• Tidak ada hasil yang ditemukan

lembaga negara, badan negara, atau organ negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "lembaga negara, badan negara, atau organ negara"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pengertian Lembaga

Negara

Menurut Kamus Hukum Fockema yang diterjemahkan oleh Saleh Adiwinata dkk, kata “organ”

diartikan. Sebagai berikut:

“Organ adalah perlengkapan. Alat perlengkapan adalah orang atau majelis yang teridiri dari orang- orang yang berdasarkan undang-undang atau anggatan dasar wewenang mengemukakan dan

merealisasikan kehendak badan hukum”

Bahasa Inggris Political Institution

Bahasa Belanda Staat Organen

Bahasa Indonesia lembaga negara, badan negara, atau organ negara

Hans

Kelsen

Whoever fulfills s function determined by the legal order is an organ Siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh suatu tata-hukum (legal order) asalah suatu organ

(3)

KONSEP NEGARA HUKUM

Konsep Negara merupakan gagasan yang pertama kali diungkapkan oleh Plato dalam bukunya yang berjudul “Nomoi”. Di dalam buku ini Plato mengungkapkan bahwa penyelenggaraan negara yang baik adalah berdasarkan pada pengaturan (hukum) yang baik.

Gagasan ini semakin tegas ketika didukung oleh muridnya, Aristoteles yang menuliskannya dalam buku Politicia.

namun gagasan ini masih bersifat samar dan tenggelam dalam waktu yang lama, kemudian muncul kembali secara lebih eksplisit pada abad ke-19 yaitu dengan munculnya konsep Rechtsstaat dari Freiderich Julius Stahl yang diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant dan pada wilayah Anglosakson, muncul pula konsep nagara hukum rule of law oleh AV Dicey.

Konsep negara hukum mengalami pertumbuhan menjelang abad XX yang ditandai dengan lahirnya konsep negara hukum modern (welfarestate), dimana tugas negara sebagai penjaga malam dan kemananan mulai berubah. Konsepsi

nachwachterstaat bergeser menjadi welvarstaat. Negara tidak boleh pasif tetapi harus aktif turut serta dalam kegiatan masyarakat, sehingga kesejahteraan bagi semua manusia terjamin.

(4)

Menurut Bagir Manan

Konsepsi negara hukum modern merupakan perpaduan

antara konsep negara hukum dan negara kesejahteraan. Di

dalam konsepsi ini tugas negara atau pemerintah tidak

semata-mata sebagai penjaga keamanan atau ketertiban

masyarakat saja, tetapi memikul tanggungjawab mewujudkan

keadilan sosial, kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat.

(5)

NEGARA HUKUM

PASAL 1 AYAT 3 UUD NRI 1945 “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”

Menurut Julius Stahl terdapat empat elemen penting dalam negara hukum (rechtsstaat)

1. Perlindungan hak asasi manusia

2. Pembagian atau pemisahan kekuasaan (pembatasan kekuasaan)

3. Pemerintah berdasar undang-undang

4. Peradilan tata usaha negara

(6)

Montesquieu

1. Kekuasaan Eksekutif 2. Kekuasaan Legislatif 3. Kekuasaan Yudikatif John Locke

1. Kekuasaan Eksekutif 2. Kekuasaan Legislatif 3. Kekuasaan Federatif

(7)

3 Cabang Kekuasaan Negara Monstesquieu

Presentation Title Here 7

• Kekuasaan Legislatif

• Kekuasaan yang berwenang membuat undang-undang (kekuasaan

perundang-undangan)

• Kekuasaan Eksekutif

• Kekuasaan yang melaksanakan atau mempertahankan undang-undang

• Kekuasaan Yudikatif

• Kekuasaan yang mempunyai wewenang kehakiman

Menurut Monstesquieu ketiga kekuasaan tersebut masing-masing terpisah satu sama lain, baik mengenai tugas (functie) maupun alat kelangkapan (orgaan). Sehingga teori Trias Politika menganut Doktrin Pemisahan Kekuasaan (separation of power) dengan prinsip check and balances

(8)

Pemikiran Monstesquieu ini memiliki pengaruh terhadap konsep kelembagaan negara di negara-negara di dunia.

bagaimana dengan Indonesia?

Sebelum perubahan UUD 1945, kelembagaan negara di Indonesia

menganut paham pembagian kekuasaan (distribution of power) yaitu

pembagian kekuasaan bersifat vertikal ke bawah kepada lembaga-lembaga

tinggi negara di bawah lembaga pemegang kedaulatan rakyat.

(9)

Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 (sebelum perubahan)

“ Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”

MPR

DPR PRESIDEN, DPA

Lembaga tinggi

KEHAKIMAN

Lembaga tertinggi

lembaga tinggi Lembaga tinggi

(10)

LEMBAGA NEGARA

PASCA PERUBAHAN UUD 1945

MPR DPR DPD

LEMBAGA KEPRESIDE

NAN

MA, MK DAN KY

LEMBAGA LEGISLATIF LEMBAGA EKSEKUTIF LEMBAGA YUDIKATIF

Lembaga-lembaga negara tersebut mempunyai kedudukan yang sama sebagai lembaga tinggi negara atau lembaga utama (the main organ). Sehingga lembaga tersebut menjalankan fungsi Check and Balances karena adanya pemisahan kekuasaan negara (sparation of power)

(11)

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

PASAL 2 UUD 1945

 MPR terdiri atas anggota-anggota DPR dan DPD

 MPR bersidang sekali dalam 5 tahun

 Putusan MPR ditetapkan dengan suara terbanyak

Wewenang MPR

1. Mengubah dan menetapkan UUD;

2. Melantik Presiden dan Wakil Presiden;

3. memutuskan usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya, setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum ;

4. memilih Wakil Presiden dari 2 (dua) calon yang diusulkan oleh Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya; dan

5. memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, dari 2 (dua) pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon presiden dan wakil presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya.

1

(12)

RUJUKAN: UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH jo. UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG

PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

2. Tugas MPR

1. memasyarakatkan ketetapan MPR;

2. memasyarakatkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika;

3. mengkaji sistem ketatanegaraan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta pelaksanaannya; dan

4. menyerap aspirasi masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(13)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Wewenang

a. membentuk undang-undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama;

b. memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang diajukan oleh Presiden untuk menjadi undang-undang;

c. membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPD yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden;

d. memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang- undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama; (diubah menjadi membahas rancangan undang-undang yang diajukan DPD mengenai otda, hubungan pusat dan daaerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, SDA, perimbangan keuangan pusat dan daerah)

e. membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden;

f. membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD atas pelaksanaan undang- undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama;

g. memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang dan membuat perdamaian dengan negara lain;

1

(14)

h. memberikan persetujuan atas perjanjian internasional tertentu yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang;

i. memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti dan abolisi;

j. memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan menerima penempatan duta besar negara lain;

k. memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD;

l. memberikan persetujuan kepada Presiden atas pengangkatan dan pemberhentian anggota Komisi Yudisial;

m. memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial untuk ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden; dan

n. memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden untuk

diresmikan dengan keputusan Presiden

(15)

a. menyusun, membahas, menetapkan, dan menyebarluaskan program legislasi nasional;

b. menyusun, membahas, dan menyebarluaskan rancangan undang-undang;

c. menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;

d. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, APBN, dan kebijakan pemerintah;

e. membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang disampaikan oleh BPK;

f. memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan terhadap perjanjian yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara;

g. Menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat; dan h. melaksanakan tugas lain yang diatur dalam undang- undang.

Tugas DPR 2

(16)

Fungsi DPR 3

Fungsi Legislasi

dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan membentuk undang-undang.

Fungsi Pengawasan

dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden.

Fungsi Anggaran

dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN.

(17)

 INTERPELASI Hak DPR

hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengenai kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 HAK ANGKET

hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

 HAK MENYATAKAN PENDAPAT

hak DPR untuk menyatakan pendapat atas

1. kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional;

2. indak lanjut pelaksanaan hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (3); atau

3. dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum

4

(18)

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) Wewenanga dan Tugas (pasal 22D UUD)

a. mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, Pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah kePada DPR;

b. ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan hal sebagaimana dimaksud dalam huruf.a;

c. menyusun dan menyampaikan daftar inventaris masalah rancangan undang-undang yarrg berasal dari DPR atau Presiden yang berkaitan dengan hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a;

d. memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan Pajak, Pendidikan, dan agama;

e. dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan surnber daya alarn, dan sumber daYa ekonomi lainnYa, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama;

1

(19)

f. menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daYa ekonomi lainnYa, pelaksanaan undang-undang APBN, pajak, pendidikan, dan agama kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti;

g. menerima hasil pemeriksaan atas keuangan negara dari BPK sebagai bahan membuat pertimbangan kepada DPR tentang rancangan undang-undang yang berkaitan dengan APBN;

h. memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota BPK;

i. menyusun program legislasi nasional yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, Pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah; dan

j. melakukan pemantauan dan evaluasi atas rancangan peraturan daerah dan

peraturan daerah.

(20)

HAK DPD 2

 mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;

 ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah;

 memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pembahasan rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;

 melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang- undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.

(21)

Dalam proses legislasi, terdatap dua tingkat pembicaraan yang terdiri atas:

a. pembicaraan tingkat I dalam rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat Badan Legislasi, rapat Badan Anggaran, atau rapat panitia khusus;

dan

b. pembicaraan tingkat II dalam rapat paripurna DPR yaitu pengambilan keputusan

;

Dalam pembicaraan tingkat II inilah DPD tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, meskipun Rancangan Undang-Undang tersebut berasal dari DPD

(22)

Implikasi Putusan MK Nomor 92/PUU-X/2012, MK memutuskan

a. DPD setara dengan DPR dan Presiden dalam mengajukan RUU yang berkaitan dengan daerah;

b. Hak/kewenangan DPD sama dengan DPR dan Presiden dalam membahas RUU.

c. DPD ikut menyusun Program Legislasi Nasional

d. DPD memberikan pertimbangan atas RUU APBN dan DPR serta Presiden wajib meminta pertimbangan DPD atas RUU APBN.

Sumber: Fajar Laksono, Anna Triningsih, Ajie Ramdan dan Indah Karmadaniah “Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU-X/2012 Terkait Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah dalam Pembentukan UndangUndang” Jurnal Konstitusi, Vol. 12 No. 3 Tahun 2015

(23)

Implikasi dari putusan MK No.92/PUU-X/2012 adalah DPD menjadi

setara dengan DPR dan Presiden di bidang legislatif. Sehingga DPD

berwenang mengajukan RUU yang akan dibahas dan ditanggapi oleh

DPD dan Presiden. DPD juga ikut membahas, mempertimbangkan

dan memberi persetujuan terhadap RUU yang diajukan oleh DPR atau

Presiden. DPD terlibat dalam penyusunan Prolegnas dan Daftar

Inventarisasi Masalah (DIM) diajukan oleh masing-masing lembaga

negara (DPR, DPD, Pemerintah).

(24)

 Berdasarkan uraian di atas, Tugas dan wewenang DPR jauh lebih banyak dibandingkan dengan DPD. Terlebih dalam proses legislasi, DPD tidak diikutkan dalam pembicaraan tingkat II untk mengambil keputusan.

Sehingga telah terjadi subordinat atau ketidakseimbangan antara wewenang DPR dan DPD yang menimbulkan tidak terjadinya check and balances.

 Keterlibatan Presiden dalam pembentukan peraturan perundang-undangan mengindikasikan bahwa konsep Trias Politica tidak relevan lagi. Karena tidak mungkin mempertahankan bahwa ketiga organisasi kekuasaan tersebut hanya berurusan secara eksklusif dengan salah satu dari ketiga fungsi kekuasaan

(25)

Bentuk Sistem Kamar

Parlemen

Dimana dalam kamar parlemen hanya diisi oleh satu lembaga legislatif

Dimana dalam kamar parlemen diisi oleh dua lembaga legislatif

Unikameral

BIikameral

(26)

Di banyak negara, dua kamar parlemen dalam sistem bikameral itu terdiri dari

Majelis Rendah (Lower House) dan Majelis Tinggi (Upper House). Di beberapa negara, Majelis Rendah biasanya diberi wewenang mengambil prakarsa mengajukan rencana anggaran dan pendapatan negara, sedangkan Majelis Tinggi berperan pembuatan dan perumusan kebijaksanaan luar negeri.

Ni’matul Huda

Pada prinsipnya kedua kamar majelis dalam sistem bikameral itu memiliki kedudukan yang sederajat. Sau sama lain tidak saling membawahi baik secara politik maupun secara legislatif . Undang-undang tidak dapat ditetapkan tanpa persetujuan bersama yang biasanya dilakukan oleh suatu panitia bersama ataupun melalui sidang gabungan di antara kedua majelis itu.

Hal ini tercermin pada sistem bikameral di Amerika Serikat dimana Upper House diwakili oleh House of Representatives (DPR) yang mewakili seluruh rakyat dan Lower House diwakili oleh senate yang merepresentasikan negara bagian.

(27)

bagaimana bentuk parlemen Indonesia ?

Bagir Manan

Salah satu konsekuensi gagasan dua kamar (terdiri dari DPR dan DPD), perlu nama badan perwakilan yang mencerminkan dua unsur perwakilan tersebut, seperti Congress sebagai nama badan perwakilan yang terdiri dari Senate dan House of Representative. Nama yang digagaskan untuk badan perwakilan dua kamar di Indonesia adalah tetap menggunakan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Sebagai konsekuensi penggunaan nama MPR sebagai nama sistem dua kamar, maka MPR tidak lagi menjadi suatu lingkungan jabatan ( lingkungan kerja tetap sendiri) yang memiliki lingkungan wewenang sendiri.

Wewenang MPR (baru) melekat pada wewenang DPR dan DPD, atau seperti dalam UUD Amerika Serikat dan lain-lain negara dengan sistem dua kamar yang ditentukan adalah wewenang Congres, Parliement, Staten General yang pelaksanaannya dilakukan oleh kamar-kamar perwakilannya.

Bicameral? Soft Bicameral? Strong Bicameral? Atau Tricameral?

Referensi

Dokumen terkait

*) Semua dokumen adalah softcopy dari dokumen asli atau fotocopy legalisir (discan dalam bentuk JPEG maksimal ukuran 1000 kb/1 MB) yang diunggah di akun

[r]

Pada setiap tahap kegiatan perlu dilakukan pengendalian, sebab apabila terjadi penyimpangan aka lebih cepat diadakn tindakan koresi. Proses pengendalian mencatat perkembangan

tipe group investigation terhadap hasil belajar matematika materi invers matriks. siswa kelas X Akuntansi SMK Negeri

Kotak yang lebih rendah sedikit daripada aktiviti langkah 1 digunakan. Segala perlakuan dan aktiviti adalah seperti dalam langkah 1. Pelajar dikehendaki dan diarahkan untuk

Sebaliknya, hubungan antara nilai tukar dollar terhadap rupiah bisa saja berpengaruh positif bila investor berasal dari luar negeri dan menggunakan mata uang asing

◉ Inverted index adalah sebuah struktur data index yang dibangun untuk memudahkan query pencarian yang memotong tiap kata (term) yang berbeda dari suatu daftar

Untuk dapat menciptakan program acara yang berkualitas dan dapat diterima oleh pemirsa, sebuah stasiun televisi harus mampu membaca tren, isu dan polemik yang