[ 1 ]
[ 2 ]
[ 3 ]
Tema-tema Pilihan dalam
FIQH JIHAD
Ditulis oleh :
Maktab al-Buhuts wad Dirosat Ditarjamah oleh :
Abu Salik ‘afaAllohu ‘anh
[ 4 ]
Muqoddimah
Segala puji bagi Alloh yang Maha besar dan tinggi dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad –shollaAllohu
‘alayhi wa sallam- kepada keluarganya dan para sahabatnya, Amma ba’du :
Alloh ta’ala berfirman :
ه َللّا َّهنِإ ۚ هةَّهنه ْ
لْا ُمُههل َّهن ه
أِب مُه هلٰوْمهأهو ْمُههسُفنهأ هينِنِمْؤُمْلا هنِم ٰىه هتَْشا
ِليِبهس ِفِ هنو ُلِتٰقُي ِ َللّا
ِفِ اًَّقهح ِهْي هلهع اًدْعهو ۖ هنوُلهتْقُيهو هنوُلُتْقهيهف
ِدْههعِب ٰ هفَْوهأ ْنهمهو ۚ ِناهءْرُقْلاهو ِليِنجِْلْاهو ِةٰىهرْوَّهلا هنِم ۦِه
ِ َللّا اوُ ِشِْبهتْساهف ۚۚ
ُميِظهع ْ لا ُزْوهف ْ
لا هوُه هكِلٰذهو ۚ ۦِهِب مُتْعهياهب ىِ َّه
لَا ُمُكِعْيهبِب
“sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang beriman, baik jiwa dan harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Alloh sehingga mereka membunuh atau terbunuh sebagai janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang kalian lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.”
(Qs. At-Taubah : 111)
[ 5 ]
Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
فْوُ يُّسلا ِل َلَِظ َتَْتَ ِةَّنَلجا َباَوبَأ َّنإ
“Sesungguhnya pintu-pintu surga di bawah kilatan pedang.”
(HR. Ahmad)
Imam Al-Hasan Al-Bashri –rohimahulloh- berkata :
ا ِةَّنَلجا ُرَصَتُمُ َو ًارَصَتُْمُ ٍقْيرَط ِّلُكِل َّنإ ُداَهِلج
“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki jalan pintas, dan jalan pintas menuju surga adalah jihad.” [Hilyatul Awliya : 6/157]
Dikarenakan jalan jihad inilah yang mengantarkan kepada surga, maka haruslah dilakukan sesuai dengan tuntunan Al- Qur-an dan As-Sunnah. Adapun siapa yang mengaku dirinya telah berjihad akan tetapi ia lalai dan bodoh terhadap hukum-hukum dien maka ia telah tersesat walaupun ia menginginkan petunjuk dan telah membuat kerusakan di bumi walaupun ia tidak bermaksud demikian.
Oleh karena itu ulama memberikan perhatian khusus terhadap bidang ilmu ini, mereka banyak menyusun tulisan dan memenuhi perpustakaan dengannya. Bahkan jika dihitung maka ada lebih empat ratus kitab yang telah disusun ulama salaf maupun khalaf tentang “Fiqh jihad.”
Kami (Maktab al-Buhuts wad Dirosat) juga ikut menyusunnya dengan judul “Al-Masail Al-Jiyad Fii Fiqhil Jihad” agar tulisan ini –dengan pertolongan Alloh- bisa
[ 6 ]
menjadi pegangan bagi pemula dan menjadi penghibur bagi orang-orang yang lebih dahulu.
Dan akhir kata kami, segala puji bagi Alloh penguasa semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad –shollaAllohu ‘alayhi wasallam-
Maktab al-Buhuts wad Dirosat 1436H
[ 7 ]
Pengertian Jihad
Secara bahasa berasal dari kata Al-Juhdu yang bermakna Al- Masyaqqah (kesukaran) dan Ath-Thaqah (kemampuan) Di dalam kitab Lisaanul ‘Arob : Jihad adalah bersungguh- sungguh mengeluarkan kemampuan dalam peperangan, dengan lisan atau dengan apapun yang ia mampu.
Secara istilah syar’i : mengerahkan kesungguhan dan mengeluarkan kemampuan untuk memerangi pelaku kekafiran dan pembangkangan terhadap syari’at. Dengan tujuan meninggikan kalimat (dien) Alloh dan merendahkan kalimat orang-orang kafir.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata :
“Hakikat jihad ialah kesungguhan untuk meraih apa yang Alloh cintai berupa iman dan amal sholih dan melawan apa yang Alloh benci berupa kekafiran, kefasiqan dan kemaksiatan.” [Al-Fatawa Al-Kubro : 5/187]
Ibnu Hammam menjelaskan tentang jihad : “membasmi kerusakan yang ada di muka bumi.” [Fathul Qadir : 5/434]
Berkata Sayyid Qutb : “Jihad ialah usaha berkepanjangan dan perlawanan yang berkelanjutan demi menegakkan sistem al-Haq, bukan selainnya. Inilah jihad yang dijadikan al-Qur-an sebagai timbangan keimanan dan keikhalasan seseorang seseorang terhadap diin ini.” [Fii Zhilalil Qur-an : 2/1321]
[ 8 ]
Hikmah disyari’atkannya jihad
Sesungguhnya jihad fii sabilillah memiliki hikmah yang banyak dan tujuan yang agung, diantaranya :
1. Menegakkan agama Alloh dan mewujudkan penghambaan terhadap Rabb semesta alam.
2. Melawan kesyirikan yang ia merupakan kezhaliman yang paling zhalim dan kerusakan yang paling besar.
Alloh ta’ala berfirman :
هنوُكهت ه
لَ ٰ َّهتَهح ْمُهوُلِتٰقهو ةهنْتِف
يَِّلا هنوُكهيهو ِنِإهف ۖ ِهـ َّهلِل ُن
اْوهههتنا هينِمِل ّٰظلا ه هعَل َّهلَِإ هنٰوْدُع هلَهف
“dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah (kesyirikan) dan agama hanya milik Alloh. Jika mereka berhenti maka tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap orang zhalim.” (Qs. Al-Baqoroh : 193)
3. Membuka jalur hidayah bagi manusia dan menghilangkan penghalang-penghalang da’wah.
4. Menjaga lima kepentingan utama : agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta.
5. Mendapatkan kekuasaan di muka bumi untuk ditegakkannya syari’at Alloh dan menghilangkan kerusakan agama maupun dunia.
6. Bentuk perwujudan nyata dari prinsip al-Wala’ wal Baro’, dengan berloyal kepada orang-orang yang bertauhid dan menolong mereka, memusuhi orang- orang kafir dan memerangi mereka.
[ 9 ]
7. Memberantas kezhaliman dan menunaikan hak kepada yang memilikinya dan menghalangi terjadinya kerusakan di muka bumi. Alloh ta’ala berfirman :
ُعْفهد لَْوهلهو ه ِ َللّا
ُضْر ه ْ
لْا ِتهد هسهف َّهل ٍضْعهبِب مُههضْعهب هساَّهلا
هينِم هلٰعْلا ه هعَل ٍلْضهف وُذ هللّا َّهنِكٰلهو
“dan jika Alloh tidak melindungi manusia dengan sebagian manusia yang lain niscaya rusaklah bumi ini.
Tetapi Alloh memiliki karunia yang dilimpahkanNya atas seluruh alam.” (Qs. Al-Baqoroh : 251)
8. Menjaga keutuhan dan kemuliaan kaum muslimin, kemurniannya, dan menolong kaum yang lemah.
Alloh ta’ala berfirman :
ْمُكهل اهمهو ِ َللّا ِليِبهس ِفِ هنو ُلِتٰقُت هلَ
هنِم هينِفهع ْضهت ْسُم ْ لاهو
َِّرلا ِهِذٰه ْنِم اهنْجِرْخ ه
أ آهنَّهبهر هنوُلوُقهي هنيِ َّه لَا ِنٰ ْ
لِو ْ
لاهو ِءآ هسَِّنلاهو ِلاهج اه ل لهعْجاهو اًَّ ِلهو هكنُ َّه َّه
ل نِم اه ل لهعْجاهو اههُلْه َّه ه
أ ِمِلا َّهظلا ِةهيْرهق ْ لا اًير ِصهن هكنُ ل نِم َّه
“mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Alloh dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdo’a : Wahai Rabb kami keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zhalim. Berikanlah kami pelindung dari sisi-Mu dan berikanlah kami penolong dari sisi-Mu.”
(Qs. An-Nisa : 75)
[ 10 ]
9. Membongkar kedok kaum munafiq dan menyaring barisan orang-orang beriman. Alloh ta’ala berfirman :
هيزِمهي ٰ َّهتَهح ِهْيهلهع ْمُتنهأ آهم ٰه هعَل هينِنِمْؤُمْلا هرهذهِل ُللّا هنهكَ اَّهم هن هكَ اهمهو ۗ ِبَِّي َّهطلا هنِم هثيِبه ْ
لْا ُ َللّا
ِبْيهغ ْ لا ه هعَل ْمُكهعِلْطُِل
َّهنِكٰلهو ه َللّا
ِلُسَُّر نِم ِبِهتْ هيَ
اوُنِمأَهـهف ۖ ُءآ هشهي نهم ۦِه ِ َللّاِب
ۦِهِلُسُرهو ۚ
َإِ
اوُقَّهتهتهو اوُنِمْؤُت ن ميِظهع رْج ه
أ ْمُكهلهف
“Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini. Sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Alloh tidak akan memperlihatkan kepadamu hal- hal yang gaib, tetapi Alloh memilih siapa saja yang Dia kehendaki diantara rosul-rosul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Alloh dan rosul-rosul-Nya. Jika kamu beriman dan berafdhol, maka kamu akan mendapatkan pahala yang besar” (Qs. Ali ‘Imron : 179)
[ 11 ]
Tahapan-Tahapan disyari’atkannya Jihad
Di fase makkah Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa salam– diperin- tahkan untuk menjadi pemaaf, bersabar menghadapi gangguan, membantah dengan kata-kata yang lembut dan sabar, dan diperintahkan untuk berjihad melawan orang kafir dengan argumen dan penjelasan. Nabi –shalallau ‘alayhi wa sallam- belum diperintahkan untuk berjihad dengan pedang dan tombak kecuali setelah hijrah ke Madinah. Alloh ta’ala berfirman :
ًلَيِ هجَ اًرْجهه ْمُهْرُجْهاهو هنوُلوُقهي اهم ٰ ه هعَل ْ ِبِْصاهو
“dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (Qs. Al- Muzammil : 10)
juga firman-Nya ta’ala :
ه ِهِ ِتََّهلاِب ْمُهْلِداهجهو ِةهنهسهْلْا ِةهظِعْوهمْلاهو ِةهمْكِْلْاِب هكَِّبهر ِليِبهس هلَِإ ُعْدا َّهبهر َّهنِإ ُن هسْح ه
أ ُمهلْع ه
أ هوُههو ِهِليِبهس ْنهع َّهل هض ْنهمِب ُم هلْعهأ هوُه هك
هنيِدهتْهُم ْ لاِب
“serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sungguh Rabbmu Dialah yang lebih
[ 12 ]
mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.” (Qs. An-Nahl : 125)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –Rohimahulloh- : Nabi di fase Awal diperintahkan untuk jihad dengan Al-Qur- an, itulah yang disebut dengan jihaadan kabiron (jihad yang besar) dalam firman Alloh ta’ala :
اًيرِب هك اًداههِج ِهِب ْمُهْدِهاهجهو هنيِرِفهكَْلا ِعِطُت لَهف
“maka janganlah kamu mentaati orang-orang kafir dan jihadlah melawan mereka dengannya (Al-Qur-an), dengan jihad yang besar.” (Qs. Al-Furqan 52)
dahulu Nabi diperintahkan untuk menunda dari memerangi mereka karena kondisi lemahnya kaum muslimin untuk melakukan hal tersebut. [Al-jawab Ash-Shohih liman baddala diinal masih 1/74]
Telah datang syari’at jihad fii sabilillah dengan jiwa secara bertahap menjadi tiga fase, yaitu :
Fase pertama : diizikan untuk berperang fii sabilillah tanpa diwajibkan. Alloh berfirman ta’ala :
ريِدهقهل ْمِهِ ْصْهن ه هعَل ه َللّا َنَإِ اوُمِلُظ ْمُهَنهأِب هنوُلهتاهقُي هنيِ َلَِّل هنِذُأ 39 ه
لَْوهلهو ُ َللّا اهنُّبهر اوُلوُقهي ْن ه أ َ
لَِإ ٍَّقهح ِ ْيرهغِب ْمِهِراهيِد ْنِم اوُجِرْخ ُ
أ هنيِ لَا َ
ْتهمَِّدُههل ٍضْعهبِب ْمُه هضْعهب هساَلا ِ َللّا ُع ْفهد
تاهوهل هصهو عهيِبهو ُعِماهو هص
[ 13 ]
َنِإ ُهُ ُصْْنهي ْنهم ُ َللّا َنه ُصْْنه هلهو اًيرِثهك ِ َللّا ُمْسا اههيِف ُرهكْذُي ُدِجاهسهمهو زيِزهع ٌّيِوهق هل ه َللّا 40
“diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizhalimi. Dan sungguh Alloh maha kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata “Rabb kami hanyalah Alloh.”
Seandainya Alloh tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain. Tentu telah dirobohkannya biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah- rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya disebut nama Alloh. Alloh pasti akan menolong orang yang menolong agamaNya. Sungguh Alloh maha kuat lagi maha perkasa.”(Qs. Al-hajj : 39-40)
beberapa ulama berkata : “ini adalah ayat pertama yang berkaitan tentang jihad.” [Tafsir Ibnu Katsir]
Fase kedua : diperintahkannya memerangi orang-orang kafir yang memerangi islam, dan tidak memerangi siapa yang tidak memerangi. Fase ini juga bisa dinamakan dengan fase perlawanan.
Alloh ta’ala berfirman :
َُّبِ ُيُ لَ َهللّا َّهنِإ اوُدهتْعهت لَهو ْمُكهنو ُلِتاهقُي هنيِ َّهلَا ِ َّهللّا ِليِبهس ِفِ اوُلِتاهقهو هنيِدهتْعُم ْ لا
“dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Alloh tidak
[ 14 ]
menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al- Baqoroh : 190)
Fase ketiga : diperintahkannya memerangi seluruh orang- orang kafir. Dan memulai untuk memerangi mereka dimanapun mereka berada hingga mereka masuk islam atau membayar jizyah dengan keadaan hina dan tunduk dengan hukum islam, lalu ia masuk dalam perlindungan kaum muslimin.
Alloh ta’ala berfirman :
ْمُهوُمُتْدهجهو ُثْيهح هينِكِ ْشُِم ْ لا اوُلُتْقاهف ُمُرُ ْ
لْا ُرُهْشلْا هخهل هسْنا اهذِإهف اوُماهق ه
أهو اوُباهت ْنِإهف ٍد هصْرهم َّه ُك ْمُههل اوُدُعْقاهو ْمُهوُ ُصْْحاهو ْمُهوُذُخهو ميِحهر روُفهغ َهللّا َّهنِإ ْمُه هليِبهس اوَُّلهخهف هةهكََّهزلا اُوهتآهو هةلَ َّهصلا
“dan apabila telah berlalu bulan-bulan haram maka perangilah orang-orang musyrik dimanapun kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat- tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat, melaksanakan sholat dan menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh Alloh maha pengampun lagi maha penyayang.” (Qs. At-Taubah : 5)
Imam Al-Qurthubi –rohimahulloh- berkata : {apabila telah berlalu bulan-bulan haram} “yaitu telah keluar darinya.”
{perangilah orang-orang musyrik} “umum untuk seluruh musyrikin.” {dimanapun kamu temui} “umum di seluruh tempat.” [Tafsir Al-Qurthubi]
Jizyah : adalah bagian dari harta yang diambil dari kepada- kepala keluarga mereka setiap tahunnya sebagai ganti dari
[ 15 ]
jaminan perlindungan mereka dan menetapnya mereka di negara-negara kaum muslimin.
Apakah jizyah diambil dari seluruh musyrikin arab?
Jizyah diambil dari ahli kitab (yahudi dan nasrani) dan dari orang-orang yang terkena syubhat kitab seperti majusi.
Adapun musyrikin penyembah berhala-berhala tidaklah diambil jizyah darinya, akan tetapi diberi pilihan untuk masuk islam atau diperangi. Diriwayatkan dari Qatadah tentang Qs. At-Taubah ayat 4 :
َ لَِإ ْمهلهو اًئْي هش ْمُكو ُصُقْنهي ْمهل َّهمُث هينِكِ ْشُِم ْ لا هنِم ْمُتْدهه هعَ هنيِ لَا َّه
اًدهح ه
أ ْمُكْيهلهع اوُرِها هظُي
{kecuali orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kalian dan mereka sedikitpun tidak mengurangi (isi perjanjian) dan tidak juga mereka membantu seorangpun untuk memusuhi kalian.} “mereka adalah musyrik quroisy yang Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- memiliki perjanjian dengan mereka ketika hudaibiyah. Saat itu waktu yang tersisa hanyalah empat bulan setelah hari qurban. Lalu Alloh memerintahkan Nabi- Nya untuk memenuhi perjanjian mereka hingga waktu yang ditentukan. Dan siapa yang tidak memiliki perjanjian hingga berakhirnya bulan harom maka masing-masing yang memiliki perjanjian dikembalikan kepada perjanjiannya. Dan Alloh memerintahkan untuk memerangi mereka hingga mereka bersaksi Laa ilaaha illaAlloh dan muhammad adalah utusan Alloh, dan tidak diterima dari mereka kecuali hal tersebut.” [Tafsir Ath-Thobari]
[ 16 ]
Imam Abu Hanifah –rohimahulloh- berkata: “tidaklah diterima dari musyrikin arab kecuali islam atau pedang. Dan jizyah diterima dari ahli kitab dan dari orang-orang kafir
‘ajam (non-arab).”
Imam Malik –rohimahulloh- berkata : “jizyah diambil dari penyembah api dan berhala dan dari siapa saja selainnya.
Dari orang arab, quroisy, ‘ajam kecuali dari orang murtad.”
Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad dan Abu Tsaur – rohimahumulloh- berkata : “jizyah tidak diterima kecuali dari orang-orang yahudi, nasrani dan majusi saja.” [Al-Bahr Al- Muhith Fi Tafsir]
[ 17 ]
Pembagian Jihad
berdasarkan hukum-hukumnya
Jihad berdasarkan hukumnya dibagi menjadi dua :
Pertama : Fardhu kifayah. Ia adalah jihad tholab (ofensif).
Jika sudah ada pasukan yang cukup yang menunaikannya maka kewajibannya telah hilang untuk yang lainnya.
Dalil atas kewajiban tersebut adalah firman Alloh dalam Qs.
Al-Baqoroh 216 : “telah diwajibkan atas kalian berperang.”
Dan sabda Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- :
َو َتاَم نَم ْثّدَُيُ َلمَو ُزْغَ ي َلم
َسْفَ ن هب َغلاِب ُه ٍةَبْعُش ىَلع تام ِوْز
ِنلا نَم
“barangsiapa yang mati sedangkan ia belum pernah
قاَف
beperang, dan belum pernah meniatkan dirinya untuk berperang maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafiqan.” [HR.Muslim] dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajibannya secara umum.
Adapun pada jihad tholab tidaklah wajib secara setiap personal. Yang menunjukan hal tersebut adalah firman Alloh ta’ala :
[ 18 ]
ةهفِئا هط ْمُهْنِم ٍةهقْرِف ِ َّ ُك ْنِم هرهفهن لَْوهلهف ًةَّهفهكَ اوُرِفْنه ِل هنوُنِمْؤُمْلا هنهكَ اهمهو هنوُرهذْ هيُ ْمُهَّهلهعهل ْمِهْ هلِإ اوُعهجهر اهذِإ ْمُههمْوهق اوُرِذْنُِلهو ِنيَِّلا ِفِ اوُهَّهقهفهتهِل
“dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah datang kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” [Qs. At-Taubah 122]
Kedua : Fardhu ‘ain. Jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi –yang telah disepakati oleh para ulama- :
1. Jika telah masuk ke barisan peperangan.
Berdasarkan firman Alloh ta’ala :
هلَهف اًفْحهز اوُرهفهك هنيِ َ
لَا ُمُتيِقهل اهذِإ اوُنهمآ هنيِ لَا اههُّي َ ه أاهي هراهبْد ه ْ لْا ُمُهوُّلهوُت اًفَِّرهحهتُم َ 15
لَِإ ُههرُبُد ٍذِئهمْوهي ْمِهِ َّلهوُي ْنهمهو ُهاهو ْ
أهمهو ِ َللّا هنِم ٍب هضهغِب هءاهب ْدهق هف ٍةهئِف هلَِإ اً َِّيزهحهتُم ْوهأ ٍلاهتِقِل ُير ِصهم ْ هج
لا هسْئِبهو ُمَنهه 16
“wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka tanganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur). Dan barangsiapa yang mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sungguh, orang itu kembali membawa
[ 19 ]
kemurkaan dari Alloh. Tempatnya ialah neraka jahannam, dan seburuk-buruknya tempat kembali.” [Qs. Al-Anfal 15-16]
juga telah diriwayatkan dari hadits Abu Huroyroh bahwasannya Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda : “jauhilah tujuh yang membinasakan…” dan disebutkan diantaranya (
ِفْحَّزلا َمْوَ ي ِّلَِّوَ تلا
) “berbalik mundur di saat peperangan.” [muttafaq ‘alayhi]Tidak dikecualikan dalam ayat tersebut bagi yang berbalik mundur dalam menghadapi orang-orang kafir kecuali dua kelompok :
{kecuali yang berbelok untuk (siasat) perang} yaitu pergi ke sisi lain agar mendapatkan posisi yang tepat untuk menyerang musuh.
{atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain} yaitu berpindah ke perkumpulan yang lain untuk berperang bersama mereka, agar menguatkan mereka atau agar dikuatkan oleh mereka.
2. Jika musuh telah menerobos perkampungan kaum muslimin. Maka jihad menjadi wajib untuk setiap person kaum muslimin untuk memukul mundur musuh yang menyerang dan menjaga keutuhan kaum muslimin. Kewajiban itu dibebankan dimulai atas kaum muslimin yang terdekat lalu atas orang-orang yang terdekat setelahnya.
[ 20 ]
Berdasarkan firman Alloh ta’ala :
ْمُكِلاهوْم ه
أِب اوُدِهاهجهو لَاهقِثهو اًفاهفِخ اوُرِفْنا ِفِ ْمُكِسُفْن ه
أهو
ِ َللّا ِليِبهس هنوُمهلْعهت ْمُتْنُك ْنِإ ْمُكهل ْيرهخ ْمُكِلهذ
“berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat.” [Qs. At-Taubah : 41]
3. Jika telah diperintah oleh imam. Diwajibkan untuk berangkat atas siapa saja yang mendapatkan perintah. Berdasarkan firman Alloh ta’ala :
ِإ ْمُكهل اهم اوُنهمآ هنيِ َّهلَا اههَُّيهأ اهي هل هليِق اهذ
ِفِ اوُرِفْنا ُمُك
َللّا ِليِبهس ِۚ
هنِم اهيْنَُّلا ِةاهيه ْ
لْاِب ْمُتي ِضهر ه
أ ِضْرلْا ه
لَِإ ْمُت ْ لهقاَّهثا ليِلهق لَِإ ِةهرِخلآا ِفِ اهيْنَُّلا ِةاهيه ْ
لْا ُعاهتهم اهمهف ِةهرِخلآا
“wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, “berangkatlah (untuk berperang) di jalan Alloh.” Kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyayangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”
[Qs. At-Taubah : 38]
juga berdasarkan sabdanya :
اوُرِفْناَف ُتُْرِفْنُ تْسا اَذإ َو
[ 21 ]
“dan apabila kalian diperintahkan untuk berangkat, maka berangkatlah!” [muttafaq
‘alayhi]
Sebagaimana juga yang disebutkan oleh sebagian ahli ilmu bahwasannya jihad menjadi fardhu ‘ain jika pasukan yang melaksanakan jihad tholab belum tercukupi hingga ia tercukupi dan jika sebagian kaum muslimin ada yang tertawan. Jihad juga diwajibkan atas ahli ilmu, orang yang memiliki kecerdasan dan keberanian yang dibutuhkan di perbatasan-perbatasan peperangan.
Catatan : jika jihad telah menjadi fardhu ‘ain maka tidak lagi disyaratkan bagi yang mengikutinya syarat apapun; izin imam, izin kedua orang tua, izin orang yang dihutanginya, maupun yang lain. Maka wajib bagi siapa saja yang memiliki kemampuan untuk ikut berperang dengan kemampuannya.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata :
“adapun qital daf’i (berperang untuk mempertahankan diri) ia adalah jenis perlawanan yang paling dibutuhkan untuk membela kehormatan dan agama. Maka ia wajib berdasarkan ijma’. Musuh yang menyerang (muslimin) yang merusak agama dan dunia, tidak ada sesuatu apapun yang lebih wajib daripada melawan94201nya. Maka tidak disyaratkan apapun untuk memenuhinya. Akan tetapi ia harus dilawan dengan segala kemampuan. Hal tersebut telah ditetapkan oleh para ulama. maka haruslah dibedakan antara melawan kafir yang telah masuk ke perkampungan kaum muslimin dengan berjihad tholab melawan mereka di negara mereka.” [Al-Mustadrok karya Ibnu Qasim 3/215]
[ 22 ]
[ 23 ]
Syarat-Syarat Jihad
Jihad diwajibkan dengan adanya enam syarat :
1. Islam. Karena orang kafir tidak diterima amalan apapun darinya. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
ْنِم ْمُكيِجْنُت ٍةهراه ِتِ ه هعَل ْمُكُّلُدهأ ْلهه اوُنهمآ هنيِ َلَا اههُّيهأاهي ٍم ِل ه
أ ٍبا هذهع ِليِبهس ِفِ هنوُدِهاه ُ 10
تِهو ِ ِلِوُسهرهو ِ َللّاِب هنوُنِمْؤُت
ْمُتْنُك ْنِإ ْمُك هل ْيرهخ ْمُكِلهذ ْمُكِسُفْنهأهو ْمُكِلاهوْمهأِب ِ َللّا هنوُمهلْعهت 11
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Alloh dan RosulNya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” [QS. Ash-Shaf : 10-11]
Dalam ayat tersebut Alloh mendahulukan penyebutan iman sebelum jihad. Dan diriwayatkan dari Baro Ibnu
‘Azib bahwasannya ada seorang laki-laki dengan topi besi mendatangi Nabi, lalu berkata : “wahai Rosululloh, aku ikut berperang atau masuk islam dahulu?” Nabi menjawab : (
ْلِتاَق َُّثُ ْمِلْسَأ
) “masukislamlah! lalu berperanglah!” maka ia masuk islam,
[ 24 ]
berperang dan terbunuh. Lalu Rosululloh – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
يثك َرِجُأ َو ًلَيلَق َلِمَع
“ia beramal sedikit namun mendapat pahala yang
ًا
banyak.” [HR. Bukhoriy]
2. Baligh. Maka anak kecil keluar dari hukum tersebut.
dalilnya adalah dari Ibnu Umar, ia berkata : “aku mengajukan diriku kepada Rosululloh –shollaAllohu
‘alayhi wa sallam- ketika aku berusia 14 tahun, akan tetapi beliau tidak memperbolehkanku untuk ikut berperang.” [HR. Muslim]
3. Berakal. Maka kewajiban jihad tidaklah dibebankan kepada orang gila. Dalilnya adalah sabda Nabi – shollaAllohu ‘alayhi wasallam- :
ِفُر َلَث نع ُمَلَقلا َع نع ث
و ظِقيتْسَي َّتَّح مِئانلا نع
َّصلا لِقعَي َّتَّح ِنوُنْلمجا نع و مِلَت َيُ َّتَّح ِبِ
“pena diangkat dari tiga; orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia bermimpi, dan dari orang gila hingga ia berakal.” [HR. Abu Dawud]
4. Merdeka. Maka jihad tidak diwajibkan bagi budak.
Yang menunjukan hal demikian adalah hadits dari Jabir : “bahwasannya ada seorang budak mendatangi Nabi –shollaAllohu –’alayhi wasallam- untuk berbaiat kepada Nabi atas jihad dan islam. Lalu datang seorang pemilik budak tersebut yang mengabarkan kepada Nabi bahwasannya ia adalah seorang budak.
[ 25 ]
Lalu Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- membeli budak tersebut darinya dengan tebusan dua budak.
Maka setelah kejadian tersebut jika ada seseorang yang ia tidak kenal ingin membaiat dirinya Nabi bertanya terlebih dahulu kepadanya “apakah kamu merdeka atau seorang budak?” apabila ia menjawab merdeka maka Nabi menerima bai’atnya atas islam dan jihad. Tetapi jika budak maka menerima bai’atnya atas islam tanpa jihad.” [HR. Muslim]
5. Laki-laki. Maka tidak diwajibkan jihad atas perempuan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari
‘Aisyah, ia berkata : “aku meminta izin kepada Nabi untuk berjihad.” Lalu Nabi bersabda : (
ّجلحا َّنُكُدَاه ِج
)“jihad kalian adalah haji.” [HR. Bukhoriy]
6. Mampu dari segi fisik dan harta. Maka jihad tidak diwajibkan bagi yang tidak mampu. Dalilnya adalah firman ‘Alloh ta’ala :
هنيِ لَا َ ه هعَل هلَهو هضَْرهمْلا ه هعَل هلَهو ِءاهفهع ُّضلا ه هعَل هسْيهل ه لَ
ه هعَل اهم ِ ِلِوُسهرهو ِ َِللّ اوُح هصهن اهذِإ جهرهح هنوُقِفْنُي اهم هنوُدِ هيَ
ميِحهر روُفهغ ُ َللّاهو ٍليِبهس ْنِم هينِنِسْحُم ْ لا
“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Alloh dan Rosul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang
[ 26 ]
berbuat baik. dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Qs. At-Taubah : 91]
[ 27 ]
Hal-hal yang berkaitan dengan hukum jihad dan orang-orang
yang berangkat berjihad
Sungguh Alloh telah memerintahkan kita untuk beribadah kepadanya di atas bashirah. Dan jihad adalah ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling mulia. Oleh karena itu wajib bagi mujahidin untuk mempelajari tentang hukum- hukum jihad dan perkara-perkara yang berkaitan tentangnya, hingga mengantarkannya kepada sisi yang paling sempurna.
Dan disini kita akan menyebutkan hal-hal terpenting yang berkaitan dengan syarat-syarat jihad dan hukum-hukum qital.
Persoalan pertama : hukum jihad tanpa izin dari waliyul amri (pemimpin).
Apabila jihad hukumnya farhu kifayah maka tidak diperbolehkan melaksanakannya tanpa seizin imam. Karena ia termasuk dari kepentingan-kepantingan umat yang umum yang berkaitan dengan keamaan atau ketidak amanannya masyarakat. Maka tidaklah pantas untuk memutuskan hal tersebut tanpa merujuk kepada imam. Alloh ta’ala berfirman:
[ 28 ]
ه لَِإ ُهوُّدهر ْو هلهو ِهِب اوُعاهذهأ ِفْوهْلْا ِوهأ ِنْمه ْلْا هنِم رْمهأ ْمُههءاهج اهذَإِ ه لَْوهلهو ْمُهْنِم ُههنو ُطِبْنهت ْسهي هنيِ َ
لَا ُههمِلهعهل ْمُهْنِم ِرْم ه ْ لْا ِلِو ُ
أ ه
لََإِ ِلوُسَرلا ًلَيِلهق َ
لَِإ هنا هطْي َشلا ُمُتْعهبَت لَ ُهُته ْحْهرهو ْمُكْيهلهع ِ َللّا ُل ْضهف ه
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.
dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rosul dan ulil Amri). kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Alloh kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (diantaramu).” [Qs.
An-Nisa 83]
Izin imam untuk berjihad hukumnya wajib kecuali pada tiga kondisi :
1. Jika musuh telah menyerang. Maka tidak diwajibkan untuk meminta izin kepada imam. Karena melawan musuh yang sudah menerobos masuk adalah wajib
‘aini (diwajibkan atas setiap personal) demi membela kehormatan dan agama berdasarkan ijma’.
2. Jika mendapatkan kesempatan menyerang yang bisa menerobos benteng musuh dan melemahkan pertahanan mereka. Maka tidak dibutuhkan izin terlebih dahulu agar kesempatan tidak terlanjur hilang.
3. Jika imam mengabaikan syari’at jihad.
[ 29 ]
Persoalan ke-dua : hukum mentaati amir dalam jihad.
Diwajibkan atas pasukan untuk mentaati amirnya, selama bukan perbuatan maksiat kepada Alloh. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasannya Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
ْرَمْؤُ ي َْلم اَم َهِرَكَو َّبَحَأ اَميِف ِمِلْسُلما ِءْرَلما ىَلَع ُةَعاَّطلاَو ُعْمَّسلا َرِمُأ ْنِإَف ،ٍةَيِصْعَِبِ
َلََف ٍةَيِصْعَِبِ
َةَعاَط َََو ِهْيَلَع َعََْ
“mendengar dan taat wajib bagi pribadi muslim dalam perkara yang ia sukai maupun tidak sukai, selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak diperbolehkan mendengar dan taat.”
[HR. Tirmidzi]
dengan tetap sabar terhadapnya, menasehatinya dan tidak diperbolehkan mendebatnya. Alloh ta’ala berfirman :
ِ َّه لَا اههَُّي ه
أ اهي ه َللّا اوُعيِط ه
أ اوُنهمآ هني ْمُكْنِم ِرْملْا ِلِو ُ
أهو هلوُسَّهرلا اوُعيِط ه أهو
ُتْعهزاهنهت ْنِإهف ٍءْ هشَ ِفِ ْم
ِ َللّا ه
لَِإ ُهوَُّدُرهف َرلاهو
ِإ ِلوُس هنوُنِمْؤُت ْمُتْنُك ْن
ِ َللّاِب لَيِو ْ
أهت ُن هسْح ه
أهو ْيرهخ هكِلهذ ِرِخلآا ِمْوه لاهو ْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Qs. An-Nisa : 59]
[ 30 ]
Dan Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
َقَ ف ِنِاَصَع ْنَمَو ،َهَّللا َعاَطَأ ْدَقَ ف ِنَِعاَطَأ ْنَم ْنَمَو ،َهَّللا ىَصَع ْد
َعاَطَأ ْ يِمَلأا ِنَِعاَطَأ ْدَقَ ف َر ْنَمَو ،
ىَصَع
، ِنِاَصَع ْدَقَ ف َيِمَلأا
“Barangsiapa yang mentaatiku maka ia telah mentaati Alloh, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Alloh, barangsiapa yang taat kepada amir maka ia telah mentatiku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir maka ia telah bermaksiat kepadaku.” [HR.
Bukhoriy]
Persoalan ke-tiga : hukum meminta izin kepada amir untuk keluar dari kamp pasukan dan semisalnya.
Tidak diperbolehkan bagi siapa saja dari prajurit untuk keluar dari kamp pasukan untuk menunaikan suatu hajat, menyelinap ke markas musuh atau selainnya kecuali dengan izin komandan pasukan atau amir. Karena dia lah yang lebih memahami kondisi pasukan dan tempat musuh, dekat atau jauhnya dan posisi-posisi yang aman. Karena tidaklah amir memberikan izin kepada prajuritnya kecuali dengan pantauan atasnya. Adapun jika mereka keluar tanpa perintah dari amir atau izinnya, maka ia tidak aman dari jebakan musuh atau sesuatu yang bisa mencelakakannya. Bisa jadi ketika pasukan pergi hingga akhirnya penjagaan di luar terabaikan. Imam Ibnu Qudamah menjelaskan “dan mereka tidak diperbolehkan keluar kecuali dengan izin amir.” [Al- Mughni 13/33] dan diqiyaskan atas persoalan ini juga bagi siapa yang berjaga di perbatasan, sedang ribath atau di tempat manapun yang amir memerintahkannya untuk
[ 31 ]
menetap di tempatnya. Maka tidak diperbolehkan pergi atau berpindah kecuali dengan izin amir.
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rohimahulloh- berkata “para ulama menjelasakan dahulu di peperangan Uhud dan apa-apa yang terjadi terhadap kaum muslimin terdapat faidah-faidah dan hikmah-hikmah robbaniyyah yang agung. Diantaranya : pemberitahuan kepada kaum muslimin akan buruknya dampak daripada maksiat, dan kecelakaan yang diperolah ketika melanggar sesuatu yang terlarang. Yaitu ketika para pemanah meninggalkan tempat-tempat mereka yang Nabi – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- perintahkan untuk tidak meniggalkannya.” [Fathul bari 7/347]
Persoalan ke-empat : hukum meminta izin kepada kedua orang tua untuk berjihad.
Meminta izin kepada kedua orang tua memiliki dua keadaan:
1. Ketika jihad hukumnya fardhu kifayah diwajibkan meminta izin kepada keduanya jika mereka berdua muslim. Dalilny adalah hadits dari Abdullah Ibnu ‘Amr bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- untuk meminta izin ikut berjihad. Lalu Rosululloh bertanya : (
َكاَدِلاَو ٌّيَحأ
)“apakah kedua orang tuamu masih hidup?” ia menjawa : “iya.” Nabi bersabda : (
ْدِهَاجَف اَمِهْيفَف
)“kepada mereka berdua berjihadlah.” [HR. Bukhoriy &
Muslim]
2. Ketika jihad hukumnya fardhu ‘ain –seperti keadaan jihad di hari ini- maka tidak diwajibkan meminta izin
[ 32 ]
kepada keduanya berdasarkan kesepakatan para ulama1 -rahimahumulloh- karena mengerjakan yang hukumnya fardhu ‘ain tidaklah disyaratkan izin kedua orang tua. Terlebih lagi bahwasannya ketaatan kepada orang tua itu terikat dengan ketaatan kepada Alloh. Jika kedua orang tua memerintahkan kepada maksiat maka tidak diperbolehkan mendengar dan taat. Dan meninggalkan jihad yang telah diwajibkan kepada setiap personal/fardhu ‘ain adalah kemaksiatan. Rosululloh -shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda : “tidak ada ketaatan kepada makhluq untuk bermaksiat kepada sang Khaliq.” [HR.
Ibnu Abi Syaibah 7/737]
Persoalan ke-lima : hukum jihad orang yang memiliki hutang.
jika hukum jihad telah menjadi fardhu ‘ain, maka tidak ada perselisihan di kalangan para ulama bahwasannya tidak disyaratkan izin orang yang dihutangi untuk berangkatnya mujahid ke medan jihad. Sama saja apakah hutang itu baru atau lama, sama saja jika yang hutang itu dalam kondisi sulit maupun lapang.2 Dalilnya firman Alloh ta’ala :
ِ َّهللّا ِليِبهس ِفِ ْمُكِسُفْن ه
أهو ْمُكِلاهوْم ه
أِب اوُدِهاهجهو لَاهقِثهو اًفاهفِخ اوُرِفْنا هنوُمهلْعهت ْمُتْنُك ْنِإ ْمُك هل ْيرهخ ْمُكِلهذ
1 Lihat : Badai’u Ash-Shana’iq 6/58, Tabyinul Haqo’iq 3/241, Bidayatul Mujtahid 1/384, Al-Ma’unah 1/602, Roudhatu Ath-Thalibin 10/214, Al-Mughni 13/26 dan Hasyiyah Ar-Roudh Al-Murobba’ 13/26
2 Lihat : Al-kafi Fi Fiqh Al-Imam Ahmad 4/170, Al-Muharror Fi Al-Fiqh 2/171
[ 33 ]
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Alloh. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” [Qs. At-Taubah 41]
Sisi pengambilan dalil dari ayat tersebut ialah bahwasannya Alloh memerintahkan kaum mukminin untuk berangkat berjihad dalam keadaan ringan maupun berat, yaitu keadaan faqir maupun kaya. Maka jika telah fardhu ‘ain atas mereka berjihad tidak lagi disyaratkan izin orang yang dihutanginya.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata : “aku pernah ditanya mengenai orang yang memiliki hutang dan ia mampu melunaskannya sedangkan jihad telah menjadi fardhu ‘ain.
Maka aku menjawab : ada hal-hal yang wajibkan untuk lebih didahulukan dari membayar hutang, diantaranya menafkahi diri, istri dan anak. Juga ada hal-hal yang hutang wajib didahulukan darinya, seperi haji dan membayar kafarot. Juga ada hal yang tidak didahulukan dari hutang jika dia lah yang berhak menerimanya, seperti shadaqoh fitri. Adapun jihad jika ia telah fardhu ‘ain untuk menolak sebuah kemudhorotan seperti jika musuh telah menerobos masuk atau dia telah berada di barisan jihad maka ia lebih didahulukan daripada melunasi hutangnya, sebagaimana nafkah, dan bahkan ia lebih utama lagi.” [Al-Mustadrok Ibnu Qasim 3/214]
Persoalan ke-enam : jika dibenturkan antara jihad dan haji, manakah yang lebih didahulukan?
Persoalan in tidak lepas dari tiga gambaran :
[ 34 ]
1. Jika jihad hukumnya fardhu ‘ain –sebagaimana jihad hari ini- maka jihad didahulukan dari haji.3
2. Jika jihad hukumnya fardhu kifayah sedangkan haji hukumnya sunnah, maka pada kondisi ini didahulukan jihad, karena ia lebih afdhol dari haji. Juga karena ia memiliki manfaat yang bersifat umum, maka lebih didahulukan dari mafaat yang bersifat pribadi.4
3. Jika jihad hukumnya fardhu kifayah sedangkan haji hukumnya fardhu ‘ain, maka haji lebih didahulukan.5 Persoalan ke-tujuh : hukum lari dari peperangan.
Mujahidin ketika berhadapan dengan musuh ia memiliki dua kondisi :
1. Musuh berjumlah dua kali lipat dari jumlah mujahidin, atau lebih sedikit dari itu. Dalam kondisi seperti ini wajib untuk tetap teguh, dan diharamkan untuk lari.
Kecuali untuk bergeser mencari posisi lain atau menggabungkan diri kepada grup yang lain. Inilah yang dijelaskan oleh kebanyakan ulama.6 Berdasar- kan firman Alloh ta’ala :
هلَهف اًفْحهز اوُرهفهك هنيِ َ
لَا ُمُتيِقهل اهذِإ اوُنهمآ هنيِ لَا اههُّي َ ه أاهي
هوُت هراهبْد ه ْ
لْا ُمُهوُّل ٍلاهتِقِل اًفَِّرهحهتُم َ 15
لَِإ ُههرُبُد ٍذِئهمْوهي ْمِهِ َّلهوُي ْنهمهو
3 Lihat : Masyari’ul Asywaq 1/205, Hasyiyah Ad-Dasuqi 2/10, As-Sailul Jarror 2/158
4 Lihat : Majma’ Az-Zawaid 5/281, Al-Mughni 13/10, Majmu’ Al-Fatawa 28/353
5 Lihat : Al-Mughni 13/10, Hasyiyah Ibnu Abidin 6/196
6 Lihat : Syarhu As-Siar Al-Kabir 1/89, Al-Umm 4/169, Al-Mughni 13/176
[ 35 ]
ُمَنهههج ُهاهو ْ
أهمهو ِ َللّا هنِم ٍب هضهغِب هءاهب ْدهق هف ٍةهئِف هلَِإ اً َِّيزهحهتُم ْوهأ ُير ِصهم ْ
لا هسْئِبهو 16
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Alloh, dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya.” [Qs. Al-Anfal : 15-16]
Juga telah diriwayatkan dari Abu Huroyroh bahwasannya Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda : “jauhilah tujuh yang membinasakan…” dan menyebutkan diantaranya “lari dari medan peperangan.” [Muttafaq ‘alayhi]
2. Musuh lebih banyak dari dua kali lipat jumlah mujahidin. Jika mujahidin lebih yakin akan menang melawan musuh tersebut jika ia bertahan, maka harus baginya bertahan, sebanyak apapun jumlah musuh. Berdasarkan dalil-dalil yang lalu dari Al-Qur- an dan As-Sunnah yang mewajibkan bertahan ketika menghadapi musuh. Juga karena padanya terdapat maslahat bagi umat.7 Akan tetapi jika lebih yakin (dengan kondisi dan jumlah seperti itu –pent) akan
7 Lihat : Al-Mughni 13/189, Al-Hawi Al-Kabir 14/182
[ 36 ]
kalah, maka diperbolehkan baginya lari.8 Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
َفهخ هنلآا ُ َللّا هف
ْنِإهف اًفْع هض ْمُكيِف َّهن ه
أ همِلهعهو ْمُكْنهع
اوُبِلْغهي ةهرِبا هص ةهئاِم ْمُكْنِم ْنُكهي ْنُكهي ْنَإِ ِ ْينهتهئاِم
ْغهي ف ْ ل ه
أ ْمُكْنِم ِ َللّا ِن ْذِإِب ِ ْينهفْلهأ اوُبِل
ُ َللّاهو هنيِرِبا َّهصلا هعهم
“Sekarang Alloh Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan.
Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Alloh. dan Alloh beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Anfal : 66] dan diperbolehkan bagi mereka untuk bertahan agar mendapatkan kesyahidan. Dan bisa jadi dengannya bisa meraih kemenangan. Berdasarkan firman Alloh ta’ala :
هعهم ُّهللّاهو ِ َّهللّا ِن ْذِإِب ًةهيرِثهك ًةهئِف ْتهبهلهغ ٍةهليِلهق ٍةهئِف ْنِم ْمهك هنيِرِبا َّهصلا
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. dan Alloh beserta orang-orang yang sabar."
[Qs. Al-Baqoroh 249]
8 Lihat : Al-Umm 3/169, Roudhatu Ath-Thalibin 10/248, Al-Mughni 13/187
[ 37 ]
Catatan penting : yang dimaksudkan dengan dua kondisi di atas adalah apabila peperangan tersebut jihad tholab, adapun jika jihad daf’i (untuk mempertahankan diri) maka tidak diperbolehkan untuk lari.
Ibnu Qayyim –Rohimahulloh- berkata : “qital daf’i lebih luas dari qital tholab dan lebih umum kewajibannya. Oleh karena itu ia diwajibkan atas setiap personal. Seorang budak berangkat jihad dengan izin tuannya atau tanpa izinnya, seorang anak tanpa izin kedua orang tuanya, orang yang berhutang tanpa izin orang yang dihutanginya, itu sebagaimana jihad kaum muslimin saat perang Uhud dan Khondaq. Dan tidak disyaratkan untuk mengikuti jihad jenis ini hanya jika maksimal jumlah musuh dua kali lipat dari jumlah kaum muslimin. Karena sesungguhnya dahulu saat perang Uhud dan Khondaq jumlah musuh berlipat-lipat dari kaum muslimin. Dan saat itu jihad tetap diwajibkan atas mereka karena itu darurat dan untuk membela diri, tidak ada pilihan untuk tidak mengikutinya. Oleh karena itu diperbolehkan saat itu sholat khouf dengan bermacam keadaan. Dan apakah ia juga diperbolehkan saat jihad tholab jika dikhawatirkan musuh pergi dan tidak kembali lagi maka ada dua pendapat di kalangan para ulama dan itu diriwayatkan dari dua riwayat imam Ahmad.” [Al-Furusiyah 1/188]
Persoalan ke-delapan : hukum mengambil upah atas jihad Ulama berselisih pendapat tentang hukum mengambil upah atas jihad. Yang shohih adalah tidak diperbolehkan bagi mujahid untuk mengambil upah atas jihad fii sabilillah.
Diriwayatkan dari Abu Huroyroh,
[ 38 ]
،ِللها ِليِبَس ِفِ َداَهِْلجا ُديِرُي ٌلُجَر ،ِللها َلوُسَر اَي :َلاَق ، ًلَُجَر َّنَأ ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلوُسَر َلاَقَ ف ،اَيْ نُّدلا ِضَرَع ْنِم يِغَتْبَ ي َوُهَو ْدُع :ِلُجَّرلِل اوُلاَقَو ،َكِلَذ ُساَّنلا َمَظْعَأَف ،"ُهَل َرْجَأ ََ" :َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ِلوُسَر َلَِإ ْفَ ي َْلم ُهَّلَعَل َمَّلَسَو
ْمَه َكِلَذ َداَعَأَف ،
ِهْيَلَع
"ُهَل َرْجَأ ََ" :ُلوُقَ ي َكِلَذ َّلُك ،ٍتاَّرَم َث َلََث
bahwasannya ada seorang laki-laki berkata : “wahai Rosululloh, ada seseorang ingin berjihad dan ia mengharapkan harta dunia.” Rosululloh bersabda : “tidak ada pahala baginya.” Lalu orang-orang membersarkan perkara tersebut. Dan mengatakan kepada yang bertanya tadi “kembalilah kepada Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wasallam- bisa jadi ia tidak memahami (pertanyaanmu.)”
maka orang tersebut mengulangi pertanyaannya tiga kali kepada Rosululloh, dan Rosululloh selalu menjawab “tidak ada pahala baginya.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dengan derajat Hasan]
Akan tetapi diperbolehkan menerima sekedar apa yang bisa ia gunakan untuk dirinya dan keluarganya berupa pertolongan. Rosululloh -shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
ِفِ اًيِزاَغ َفَلَخ ْنَمَو ،اَزَغ ْدَقَ ف ِهَّللا ِليِبَس ِفِ اًيِزاَغ َزَّهَج ْنَم
اَزَغ ْدَقَ ف ٍْيَِبِ ِهَّللا ِليِبَس
[ 39 ]
“barangsiapa yang mempersiapkan bekal bagi orang yang berangkat berperang maka ia telah ikut berperang.
Barangsiapa yang membantu menanggung kebutuhan keluarga yang ditinggalkan berperang maka ia telah ikut berperang.” [Muttafaq ‘alayhi]
Persoalan ke-sembilan : di antara adab-adab membawa senjata.
Sesungguhnya terhadap senjata ada adab-adab yang harus dijaga oleh seorang muslim, diantaranya :
1. Tidak membawa senjata dengan rasa sombong dan bangga diri. Alloh berfirman :
هيِد ْنِم اوُجهرهخ هنيِ لَ هكَ اوُنوُكهت لَهو َّه َلا هءاهئِرهو اًر هطهب ْمِهِرا
ِسا
َُّد ُصهيهو ُ َللّاهو ِ َّهللّا ِليِبهس ْنهع هنو يِ ُحِ هنوُلهمْعهي اهمِب
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Alloh. dan (ilmu) Alloh meliputi apa yang mereka kerjakan.” [Qs. Al-Anfal 47]
2. Tidak mengacungkan senjata tersebut kepada muslim. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, aku mendengar Abu Huroyroh berkata, telah bersabda Abu Al-Qasim :
[ 40 ]
ِخَأ لَإ َراشأ ْنَم ّتَّح ُهُنَعْلَ ت َةكئلَلما َّنإف ٍةَديِدَبح ِهي
ْنإ َو ُهَعَدَي َك
ِب ِلأ هاخأ نا َو ِهي
ِهّمُأ
“barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada saudaranya, maka malaikat akan melaknatnya hingga ia menurunkannya. Walaupun itu adalah saudara kandungnya sendiri.” [HR. Muslim]
3. Tidak menunjukan senjatnya di tengan perkumpulan kaum muslimin. Diriwayatkan dari Abu Burdah, dari ayahnya, bahwasannya Nabi -shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
َم نَم َّر ِْفِ
ْنِم ٍءي َش َسَم
َأ َانِد ِجا ْو
َأ ْس َنِقاَو ْلَ ف ٍلْبَنِب ا ْذُخْأَي
ًامِلسُم ِهِّفَكَب ْرِقْعي ََ اِلِاَصِن ىَلع
“barangsiapa yang melewati masjid-masjid dan pasar- pasar kami dengan anak panahnya, hendaknya ia memasukannya ke dalam sarung panahnya. Jangan sampai ia melukai seorang muslim dengan tangannya.” [Muttafaq ‘Alayhi]
[ 41 ]
Hal-hal yang berkaitan dengan membunuh dan memerangi
Sesungguhnya wajib bagi setiap mujahidin memperhatikan hukum-hukum syari’at ketika ia maju dan menyerang, ketika ia menghadap dan membelakangi, apa-apa yang dilakukan harus sesuai dengan nash-nash syar’i. Tidaklah ia menumpahkan darah dengan serangannya kecuali dengan dalil. Dan tidaklah ia memerangi suatu kaum kecuali sesuai dengan ta’shil (pondasi ilmu). Karena sesungguhnya jihad adalah ibadah, dan ibadah tidak akan diterima hingga ibadah tersebut dilakukan dengan ikhlas mengharap wajah Alloh dan sesuai dengan tuntunan Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam-
Persoalan pertama : orang kafir mana saja yang yang boleh dibunuh.
Ulama bersepakat atas kebolehan membunuh orang kafir mana saja yang bisa mengikuti peperangan.9 Yaitu orang yang telah sampai kepadanya da’wah yang umum, dan mereka para laki-laki baligh yang pantas untuk mengikuti peperangan, sama saja apakah ia ikut dalam peperangan tersebut atau tidak.
Oleh karena itu para ulama telah memberikan definisi mengenai kafir harbi : setiap orang kafir yang tidak memiliki
9 Lihat : Al-Mabsuth 10/5, Badai’u Ash-Shana’i’ 6/46, Bidayatulmujtahid 1/386, Al-Mughni 13/179
[ 42 ]
perjanjian, dzimmah, maupun jaminan keamanan dengan kaum muslimin.
Dengan demikian, maka hukum asal orang kafir adalah harbi, hanya dikarenakan kekafirannya. Sama saja mereka memerangi kita atau tidak. Maka apabila kita menemukan orang kafir yang tidak mengangkat senjata kepada kita, juga tidak memiliki perjanjian, dzimmah ataupun jaminan keamanan, maka kita menganggapnya sebagai kafir harbi yang halal darah dan hartanya. Berdasarkan keumunan dalil- dalil yang menerintahkan untuk membunuh kafir.
Diantaranya adalah firman Alloh ta’ala :
ْمُهوُمُتْدهجهو ُثْيهح هينِكِ ْشُِم ْ لا اوُلُتْقاهف
“Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.” [Qs. At-Taubah : 5]
Persoalan ke-dua : orang kafir mana saja yang tidak boleh dibunuh.
Dalil-dalil dari Al-Qur-an dan As-Sunnah menunjukan atas pengecualian beberapa orang kafir yang diperbolehkan untuk dibunuh, mereka adalah :
1. Anak kecil.
2. Perempuan. Yang mana Nabi melarang membunuh perempuan dan anak-anak. [HR. Bukhoriy & Muslim]
3. Orang yang sangat tua. Diriwayatkan dari Rasyid Ibnu Sa’ad, “Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- melarang dari membunuh perempuan, anak-anak dan orang tua yang sudah sulit untuk bergerak.” [HR.
Ibnu Abi Syaibah] juga riwayat dari Dhamrah Ibnu
[ 43 ]
Habib bahwasannya Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam-,
ِخوُيُّشلاَو ِناَيْ بِّصلاَو ِءاَسِّنلا ِلْتَ ق ْنَع ىَهَ ن
“melarang dari membunuh perempuan, anak-anak dan orang-orang tua.” [HR. Ibnu Manshur]
dikarenakan mereka bukanlah orang yang pantas mengikuti peperangan, maka tidak dibunuh.
4. Orang lemah yang tidak mampu berdiri.
5. Orang buta.
6. Orang gila. Dalil atas ketiganya adalah qiyas terhadap orang yang sangat tua karena ketidak pantasan mereka untuk ikut berperang.
7. Rahib (pendeta). Berdasarkan hadits Abu Bakar pada wasiatnya kepada Yazid Ibnu Abi Sufyan :
ُّرُمَتَس مُهَسُفْ نأ اوبِسَتحاو مَُلِ عِماوَص فِ ٍموق ىَلع َنو
مِهِتَلَلَض ىَلع ُللها ُمُهَ تيُِيُ ّتَّح مُهوُعَدَف اهيف
”kalian akan melewati suatu kaum yang sedang di dalam biara-biara mereka. Perhatikanlah mereka dan biarkan Alloh mematikan mereka di atas kesesatannya.” [HR. Malik dan Sa’id Ibnu Manshur]
Catatan :
Disyaratkan tidak dibunuhnya orang-orang yang sudah disebutkan itu apabila mereka tidak memiliki ide atau keterlibatan apapun dalam peperangan.
Tetapi apabila mereka memiliki keterlibatan di
[ 44 ]
dalamnya walaupun hanya berupa ide maka ia dibunuh. Ini adalah ijma’ para ulama.
Dalil dibunuhnya orang yang memliki keterlibatan diantara mereka dalam peperangan adalah hadits Rabah Ibnu Robi’, “dahulu kami bersama Rosululloh – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- di dalam suatu peperangan. Lalu Nabi melihat suatu perkumpulan, dan mengutus seseorang dengan bersabda : “lihatlah atas apa mereka berkumpul.” Lalu laki-laki itu datang dan berkata “atas seorang perempuan yang terbunuh.” Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda : “tidaklah ia ikut berperang…”[HR.Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad] hadist ini menunjukan bahwa apabila ia ikut berperang maka ia dibunuh.10
Adapun dalil dibunuhnya siapa yang terlibat dengan ide adalah hadits Bukhoriy Muslim tentang Duraid Ibnu Ash-Shimmah yang dibunuh saat perang Hunain, sedangkan ia adalah orang tua yang tidak mampu mengikuti peperangan. Hanya saja ia ikut membantu musuh dengan idenya, dan Nabi tidak mengingkari atas dibunuhnya orang tersebut.
Mereka yang dikecualikan adalah dari orang-orang kafir asli. Adapun orang murtad maka seluruhnya dibunuh kecuali anak kecil dan orang gila diantara mereka. Berdasarkan keumuman sabda Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- :
َّدَب ْنَم ُهوُلُ تْ قاَف مُهَ نْ يِد َل
10 Lihat : Ma’alim As-Sunan karya Al-Khattabiy 2/280
[ 45 ]
“barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia.” [HR. Bukhoriy]
Persoalan ke-tiga : bentuk-bentuk tatarrus dan hukumnya.
Tatarrus dalam istilah fiqh adalah : orang-orang kafir menjadikan orang hidup yang terjaga darahnya sebagai tameng perlindungan dari serangan mujahidin.
Tatarrus tidak terlepas dari dua keadaan :
Keadaan pertama : orang-orang kafir ber-tatarrus dengan perempuan-perempuan dan anak-anak dari kalangan mereka. Permasalahan ini memiliki dua gambaran :
1. Mereka ber-tatarrus dalam keadan perang yang berkecamuk dan keberadaan mereka dikhawatirkan bisa mencelakakan kaum muslimin. Ulama bersepakat atas kebolehan menyerang mereka dalam keadaan seperti ini, walaupun hal tersebut bisa mengakibatkan terbunuhnya perempuan dan anak-anak mereka.
Akan tetapi serangan tersebut tetap diusahakan menghindari terkenanya perempuan dan anak-anak sebisa mungkin.11 Dalilnya adalah yang diriwayatkan dari Nabi bahwasannya ia ditanyakan perihal penghuni rumah orang-orang musyrik yang perempuan dan anak-anak mereka terkena serangan.
Beliau bersabda : (
مُهْ نِم ْمُه
) “itu adalah bagian dari mereka.” [HR. Bukhoriy]11 Lihat : Al-Mabsuth 10/64, Badai’u As-Shana’I’ 6/63, Fathul qadir 5/198, Roudhatutthalibin 10/244, Al-Mughni 13/141, Kasyaful Qina’ 2/378
[ 46 ]
2. Mereka ber-tatarrus dalam keadaan perang yang tidak berkecamuk dan keberadaan mereka belum menghawatirkan keselamatan kaum muslimin. Ulama berselisih pendapat atas kebolehan menyerang mereka. Pendapat yang Rajih (kuat) adalah –Allohu A’lam- boleh menyerang mereka12 dengan berusaha menghindari terbunuhnya perempuan dan anak-anak mereka. Dikarenakan lebih besarnya kewajiban menegakkan jihad fi sabilillah. Juga Nabi – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- tidak pernah menunda-nunda dalam menyerang mereka saat perang berlangsung. Karena membiarkan musuh yang ber-tatarrus dengan perempuan-perempuan dan anak-anak mereka bisa mengembalikan kekuatan mereka dan bisa merapikan kembali barisan-barisan mereka.
Keadaan ke-dua : orang-orang kafir ber-tatarrus menggunakan tawanan dari kaum muslimin. Permasalahan ini memiliki dua gambaran :
1. Mereka ber-tatarrus dalam keadaan perang yang berkecamuk, mereka aktif dalam menyerang dan serangan tersebut menghawatirkan atas keselamatan kaum muslimin. Ulama bersepakat atas kebolehan menyerang mereka dalam keadaan seperti ini.13 Di samping tetap diwajibkannya berusaha agar serangan tersebut tidak mengenai kaum muslimin yang dijadikan tameng sebisa mungkin. Karena
12 Lihat : Al-Mabsuth 10/65, Fathul qadir 5/198, Al-Mughni 13/141, Kasyaful Qina’ 2/378, Al-Hawi Al-Kabir 14/178, Roudhatutthalibin 10/244
13 Lihat : Al-Mabsuth 10/64, Badai’u As-Shana’I’ 6/63, Fathul qadir 5/198, Roudhatutthalibin 10/244, Al-Mughni 13/141, Kasyaful Qina’ 2/378
[ 47 ]
meninggalkan penyerangan atas mereka merupakan mudhorot yang lebih besar, maka diambil dari dua mudhorot yang lebih ringan demi menolak mudhorot yang lebih besar. Dan karena meninggalkan penyerangan atas mereka merupakan pengabaian atas syariat jihad.
2. Mereka ber-tatarrus dalam keadaan perang yang tidak berkecamuk. Keberadaan mereka belum menghawatirkan keselamatan kaum muslimin. Ulama berselisih pendapat atas kebolehan menyerang mereka. Pendapat yang rajih (kuat) adalah –Allohu a’lam- tidak boleh menyerang mereka kecuali dalam keadaan darurat dengan syarat-syarat yang telah disebutkan para ulama, diantaranya :
Tidak memungkinkan menembus pertahanan pasukan kafir kecuali dengan mengenai tameng.
Menyerang dengan semaksimal mungkin berusaha tidak mengenai tameng.
Menyerang dengan memaksudkan untuk mengenai pasukan kafir.
Memiliki kepastian yang kuat terwujudnya maslahat yang diharapkan.
Maslahat yang diharapkan itu hanya bisa terwujud jika dilakukan segera yang tidak memungkinkan menunda penyerangan tersebut.
Apabila penyerangan tersebut menggunakan alat yang bisa menghasilkan terbunuhnya sasaran secara umum seperti meriam dan semisalnya, maka disyaratkan kebolehan menggunakannya jika tidak memungkinkannya mengenai
[ 48 ]
musuh atau menghancurkan kekuatan mereka kecuali dengan alat tersebut.14
Syarat-syarat tersebut terkumpul dalam firman Alloh ta’ala :
َتاهف ه َللّا اوُق ْمُتْع هطهتْسا اهم
“Maka bertaqwalah kepada Alloh sesuai kesanggupanmu.”
[Qs.At-Taghabun 16]
Maka wajib atas setiap Mujahidin fii sabilillah untuk berafdhol kepada Alloh dan berhati-hati dengan persoalannya ini.
Memaksimalkan kesungguhan dan upaya agar jangan sampai menumpahkan darah seorang muslim, atau sebisa mungkin meminimalisirnya. Dan mengusakan terwujudnya keselamatan darinya. Dikarenakan permasalahan ini darurat, maka kadarnya disesuaikan dengan yang diperlukan saja, tidak boleh melampauinya.
Persoalan ke-empat : hukum men-tabyit orang kafir.
Tabyit : ialah menyelinap ke tempat mereka dan menyerangnya di malam hari. Imam Ibnu Hajar – rohimahulloh- berkata : “makna Al-bayat yang dimaksudkan dalam hadits adalah menyelinap ke tempat orang-orang kafir di malam hari yang kondisinya tidak bisa dibedakan perorangan diantara mereka.”[Fathul Bari 6/147]
Men-tabyit orang kafir diperbolehkan secara syar’i.15 Dalil mengenai hal tersebut adalah hadits Ash-Sha’b Ibnu Jatsamah Al-Laitsi : aku mendengar Rosululloh –shollaAllohu
14 Lihat : Al-Mabsuth 10/64, Badai’u As-Shana’I’ 6/63, Fathul qadir 5/198, Al- Inshaf 4/129
15 Lihat : Al-Mabsuth 10/64, Badai’u Ash-Shana’i’ 6/63, Fathul Qadir 5/198, Al- Inshaf 4/129
[ 49 ]
‘alayhi wa sallam- pernah ditanyakan mengenai rumah- rumah kaum musyrikin yang di-tabyit hingga mengenai perempuan dan anak-anak mereka. Lalu Rosululloh bersabda : “itu adalah bagian dari mereka.” [Muttafaq ‘alayhi] Imam Ahmad –rohimahulloh- berkata : “tidak mengapa melakukan Al-Bayat (tabyit), dan kami tidak pernah mengetahui ada yang melarang men-tabyit musuh.” [Al-Mughni 13/140]
Persoalan ke-lima : hukum membakar dengan api atau menenggelamkan ke dalam air.
Ulama bersepakat akan kebolehan membakar orang kafir dengan api atau menenggelamkannya ke dalam air dalam peperangan jika tidak ada cara selainnya, dan keberadaan mereka sedang menghawatirkan keselamatan kaum muslimin, selama di tengah mereka tidak ada kaum muslimin yang sedang tertawan.16
Akan tetapi ulama berselisih pendapat jika masih ada cara selain membakar dan menenggelamkan. Pendapat yang rajih –Allohu a’lam- adalah tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut kecuali dalam keadaan darurat atau dalam rangka Al-Mu’amalah bin mitsl (memperlakukan dengan balasan semisal).
Dalilnya adalah yang diriwayatkan dari Abu Huroyroh : Rosululloh –shalalloh ‘alayhi wa sallam- mengutus kami dalam suatu tugas lalu bersabda : “jika kamu menemukan fulan dan fulan maka bakarlah keduanya dengan api.” Lalu Rosululloh bersabda ketika kami hendak pergi,
16 Lihat : Al-Mabsuth 10/31, Fathul qadir 5/197, Badai’u Ash-Shana’i’ 6/62, Al- Umm 4/243, Al-Hawi Al-Kabir 14/183, Roudhatutthalibin 10/244, Al-Mughni 13/139, Kasyaful Qina’ 2/377