kriteria Skor Item Variabel Pertama………. 48

Tabel 6 Kriteria Skor Item Variabel Kedua……… 49

Tabel 7 Kriteria Skor Item Variabel Ketiga……… 50

(17)

xvi ABSTRAK

PERAN SERTA KOMITE SEKOLAH DALAM MANAJEMEN SEKOLAH

DI SMA SWASTA DAN NEGERI SEKOTAMADYA

YOGYAKARTA

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran serta komite sekolah dalam manajemen sekolah sebagai: 1) pemberi pertimbangan maupun penentuan dalam pelaksanaan kebijakan pandidikan; 2) pendukung pendidikan yang berwujud finansial, tenaga, maupun pemikiran bagi perkembangan pendidikan; 3) pengontrol transparansi dan akuntabilitas untuk penyelenggaraan pendidikan; 4) mediator antara sekolah dan masyarakat untuk penyelenggaraan pendidikan, dalam manajemen sekolah di SMA swasta dan negeri sekotamadya Yogyakarta.

Penelitian ini dilakukan di SMA swasta dan negeri sekotamadya Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah SMA swasta dan negeri sekotamadya Yogyakarta. Sampel dalam penlitian ini sebanyak 6 SMA swasta dan negeri sekotamadya Yogyakarta, yang diambil secara Purposive Sampling. Data dikumpulkan dengan cara kuesioner, dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian. Analisis data yang dipakai adalah analisis deskriptif dengan pedoman kriteria Skala Likert.

(18)

xvii ABSTRACT

THE ROLE OF SCHOOL COMMITTEE AT SCHOOL MANAGEMENT IN PRIVATE AND STATE SENIOR HIGH SCHOOLS

IN THE MUNICIPALITY OF YOGYAKARTA

Veronica Krisniati

031324005

Sanata Dharma University Yogyakarta

2008

The purpose of this research is to know the role of school committee at school management as: 1) the giver of consideration and decision in the implementation of educational policy; 2)educational supporter in the froms of finance, personnel and idea for educational deve lopment; 3) the supervisor of transparency and accountability in carrying out education; 4) mediator between schools and society to carry out education, at school management in private and state senior high schools in the municip ality of Yogyakarta.

This research was done in private and state senior high schools in the municipality of Yogyakarta. The kind of this research is descriptive. The populations in this research were private and state senior high schools in the municipality of Yogyakarta. The sampels were taken from 6 private and state senior high schools in the municipality of Yogyakarta and taken by Purposive Sampling. The data were collected by questionnaire, completed with documents deal with research. The analytical data used was descriptive ana lysis by using Likert Scale criteria.

(19)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama ini pendidikan dipandang sebagai sarana mengembangakan

sumber daya manusia (SDM). Sumber daya yang berkualitas ditandai dengan

kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempermudah

pemenuhan hidup manusia. Untuk dapat mencapai pendidikan yang mampu

menghasilkan sumber daya yang berkualitas tidaklah mudah. Sebab

permasalahan yang muncul kadang sangat sulit diatasi, seperti masih

rendahnya mutu pendidikan pada jenjang satuan pendidikan khususnya

pendidikan dasar dan menengah (www.kompas.com). Berbagai usaha telah

dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain melalui berbagai

pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat

pelajaran, pertukaran sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu

manajemen sekolah. Namun berbagai indikator mutu pendidikan masih belum

menunjukan hasil yang berarti (Depdiknas, 2001:5). Hal ini terlihat adanya

kesenjangan yang menunjukan tidak meratanya sarana untuk meningkatkan

mutu pendidikan.

Permasalahan yang muncul dalam rangka peningkatan mutu pendidikan

menunjukan bahwa sistem pendidikan maupun sistem yang ada di sekolah

perlu dipertanyakan. Salah satu wujud agar dapat meningkatkan mutu

(20)

murid yang selama ini dalam penyelenggaran pendidikan masih sangat minim

(Maryati, Agustus 2006). Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya

lebih banyak bersifat dukungan dana, bukan pada proses pandidikan

(pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas).

Dalam mewujudkan peran serta masyarakat, sekolah dibantu oleh

pemerintah. Pemerintah telah mngeluarkan kebijakannya melalui Keputusan

Menteri Pendidikan Nasional nomor 004/U/2002 tentang komite sekolah.

Komite sekolah ini diharapkan dapat menjadi perantara antara pihak sekolah,

masyarakat, orang tua murid, dan pemerintah. Sehingga kemajuan pendidikan

di sekolah dapat dipantau oleh pihak masyarakat. Oleh karena itu setiap

sekolah diwajibkan membentuk komite sekolah agar mempermudah proses

kemajuan mutu pendidikan.

Untuk melanjutkan upaya peningkatan mutu pendidikan perlu adanya

keterlibatan peran serta komite sekolah dalam manajemen sekolah.

Manajemen sekolah merupakan bentuk otonomi yang lebih besar kepada

sekolah dalam rangka mendorong segala pengambilan keputusan, yang

melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala

sekolah, karyawan, orang tua murid, dan masyarakat). Kehadiran komite

sekolah yang melibatkan masyarakat akan membantu proses berjalannya

otonomi sekolah lewat pelaksanaan manajemen sekolah. Sehingga

pemantauan dalam rangka transparasi dan akuntabilitas kinerja sekolah dapat

tercapai. Untuk itu, dalam karya ilmiah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai

(21)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah peran serta komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan

maupun penentuan dan pelaksanan kebijakan pendidikan dalam

manajemen sekolah di SMA swasta dan negeri kotamadya Yogyakarta ?

2. Bagaimanakah peran serta komite sekolah sebagai pendukung pendidikan

berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga untuk penyelenggaran

pendidikan dalam manajemen sekolah di SMA swasta dan negeri

Kotamadya Yogyakarta?

3. Bagaimanakah peran serta komite sekolah sebagai pengontrol transparansi

dan akuntabilitas untuk penyelenggaran pendidikan dalam manajemen

sekolah di SMA swasta dan negeri Kotamadya Yogyakarta?

4. Bagaimanakah peran serta komite sekolah sebagai mediator antara sekolah

dan masyarakat untuk penyelenggaraan pendidikan dalam manajemen

sekolah di SMA swasta dan negeri Kotamadya Yogyakarta ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui peran serta komite sekolah sebagai pemberi

pertimbangan maupun penentuan dan pelaksanan kebijakan pendidikan

dalam manajemen sekolah di SMA swasta dan negeri Kotamadya

Yogyakarta.

2. Untuk mengetahui peran serta komite sekolah sebagai pendukung

(22)

perkembangan pendidikan dalam manajemen sekolah di SMA swasta dan

negeri Kotamadya Yogyakarta.

3. Untuk mengetahui peran serta komite sekolah sebagai pengontrol

teransparansi dan akuntabilitas untuk penyelenggaran pendidikan dalam

manajemen sekolah di SMA swasta dan negeri Kotamadya Yogyakarta.

4. Untuk mengetahui peran serta komite sekola h sebagai mediator antara

sekolah dan masyarakat untuk penyelenggaraan pendidikan dalam

manajemen sekolah di SMA swasta dan negeri Kotamadya Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Sekolah

Untuk dapat melibatkan komite sekolah dalam kegiatan peningkatan mutu

pendidikan dalam manajemen sekolah yang sudah ada.

2. Bagi Orang tua

Untuk menambah pemahaman mereka tentang komite sekolah sehingga

mereka memahami fungsi dibentuknya komite sekolah dan mampu

berperan serta dalam komite sekolah untuk kemajuan pendidikan.

3. Bagi Komite Sekolah

Agar komite sekolah dapat berpartisipasi lebih aktif untuk berperan serta

ambil bagian dalam manajemen sekolah.

4. Bagi Universitas

Untuk menambah referensi hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai

(23)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pergeseran paradigma dalam pengelolaan pendidikan harus

melibatkan kepala sekolah dan guru- guru sebagai pengelola dan pelaksana

pendidikan yang selalu berinteraksi dengan masyarakat. Menjalankan kembali

peran komite sekolah merupakan wujud yang efektif unt uk melibatkan secara

aktif orang tua murid dan masyarakat. Patisipasi orang tua dan masyarakat sangat

tergantung pada pendekatan dan metodenya. Memberikan kesempatan yang lebih

banyak untuk mengeluarkan pendapat, terjalin adanya kesetaraan dan mengatur

banyaknya frekuensi perjumpaan dengan anggota masyarakat merupakan salah

satu metode yang tepat. Peran komite sekolah bukan untuk merendahkan wibawa

guru maupun kepala sekolah, justru dengan posisi peran yang berbeda-beda dapat

menjalin kerjasama yang baik antara sekolah , masyarakat dan komite sekolah.

Peran diartikan sebagai sesuatu yang menjadi bagian atau yang

memegang pimpinan yang terutama dalam kegiatan. Sedangkan peran serta

diartikan ikut ambil bagian (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002;831). Menjadi

bagian dalam suatu organisasi merupakan wujud layanan masyarakat untuk dapat

memajukan kualitas pendidikan yang bermutu. Komite sekolah sebagai wujud

masyarakat, orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk dapat memajukan

pendidikan yang bermutu dengan ikut ambil bagian melaksanakan program

(24)

kebebasan berotonomi sehingga keterlibatan semua warga sekolah sangat

mendukung kelancaran peningkatan mutu pendidikan.

A. Perkembangan Sistem Pendidikan Nasional

Pendidikan merupakan salah satu cara mencerdaskan kehidupan

bangsa. Demikian juga pendidikan bagi bangsa Indonesia bertujuan untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia

seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan,

kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta

rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU Sisdiknas No.20

tahun 2003, pasal 4). Untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan, berbagai

pihak terutama pemerintah telah melakukan perubahan dalam sarana dan

pendukung dalam pendidikan.

Pendidikan dari tahun ke tahun telah mengalami perubahan untuk

menuju perbaikan. Sampai sekarang reformasi sistem pendidikan di

Indonesia terus dilakukan, untuk dapat mewujudkan pendidikan yang

bermutu. Berbicara soal pendidikan di Indonesia sungguh sangat

membingungkan karena adanya pemahaman yang salah dari masa Orde Baru

(www.pikiran-rakyat.com). Menurut Djudju Sujana sebagai seorang guru

besar di Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan pemahaman yang

salah terletak pada posisi pendidikan dipandang hanya sebagai bagian dari

(25)

sejumlah sistem yang terdidri dari idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya,

serta keamanan dan pertahanan. Sementara pendidikan tidak diletakkan

sebagai sistem yang sama pentingnya dengan sistem lain. Hal ini berakibat

pada pangambil kebijakan pusat tidak memand ang bahwa pendidikan

menjadi bagian pembangunan yang sama pentingnya. Padahal perkembangan

sistem-sistem lain itu menggunakan sumber daya manusia hasil sistem

pendidikan. Sudah saatnya pendidikan di sejajarkan dengan sistem-sistem

lain yang ada dalam pend idikan.

Selain itu akibat pandangan yang keliru itu dirasakan bahwa

sumber daya manusia Indonesia masih sangat rendah. Pendidikan belum

berperan secara optimal dalam mengembangakan sumber daya manusia

melalui pemerataan kesempatan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan,

sehingga keluaran pendidikan lebih banyak yang mencari pekerja bukan

masyarakat pencipta lapangan kerja. Dengan demikian pendidikan belum

menjadi pemicu utama pengembangan sumber daya manusia tetapi menjadi

pendukung utama dalam peningkatan jumlah pengangguran.

Jika menginginkan pendidikan yang bermutu dan maju sebaiknya

membenahi dulu sistem pendidikan bukan hanya janji-janji saja atau peserta

didik di jadikan kelinci percobaan. Pemerintah sebaiknya lebih tegas dalam

setiap pengambilan keputusan dalam kebijakannya (www.depdiknas.go.id).

Penggunaan kurikulum yang selalu berubah setiap tahunnya akan

membingungkan pihak sekolah maupun guru sebagi pendidik. Apalagi

(26)

memicu lambannya penyerapan materi pendidikan yang akan diterima oleh

peserta didik.

Kegagalan sistem pendidikan nasional di Indonesia dipengaruhi

oleh beberapa faktor seperti komersialisasi yang menggeser tujuan

pendidikan, kurangnya pemahaman penyelenggaraan merumuskan

pendidikan, kesenjangan antara sekolah negeri dengan swasta

(www.pikiran-rakyat.com). Fenomena kegagalan yang lain terjadi pada jenjang pendidikan

dasar dan menengah yaitu adanya gejala demoralisasi dari pendidik maupun

peserta didik. Untuk mengatasi hal ini peran dan keterlibatan masyarakat

sangat dibutuhkan seperti terlibat dalam setiap pengambilan keputusan

maupun bentuk pengawasan dan mendapatkan hasil laporan kerja

pendidikan.

Sebagai wujud perkembangan sistem pendidikan, pemberlakuan

otonomi yang diberikan oleh pemerintah sebaiknya dilaksanakan secara

maksimal. Program pendidikan yang disarankan pengaturannya dengan

sistem manajemen berbasis sekolah itu bertujuan untuk lebih memberikan

kebebasan kepada sekolah untuk mentukan cara peningkatan mutu yang tepat

sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sekolah masing- masing. Melibatkan

berbagai peran seperti para guru, departemen pendidikan, sekolah, maupun

orang tua murid sangat menunjang kelancaran dalam peningkatan mutu

(27)

B. Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional

a. Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan

Peran masyarakat dalam bidang pendidikan sangat membantu

kemajuan pendidikan. Masyarakat di sini diartikan sangat luas karena

meliputi masyarakat sebagai orang tua murid, masyarakat sebagai warga

sekolah, masyarakat sebagai perusahaan donatur, dan masyarakat sebagai

penduduk yang mendukung adanya sekolah maupun pendidikan di

lingkungan mereka (Dede Rosyada, 2004:275). Sudah saatnya masyarakat

diberikan keleluasaan untuk ikut terlibat dalam peningkatan mutu

pendidikan (Maryati, Agustus 2006). Salah satu bentuknya dapat terlibat

dalam program manajemen berbasis sekolah (MBS). Selain itu dapat ikut

aktif dalam komite sekolah yang ada di setiap sekolah.

Peran masyarakat saat ini masih sangat minim, karena umumnya

hanya berbentuk dukungan dana. Padahal selama ini yang dibutuhkan

dari keterlibatan masyarakat adalah pada proses pendidikan. Proses

pendidikan yang dimaksud disini adalah pengambilan keputusan,

monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas (Depdiknas,2001:4). Sehingga

masyarakat mengetahui dan memantau hasil dari pendidikan yang sedang

berlangsung di sekolah-sekolah.

Masyarakat harus diberi kesempatan seluas- luasnya untuk ikut

serta dalam memikirkan pendidikan. Dengan demikian masyarakat akan

(28)

untuk keberhasilan pendidikan. Jika ini dapat terwujud maka segala

sesuatu yang mereka miliki baik dalam bentuk uang, barang, tenaga dan

pikiran akan disumbangkan untuk kepent ingan pendidikan.

b. Hubungan Manajemen Sekolah dalam Pendidikan

Pengertian manajemen dapat diartikan sangat luas bahkan

berbeda-beda. Manajemen yaitu (1) mengelola orang-orang; (2)

pengambilan keputusan; (3) proses mengorganisasi dan memakai

sumber-sumber untuk menyelesaikan tujuan yang sudah ditentukan.

Selain itu manajemen dapat diartikan juga sebagai proses

mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi

sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Sumber-sumber tersebut

meliputi orang, alat, media, baha n, uang, dan sarana (Pidarta,1998;03).

Manajemen dikaitkan dengan pendidikan akan memiliki arti yang

berbeda. Menurut Pidarta dalam manajemen pendidikan memiliki arti

sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat

dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan

sebelumnya. Manajemen dalam pendidikan juga akan memadukan

sumber-sumber yang ada selama ini dalam pendidikan seperti,

administrasi yang mengelolanya, kepala sekolah sebagai supervisor, dan

guru- guru yang secara langsung menjalankan proses belajar mengajar.

Secara umum mengikuti perkembangan dan kemajuan pendidikan

maka pemerintah memberikan kelonggaran otonomi kepada

(29)

manajemen sekolah atau yang lebih dimodifikasikan menjadi manajemen

peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). Manajemen sekolah

adalah suatu kegiatan yang mendorong suatu pengambilan keputusan

partisipasif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru,

siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua, dan masyarakat) untuk

meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional

(Depdiknas, 2001:5).

Dengan adanya otonomi lewat pembentukan manajemen sekolah

ini, sekolah akan lebih berdaya dalam mengembangkan

program-progaram yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang

dimilikinya. Selain itu sekolah lebih memiliki kewenangan untuk

mengelola sekolahnya agar lebih mandiri. Dalam proses pengambilan

keputusan yang partisipasif yaitu melibatkan warga sekolah secara

langsung, maka rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat.

Peningkatan rasa memiliki akan mendorong tanggung jawab warga

sekolah terhadap sekolahnya. Pengambilan keputusan secara partisipasif

maupun terjadinya otonomi sekolah lewat manajemen sekolah dapat

mewujudkan peningkatan mutu sekolah.

c. Tujuan Manajemen Sekolah untuk Pendidikan

Berdasarkan kebijakan pendidikan nasional lewat Depdiknas yang

mengharuskan terlaksananya manajemen sekolah, telah menentukan

(30)

1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif

sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang

tersedia.

2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam

penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan

bersama.

3) Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua,

masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.

4) Meningkatkan kompetisi yang sehat antara sekolah tentang mutu

pendidikan yang akan dicapai.

d. Alasan Diterapkan Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah atau Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis

Sekolah perlu diterapkan karena memiliki beberapa alasan. Berbagai

alasan telah dikemukakan oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk

kemajuan dalam pendidikan, yaitu:

1) Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan

ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan

pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan

sekolahnya.

2) Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya

input pendidikan ya ng akan dikembangkan dan didaya-gunakan

dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan

(31)

3) Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok

untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

4) Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif

bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat.

5) Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam

pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan

demokrasi yang sehat.

6) Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan

masing- masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan

masyarakat pada umumnya sehingga berupaya semaksimal

mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu

pendidikan yang telah direncanakan.

7) Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-

sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui

upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik,

masyarakat, dan pemerintah daerah setempat

8) Secara yuridis telah ditetapkan dalam peraturan perundangan yang

berlaku, khususnya pada UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003

serta peraturan perundangan yang lain yang terkait.

e. Aspek Yuridis Penerapan Manajemen Sekolah

Dalam menerapkan konsep manajemen sekolah ini mengacu kepada

berbagai peraturan perundangan yang berlaku dan telah disepakati oleh

(32)

1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional, pasal 51: (1) Pengelolaan satuan pendidikan

anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan

prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah; dan (2)

Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan

prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang

transparan.

2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.

Pemerintah memberikan kewenangan dan keleluasaan kepada

daerah unuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat

setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi

masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan. Kewenangan

diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan asas

dsentralisasi dalam wujud otonomi luas, nyata, dan bertanggung

jawab (Mulyasa, 2003:5).

3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 Tentang Program

Pembangunan Nasional ahun 2000-2004 pada Bab VII Tentang

Bagian Program Pembangunan Bidang Pendidikan: Tujuan

program pembinaan pendidikan dasar dan pra sekolah: “… (4)

terselenggaranya pendidikan dasar dan pra sekolah berbasis pada

sekolah dan masyarakat (school/community based management);

(33)

berbasis pada sekolah dan masyarakat (school/community based

management).

4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerinah

Daerah pasal 13 ayat (1) “Urusan wajib yang menjadi

kewenangan pemerintah daerah propinsi merupakan urusan skala

propinsi meliputi (f) peyelenggaraan pendidikan dan alokasi

sumber daya manusia potensil…” dan 14 ayat (1) “Urusan wajib

yang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk

kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota

meliputi (f) penyelenggaran pendidikan…”. Disebutkan pula

dalam pasal 22 bahwa dalam menyelenggarakan otonomi, daerah

mempunyai kewajiban (e) meningkatkan pelayanan dasar

pendidikan..”

5) Keputusan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 004 Tahun 2002

tentang pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

C. Komite Sekolah Wujud Peran Serta Masyarakat Dalam Bidang

Pendidikan

a. Arti Komite Sekolah

Komite sekolah merupakan wadah untuk menyalurkan aspirasi dan

prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program

pendidikan di tiap satuan pendidikan (Keputusan Mentri Pendidikan

(34)

atau organisasi kerjasama orang tua/ wali murid dan tokoh masyarakat

yang peduli pendidikan dengan Kepala Sekolah beserta seluruh guru yang

ada di sekolah masing- masing (Sukirno, 2006:1).

Komite sekolah dulu dikenal dengan BP3 (Badan Pembantu

Penyelenggaraan Pendidikan). Te tapi sekarang komite sekolah lebih

bekerja sama dan melibatkan masyarakat sekitar sekolah maupun

perusahaan-perusahaan yang menjadi donatur bagi sekolah

(www.kompas.com). Komite sekolah berkedudukan sebagai lembaga

mandiri atau organisasi tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan

sebagai mitra kerja sekolah.

b. Fungsi Komite Sekolah

Komite sekolah berfungsi mewadahi peran serta masyarakat dalam

rangka untuk meningkatkan mutu, pemerataan dan efisiensi pengelolaan

pendidikan di tiap-tiap satuan pendidikan atau sekolah

(www.kompas.com). Selain itu komite sekolah memiliki fungsi antara

lain mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap

peyelenggaraan pendidikan yang bermutu; mendorong orang tua dan

masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung

peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan; dan menggalang dana

masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di

satuan pendidikan (Depdiknas, 2005:3). Peran masyarakat tersebut mulai

(35)

pendidikan. Sehingga tanggung jawab pendidikan menjadi tanggung

jawab bersama antara sekolah dan masyarakat.

c. Peranan komite sekolah

Peranan merupakan suatu tugas yang harus dijalankan oleh setiap

orang maupun organisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

peranan merupakan bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan

oleh siapa saja. Jadi komite sekolah memiliki tugas utama yang harus

dijalankan sesuai dengan fungsi dibentuknya komite sekolah. Sesuai

dengan Keputusan Menteri Pendidikan no.004/U/2002 bahwa komite

sekolah memiliki peranan sebagai:

1). Sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan

kebijakan pendidikan. Komite sekolah ada untuk memutuskan dan

menguraikan pendapat tentang baik maupun buruk. Sehingga pendapat

tersebut dapat diambil secara tepat dan berguna bagi pendidikan.

Adapun bentuk dari suatu pendapat tersebut dikonsultasikan dengan

komite sekolah, seperti kebijakan operasional tiap satuan pendidikan.

Dalam hal ini komite sekolah bersama dengan masyarakat dan

pemerintah dapat menentukan kebijakan yang terbaik untuk kemajuan

pendidikan. Segala sesuatu yang menyangkut operasional pendidikan

harus ada pembicaran dari komite sekolah, masyarakat dan

pemerintah. Sehingga mendapatkan suatu keputusan yang disepakati

(36)

2). Sebagai pendukung baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupu

tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendukung merupakan

orang yang mendukung, penyokong, pembantu dan penunjang suatu

keputusan maupun kegiatan. Dukungan yang diberikan oleh komite

sekolah tidak sebatas finansial tetapi juga tenaga dan pemikiran.

Finansial: Komite sekolah bekerja sama dengan perusahan donatur

untuk mencairkan dana bagi biaya pendidikan. Selain itu komite

sekolah juga menentukan pungutan biaya pendidikan yang

sebelumnya telah dibicarakan dengan pihak-pihak yang terkait.

Pemikiran :Komite sekolah dapat menjadi tempat pertimbangan

menyalurkan aspirasi maupun ide- ide dan prakarsa masyarakat dalam

melahirkan kebijakan yang berguna bagi masyarakat. Tenaga :Komite

sekolah bekerja sama dengan guru, orang tua murid dan pemerintah

akan menyediakan tenaga pendidik yang berkualitas bagi pendidikan

disekolah.

3). Sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas

dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengontrol merupakan alat untuk

mengawasi atau mengontrol atau sebagai orang yang bertugas

mengontrol. Sebab yang dimaksudkan dengan akuntabilitas

merupakan bentuk tanggung jawab dari tata kerja, proses kerja, dan

hasil kerja suatu kegiatan atau dalam organisasi (Akdon, 2006:208).

Adanya pemberdayaan komite sekolah secara optimal, maka

(37)

transparansi, pengguanan alokasi dan pendidikan lebih dapat

dipertanggungjawabkan. Sehingga dana bantuan dari pusat yang

mengalir ke sekolah melalui mekanisme pengawasan komite sekolah

yang didalamnya terdapat wakil masyarakat dapat tepat sasaran.

4). Mediator antara sekolah dan masyarakat. Mediator merupakan

penghubung atau perantara bagi dua orang atau lebih. Komite sekolah

dapat dijadikan alat untuk berkomunikasi antara sekolah dan

masyarakat. Karena komite sekolah memiliki keterkaitan dengan

pihak pemerintah, masyarakat dan sekolah sendiri maka tanggung

jawab pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah

dan masyarakat sebagai mitra kerja dalam membangun pendidikan.

Dalam hal ini aspirasi orang tua atau masyarakat akan disalurkan

melalui komite untuk disampaikan kepada sekolah.

Melalui komite sekolah ini masyarakat berhak atau orang tua murid

berhak untuk menuntut sekolah jika pelayanan dari sekolah tidak sesuai

dengan biaya yang dikeluarkan. Selain itu mereka juga berhak mengetahui

berbagai kucuran dana yang mengalir ke sekolah karena di era reformasi,

transparansi dan akuntabilitas sangat diperlukan.

Jika komite sekolah dijalankan dengan tepat sesuai dengan

Keputusan Menteri Pendidikan Nasional no.004/U/2002 yang menjadi dasar

pembentukannya, maka sebuah pendidikan yang bermutu akan sangat mudah

(38)

oleh pemerintah, namun peran serta pelaku pendidikan atau pihak sekolah dan

masyarakat.

D. Penelitian Terdahulu

a. Penelitian oleh Septiadhi

Penelitian yang dilakukan oleh Septiadhi ini berjudul “Efektivitas

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Sebagai Upaya

Peningkatan Mutu Sekolah Di Sekolah Dasar”

(http://222.124.158.89/pasca/avaliabel/etd). Permasalahan yang hendak

dipecahkan melalui penelitia n ini adalah mengenai: 1) Bagaimanakah

gambaran implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS) di komplek

SDN Sekeloa Kec. Coblong Bandung? Dan 2) Bagaimanakah efektivias

implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS) di komplek SDN Sekeloa

Kec. Coblong Bandung?

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) SDN Sekeloa

menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah pada tahun 2002 dengan

membentuk dewan sekolah yang sekarang menjadi komite sekolah terlebih

dahulu; 2) Sekolah memiliki kewenangan dalam mengelola sumber daya

yang dimiliki oleh sekolah; 3) Adanya keterlibatan warga sekolah baik

guru- guru dan komite sekolah dalm pengambilan keputusan di sekolah.

Serta adanya pengawasan dari komite sekolah terhadap penggunaan dana

sekolah; 4) Dalam pengembangan kurikulum terutama dalam penerapan

(39)

KBK, sehingga perlu diingkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan

kurikulum dan juga kreativitas guru memberikan materi kepada para peserta

didik; 5) Masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap peningkatan

mutu sekolah, hal ini dikarenakan faktor pendidikan dan faktor ekonomi

masyarakat di sekitar lingkungan SDN Sekeloa; 6) Peningkatan prestasi

peserta didik belum adanya pembinaan yang berkesinambungan dari pihak

sekolah.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa implementasi

Manajemen Berbasis Sekolah Di SDN Sekeloa belum berdampak terhadap

peningkatan mutu sekolah. Oleh karena itu diperlukan perbaikan-perbaikan

secara berkesinambungan, baik dalam profesionalisme personil sekolah dan

komite sekolah serta peningkatan kepedulian masyarakat terhadap

peningkatan mutu sekolah.

b. Penelitian oleh Susilowati

Penelitian yang dilakukan oleh Susilowati berjudul “ Kontribusi

Kinerja Kepala Sekolah dan Pengurus Komite Sekolah Terhadap Efektifitas

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah: Studi pada Implementasi

Manajemen Berbasis Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan

Cileunyi Kabupaten Bandung Tahun 2004”

(http://222.124.158.89/pasca/available/etd). Penelitian ini dilakukan

berdasarkan adanya keragaman penyebutan dan penerapan manajemen

berbasis sekolah di setiap sekolah yang ada di Kecamatan Cileunyi

(40)

kepala sekolah dan pengurus komite sekolah dalam mengimplementasikan

manajemen berbasis sekolah dengan kualitas sekolah rendah, yang ditandai

dengan: masih terbatasnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah,

sejumlah siswa mempunyai nilai rata-rata ujian rendah, kedisiplinan siswa

yang kurang, sebagian guru kurang berdisiplin dalam kedatangannya ke

sekolah.

Hipotesis yang diajukan adalah terdapat kontribusi kinerja kepala

sekolah dan pengurus komite sekolah yang signifikan terhadap efektivitas

implemenasi manajemen berbasis sekolah. Hasil dari penelitian ini adalah

hipotesis yang diajukan diterima. Berarti terdapat hubungan yang signifikan

antara kinerja kepala sekolah dengan efekivitas implementasi manajemen

berbasis sekolah, terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja pengurus

komite sekolah dengan efektivitas implemenasi manajemen berbasis

sekolah dan terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja kepala

sekolah dan pengurus komite sekolah dengan efekivitas implementasi

manajemen berbasis sekolah.

Berdasarkan hasil yang didapat peneliti menyarankan supaya: 1)

Kepala sekolah meningkatkan kinerjanya dengan mengadakan studi

banding, dialog yang intensif dengan guru, serta mengikuti pendidikan dan

pelatihan manajemen berbasis sekolah; 2) Pengurus komite sekolah lebih

meningkatkan frekuensi rapat dengan sesama pengurus, dialog dengan

pihak sekolah, dan mengikuti pendidikan dan pelatihan; 3) Kepala sekolah

(41)

seringnya dialog diantara mereka dan menambah wawasan serta

pengalaman melalui studi banding serta penilaian.

E. Kerangka Pemikiran

Komite sekolah merupakan wujud peran serta masyarakat dalam

bidang pendidikan. Selama ini masyarakat kurang maksimal menempati

posisinya dalam kemajuan pendidikan. Dalam rangka untuk mewujudkan

pendidikan yang bermutu kini diperlukan peran aktif masyarakat dalam

pendidikan di sekolah. Peran aktif masyarakat bukan hanya dalam bentuk dana

saja tetapi lebih luas pada sumbangan pendapat dan pemikiran serta

monitoring dan akuntabilitas. Sehingga masyarakat akan memiliki rasa

tanggung jawab yang sama terhadap keberhasilan pendidikan. Lewat komite

sekolah ini diharapkan peran masyarakat sebagai orang tua murid dapat lebih

maksimal sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.

Peningkatan mutu pendidikan dari waktu ke waktu terus dilakukan

perubahan. Perubahan tersebut juga menyeluruh sampai pada sistem

pendidikan yang dianjurkan oleh pemerintah. Pemerintah telah memberikan

keleluasaan dalam menjalankan proses pendidikan yang ada di sekolah.

Sekolah diberikan otonomi yang luas untuk mengelola sekolahnya dengan

alasan sekolah lebih tahu tentang sumber daya yang dimiliki sekolah

masing-masing. Otonomi yang diberikan itu berupa pengelolaan sekolah dengan

(42)

pendidikan yang bermutu pihak sekolah lebih mengetahui kekurangan dan

kelebihan masing- masing sekolah.

Untuk itu dalam menjalankan Manajemen Berbasis Sekolah perlu

kerja sama seluruh warga sekolah dan masyarakat sekolah. Dalam hal ini

komite sekolah sebagai wujud peran serta masyarakat diharapkan dapat

berperan aktif untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Masyarakat dapat

berperan melalui komite sekolah sebagai: 1) pemberi pertimbangan maupun

penentuan dan pelaksanan dan kebijakan pendidikan; 2) masyarakat maupun

orang tua dapat menyumbangkan pemikiran, finans ial dan tenaganya untuk

mendukung penyelenggaraan pendidikan; 3) sebagai pihak yang dapat

mengontrol transparansi dan akuntabilitas dalam kinerja penyelenggaraan

pendidikan; 4) sebagai pihak yang dapat dijadikan alat untuk saling

berkomunikasi maup un mediator bagi sekolah dan masyarakat sendiri.

Sehingga tidak ada lagi jurang pemisah antara sekolah dengan

keluarga siswa, masyarakat dan pemerintah. Masyarakat dapat mengontrol

penyelenggaraan pendidikan agar dapat tercapainya pendidikan bermutu bagi

anak didiknya. Tanggung jawab keberhasilan pendid idikan dapat dipikul

bersama, baik oleh sekolah, pemerintah, dan masyarakat melalui

(43)

25 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dilihat dari cara dan pembahasannya, penelitian ini tergolong penelitian

deskriptif yang menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek/objek

penelitian seseorang, lembaga masyarakat dan lain- lain pada saat sekarang

berdasarkan fakta- fakta yang tampak atau sebagaimana adanya

B. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah komite sekolah yang ada di SMA swasta

dan negeri sekotamadya Yogyakarta. Dengan alasan, untuk mengetahui

peran serta komite sekolah dalam manajemen sekolah yang ada di SMA

yang berbeda. Hal ini sangat penting karena komite sekolah sudah lama

ada dan sejauh mana keterlibatan peranannya dalam manajemen sekolah

di SMA swasta dan negeri sekotamadya Yo gyakarta.

2. Objek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah peran

serta komite sekolah dalam manajemen sekolah di SMA swasta dan

negeri sekotamadya Yogyakarta. Untuk mengetahui peran serta komite

sekolah dalam manajemen sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam

(44)

pendidikan yang berwujud finansial, tenaga ma upun pikiran, sebagai

pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas dalam

penyelenggaraan pendidikan, sebagai mediator antara sekolah dan

masyarakat.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah SMA swasta dan negeri di Kotamadya

Yogyakarta. Alasan pemilihan lokasi karena SMA swasta dan negeri di

Kotamadya Yogyakarta yang telah membentuk komite sekolah sehingga

dapat mengetahui peran serta komite sekolah dalam keterlibatannya di

program manajemen sekolah. Penelitian ini telah dilaksanakan pada Mei –

Juli 2007.

D. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang dapat terdiri dari

manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai tes dan peristiwa-peristiwa

sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu

penelitian (Arikunto, 1983:102).

Dalam penelitian ini populasinya adalah SMA swasta dan negeri di

Kotamadya Yogyakarta. Jadi populasinya disesuaikan dengan jumlah

SMA swasta dan negeri di Kotamadya Yogyakarta yaitu ada 49 SMA

(45)

2. Sampel Penelitian

Penelitian ini bersifat penelitian sampel karena hanya sebagian dari

subjek penelitian dianggap mewakili keseluruhan. Subjek penelitian yang

dimaksud adalah komite sekolah. Sampel menurut Arikunto (1983:102)

adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini

jumlah sampel yang diambil 10 SMA swasta dan negeri dari 49 SMA

swasta dan negeri yang ada di kotamadya Yogyakarta. Hal ini karena

penjajakan sebelum melakukan penelitian. Namun pada kenyataannya

hanya 6 SMA saja yang menjadi tepat penelitian, karena 4 SMA menolak

dengan berbagai alasan.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian

ini Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah teknik pengambilan

sampel dengan pertimbangan tertentu yang sudah diketahui

sebelumnya.(Sugiono, 2005:61). Dari populasi 49 SMA swasta dan negeri,

sampel yang diambil 6 SMA saja karena 4 SMA menolak untuk menjadi

tempat penelitian. Dari 6 SMA tersebut kemudian diambil 10 responden

yang secara kebetulan ada dan dapat ditemui di sekolah masing- masing.

E. Variabel, Definisi Operasional dan Pengukuran

1. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang dapat menjadi objek penelitian

(46)

Dalam penelitian ini permasalahan pokok atau variabel yang akan diteliti

adalah peran serta komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam

pelaksanaan kebijakan pendidikan, sebagai pengontrol transparansi dan

akuntabilitas, sebagai pendukung pendidikan berwujud finansial, tenaga,

pemikiran, sebagai mediator bagi sekolah dan masyarakat dalam

manajemen sekolah.

2. Definisi Operasional dan pengukuran

a. Peranan komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam

pelaksanaan kebijakan pendidikan adalah jika sekolah akan

melakukan perubahan atau peranan tentang kemajuan pendidikan

maka disini fungsi komite sekolah sebagai pihak yang akan

memberikan pendapat untuk kebaikan kemajuan pendidikan

disekolah. Maka untuk mengetahui peran serta komite sekolah dalam

manajemen sekolah dapat diukur dengan keterlibatannya dalam

penyelenggaraan pendidikan.

b. Peranan komite sekolah sebagai pendukung pendidikan yang berwujud

finansial, tena ga maupun pikiran adalah memantau pihak sekolah

dalam masalah keuangan maupun masalah pengadaan dana. Untuk

mengukurnya dapat diketahui melalui sumbangan yang diberikan

pihak komite sekolah, baik yang berupa dana pendidikan, ketersediaan

meluangkan waktu, sumbangan ide untuk kemajuan pendidikan.

c. Peranan komite sekolah sebagai pengontrol transparansi dan

(47)

mengawasi administrasi sekolah dengan jelas untuk

dipertanggungjawabkan pada masyarakat, pemerintah dan sekolah.

Dapat diukur keterlibatan komite sekolah dalam mengawasi kinerja

penyelenggaraan pendidikan dan mewujudkan kondisi yang terbuka

dan tanggung jawab bersama.

d. Peranan komite sekolah sebagai mediator antara sekolah dalam

masyarakat serta orang tua murid adalah komite sekolah dapat

dijadikan media komunikasi antara pemerintah, masyarakat dan orang

tua. Hal ini dapat diukur melalui lancarnya komunikasi yang terjalin

antara anggota komite sekolah, pihak sekolah dan pemerintah.

Peran serta komite sekolah dalam manajemen sekolah ini dapat diukur

menggunakan kuisioner yang memuat pernyataan-pernyataan keterlibatan

komite sekolah dalam manajemen sekolah. Keempat indikator diatas dapat

diukur menggunakan Skala Likert dengan lima alternatif jawaban yaitu :

a. Sangat setuju (SS)

b. Setuju (S)

c. Ragu-ragu (R)

d. Tidak setuju (TS)

e. Sangat tidak setuju (STS)

Alternatif jawaban tersebut memiliki skor 1-5 untuk pernyataan positif

jawaban dib eri skor 5-1, sedangkan untuk pernyataan negatif diberi skor

sebaliknya yakni 1-5. Pernyataan positif mengenai peran serta komite sekolah

(48)

Pernyataan negatif mengenai peran komite sekolah bersifat tidak mendukung

atau kurang terlibat terhadap peran komite sekolah dalam kinerjanya.

F. Data yang dicari

1.Data primer

Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber

data/responden. Data tersebut meliputi peran serta komite sekolah sebagai :

a. Pemberi pertimbangan dalam pertimbangan dalam penentuan dan

pelaksanaan kebijakan pendidikan

b. Pendukung pendidikan yang berwujud finansial, tenaga, maupun

pendidikan.

c. Pengontrol dalam rangka trasparansi dan akuntabilitas dalam

penyelenggaraan pendidikan

d. Mediator antara sekolah dan masyarakat.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang sudah ada

di SMU swasta dan negeri Kotamadya Yogyakarta, meliputi: keadaan

umum sekolah, dan jumlah anggota komite sekolah.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh untuk

memperoleh data sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan. Metode yang

(49)

data dan ciri responden, maka metode yang digunakan tidak selalu sama untuk

setiap variabel.

1. Kuesioner atau angket

Kuesioner atau angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan

kepada orang lain yang bersedia memberikan respon (responden) sesuai

dengan permintaan pengguna (Riduwan, 2002:26-27). Kuesioner atau

angket mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data

dengan cara dan pengadaannya mengikuti prasyaratan yang telah

digariskan dalam penelitian. Data-data yang hendak diperoleh melalui

kuesioner yakni peran serta komite sekolah dalam perkembangan

pendidikan di sekolah dalam manajemen sekolah.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pengumpulan data berdasarkan sumber

dari pihak disekolah yang meliputi gambaran umum sekolah dan segala

hal yang berhubungan dengan penelitian ini. Data yang diperoleh dari

teknik ini adalah gambaran umum SMA swasta dan negeri di Yogyakarta

meliputi keadaan umum sekolah, struktur organisasi di sekolah, jumlah

siswa dan segala hal yang berhubungan dengan penelitian ini.

H. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk menganalisis data

(50)

yang telah diperoleh dari sumber data tentang peran serta komite sekolah

sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan

pendidikan; sebagai pendukung pendidikan yang berwujud finans ial, tenaga

maupun pemikiran; sebagai pengontrol dalam rangka trasparansi dan

akuntabilitas; sebagai mediator antara pemerintah dan masyarakat. Untuk

menganalisis data yang telah diperoleh diperlukan langkah- langkah sebagai

berikut:

1. Menghitung skor dalam kuesioner dari setiap responden untuk semua

pernyataan.

2. Menghitung rata-rata skor dalam kuesione r dari setiap responden untuk

semua pernyataan.

3. Menyusun kategori skor dari responden dengan pedoman kriteria skor Skala

Likert (Riduwan, 2002:13)

a. 0 - 60 : Sangat tidak berperan

b. 61 - 120 : Tidak berperan

c. 121 - 180 : Ragu-Ragu

d. 181 - 240 : Berperan

e. 241 - 300 : Sangat Berperan

4. Mengelompokkan atau menentukan kategori skor dari responden untuk

(51)

I. Teknik Pengujian Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

maka untuk mengukur kevalidan dan keandala nnya dilakukan pengujian

terlebih dahulu sebagai berikut:

1. Validitas

Analisis Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat

kevalidan dan kesahihan suatu instrument.(Arikunto,1996:158). Suatu

instrument penelitian harus mempunyai syarat kesahihan. Instrumen

dikatakan valid dan sahih jika mampu mengungkapkan apa yang hendak

diungkapkannya. Instrumen yang dimaksud adalah kuesioner yang

dibagikan kepada responden, digunakan teknik Korelasi Product Moment

(Sugiono,2005:272) dengan rumus sebagai berikut:

rxy =

instrument yang valid atau tidak, kemudian dibandingkan dengan r tabel.

Jika r hitung lebih besar dari rtabel untuk taraf kesalahan dalam

penelitian ini yang digunakan adalah 5% dengan derajat kebebasan

(

n−2

)

,

(52)

dipergunakan untuk penelitian. Numun untuk mempermudah penghitungan

digunakan bantuan SPSS 12.

Berikut ini akan disajikan tabel rancangan kisi-kisi instrumen

tentang peran serta komite sekolah dalam manajemen sekolah.

Tabel III.1 Kisi-Kisi Instrumen

Variabel Indikator Item 1. Peran serta komite sekolah

sebagai pemberi pertimbangan maupun pene ntuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.

a.Aspek metode atau cara

b.Aspek materi

1,2

3,4,5

2. Peran serta komite sekolah sebagai pendukung yang

3. Peran serta komite sekolah sebagai pengontrol trasparansi

4. Peran serta komite sekolah sebagai mediator antara sekolah dan masyarakat.

Reliabilitas adalah tingkat kesetabilan dan keandalan alat ukur

dalam mengukur suatu gejala. Pengukuran ini dengan menggunakan teknik

perhitungan Alpha Cronbach yang bertujuan untuk menggambarkan tingkat

konsistensi atau keajegan. Untuk mengukur koefisien dalam penelitian ini

menggunakan koefisien Alpha Cronbach dengan taraf signifikan 5%. Indek

(53)

Penggunaan rumus Alpha Cronbach karena menggunakan model Skala

Likert. (Sugiono,2005:282). Rumusnya adalah sebagai berikut :

i

harus dijawab dengan alternativ jawaban yaitu sangat setuju, setuju,

ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Pemberian skor dilakukan cara SS=5,

S=4, RR= 3, TS=2, STS=1. Butir-butir yang diujicobakan untuk mengukur

peran serta komite sekolah sebagai : pemberi pertimbangan dalam

penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan, pendukung baik yang

berwujud finansial, pemikiran, ma upun tenaga dalam penyelenggaraan

pendidikan, pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas dalam

penyelenggaraan pendid ikan, mediator antara sekolah dan masyarakat.

Setelah ditemukan nilai dari variable total kemudian dimasukkan ke dalam

rumus Alpha Cronbach. Dari hasil perhitungan tersebut, jika nilai hitung

Alpha Cronbach lebih besar dari rtabel dengan taraf signifikansi 5%, maka

(54)

36 BAB IV

GAMBARAN UMUM

A. Letak Geografis Kota Madya Yogyakarta

Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan

merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping 4

daerah tingkat II lainya yang berstatus kabupaten. Kota Yogyakarta terletak

ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas wilayah sebagai berikut; Sebelah

Utara: Kabupaten Sleman, Sebelah Timur: Kabupaten Bantul dan Sleman,

Sebelah Selatan: Kabupaten Bantul, Sebelah Barat: Kabuapaten Bantul dan

Sleman. Wilayah kota Yogyakarta terbentang antara 1100 280 190 sampai 1100

280 530 Bujur Timur dan 70 490 260 sampai 0700 150 240 Lintang Selatan dengan

ketinggian rata-rata 114 m diatas permukaan laut.

Secara garis besar kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari

barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1

derajat, serta terdapat tiga sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu: Sebelah

timur adalah Sungai Gajah Wong, Bagian tengah adalah Sungai Code, Sebelah

Barat adalah Sungai Winongo. Luas wilayah Kota Yogyakarta adalah 3.250

hektar yang terbagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Kelurahan, 617 RW, dan 2. 531

RT, serta dihuni ± 489.000 dengan kepadatan rata-rata 15.000 jiwa/ Km2.

Kondisi iklim kota Yogyakarta:curah hujan rata-rata 2.012 mm/thn dengan

119 hari hujan, suhu rata-rata 27, 20 C dan kelembaban rata-rata 24, 7%. Angin

(55)

daya dengan arah 2200 bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim

kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 900-1400

dengan rata-rata kecepatan 5-16 knot/jam.

Sejarah terbentuknya kota Yogyakarta dimulai sesudah perjanjian Giyanti

(Palihan Nagari) pada tahun 1755, Mataram dibagai menjadi dua kerajaan,

Kasultanan Surakarta Hadiningrat di bawah kekuasaan Sunan Pakubuwono III

dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sesudah perjanjian Giyanti,

Pangeran Mangkubumi- saudara laki- laki Susuhunan Pakubuwono II - dinobatkan

menjadi raja Ngayogyakarta Hadiningrat dengan nama Sultan Hamengku

Buwono I. Beliaulah yang mewarisi garis keturunan para Sultan yang sampai saat

ini masih tinggal di Kraton Yogyakarta dan berperan penting dalam budaya

masyarakat Jawa. Kerajaan kedua disebut dengan Yogyakarta.

Pada tahun 1813, di bawah kekuasaan Inggris untuk ketiga kalinya

perpecahan terjadi di kerajaan Mataram. Pangeran Noto Kusumo anak laki- laki

Hamengku Buwono I, dinobatkan menjadi Pangeran Adipati Aryo Paku Alam I

dan tinggal terpisah dari Kasultanan Yogyakarta. Pada saat Republik Indonesia

berdiri tanggal 17 Agustus 1945, sesudah proklamasi kemerdekaan,

Ngayogyakarta Hadiningrat (Kasultanan) dan Pakualaman ( Kadipaten)

bergabung menjadi satu propinsi menjadi bagian Republik Indonesia dengan Sri

Sultan Hamengku Buwono IX sebagai gubernur dan Sri Paku Alam VIII sebagai

(56)

berstatus propinsi pada tahun 1950 sebagai penghargaan karena berperan penting

dalam perang demi kemerdekaan.

B. Komite Sekolah

1. Munculnya Komite Sekolah

Kemunculan komite didasari pada keputusan Mentri Pendidikan

Nasional Nomor 004/U/2002, tanggal 2 April 2002. Sejak saat itu sebenarnya

pemerintah sudah mewajibkan setiap sekolah membentuk komite sekolah. Pada

tahun 2002 baru beberapa sekolah saja yang membentuk komite sekolah. Hal

tersebut hanya terlihat di kota-kota seperti: Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Pada bulan April 2006, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mulai membentuk

komite sekolah sebagai tanggapan atas kemunculanya keputusan Mentri

Pendidikan Nasional tahun 2002. Kemunculan komite sekolah terkesan lambat

karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan pada masyarakat dan orang tua

murid. Walaupun terkesan lambat, namun sekolah unggulan sudah membentuk

komite sekolah. Bahkan jika dibentuk secara benar, telah banyak peran dari

kehadiran komite sekolah untuk perkembangan sekolah tersebut.

2. Proses Pembentukan Komite Sekolah

Pembentukan komite sekolah pada awalnya telah melibatkan

masyarakat, pihak sekolah, orang tua murid. Mereka duduk bersama dalam

musyawarah untuk memilih pengurus dan jabatan masing- masing. Banyak juga

(57)

menjadi bagian dari pengurus komite sekolah. Di Yogyakarta, komite sekolah

mulai terbentuk di sekolah-sekolah pada tahun 2003. Terbentuknya komite

sekolah ini disambut baik oleh SMA Negeri sebagai bentuk dari otonomi

sekolah. SMA Negeri 1, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 8 sudah sejak tahun

2003 telah membentuk komite sekolah. Komite sekolah yang terbentuk saat itu

belum optimal, hanya berfungsi sebagai mediasi penerimaan dana saja. Namun

saat ini komite sekolah sudah memiliki program-program kerja yang telah

tersusun.

Kemunculan komite sekolah di Yogyakarta ini tidak lepas dari

perhatian Wali kota Yogyakarta. Wali kota Yogyakarta mewajibkan setiap

sekolah baik negeri maupun swasta harus membentuk komite sekolah . Komite

sekolah wajib membuat program kerja, rencana anggaran pendapatan dan

bela nja dari masing- masing sekolah. Sehingga pada akhir tahun nanti pihak

sekolah dan komite sekolah menyampaikan laporan pertanggungjawaban secara

terbuka kepada orang tua atau wali murid.

3. Anggota Komite Sekolah

Pada umunya anggota komite sekolah beranggotakan seluruh orang

tua murid, guru-guru di sekolah dan perwakilan dari masyarakat. Dari sekian

banyak orang tua telah dipilih melalui musyawarah untuk menjabat sebagai

anggota komite sekolah. Dari pihak guru- guru di sekolah juga dipilih lewat

jalan musyawarah. Kepala sekolah kebanyakan menjabat sebagai pengurus

(58)

masyarakat yang peduli dengan pendidikan atau sebagai orang yang dihargai

dan sebagai panutan dalam masyarakat. Selain itu ada beberapa sekolah yang

melibatkan tokoh agama dan ketua OSIS sebagai pengurus komite sekolah.

Selain itu anggota komite sekolah terdiri dari anggota sukarela.

Anggota sukarela adalah warga masyarakat yang mempunyai perhatian besar

pada pendidikan terkait secara sukarela dan tidak mengikat dapat menyatakan

diri secara tertulis kepada pengurus komite sekolah pada masing- masing

sekolah dan kepadanya ditetapakan sebagai anggota sukarela setelah melalui

pertimbangan dalam rapat pengurus komite yang bersangkutan.

Pengurus komite sekolah terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara,

dan seksi-seksi yang pembentukanya secara formatur terdiri atas unsur komite

dan unsur sekolah dalam rapat komite sekolah masing- masing. Pengurus

komite sekolah juga dilengkapi kepala sekolah masing- masing sebagai Pembina

dan Badan Pemeriksa yang terdiri atas seorang ketua dan dua orang anggota

komite. Sedangkan anggota Badan Pemeriksa berasal dari anggo ta komite satu

orang dan guru satu orang yang dipilih melalui rapat komite sekolah.

4. Pergantian Komite Sekolah

Pergantian pengurus komite sekolah dilakukan sesuai kebijakan

sekolah. Pergantian tersebut bisa dilakukan 1-2 tahun sekali sesuai dengan

kesepakatan pembentuakan dari sekolah. Pergantian tersebut biasanya dilakukan

menjelang tahun ajaran baru, sekaligus membicarakan program kerja untuk

(59)

sesuai dengan kesepakatan pengurus, mengingat pengurus tidak hanya dari

kalangan pendidik saja. Waktu pertemuan biasanya dilakukan diluar jam proses

pembelajarn siswa di sekolah, yang diadakan satu bulan sekali atau satu minggu

sekali.

Penetapan maupuan pergantian pengurus tersebut telah ditetapkan

denga Surat Keputusan Kepala sekolah di sekolah masing- masing atas usul

ketua komite sekolah berdasarkan hasil rapat anggota komite sekolah yang

bersangkutan. Rapat anggota komite sekolah sekurang-kurangnya diadakan satu

kali dalam satu tahun untuk menyampaikan: informasi program dan

pelaksanaan pendidikan di sekolah oleh kepala sekolah, informasi program

kerja dan laporan pelaksanaan program kerja, pemilihan pengurus baru sesuai

periode kepengurusan dan serah terima pengurus lama ke pengurus baru.

Sedangkan rapat pengurus komite sekolah diadakan dua kali dalam satu

semester atau empat kali dalam satu tahun. Rapat pertama, pada awal semester

untuk menyusun program terpadu dengan pejabat terkait. Rapat kedua, pada

akhir semester guna menyusun laporan kerja pengurus sebagai bahan

pertanggungjawaban pada Rapat Anggota Komite tahunan. Rapat pada akhir

semester genap juga dilaksanakan guna mempersiapkan penyelenggaraan Rapat

Anggota Komite Tahunan berkaitan dengan Anggota Komite tanggal dan

Anggota Komite yang Baru, serta rapat pergantian pengurus Komite sesuai

(60)

Anggaran dan sumber dana komite sekolah berasal dari anggota

komite seperti uang pangkal, uang iuran tiap bulan maupun iuran suka rela serta

sumber dana lain yang sah. Besar pungutan uang pangkal, iuran, dan

sumbangan sukarela minimum serta dana lain yang sah ditentukan oleh hasil

musyawarah Pengurus Komite dan Kepala Sekolah. Pengelolan dana

sepenuhnya berada pada Pengurus Komite dan Kepala Sekolah. Penggunaan

dana komite sekolah yang digunakan untuk membantu kegiatan siswa, sarana,

dan prasarana dikeluarkan berdasarkan proposal yang telah ditandatangi oleh

Kepala Sekolah dan Ketua Komite. Banyaknya dana yang dikeluarkan

berdasarkan kemampuan keuangan Komite Sekolah.

5. Struktur Komite Sekolah

Tabel IV.1

Struktur Komite Sekolah

BADAN PEMERIKSA

KETUA KEPALA

SEKOLAH

BENDAHARA SEKRETARIS

SEKSI PEMBANGUNAN SEKSI PENDIDIKAN

(61)

Keterangan:

- - - : Garis pemeriksa keuangan

………….. : Garis Pembina, koordinasi, kerja sama _________ : Garis pelaksanaan tugas

Sumber: Pedoman Kerja Komite Sekolah

Susunan struktur komite sekolah ini dilengkapi Kepala Sekolah

masing- masing sebagai Pembina dan Badan Pemeriksa yang terdiri atas seorang

ketua dan dua orang anggota. Ketua Badan Pemeriksa berasal dari anggota komite

sekolah, sedangkan Anggota Badan Pemerikasa berasal satu orang dari anggota

komite sekolah dan satu orang dari guru yang dipilih melalui rapat anggota

komite sekolah. Untuk pengurus komite sekolah terdiri dari Ketua, Sekretaris,

Bendahara, dan Seksi-seksi yang pembentukannya terdiri dari atas unsur Komite

dan unsur sekolah dalam satu rapat komite sekolag masing- masing.

C. Daftar SMA di Kota Madya Yogyakarta yang Menjadi Tempat Penelitian

Penelitian peran serta komite sekolah dalam manajemen sekolah ini

dilakukan pada beberapa Sekolah Menengah Umum yang berada di Kota Madya

Yogyakarta. Melalui penjajakan awal yang dilakukan oleh peneliti ke Dinas

Figur

Tabel 1 Kisi-kisi instrumen kuesioner……………………………
Tabel 1 Kisi kisi instrumen kuesioner . View in document p.16
Tabel III.1
Tabel III 1 . View in document p.52
Tabel IV.1
Tabel IV 1 . View in document p.60
Tabel IV. 3
Tabel IV 3 . View in document p.62
Tabel V.1 Kriteria Skor Item
Tabel V 1 Kriteria Skor Item . View in document p.66
Tabel V.2 Kriteria Skor Item
Tabel V 2 Kriteria Skor Item . View in document p.67
Tabel V.3 Kriteria Skor Item
Tabel V 3 Kriteria Skor Item . View in document p.68
Tabel V.4 Kriteria Skor Item
Tabel V 4 Kriteria Skor Item . View in document p.69

Referensi

Memperbarui...