SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian per syar atan memper oleh gelar
Sar jana pada FISIP UPN “Veter an” J awa Timur
Rahadian Yuniar Pr akasa
NPM. 0743010191
YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAH AN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU PO LITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
(Studi Semiologi Terhadap Lirik Lagu ’’Tendangan Dari Langit’’ dari Group band Kotak)
Musik diartikan sebagai suatu ungkapan yang berasal dari perasaan yang dituangkan
dalam bentuk bunyi-bunyian atau suara. Musik merupakan hasil karya manusia yang menarik
karena musik memegang sebuah peranan yang sangat banyak melalui lirik lagunya, karena
lirik lagu dalam musik mencerminkan realitas sosial yang beredar dalam masyarakat. Lirik
lagu dapat pula sebagai sarana untuk sosialisasi karena mengandung informasi atau pesan.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian bersifat
kualitatif-interpretatif semiotic dari Roland Barthes, yaitu metode signifikasi dua tahap menurut
barthes, yaitu kode hermeneutic, kode semik, kode simbolik, kode proarektik, kode cultural
untuk pemaknaan sebuah tanda sehingga dapat mengetahui tanda denotative dan tanda
konotatifnya.
Dalam lirik lagu ini digambarkan bahwa semangat anak muda untuk terus mengejar
cita-citanya melalui inspirasi oleh sang idolanya untuk menggapai dan meraih sebuah
impiannya yang akan menjadi sebuah kenyataan apabila kita terus mengejar dan semangat
tanpa lelah untuk menggapainya. Lirik lagu dalam lagu Tendangan Dari Langit adalah sebuah
harapan anak muda untuk menggapai atau meraih impian.
Kesimpulan dalam penelitian ini dari lirik lagu ’’Tendangan Dari Langit’’ dari Group
band Kotak sebagaimana dalam makna yang tersimpan disetiap lirik atau teks dalam lagu ini,
merupakan sebuah pesan yang bersifat positif untuk menjadikan anak muda Indonesia yang
selalu optimis demi mewujudkan mimpinya.
rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul :
“Pemaknaan Lirik Lagu “Tendangan Dari Langit’’ Dari Group Band Kotak (Studi Semiologi
Dalam Lirik Lagu Tendangan Dari Langit Dari Group Band Kotak). Penyelesaian skripsi ini
dapat terselesaikan berkat dorongan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Mengingat
hal tersebut, maka pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan banyak terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini, diantaranya :
1. Ibu Dra, Ec, Hj, Suparwati, M.si, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Juwito, S.sos, M.si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial
dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Ir. H. Didiek Tranggono, M.si, Dosen pembimbing yang selalu memberikan
koreksi dan sudah menyempatkan waktunya untuk membimbing penulis.
4. Orang tua dan kakak yang selalu mendukung dan mendoakan dalam segala keadaan dan
selalu memberi motivasi dan semangat.
5. Saudara penulis Liwung, Wiwoho, dan Adhit Glewow yang selalu memberikan
dukungannya dan mengerjakan skripsi dengan kompak.
6. Teman-teman angkatan 2007 khususnya yang sudah memberikan masukan kepada penulis
selama kuliah.
7. Teman-teman manis manja group, tompel, fariz, semped, yan, ando, dyaz, nidy dan
teman-teman akutansi Unair khususnya angkatan 2007, terima kasih sudah memberikan semangat
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangannya meskipun penulis sudah berusaha sebaik-baiknya. Hal tersebut
karena masih kurangnya ilmu, penulis bersedia menerima saran dan kritik yang bersifat
membangun demi perbaikan dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dan
penyempurnaan menyusun skripsi ini.
Surabaya, Desember 2011
HALAMAN J UDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN UJ IAN SKRIPSI ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
ABSTRAKSI ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 10
1.3 Tujuan Penelitian ... 10
1.4 Kegunaan Penelitian ... 10
BAB II KAJ IAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 11
2.1.1. Pembentukan Konsep Diri ... 13
2.1.2 Komunikasi Ekspresif ... 15
2.1.3 Musica Practica ... 17
2.1.4 Teori Musik, Lagu, dan Lirik Lagu ... 20
2.1.5 Makna dan Pemaknaan ... 23
2.1.6 Teori-Teori Makna ... 24
2.1.7 Teori Semiotika Dalam Komunikasi ... 26
2.1.8.1 Kode Pembacaan ... 33
2.2 Kerangka Berpikir ... 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 37
3.2 Unit Analisis ... 38
3.3 Corpus... 39
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 41
3.4.1.1. Sumber Data ... 41
3.5. Metode Analisis Data ... 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 44
4.1.1. Penghargaan ... 46
4.1.2. Diskografi Kotak ... 47
4.2. Lirik Lagu Tendangan Dari Langit menurut semiologi Roland Barthes... 47
4.3. Penyajian dan Pemaknaan data ... 49
4.3.1. Penyajian Data ... 49
4.3.2. Pemaknaan Data ... 51
4.3.3. Pemaknaan Lirik Lagu Tendangan Dari Langit ... 67
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 73
5.2. Saran ... 74
Gambar 1. Peta Tanda Roland Barthes ... 29
Gambar 4.1 Peta Tanda Roland Barthes ... 47
Gambar 4.1 Peta Bait 1 kalimat 1 ... 52
Gambar 4.2 Peta bait 1 kalimat 2 ... 53
Gambar 4.3 peta bait 1 kalimat 3 ... 54
Gambar 4.4 Peta bait 1 kalimat 4 ... 55
Gambar 4.5 Peta bait 1 kalimat 5 ... 56
Gambar 4.6 Peta bait 2 kalimat 1 ... 57
Gambar 4.7 Peta bait 2 kalimat 2 ... 58
Gambar 4.8 Peta bait 3 kalimat 1 ... 59
Gambar 4.9 Peta bait 3 kalimat 2 ... 60
Gambar 4.10 Peta bait 4 kalimat 1 ... 61
Gambar 4.11 Peta bait 4 kalimat 2 ... 62
Gambar 4.12 Peta bait 5 kalimat 1 ... 63
Gambar 4.13 Peta bait 5 kalimat 2 ... 64
Gambar 4.14 Peta bait 5 kalimat 3 ... 65
1.1Latar Belaka ng Maslah
Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna, tanda-tanda
adalah basis dari seluruh komunikasi ?. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda,
dapat melakukan komunikasi sesamanya. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan
didunia ini, termasuk juga melalui sebuah media dalam menyampaikan pesannya
salah satunya adalah musik dan lagu (Sobur,2004 : 15).
Musik merupakan hasil budaya manusia yang menarik di antaranya
banyak budaya manusia yang lain, dikatakan menarik karena memegang peranan
yang sangat banyak di berbagai bidang. Jika di lihat dari sisi psikologisnya,
musik kerap menjadi sarana pemenuhan kebutuhan manusia dalam hasrat akan
seni dan berkreasi. Dari sisi sosial musik dapat disebut sebagai cermin tatanan
sosial yang ada dalam masyarakat saat musik tersebut diciptakan dan dari segi
ekonomi pun musik telah bergerak pesat menjadi suatu komoditi yang
menguntungkan. Dalam sebuah lagu selain kekuatan musik atau aransemen
musik, unsur lirik yang di nyayikan mempunyai peranan yang sangat penting,
karena lirik lagu sebagaimana bahasa dapat menjadi sarana atau media
komunikasi untuk mencerminkan realitas sosial yang beredar dalam masyarakat.
Lirik lagu dapat memilihnya bisa memiliki nilai yang sama dengan ribuan kata
atau peristiwa, juga secara individu mampu memikat perhatian. Lirik lagu dapat
2.1 Landasan Teor i
Penelitian mengenai lirik lagu kebanyakan dilakukan untuk mengetahui
sampai sejauh mana kemampuan sebuah teks lirik lagu dalam mempengaruhi
masyarakat. Kemampuan mempengaruhi sebuah teks lirik lagu ini terjadi karena
pengarang menyampaikan ide dan gagasan melalui kata maupun kalimat baik
yang sifatnya menimbulkan perasaan marah, benci, senang, gundah, cinta dan
segala hal yang menimbulkan kedekatan emosional (Nugraheni, 2002:15).
Kajian mengenai lirik lagu antara lain dilakukan oleh Yayah. B.
Muningsah Lumintaintang. Hasil penelitiannya yaitu “Bahasa Indonesia dalam
Lirik Lagu” dan dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra Th XV Nomor 3. Hasil
penelitiannya mencakup kesesuaian tekanan kata dengan tekanan/irama lagu,
pengucapan, ketidaktepatan bentukan dan pilihan kata, dan kerapian struktur
kalimat. Selain itu pada seminar sosiolinguistik II bulan Oktober 1989 di UI,
Lumintaintang juga menulis makalah tentang lirik lagu. Presentasinya berjudul
“Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Lirik Lagu Kanak-Kanak”. Pada
makalahnya tersebut Lumintaintang membahas pemilihan variasi kalimat serta
frekuensi pemakaiannya dan bahasa indonesia yang digunakan dalam lirik lagu
kanak-kanak (Nugraheni, 2002:12).
Pada tesis yang dilakukan oleh Hermintoyo Metafora dalam Lirik Lagu
mengangkat lirik lagu berdasarkan kemunculan simbol dan terapannya dalam
proses tindak tutur. Pada tesis ini dapat diketahui bahwa lirik lagu ternyata tidak
hanya terbatas dalam pembahasan gaya/style kebahasaan seorang pengarang,
namun juga terdapat simbol-simbol kebahasaan berupa bahasa metaforis.
Metafora dalam kajian beliau merupakan metafora dalam arti luas yaitu
memandang semua bahasa figuratif merupakan metafora. Selain itu, keberadaan
bahasa metaforis tersebut dapat digunakan untuk melihat kualitas seorang penyair
dalam menciptakan lirik lagu (Hermintoyo, 2003 :10).
Bahasa lirik lagu sama seperti puisi yang dibuat sebagai sarana estetika
untuk memberikan tenaga ekspresif serta emotif dalam mengungkapkan gambaran
suasana batin.seorang pengarang. Maka untuk dapat mengungkapkan nuansa
konkretisasi pengalamannya, pengarang lirik lagu memunculkan kata-kata yang
penuh dengan kiasan. Salah satu penelitian mengenai bahasa kiasan dilakukan
oleh Wahab yang tulisannya dimuat dalam buku Isu Linguistik (1986). Menurut
Wahab bahasakiasan puisi dapat menunjukkan sejauh mana interaksi pengarang
dengan lingkungannya. Konsep kajian oleh wahab ini, berdasarkan atas medan
semantik persepsi manusia Haley yang dikelompokkan menjadi: being, kosmos,
energi, subtansi, terestrial, objek, living, annimate, human (Wahab, 1986:71).
Bahasa dalam lirik lagu selain sebagai sarana ekspresi juga sebagai bentuk
pengungkapan maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan dapat tercapai karena
bahasa lirik yang bersifat ekspresif itu dipahami sebagai bagian dari stilistika.
Analisis stilistika digunakan dengan tujuan untuk menerangkan hubungan antara
kebahasaan yang diciptakan pengarang sebagai suatu sarana komunikasi antara
pengarang dengan pembaca (Aminudin, 1995:2). Kajian mengenai puisi
dilakukan oleh Pradopo dalam bukunya Pengkajian Puisi (2002) yang
menerapkan pendekatan stilistika-semiotik pada puisi-puisi karya Amir Hamzah
dan Chairil Anwar. Dalam kajiannya, terdapat kemunculan bahasa kias yang
berbeda antara Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Jika Amir Hamzah lebih sering
menggunakan bahasa yang lembut dan santun untuk menunjuk harapan, Chairil
Anwar lebih memilih bahasa yang menggebu-gebu, urakan, dan cenderung kasar
untuk menunjukan kekecewaaan (Pradopo,2002:123). Untuk dapat melihat
kemampuan sebuah puisi dalam memberikan arti lain dari bahasa biasa, puisi
memiliki aturan sendiri. Bentuk aturan tersebut berupa anggapan bahwa bahasa
puisi merupakan sarana untuk menyatakan ekspresi secara tidak langsung, yaitu
ekspresi pengarang di dalam kata-kata untuk menunjuk arti lain.
2.1.1. Pembentukan Konsep Dir i
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita,dan itu hanya
bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Manusia
yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lainnya tidak mungkin
mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah manusia. Kita sadar bahwa kita
manusia karena orang-orang disekeliling kita menunjukkan kepada kita lewat
perilaku verbal dan nonverbal mereka bahwa kita manusia. Bahkan kita pun tidak
akan pernah menyadari nama kita adalah si ‘’Badu” atau si ‘’Mincreung’’, bahwa
kita adalah lelaki, perempuan, pintar, atau menyenangkan, bila tidak ada
orang lain kita belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita
merasakan siapa kita. Anda mencintai diri anda bila anda telah dicintai; anda
mempercayai diri anda bila anda telah dipercayai; anda berpikir anda cerdas bila
orang disekitar anda menganggap anda cerdas; anda merasa anda tampan atau
cantik bila orang-orang disekitar anda juga mengatakan demikian
(Mulyana,2005:7).
Konsep diri kita yang paling dini umumnya dipengaruhi oleh keluarga dan
orang-orang dekat lainnya disekitar kita, termasuk kerabat. Mereka itulah yang
disebut significant others. Orang tua kita, atau siapapun yang memelihara kita
pertama kalinya, mengatakan kepada kita lewat ucapan dan tindakan mereka
bahwa kita baik, bodoh, cerdas, nakal, rajin, ganteng, cantik, dan sebagainya.
Merekalah yang mengajari kita kata-kata pertama. Maka dalam banyak hal, kita
adalah‘’ciptaan’’mereka. Dalam pertumbuhan kita, kita menerima pesan dari
orang-orang disekitar kita mengenai siapa diri kita dan harus menjadi apa kita.
Skenario itu ditetapkan orang tua kita, berupa antara lain arahan yang jelas
sebagaimana skenario yang ditulis untuk sinetron atau drama. Arahan itu
misalnya, ‘’Cium tangan kakek dan nenek’’, Bilang terima kasih kepada paman
dan bibi’’, ‘’Gunakan tangan bagus (kanan) untuk menerima hadiah itu ‘’,’’Anak
pintar’’!’’ Setiap orang dalam keluarga besar kita berpendidikan tinggi’’, dan
sebagainya. Orang-orang diluar keluarga kita juga memberi andil kepada skenario
itu, seperti guru, pak kiai, sahabat dan bahkan televisi. Semua mengharapkan kita
memainkan peran kita. Menjelang kita dewasa, kita menemui kesulitan
memang terikat rumit dengan definisi yang diberikan orang lain kepada kita
(Mulyana, 2005: 8).
Proses konseptualisasi diri ini berlangsung sepanjang hayat kita. Sejak
kanak-kanak kita sering berfantasi mengenai diri yang kita inginkan, atau citra diri
yang dulu kita tunjukkan kepada orang lain. Sering konsep diri atau citra diri ini
berubah-ubah, khususnya pada masa pertumbuhan. Ketika kecil, kita mungkin
ingin menjadi pilot, dokter, wartawan atau arsitek. Akan tetapi, semakin banyak
pengetahuan yang kita peroleh dan semakin luas pengalaman kita, cita-cita itu
boleh jadi berubah, dan akhirnya kita menerima peran kita sebagai dosen ,pengacara, seniman, atau peran apa saja yang berbeda dengan citra diri yang dulu kita bayangkan. Konsep diri kita pada usia 10 tahun, mungkin berbeda
dibandingkan dengan ketika kita berusia 20 tahun , 35 tahun atau 50 tahun.
2.1.2 Komunikasi Ek spr esif.
Erat kaitannya dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif
yang dapat dilakukan baik sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi
ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat
dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan
perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan terutama dikomunikasikan
melalui pesan-pesan nonverbal. Seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya
dengan membelai kepala anaaknya. Orang dapat menyalurkan kemarahan dengan
mengumpat, berkecak pinggang, mengepalkan tangan seraya memelototkan
kampus dengan melakukan demonstrasi, unjuk rasa, mogok makan atau aksi
diam. Chauhadry tahir, seorang penjaga toko membakar dirinya di jalan utama di
islamabad hari sabtu, 17 april 1999, sebagai aksi protes terhadap pengadilan yang
mengusirnya dari toko tempat ia mencari naskah. Katakanlah dengan bunga
adalah ungkapan yang berkaitan dengan komunikasi ekspresif ini. kita bisa
menyatakan cinta atau kasih sayang kepada seseorang dengan mengirimkan bunga
kepadanya. Hal yang sama kita lakukan, ketika kita ingin menyatakan selamat
kepada orang selamat kepada orang yang berulang tahun, lulus menjadi sarjana ,
atau menikah, atau juga menyatakan simpati dan duka cita kepada orang yang
salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Akan tetapi, kita harus hati-hati
dengan jenis bunga yang kita bawa. Di Australia mawar merah adalah lambang
cinta romantik. Di negara kita bunga kamboja sering diasosiassikan dengan
bunga kuburan sehingga tidak banyak orang yang menanamnya di halaman
rumah, apalagi diberikan kepada orang yang sedang ulang tahun, meskipun di bali
bunga ini digunakan untuk sesaji (Mulyana, 2005:21-22).
Emosi kita juga dapat kita salurkan lewat bentuk-bentuk seni seperti puisi,
novel, musik, tarian, atau lukisan. Puisi “Aku’’ karya Chairil Anwar
mengekspresikan kebebasannya dalam berkreasi. Novel Saman karya Ayu Utami
mengekspresikan semangat anak muda yang banyak terlibat dalam Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM). Cerpen-cerpen Helvy Tiana Rosa bernapaskan
Islam yang dimuat dalam antologi cerpennya Ketika Mas Gagah Pergi dan dalam
Sembilan Mata Hati mengekspresikan keprihatinannya akan nasib umat islam
Harus diakui, musik juga dapat mengekspresikan parasaan, kesadaran, dan
bahkan pandangan hidup (ideologi) manusia. Itu sebabnya pertunjukkan musik
Iwan Fals yang lirik-liriknya bermuatan kritik atau sindiran terhadap penguasa
sering dilarang pihak berwajib selama era Order Baru. Orang memang telah
menggunakan sarana hiburan berabad-abad untuk tujuan propaganda. Selama
revolusi Prancis, misalnya, digunakan juga musik, selain teater, permainan,
festival, dan surat kabar, untuk menggalang kekuasaan. Lagu – lagu perjuangan
Indonesia, meskipun menghibur dan estetis, juga mengandung imbauan kepada
rakyat untuk berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Lagu ‘’Maju
Tak Gentar’’, ‘’Padamu Negeri’’, Di sini Senang’’ (atau ‘’Sorak Sorai
Bergembira’’) berturut-turut merupakan ‘’lagu kebangsaan’’ (ekspresi) tentara
berpangkat rendah (tamtama,prajurit), perwira menengah dan perwira tinggi TNI.
Menarik pula bahwa ternyata ke tujuh belas pupuh Sunda melambangkan suasana
hati yang berlainan. Asmarandama melambangkan rasa birahi ; dandanggula
melambangkan kegembiraan; kinanti melambangkan penantian; maskumambang
melambangkan kesedihan; pangkur melambangkan kemarahan; dan sinom
melambangkan asmara (Mulyana, 2005: 23-24).
2.1.3. Musica Pr actica
Menurut kami, ada dua musik: musik yang didengar dan musik yang
dimainkan seseorang. Kedua musik ini adalah dua seni yang sangat berbeda satu
sama lain, yang memiliki sejarah, pengaruh sosiologi, estetika, dan erotikanya
masing-masing. Musik yang sama bisa jadi kurang menggigit jika penciptanya
memainkannya untk dia (Meskipun buruk kamu memainkannya) – demikian
Schumann.
Musik yang dimainkan seseorang sangat sedikit berkaitan dengan
pendengaran, tetapi terutama berkaitan dengan sentuhan jemari di atas tuts (dan
karena itu, dalam beberapa hal, lebih berkaitan dengan citra rasa atau bersifat
sensual). Musik seperti Inilah yang bisa anda dan saya mainkan, entah dimainkan
sendirian atau bersama orang lain, yang lebih berperan sebagai partisipan
ketimbang penonton (sehingga keserbamungkinan seperti dalam teater, atau
keserbamungkinan hysteria, tidak akan terjadi) suatu jenis musik muscular dengan
bagian yang ditangkap oleh indera pendengarlah yang mendapat ratifikasi, seolah-
olah tubuh-lah yang tidak dimainkan “dengar hati” : duduk di depan tuts-tuts atau
alat musik, lalu mengandalkan kontrol tubuh, kontrol gerakan, koordinasi,
membiarkan tubuh menerjemahkan apa-apa yang terbaca untuk menghasilkan
suara dan makna; pada musik jenis ini, tubuh berfungsi sebagai perekam
(transmitter) sementara. Musik seperti ini sudah hilang. Awalnya, musik seperti
ini biasa ditampilkan untuk menghibur orang-orang kaya sedang duduk
bermalas-malasan (aristocrat), kemudian menjadi bagian dari ritual sosial bersamaan
dengan kemunculan demokrasi kaum borjuis (ditandai dengan piano, gadis muda,
ruangan penuh Gambar, dilangsungkan pada malam hari), lalu kemudian hilang
sama sekali (siapa yang memainkan piano hari-hari ini). Supaya bisa menemukan
musik praktis di barat, hari-hari ini orang harus mencarinya ke kelompok lain
(generasi muda), repertoar lain (musik vokal), dan alat musik lain (gitar).
festival, rekaman, radio) semuanya disebut sebagai musik : musik yang dihasilkan
dengan cara memainkannya telah hilang; aktivitas musical tidak lagi bersifat
manual [bersentuhan dengan tuts], muscular dan fisikal, tetapi semata-mata
berurusan dengan suara likuida, bersifat efusif dan meminjam istilah Balzac,
berfungsi untuk “me-lubrifikasi”. Demikian juga halnya dengan orang-orang
yang tampil telah mengalami pergantian. Kelompok amatir yang diukur lebih dari
segi daya ketimbang kesempuarnaan teknis, tidak lagi mudah ditemukan;
kelompok profesional, yakni para spesialis yang latihannya masih sangat esoteris
bagi publik (adakah orang yang masih tertarik dengan hal-ikhwal pendidikan
musik?) yang tidak pernah memperkaya kaum amatir dengan nilai lebih (nilai
yang masih bisa ditemukan pada seorang Lipati atau panzera, para musisi yang
mempesonakan kita bukan dengan keputusan tetapi dengan hasrat, yakni hasrat
untuk pencipta musik). Pendek kata, pada awalnya yang berperan adalah actor
musik yang kemudian diganti oleh penerjemah musik (musik romantic yang
agung), lalu akhirnya teknisi (yang membebaskan pendengar dari semua aktivitas,
bahkan dari aktivitas kurasi, serta meniadakan gagasan sesungguhnya tentang
bermain dari tanah musik).
Dengan cara seperti ini, musica practica tertentu dapat dihadirkan kembali
atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan dialektika historis. Sebab apa
gunanya mengubah musik jika bertujuan untuk membuinya dlam penjara konser
atau dlam keheningan musikm radio? Mengubah, pada dasarnya, berarti berniat
untuk menghasilkan sesuatu, berniat untuk menuliskannya kembali, bukan pasrah
panggung bagaimana para musisi berpindah, dengan tontonan yang memukau,
dari satu alat musik ke alat musik yang lain. Kitalah yang sedang bermain
Meskipun kita bermain lewat seorang duta ; konser-di suatu saat nanti ?- bisa
diibaratkan dengan “bengkel kerja” eksklusif, tempat di mana tak seorang pun
berpangku tangan (tak ada tokoh impian, tokoh imajiner, tak ada pusat, tak ada
“jiwa”) dan tempat di mana semua seni musical terserap dalam sebuah praksis
yang tidak menyisakan apa-apa. Seperti Inilah utopia yang diingini Beethoven,
yang tidak ikut bermain, agar kita rumuskan dan Inilah pula alasannya kenapa
sekarang kita bisa jadi menganggapnya sebagai musisi yang memiliki masa depan
(Barthes, imajitek, 2010;153-158).
2.1.4. Teor i Musik , Lagu, Dan Lir ik Lagu.
Musik nampaknya menjadi hal yang tidak akan ada habisnya untuk
dibahas. Perkembangan musik yang begitu cepat menjadi salah satu pemicu
munculnya beberapa aliran - aliran musik baru/ perkembangan yang terjadi pada
musik sangat berpengaruh terhadap perkembangan tatanan kehidupan manusia.
Musik saat ini tidak lagi dijadikan sarana peribadatan, tetapi sudah menjadi sarana
hiburan dan pendidikan. Musik saat ini telah menjadi sesuatu yang universal dan
dapat dinikmati semua orang.
Studi tentang musik ingin membuktikan bahwa musik merupakan media
dan pesan budaya bagi anggotanya maupun anggota masyarakat lain. Teori musik
merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur musik. Cabang ilmu ini
menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.
Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik yang mencakup misalnya suara, nada,
ritme, melodi, harmoni, lirik dan notasi.
Musik dapat dikatakan sebagai bunyi yang diterima oleh individu dan
berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya, dan selera seseorang. Beberapa
orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali. Musik menurut Aristoteles
mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi
rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme Definisi sejati tentang musik juga
bermacam-macam, yaitu :
1. Bunyi yang dianggap enak oleh pendengarnya.
2. Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau
kumpulan dan disajikan sebagai musik.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, dunia musik mengalami banyak
banyak perkembangan dengan banyaknya penyanyi maupun grup band baru serta
beragamnya jenis musik dan lagu yang ada. Yang dimaksud dengan lagu disini,
ialah rangkaian nada dengan teks yang sengaja disusun untuk mengungkapkan
pikira dan perasaan dengan cara-cara yang berlaku umum. Dengan demikian,
secara keseluruhan lagu merupakan ungkapan penuh dari perasaan pembuatnya
(Soeharto, 1991:104). Selain berfungsi sebagai penghibur, lagu juga berfungsi
sebagai media untuk menyampaikan pesan dari sang musisi. Lewat lirik lagunya,
sang musisi mampu menyampaikan pesannya, baik berupa sindiran atau pun
sebuah lagu disamping melodinya. Sebuah lagu dapat dibuat dengan melodi
dahulu ataupun lirik dahulu. Dari segi pembuatanya, melodi dan lirik lagu
sama-sama penting dalam sebuah lagu (www.depdiknas.go.id).
Kehidupan memang penuh dengan perjuangan untuk mencapai suatu cita
cita, angan dan harapan. Sehingga kita kadang menjadi manusia yang buas
dengan harta, kita menjaga bagai harimau menjaga santapan dikala kelaparan. Itu
bukanlah munafik, tapi suatu realita sifat manusia yang lebih buas akan harta dan
kemewahan. Kita tidak tau mana batasan sukses, mana batasan berhasil, mana
tingkat kaya, mana tingkat miskin, bahkan untuk menentukan level miskin saja
dunia kebingungan. Semua dibatasi dengan benang semu. Kalau benang merah
kita masih bisa melihat jelas, tapi disini kita tak dapat melihat lagi mana batasan
benang tersebut, benangnya saja kita tidak dapat lihat, apalagi batasannya. Namun
kita tidak bisa memungkiri bahwa manusia butuh kebersamaan untuk berhasil,
tidak ada satu orangpun di dunia ini dapat hidup tanpa bantuan orang lain, apalagi
untuk mencapai tingkat sukses, atau bahagia, ataupun berhasil. Dengan kata lain
manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti
berinteraksi satu sama lain, saling kerja sama, saling bantu, saling menolong, atau
saling apapun itu namanya adalah untuk kepentingan bersama atau kepentingan
orang lain ataupun untuk kepentingan diri sendiri, yang mana ketiganya saling
keterkaitan atau saling ketergantungan (http://safruddin.wordpress.com/)
2.1.5. Mak na dan Pemaknaan
Brown dalam Sobur (2001:255-256) mendefinisikan makna sebagai
kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu
bentuk bahasa. Terdapat banyak bentuk bahasa, terdapat banyak komponen
dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Namun kita terlebih
dahulu harus membedakan pemaknaan secara lebih tajam tentang istilah-istilah
yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah (translation), (2) tafsir
atau interpresi, (3) ekstrapolasi dan makna atau meaning.
Membuat terjemah adalah upaya mengemukakan materi atau subtansi
yang sama dengan media yang berbeda, media tersebut mungkin berupa bahasa
yang satu ke bahasa yang lain, dari verbal ke gambar dan sebagainya. Pada
penafsiran, kita tetapberpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya,
konteksnya agar dapat di kemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas
Ekstrapolasi lebih menekankan pada kemampuan daya pikir manusia untuk
mengungkap hal dibalik yang tersajikan. Materi yang tersajikan dilihat tidak lebih
dari tanda-tanda atau indikator pada sesuatu yang lebih jauh lagi. Memberikan
makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran dan mempunyai kesejajaran
dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih mennuntut kemampuan integratif manusia,
indrawinya, daya pikirnya dan akal budinya. Materi yang tersajikan seperti juga
ekstrapolasi, dilihat tidak lebih jauh. Balik yang tersajikan bagi ekstrapolasi
terbatas dalam artian empirik logik, sedangkan pada pemaknaan dapat pula
Semantik adalah ilmu mengenai ,makna kata-kata, suatu definisi yang
menurut S.I. Hayakawa dalam Mulyana Mulyana (2001:257) tidaklah buruk bila
orang-orang tidak menganggap bahwa pencarian makna kata mulai dan berakhir
dengan melihatnya dalam kamus. Makna dalam kamus tentu saja lebih bersifat
kebahasaan (linguistik), yang punya banyak dimensi, symbol merujuk pada objek
di dunia nyata, pemahaman adalah perasaan subyektif kita mengenai symbol itu
dan referen adalah objek yang sebenarnya eksis di dunia nyata.
Makna dapat pula digolongkan kedalam mekna konokatif. Makna
denotative adalah makna sebenarnya (factual) seperti yang kita temukan dalam
kamus. Karena itu makna denotative lebih bersifat public. Sejumlah kata
bermakna denotatif lebih bersifat public. Sejumlah kata bermakna denotatif,
namun banyak kata juga bermakna konotatif, lebih bersifat pribadi, yakni makna
diluar rujukan objektifnya. Dengan kata lain, makna konotatif lebih bersifat
subjektif daripada makna denotatif.
2.1.6. Teor i – Teor i Makna
Beberapa teori tentang makna dikembangkan oleh Alston (1964:11-26)
dalam Sobur (2001:259) diantaranya adalah :
1. Teori acuan (Referential Theory)
Teori acuan merupakan salah satu jenis teori makna yang mengenali
atau mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang
menghubungkan makna suatu ungkapan dengan apa yang diacunya
atau dengan hubungan acuan.
2. Teori Ideasional (The Ideational Theory)
Teori Ideasional adalah suatu jenis teori makna yang mengenali atau
mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang
berhubungan dengan ungkapan tersebut. Dalam hal ini, teori ideasional
menghubungkan makna atau ungkapan dengan suatu idea tau
representasi psikis yang ditimbulkan kata atau ungkapan tersebut
kepada kesadaran. Atau dengan kata lain, teori ideasional
mengidentifikasikan makna E (expression atau ungkapan) dengan
gagasan-gagasan atau ide-ide yang ditimbulkan E (expression). Jadi
pada dasarnya teori ini meletakkan gagasan (ide) sebagai titik sentral
yang menentukan makna suatu ungkapan.
3. Teori Tingkah Laku (Behavioral Theory)
Teori tingkah laku merupakan salah satu jenis teori makna mengenai
makna suatu kata atau ungkapan bahasa dengan
rangsangan-rangsangan (stimuli) yang menimbulkan ucapan tersebut. Teori ini
menanggapi bahasa sebagai semacam kelakuan yang
mengembalikannya pada teori stimulus dan respons. Makna menurut
teori ini, merupakan rangsangan untuk menibulkan perilaku tertentu
Penelitian dapat dikatakan berlandasan pada teori ideasional. Hal tersebut
dapat dilihat dari adanya idea tau gagasan yang dating dari pencipta lagu
berdasarkan cerita nyata dari teman yang menjadi inspirasi dalam menciptakan
sebuah karya lagu. Melalui cerita tersebut, pencipta lagu berusaha mengukapkan
idea tau gagasan tersebut kedalam sebuah ungkapan (expression) yang dituangkan
dalam lirik-lirik lagu yang penuh makna. Berlandasan teori idensional, peneliti
berusaha untuk melakukan pemaknaan terhadap lirik lagu ‘’Tendangan Dari
Langit”.
2.1.7. Teor i Semiotika Dalam Komunikasi
Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu
yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan
semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata
Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah
ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya.
Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotics is usually defined
as a general philosophical theory dealing with the production of signs and
symbols as part of code systems which are used to communicate information.
Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (all
signs or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses) as
they form code systems which systematically communicate information or
massages in literary every field of human behaviour and enterprise. (Semiotik
biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan
digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda
visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa
diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda
tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi
atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia), (Kurniawan
dalam Sobur, 2004: 15).
Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Fer dinand de
Saussur e melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan
significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul
ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’
(signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu
bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan
kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”.
Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau
didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental,
pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Barthes,
2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu
tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan
atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk
tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. “Penanda
dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata
Saussure. Louis Hjelmslev, seorang penganut Saussurean berpandangan bahwa
(penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan
antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev,
sebuah tanda lebih merupakan self-reflective dalam artian bahwa sebuah penanda
dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi
kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori
metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland
Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah
sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu
dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada
dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai
hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal-hal ini tidak dapat dicampuradukkan
dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa
objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek-objek-objek itu hendak
dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah
satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah
peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda,
membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas
mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua,
yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini
oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya
1. Signifier
(penanda) 2. signified
(petanda)
3. Denotative sign (tanda denotatif) 4. CONNOTATIVE SIGNIFIER
(PENANDA KONOTATIF) 5. CONNOTATIVE SIGNIFIED
(PETANDA KONOTATIF) 6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)
Gambar 2. Peta Tanda Roland Barthes
Dari peta Bar thes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas
penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif
adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif
tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian
tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan
antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan
konotasi yang dipahami oleh Barthes. Didalam semiologi Barthes dan para
pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara
konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih
diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan
keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan
dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan
1999:22). filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme
melalui kajian Dalam kerangka Bar thes, konotasi identik dengan operasi
ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan
dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu
periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda,
petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh
suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos
adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah
petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berbeda dengan para ahli yang sudah
dikemukakan di atas, Charles Sanders Peirce, seorang semiotik. Bagi Peirce, tanda
“is something which stands to somebody for something in some respect or
capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground.
Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan
triadik, yakni ground, object, dan interpretant (lihat gambar 3). Atas dasar
hubungan ini, Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan
ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah
kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau
peristiwa yang ada pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung
oleh tanda. Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: sintaksis
semiotik, semantik semiotik, dan pragmatik semiotik. Sintaksis semiotik
mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang
sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda
keutuhan wacana iklan. Semantik semiotik mempelajari hubungan antara tanda,
objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan
proses semiotis.
Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda
dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana.
Pragmatik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan
pemakaian tanda. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon),
index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara
penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain,
ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan;
misalnya foto. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah
antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau
tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda
adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut
simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara
penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer, hubungan
berdasarkan konvensi masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign,
representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument. Rheme
adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Dicent
sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. Sedangkan argument
adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu.
Gambar 3. Hubungan Triadik Peirce
Gambar 4. Tataran Tanda Peirce
2.1.8. Teor i Semiologi Roland Bar thes
Teori ini dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya
tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu
tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang
menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna
eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang
menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna
yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini,2006).
Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada
cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan
makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja
menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya. Roland
Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks
dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi
dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya.
Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup
denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir
dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan
Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang
yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat
kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda
tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan
membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi
kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut
akan menjadi mitos.
Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi
“keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi
“keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada
simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi
sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua.
Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah
Mitos.
2.1.8.1. Kode Pembacaan
Segala sesuatu yang bermakna tergantung pada kode. Menurut Roland
Barthes di dalam teks setidaknya beroperasi lima kode pokok yang didalamnya
semua penanda tekstual (baca : leksia) dapat dikelompokkan. Setiap atau
masing-masing leksia dapay dimasukkan kedalam salah satu dari lima buah kode ini.
Kode-kode ini menciptakan sejenis jaringan. Adapun kode-kode pokok tersebut
yang dengannya seluruh aspek tekstual yang signifikasi dapat dipahami, meliputi
aspek sintagmatik dan semantik sekaligus, yaitu menyangkut bagaimana
Lima kode yang ditinjau oleh Barthes adalah kode hermeneutika (kode
teka-teki), kode proretik, kode budaya, kode semik, dan kode simbolik
(Kurniawan, 2001:69).
1. Kode hermeneotika atau kode teka-teki berkisar pada harapan untuk
mendapatkan ‘’kebenaran’’ bagi pertanyaan yang muncul dalam teks.
Kode teka-teki merupakan unsur terstruktur yang utama dalam narasi
tradisional. Didalam narasi ada suatu kesinambungan antara permunculan
suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaian di dalam cerita (Sobur,
2004:65).
2. Kode Proarektik atau kode tindakan/lakuan dianggapnya sebagai
perlengkapan utama teks yang dibaca orang; artinya, antara lain, semua
teks yang bersifat naratif (Sobur, 2004:66).
3. Kode Gnomik atau kode cultural (budaya) banyak jumlahnya. Kode ini
merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan di
kodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefinisi
oleh acuan apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau sub
budaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasikan (Sobur, 2004:66).
4. Kode semik atau konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses
pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. ia melihat bahwa
konotasi kataa atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan
konotasi kataa atau frase yang mirip. Jika melihat kumpulan satuan
bahwa Barthes menganggap bahwa denotasi sebagai konotasi yang paling
kuat dan paling ‘’akhir’’ (Sobur, 2004: 65-66).
5. Kode simbolik (tema) merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling
khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes,
pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal
dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bunyi
menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun taraf oposisi
psikoseksual yang melalui proses (Sobur, 2004:66).
2.2 Ker angka Berpikir
Setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam
memaknai suatu peristiwa atau objek. Hal ini dikarenakan latar belakang (field of
experience) dan pengetahuan (frame of reference) yang berbeda-beda pada setiap
individu tersebut. Dalam menciptakan sebuah pesan komunikasi, dalam hal ini
pesan disampaikan dalam bentuk lagu, maka pencipta juga tidak terlepas dari dua
hal diatas.
Begitu juga peneliti dalam memaknai tanda dan lambang yang ada dalam
objek, juga berdasarkan pengalaman dan pengetahuan peneliti. Dalam penelitian
ini peneliti melakukan pemaknaan terhadap tanda dan lambang berbentuk tulisan
pada lirik lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’ dengan menggunakan metode
semiologi Roland Barthes, sehingga dapat diperoleh hasil interpretasi data
mengenai makna lirik lagu tersebut. Oleh karena itu peneliti menggunakan
metode Roland Barthes dengan menitik beratkan pada hubungan denotatif yang
signified (tanda konotatif), yang pada akhirnya diperoleh signifikasi. Sehingga
akan menghasilkan suatu interpretasi bagaimana pemaknaan terhadap lirik lagu
‘’Tendangan Dari Langit’’ tersebut.
Dari data-data berupa lirik lagu ’’Tendangan Dari Langit’’, kata-kata dan
rangkaian kata dalam lirik lagu tersebut kemudian dianalisis dengan
menggunakan metode (two order of signification) dari Roland Barthez. Dimana
pada tataran pertama tanda denotative (denotative sign) terdiri atas penanda dan
petanda (signifier, signified) dan pada tataran kedua tanda denotatif (denotative
sign) juga merupakan penanda konotatif (konotative signifier) sehingga muncul
petanda konotatif (konotatif signified) yang akan membentuk tanda konotatif
(konotatif signifier) sehingga muncul petanda konotatif (konotative sign). Dalam
tahap kedua dari tanda konotatif akan muncul mitos yang menandai masyarakat
yang berkaitan dengan budaya sekitar. Kemudian teks akan dimaknai dengan
menggunakan lima macam kode Barthez, yaitu kode hemeunitik, kode semik,
kode simbollik, kode proarektik, dan kode kultural untuk pemaknaan melalui
pembacaan dari kode-kode tersebut akan diungkap substansi dari pesan dibalik
4.1. Gambar an Umum Obyek Penelitian
Kotak terbentuk tanggal 27 September 2004 dalam acara The Dream
Band. Berawal dari ajang Dream Band tahun 2004 silam, Kotak lahir dibidani
salah seorang personel Kahitna, Doddy, yang bertindak sebagai produser. Saat itu,
Doddy melakukan audisi untuk membentuk format band baru di Indonesia yang
terdiri atas drummer, gitaris, bassist, dan vokalis. Audisi tersebut cukup
mendapatkan respons dari musisi remaja yang ingin mencoba peruntungannya di
industri musik. Sebanyak 400 orang vokalis, 170 bassist, ratusan gitaris, dan
ratusan drummer menjejali tempat audisi. Setelah melakukan audisi dengan
mempertimbangkan berbagai format penilaian, terpilihlah 2 vokalis, 2 bassist, 3
gitaris, dan 2 drummer. Musisi muda terpilih itu kemudian diramu lagi menjadi
dua band yaitu Kotak yang personelnya empat orang dan "Lima" yang
personelnya lima orang.
Nama Kotak memiliki arti empat sisi dan empat sudut yang bersatu
menjadi bangunan kotak. Hal itu menggambarkan tentang empat orang yang
berbeda tetapi bersatu dalam satu wadah musik. Formasi band Kotak saat itu
bukan seperti yang ada sekarang. Formasi grup band Kotak pertama kali diisi oleh
Cella (gitar), Icez (bass), Pare (vokal), dan Posan (drum). Mereka kemudian
Pada tahun 2007, Icez dan Pare ternyata memutuskan keluar dari band.
Posisi yang kosong kemudian digantikan oleh Tantri pada vokal dan Chua pada
bass. Mereka kemudian merilis album keduanya berjudul Kotak Kedua pada
tahun 2008. Menurut Tantri, dirinya sempat canggung ketika pertama bergabung
dalam band ini. "Karakter vokal Pare sudah melekat di Kotak, aku sempat
bingung mau nerusin karakter Pare atau sendiri saja. Tetapi, setelah sering main
bareng dan latihan, aku mutusin untuk pakai karakter sendiri," katanya.
Ternyata formasi band baru di album kedua tersebut membawa kesuksesan bagi
band Kotak untuk lebih berkibar di industri musik Indonesia. Tidak hanya ring
back tone (RBT) yang sudah terjual satu juta. Performa mereka yang memukau di
panggung membuat Kotak laris mendapatkan tawaran tur ke berbagai daerah di
Indonesia. Posan keluar dari band Kotak. Drummer yang sudah bermain bersama
Kotak selama tujuh tahun itu resmi meninggalkan Kotak yang kini hanya tersisa
Cella, Tantri dan Chua. Peraih drummer terbaik versi SCTV Award ini menolak
alasan keluar dirinya dari Kotak karena adanya konflik internal. Menurut Posan
dia sedang fokus dengan Winner, band side-project miliknya. Selain itu Posan
sedang sibuk menangani band bernama The Sign. Kesibukan luar biasa yang
dijalani Posan membuat dia harus memilih untuk keluar dari Kotak.
4.1.1. Penghar gaan
Tidak hanya di bidang penjualan, berbagai trofi pun berhasil diraih grup
band ini di berbagai ajang penghargaan musik. Pada Anugerah Musik Indonesia
Album mereka Kotak Kedua juga diganjar penghargaan kategori Album Rock
Terbaik. Mereka juga sukses menyabet kategori Grup/Duo Pendatang Baru
Terbaik versi Anugerah Planet Musik (APM) 2009. Terakhir MTV Indonesia
Awards menobatkan mereka sebagai Most Favourite Breakhtrought Artist 2009.
Meskipun sukses berada di posisi saat ini, personel Kotak berharap bahwa hal itu
belum merupakan puncak dari perjalanan mereka. Masih banyak mimpi yang
ingin mereka raih untuk tetap eksis di industri musik. Setidaknya mereka kini
telah melewati loncatan pertama mereka dari dream band menuju real band.
4.1.2. Diskogr afi Kotak
Album Kotak :
• The Dream Band "Delapan" (Desember 2004) - album kompilasi • Kotak (Juni 2005)
• Kotak Kedua (Mei 2008) • Energi (November 2010)
• Energi: Tendangan dari Langit (Agustus 2011)
4.2. Lir ik Lagu Dar i Tendangan Langit menur ut semiologi Roland
Bar thes
Salah satu area yang dirambah oleh Barthes dalam studinya tentang tanda
adalah peran dari pembaca. Roland Barthes sebagai salah satu seorang pengikut
Fokus perhatian Barthes lebih bertujuan pada gagasan tentang signifikan dua
tahap terhadap tanda (two step of significations).
Tahap pertama, tanda merupakan hubungan antara signifier dan signified,
Barthes menyebut sebagai denotasi, yaitu makna yang paling nyata dari tanda.
Selanjutnya tahap kedua ialah makna konotasi dari tanda, hal ini menggambarkan
interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari
pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaan. Dengan kata lain denotasi adalah apa
yang digambarkan tanda terhadap satu objek, sedangkan konotasi adalah
bagaimana cara menggambarkannya (Fiske, 1990:72). Begitupun juga dengan
lirik lagu ‘’’Tendangan Dari Langit’’, signifikasi dua tahap (two step of
signnifications) yang dikemukaan berdasarkan Barthes sebagai berikut :
1. Signifier (penanda) :
Teks lirik lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’
2. Signified (petanda) :
Konsep menurut kamus bahasa Indonesia.
Gambar 4.1 Peta tanda Roland Bar thes
Dari peta Barthes diatas terlihat bahwa tanda denotative (3) terdiri atas
penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat yang bersamaan tanda
konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung
kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya (Sobur, 2003:68-69).
4.3. Penyajian dan Pemaknaan Data
4.3.1. Penyajian Data
Judul lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’ yang mengandung arti sebenarnya
dari suatu pemaknaan karena dalam lirik lagu menunjukkan memotivasi anak
muda agar selalu semangat mengejar impianya atau cita-citanya. Sebagai contoh
lirik, tendangan dari langit, menembus cahaya dan lain-lain, lagu ini menjelaskan
bahwa, impian atau suatu cita-cita akan menjadi sebuah kenyataan apabila kita
terus berlari tanpa lelah dan menggapainya. Korpus dalam penelitian ini adalah
lirik lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’.
Tendangan Dar i Langit
di saat terlintas di benakku
serasa hariku anganku ingin sepertimu
terus seiring berjalannya waktu
serasa hidupku karenamulah aku
kan terus terpacu olehmu selalu
kau ada di dalam hatiku
selalu akan tetap memujamu
pasti kita terbang tinggi bila terus berlari
teruskanlah tanpa henti
*
terus seiring berjalannya waktu
serasa hidupku karenamulah aku
kan terus terpacu olehmu selalu
kau ada di dalam hatiku
selalu akan tetap memujamu
*
pasti kita terbang tinggi bila terus berlari
teruskanlah tanpa henti
kau angkatlah tangan tinggi, genggamlah terus jemari
tuk gapai sebuah mimpi
*
pasti kita terbang tinggi bila terus berlari
teruskanlah tanpa henti
kau angkatlah tangan tinggi, genggamlah terus jemari
tuk gapai sebuah mimpi
kita terbang tinggi bila terus berlari
teruskanlah tanpa henti
pastikan terus kau yakini
tendangan dari langit ini bawamu meraih mimpi
4.3.2. Pemaknaan Data
Pemaknaan lirik lagu “Tendangan Dari Langit” oleh peneliti dilakukan
penjabaran makna tiap kalimat yang terdiri dari rangkaian kata. Tentunya dalam
memaknai pesan terkandung dalam lirik lagu ‘’Tendangan Dari Lamgit’’
berdasarkan pengetahuan (frame of reference) dan pengalaman (field of
experience) dari peneliti. Setiap kata tentu mengandung suatu makna baik makna
denotative atau makna konotatif. Disini peneliti berpedoman pada kamus lengkap
bahasa Indonesia. Untuk menentukan makna yang telah di sepakati tersebut.
Dalam lagu si pencipta menggunakan judul ‘’Tendangan Dari Langit’’ yang
menjelaskan, kejar mimpi-mimpimu, bangun untuk itu dan jangan tidur lagi.
Leksia adalah satuan bacaan tertentu yang didapat dengan
memotong-motong teks di dalam lirik ‘’Tendangan Dari Langit’’ sebagai objek dan bahan
penelitian. Agar bisa mendapatkan dan menemukan makna-makna yang ada untuk
diproduksikan dan digambarkan oleh sang pembaca. Leksia ini dapat berupa satu
kata, beberapa kata, satu kalimat, beberapa kalimat, satu paragraph dan beberapa
paragraph. Kemudian kalimat dari leksia-leksia tersebut akan mejelaskan tentang
anak muda yang selalu semangat untuk terus mengejar impiannya.
Barthes yaitu : kode Hermeneutik (kode teka-teki), kode semic (makna konotatif),
kode simbolik, kode proarektik (kode tindakan), kode gnomic atau kode cultural
yang membangkitkan suatu teori pengetahuan tertentu. Lima kode inilah yang
akan menjadikan acuan peneliti dalam merekonstruksi konsep pencapaian sebuah
impian tanpa henti.
Bait 1 kalimat 1 dan 2 : di saat ter lintas di benakku, serasa har iku anganku
ingin seper timu.
1. Penanda : Di saat terlintas dibenakku,
serasa hariku anganku ingin
sepertimu.
2. Petanda : Konsep tentang apa yang ada di isi
otakku atau pikiranku seakan-akaan
waktunya, ingatanku ingin seperti sang idolanya.
5. Petanda konotatif : ingin mewujudkannya
sesuatu yang ada di dalam pikirannya
6. Tanda konotatif : disini menceritakan ingin mewujudkan impiannya yang
selama ini ada didalam
otaknya/pikiranya ingin seperti sang idolanya.
Kalimat pertama pada bait pertama ini termasuk kode her meneutic atau
teka-teki karena dalam kalimat Di saat terlintas di benakku menimbulkan
pertanyaan apa yang sedang dipikirkannya?. Kode proar etik, karena dalam
kalimat ini mengenai sesuatu yang sedang di pikirkannya dan akan dipertegas
pada kalimat berikutnya. Kode Semik, kata disaat, dapat dipisah di-saat, kata di
menyatakan awalan yang mempunyai makna akan melakukan sesuatu tindakan,
sedangkan saat yang artinya menyatakan ketika, waktu yang singkat, kata
terlintas menyatakan terjalani, kata dibenakku dapat dipisahkan di-benakku, kata di menyatakan awalan yang mempunyai makna melakukan sesuatu, sedangkan benakku yang artinya apa yang ada didalam pikirannya atau otaknya. Kode
kultur al bahwa budaya Indonesia berbeda dengan budaya lain dalam melakukan
suatu tindakan apabila melanggar norma-norma agama. Kode simbolik dalam
kalimat tersebut bahwa ada sesuatu didalam pikirannya yang akan dilakukan.
Jadi makna kalimat disaat terlintas dibenakku merupakan sedang
membayangkan sesuatu yang ada dipikirannya dan apa yang ingin segera
dilakukannya atau di wujudkan seperti apa yang di inspirasikan seperti sang
idolanya. Analisis berdasarkan pengalaman (field of experience) dan pengetahuan
(frame of reference) disaat terlintas dibenakku ini menimbulkan pembentukan
konsep diri yang mengenai diri yang kita inginkan, atau citra diri yang dulu kita
tunjukkan kepada orang lain. Pemikiran ide yang selalu muncul diotak kita dan
selalu berubah-ubah, khususnya pada masa pertumbuhan. Ketika kecil, kita
mungkin ingin menjadi pilot, dokter dan presiden. Akan tetapi, semakin banyak
boleh jadi berubah, dan akhirnya kita menerima peran kita sebagai dosen,
pengacara, seniman atau peran apa saja yang berbeda dengan citra diri yang dulu
kita bayangkan.
Bait 1 kalimat 3 ter us seir ing ber jalannya wak tu
1. Penanda : terus seiring berjalannya waktu.
2. Petanda : waktu yang terus berputar cepat.
3. Tanda denotatif : waktu itu terus
Gambar 4.3 Peta tanda Roland Bar thes bait 1 kalimat 3
Kalimat ketiga pada bait pertama ini termasuk kode proar ektik karena
terdapat kata terus, yang berarti menuju/tujuan dan kata seiring bila dipisahkan
se-iring, yang artinya bersama-sama atau sedang bersama atau bersamanya.
Kode semik, kata berjalannya dapat dipisah ber-jalan-nya, kata ber menyatakan
awalan yang mempunyai makna melakukan sesuatu pekerjaan, sedangkan jalan
mempunyai arti melangkahkan kaki serta bergerak, kata nya berarti akhiran. Kode
her meneotik karena dalam kalimat seiring berjalannya waktu, menimbulkan
pertanyaan?waktu, kapan?. Kode simbolik terdapat kata waktu yang berarti
sekarang atau yang akan datang. Kode kultur al, bahwa dalam kalimat tersebut
menyatakan waktu terus berputar dan tidak ada yang melanggar aturan
Jadi makna konotasi dari kalimat seiring berjalannya waktu, adalah
menjelaskan terus bersama-sama melangkahkan kaki serta bergerak sekarang dan
yang akan datang, waktu akan terus cepat berputar apabila kita tidak
memanfaatkan waktu kita dengan baik. Analisis berdasarkan pengalaman (field of
experience) dan pengetahuan (frame of reference) seiring berjalannya waktu ini
menimbulkan komunikasi ekspresif, erat kaitannya dengan komunikasi sosial
adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan dengan baik sendirian ataupun
dalam kelompok. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi
orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen
untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan terutama
dikomunikasikan melalui pesan-pesan non verbal.
Bait 2 kalimat 4 : ser asa hidupku kar enamulah aku
1. Penanda : serasa hidupku
karenamulah aku
2. Petanda : konsep tentang
seakan-akan hidupnya terpengaruh seperti seseorang yang diidolakannya.
terpengaruh oleh seseorang yang diidolakannya.
Gambar 4.4 Peta tanda Roland Bar thes Bait 1 kalimat 4
Kalimat keempat pada bait pertama ini termasuk kode her meneotik atau
teka-teki karena dalam kalimat serasa hidupku karenamulah aku menimbulkan
pertanyaan hidupnya seperti apa? Dan karena siapa? Kode proarektik, karena
yang berarti asal mula yang menjadi sebab/alasan, sedangkan mu adalah kamu.
Dan sedangkan lah adalah akhiran. Karena kepada siapa yang diinginkannya dan
akan dipertegas pada kalimat berikutnya. Kode semik, kata serasa berarti
seakan-akan. Kode kultur al bahwa budaya Indonesia berbeda dengan budaya lain dalam
melakukan sesuatu yang ingin seperti seseorang yang diidolakannya. Kode
simbolik merupakan sebuah pengandaian bagi dia yang sungguh ingin menjadi
seperi seorang idolanya.
Arti makna kalimat ser asa hidupku kar enamulah aku menyatakan
bahwa seakan-akan kehidupan sehari-harianya seperti seseorang yang
diidolakannya karena terinspirasi oleh idolanya. Analisis berdasarkan pengalaman
(field of experience) dan pengetahuan (frame of reference) serasa hidupku
karenamulah aku ini menimbulkan komunikasi ekspresif dan pembentukan
konsep diri kita yang menjelang dewasa, kita menemui kesulitan memisahkan
siapa kita dari siapa kita menurut orang lain, dan konsep diri kita memang terikat
rumit dengan definisi yang diberikan orang lain kepada kita dan juga
menimbulkan perasaan-perasan (emosi) secara nonverbal dari diri kita. Seperti
bait ini yang menceritakan seseorang yang sungguh ingin menjadi seorang yang
Bait 1 ka limat 5 : kan ter us ter pacu olehmu selalu seseorang yang benar-benar yakin akan terus bersemangat.
6. Tanda konotatif : seseorang yang benar-benar yakin akan tercapai impiannya karena dorongan dari sang idolanya
Gambar 4.5 Peta tanda Roland Bar thes Bait 1 kalimat 5
Kalimat kelima pada bait pertama ini termasuk kode her meneotik atau
teka-teki karena didalam kalimat kan terus terpacu olehmu selalu menimbulkan
pertanyaan terpacu oleh siapa? kode proar ektik, karena dalam kalimat ini
mengenai rasa semangat yang tinggi untuk mengejar cita-citanya atau impiannya
dan akan dipertegas pada kalimat berikutnya. Kode semik, ,kata olehmu dapat
dipisah menjadi oleh+mu berarti pengandaian, kata mu adalah kamu berarti orang
kedua dalam kalimat tersebut. Kode k ultur al bahwa dalam kalimat tersebut
menyatakan terus semangat karena pengaruh olehnya, dikalimat ini tidak
menyebutkan kata-kata yang bersifat menyimpang dari norma agama atau budaya
Indonesia. Kode simbolik merupakan sebuah pengandaian, seseorang yang terus
semangat mengejar impiannya karena pengaruh dorongan dari idolanya.
Arti makna kalimat kan terus terpacu olehmu selalu menyatakan, bahwa
dia tak pernah berhenti dan pantang menyerah terus semangat untuk mengejar