• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Terumbu Karang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Terumbu Karang"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang sebagai ekosistem dasar laut tropis yang komunitasnya didominasi oleh biota laut merupakan: (a) tempat tumbuh biota laut (tempat memijah, mencari makan, daerah asuhan berbagai biota laut), dan menjadi sumber protein bagi masyarakat pesisir; (b) plasma nutfah; (c) sumber bahan baku berbagai bangunan, perhiasan dan penghias rumah; dan (d) objek wisata bahari. Selain itu, ekosistem terumbu karang berfungsi sebagai pencegah erosi dan mendukung terbentuknya pantai berpasir, serta pelindung pantai dari hempasan gelombang sehingga mampu menjadi pelindung usaha perikanan dan pelabuhan-pelabuhan kecil (Dahuri et al. 2001).

Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat produktif dengan keanekaragaman jenis biota laut seperti (a) beraneka ragam avertebrata: terutama karang batu (stony coral), berbagai krustasea, siput dan kerang-kerangan serta ekinodermata seperti bulu babi, anemon laut, teripang, bintang laut dan lili laut; (b) beraneka ragam ikan: terutama 50 – 70% ikan karnivora, 15% ikan herbivora dan sisanya omnivora; (c) reptil seperti ular laut dan penyu laut; dan (d) ganggang dan rumput laut seperti alga koralin, alga hijau berkapur dan lamun (Dahuri et al. 2001).

Terumbu adalah endapan-endapan masif yang penting dari kalsium karbonat yang dihasilkan oleh aktifitas hewan karang (Filum Cnidaria, Klas Anthozoa, Ordo Madreporaria = Scleractinia) dengan sedikit tambahan dari alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat. Struktur bangunan batuan kapur (CaCO3) cukup kuat, sehingga koloni karang mampu

menahan gelombang air laut, sedangkan asosiasi organisme-organisme yang dominan hidup disini disamping scleractinian koral adalah algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur (Thamrin 2006).

Secara umumnya karang hidup berkoloni sehingga dapat membentuk terumbu, namun tidak semua karang dapat menghasilkan terumbu. Karang dibagi menjadi dua kelompok yaitu karang hermatipik dan ahermatipik. Karang ahermatipik adalah karang yang tidak dapat menghasilkan terumbu dan jenis

(2)

karang ini tersebar di seluruh dunia, sebaliknya karang hermatipik merupakan karang yang dapat menghasilkan terumbu dimana jenis karang ini hanya ditemukan di wilayah yang beriklim tropis. Perbedaan yang mencolok antara kedua jenis karang ini terdapat pada jaringan tubuhnya, jaringan karang hermatipik mempunyai sel-sel tumbuhan yang dapat bersimbiosis dengan zooxanthellae sedangkan ahermatipik kebanyakan bersifat karnivora sehingga tidak ditemukan zooxanthellae (Nybakken 1993).

Zooxanthellae merupakan tumbuhan bersel satu (unicelluler) yang termasuk kedalam jenis dinoflagellata dan berada pada individu karang (polip). Polip karang berbentuk tabung, mempunyai tentakel untuk menangkap mangsa, terdiri dari dua lapisan tubuh yaitu lapisan epidermis dan lapisan gastrodermis yang dipisahkan oleh mesoglea. Dalam lapisan gastrodermis inilah terletak zooxanthellae yang dapat menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis kemudian disekresikan sebagian kedalam usus polip sebagai makanan. Zooxanthellae karang menghasilkan sisa-sisa metabolisme berupa karbon dioksida, fosfat dan nitrogen yang sangat berguna dalam proses fotosintesis dan pertumbuhannya (Nontji 1993). Aktifitas zooxanthellae sangat membutuhkan cahaya matahari sehingga terumbu karang umumnya hidup di perairan pantai atau laut yang cukup dangkal, dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan. Disamping itu untuk hidupnya karang membutuhkan suhu air yang hangat dengan suhu optimum berkisar antara 25 – 29o C (Supriharyono 2000).

Menurut Nybakken (1993), pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor, antara lain adalah:

(a) Kedalaman

Kebanyakan terumbu karang dapat hidup antara kedalaman 0 – 25 meter dari permukaan laut. Tidak ada terumbu yang dapat hidup dan berkembang pada perairan yang lebih dalam antara 50 – 70 meter. Hal inilah yang menerangkan mengapa struktur terumbu terbatas hingga pinggiran benua atau pulau.

(b) Suhu (Temperatur)

Terumbu karang dapat hidup subur pada perairan yang mempunyai kisaran suhu antara 23oC – 25oC. Tidak ada terumbu karang yang dapat

(3)

berkembang pada suhu di bawah 18oC. Suhu ekstrim yang masih dapat ditoleransi berkisar antara 36oC – 40oC. Suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan terumbu karang dimana upwelling disebabkan oleh pengaruh suhu. Upwelling sendiri menyediakan persediaan makanan yang bergizi bagi pertumbuhan terumbu karang.

(c) Cahaya

Cahaya merupakan salah satu faktor yang sangat penting karena cahaya sangat dibutuhkan bagi zooxanthellae untuk melakukan proses fotosintesis. Titik kompensasi untuk karang yaitu kedalaman dimana intensitas cahaya berkurang hingga 15 – 20% dari intensitas di permukaan.

(d) Salinitas

Karang tidak dapat bertahan pada salinitas diluar 32 - 350/00. Namun di

Teluk Persia, terumbu karang dapat hidup pada salinitas 420/00. Layaknya

biota laut lainnya, terumbu karang pun mengalami tekanan dalam penerimaan cairan yang masuk. Sehingga apabila salinitas lebih rendah dari kisaran diatas, terumbu karang akan kekurangan cairan sehingga tidak banyak nutrien yang masuk dan sebaliknya jika salinitas lebih tinggi akan menyebabkan cairan yang didalam tubuhnya akan keluar.

(e) Pengendapan

Pengendapan yang terjadi di dalam air atau di atas karang mempunyai pengaruh negatif terhadap karang. Endapan dapat mengurangi cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis oleh zooxanthellae dalam jaringan karang.

Menurut Nybakken (1993) tipe pertumbuhan karang dan karakteristik masing-masing genera dari terumbu karang adalah:

(a) Tipe bercabang (branching)

Karang ini memiliki cabang dengan ukuran cabang lebih panjang dibandingkan dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya.

(b) Tipe padat (massive)

Karang ini berbentuk seperti bola, ukurannya bervariasi mulai dari sebesar telur sampai sebesar ukuran rumah. Jika beberapa bagian dari karang tersebut mati, karang ini akan berkembang menjadi tonjolan, sedangkan bila

(4)

berada didaerah dangkal bagian atasnya akan berbentuk seperti cincin. Permukaan terumbu adalah halus dan padat.

(c) Tipe kerak (encrusting)

Karang seperti ini tumbuh menutupi permukaan dasar terumbu. Karang ini memiliki permukaan yang kasar dan keras serta lubang-lubang kecil.

(d) Tipe meja (tabulate)

Karang ini berbentuk menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopang oleh sebuah batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.

(e) Tipe daun (foliose)

Karang ini tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan melingkar.

(f) Tipe jamur (mushroom)

Karang ini berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.

Menurut bentuk dan letaknya, pertumbuhan ekosistem terumbu karang dikelompokkan menjadi tiga tipe terumbu karang (Nybakken 1993) yaitu:

(a) Terumbu karang pantai (fringing reefs)

Terumbu karang ini berkembang di pantai dan mencapai kedalaman tidak lebih dari 40 meter. Terumbu karang ini tumbuh keatas dan kearah laut. Pertumbuhan terbaik biasanya terdapat di bagian yang cukup arus. Sedangkan diantara pantai dan tepi luar terumbu, karang batu cenderung mempunyai pertumbuhan yang kurang baik, bahkan banyak yang mati karena sering mengalami kekeringan dan banyaknya endapan yang datang dari darat.

(b) Terumbu karang penghalang (barrier reefs)

Terumbu karang ini terletak agak jauh dari pantai dan dipisahkan dari pantai tersebut oleh dasar laut yang terlalu dalam untuk pertumbuhan karang batu (40-70 meter). Terumbu karang ini berakar pada kedalaman yang melebihi kedalaman maksimum dimana karang batu pembentuk terumbu dapat hidup. Umumnya terumbu tipe ini memanjang menyusuri pantai dan biasanya

(5)

berputar seakan-akan merupakan penghalang bagi pendatang yang datang dari luar.

(c) Terumbu karang cincin (atoll)

Terumbu karang ini merupakan bentuk cincin yang melingkari suatu goba (Lagon). Menurut Sukarno et al. (1983) kedalaman rata-rata goba didalam atol sekitar 45 meter, jarang sampai 100 meter. Terumbu karang ini juga bertumpu pada dasar laut yang dalamnya diluar batas kedalaman karang batu penyusun terumbu karang hidup.

Berdasarkan pada tipe ekosistem terumbu karang diatas ditemukan tiga macam bentuk permukaan dasar yaitu:

(a) Bentuk permukaan dasar mendatar di tempat dangkal, yaitu daerah rataan terumbu (reef flat).

(b) Bentuk permukaan dasar yang miring ke arah tempat yang lebih dalam dan landai atau curam, yaitu lereng terumbu (reef slope).

(c) Bentuk permukaan dasar yang mendatar di tempat yang dalam, yaitu goba (lagoon floor) atau teras dasar (submarine terrace).

Aktifitas pembangunan di wilayah pesisir seperti pertanian, industri, pengerukan pantai, penangkapan ikan (bahan peledak dan sianida), tumpahan minyak dan didukung dengan peristiwa alam seperti badai, gempa bumi, kenaikan suhu (El Nino) dapat mengganggu ekosistem terumbu karang. Fenomena El Nino dapat mengakibatkan terumbu karang menjadi mati akibat proses bleaching. Di samping faktor fisik-kimia, faktor biologis yaitu predator karang mempunyai andil pada kerusakan karang. Bintang laut berduri Acanthaster plancii cukup terkenal sebagai perusak karang di daerah Indo-Pasifik. Selain Acanthaster plancii, beberapa jenis hewan lainnya seperti gastropoda Drupella rugosa, bulu babi (Echinometra mathaei, Diadema setosum, dan Tripneustes gratilla), dan beberapa jenis ikan karang seperti ikan kakak tua (Scarrus spp.), kepe-kepe (Chaetodon spp.) dapat mengakibatkan kerusakan pada area terumbu karang (Supriharyono 2000).

(6)

2.2 Ikan Karang

Ikan-ikan yang terdapat di terumbu karang memiliki variasi bentuk, ukuran, warna, perilaku dan ekologi dari ikan karang memperlihatkan keunikannya. Ukuran tubuh ikan karang dari jenis Gobidae yang hanya 1 cm panjangnya sampai ikan hiu Carcharhinidae yang dapat mencapai panjang 9 m bisa terdapat di terumbu karang (Kuiter & Tonozuka 2001).

Keberadaan ikan karang di sekitar terumbu karang tergantung dari kondisi terumbu karang itu sendiri. Persentasi tutupan karang hidup yang tinggi tentunya akan berdampak pada kelimpahan ikan-ikan karang. Sebaliknya, bila presentasi tutupan karang buruk tentunya kelimpahan ikan karang akan sangat berkurang. Habitat ikan di daerah tropis mempunyai jumlah spesies yang lebih banyak daripada di daerah subtropis dan yang paling banyak jumlah ikannya adalah spesies ikan karang yang diduga ada sebanyak 4 000 spesies (Allen et al. 1998). Sedangkan menurut Hixon (2009) dari data yang tercatat bahwa 30% dari 15 000 spesies ikan laut mendiami terumbu karang dan ratusan spesies dapat hidup berdampingan di terumbu karang yang sama.

Perairan Indonesia sendiri terdapat sekitar 3 000 jenis yang termasuk dalam 17 ordo dan 100 famili (Kuiter & Tonozuka 2001). Kebanyakan famili ikan yang berada di laut tropis sebagian besar hidup dan hanya dapat ditemukan di daerah terumbu karang. Famili Chaetodontidae, Scaridae dan Labridae merupakan famili ikan yang hidup di daerah terumbu. Sedangkan famili Acanthuridae, Holocentridae, Balistidae, Ostraciodontidae, Pomacentridae, Serranidae, Blennidae dan Muraenidae merupakan komponen famili ikan demersal dan termasuk kedalam jenis ikan pemakan benthos (epibentis). Beberapa famili ikan yang hidup di daerah pelagis (epipelagis) dan mempunyai hubungan erat dengan terumbu karang adalah ikan genus Sphyrena dan famili Carangidae. Ikan-ikan karang tersebut rata-rata memiliki warna yang cerah dan mempunyai ciri khusus yang dapat membantu kita dalam mengidentifikasi species ikan tersebut. Selain itu, warna dan ciri tersebut dapat berfungsi untuk melindungi diri dari predator yang selalu mencari kesempatan untuk memakannya.

Kelompok ikan karnivor di daerah terumbu karang sekitar 50-70% dan hampir meliputi jenis ikan di daerah terumbu karang sedangkan kelompok ikan

(7)

pemakan karang dan herbivor sekitar 15%. Ikan-ikan dari kelompok ini sangat tergantung kepada kondisi terumbu karang untuk mengembangkan populasinya. Kelompok planktivor dan omnivor hanya terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit (Choat & Bellwood 1991).

Sedangkan menurut Adrim (1993) kelompok ikan karang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

(a) Kelompok ikan target, yaitu ikan karang yang mempunyai manfaat sebagai ikan konsumsi, seperti ikan Famili Serranidae, Lutjanidae, Haemulidae dan Lethrinidae.

(b) Kelompok ikan indikator, yaitu kelompok ikan karang yang dinyatakan sebagai indikator kelangsungan hidup terumbu karang. Hanya satu famili yang termasuk jenis kelompok ikan indikator, yaitu ikan dari famili Chaetodontidae.

(c) Kelompok ikan utama (mayor), yaitu ikan yang berperan dalam rantai makanan, seperti ikan dari famili Pomacentridae, Scaridae, Acanthuridae, Caesionidae, Labridae, Siganidae, Mullidae dan Apogonidae.

Menurut Longhurst dan Pauly (1987) ikan karang dibedakan kedalam dua kategori, yaitu ikan nocturnal dan ikan diurnal. Ikan diurnal merupakan ikan yang sering muncul pada siang hari dimana ikan-ikan tersebut memiliki bentuk tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan ikan nocturnal yang sering muncul pada malam hari. Ikan diurnal memiliki warna yang lebih terang dibandingkan dengan ikan nocturnal. Namun ikan nocturnal biasanya hidup soliter. Ikan karang nocturnal biasanya tidak memiliki warna yang mencolok dan mempunyai mata yang besar (squirrelfishes dan Holocentridae).

Ekosistem terumbu karang yang merupakan habitat hewan dan tumbuhan terutama ikan karang yang memiliki densitas terbesar. Struktur komunitas ikan karang didominasi oleh ikan dari famili Labridae dan Pomacentridae. Menurut Nybakken (1993) bahwa pada siang hari di daerah reef flat ditemukan 336 spesies yang termasuk kedalam 45 famili dengan jumlah ikan karang yang paling dominan adalah famili Pomacentridae kemudian Labridae.

Umumnya setiap spesies ikan mempunyai kesukaan habitat tertentu (Hutomo 1993). Terumbu karang sendiri tidak hanya terdiri dari dari karang saja,

(8)

tetapi juga daerah berpasir, teluk dan celah, daerah alga dan juga perairan dangkal dan dalam serta zona-zona berbeda yang melintasi karang. Habitat yang beranekaragam ini dapat menerangkan peningkatan jumlah ikan-ikan tersebut (Nybakken 1993).

Distribusi spasial ikan karang berhubungan dengan karakteristik habitat dan interaksi diantara ikan-ikan itu sendiri, baik yang bersifat hubungan antar spesies (interspesies) maupun hubungan antara individu dengan spesies tertentu (intraspesies). Diversitas dan densitas ikan karang yang tinggi disebabkan oleh banyaknya variasi habitat yang terdapat di terumbu karang. Ikan-ikan tersebut memiliki relung ekologi yang lebih sempit sehingga lebih banyak spesies yang hanya dapat bergerak dalam area tertentu. Sebagai akibat dari keadaan ini, ikan-ikan terbatas pada area tertentu pada terumbu karang. Selain itu juga diantara ikan-ikan ada yang dapat bermigrasi dan bahkan beberapa spesies menetap tanpa berpindah tempat untuk melindungi wilayahnya (Nybakken 1993).

Sebaran secara geografis dari ikan karang mengikuti terumbu pembentuk karangnya, biasanya terbatas di perairan tropis yang dangkal dengan suhu 20o C isotherm (atau kira-kira antara garis lintang 30o utara dan selatan). Pusat keanekaragaman ikan karang terdapat di kepulauan Australia, wilayah Indo-Pasifik (Hixon 2009).

Berdasarkan Adrim dan Allen (2003) bahwa di perairan Indonesia didapatkan kelimpahan dari beberapa famili ikan karang yaitu Gobiidae (272 spesies), Labridae (178), Pomacentridae (152), Apogonidae (114), Blenniidae (107), Serranidae (102), Muraenidae (61), Syngnathidae (61), Chaetodontidae (59), dan Lutjanidae (43). Sepuluh famili ikan karang ini menyumbang sekitar 56% dari total ikan karang yang berasosiasi dengan terumbu karang

2.3 Ikan Chaetodontidae

Ikan Chaetodontidae merupakan salah satu jenis ikan karang yang kecil, mempunyai tubuh yang ramping dan berwarna-warni. Ikan ini kebanyakan mencari makan disiang hari dan memakan polip karang dan hewan invertebrata lainnya (Findley & Findley 2001). Ikan Chaetodontidae ini mudah untuk dikenali dan dijumpai di terumbu karang pada perairan dangkal tropis pada kedalaman kurang dari 60 feet (18 m). Sehingga ikan ini banyak diteliti untuk mengetahui

(9)

pola distribusinya, kebiasaan makan, batasan habitat dan keterkaitannya dengan terumbu karang.

2.3.1 Distribusi dan Kelimpahan Ikan Chaetodontidae

Ikan Chaetodontidae merupakan bagian yang sangat penting dari keberadaan jenis-jenis ikan karang di perairan tropis dan subtropik, terutama akan keeratan hubungan dengan terumbu karang. Secara umum di dunia terdapat sekitar 116 species Chaetodontidae dalam 10 genus dan keanekaragaman terbanyak terdapat di Indo-Pasifik terutama di wilayah Asia Tenggara (Allen et al. 1998 in Zekerie 2003). Sementara itu penelitian ekologi dan biologi ikan Chaetodontidae banyak pula dilakukan di Indo-Pasifik (Ohman et al. 1998), Laut Merah (Zekerie 2003; Alwany et al. 2007), dan Kepulauan Karibia (Collin 1989). Sangat sedikit penelitian yang dilakukan di Samudera Hindia bagian barat (Righton et al. 1996). Berdasarkan pusat data base Fishbase (Froese & Pauly

2004) mencatat bahwa Mozambik mempunyai keanekaragaman ikan

Chaetodontidae yang tertinggi. Menurut Pereira dan Videira (2005) terdapat 24 species ikan Chaetodontidae yang tercatat di perairan Mozambik, namun yang teridentifikasi hanya 19 species dari empat genus ikan Chaetodontidae.

Keanekaragaman dan distribusi dari ikan Chaetodontidae di terumbu karang secara umum ditentukan oleh proses pembentukan terumbu karang terutama di daerah tropis dan berdasarkan kondisi tutupan karangnya. Area dengan tutupan karang yang tinggi sangat mungkin dihuni oleh lebih banyak ikan Chaetodontidae dibandingkan dengan area yang tutupan karangnya kurang (Harmelin-Vivien & Bouchon-Navaro 1983). Akan tetapi kelimpahan beberapa spesies Chantodontid sangat mungkin berhubungan dengan distribusi dari jenis karang tertentu dan tidak berhubungan dengan total tutupan karang. Sebagai contoh di bagian timur Indo Pasifik kelimpahan Chaetodon trifascialis berhubungan dengan Acropora. Ikan ini secara spesifik memakan Acropora (Robert et al. 1992).

2.3.2 Kebiasaan Makan, Wilayah dan Perilaku Ikan Chaetodontidae

Ikan Chaetodontidae biasanya terdapat di dekat substrat dan mempunyai kebiasaan makan pada siang hari. Menurut Robert et al. (1992) terdapat lima kategori kebiasaan makan dari ikan Chaetodontidae yaitu: (a) Pemakan karang

(10)

obligate; (b) pemakan invertebrata sessil dan menetap (termasuk juga beberapa polip karang); (c) pemakan invertebrata bentik; (d) generalist omnivores termasuk alga; dan (e) pemakan plankton (terutama zooplankton). Mayoritas ikan Chaetodontidae termasuk jenis pemakan karang obligat dan pemakan invertebrata sessil dan menetap (Harmelin-Vivian & Bouchon-Navaro 1983). Hanya beberapa jenis Chaetodontidae yang memakan invertebrata bentik atau zooplankton. Para ahli ikhtiologi mengklasifikasikan ikan kepe-kepe ke dalam famili Chaetodontidae berdasarkan desain giginya yang mirip sisir. Bentuk tubuh ikan dari famili Chaetodontidae memiliki mulut lancip dan rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil dan tajam yang berguna untuk mematok polip karang dan mencari makan di celah-celah karang. Jenis-jenis dan tipe makanan ikan Chaetodontidae dapat dilihat pada Tabel 1.

Kebiasaan makan ikan Chaetodontidae tersebar berdasarkan kondisi geografik. Di Great Barrier Reef, Australia sekitar 80% dari ikan Chaetodontidae merupakan pemakan karang dan kebisaan makan ini lebih banyak dilakukan pada selama siang hari (Gregson et al. 2008). Di Samudera Hindia bagian barat proporsi kategori pemakan karang sekitar 72%. Sedangkan di perairan Jepang hanya terdapat 31% dari 32 spesies ikan Chaetodontidae yang termasuk jenis pemakan karang, kebanyakan jenis ikan Chaetodontidae termasuk jenis pemakan zooplankton dan alga (Sano 1989).

Ikan Chaetodontidae termasuk jenis ikan yang cenderung soliter, dapat berpasangan, atau terdapat dalam kumpulan kecil (Allen et al. 1998 in Zekerie 2003). Sumber makanan tampaknya menjadi faktor yang menentukan terhadap kebiasaan perilaku dan sistem perkawinan dari ikan Chaetodontidae. Jenis pemakan karang sebagian besar hidup berpasangan sedangkan ikan Chaetodontidae jenis pemakan plankton biasanya hidup bergerombol (Hourigan 1989).

(11)

Tabel 1 Beberapa jenis ikan Chaetodontidae dan tipe kebiasaan makannya (Yusuf 2006; Fishbase 2009)

No. Nama Ikan Kebiasaan Makan

1. Chaetodon collare obligate corallivores

2. C. octofasciatus obligate corallivores

3. C. baronessa obligate corallivores

4. C. andamanensis obligate corallivores

5. C. bennetti obligate corallivores

6. C. citrinellus obligate corallivores

7. C. collare obligate corallivores

8. C. striatus obligate corallivores

9. C. ephippium obligate corallivores

10. C. paucifasciatus obligate corallivores

11. C. plebeius obligate corallivores

12. C. trifascialis obligate corallivores

13. C. trifasciatus obligate corallivores

14. C. triangulum obligate corallivores

15. C. aureofasciatus obligate corallivores

16. C. austriacus obligate corallivores

17. C. multicinctus obligate corallivores

18. C. octofasciatus obligate corallivores

19. C. ornatissimus obligate corallivores

20 C. punctatofasciatus obligate corallivores

21. Heniochus singularis obligate corallivores

22. C. refflesi facultative corallivores

23. C. melannotus facultative corallivores

24. C. decussates facultative corallivores

25. C. auriga facultative corallivores

26. C. lineolatus facultative corallivores

27. C. klenii facultative corallivores

28. C. lunulatus facultative corallivores

29. C. reticulates facultative corallivores

30. C. vagabundus facultative corallivores

31. Chelmon rostratum facultative corallivores

32. Coradion altivelis facultative corallivores

33. Coradion chrysozonus facultative corallivores

34. Heniochus acuminiatus facultative corallivores

35. H. plurotaenia facultative corallivores

2.3.3 Karakteristik Daur Hidup Ikan Chaetodontidae

Ikan Chaetodontidae merupakan jenis ikan yang bertelur, melepaskan telur pada kolom air, mengalami pembuahan di air dan tersebar oleh arus. Ikan Chaetodontidae betina dapat bertelur mencapai ratusan hingga ribuan dalam satu waktu. Waktu bertelur dapat terjadi setiap dua hari atau dua kali per bulan.

(12)

Biasanya waktu bertelur tergantung masa bertelur dan musim bertelurnya sekitar empat bulan (Thresher 1984).

Masa menetas embrio sekitar 30 hari setelah bertelur (Suzuki et al. 1980) dan larva menghabiskan waktu sekitar 40 hari sebagai plankton sebelum bermetamorfosis dan menetap pada karang (Hourigan 1989). Karakteristik daur hidup sebagai telur pelagik dan larvae menunjukkan ketiadaan dari induk Chaetodontidae dalam perawatannya. Keuntungan dari tipe daur hidup ini memungkinkan luasnya sebaran telur dan larva ikan Chaetodontidae, meskipun tingkat kematian dari masa telur dan larva yang cukup tinggi. Kematian telur dan larva yang tinggi ini dapat diimbangi oleh tingginya fekunditas ikan Chaetodontidae betina.

Ikan Chaetodontidae dapat mencapai 70-75% dari ukuran maksimumnya dan mencapai usia matang dalam waktu satu tahun. Pemangsaan terhadap ikan Chaetodontidae hanya terjadi pada ikan yang muda tetapi tekanan pemangsaan dari predator relative rendah terhadap ikan Chaetodontidae dewasa. Bentuk tubuh yang pipih pada ikan dewasa dan duri yang tajam pada bagian dorsal dan sirip ekor menghindari ikan Chaetodontidae dari pemangsaan predator (Zekerie 2003).

Berdasarkan pengamatan Allen et al. (1998) terhadap ikan Chaetodontidae di akuarium bahwa usia hidupnya dapat mencapai 25 tahun, usia ikan Chaetodontidae yang tercatat di habitat alami dapat lebih rendah. Sebagai contoh, sepasang C. paucifasciatus yang terdapat di utara Laut Merah dapat hidup hingga kurang lebih enam tahun (Zekerie 2003).

2.4 Hubungan Ikan Karang dengan Terumbu Karang

Keterkaitan ikan pada terumbu karang disebabkan karena bentuk pertumbuhan karang menyediakan tempat yang baik bagi perlindungan. Karang merupakan tempat kamuflase yang baik serta sumber pakan dengan adanya keragaman jenis hewan atau tumbuhan yang ada. Beberapa jenis ikan yang hidup di tepi karang, menjadikan karang sebagai tempat berlindung dan daerah luar karang sebagai tempat mencari makan. Perbedaan habitat terumbu karang dapat mendukung adanya perbedaan kelompok ikan. Oleh karena itu, interaksi intra dan inter spesies berperan penting dalam penentuan penguasaan ruang (spacing) sehingga banyak ikan yang menempati ruang tertentu. Tiap kelompok ikan

(13)

masing-masing mempunyai habitat yang berbeda, tetapi banyak spesies mempunyai habitat yang lebih dari satu. Pada umumnya setiap spesies mempunyai kesukaan dan referensi terhadap habitat tertentu (Hutomo 1993).

Keberadaan karang merupakan habitat penting bagi ikan karang, karena sebagian besar populasi ikan karang mengadakan recruit secara langsung dalam terumbu karang. Ikan-ikan ini terdiri dari Scarids, Acanthurids, Sigarids, Chaetodontids, Pomacantids dan banyak spesies Labrids dan Pomacentrids. Anggota dari populasi ini tidak terlalu berasosiasi dengan karang tetapi pergerakannya kebanyakan berasosiasi dengan struktur dan keadaan biotik karang. Keberadaan ikan karang dipengaruhi oleh kondisi atau kualitas air sebagai habitatnya (Nybakken 1993).

Interaksi antara ikan karang dengan terumbu karang sebagai habitat telah dipelajari oleh Choat dan Bellwood (1991) yang membahas interaksi antara ikan karang dengan terumbu karang dan menyimpulkan tiga bentuk umum hubungan, yaitu:

(a) Interaksi langsung, yaitu sebagai tempat berlindung dari predator atau pemangsa terutama bagi ikan-ikan muda.

(b) Interaksi dalam mencari makanan, meliputi hubungan antara ikan karang dan biota yang hidup pada karang termasuk alga.

(c) Interaksi tidak langsung sebagai akibat dari struktur karang dan kondisi hidrologi dan sedimen.

Karang glomerate (jenis Porites sp.) pada umumnya tidak memiliki celah yang dalam. Di daerah tersebut banyak terdapat ikan pemakan polip seperti ikan pakol (Balistidae) dan ikan Chaetodontidae. Karang bercabang (Acropora sp.) merupakan tempat berlindung bagi ikan kecil (seperti ikan gobi dan ikan betok laut) yang berenang keluar mencari zooplankton sebagai makanannya dan segera kembali lagi ke terumbu (Nybakken 1993).

Kelimpahan dan keanekaragaman jenis ikan di wilayah terumbu karang memperlihatkan hubungan yang positif dengan penutupan karang hidup (Adrim & Hutomo 1989). Satmanatran (1992) mengemukakan kekayaan jenis ikan berkolerasi tidak nyata dengan berbagai komponen-komponen penutupan karang (Acropora, Non-Acropora, total karang hidup dan total karang mati) sedangkan

(14)

kelimpahan individu berkolerasi sangat nyata dengan komponen Non-Acropora dan total karang hidup.

Interaksi ikan karang lainnya yang terjadi dalam ekosistem terumbu karang (Nybakken 1993) adalah:

(a) Pemangsaan, dimana ada dua kelompok ikan yang secara aktif memakan koloni-koloni karang, yaitu spesies memakan polip-polip karang mereka sendiri, seperti ikan buntal (Tetraodontidae), ikan kuli pasir (Monacanthidae), ikan pakol (Balistidae) dan ikan kepe-kepe (Chaetodontidae) dan sekelompok multivora (omnivora) yang memindahkan polip karang untuk mendapatkan baik alga di dalam kerangka karang atau sebagai invertebrata yang hidup dalam lubung kerangka (Acanthuridae dan Scaridae).

(b) Grazing, dilakukan oleh ikan-ikan famili Siganidae, Pomacentridae, Acanthuridae dan Scaridae yang merupakan herbivora grazer pemakan alga sehingga pertumbuhan alga yang bersaing ruang hidup dengan karang dapat terkendali.

Tipe pemangsaan yang paling banyak di terumbu karang adalah karnivora, yakni ± 50 – 70 % dari spesies ikan. Ikan herbivora dan pemakan karang merupakan kelompok besar kedua yaitu ± 15 % dari spesies yang ada dan yang paling penting dari kelompok ini adalah famili Scaridae dan Acanthuridae. Sisanya diklafisikasikan sebagai omnivora atau multivora yaitu ikan-ikan dari famili Pomacentridae, Chaetodontidae, Pomachantidae, Monacanthidae Ostaciontidae dan Tetraodontidae. Ikan-ikan pemakan zooplankton memiliki ukuran tubuh yang kecil, yaitu ikan dari famili Clupidae dan Atherinidae (Nybakken 1993).

2.5 Ikan Chaetodontidae sebagai Bioindikator

Reese (1991) merupakan peneliti pertama yang melakukan percobaan untuk mengidentifikasi spesies indikator dengan memakai ikan butterfly fishes (Chaetodontidae) jenis pemakan karang untuk penilaian kondisi terumbu karang. Ikan Chaetodontidae memungkinkan untuk dijadikan sebagai bioindikator karena hubungannya yang erat dengan karang yang mereka makan dan fungsi

(15)

morphology dari organ-organ tubuh ikan ini yang memungkinkan memakan jaringan karang tanpa merusak susunan dasar koral (Crosby & Reese 1996).

Ikan Chaetodontidae dapat dijadikan sebagai bioindikator bagi karang berdasarkan kriteria yaitu: (a) salah satu dari jenis ikan karang yang keberadaannya sangat banyak di terumbu karang dan terdapat di beberapa bagian dunia; (b) mudah untuk dikenali dan diamati karena aktifitasnya yang bersifat diurnal; (c) secara taksonomi sangat mudah dipelajari dan diidentifikasi oleh orang yang tidak berpengalaman; (d) memiliki wilayah sebaran yang luas dan dapat mencapai usia yang panjang sehingga individu yang sama dapat diteliti berulang-ulang (Hourigan 1989).

Ikan Chaetodontidae sebagai indikator juga menunjukkan tingkat kesukaan pada spesies karang tertentu sehingga sangat sensitif apabila terjadi perubahan suatu sistem terumbu karang. Selain itu ikan Chaetodontidae sangat territorial sehingga akan sangat mudah memantaunya secara periodik. Untuk teritori dari ikan Chaetodontidae ditentukan oleh jumlah makanan karang yang tersedia. Jika ketersediaan makanan karang sedikit di suatu area terumbu karang, maka ikan ini akan memperluas daerah teritorinya (Crosby & Reese 1996). Perubahan tingkah laku sosial tersebut menyediakan indikasi dini yang sensitif bahwa terjadi ketidakstabilan dan perubahan di dalam ekosistem terumbu karang.

2.6 Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang menyediakan sumber makanan tidak hanya kepada organisme yang berada disekitarnya, namun merupakan sumber vital bagi ketersedian makanan bagi ratusan juta manusia di dunia. Terumbu karang merupakan sumber utama bagi mata pencaharian penduduk pesisir dan pantas menerima perhatian dari seluruh dunia. Terumbu karang menutupi hampir kurang lebih 1% dari wilayah lautan, terumbu karang juga merupakan tempat hidup bagi hampir sepertiga spesies ikan laut di dunia, menyediakan sekitar 10% dari total konsumsi ikan oleh manusia, disamping itu bahwa terumbu karang menjadi fokus utama dari industri pariwisata (Rinkevich 2008).

Ketika perusakan berlangsung, maka terumbu karang akan kehilangan fungsi ekologi dan biologinya. Untuk mencegah semakin memburuknya kondisi terumbu karang akibat dari alam dan kegiatan manusia, maka diperlukan

(16)

pengelolaan ekosistem terumbu karang. Pengelolaan ini pada hakekatnya adalah suatu proses pengontrolan oleh manusia, agar kerusakan oleh alam dan pemanfaatan ekosistem terumbu karang dan ikan karang yang berasosiasi di dalamnya dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kelestarian lingkungan (Rinkevich 2008).

Berdasarkan UU 31 tahun 2004 tentang Perikanan yang menyatakan bahwa perikanan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan (potensi semua jenis ikan) dan lingkungannya (perairan tempat hidup ikan, termasuk faktor alamiah sekitarnya), maka pemanfaatan sumberdaya perikanan oleh manusia harus memperhatikan adanya interaksi antara ikan, lingkungan perairan serta manusia sebagai pengguna. Dengan adanya interaksi tersebut diperlukan sebuah pengelolaan agar dapat berjalan secara seimbang dalam sebuah ekosistem. Artinya pengelolaan sumberdaya ikan adalah penataan pemanfaatan sumberdaya ikan, pengelolaan lingkungan dan pengelolaan manusia sebagai pengguna perairan (Nikijuluw 2002).

Menurut Bengen (2005) bahwa suatu pengelolaan dikatakan berkelanjutan apabila kegiatan tersebut dapat mencapai tiga tujuan, yaitu ekologi, sosial dan ekonomi. Berkelanjutan secara ekologi mengandung arti, bahwa pengelolaan dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan dan konservasi sumberdaya ikan termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity), sehingga pemanfaatan dapat berkesinambungan. Berkelanjutan secara sosial mensyaratkan bahwa kegiatan pengelolaan ikan hendaknya dapat menciptakan pemerataan hasil, mobilitas sosial, partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, identitas sosial dan pengembangan kelembagaan. Sedang keberlanjutan ekonomi berarti bahwa kegitan pengelolaan dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan kapital dan penggunaan sumberdaya serta investasi secara efisien.

Mengingat begitu besarnya peranan terumbu karang bagi manusia dan untuk mencegah kerusakannya, maka pengelolaan ekosistem terumbu karang tidak lepas dari beberapa aspek sebagai berikut (Supriharyono 2000) :

(17)

(a) Pertimbangan fisik, pengelolaan ekosistem terumbu karang meliputi area/ lokasi, kondisi geologis, tipe arus pasang surut utama di daerah tersebut dan gambaran awal lokasi

(b) Pertimbangan biologis, meliputi kondisi biota (penyebaran, kelimpahan, komposisi); perubahan, indikator kerusakan, indikator pemanfaatan dan eksploitasi; pertimbangan khusus pada lokasi pembesaran atau pemijahan spesies langka yang endemik dan ekonomis.

(c) Pertimbangan sosio-ekonomis, meliputi pemanfaatan ekosistem terumbu karang; konflik faktual dan potensial yang akan terjadi diantara pemanfaat. (d) Pertimbangan budaya, meliputi asal usul pemanfaat ekosistem terumbu

karang secara tradisional; tradisi pemanfaatan; perubahan konsep pemanfaatan secara tradisional ke modern.

2.7 Kawasan Konservasi Laut Daerah

Salah satu bentuk kepedulian masyarakat pesisir dalam melestarikan ekosistem terumbu karang adalah dengan menjadikan suatu kawasan perairan menjadi suatu kawasan konservasi dalam bentuk Kawasan Konservasi Laut Daerah. Melalui otonomi daerah sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, daerah diberi kewenangan dalam pengelolaan pesisir dan laut. Pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam memilih dan menentukan cara yanng lebih baik dalam mengelola potensi sumberdaya alam di wilayah pesisir dan laut sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dan kapasitas yang dimilikinya.

Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) merupakan suatu alternatif pengelolaan kawasan konservasi yang terdesentralisasi dalam usaha mengatasi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi di daerah. Menurut Tulungen et al. (2002) fungsi dari kawasan konservasi adalah untuk: (a) meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan disekitar kawasan konservasi; (b) menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati pesisir dan laut seperti keanekaragaman terumbu karang, ikan, tumbuhan dan organisme lainnya; (c) dapat dikembangkan sebagai tempat yang cocok untuk daerah tujuan wisata; dan (d) meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat setempat.

(18)

Penetapan lokasi dan ukuran ideal suatu kawasan konservasi laut daerah merupakan gabungan antara prinsip-prinsip ekologis dan pertimbangan efektifitas pengelolaan ditingkat lokal. Berdasarkan Pedoman Umum Pembentukan Daerah Perlindungan Laut COREMAP (2004), zona perlindungan yang terdapat di Daerah Perlindungan Laut terdiri dari 3 (tiga) zona sebagai berikut:

(a) Zona inti

Merupakan kawasan yang dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan sumberdaya. Kunci utamanya adalah adanya suatu kawasan yang ditetapkan sebagai zona inti yaitu zona larang ambil permanen. Zona inti penekanan pengelolaannya dikonsentrasikan pada upaya perlindungan. Kegiatan yang boleh dilakukan terbatas dan hanya mengarah pada kegiatan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

(b) Zona penyangga

Zona ini berada di luar kawasan konsevasi yang berfungsi untuk menyangga keberadaan jenis biota laut beserta ekosistem yang terdapat didalamnya terhadap adanya gangguan dari luar yang dapat membahayakan keberadaan potensinya. Selain fungsi pengamanan juga berfungsi sebagai kawasan pengembangan budidaya maupun pelaksanaan pembangunan dalam bentuk pengembangan pemanfaatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat yang berada di sekitarnya.

(c) Zona pemanfaatan tradisional

Zona ini berada di luar zona penyangga yang dialokasikan untuk pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional oleh masyarakat setempat dalam upaya mendukung pembangunan sosial, ekonominya. Disamping pemanfaatan secara tradisional, zona ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sarana prasarana rekreasi dan pariwisata secara lestari.

Gambar

Tabel 1  Beberapa jenis ikan Chaetodontidae dan tipe kebiasaan makannya (Yusuf  2006; Fishbase 2009)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Reese (1981) sekitar 50 % ikan famili Chaetodontidae merupakan pemakan polip karang. Kondisi ekosistem terumbu karang di perairan sidodadi dan Pulau Tegal masih dalam

Menurut Reese (1981) sekitar 50 % ikan famili Chaetodontidae merupakan pemakan polip karang. Kondisi ekosistem terumbu karang di perairan sidodadi dan Pulau Tegal masih dalam

Choat dan Bellwood (1991) yang membahas interaksi antara ikan karang dengan terumbu karang menyimpulkan 3 (tiga) bentuk umum hubungan, yaitu: (1) Interaksi langsung, yaitu

Pemutihan dapat pula terjadi pada organisme-organisme bukan pembentuk terumbu karang seperti karang lunak (soft coral), anemon dan beberapa jenis kimia raksasa tertentu (Tridacna

1) Keberadaan dan kelimpahan ikan jenis Chaetodontidae yang rendah, sebagai ikan indikator kondisi terumbu karang menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di Selat

Pada kondisi tertentu beberapa jenis hewan karang jaringan atau polip yang ada pada fragmen karang dapat terlepas dan berenang bebas atau terbawa arus sampai menemukan substrat

“Komposisi Jenis dan Sebaran Ikan Indikator Famili Chaetodontidae Kaitannya dengan Tutupan Habitat Terumbu Karang di Pulau Badi Kepulauan Spermonde” yang merupakan

Terumbu Karang merupakan salah satu ekosistem laut yang paling produktif, menyediakan habitat bagi berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya.. Jika Terumbu Karang hilang, maka