• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polemik KPK hingga RKUHP, Apa Perlu Ganti Menteri?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Polemik KPK hingga RKUHP, Apa Perlu Ganti Menteri?"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

(2)

Polemik KPK hingga RKUHP, Apa Perlu Ganti Menteri?

Bachtiar K Sandy 27 Sep 2019

Beberapa minggu jelang berakhirnya pemerintahan dan masa bakti anggota DPR RI periode 2014-2019, masyarakat malah disuguhi berbagai polemik soal carut-marutnya proses penyusunan undang-undang. Pengesahan revisi UU KPK yang dipaksakan dan rencana pengesahan Revisi KUHP berbuah demonstrasi besar-besaran.

DPR RI yang selama hampir lima tahun dikritik karena tidak bisa menyelesaikan penyusunan beragam undang-undang yang telah masuk program legislasi nasional (prolegnas) malah mengajukan rancangan baru yang tidak prioritas seperti revisi UU KPK. Ironisnya, pemerintah menyambutnya dan mengikuti saja kemauan DPR.

Beberapa UU pun disahkan di injury time meskipun masih mendapat sorotan publik dan kelemahan di sana-sini. Misalnya UU Sistem Budidaya yang berpotensi menjerat petani kecil jika menyebarkan benih hingga keluar kabupaten.

RKUHP dan UU KPK yang disusun oleh DPR ditolak oleh mahasiswa.

Menurut mereka rancangan undang-undang tersebut cenderung melindungi kepentingan penguasa dan koruptor.

Padahal selama ini banyak petani memulai benih yang saling tukar- menukar informasi benih unggul lintas kabupaten bahkan lintas provinsi. Menurut pemerintah, hanya korporasi besar yang boleh melakukan tukar-menukar benih lintas kabupaten. Halo Menteri Pertanian?

RUU KUHP yang akhirnya ditunda pengesahannya karena desakan publik pun masih memuat pasal-pasal dinilai justru membawa Indonesia menuju kemunduran demokrasi. Sejumlah pasal menuai protes masyarakat luas karena dinilai jauh dari rasa keadilan.

Sebenarnya, pasal apa saja yang janggal dalam Revisi KUHP?

1. Hukum Adat

Hukum adat menjadi salah satu pasal RUU KUHP yang kontroversi karena pelanggaran hukum adat di masayarakat bisa dipidana. Hal ini masuk dalam pasal nomor 2.

2. Kebebasan Pers dan Berpendapat

Dalam pasal kontroversial RUU KUHP nomor 218 ayat 1 tertulis bahwa setiap orang yang menyerang kehormatan atau harkat dan martabat diri Presiden

(3)

atau Wakil Presiden dapat dipidana. Bahkan hukumannya paling lama 3 tahun, 6 bulan.

3. Aborsi

Tindakan aborsi diatur dalam pasal kontroversial RUU KUHP nomor 251, 470, 471, dan 472. Prinsipnya, semua bentuk aborsi adalah bentuk pidana dan pelaku yang terlibat bisa dipenjara kecuali bagi korban pemerkosaan, termasuk tenaga medisnya tidak dipidana.

4. Kumpul Kebo

Pasal RUU KUHP tentang kumpul kebo diatur dalam pasal 417 ayat 1.

Dalam pasal tersebut, tertulis bahwa setiap orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya dipidana karena perzinahan dengan penjara paling lama 1 tahun atau denda kategori II.

5. Memelihara Hewan

Seseorang yang memelihara hewan tanpa pengawasan sehingga bisa membahayakan orang atau hewan lainnya dapat dipidana paling lama 6 bulan. Hal itu tertuang dalam pasal RUU KUHP nomor 340 RUU KUHP.

6. Gelandangan Didenda Rp 1 Juta

Pasal Kontroversial RUU KUHP lainnya, mengenai denda yang diberikan pada gelandangan sebesar Rp 1 juta. Aturan ini terdapat dalam Pasal nomor 432.

7. Alat Kontrasepsi

Dalam Pasal Kontroversial RUU KHUP nomor 414 menyebutkan, setiap orang yang secara terang-terangan, mempertunjukan, menawarkan, menyiarkan tulisan, atau menunjukkan alat kontrasepsi kepada anak diancam pidana atau denda. Tercatat, perbuatan tersebut dapat dipidana paling lama enam bulan.

8. Korupsi

Bagi pelaku korupsi dalam pasal kontroversial RUU KUHP hanya dipidana selama dua tahun. Hukuman ini lebih ringan dibandingkan dalam KUHP yang lama, yakni hukuman paling sedikit enam tahun penjara.

9. Penistaan Agama

Dalam Pasal RUU KUHP 313 tentang penodaan agama seseorang bisa dipidana selama 5 tahun lamanya. Hal itu berlaku bagi orang yang menyiarkan, menunjukan, menempelkan tulisan, gambar, atau rekaman, serta menyebarluaskannya melalui kanal elektronik.

10. Santet

Tindakan santet bagi orang yang menawarkan jasa praktik ilmu hitam bisa diancam pidana. Hal itu tertuang dalam Pasal Kontroversial RUU KUHP 252.

(4)

11. Pencabulan Sesama Jenis

Pasal kontroversial RUU KUHP yang terakhir, adalah pencabulan yang terdapat pada Pasal 421. Dalam draft aturan tersebut, makna pencabulan diluaskan kepada sesama jenis.

Dari semua pasal ini, memang janggal kelihatannya. Bagaimana tidak?

Masalah pribadi pun mereka ungkit, sampai-sampai masalah hewan pun mereka bahas. Terlihat sangat aneh memang, maka dari itu masyarakat menyuarakan pendapatnya untuk meluruskan sebelum RUU itu disahkan oleh DPR.

Lalu, kalau sudah begini siapakah yang harus bertanggung jawab? Apakah menteri juga harusnya ikut andil menormalkan kembali keadaan, sehingga tidak terjadi lagi kericuhan di luar sana, dan masyarakat Indonesia lainnya merasa aman.

Dengan berbagai polemik ini berarti pemerintah dan DPR masih gagal melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Haruskah menteri terkait yang bertanggung jawab harus diganti agar tugas ini bisa berjalan sebagaimana mustinya.

Menteri Hukum dan HAM misalnya. Apakah sosok Yasonna Laoly, politisi PDI-P yang didaulat memegang tanggung jawab selama 5 tahun terakhir itu sudah cukup piawai untuk dipilih kembali di kabinet mendatang? Atau jangan- jangan perlu sosok baru?

Kabinetijen pilih calon menteri

Opini.id telah menggelar game Kabinetijen sejak 8 Agustus 2019 untuk menjaring aspirasi netizen mengajukan calon-calon menteri pilihannya. Lebih dari 6.000 kabinet versi netizen telah dihasilkan dari game ini.

Khusus untuk jabatan Menteri Hukum dan HAM, dari sekian ribu vote, Yusril Ihza Mahendra ternyata paling favorite dipilih netizen dengan perolehan jauh di atas tokoh lainnya.

Yasonna Laoly sendiri masih menjadi favorite namun di peringkat ke-5.

Yang menarik adalah Kapolri Jenderal Tito Karnavian di peringkat kedua setelah Yusril. Bahkan ada 4 tokoh perempuan yang masuk favorit 10 besar.

Berikut nama-nama calon favorit Menteri Hukum dan HAM pilihan netizen:

1. Yusril Ihza Mahendra 30,57%

2. Tito Karnavian 15,62%

3. Mahfud MD 12,32%

4. Todung M Lubis 7,73%

5. Yasonna Laoly 5,24%

6. Asfinawati 3,98%

(5)

7. Natalia Soebagjo 2,11%

8. Budiman Sudjatmiko 2,04%

9. Bivitri Susanti 2,01%

10. Chatarina M Girsang 1,84%

Yusril Ihza Mahendra adalah seorang politisi, juga seorang pengacara, pakar hukum tata negara, politikus, dan intelektual Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dan Menteri Sekretaris Negara Indonesia.

Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan di tingkat internasional, seperti di sidang AALCO, Konferensi Internasional tentang Tsunami, Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika, serta berbagai kegiatan lainnya. Yusril juga pernah dipercaya sebagai President Asian-African Legal Consultative Organization yang bermarkas di New Delhi, India.

Pada 26 April 2015, ia terpilih sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) di Muktamar IV PBB. Ia terpilih secara aklamasi setelah calon lainnya Rhoma Irama tidak datang ke arena muktamar pada pemilihan ketua umum.

Kira-kira apakah pantas Yusril Ihza Mahendra menduduki jabatan sebagai Menteri Hukum dan HAM? Setuju atau punya calon lain yuk vote pilihanmu sendiri di https://opini.id/kabinetijen

(6)

Jokowi Dilantik, Dulu Diarak Sekarang Dikawal

Irvan 21 Oct 2019

Ada beberapa orang yang mengatakan kalau seorang presiden akan terlihat aslinya setelah dirinya memenangkan dua periode. Bagi saya sendiri, itu adalah hal yang biasa, apalagi banyak suara partai di belakangnya yang di jilid kedua ini sudah mulai menunjukkan eksistensi suaranya.

Tapi, Jokowi tetaplah Jokowi! Meski banyak kebijakan yang dibuat oleh kabinetnya bikin gigit jari dan mengkerutkan dahi, tidak dengan karakter Jokowi yang bisa dibilang sabar dengan segala ujian yang ada.

Ah, saya jadi ingat ada yang pernah bilang kalau Jokowi itu orang baik, hanya saja dia berada di lingkaran yang salah. Waduh, saya gak mau berasumsi, setidaknya itulah tanggapan beberapa orang soal Jokowi.

Bicara soal Joko Widodo, dia kembali memenangkan Pilpres 2019.

Prabowo dan Sandi dikalahkannya bersama Ma'ruf Amin. Tepat 20 Oktober 2019 kemarin, Jokowi dan Ma'ruf Amin resmi dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2019-2024.

Pelantikannya pun terbilang berbeda dari periode pertama guys. Kali ini pelantikannya terbilang formal, kenapa? Karena sampai ada sidang paripurna, meski dulu juga begitu, tapi ini terbilang lebih serius pokoknya sedikit beda deh menurut pengamatan rakyat.

Yup, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar Sidang Paripurna MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wapres RI masa jabatan 2019-2024 pada Minggu (20/10/2019) di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Gak hanya itu saja pada Sidang Paripurna MPR pelantikan Jokowi dan Ma'ruf Amin ini juga dihadiri Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, serta calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Sandiaga Uno, dan sejumlah tokoh nasional lainnya

Pelantikan Kedua Jauh Lebih Ketat

Sebagai seorang pengendara motor, saya merasakan atmosfer yang berbeda jelang pelantikan Joko Widodo. Sejak hari Kamis 17 Oktober 2019, sejumlah ruas jalan khususnya arah MPR, stasiun Palmerah pun sudah disterilkan.

Alhasil, banyak pekerja yang mencari jalan lain, dan tidak bisa dipungkiri ini

(7)

merugikan. Rugi waktu, datang kantor telat, uang makan dipotong. Semuanya demi keamanan pelantikan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

Ketatnya tidak tanggung-tanggung, sebanyak 30.000 aparat dikerahkan atau lebih besar ketimbang 2014 sejumlah 25.000 aparat. Susunan tugasnya, yakni: Ring 1 jadi tanggung jawab Pasukan Pengamanan Presiden, Ring 2 jadi tanggung jawab TNI, dan Ring 3 jadi tanggung jawab jawab TNI dan Polri serta unsur lainnya. Tahun lalu, lingkup pengamanan terbagi dalam empat ring dengan jumlah personel sekitar 25.000.

Melansir Tirto, ketatnya pengawalan di pelantikan Jokowi ini wajar menurut Direktur Amnesty Internasional Usman Hamid mengingat banyaknya kebijakan yang diambil Jokowi belakangan ini tidak prorakyat. Salah satunya, adalah sikap represif Kepolisian Indonesia terhadap para pendemo

#ReformasiDikorupsi.

Susunan acara pelantikan Jokowi periode kedua ini, sedikit berbeda dengan periode sebelumnya. Dari awal acara Sidang Paripurna MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wakil Presiden masa jabatan 2019 - 2024 tidak terlalu jauh berbeda pada 2014.

Jokowi dan Jusuf Kalla Diarak naik becak

Sedangkan di tahun 2014, Jokowi dan JK justru lebih merakyat, istilah bahasa Inggrisnya, Down To Earth. Saat dilantik pada 2014 lalu, seusai prosesi pelantikan, Jokowi-JK disambut oleh masyarakat yang sudah mempersiapkan kirab budaya. Jokowi-JK tidak langsung menuju Istana, tetapi menuju Bundaran HI untuk menemui masyarakat. Dari Bundaran HI, Jokowi diarak dengan kereta kencana menuju Monas. Kondisi ini berbeda dengan saat ini, sejumlah ruas jalan ditutup dan penjagaan keamanan ditingkatkan.

Tentu saja ini bertolak belakang dari sebelumnya. "Hari ini dikawal pengamanan berlebihan, yang menurut saya hanya cocok untuk pemimpin yang bukan negarawan, tapi buat mereka yang dilantik untuk memegang kekuasaan dengan nyali dan mental yang kecil," tegas Usman.

(8)

PERTANYAAN WAWANCARA 1. Nama, Umur, Profesi

2. Biasanya dalam mencari atau membaca tulisan, media apa yang sering Anda akses?

3. Seberapa sering Anda membaca tulisan?

4. Bagaimana cara Anda dalam mengakses tulisan? (TV, online, Radio) 5. Menurut Anda, Apakah penggunaan bahasa satire dalam suatu tulisan diperbolehkan atau tidak? Apa alasannya?

6. Bagimana pendapat Anda terhadap pemerintah yang mengesahkan undang- undang KPK?

7. Setuju atau tidak dengan tindakan pemerintah tersebut? Mengapa?

8. Menurut Anda, apakah UU KPK mendesak untuk segera disahkan?

9. Menurut Anda, bagaimana keadaan pada saat pelantikkan jokowi yang kedua ini?

10. Apakah terdapat perbedaan pada saat pelantikan jokowi yang pertama dan kedua?

11. Bagaimana posisi Anda terhadap tulisan tersebut?

12. Menurut Anda, apakah penulis menyertakan opininya sendiri dalam tulisan tersebut?

13. Apakah dalam penulisannya penulis terlalu kuat dalam beropini? Mengapa?

14. Apakah cocok jika penulis menggunakan kalimat seperti pada tulisan tersebut?

Mengapa?

15. Apakah Anda setuju dan mendukung dengan penggunaan kalimat satire pada tulisan tersebut? Mengapa setuju/tidak setuju?

16. Apakah dari kedua tulisan tersebut memberikan Anda pemikiran tertentu yang berbeda dari sebelumnya atau semakin menambah pemikiran Anda sebelumnya?

Mengapa?

(9)

TRANSKRIP WAWANCARA

Keterangan : P : Peneliti I : Informan

INFORMAN PERTAMA

P : Halo selamat malam, boleh perkenalkan nama sama umur dan profesi I : Nata umur 20 tahun sebagai mahasiswa UMN jurusan DKV 2017

P : Nah sebelumnya aku mau tanya dulu nih, Nata baca tulisan opini biasanya dari mana?

I : Aku sih biasanya dari media sosial atau tidak buka dari situs-situs kayak kompas gitu

P : Kira-kira seberapa sering sih Nata baca tulisan opini?

I : Biasanya baca tulisan opini kalau lagi ada waktu senggang aja sih P : Oke, sebelumnya kamu sudah tau belum satire itu apa?

I : Kalau ga salah, satire itu seperti kritikan yang halus kan

P : Nah kalau kamu sudah tau, menurut kamu penggunaan bahasa satire dalam suatu tulisan itu diperbolehkan atau tidak?

I : Kalau bahasa satire dalam satu tulisan boleh saja sih, yang penting asalkan penggunananya tepat dan tidak terlalu meyinggung dan ditujukan agar orang yang mengkritisi itu sadar bahwa dirinya sedang dikritisi. Dan agar dia tau juga harus ada yang di ubah agar dia bisa jadi lebih baik lagi

P : Oke aku mau tanya, menurut kamu pendapatmu mengenai RKUHP dan pelantikan Jokowi ini bagaimana?

I : Kalau menurut aku sih, DPR terlalu terburu-buru karena tiba-tiba aja ada tulisan kalau sebentar lagi akan disahkan RKUHP dan langsung kaget sih karena cepet banget dicanangkannya.

P : Terus menurut kamu sendiri setuju tidak sih dengan tindakan pemerintah itu?

(10)

I : Kurang setuju sih karena DPR menurutku agak sedikit tergesa-gesa jadi kita juga masih mencoba untuk mencerna perubahan apa yang diubah dalam RKUHP ini dan apakah revisinya ini bener-bener sudah dilaksanakan dengan baik dan hasilnya menguntungkan atau tidak karena bisa saja RKUHP yg hasil revisi ternyata merugikan orang-orang di sekitarnya.

P : Terus menurut kamu sendiri, RKUHP ini mendesak untuk segera disahkan tidak sih?

I : Harusnya jangan terlalu mendesak juga sih, karena gara-gara tergesa-gesa itu justru kita jadi tidak tahu apakah revisinya itu sudah disahkan dan apa orang- orang sudah menyetujui dengan revisi itu apa tidak. Karena kalau sudah mendasak dan banyak tidak setuju masalahnya akan menjadi lebih ribet lagi.

P : Kalau untuk pelantikan Jokowi, bagaimana sih di pelantikan Jokowi yang kedua ini?

I : Terlihat seperti lebih ketat bahkan setauku ada jalan juga yang ditutup akibat dari pelantikan itu. Kalau pertama lebih sering turun kejalan dan keliatan lebih merakyat tapi sekarang entah kenapa kelihatan lebih ketat dan ada dikawal dan sampai ditutup jalannya. Padahal sebelumnya mereka tidak terlalu banyak yang kawal dan banyak turun ke jalan sapa-sapa biasa saja. Sekarang entah kenapa lebih ketat penjagaannya.

P : Posisi Nata sendiri dalam kedua tulisan ini bagaimana sih, mksdnya lebih setuju atau tidak setuju dalam kedua tulisan ini?

I : Untuk tulisan pertama sih, agak mendesak untuk segera disahkan. Rakyat juga belum bisa mencerna lebih baik lagi bagaimana revisinya itu dilaksanakan karena jadi banyak orang yang salah paham karena RKUHP itu. Harusnya kan ada himbauan dulu dari awal biar rakyat bisa paham kalau revisinya itu seperti apa biar tidak ada salah paham. Terus untuk tulisan kedua sih kelihatannya untuk Jokowi tidak salah karena banyak yang anti pada pemerintah atau kebanyakan rakyat tidak setuju sama Jokowi kan Jokowi juga manusia jadi wajar saja dia merasa terancam.

P : Oke, sekarang aku kasih dua tulisan ini ke kamu, silahkan kamu baca dulu ya Pada sesi ini informan sedang membaca kedua tulisan yang disajikan oleh

peneliti

P : Oke setelah baca tulisannya, menurut kamu bagaimana sih penggunaan penulisannya berlebihankah atau bagaimana?

(11)

I : Aku sih lihat ada sebagian dari kalimat-kalimat yang seperti menyindir tapi masih dalam bahasa yang halus menurut ku masih tidak apa-apa tapi balik lagi apakah sindirannya ditujukan untuk mengkritik agar membangun atau tidak.

P : Menurut kamu, penulis menyertakan opininya sendiri tidak sih dalam tulisan itu?

I : Baik kedua tulisan menurut ku tidak ada yang berat sebelah. Opini ada tapi fakta yang disampaikan juga ada. Baik tulisan pertama dan kedua ada juga disuguhkan data-data jadi apa yang hendak disampaikan tulisannya ada backup datanya yang secara faktual jadi tidak ada yang hoax. Opini juga ada karena apa yang disampaikan penulis menurut pandangannya sendiri. Tapi balik lagi penulis satire itu kan kalau bisa harus bisa bersikap membangun dan tidak terlalu menyinggung jadi yang baca ini bener-bener harus terasa. Padahal satire kan secara kamus besar sindirian secara halus jadi kan orang-orang tidak sadar kalau itu sindiran.

P : Menurut kamu cocok tidak sih kalau penulis itu menggunakan kalimat seperti ini dalam tulisannya?

I : Cocok saja asalkan tidak terlalu menyinggung. Karena kalau udah meyinggung itu namanya bukan satire lagi tapi sarkas. Kalau bisa ditambahkan solusi juga bagaiamana cara supaya Indonesia bisa jadi lebih baik lagi kayak RKUHP ini.

Apasih yang harus dilakukan kayak saran supaya RKUHP bisa jadi lebih baik lagi dair sebelumnya. Diperlukan juga sedikit saran

P : Oke, terus menurut Nata, setuju tidak untuk penggunaan bahasa satire dalam tulisan opini?

I : Tulisan pertama setuju karena dari tulisan itu sendiri memang dari pengesahan agak terlalu tergesa-gesa harusnya kalau bisa saat pengesahan secara bertahap dan perlahan agar revisinya secara pasti karena pasti agar rakyat yang melaksanakannya itu tidak merasa dirugikan. Terus kalau yang kedua setuju juga tapi balik lagi ditambah saran dan masukkan apa sih yang harus dilakukan oleh presiden agar untuk seterusnya tidak terjadinya namanya anti pemerintah.

P : Oke, aku mau tanya lagi setelah aku kasih dua tulisan ini bagaimana sih pendapat mu setelah membaca dua tulisan ini, apakah pemikiran kakak menjadi berubah atau semakin yakin?

I : Jadi tambah ngerti lagi soal politik kalau ternyata rakyat juga harus ikut turun tangan agar Indonesia lebih baik lagi. Harus ikut berpikir secara kritis juga kayak RKUHP buat apa sih. Apa berguna atau tidak, dan kalau dilaksanakan secara

(12)

terburu-buru dampaknya apa. Atau tidak mending RKUHP dikembangkan secara perlahan baru disetujui itu juga patut dipikirkan. Jadi setelah baca tulisan ini juga jadi tambah tahu kalau DPR terlalu buru-buru dan tergesa-gesa tulisan kedua bisa dilihat juga bahwa Jokowi ini beda pelantikannya periode 1 dan 2. Kalau periode 1 Jokowi dengan santainya turun ke lapangan melihat rakyat tanpa perlu merasa takut. Tapi karena sekarang Jokowi sering buat keputusan yang mayoritas tidak setuju jadi wajar saja Jokowi takut akan terjadi risuh.

Jadi makin lebih yakin kalau ternyata DPR seperti ini dan juga lebih yakin ternyata pemerintahan Jokowi seperti ini di periode kedua lebih terlihat lebih ketat penjagaannya dan di periode 1 itu beda banget karena sangat merakyat dan turun ke jalan.

P : Oke, jadi Nata setelah membaca dua tulisan ini, pendapat Nata semakin setuju ya dengan pengesahan RKUHP dan perbedaan di pelantikan Jokowi di dua periode ini

I : Iya, betul kak

P : Oke kak kalau gitu, terima kasih kak untuk waktunya I : Iya, sama-sama kak

INFORMAN KEDUA

P : Halo selamat malam kak, boleh perkenalkan nama sama umur dan profesi I : Ya nama saya Laura umur 23 tahun sebagai karyawan swasta

P : Kak sebelumnya mau tanya dulu, kakak baca tulisan opini biasanya dari mana?

I : Biasanya baca tulisan opini dari medsos atau apa tuh namanya koran elektronik P : Kira-kira seberapa sering sih kak baca tulisan opini?

I : Biasanya baca tulisan opini kalau ada notif dari aplikasinya hampir tiap hari sih P : Oke, sebelumnya kakak sudah tau belum satire itu apa?

I : Tau sih, tulisan seperti kritikan yang halus kan

(13)

P : Oke kalau kakak sudah tau, menurut kakak penggunaan bahasa satire dalam suatu tulisan itu diperbolehkan atau tidak?

I : Dalam satu tulisan penggunaan bahasa satire sih boleh-boleh aja, asal jangan menyerempet, asal jangan terlalu kasar sih. Boleh dipakai asal tidak berlebihan aja P : Oke kak, aku mau tanya, menurut kakak pendapat kakak mengenai RKUHP dan pelantikan Jokowi ini bagaimana?

I : Kalau menurut aku sih, Tindakan pemerintah dalam pengesahan undang- undang RKUHP terlalu terburu-buru sih. Terus juga pasal yang di revisi rata-rata juga topiknya yang diangkat, yang direvisi juga masih kurang berpikir panjang untuk pemerintahnya. Mau berani mengangkat topik yang relate sama masyarakat apalagi di Indonesia. Terus juga di revisi mereka juga belum memberi solusi yang baik malah membuat masyarakat menjadi tidak siap dengan adanya revisi UU.

P : Terus menurut kakak sendiri setuju tidak sih dengan tindakan pemerintah itu?

I : Masih kurang setuju karena ya itu belum di pikir secara matang dan buru-buru di sahkan tanpa memikirkan bagaimana keadaan masyarakat sekarang.

P : Terus menurut kakak sendiri, RKUHP ini mendesak untuk segera disahkan tidak sih dari tindakannya pemerintah?

I : Maksudnya didesak?

P : Kayak pemerinta itu kesannya terlalu terburu-buru ga sih untuk mengesahkan RKUHP?

I : Iyaa, karena ya gimana ya entah apa motifnya tiba-tiba di sahkan tanpa apa yaa berpikir panjang gitu terus juga tidak memberikan solusi jadi kesannya seperti memberatkan masyarakat yang kondisinya sudah berada di kesusahan. Harusnya membantu meringankan kondisi masyarakat ternyata mempersulit.

P : Nah untuk pelantikan Jokowi, menurut kakak bagaimana sih di pelantikan Jokowi yang kedua ini?

I : Kayaknya sih lebih hati-hati, apalagi Jokowi kan sudah periode kedua nih dan banyak pertentangan dari masyarakat Indonesia sendiri yang entah kurang setuju atau ya…. tidak sepikiran apalagi kubuh sebelah kurang sepaham seperti beda aliran.

P : Posisi kakak sendiri dalam kedua tulisan ini bagaimana, mksdnya lebih setuju atau tidak setuju dalam kedua tulisan ini?

(14)

I : Ga setuju sama isi ini sih, tulisannya itu karena terlalu terburu-buru karena tidak sesuai sama…. maksudnya masih ada yang harus diperbaiki lagi tapi ngapain masih bahas yangg receh-receh apalagi masyarakat Indonesia juga belum bisa diberesin karena masih banyak masyarakat Indonesia yang masih berada di titik yang bermaslaah itu. Semua ada di sana tapi mau dibenerin belom bisa saja gitu

P : Lalu untuk tulisan kedua bagaimana?

I : Untuk tulisan kedua, terkesan jokowi butuh dikawal tapi sebenarnya dikawal untuk masyarakat sendiri karena sebelumnya juga ada berbagai kerusuhan yang mungkin meresahkan masyarakat. Bukan dikawal karena takut sih tapi di kawal karena untuk keamanan masyarakat biar tidak tabrak dengan kubuh sebelah juga.

Pada sesi ini informan sedang membaca kedua tulisan yang disajikan oleh peneliti

P : Menurut kakak sendiri, bagaimana sih penggunaan penulisannya berlebihankah atau bagaimana?

I : Hmmm…. Kayaknya di jaman sekarang ini, semua orang bisa menuangkan aspirasinya sih. Oke-oke aja sih mungkin ada beberapa bagian yang sedikit berlebih tapi di era yang kritisnya netizen masyarakat Indonesia sekarang dalam beropini, hal ini sih sudah menjadi sesuatu yang biasa saja ya kalau misalnya ada yang menyindir dengan halus gitu. Masih boleh aja sih menurut ku asal ada batasan yang perlu dicermati.

P : Menurut kakak, penulisnya itu menyertakan opininya sendiri tidak sih dalam tulisan itu?

I : Mungkin dari beberapa masyarakat menanggapi tulisan … iya sih penyampaiannya ada opini terselubung misalnya seperti di dalam tulisan itu yang seperti Jokowi tidak lagi pro-rakyat atau tidak lagi down to earth. Mungkin hal- hal seperti itu yang cukup apa ya… yang cukup sopan tapi mempunyai makna yang lebih gitu dari harapan masyarakat untuk Jokowi.

P : Kalau untuk tulisan satu?

I : Sama kayak tulisan lain sih… cuma susunan kalimatnya saja yang harus diperbaiki lagi.

P : Menurut kakak cocok tidak sih kalau penulis itu menggunakan kalimat seperti ini dalam tulisannya?

(15)

I : Untuk tulisan satu yang masalah RUU kayaknya kurang cocok untuk dibilang tulisan cuma penyampaian pendapat biasa tapi bukan formalnya tulisan. Nah kalau untuk tulisan yang kedua sesuai dengan media yang digunakan Opini.id jadi penyampaian kalimat dengan apa yang disampaikan bahasa yang digunakan fine aja karena kan sifatnya opini bukan tulisan yang seperti di koran. Kalau opini tergantung penulisnya seperti apa.

P : Oke, terus menurut kakak sendiri, setuju tidak sih untuk penggunaan bahasa satire dalam tulisan?

I : Eee…. untuk sekarang platform sosial media yang lagi gencar gencarnya dipakai untuk menyuarakan pendapat jadi sering kok aku juga temuin tulisan di media sosial atau internet kayaknya hampir rata-rata menggunakan kalimat satire bahkan lebih dari kalimat satire, kayak sarkas. Terus boleh sih di pakai, ga ada masalah sih untuk kalimat satire karena mungkin itu tujuannya untuk mengetahui rasa kritis orang untutk berpendapat yang penyampaiannya lebih kena daripada penulisan biasa atau bahasa halus tapi tidak kena. Tapi balik lagi dengan catatan masih ada di batas wajar

P : Oke jadi setuju-setuju saja asal masih dalam batas wajar ya kak I : Iya, betul

P : Oke kak, aku mau tanya lagi nih setelah aku kaish dua tulisan ini bagaimana sih pendapat kakak setelah membaca dua tulisan ini, apakah pemikiran kakak menjadi berubah atau semakin yakin?

I : Kalau untuk tulisan satu, setelah baca tulisannya sihh aku semakin setuju sih kalau misalnya isi RUU-nya yang disahkan itu memang sesuatu yang kurang penting ya dan belum bisa membawa perubahan bagi masyarakat dengan keadaan masyarakat yang sekarang terus juga terkesan tergesa-gesa.

P : Untuk tulisan kedua?

I : Kalau yang kedua, kalau misalkan yang kedua sih setuju memang Jokowi butuh kawalan yang ketat mengingat lawan yang waktu itu emang biasanya suka bertindak lebih, jadi bukan dijadikan pandangan kalau Jokowi lemah atau takut tapi mungkin dari Jokowinya yang untuk menenangkan masyarakat aja supaya tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.

P : Jadi menurut kakak, bukan karena pemerintahannya Jokowi yang buruk? Atau bagaimana?

(16)

I : Ya memang masa pemerintahannya kurang sih, cuma kan untuk memperbaiki suatu bangsa tidak bisa dengan waktu yang cepat tapi ya kalau misalnya di kawal karena takut terjadi kerusuhan memang benar kalau tidak kayak gitu mungkin kita tidak tahu bakal terjadi kerusahan yang lebih besar lagi atau lebih kacau.

Indoensia cuma karena hal yang sifatnya demokratis tapi bisa di nilai tidak menjadi demokratis karena ada perilaku-perilaku yang tidak menyenangkan.

P : Oke, jadi setelah membaca dua tulisan ini, pendapat kakak semakin setuju ya dengan pengesahan RKUHP yang sebaiknya jangan seperti itu, dan pemerintahan pelantikan Jokowi juga.

I : Iya, bukan karena pemerintahannya yang buruk tapi itu yang diperlukan massa itu untuk meminimalisir kejadian yang seharusnya tidak terjadi dan untuk RKUHP juga seharusnya ya jangan mengada-ngada lah.

P : Hahaha, oke kak kalau gitu, terima kasih kak untuk waktunya kak I : Iya, sama-sama

INFORMAN KETIGA

P : Selamat siang mas, boleh perkenalkan nama dan profesi sebagai apa?

I : Oke, nama saya Aldino umur saya 26, profesi saya karyawan swasta

P : Oke, jadi mas biasanya dalam mencari atau membaca tulisan opini tuh seringnya pakai media apa sih yang diakses?

I : Yang diakes tuh saya biasanya menggunakan, eee… media sosial internet, lalu dari TV juga

P : Media sosial itu seperti Instagram?

I : Iya betul

P : Kira-kira seberapa sering sih mas membaca tulisan opini?

I : Kalau untuk seringnya sih paling setiap malam aja sih, setelah pulang kerja aja itu

P : Petama-tama aku mau tanya dulu nih, mas tahu ga sih bahasa satire itu apa?

(17)

I : Satire tidak tahu

P : Oke kalau gitu aku jelasin sedikit ya, jadi bahasa satire itu bahasa seperti mengkritik tapi secara halus. Kalau sarkas kan lebih kasar, tapi kalau satire ini lebih halus dan tujuannya membuat bercanda atau membuat tulisan itu lebih santai seperti itu. Dia lebih ke kritikan yang halus begitu

I : Ohh.. oke okee

P : Terus menurut mas sendiri, dengan adanya penggunaan bahasa satire dalam suatu tulisan tuh sebenarnya diperbolehkan tidak sih

I : Kalau untuk bahasa halus untuk menyindirnya itu sih ga masalah sih selagi itu tujuannya positif dan untuk buat eee… mengangkat hal-hal yang baik-baik juga sih gak apa-apa

P : Jadi menurut mas gak apa-apa ya?

I : Iya tidak apa-apa sih menurut saya

P : kalau gitu, ini kan baru-baru ini rame banget tentang RKUHP dan pelantikan Jokowi. Menurut bapak sendiri tentang pengesahan RKUHP oleh pemerintah nih bagaimana?

I : Kalau pendapat saya, saya setuju banget tuh untuk merubah RKUHP itu karena udah dari jaman Belanda dulu udah kita menggunakan udah lama. Dan sekarang kan sudah harus menyesuaikan kebutuhan eee…. penduduk dan masyarakat di jaman modern ini. Jadi kita ya harus ngikutin eee… jaman juga gitu.

P : Oke berarti setuju-setuju aja ya pak I : Iya setuju kok

P : Tapi menurut pendapat bapak sendiri, mendasak gak sih untuk segera disahkan RKUHP ini

I : Eee…. gimana gimana

P : Menurut bapak mendesak atau tidak kalau misalnya RKUHP ini segera disahkan oleh pemerintah begitu

I : Ooo… mendesak banget sih menurut saya

P : Kalau gitu, kan tadi tentang RKUHP, ini sekarang aku lebih bertanya tentang pelantikkan Jokowi, kan ini pelantikan Jokowi untuk periode kedua. Menurut

(18)

bapak sendiri ada perbedaan yang signifikan tidak untuk pelantikan periode pertama dan kedua

I : Kalau untuk periode yang pertama itu eee…. saya sih lumayan suka yaa sama Jokowi, kalau untuk yang pelantikan kedua ini kayaknya tuh ngerasa semua suara tuh tertutup kayak gitu lo. Jadi kayak ada yang kurang, gak kayak dulu lagi

P : Jadi posisi bapak terhadap penulisan pertama dan kedua sepeti apa? Dalam penulisan RKUHP dan Jokowi tuh seperti apa?

I : Kalau dibilang sih tuh kayak lebih menguntungkan pemerintah sih

P : Berarti mungkin ini aku menyimpulkan pernyataan bapak. Ini kan saya belum kasih tulisan ke bapak, jadi sebelum aku kasih tulisan ke bapak. Menurut bapak sendiri untuk tulisan mengenai RKUHP ini setuju-setuju saja dengan tindakan pemerintah?

I : Iya setuju-setuju saja

P : Oke tapi, untuk pelantikan Jokowi tadi I : Agak kurang berasa lebih tertutup

P : Oke aku sekarang kasih tulisan ke bapak bisa dibaca dulu

Pada sesi ini informan sedang membaca kedua tulisan yang disajikan oleh peneliti

P : Nah, tadi kan bapak sudah baca tulisan yang aku kasih nih I : Iya

P : Nah, menurut bapak sendiri, penulis tuh terlalu menyertakan opininya sendiri tidak dalam penulisan ini?

I : Eee… menurut opini penulis dari tulisan tadi, itu menurut saya terlalu banyak kalimat untuk tulisan untuk menyindir halus untuk bahasa satire tersebut

P : Jadi menurut bapak sendiri penulisanya terlalu kuat ya pak

I : Iya terlalu kuat, dia hanya menyimpulkan sesuatu yang menurut dia tuh ada sindirian juga sih

(19)

P : Nah, kan tadi bapak sudah ada baca dua tulisan ini, jadi kan sebelum saya kasih tulisan bapak ada memberikan pendapat bapak sendiri

I : Iya

P : Nah, setelah baca dua tulisan ini bapak ada perbedaan pemikiran tidak dengan sebelumnya atau semakin menambah pemikiran bapak setelah baca tulisan ini.

Mungkin bisa dari RKUHP dulu

I : Setelah saya baca tulisan tentang RKUHP ini, saya jadi lebih kaget ternyata ada perbedaan maksudnya ada eee…. ga sesuai sama masyarakat mungkin juga kurang adil, saya jadi lebih tidak setuju dalam RKUHP ini. Masih harus direvisi lagi sebenarnya harus diperbaiki lagi dari masalah tentang undang-undang yang buat tentang wilayah tanah, tentang masyarakat, pekerja. Saya jadi kurang setuju setelah membaca artikel ini

P : Ohh… jadi lebih tidak setuju ya pak?

I : Iya harus direvisi kembali

P : Terus untuk pelantikan Jokowi sendiri seperti apa pak? Untuk periode pertama dan kedua?

I : Kalau periode kedua ini, semakin ya itu kayak tadi pertama yang saya bilang lebih tertutup kepada masyarakat jadi membuat orang masuk atau ngasih opini ke presiden jadi kurang, jadi bedalah waktu pertama kali sampai sekarang begitu P : Jadi mungkin aku perjelas lagi ya pak, berarti sikap bapak terhadap kedua tulisan itu. Tadi yang awalnya setuju saja dengan kasus itu, setelah saya kasih tulisan ini, jadi kurang setuju ya pak

I : Iyaa harus ada yang direvisi lagi, harus diperbaiki lagi

P : Sementara yang Jokowi memang betul seperti itu pelantikannya atau

I : Iya pelantikan pertama lebih turun dan kedua lebih diperketat, dan dia dari awal sampai sekarang kan juga beda ya. Kalau dulu kan ibaratnya merakyat banget pelantikannya. Kalau sekarang ya dibatesin gitu lo

P : Oke kalau gitu pak, makasih pak atas waktunya pak I : Iya sama-sama

(20)

INFORMAN KEEMPAT

P : Selamat siang pak, bisa diperkenalkan nama, umur dan profesinya I : Nama saya Sony umur saya 28, profesi karyawan

P : Bapak kalau baca tulisan ini, dari mana saja?

I : Saya macam-macam yang bisa saja baca, sambil jalan di billboard ada tulisannya saya baca

P : Berarti cukup sering dong ya pak baca tulisan ini I : Iya

P : Nah sebelumnya aku mau tanya pak, bapak tau tidak apa itu bahasa satire?

I : Kurang tau kalau itu

P : Oke kalau gitu aku bisa jelasin dikit ya pak I : Iyaa boleh

P : Jadi bahasa satire itu, seperti tulisan yang isinya kritikan atau komentar tapi lebih halus, kalau sarkas kan agak kasar pak. Kalau ini lebih halus dan tujuannya buat bercanda agar tulisan juga bawaannya lebih santai seperti itu

P : Nah, menurut bapak dengan penggunaan bahasa satire ini diperbolehkan tidak sih?

I : Dari dulu kan yang namanya kritikan itu kan membangun, ada orang kritik berarti dia peduli sama kita. Gitu aja

P : Menurut bapak sendiri, ini kan baru-baru ini ada tulisan tentang RKUHP dan pelantikan Jokowi. Menurut bapak sendiri tentang pengesahan RKUHP bagaimana sih pak?

I : Kalau saya sih, karena memang tidak berkecimpung di dunia kayak gitu, saya sih setuju-setuju saja. Ini kan yang kerja mereka say amah tidak ada urusan

P : Oh… jadi menurut bapak setuju-setuju saja ya I : Iya betul

(21)

P : Kalau kayak gitu, menurut bapak sendiri mendasak ga sih kalau RKUHP ini segera disahkan?

I : kalau buru-buru banget kesannya mendesak kali ya. Tapi ya tergantung mereka juga lah, kan mereka yang punya urusan. Saya mah yang penting jalanin hidup saya sendiri kan

P : Oh ya oke pak kalau gitu, nah itu kan masalah RKUHP kalau pada pelantikan Jokowi ini ada perbedaan ga sih di periode kedua dan pertama, menurut bapak sendiri?

I : Sama saja ya tidak ada perbedaan antara periode pertama sama kedua. Karena ya di kedua pelantikan itu juga saya rasa Jokowi masih terbuka dan masih merakyat ya

P : Oke, jadi mungkin aku bisa perjelas lagi ya pak, jadi menurut bapak tentang pengesahan RKUHP ini setuju-setuju saja karena pemerintah yang melakukannya I : Iya betul, lagipula tidak ada saya disitu buat apa

P : Oh iya hahaha…terus kalau Jokowi juga sama saja ya pak I : Iya sama saja

Pada sesi ini informan sedang membaca kedua tulisan yang disajikan oleh peneliti

P : Oke setelah baca tulisan yang barusan saya kasih, menurut bapak sendiri nih penulis tuh menyertakan opininya sendiri tidak?

I : Menurut saya sih, di situ banyak banget tertulis kok, isinya banyak pendapat dari si penulis, isi hatinya dari dia

P : Jadi penulis nih terlalu kuat ga sih dalam opininya, menurut bapak sendiri?

I : Nggak kok, banyak juga orang berpendapat seperti itu P : Jadi masih biasa saja ya pak

I : Iya masih biasa saja

P : Kalau gitu cocok-cocok saja nih pak I : Iya cocok-cocok saja

(22)

P : Tapi menurut bapak sendiri, bapak mendukung tidak atau setuju-setuju saja?

I : Kalau ngeliat tadi sih tadi saya malah menjadi ragu ya, kesannya kayak mendesak DPR sama MPR ini buru-buru seakan-akan mereka ini kayak tidak punya celah buat korupsi lagi

P : Jadi bapak sekarang jadi tidak setuju dengan RKUHP ini ya?

I : Iya betul, kesannya RKUHP ini dibuat, buat mereka lebih leluasa buat korupsi si MPR sama DPR ini kalau saya pikir setelah baca itu tadi. Gitu aja sih

P : Jadi bapak jadi tidak setuju dengan tindakan pemerintah?

I : Iya, lebih tepatnya bukan pemerintah sih, lebih tepatnya pejabat-pejabat di gedung-gedung itu. Gedung MPR DPR lebih ke situ. Mereka mau mencari luang jadi dia kayak mau melemahkan KPK membuat supaya bertindaknya itu harus dengan ijin mereka supaya mereka tahu celahnya KPK untuk masuk

P : Oke, terus untuk Jokowi sendiri pada pelantikan Jokowi periode pertama sama kedua ini ada perbedaan tidak menurut bapak?

I : Pelantikan jokowi setelah saya baca ini tadi, justru terlihat berbeda yaa. Kayak Jokowi seperti terlalu takut kalau nanti bisa ricuh sampai harus mengerahkan penjagaan yang ketat sama harus menutupi beberapa jalan ya. Terus di pelantikan ini juga Jokowi terkesan lebih tertutup yaa menurut saya. Padahal waktu pelantikan yang pertama kali tuh, dia lebih merakyat sampai turun ke jalan juga seperti tidak takut sama masyarakatnya. Jadi menurut saya berbeda sih di pelantikan pertama sama kedua ini

P : Oke jadi mungkin aku menjelaskan lagi ya pak. Jadi kan tadi sebelum aku kasih tulisan nya, pendapat bapak setuju-setuju saja tentang RKUHP. Tapi setelah aku kasih tulisannya bapak jadi tidak setuju nih ya dengan tindakan yang diambil oleh pejabat-pejabat

I : Heem… iya benar, soalnya dia bener-bener pengen korupsi itu ketahuan. Jadi kayak mengontrol si KPK biar kalau misalkan mereka mau korupsi terus KPK mau datang, diumpetin dulu barang buktinya hahaha

P : Terus untuk pelantikan Jokowi juga bapak jadi merasa ada perbedaan yaa di periode pertama sama kedua

I : Iya betul, saya jadi merasa ada perbedaan di periode pertama sama kedua pelantikan itu

(23)

P : Oke pak kalau gitu, makasih ya pak untuk waktunya ya pak, selamat siang pak I : Iya, sama-sama

INFORMAN KELIMA

P : Selamat siang pak, boleh perkenalkan nama, umur dan profesinya sebagai apa?

I : Nama saya Yusman, umur 30 tahun, profesinya sales P : Oke, biasanya bapak sering membaca tulisan dari mana?

I : Eee… biasa Kompas.com atau dengerin di tv P : Seberapa sering pak kira-kira bacanya?

I : Sebisa mungkin sih sehari sekali lah ya

P : Oh ya pak, sebelumnya aku mau tanya pak, bapak tahu ga sih pak tentang bahasa satire itu apa?

I : Bahasa saat ini?

P : Bahasa satire pak I : Satire?

P : Kalau tidak tahu aku bisa jelasin sedikit pak I : Oh ya boleh

P : Jadi tulisan satire itu seperti pendapat atau kritikan dari penulis untuk satu pihak, mungkin bisa seperti contohnya pemerintah. Tapi kritikannya lebih halus pak, kalau sarkas kan agak kasar nih pak. Nah kalau satire ini lebih halus, dan supaya tulisan itu juga santai jadi untuk pembaca lebih enak untuk baca lebih santai. Nah menurut bapak sendiri setuju ga sih dengan penggunaan bahasa satire?

I : sangat setuju, karena memang kalau tidak, kalau misal semuanya nurun-nurun, tidak ada yang berani nyentil, tidak ada yang berani menyinggung juga tidak baik kan untuk pemerintah atau untuk kita sendiri kelihatannya jadi normal-normal dan tidak ada masalah. Supaya pemerintah juga tau

P : Oke pak, baru-baru ini kan ramai banget kabar soal RKUHP sama pelantikan Jokowi. Menurut bapak sendiri bagaimana sih dengan RKUHP ini?

(24)

I : Ya… pada dasarnya sih memang ada beberapa yang menurut saya bisa dimengerti atau maksudnya juga mungkin bisa menjadi lebih baik untuk KPKnya sendiri kan. Lalu untuk penekanannya sendiri juga saya tidak begitu setuju, akan tetapi kalau ada yang bisa kontrol juga kayakanya kelihatannya bisa lebih baik juga sih. Jadi ya intinya ada beberapa yang saya setuju ada yang memang saya tidak setuju, jadi ya setengah”

P : Terus untuk pelantikan Jokowi yang kedua nih, ada perubahan tidak menurut bapak?

I : Sangat berbeda sekali sih ya, dibandingkan sama yang pelantikan pertama.

Dimana kalau yang pelantikan pertama kelihatannya lebih masyarakat juga bisa lebih eee…. merasakan euphoria-nya. Tapi kalau yang kedua ini malah merasakan ketakutan atau lebih cemas dibandingkan yang petama, karena demo dimana-mana dan yaa… banyak yang info-info juga bahwa katanya bakal ada yang berusaha untuk menggagalkan pelantikan Jokowi atau apalah

P : Oke jadi aku memperjelas lagi, jadi menurut bapak untuk RKUHP setengah- setengah, setuju dan tidak setuju. Kalau untuk pelantikan Jokowi memang berbeda banget

I : Iya betul berbeda banget

Pada sesi ini informan sedang membaca kedua tulisan yang disajikan oleh peneliti

P : Nah, kan tadi bapak sudah baca tulisan yang aku kasih, kalau gitu aku mau tanya. Menurut bapak, penulis dalam menulis tulisannya terlalu menyertakan opininya sendiri tidak?

I : Ga sih ya, menurut saya memang suara masyarakat pun banyak yang kesamaannya sama yang ditulis sama si pembuat tulisan

P : Apakah terlalu kuat dalam beropini pak?

I : Justru menurut saya kurang kuat sih hahahaha. Kurang kuat sih saya menuru saya, harusnya bisa

P : Kurang kuat harusnya bisa lebih maksudnya mungkin point-point yang krusialnya atau point-point yang cukup mahasiswa tekankan juga tidak gitu ter- blow up atau ga gitu keangkat semua.

I : Jadi menurut bapak setuju kalau penulis menggunakan bahasa satire?

(25)

P : Ya menurut saya setuju sih untuk penulis ini juga bisa lebih kritis dan lebih ada kalimat seperti itu biar lebih menarik

I : Oke, tadi kan aku sudah kasih dua tulisan opini nih pak, menurut bapak sendiri setelah baca ada pemikiran bapak yang berubah tidak atau semakin menambah yakin?

P : Awalnya sih memang saya ada yang setuju dan tidak setuju dengan RKUHP tersebut, tapi habis baca tulisannya ternyata tidak seperti yang saya pikirkan ya.

Saya sih jadinya sekarang kurang setuju dengan RKUHP yang dilakukan sama DPR karena ya ternyata setelah dibaca-baca lagi banyak pasal-pasal yang justru merugikan masyarakat kita. Seharusnya sih, pemerintah merevisi ulang KUHP ini dan juga melihat dari keadaan masyarakat sehingga kedua belah pihak sama-sama tidak dirugikan.

I : Dan untuk pelantikan Jokowi bagaimana pak?

P : Sama saya juga ngerasa bahwa memang sangat berbeda yaa. Pas pelantikan pertama lebih euphoria lebih ada lebih merakyat lah. Kalau yang kedua kan lebih ada… lebih ada kecemasan ada ketakutan. Dan memang yang pertama yang pas waktu Jokowi dilantik, saya sendiri ikut hadir dalam rangkaian yang mereka jalani dari istana dan di situ memang kerasa banget masyarakat membaur beda sama kedua ini ya lebih kayak balik lagi ke jaman-jaman sebelumnya yang memang hanya ada di istana, yaa ga gitu terasa lah ya.

I : Ok kalau gitu pak, makasih banyak pak atas waktunya P : Iya sama-sama

(26)
(27)
(28)

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perencanaan pembangunan jalan pada kawasan Alak yang dikerjakan dengan metode Analisa Komponen, dan rencana jenis pekerasan adalah Lapen dan Inter block maka

Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian bahan pakan sumber protein berbeda dapat memperbaiki konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan ayam lokal

Upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi susahnya masyarakat untuk naik angkutan umum yang tidak layak pakai dengan cara tindakan perbaikan angkutan umum yang

Kerja Sama Usaha tani Tebu Rakyat (KSU-TR), yaitu kerja sama saling menguntungkan dalam melaksanakan usaha tani tebu antara petani/kelompok tani/Koperasi dengan Pabrik

Dalam penelitian ini, peneliti bertujuan untuk mengetahui dan memahami konsep sekufu dalam masyarakat suku Rawayan dan bagaimana tinjauan hukum Islam menyikapi

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebesar 20 juta wisman dengan target devisa sebesar 240 triliun rupiah

Lalu dari sekian mazhab tersebut, mazhab mana yang harus kita percaya dan kita anut dan sesuai dengan kondisi negara dan bangsa ini.. Jawaban saya

[r]