Tidak ada perbedaan antara mujahidin dengan kaum muslimin yang lainnya pada pembebanan mereka dalam perintah dan larangan syari’at. Hanya saja ada dari sebagian hukum-hukum yang berkaitan dengan thoharoh, sholat, zakat dan puasa yang syari’at memberikan keringanan atas mujahid dalam pelaksanaannya, diantaranya :
Persoalan pertama : thoharoh (bersuci)nya mujahid dengan air ketika ia terluka.
Mujahid dengan lukanya memilik dua keadaan :
1. Lukanya tidak ditutup. Hukum asalnya adalah wajib baginya membasuh anggota yang terluka dengan air.
Kecuali jika dikhawatirkan ketika membasuhnya bisa mendatangkan mudhorot. Jika dikhawatirkan mudhorot, maka ulama berselisih pendapat mengenai tata cara bersucinya. Pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah membasuh bagian yang tidak terluka dari badannya saat hadats besar, atau membasuh anggota wudhunya saat hadats kecil, lalu wajib mengusap lukanya dengan air jika tidak membahayakan, dan tidak diperlukan adanya tayammum.18
18Lihat : Al-Inshaf 1/271, Ar-Roudh Al-Murobba’ 45, Asy-Syarhu Al-Kabir 1/119, Majmu’ Al-Fatawa 21/178
[ 59 ]
2. Lukanya ditutup oleh sesuatu seperti perban dan semisal. Ulama berselisih pendapat apakah mengusap seluruh perban atau tidak. Adapun zhohirnya –Allohu a’lam- mengusap seluruh bagian perban saat bersuci dari hadats besar sebisanya. Dan cukup mengusap anggota wudhu yang tertutup saat bersuci dari hadats kecil.19
Persoalan ke-dua : bersucinya anggota tubuh mujahid yang terpotong.
Anggota tubuh yang terpotong memiliki tiga keadaan :
1. Terpotong dari bagian atas siku atau atas mata kaki.
Ulama bersepakat atas hilang kewajiban membasuhnya. Dikarenakan tidak adanya bagian yang wajib di basuh sama sekali. Disebutkan dalam Al-Inshaf : “apabila terpotong di atas bagian yang wajib dibasuh maka tidak diwajibkan membasuhnya tanpa ada perselisihan di kalangan ulama.”20
2. Terpotong dari bawah siku atau bawah mata kaki.
Ulama bersepakat atas wajibnya membasuh anggota wudhu yang tersisa.21
3. Terpotong tepat di suku atau mata kaki. Ulama berselisih pendapat atas kewajiban membasuh bagian ujung tangan atau kaki tersebut. Pendapat yang rajih –Allohu ‘alam- adalah wajib membasuhnya.
Dikarenakan siku dan mata kaki termasuk dalam
19 Lihat : Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/271, Bulghotussalik 1/76, Mawahibul Jalil 1/531, Al-Bahru Ar-Raqiq 1/326, Al-Mughni 1/356, Al-Majmu’ 2/370
20 Al-Inshaf 1/164, Al-Mughni 1/174
21 Lihat : Mawahibul Jalil 1/277, Al-Majmu’ karya An-Nawawi 1/416, Al-Inshaf 1/163
[ 60 ]
anggota wudhu, maka apabila masih tersisa sedikit saja bagian darinya, tetap wajib dibasuh.22
Persoalan ke-tiga : tayammumnya mujahid dikarenakan khawatir serangan musuh.
Ulama bersepakat atas kebolehan bertayamum bagi siapa yang khawatir atas dirinya dari serangan musuh, karena ia seperti orang yang tidak mendapatkan air.23
Persoalan ke-empat : tayamumnya mujahid dengan debu.
Ulama bersepakat atas kebolehan bertayamum dengan tanah yang berdebu, dan berselisih pendapat atas kebolehan bertayammum menggunakan debu yang terdapat pada tembok dan selainnya. Pendapat jumhur ulama memperbolehkan bertayammum menggunakan debu tersebut24 berdasarkan hadits Juhaim Al-Anshari : “Nabi – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- kembali dari Bi’r Jamal , lalu ada seorang laki-laki menemuinya dan memberi salam kepadanya, akan tetapi Nabi tidak menjawabnya hingga ia menghadap tembok dan mengusap wajah dan kedua tangannya lalu menjawab salam kepadanya.” [Muttafaq
‘alayhi] dalam firman Alloh ta’ala :
ْمهلهف اًبَِّي هط اًديِع هص اوُمَّهمهيهتهف ًءاهم اوُدِ تِ ه
“Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik.” [Qs. An-nisa : 43] makna
22 Lihat : Badai’u Ash-Shana’i’ 1/68, Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an Imam Qurthubi 6/84, Al-Mughni 1/173, Al-Inshaf 1/164
23 Lihat : Badai’u Ash-Shana’i’ 1/170, Al-Majmu 2/298, Al-Umm 1/46, Al-Mughni 1/315, Hasyiyah Ar-Roudh 1/306
24 Lihat : At-Tamhid 19/290, Al-Ijma’ Ibnul Mundzir 14, Badai’u Ash-Shana’i’
1/182, Al-Majmu’ 2/253, Al-Umm 1/50, Al-Mughni 1/263
[ 61 ]
Sha’id (tanah) : adalah segala sesuatu yang berada di atas tanah, maka termasuk darinya debu, pasir dan semisalnya.25 Permasalahan ke-lima : sholat khouf
Tidak ada perselisihan di kalangan ulama atas pensyari’atan sholat khouf, ia pernah diamalkan oleh Nabi –shollaAllohu
‘alayhi wa sallam-26 dan diamalkan oleh para Shahabat setelah beliau wafat. Dasar dari pensyari’atan sholat khouf adalah firman Alloh : (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, Kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud, maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah
25 Lihat : Tafsir Ibnu Katsir
26 Al-Mabsuth : 2/45, Fathul Qadir 2/64, Al-Ukhtiyar karya Al-maushuli 1/89, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/391, Mawahibul jalil 2/561, Mughni Muhtaj 1/573, Al-Majmu’ 4/290, Al-Mustau’ib 2/411, Al-Mubadda’ 2/25, Al-Mughni 3/29, Al-Muhalla bil Atsar 3/332
[ 62 ]
mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata...” [QS. An-Nisa : 102]27
Syarat mengerjakannya adalah :
1. Apabila hukum peperangan tersebut diperbolehkan atau diidzinkan, seperti peperangan melawan orang-orang kafir, murtadin dan semisalnya.28
2. Hawatir dengan serangan musuh, karena dekatnya keberadaan mereka dengan mujahidin, atau karena adanya kabar dari orang terpercaya tentang kedatangan mereka, atau khawatir dengan jebakan dan tipuan musuh. Inilah pendapat jumhur.29
3. Mujahidin sedang dikejar musuh dalam keadaan lemah dan jumlah sedikit sedangkan musuh dalam keadaan kuat dan berjumlah banyaj, atau sedang berpindah tempat, atau sedang pergi menggabungkan diri ke grup lainnya. Dalam keadaan-keadaan seperti ini diperbolehkan melaksanakan sholat khouf.30
Khouf (takut) ada dua kondisi :
Pertama : khouf yang tidak begitu kuat.
Batasannya adalah adanya khouf dikarenakan datangnya serangan musuh kepada mujahidin saat melaksanakan
27 Selengkapnya mengenai pembahasan tatacara shalat khouf silahkan cek tafsir Ath-Thobari, Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi
28 Mawahib Al-Jalil 1/561, Hasyiyah Al-Khurasyi 2/280, Al-Umm 1/224, Al-Hawi 2/476, Al-Majmu’ 4/287, Al-Mustau’ib 2/412, Kasyaful Qina’ 1/493, Asy-Syarhul Mumti’ 4/586
29 At-Taj Wal-Iklil 2/566, Al-Umm 1/218, Al-Mubadda’ 2/126, Al-Mughni 3/299, Al-Inshaf 2/362
30 Adz-Dzakhiroh 2/442, Hasyiyah Al-Khurasyi 2/284, Tuhfatul Fuqhaha 1/179, Hasyiyah Ibnu Abidin 3/76, Al-Umm 1/225, Al-Hawi 2/475, Nailul Awthar 3/323, Al-Mustau’ib 2/418, Kasyafu; Qina’ 1/500
[ 63 ]
sholat, yang diketahui bisa karena dekatnya jarak mereka, atau karena adanya pemberitahuan dari orang yang terpercaya akan kedatangan mereka tanpa ada pertempuran yang berkecamuk antara pasukan.31
Cara pelaksanaan sholat di keadaan seperti ini jika posisi musuh berada di arah kiblat sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir : “Aku pernah melaksanakan sholat khouf bersama –Rosululloh shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- beliau membariskan kami dalam dua shoff. Shoff ada di belakang Rosululloh, sementara musuh ada diantara kami dengan kiblat. Rosululloh bertakbir lalu kami semua bertakbir, beliau rukuk lalu kami semua ruku, beliau bangkit dari rukuk kami juga bangkit, kemudian beliau sujud dengan shoff yang dibelakang beliau, sedangkan shoff yang di belakangnya lagi tetap berdiri menghadap musuh. Ketika Nabi dan shoff terdepan selesai sujud lalu berdiri, shoff belakang pun sujud lalu berdiri. Kemudian shoff belakang maju ke depan dan shoff yang depan mundur. Lalu Nabi rukuk dan kami semua ruku, beliau bangkit dari rukuk kami semua juga bangkit, kemudian beliau sujud dengan shaf pertama yang sebelumnya ada di shoff belakang, sedangkan shoff yang di belakangnya lagi tetap berdiri menghadap musuh. Saat Rosululloh dan shoff pertama selesai sujud, shoff di belakang pun melakukan sujud. Lalu Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- salam dan kami semua juga salam.” [HR. Muslim]
Adapun jika posisi musuh berada di selain arah kiblat maka cara sholatnya sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar : “Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- pernah mengimami kami sholat khouf, maka satu grup
31 ‘Uyunul Atsar Fii Fununi Al-Maghazi Wa As-Siyar 2/79, Al-Umm 1/218
[ 64 ]
berdiri bersama Nabi, adapun grup lainnya menghadap musuh. Nabi melaksanakan sholat satu raka’at dengan grup yang sedang bersamanya, lalu mereka pergi, dan grup yang tadi berjaga datang dan melaksanakan sholat satu raka’at bersama Nabi, (lalu Nabi salam) dan kelompok kedua meneruskan satu raka’atnya lagi, begitu juga kelompok pertama.” [Muttafaq ‘Alayhi]
Ke-dua : khouf yang kuat atau sedang terjadinya saling serang antar pasukan.
Batasan khouf yang kuat adalah jika pasukan musuh telah sampai dan antar pasukan sudah saling berpapasan yang tidak mungkin musuh membiarkan mujahidin melaksanakan sholat di tempatnya kecuali akan terkena serangan, sedangkan kondisi mujahid sedang tidak di dalam benteng yang bisa menghalangi serangan tersebut.32
Ulama bersepakat bahwa mujahid sholat dalam keadaan berjalan maupun berkendara, menghadap kiblat maupun tidak menghadap kiblat, menggunakan isyarat kepala saat rukuk dan sujudnya.33 Berdalil dengan firman Alloh :
اًناهب كُر ْو ْ ه
أ لَاهجِر هف ْمُتْفِخ ْنِإهف
“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka sholatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” [QS.Al-Baqoroh: 239]
32 Al-umm 1/222
33 Al-Ikhtiyar karya Al-Mushuli 1/89, Fathul Qadir 2/64, Al-Bidayah Wan-Nihayah 3/201, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/393, Al-Mudawwanah imam Malik 1/162, Adz-Dzakhiroh 1/411, Al-Umm 1/22, Al-Hawi Al-Kabir 2/470, Roudhatutthalbin 2/60, Mughni Muhtaj 1/578, Mustau’ib 2/417, Muharror Fil Fiqh 1/138, Al-Mughni 3/316, Al-Mubadda’ 2/136, Kasyaful Qina’ 1/499, Al-Muhalla Bil Atsar 3/236
[ 65 ]
Ibnu Umar berkata : “apabila khouf yang terjadi itu kuat, maka sholatlah dalam keadaan berjalan dengan kakinya atau berkendara, dengan menghadap kiblat ataupun tidak menghadapnya.” [Al-Muwattho’ Imam Malik]
Permasalahan ke-enam : sholat di atas hewan tungangan dan kendaraan bertenaga mesin dengan isyarat.
Para ulama bersepakat atas kebolehan bagi mujahidin dalam keadaan kuatnya khouf untuk sholat dengan berkendara di atas hewan tunggangan –dan kendaraan bertenaga mesin memiliki hukum yang sama dengan hewan tunggangan di hari ini- dengan cara berisyarat saat rukuk dan sujudnya, dengan menghadap kiblat maupun tidak mengahadap kiblat, sesuai kemampuan mereka.34 Dengan dalil firman Alloh :
ً لَاهجِر هف ْمُتْفِخ ْنِإهف اًناهب كُر ْو ْ ه
أ
“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka sholatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” [QS.Al-Baqoroh: 239]
Persoalan ke-tujuh : menjamak dua sholat di salah satu dari waktu keduanya bagi mujahid yang muqim jika khawatir akan musuh.
Ulama berselisih pendapat dalam persoalan ini. Pendapat yang kuat –Allohu a’lam- adalah hal tersebut diperbolehkan.35 Berdasarkan hadits Ibnu Umar : “Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- melaksanakan sholat zhuhur dan ashar dengan dijamak dalam keadaan tidak khouf dan tidak safar.” Dalam riwayat lain “dalam keadaan
34 Lihat : Fathul Qadir 2/64, Al-Umm 1/221, Al-Muharror 1/138, Al-Mughni 3/316
35 Lihat : Al-Inshaf 2/359, Kasyaful Qina’ 1/489, Al-Majmu’ 4/263, Roudhatutthalibin 1/401
[ 66 ]
tidak khouf dan tidak hujan.” Berkata Abu Zubair : aku bertanya kepada Sa’id, “mengapa beliau melakukan yang demikian?” ia menjawab, aku bertanya kepada Ibnu Abas sebagaimana kamu menanyakanku, dan ia menjawab :
“beliau ingin agar tidak memberatkan siapapun dari umatnya.”[HR. Muslim]
Kesulitan dikarenakan khawatir adanya musuh disini terjadi, jika saja diperbolehkan menjamak bagi muqim yang aman saat keaadaan yang terdapat suatu kesulitan, maka diperbolehkannya bagi yang memiliki khouf tentu lebih utama. Dan kebutuhan orang yang khouf untuk menjamak lebih kuat daripada kebutuhan orang yang sedang dalam kondisi hujan.36
Persoalan ke-delapan : hukum mujahid menerima zakat Para ulama telah ijma’ atas kebolehan mujahid menerima zakat jik mujahid tidak mendapatkan upah, sama saja apakah mujahid itu faqir maupun tidak.37
Mujahid diberikan bagian dari zakat sejumlah yang mencukupi dirinya untuk mengikuti peperangan; berupa tunggangan, kendaraan, nafkah dan pakaian selama jangka waktu ia pergi, menetap dan kembali pulang dari tempat musuh, atau selama di perbatasan jika waktu menetap di sana panjang. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
36 Lihat : Sharah Shahih Muslim 5/226
37 Lihat : Badai’u Ash-Shana’i’ 2/154, Al-Kafi Fii Fiqh Ahlil Madinah 1/326, Al-Jami’
Li Ahkamil Qur’an 8/170, Roudhatutthalibin 2/321, Kasyaful Qina’ 2/107
[ 67 ]
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Alloh dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Alloh, dan Alloh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Qs. At-Taubah: 60]
Persoalan ke-sembilan : berbukanya mujahid di siang hari Romadhon
Mujahid dalam persoalan ini tidak lepas dari dua keadaan : 1. Dalam keadaan safar. Dalam keadaan ini
diperbolehkan baginya berbuka (tidak berpuasa) berdasarkan kesepakatan ulama.38 Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
ه هعَل ْوهأ ا ًضيِرهم هنهكَ ْنهمهو ُهْم ُصهيْلهف هرْهَّهشلا ُمُكْنِم هدِههش ْنهمهف ُديِرُي هرهخ ُ
أ ٍماَّهي ه
أ ْنِم ةَّهدِعهف ٍر هفهس
“Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa),
38 Lihat : Al-Majmu’ 6/265, Roudhatutthalibin 2/369, Al-Mughni 4/345, Hasyiyah Ar-Roudh Al-Murobba’ 3/376
[ 68 ]
maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”[QS. Al-Baqoroh 185]
2. Dalam keadaan muqim/tidak safar. Ulama berselisih pendapat atas kebolehan berbuka baginya. Dan yang shohih adalah apabila berpuasa bisa melemahkannya maka diperbolehkan baginya berbuka. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah dan Ibnu Qayyim. Karena berbukanya mujahid yang muqim lebih diperlukan daripada berbukanya musafir yang hanya dikarenakan safar.39 Juga berdasarkan keumuman firman Alloh ta’ala :
ُّدِع ه
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”[QS.Al-Anfal: 60] Dan harus diperhatikan, bahwa apabila seorang mujahid tidak berpuasa di bulan Romadhon karena udzur, maka wajib baginya qadha’.
Persoalan ke-sepuluh : hukum perginya mujahid membawa mushaf Al-Qur-an ke tempat musuh.
Ulama bersepakat atas tidak bolehnya pergi membawa Al-Qur-an ke tempat musuh jika dikhawatirkan akan berpindah tangan kepada mereka.40 Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Rosululloh -shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- :
39 Lihat : Al-Inshaf 3/286, Zadul Ma’ad 2/53, Hasyiyah Ar-Roudh Al-Murobba’
3/380, Fathul Qadir 2/272, Hasiyah Ibnu Abidin 3/402
40 Lihat : Al-Mabsuth 10/69, Bidayatul Mujtahid 1/393, Fathul Bari 6/165, Masyari’ul Asywaq 2/1068, Al-Mughni 13/37
[ 69 ]
ْنَأ َةَفاََمُ ،ِّوُدَعْلا ِضْرَأ َلَِإ ِنآْرُقْلاِب َرَ فاَسُي ْنَأ ىَهْ نَ ي َناَك ُهَّنَأ ُّوُدَعْلا ُهَلاَنَ ي .
“bahwasannya beliau melarang safar membawa Al-Qur-an ke tempat musuh, karena khawatir akan diambil oleh musuh.”
[Muttafaq ‘alayhi]
juga dari Ayyub, dari Nafi, dari Ibnu Umar, Rosululloh – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
وُدَعْلا ُهَلاَنَ ي ْنَأ ُنَمآ ََ ِّنِِإَف ،ِنآْرُقْلاِب اوُرِفاَسُت ََ
.
“janganlah kalian safar membawa Al-Qur-an, karena sesungguhnya aku tidak menjamin jika ia bisa diambil oleh musuh.”
Abu Ayyub berkata : “sungguh musuh telah mengambilnya dan mereka telah mendebat kalian dengannya.”