• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul GP Sosiologi KK I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Modul GP Sosiologi KK I"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Lilik Tahmidaten, S.Sos, M.A.
  • Pengajar:
    • Pambudi, S.Sos., M.A.
    • Drs. Nurhadi, M.Si.
  • Sekolah: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • Mata Pelajaran: Sosiologi
  • Topik: Modul GP Sosiologi KK I
  • Tipe: modul
  • Tahun: 2016
  • Kota: Jakarta

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru, serta tujuan dari modul ini. Modul ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru sesuai dengan standar nasional pendidikan yang ditetapkan. Selain itu, terdapat penjelasan mengenai peta kompetensi yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta diklat, serta ruang lingkup materi yang akan dibahas dalam modul ini. Modul ini juga menekankan pentingnya pemahaman dan penerapan pemberdayaan komunitas dan kearifan lokal dalam konteks pendidikan.

1.1. Latar Belakang

Latar belakang menyatakan bahwa pengembangan profesionalitas guru sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil uji kompetensi guru menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat kompetensi pedagogik dan profesional. Modul ini merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan membantu guru menjadi agen perubahan dalam pendidikan.

1.2. Tujuan

Tujuan modul ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru agar memenuhi standar yang ditetapkan, serta memenuhi kebutuhan guru dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, modul ini bertujuan untuk meningkatkan komitmen guru dalam menjalankan tugas profesional mereka.

1.3. Peta Kompetensi

Peta kompetensi dalam modul ini mencakup pemahaman tentang pemberdayaan komunitas dan kearifan lokal, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas guru dalam mengajar dan membimbing siswa. Hal ini penting untuk mengembangkan pemahaman siswa tentang masyarakat dan lingkungan sekitar mereka.

1.4. Ruang Lingkup

Ruang lingkup modul ini mencakup dua topik utama, yaitu pemberdayaan komunitas dan kearifan lokal. Kedua topik ini saling terkait dan memberikan dasar bagi guru untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya memahami dan menghargai konteks sosial dan budaya di sekitar mereka.

1.5. Saran Cara Penggunaan Modul

Modul ini diharapkan digunakan secara mandiri oleh peserta diklat. Disarankan untuk membaca dengan seksama, mengerjakan latihan, menyelesaikan kasus, dan melakukan refleksi setelah setiap kegiatan belajar. Ini akan membantu peserta memahami materi dengan lebih baik dan menerapkannya dalam konteks pendidikan.

II. KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: PEMBERDAYAAN KOMUNITAS

Kegiatan pembelajaran ini berfokus pada konsep, teori, dan metode pemberdayaan komunitas. Peserta diharapkan mampu memahami pentingnya pemberdayaan dalam konteks sosial dan bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam pembelajaran. Materi mencakup definisi pemberdayaan, prinsip-prinsip, dan ruang lingkupnya, serta strategi yang dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat.

2.1. Tujuan

Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan berbagai aspek pemberdayaan komunitas, termasuk konsep, prinsip, dan manfaatnya. Ini penting untuk membekali guru dengan pengetahuan yang diperlukan untuk mengajarkan siswa tentang pemberdayaan.

2.2. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi mencakup kemampuan untuk menjelaskan konsep pemberdayaan, prinsip-prinsipnya, serta strategi yang dapat digunakan untuk memberdayakan komunitas. Hal ini bertujuan agar peserta memiliki pemahaman yang komprehensif tentang pemberdayaan.

2.3. Uraian Materi

Materi ini mencakup pengertian pemberdayaan, prinsip-prinsip dan ruang lingkupnya, serta dasar terbentuknya pemberdayaan komunitas. Pemberdayaan dianggap sebagai proses untuk meningkatkan kemampuan individu dan kelompok dalam mengatasi masalah sosial dan meningkatkan kualitas hidup.

2.4. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas pembelajaran menggunakan metode andragogi, di mana peserta didik diharapkan aktif dalam menganalisis dan menyimpulkan materi. Ini mencakup diskusi kelompok dan refleksi individu untuk meningkatkan pemahaman tentang pemberdayaan komunitas.

2.5. Latihan/Kasus/Tugas

Peserta diminta untuk menganalisis model pemberdayaan masyarakat miskin di sekitar mereka. Ini bertujuan untuk mengaitkan teori dengan praktik nyata di lapangan, sehingga peserta dapat melihat relevansi materi yang dipelajari.

2.6. Rangkuman

Rangkuman menekankan pentingnya pemberdayaan sebagai proses untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat. Melalui pemahaman yang mendalam tentang pemberdayaan, guru dapat lebih efektif dalam mengajarkan siswa tentang pentingnya kemandirian dan partisipasi dalam masyarakat.

2.7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Setelah kegiatan pembelajaran, peserta diminta untuk memberikan umpan balik tentang pemahaman mereka dan pengalaman belajar. Ini penting untuk mengevaluasi efektivitas modul dan merencanakan tindak lanjut yang sesuai.

III. KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: KEARIFAN LOKAL DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Kegiatan pembelajaran ini membahas kearifan lokal dan bagaimana hal ini dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat. Peserta diharapkan mampu memahami konsep kearifan lokal, dimensi-dimensinya, serta tantangan yang dihadapi dalam pelestariannya. Materi ini penting untuk membantu guru mengajarkan siswa tentang nilai-nilai budaya lokal.

3.1. Tujuan

Peserta diharapkan mampu menjelaskan konsep kearifan lokal dan bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Ini penting untuk membekali siswa dengan pemahaman tentang pentingnya menjaga dan menghargai budaya lokal.

3.2. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi mencakup kemampuan untuk menjelaskan dimensi-dimensi kearifan lokal, memberikan contoh-contoh yang relevan, dan menjelaskan tantangan yang dihadapi. Ini bertujuan agar peserta memiliki pemahaman yang komprehensif tentang kearifan lokal.

3.3. Uraian Materi

Materi ini mencakup pengertian kearifan lokal, dimensi-dimensinya, serta contoh-contoh kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kearifan lokal dianggap sebagai bagian penting dari identitas budaya yang perlu dilestarikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3.4. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas pembelajaran mencakup diskusi kelompok dan refleksi individu mengenai kearifan lokal. Peserta diharapkan dapat berbagi pengalaman dan pemahaman mereka tentang kearifan lokal di lingkungan mereka.

3.5. Latihan/Kasus/Tugas

Peserta diminta untuk mengidentifikasi dan menganalisis kearifan lokal yang ada di komunitas mereka. Ini bertujuan untuk mengaitkan teori dengan praktik nyata dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian kearifan lokal.

3.6. Rangkuman

Rangkuman menekankan pentingnya kearifan lokal dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Melalui pemahaman yang mendalam tentang kearifan lokal, guru dapat lebih efektif dalam mengajarkan siswa tentang pentingnya menghargai dan melestarikan budaya lokal.

3.7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Peserta diminta untuk memberikan umpan balik tentang pemahaman mereka dan pengalaman belajar. Ini penting untuk mengevaluasi efektivitas modul dan merencanakan tindak lanjut yang sesuai.

Referensi Dokumen

  • Saya Mohon Ampun ( Radhar Panca Dahana )
  • Indonesia, ‘Halo Soekarno ( Boni Hargens )
  • Pembangunan Gerus Kearifan Lokal ( Wasisto Raharjo Jati )
  • Ketika Kearifan Lokal Tergerus Zaman ( Dedi Muhtadi )
  • Kearifan Budaya Lokal ( Setya Yuwana Sudikan )
  • Perencaaan Pembangunan daerah otonom dan Pemberdayaan Masyarakat ( I.N. Sumaryadi )
  • Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Keindonesiaan ( Suyono Suyatno )

Gambar

Tabel 1. Daftar pengelolaan pembelajaran
Tabel 2. Lembar Pengamatan
Tabel 3. Angket Respon Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan penelitian ini adalah penggunaan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada kelas eksperimen efektif, terbukti hasil belajar, ketuntasan belajar dan aktivitas siswa

penguasaan kompetensi, pengembangan epada peserta didik. Tindakan pengayaan serta didik yang memiliki prestasi hasil bela nilai ketuntasan belajar. Perancangan

Target keberhasilan prestasi yaitu 70% siswa dari jumlah keseluruhan siswa (31 siswa) mengalami ketuntasan belajar. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) penggunaan media audio

Adapun peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari meningkatnya nilai siswa mulai dari tes awal pra tindakan dengan ketuntasan siswa 20 % dan setelah adanya

Learning memiliki dampak positif dalam Mengefektifltaskan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu

Penggunaan metode pembelajaran make a match terbukti dapat meningkatkan hasil dan ketuntasan belajar siswa, peningkatan hasil belajar siswa, di mana nilai hasil belajar

dampak positif da-lam meningkatkan prestasi belajar sis-wa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (60%0, siklus

Pembelajaran dengan medel kooperatif learning memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap