1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Autisme di Tengah Masyarakat
Autisme berasal dari kata Yunani “autos” yang berarti self atau diri. Hal ini berarti segala sesuati yang mengarah pada diri sendiri1. Menurut Agus Suryana (2004), autisme merupakan suatu aliran atau paham yang tertarik pada dirinya sendiri. Gulo (1982) menyebutkan autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subjektif diri sendiri daripada kenyataan atau realita kehidupan sehari- hari2
Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada manusia.
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari Kelainan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD)3. Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, autis termasuk gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang.
Dewasa ini bukan merupakan penyakit kejiwaan, melainkan suatu gangguan yang terjadi pada bagian otak sehingga organ tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal. Kerusakan pada otak berpengaruh pada perilaku penyandang autisme sehari-harinya. Gejala-gejala autisme dapat dilihat apabila seorang anak memiliki kelemahan di tiga domain tertentu, yaitu sosial,
1 Rancang Bangun Sistem Informasi Terapi Autisme Dengan Metode Applied Behaviour Analysis (Studi Kasus Sekolah Harapan Bunda Surabaya). Undergraduate thesis, STIKOM Surabaya. 2012
2 http://documents.tips/documents/autism-56265317a2543.html
3 http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/signs.html
2 komunikasi, dan tingkah laku yang berulang4. Biasanya kelemahan tersebut terlihat dari kesulitan anak dalam berinteraksi sosial secara kualitatif , kesulitan dalam berkomunikasi secara kualitatif, menunjukkan perilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan yang terlambat atau tidak normal5.
Jumlah anak pengidap autis di dunia semakin lama semakin banyak seiringnya meningkatnya tingkat kelahiran. Menurut Autism and Developmental Disabilities Monitoring dari Centers for Disease America, tiap tahun prevalensi anak autisme makin meningkat dari tahun ke tahun. Data terakhir menunjukan kejadian autis terakhir meningkat dari 11,3 anak autis per 1000 anak mejadi 14,7 anak autis per 1000 anak. Peningkatan tersebut sebesar 29% .6 Di Amerika Serikat, kelainan autisme empat kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibandingkan anak perempuan dan lebih sering banyak diderita anak-anak keturunan Eropa Amerika dibandingkan yang lainnya.7
Tabel 1.1-1 Data Statistik Prevalensi Anak Autis di Amerika Serikat
Sumber: http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/data.html
4 https://id.wikipedia.org/wiki/Autisme
5 ibid
6 http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/data.html
7 Kogan, Michael D., et al. "Prevalence of Parent-Reported Diagnosis of Autism Spectrum Disorder Among Children in the US, 2007". 2009.
http://pediatrics.aappublications.org/content/124/5/1395.
3 1.1.2 Autisme di Indonesia
Menurut Sutadi (2003), sebelum tahun 1990-an prevalensi ASD pada anak berkisar 2-5 penderita dari 10.000 anak-anak usia dibawah 12 tahun, dan setelah itu jumlahnya meningkat menjadi empat kali lipat. Sementara itu, menurut Kelana dan Elmy (2007) menyatakan bahwa prevalensi ASD di Indonesia berkisar 400.000 anak, laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan perbandingan 4 : 1 (Handojo 2003).8
Pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun di Indonesia. Sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh dunia menurut data UNESCO pada tahun 2011 adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autisme.9
Peningkatan prevalensi anak autis tiap tahun berarti menunjukan kebutuhan peningkatan jumlah kapasitas untuk terapi atau pendidikan bagi anak autis. Menurut Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Ditjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dr.
Mudjito AK, M.Si., jumlah pusat terapi autis center kurang. Saat ini baru ada empat autis center yakni di Malang, Banjarmasin, Pekanbaru dan DKI Jakarta.
Autis center tersebut sudah tidak lagi dapat menampung jumlah peminat baru.10 Berdasarkan data dari Badan Penelitian Statistik (BPS) sejak 2010 dengan perkiraan hingga 2016, terdapat sekira 140 ribu anak di bawah usia 17 tahun menyandang autisme. Hal ini pun diakui oleh Mohamad Nelwansyah, Direktur Eksekutif Rumah Autis, "Perkembangan autisme di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Kalau di awal 2000-an prevalensinya sekira 1:1000
8 Yayasan Pembinaan Anak Cacat. Buku Pedoman dan Pendidikan Autisme (YPAC). Jakarta.
2007. (http://ypac-
nasional.org/download/BUKU%20PENANGANAN%20dan%20Pendidikan%20Autis%20di%20 YPAC%207April.pdf)
9 Kogan, Michael D., et al. "Prevalence of Parent-Reported Diagnosis of Autism Spectrum Disorder Among Children in the US, 2007". 2009.
http://pediatrics.aappublications.org/content/124/5/1395.
10 http://nasional.sindonews.com/read/769144/15/pemerintah-akan-bangun-24-autis-center- 1375638382
4 kelahiran, penelitian pada 2008 menunjukkan peningkatan hingga 1,68:1000 kelahiran.”11
Belum ada angka pasti berapa sebenarnya jumlah anak autisme di Indonesia, namun pemerintah merilis data jumlah anak penyandang autisme bisa berada di kisaran 112 ribu jiwa. Angka tersebut diasumsikan dengan prevalensi autisme pada anak yang ada di Hongkong, yaitu 1,68 per 1000 untuk anak di bawah 15 tahun12.
1.1.3 Kebutuhan Fasilitas Terapi di Yogyakarta
Dengan asumsi pemerintah bahwa prevalensi anak autis (dibawah 15 tahun) Indonesia sama dengan prevalensi autisme pada anak di Hongkong yaitu 1,68 per 1.000 jiwa13, maka jumlah anak autis di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat diketahui.
Tabel 1.1-2 Badan Pusat Statistik: Proyeksi Penduduk menurut Kelompok Umur di D.I. Yogyakarta
Kelompok Umur
Tahun 2012
0-4 213.100
4-9 205.100
10-14 196.900 Total 615.100
Sumber: http://yogyakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/11
Pada tahun 2012, jumlah anak dibawah 15 tahun di Yogyakarta sebesar 615.100 jiwa. Dengan prevalensi autisme pada anak 1,68 per 1.000 jiwa, maka dapat diketahui bahwa terdapat 1.033 jiwa anak yang mengidap autisme.
11 Erika, Kurnia. Autisme di Indonesia Terus Meningkat. April 2015.
http://lifestyle.okezone.com/read/2015/04/02/481/1128312/autisme-di-indonesia-terus-meningkat
12 http://www.jpnn.com/read/2013/04/12/167064/Penderita-Autisme-di-Indonesia-Terus- Meningkat-
13 http://nasional.sindonews.com, opcit.
5 Tabel 1.1-3 Badan Pusat Statistik: Jumlah Penduduk menurut Kabupaten/Kota di
D.I. Yogyakarta
Sumber: http://yogyakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/7
Dari Tabel Jumlah Penduduk menurut Kabupaten/Kota di D.I.
Yogyakarta di atas, dapat disimpulkan bahwa penduduk Kabupaten Sleman memiliki peranan sebesar 31,72% dari total penduduk yang ada di D.I.
Yogyakarta. Demikian dapat diturunkan bahwa jumlah anak autis (dibawah 15 tahun) yang ada di Sleman sebesar 31,72% dari jumlah anak autis (dibawah 15 tahun) yang ada di D.I. Yogyakarta. Sehingga jumlah anak autis yang ada di Sleman adalah 320 anak.
Adapun pemenuhan kebutuhan fasilitas terapi bagi anak autis di Sleman, Yogyakarta, sebagai berikut
Tabel 1.1-4 Daftar Fasilitas Autisme di Sleman
No. Nama Fungsi Alamat Kapasitas
6 yayasan
1. Fajar Nugraha Sekolah Luar Biasa Autistik
Jl. Seturan 2 No.
59, Catur Tunggal Depok, Sleman
(0274-485582)
25 murid, 9 guru
(wawancara penulis)
3. Dian Amanah Sanggar Pendidikan Autisme
Perum Lempongsari B11 Sariharjo - Ngaglik
Sleman–
Yogyakarta
17 murid, 11 guru
4. Sekolah lanjutan Fredofios
Sekolah khusus lanjutan autisme
Jl. Perumnas Gang Indragiri Blok B No. 11, Condong Sari, Condong Csture, Sleman,
Yogyakarta
5 murid, 2 guru
5. Citra Muly Mandiri
Sekolah Luar Biasa
Jl. Anggrek 89 Sambilegi, Maguwoharo, Depok, Sleman
16 murid, 3 guru
6. Samara bunda Sekolah luar biasa
Perum Pilahan asri No. 11/30- 31, Jl.
Gedongkuning Selatan, sleman - 55198
5 murid, 6 guru
7. Rumah Terapi Jl. 40 murid
7
Sahabat autisme Mangkukusuman
GK IV No. 1552 Yogyakarta
(wawancara penulis)
8. Taruna Al- quran
Sekolah autisme
Jl. Nglempong Sari, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581
11 murid (wawancara penulis)
Sumber: http://e-journal.uajy.ac.id/3342/2/1TA12506.pdf dengan penambahan data oleh penulis
Jumlah anak autis di Sleman yang dapat ditampung oleh pusat terapi berjumlah sekitar 119 anak. Hal ini tidak memenuhi kebutuhan yang ada, karena berdasarkan perhitungan, jumlah anak autis yang ada di Sleman sebanyak 320 anak. Hal ini menunjukan adanya urgensi untuk membangun fasilitas terapi autis di Sleman karena jumlah fasilitas terapi yang ada belum dapat memenuhi jumlah kebutuhan anak autis di Sleman.
1.1.4 Sensory Design
Metode disain sensory design merupakan pendekatan disain yang berkonsentrasi untuk mengembangkan keterampilan (skill development) anak autis14. Andrei Pomana (2004) menyatakan bahwa dengan mengaplikasikan terapi pada usia dini dan berkonsentrasi pada kulitas dan kuantitas terapi, maka anak autis akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk terintegrasi dalam aktivitas selayaknya anak non-autis.
Menurut Pomana, karena pengidap autis memiliki hambatan dalam perilaku sosial, akan lebih mudah bagi mereka untuk belajar secara langsung bagaimana berinteraksi dengan sesama daripada diajari bagaimana cara untuk berinteraksi
14 Pomana, Andrei. Architecture For Autism. Improving Designs For Autistic Integration. 2014.
Halaman 1.
8 dengan non-autis. Hal ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu edukasi dan environment15.
Dalam jurnal Andrei Pomana menyatakan, isu sensori yang dimiliki oleh penderita autis harus di perhatikan. Isu tersebut harus dimasukan kedalam model dan dijadikan pertimbangan dalam model ketika merencanakan lingkungan buatan bagi penderita autis agar dapat mengakomodasi defisiensi visual dan motorik mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merancang ruang yang dapat memberikan comfort dan security bagi penderita autis.
1.1.4.1 Keberhasilan multy sensory environment
Ruang lingkungan multi sensori (multy sensory enviroment), dirancang dengan instalasi yang memprofokasi dan menyediakan stimulus sensor indera penciuman, pendengaran, peraba, perasa, dan penglihatan pengidap autisme untuk mencerna dan merespon terhadap stimultan. Ruangan ini merupakan ruangan sensorial dan lingkungan yang interaktif16. Contoh multi sensory environmet adalah Ruang Snoezelen.
Perancangan ruang ini bertujuan untuk menyediakan stimulasi sensor yang disediakan dalam frekuensi, intensitas, dan durasi yang dibutuhkan yang meningkatkan aktivitas otak yang mengarah pada perbaikan organisasi pada otak yang menghasilkan peningkatan aktifitas pembelajaran dan fungsional otak17. Penelitian yang dilakukan oleh Michael Bauer, Ph.D dan Jo-Anne Rayner, Ph.D bersama ilmuan lainnya di Australia, menghasilkan konklusi bahwa kelompok orang yang memiliki defisiensi fungsi otak akan menunjukan bad behaviour yang lebih sedikit ketika diberi sensory environtment treatment daripada kelompok orang yang memiliki defisiensi fungsi otak namun tidak diberi sensory environment treatment.
Dalam pemenelitian ini, keberhasilan diukur dengan berkurangnya bad behaviour atau tidak. Bad behaviour atau perilaku buruk disini berupa restlessnes
15 Ibit, halaman 2
16 Webb, Lindsay. Sensory Modulation: “Snoezelen” in Architecture. Halaman 136.
17 J. Hulsegge dan A. Verheul, Snoezelen: Another World. 1987. Chesterfield, Rompa.
9 (gerakan-gerakan yang dilakukan berulang, terus menerus, dan tanpa tujuan atau yang disebut juga stereotipik) dan wandering (gerakan berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan).
Tabel 1.1-5 Jumlah Orang dan Tipe Bad Behaviour Pada Group yang Mengikuti Sensory Environment Treatment dan yang Tidak Mengikuti Sensory Environment
Treatment
Sumber: http://www.academia.edu/17131720/
Dapat dilihat dalam data hasil penelitian bahwa penderita yang mengidap defisiensi fungsi otak dan menjalani sensory environment treatment memiliki kecenderungan untuk sembuh daripada yang tidak menjalani sensory environment treatment. Pasien yang menunjukan pengurangan bad behaviour tersebut mengikuti sensory environment treatment selama 2 hari per-minggu dalam 12 minggu.
Keberhasilan sensory environtment treatment juga didapatkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Sara H. Gardner, University of Wisconsin-Stout, pada tahun 2009. Penelitian dilakukan dengan cara menempatkan anak autis ke dalam 2 sesi sensory environtment treartment pada sesi treatment B dan C. Sesi A merupakan sesi dimana anak tidak diberi treatment apapun. Kerangka dari penelitian ini adalah dengan menggunakan alur A-B-A-C. Pada sesi A, tidak ada treatment yang dijalankan. Hal ini berupaya untuk menetralisasi perilaku anak, pada sesi B anak kemudian diberi sensory treatment pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi A kembali, untuk menetralisir perilaku anak, dan kemudian diikuti dengan sesi C yaitu sensory treatment kembali.
Keberhasilan sensory environtment treatment ini diukur dengan berkurangnya bad behaviour atau tidak. Bad behaviour atau perilaku buruk disini
10 berupa sikap agresif yang mengganggu anak lain seperti berbicara terlalu keras atau berbicara dengan kata kasar, luapan kemarahan secara tiba-tiba , dan sikap penghindaran terhadap interaksi sosial dengan teman yang lain.
Bagan 1.1-1 Frekuensi Bad Behaviour Anak Autis Selama Mendapatkan Sensory Environment Treatment
Sumber: www2.uwstout.edu/content/lib/thesis/2009/2009gardners.pdf
Dapat dilihat pada bagan, terjadi penurunan frekuensi perilaku buruk rata-rata selama treatment B dan treatment C. Ketika dalam sensory environment treatment B, frekuensi perilaku buruk rata-rata anak menurun dari angka sekitar 1,5 menjadi 0,3 pada minggu ke-11 sampai minggu ke-26. Ketika dalam sensory environment treatment C, frekuensi perilaku buruk rata-rata anak menurun dari angka sekitar 1,2 menjadi 0,85 pada minggu ke-41 sampai minggu ke-51.
Perilaku sosial yang terganggu juga dapat diatasi dengan terapi sensori, menggunakan hewan peliharaan. Menurut penelitian Atsushi Funahashi, Anna Gruebler, Hideki Kadone, dan Kenji Suzuki pada tahun 2013, aktivitas dengan hewan peliharaan dapat mengurangi perilaku sosial yang buruk dan memberi ketenangan serta kebahagiaan yang diukur dengan instensivitas anak autis dalam bersenyum.
11 Penelitian dibagi menjadi 4 sesi, yaitu pre-session (sesi 1) dimana anak autis bersama terapi memasuki ruangan terapi, pre-walk session (sesi 2) dimana anak autis diperkenalkan dengan anjing oleh terapis, dog session (sesi 3) dimana anak autis berinteraksi dengan anjing seperti membelai anjing, memegang dan memeluk anjing, memangku serta bermain dengan anjing, dan yang terakhir post- walk session (sesi 4) dimana sesi ini menjadi persiapan untuk menghentikan interaksi anak dengan anjing dan sesi terapi selesai.
Bagan 1.1-2 Relasi Antara Positive Social Behavior dengan Sesi Terapi Sensori Menggunakan Hewan
Sumber: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23893100
Keberhasilan sensory environtment treatment juga didapatkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Sara H. Gardner, University of Wisconsin-Stout, pada tahun 2009. Penelitian dilakukan dengan cara menempatkan anak autis ke dalam 2 sesi sensory environtment treartment pada sesi treatment B dan C. Sesi A merupakan sesi dimana anak tidak diberi treatment apapun. Kerangka dari penelitian ini adalah dengan menggunakan alur A-B-A-C. Pada sesi A, tidak ada treatment yang dijalankan. Hal ini berupaya untuk menetralisasi perilaku anak, pada sesi B anak kemudian diberi sensory treatment pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi A kembali, untuk menetralisir perilaku anak, dan kemudian diikuti dengan sesi C yaitu sensory treatment kembali.
Keberhasilan sensory environtment treatment ini diukur dengan berkurangnya bad behaviour atau tidak. Bad behaviour atau perilaku buruk disini
12 berupa sikap agresif yang mengganggu anak lain seperti berbicara terlalu keras atau berbicara dengan kata kasar, luapan kemarahan secara tiba-tiba , dan sikap penghindaran terhadap interaksi sosial dengan teman yang lain.
Bagan 1.1-3 Frekuensi Bad Behaviour Anak Autis Selama Mendapatkan Sensory Environment Treatment
Sumber: www.uwstout.edu/content/lib/thesis/2009/2009gardners.pdf
1.2 Identifikasi permasalahan 1.2.1 Permasalahan Umum
Bagaimana merencanakan dan merancang sebuah pusat terapi autis terpadu yang sesuai standard dan dapat mewadahi kegiatan kebutuhan pengidap autis di dalam nya.
Bagaimana merencanakan dan merancang lingkungan buatan yang dapat mengasah skill development anak dan yang dapat mengurangi perilaku buruk (bad behavior) anak autis.
Bagaimana merencanakan dan merancang lingkungan buatan yang sesuai dengan kebutuhan dan perilaku autisme untuk membantu pengembangan kemampuan anak autis.
13 1.2.2 Permasalahan Khusus
Bagaimana menerapkan konsep sensory environment pada pusat terapi agar mengakomodasi devisiensi sensori anak autis
Bagaimana merancang pusat terapi dengan membatasi paparan sensori terhadap penderita autis
Bagaimana merancang pusat terapi dengan memperhatikan tingkat sensitivitas sensori anak autis
1.3 Tujuan dan Sasaran Pembahasan
1.3.1 Tujuan
Mengerti dan memahami kebutuhan terapi anak autis untuk merumuskan macam ruang dengan standard ruang ada, memahami tingkah laku dan sensitivitas sensori anak-anak autis untuk merumuskan organisasi ruang sehingga seusai dengan fitur sensory environment sehingga mampu membantu kesembuhan dan pengembangan skill anak serta mengurangi bad behavior anak.
1.3.2 Sasaran
Perencanaan dan perancangan Pusat Terapi Autisme Fajar Nugraha yang mewadahi fungsi terapi bagi anak pengidap autis dan fungsi layanan lainnya agar dapat memberikan kesembuhan dan pengembangan diri pada anak autis.
Perencanaan dan perancangan ruang yang sesuai dengan standard dan teori arsitektur serta perilaku-psikologis anak autis dengan penerapan sensory environment yang sesuai dengan sensitivitas sensori anak autis.
14
1.4 Lingkup pembahasan
1.4.1 Pembahasan Arsitektural
Pembahasan arsitektural pada penekanan arsitektural meliputi organisasi ruang, elemen-elemen ruang, pembatasan interferensi sensori pada ruangan, serta tata ruang pada pusat terapi dan layanan terpadu autis.
1.4.2 Pembahasan Non Arsitektural
Pembahasan non arsitektural yaitu karakter anak autis, sensitivitas sensori anak autis, jenis dan layanan lainnya yang berkaitan dengan pusat terapi dan layanan terpadu autis.
1.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
Wawancara
Melakukan wawancara baik secara bertemu tatap muka langsung maupun melalui media komunikasi tulis dengan pengelola Lembaga Pendidikan Autis Fajar Nugaraha yang berada di Seturan, Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk mengetahui konsep besar rencana pembangunan Pusat Terapi Autisme Fajar Nugraha yang ada di Sleman, mengetahui konsep serta visi dan misi instansi, mendapat gambaran kebutuhan dari instansi dan juga anak pengidap autis yang tidak disebutkan dalam studi literatur sehingga penulis mendapatkan gambaran untuk kebutuhan instansi dan anak autis.
Observasi
Melakukan pengamatan dan pendataan dengan proses survey atau peninjauan secara langsung pada instansi dan lokasi yang terkait.
Pengamatan dan pendataan mengenai perilaku anak-anak autis juga dilakukan di Lembaga Pendidikan Autis Fajar Nugraha. Observasi dilakukan agar dapat mengetahui dan mendapat gambaran mengenai
15 aktivitas kehidupan sehari-hari yang ada di Lembaga Pendidikan Autis Fajar Nugraha baik dari aktivitas belajar dan terapi anak maupun aktivitas pengelola dan guru.
Studi literatur
Melakukan studi literatur dari jurnal-jurnal ilmu psikologi, jurnal hasil penelitian, peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah, yang berkaitan dengan autisme dan sensory environment atau sensory design, serta teori yang berhubungan perilaku anak autis yang berhubungan dengan aspek arsitektural.
Studi kasus
Melakukan pengamatan dan pendataan serta komparasi terhadap fasilitas-fasilitas autisme yang ada baik secara langsung datang ke lokasi yang ada di Yogyakarta maupun secara tidak langsung melalui dokumentasi-dokumentasi media internet.
Sintetis
Mengolah data-data yang didapatkan dari hasil penelitian atau jurnal ilmiah yang kemudian ditarik kesimpulan sebagai acuan disain fasilitas Pusat Layanan Autisme Terpadu Fajar Nugraha.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Meliputi latar belakang perencanaan fasilitas Pusat Terapi Autisme Fajar Nugraha dari pembahasan autisme di tengah masyarakat, autisme di Indonesia, kebutuhan fasilitas terapi di Yogyakarta, sensory design, keberhasilan multy sensory environment, identifikasi permasalahan baik umum dan khusus, tujuan dan sasaran pembahasan, lingkup pembahasan baik
16 arsitektural dan non arsitektural, metode pembahasan, sistematika penulisan, dan keaslian penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Membahas studi literatur mengenai tinjauan teori umum autisme, definisi autisme, penyebab autisme, klasifikasi autisme, karakteristik autisme, tinjauan teori umum terapi, jenis terapi autisme, pengertian dan batasan pusat terapi autis, keberhasilan pendidikan autis, lingkup kegiatan di terapi autis baik jenis kegiatan dan pola kegiatan, tinjauan teori tentang sensory environment, pengertian sensory environment, autism ASPECTSS™ design index, dan studi kasus.
BAB III PENDEKATAN KONSEP
Berupa hasil analisa berupa prinsip-prinsip disain yang dipakai menggunakan pendekatan sensory environment dalam merancang Pusat Terapi Autisme Fajar Nugraha yang merupakan tinjauan psikologi anak autis terhadap sensori lingkungan dan karakter arsitektural. tinjauan karakter anak autis, tunjangan arsitektur pada karakter anak autis, mengatasi perilaku buruk anak autis dengan sensory environment, karakter indera sensori anak autis sebagai landasan konsep; penerimaan rangsangan indera pada anak autis, sensitivitas sensori indera anak autis, karakter anak autis sebagai syarat disain arsitektural, zonasi stimulus arsitektur
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
Merumuskan konsep utama dari hasil analisa penerapan sensitivitas sensori hasil penelitian Marilena Williams dan Gus Vouchilas ke dalam pengelompokan zonasi pada design guideline Magda Mustafa untuk arsitektur autis.
17
1.7 Keaslian Penulisan
Pemilihan tema perancangan dan fungsi fasilitas Pusat Terapi Autisme di Yogyakarta bukan untuk yang pertama kalinya diangkat dalam periode tugas akhir di Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada.
Tugas akhir ini bertema Pusat Terapi Sleman Yogyakarta, dimana Yayasan Fajar Nugraha merupakan instansi yang memang memiliki rencana untuk membangun Pusat Terapi Autis dan sudah memiliki tanah di Sleman. Pusat Terapi Sleman ini dirancang sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan dari Pusat Terapi Fajar Nugraha, dan dirancang menggunakan pendekatan sensory environment.
Berawal dari muncul nya penelitian-penelitian mengenai hubungan sensory environment terhadap psikologis, penulis ingin mentransferkan hasil penelitian psikologi menjadi bentukan arsitektural yang harapan nya dapat membantu anak mengembangkan skill, mengembangkan perilaku sosial, dan dapat mengurangi keterbatasan atau bad behaviour anak autis di Pusat Terapi Autis Fajar Nugraha.
Sesuai dengan teori sensory environment yang dikemukakan Magda Mustafa bahwa stimultan sensori pada fasilitas harus dikelompokan low-mid-high secara bertahap, penulis menggunakan hasil penelitian Marilena Williams dan Gus Vouchilas sebagai penjabaran stimultan sensori apa saja yang masuk dalam kategori low-mid-high yang dikemukakan oleh Magda Mustafa tersebut.
Penerapan sensitivitas sensori hasil penelitian Marilena Williams dan Gus Vouchilas ke dalam pengelompokan zonasi Mustafa inilah yang membedakan tulisan Pra Tugas Akhir penulis dengan Pra Tugas akhir yang sudah ada, sebagai berikut:
“Pusat Terapi Anak Autis” oleh Nita Rozalinda (00/134847/TK/24923), dimana bangunan pusat terapi dirancang dengan memperhatikan aktivitas dan jenis terapi yang ada di dalam nya untuk membantu perkembangan anak.
18
“Pusat Pengembangan Anak Autis”, oleh Sayu Kade Wahyu Ariani (99/129803/TK/24397), perbedaan dengan topik yang diajukan adalah dimana bangunan ini dirancang dengan menekankan pentingnya aktivitas bermain pada proses penyembuhan anak autis, sehingga kegiatan yang ada di dalamnya bersifat edukatif, komunikatif, dan rekreatif.
“Sekolah Khusus dan Pusat Terapi Autis di Bekasi dengan Penekanan pada Healing Environment” oleh Alviana Hanivatun Nisa (06/196064/TK/31931), perbedaan dengan topik yang diajukan adalah pada fungsi bangunan, karena tulisan ini juga mencangkup pada fungsi sekolah dan massa dibuat berdasarkan filosofi keadaan mental dan proses penyembuhan di dalamnya.
“Pusat Terapi Autisme di Yogyakarta”, oleh Nadhila Widyanti (10/297769/TK/36352), perbedaan dengan topik yang diajukan adalah pada aspek sensory design, dimana tulisan ini membahas mengenai konsep fleksibilitas pada ruang untuk mewadahi sifat sensori anak autis yang hypo, hyper, dan interference.