ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI ( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR
MUHAMMAD UYUUN MB ROLLE
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2017
ii
ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI ( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR
Sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
disusun dan diajukan oleh MUHAMMAD UYUUN MB ROLLE
A11111278
kepada
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2017
iii
ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI ( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR
disusun dan diajukan oleh
MUHAMMAD UYUUN MB ROLLE A11111278
Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi
Makassar, Februari 2018
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Indraswati Tri Abdi Reviene SE.,MA Suharwan Hamzah SE.,M.Si NIP. 19651012 199903 2 001 NIP. 19791116 200812 1 001
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Drs. Muh. Yusri Zamhuri, M.A., Ph.D NIP. 19610806 198903 1 004
iv
ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI ( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR
disusun dan diajukan oleh
MUHAMMAD UYUUN MB ROLLE A11111278
Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi pada tanggal Februari 2018
dinyatakan telah memenuhi syarat kelulusan
Menyetujui, Panitia Penguji
No. Nama Penguji Jabatan Tanda Tangan
1. Dr. Indraswati Tri Abdi Reviene SE.,MA 1. Ketua 1………
2. Suharwan Hamzah SE.,M.Si 2. Sekretaris 2………
3. Drs. A. Baso Siswadharma, M. Si. 3. Anggota 3………
4. Dr. Ilham Tajuddin, M.Si. 4. Anggota 4………
5. Dr. Anas Iswanto Anwar, SE., MA. 5. Anggota 5………
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Drs. Muh. Yusri Zamhuri, M.A., Ph.D NIP. 19610806 198903 1 004
v Saya yang bertanda tangan di bawah ini oleh,
Nama : Muhammad Uyuun MB Rolle
NIM : A 111 11 278
Jurusan/Program Studi : Ilmu Ekonomi/Strata Satu (S1)
dengan ini menyatakan yang sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul
ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI ( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR
Adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari ternyata di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut dan diproses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No.20 Tahun 2003, pasal 5 ayat 2 dan pasal 70)
Makassar, Januari 2018 Yang membuat pernyataan,
Muhammad Uyuun MB Rolle
vi
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Salam dan salawat semoga selalu tercurah pada baginda Rasulullah Muhammad SAW, sang idola terbaik sepanjang zaman.
Skripsi ini merupakan tugas akhir untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi (SE) pada Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisinis Universitas Hasanuddin.
Namun, skripsi ini lebih dari sekedar apa yang tertuang dari hasil belajar penulis selama ini.
Banyak pihak yang telah mendukung dalam bentuk bimbingan, nasehat, doa serta saran dari berbagai pihak. Dengan segala hormat dan kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
Orang tua tercinta Ayahanda H. Mansyur B.Rolle, S.E., M.M dan ibunda dr.Hj. Nurhaedah Syamsuddin yang tak terhitung bantuan moril, materil, dan selalu mendoakan keberhasilan dan keselamatan selama menempuh masa pendidikan. Dan juga kakak tercinta Sabda MB Rolle S.Sos yang juga banyak memberikan bantuan dan doa selama ini.
Bapak Prof. Dr. Gagaring Pagalung, S.E., M.S., Ak., CA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin beserta jajarannya.
Bapak Drs. Muh. Yusri Zamhuri, M.A., Ph.D. selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi. Terima kasih atas segala bantuan yang diberikan selama masa perkuliahan hingga peneliti dapat menyelesaikan studi di Jurusan Ilmu Ekonomi.
vii
Bapak Suharwan Hamzah S.E., M.Si selaku pembimbing II, penulis sangat berterimakasih atas segala pemikiran, ide, bantuan, arahan, nasehat, kesabaran, dan waktu yang diluangkan Selma proses hingga penyelesaian skripsi ini.
Dosen penguji Dr. Ilham Tajuddin, M.Si. Dr. Anas Iswanto Anwar S.E., M.A.
Baso Siswadharma S.E., M.Si, penulis mengucapkan banyak terimakasih atas saran dan kritik terhadap hasil penelitian sehingga lebih menyempurnakan tugas akhir ini.
Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan pengetahuan dan menginspirasi, terima kasih atas segala pembelajaran dan bantuan selama masa studi penulis.
Staf dan karyawan akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terkhusus Pak Akbar, Pak Asfar, Pak Parman, Pak Safar,Pak Oscar, Pak Suaib, Ibu Ida, Pak Masse dan Ibu Saharibulan yang telah banyak membantu dalam segala hal terkait berkas dan dokumen akademik.
Dani S. Maulinda sahabat yang hebat, yang telah banyak menemani dan membantu penulis, terimakasih atas kebaikan, motivasi, dan waktunya sehingga penulis juga merasakan kerennya title diujung nama.
Andi Nashar Pratama, Ian Adrian, Indra Syamsul Rijal, Mohammed Aksa, Muhammad Reza, Mursal M. Wais dan seluruh sahabat Warung, terimakasih sudah meluangkan waktunya, memberikan motivasi dan bantuan yang tak terhitung nilainya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga harapan dan cita-cita kita tercapai di masa depan.
Aamiin YRA.
viii
Zain, Septian Eka Prasetyo, Richard Pasolang, Muhammad Yusran Nurdin.
Dan Andi Azhadi Tonang, Muhammad Ardiansyah, Tauria Tori, Muhammad Awal Ridha, Feybe Arsella, Ratna Putri Ariati, Jihan Khadijah, dan semuanya yang tidak sempat disebutkan namanya, terimakasih banyak teman-teman. Kalian keren dan luar biasa, semoga cita-cita dan impian kita semua bias tercapai.
Teman-teman ANTARES, PRIME, SPARK, ESPADA, dan kanda-kanda andalan SPULTURA, SPARTANS, ICONiC dan seluruh keluarga besar Ilmu Ekonomi dibawah naungan “Rumah Merah” HIMAJIE (Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi) yang penulis tidak dapat sebutkan satu- persatu. Terima kasih atas segala kemesraan dan kehangatan seperti saudara yang telah diberikan.
Saudara seperjuangan pasukan markas besar power ranger Muhammad Fadhilah, M. Ridwan Basry, Tri Wahyudi Idris, dan Muliadi Mustari, Fardhan Syukri, terima kasih banyak telah memberikan motivasi, semangat, dan waktu selama proses penyelesaian skripsi ini. Kelak semoga kita tidak sukses bersama-sama baik didalam lapangan futsal, apalagi diluar lapangan. Kalian luar biasa sahabat.
Teman-teman Ekowowits Futsal Club, Rahmasyah, Zarr Al-Giffari, Abdul Basith, Andi Arif Tiro, Muklas Afrianto, Yudi Pawiloi, Muhammad Fitra Suardi, Ian Nurtanio, Rasul Umar, Bachtiar Herman, Fakhrul Indra, Azhari Farmawan, Muhammad Zulfikar, Hadi Darmawan, Malvin Malik, semua manager kece, dan seluruh teman-teman yang bernaung di Ekowowits lima ribu yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Terima kasih untuk
ix
latihan untuk cita-cita tim ini menjadi tim yang hebat, kuat, dan kompak sesuai dengan harapan kita semua. Aamiin YRA.
Semoga segala bantuan dan bimbingan dari semua pihak yang senantiasa telah diberikan kepada penulis dibalas pula dengan kebaikan dan pahala dari Allah SWT.
Skripsi ini masih jauh dari sempurna walaupun telah menerima bantuan dari berbagai pihak. Apabila terjadi kesalahan-kesalahandalam skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan bukan dari para pemberi bantuan Kritik, dan saran yang membangun akan lebih menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis pribadi.
Makassar, Februari 2018
Muhammad Uyuun MB Rolle
x
ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI ( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR
Muhammad Uyuun Indraswati Suharwan
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar. Adapun variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah parkir non resmi sebagai variabel dependen, kemudian tarif, tarif parkir resmi, pendapatan konsumen, fasilitas, dan lokasi sebagai variabel independen.
Data yang digunakan adalah data primer dengan jumlah 80 responden.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan kuisioner yang berhubungan dengan penelitian ini. Dianalisis dengan model regresi linear berganda menggunakan aplikasi SPSS Statistics 23.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel tarif, tarif parkir resmi, fasilitas, dan lokasi tidak berpengaruh terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar. Pendapatan konsumen berpengaruh positif terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar. Jika terjadi peningkatan pendapatan konsumen, maka permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar juga mengalami peningkatan.
Kata Kunci : Permintaan Parkir Non Resmi, Tarif, Tarif Parkir Resmi, Pendapatan Konsumen, Fasilitas, Lokasi.
xi
ANALYSIS OF DEMAND FOR ILLEGAL PARKING SERVICE IN MAKASSAR
Muhammad Uyuun Indraswati Suharwan
This research is intended to analyze demand for illegal parking in Makassar.
The observed variables in this study are illegal parking as dependent variable, while tariff, legal parking tariff, income, facility, and location as independent variable.
The data used are primary data with 80 respondents. The data collect by interview, observation, and questionnaires that related to this research. The method of analysis is multiple linear regression and processed by using SPSS Statistics 23 program.
The results of this study indicate that tariff variables, legal parking tariff, facilities, and location have no significant effect on demand for illegal parking services in Makassar. Income have positively affect on demand for illegal parking services in Makassar, Increase in income affect to demand for illegal parking services rises in Makassar.
Keywords : Non Official Parking Demand, Tariff, Official Parking Tariff, Consumer Revenue, Facilities, Location..
xii
halaman
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN JUDUL ii
LEMBAR PERSETUJUAN iii
LEMBAR PENGESAHAN iv
PERNYATAAN KEASLIAN v
PRAKATA vi
ABSTRAK x
ABSTRACT xi
DAFTAR ISI xii
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR GAMBAR xvi
DAFTAR LAMPIRAN xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 10
1.3 Tujuan Penelitian 10
1.4 Manfaat Penelitian 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12
2.1 Tinjauan Teoritis 12
2.1.1 Teori Permintaan 12
2.1.2 Elastisitas Permintaan 14
2.2 Hubungan Antar Variabel 16
2.2.1 Hubungan Tarif Terhadap Permintaan Jasa Parkir Liar 16 2.2.2 Hubungan Tarif Parkir Resmi Terhadap Permintaan Jasa Parkir
Liar 17
2.2.3 Hubungan Pendapatan Konsumen Terhadap Permintaan Jasa
Parkir Liar 19
2.2.4 Hubungan Fasilitas Terhadap Permintaan Jasa Parkir Liar 20 2.2.5 Hubungan Lokasi Terhadap Permintaan Jasa Parkir Liar 20
xiii
2.5 Hipotesis 24
BAB III METODE PENELITIAN 25
3.1 Lokasi Penelitian 25
3.2 Populasi dan Sampel 25
3.3 Jenis dan Sumber Data 26
3.4 Metode Pengumpulan Data 27
3.5 Metode Analisis 27
3.6 Deteksi Penyimpangan Asumsi Klasik 28
3.6.1 Uji Multikolinearitas 29
3.6.2 Uji Normalitas 29
3.6.3 Uji Heterokedastisitas 29
3.7 Uji Statistik 30
3.8 Definisi Operasional 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 35
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 35
4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis 35
4.1.2 Penduduk 39
4.2 Tempat Penyediaan Jasa Parkir Non Resmi 40
4.3 Hubungan Antar Variabel Yang Berhubungan Dengan Permintaan Jasa
Parkir Non Resmi 41
4.3.1 Tarif Parkir Non Resmi (Illegal Parking) Terhadap Permintaan Jasa
Parkir Non Resmi 41
4.3.2 Tarif Parkir Resmi Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi 43 4.3.3 Pendapatan Konsumen Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non
Resmi 45
4.3.4 Fasilitas Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi 46 4.3.5 Lokasi Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi 47 4.4 Hasil Analisis Permintaan Jasa Parkir Non Resmi (Illegal Parking) 48
4.4.1 Analisis Implikasi Pengaruh Tarif Parkir Non Resmi Terhadap
xiv
Jasa Parkir Non Resmi (Illegal Parking) 50
4.4.3 Analisis Implikasi Pengaruh Pendapatan Konsumen Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi (Illegal Parking) 51 4.4.4 Analisis Implikasi Pengaruh Fasilitas Terhadap Permintaan Jasa
Parkir Non Resmi (Illegal Parking) 52
4.4.5 Analisis Implikasi Pengaruh Fasilitas Terhadap Permintaan Jasa
Parkir Non Resmi (Illegal Parking) 52
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 53
5.1 Kesimpulan 53
5.2 Saran 54
DAFTAR PUSTAKA 56
LAMPIRAN 58
xv
Nomor halaman
1.1 Target dan Realisasi Retribusi Parkir Kota Makassar 2007-2017 6
4.1 Luas Area Menurut Kecamatan di Kota Makassar 37
4.2 Presentase Terhadap Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Menurut
Kecamatan di Kota Makassar 38
4.3 Daftar Penyedia Lahan Jasa Parkir Non Resmi di Kota Makassar 40 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Tarif Parkir Non Resmi 42 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Tarif Parkir Resmi 43 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Konsumen 45
4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Fasilitas 46
4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Lokasi 47
4.9 Hasil Estimasi Permintaan Parkir Non Resmi (Illegal Parking) 49
xvi
Nomor halaman
2.1 Kerangka Konseptual 23
xvii
Lampiran Uraian halaman
1 Kuisioner Penelitian 59
2 Data Primer 60
3 Logaritma Natural (Ln) 63
4 Hasil Regresi 65
5. Biodata 67
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pasca orde baru, yaitu era reformasi yang terjadi seperti saat ini seakan menjadi angin segar dan membawa hikmah bagi pemerintah daerah, dimana pemerintah pusat yang selama ini mengambil peran dominan bagi daerah yang pada akhirnya menimbulkan ketimpangan perekonomian antar daerah. Tuntutan daerah untuk mengarahkan sistem sentralistik kepada sistem desentralistik menuju otonomi daerah yang semakin kuat.
Sentralistik sendiri lebih menekankan peranan pemerintah pusat sebagai pemegang kendali dalam menentukan arah dan semua aspek dalam pembangunan, sebaliknya desentralistik yaitu pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dalam mendorong dan menggerakkan pembangunan di daerahnya, termasuk mengelola kekayaan alam dan keuangan daerah.
Sejak diberlakukannya era otonomi daerah daerah pada Januari 2001, gema otonomi daerah semakin gencar baik retorika elit politik maupun para Gubernur dan Kepala Daerah sebagai garda terdepan dalam menjalankan kebijakan tersebut. Sesuai Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, yang menjadi dasar hukum pelaksanaannya yang memberikan kebebasan pada pemerintah kabupaten atau pemerintah kota untuk mengatur dirinya sendiri. Otonomi daerah merangsang kabupaten/kota untuk memberdayakan sumber daya fisik maupun non fisik yang ada di wilayahnya. Maka dari itu, pemberlakuan Undang – Undang Otonomi Daerah sangat mendesak bagi daerah yang kaya akan sumber daya alam.
Untuk membawa daerah pada derajat otonomi yang berarti dan mengarah pada kemandirian yang berarti, faktor kemampuan keuangan daerah menjadi ciri utama yang menunjukkan suatu daerah otonom mampu berotonomi. Self supporting keuangan merupakan salah satu bobot penyelenggaraan otonomi ini artinya daerah otonom memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber keuangan, kemudian mengelola dan menggunakan keuangannya sendiri untuk membiayai penyelenggaran pembangunan daerah. Dukungan keuangan tersebut, ditandai dengan semakin besarnya nilai Pendapatan Asli Daerah ( PAD ), dan semakin berkurangnya dukungan pemerintah pusat dalam bentuk sumbangan atau bantuan.
Untuk mengatur tentang pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah diatur dalam Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1997 kemudian telah disempurnakan dalam Undang – Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang aturan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah ( PP ) Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak daerah dan Peraturan Pemerintah ( PP ) Nomor 20 Tahun 1997 tentang retribusi daerah.
Sumber – sumber penerimaan pemerintah daerah dalam desentralisasi menurut Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah ,antara lain :
1. Pendapatan Asli Daerah ( PAD )
2. Dana Perimbangan, dan
3. Pendapatan lain – lain.
Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) merupakan faktor terdepan dalam pelaksanaan otonomi daerah, dalam menetapkan target penerimaan pos ini, seyogyanya pemerintah daerah melakukan analisis terlebih dahulu terhadap potensi daerah yang ada. Dengan analisis potensi daerah yang dilaksanakan setiap tahun, pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi yang ada semaksimal mungkin demi kepentingan pembangunan di daerahnya. Semakin besar kontribusi pendapatan asli daerah ( PAD ) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD ), maka daerah tersebut akan semakin mampu menjalankan tugas-tugas pemerintahan serta pembangunan juga akan semakin lancar.
Sumber pendapatan asli daerah diantaranya adalah pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah, dimana pemerintah daerah diberi kewenangan untuk melaksanakan pemungutan berbagai jenis pajak daerah dan retribusi daerah yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hal ini digunakan untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam upaya pemenuhan kebutuhan daerah. Disini perlu dipahami oleh masyarakat bahwa pungutan pajak daerah dan retribusi daerah adalah sebagai sumber pendapatan yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah yang sesungguhnya berfungsi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah tersebut.
Ketika pemerintah daerah sedang melakukan upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerahnya, hal yang harus dipertimbangan adalah seberapa besar masyarakat menanggung beban tersebut. Di satu sisi peningkatan pendapatan asli daerah akan mempengaruhi tingkat kemampuan daerah, tapi di lain sisi juga berarti peningkatan beban pada masyarakat. Hal ini karena obyek pungutan akhir adalah masyarakat.
Dari berbagai sumber penerimaan daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber pendapatan utama daerah. Pendapatan Asli Daerah dapat bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisah, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi menarik karena PAD juga menjadi sumber penerimaan terbesar daerah, terutama bagi daerah yang memiliki potensi yang besar.
Sebagai salah satu sumber penerimaan yang memiliki potensi cukup besar, retribusi daerah seharusnya mendapatkan perhatian khusus dalam pengelolaanya. Hal ini ditunjang banyaknya penggunaan jasa yang disediakan oleh pemerintah kepada orang pribadi maupun pihak swasta, sehingga pemerintah memiliki peluang dalam mengoptimalisasikan pemungutan retribusi daerah secara maksimal.
Retribusi daerah sebagaimana halnya pajak daerah merupakan salah satu Pendapatan Asli Daerah yang diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat. Menurut Ahmad Yani (2002:55) “Daerah provinsi, kabupaten/kota diberi peluang dalam menggali potensi sumber-sumber keuangannya dengan menetapkan jenis retribusi selain yang telah ditetapkan, sepanjang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan sesuai dengan aspirasi masyarakat”.
Kota Makassar merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi-Selatan yang memiliki letak geografis antara 119o Bujur Timur dan 58o Lintang Selatan. Terdapat banyak fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Kota Makassar yang menjadikannya sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia. Semakin banyaknya pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan usaha kecil mikro menjadi tanda makin baiknya perputaran ekonomi di
Kota Makassar. Ketersediaan lahan parkir pun menjadi titik fokus yang tidak boleh dipandang sebelah mata, karena pakir sendiri di kota-kota besar telah menjadi sumber pendapatan yang diperhitungkan. Retribusi daerah dalam bilang parkir dapat mengangkat jumlah pendapatan asli daerah jika dikelola dengan baik.
Di kota Makassar, Retribusi parkir yang notabene menjadi salah satu penunjang pendapatan asli daerah yang bersumber dari masyarakat, dimana pengelolaanya dilakukan oleh Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya. Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya adalah perusahaan daerah yang didirikan oleh pemerintah kota Makassar sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah untuk mengelola perparkiran di wilayah kota Makassar. Tujuan utama dari pendirian PD Parkir Makassar Raya adalah untuk meningkatkan efisiensi efektifitas dalam pemberian pelayanan perparkiran kepada masyarakat serta untuk lebih meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor retribusi parkir.
Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya sebagai salah satu daerah yang memberikan pelayanan publik dalam hal pemungutan retribusi parkir, mengelola empat jenis retribusi parkir yaitu :
1. Retribusi parkir tepi jalan umum
2. Retribusi parkir insidentil adalah retribusi yang dipungut ketika ada acara tertentu, misalnya pesta perkawinan dan lain-lain
3. Retribusi parkir komersial adalah retribusi parkir yang atas angkutan truk/barang yang melewati perbatasan kota
4. Retribusi parkir langganan bulanan adalah retribusi parkir yang dipungut atas kompleks pertokoan setiap bulan. Sedangkan pemungutan retribusi parkir
yang di supermarket atau mall pemungutannya dikelola langsung oleh Dinas Pendapatan Daerah.
Permasalahan Pemungutan Retribusi Parkir
Kondisi keuangan PD Parkir Kota Makassar sejak Tahun 2007 sampai 2010 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Namun pada Tahun 2011 target yang meningkat tetapi justru tidak tercapai. Hal ini tergambar dari tabel target dan realisasi pendapatan sebagaimana digambarkan pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.1
Target dan Realisasi Retribusi Parkir Kota Makassar Tahun 2007-2017
No. Tahun Target Realisasi Presentase
1. 2007 Rp. 2.763.500.500,00 Rp. 2.974.771.875,00 107,65
2. 2008 Rp. 3.678.292.500,00 Rp. 3.694.486.150,00 100,44
3. 2009 Rp. 4.369.300.500,00 Rp. 4.585.913.751,00 104,96
4. 2010 Rp. 5.550.531.000,00 Rp. 5.617.631.630,00 101,21
5. 2011 Rp. 7.644.300.600,00 Rp. 6.780.341.550,00 88,69
6. 2012 Rp. 9.982.549.200,00 Rp. 8.409..292.750,00 84,23
7. 2013 Rp. 11.336.363.232,00 Rp. 9.319.072.825,00 82,20
Sumber : PD. Parkir Makassar Raya
Meskipun target yang telah ditentukan pada tahun 2007 sampai 2010 meningkat tetapi pada tahun 2011 ketika target dinaikkan justru tidak tercapai sesuai dengan tabel di atas. Hal ini dikarenakan masih banyak kawasan perparkiran yang tersebar di beberapa titik di Kota makassar yang tidak masuk sebagai lahan parkir di Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya. Hal ini banyak dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan. Mereka juru parkir non resmi yang tidak memiliki surat izin parkir dari PD Parkir Makassar Raya. Hal ini membuat pemungutan jasa retribusi parkir tidak berjalan efektif.
Masalah lain yang menjadi kendala dalam pemungutan jasa retribusi parkir masih belum terlaksana dengan optimal. Sesuai dengan keterangan yang dikemukakan oleh beberapa juru parkir bahwa penghasilan parkir tidak diberikan seluruhnya kepada petugas pemkot dan petugas hanya memberikan karcis yang belum tentu dihabiskan oleh juru parkir.
No. Tahun Target Realisasi Presentase
8. 2014 Rp. 11.406.690.444,00 Rp. 9.207.800.975,00 80,72
9. 2015 Rp. 13.000.000.000,00 Rp. 9.747.200.000,00 74,97
10. 2016 Rp. 15.000.000.000,00 Rp. 13.722.990.000,00 91,48
11. 2017 Rp. 30.000.000.000,00 Rp. 16.300.000.000,00 54,33
Permasalahan retribusi parkir khususnya di kota Makassar seakan menjadi permasalahan yang tidak ada jalan keluarnya. Mulai dari masalah penerimaan retribusi parkir yang masih banyak menemukan kendala dalam pengelolaannya dimana masih banyak kawasan parkir yang strategis tetapi tidak terdaftar di Perusahaan Daerah. Parkir sebagai kawasan perparkiran serta permasalahan retribusi parkir di tepi jalan umum yang aturannya sangat tidak jelas dan sering disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab yang menggunakan momen tersebut untuk meraup keuntungan.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di berbagai tepi jalan umum yang ada di kota Makassar seringkali kita menemui juru parkir non resmi yang beroperasi di Makassar yang belum tentu berguna dalam hal membantu memarkir kendaraan padahal Surat Keputusan Walikota nomor 935 tahun 2006 tentang sistem perparkiran tepi jalan umum tidak mengharuskan juru parkir non resmi, namun para juru parkir non resmi tetap saja marak dan belum diberi tindakan oleh pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya.
Yang menggelikan adalah para pengguna lahan parkir tetap secara tidak langsung menyuburkan praktek-praktek parkir non resmi dengan memberikan uang kepada mereka. Mungkin saja ini pengaruh rasa takut terhadap juru parkir tersebut. Jika demikian halnya, maka apa bedanya dengan pemalakan terhadap pemilik kendaraan.
Suburnya praktek perparkiran liar ini sepertinya dihalalkan oleh para pemilik kendaraan jika melihat banyaknya kendaraan yang terparkir di kawasan tersebut.
Mungkin ini disebabkan sistem pembayaran yang dihitung per jam saat ini masih sangat membebani dan terkesan tidak manusiawi. Pembayaran yang tinggi ini juga belum diimbangi dengan pelayanan yang memuaskan, tanggung jawab mengenai kerusakan dan kehilangan masih saja menjadi beban bagi para pemilik kendaraan.
Tentunya fungsi dan tanggung jawab dari pemerintah yang mengurusi masalah parkir dipertanyakan untuk menertibkan oknum - oknum juru parkir non resmi yang menggunakan tepi jalan di beberapa tempat - tempat keramaian tanpa pernah memperhatikan aturan yang telah dibuat oleh pemerintah untuk daerah - daerah yang memang menjadi tempat umum/publik.
Jika kita menilai secara subyektif, tidak mungkin hal tersebut dapat tumbuh dan bertahan subur, jika tidak ada orang dari pihak yang berwenang yang memberikan kebebasan bagi juru - juru parkir tersebut. Tentunya dengan sistem bagi hasil atau ada uang setoran uang kepada pihak - pihak tertentu, yang seharusnya hal tersebut masuk ke kas daerah.
Namun di tengah suburnya praktek parkir non resmi yang membuat banyak retribusi potensial yang hilang, dari sudut pandang permintaannya tidak mungkin masalah parkir non resmi ini tumbuh subur jika tidak ada permintaan dari masyarakat sebagai konsumen lahan parkir non resmi tersebut. Inilah yang melatarbelakangi faktor – faktor apa saja sehingga masyarakat lebih memiih menggunakan jasa lahan parkir non resmi dibandingkan jasa lahan parkir resmi yang telah terdaftar pada Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya.
Berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut maka penulis merasa tertarik untuk mencoba menganalisis lebih jauh dengan judul: ANALISIS PERMINTAAN JASA PARKIR NON RESMI( ILLEGAL PARKING ) DI KOTA MAKASSAR.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Seberapa besar pengaruh tarif terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
2. Seberapa besar pengaruh tarif parkir resmi terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
3. Seberapa besar pengaruh pendapatan konsumen terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
4. Seberapa besar pengaruh fasilitas kendaraan terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
5. Seberapa besar pengaruh lokasi terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengukur seberapa besar pengaruh tarif terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
2. Untuk mengukur seberapa besar pengaruh tarif parkir resmi terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
3. Untuk mengukur seberapa besar pengaruh pendapatan konsumen terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
4. Untuk mengukur seberapa besar pengaruh fasilitas terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
5. Untuk mengukur seberapa besar pengaruh lokasi konsumen terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini dibuat yaitu :
1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan semua pihak yang memiliki tanggungjawab agar masalah parkir non resmi di Kota Makassar dapat teratasi.
2. Sebagai referensi yang mudah dipahami bagi peneliti di bidang yang sama, sehingga dapat mengembangkan penelitian ini lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
Pada bagian ini akan diuraikan beberapa teori permintaan dan elastisitas permintaan yang mendasari penelitian ini.
2.1.1 Teori Permintaan
Dari segi ilmu ekonomi pengertian permintaan sedikit berbeda dengan pengertian yang digunakan sehari-hari. Menurut pengertian sehari-hari, permintaan diartikan secara absolut yaitu menunjukkan jumlah barang atau jasa yang dibutuhkan, sedangkan dari sudut ilmu ekonomi permintaan mempunyai arti apabila didukung oleh daya beli konsumen yang disebut dengan permintaan efektif. Jika permintaan hanya didasarkan atas kebutuhan saja dikatakan sebagai permintaan absolut (Nicholson, 2003). Nicholson juga mengatakan bahwa dalam analisis ekonomi diasumsikan bahwa permintaan suatu barang atau jasa sangat dipengaruhi oleh harga dari barang itu sendiri (ceteris paribus). Permintaan seseorang atau masyarakat terhadap suatu barang ditentukan oleh banyak faktor, antara lain harga barang itu sendiri, harga barang lain yang mempunyai kaitan erat dengan barang tersebut; pendapatan masyarakat, cita rasa masyarakat dan jumlah penduduk maka dapat dikatakan bahwa permintaan terhadap suatu barang dipengaruhi oleh banyak variabel.
Seseorang dalam usaha memenuhi kebutuhannya, pertama kali yang akan dilakukan adalah pemilihan atas berbagai barang dan jasa yang dibutuhkan. Selain itu juga dilihat apakah harganya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika harganya tidak sesuai, maka konsumen tersebut akan memilih barang dan jasa yang sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya. Perilaku tersebut sesuai dengan hukum permintaan Samuelson (1992), yang mengatakan bahwa bila harga suatu barang atau jasa naik, maka jumlah barang dan jasa yang diminta konsumen akan mengalami penurunan dan sebaliknya bila harga dari suatu barang atau jasa turun, maka jumlah barang dan jasa yang dimintai konsumen akan mengalami kenaikan (ceteris paribus).
Teori permintaan diturunkan dari perilaku konsumen dalam mencapai kepuasan maksimum dengan memaksimumkan kegunaan yang dibatasi oleh anggaran yang dimiliki. Hal ini tentu dapat dijelaskan dengan kurva permintaan, yaitu kurva yang menunjukkan hubungan antara jumlah maksimum dari barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif pada waktu tertentu (ceteris paribus), dan pada harga tertentu orang selalu membeli jumlah yang lebih kecil bila mana hanya jumlah yang lebih kecil itu yang dapat diperolehnya.
Menurut Lipsey (1990), demand adalah jumlah yang diminta merupakan jumlah yang diinginkan. Jumlah ini adalah berapa banyak yang akan dibeli oleh rumah tangga pada harga tertentu suatu komoditas, harga komoditas lain, pendapatan, selera, dan lain- lain. Menurut Arsyad (1991), fungsi permintaan menunjukan hubungan antara kuantitas suatu barang yang diminta dengan semua faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor harga, pendapatan, selera dan harapan-harapan untuk masa mendatang. Nopirin (2003), menjelaskan bahwa permintaan adalah berbagai kombinasi harga dalam jumlah yang menunjukkan jumlah suatu barang yang ingin dan dapat dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga untuk suatu periode tertentu.
Teori permintaan menerangkan sifat dari permintaan pembeli pada suatu komoditas (barang dan jasa) dan juga menerangkan hubungan antara jumlah yang diminta dan harga serta pembentukan kurva permintaan (Sugiarto, 2005). Hubungan
antara harga satuan komoditas (barang dan jasa) yang mau dibayar pembeli dengan jumlah komoditas tersebut dapat disusun dalam suatu tabel yaitu daftar permintaan. Data yang diperoleh dari daftar permintaan tersebut dapat digunakan pula untuk menggambarkan sifat hubungan antara harga suatu komoditas dengan jumlah komoditas tersebut yang diminta dalam suatu kurva permintaan. Perlu dibedakan antara permintaan dan jumlah barang yang diminta (Sugiarto, 2005).
Pada kurva permintaan, dapat digambarkan suatu grafik yang menunjukkan kondisi pembeli akan membeli suatu barang pada titik harga tertentu. Namun, pendapatan adalah bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kepastian pembeli dalam membeli barang/jasa, faktor selera dan barang substitusi misalnya, dapat menjadi faktor yang dipertimbangkan oleh konsumer untuk memutuskan membeli suatu barang pada titik harga tertentu (Robert dan Bernanke, 2007).
2.1.2 Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan adalah suatu cara atau teknik untuk mengukur sejauh mana jumlah barang dan jasa yang diminta dan barang dan jasa yang diproduksi memberikan respon terhadap perubahan harga, pendapatan, dan faktor-faktor lainnya.
Elastisitas harga terhadap suatu permintaan akan selalu berada pada posisi negatif atau nol karena perubahan harga selalu bertolak belakang dengan perubahan jumlah permintaan suatu barang. Lebih jauh lagi, ada beberapa faktor yang menjadi penentu dari elastisitas harga terhadap suatu permintaan yaitu kemungkinan untuk melakukan substitusi, pengelompokan budget pada setiap komoditi, dan waktu. Elastisitas harga terhadap permintaan suatu barang atau jasa cenderung akan semakin besar jika tersedia banyak barang yang dapat disubstitusi, atau semakin besar anggaran yang disiapkan
untuk membeli suatu barang, dan ketika para konsumen mempunyai waktu untuk melakukan penyesuaian atas perubahan harga (Robert dan Bernanke, 2007).
Elastisitas merupakan suatu hubungan kuantitatif antar variabel-variabel, misal antara jumlah yang diminta dengan harga barang tersebut. Sesuai dengan hukum permintaan komoditi tersebut. Besar perubahan permintaan akibat perubahan harga tersebut akan berbeda dari satu keadaan ke keadaan lain. Secara teori ekonomi dikenal istilah elastisitas harga permintaan (price elasticity of demand) sebagai suatu konsep yang menghubungkan perubahan kuantitas pembelian/permintaan optimal atas suatu komoditi dengan perubahan harga relatifnya (Miller, 2000).
Elastisitas permintaan terhadap harga, mengukur seberapa besar perubahan jumlah komoditas yang diminta apabila harganya berubah. Jadi elastisitas permintaan terhadap harga adalah ukuran kepekaan perubahan jumlah komoditas yang diminta terhadap perubahan harga komoditas tersebut dengan asumsi ceteris paribus. Nilai elastisitas permintaan terhadap harga merupakan hasil bagi antara presentase perubahan harga. Nilai yang diperoleh tersebut merupakan suatu besaran yang menggambarkan sampai berapa besarkah perubahan jumlah komoditas yang diminta apabila dibandingkan dengan perubahan harga. Faktor-faktor yang mempengaruhi elastisitas permintaan yaitu tingkat kemampuan komoditas-komoditas lain untuk menggantikan komoditas tersebut, presentase pendapatan yang akan dibelanjakan untuk membeli komoditas tersebut, jangka waktu untuk menganalisis permintaan, kategori suatu komoditas (komoditas kebutuhan pokok, komoditas mewah, dan sebagainya (Sugiarto, 2005).
Koefisien yang menunjukkan besarnya perubahan permintaan atas suatu komoditas sebagai akibat dari perubahan pendapatan konsumen dikenal dengan elastisitas permintaan pendapatan. Elastisitas permintaan terhadap pendapatan
merupakan suatu besaran yang dapat berguna untuk menunjukkan responsivitas suatu komoditas terhadap perubahan pendapatan (income) (Sugiarto, 2005).
2.2 Hubungan Antar Variabel
Pada bagian ini akan dibahas hubungan antara harga, lokasi, dan fasilitas terhadap permintaan jasa parkir non resmi.
2.2.1 Pengaruh Tarif Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi
Suatu harga komoditas di pasar ditentukan oleh biaya produksinya. Namun, ada beberapa alasan yang mempengaruhi reaksi masing-masing konsumen terhadap perubahan tarif. Meskipun demikian, ditilik dari dinamika fungsi permintaan yang menunjukkan secara umum bahwa keputusan untuk membeli saat ini adalah dipengeruhi oleh tingkah laku masing-masing konsumen pada masa lampau.
Dalam menjelaskan ide tersebut, kita harus membuat suatu patokan pada setiap tipe hubungan antara masa lampau dan masa sekarang. Misalnya, jika komoditi yang dibeli adalah barang tahan lama maka pembeli akan menganggap barang tersebut sebagai suatu aset. Namun, komoditi yang tidak bertahan lama seperti makanan, secara tidak langsung akan mengharuskan pembeli untuk kembali membeli dan membeli makanan tersebut kembali (Trisha. The Theory of Market Demand. Recent Development).
Disisi lain, Stanley Jevons dan para ekonom pada abad ke-19 menjelaskan bahwa konsumen akan membayar suatu barang atau jasa dengan harga atau tarif tertentu berdasarkan nilai yang orang-orang terima dari hasil mengkonsumsi barang- barang atau jasa-jasa yang berbeda. Hal ini terlihat masuk akal jika para konsumen akan membayar dengan tarif yang tinggi untuk suatu komoditas atau jasa yang juga memiliki nilai yang tinggi bagi mereka (Robert dan Bernanke, 2007).
Berbicara masalah tarif dan permintaan tentu sangat erat kaitannya. Seperti yang dijelaskan oleh Sadono Sukirno (2003) bahwa dalam hukum permintaan dijelaskan sifat hubungan antara permintaan suatu barang atau jasa dengan tingkat tarifnya dimana pada hakikatnya menyatakan bahwa makin rendah tarif suatu barang atau jasa maka makin banyak permintaan terhadap barang atau jasa tersebut. Sebaliknya, jika makin tinggi tarif suatu barang atau jasa maka makin sedikit permintaan terhadap barang tersebut.
Harga adalah salah satu faktor penting bagi konsumen dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak. Menurut Gilarso (2007), dalam ilmu ekonomi istilah permintaan mempunyai arti tertentu, yaitu selalu menunjuk pada suatu hubungan tertentu antara jumlah suatu barang yang akan dibeli orang dan harga barang tersebut. Permintaan adalah jumlah dari suatu barang yang mau dan mampu dibeli pada berbagai kemungkinan harga, selama jangka waktu tertentu, dengan anggapan variabel lain tetap (cateris paribus).
Dengan demikian, adanya harga dapat membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang dan jasa.
Pembeli membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki. Dari penjelasan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa harga adalah salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan jasa parkir.
2.2.2 Pengaruh Tarif Parkir Resmi Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi
Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara karena ditinggalkan oleh pengemudinya. Secara hukum dilarang untuk parkir di tengah jalan raya, namun parkir di sisi jalan umumnya diperbolehkan. Fasilitas parkir dibangun bersama-sama dengan kebanyakan gedung, untuk memfasilitasi kendaraan
pemakai gedung.Termasuk dalam pengertian parkir adalah setiap kendaraan yang berhenti pada tempat-tempat tertentu baik yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas ataupun tidak, serta tidak semata-mata untuk kepentingan menaikkan dan/atau menurunkan orang dan/atau barang.
Dalam hal perparkiran ada tiga jenis utama parkir, yang berdasarkan mengaturan posisi kendaraan, yaitu parkir paralel, parkir tegak lurus, dan parkir serong. Tarif parkir merupakan retribusi atas penggunaan lahan parkir dipinggir jalan yang besarannya ditetapkan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten berdasarkan UU tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang selanjutnya ditetapkan di tingkat Kabupaten/Kota dengan Peraturan Daerah. Untuk mengoptimalkan pendapatan dari tarif parkir dapat digunakan pendekatan menggunakan model Leviathan.
Penetapan tarif parkir merupakan salah satu perangkat yang digunakan sebagai alat dalam kebijakan manajemen lalu lintas di suatu kawasan perkotaan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi menuju ke suatu kawasan tertentu yang perlu dikendalikan lalu lintasnya dan merupakan salah satu pendapatan asli daerah yang penting.
Tarif parkir resmi memicu munculnya parkir non resmi di kawasan perkotaan.
Mahalnya tarif parkir ditempat resmi membuat konsumen mencari jasa parkir ditempat lain yang lebih terjangkau harganya. Parkir non resmi dipusat perbelanjaan, kawasan pertokoan, dan tempat-tempat padat aktifitas masyarakat telah mudah ditemui. Dengan mahalnya tariff parkir resmi, tentunya berpengaruh positif pula terhadap permintaan parkir non resmi ditempat tersebut.
2.2.3 Pengaruh Pendapatan Konsumen Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi
Pendapatan adalah semua penghasilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendapatan tersebut dapat berupa pendapatan tetap dan pendapatan sampingan. Sumber pendapatan atau permintaan tiap tiap orang sangatlah berbeda. Ada bermacam macam sumber pendapatan, antara lain seorang pengusaha mendapatkan penghasilan dari laba usaha, pegawai negeri mendapatkan penghasilan berupa gaji, buruh pabrik mendapatkan penghasilan berupa upah, dan petani mendapatkan hasil dari panennya. Pendapatan yang mereka peroleh, akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam dan tidak terbatas jumlahnya. Akan tetapi yang menjadi masalah dalam pemenuhan kebutuhan adalah keterbatasan jumlah pendapatan yang mereka peroleh.
Untuk mengatasi masalah seperti itu, manusia harus mengatur pengeluaran agar kebutuhannya yang beraneka ragam dapat terpenuhi. Kegiatan konsumsi tidak akan dapat dilakukan jika tidak ada sejumlah penghasilan atau pendapatan. Besar kecilnya pengeluaran dipengaruhi oleh jumlah pendapatan yang dimiliki. Untuk menjaga keseimbangan antara penghasilan dan pengeluaran, manusia perlu mengatur kegiatan konsumsi.
Dalam mengkonsumsi barang dan jasa khususnya dalam melakukan aktifitas dan mobilitas masyarakat sehari-hari, tarif parkir dapat menjadi pengeluaran yang besar dalam pendapatan konsumen. Hal ini terjadi jika tarif parkir yang mahal tidak dibarengi dengan pendapatan yang besar pula. Berbeda hal jika konsumen tertentu telah mapan atau berkecukupan dalam hal pendapatan. Mereka cenderung meningkatkan selera dalam kegiatan konsumsi. Begitu pula dalam permintaan parkir
non resmi. Jika pendapatan konsumen meningkat, maka permintaan parkir non resmi akan menurun. Karena konsumen akan mengalihkan pilihan jasa parkirnya ke jasa parkir resmi pada suatu tempat yang ia kunjungi.
2.2.4 Pengaruh Fasilitas Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi
Selera masyarakat mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keinginan masyarakat untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa. Namun faktor selera dan citarasa bersifat subjektif. Dalam melakukan permintaan atau konsumsi akan suatu barang dan jasa, konsumen selalu mencari dan memilih produk barang dan jasa yang dapat memberikan kepuasan yang akan di dapatkan ketika membeli dan mengkonsumsi suatu barang dan jasa tersebut (Nuraini, 2005).
Dalam hal ini tingkat kepuasan masyarakat ditunjang oleh jumlah fasilitas yang tersedia pada masing-masing lokasi jasa lahan parkir yang tersedia. Jadi semakin banyak fasilitas yang tersedia, seperti juru parkir yang ramah, kendaraan yang aman dari panas dan hujan, sampai pada fasilitas penitipan helm dan barang-barang lainnya maka semakin banyak permintaan pada jasa perpakiran tersebut, begitupula sebaliknya. Jadi fasilitas berpengaruh positif terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
2.2.5 Pengaruh Lokasi Terhadap Permintaan Jasa Parkir Non Resmi
Lokasi antara lahan parkir dengan tempat tujuan yang konsumen datangi berpengaruh positif terhadap jumlah permintaan jasa parkir tersebut. Hal ini dapat dipahami karena semakin jauh tempat jasa lahan parkir yang tersedia dilokasi yang akan di tuju maka akan semakin sedikit konsumen jasa lahan parkir yang akan menggunakan jasa tersebut, sebaliknya jika lahan parkir yang tersedia dekat dengan lokasi yang konsumen tuju maka permintaan jasa parkir akan semakin banyak.
Ini telah sesuai dengan teori permintaan yang dikemukakan oleh August Losch (1954), Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau di dekat pasar.
2.3 Studi Empiris
Murti Rusli, Hari (2016) yang meneliti tentang “Analisis Permintaan Jasa Penyewaan Lapangan Futsal di Kota Makassar”. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis linear berganda. Dan penelitian ini mengambil sampel sebanyak 94 responden. Data tersebut diolah menggunakan software komputer “ Eviews 3.0 ” dan “ SPSS 16.0 ” dengan metode analisis regresi linear berganda dengan permintaan jasa penyewaan lapangan futsal sebagai variabel dependen dan tiga variabel independen yaitu variabel harga (X1), jarak (X2), dan fasilitas (X3). Hasil penelitian yang telah diolah dengan menggunakan cara regresi linear berganda menyatakan bahwa variabel harga berpengaruh negative dan signifikan terhadap permintaan jasa penyewaan lapangan futsal di Kota Makassar dalam sebulan terakhir. Hasil regresi juga menunjukkan bahwa jarak berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan jasa penyewaan lapangan futsal di Kota Makassar dalam sebulan terakhir. Nilai probabilitasnya kurang dari 5 persen (0,05) yaitu sebesar 0,00 dan nilai koefisien X2 sebesar -0,25. Hal ini menunjukkan jika terjadi pertambahan jarak sebesar 1 Km maka akan mengakibatkan penurunan permintaan jasa penyewaan lapangan futsal sebesar 15 menit begitu pula sebaliknya.
Selanjutnya, data menunjukkan bahwa fasilitas tidak berpengaruh terhadap permintaan jasa penyewaan lapangan futsal di Kota Makassar dalam sebulan terakhir.
Nilai probabilitas lebih besar dari alpha 5 persen (0,05) yaitu 0,38 dan nilai koefisien X3 sebesar 0,41.
Dewi, Triana Dhita (2010) dengan judul Analisis Kunjungan Objek Wisata Water Blaster Kota Semarang. Dalam penelitiannya menyatakan bahwa Dari ke lima variabel yang dianalisis terdapat empat variabel yang signifikan yaitu variabel fasilitas, variabel permainan, variabel penghasilan rata-rata per bulan dan variabel jarak, sedangkan variabel harga tiket di obyek wisata lain yang sejenis dinyatakan tidak berpengaruh terhadap frekuensi jumlah kunjungan ke obyek wisata Water Blaster, dan memiliki tanda negatif dikarenakan wisatawan menganggap tempat wisata yang berbeda sebagai bagian pelengkap dari pengalaman wisatanya. Dari hasil perhitungan regresi diketahui bahwa variabel harga tiket di obyek wisata lain yang sejenis dan variabel jarak menunjukkan hubungan yang negatif terhadap jumlah kunjungan ke obyek wisata Water Blaster, sedangkan variabel fasilitas, variabel permainan dan variabel penghasilan rata-rata per bulan menunjukkan hubungan yang positif. Berdasarkan nilai koefisien variabel penghasilan rata-rata per bulan yang positif dapat disimpulkan bahwa obyek wisata Water Blaster merupakan barang normal. Akan tetapi karena nilainya yang terlalu kecil maka obyek wisata Water Blaster merupakan yang cenderung inferior, dimana semakin tinggi penghasilan rata-rata per bulan pengunjung maka akan memilih tempat wisata lain yang memiliki tingkat prestige yang lebih tinggi.
2.4 Kerangka Konseptual
Parkir non resmi merupakan salah satu faktor penyebab macet yang sering terjadi di Kota Makassar ini. Banyaknya konsumen yang lebih memilih parkir dilahan parkir non resmi daripada lahan parkir yang terdaftar dan terdata di PD Parkir Makassar Jaya, yaitu perusahaan daerah milik pemerintah Kota Makassar yang diberikan mandat
untuk memberikan pelayanan publik dalam hal pemungutan retribusi parkir. Para konsumen yang lebih memilih parkir dilahan parkir non resmi, tentunya memiliki sederet alasan dan faktor penentu. Dengan mengetahui pengaruh faktor-faktor penentunya, sedianya kita akan dapat mengetahui apa faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar. Dari penjelasan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti apa yang mempengaruhi permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
Untuk memudahkan kegiatan penelitian yang akan dilakukan serta memperjelas akar pemikiran dalam penelitian ini, gambar 2.1 adalah kerangka pemikiran yang skematis.
2.5 Hipotesis
Berdasarkan teori dan kerangka konseptual yang telah tertuang pada tulisan sebelumnya, maka hipotesa yang muncul adalah sebagai berikut :
1. Diduga tarif berpengaruh negatif terhadap permintaan jasa parkir non resmi.
2. Diduga tarif parkir resmi berpengaruh positif terhadap permintaan jasa parkir non resmi.
3. Diduga pendapatan konsumen berpengaruh negatif terhadap permintaan jasa parkir non resmi.
4. Diduga fasilitas berpengaruh positif terhadap permintaan jasa parkir non resmi.
5. Diduga lokasi konsumen berpengaruh positif terhadap permintaan jasa parkir non resmi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Pada lokasi penelitian ini akan dilakukan di 2 lokasi parkir non resmi yang marak di Kota Makassar yang tersebar di 2 kecamatan.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini diperoleh dari jumlah rata-rata permintaan jasa parkir non resmi pada jam-jam padat, yaitu dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 22.00 perhari. Totalnya adalah 6 jam kemudian dikalikan dengan jumlah pengguna jasa lahan parkir non resmi sebanyak 50 pemilik kendaraan roda dua, kemudian hasil tersebut dikalikan lagi dengan jumlah lokasi penelitian sebanyak 2 titik lokasi, sehingga diperoleh jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu sebanyak 600 pengguna jasa parkir non resmi sekaligus pemilik kendaraan roda dua.
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan rumus slovin. Untuk menentukan ukuran sampel dapat digunakan rumus Slovin sebagai berikut:
n = N / (1 +Ne2) Dimana :
n = Ukuran sampel N = Jumlah populasi
e = Presentase kelonggaran ketelitian yang ditoleransi (10%)
Sehingga ukuran sampel yang digunakan adalah sebagai berikut:
Jadi sampel dalam peneliian ini adalah 80 sampel.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data penelitian merupakan faktor sangat penting yang kemudian akan menjadi pertimbangan dalam menentukan metode pengumpulan data.
Dalam penelitian ini, data yang digunakan akan dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pada pengelompokannya yaitu:
a. Data Primer
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara). Data primer ini secara khusus dikumpulkan oleh peneliti dengan tujuan menjawab pertanyaan penelitian. Dalam penelitian ini pula, data diambil berdasarkan kuesioner yang diwawancarakan kepada responden dengan jumlah 120 orang responden/sampel.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, baik itu melalui media perantara ataupun diperoleh dan dicatat oleh pihak lain. Dalam penelitian ini data diperoleh dari catatan pendapatan oknum juru parkir non resmi perhari dari tiap lokasi jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
3.4 Metode Pengumpulan Data 1. Penelitian lapangan
Penelitian lapangan yaitu pengambilan data di daerah atau lokasi penelitian dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan terhadap obyek.
b. Interview (wawancara), yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab langsung secara lisan terhadap responden.
c. Kuesioner, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh masyarakat sebagai responden.
2. Penelitian Kepustakaan ( Library Research )
Penelitian Kepustakaan yaitu penelitian melalui beberapa buku bacaan, literatur atau keterangan - keterangan ilmiah guna memperoleh teori yang melandasi dalam menganalisa data yang diperoleh dari lokasi penelitian.
3.5 Metode Analisis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh tarif, tarif parkir resmi, pendapatan konsumen, fasilitas, dan lokasi terhadap permintaan jasa parkir non resmi di Kota Makasar yang dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai berikut :
Y = f (X1, X2, X3,D1,D2)………(1)
Selanjutnya Persamaan (1) di atas ditransformasikan ke dalam regresi berganda, sebagai berikut :
Y = β0 +β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4D1+ β5D2+
µ
………( 2 ) Karena persaman (2) merupakan persamaan non linear, maka untuk memperoleh nilai elastisitasnya diubah menjadi persamaan linear dengan menggunakan logaritma natural (Ln) sehingga menjadi persamaan (3) berikut :Ln Y = Ln β0 +β1Ln X1+ β2Ln X2+ β3Ln X3+ β4Ln D1+ β5D2+
µ
……….……( 3 ) Dimana :Y = Jumlah permintaan jasa parkir non resmi
β0 = Konstanta
β1, β2, β3,β4 = Parameter
X1 = Tarif (Rp)
X2 = Tarif Parkir Resmi (Rp) X3 = Pendapatan Konsumen (Rp) D1 = Fasilitas ( tidak ada = 0, ada = 1 ) D2 = Lokasi ( jauh = 0, dekat = 1 )
µ
= Error Term3.6 Deteksi Penyimpangan Asumsi klasik
Pengujian terhadap asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi tersebut baik atau tidak jika digunakan untuk melakukan penaksiran. Untuk mendapatkan estimator yang terbaik, penelitian ini menggunakan regresi linier dengan estimasi OLS (Ordinary Least Square). Dalam menghasilkan estimator OLS yang
memiliki sifat BLUE (Blue Linier Unbiased Estimator) yaitu memenuhi asumsi klasik atau terhindar dari masalah-masalah normalitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas (Gujarati,2003).
3.6.1 Uji Multikolinearitas
Cara umum untuk mendeteksi adanya multikolinear dalam model adalah dengan melihat adanya R2 yang lebih tinggi dalam model tetapi tingkat signifikansi t-statistiknya sangat kecil dari hasil regresi tersebut dan cenderung banyak yang tidak signifikan.
Selain itu untuk menguji multikolinear, bias dilihat matrik korelasinya. Jika masing- masing variabel bebas berkorelasi lebih besar dari 80 persen maka termasuk yang memiliki hubungan yang tinggi atau ada indikasi multikolinearitas (Gujarati: 2003).
3.6.2 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data yang akan digunakan dalam model regresi terdistribusi normal atau tidak, model regresi yang memiliki distribusi data residual yang normal atau mendekati normal dikatakan model regresi yang baik (Ghozali, 2006). Dalam penelitian ini akan menggunakan metode J-B Test, apabila J- B hitung < nilai X2 (Chi-Square) tabel, maka nilai residual terdistribusi normal.
3.6.3 Uji Heterokedastisitas
Suatu asumsi kritis dari model regresi linier klasik adalah bahwa gangguan µi semuanya mempunyai varians yang sama. Jika asumsi ini tidak dipenuhi, kita mempunyai heteroskedastisitas (Gujarati, 2009). Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat digunakan Uji White. Kriteria yang digunakan adalah apabila X2 tabel (Chi Square) lebih besar dibandingkan dengan nilai
Obs*R- squared (X2>Obs*R-squared), maka hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak ada heteroskedastisitas dalam model dapat diterima.
3.7 Uji Statistik
1. Uji Kofisien Determinasi (R-square)
Koefisien Determinan (R2) pada intinya mengukur kebenaran modelanalisis regresi. Dimana analisisnya adalah apabila nilai R2 mendekati angka 1, maka variabel independen semakin mendekati hubungan dengan variabel dependen sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan model tersebut dapat dibenarkan. Model yang baik adalah model yang meminimumkan residual berarti variasi variabel independen dapat menerangkan variabel dependennya dengan α sebesar di atas 0,75 (Gujarati, 2003), sehingga diperoleh korelasi yang tinggi antara variabel dependen dan variabel independen. Akan tetapi ada kalanya dalam penggunaan koefisien determinasi terjadi bias terhadap satu variabel indipenden yang dimasukkan dalam model. Setiap tambahan satu variabel independen akan menyebabkan peningkatan R2, tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara siginifikan terhadap varibel dependen (memiliki nilai t yang signifikan).
2. Uji Statistik F
Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara signifikan terhadap variabel dependen. Dimana jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima atau variabel independen secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (tidak signifikan) dengan kata lain perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh perubahan variabel independen, dimana tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 0,5 %.
3. Uji Statistik t
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen secara sendiri-sendiri mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Dengan kata lain, untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependen secara nyata.Untuk mengkaji pengaruh variabel independen terhadap dependen secara individu dapat dilihat hipotesis berikut: H0 : ß1 = 0 → tidak berpengaruh, H1 : ß1 > 0 → berpengaruh positif, H1 : ß1 < 0 → berpengaruh negatif. Dimana ß1 adalah koefisien variabel independen ke-1 yaitu nilai parameter hipotesis. Biasanya nilai ß dianggap nol, artinya tidak ada pengaruh variable X1 terhadap Y. Bila t hitung > t tabel maka Ho diterima (signifikan) dan jika t hitung < t tabel Ho diterima (tidak signifikan). Uji t digunakan untuk membuat keputusan apakah hipotesis terbukti atau tidak, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 0,5 %.
3.8 Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini yaitu :
1. Permintaan Jasa Parkir non resmi (Y), adalah rata-rata penggunaan jasa parkir non resmi yang dilakukan oleh pengguna (konsumen) lahan parkir non resmi dalam 1 (satu) bulan terakhir pada lahan parkir non resmi di Kota Makassar. Skala pengukuran variabel ini adalah dalam frekuensi jumlah pemakaian konsumen yang menggunakan jasa parkir non resmi. Diasumsikan bahwa jumlah atau frekuensi penggunaan jasa parkir non resmi merupakan kuantitas permintaan individu (responden) terhadap jasa parkir non resmi di Kota Makassar.
2. Tarif (X1), tarif diartikan sebagai sejumlah pengorbanan (jumlah uang) yang dikeluarkan seseorang untuk mendapatkan barang atau jasa dan berbagai macam pelayanan serta manfaat lain yang bersangkutan dengan barang atau jasa tersebut.
Indikator dari variabel ini diukur dalam satuan Rupiah (Rp).
3. Tarif Parkir Resmi (X2), yaitu sejumlah kewajiban atau pengorbanan yang harus dibayarkan oleh konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang dibeli atau digunakan. Dalam hal ini adalah tariff dari jasa parkir kendaraan yang resmi dan terdaftar pada Perusahaan Daerah atai Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar.
Indikator dari variabel ini diukur dalam satuan Rupiah (Rp).
4. Pendapatan Konsumen (X3), Pendapatan konsumen diartikan sebagai semua
penghasilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendapatan tersebut dapat berupa pendapatan tetap dan pendapatan sampingan. Sumber pendapatan atau permintaan tiap tiap orang sangatlah berbeda. Ada bermacam macam sumber pendapatan, antara lain seorang pengusaha mendapatkan penghasilan dari laba usaha, pegawai negeri mendapatkan penghasilan berupa gaji, buruh pabrik mendapatkan penghasilan berupa upah, dan petani mendapatkan hasil dari panennya.Pendapatan yang mereka peroleh, akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam dan tidak terbatas jumlahnya. Akan tetapi yang menjadi masalah dalam pemenuhan kebutuhan adalah keterbatasan jumlah pendapatan yang mereka peroleh. Untuk mengatasi masalah seperti itu, manusia harus mengatur pengeluaran agar kebutuhannya yang beraneka ragam dapat terpenuhi. Upaya mengatur pengeluaran tersebut dapat dilakukan dengan menentukan pola konsumsi. Indikator yang digunakan pada variabel pendapatan konsumen diukur dalam satuan rupiah (Rp).
5. Fasilitas (D1), fasilitas adalah penyediaan perlengkapan-perlengkapan fisik untuk memberi kemudahan kepada para konsumen untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas sehingga kebutuhan konsumen dapat dipenuhi. Fasilitas juga dapat diartikan sebagai komponen penunjang untuk meningkatkan pemasukan dalam satu usaha barang maupun jasa. Fasilitas dihitung dalam satuan tidak ada = 0 ; ada = 1. Dalam penelitian ini fasilitas yang dimaksud yaitu :
a. Atap
Atap berfungsi untuk melindungi kendaraan bermotor para konsumen dari terik dan panasnya matahari pada siang hari, dan melindungi kendaraan bermotor dari air hujan apabila cuaca di lokasi parkir tersebut sedang hujan.
b. Pelayanan
Pelayanan atau yang lebih dikenal dengan service didefinisikan sebagai suatu tindakan atau kinerja yang diberikan seseorang kepada orang lain. Dalam hal ini kepuasan pengguna jasa parkir non resmi tersebut pada saat datang hingga kemudian pergi lagi.
c. Penitipan helm
Fasilitas penitipan helm dapat menunjang permintaan jasa parkir. Apalagi fasilitas penitipan helm pada lokasi parkir non resmi tersebut tidak dipungut biaya tambahan (gratis).
d. Keamanan
Pengguna jasa parkir non resmi (konsumen) akan memilih tempat parkir yang mempunyai tingkat keamanan yang tinggi, sehingga memberikan rasa aman dalam memarkir kendaraannya. Karena konsumen tersebut akan meninggalkan kendaraannya dalam periode waktu tertentu.
6. Lokasi (D2), lokasi dalam hal ini merupakan jarak antara lahan parkir non resmi yang ada terhadap lokasi yang akan dituju oleh pengguna jasa parkir non resmi (konsumen) yang digunakan oleh responden dalam penelitian, lokasi diukur dengan menggunakan variabel dummy ( jauh = 0, dekat = 1).
35
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis
Kota Makassar adalah salah satu wilayah administratif yang setingkat dengan kabupaten di Sulawesi Selatan, terletak antara 119º24'17'38” Bujur Timur dan 5º8'6'19”
Bujur Selatan. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Maros, sebelah timur Kabupaten Maros, sebelah selatan kota metropolitan terbesar di Indonesia timur adalah Kabupaten Gowa dan sebelah barat adalah Selat Makassar. Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km2 yang meliputi 14 kecamatan, 143 kelurahan, 971 RW dan 4.789 RT. Untuk dapat melihat luas wilayah dan persentase terhadap luas wilayah masing- masing kecamatan di Kota Makassar disajikan pada Tabel 4.1.
Dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Sulawesi-Selatan, Kota Makassar sangat padat dengan aktifitas masyarakatnya pada pagi hari menjelang pukul 22.00 malam. Pada bagian utara kota yang berbatasan dengan Kabupaten Maros atau sekitar Bandara Sultan Hasanuddin, di dominasi oleh daerah industri dan pendidikan.
Sangat banyak kita temukan pabrik dari berbagai macam industri karena daerah yang masuk Kecamatan Biringkanaya ini terdapat Kawasan industri Makassar (KIMA).
Terdapat pula kampus Universitas Hasanuddin pada Kecamatan Tamalanrea. Adanya kampus menimbulkan multiplier effect yang signifikan. Terlihat dari banyaknya bermunculan kost-kostan, tempat fotokopi, dan jasa penyewaan computer disekitar kampus Universitas Hasanuddin. Selain itu pada sekitar kampus tersebut banyak pula bermunculan kafe dan tempat bernyanyi yang tarifnya pas untuk kantong mahasiswa.