Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
Catatan : Buku ini diterbitkan oleh Direktorat PAUD sebagai bentuk upaya peningkatan kualitas satuan paud. Masukan dan saran anda berguna bagi pengembangan buku saku ini. pembaca dapat menghubungi melalui surel
[email protected] atau Telp ke (021) 572-5495
Diterbitkan :
Desember@2020 Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Diperbolehkan mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku dengan izin tertulis dari penerbit.
Pengarah : Jumeri
Penyunting : Sutanto, Lestari Koesoemawardhani Penulis : Muahammad Hasbi, hatib
Rahmawan, Mareta Wahyuni, Widyati Rosita, Irma
Yuliantina, Zulkhairina Reviewer : Widya Ayu Puspita,
Murtiningsih, Fepi Triminur, Ellis Widiyawati, Dona Paramita
Sekertariat : Eko Tri Rakhmawati, Hendra Tamara, Supardan, Roynaldo Ilustrator : Novian Rivai
Penata Letak : Neri Yulianto, Novian Rivai Jumlah halaman : 58 Halaman
Ukuran : 210 mm x 148 mm
Usia dini merupakan usia yang paling tepat untuk membentuk karakter seseorang. Jika pada masa ini karakter setiap anak dapat terbentuk, maka kelak di masa dewasa dia akan menjadi generasi yang berkarakter kuat. Hal inilah yang menyebabkan pendidikan anak usia dini menjadi fondasi yang paling kuat bagi tegaknya karakter bangsa di masa depan. Semakin baik kualitas pendidikan usia dini, semakin kukuh bangunan fondasi kecerdasan anak bangsa. Sebaliknnya, semakin lemah kualitas pendidikan pada jenjang ini, maka semakin lemah pula kemungkinan karakter anak bangsa di masa depan.
Untuk mewujudkan PAUD berkualitas maka dibutuhkan kerjasama yang kuat antara keluarga dalam hal ini orang tua, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Lingkungan keluarga adalah elemen pertama yang sangat berperan penting dalam pembentukan sikap atau karakter anak, karena lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling berpengaruh dalam masa tumbuh kembangnya anak. Oleh karena itu sebisa mungkin keluarga harus menjadi tauladan yang baik untuk anak, karena anak yang masih usia dini sikap dan karakternya masih berubah-ubah dan masih bisa diubah
Lingkungan sekolah merupakan elemen kedua yang dapat mempengaruhi sikap serta karakter anak, karena sekolah merupakan srea untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak usia dini.
Lingkungan masyarakat ikut mempengaruhi dalam pembentukan sikap dan karakter anak usia dini. Karena jika anak berada pada lingkungan yang kurang baik, maka anak akan sangat mudah terpengaruh dalam lingkungan kurang baik tersebut.
Untuk itulah Ditjen PAUD Dikdasmen berupaya untuk mewujudkan Tri Sentra Pendidikan, dengan harapan anak usia dini dapat terhindar dari pengaruh negatif.
Direktur Jenderal PAUD DIKDASMEN Jumeri, S.TP., M.Si.
Sambutan
Tantangan dunia pendidikan di era globalisasi saat ini demikian kompleks. Arus globalisasi telah memberikan banyak perubahan dan dampak terhadap masyarakat Indonesia. Dampak negatif dari arus globalisasi yang terlihat miris adalah perubahan yang cenderung mengarah pada krisis moral dan akhlak. Bila tidak segera disikapi sejak dini melalui pendidikan, maka bangsa Indonesia yang terkenal dengan adat dan budaya luhur sesuai dengan nilai-nilai Pancasila akan semakin luntur.
Usia dini adalah usia kritis bagi pembentukan karakter seorang anak. Penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk menyiapkan generasi yang bermoral. Usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak. Pada usia dini inilah, karakter anak
akan terbentuk melalui hasil belajar dan suri tauladan pembiasaan dan perilaku orangtua, guru dan tenaga kependidikan, serta
lingkungan masyarakat sekitar anak.
Buku seri pengembangan karakter pada anak usia dini yang terdiri dari: Pencegahan Radikalisme pada Pendidikan Anak Usia
Pengantar
Dini, Pencegahan Perundungan (bullying) pada Pendidikan Anak Usia Dini dan Lindungi Anak Usia Dini dari Bahaya Narkoba dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan kepada orang tua dan guru PAUD tentang bahaya paham radikalisme, dampak negatif perundungan (bullying) pada anak, serta dampak negatif apabila anak terpapar narkoba. Buku ini juga memberikan tips tentang upaya-upaya yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru agar anak PAUD terhindar dari paham radikalisme, bullying di lingkungan sekolah dan pencegahan agar anak terhindar dari bahaya narkoba.
Kami berharap, buku ini memberikan kemanfaatan bagi guru dan tenaga kependidikan, orangtua, maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam membimbing,
mendidik, dan mengasuh anak sehingga karakter anak tumbuh dan berkembang sesuai nilai-nilai luhur Pancasila.
Kami juga berharap adanya saran dan masukan dari pembaca untuk sempurnanya buku ini. Terima Kasih.
Direktur PAUD,
Dr. Muhammad Hasbi
11 13
21
A. Latar Belakang
C. Dampak Narkoba 1. Kokain
2. Shabu (Methamfetamine) 3. Ekstasi
4. Tembakau
5. Depresan/obat tidur :
a. Oplat (Morfin, Heroin/putaw) b. Benzodiazepin
c. Alkohol
6. Halucinogen
a. Tanaman Kannabis (ganja, cimeng, marihuana) b. Psilocybin (jamur di atas kotoran kerbau/sapi) c. Inhalansia (zat yang mudah menguap: aica aibon,
thinner, bensin, spiritus, dll) B. Pengenalan Narkoba 1. Definisi Narkoba 2. Jenis-jenis Narkotika
3. Bahaya Narkoba Jika Terkonsumsi Anak Usia Dini
Daftar Isi
D. Pencegahan Narkoba bagi Anak Usia Dini 1. Peran Keluarga dalam Pencegahan Narkoba 2. Peran Satuan PAUD dalam Pencegahan Narkoba
37 51
E. Penangan Anak Usia Dini yang Terpapar Narkoba 1. Penyebab Anak Usia Dini Mengkonsumsi Narkoba
2. Mengenalkan pada Anak Bahaya Narkotika Dan Prekursor Narkotika
3. Peran Oleh Orang Tua Dan Guru untuk Anak yang Terpapar Narkoba
4. Tempat rujukan bagi anak korban narkoba
A. LATAR BELAKANG
Menurut data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) peningkatan kasus narkotika pada anak-anak dan remaja harus menjadi alarm bagi para orang tua dan guru.
Pada tahun 2020 setidaknya sebesar 92,6% pengguna memperoleh narkoba pertama kali dari teman, dan hampir 80% diberikan secara gratis. Hal ini menjadi alasan utama bagi orang tua dan guru untuk terlibat langsung dalam pengawasan anak agar tidak terpapar narkoba.
Diperkuat pula oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa korban narkotika banyak yang dipengaruhi oleh kurang dibangunnya pengasuhan sesuai hak anak di keluarga, yang menyebabkan terjadinya resiliensi rendah (ketahanan terhadap stress) sehingga anak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang tidak kondusif.
Anak-anak seringkali dijadikan sebagai target pasar yang sangat menjanjikan dalam penyalahgunaan narkoba, hal ini disebabkan karena rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mencoba-coba, sehingga rentan untuk dipengaruhi bahkan dimanfaatkan secara sadar atau tidak sebagai kurir dalam pengedaran narkoba.
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin meluas sehingga perlu mengenalkan bahaya narkoba sejak usia dini. Perlu kesadaran bersama dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar untuk menjaga anak-anak dari bahaya terpapar narkoba. Hal ini disebabkan karena narkoba memberikan dampak negatif baik fisik maupun psikis yang berakibat pada penderitaan penyalahgunaan narkoba. Selain itu, keluarga korban juga ikut menderita Karena malu, sedih, merasa bersalah, marah, bahkan kadang-kadang sampai putus asa.
Panduan ini menjadi salah satu sumber informasi awal bagi orang tua dan guru untuk mengenalkan dan mencegah paparan narkoba pada anak usia dini.
B. PENGENALAN NARKOBA
Defenisi Narkoba
Menurut Undang-undang no.35 tahun 2009 tentang narkotika mendefenisikan dan menetapkan berbagai jenis narkotika dan prekursor narkotika sebagai berikut:
1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
2. Prekursor narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika.
Beberapa istilah dapat dijelaskan sebagai berikut: Narkotika sintetis didapatkan dari proses pengolahan yang rumit. Jenis narkoba ini diketahui sering dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan dan juga penelitian. Contoh dari narkotika bersifat sintetis, yaitu:
Amfetamin, Metadon, Hindeksamfetamin.
Narkotika semi sintetis diolah menggunakan bahan utama berupa narkotika alami yang kemudian diisolasi dengan cara diekstraksi atau memakai proses lainnya. Sedangkan narkotika alami diketahui langsung bisa digunakan melalui proses sederhana. Karena kandungannya yang masih kuat, zat tersebut tidak diperbolehkan untuk dijadikan obat.
Jika disalahgunakan, narkoba alami bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan.
Salah satunya, yakni bisa berakibat fatal berupa kematian. Ganja dan kokain menjadi contoh dari narkotika yang bersifat alami.
Jenis-Jenis Narkotika
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan no.58 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika, sesuai dengan pasal 1 bahwa narkoba terbagi menjadi golongan 1, golongan 2, dan golongan 3. (terlampir dalam lampiran Permenkes No.58 tahun 2017).
a. Jenis narkoba yang paling popular
Jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi atau populer di kalangan responden pelajar dan mahasiswa adalah ganja (96%)
Zat adiktif non narkoba di kalangan pelajar SMP cenderung meningkat pemakaiannya dalam setahun terakhir dengan angka prevelensi 27,9%
Zat adiktif non narkoba berjenis obat sakit kepala yang diminum berlebihan juga cukup dikenal kalangan SMP, yakni sebesar 9,3%
Obat sakit kepala kadang dicampur dengan minuman bersoda, sebesar 7,0%
Zat yang sengaja dihisap terus menerus sedperti lem aibon, bensin, spidol, hit elektrik, juga populer di kalangan pelajar dan mahasiswa (13,8%)
Obat sakit kepala yang diminum berlebihan adalah jenis zat adiktif yang paling populer kedua dipakai kalangan pelajar dan mahasiswa setelah ganja (6,6%)
b. Jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi
Kategori Narkoba
Ganja (Gele, Cimeng, Marijuana, Getok, Lintingan daun Ganja
Tembakau Beruang, Tembakau Gorilla
Shabu, Yaba, SS, Tastus, Ubas (Methamphetamines)
Tramadol Obat sakit kepala yang diminum
berlebihan
Obat sakit kepala yang diminum dicampur
dengan minuman bersoda
Zat yang sengaja dihisap terus menerus (Misal : lem aibon, bensin, spidol, hit elektrik,
dsb) Hasil survei yang mengkonsumsi narkoba setahun
terakhir diawali dari coba-coba pakai (1,4%) menjadi urutan paling besar dibandingkan dengan yang teratur (0,44%) dan kecanduan (0,17%) kalangan pelajar dan mahasiswa. Sementara itu penggunaan narkoba suntik sangat sedikit (0,06%)
Survei penyalahgunaan dan peredaran Gelap Narkoba Tahun 2018
Kategori Zat Adiktif Non Narkoba
Bahaya Narkoba Jika Terkonsumsi Anak Usia Dini
a. Media penyebaran narkoba pada anak usia dini
Narkoba berbentuk zat dan bahan, oleh karena itu dengan mudah dapat
dicampurkan ke berbagai ragam produk makanan atau mlnuman, serta pada mainan anak. Di beberapa kasus, ditemukan narkoba yang diedarkan melalui makanan dan minuman, atau mainan yang sering dijual bebas di sekitar sekolah anak.
Sifat anak-anak yang suka melihat dan mencoba berbagai macam makanan dan minuman, serta memainkan mainan yang menarik perhatian menjadi salah satu penyebab atau jalan masuk untuk merusak anak-anak kita sejak usia dini dengan narkoba. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab Anak Usia Dini (AUD) berpotensi menjadi sasaran yang paling mudah untuk dijadikan sebagai korban.
b. Bahaya narkoba jika dikonsumsi oleh anak usia dini
Masa 0-6 tahun adalah masa terpenting dalam pertumbungan dan perkembangan anak. mulai darl pertumbuhan fisik motorik anak dampai pada perkembangan dan kematangan fungsi otak, serta kemampuan berbahasa dan lain sebagainya.
Maka, untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut dlbutuhkan perlakuan, nutrisi dan gizi yang mendukungnya. diantaranya adalah menyediakan kegiatan main yang membuat anak bebas bergerak, serta pemberian makanan yang bergizi dan nutrisl yang cukup sesuai dengan kebutuhan anak.
Apabila makanan atau minuman yang mengandung bahan atau zat yang tergolong ke dalam jenis narkoba dikonsumsi anak dalam jangka pendek ataupun dalam jangka panjang, maka akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dampak negatif terhadap anak usia dini jika mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung narkoba, diantaranya adalah:
1. Mempengaruhi perkembangan saraf otak anak. Konsumsi narkoba akan menyebabkan banyak sel otak yang mati atau rusak, sehingga akan menghambant penyambungan antar sel, dengan kata lain sel syaraf pada otak anak tidak dapat tersembung dan terbentuk secara maksimal.
2. Mempengaruhi kecerdasan anak. Dengan terkena dampak narkoba maka kecerdasan anak tidak bisa berkembang secara optimal.
3. Mempengaruhi fisik anak. Anak yang mengkonsumsi narkoba dalam jangka waktu yang lama, akan mempengaruhi perkembagnan fisik anak, seperti: kurus kering, lemah, tidak memiliki keseimbangan tubuh, serta mata cekung dan merah.
C. Dampak Narkoba
Kokain berbentuk bubuk kristal putih yang dapat memberikan efek negatif yaitu memperkecil pembuluh darah sehingga mengurangi aliran darah yang dapat memberikan dampak :
1. Euphoria (Rasa gembira/senang/nikmat berlebihan).
2. Jangka panjang akan mengurangi jumlah dopamin atau reseptor dopamin dalam otak.
3. Penggunaan yang terus menerus menyebabkan sel otak akan tergantung pada kokain untuk dapat berfungsi normal.
4. Pengguna kokain yang kronis apabila berhenti akan ketagihan karena tidak dapat merasakan kenikmatan apa pun.
5. Menimbulkan gejala psikosis (gangguan mental) 6. Keluar ingus, pusing-pusing dan muntah-muntah 1. Kokain
Shabu memiliki dua bentuk yaitu seperti kristal, tidak berbau dan tidak berwarna. Karena itu sering disebut “ice”, dan berbentuk cair.
Dampak yang ditimbulkan bila mengkonsumsi shabu adalah sebagai berikut:
1. Otak sulit berfikir dan konsentrasi.
2. Perilaku menjurus pada kekerasan.
3. Berat badan menyusut, impoten, halusinasi (seolah-olah mendengar atau melihat sesuatu), paranoid (curiga berlebihan)
4. Kerusakan pembuluh darah otak yang dapat berlanjut menjadi stroke (pecahnya pembuluh darah otak).
2. Shabu (Methamfetamine)
3. Ekstasi
Gejala yang dimunculkan akibat pengkonsumsian ekstasi adalah:
1. Rasa senang dan euphoria 2. Nafsu makan berkurang 3. Banyak berkeringat dan mual 4. Gerak badan tak terkendali 5. Tekanan darah naik
6. Denyut jantung dan nadi bertambah cepat.
4. Tembakau
Tembakau bahan yang paling adiktif, menyebabkan ketergantungan setelah menghisap 3-20 batang rokok. Tembakau dapat menyebabkan kanker paru, penyempitan pembuluh darah, penyakit jantung, tekanan darah tinggi.
5. Depresan/obat tidur
Jenis narkotika yang menghambat kerja otak dan memperlambat aktivitas tubuh. Orang menjadi mengantuk, tenang, rasa nyeri dan stress hilang.
Contoh depresan antara lain: Opiat (Morfin, Heroin, dan Kodein), Benzodiazepin, Barbiturat, Sedativa/Hipnotika, Alkohol, dan Inhalansia.
1. Opiat a. Morfin
Bentuk morfin
Morfin dapat meyebabkan: Euphoria yang berlebihan, Menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Menimbulkan gejala putus zat yaitu rasa nyeri tubuh deman, berkeringat, menggigil. Kematian karena overdosis akibat terhambatnya pernafasan.
b. Heroin (Putaw)
Heroin adalah Opiat semi-sintetis melalui sejumlah tahapan pemurnian dari morfin hingga menjadi bubuk putih atau butiran halus yang dapat disuntikan.
Heroin itu berupa serbuk putih dengan rasa pahit yang merupakan jenis obat- obatan yang kuat dan membuat seseorang sangat ketagihan.
Akibat jangka panjang dari pemakaian heroin adalah : 1. Ketergantungan
2. Badan kurus, pucat, kurang gizi 3. Impotensi Infertilitas pada wanita
4. Pemakaian dengan alat suntik dapat menyebabkan HIV/AIDS, hepatitis B dan C.
5. Sakaw terjadi bila si pecandu putus menggunakan.
2. Benzodiazepin
Benzodiazepin adalah depresan obat tidur/obat penenang yang dapat mengurangi rasa gelisah.
Contoh Benzodiazepin antara lain;
1. Alphazolam 2. Clonazepam 3. Diazepam (Valium) 4. Flunitrazepam
5. Nitrazepam (Mogadon, pil BK, pil Koplo) (Rohypnol)
6. Jenis pertama (Librium) dan dikembangkan menjadi banyak turunan (derivat) lain seperti diazepam (valium), nitrazepam (mogadon, rohypnol)
Efek Benzodiazepin
1. Mengurangi rasa gelisah (Anti-Anxiety) 2. Mempermudah tidur
3. Menggunakan benzodiazepin bersama alkohol sangat berbahaya.
4. Pengguna berat dapat timbul delirium (kekacauan pikiran) 5. Pengaruhi persepsi jarak dan gerakan.
6. Penggunaan dalam waktu lama dapat menimbulkan toleransi, ketergantungan fisik dan gejala putus zat (tremor, muntah, insomnia, anxiety, gampang marah, depresi).
Orang tua dan guru, harus menggunakan resep dokter untuk memberikan obat tidur kepada anak.
3. Alkohol
Alkohol merupakan produk frementasi buah-buahan dan sayuran (berasal dari proses peragian). Alkohol murni tidak memiliki rasa dan tidak berbau. Kadar etanol yang terdapat di dalam alkohol akan menentukan jenis minuman.
Efek yang dapat ditimbulkan dari minuman beralkohol antara lain:
1. Alkohol menekan kerja otak (depresan). Setelah diminum, alkohol diserap oleh tubuh dan masuk ke dalam pembuluh darah.
2. Dapat menyebabkan : mabuk, jalan sempoyongan, bicara cadel, kekerasan, kecelakaan karena mengendarai dalam keadaan mabuk.
3. Pemakaian jangka panjang menyebabkan kerusakan pada hati, kelenjar getah lambung, saraf tepi, otak, gangguan jantung, kanker dan bayi lahir cacat dari ibu pecandu alkohol.
6. Halucinogen
Halucinogen berasal dari tanaman atau dibuat melalui formulasi kimiawi. Efek dari penggunaan Hallucinogen adalah:
a. Halusinasi, dapat mengubah dan menyebabkan distorsi tentang persepsi, pikiran dan lingkungan.
b. Mengakibatkan rasa teror hebat dan kekecauan indera seperti: “mendengar“ warna atau “melihat” suara, paranoid (seperti dikejar-kejar orang), meningkatkan resiko gangguan mental.
Contoh Hallucinogen: Cannabis (ganja), LSD, Jamur (psilocybe mushroom/ psilocybin), dan Inhalansia
1. Tanaman Cannabis (ganja, cimeng, marijuana)
Cannabis yaitu daun daun pucuk tanaman cannabis meliputi juga bunga dan biji yang dikeringkan. Contohnya adalah: Ganja, Marijuana, Pot, cimeng, gele, grass, weed, buddha stick, Mary Jane,dll.
Cannabis mempunyai efek/dampak buruk seperti:
a. Menyebabkan ketergantungan.
b. Hilang ingatan sementara.
c. Distorsi waktu dan ruang.
d. Dehidrasi.
e. Euforia / amat menyenangkan.
f. Daya menilai menjadi kehilangan kendali dan keseimbangan
g. Perubahan emosi/perasaan (tertawa terbahak-bahak, kemudian mendadak berubah menjadi ketakutan. Hal ini karena efek THC di otak.
h. Dengan dosis tinggi, perasaan tidak tenang, ketakutan dan halusinasi i. Apatis, depresi
j. Kecemasan yang berlebihan, rasa panik
k. Keseimbangan dan koordinasi tubuh yang buruk
2. Psilocybin (jamur di atas kotoran kerbau/sapi)
Psilocybin merupakan jenis jamur yang tumbuh diatas kotoran kerbau atau sapi.
Efekyang dapat ditimbulkan oleh Psilocybln adalah halusinasi, dan mengubah dan menyebabkan distorsi tentang persepsi terhadap lingkungan dan waktu.
3. Inhalansia
Inhalansia merupakan zat yang mudah menguap/solvent misalnya lem aica, aibon, thinner, bensin, spiritus dll. Inhalansia memiliki pengaruh jangka pendek dan juga jangka panjang.
Pengaruh jangka pendek yang dapat ditimbulkan oleh inhalansia adalah : merasa lebih berani, dan mengurangi rasa malu; Pusing, mengantuk, gembira, sakit kepala, diare, gejala seperti flu; Hidung berdarah, perih sekitar mulut dan hidung; serta Perilaku tidak tenang.
Sementara pengaruh jangka panjang yang ditimbulkan adalah kerusakan otak dan organ penting lainnya. Serta, penggunaan Inhalasia dalam dosis tinggi dapat menyebabkan: Disorientasi dan tidak sadar, Distorsi penglihatan, dan Kematian
Peran Keluarga dalam Pencegahan Narkoba
D. PENCEGAHAN NARKOBA BAGI ANAK USIA DINI
Orang tua dan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pencegahan penggunaan narkoba sejak dini. Orang hendaknya menjadi teladan, pemberi inspirasi, pendamping dan motivator bagi anak usia dini untuk hidup sehat, nyaman dan aman. Hal ini dapat diwujudkan melalui kehidupan keluarga yang harmonis, saling mendukung di antara anggota keluarga, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, dan terhindar dari berbagai pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkoba.
Oleh karena itu, beberapa hal yang hendaknya senantiasa dilakukan oleh orang tua antara lain :
1. Pengasuhan positif
Pengasuhan yang positif memungkinkan interaksi yang baik antara anak dan orang tua, saling menghargai, saling mendukung, penuh kasih sayang dan penerimaan, sehingga memungkinkan tumbuhnya perilaku positif pada anak.
Kecakapan pengasuhan positif perlu ditingkatkan oleh orang tua agar hubungan yang harmonis dengan anak terjalin baik.
Orang tua juga diharapkan dapat membiasakan anak untuk menyampaikan kondisinya atau perasaannya (bahagia, sehat, sakit, tidak nyaman, tidak senang, dan lain-lain) dan menceritakan permasalahannya secara jujur (misalnya: dipaksa oleh teman, diancam oleh orang dewasa, dan lain-lain). Orang tua harus menghargai kejujuran anak, sanggup menahan emosi, dan mengajak berdialog anak dalam segala situasi.
2. Melakukan komunikasi efektif
Orang tua harus menjadi pendengar yang aktif karena anak kadang kala hanya ingin didengar, tanpa disela atau disalahkan. Diharapkan orang tua menjadi tempat bertanya, berdiskusi, dan teman curahan hati (curhat) tempat anak mencurahkan perhatian serta kasih sayang, sehingga tumbuh hubungan timbal balik atau dua arah, antara orang tua dan anak. Melalui komunikasi efektif, dialog interaktif akan tumbuh dan berkembang dalam keluarga, sehingga persoalan atau permasalan yang dialami oleh anak, diketahui pula oleh orang tua, dan dapat dilakukan berbagai upaya pemecahan masalah bersama-sama. Mengembangkan nilai-nilai positif.
Sejak dini, anak ditumbuhkan akhlak mulianya, sehingga dapat membedakan hal yang baik dan jelek, yang benar dan salah. Dengan demikian, ketika anak mengambil keputusan, didasarkan atas sikap, pengetahuan dan keterampilannya yang positif, bukan karena bujukan dari pihak-pihak lain, misalnya teman.
3. Menumbuhkembangkan kenyamanan dan keharmonisan keluarga
Kenyamanan dan keharmonisan keluarga akan membuat anak merasa kerasan di rumah, tenang, tenteram, dan tidak ada konflik yang tajam, yang akan membuat anak terjerumus pada perilaku negatif.
4. Menjadi teladan bagi anak
Anak belajar dari meniru hal-hal yang dilihat maupun didengarnya. Anak meniru dari perilaku orang lain yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi teladan baik, yang dapat ditiru oleh anak. Sebagai contoh penggunaan tembakau pada rokok adalah jika ada anggota keluarga yang merokok maka anak usia dini juga berpotensi untuk meniru (mencoba untuk merokok).
5. Mendukung kegiatan anak yang kreatif, sehat dan positif
Kegiatan anak yang kreatif, sehat dan positif, baik di rumah maupun di satuan PAUD perlu mendapatkan dukungan positif dari orang tua, dan apabila anak memiliki hobi, juga sebaiknya disalurkan, karena hal ini juga dapat menunjang kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak.
6. Memantau lingkungan main anak
Orang tua perlu memantau lingkungan main anak terutama di luar rumah. Orang tua perlu mengetahui teman main anak, kegiatan yang dilakukan, tempat dan waktu main anak. Diharapkan orang tua mendiskusikan atau menyeakati aturan main untuk anak, seperti :
a. Teman main. Teman yang diajak atau mengajak main haruslah orang yang dikenal oleh orang tua.
b. Kegiatan yang dilakukan, Kegiatan main yang dilakukan anak haruslah menggunakan alat dan bahan main yang aman, dan sesuai norma.
c. Tempat. Tempat main yang dibolehkan adalah tempat yang dapat terpantau atau dapat dilihat oleh orang tua.
d. Waktu main. Orang tua harus mengingatkan waktu-waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati seperti: waktu makan, waktu istirahat, waktu ibadah, waktu untuk berada di rumah, dan lama bermain.
e. Dalam kondisi terancam (ada orang lain yang memaksa anak untuk menerima atau melakukan sesuatu), maka anak harus segera menghindari orang tersebut, dan berlari kearah keramaian, serta berteriak untuk meminta pertolongan.
7. Mendukung kebiasaan hidup bersih, sehat dan aman
Apabila anak memiliki perilaku hidup bersih, sehat dan aman sejak dini, maka anak akan terhindar dari berbagi perilaku menyimpang atau negatif di kemudian hari. Perilaku hidup bersih sehat dan aman, dapat ditumbuhkan melalui keteladanan, pembiasaan, pengkondisian dan kegiatan main. Berbagai contoh perilaku tersebut antara lain :
a. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, bergizi seimbang, dan aman, memilih jajanan sehat. Apabila anak menerima makanan atau minuman dari orang lain, hendaknya dikonfirmasikan atau dikomunikasikan terlebih dahulu kepada orang tua, untuk memastikan keamanannya. Anak juga dapat dibiasakan untuk tidak menerima makanan atau minuman dari orang lain secara sembarangan.
Membiasakan anak sarapan pagi dan membawa bekal dari rumah merupakan hal yang baik dan penting, sehingga ketika anak keluar rumah sudah dalam kondisi
kenyang dan tidak mudah tergoda oleh makanan dan minuman yang ada di luar rumah. Anak dibiasakan tidak membeli atau mendapatkan jajanan tanpa pengawasan dari orang tua, serta orang tua perlu memberikan informasi kepada anak tentang makanan apa saja yang tidak boleh dimakan dan apa akibatnya untuk anak jika tetap memakannya.
b. Jika anak sakit, maka obat yang diberikan kepada anak adalah obat-obatan yang diketahui dan disetujui oleh orang tua.
c. Membiasakan anak untuk menerima pemberian makanan, minuman, atau benda lainnya seizin atau sepengetahuan orang tua.
d. Membiasakan anak menyimak simbol atau membaca label (apabila anak sudah bisa membaca), atau orang tua membacakan label makanan, minuman atau obat- obatan, termasuk komposisi, tanggal kadaluarsa, kehalalan, cara mengkonsumsinya.
8. Bekerja sama dengan lingkungan rumah dan sekolah
Orang tua perlu membangun kerja sama yang positif dengan lingkungan sekitar dan sekolah. Hal ini diperlukan sebagai upaya bersama membangun kepedulian antara orang tua, masyarakat, dan pihak sekolah/satuan dalam mengawasi perilaku anak.
Ketika ada perilaku anak yang dianggap menyimpang, tidak biasa, atau mengganggu maka orang yang melihat/menemukan hal tersebut dapat langsung mendekati, menegur dan melakukan dialog dengan anak untuk menanyakan apa yang mereka lakukan, atau menyampaikan dan mendiskusikannya dengan orang tua anak, atau pihak lainnya (RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama)
9. Berkonsultasi dengan tenaga professional (apabila diperlukan)
Apabila terdapat kemungkinan gangguan atau penyimpangan pada perilaku anak, dan orang tua merasa tidak mampu untuk mengatasi, maka perlu berkonsultasi sedini mungkin dengan tenaga professional, sehingga permasalahan tersebut dapat segera di atasi, dan tidak makin memburuk.
Peran Satuan PADU dalam Pencegahan Narkoba
Pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Sebagai contoh, materi penting yang perlu dimasukkan adalah :
a. Hidup sehat, antara lain dikenalkan pada anak tentang makanan sehat yang bergizi, serta bahaya mengkonsumsi makanan yang tidak sehat.
b. Hidup bersih, antara lain tentang pemahaman adanya racun atau zat-zat berbahaya di sekeliling kita baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat. Untuk itu, guru perlu mendidik anak-anak untuk mengetahui bahwa zat-zat yang sangat berbahaya bagi tubuh ada di sekitar kita, sehingga harus dijauhi atau terkadang dimusnahkan.
Sehingga informasi tentang racun yang ada di sekeliling kita harus dijelaskan guru pada anak-anak.
c. Hidup aman, membiasakan anak-anak untuk peduli pada dirinya (tubuh) dengan cara waspada terhadap orang asing (yang tidak dikenal, orang yang mencurigakan).
Guru perlu memberikan informasi kepada anak untuk menjaga keamanan dirinya seperti : 1. Tidak meminum obat tanpa sepengetahuan orang tua.
2. Tidak menerima pemberian rokok dari siapapun.
3. Menerima makanan dan atau minuman dari orang asing (tidak dikenal/mencurigakan) 4. Tidak menerima pemberian kertas dari seseorang (siapapun) yang meminta anak untuk
merobeknya dan meletaknya pada langit-lagit mulut atau di bawah kelopak mata.
5. Tidak menerima atau menggunakan benda-benda yang mengeluarkan bau khas (wangi/harum) seperti aibon yang bentuknya bisa berupa penghapus, pensil, atau benda lainnya.
Sebelum anak usia dini menjadi korban narkoba maka guru dapat melakukan antisipasi/
pencegahan yang dilakukan melalui tlndakan kelas antara lain:
1. Membuat dan merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran anti narkoba untuk anak usia dini sesual usia anak.
2. Mengenalkan bahaya narkoba pada anak, seperti rokok dan daun ganja.
3. Bermain peran tentang bahaya narkoba.
4. Mendengarkan pendapat anak tentang narkoba.
E. PENANGANAN ANAK USIA DINI YANG TERPAPAR NARKOBA
Penyebab Anak Usia Dini Mengkonsumsi Narkoba
Ada dua penyebab mengapa anak usia dini mengkonsumsi narkoba, yaitu : a. Ketidaktahuan
Ketidaktahuan adalah penyebab utama anak mengkonsumsi narkoba, hal ini dikarenakan orang tua dan guru tidak mengenalkan bahaya narkoba kepada anak sejak dini.
b. Diberi oleh pihak lain
Anak dapat mengkonsumsl narkoba karena diberikan dan dirayu/dibujuk oleh pihak lain (teman/orang dewasa lainnya).
Mengenalkan pada Anak Bahaya Narkoba dan Prekursor Narkotika
Hal penting yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru PAUD dalam mengenalkan bahaya narkotika dan prekursor narkotika kepada anak dengan menggunakan tips atau strategi tertentu yang disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, sebagaimana berikut:
a. Untuk usia 2-4 tahun
Ajari untuk menghargai tubuh sendiri dengan memberi tahu tentang bahan-bahan racun/kimia yang ada di rumah dan ajari tentang obat-obat yang aman bagi anak, komunikasi pengambilan keputusan dan percaya diri akan membantu mencegah penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika setelah ia dewasa.
b. Usia 4-6 tahun
Pada usia ini sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui siapa teman- teman anaknya dalam melakukan berbagai kegiatan. Selain itu, orang tua juga dapat memperbanyak kegiatan anak, berkomunikasi, dan mencurahkan cinta kasih sayang yang tulus. Orang tua, juga dapat membuat skenario tentang masalah-masalah narkotika dan prekursor narkotika yang dapat membantu anak untuk mengatasi masalah tersebut.
c. Usia 7-8 tahun
Orang tua dapat merangkan kepada anak tentang perbedaan antara obat-obatan yang baik dan yang buruk dan pengaruhnya untuk tubuh mereka. Anak usia ini sangat percaya terhadap orang yang lebih tua sehingga tetap harus diingatkan terutama terhadap informasi yang diterima terutama dari orang yang tidak dikenal.
Peran Orang Tua Dan Guru untuk Anak Yang Terpapar Narkoba a. Identifikasi awal
Untuk dapat mengidentifikasi awal anak yang terpapar narkoba maka guru harus mengetahui dan memahami tentang jenis dan dampak narkoba bagi anak. Dengan begitu, guru dapat mengenali anak yang terpapar melalui gerak-gerik atau perilaku yang mereka tampilkan.
Ciri-ciri fisik menjadi salah satu cara mengenali anak yang terpapar narkoba, berikut gejala-gejala yang dapat dilihat :
1. Gejala awal yang tampak akibat penyalahgunaan narkoba : a. Berat badan menurun
b. Perubahan perilaku: seperti dari santun menjadi kasar
c. Meminta uang terus-terusan dan tidak pernah merasa cukup d. Mulai sering kehilangan barang
2. Tanda-tanda dini pengguna narkoba : a. Hilangnya minat bergaul dan olahraga
b. Mengabaikan perawatan dan kerapihan diri c. Disiplin pribadi mengendur
d. Suka menyendiri
e. Menghindar dari perhatian orang lain f. Cepat tersinggung dan cepat marah
g. Berlaku curang, tidak jujur dan menghindari tanggung jawab
h. Sering berlama-lama di tempat tak biasa seperti kamar mandi, WC, gudang dan lainnya
i. Suka mencuri barang di rumah
j. Penurunan minat belajar atau konsentrasi
3. Ciri-ciri fisik pengguna narkoba : a. Berat badan turun drastis
b. Mata cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitaman c. Sembelit atau sakit perut tanpa alasan jelas
d. Tanda berbintik merah seperti bekas gigitan nyamuk e. Ada bekas luka sayatan
f. Terdapat perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan g. Mengeluarkan air mata yang berlebihan
h. Mengeluarkan keringat yang berlebihan i. Kepala sering nyeri, persendian ngilu
j. Banyaknya lendir dari hidung, diare, bulu kuduk berdiri k. Sukar tidur, menguap.
b. Tindak lanjut
Jika guru menjumpai gejala-gejala seperti di atas pada anak didiknya di satuan PAUD, maka tindak lanjut yang harus dilakukan guru adalah memberikan informasi dan mengomunikasikannya dengan orang tua anak, serta menyarankan pada orang tua untuk segera membawa dan memeriksa anak ke rumah sakit, atau ke psikiater.
Guru tidak boleh bertindak sendiri dengan mengatas namakan kebaikan atau orang tua untuk medapatkan atau memberikan perlakuan khusus kepada anak tersebut.
Tempat Rujukan Anak Korban Narkoba
Anak usia dini yang sudah terkena dampak bahaya narkoba harus segera ditangani secara serius dengan menghubungi atau mendatangi rumah sakit umum terdekat/Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (BNNK)/Badan Narkotika Nasional Pusat (BNNP).
Untuk mendapatkan alamat dan informasi tentang layanan BNNK atau BNNP, maka orang tua dan guru dapat membuka tautan di laman ini: www.bnn.go.id.
Korban penyalahgunaan narkoba penting untuk menjalani program rehabilitasi secara sempurna atau berkelanjutan, tak hanya rehabilitasi medis dan sosial, akan tetapi dilanjutkan dengan pendampingan baik dari keluarga maupun institusi yang menaunginya.
Dengan program rehabilitasi, maka anak yang terpapar narkoba dapat abstinen (berhenti mengkonsumsi narkoba). Selanjutnya mereka dilatih untuk mampu disiplin, sehingga dapat mengatasi dari potensi kekambuhannya. Program rehabilitasi dapat dilakukan pada pusat rehabilitasi, baik yang dimiliki oleh pemerintah, atau yang dimiliki oleh masyarakat.
Referensi
Direktorat Diseminasi Informasi dan Pencegahan BNN. 2012. Buku Panduan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Sejak Usia Dini.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.
https://perpustakaan.bnn.go.id/id/permasalahan-narkoba-di-indonesia-2019-sebuah-catatan-lapangan https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/01/150000369/penyalahgunaan-narkoba--alasan-gejala-tanda- ciri-dan-bahaya?page=all
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Dokumen/5499_2018-01-08/KELUARGA%20 HEBAT%20TANPA%20NARKOBA%20(TERBARU).pdf
https://ppid.bnn.go.id/
https://ppid.bnn.go.id/wp-content/uploads/sites/2/2020/06/SURVEI-PENYALAHGUNAAN-DAN-PEREDARAN- GELAP-NARKOBA-TAHUN-2018.pdf
Febby Ester Fany Kandou dan Edwin de Queljoe. 2019. Dampak Obat-obat Terlarang dan Upaya Pengawasan Dini kepada Anakanak Usia Sekolah Untuk Kelompok Ibu-ibu di Kelurahan Meras Kecamatan Bunaken Manado.
VIVABIO : Jurnal Pengamdian Multidisiplin, Vol. 1 No. 1, April 2019.
Narahubung
Direktorat Pembinaan PAUD
Komplek Kemendikbud
Jalan Jenderal Sudirman, Gedung E lt. 7 Senayan Jakarta 10270
Surel: [email protected] Telp: (021) 572-5495