• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAKNAAN LIRIK LAGU ”TENDANGAN DARI LANGIT’’ DARI GROUP BAND KOTAK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMAKNAAN LIRIK LAGU ”TENDANGAN DARI LANGIT’’ DARI GROUP BAND KOTAK."

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian per syar atan memper oleh gelar

Sar jana pada FISIP UPN “Veter an” J awa Timur

Rahadian Yuniar Pr akasa

NPM. 0743010191

YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAH AN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” J AWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU PO LITIK

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

(2)

(Studi Semiologi Terhadap Lirik Lagu ’’Tendangan Dari Langit’’ dari Group band Kotak)

Musik diartikan sebagai suatu ungkapan yang berasal dari perasaan yang dituangkan

dalam bentuk bunyi-bunyian atau suara. Musik merupakan hasil karya manusia yang menarik

karena musik memegang sebuah peranan yang sangat banyak melalui lirik lagunya, karena

lirik lagu dalam musik mencerminkan realitas sosial yang beredar dalam masyarakat. Lirik

lagu dapat pula sebagai sarana untuk sosialisasi karena mengandung informasi atau pesan.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian bersifat

kualitatif-interpretatif semiotic dari Roland Barthes, yaitu metode signifikasi dua tahap menurut

barthes, yaitu kode hermeneutic, kode semik, kode simbolik, kode proarektik, kode cultural

untuk pemaknaan sebuah tanda sehingga dapat mengetahui tanda denotative dan tanda

konotatifnya.

Dalam lirik lagu ini digambarkan bahwa semangat anak muda untuk terus mengejar

cita-citanya melalui inspirasi oleh sang idolanya untuk menggapai dan meraih sebuah

impiannya yang akan menjadi sebuah kenyataan apabila kita terus mengejar dan semangat

tanpa lelah untuk menggapainya. Lirik lagu dalam lagu Tendangan Dari Langit adalah sebuah

harapan anak muda untuk menggapai atau meraih impian.

Kesimpulan dalam penelitian ini dari lirik lagu ’’Tendangan Dari Langit’’ dari Group

band Kotak sebagaimana dalam makna yang tersimpan disetiap lirik atau teks dalam lagu ini,

merupakan sebuah pesan yang bersifat positif untuk menjadikan anak muda Indonesia yang

selalu optimis demi mewujudkan mimpinya.

(3)

rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul :

“Pemaknaan Lirik Lagu “Tendangan Dari Langit’’ Dari Group Band Kotak (Studi Semiologi

Dalam Lirik Lagu Tendangan Dari Langit Dari Group Band Kotak). Penyelesaian skripsi ini

dapat terselesaikan berkat dorongan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Mengingat

hal tersebut, maka pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan banyak terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini, diantaranya :

1. Ibu Dra, Ec, Hj, Suparwati, M.si, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Juwito, S.sos, M.si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial

dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Ir. H. Didiek Tranggono, M.si, Dosen pembimbing yang selalu memberikan

koreksi dan sudah menyempatkan waktunya untuk membimbing penulis.

4. Orang tua dan kakak yang selalu mendukung dan mendoakan dalam segala keadaan dan

selalu memberi motivasi dan semangat.

5. Saudara penulis Liwung, Wiwoho, dan Adhit Glewow yang selalu memberikan

dukungannya dan mengerjakan skripsi dengan kompak.

6. Teman-teman angkatan 2007 khususnya yang sudah memberikan masukan kepada penulis

selama kuliah.

7. Teman-teman manis manja group, tompel, fariz, semped, yan, ando, dyaz, nidy dan

teman-teman akutansi Unair khususnya angkatan 2007, terima kasih sudah memberikan semangat

(4)

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih

banyak kekurangannya meskipun penulis sudah berusaha sebaik-baiknya. Hal tersebut

karena masih kurangnya ilmu, penulis bersedia menerima saran dan kritik yang bersifat

membangun demi perbaikan dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dan

penyempurnaan menyusun skripsi ini.

Surabaya, Desember 2011

(5)

HALAMAN J UDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN UJ IAN SKRIPSI ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

ABSTRAKSI ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 10

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Kegunaan Penelitian ... 10

BAB II KAJ IAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 11

2.1.1. Pembentukan Konsep Diri ... 13

2.1.2 Komunikasi Ekspresif ... 15

2.1.3 Musica Practica ... 17

2.1.4 Teori Musik, Lagu, dan Lirik Lagu ... 20

2.1.5 Makna dan Pemaknaan ... 23

2.1.6 Teori-Teori Makna ... 24

2.1.7 Teori Semiotika Dalam Komunikasi ... 26

(6)

2.1.8.1 Kode Pembacaan ... 33

2.2 Kerangka Berpikir ... 35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 37

3.2 Unit Analisis ... 38

3.3 Corpus... 39

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 41

3.4.1.1. Sumber Data ... 41

3.5. Metode Analisis Data ... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 44

4.1.1. Penghargaan ... 46

4.1.2. Diskografi Kotak ... 47

4.2. Lirik Lagu Tendangan Dari Langit menurut semiologi Roland Barthes... 47

4.3. Penyajian dan Pemaknaan data ... 49

4.3.1. Penyajian Data ... 49

4.3.2. Pemaknaan Data ... 51

4.3.3. Pemaknaan Lirik Lagu Tendangan Dari Langit ... 67

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 73

5.2. Saran ... 74

(7)

Gambar 1. Peta Tanda Roland Barthes ... 29

Gambar 4.1 Peta Tanda Roland Barthes ... 47

Gambar 4.1 Peta Bait 1 kalimat 1 ... 52

Gambar 4.2 Peta bait 1 kalimat 2 ... 53

Gambar 4.3 peta bait 1 kalimat 3 ... 54

Gambar 4.4 Peta bait 1 kalimat 4 ... 55

Gambar 4.5 Peta bait 1 kalimat 5 ... 56

Gambar 4.6 Peta bait 2 kalimat 1 ... 57

Gambar 4.7 Peta bait 2 kalimat 2 ... 58

Gambar 4.8 Peta bait 3 kalimat 1 ... 59

Gambar 4.9 Peta bait 3 kalimat 2 ... 60

Gambar 4.10 Peta bait 4 kalimat 1 ... 61

Gambar 4.11 Peta bait 4 kalimat 2 ... 62

Gambar 4.12 Peta bait 5 kalimat 1 ... 63

Gambar 4.13 Peta bait 5 kalimat 2 ... 64

Gambar 4.14 Peta bait 5 kalimat 3 ... 65

(8)

1.1Latar Belaka ng Maslah

Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna, tanda-tanda

adalah basis dari seluruh komunikasi ?. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda,

dapat melakukan komunikasi sesamanya. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan

didunia ini, termasuk juga melalui sebuah media dalam menyampaikan pesannya

salah satunya adalah musik dan lagu (Sobur,2004 : 15).

Musik merupakan hasil budaya manusia yang menarik di antaranya

banyak budaya manusia yang lain, dikatakan menarik karena memegang peranan

yang sangat banyak di berbagai bidang. Jika di lihat dari sisi psikologisnya,

musik kerap menjadi sarana pemenuhan kebutuhan manusia dalam hasrat akan

seni dan berkreasi. Dari sisi sosial musik dapat disebut sebagai cermin tatanan

sosial yang ada dalam masyarakat saat musik tersebut diciptakan dan dari segi

ekonomi pun musik telah bergerak pesat menjadi suatu komoditi yang

menguntungkan. Dalam sebuah lagu selain kekuatan musik atau aransemen

musik, unsur lirik yang di nyayikan mempunyai peranan yang sangat penting,

karena lirik lagu sebagaimana bahasa dapat menjadi sarana atau media

komunikasi untuk mencerminkan realitas sosial yang beredar dalam masyarakat.

Lirik lagu dapat memilihnya bisa memiliki nilai yang sama dengan ribuan kata

atau peristiwa, juga secara individu mampu memikat perhatian. Lirik lagu dapat

(9)

2.1 Landasan Teor i

Penelitian mengenai lirik lagu kebanyakan dilakukan untuk mengetahui

sampai sejauh mana kemampuan sebuah teks lirik lagu dalam mempengaruhi

masyarakat. Kemampuan mempengaruhi sebuah teks lirik lagu ini terjadi karena

pengarang menyampaikan ide dan gagasan melalui kata maupun kalimat baik

yang sifatnya menimbulkan perasaan marah, benci, senang, gundah, cinta dan

segala hal yang menimbulkan kedekatan emosional (Nugraheni, 2002:15).

Kajian mengenai lirik lagu antara lain dilakukan oleh Yayah. B.

Muningsah Lumintaintang. Hasil penelitiannya yaitu “Bahasa Indonesia dalam

Lirik Lagu” dan dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra Th XV Nomor 3. Hasil

penelitiannya mencakup kesesuaian tekanan kata dengan tekanan/irama lagu,

pengucapan, ketidaktepatan bentukan dan pilihan kata, dan kerapian struktur

kalimat. Selain itu pada seminar sosiolinguistik II bulan Oktober 1989 di UI,

Lumintaintang juga menulis makalah tentang lirik lagu. Presentasinya berjudul

“Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Lirik Lagu Kanak-Kanak”. Pada

makalahnya tersebut Lumintaintang membahas pemilihan variasi kalimat serta

frekuensi pemakaiannya dan bahasa indonesia yang digunakan dalam lirik lagu

kanak-kanak (Nugraheni, 2002:12).

Pada tesis yang dilakukan oleh Hermintoyo Metafora dalam Lirik Lagu

(10)

mengangkat lirik lagu berdasarkan kemunculan simbol dan terapannya dalam

proses tindak tutur. Pada tesis ini dapat diketahui bahwa lirik lagu ternyata tidak

hanya terbatas dalam pembahasan gaya/style kebahasaan seorang pengarang,

namun juga terdapat simbol-simbol kebahasaan berupa bahasa metaforis.

Metafora dalam kajian beliau merupakan metafora dalam arti luas yaitu

memandang semua bahasa figuratif merupakan metafora. Selain itu, keberadaan

bahasa metaforis tersebut dapat digunakan untuk melihat kualitas seorang penyair

dalam menciptakan lirik lagu (Hermintoyo, 2003 :10).

Bahasa lirik lagu sama seperti puisi yang dibuat sebagai sarana estetika

untuk memberikan tenaga ekspresif serta emotif dalam mengungkapkan gambaran

suasana batin.seorang pengarang. Maka untuk dapat mengungkapkan nuansa

konkretisasi pengalamannya, pengarang lirik lagu memunculkan kata-kata yang

penuh dengan kiasan. Salah satu penelitian mengenai bahasa kiasan dilakukan

oleh Wahab yang tulisannya dimuat dalam buku Isu Linguistik (1986). Menurut

Wahab bahasakiasan puisi dapat menunjukkan sejauh mana interaksi pengarang

dengan lingkungannya. Konsep kajian oleh wahab ini, berdasarkan atas medan

semantik persepsi manusia Haley yang dikelompokkan menjadi: being, kosmos,

energi, subtansi, terestrial, objek, living, annimate, human (Wahab, 1986:71).

Bahasa dalam lirik lagu selain sebagai sarana ekspresi juga sebagai bentuk

pengungkapan maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan dapat tercapai karena

bahasa lirik yang bersifat ekspresif itu dipahami sebagai bagian dari stilistika.

Analisis stilistika digunakan dengan tujuan untuk menerangkan hubungan antara

(11)

kebahasaan yang diciptakan pengarang sebagai suatu sarana komunikasi antara

pengarang dengan pembaca (Aminudin, 1995:2). Kajian mengenai puisi

dilakukan oleh Pradopo dalam bukunya Pengkajian Puisi (2002) yang

menerapkan pendekatan stilistika-semiotik pada puisi-puisi karya Amir Hamzah

dan Chairil Anwar. Dalam kajiannya, terdapat kemunculan bahasa kias yang

berbeda antara Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Jika Amir Hamzah lebih sering

menggunakan bahasa yang lembut dan santun untuk menunjuk harapan, Chairil

Anwar lebih memilih bahasa yang menggebu-gebu, urakan, dan cenderung kasar

untuk menunjukan kekecewaaan (Pradopo,2002:123). Untuk dapat melihat

kemampuan sebuah puisi dalam memberikan arti lain dari bahasa biasa, puisi

memiliki aturan sendiri. Bentuk aturan tersebut berupa anggapan bahwa bahasa

puisi merupakan sarana untuk menyatakan ekspresi secara tidak langsung, yaitu

ekspresi pengarang di dalam kata-kata untuk menunjuk arti lain.

2.1.1. Pembentukan Konsep Dir i

Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita,dan itu hanya

bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Manusia

yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lainnya tidak mungkin

mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah manusia. Kita sadar bahwa kita

manusia karena orang-orang disekeliling kita menunjukkan kepada kita lewat

perilaku verbal dan nonverbal mereka bahwa kita manusia. Bahkan kita pun tidak

akan pernah menyadari nama kita adalah si ‘’Badu” atau si ‘’Mincreung’’, bahwa

kita adalah lelaki, perempuan, pintar, atau menyenangkan, bila tidak ada

(12)

orang lain kita belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita

merasakan siapa kita. Anda mencintai diri anda bila anda telah dicintai; anda

mempercayai diri anda bila anda telah dipercayai; anda berpikir anda cerdas bila

orang disekitar anda menganggap anda cerdas; anda merasa anda tampan atau

cantik bila orang-orang disekitar anda juga mengatakan demikian

(Mulyana,2005:7).

Konsep diri kita yang paling dini umumnya dipengaruhi oleh keluarga dan

orang-orang dekat lainnya disekitar kita, termasuk kerabat. Mereka itulah yang

disebut significant others. Orang tua kita, atau siapapun yang memelihara kita

pertama kalinya, mengatakan kepada kita lewat ucapan dan tindakan mereka

bahwa kita baik, bodoh, cerdas, nakal, rajin, ganteng, cantik, dan sebagainya.

Merekalah yang mengajari kita kata-kata pertama. Maka dalam banyak hal, kita

adalah‘’ciptaan’’mereka. Dalam pertumbuhan kita, kita menerima pesan dari

orang-orang disekitar kita mengenai siapa diri kita dan harus menjadi apa kita.

Skenario itu ditetapkan orang tua kita, berupa antara lain arahan yang jelas

sebagaimana skenario yang ditulis untuk sinetron atau drama. Arahan itu

misalnya, ‘’Cium tangan kakek dan nenek’’, Bilang terima kasih kepada paman

dan bibi’’, ‘’Gunakan tangan bagus (kanan) untuk menerima hadiah itu ‘’,’’Anak

pintar’’!’’ Setiap orang dalam keluarga besar kita berpendidikan tinggi’’, dan

sebagainya. Orang-orang diluar keluarga kita juga memberi andil kepada skenario

itu, seperti guru, pak kiai, sahabat dan bahkan televisi. Semua mengharapkan kita

memainkan peran kita. Menjelang kita dewasa, kita menemui kesulitan

(13)

memang terikat rumit dengan definisi yang diberikan orang lain kepada kita

(Mulyana, 2005: 8).

Proses konseptualisasi diri ini berlangsung sepanjang hayat kita. Sejak

kanak-kanak kita sering berfantasi mengenai diri yang kita inginkan, atau citra diri

yang dulu kita tunjukkan kepada orang lain. Sering konsep diri atau citra diri ini

berubah-ubah, khususnya pada masa pertumbuhan. Ketika kecil, kita mungkin

ingin menjadi pilot, dokter, wartawan atau arsitek. Akan tetapi, semakin banyak

pengetahuan yang kita peroleh dan semakin luas pengalaman kita, cita-cita itu

boleh jadi berubah, dan akhirnya kita menerima peran kita sebagai dosen ,pengacara, seniman, atau peran apa saja yang berbeda dengan citra diri yang dulu kita bayangkan. Konsep diri kita pada usia 10 tahun, mungkin berbeda

dibandingkan dengan ketika kita berusia 20 tahun , 35 tahun atau 50 tahun.

2.1.2 Komunikasi Ek spr esif.

Erat kaitannya dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif

yang dapat dilakukan baik sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi

ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat

dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan

perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan terutama dikomunikasikan

melalui pesan-pesan nonverbal. Seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya

dengan membelai kepala anaaknya. Orang dapat menyalurkan kemarahan dengan

mengumpat, berkecak pinggang, mengepalkan tangan seraya memelototkan

(14)

kampus dengan melakukan demonstrasi, unjuk rasa, mogok makan atau aksi

diam. Chauhadry tahir, seorang penjaga toko membakar dirinya di jalan utama di

islamabad hari sabtu, 17 april 1999, sebagai aksi protes terhadap pengadilan yang

mengusirnya dari toko tempat ia mencari naskah. Katakanlah dengan bunga

adalah ungkapan yang berkaitan dengan komunikasi ekspresif ini. kita bisa

menyatakan cinta atau kasih sayang kepada seseorang dengan mengirimkan bunga

kepadanya. Hal yang sama kita lakukan, ketika kita ingin menyatakan selamat

kepada orang selamat kepada orang yang berulang tahun, lulus menjadi sarjana ,

atau menikah, atau juga menyatakan simpati dan duka cita kepada orang yang

salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Akan tetapi, kita harus hati-hati

dengan jenis bunga yang kita bawa. Di Australia mawar merah adalah lambang

cinta romantik. Di negara kita bunga kamboja sering diasosiassikan dengan

bunga kuburan sehingga tidak banyak orang yang menanamnya di halaman

rumah, apalagi diberikan kepada orang yang sedang ulang tahun, meskipun di bali

bunga ini digunakan untuk sesaji (Mulyana, 2005:21-22).

Emosi kita juga dapat kita salurkan lewat bentuk-bentuk seni seperti puisi,

novel, musik, tarian, atau lukisan. Puisi “Aku’’ karya Chairil Anwar

mengekspresikan kebebasannya dalam berkreasi. Novel Saman karya Ayu Utami

mengekspresikan semangat anak muda yang banyak terlibat dalam Lembaga

Swadaya Masyarakat (LSM). Cerpen-cerpen Helvy Tiana Rosa bernapaskan

Islam yang dimuat dalam antologi cerpennya Ketika Mas Gagah Pergi dan dalam

Sembilan Mata Hati mengekspresikan keprihatinannya akan nasib umat islam

(15)

Harus diakui, musik juga dapat mengekspresikan parasaan, kesadaran, dan

bahkan pandangan hidup (ideologi) manusia. Itu sebabnya pertunjukkan musik

Iwan Fals yang lirik-liriknya bermuatan kritik atau sindiran terhadap penguasa

sering dilarang pihak berwajib selama era Order Baru. Orang memang telah

menggunakan sarana hiburan berabad-abad untuk tujuan propaganda. Selama

revolusi Prancis, misalnya, digunakan juga musik, selain teater, permainan,

festival, dan surat kabar, untuk menggalang kekuasaan. Lagu – lagu perjuangan

Indonesia, meskipun menghibur dan estetis, juga mengandung imbauan kepada

rakyat untuk berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Lagu ‘’Maju

Tak Gentar’’, ‘’Padamu Negeri’’, Di sini Senang’’ (atau ‘’Sorak Sorai

Bergembira’’) berturut-turut merupakan ‘’lagu kebangsaan’’ (ekspresi) tentara

berpangkat rendah (tamtama,prajurit), perwira menengah dan perwira tinggi TNI.

Menarik pula bahwa ternyata ke tujuh belas pupuh Sunda melambangkan suasana

hati yang berlainan. Asmarandama melambangkan rasa birahi ; dandanggula

melambangkan kegembiraan; kinanti melambangkan penantian; maskumambang

melambangkan kesedihan; pangkur melambangkan kemarahan; dan sinom

melambangkan asmara (Mulyana, 2005: 23-24).

2.1.3. Musica Pr actica

Menurut kami, ada dua musik: musik yang didengar dan musik yang

dimainkan seseorang. Kedua musik ini adalah dua seni yang sangat berbeda satu

sama lain, yang memiliki sejarah, pengaruh sosiologi, estetika, dan erotikanya

masing-masing. Musik yang sama bisa jadi kurang menggigit jika penciptanya

(16)

memainkannya untk dia (Meskipun buruk kamu memainkannya) – demikian

Schumann.

Musik yang dimainkan seseorang sangat sedikit berkaitan dengan

pendengaran, tetapi terutama berkaitan dengan sentuhan jemari di atas tuts (dan

karena itu, dalam beberapa hal, lebih berkaitan dengan citra rasa atau bersifat

sensual). Musik seperti Inilah yang bisa anda dan saya mainkan, entah dimainkan

sendirian atau bersama orang lain, yang lebih berperan sebagai partisipan

ketimbang penonton (sehingga keserbamungkinan seperti dalam teater, atau

keserbamungkinan hysteria, tidak akan terjadi) suatu jenis musik muscular dengan

bagian yang ditangkap oleh indera pendengarlah yang mendapat ratifikasi, seolah-

olah tubuh-lah yang tidak dimainkan “dengar hati” : duduk di depan tuts-tuts atau

alat musik, lalu mengandalkan kontrol tubuh, kontrol gerakan, koordinasi,

membiarkan tubuh menerjemahkan apa-apa yang terbaca untuk menghasilkan

suara dan makna; pada musik jenis ini, tubuh berfungsi sebagai perekam

(transmitter) sementara. Musik seperti ini sudah hilang. Awalnya, musik seperti

ini biasa ditampilkan untuk menghibur orang-orang kaya sedang duduk

bermalas-malasan (aristocrat), kemudian menjadi bagian dari ritual sosial bersamaan

dengan kemunculan demokrasi kaum borjuis (ditandai dengan piano, gadis muda,

ruangan penuh Gambar, dilangsungkan pada malam hari), lalu kemudian hilang

sama sekali (siapa yang memainkan piano hari-hari ini). Supaya bisa menemukan

musik praktis di barat, hari-hari ini orang harus mencarinya ke kelompok lain

(generasi muda), repertoar lain (musik vokal), dan alat musik lain (gitar).

(17)

festival, rekaman, radio) semuanya disebut sebagai musik : musik yang dihasilkan

dengan cara memainkannya telah hilang; aktivitas musical tidak lagi bersifat

manual [bersentuhan dengan tuts], muscular dan fisikal, tetapi semata-mata

berurusan dengan suara likuida, bersifat efusif dan meminjam istilah Balzac,

berfungsi untuk “me-lubrifikasi”. Demikian juga halnya dengan orang-orang

yang tampil telah mengalami pergantian. Kelompok amatir yang diukur lebih dari

segi daya ketimbang kesempuarnaan teknis, tidak lagi mudah ditemukan;

kelompok profesional, yakni para spesialis yang latihannya masih sangat esoteris

bagi publik (adakah orang yang masih tertarik dengan hal-ikhwal pendidikan

musik?) yang tidak pernah memperkaya kaum amatir dengan nilai lebih (nilai

yang masih bisa ditemukan pada seorang Lipati atau panzera, para musisi yang

mempesonakan kita bukan dengan keputusan tetapi dengan hasrat, yakni hasrat

untuk pencipta musik). Pendek kata, pada awalnya yang berperan adalah actor

musik yang kemudian diganti oleh penerjemah musik (musik romantic yang

agung), lalu akhirnya teknisi (yang membebaskan pendengar dari semua aktivitas,

bahkan dari aktivitas kurasi, serta meniadakan gagasan sesungguhnya tentang

bermain dari tanah musik).

Dengan cara seperti ini, musica practica tertentu dapat dihadirkan kembali

atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan dialektika historis. Sebab apa

gunanya mengubah musik jika bertujuan untuk membuinya dlam penjara konser

atau dlam keheningan musikm radio? Mengubah, pada dasarnya, berarti berniat

untuk menghasilkan sesuatu, berniat untuk menuliskannya kembali, bukan pasrah

(18)

panggung bagaimana para musisi berpindah, dengan tontonan yang memukau,

dari satu alat musik ke alat musik yang lain. Kitalah yang sedang bermain

Meskipun kita bermain lewat seorang duta ; konser-di suatu saat nanti ?- bisa

diibaratkan dengan “bengkel kerja” eksklusif, tempat di mana tak seorang pun

berpangku tangan (tak ada tokoh impian, tokoh imajiner, tak ada pusat, tak ada

“jiwa”) dan tempat di mana semua seni musical terserap dalam sebuah praksis

yang tidak menyisakan apa-apa. Seperti Inilah utopia yang diingini Beethoven,

yang tidak ikut bermain, agar kita rumuskan dan Inilah pula alasannya kenapa

sekarang kita bisa jadi menganggapnya sebagai musisi yang memiliki masa depan

(Barthes, imajitek, 2010;153-158).

2.1.4. Teor i Musik , Lagu, Dan Lir ik Lagu.

Musik nampaknya menjadi hal yang tidak akan ada habisnya untuk

dibahas. Perkembangan musik yang begitu cepat menjadi salah satu pemicu

munculnya beberapa aliran - aliran musik baru/ perkembangan yang terjadi pada

musik sangat berpengaruh terhadap perkembangan tatanan kehidupan manusia.

Musik saat ini tidak lagi dijadikan sarana peribadatan, tetapi sudah menjadi sarana

hiburan dan pendidikan. Musik saat ini telah menjadi sesuatu yang universal dan

dapat dinikmati semua orang.

Studi tentang musik ingin membuktikan bahwa musik merupakan media

dan pesan budaya bagi anggotanya maupun anggota masyarakat lain. Teori musik

merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur musik. Cabang ilmu ini

(19)

menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.

Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik yang mencakup misalnya suara, nada,

ritme, melodi, harmoni, lirik dan notasi.

Musik dapat dikatakan sebagai bunyi yang diterima oleh individu dan

berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya, dan selera seseorang. Beberapa

orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali. Musik menurut Aristoteles

mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi

rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme Definisi sejati tentang musik juga

bermacam-macam, yaitu :

1. Bunyi yang dianggap enak oleh pendengarnya.

2. Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau

kumpulan dan disajikan sebagai musik.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, dunia musik mengalami banyak

banyak perkembangan dengan banyaknya penyanyi maupun grup band baru serta

beragamnya jenis musik dan lagu yang ada. Yang dimaksud dengan lagu disini,

ialah rangkaian nada dengan teks yang sengaja disusun untuk mengungkapkan

pikira dan perasaan dengan cara-cara yang berlaku umum. Dengan demikian,

secara keseluruhan lagu merupakan ungkapan penuh dari perasaan pembuatnya

(Soeharto, 1991:104). Selain berfungsi sebagai penghibur, lagu juga berfungsi

sebagai media untuk menyampaikan pesan dari sang musisi. Lewat lirik lagunya,

sang musisi mampu menyampaikan pesannya, baik berupa sindiran atau pun

(20)

sebuah lagu disamping melodinya. Sebuah lagu dapat dibuat dengan melodi

dahulu ataupun lirik dahulu. Dari segi pembuatanya, melodi dan lirik lagu

sama-sama penting dalam sebuah lagu (www.depdiknas.go.id).

Kehidupan memang penuh dengan perjuangan untuk mencapai suatu cita

cita, angan dan harapan. Sehingga kita kadang menjadi manusia yang buas

dengan harta, kita menjaga bagai harimau menjaga santapan dikala kelaparan. Itu

bukanlah munafik, tapi suatu realita sifat manusia yang lebih buas akan harta dan

kemewahan. Kita tidak tau mana batasan sukses, mana batasan berhasil, mana

tingkat kaya, mana tingkat miskin, bahkan untuk menentukan level miskin saja

dunia kebingungan. Semua dibatasi dengan benang semu. Kalau benang merah

kita masih bisa melihat jelas, tapi disini kita tak dapat melihat lagi mana batasan

benang tersebut, benangnya saja kita tidak dapat lihat, apalagi batasannya. Namun

kita tidak bisa memungkiri bahwa manusia butuh kebersamaan untuk berhasil,

tidak ada satu orangpun di dunia ini dapat hidup tanpa bantuan orang lain, apalagi

untuk mencapai tingkat sukses, atau bahagia, ataupun berhasil. Dengan kata lain

manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti

berinteraksi satu sama lain, saling kerja sama, saling bantu, saling menolong, atau

saling apapun itu namanya adalah untuk kepentingan bersama atau kepentingan

orang lain ataupun untuk kepentingan diri sendiri, yang mana ketiganya saling

keterkaitan atau saling ketergantungan (http://safruddin.wordpress.com/)

(21)

2.1.5. Mak na dan Pemaknaan

Brown dalam Sobur (2001:255-256) mendefinisikan makna sebagai

kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu

bentuk bahasa. Terdapat banyak bentuk bahasa, terdapat banyak komponen

dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Namun kita terlebih

dahulu harus membedakan pemaknaan secara lebih tajam tentang istilah-istilah

yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah (translation), (2) tafsir

atau interpresi, (3) ekstrapolasi dan makna atau meaning.

Membuat terjemah adalah upaya mengemukakan materi atau subtansi

yang sama dengan media yang berbeda, media tersebut mungkin berupa bahasa

yang satu ke bahasa yang lain, dari verbal ke gambar dan sebagainya. Pada

penafsiran, kita tetapberpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya,

konteksnya agar dapat di kemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas

Ekstrapolasi lebih menekankan pada kemampuan daya pikir manusia untuk

mengungkap hal dibalik yang tersajikan. Materi yang tersajikan dilihat tidak lebih

dari tanda-tanda atau indikator pada sesuatu yang lebih jauh lagi. Memberikan

makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran dan mempunyai kesejajaran

dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih mennuntut kemampuan integratif manusia,

indrawinya, daya pikirnya dan akal budinya. Materi yang tersajikan seperti juga

ekstrapolasi, dilihat tidak lebih jauh. Balik yang tersajikan bagi ekstrapolasi

terbatas dalam artian empirik logik, sedangkan pada pemaknaan dapat pula

(22)

Semantik adalah ilmu mengenai ,makna kata-kata, suatu definisi yang

menurut S.I. Hayakawa dalam Mulyana Mulyana (2001:257) tidaklah buruk bila

orang-orang tidak menganggap bahwa pencarian makna kata mulai dan berakhir

dengan melihatnya dalam kamus. Makna dalam kamus tentu saja lebih bersifat

kebahasaan (linguistik), yang punya banyak dimensi, symbol merujuk pada objek

di dunia nyata, pemahaman adalah perasaan subyektif kita mengenai symbol itu

dan referen adalah objek yang sebenarnya eksis di dunia nyata.

Makna dapat pula digolongkan kedalam mekna konokatif. Makna

denotative adalah makna sebenarnya (factual) seperti yang kita temukan dalam

kamus. Karena itu makna denotative lebih bersifat public. Sejumlah kata

bermakna denotatif lebih bersifat public. Sejumlah kata bermakna denotatif,

namun banyak kata juga bermakna konotatif, lebih bersifat pribadi, yakni makna

diluar rujukan objektifnya. Dengan kata lain, makna konotatif lebih bersifat

subjektif daripada makna denotatif.

2.1.6. Teor i – Teor i Makna

Beberapa teori tentang makna dikembangkan oleh Alston (1964:11-26)

dalam Sobur (2001:259) diantaranya adalah :

1. Teori acuan (Referential Theory)

Teori acuan merupakan salah satu jenis teori makna yang mengenali

atau mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang

(23)

menghubungkan makna suatu ungkapan dengan apa yang diacunya

atau dengan hubungan acuan.

2. Teori Ideasional (The Ideational Theory)

Teori Ideasional adalah suatu jenis teori makna yang mengenali atau

mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang

berhubungan dengan ungkapan tersebut. Dalam hal ini, teori ideasional

menghubungkan makna atau ungkapan dengan suatu idea tau

representasi psikis yang ditimbulkan kata atau ungkapan tersebut

kepada kesadaran. Atau dengan kata lain, teori ideasional

mengidentifikasikan makna E (expression atau ungkapan) dengan

gagasan-gagasan atau ide-ide yang ditimbulkan E (expression). Jadi

pada dasarnya teori ini meletakkan gagasan (ide) sebagai titik sentral

yang menentukan makna suatu ungkapan.

3. Teori Tingkah Laku (Behavioral Theory)

Teori tingkah laku merupakan salah satu jenis teori makna mengenai

makna suatu kata atau ungkapan bahasa dengan

rangsangan-rangsangan (stimuli) yang menimbulkan ucapan tersebut. Teori ini

menanggapi bahasa sebagai semacam kelakuan yang

mengembalikannya pada teori stimulus dan respons. Makna menurut

teori ini, merupakan rangsangan untuk menibulkan perilaku tertentu

(24)

Penelitian dapat dikatakan berlandasan pada teori ideasional. Hal tersebut

dapat dilihat dari adanya idea tau gagasan yang dating dari pencipta lagu

berdasarkan cerita nyata dari teman yang menjadi inspirasi dalam menciptakan

sebuah karya lagu. Melalui cerita tersebut, pencipta lagu berusaha mengukapkan

idea tau gagasan tersebut kedalam sebuah ungkapan (expression) yang dituangkan

dalam lirik-lirik lagu yang penuh makna. Berlandasan teori idensional, peneliti

berusaha untuk melakukan pemaknaan terhadap lirik lagu ‘’Tendangan Dari

Langit”.

2.1.7. Teor i Semiotika Dalam Komunikasi

Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu

yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan

semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata

Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah

ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya.

Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotics is usually defined

as a general philosophical theory dealing with the production of signs and

symbols as part of code systems which are used to communicate information.

Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (all

signs or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses) as

they form code systems which systematically communicate information or

massages in literary every field of human behaviour and enterprise. (Semiotik

biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan

(25)

digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda

visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa

diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda

tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi

atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia), (Kurniawan

dalam Sobur, 2004: 15).

Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Fer dinand de

Saussur e melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan

significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul

ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’

(signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu

bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan

kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”.

Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau

didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental,

pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Barthes,

2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu

tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan

atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk

tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. “Penanda

dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata

Saussure. Louis Hjelmslev, seorang penganut Saussurean berpandangan bahwa

(26)

(penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan

antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev,

sebuah tanda lebih merupakan self-reflective dalam artian bahwa sebuah penanda

dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi

kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori

metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland

Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah

sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu

dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada

dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai

hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal-hal ini tidak dapat dicampuradukkan

dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa

objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek-objek-objek itu hendak

dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah

satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah

peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda,

membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas

mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua,

yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini

oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya

(27)

1. Signifier

(penanda) 2. signified

(petanda)

3. Denotative sign (tanda denotatif) 4. CONNOTATIVE SIGNIFIER

(PENANDA KONOTATIF) 5. CONNOTATIVE SIGNIFIED

(PETANDA KONOTATIF) 6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

Gambar 2. Peta Tanda Roland Barthes

Dari peta Bar thes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas

penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif

adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif

tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian

tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan

antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan

konotasi yang dipahami oleh Barthes. Didalam semiologi Barthes dan para

pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara

konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih

diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan

keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan

dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan

(28)

1999:22). filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme

melalui kajian Dalam kerangka Bar thes, konotasi identik dengan operasi

ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan

dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu

periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda,

petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh

suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos

adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah

petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berbeda dengan para ahli yang sudah

dikemukakan di atas, Charles Sanders Peirce, seorang semiotik. Bagi Peirce, tanda

“is something which stands to somebody for something in some respect or

capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground.

Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan

triadik, yakni ground, object, dan interpretant (lihat gambar 3). Atas dasar

hubungan ini, Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan

ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah

kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau

peristiwa yang ada pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung

oleh tanda. Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: sintaksis

semiotik, semantik semiotik, dan pragmatik semiotik. Sintaksis semiotik

mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang

sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda

(29)

keutuhan wacana iklan. Semantik semiotik mempelajari hubungan antara tanda,

objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan

proses semiotis.

Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda

dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana.

Pragmatik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan

pemakaian tanda. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon),

index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara

penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain,

ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan;

misalnya foto. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah

antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau

tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda

adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut

simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara

penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer, hubungan

berdasarkan konvensi masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign,

representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument. Rheme

adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Dicent

sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. Sedangkan argument

adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu.

(30)

Gambar 3. Hubungan Triadik Peirce

Gambar 4. Tataran Tanda Peirce

2.1.8. Teor i Semiologi Roland Bar thes

Teori ini dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya

tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu

tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang

menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna

eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang

menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna

yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini,2006).

Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada

cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan

makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja

menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya. Roland

Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks

dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi

dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya.

Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup

denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir

dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan

Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang

(31)

yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat

kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda

tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan

membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi

kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut

akan menjadi mitos.

Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi

“keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi

“keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada

simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi

sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua.

Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah

Mitos.

2.1.8.1. Kode Pembacaan

Segala sesuatu yang bermakna tergantung pada kode. Menurut Roland

Barthes di dalam teks setidaknya beroperasi lima kode pokok yang didalamnya

semua penanda tekstual (baca : leksia) dapat dikelompokkan. Setiap atau

masing-masing leksia dapay dimasukkan kedalam salah satu dari lima buah kode ini.

Kode-kode ini menciptakan sejenis jaringan. Adapun kode-kode pokok tersebut

yang dengannya seluruh aspek tekstual yang signifikasi dapat dipahami, meliputi

aspek sintagmatik dan semantik sekaligus, yaitu menyangkut bagaimana

(32)

Lima kode yang ditinjau oleh Barthes adalah kode hermeneutika (kode

teka-teki), kode proretik, kode budaya, kode semik, dan kode simbolik

(Kurniawan, 2001:69).

1. Kode hermeneotika atau kode teka-teki berkisar pada harapan untuk

mendapatkan ‘’kebenaran’’ bagi pertanyaan yang muncul dalam teks.

Kode teka-teki merupakan unsur terstruktur yang utama dalam narasi

tradisional. Didalam narasi ada suatu kesinambungan antara permunculan

suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaian di dalam cerita (Sobur,

2004:65).

2. Kode Proarektik atau kode tindakan/lakuan dianggapnya sebagai

perlengkapan utama teks yang dibaca orang; artinya, antara lain, semua

teks yang bersifat naratif (Sobur, 2004:66).

3. Kode Gnomik atau kode cultural (budaya) banyak jumlahnya. Kode ini

merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan di

kodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefinisi

oleh acuan apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau sub

budaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasikan (Sobur, 2004:66).

4. Kode semik atau konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses

pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. ia melihat bahwa

konotasi kataa atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan

konotasi kataa atau frase yang mirip. Jika melihat kumpulan satuan

(33)

bahwa Barthes menganggap bahwa denotasi sebagai konotasi yang paling

kuat dan paling ‘’akhir’’ (Sobur, 2004: 65-66).

5. Kode simbolik (tema) merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling

khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes,

pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal

dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bunyi

menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun taraf oposisi

psikoseksual yang melalui proses (Sobur, 2004:66).

2.2 Ker angka Berpikir

Setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam

memaknai suatu peristiwa atau objek. Hal ini dikarenakan latar belakang (field of

experience) dan pengetahuan (frame of reference) yang berbeda-beda pada setiap

individu tersebut. Dalam menciptakan sebuah pesan komunikasi, dalam hal ini

pesan disampaikan dalam bentuk lagu, maka pencipta juga tidak terlepas dari dua

hal diatas.

Begitu juga peneliti dalam memaknai tanda dan lambang yang ada dalam

objek, juga berdasarkan pengalaman dan pengetahuan peneliti. Dalam penelitian

ini peneliti melakukan pemaknaan terhadap tanda dan lambang berbentuk tulisan

pada lirik lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’ dengan menggunakan metode

semiologi Roland Barthes, sehingga dapat diperoleh hasil interpretasi data

mengenai makna lirik lagu tersebut. Oleh karena itu peneliti menggunakan

metode Roland Barthes dengan menitik beratkan pada hubungan denotatif yang

(34)

signified (tanda konotatif), yang pada akhirnya diperoleh signifikasi. Sehingga

akan menghasilkan suatu interpretasi bagaimana pemaknaan terhadap lirik lagu

‘’Tendangan Dari Langit’’ tersebut.

Dari data-data berupa lirik lagu ’’Tendangan Dari Langit’’, kata-kata dan

rangkaian kata dalam lirik lagu tersebut kemudian dianalisis dengan

menggunakan metode (two order of signification) dari Roland Barthez. Dimana

pada tataran pertama tanda denotative (denotative sign) terdiri atas penanda dan

petanda (signifier, signified) dan pada tataran kedua tanda denotatif (denotative

sign) juga merupakan penanda konotatif (konotative signifier) sehingga muncul

petanda konotatif (konotatif signified) yang akan membentuk tanda konotatif

(konotatif signifier) sehingga muncul petanda konotatif (konotative sign). Dalam

tahap kedua dari tanda konotatif akan muncul mitos yang menandai masyarakat

yang berkaitan dengan budaya sekitar. Kemudian teks akan dimaknai dengan

menggunakan lima macam kode Barthez, yaitu kode hemeunitik, kode semik,

kode simbollik, kode proarektik, dan kode kultural untuk pemaknaan melalui

pembacaan dari kode-kode tersebut akan diungkap substansi dari pesan dibalik

(35)

4.1. Gambar an Umum Obyek Penelitian

Kotak terbentuk tanggal 27 September 2004 dalam acara The Dream

Band. Berawal dari ajang Dream Band tahun 2004 silam, Kotak lahir dibidani

salah seorang personel Kahitna, Doddy, yang bertindak sebagai produser. Saat itu,

Doddy melakukan audisi untuk membentuk format band baru di Indonesia yang

terdiri atas drummer, gitaris, bassist, dan vokalis. Audisi tersebut cukup

mendapatkan respons dari musisi remaja yang ingin mencoba peruntungannya di

industri musik. Sebanyak 400 orang vokalis, 170 bassist, ratusan gitaris, dan

ratusan drummer menjejali tempat audisi. Setelah melakukan audisi dengan

mempertimbangkan berbagai format penilaian, terpilihlah 2 vokalis, 2 bassist, 3

gitaris, dan 2 drummer. Musisi muda terpilih itu kemudian diramu lagi menjadi

dua band yaitu Kotak yang personelnya empat orang dan "Lima" yang

personelnya lima orang.

Nama Kotak memiliki arti empat sisi dan empat sudut yang bersatu

menjadi bangunan kotak. Hal itu menggambarkan tentang empat orang yang

berbeda tetapi bersatu dalam satu wadah musik. Formasi band Kotak saat itu

bukan seperti yang ada sekarang. Formasi grup band Kotak pertama kali diisi oleh

Cella (gitar), Icez (bass), Pare (vokal), dan Posan (drum). Mereka kemudian

(36)

Pada tahun 2007, Icez dan Pare ternyata memutuskan keluar dari band.

Posisi yang kosong kemudian digantikan oleh Tantri pada vokal dan Chua pada

bass. Mereka kemudian merilis album keduanya berjudul Kotak Kedua pada

tahun 2008. Menurut Tantri, dirinya sempat canggung ketika pertama bergabung

dalam band ini. "Karakter vokal Pare sudah melekat di Kotak, aku sempat

bingung mau nerusin karakter Pare atau sendiri saja. Tetapi, setelah sering main

bareng dan latihan, aku mutusin untuk pakai karakter sendiri," katanya.

Ternyata formasi band baru di album kedua tersebut membawa kesuksesan bagi

band Kotak untuk lebih berkibar di industri musik Indonesia. Tidak hanya ring

back tone (RBT) yang sudah terjual satu juta. Performa mereka yang memukau di

panggung membuat Kotak laris mendapatkan tawaran tur ke berbagai daerah di

Indonesia. Posan keluar dari band Kotak. Drummer yang sudah bermain bersama

Kotak selama tujuh tahun itu resmi meninggalkan Kotak yang kini hanya tersisa

Cella, Tantri dan Chua. Peraih drummer terbaik versi SCTV Award ini menolak

alasan keluar dirinya dari Kotak karena adanya konflik internal. Menurut Posan

dia sedang fokus dengan Winner, band side-project miliknya. Selain itu Posan

sedang sibuk menangani band bernama The Sign. Kesibukan luar biasa yang

dijalani Posan membuat dia harus memilih untuk keluar dari Kotak.

4.1.1. Penghar gaan

Tidak hanya di bidang penjualan, berbagai trofi pun berhasil diraih grup

band ini di berbagai ajang penghargaan musik. Pada Anugerah Musik Indonesia

(37)

Album mereka Kotak Kedua juga diganjar penghargaan kategori Album Rock

Terbaik. Mereka juga sukses menyabet kategori Grup/Duo Pendatang Baru

Terbaik versi Anugerah Planet Musik (APM) 2009. Terakhir MTV Indonesia

Awards menobatkan mereka sebagai Most Favourite Breakhtrought Artist 2009.

Meskipun sukses berada di posisi saat ini, personel Kotak berharap bahwa hal itu

belum merupakan puncak dari perjalanan mereka. Masih banyak mimpi yang

ingin mereka raih untuk tetap eksis di industri musik. Setidaknya mereka kini

telah melewati loncatan pertama mereka dari dream band menuju real band.

4.1.2. Diskogr afi Kotak

Album Kotak :

The Dream Band "Delapan" (Desember 2004) - album kompilasi Kotak (Juni 2005)

Kotak Kedua (Mei 2008) Energi (November 2010)

Energi: Tendangan dari Langit (Agustus 2011)

4.2. Lir ik Lagu Dar i Tendangan Langit menur ut semiologi Roland

Bar thes

Salah satu area yang dirambah oleh Barthes dalam studinya tentang tanda

adalah peran dari pembaca. Roland Barthes sebagai salah satu seorang pengikut

(38)

Fokus perhatian Barthes lebih bertujuan pada gagasan tentang signifikan dua

tahap terhadap tanda (two step of significations).

Tahap pertama, tanda merupakan hubungan antara signifier dan signified,

Barthes menyebut sebagai denotasi, yaitu makna yang paling nyata dari tanda.

Selanjutnya tahap kedua ialah makna konotasi dari tanda, hal ini menggambarkan

interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari

pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaan. Dengan kata lain denotasi adalah apa

yang digambarkan tanda terhadap satu objek, sedangkan konotasi adalah

bagaimana cara menggambarkannya (Fiske, 1990:72). Begitupun juga dengan

lirik lagu ‘’’Tendangan Dari Langit’’, signifikasi dua tahap (two step of

signnifications) yang dikemukaan berdasarkan Barthes sebagai berikut :

1. Signifier (penanda) :

Teks lirik lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’

2. Signified (petanda) :

Konsep menurut kamus bahasa Indonesia.

Gambar 4.1 Peta tanda Roland Bar thes

Dari peta Barthes diatas terlihat bahwa tanda denotative (3) terdiri atas

penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat yang bersamaan tanda

(39)

konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung

kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya (Sobur, 2003:68-69).

4.3. Penyajian dan Pemaknaan Data

4.3.1. Penyajian Data

Judul lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’ yang mengandung arti sebenarnya

dari suatu pemaknaan karena dalam lirik lagu menunjukkan memotivasi anak

muda agar selalu semangat mengejar impianya atau cita-citanya. Sebagai contoh

lirik, tendangan dari langit, menembus cahaya dan lain-lain, lagu ini menjelaskan

bahwa, impian atau suatu cita-cita akan menjadi sebuah kenyataan apabila kita

terus berlari tanpa lelah dan menggapainya. Korpus dalam penelitian ini adalah

lirik lagu ‘’Tendangan Dari Langit’’.

Tendangan Dar i Langit

di saat terlintas di benakku

serasa hariku anganku ingin sepertimu

terus seiring berjalannya waktu

serasa hidupku karenamulah aku

kan terus terpacu olehmu selalu

kau ada di dalam hatiku

selalu akan tetap memujamu

(40)

pasti kita terbang tinggi bila terus berlari

teruskanlah tanpa henti

*

terus seiring berjalannya waktu

serasa hidupku karenamulah aku

kan terus terpacu olehmu selalu

kau ada di dalam hatiku

selalu akan tetap memujamu

*

pasti kita terbang tinggi bila terus berlari

teruskanlah tanpa henti

kau angkatlah tangan tinggi, genggamlah terus jemari

tuk gapai sebuah mimpi

*

pasti kita terbang tinggi bila terus berlari

teruskanlah tanpa henti

kau angkatlah tangan tinggi, genggamlah terus jemari

tuk gapai sebuah mimpi

(41)

kita terbang tinggi bila terus berlari

teruskanlah tanpa henti

pastikan terus kau yakini

tendangan dari langit ini bawamu meraih mimpi

4.3.2. Pemaknaan Data

Pemaknaan lirik lagu “Tendangan Dari Langit” oleh peneliti dilakukan

penjabaran makna tiap kalimat yang terdiri dari rangkaian kata. Tentunya dalam

memaknai pesan terkandung dalam lirik lagu ‘’Tendangan Dari Lamgit’’

berdasarkan pengetahuan (frame of reference) dan pengalaman (field of

experience) dari peneliti. Setiap kata tentu mengandung suatu makna baik makna

denotative atau makna konotatif. Disini peneliti berpedoman pada kamus lengkap

bahasa Indonesia. Untuk menentukan makna yang telah di sepakati tersebut.

Dalam lagu si pencipta menggunakan judul ‘’Tendangan Dari Langit’’ yang

menjelaskan, kejar mimpi-mimpimu, bangun untuk itu dan jangan tidur lagi.

Leksia adalah satuan bacaan tertentu yang didapat dengan

memotong-motong teks di dalam lirik ‘’Tendangan Dari Langit’’ sebagai objek dan bahan

penelitian. Agar bisa mendapatkan dan menemukan makna-makna yang ada untuk

diproduksikan dan digambarkan oleh sang pembaca. Leksia ini dapat berupa satu

kata, beberapa kata, satu kalimat, beberapa kalimat, satu paragraph dan beberapa

paragraph. Kemudian kalimat dari leksia-leksia tersebut akan mejelaskan tentang

anak muda yang selalu semangat untuk terus mengejar impiannya.

(42)

Barthes yaitu : kode Hermeneutik (kode teka-teki), kode semic (makna konotatif),

kode simbolik, kode proarektik (kode tindakan), kode gnomic atau kode cultural

yang membangkitkan suatu teori pengetahuan tertentu. Lima kode inilah yang

akan menjadikan acuan peneliti dalam merekonstruksi konsep pencapaian sebuah

impian tanpa henti.

Bait 1 kalimat 1 dan 2 : di saat ter lintas di benakku, serasa har iku anganku

ingin seper timu.

1. Penanda : Di saat terlintas dibenakku,

serasa hariku anganku ingin

sepertimu.

2. Petanda : Konsep tentang apa yang ada di isi

otakku atau pikiranku seakan-akaan

waktunya, ingatanku ingin seperti sang idolanya.

5. Petanda konotatif : ingin mewujudkannya

sesuatu yang ada di dalam pikirannya

6. Tanda konotatif : disini menceritakan ingin mewujudkan impiannya yang

selama ini ada didalam

otaknya/pikiranya ingin seperti sang idolanya.

(43)

Kalimat pertama pada bait pertama ini termasuk kode her meneutic atau

teka-teki karena dalam kalimat Di saat terlintas di benakku menimbulkan

pertanyaan apa yang sedang dipikirkannya?. Kode proar etik, karena dalam

kalimat ini mengenai sesuatu yang sedang di pikirkannya dan akan dipertegas

pada kalimat berikutnya. Kode Semik, kata disaat, dapat dipisah di-saat, kata di

menyatakan awalan yang mempunyai makna akan melakukan sesuatu tindakan,

sedangkan saat yang artinya menyatakan ketika, waktu yang singkat, kata

terlintas menyatakan terjalani, kata dibenakku dapat dipisahkan di-benakku, kata di menyatakan awalan yang mempunyai makna melakukan sesuatu, sedangkan benakku yang artinya apa yang ada didalam pikirannya atau otaknya. Kode

kultur al bahwa budaya Indonesia berbeda dengan budaya lain dalam melakukan

suatu tindakan apabila melanggar norma-norma agama. Kode simbolik dalam

kalimat tersebut bahwa ada sesuatu didalam pikirannya yang akan dilakukan.

Jadi makna kalimat disaat terlintas dibenakku merupakan sedang

membayangkan sesuatu yang ada dipikirannya dan apa yang ingin segera

dilakukannya atau di wujudkan seperti apa yang di inspirasikan seperti sang

idolanya. Analisis berdasarkan pengalaman (field of experience) dan pengetahuan

(frame of reference) disaat terlintas dibenakku ini menimbulkan pembentukan

konsep diri yang mengenai diri yang kita inginkan, atau citra diri yang dulu kita

tunjukkan kepada orang lain. Pemikiran ide yang selalu muncul diotak kita dan

selalu berubah-ubah, khususnya pada masa pertumbuhan. Ketika kecil, kita

mungkin ingin menjadi pilot, dokter dan presiden. Akan tetapi, semakin banyak

(44)

boleh jadi berubah, dan akhirnya kita menerima peran kita sebagai dosen,

pengacara, seniman atau peran apa saja yang berbeda dengan citra diri yang dulu

kita bayangkan.

Bait 1 kalimat 3 ter us seir ing ber jalannya wak tu

1. Penanda : terus seiring berjalannya waktu.

2. Petanda : waktu yang terus berputar cepat.

3. Tanda denotatif : waktu itu terus

Gambar 4.3 Peta tanda Roland Bar thes bait 1 kalimat 3

Kalimat ketiga pada bait pertama ini termasuk kode proar ektik karena

terdapat kata terus, yang berarti menuju/tujuan dan kata seiring bila dipisahkan

se-iring, yang artinya bersama-sama atau sedang bersama atau bersamanya.

Kode semik, kata berjalannya dapat dipisah ber-jalan-nya, kata ber menyatakan

awalan yang mempunyai makna melakukan sesuatu pekerjaan, sedangkan jalan

mempunyai arti melangkahkan kaki serta bergerak, kata nya berarti akhiran. Kode

her meneotik karena dalam kalimat seiring berjalannya waktu, menimbulkan

pertanyaan?waktu, kapan?. Kode simbolik terdapat kata waktu yang berarti

sekarang atau yang akan datang. Kode kultur al, bahwa dalam kalimat tersebut

menyatakan waktu terus berputar dan tidak ada yang melanggar aturan

(45)

Jadi makna konotasi dari kalimat seiring berjalannya waktu, adalah

menjelaskan terus bersama-sama melangkahkan kaki serta bergerak sekarang dan

yang akan datang, waktu akan terus cepat berputar apabila kita tidak

memanfaatkan waktu kita dengan baik. Analisis berdasarkan pengalaman (field of

experience) dan pengetahuan (frame of reference) seiring berjalannya waktu ini

menimbulkan komunikasi ekspresif, erat kaitannya dengan komunikasi sosial

adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan dengan baik sendirian ataupun

dalam kelompok. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi

orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen

untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan terutama

dikomunikasikan melalui pesan-pesan non verbal.

Bait 2 kalimat 4 : ser asa hidupku kar enamulah aku

1. Penanda : serasa hidupku

karenamulah aku

2. Petanda : konsep tentang

seakan-akan hidupnya terpengaruh seperti seseorang yang diidolakannya.

terpengaruh oleh seseorang yang diidolakannya.

Gambar 4.4 Peta tanda Roland Bar thes Bait 1 kalimat 4

Kalimat keempat pada bait pertama ini termasuk kode her meneotik atau

teka-teki karena dalam kalimat serasa hidupku karenamulah aku menimbulkan

pertanyaan hidupnya seperti apa? Dan karena siapa? Kode proarektik, karena

(46)

yang berarti asal mula yang menjadi sebab/alasan, sedangkan mu adalah kamu.

Dan sedangkan lah adalah akhiran. Karena kepada siapa yang diinginkannya dan

akan dipertegas pada kalimat berikutnya. Kode semik, kata serasa berarti

seakan-akan. Kode kultur al bahwa budaya Indonesia berbeda dengan budaya lain dalam

melakukan sesuatu yang ingin seperti seseorang yang diidolakannya. Kode

simbolik merupakan sebuah pengandaian bagi dia yang sungguh ingin menjadi

seperi seorang idolanya.

Arti makna kalimat ser asa hidupku kar enamulah aku menyatakan

bahwa seakan-akan kehidupan sehari-harianya seperti seseorang yang

diidolakannya karena terinspirasi oleh idolanya. Analisis berdasarkan pengalaman

(field of experience) dan pengetahuan (frame of reference) serasa hidupku

karenamulah aku ini menimbulkan komunikasi ekspresif dan pembentukan

konsep diri kita yang menjelang dewasa, kita menemui kesulitan memisahkan

siapa kita dari siapa kita menurut orang lain, dan konsep diri kita memang terikat

rumit dengan definisi yang diberikan orang lain kepada kita dan juga

menimbulkan perasaan-perasan (emosi) secara nonverbal dari diri kita. Seperti

bait ini yang menceritakan seseorang yang sungguh ingin menjadi seorang yang

(47)

Bait 1 ka limat 5 : kan ter us ter pacu olehmu selalu seseorang yang benar-benar yakin akan terus bersemangat.

6. Tanda konotatif : seseorang yang benar-benar yakin akan tercapai impiannya karena dorongan dari sang idolanya

Gambar 4.5 Peta tanda Roland Bar thes Bait 1 kalimat 5

Kalimat kelima pada bait pertama ini termasuk kode her meneotik atau

teka-teki karena didalam kalimat kan terus terpacu olehmu selalu menimbulkan

pertanyaan terpacu oleh siapa? kode proar ektik, karena dalam kalimat ini

mengenai rasa semangat yang tinggi untuk mengejar cita-citanya atau impiannya

dan akan dipertegas pada kalimat berikutnya. Kode semik, ,kata olehmu dapat

dipisah menjadi oleh+mu berarti pengandaian, kata mu adalah kamu berarti orang

kedua dalam kalimat tersebut. Kode k ultur al bahwa dalam kalimat tersebut

menyatakan terus semangat karena pengaruh olehnya, dikalimat ini tidak

menyebutkan kata-kata yang bersifat menyimpang dari norma agama atau budaya

Indonesia. Kode simbolik merupakan sebuah pengandaian, seseorang yang terus

semangat mengejar impiannya karena pengaruh dorongan dari idolanya.

Arti makna kalimat kan terus terpacu olehmu selalu menyatakan, bahwa

dia tak pernah berhenti dan pantang menyerah terus semangat untuk mengejar

Gambar

Gambar 2. Peta Tanda Roland Barthes
Gambar 4.1 Peta tanda Roland Barthes
Gambar 4.1 Peta Tanda Roland Barthes bait 1 kalimat 1.
Gambar 4.3 Peta tanda Roland Barthes bait 1 kalimat 3
+7

Referensi

Dokumen terkait