Sungguh persoalan tentang perbudakan dan apa-apa yang berkaitan dengannya, seperti mencampurinya, menjual, menghibahkan, memerdekakan, men-tadbir, perwalian dan semisalnya merupakan salah satu persoalan yang paling rinci , hanya saja disebabkan panjangnya waktu yang berlalu dan sedikitnya ulama konterporer yang memperhatikan persoalan ini, maka setidaknya bagi seorang mujahid ia harus mengetahui persoalan tersebut dengan pengetahuan yang secara umum.
Persoalan pertama : pengertian tawanan.
Definisi as-Saby secara etimologi secara detail bisa dilihat di Kamus Lisanul ‘Arob, Mishbah Munir dan Qomus al-Muhith.42
Para Ahli Fiqh kebanyakan diantara mereka mengkhususkan As-Saby
( بِسلا )
untuk sebutan yang ditawan oleh kaum muslimin dari kalangan perempuan dan anak-anak mereka, dan Al-Asr( رسلأا )
untuk sebutan laki-laki dari mereka. Jika misalkan dikatakan : “ghonimah terdiri dari beberapa bagian; Asra, saby, tanah dan harta. Adapun Asra adalah42 Kami menemukan kesulitan transliterasi untuk menjabarkan definisi secara etimologi, hingga kami hanya menuliskan referensinya sebagaimana dalam kitab asli al-Masail al-Jiyad ini, --ed.
[ 82 ]
laki-laki yang ikut berperang dari kalangan orang kafir yang dikalahkan oleh kaum muslimin dalam keadaan hidup, dan saby adalah perempuan dan anak-anak…”43
Persoalan ke-dua : disyari’atkannya menawan dan memperbudak.
Sesungguhnya menawan disyari’atkan dalam Al-Qur-an, As-Sunnah dan Ijma’, dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sebagian orang-orang modernitas (yang hidup di zaman modern). Alloh ta’ala berfirman :
َ لَِإ ِءا هسَِّنلا هنِم ُتاهن هصْحُم ْ لاهو ْمُكُناهمْي ه
أ ْتهكهلهم اهم
“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki.” [QS.An-Nisa 24]
berkata Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- pada tafsirnya :
“yaitu diharamkan atas kalian perempuan-perempuan ajnabiyah yang terjaga, yaitu yang sudah bersuami, {kecuali budak-budak yang kamu miliki} yaitu kecuali tawanan yang kamu miliki, karena itu halal bagi kalian untuk mencampurinya jika mereka telah selesai haid. Karena ayat itu berkenaan dengan hal tersebut.
Imam Ahmad –rohimahulloh- berkata : ‘Abdur Rozzaq telah menceritakan kepada kami, Sufyan Ats-Tsauri telah mengabarkan kepada kami, dari Utsman Al-Batti, dari Abu Kholil, dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : “kami mendapatkan tawanan perempuan saat perang Authas,
43 Lihat : Al-Ahkam As-Sulthoniyyah Al-Mawardi 131, Al-Ahkam As-Sulthoniyyah Abu Ya’la 141
[ 83 ]
sedangkan mereka memiliki suami, dan kami tidak suka mencampuri mereka sedangkan mereka bersuami, lalu kami menanyakan hal tersebut kepada Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- lalu turun ayat { Dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki } maka telah halal kemaluan-kemaluan
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.
Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”[QS. Al-Mu’minun : 5-7]
Imam At-Thobariy –rohimahulloh- berkata dalam tafsirnya : Ibnu Abas mengenai ayat tersebut berkata : “Alloh meridhai mereka menggauli istri-istri dan budak-budak milik mereka.”
{Barangsiapa mencari yang di balik itu} yaitu “barangsiapa ada yang sudah menikah menyentuh kemaluannya selain
44 Sebagaimana yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ahmad Ibnu mani’, dari Husyaim, dan yang diriwayatkan An-Nasa’i dari hadits Sufyan Ats-Tsauri dan Syu’bah Ibnu Al-Hajjaj yang ketiganya meriwayatkan dari Utsman Al-Batti. Imam Muslim juga meriwayatkan di Shahihnya hadits Syu’bah dari Qatadah yang keduanya dari Abul khalil Shalih Ibnu Abi Maryam, dari Abu Sa’id Al-Khudri lalu menyebutkan kisahnya, dan Abdurrazaq juga meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Abul Khalil, dari Abu Sa’id..
[ 84 ]
istrinya sendiri dan budak miliknya” {maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas} yaitu “mereka telah melampaui batasan-batasan yang Alloh berikan, dan melampaui apa yang Alloh halalkan kepadanya kepada apa yang diharamkan atasnya.”
Persoalan ke-tiga : hukum tawanan murtad.
Para ulama telah berselisih pendapat atas hukum tawanan murtad, sebagian berpendapat menawannya, sebagian berpendapat meng-istitabah (menyuruhnya bertaubat) jika tidak bertaubat maka dibunuh, dan sebagian membedakan antara orang murtad yang ada di darul islam di bawah kekuasaan kaum muslimin dengan orang murtad yang didapatkan di darul harb, atau sebelumnya berada di kelompok orang-orang murtad.
Imam Ibnu Qudamah –rohimahulloh- berkata : “dan kesimpulannya adalah tidak bisa memperbudak orang murtad, sama saja apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia di darul harb maupun tinggal di darul islam, inilah pendapat Imam Asy-Syafi’i. Abu Hanifah berkata : jika perempuan murtad didapatkan di darul harb maka boleh memperbudaknya, karena Abu Bakar pernah menawan perempuan-perempuan dari Bani Hanifah yang diantaranya adalah Ummu Muhammad Ibnul Hanifah..” [Al-Mughni : 10/89]
Persoalan ke-empat : perintah untuk berbuat baik kepada tawanan.
Alloh berfirman :
[ 85 ]
“Beribadahlah kepada Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangmu, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” [QS.An-Nisa : 36]
Imam Al-Qurthubiy –rohimahulloh- berkata, “firman Alloh ta’ala {dan hamba sahayamu} adalah Alloh memerintahkan berbuat baik kepada budak-budak, dan Nabi –shollaAllohu
‘alayhi wa sallam- telah menjelaskan hal tersebut.”
Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata : dahulu diantara wasiat terakhir Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- adalah :
َّصلا َّصلا َةلَ
مُكُناَْيَُأ ْتَكَلَم اَم َو َةلَ
“sholat.. sholat.. dan budak-budak yang kalian miliki.” Nabi senantiasa mengulang-ulangi perkataan tersebut hingga lisannya tidak bisa fasih lagi dalam mengucapkannya.”[HR.
Ahmad]
[ 86 ]
Imam Asy-Syaukani –rohimahulloh- berkata : “perkataannya (sholat.. sholat.. dan budak-budak yang kalian miliki) yaitu jagalah sholat kalian dan berbuat baiklah kepada budak-budak.” [Nailul Awthar 7/6]