Mujahid tidaklah terlepas dari kemenangan dan ghonimah atau kekalahan dan syahadah (kesyahidan). Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu ‘Amr, bahwasannya Rosululloh – shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
َغ نِم ام اوُلَّجَعَ ت ََّإ َةَميِنَغلا َنوُبيِصُيَ ف للها ِلْيبَس فِ وُزْغَ ت ٍةَيِزا
اوُبيِصُي لم ْنإ َو ُثُلُ ثلا ملِ ىَقبَي َو ةَرِخَٰا َنِم مِهِرْجَأ يَثُلُ ث مُهُرجأ ملِ ََّتُ ًةَميِنَغ
“tidaklah orang yang berperang di jalan Alloh, lalu ia mendapatkan ghonimah, kecuali dipercepat baginya 2/3 dari pahalanya di akhirat, dan tersisa untuknya 1/3. Dan apabila ia tidak mendapatkan ghonimah, maka sempurnalah ganjaran untuknya.” [HR. Muslim]
Pada ghonimah dan fay’ terdapat beberapa persoalan : Persoalan pertama : pengertian ghonimah dan fay’
Ghonimah adalah sebutan untuk harta-harta yang diambil dari orang kafir asli maupun murtaddin melalui peperangan dan paksaan dalam rangka meninggikan kalimat Alloh.
Fay’ adalah harta yang Alloh berikan kepada kaum muslimin dari orang-orang kafir asli maupun
[ 71 ]
murtaddin tanpa melalui peperangan. Bisa dengan terusirnya mereka, dengan perdamaian dan jizyah maupun sebab lainnya.
Persoalan ke-dua : perbedaan antara ghonimah, fay’ dan zakat.
Imam Abu Ya’la –rohimahulloh- berkata di kitabnya, Al-Ahkam As-Sulthoniyyah :
[Pasal pembagian fay’ dan ghonimah]
Dan harta-harta fay’ dan ghonimah adalah apa-apa yang datang dari kaum musyrikin, atau mereka adalah sebab datangnya harta tersebut, yang keduanya memiliki hukum masing-masing yang berbeda. Dan keduanya memiliki perbedaan dengan zakat dari empat sisi :
1. Bahwasannya zakat diambil dari kaum muslimin sebagai pensucian untuk mereka. Adapun fay’ dan ghonimah diambil dari orang-orang kafir sebagai hukuman atas mereka.
2. Bahwasannya seluruh penyaluran/pembagian zakat telah memiliki rumusan pasti dari syari’at, tidak ada tempat bagi para imam untuk berijtihad di dalamnya.
Sedangkan penyaluran fay’ dan ghonimah ada yang terdapat ijtihad di dalam pembagiannya.
3. Diperbolehkan harta zakat dibagikan secara perorangan, dari si pemilik harta kepada orang yang berhak menerimanya. Sedangkan tidak diperbolehkan harta fay’ dibagikan begitu saja kepada yang berhak menerimanya tanpa diserahkan kepada ahli ijtihad dari pemerintahan.
[ 72 ]
4. Terdapat perbedaan ke mana harta tersebut di bagikan, sebagaimana yang nanti akan kami jabarkan.
Persoalan ke-empat : kesamaan dan perbedaan antara ghonimah dan fay’.
Imam Abu Ya’la –rohimahulloh- berkata di kitabnya, Al-Ahkam As-Sulthoniyyah :
[Pasal pembagian fay’ dan ghonimah]
Fay’ dan ghonimah memiliki kesamaan dari dua sisi dan memiliki perbedaan dari dua sisi. Sisi persamaannya adalah :
1. Kedua harta tersebut diambil dari orang kafir.
2. Penyaluran 1/5 nya sama.
Adapun sisi perbedaanya :
1. Harta fay’ diambil dengan cara yang mudah, sedangkan ghonimah diambil dengan cara paksa.
2. Penyaluran 4/5 fay’ berbeda dengan penyaluran 4/5 ghonimah.
Persoalan ke-empat : penyaluran seperlima harta ghonimah.
Penyaluran seperlima harta ghonimah adalah sebagaimana yang Alloh sebutkan dalam firmanNya :
ْمِنهغ اهمَّهن ه
أ اوُمهلْعاهو ِ َ ِللّ َّهن ه
أهف ٍءْ هشَ ْنِم ْمُت َرلِلهو ُه هسُ ُخُ
يِ ِلَهو ِلوُس
ِليِب َّهسلا ِنْباهو ِينِكا هسهم ْ لاهو همَاهته لاهو هبَْرُق ْ ْ لا
[ 73 ]
“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai ghonimah, maka sesungguhnya seperlima untuk Alloh, Rosul, kerabat rosul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu sabil (orang-orang yang dalam perjalanan)”
[Qs. Al-Anfal : 41]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –Rohimahulloh- berkata dalam kitab As-Siyasah Asy-Syar’iyah : “wajib pada harta ghonimah untuk dibagi menjadi lima, penyaluran seperlima kepada orang-orang yang telah Alloh sebutkan dalam firman-Nya, lalu sisanya dibagikan kepada orang-orang yang mendapatkan ghonimah tersebut. Umar Ibnul Khattab berkata : “ghonimah adalah untuk setiap orang yang hadir di peperangan.” Yaitu semua yang mengikuti peperangan tersebut, yang sudah turun di peperangan langsung maupun yang belum. Wajib membaginya diantara mereka semua dengan adil. Tidak boleh pembagiannya lebih condong kepada siapapun dikarenakan kepemimpinannya, atau karena nasabnya maupun keutamaannya. Sebagaimana Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- dan para khalifah setelahnya dahulu membagikan ghonimah.”
Juga berkata : “siapa yang berkata bahwasannya wajib atas imam untuk membagikannya secara bebas (berbeda-beda sesuai keperluan), maka perkataannya sangat lemah, menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rosul, karena ia tidak memiliki satupun hujjah atas perkataannya. Adapun pembagian yang dilakukan Nabi saat perang Khaibar hanyalah menunjukan kebolehan atas apa yang ia lakukan, bukan menunjukan hal tersebut wajib. Karena suatu perbuatan Nabi tidaklah harus menunjukan hal tersebut wajib. Nabi tidak membagikan dengan cara tersebut ketika fathu makkah, padahal tidak diragukan bahwasannya ia
[ 74 ]
ditaklukan dengan cara paksa. Ini bisa diketahui dengan mudah dengan adanya tadabbur hadits-hadits Nabi. Juga siapa yang berkata bahwasannya wajib membagikan keseluruhannya dengan sama rata antara mujahidin di setiap peperangan , maka perkataanya lemah. Karena diperbolehkan melebihkannya satu dengan yang lain untuk maslahat, sebagaimana Nabi pernah melakukannya di banyak peperangan.”
Al-‘Allamah Asy-Syinqithy –Rohimahulloh- berkata dalam Adhwaul Bayan41 setelah menyebutkan perkataan jumhur tentang membagi lima ghonimah : “dan sebagian ahli ilmu menyelisihinya, yaitu pendapat sebagian besar dari ulama malikiyah, dan Al-Maziriy juga menukil dari mereka, berkata : “Imam diperbolehkan menyalurkan ghonimah sesuai yang ia inginkan dilihat dari maslahat kaum muslimin, juga diperbolehkan tidak membagi darinya diantara mujahidin yang mengambil harta ghonimah tersebut.”
Persoalan ke-lima : penyaluran seperlima harta fay’
Seperlima fay’ dibagikan kepada orang-orang yang telah Alloh sebutkan di dalam firman-Nya :
ُ َللّا هءاهف ه أ اهم َلِلهف ىهرُق ْ
لا ِلْه ه
أ ْنِم ِ ِلِوُسهر ه هعَل هبَْرُق ْ
لا يِ ِلَهو ِلوُسَّهرلِلهو ِه ِءاهيِنْغلْا ه ْينهب ًةهلوُد هنوُكهي لَ ْ ه
كَ ِليِب َّهسلا ِنْباهو ِينِكا هسهم ْ لاهو همَاهته لاهو ْ
41 [201 dan 418]
[ 75 ]
maka adalah untuk Alloh, untuk Rosul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil (orang-orang yang dalam perjalanan), supaya harta itu jangan beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.”[Qs.Al-Hasyr : 7]Imam Abu Ya’la –rohimahulloh- berkata di kitabnya, Al-Ahkam As-Sulthoniyyah tentang pembagian fay’ :
1. Jatah Rosul. Digunakan untuk perangkat perang, persenjatan dan untuk kepentingan kaum muslimin.
2. Jatah kerabat Rosul. Hak mereka telah ditetapkan, merekalah dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib saja yang keduanya keturunan Abdu Manaf. Adapun keturunan Quroisy lainnya tidak memiliki hak sama sekali pada jatah ini. Disama ratakan harta tersebut antara anak-anak kecil dan orang-orang dewasa diantara mereka, yang kaya maupun yang fakir.
Bagian laki-laki dilebihkan dari perempuan, satu jatah laki-laki sebanding dengan jatah dua perempuan.
Dikarenakan mereka diberi jatah atas nama kerabat Rosululloh, maka mantan budak dan cucu dari anak-anak perempuan mereka tidak memiliki jatah atas fay’. Imam Ahmad berkata berdasarkan riwayat
[ 76 ]
Hanbal Ibnu Manshur : “jika ada harta yang diwasiatkan untuk Bani Hasyim, maka tidak ada hak bagi mantan budak untuk mendapatkannya.”
Perkatan ini menunjukan bahwa mereka tidak memiliki haq atas pembagian fay’, karena ketika mereka tidak termasuk dalam wasiat itu juga menunjukan mereka tidak masuk dalam pembagian fay’. Mereka tidak termasuk dalam pembagian dikarenakan pembagian ini hanyalah untuk kerabat sedangkan mereka bukan termasuk kerabat, tetapi mereka termasuk dalam keharaman menerima zakat.
Dan siapa yang mati diantara mereka sebelum adanya pembagian, maka jatahnya diberikan kepada ahli warisnya.
3. Jatah anak-anak yatim yang miskin. Yatim adalah siapa yang ditinggal mati oleh ayahnya sedangkan ia belum baligh. Disamaratakan pembagian antara anak laki-laki maupun perempuan. Dan apabila mereka baligh maka telah hilang status yatim dari mereka.
4. Jatah orang-orang miskin. Mereka adalah para penerima jatah fay’ yang tidak memiliki apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara miskin dari kalangan penerima fay’ dengan miskin dari kalangan penerima zakat.
5. Jatah ibnu sabil. Mereka adalah para musafir dari kalangan penerima fay’ yang tidak memiliki kecukupan bekal untuk perjalanannya. Yaitu mereka yang sedang dalam perjalanan, bukan yang baru saja akan memulai perjalanannya.
[ 77 ]
Inilah ketentuan pembagian seperlima fay’ yang harus dibagikan kepada setiap kelompoknya.
Imam Al-Juwaini –rohimahulloh- berkata : “adapun harta yang tersebar secara umum kebaikannya ialah harta yang telah dinamakan oleh para ulama sebagai tempat pengecekan untuk kebutuhan manusia. Seperlima dari seperlima harta fay’ dan seperlima dari seperlima harta ghonimah.”
Persoalan ke-enam : pengertian ghulul dan hukumnya.
Ghululul adalah perbuatan khianat dan pencurian sebagian dari ghonimah yang belum dibagikan. Juga ghulul bisa disebut dengan : apa-apa yang diambil dari ghonimah atau fay’ secara sembunyi-sembunyi, yang tidak diperbolehkan untuk menggunakannya atau yang sebenarnya wajib dibagikan diantara mujahidin.
Ghulul merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Alloh berfirman :
هو َّهلُغهي ْن ه
أ ٍَّ ِبِه ِل هن هكَ اهمهو َّهفَهوُت َّهمُث ِةهماهيِق ْ
لا همْوهي َّهلهغ اهمِب ِت ْ
أهي ْلُلْغهي ْنهم
هنوُمهل ْظُي لَ ْمُههو ْتهب هسهك اهم ٍسْفهن َُّ ُك
“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dizhalimi.” [QS. Ali ‘Imron : 161]
[ 78 ]
َق ،َةَرْ يَرُه ِبَِأ ْنَع َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلوُسَر اَنيِف َماَق :َلا
ََ" :َلاَق َُّثُ ،ُهَرْمَأ َمَّظَعَو ُهَمَّظَعَ ف ،َلوُلُغْلا َرَكَذَف ،ٍمْوَ ي َتاَذ :ُلوُقَ ي ،ٌءاَغُر ُهَل ٌيِعَب ِهِتَبَ قَر ىَلَع ِةَماَيِقْلا َمْوَ ي ُءيَِيَ ْمُكَدَحَأ ََّيَِفْلُأ ُسَر اَي ،َكُتْغَلْ بَأ ْدَق ،اًئْيَش َكَل ُكِلْمَأ ََ :ُلوُقَأَف ، ِنِْثِغَأ ،ِللها َلو ،ٌةَمَحَْحَ ُهَل ٌسَرَ ف ِهِتَبَ قَر ىَلَع ِةَماَيِقْلا َمْوَ ي ُءيَِيَ ْمُكَدَحَأ ََّيَِفْلُأ ََ
َق ،اًئْيَش َكَل ُكِلْمَأ ََ :ُلوُقَأَف ، ِنِْثِغَأ ،ِللها َلوُسَر اَي :ُلوُقَ يَ ف ْد اََلِ ٌةاَش ِهِتَبَ قَر ىَلَع ِةَماَيِقْلا َمْوَ ي ُءيَِيَ ْمُكَدَحَأ ََّيَِفْلُأ ََ ،َكُتْغَلْ بَأ ،اًئْيَش َكَل ُكِلْمَأ ََ :ُلوُقَأَف ، ِنِْثِغَأ ،ِللها َلوُسَر اَي :ُلوُقَ ي ،ٌءاَغُ ث َيِقْلا َمْوَ ي ُءيَِيَ ْمُكَدَحَأ ََّيَِفْلُأ ََ ،َكُتْغَلْ بَأ ْدَق ِهِتَبَ قَر ىَلَع ِةَما
ُكِلْمَأ ََ :ُلوُقَأَف ، ِنِْثِغَأ ،ِللها َلوُسَر اَي :ُلوُقَ يَ ف ،ٌحاَيِص اََلِ ٌسْفَ ن ىَلَع ِةَماَيِقْلا َمْوَ ي ُءيَِيَ ْمُكَدَحَأ ََّيَِفْلُأ ََ ،َكُتْغَلْ بَأ ْدَق ،اًئْيَش َكَل َلوُسَر اَي :ُلوُقَ يَ ف ،ُقِفَْتَ ٌعاَقِر ِهِتَبَ قَر ََ :ُلوُقَأَف ، ِنِْثِغَأ ،ِللها
َمْوَ ي ُءيَِيَ ْمُكَدَحَأ ََّيَِفْلُأ ََ ،َكُتْغَلْ بَأ ْدَق ،اًئْيَش َكَل ُكِلْمَأ ، ِنِْثِغَأ ،ِللها َلوُسَر اَي :ُلوُقَ يَ ف ،ٌتِماَص ِهِتَبَ قَر ىَلَع ِةَماَيِقْلا
"َكُتْغَلْ بَأ ْدَق ،اًئْيَش َكَل ُكِلْمَأ ََ :ُلوُقَأَف
[ 79 ]
Diriwayatkan dari Abu Huroyroh, ia berkata, suatu hari Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau menyebutkan tentang ghulul dan membesarkan perkaranya. Lalu beliau bersabda, “jangan sampai pada hari kiamat aku mendapati salah seorang dari kalian datang dengan memikul unta yang sedang melenguh-lenguh di tengkuknya. Lalu dia berkata, wahai Rosululloh, tolonglah aku! Lalu aku menjawab, aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolongmu. Aku telah sampaikan itu kepadamu. Jangan sampai pada hari kiamat kelak aku dapati salah seorang dari kalian datang memikul kuda yang meringkik-ringkik di tengkuknya. Lalu dia berkata, wahai Rosululloh tolonglah aku! Maka aku menjawab, Aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolongmu. Aku telah sampaikan itu kepadamu. Jangan sampai pada hari kiamat kelak aku dapati salah seorang dari kalian datang memikul kembing yang mengembek-embek di tengkuknya. Lalu dia berkata, wahai Rosululloh tolonglah aku! Maka aku menjawab, Aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolongmu. Aku telah sampaikan itu kepadamu. Jangan sampai pada hari kiamat kelak aku dapati salah seorang dari kalian datang memikul orang yang berteriak-teriak di tengkuknya. Lalu dia berkata, wahai Rosululloh tolonglah aku! Maka aku menjawab, Aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolongmu. Aku telah sampaikan itu kepadamu.
Jangan sampai pada hari kiamat kelak aku dapati salah seorang dari kalian datang membawa selembar kain yang berkibar-kibar di tengkuknya. Lalu dia berkata, wahai Rosululloh tolonglah aku! Maka aku menjawab, Aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolongmu. Aku telah sampaikan itu kepadamu. Jangan sampai pada hari kiamat kelak aku dapati salah seorang dari kalian datang memikul
[ 80 ]
benda padat berupa emas dan perak di tengkuknya. Lalu dia berkata, wahai Rosululloh tolonglah aku! Maka aku menjawab, aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolongmu. Aku telah sampaikan itu kepadamu.” [Muttafaq
‘alayhi]
Imam An-Nawawi –rohimahulloh- berkata, “kaum muslimin telah berijma’ atas kerasnya pengharaman perbuatan ghulul, dan ia merupakan dosa besar, juga mereka telah bersepakat atas wajib baginya mengembalikan apa yang ia ambil.”
[Syarh Shohih Muslim : 12/217]