• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY E MASA HAMIL, PERSALINAN, NIFAS, NEONATUS DAN KELUARGA BERENCANA DI UPT PUSKESMAS SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ASUHAN KEBIDANAN PADA NY E MASA HAMIL, PERSALINAN, NIFAS, NEONATUS DAN KELUARGA BERENCANA DI UPT PUSKESMAS SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “E” MASA HAMIL, PERSALINAN, NIFAS, NEONATUS DAN KELUARGA BERENCANA DI UPT PUSKESMAS SOOKO

KABUPATEN MOJOKERTO SINTA EVA ARDIANA

1311010083 SUBJECT:

Contuinity of care, kehamilan, resiko tinggi, ibu, SC DESCRIPTION:

Asuhan kebidanan yang dilakukan secara contuinity of care pada Ny”E” G4P10021 UK 35-36 minggu pada tanggal 18 februari 2016. Data yang diperoleh ibu termasuk dalam resiko tinggi, pada trimester III sering mengeluh sering buang air kecil dan nyeri pinggang. Tanda-tanda persalinan dirasakan ibu pada UK 37-38 minggu dengan keluhan kenceng-kenceng dan keluar lendir. Ibu sudah ada pembukaan 2 tetapi dengan skor yang tinggi yaitu 18 akhirnyaPersalinan pada Ny E akan dilakukan secara SC karena Ny E telah mempunyai indikasi yang menyebabkan SC yaitu riwayat aborsi dua kali, riwayat persalinan sebelumnya dan usia ibu yang melebihi 35 tahun sehingga operasi sesar merupakan pilihan yang tepat. Hal ini berujuan untuk menghindari adanya komplikasi dalam persalinan yang berkaitan dengan keselamatan ibu dan bayi. Pada tanggal :11 - 3 – 2016, bayi lahir dengan jenis kelamin laki-laki, berat badan 3000 gram dan panjang badan 50 cm, dilakukan kunjungan sebanyak 3 kali dan tidak ada keluhan. Pada kunjungan nifas dilakukan kunjungan sebanyak 4x, pada kunjungan keempat yaitu 6 minggu postpartum ibu mengeluh nyeri pada luka jahitan Sc karena ibu terlalu banyak beraktifitas, pada kunjungan ini penulis memberikan konseling tentang KB dan pada kunjungan terakhir ibu sudah memilih KB suntik 3 bulan hanya saja ibu belum melakukan suntik 3 bulan di bidan.

Setelah dilakukan asuhan kebidanan secara continuity of care tidak ditemukan komplikasi dan bayi dalam keadaan normal dan sehat . Asuhan kebidanan pada Ny”E” telah dilakukan kurang lebih 3 bulan dengan asuhan continuity of care yang dimulai dari kehamilan dari trimester III, bersalin, nifas, neonatus dan KB.

ABSTRACT:

Midwifery care in contuinity of care on Mrs ”E” G4P10021UK 35-36 weeks on february 18 2016, according to data obtained a mother had a high risk in the 3rd trimester, because aften complained she had uriration and low back poin. The signs of birth, has felt on gestational age of 37-38 weeks with mother’s complants contraction, mother had mucus and blood. The mothers had 2cm of cervix dilatation, but the high score that was 18. So that the parturation was done by surgery because Mrs E had indication of SC surgery, she had history of abortion for twice ad. The age of mother that excreding 35 years old so SC surgery was the exact choice.It arrived to avoid any complication in parturation related maternal and infant survival. On march, 18 2016, the babby born with male sexand 3200 gram on weight and was 51 cm, we visited her for 3 times and found no complaints. In post partum visit we did as many as 4 times. On 4th visit was 6 week in postpartum, the mother complained in stitches, because the mother had too many activities, in that visit , the reserce gave health education about family planning and in last visit the mother had choice for 3monthly injectably contraception it was just she has not done it get.

(2)

After conducting midwifery care in contuinity of care there was no found compications and the baby was normal and healthy. Midwifery care of Mrs ”E” had been implemented for 3 month with contuinity of care who started from third trimester of pregnancy, parturition, post partum, neonatus, and family planning.

Keyword : Sectio cesarea, age is over 35 years, abortion history.

Contributor : 1. Sulis Diana, M.Kes.

2. Dian Irawati, M.Kes

Date : 19 Mei 2016 Type Material : Laporan Penelitian Identifier : -

Right : Open Document Summary :

LATAR BELAKANG

Angka kematian ibu (AKI) adalah salah satu indikator tingkat kesehatan masyarakat, semakin tinggi AKI di dalam suatu masyarakat maka semakin rendah tingkat kesehatan masyarakat tersebut dan berpotensi menyebabkan kemunduran ekonomi dan sosial di level rumah tangga, komunitas dan nasional.Dampak terbesar kematian ibu yang berupa penurunan kualitas hidup bayi dan anak menyebabkan goncangan dalam keluarga dan mempengaruhi tumbuh kembang pada anak. (aeni,2013)

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesahatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu ( yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas ) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun meskipun tidak terlalu signifikan.Target global MDGS ke 5 adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015(kemenkes, 2013).

Di Jawa Timur sendiri, Angka Kematian Ibu pada tahun 2012 mencapai 97,43/100.000 kelahiran hidup. Kabupaten Mojokerto memiliki Angka Kematian Ibu sebanyak 116,89/100.000 kelahiran hidup, sedangkan Kota Mojokerto memiliki Angka Kematian Ibu sebanyak 54,70/100.000 kelahiran hidup. (Dinkes Jatim, 2012).

CakupanK1 di Jawa Timur mencapai 95,07% cakupan K4 sendiri mencapai 87,36% , cakupan Keluarga Berencana mencapai 78,98% . Cakupan K1 pada kabupaten Mojokerto mencapai 89,23%, sedangkan kota Mojokerto mencapai 83,01%, keluarga berencana di kota Mojokerto 6,61%, di kabupaten Mojokerto keluarga berencana mencapai 7,88%(Dinkes Jatim, 2012).

Lima penyebab kematian ibu terbesar adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan , infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di indonesia tetap didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan dan infeksi. Proporsi ketiga penyebab kematian ibu telah berubah, dimana perdarahan dan infeksi cenderung mengalami penurunan sedangkan hipertensi dalam kehamilan proporsinya semakin meningkat. Lebih dari 30% kematian ibu di indonesia pada tahun 2010 disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan. (dinkes,2013) Kematian Bayi Baru Lahir diakibatkan oleh infeksi, asfiksia saat lahir, dan cidera saat lahir.Lebih dari dua per tiganya terjadi pada bayi cukup bulan dengan ukuran sesuai masa kehamilan.Semua kematian bayi ini pada gilirannya menciptakan lingkaran permasalahan, pengaturan jarak kelahiran yang buruk, fertilitas berlebihan, kematian janin berkurang dan kesakitan serta kematian ibu (Hellen Varney 2010).

Berdasarkan data tersebut maka salah satu upaya yang dapat dilakukan agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh dan bermutu kepada ibu dan

(3)

bayi dalam lingkup kebidanan adalah dengan melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkelanjutan (Continuity of Care). Peran bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis dalam penurunan AKI adalah mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan paripurna, meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan berfokus pada aspek pencegahan melalui pendidikan kesehatan dan konseling serta promosi kesehatan, meningkatkan penerimaan gerakan KB, memberikan pendidikan dukun beranak, dan meningkatkan sistem rujukan (Manuaba, 2010).

Pendekatan safe motherhood, dengan menganggap bahwa setiap kehamilan mengandung risiko, walaupun kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan dalam keadaan baik. Program safe motherhood initiative ditindaklanjuti dengan peluncuran gerakan sayang ibu, selain itu pemerintah juga memiliki program yang lain diantaranya yaitu program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan neonatal yang dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 rumah sakit (PONEK) dan 300 puskesmas/Balkesmas (PONED), memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit (Kemenkes RI, 2014).

Tujuan penelitian ini adalah memberikan asuhan kebidanan secara continuity of care pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.

METODE PENELITIAN

Proses manajemen kebidanan didokumentasikan dengan SOAP. Responden studi kasus adalah Ny “E” usia 42 tahun. Pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan wawancara. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Sakinah Kota Mojokerto pada tanggal 09 Februari - 29 April 2016. Asuhan kebidanan pada ibu hamil dilakukan sebanyak 3 kali, asuhan kebidanan pada ibu bersalin dilakukan mulai dari persalinan kala I - kala IV, asuhan kebidanan pada ibu nifas dilakukan sebanyak 4 kali, asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dilakukan sebanyak 3 kali dan asuhan kebidanan pada keluarga berencana dilakukan sebanyak 2 kali.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada tanggal 18 Februari 2016, dilakukan pengkajian pada Ny”E” usia 42 tahun dengan keluhan utama ibu mengatakan hamil 9 bulan dan juga sering buang air kecil dan nyeri punggung. Ibu pernah hamil 4 kali namun 2 kali mengalami keguguran. Anak pertama berusia 4 tahun, mengalami keguguran 2 kali pada usia kehamilan 2 bulan dan usia kehamilan 3 bulan.

Dari fakta yang ada dilapangan ternyata usia ibu 42 tahun dan termasuk resiko tinggi untuk ibu merencanakan kehamilan hal ini sesuai dengan teori bahwa salah satu factor yang termasuk kategori resiko tinggi adalah usia ibu yang terlalu tua. Usia merupakan salah satu tolak ukur kesiapan seorang ibu untuk melahirkan, dimana usia ideal untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan adalah usia 20-35 tahun. Ada beberapa masalah yang sering ditemukan pada wanita hamil dengan usia di atas 30 tahun, seperti diabetes gestational (diabetes yang muncul pada saat kehamilan), tekanan darah tinggi dan juga masalah-masalah pada janin. Wanita hamil dengan usia yang lebih tua akan lebih sering mengalami masalah pada kandung kemih dibandingkan wanita hamil dengan usia yang lebih muda. (Suriah, 2007) Berdasarkan teori dari (Prawirihardjo, 2008) Ny “E” termasuk dalam kelompok dengan factor resiko I yaitu umur ≥ 35 tahun, pernah gagal kehamilan, dan bekas operasi sesar. Jumlah skor pada tiap kontak Ny”E” termasuk dalam kehamilan sangat resiko karena jumlah skor ≥ 12 yaitu dengan skor 18 . Dari fakta dan

(4)

teori diatas tidak terjadi kesenjangan karena dalam teori menyebutkan usia reproduktif untuk merencanakan kehamilan adalah 20-35 tahun, sedangkan fakta yang ada adalah usia ibu yang melebihi 35 tahun yaitu 42 tahun, sehingga rencana selanjutnya yang diperlukan adalah rujukan terencana yaitu menyiapkan dan merencanakan rujukan ke rumah sakit jauh-jauh hari bagi ibu resiko tinggi.

Pada hasil pengkajian selanjutnya ibu pernah mempunyai riwayat abortus sebanyak 2 kali. Menurut kanadi (2002) ibu harus waspada terhadap usia rawan keguguran, yaitu di atas 35 tahun. Wanita yang telah mencapai usia itu harus berfikir masak sebelum memutuskan untuk hamil, kebanyakan penyebabnya adalah masalah kelainan kromosom. Resiko keguguran memang semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur karena faktor usia sebagai akibat semakin tua usia ibu semakin tua pula sel telur., Berdasarkan teori dan fakta diatas maka tidak terdapat kesenjangan karena usia ibu yang melebihi 35 tahun, sehingga rentan terjadi abortus pada kehamilan selanjutnya dikarenakan adanya kelainan kromosom, kualitas sel telur yang semakin menurun dan resiko lebih tinggi melahirkan bayi cacat.

Pada Ny E juga ditemukan riwayat persalinan SC yaitu pada waktu persalinan anak pertama dengan jarak 4 tahun pada kehamilan keempat. Persalinan sectio caesarea dengan irisan perut dan rahim secara vertikal membuat ibu hamil rentan mengalami perobekan pada rahim saat mengejan pada proses persalinan normal yang dapat berpotensi menyebabkan perdarahan. Oleh karena itu, untuk menghindari morbiditas dan mortalitas pada ibu dengan riwayat sectio caesarea terutama sectio caesarea dengan irisan vertikal, maka persalinan sectio caesarea menjadi pilihan (Anonim, 2009). Dilakukanya operasi SC pada Ny E dikarenakan Ny E pernah mengalami SC sebelumnya. Karena dengan adanya riwayat persalinan SC maka Ny E dianjurkan untuk melakukan persalinan SC pada kehamilan berikutnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya resiko tinggi kehamilan. Berdasarkan teori Anonim menyebutkan bahwa persalinan sectio caesarea dengan irisan perut dan rahim secara vertikal membuat ibu hamil rentan mengalami perobekan pada rahim saat mengejan pada proses persalinan normal yang dapat berpotensi menyebabkan perdarahan.

Dari kunjungan pertama hingga terakhir didapatkan hasil Tinggi Fundus Uteri yaitu 30 cm, menurut teori (Wiknjosastro, 2005) bila pertumbuhan janin normal maka tinggi fundus uteri pada kehamilan 36-40 minggu adalah 30 cm. Berdasarkan fakta dan teori jika fundus uteri tetap atau tidak mengalami perkembangan maka di khawatirkan akan terjadi IUGR.

Berdasarkan pengkajian diperoleh data bahwa Ny.”E” usia kehamilan 38-39 minggu datang ke bidan pada tanggal 10 maret 2016 pukul 18.20 WIB dengan keluhan kenceng-kenceng tetapi jarang dan mengeluarkan lendir sejak pukul 14.00 WIB. Menurut Kuswanti dan Melina (2014) tanda gejala persalinan yang pertama adalah adanya kontraksi yang disebut dengan his, adanya pembukaan serviks, dan keluarnya lendir bercampur dengan darah Teori menurut Sondakh (2013) tanda-tanda persalinan ditandai dengan terjadinya his persalinan, pengeuaran kendir dan darah, pengeluaran cairan dan pada pemeriksaan dalam terdapat pelunakkan servik, pendataran servik, dan pembukaan servik menandakan bahwa ibu sudah memasuki masa inpartu. Hasil pemeriksaan yang diperoleh dari NY”E” oleh bidan secara umum keadaan ibu baik, TD : 110/80 mmHg, N : 84x/menit, S : 36,7ºc, pernafasan : 22x/menit pada meperiksaan Leopold IV teraba bagian terendah divergen sudah masuk PAP 2/5 bagian DJJ 142x/menit, pada pemeriksaan dalam tercatat Ø 2 cm, eff 25%, presentasi kepala, denominator UUK, hodge 1, ketuban (-), HIS 10.2x.25’’ tidak ada bagian yang menumbung.

Dari pengkajian yang telah diperoleh, didapatkan bahwa ibu pernah memiliki riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya, usia yang terlalu tua >35 tahun dan luka

(5)

bekas operasi maka dirujuk untuk dilakukan persalinan secara SC di rumah sakit. Menurut (maryunani, )indikasi pada ibu yang dilakukan operasi Sektio Caesar yaitu proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (dystosia), Partus lama, Detak jantung janin melemah, usia >35 tahun, kegagalan dalam kehamilan, Panggul sempit, malpresentasi janin. Berdasarkan dari teori dan fakta yang ada maka Ny E mempunyai indikasi yaitu usia >35 tahun, riwayat persalinan SC dan riwayat abortus 2 kali sehingga operasi sesar merupakan pilihan yang tepat. Hal ini berujuan untuk menghindari adanya komplikasi dalam persalinan yang berkaitan dengan keselamatan ibu dan bayi.

Pada pemeriksaan masa nifas diketahui bahwa untuk kunjungan pertama 6 jam setelah melahirkan keluhan ibu nyeri pada luka bekas jahitan. Untuk kunjungan kedua dilakukan pada 6 hari setelah melahirkan dengan keluhan masih sedikit nyeri pada luka bekas operasi. Namun pada kunjungan berikutnya ibu sudah tidak ada keluhan, dan dilanjutkan pada kunjungan pada 6 minggu setelah persalinan ibu mengalami sedikit nyeri pada luka bekas operasi.

Kunjungan nifas pada Ny. E dilakukan kunjungan 6 jam, 6 hari dan 2 minggu dan kunjungan 6 minggu. Hasil dari kunjungan 6 minggu postpartum ditemukan masalah yaitu ibu masih mengeluh nyeri pada luka jahitan SC pada minggu ke-6.

Kunjungan I, 6 jam post partum dilakukan pengkajian pada Ny. E didapatkan tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik,, kandung kemih kosong, nyeri luka bekas operasi dan keadaan luka masih basah, pengeluaran lochea rubra, semua hasil pemantauan tidak ada kelainan Menurut teori bahwa tinggi fundus uteri pada 6 jam postpartum adalah 2 jari dibawah pusat dan terjadi pengeluaran lochea rubra selama 2 hari pasca persalinan.( Sitti Saleha,2010). Hal ini tidak ada kesenjangan dengan teori karena masa nifas sudah berjalan normal tanpa ada komplikasi.

Kunjungan II, 6 hari postpartum hasil pemeriksaan yang diperoleh pada Ny. E adalah Tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat dan sympisis, kontraksi uterus baik, konsistensi uterus baik, pengeluaran lochea sanguinolenta yang berwarna merah kekuning, luka sudah kering dan sudah diangkat jahitan, bau khas, konsistensi cair, ibu memakan makanan bergizi, tidak ada pantangan, dan ibu istirahat yang cukup, tidak terdapat tanda-tanda infeksi, pengeluaran ASI lancar, ibu menyusui bayinya dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan bayi. Menurut (Sitti Saleha, 2010) menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal, memastikan ibu mendapat cukup makanan,cairan dan istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik. Dari hasil pemantauan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek yang ada karena masa nifas berjalan normal tanpa ada tanda-tanda komplikasi yang muncul pada masa nifas.

Kunjungan III, 2 Minggu post partum diperoleh hasil bahwa ibu merasa sudah tidak ada keluhan, tinggi fundus uteri tidak teraba, luka sudah kering, dan pengeluaran lochea alba kadang serosa yaitu berwarna kuning kecoklatan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa fundus uteri sudah tidak teraba lagi setelah 14 hari postpartum (Ambarwati, 2010). Tanda-tanda vital dalam batas normal, ibu juga memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Pengeluaran ASI sudah sangat lancar. Selama 2 minggu setelah persalinan ibu tidak pernah tarak makanan dan mengkonsumsi makanan bergizi yang mengandung banyak vitamin . dalam hal ini kunjungan yang dilakukan 2 minggu setelah masa nifas tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek.

Kunjungan IV, 6 Minggu postpartum hasil pemeriksaan pada Ny. E adalah Tinggi fundus uteri sudah tidak teraba lagi dan pengeluaran lochea Alba yang berwarna keputihan. Tetapi ibu mengeluh nyeri pada jahitan operasi karena ibu sudah beraktifitas seperti biasa dan merawat bayinya sendiri tanpa ada bantuan dari oranglain. Terdapat kesenjangan karena pada 6 minggu postpartum sebenarnya sudah tidak ada keluhan tetapi

(6)

ibu masih mengeluh nyeri karena terlalu banyak aktifitas, oleh karena itu ibu harus banyak istirahat dan mengurangi aktifitas agar tidak merasakan nyeri lagi pada luka jahitan Sc.

Bayi Ny E lahir cukup bulan , pengkajian dilakukan pada tanggal 11 Maret 2016, bayi lahir pada tanggal :11 - 3 – 2016, Jenis Kelamin: Laki-Laki dengan hasil pemeriksaan dalam batas normal.

Kunjungan I, 2 hari neonatus adalah tetap menjaga kehangatan, ASI keluar lancar dan bayi menyusu dengan kuat. Hasil Pemeriksaan yang dilakukan dalam batas normal,

Pernafasan: 40x/, Suhu: 36,5C, Nadi: 124x/menit tidak terjadi ikterus pada bayi karena bayi menyusu dengan kuat. Hasil Pemeriksaan yang dilakukan dalam batas normal,

Pernafasan: 40x/, Suhu: 36,5C, Nadi: 124x/menit tidak terjadi ikterus pada bayi karena bayi menyusu dengan kuat. Tetapi tidak dilakukan IMD karena kesadaran ibu yang belum membaik. Menurut (kemenkes RI, 2013) mulai IMD dengan memberi cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi di dada ibu minimal 1 jam. Terjadi kesenjangan antara teori dan fakta yang ada karena tidak dilakukan IMD sama sekali dengan alasan kesadaran ibu yang belum membaik dan keadaan ibu yang masih lemah, bayi baru menyusu ibunya setelah di ruang Rawat Gabung .

Kunjungan II, 6 hari dengan hasil pemeriksaan keadaan bayi dalam batas normal tidak ditemukan masalah atau komplikasi pada bayi., ASI lancar dan bayi menyusu dengan kuat, memberikan imunisasi HB0 0,5 cc, Imunisasi sudah diberikan. Tidak ditemukan tanda-tanda bahaya pada bayinya dan talipusat telah lepas dihari ke 4 pada tanggal 15 maret 2016. Menurut (Asuhan Persalinan Normal,2008) bayi di imunisasi HB0 Segera 1jam setelah pemberian Imunisasi Vit K. terjadi kesenjangan antara teori dan praktek karena seharusnya Imunisasi diberikan 1 jam setelah pemberian vit k tetapi pada fakta yang ada imunisasi hepatitis B dilakukan 3 hari setelah bayi lahir.

Kunjungan III, 2 minggu hasil pemantauan keadaan bayi dalam keadaan normal, tidak terjadi ikterus, bayi menyusu ASI sesuai dengan kebutuhan, berat badan naik 800 gram dari berat lahir pertama,

Dari fakta didapatkan kenaikan berat badan bayi dari kunjungan pertama hingga kunjungan ketiga yaitu 800 gram dalam kurun waktu 2 minggu. Menurut (Supariasa, 2002) berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik dan dasar perhitungan dosis obat dan makanan. Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan fakta yang ada karena kenaikan berat badan tidak terlalu banyak dari jumlah kenaikan normal, sehingga bayi dalam keadaan normal dan sehat tidak mengalami BBLR.

Pada hasil pengkajian yang dilakukan 25 April 2016 diketahui bahwa ibu mengatakan masih bingung dalam pemilihan alat kontrasepsi, karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan sebelumnya karena ibu tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun. Menurut (notoadmojo, 2005) pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan pengalaman dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar, sehingga dari pengalaman yang benar diperlukan berfikir yang logis dan kritis. Dari fakta dan teori yang terjadi maka pengalaman dan pengetahuan sangat dibutuhkan untuk kalangan ibu yang akan menggunakan alat kontrasepsi, memberikan ibu motivasi dan informasi dari jenis-jenis KB serta keuntungan dan kerugian KB.

Dari kunjungan yang telah dilakukan, Ibu sudah dimotivasi dan disarankan untuk Tubektomi mengingat usia ibu yang sudah tua dan termasuk resiko tinggi. Menurut (sarwono,) usia lebih dari 35 tahun dianjurkan untuk tidak hamil lagi karena setelah usia lebih dari 35 tahun tubuh wanita sudah tidak mendukung untuk hamil sehingga lebih

(7)

beresiko terjadi komplikasi kehamilan, dan kontrasepsi terbaik adalah tubektomi atau steril .

Pada kunjungan kedua pada tanggal 06 mei didapatkan hasil bahwa Ny E telah memilih untuk menggunakan KB suntik 3 bulan tetapi ibu belum melakukan suntik 3 bulan di bidan dan belum melakukan hubungan suami istri sama sekali .Dalam hal ini bidan perlu memotivasi ibu untuk segera berKB agar tidak terjadi kehamilan lagi.

Simpulan

Asuhan kehamilan pada ibu UK 9 bulan dengan keluhan sering buang air kecil dan nyeri punggung. Ny “E” melakuan persalinan sesar karena dipengaruhi oleh factor usia yang melebihi 35 tahun, riwayat persalinan yang lalu, dan riwayat abortus 2 kali sehingga dilakukan rujukan dini. Persalinan pada Ny E telah direncanakan karena Ny E telah mempunyai indikasi yang menyebabkan SC sehingga operasi sesar merupakan pilihan yang tepat. Hal ini berujuan untuk menghindari adanya komplikasi dalam persalinan yang berkaitan dengan keselamat ibu dan bayi. Asuhan masa nifas ibu telah melakukan selama 4 kali yaitu kunjungan pertama 6 jam setelah melahirkan, kunjungan kedua dilakukan pada 6 hari setelah melahirkan, kunjungan berikutnya ibu sudah tidak ada keluhan, dan dilanjutkan pada kunjungan pada 6 minggu ibu masih mengalami nyeri luka bekas operasi karena terlalu banyak beraktivitas. Asuhan Neonatus diketahui bahwa bayi Ny E lahir cukup bulan , pengkajian dilakukan pada tanggal 11 Maret 2016, bayi lahir pada tanggal :11 - 3 – 2016, Jenis Kelamin: Laki-Laki. Dilakukan kunjungan selama 3 kali dan tidak ada keluhan. Asuhan pada Keluarga berencana dilakukan kunjungan 1 kali dan ibu memilih KB suntik 3 bulan tetapi belum melakukan suntik KB.

Rekomendasi

Diharapkan hasil penelitian ini dijadikan bahan evaluasi dan memberikan materi kebidanan terkait dengan asuhan kebidanan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Hasil penelitian ini hendaknya dapat dipergunakan untuk bahan dasar dalam memberikan asuhan pada ibu hamil secara menyeluruh sebagi upaya untuk melakukan evaluasi dalam memberikan pelayanan asuhan kebidanan.

Disarankan bagi klien untuk menjaga kondisi kehamilanya dan melakukan kunjungan sesuai dengan yang dianjurkan agar dapat mengetahui sejak dini adanya komplikasi selama kehamilan sampai keluarga berencana. Dan disarankan klien untuk tidak merencanakan kehamilan lagi.

Hasil penelitian ini hendaknya dijadikan pengalaman dalam memberikan asuhan kebidanan secara komperhensif, agar dalam melakukan pengabdian pada masyarakat menjadi bidan yang professional dan mengerti kebutuhan pasien sehingga tepat dalam melakukan tindakan.

Daftar Pustaka

Sondakh, Jenny J.S. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Malang Gelora Aksara: Erlangga

Varney, Helen dan Kriebs, jan. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2. Jakarta : EGC

Rukiyah, Ai Yeyeh. 2010. Asuhan Kebidanan 4 (Patologi). Jakarta: Trans Info Media Prawirohardjo sarwono. ( 2009 ). Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Kemenkes RI. 2007. Keputusn Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 938/Menkes/SK/VIII/2007. Tentang Standar Asuhan Kebidanan. Jakarta: Menteri Kesehatan Indonesia

(8)

Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013 [Book]. - Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

Kemenkes RI. 2012. Infodatin Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Kemenkes RI, 2013. ProfilKesehatan Indonesia Tahun 2013.

Manuaba, Ida Ayu Chandranita, Manuaba, I.B.G Fajar dan Manuaba, I.B.G 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan KB. Jakarta: EGC.

Depkes RI (2008). Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR, Jakarta

Dinkes Jatim. 2013. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Surabaya: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Saleha Sitti. 2010. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta :YayasanBinaPustaka

Sondakh J.S Jenny. 2013. asuhan kebidanan persalinan & bayi baru lahir [Book]. - malang : Erlangga.

Alamat Correspondensi

- Email : sinthaeva@yahoo.co.id - No. HP : 081255242196

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji LSD menunjukkan bahwa total populasi bakteri selulolitik pada lokasi pengambilan sampel yang mengalami perubahan lahan akibat aktivitas antrophogenik berbeda nyata

Puji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah memberikan asung kertawaranugraha- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

Modul yang dijelaskan diatas merupakan salah satu koneksi SAP r/3 menggunakan bahasa pemrograman lain, masih banyak sekali bahasa pemrograman lainnya yang dapat berhubungan dengan

Cara ini dilakukan untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam pembuatan aplikasi Sistem Informasi Akuntansi Penentuan Harga Pokok Penjualan yang akan penulis

Semakin banyak perusahaan melakukan investasi yang menguntungkan bagi perusahaan tentunya dengan memilih risiko yang terkecil, hal ini akan bertujuan untuk

Sedangkan triangulasi metode akan dilakukan dengan mengecek derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dari berbagai teknik pengumpulan data yang digunakan

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Keputusan

Pengertian Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) menurut Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik