8 BAB II
TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian Setiyawan et.al (2014), meneliti tentang pengaruh Current Ratio, Inventory Turnover, Time Interest Earned dan Return On Equity terhadap harga saham. Objek penelitian ini adalah Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Konsumsi yang Terdaftar Di BEI Periode 2009-2012. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa variabel Current Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, variabel Inventory Turnover berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham, variabel Time Interest Earned berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, sedangkan variabel Return On Equity juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.
penelitian tersebut menggunakan teknik analisis Uji Asumsi Klasik, Regresi Linier Sederhana dan Regresi Linier Berganda.
Untuk penelitian yang dilakukan oleh Tumandung, et.al (2017), meneliti tentang Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham. Objek penelitian ini adalah Perusahaan Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di BEI Periode 2011- 2015. Penelitian tersebut menggunakan variabel Kinerja Keuangan yang diukur dengan Current Ratio, Return On Equity, Deb To Equity Ratio, Total asset Turnover berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil dari penelitian ini menunjukkan Return On Equity, Deb To Equity Ratio secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan Current Ratio, Return On Equity, Deb To Equity Ratio, Total asset Turnover secara simultan berpengaruh terhadap
harga saham. penelitian ini menggunakan metode analisis uji t dan Uji F.
Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Ratri et.al (2015), meneliti tentang Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham. objek penelitian ini adalah Perusahaan Tekstil Dan Produk Tekstil (TPT) yang Terdaftar di Bursa Efek Indnesia (BEI) Tahun 2009-2014. Penelitian ini mengukur variabel Kinerja Keuangan peneliti menggunakan Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Inventory Turnover, Price Earning Ratio. Hasil penelitian membuktikan Debt To Equity Ratio dan Return On Equity secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham, Inventory Turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, sedangkan Current Ratio, Price Earning Ratio tidak berpengaruh pada harga saham. Penelitian ini meggunakan metode analisis regresi acak data panel.
B. Landasan Teori 1. Signaling Theory
Isyarat atau signal adalah suatu tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Menurut T.C Melewer (2008), teori signal suatu perusahaan akan memberikn signal dengan tindakan maupun informasi. Perusahaan akan menggunakan tindakan atau informasi tersebut untuk pengmbilan keputuan.
Informasi tersebut pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan, atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup perusahaan dan bagaimana efeknya pada perusahaan (Brigham & Houaton, 20011). Kualitas informasi yang dipublikasikan perusahaan
dinilai sangat penting diperlukan oleh investor karena sebagai tolok ukur untuk mengambil keputusan investasi pada perusahaan.
Asumsi dari Signalling theory adalah para manajer perusahaan memiliki informasi yang lebih akurat mengenai perusahaan yang tidak diketahui oleh pihak luar (investor). Hal ini mengakibatkan suatu asimetri informasi antara pihak-pihak yang berkepentinga (Kusumo, 2011). Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka (Investor) melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi asimetris, salah satu caranya adalah memberikan sinyal pada pihak luar.
Pada saat informasi tersebut di sampaikan kepada para pelaku pasar dan para pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, para pelaku pasar telebih dahulu menganalisis dan memastikan kebenaran informasi tersebut sebagai signal yang baik (good news) atau signal buruk (bad news) bagi para pelaku pasar.
Publikasi informasi tersebut baik berupa laporan keuangan maupun laporan non keuangan. Apabila informsi yang diumukan oleh prusahaan tersebut berupa signal baik bagi para pelaku pasar atau investor maka terjadi perubahan peningkatan dalam perdagangan saham. Pengumuman informasi akuntansi memberikan sinal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa medatang (Good news) sehingga investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham, dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui perubahan dalam volume perdagangan saham dalam (Raharjo & Muid, 2013). Publikasi informasi tersebut baik berupa laporan keuangan maupun laporan non keuangan.
2. Saham
Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan individu atau institusi dalam suatu perusahaan. saham adalah tanda kepemilikan perusahaan , kepemilikan saham biasanya disimbolkan dengan saham biasa (Common Stock). Saham juga dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas (Kusumo, 2011). Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Terdapat 2 jenis saham atas hak tagihan (klaim) :
1) Saham Biasa
Saham biasa menunjukkan kepemilikan dalam dalam suatu perusahaan perseroan terbatas, tetapi bagi investor tertentu selembar saham biasa hanyalah selembar kertas yang dibedakan oleh dua ciri berikut:
Ia memberi hak pemiliknya atas sivien, tetapi hanya jika perusahaan memiliki laba yang merupakan sumber dana pembayaran dividen dan hanya jika manajemen meemilih membayar dividen daripada menahan seluruh laba.
Saham dapat dijual ada suatu saat di kemudian hari. Diharapkan dengan harga lebih tinggi daripada harga belinya. Jika kenyataannya saham dijual diatas harga belinya, maka investor akan menerima keuntungan modal.
2) Saham Preferen
Saham preferen (Preferred Stock) adalah hibrida (campuran) saham yang meemiliki kapasitas lebih dari saham biasa pada umumnya. Dividen saham
preferen mirip dengan pembayaran bunga obligasi karena jumlahnya tetap dan umumnya harus dibayar lebih dahulu sebelum pembayaran dividen saham biasa.
Selain itu saham preferen mirip dengan saham biasa dalam hal tidak mempunyai tanggal jatuh tempo dan tidak bisa ditebus; karenanya, itu bersifat abadi atau perpetualis. Sebagian besar saham preferen memberi hak kepada pemiliknya untuk memperoleh pembayaran dividen yang tetap/pasti.
Saham yang baik adalah saham yang pergerakan harganya selalu naik ataupun stabil. Indikator keberhasilan pengelolaan perusahaan dicerminkan melalui harga saham, jika prestasi baik dicapai oleh perusahaan maka para investor atau calon investor banyak yang meminati saham tersebut (Tumandang et.al (2017).
3. Harga Saham
Harga pasar saham adalah market clearing prices yang ditentukan berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran (Tumandang et.al 2017).
Sedangkan harga saham dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:
1) Harga Nominal
Harga yang telah di cantumkan dalam sertifikat sahama yang telah ditetapkan oleh perusahaan (emiten) dalam menentukan nilai setiap lembar saham yang dikeluarkan perusahaan. Besaran harga nominal saham mempunyai arti penting karena deviden minimal sebuah saham ditetapkan dari berdasarkan nilai nominal.
2) Harga Perdana
Harga perdana merrupakan harga pada saat saham tersebut dicatat oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Harga saham didalam pasar perdana biasanya sudah ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan cara tersebut dapat diketahui harga saham emiten akan dijual kepada masyarakat untuk menentukan harga perdana.
3) Harga Pasar
Harga pasar adalah harga jual saham antar investor. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa. Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi, harga ini yang disebut sebagi harga di psar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitnya. Harga yang setiap hari di umumkan di surat kabar atau media adalah harga pasar.
4. Rasio Keuangan
Rasio-rasio keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabungkan angka-angka di dalam atau antara laporan laba rugi dan neraca. Dengan cara ini rasio semacam itu diharapkan pengaruh perbedaan ukuran akan hilang (Hanafi &
Halim, 2016). Analisis rasio perusahaan merupakan sebuah langkah pertama dalam analisis keuangan perusahaan. Suatu rasio mengungkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah yang lainya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya. Analisis rasio dapat menyingkap hubungan dan sekaligus menjadi dasar perbandingan yang menunjukkan kondisi atau kecenderungan yang tidak dapat dideteksi bila kita hanya melihat komponen- komponen rasio itu sendiri.
Pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan ke dalam lima macam kategori menurut yaitu:
1) Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio yang termasuk dalam kategori rasio likuiditas, antara lain: Rasio Lancar dan Rasio Quick (Hanafi
& Halim, 2016).
2) Rasio Aktivitas
Rasio ini melihat pada beberapa aset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas-aktivitas pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif. Berikut rasio-rasio yang termasuk kategori rasio aktivitas: Rasio rata-rata umur piutang, perputaran persediaan, perputaran aktiva tetap, dan perputaran total aktiva. (Hanafi & Halim, 2016).
3) Rasio Solvabilitas
Rasio ini mengukur perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel artinya sebuah perusahaan yang total hutang yang dimiliki lebih besar dibandingkan dengan total aset yang dimiliki.
Rasio iniukur likuiditas jangka panjang dengan memfokuskan pada sisi kanan neraca. Ada beberapa macam rasio yang bisa dihitung: rasio total hutang terhadap total aset, rasio hutang modal saham, rasio Time Interest Earnerd, rasio Fixed Charge Coverage (Hanafi & Halim, 2016).
4) Rasio Profitabilis
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada penjualan aset, dan modal saham tertentu. Ada tiga rasio yang sering dibicarakan, yaitu: Profit Margin, Return On Total Asset (ROA), dan Return On Equity (ROE) (Hanafi & Halim, 2016).
5) Rasio Pasar
Rasio yang terakhir adalah rasio pasar yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku. Sudut pandang pada rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut dari para investor (atau calon investor), meskipun para pihak manajemen juga berkepentingan terhadap rasio-rasio tersebut. Ada beberapa rasio yang bisa dihitung: PER (Price Earning Ratio), Dividend yield, dan pembayaran dividen (Dividend Payout) (Hanafi & Halim, 2016).
5. Inventory Turnover
Inventory Turnover (ITO) atau yang dikenal dengan rasio perputaran persediaan adalah rasio yang mengukur kecepatan rata-rata persediaan bergerak keluar dari perusahaan. Rasio perputaran persediaan ini termasuk dalam kategori Rasio Aktivitas, dimana Rasio ini melihat pada beberapa aset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas-aktivitas pada tingkat kegiatan tertentu (Hanafi & Halim, 2016). ITO berfungsi sebagai informasi bagi manajer maupun bagi investor berkaitan bagaimana perusahaan mengelola dan memutar persediaan untuk dijual. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Hanafi & Halim (2016), perputaran persediaan yang terjadi dalam perusahaan yang semakin tinggi menandakan bahwa perputaran persediaan dalam satu tahun yang semakin tinggi.
Namun sebaliknya, jika perputaran persediaan yang rendah menandakan bahwa perusahaan tersebut terjadi tanda-tanda mis-manajemen seperti pengendalian persediaan dalam perusahaan tersebut kurang efektif. Inventory Turnover (ITO) dapat dirumuskan dibawah ini:
6. Return On Equity
Return On Equity (ROE) adalah rasio yang termasuk dalam kategori Rasio Profitabilitas. Return On Equity (ROE) adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu (Hanafi &
Halim, 2016). Return On Equity (ROE) menggambarkan seberapa baik perusahaan memanfaatkan modal yang diperoleh dari investor. Semakin besar harga saham di pasar ditunjukkan oleh besarnya nilai Return On Equity (ROE), semakin besarnya nilai rasio Return On Equity (ROE) menggambarkan tingginya pengembalian yang akan diterima investor. (ROE) bisa dipecah-pecah ke dalam beberapa komponen yaitu: Return On Assets (ROA) dan Leverage yang disesuaikan. Leverage yang disesuaikan kemudian akan dipecah-pecah lagi ke dalam 2 bagian, yaitu :Common Earning Leverage (Earning Leverage untuk saham biasa) dan Leverage struktur modal (Capital Structure Leverage).
Leverage yang disesuaikan mencerminkan efek penggandaan penggunaan hutang dan saham preferen untuk menaikkan return ke pemegang saham.
Leverage yang disesuaikan merupakan hasil perkalian antara Common Earning Leverage (CEL) dengan Leverage struktur modal (LSM). Common Earning Leverage (CEL) cerminan dari proporsi laba bersih yang akan menjadi hak
pemegang saham biasa dari jumlah total laba bersih operasional. Sedangkan Leverage struktur modal (LSM) mencerminkan sejauh mana aset perusahaan dibiayai oleh saham sendiri. ROE akan semakin besar apabila ROA tinggi atau Leverage yang disesuaikan tinggi (Hanafi & Halim, 2016). Return On Equity (ROE) dapat dirumuskan dibawah ini:
( ) 7. Debt To Equity Ratio
Debt To Equity Ratio digunakan untuk mengukur hutang atau kewajiban yang dimiliki perusahaan dengan modal yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri.
DER merupakan raio yang digunakan untuk menilai berapa besarnya hutang dengan ekuitas. Rasio DER dapat dihitung dengan membandingkan seluruh hutag yang dimiliki oleh perusahaan termasuk hutang lancar perusahaan dengan ekuitas perusahaan. Rasio DER digunakan sebagai acuan untuk mengetahui besarnya dana yang disediakan oleh kreditor kepada perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengetahui setiap rupiah modal perusahaan yang akan dijadikan sebagai jaminan hutang (Kasmir, 2015). Rumus Debt To Equity Ratio sebagai berikut :
( ) ( ) ( ) 8. Current Ratio
Rasio lancar (current ratio) digunakan untuk pengukuran kemampuan suatu perusahaan dalam membayarkan kewajiban dengan menggunakan rasio lancar.
Misalkan suatu perusahaan mempunyai rasio lancar dengan perbandingan 1:1 artinya rasio lancar atau current ratio senilai 100% artinya aktiva lancarnya
memiliki jumlah yang sama untuk membayar semua kewajiban-kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan. Jika nilai Current Ratio atau Rasio Lancarnya lebih dari 100% artinya semakin baik perusahaan dalam melunasi kewajibannya. Menurut kasmir (2015) menyatakan bahwa Current Ratio adalah kemampuan sebuah perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek yang dimiliki oleh perusahaan yang akan jatuh tempo secara keseluruhan. Current Ratio dapat disebut dengan margin of safety (tingkat keamanan) sebuah perusahaan. Rumus Current Ratio sebagai berikut :
( ) ( ) C. Pengembangan Hipotesis
1. Pengaruh Inventory Turn Over Terhadap Harga Saham
Inventory Turnover (ITO) atau yang dikenal dengan rasio perputaran persediaan adalah rasio yang mengukur kecepatan rata-rata persediaan bergerak keluar dari perusahaan (Setiyawan & Pardiman, 2014). Menurut pendapat Hanafi
& Halim (2016), perputaran persediaan perusahaan yang semakin tinggi berarti menandakan semakin tingginya persediaan perusahaan berputar dalam satu tahun dan ini menandakan efektivitas manajemen persediaan. Sebaliknya, jika perputaran persediaan yang rendah menandakan tanda-tanda mis-manajemen misalnya kurangnya pengendalian persediaan yang efektif. Kecepatan perputaran juga menunjukkan beberapa komponen dari aset lancar dengan mudah dan cepat dikonversi menjadi kas melalui penjualan, lancarnya penjualan tersebut mencerminkan akan pengembalian dari investasi tinggi. Inventory Turnover (ITO) yang tinggi mengakibatkan harga saham naik dan sebaliknya jika Inventory
Turnover (ITO) rendah mengakibatkan harga saham rendah. Hipotesis ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ratri (2015), bahwa Inventory Turnover (ITO) berpengaruh terhadap harga saham Perusahaan Tekstil Dan Produk Tekstil (TPT) yang Terdaftar di Bursa Efek Indnesia (BEI) Tahun 2009- 2014.
H1 : Inventory Turnover (ITO) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan Sektor Kimia yang terdaftar di BEI.
2. Pengaruh Return On Equity Terhadap Harga Saham
Return On Equity (ROE) adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu. Semakin besarnya laba yang diperoleh perusahaan atas modal yang dimiliki perusahaan, mencerminkan kesanggupan perusahaan untuk membagikan laba tersebut yang menjadi hak kepada investor. Return On Equity (ROE) menggambarkan seberapa baik perusahaan memanfaatkan modal yang diperoleh dari investor. Semakin besar harga saham di pasar ditunjukkan oleh besarnya nilai Return On Equity (ROE), semakin besarnya nilai rasio Return On Equity (ROE) menggambarkan tingginya pengembalian yang akan diterima investor. Hipotesis ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Setyawan & Pardiman (2014), yang membuktikan ROE berpengaruh terhadap harga saham Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Konsumsi yang Terdaftar Di BEI Periode 2009-2012, Tumandang et.al (2017), yang membuktikan ROE berpengaruh terhadap harga saham Perusahaan Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di BEI Periode 2011-2015, Raharjo & Muid (2013), yang membuktikan ROE berpengaruh terhadap harga saham Perusahaan
yang Tercantum Dalam Indeks LQ45 Periode 2007-2011. Menurut Mamduh &
Halim (2005), menyatakan bahwa semakin tinggi nilai rasio ROE maka menunjukkan laba perusahaan yang tinggi pula. Perusahaan akan memberikan signal positif kepada para investor sebagai gambaran prospek perusahaan pada tahun yang mendatang. Sehingga membuat para investor untuk membeli saham perusahaan dan menanamkan modal perusahaan.
H2 : Return On Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan sektor Kimia yang terdaftar di BEI.
3. Pengaruh Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham
DER adalah rasio perbandingan antara total hutang perusahaan dengan total modal perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio DER pada perusahaan maka menunjukkan semakin tinggi pula modal yang dimiliki perusahaan yang didapatkan pihak eksternal perusahaan (Agung Sugiarto, 2011). Para investor dalam menanamkan modalnya pada suatu perusahaan tidak hanya berorientasi pada laba yang akan didapatkan tetapi juga mempertimbangkan resiko yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dari rasio DER dapat diketahui berapa modal yang dimiliki oleh perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban perusahaan.
Para investor menghindari perusahaan yang memiliki nilai DER yang tinggi karena memiliki tingkat resiko yang tinggi. Yang mempengaruhi nilai DER suatu perusahaan adalah struktur permodalan perusahaan banyak memanfaatkan hutang- hutang terhadap ekuitas perusahaan sehingga dapat mencerminkan bahwa perusahaan tersebut memiliki resiko yang tinggi. Semakin tinggi nilai DER menunjukkan komposisi total hutang jangka pendek maupun jangka panjang
semakin besar dibandingkan modal perusahaan sendiri. Hal ini berpengaruh pada nilai harga saham yang akan membuat harga saham menjadi menurun. (Dina &
Suryana, 2011). Hipotesis tersebut didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Dina & Suryana (2011), yang membuktikan bahwa DER berpengaruh negatif yang signifikan bagi perusahaan emiten pada bidang Food and Beverage yang terdaftar di BEI pada tahun 2009-2011. Tumandang et.al (2017) menyatakan bahwa DER berpengaruh positif terhadap harga saham. Ratri et.al (2015) menyatakan bahwa bahwa DER berpengaruh secara parsial terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Sedangkan menurut Anggrawit (2011) dan Safitri (2013) menyatakan bahwa DER berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan. Berdasarkan teori signal DER membawa kabar yang kurang bagus atau jelek bagi perusahaan karena para investor beranggapan bahwa perusahaan akan memiliki banyak resiko yang membuat para investor tidak tertarik untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. DER dapat menunjukkan pengaruh terhadap banyak kondisi di perusahaan, salah satu resiko yang ditakutkan oleh para investor adalah Divident Payout Ratio (DPR) kepada para pemegang sahaam. Jika nilai DER perusahaan tinggi maka tingkat kemampuan perusahaan dalam membayarkan devidend kepada para pemegang saham akan semakin rendah. Semakin tinggi nilai DER maka menyebabkan harga saham di perusahaan akan semakin rendah dan sebaliknya jika nilai DER dalam perusahaan rendah maka akan membuat harga saham perusahaan naik.
H3 : Debt To Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan manufaktur sektor Kimia yang terdaftar di BEI.
4. Pengaruh Current Ratio Terhadap Harga Saham
Current Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengethui likuidasi suatu perusahaan. CR dapat diketahui dengan membagi aktiva lancar dengan hutang lancar perusahaan. Nilai Current Ratio yng rendah dapat menunjukkan likuiditas dalam perusahaan tersebut buruk dan jika nilai Current Ratio perusahaan tinggi maka likuiditas suatu perusahaan juga baik. Namu tidak semua perusahaan memiliki Current Ratio yang tinggi, likuiditas yang dimiliki baik. Meskipun aktiva lancar perusahaan lebih besar dari pada hutang lancar. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Setiawan & Pardiman, (2014) Current Ratio berpengaruh positif yang signifikan terhadap harga saham pada perusahaan konsumsi yang terdaftar di BEI pada tahun 2009-2012. Dibuktikan dengan adanya perhitungan nilai koefisiensi regresi sebesar 1.676 dan nilai t hitung yang hasilnya lebih besar dari pada t tabel dengan tingkat signifikan 5%. Menurut Tumandang et.al (2017) dan Ratri et.al (2015) menyatakan bahwa CR berpengaruh terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftra di BEI. Menurut Mamdu dan halim (2005) menyatakan bahwa semakin tinggi nilai Current Ratio (CR) pada perusahaan menandakan bahwa perusahaan tereebut mampu membayar semua kewajiban yang dimilikinya dan nilai CR yang tinggi dapat meningkatkan laba perusahaan.
Perusahaan dapat memberikan signal positif terhadap para investor untuk membeli saham-saham perusahaan dan menanamkan modal perusahaan tersebut.
H4 : Current Ratio (CR) berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan manufaktur sektor Kimia yang terdaftar di BEI.
D. Kerangka Fikir
Inventory Turn Over (X1)
Harga Saham (Y) Debt To Equity Ratio (X3)
Return On Equity (X2)
Current Ratio (X4)