Sesungguhnya wajib bagi setiap mujahidin memperhatikan hukum-hukum syari’at ketika ia maju dan menyerang, ketika ia menghadap dan membelakangi, apa-apa yang dilakukan harus sesuai dengan nash-nash syar’i. Tidaklah ia menumpahkan darah dengan serangannya kecuali dengan dalil. Dan tidaklah ia memerangi suatu kaum kecuali sesuai dengan ta’shil (pondasi ilmu). Karena sesungguhnya jihad adalah ibadah, dan ibadah tidak akan diterima hingga ibadah tersebut dilakukan dengan ikhlas mengharap wajah Alloh dan sesuai dengan tuntunan Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam-
Persoalan pertama : orang kafir mana saja yang yang boleh dibunuh.
Ulama bersepakat atas kebolehan membunuh orang kafir mana saja yang bisa mengikuti peperangan.9 Yaitu orang yang telah sampai kepadanya da’wah yang umum, dan mereka para laki-laki baligh yang pantas untuk mengikuti peperangan, sama saja apakah ia ikut dalam peperangan tersebut atau tidak.
Oleh karena itu para ulama telah memberikan definisi mengenai kafir harbi : setiap orang kafir yang tidak memiliki
9 Lihat : Al-Mabsuth 10/5, Badai’u Ash-Shana’i’ 6/46, Bidayatulmujtahid 1/386, Al-Mughni 13/179
[ 42 ]
perjanjian, dzimmah, maupun jaminan keamanan dengan kaum muslimin.
Dengan demikian, maka hukum asal orang kafir adalah harbi, hanya dikarenakan kekafirannya. Sama saja mereka memerangi kita atau tidak. Maka apabila kita menemukan orang kafir yang tidak mengangkat senjata kepada kita, juga tidak memiliki perjanjian, dzimmah ataupun jaminan keamanan, maka kita menganggapnya sebagai kafir harbi yang halal darah dan hartanya. Berdasarkan keumunan dalil-dalil yang menerintahkan untuk membunuh kafir.
Diantaranya adalah firman Alloh ta’ala :
ْمُهوُمُتْدهجهو ُثْيهح هينِكِ ْشُِم ْ لا اوُلُتْقاهف
“Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.” [Qs. At-Taubah : 5]
Persoalan ke-dua : orang kafir mana saja yang tidak boleh dibunuh.
Dalil-dalil dari Al-Qur-an dan As-Sunnah menunjukan atas pengecualian beberapa orang kafir yang diperbolehkan untuk dibunuh, mereka adalah :
1. Anak kecil.
2. Perempuan. Yang mana Nabi melarang membunuh perempuan dan anak-anak. [HR. Bukhoriy & Muslim]
3. Orang yang sangat tua. Diriwayatkan dari Rasyid Ibnu Sa’ad, “Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- melarang dari membunuh perempuan, anak-anak dan orang tua yang sudah sulit untuk bergerak.” [HR.
Ibnu Abi Syaibah] juga riwayat dari Dhamrah Ibnu
[ 43 ]
Habib bahwasannya Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam-,
ِخوُيُّشلاَو ِناَيْ بِّصلاَو ِءاَسِّنلا ِلْتَ ق ْنَع ىَهَ ن
“melarang dari membunuh perempuan, anak-anak dan orang-orang tua.” [HR. Ibnu Manshur]
dikarenakan mereka bukanlah orang yang pantas mengikuti peperangan, maka tidak dibunuh.
4. Orang lemah yang tidak mampu berdiri.
5. Orang buta.
6. Orang gila. Dalil atas ketiganya adalah qiyas terhadap orang yang sangat tua karena ketidak pantasan mereka untuk ikut berperang.
7. Rahib (pendeta). Berdasarkan hadits Abu Bakar pada wasiatnya kepada Yazid Ibnu Abi Sufyan :
ُّرُمَتَس مُهَسُفْ نأ اوبِسَتحاو مَُلِ عِماوَص فِ ٍموق ىَلع َنو
مِهِتَلَلَض ىَلع ُللها ُمُهَ تيُِيُ ّتَّح مُهوُعَدَف اهيف
”kalian akan melewati suatu kaum yang sedang di dalam biara-biara mereka. Perhatikanlah mereka dan biarkan Alloh mematikan mereka di atas kesesatannya.” [HR. Malik dan Sa’id Ibnu Manshur]
Catatan :
Disyaratkan tidak dibunuhnya orang-orang yang sudah disebutkan itu apabila mereka tidak memiliki ide atau keterlibatan apapun dalam peperangan.
Tetapi apabila mereka memiliki keterlibatan di
[ 44 ]
dalamnya walaupun hanya berupa ide maka ia dibunuh. Ini adalah ijma’ para ulama.
Dalil dibunuhnya orang yang memliki keterlibatan diantara mereka dalam peperangan adalah hadits Rabah Ibnu Robi’, “dahulu kami bersama Rosululloh – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- di dalam suatu peperangan. Lalu Nabi melihat suatu perkumpulan, dan mengutus seseorang dengan bersabda : “lihatlah atas apa mereka berkumpul.” Lalu laki-laki itu datang dan berkata “atas seorang perempuan yang terbunuh.” Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda : “tidaklah ia ikut berperang…”[HR.Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad] hadist ini menunjukan bahwa apabila ia ikut berperang maka ia dibunuh.10
Adapun dalil dibunuhnya siapa yang terlibat dengan ide adalah hadits Bukhoriy Muslim tentang Duraid Ibnu Ash-Shimmah yang dibunuh saat perang Hunain, sedangkan ia adalah orang tua yang tidak mampu mengikuti peperangan. Hanya saja ia ikut membantu musuh dengan idenya, dan Nabi tidak mengingkari atas dibunuhnya orang tersebut.
Mereka yang dikecualikan adalah dari orang-orang kafir asli. Adapun orang murtad maka seluruhnya dibunuh kecuali anak kecil dan orang gila diantara mereka. Berdasarkan keumuman sabda Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- :
َّدَب ْنَم ُهوُلُ تْ قاَف مُهَ نْ يِد َل
10 Lihat : Ma’alim As-Sunan karya Al-Khattabiy 2/280
[ 45 ]
“barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia.” [HR. Bukhoriy]
Persoalan ke-tiga : bentuk-bentuk tatarrus dan hukumnya.
Tatarrus dalam istilah fiqh adalah : orang-orang kafir menjadikan orang hidup yang terjaga darahnya sebagai tameng perlindungan dari serangan mujahidin.
Tatarrus tidak terlepas dari dua keadaan :
Keadaan pertama : orang-orang kafir ber-tatarrus dengan perempuan-perempuan dan anak-anak dari kalangan mereka. Permasalahan ini memiliki dua gambaran :
1. Mereka ber-tatarrus dalam keadan perang yang berkecamuk dan keberadaan mereka dikhawatirkan bisa mencelakakan kaum muslimin. Ulama bersepakat atas kebolehan menyerang mereka dalam keadaan seperti ini, walaupun hal tersebut bisa mengakibatkan terbunuhnya perempuan dan anak-anak mereka.
Akan tetapi serangan tersebut tetap diusahakan menghindari terkenanya perempuan dan anak-anak sebisa mungkin.11 Dalilnya adalah yang diriwayatkan dari Nabi bahwasannya ia ditanyakan perihal penghuni rumah orang-orang musyrik yang perempuan dan anak-anak mereka terkena serangan.
Beliau bersabda : (
مُهْ نِم ْمُه
) “itu adalah bagian dari mereka.” [HR. Bukhoriy]11 Lihat : Al-Mabsuth 10/64, Badai’u As-Shana’I’ 6/63, Fathul qadir 5/198, Roudhatutthalibin 10/244, Al-Mughni 13/141, Kasyaful Qina’ 2/378
[ 46 ]
2. Mereka ber-tatarrus dalam keadaan perang yang tidak berkecamuk dan keberadaan mereka belum menghawatirkan keselamatan kaum muslimin. Ulama berselisih pendapat atas kebolehan menyerang mereka. Pendapat yang Rajih (kuat) adalah –Allohu A’lam- boleh menyerang mereka12 dengan berusaha menghindari terbunuhnya perempuan dan anak-anak mereka. Dikarenakan lebih besarnya kewajiban menegakkan jihad fi sabilillah. Juga Nabi – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- tidak pernah menunda-nunda dalam menyerang mereka saat perang berlangsung. Karena membiarkan musuh yang ber-tatarrus dengan perempuan-perempuan dan anak-anak mereka bisa mengembalikan kekuatan mereka dan bisa merapikan kembali barisan-barisan mereka.
Keadaan ke-dua : orang-orang kafir ber-tatarrus menggunakan tawanan dari kaum muslimin. Permasalahan ini memiliki dua gambaran :
1. Mereka ber-tatarrus dalam keadaan perang yang berkecamuk, mereka aktif dalam menyerang dan serangan tersebut menghawatirkan atas keselamatan kaum muslimin. Ulama bersepakat atas kebolehan menyerang mereka dalam keadaan seperti ini.13 Di samping tetap diwajibkannya berusaha agar serangan tersebut tidak mengenai kaum muslimin yang dijadikan tameng sebisa mungkin. Karena
12 Lihat : Al-Mabsuth 10/65, Fathul qadir 5/198, Al-Mughni 13/141, Kasyaful Qina’ 2/378, Al-Hawi Al-Kabir 14/178, Roudhatutthalibin 10/244
13 Lihat : Al-Mabsuth 10/64, Badai’u As-Shana’I’ 6/63, Fathul qadir 5/198, Roudhatutthalibin 10/244, Al-Mughni 13/141, Kasyaful Qina’ 2/378
[ 47 ]
meninggalkan penyerangan atas mereka merupakan mudhorot yang lebih besar, maka diambil dari dua mudhorot yang lebih ringan demi menolak mudhorot yang lebih besar. Dan karena meninggalkan penyerangan atas mereka merupakan pengabaian atas syariat jihad.
2. Mereka ber-tatarrus dalam keadaan perang yang tidak berkecamuk. Keberadaan mereka belum menghawatirkan keselamatan kaum muslimin. Ulama berselisih pendapat atas kebolehan menyerang mereka. Pendapat yang rajih (kuat) adalah –Allohu a’lam- tidak boleh menyerang mereka kecuali dalam keadaan darurat dengan syarat-syarat yang telah disebutkan para ulama, diantaranya :
Tidak memungkinkan menembus pertahanan pasukan kafir kecuali dengan mengenai tameng.
Menyerang dengan semaksimal mungkin berusaha tidak mengenai tameng.
Menyerang dengan memaksudkan untuk mengenai pasukan kafir.
Memiliki kepastian yang kuat terwujudnya maslahat yang diharapkan.
Maslahat yang diharapkan itu hanya bisa terwujud jika dilakukan segera yang tidak memungkinkan menunda penyerangan tersebut.
Apabila penyerangan tersebut menggunakan alat yang bisa menghasilkan terbunuhnya sasaran secara umum seperti meriam dan semisalnya, maka disyaratkan kebolehan menggunakannya jika tidak memungkinkannya mengenai
[ 48 ]
musuh atau menghancurkan kekuatan mereka kecuali dengan alat tersebut.14
Syarat-syarat tersebut terkumpul dalam firman Alloh ta’ala :
َتاهف ه َللّا اوُق ْمُتْع هطهتْسا اهم
“Maka bertaqwalah kepada Alloh sesuai kesanggupanmu.”
[Qs.At-Taghabun 16]
Maka wajib atas setiap Mujahidin fii sabilillah untuk berafdhol kepada Alloh dan berhati-hati dengan persoalannya ini.
Memaksimalkan kesungguhan dan upaya agar jangan sampai menumpahkan darah seorang muslim, atau sebisa mungkin meminimalisirnya. Dan mengusakan terwujudnya keselamatan darinya. Dikarenakan permasalahan ini darurat, maka kadarnya disesuaikan dengan yang diperlukan saja, tidak boleh melampauinya.
Persoalan ke-empat : hukum men-tabyit orang kafir.
Tabyit : ialah menyelinap ke tempat mereka dan menyerangnya di malam hari. Imam Ibnu Hajar – rohimahulloh- berkata : “makna Al-bayat yang dimaksudkan dalam hadits adalah menyelinap ke tempat orang-orang kafir di malam hari yang kondisinya tidak bisa dibedakan perorangan diantara mereka.”[Fathul Bari 6/147]
Men-tabyit orang kafir diperbolehkan secara syar’i.15 Dalil mengenai hal tersebut adalah hadits Ash-Sha’b Ibnu Jatsamah Al-Laitsi : aku mendengar Rosululloh –shollaAllohu
14 Lihat : Mabsuth 10/64, Badai’u As-Shana’I’ 6/63, Fathul qadir 5/198, Al-Inshaf 4/129
15 Lihat : Mabsuth 10/64, Badai’u Ash-Shana’i’ 6/63, Fathul Qadir 5/198, Al-Inshaf 4/129
[ 49 ]
‘alayhi wa sallam- pernah ditanyakan mengenai rumah-rumah kaum musyrikin yang di-tabyit hingga mengenai perempuan dan anak-anak mereka. Lalu Rosululloh bersabda : “itu adalah bagian dari mereka.” [Muttafaq ‘alayhi] Imam Ahmad –rohimahulloh- berkata : “tidak mengapa melakukan Al-Bayat (tabyit), dan kami tidak pernah mengetahui ada yang melarang men-tabyit musuh.” [Al-Mughni 13/140]
Persoalan ke-lima : hukum membakar dengan api atau menenggelamkan ke dalam air.
Ulama bersepakat akan kebolehan membakar orang kafir dengan api atau menenggelamkannya ke dalam air dalam peperangan jika tidak ada cara selainnya, dan keberadaan mereka sedang menghawatirkan keselamatan kaum muslimin, selama di tengah mereka tidak ada kaum muslimin yang sedang tertawan.16
Akan tetapi ulama berselisih pendapat jika masih ada cara selain membakar dan menenggelamkan. Pendapat yang rajih –Allohu a’lam- adalah tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut kecuali dalam keadaan darurat atau dalam rangka Al-Mu’amalah bin mitsl (memperlakukan dengan balasan semisal).
Dalilnya adalah yang diriwayatkan dari Abu Huroyroh : Rosululloh –shalalloh ‘alayhi wa sallam- mengutus kami dalam suatu tugas lalu bersabda : “jika kamu menemukan fulan dan fulan maka bakarlah keduanya dengan api.” Lalu Rosululloh bersabda ketika kami hendak pergi,
16 Lihat : Mabsuth 10/31, Fathul qadir 5/197, Badai’u Ash-Shana’i’ 6/62, Al-Umm 4/243, Al-Hawi Al-Kabir 14/183, Roudhatutthalibin 10/244, Al-Mughni 13/139, Kasyaful Qina’ 2/377
[ 50 ]
ََِّإ اَِبِ ُبِّذَعُ ي ََ َراَّنلا َّنِإَو ،اًنَلَُفَو اًنَلَُف اوُقِرُْتَ ْنَأ ْمُكُتْرَمَأ ِّنِِإ اَُهُوُلُ تْ قاَف اَُهُوُُتُْدَجَو ْنِإَف ،ُهَّللا
“sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar fulan dan fulan, dan sesugguh tidak ada yang menggunakan api untuk mengadzab kecuali Alloh, maka jika kalian menemukan mereka berdua bunuhlah mereka.” [HR.
Bukhoriy]
Ini apabila kondisi kafir maqdur ‘alayhi (di bawah kuasa kaum muslimin), adapun untuk selain maqdur ‘alayhi maka diperbolehkan membakarnya jika tidak bisa memaksanya kecuali dengan hal tersebut atau jika membakar itu bisa lebih menyebabkan kehancuran untuk mereka. Diriwayatkan dari Sa’id Ibnu Manshur dari Shafwan Ibnu Amr, bahwasannya Junadah Ibnu Abi Umayyah Al-Azdi, Abdullah Ibnu Qais Al-Fazari dan selainnya, pada masa Mu’awiyah mereka melempar musuh dari Rum dan selainnya dengan api dan membakar mereka, dan berkata : “urusan kaum muslimin akan senantiasa di atas hal tersebut.” Imam At-Tirmidzi juga menukilkan didalam kitabnya, diriwayatkan dari ishaq bahwasannya ia berkata : “membakar adalah sunnah jika itu bisa lebih menyebabkan kekalahan atas mereka.”
Persoalan ke-enam : hukum membakar kota dan tumbuhan, menebang pepohonan dan selainnya.
Para ulama bersepakat atas kebolehan membakar kota dan menebang pepohonan jika mujahidin memerlukan hal tersebut untuk menghentikan musuh atau mengalahkan mereka dengannya.
[ 51 ]
Dan ulama berselisih jika mujahidin tidak memerlukan hal tersebut. akan tetapi jika melakukannya bisa menakuti orang kafir dan mencelakakan mereka maka yang shohih adalah diperbolehkan hal tersebut jika imam berperdapat bahwa hal itu bisa lebih menghasilkan kehancuran untuk mereka, maka ia dilakukan dengan perintah dan izinnya. Berdasarkan firman Alloh ta’ala :
“dan tidaklah menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [Qs. At-Taubah : 120]17
Persoalan ke-tujuh : hukum apabila orang kafir masuk islam sebelum maqdur ‘alayhi (di bawah kuasa kaum muslimin).
Jika orang kafir masuk islam sebelum di bawah kuasa kaum muslimin maka tidak diperbolehkan membunuhnya.
Berdasarkan firman Alloh –ta’ala- :
17 Lihat : Al-Mabsuth 10/31, Fathul Qadir 5/197, Syarhu As-Siyar Al-Kabir 1/33, Al-Kafi Fii Fiqhi Ahlil Madinah 1/467, Roudhatutthalibin 10/258, Al-Ahkam Ash-Shulthaniyah 108, Masyari’ul Asywaq 2/24, Al-Mughni 13/146, Al-Inshaf 4,127, Al-Muhalla Bil Atsar 5/345
[ 52 ]
روُفهغ ه َللّا َنِإ ْمُه هليِبهس اوُّلهخهف هةهكََزلا اُوهتآهو هة هلَ َصلا اوُماهقهأهو اوُباهت ْنِإهف ميِحهر
“jika mereka bertaubat, merndikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[Qs. At-Taubah : 5]
juga berdasarkan sabda Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam-
للها َإ هلإ َ ْنَأ اودَهشي ّتَّح َساَنلا َلِتاقُأ ْنَأ ُتْرِمُأ
“aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi laa ilaaha illaAlloh…” hingga sabdanya,
اَذإَف
“apabila mereka mengucapkan hal tersebut, maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta-harta mereka.”
[Muttafaq ‘alayhi]
dan diriwayatkan dari Usamah Ibnu Zaid, ia berkata :
“Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- mengutus kami dalam suatu peperangan ke al-Khuroqot, musuh melarikan diri dari kamu dan kami mendapatkan satu orang. Ketika kami berhasil menjatuhkanya ia berkata “laa ilaaha illaAlloh”
lalu kami menebasnya dan membunuhnya. Kejadian tersebut mengganggu fikiranku, maka aku menceritakannya kepada Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam-, beliau bersabda :
ةَماَيِقلا َموي للها َإ هلإ َلَِب َكَل نَم
[ 53 ]
“siapa yang akan melindungimu terhadap (kalimat) laa ilaaha illalah di hari kiamat?”
aku berkata, “wahai Rosululloh, sungguh ia mengucapkan demikian hanya karena takut senjata dan takut dibunuh.”
Rosululloh bersabda : mengetahui atas dasar demikian atau tidak? siapa yang akan melindungimu terhadap (kalimat) laa ilaaha illalah di hari kiamat?”
dan beliau terus mengulangi perkataannya itu hingga aku berangan-angan seandainya aku belum masuk islam kecuali di hari itu.”[HR. Muslim]
Persoalan ke-delapan : hukum apabila orang kafir masuk islam setelah maqdur ‘alayhi (di bawah kuasa kaum muslimin).
Jika orang kafir asli masuk islam setelah maqdur ‘alayhi, maka tidak diperbolehkan membunuhnya berdasarkan kesepakatan ulama. Akan tetapi Imam memberikan pilihan padanya antara diperbudak, dilepaskan atau dimintai tebusannya.
Diriwayatkan dari ‘Imron Ibnu Hushain, ia berkata : “Dahulu Bani Tsaqif adalah sekutu Bani ‘Uqail. Pada suatu hari Bani Tsaqif menawan dua orang sahabat Rosululloh –shollaAllohu
[ 54 ]
‘alayhi wa sallam-, sedangkan para sahabat menawan seorang laki-laki dari Bani Uqail. –lalu dalam kisah pajang tersebut- tawanan itu memanggil Nabi : “wahai muhammad, wahai muhammad!” karena Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- adalah nabi yang lembut dan penyayang, maka beliau pun kembali dan bertanya : “ada apa?” lelaki itu berkata, “sebenarnya saya adalah seorang muslim”
Rosululloh menjawab,
ِح َلََفْلا َّلُك َتْحَلْ فَأ َكَرْمَأ ُكِلَْتُ َتْنَأَو اَهَ تْلُ ق ْوَل
“seandainya kamu mengucapkan hal itu pada waktunya, maka kamu akan sangat beruntung.” –hingga akhir kisah- [HR. Muslim]
Imam An-nawawi –rohimahulloh- berkata : “maknanya adalah jika kamu mengatakan kalimat islam sebelum tertawan, ketika kamu masih memiliki dirimu sendiri, maka kamu sungguh beruntung. Karena tidak diperbolehkan menawanmu jika kamu telah masuk islam sebelum tertawan.
Kamu akan menang dengan islam, tidak ditawan dan hartamu tidak dijadikan ghonimah. Adapaun jika kamu masuk islam setelah tertawan maka telah hilang pilihan tersebut. yang tersisa hanyalah diperbudak, dilepaskan atau ditebus.” [Syarh shohih muslim 11/100]
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rohimahulloh-berkata : “jika tawanan masuk islam maka hilang kebolehan membunuhnya berdasarkan kesepakatan, dan apakah ia dilepaskan atau tetap pada kondisinya maka da dua pendapat di kalangan para ulama.” [Fathul Bari 6/152]
Alloh ta’ala berfirman :
[ 55 ]
“Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka Ketahuilah bahwasanya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[QS. Al-Maidah 34]
Persoalan ke-sembilan : hukum memutilasi mayat orang kafir.
Ulama bersepakat atas keharaman memutilasi mayat orang kafir jika pada perbuatan tersebut tidak ada maslahat atau dalam rangkah mu’amalah bil mitsl. Dalilnya dari Abdullah Ibnu Yazid Al-Anshari :
( هلهثُلما هو ىه هبْهنلا نهع ُّ يبِهنلا ى هنَ)
“bahwasannya Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- melarang dari merusak dan mutilasi.” [HR.Bukhoriy]Adapun jika dalam memutilasi mayat orang kafir terdapat maslahat atau dalam rangka mu’amalah bil mitsl, seperti jika mereka memutilasi jasad-jasad kaum muslimin, maka diperbolehkan. Berdasarkan ayat Alloh ta’ala:
هدهتْعا اهم ِلْثِمِب ِهْيهلهع اوُدهتْعاهف ْمُكْيهلهع ىهدهتْعا ِنهمهف
seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.bertaqwalah kepada Alloh dan Ketahuilah, bahwa Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.”[Qs.Al-Baqoroh : 194]