• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SUMBER DANA UMN AL-WASHLIYAH MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SUMBER DANA UMN AL-WASHLIYAH MEDAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SUMBER DANA UMN AL-WASHLIYAH MEDAN

Bimbingan Teknis Peningkatan Produktivitas Usaha Dan Pendapatan Masyarakat Pesisir Melalui Penerapan Manajemen Agribisnis

Ketua : Dr.H.Hardi Mulyono,SE,M.AP NIDN : 0111116303

Anggota 1 : Junita Putri Rajana Harahap, SE,M.Si.Ak NIDN : 0108068704

Anggota 2 : Fachriani Putri NIDN : 163114128

DibiayaiolehUniversitas Muslim Nusantara Al Washliyah,

sesuaidenganSuratPerjanjianPelaksanaanPenugasan PengabdianBagiDosenTahunAnggaran 2017 sesuai dengan Surat Perjanjian Pendanaan Pelaksanaan Program Pengabdian Masyarakat.

Nomor: 236b/LP2M-UMNAW/C.12/2017

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUSLIM NUSANTARA (UMN) AL-WASHLIYAH DESEMBER TAHUN 2017

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

1.Judul Penelitian :Bimbingan Teknis Peningkatan Produktivitas Usaha Dan Pendapatan Masyarakat Pesisir Melalui Penerapan

Manajemen Agribisnis 2.Ketua Peneliti

a. Nama :Dr.H.Hardi Mulyono,SE,M.AP

b. NIDN : 0111116303

c.Telepon/HP :0813-7111-2098 d. AlamatEmail :[email protected] e. Jabatan Fungsional :Lektor

f.Fakultas :Ekonomi

g. Prodi :Manajemen

3.Anggota Peneliti (2)

a. Nama :Junita Putri Rajana Harahap, SE,M.Si.Ak

b. NIDN : 0108068704

c. Program Studi :Akuntansi 4.AnggotaPeneliti(1)

a. Nama :Fachriani putri

b.NIDN : 163114128

c. Fakultas/Prodi :Ekonomi/ Manajemen 5.Nama dan Lokasi Mitra

a. Nama Institusi/Mitra :Pesisir

b. Alamat :

6.Biaya Total :Rp. 5.000.000,-

Medan, Desember 2017

KetuaPeneliti,

Dr.H.Hardi Mulyono,SE,M.AP NIDN. 0110076703

(3)

RINGKASAN

Bimbingan Teknis Peningkatan Produktivitas Usaha dan Pendapatan Masyarakat Pesisir Melalui Penerapan Manajemen Agribisnis (Dr. Leila Ariyani Sofia, S.Pi, M.P). Kemampuan SDM usaha perikanan di wilayah pesisir dalam manajemen usaha masih kurang karena sebagian besar berpendidikan rendah, hanya berdasarkan pengalaman dan pelatihan ataupun penyuluhan dari dinas terkait. Permodalan usaha sebagian besar berasal dari modal sendiri dan sebagian merupakan dana penguatan modal dari pemerintah untuk masyarakat melalui Dinas Perikanan dan Kelautan. Manajemen produksi masih sederhana dan pemasaran hasil produksi usaha perikanan secara garis besar dipasarkan dalam bentuk segar dan masih berskala lokal. Oleh sebab itu diperlukan upaya pengembangan usaha masyarakat di wilayah pesisir yaitu salah satunya melalui bimbingan teknis manajemen usaha. Bimbingan teknis Manajemen Usaha merupakan bagian dari Kegiatan Bimbingan Teknis Kemitraan Program Dit. PMPPU Untuk Meningkatkan Kualitas SDM di Kalimantan Selatan yang dilaksanakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 19 – 20 Mei 2014 yang diikuti oleh 20 peserta. Hasil bimbingan teknis menunjukkan bahawa sebagian besar (70%) peserta pelatihan telah mengetahui dan mampu menjelaskan pentingnya pencatatan transaksi dalam usaha, sedangkan 10 orang (50%) telah mampu melakukan pencatatan transaksi usaha dan 5 orang (25%) telah melanjutkan dengan penyusunan laporan keuangan (laporan rugi laba dan neraca). Selain itu peserta juga telah berusaha memanfaatkan informasi dari laporan keuangan tersebut untuk melakukan proyeksi usaha di masa depan.

(4)

KATA PENGANTAR

Laporan ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengadian Kepada Masyarakat yang telah dilaksanakan dengan judul “Bimbingan Teknis Peningkatan Produktivitas Usaha dan Pendapatan Masyarakat Pesisir Melalui Penerapan Manajemen Agribisnis”. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan informasi dan bimbingan kepada pelaku usaha perikanan di wilayah pesisir dan para stakeholder yang berkaitan langsung dengan pengembangan usaha dan perekonomian masyarakat pesisir. Dari hasil kegiatan ini diketahui bahwa peserta bimbingan teknis memiliki motivasi yang cukup kuat untuk mengembangkan usaha perikanan di wilayah pesisir. Kepada semua pihak yang telah membantu sehingga dapat terlaksananya kegiatan pengabdian ini diucapkan terima kasih. Semoga seluruh kegiatan beserta laporannya dapat bermanfaat seperti yang diharapkan.

Deli Serdang, Mei 2014

Pengabdi

(5)

DAFTAR ISI

Halaman RINGKASAN

……… I

KATA PENGANTAR

………... Ii

DAFTAR ISI

………. Iii

DAFTAR TABEL

………. Iv

DAFTAR LAMPIRAN

……… Iv

I.

PENDAHULUAN

………... 1

A.

Analisis Situasi

……… 1

B.

Perumusan Masalah

………. 2

II.

TINJAUAN PUSTAKA

……….. 4

III.

TUJUAN DAN MANFAAT

………... 9

(6)

IV. METODE PELAKSANAAN

……….. 10

A.

Khalayak Sasaran

……… 10

B.

Waktu dan Tempat Kegiatan

……….. 10

C.

Metode Pengabdian

………. 10

D.

Keterkaitan

………... 10

E.

Rancangan Evaluasi

………. 11

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

……… 12

A.

Kegiatan Penyuluhan

………... 12

B. Hasil Evaluasi Pengetahuan Khalayak Sasaran

………... 12

C.

Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat

……… 14

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

……… 15

A. Kesimpulan 15

(7)

………..

B. Saran

……… 15

DAFTAR PUSTAKA

……… 16

LAMPIRAN

……….. 17

(8)

DAFTAR TABEL

1. Materi Bimbingan Teknis Manajemen Usaha Perikanan

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1.

Daftar Riwayat Hidup Pengabdi

………... 18

2.

Surat Permintaan Narasumber

………. 22

3.

Surat Tugas

………... 24

4.

Surat Perintah Perjalanan Dinas

………... 25

5.

Daftar Hadir Peserta Pengabdian

………. 26

6. Materi Kegiatan Bimbingan Teknis ………... 51

7.

Dokumentasi Kegiatan Bimbingan Teknis

……….. 52

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1. Analisis Situasi

Masyarakat di wilayah pantai dan laut pada umumnya bergantung pada usaha perikanan, khususnya perikanan tangkap (nelayan). Potensi sumberdaya perikanan di wilayah pesisir cukup besar, namun sebagian masyarakat di wilayah tersebut masih berada di bawah garis kemiskinan.

Rendahnya tingkat pendapatan nelayan dan petani ikan sebetulnya sangat kontradiktif dengan besarnya potensi sumberdaya ikan yang ada dan sifat usaha perikanan yang sebetulnya memiliki keunggulan komparatif dibandingkan usaha lain. Usaha perikanan, baik usaha penangkapan maupun budidaya memiliki indeks ICOR (Increamental Capital Output Ratio) yang rendah yaitu antara 2,80 – 3,95 artinya investasi dalam bidang perikanan lebih efisien dan dapat memberikan output yang lebih besar daripada usaha lain terutama pertanian tanaman pangan, holtikultura maupun perkebunan. Peluang dan kebutuhan dasar serta nilai akan produk perikanan cenderung meningkat baik untuk dalam negeri maupun luar negeri (Kamiso, 2002). Mengingat hal tersebut maka pemberdayaan masyarakat di wilayah pantai terutama nelayan perlu diutamakan pada pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya permasalahan yang dihadapi usaha perikanan adalah (Purnomo, et al, 2000; Ditjen PK2P, 2004; Sofia, 2010):

1. Skala usaha kecil cenderung terjadinya inefisiensi dalam melakukan usaha.

2. Akses pasar sangat terbatas. Hal ini disebabkan kurang adanya jaminan kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi.

3. Akses permodalan terbatas. Hal ini disebabkan karena kondisi usaha budidaya yang ada belum bankable.

4. Pengadaan penggunaan sarana produksi kurang mandiri.

(11)

5. Inovasi dan adopsi teknologi kurang cepat/lamban.

Dari sudut pandang akses pendanaan, institusi perbankan merupakan alternatif yang lebih baik dibanding pemberian modal pemerintah, yang ternyata sering disalurkan tidak sesuai dengan kebutuhan (Zamroni dan Purnomo, 2005).

Ada berbagai skim kredit usaha yang ditawarkan pihak perbankan maupun koperasi untuk usaha bidang perikanan, sebagai contoh kredit usaha koperasi Swamitra Mina bekerjasama dengan Bukopin. Namun alternatif tersebut belum termanfaatkan dengan baik karena penyaluran kredit bank kepada usaha di bidang perikanan tidak semudah pemberian kredit kepada UKM sektor lain. Masalah tersebut timbul karena UKM perikanan kesulitan untuk memenuhi persyaratan formal yang ditetapkan oleh koperasi dalam hal penyaluran kredit modal. Dengan adanya kesulitan mendapatkan modal dari koperasi tersebut oleh pengusaha UKM mencari alternatif lain dengan cara meminjam modal uang kepada kerabat dan atau tengkulak. Namun demikian tengkulak dalam sebagian besar kasus justru menjerat pengusaha UKM yaitu dalam bentuk memberikan pinjaman uang dengan bunga yang tinggi (18 – 30% per tahun). Sehingga, tujuan pengembangan modal yang dikaitkan dengan pengembangan usaha tidak dapat tercapai.

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikemukakan bahwa program-program pemerintah yang terkait dengan pemberian kredit UKM masih berpeluang dalam rangka pengembangan usaha masyarakat di wilayah pesisir, terutama sektor perikanan melalui perbaikan-perbaikan pada kebijakan permodalan pemerintah.

(12)

B. Perumusan Masalah

Kemampuan SDM usaha perikanan di wilayah pesisir dalam manajemen usaha masih kurang karena sebagian besar berpendidikan rendah, hanya berdasarkan pengalaman dan pelatihan ataupun penyuluhan dari dinas terkait. Permodalan usaha sebagian besar berasal dari modal sendiri dan sebagian merupakan dana penguatan modal dari pemerintah untuk masyarakat melalui Dinas Perikanan dan Kelautan.

Pengelolaan usaha perikanan di wilayah pesisir masih dilakukan secara sederhana. Begitu pula dalam pengelolaan sumber daya manusia belum memperhatikan aspek manajemen seperti tampak dalam pemberian upah yang tidak memperhatikan kinerja, tetapi disama ratakan, pemasaran yang masih mengandalkan tengkulak dan lain sebagainya. Demikian pula pengelolaan laporan administrasi dan keuangan kelompok ini masih sederhana walaupun sudah menggunakan bantuan buku pencatatan keuangan. Namun demikian, laporan keuangan perlu diperbaiki sehingga sesuai dengan kaidah akuntansi dan mampu menjadi dasar bagi pengajuan tambahan modal ke perbankan. Pemasaran hasil produksi usaha perikanan secara garis besar dipasarkan dalam bentuk segar dan masih berskala lokal. Prospek pemasaran produk hasil perikanan sangat terbuka, baik pasar lokal maupun pasar luar daerah. Sedangkan pemasaran ikan konsumsi dilakukan melalui rumah makan yang ada maupun intitusional market, seperti rumah sakit, perusahaan, pondok pesantren atau sekolah-sekolah berasrama lainnya. Jaringan pemasaran produk usaha perikanan masih lingkup lokal dan belum luas sehingga masih terbuka lebar untuk bekerja sama dengan pihak dari luar.

(13)
(14)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Usaha

Manajemen didefinisikan sebagai ilmu dan seni, yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap kinerja organisasi dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki guna mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Downey dan Erickson, 1987). Manajemen diperlukan sebagai suatu upaya agar kegiatan bisnis dapat berjalan secara efektif dan efisien. Fungsi-fungsi manajemen mencakup pada fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengarahan, dan fungsi pengawasan. Fungsi manajemen terkait dengan pengelolaan usaha dilakukan dalam seluruh aspek penyusunan bisnis yaitu aspek produksi (operasi), sumberdaya manusia, keuangan dan pemasaran (Griffin dan Ebert, 2001).

2.2. Manajemen Produksi/Operasional

Manajemen produksi perikanan adalah menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam memproduksi ikan sehingga tujuan agribisnis perikanan dapat tercapai yaitu keuntungan yang optimal (Effendi dan Oktariza, 2006). Proses produksi perikan merupakan suatu kegiatan kompleks yang melibatkan berbagai komponen, sejak pengadaan input sarana produksi, proses produksi itu sendiri, hingga penanganan output, seperti pengolahan dan pemasaran. Kegiatan dalam manajemen produksi meliputi: (1) perencanaan produksi (produk, sistem dan teknologi, lokasi, target produksi/skala usaha, sarana produksi, dan penanganan pascapanen); dan (2) pelaksanaan dan pengendalian produksi (prakonstruksi, konstruksi, operasi, dan pascaoperasi).

2.3 Manajemen Pemasaran

Pemasaran didefinisikan sebagai proses perencanaan dan eksekusi konsepsi, penetapan harga, promosi dan distribusi dari gagasan, barang dan jasa dalam rangka menciptakan

(15)

pertukaran untuk memuaskan tujuan individu dan organisasi (Kotler, 2004). Kotler (2004) menyatakan proses pemasaran terdiri dari empat langkah, yaitu: a) menganalisis peluang yang ada di pasar; b) mengembangkan strategi pemasaran berorientasi pasar; c) merencanakan program pemasaran terpadu menggunakan bauran pemasaran; dan d) mengorganisasikan, mengimplementasikan dan mengawasi proses pemasaran. Pilihan konsumen terhadap produk dipengaruhi oleh nilai produk yaitu perbandingan relatif antara manfaat/utilitas dengan biaya.

Suatu produk dikatakan bernilai tinggi apabila utilitasnya jauh lebih besar dibandingkan biayanya. Proses pemasaran yang sukses mengikuti tahap-tahap sebagai berikut: 1) segmentasi pasar, yaitu proses memilah pasar yang heterogen menjadi kelompok yang homogen artinya memiliki karakteristik dan kebutuhan produk yang sama. berdasarkan informasi yang diperoleh pemasar, maka segmentasi dapat dilakukan atas dasar variabel geografis, demografis maupun psikografis; 2) targeting, yaitu memilih satu/lebih kelompok pasar yang ada. penetapan pasar sasaran dilakukan berdasarkan evaluasi terhadap daya tarik masing-masing segmen, dan 3) pemposisian yaitu menempatkan/memposisikan citra produk dalam benak konsumen dibandingkan dengan produk pesaing dengan tujuan agar suatu produk memiliki tempat yang jelas dan terbedakan dalam benak konsumen sasaran.

Setelah proses pemasaran dilalui maka tahap berikut yang dijalani pemasar adalah menetapkan bauran pemasaran (marketing mix). Bauran pemasaran merupakan perangkat alat pemasaran yang dapat dikendalikan pemasar untuk menghasilkan respons yang diinginkan dalam pasar sasaran (Kotler, 2008) yaitu :

(16)

(a) Bauran produk, yaitu segala sesuatu yang memberikan nilai (perbandingan antara benefit dengan cost).

(b) Bauran harga, yaitu nilai tukar suatu produk yang dinyatakan dalam satuan moneter.

(c) Bauran promosi, merujuk pada usaha yang dilakukan pihak pemasar untuk memengaruhi pihak lain agar bersedia berpartisipasi dalam kegiatan pertukaran. Promosi yang dapat dipilih diantaranya adalah periklanan, penjualan pribadi (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), publisitas, hubungan masyarakat.

(d) Bauran distribusi yaitu kombinasi saluran distribusi yang dipakai perusahaan untuk menyampaikan produk kepada konsumen akhir, menjadi sangat penting. Dalam mengambil keputusan mengenai jenis saluran distribusi yang akan digunakan maka perusahaan perlu mempertimbangkan jenis produk, karakteristik konsumen dan sebagainya.

2.4. Manajemen Keuangan

Keuangan (finance) adalah fungsi bisnis yang bertanggung jawab untuk mendapatkan, mengelola dan merencanakan penggunaan dana. Tugas ini secara organisasional dibebankan pada manajer keuangan. Aktivitas yang dijalankan manajer keuangan antara lain adalah perencanaan keuangan, penganggaran dana, mendapatkan dana, mengendalikan dana, pemeriksaan, pengelolaan pajak dan memberi nasihat atau saran kepada manajemen puncak mengenai masalah keuangan.

2.4.1. Manajemen Keuangan Bagi Usaha Kecil dan Menengah

Aspek permodalan masih menjadi kendala utama dalam pengembangan usaha kecil dan menengah di wilayah pesisir. Penambahan modal usaha dapat dilakukan dengan pengajuan kredit usaha ke lembaga keuangan atau program-program pemerintah yang ditujukan untuk peningkatan usaha masyarakat di wilayah pesisir. Namun tidak adanya laporan kinerja usaha

(17)

yang diperlukan untuk pengajuan kredit menyebabkan pelaku usaha mengalami kesulitan untuk mendapatkan tambahan modal. Laporan keuangan merupakan laporan kinerja usaha yang terpenting karena dapat dijadikan kreditur sebagai sumber penilaian perkembangan kinerja usaha dan perkiraan kinerja usaha pada masa mendatang. Jadi dalam rangka pengembangan usaha, terutama untuk keperluan dan kemudahan pengajuan kredit usaha maka bagi pengusaha kecil- menengah harus membiasakan diri untuk menyusun dan penyajikan laporan keuangan.

2.5. Persamaan Dasar Akuntansi

Sumberdaya yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan disebut dengan aset.

Sedangkan hak atau klaim atas aset perusahaan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: (1) hak kreditor, (2) hak pemilik. Hubungan antara keduanya, dapat dinyatakan dalam suatu persamaan yang disebut dengan persamaan dasar akuntansi dan ditulis sebagai berikut (Kieso et al., 2002):

Aset = Kewajiban + Ekuitas

2.6. Pencatatan Transaksi Bisnis

Transaksi bisnis merupakan kejadian ekonomis yang menyebabkan perubahan dalam aset dan/atau kewajiban, dan/atau ekuitas. Semua transaksi bisnis perusahaan selalu berpengaruh pada perubahan ketiga unsur persamaan dasar akuntansi, yaitu aset dan/atau kewajiban dan/atau ekuitas. Terdapat siklus pencatatan transaksi bisnis yang menunjukkan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk proses akuntansi transaksi bisnis yang dilakukan. Adapun siklus pencatatan transaksi bisnis meliputi:

a) Dokumen sumber (a source document) yaitu dokumen yang berisi catatan sejumlah transaksi yang terjadi dalam perusahaan. Contoh: faktur pembelian, faktur penjualan, kuitansi pembayaran atau penerimaan kas, dan lainnya.

(18)

b) Buku harian yaitu buku yang digunakan untuk mencatat transaksi yang diurutkan menurut kejadiannya yang umumnya dilakukan setiap hari. Beberapa hasil pencatatan yang telah disusun berdasarkan periode pencatatan akan dimuat dalam suatu jurnal.

c) Buku besar (the ledger) yaitu pembukuan yang berisi catatan di buku harian ke kelompok akun-akun. Proses pemindahan dan pengelompokan catatan dari buku harian ke dalam buku besar disebut proses posting.

d) Neraca saldo (the trial balance) adalah pembukuan yang dipersiapkan untuk melihat kesamaan debit dan kredit akun-akun yang ada di buku besar. Ringkasan akun dan saldonya yang terdaftar dalam neraca saldo (the trial balance) akan dijadikan dasar untuk penyiapan laporan keuangan. Usaha Kecil dan Menengah perlu mempersiapkan beberapa buku untuk mencatat berbagai transaksi yang dilakukan sehingga lebih terkelola dan tertib administrasi keuangannya. Beberapa buku yang digunakan dalam pencatatan transaksi yaitu buku kas, buku pembelian tunai, buku pembelian kredit, buku penjualan tunai, buku penjualan kredit, buku piutang dan buku utang.

2.7. Laporan Keuangan Bagi Usaha Mikro

Laporan keuangan yang perlu disusun untuk usaha kecil secara umum adalah yaitu Neraca, Laporan Laba/Rugi, dan Laporan Arus Kas. Berikut ini adalah format Laporan Keuangan dalam bentuk Neraca, Laporan Laba/Rugi, dan Laporan Arus Kas.

a) Neraca

Menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode tertentu. Neraca memperlihatkan keseimbangan antara nilai aktiva (kekayaan) perusahaan dengan nilai Pasiva (berisi hutang dan modal yang disetor). Diformulasikan sebagai berikut:

Aktiva (Kekayaan) = Pasiva ( Hutang Perusahaan + Modal Perusahaan)

(19)

b) Laporan Rugi Laba

Laporan rugi laba memberikan informasi tentang jalannya operasional perusahaan dalam satu periode tertentu apakah mengalami keuntungan ataukah kerugian. Dapat diformulasikan

sebagai berikut: Pendapatan – Biaya = Laba/ Rugi c) Laporan Aliran Kas

Laporan aliran kas adalah laporan perubahan nilai uang kas yang dimiliki oleh perusahaan dalam periode waktu tertentu. Laporan ini berisi informasi bagi perusahaan tentang ketersediaan uang tunai yang dapat digunakan untuk operasional perusahaan. Aliran uang kas (penerimaan dan pengeluaran) digunakan perusahaan untuk mengontrol dan mengelola kebutuhan uang tunai sehingga tidak ada kekurangan dana untuk operasional atau kelebihan uang tersimpan yang tidak produktif. Rumusan aliran kas sebagai berikut:

Penerimaan – Pengeluaran = Surplus/ defisit

(20)

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT

Kegiatan bimbingan teknis kepada pelaku usaha perikanan di wilayah pesisir ini bertujuan :

1. Meningkatkan motivasi berwirausaha, pengetahuan dan jiwa wirausaha para pelaku usaha perikanan

2. Meningkatkan kemampuan pembukuan usaha

3. Meningkatkan kemampuan/strategi kelompok usaha perikanan untuk mendapatkan bantuan permodalan

4. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan manajemen usaha terutama manajemen pemasaran

Sedangkan manfaat yang diharapkan dari kegiatan bimbingan teknis ini adalah :

1. Ketersediaan data yang mampu menggambarkan kondisi operasional dan keuangan perusahaan.

2. Pengembangan usaha perikanan yang akuntable dan bankable sehingga mampu mendorong pelaku usaha untuk memperluas usahanya.

3. Peningkatan potensi pemodalan melalui pengajuan modal dari pihak eksternal, baik lembaga keuangan maupun investor.

(21)

BAB IV.

METODE PELAKSANAAN 4.1. Khalayak Sasaran

Khalayak sasaran dalam kegiatan ini adalah beberapa pelaku usaha perikanan (nelayan, pembudidaya ikan dan pengolahan hasil perikanan) dan para stakeholder terkait pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir. Kelompok sasaran ini nantinya diharapkan berfungsi sebagai motivator bagi pelaku usaha perikanan lainnya untuk melakukan manajemen usaha dengan baik dan benar.

4.2. Waktu dan Tempat Kegiatan

Bimbingan teknis Manajemen Usaha merupakan bagian dari Kegiatan Bimbingan Teknis Kemitraan Program Dit. PMPPU Untuk Meningkatkan Kualitas SDM di Sumatera Utara yang dilaksanakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 19 – 20 Mei 2014, bertempat di Hotel Sumatera Utara (Surat Permintaan Narasumber dan Surat Tugas disajikan pada Lampiran 3).

4.3. Metode Pengabdian 1) Ceramah

Metode ini dipilih untuk menyampaikan teori dan konsep-konsep yang sangat prinsip dan penting untuk dimengerti serta dikuasai oleh peserta pelatihan. Materi yang diberikan meliputi:

manajemen pengelolaan usaha (manajemen produksi, pemasaran dan keuangan), dasar-dasar pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan baik laporan laba rugi, neraca, dan arus kas.

2) Demonstrasi

(22)

Demonstrasi ini dilakukan oleh pelaksana untuk memberikan contoh bagaimana mencatat transaksi usaha dan menyusun laporan keuangan secara sederhana.

4.4. Keterkaitan

Instansi yang terkait dalam kegiatan pengabdian ini adalah Pemerintah Daerah dalam rangka pembinaan dan pemberdayaan masyarakat pesisir, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara.

4.5. Rancangan Evaluasi

Evaluasi pengabdian dilakukan terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta dalam menyusun catatan transaksi usaha, laporan keuangan (laporan rugi laba dan neraca) dinyatakan dalam bentuk persen (%) yang melakukan dibandingkan dengan total peserta bimbingan teknis.

(23)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Pelaksanaan Kegiatan

Bimbingan teknis manajemen usaha untuk kegiatan perikanan dan kelautan pelaksanaannya dibagi dalam 2 (dua) sesi. Tempat pelaksanaan kegiatan adalah di Hotel Grand Aston, Grand City Hall Medan. Kegiatan diikuti oleh 20 orang terdiri dari pelaku usaha perikanan (nelayan, pembudidaya dan pengolahan hasil perikanan), baik perorangan maupun perwakilan kelompok, serta para stakeholder terkait pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir. (Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas UMKM dan Koperasi), dan unsur perguruan tinggi. Adapun perincian dari kegiatan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Materi Bimbingan Teknis Manajemen Usaha Perikanan

Materi Media Metode

Aspek-aspek pengelolaan usaha Makalah Ceramah

a) Manajemen produksi Tanya

b) Manajemen keuangan jawab

c) Manajemen pemasaran Studi

kasus

a) Manajemen keuangan bagi usaha Makalah Ceramah

Perikanan Buku Kas Tanya

Pengenalan akun Buku Pembelian Tunai jawab Pencatatan transaksi Buku Pembelian Kredit Demon- Penyusunan laporan keuangan Buku Penjualan Tunai strasi

(24)

(neraca, laba rugi, arus kas) Buku Penjualan Kredit Latihan b) Praktik pencatatan transaksi usaha, Buku Piutang

praktik penyusunan laporan Buku Utang Komputer keuangan (laporan rugi laba,

neraca,

arus kas) secara manual

5.2. Hasil Evaluasi Pengetahuan Khalayak Sasaran

Hasil kegiatan bimbingan teknis yang telah dilaksanakan secara garis besar mencakup beberapa komponen, yaitu keberhasilan ketercapaian target materi yang telah direncanakan, ketercapaian tujuan pelatihan dan kemampuan peserta dalam penguasaan materi. Ketercapaian target penguasaan materi, semua peserta dapat mengikuti seluruh proses pelatihan dari awal sampai selesai, dan kegiatan yang dirancang 100% terlaksana. Target penyampaian materi pelatihan juga tercapai karena materi dapat disampaikan secara keseluruhan. Dengan demikian maka tujuan kegiatan bimbingan teknis dapat terpenuhi.

Penguasaan kompetensi peserta pelatihan dievaluasi melalui praktik secara berkelompok.

Sebagian besar (70%) peserta pelatihan telah mengetahui dan mampu menjelaskan pentingnya pencatatan transaksi dalam usaha. Sebanyak 10 orang (50%) telah mampu melakukan pencatatan transaksi usaha dan 5 orang (25%) telah melanjutkan dengan penyusunan laporan keuangan (laporan rugi laba dan neraca). Selain itu peserta juga telah berusaha memanfaatkan informasi dari laporan keuangan tersebut untuk melakukan proyeksi usaha di masa depan.

Umumnya manajemen usaha yang dilakukan pelaku usaha perikanan di wilayah pesisir masih mengandalkan jaringan pemasaran yang konvensional (jaringan pasar tradisional, pembeli tetap). Kondisi ini menyebabkan skala pemasaran produk dan keuntungan yang diterima

(25)

produsen masih terbatas. Padahal potensi pasar produk perikanan masih terbuka luas, terutama bagi pelaku usaha yang mampu mengelola usaha dengan menjalankan perencanaan dan strategi pemasaran yang tepat yaitu (1) pengumpulan informasi pasar untuk mengetahui tipe produk, ukuran, jumlah, harga, waktu, mekanisme distribusi, dan pelayanan terhadap konsumen; (2) bauran pemasaran : 4P (product, price, place, promotion); (3) daur hidup produk: perkenalan pasar, pertumbuhan pasar, kematangan pasar, dan penurunan penjualan; (4) mempertahankan dan memperpanjang tahap kematangan pasar: menjaga kontinuitas suplai, perluasan pasar, diversifikasi produk, dan pengembangan produk value added.

Peserta bimbingan teknis memiliki kemampuan di bidang manajemen usaha, sehingga dalam menjalankan usahanya dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang benar. Dengan mendapatkan pelatihan manajemen usaha, para peserta (pelaku usaha perikanan) mendapatkan pengetahuan bagaimana menjaga motivasi dalam menjalankan usaha, bagaimana cara mengidentifikasi serta mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi, bagaimana menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, bagaimana memberikan kepercayaan untuk bisa mendapatkan bantuan modal, bagaimana mengelola usaha yang baik, serta kiat-kiat penjualan/pemasaran yang baik; sehingga dengan kemampuan tersebut, para pelaku usaha perikanan menjadi lebih termotivasi untuk terus menjalankan dan mengembangkan usahanya di bidang usaha perikanan.

(26)

5.3. Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat

Faktor pendorong dalam kegiatan ini adalah besarnya kemauan pelaku usaha perikanan untuk mengembangkan usaha. Beberapa usaha perikanan (UMKM) yang dikelola secara kelompok memudahkan dalam proses adopsi inovasi, dimana peranan ketua kelompok cukup kuat dalam mengarahkan kelompok untuk mencapai hasil optimal.

Faktor penghambat dalam mencapai tujuan bimbingan teknis adalah masih beragamnya pengetahuan dan kemampuan peserta dalam memanajemen usaha sehingga dibutuhkan bimbingan teknis manajemen usaha tahap lanjutan secara intensif.

(27)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Peserta bimbingan teknis memiliki motivasi yang cukup baik untuk mengetahui dan menguasai manajemen yang baik dalam upaya pengembangan usahanya. sebagian besar peserta telah mengetahui dan mampu menjelaskan pentingnya pencatatan berbagai transaksi dalam usahanya. Sekitar 50% peserta telah telah mampu melakukan pencatatan transaksi usaha dan 5 orang (25%) telah melanjutkan dengan penyusunan laporan keuangan (laporan rugi laba dan neraca), serta memanfaatkan informasi keuangan tersebut untuk melakukan proyeksi usaha di masa mendatang. Kemampuan penyusunan laporan keuangan ini diharapkan dapat lebih dikembangkan untuk penyusunan usulan investasi, baik investasi yang bersumber dari program hibah pemerintah untuk kelompok usaha (program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir) maupun dana investasi untuk perorangan (koperasi, perbankan dan lembaga keuangan). Selain itu, potensi pasar yang masih cukup besar maka pengembangan usaha perikanan di wilayah pesisir dapat dilakukan melalui perluasan skala pemasaran produk terutama bagi pelaku usaha yang mampu mengelola usaha dengan menjalankan perencanaan dan strategi pemasaran yang tepat.

6.2. Saran

Dalam rangka pengembangan usaha perikanan melalui penerapan manajemen agribisnis maka pelaku usaha perikanan harus : (1) menjaga motivasi dalam menjalankan usaha; (2) kemampuan mengidentifikasi serta mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi; (3) menjalin kerjasama dengan berbagai pihak; (4) memberikan kepercayaan untuk bisa

(28)

mendapatkan bantuan modal; (5) melaksanakan cara mengelola usaha yang baik (perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan); dan (6) memiliki kiat-kiat penjualan/pemasaran yang baik.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen PK2P, 2004. Strategi Peningkatan Konsumsi Ikan di Indonesia. Buku Rencana Unggulan Strategi Peningkatan Konsumsi Ikan di Indonesia. Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran. Departemen Kelautan dan Perikanan, 2004. p. 11 – 14.

Downey, W.D dan S.P. Erickson. 1987. Manajemen Agribisnis. Edisi kedua.

Penerbit Erlangga. pp. 516.

Effendi, I dan W. Oktariza. 2006. Manajemen Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta.

pp. 164

Griffin, R.W. dan R.J. Ebert. 2001. Pengantar Bisnis. Edisi Bahasa Indonesia.

Prenhalindo. Jakarta.

Kamiso H.N., 2002. Pemberdayaan Masyarakat Lokal dan Kelembagaan dalam Eksplorasi Sumberdaya Wilayah Pantai dan Laut Menuju Otonomi Daerah. Departemen of Marine Affair and Fisheries Republic of Indonesia. GEO Cities. Co.Id.

Kieso, D.E., Weygandt, J. Jerry., dan Terry D.W. 2002. Akuntansi Menengah.

Edisi Kesepuluh. Erlangga. Jakarta.

Kotler, P. 2004. Dasar-Dasar Pemasaran. Jilid I. Prenhallindo. Jakarta.

Purnomo, A.H., Reswati, E., Hikmah, Hikamayani, Y., 2003. Pengembangan Industri Perikanan di Kawasan Berperanan Ekologis Penting. Laporan Teknis Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Tahun 2003.

Sofia, L.A. 2010. Analisis Kebutuhan Modal Usaha Nelayan Dalam Industri Pengolahan Perikanan di Kecamatan Takisung. Jurnal Ziraa’ah. 29 (3): 219 – 227.

(30)

Zamroni, A., dan Purnomo, A.H., 2005. Identifikasi Kebutuhan Modal Usaha Berskala Kecil dan Menengah Dalam Industri Pengolahan Perikanan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 11; 3 : 41 – 50.

Gambar

Tabel 1. Materi Bimbingan Teknis Manajemen Usaha Perikanan

Referensi

Dokumen terkait

Adversity Quotient (AQ) menginformasikan pada individu mengenai kemampuannya dalam menghadapi keadaan sulit (adversity) dan kemampuan untuk mengatasinya, meramalkan individu yang

Hipotesis ketiga dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara motif penggunaan (Z), intensitas penggunaan (X), dan kepuasan (Y) yang

Rencana kegiatan lanjut dari pembuatan Katalog Gunng api ini adalah sosialisasi dan peatihan kepada masyarakat secara intens tentang bagiamana memanfaatkan potensi sekitar

Namun pada kenyataannya seringkali pada kasus tindak pidana sering kali ketika dimintakan penyidik untuk dibuatkan visumnya, korban menolak dengan berbagai alasan

Metode pelaksanaan kegiatan melalui siaran radio RRI Medan pada acara dialog interaktif isu Aktual Lintas Medan Pagi , dengan Topik “Adakah Pilihan untuk Jenazah

Kegiatan pengabdian masyarakat di RSUPH Adam Malik Medan dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2020, kegiatan yang dilaksanakan meliputi penyuluhan kesehatan bidang forensic dengan

Meningkatkan mitra pengabdian ini tidak hanya kepada guru-guru saja tetapi juga para siswa dan mahasiswa agar dapat lebih luas memanfaatkan metode membaca SQ3R

Kelompok yang menjadi target sasaran penyuluhan adalah mahasiswa program pendidikan profesi dokter (P3D) FK.Universitas Malahayati Lampung yang sedang menjalani pendidikan