• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis dasar pengajuan kasasi terhadap putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan negeri rantau dengan acara pemeriksaan cepat dan pertimbangan hukumnya oleh

mahkamah agung (studi putusan Nomor 12 K/Pid/2003)

Oleh :

Rosyana Amilia Siregar E.1105129

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Dasar Pengajuan Penuntut Umum Kasasi terhadap Putusan Bebas Perkara Pidana Pelanggaran Lalu Lintas dengan Terdakwa Junaidi AB

Paparan perkara Tindak Pidana Pelanggaran Lalu Lintas dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor: 12 K/Pid/2003 dengan terdakwa Junaidi AB:

1. Kasus Posisi

Bahwa pada tanggal 16 Oktober 2002, Pengadilan Negeri Rantau membebaskan terdakwa Junaidi AB mengenai pelanggaran Pasal 59 (2) jo Pasal 54 Undang- Undang No.14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yaitu terdakwa tidak memasang lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor di bagian belakang kendaraan sehingga mobil yang dikemudikan oleh pelanggar Junaidi AB secara nyata tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, akan tetapi dalam putusan putusan Pengadilan Negeri Rantau beramar “lepas dari segala tuntutan hukum” (onslag van alle rechtsvervolging) bukan beramar “bebas murni” (vrijspraak) atau tidak terbukti, akan tetapi oleh hakim Pengadilan Negeri Rantau tidak diuraikan pertimbangan-pertimbangan mengapa terdakwa tidak terbukti bersalah, namun terungkap di persidangan bahwa terdakwa tidak terbukti melanggar Pasal 54 Undang-Undang No.14 Tahun 1992, karena surat tilang yang dikeluarkan oleh Polres Tapin tidak sah, sebab yang berhak menindak pelanggaran dimaksud adakah pihak Dinas LLAJ Kabupaten Tapin sehingga tindakan petugas tidak sesuai dengan prosedur dan oleh karena itu terdakwa

(2)

dinyatakan bebas dengan putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Rantau, Jaksa/Penuntut Umum mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Negeri tersebut.

2. Identitas Terdakwa

Nama Lengkap : Junaidi AB Tempat Lahir : Banjarmasin

Umur : 59 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Kebangsaan : Indonesia

Tempat tinggal : Jl. Veteran Gg. V Nomor 42 RT. 26, Banjarmasin Agama

Agama : Islam

Pekerjaan : Sopir 3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Rantau dalam surat dakwaannya mengajukan dakwaan terhadap terdakwa Junaidi AB dengan dakwaan kumulasi sebagai berikut :

Kesatu :

Melanggar Pasal 59 (2) jo. Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

4. Amar Putusan Pengadilan

a. Menyatakan tidak dapat diterima permohonan kasasi dari Pemohon kasasi b.Membebankan biaya perkara dalam tingkat kasasi kepada Negara.

5. Dasar Permohonan Kasasi Penuntut Umum

Alasan-alasan yang diajukan oleh pemohon Kasasi Jaksa/Penuntut Umum pada pokoknya sebagai berikut :

Bahwa Pengadilan Negeri Rantau telah melakukan kekeliruan dengan alasan Pengemudi/ JUANIDI AB. berdasarkan fakta dipersidangan terbukti tidak memasang lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan sehingga mobil yang dikemudikan oleh Pelanggar/JUNAIDI AB.

secara nyata tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, sehingga putusan

(3)

Pengadilan Negeri Rantau beramar “lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging) bukan beramar “bebas murni (vrijspraak) atau tidak terbukti.

Bahwa Pengadilan Negeri Rantau tidak menerapkan hukum atau menerapkan hukum tidak sebagaimana mestinya, karena Hakim Pengadilan Negeri Rantau dalam memutus perkara tilang tersebut menyatakan bahwa Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran Bahwa Pengadilan Negeri Rantau telah melakukan kekeliruan dengan alasan Pengemudi/ JUANIDI AB. berdasarkan fakta dipersidangan terbukti tidak memasang lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan sehingga mobil yang dikemudikan oleh Pelanggar/JUNAIDI AB. secara nyata tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, sehingga putusan Pengadilan Negeri Rantau beramar “lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging) bukan beramar “bebas murni (vrijspraak) atau tidak terbukti.

Pengadilan Negeri Rantau tidak menerapkan hukum atau menerapkan hukum tidak sebagaimana mestinya, karena Hakim Pengadilan Negeri Rantau dalam memutus perkara tilang tersebut menyatakan bahwa Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran lalu lintas, tetapi tidak diuraikan pertimbangan-pertimbangan pertimbangan kenapa Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran lalu lintas. Namun terungkap di persidangan bahwa Terdakwa tidak terbukti melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992, karena surat tilang yang dikeluarkan oleh Polres Tapin tidak sah, sebab yang berhak menindak pelanggaran dimaksud adakah pihak Dinas LLAJ Kabupaten Tapin, sehingga tindakan petugas tidak sesuai dengan prosedur dan oleh karena itu Terdakwa dinyatakan bebas. Di Kabupaten Tapin belum ada Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, selama ini penindakan terhadap para pengemudi yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan (Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992) dilakukan oleh Polres Tapin, sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Ayat (2) huruf (a) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992. Prosedur penindakan demikian telah dilakukan berulang kali dan perkara tilangnya telah diputus terbukti bersalah

(4)

oleh Hakim Pengadilan Negeri Rantau, sehingga dengan demikian Hakim Pengadilan Negeri Rantau tidak konsisten dalam menjatuhkan putusan pelanggaran lalu lintas yang sejenis dan tidak mempedomani putusan-putusan terdahulu.

Pembahasan

Terdakwa atau penuntut umum dalam hal putusan pengadilan yang dijatuhkan memiliki hak untuk mengajukan upaya hukum, pikir-pikir, ataupun menerima putusan pengadilan tersebut. Apabila mengajukan upaya hukum, terdakwa dan/atau penasihat hukumnya atau penuntut umum dapat mangajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi guna memeriksa perkara yang diputus oleh Pengadilan Negeri. Pengadilan Tinggi yang memeriksa perkara banding tersebut dapat memberikan putusan yang pada pokoknya sama dengan putusan Pengadilan Negeri yang bersangkutan ataupun dapat memiliki pertimbangan lain yang berbeda dengan putusan Pengadilan Negeri. Dalam putusan pengadilan pada tingkat banding, terdakwa ataupun penuntut umum dapat pula mengajukan upaya hukum terakhir yaitu kasasi ke Mahkamah Agung.

Pemeriksaan dalam tingkat kasasi didasarkan pada permasalahan penerapan hukum, dengan sendirinya dalam memori kasasi harus diuraikan permasalahan penerapan hukum yang dimintakan untuk diperiksa oleh Mahkamah Agung.

Karena itu untuk dapat menyusun memori kasasi yang memenuhi syarat, memerlukan pengetahuan hukum pidana, di samping itu dituntut pula kemampuan (kejelian) untuk mempelajari dan meneliti putusan pengadilan yang akan dimintakan kasasi. Pemohon kasasi harus mampu menemukan dimana letak kesalahan atau kekeliruan dalam putusan pengadilan, guna dikemukakan sebagai alasa permohonan kasasi.

Dalam Pasal 205 ayat (3) KUHAP, dinyatakan bahwa ”dalam acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada tingkat pertama dan tingkat terakhir, kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan, terdakwa dapat minta banding”. Bila dihubungkan dengan ketentuan dalam Pasal 205 ayat (1) yang

(5)

mengatur tentang acara pemerksaan tindak pidana ringan yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan dan/atau denda sebanyak-banyaknya Rp 7.500,00 (Tujuh Ribu Lima Ratus Rupiah) dan penghinaan ringan. Kemudian dihubungkan dengan judul Bab XVI Bagian Keenam, yakni acara pemeriksaan cepat, baru dapar diperoleh tentang pengertian yang terkandung dalam Pasal 205 ayat (3). Pengertiannya adalah bahwa putusan yang dijatuhkan oleh hakim tunggal dalam acara pemeriksaan cepat adalah putusan pada tingkat pertama dan tingkat terakhir. Maksudnya putusan demikian tidak dapat dimintakan banding (hubungkan dengan ketentuan Pasal 67 KUHAP). Karena putusan tersebut adalah putusan pada tingkat pertama yang sekaligus merupakan putusan pada tingkat terakhir, kecuali terhadap puusan yang mengandung perampasan kemerdekaan.

Ketentuan dalam Pasal 205 ayat (3) KUHAP tersebut sebenarnya selaras dengan ketentuan dalam Pasal 67 KUHAP yang menyatakan bahwa putusan dalam acara pemeriksaan cepat dikecualikan dari putusan yang dapat dimintakan banding. Bunyi Pasal 67 KUHAP adalah ”terdakwa atau penuntut umum berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat”. Dari penjelasan tersebut, maka yang dimaksud dengan putusan pada tingkat pertama dan terakhir ialah putusan Pengadilan Negeri dalam acara pemeriksaan cepat, yang tidak dapat dimintakan banding.

Apabila terdakwa tau penuntut umum tidak merasa puas dengan putusan tersebut, maka upaya hukum yang dapat digunakan ialah kasasi. Karena putusan tersebut adalah putusan tingkat pertama yang sekaligus merupakan putusan tingkat terakhir.

Sehubungan dengan hal itu, Pasal 244 KUHAP menyatakan bahwa terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain Mahkamah Agung, terdakwa atau penuntut umum dapat mengajukan permintaan kasasi kepada Mahkamah Agung, kecuali terhadap putusan bebas. Apabila ketentuan Pasal 67 KUHAP dan Pasal 244 KUHAP

(6)

dihubungkan satu dengan yang lain, maka jelaslah bahwa putusan dalam acara pemeriksaan cepat (putusan pada tingkat pertama dan tingkat terakhir), dapat dimintakan kasasi ke Mahkamah Agung.

Dasar pokok alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Jaksa/Penuntut umum yaitu bahwa Pengadilan Negeri Rantau telah melakukan kekeliruan yaitu berdasarkan fakta dipersidangan terbukti tidak memasang lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan sehingga mobil yang dikemudikan oleh Pelanggar/JUNAIDI AB. Secara nyata tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, sehingga putusan Pengadilan Negeri Rantau beramar “lepas dari segala tuntutan hukum” atau (onslag van alle rechtsvervolging) bukan beramar “bebas murni” atau (vrijspraak) atau tidak terbukti. Dalam penjelasan Pasal 191 ayat (2) maka putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum yaitu “Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum”, adapun kriteria dari putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum:

a. Apa yang didakwakan kepada terdakwa memang terbukti secara sah dan meyakinkan;

b. Tetapi sekalipun terbukti, hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan tidak merupakan tindak pidana.

Apa yang dimaksud dengan putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum, sebaiknya bentuk putusan tersebut diperbandingkan dengan putusan pembebasan.

Perbandingan tersebut dapat ditinjau dari segi beberapa segi, antara lain : a. Ditinjau dari segi pembuktian

Pada putusan pembebasan, perbuatan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa “tidak terbukti” secara sah dan meyakinkan. Jadi, tidak memenuhi asas pembuktian menurut undang-undang secara negatif serta tidak memenuhi asas batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Lain halnya pada putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum. Apa yang didakwakan kepada terdakwa cukup terbukti secara sah baik dinilai dari

(7)

segi pembuktian menurut undang-undang maupun dari segi batas minimum pembuktian yang diatur Pasal 183. Akan tetapi, perbuatan yang terbukti itu, tidak ada diatur dan tidak termasuk ruang lingkup hukum perdata, hukum asuransi, hukum dagang atau hukum adat.

b. Ditinjau dari segi penuntutan

Pada putusan pembebasan, perbuatan yang dilakukan dan didakwakan kepada terdakwa benar-benar perbuatan tindak pidana yang harus dituntut dan diperiksa disidang “pengadilan pidana”. Tetapi hanya dari segi penilaian pembuktian, pembuktian yang ada tidak cukup mendukung keterbukaan kesalahan terdakwa. Oleh karena itu, kesalahan terdakwa tidak terbukti, terdakwa “diputus bebas”, dan membebaskan dirinya dari ancaman pidana yang diancamkan pada pasal tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

Sedangkan pada putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum, pada

hakikatnya apa yang didakwakan kepdanya bukan merupakan perbuatan tindak pidana. Barangkali hanya berupa quasi tindak pidana, seolah-olah penyidik dan penuntut umum melihatnya sebagai perbuatan tindak pidana.

Mahkamah Agung mempunyai fungsi yustisia yang merupakan fungsi yang terpenting dari Mahkamah Agung, dikatakan terpenting karena fungsi yustisia tersebut sangat menentukan (mempengaruhi) jalannya penyelenggaraan peradilan. Fungsi Yustisia dimaksud adalah fungsi Mahkamah Agung dalam bidang peradilan. Mengenai tugas peradilan, walaupun hanya menyangkut bagian dari fungsi tersebut, fungsi pemegang monopoli dari peradilan kasasi dalam posisinya sebagai puncak tunggal dari semua lingkungan peradilan yang ada. Dalam melaksanakan fungsi peradilan tersebut, pemeriksaan perkara kasasi masih didampingi dengan fungsi untuk memutuskan sengketa yurisdiksi antara hakim dan pengadilan, kemudian memutus dalam tingkat banding terhadap putusan-putusan arbitrase.

Maksud dan tujuan kasasi erat kaitannya dengan pelaksanaan fungsi dan wewenang Mahkamah Agung sebagai badan peradilan tertinggi dalam memimpin dan mengawasi pengadilan rendahan, demi terciptanya kesatuan

(8)

dan keseragaman penerapan hukum dalam wilayah negara kita. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 jo Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004 tentang Mahkamah Agung, diatur fungsi dan wewenang Mahkamah Agung Republik Indonesia yang terdiri dari :

1) Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus : permohonan kasasi, sengketa tentang kewenangan mengadili dan permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

2) Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara meteriil terhadap peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang;

3) Mahkamah Agung mempunyai wewenang pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan peradilan dari semua lingkungan peradilan dalam menjalankan kekuasaan kehakiman.

4) Mahkamah Agung mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya;

5) Mahkamah Agung berwenang memberikan petunjuk, teguran atau peringatan yang dipandang perlu kepada pengadilan di semua lingkungan peradilan;

6) Mahkamah Agung memberikan nasihat hukum kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka pemberian atau penolakan grasi;

7) Mahkamah Agung dan pemerintah melakukan pengawasan atas penasihat hukum dan notaris;

8) Mahkamah Agung memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada lembaga tinggi negara yang lain.

2. Dasar Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Memeriksa dan Memutus Permohonan Kasasi Kejaksaan Negeri Rantau terhadap Putusan Bebas Perkara Pidana Pelanggaran Lalu Lintas dengan Terdakwa Junaidi AB.

Putusan yang dijatuhkan oleh Hakim Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pelanggaran lalu lintas dengan terdakwa Junaidi AB, didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut :

(9)

Menimbang, bahwa Mengingat akan akta permohonan kasasi Nomor : 1720/Pid.LL/2002/PN.Rtu yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Rantau yang menerangkan, bahwa pada tanggal 23 Oktober 2002 Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Rantau mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Negeri tersebut ;

Memperhatikan risalah kasasi bertanggal 5 Nopember 2002 dari Jaksa/Penuntut Umum sebagai Pemohon Kasasi yang diterima di Kepaniteraan Negeri Rantau pada tanggal 6 Nopember 2002 ;

Menimbang terlebih dahulu, karena berdasarkan Pasal 67 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) jo. Pasal 244 Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) terhadap putusan Pengadadilan Negeri Rantau tersebut tidak dapat dimintakan banding, maka terhadap putusan tersebut secara langsung dapat dimintakan kasasi ;

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Negeri Rantau tersebut telah dijatuhkan dengan hadirnya Pemohon Kasasi pada tanggal 16 Oktober 2002 dan Pemohon Kasasi mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 23 Oktober 2002, serta risalah kasasinya telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Rantau pada tanggal 6 Nopember 2002 dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan- alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut undang- undang ;

Menimbang, bahwa Pasal 244 KUHAP menentukan terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain Mahkamah Agung, Terdakwa atau Jaksa/Penuntut Umum dapat mengajukan permohonan kasasi kepada Mahkamah Agung, kecuali terhadap putusan bebas ;

Menimbang, bahwa akan tetapi Mahkamah Agung berpendapat selaku badan peradilan tertinggi yang mempunyai tugas untuk membina dan menjaga agar semua hukum dan undang-undang diseluruh wilayah negara diterapkan secara tepat dan adil, Mahkamah Agung wajib memeriksa apabila ada pihak yang mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan pengadilan bawahannya yang membebaskan Terdakwa, yaitu menentukan guna sudah tepat dan adilkan putusan pengadilan bawahannya itu ;

(10)

Menimbang, bahwa namun demikian sesuai Yurisprudensi yang sudah ada apabila ternyata putusan pengadilan yang membebaskan Terdakwa itu merupakan pembebasan yang murni sifatnya, maka sesuai ketentuan Pasal 244 KUHAP tersebut, permohonan kasasi tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima ;

Menimbang, bahwa sebaliknya apabila pembebasan itu didasarkan pada penafsiran yang keliru terhadap sebutan tindak pidana yang dimuat dalam surat dakwaan dan bukan didasarkan pada tidak terbuktinya suatu perbuatan yang didakwakan, atau apabila pembebasan itu sebenarnya adalah merupakan putusan lepas dari segala tuntutan hukum, atau apabila dalam menjatuhkan putusan itu pengadilan telah melampaui batas wewenangnya (meskipun hal itu tidak diajukan sebagai keberatan kasasi), Mahkamah Agung atas dasar pendapatnya bahwa pembebasan itu bukan merupakan pembebasan yang murni harus menerima permohonan kasasi tersebut ;

Menimbang, bahwa keberatan-keberatan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi pada pokoknya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa Pengadilan Negeri Rantau telah melakukan kekeliruan dengan alasan Pengemudi/ JUANIDI AB. berdasarkan fakta dipersidangan terbukti tidak memasang lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan sehingga mobil yang dikemudikan oleh Pelanggar/JUNAIDI AB.

secara nyata tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, sehingga putusan Pengadilan Negeri Rantau beramar “lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging) bukan beramar “bebas murni (vrijspraak) atau tidak terbukti;

2. Bahwa Pengadilan Negeri Rantau tidak menerapkan hukum atau menerapkan hukum tidak sebagaimana mestinya, karena Hakim Pengadilan Negeri Rantau dalam memutus perkara tilang tersebut menyatakan bahwa Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran lalu lintas, tetapi tidak diuraikan pertimbangan-pertimbangan pertimbangan kenapa Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran lalu lintas. Namun terungkap di persidangan bahwa Terdakwa tidak terbukti melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992, karena surat tilang yang dikeluarkan oleh Polres Tapin tidak sah,

(11)

sebab yang berhak menindak pelanggaran dimaksud adakah pihak Dinas LLAJ Kabupaten Tapin, sehingga tindakan petugas tidak sesuai dengan prosedur dan oleh karena itu Terdakwa dinyatakan bebas. Di Kabupaten Tapin belum ada Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, selama ini penindakan terhadap para pengemudi yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan (Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992) dilakukan oleh Polres Tapin, sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Ayat (2) huruf (a) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992. Prosedur penindakan demikian telah dilakukan berulang kali dan perkara tilangnya telah diputus terbukti bersalah oleh Hakim Pengadilan Negeri Rantau, sehingga dengan demikian Hakim Pengadilan Negeri Rantau tidak konsisten dalam menjatuhkan putusan pelanggaran lalu lintas yang sejenis dan tidak mempedomani putusan-putusan terdahulu ;

Menimbang, bahwa atas keberatan-keberatan tersebut Mahkamah Agung berpendapat, bahwa ternyata Pemohon Kasasi tidak dapat membuktikan bahwa putusan tersebut adalah merupakan pembebasan yang tidak murni, karena Pemohon Kasasi tidak dapat mengajukan alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan mengenai dimana letak sifat tidak murni dari putusan bebas tersebut dan hanya mengajukan alasan semata-mata tentang penilaian hasil pembuktian yang sebenarnya bukan merupakan alasan untuk memohon kasasi terhadap putusan bebas ;

Menimbang, bahwa di samping itu Mahkamah Agung berdasarkan wewenang pengawasannya juga tidak melihat bahwa putusan tersebut dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Rantau dengan telah melampaui batas wewenangnya, oleh karena itu permohonan kasasi Jaksa/Penuntut Umum berdasarkan Pasal 244 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP) harus dinyatakan tidak dapat diterima ;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Jaksa/Penuntut Umum dinyatakan tidak dapat diterima, maka biaya perkara dalam tingkat kasasi dibebankan kepada Negara ;

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 ;

(12)

MENGADILI

Menyatakan tidak dapat diterima permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Jaksa dan Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Rantau tersebut ;

Membebankan biaya perkara dalam tingkat kasasi kepada Negara ; Pembahasan

Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung dalam Memeriksa dan Memutus Permohonan Kasasi Kejaksaan Negeri Rantau terhadap Putusan Bebas Perkara Pidana Pelanggaran Lalu Lintas dengan Terdakwa Junaidi AB yaitu bahwa Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran lalu lintas, Terdakwa tidak terbukti bersalah melanggar pelanggaran lalu lintas. Namun terungkap di persidangan bahwa Terdakwa tidak terbukti melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992, karena surat tilang yang dikeluarkan oleh Polres Tapin tidak sah, sebab yang berhak menindak pelanggaran dimaksud adakah pihak Dinas LLAJ Kabupaten Tapin, sehingga tindakan petugas tidak sesuai dengan prosedur dan oleh karena itu Terdakwa dinyatakan bebas. Di Kabupaten Tapin belum ada Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, selama ini penindakan terhadap para pengemudi yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan (Pasal 54 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992) dilakukan oleh Polres Tapin, sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Ayat (2) huruf (a) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992. Prosedur penindakan demikian telah dilakukan berulang kali dan perkara tilangnya telah diputus terbukti bersalah oleh Hakim Pengadilan Negeri Rantau, sehingga dengan demikian Hakim Pengadilan Negeri Rantau tidak konsisten dalam menjatuhkan putusan pelanggaran lalu lintas yang sejenis dan tidak mempedomani putusan-putusan terdahulu.

Selain itu, Pemohon Kasasi tidak dapat membuktikan bahwa putusan tersebut adalah merupakan pembebasan yang tidak murni, karena Pemohon Kasasi tidak dapat mengajukan alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan mengenai dimana letak sifat tidak murni dari putusan bebas tersebut dan hanya mengajukan alasan semata- mata tentang penilaian hasil pembuktian yang sebenarnya bukan merupakan alasan untuk memohon kasasi terhadap putusan bebas, maka Mahkamah Agung berdasarkan wewenang pengawasannya juga tidak melihat bahwa putusan tersebut dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Rantau dengan telah melampaui batas wewenangnya, oleh karena itu

(13)

permohonan kasasi Jaksa/Penuntut Umum berdasarkan Pasal 244 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP) harus dinyatakan tidak dapat diterima. Keberatan semacam itu tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat Kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat Kasasi hanya berkenaan dengan tidak diterapkan suatu peraturan hukum atau peraturan hukum tidak diterapkan sebagaimana mestinya atau cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan Undang-undang dan atau Pengadilan telah melampaui batas wewenangnya, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 253 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Undang-undang No. 8 tahun 1981).

Pemeriksaan perkara pada peradilan kasasi pada umumnya tidak langsung secara lisan. Berbeda dengan tata cara pemeriksaan perkara pada tingkat Pengadilan Negeri. Di Pengadilan Negeri, sidang pemeriksaan perkara dilakukan secara langsung dalam suatu ruang sidang dengan cara menghadirkan terdakwa dan saksi-saksi serta dihadiri penuntut umum maupun penasihat hukum.

Jelasnya pemeriksaan dilakukan secara lisan. Lain halnya pemeriksaan perkara pada tingkat kasasi. Pemeriksaan dilakukan tanpa dihadiri terdakwa, saksi dan penuntut umum. Memang seandainya ada urgensi dan relevansi, secara kasuistik Mahkamah Agung dapat melakukan pemeriksaan langsung mendengar keterangan saksi dan atau terdakwa (hearing) dalam ruang sidang yang lengkap dihadiri terdakwa, penuntut umum, penasihat hukum dan saksi-saksi, seperti jalannya pemeriksaan di sidang Pengadilan Negeri, tetapi jarang terjadi dalam praktek.

Jika seperti hal tersebut, dasar pemeriksaan perkara kasasi menurut Pasal 253 ayat (2) KUHAP bersumber dari berkas perkara yang diterima Mahkamah Agung dari pengadilan yang terdiri dari : berita acara pemeriksaan dari penyidik;

berita acara pemeriksaan di sidang pengadilan; semua surat-surat yang timbul di persidangan yang ada hubungan dengan perkara; putusan pengadilan tingkat pertama; atau putusan tingkat terakhir (putusan tingkat banding). Itulah yang menjadi bahan pemeriksaan perkara dalam tingkat kasasi, berkas perkara terutama putusan tingkat banding. Apakah putusan itu benar-benar sesuai dengan berita acara dan surat-surat yang ada, serat apakah dalam putusan itu ada kesalahan penerapan hukum. Masing-masing anggpta majelis membuat dan

(14)

menyimpulkan pendapat untuk dibahas dan dipertemukan dalam permusyawaratan majelis menjadi putusan.

Dalam penentuan hukuman, seorang hakim diharapkan berpandangan tidak hanya tertuju apakah putusan itu sudah benar menurut hukum, melainkan juga terhadap akibat yang mungkin timbul. Dengan berpandangan luas seperti ini maka hakim berkemungkinan besar mampu untuk menyelami kenyataan- kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Disamping itu juga akan lebih dapat memahami serta meresapi makna dari putusan yang akan dijatuhkannya.

Dalam mengambil keputusan, hakim pada umumnya melakukan penilaian tentang :

1) Pertama diambillah keputusan mengenai perbuatan, yaitu apakah terdakwa memang melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadanya;

2) Kedua keputusan mengenai aturan pidananya, yaitu apakah perbuatan yang dilakukan terdakwa itu memang merupakan suatu perbuatan pidana, yang selanjutnya disusul dengan apakah terdakwa dengan demikian dapat dijatuhi pidana. Roeslan Saleh, 1978: 11).

Sebagai pendukung agar putusan hakim benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, maka hakim harus mempunyai sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah untuk memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwa yang bersalah melakukanya. Pada Pasal 19 ayat 4 UU No. 4 Tahun 2004 Tentang kekuasaan kehakiman disebutkan bahwa setiap hakim wajib untuk menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang ia periksa dan pertimbangan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam putusan. Hal ini menandakan bahwa setiap hakim baik berkedudukan sebagai ketua majelis maupun sebagai anggota majelis diwajibkan untuk mendalami suatu perkara dengan sungguh- sungguh dan tidak boleh bergantung pada hakim yang lain.

Adanya kewajiban bagi setiap hakim yang menyidangkan perkara untuk memberikan pertimbangan dan pendapat tertulis mengakibatkan majelis hakim tersebut mempunyai pendapat sendiri-sendiri. Dengan keadaaan seperti itu, ada kemungkinan pendapat para hakim sama diantara satu dengan yang lain. Namun, ada juga kemungkinan hakim saling berbeda pendapat (dissenting opinion) satu dengan yang lain.

(15)

Pada buku Peristilahan Hukum Dalam Praktek terbitan Kejaksaan Agung (1985), antara lain dimuat sebagai berikut: ”Kasasi adalah pembatalan putusan atau perbaikan keputusan pengadilan bawahan oleh Mahkamah Agung karena pengadilan bawahan itu telah:

1) Melampaui batas kewenangannya;

2) Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh sesuatu ketentuan undang-undang yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan;

3) Salah menerapkan atau melanggar suatu peraturan hukum yang berlaku.”

“Kasasi ialah suatu jalan hukum yang gunanya untuk melawan keputusan- keputusan yang dijatuhkan dalam tingkat tertinggi, yaitu keputusan-keputusan yang tak dapat dilatan atau tak dapat dimohon bandingan, baik karena kedua jalan hukum initidak diperbolehkan oleh undang-undang, maupun oleh karena ia telah dipergunakan.” (Mr.M.H. Tirtaamidjaja). Sedangkan menurut Mr.Wirjono Projodikoro (mantan Ketua Mahkamah Agung) menjelaskan arti kasasi sebagai berikut: ”Kasasi yang berarti pembatalan adalah salah satu tindakan Mahkamah Agung sebagai pengawas tertinggi atas putusan-putusan pengadilan-pengadilan lain. Dari kenyataan bahwa kasasi dilakukan atas putusan-putusan tingkat tertinggi dari pengadilan-pengadilan lain, dapat disimpulkan bahwa peradilan kasasi tidak boleh dimakan peradilan tingkat ketiga.”

Prof. Oemar Seno Adji, S.H. menyatakan antara lain : “Kasasi ditujukan untuk menciptakan kesatuan hukum dan oleh karenanya menimbulkan kepastian hukum. Ia (kasasi) bertujuan untuk menciptakan suatu kesatuan hukum di camping hendak menjamin kesamaan dalam peradilan.

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis yang berbunyi: “Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan

SAKSI I (terdakwa dalam perkara lain) yang telah melakukan penjambretan dengan Sdr. TERDAKWA; c) Bahwa saksi menangkap Sdr. Sumbang mendapat informasi dari masyarakat yang

Permasalahan ini dapat diatasi dengan ketentuan yang ada dalam Pasal 28 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang menyatakan bahwa terhadap satu

Pasal 245 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat

“DARUL 'AMAL” yang berarti “Desa atau Negeri tempat orang-orang beramal”. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan jo. Undang-Undang

Menurut Pasal 1 Angka (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, Hak Tanggungan atas

DPD sebagai lembaga legislatif tentunya mempunyai kewenangan untuk mengajukan Rancangan Undang-Undang sesuai apa yang diamanatkan dalam Pasal 22D ayat (1) UUD NRI 1945 yang

dan ketika terdakwa minta ijin saksi Bachtiar mengenai tindakan yang akan dilakukan terdakwa untuk menghukum para anak korban, saksi Bachtiar selaku Wali Kelas mengijinkan terdakwa