1 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.( UU RI No. 20, 2003: 3)
Keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapain tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik.
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang untuk menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan baru maupun dalam bentuk sikap dan nilai yang positif. (Rohmalina Wahab, 2016: 18)
Proses pembelajaran untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa dalam suatu kurun waktu proses pembelajaran tertentu, maka perlu diadakannya evaluasi. Sehingga dengan adanya pelaksanaan evaluasi, guru dapat mengetahui prestasi belajar siswa.
Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai. Noehi Nasution (1998: 4) menyimpulkan bahwwa belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal. Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat
memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. (Rohmalina Wahab, 2016: 242-244)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu : 1) faktor-faktor intern, dan 2) faktor-faktor ektern.
1. Faktor-faktor intern, yakni faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya. Di antara faktor- faktor intern yang dapat memengaruhi prestasi belajar seseorang adalah antara lain : a) kecerdasan/ intelegensi, b) bakat, c) minat, d) motivasi.
2. Faktor-faktor ektern, yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ini adalah antara lain : 1) keadaan lingkungan keluarga, 2) keadaan lingkungan sekolah, dan 3) keadaan lingkungan masyarakat. (Rohmalina Wahab, 2016: 248)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa tidak hanya faktor yang berasal dari dalam diri siswa tersebut (intern) saja, melainkan faktor dari lingkungan sekitarnya juga sangat berpengaruh (ekstern). Salah satu faktor yang ekstern yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu keadaan lingkungan keluarga. Tentunya dalam hal ini yang dimaksud adalah orang tua dari siswa tersebut.
Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tentang hak dan kewajiban orang tua dinyatakan bahwa:
1. Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
2. Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewaajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. (UU RI No. 20, 2003: 9)
Mempersiapkan masa depan dan harapan anak di masa yang akan datang adalah tugas dan tanggung jawab orang tua. Orang tua adalah orang yang pertama yang harus memperhatikan seluruh kebutuhan anak untuk masa depannya. Abu Hamzah Al-Atsari mengatakan bahwa lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai
lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak. (M. Fauzi Rachman, 2014: 18)
Anak adalah amanah bagi orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah tersebut. Tanpa disadari, tak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata.
Faktor –faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yang berasal dari lingkungan keluarga diantaranya:
1. Factor orang tua
a. Cara mendidik anak
b. Hubungan orang tua dan anak c. Contoh/ bimbingan dari orang tua 2. Suasana rumah/ keluarga
3. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam:
a. Ekonomi rendah, keadaan ini akan menimbulkan:
1. Kurangnya alat-alat belajar
Keadaan peralatan seperti pensil, penggaris, buku pelajaran, dan lain-lain akan membantu kelancaran belajar. Kurangnya alat-alat itu akan menghambat kemajuan belajar anak.
2. Kurangnya biaya yang disediakan oleh orang tua
Factor biaya merupakan factor yyang sangat penting karena belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya. Misalnya untuk membeli alat-alat, uang sekolah, dan biaya lainnya.
3. Tidak mempunyai tempat belajar yang baik.
b. Ekonomi tinggi, keadaan ini akan menimbulkan:
1. Terpenuhinya alat-alat belajar
2. Terpenuhinya biaya yang disediakan oleh orang tua
3. Mempunyai tempat belajar yang baik. (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyoni, 2004: 85-88)
Berdasarkan hadits Rasulullah Saw sebagai berikut :
ْوُل ْوَم ْنِم اَم لمسو هيلع الله لىص الله ِل ْو ُسَر َلاَك َل اَك ُهْنَع ُالله َ ِضِ َر َة َرْي َرُه ِبِ أ ْنَع َءاَعْ َجَ ٌةَمْيَِبَ ُةَمْيَِبَْلإ ُجَتْنُت َ َكَم ِههِا َسِّجَمُي ْو أ ِهِهإَ ِّصَّنُيَو ِهِهإَدِّوَ ُيُ ُهإَوَبَأَف ِةَر ْطِفْلإ َلىَع َُلَ وُي الَّ إ ٍد ِ َر َطَف ِتِالإ ِالله َةَر ْطِف ُهْنَع ُالله َ ِضِ َر َةَرْيَرُه وُبَأ ُل ْوُلَي ا ُثُ َءاَع ْدَج ْنِم اَ ْيِْف َنو ُّسِ ُتُ ْلَه ُ ِّيَّلْلإ ُنيِّلَإ َ ِلَِذ ِالله ِقْلَخِل َلْي ِدْبَت َلَّ اَ ْيَْلَع َساانلإ (
هيلع قفتم )
“Dari abu Hurairah r.a. berkata, rasulullah SAW berbeda: “tidak ada seorang anak (adam) melainkan dilahirkan atas fitrah (islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi atau beragama nasrani atau beragama majusi. Bagaikan seekor binatang melahirkan seorang anak.Bagai mana pendapat mu apakah didapati kekurangan? Kemudian abu hurairah menbacakan firman Allah (Q.S. ar-rum:30). (tetaplah atas) firman Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (agama Allah). (HR. Muttafaq’Alaih).
Hadis di atas menjelaskan tentang setatus fitrah setiap anak, bahwa setatusnya bersih, dan Islam baik anak seorang Muslim ataupun non-Muslim.
Kemudian orang tuanya lah yang memelihara dan memperkuat keislamannya atau bahkan mengubah menjadi tidak muslim, seperti Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Hadis ini memperkuat bahwa pengaruh orang tua sangat dominan dalam membentuk kepribadian seorang dengan factor-faktor pengaruh pendidikan lain. Kedua orang tua mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam mendidik anaknya.
Tinggi rendahnya golongan sosial ekonomi suatu keluarga ditentukan oleh aspek pendidikan, pangkat, sumber penghasilan, dan lingkungan tempat tinggal. (Jemina S. Pulungan, 2013: 36). Menurut psikolog selama kita bisa memanfaatkan waktu, orang tua yang sibuk pasti tetap bisa membesarkan pendidikan anaknya dengan baik. Karena belum tentu juga anak yang orang tuanya mempunyai seratus persen waktu dirumah, bisa memiliki kualitas fisik fisik, jiwa dan psikologis yang lebih baik dibandingkan anak orang tuanya
banyak waktunya habis ditempat kerja. (Teguh Wiyono dan Obey Angga Nursyahid, 2013: 270)
Banyak orang tua yang berkilah, bahwa kesibukan telah merampas waktunya untuk mendidik anak-anaknya. Pada kenyataannya sesuai para ilmuan di atas orang tua yang berpenghasilan tinggi (Pedagang rantau) terlalu disibukkan dengan aktifitasnya, diantaranya adalah aktifitas mencari nafkah dengan bekal ilmu yang diperoleh orang tua melalui pendidikan. Sehingga kurang mampu menjalani peran utamanya sebagai orang tua dalam keluarga dengan maksimal. Selain itu orang tua yang memiliki penghasilan tinggi akan cenderung menganggap ilmu yang diperoleh dibidang pendidikannya sia-sia, sehingga tidak menyadari pentingnya pekerjaan dan mengabaikan pendidikan anaknya. Sehingga orang tua tersebut gagal menciptakan anak yang berpestasi.
Sedangkan orang tua yang memiliki pengasilan rendah (Petani buruh) dan merasa kurang sukses dengan yang di perolehnya saat ini terkadang justru mampu menciptakan anak yang lebih berkualitas darinya. Karena dengan belajar pada pengalamannya yang kurang berhasil dalam kehidupannya dikarenakan dia kurang memiliki pendidikan yang tinggi maka dia akan memperhatikan pendidikan anaknya dengan baik sehingga mampu menciptakan seorang anak yang memiliki prestasi belajar yang baik.
Berdasarkan permasalahan yang muncul di dunia pendidikan yaitu orang tua dari sosial ekonomi rendah (Petani buruh) maka prestasi belajar anak rendah. Dan orang tua berpenghasilan tinggi (Pedagang rantau) maka prestasi anak tinggi. Namun hasil dari studi kasus oleh penulis akan tetapi hal tersebut tidak mutlak terjadi karena di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al- Barokah Desa Kertawana siswa dari keluarga petani memiliki kecerdesan kognitif baik itu cerdas dalam ilmu agama maupun ilmu umum yang tidak disadari oleh orang tua mereka sehingga siswa tersebut perstasinya bagus.
Untuk itulah penulis tertarik meneliti hal ini karena untuk membuktikan bahwa asumsi masyarakat dalam dunia pendidikan belum tentu benar.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al- Barokah Desa Kertawana Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan (Studi Komparasi antara Anak Petani Buruh dengan Anak Pedagang Rantau”.
B. Perumusan Masalah 1. Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian yang dikaji dalam penelitian ini adalah wilayah kajian Evaluasi Pendidikan.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
a. Apakah yang mempengaruhi turunnya prestasi belajar Pendidikan Agama Islam ?
b. Apakah Pekerjaan Pedagang rantau dapat mempengaruhi prestasi belajar anak?
c. Apakah pekerjaan Petani buruh dapat mempengaruhi prestasi belajar anak?
d. Apakah faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam prestasi belajar?
e. Apakah peranan orang tua dikeluarga dalam menerapkan kedisiplinan terhadap anak dapat mempengaruhi prestasi belajar?
f. Seberapa besarkah pengaruh orang tua dalam meluangkan waktunya bagi anak dilingkungan keluarga?
3. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari penyimpangan dalam pembahasan masalah, maka dalam pembahasan ini penulis hendak membatasi pokok permasalahan yaitu “Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah Desa Kertawana Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan (Studi Komparasi antara
Anak Petani Buruh dengan Anak Pedagang Rantau)” yang penulis maksud sebagai berikut :
a. Prestasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menegah Pertama (SMP) Al-Barokah Desa Kertawana Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan.
b. Pengaruh pekerjaan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
c. Perbandingan pekerjaan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
4. Pertanyaan Penelitian
Adapun perumusan masalah yang hendak penulis bahas adalah dalam bentuk beberapa pertanyaan sebagai berikut :
a. Apakah ada perbedaan yang signifikan prestasi belajar siswa antara anak Petani buruh dengan anak Pedagang rantau?
b. Apakah prestasi belajar anak Pedagang rantau lebih tinggi dibanding dengan anak Petani buruh ?
c. Apakah pekerjaan orang tua dapat mempengaruhi prestasi belajar anak?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yang ingin dicapai penulis. Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa antara anak Petani buruh dengan anak Pedagang rantau.
2. Untuk mengetahui prestasi hasil belajar anak Petani buruh dengan anak Pedagang rantau.
3. Untuk mengetahui pengaruh pekerjaan orang tua tehadap prestasi belajar siswa.
D. Manfaat Penelitian
Penulis berharap dengan penelitian ini dapat berguna bagi pendidik atau guru sebagai masukan untuk lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah.
E. Kerangka Pemikiran
Istilah prestasi belejar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai. Noehi Nasution (1998: 4) menyimpulkan bahwa belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal.(Rohmalina wahab, 2016: 242).
Sementara itu, Muhibbin Syah mengutip pendapat beberapa pakar psikologi tentang definisi belajar, diantaranya adalah:(Rohmalina wahab, 2016: 242-243).
1. Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya Educational Pcychology; The Teaching-Learning Pracess, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuain tingkah laku yang berlangsung secara progresif (Pracess of progressive behavior adaptation) berdasarkan eksperimennya, B. F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat.
2. Hitzman dalam bukunya ThePcychology of Learning and Memori berpendapat belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat memengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi, dalam pandangan Hitzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila memengaruhi organisme.
3. Witting dalam bukunya, Pcychology of Learning, mendefinisikan belajar ialah perubahan yang relatif menetap terjadi dalam segala
macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Prestasi artinya hasil yang telah dicapai. Belajar artinya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, belajar juga berarti berlatih (KBBI 1995:14). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.(Rohmalina wahab, 2016: 244).
Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar atau hasil belajar menurut Muhibbin Syah, adalah “taraf keberhasilan murid atau santri dalam memperlajari materi pelajaran disekolah atau pondok pesantren yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”.(Rohmalina wahab, 2016: 244).
Berdasarkan penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa prestasi belajar pada dasarnya adalah tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat diukur dengan alat atau tes tertentu setelah seseorang belajar.
Pekerjaan merupakan suatu rangkaian aktivitas untuk memperoleh pendapatan dalam rangka pemenuhan hidup (Damsar, 2011: 186). Berdagang adalah salah satu cara yang dilakukan seseorang dalam mencari nafkah.
Menurut Purwadarinta pedagang adalah saudagar atau orang yang berdagang (1982: 721).
Menurut Rodjak (2002: 64) petani adalah orang yang melakukan kegiatan bercocok tanam hasil bumi atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperolah kehidupan dari kegiatan itu. Petani sebagai pengelola usaha tani berarti ia harus mengambil berbagai keputusan di dalam memanfaatkan lahan yang dimilki untuk kesejahteraan hidup keluarga.
Dari penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam lingkungan keluarga orang tua memiliki peran yang sangat penting bagi seorang anak, karena orang tua merupakan paling dekat dengan seorang anak.
Orang tua akan memperhatikan segala sesuatu yang diperlukan anaknya dengan penuh kasih sayang, salah satunya adalah pendidikan anaknya. Orang tua yang memiliki penghasilan yang tinggi (Pedagang rantau) akan mengerti betapa pentingnya pendidikan untuk anaknya. Oleh karena itu orang tua akan menciptakan suasana belajar yang baik untuk anaknya dan memotivasi anaknya agar mendapatkan prestasi belajar yang maksimal disekolah.
Sedangkan orang tua yang memiliki penghasilan yang rendah (Petani buruh), mereka tidak secara maksimal memperhatikan pendidikan anaknya.
Karena mereka tidak memiliki bekal ilmu yang cukup untuk membimbing anaknya belajar di rumah ketika ketika anaknya memerlukan bimbingan atau bantuan untuk menyelesaikan suatu masalah dalam materi pelajarannya dirumah. Sehingga prestasi belajar siswa yang memiliki orang tua yang ststus sosialnya rendah (Petani buruh) prestasi belajar anak kurang maksimal.
Namun pekerjaan orang tua bukan merupakan satu-satunya faktor yang berasal dari luar siswa faktor dari lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat juga mempengaruhi prestasi belajar siswa. Selain itu faktor yang berasal dari dalam diri siswa juga mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Siswa yang memiliki orang tua berpenghasilan tinggi (Pedagang rantau) akan memiliki prestasi belajar rendah jika faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang lainnya tidak dapat mendukung siswa tersebut untuk mendapatkan prestasi belajar yang maksimal. Sedangkan siswa yang memiliki orang tua berpenghasilan rendah (Petani buruh) akan memiliki prestasi belajar yang maksimal jika faktor yang lain mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat mendukung siswa tersebut untuk mendapatkan prestasi belajar yang maksimal
Jadi Menurut penulis bahwa dalam lingkungan keluarga orang tua memiliki peran yang sangat penting bagi seorang anak, karena orang tua merupakan paling dekat dengan seorang anak. Orang tua akan memperhatikan segala sesuatu yang diperlukan anaknya dengan penuh kasih sayang, salah satunya adalah pendidikan anaknya. Pekerjaan orang tua merupakan satu-satunya faktor yang berasal dari luar siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Selain itu faktor yang berasal dari
dalam diri siswa juga mempengaruhi prestasi belajar siswa. Jadi penulis sangat tertarik sekali untuk melakukan penelitian tersebut.
F. Langkah-langkah Penelitian 1. Sumber Data
a. Sumber Literer (field literature) yaitu sumber data yang digunakan untuk mencari landasan teori tentang permasalahan yang diteliti dengan menggunakan buku-buku perpustakaan.
b. Field Research yaitu sumber data yang diperoleh dari lapangan penelitian, yaitu mencari data dengan cara terjun langsung ke obyek penelitian, untuk memperoleh data yang lebih konkrit yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
2. Populasi dan Sampel a. Populasi
Menurut Sugiyono (2008:49) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi menurut suharsimi arikunto (2002:108) adala keseluruhan subjek penelitian. Dan dalam penelitian ini mengambil populasi yaitu siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah Desa Kertawana Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan yang berjumlah 85 siswa.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel (Arikunto, 2006:131)
Berdasarkan peneelitian awal, jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah kurang dari 100 yaitu 80. Oleh karena itu, peneliti menjadikan seluruh siswa sebagai subjek penelitian. Seperti disarankan Arikunto (2000:120), yaitu:
“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih menurut kemampuan peneliti.”
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pencarian data, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Metode Observasi ini peneliti menggunakan observasi partisipatif, yaitu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki Menurut Sugiyono, dalam bukunya Memahami Penelitian Kualitatif (2008:64). Teknik ini peneliti gunakan untuk mengamati secara langsung terhadap objek peneliti, dimana peniliti ikut langsung dalam kegiatan pembelajaran di dalamnya, sehingga dengan ini diharapkan akan dapat diketahui secara lebih jauh dan lebih jelas bagaimana prestasi belajar terhadap siswa keluarga Petani dan siswa keluarga pedagang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al- Barokah Desa Keratawan Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan.
b. Metode Wawancara
Metode interview atau wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara. (Suharsimi Arikunto, 2002:98) Metode ini digunakan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan bagaimana prestasi belajar siswa keluarga petani dan siswa keluarga pedagang. Metode ini digunakan untuk mencari data tentang pendapat kepala sekolah, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan siswa. Wawancara dilakukan dengan menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga informasi tidak merasa bahwa dirinya sedang dijadikan subjek penelitihan.
c. Angket
Angket atau kuisioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. (Suharsimi Arikunto, 2002:98)
Dengan demikian angket atau kuesioner adalah daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti dimana tiap pertanyaanya berkaitan dengan masalah penelitian. Angket tersebut pada akhirnya diberikan kepada responden untuk dimintakan jawaban.
d. Metode Dokumentasi
Metode ini merupakan suatu cara atau teknik memperoleh data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.
metode ini digunakan untuk mendokumentasi tentang adminstrasi kegiatan sekolah, serta memperoleh data tentang sejarah berdirinya sekolah, struktur organisasi, sarana prasarana, jumlah guru dan siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diolah. (Arikunto, 2006:149)
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (X) adalah Prestasi belajar pendidikan agama islam sedangkan variabel terikat (Y) adalah pekerjaan orang tua sehingga tujuan penelitian ini adalah prestasi belajar siswa keluarga Petani lebih baik dibandingkan dengan siswa keluarga Pedagang di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah Desa Kertawana.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket.
Instrumen angket digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa keluarga petani dan siswa keluarga pedagangSekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah. Soal angket dalam penelitian berupa pernyataan dalam kolom checklist (√). Jumlah seluruh pernyataan /pertanyaan adalah 20 item
dan untuk prestasi di lihat dari hasil evaluasi. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup (angket berstruktur), yaitu angket yang disajikan sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik atau pengalaman pribadi dengan cara memberikan checklist (√) pada kolom alternatif jawaban yang telah disediakan (Riduwan, 2007: 72).
Penulis memberikan tiga alternatif jawaban dengan bobot nilai setiap jawaban responden adalah sebagai berikut:
Sangat Setuju = 5
Setuju = 4
Ragu-Ragu = 3
Tidak Setuju = 2
Sangat Tidak Setuju = 1
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan instrumen angket penelitian untuk siswa adalah sebagai berikut:
a) Persiapan
b) Penyusunan kisi-kisi instrumen c) Penyusunsn item instrumen
d) Konsultasi dengan dosen pembimbing e) Penyebaran angket uji coba
f) Menganalisis data hasil angket uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas data.
g) Penyebaran angket penelitian
h) Menganalisis data hasil angket dan tes penelitian
Sebelum instrumen angket digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu diujicobakan pada kelas IX untuk mengetahui terpenuhi tidaknya syarat-syarat instrumen yang baik agar dapat digunakan sebagai alat penelitian. Syarat instrumen yang baik adalah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas.
a) Uji Validitas
Langkah-langkah yang dilakukan dalam uji validitas menurut Riduwan (2007: 98) adalah sebagai berikut:
a. Mengkorelasikan antara skor item instrumen dengan rumus Pearson Prodect Moment, yaitu:
n X n2 XY X
2 n X Y2Y Y
2
Y Y
2
Keterangan:
rhitung = Koefesien korelasi
∑X = Jumlah skor item X
∑Y = Jumlah skor item Y n = Jumlah responden
b. Hasil korelasi (rhitung) di uji dengan uji signifikasi dengan menggunakan rumus:
thitung = 𝑟 𝑛 −2
1−𝑟2
Keterangan:
thitung = Nilai thitung
r = Nilai koefisien korelasi n = Jumlah responden Kaidah pengujian:
1. Jika thitung ≥ ttabel, berarti valid 2. Jika thitung ≤ ttabel, berarti tidak valid b) Uji Reliabilitas
Dengan merujuk pada Riduwan (2007: 115) penulis melakukan uji reliabilitas internal alat ukur dari satu pengukuran Kompetensi profesional guru (variabel X) dan keberhasilan pembelajaran (variabel Y) menggunakan metode Alpha dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menghitung varians skor tiap-tiap item dengan rumus:
𝑆𝑖 =
∑𝑥𝑖−( Σ𝑥𝑖 )2Ν 2
Ν
Dimana : Si = Varians skor tiap-tiap item ∑Xi2
= Jumlah kuadrat item Xi (∑Xi)2 = Jumlah item Xi dikuadratkan N = Jumlah responden
2. Menjumlahkan varians semua item dengan rumus:
∑ Si = S1 + S2 + S3 .... Sn
Dimana: ∑ Si = Jumlah varians semua item S1+S2+S3...Sn = Varians iten ke-1, 2, 3, ...n 3. Menghitung varians total dengan rumus:
𝑆𝑡 =
∑𝑥𝑖−( Σ𝑥𝑖 )2Ν 2
Ν
Dimana : St = Varians total ∑Xi2
= Jumlah kuadrat item X total (∑Xi)2 = Jumlah item X total dikuadratkan N = Jumlah responden
4. Memasukkan nilai alpha dengan rumus:
rπ = { k
k−1 }{ 1 - ∑Si
St } Dimana :rπ = nilai reliabilitas
∑Si = Jumlah varians skor tiap-tiap item St = Varian total
K = Jumlah item
Untuk pengujian reliabilitas dengan SPSS V.12 caranya sebagai berikut:
1. Masukan jawaban masing – masing butir pertanyaan pada kolom worksheets SPSS.
2. Klik Analyze 3. Klik Scale
4. Klik Reability Analysis 5. Klik atau blok butir pertanyaan
6. Klik tanda panah sehingga semua butir masuk ke dalam kotak Items.
7. Klik Statistics
8. Klik pada kotak Descriptive for untuk Item, Scale, Scale of Item deleted.
9. Klik pada kotak Inter-Item kotak untuk Correlations 10. Klik Continue
11. Klik Ok pada kolom kerja Realibility Analysis
(Nugroho, 2005 : 73-74) 5. Teknik Analisis Data
a) Analisis Kuantitatif
Teknik ini dilakukan dengan pendekatan perumusan kuantitatif dengan menggunakan skala prosentase dengan rumus sebagai berikut :
% 100 N X PF
Keterangan : P = Prosentase
F = Jumlah orang yang menjawab alternatif N = Jumlah respon (Sudijono, 2006 : 42-43 )
Untuk mengatahui skala rekapitulasi hasil angket penulis menggunakan ketentuan sebagai berikut :
100% = Seluruh responden
90% - 99% = Hampir seluruhnya 60% - 89% = Sebagian besar
51% - 59% = Lebih dari setengahnya
50% = Setengahnya
40% - 49% = Hampir setengahnya 20% - 39% = Sebagian kecil 1% - 19% = Sedikit sekali
0 % = Tidak sama sekali
Sedangkan untuk menafsirkan penjelasan angket, penulisan pedoman pada kriteria sebagai berikut:
Tabel 1.1 Kreteria Prosentase
Prosentase Penafsiran
75% - 100%
55% - 74%
40% - 54%
0% - 39%
Baik Cukup Kurang Tidak baik (Arikunto, 2002:246)
b) Uji Normalitas
Jika hasil pengujian data sampel menunjukan data sampel yang diperoleh berasal dari populasi berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan pengujian homogenitas varians.
Adapun cara menguji normalitas dengan menggunakan SPSS V.12 adalah sebagai berikut:
1. Masukan data pada worksheet SPSS 2. Klik Analyze
3. Klik Descriptive Statistik 4. Klik Explore
5. Masukan data yang akan diuji ke kotak Explore
6. Pada bagian Menu Explore pilih plot, none, Normality dan Power Estimateserta hilangkan tanda chek list pada Descriptive 7. Continue
8. Ok (Nugroho, 2005 : 73-74)
c) Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)
Untuk melakukan pengujian homogenitas (kesamaan) varians kedua kelas diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
Menghitung nilai F dengan rumus :
terkecil ian
terbesar F ian
var
var (Sudjana, 2002: 250)
Adapun dengan cara SPSS V.12 For Windows sebagai berikut :
1. Masukan data pada worksheet SPSS 2. Klik Analyze
3. Klik Descriptive Statistik 4. Klik Explore
5. Masukan data yang akan diuji ke kotak Explore
6. Pada bagian Menu Explore pilih plot, none, homogenitas dan
Power Estimateserta hilangkan tanda chek list pada Descriptive 7. Continue
8. Ok (Nugroho, 2005 : 73-74) d) Uji Korelasi
Analisis ini menggunakan rumus statistik product moment untuk mencari korelasi antara variabel X dan variabel Y. Adapun rumusnya sebagai berikut :
2 2 2 2
y y
N x x
N
y x xy
rxy N
Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y N = Jumlah sampel
∑ 𝑋𝑌 = Jumlah hasil perkalian antara skor X dan skor Y
∑ 𝑋 = Jumlah seluruh skor item
∑ 𝑌 = Jumlah skor total.
x = Jumlah kuadrat skor item. 2
y = Jumlah kuadrat skor total. 2 (Sudijono, 2006: 206).Uji korelasi dengan program SPSS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Buka File Anda.
b. Klik Analyze>Correlate>Bivariate, dengan mengkliknya akan tampil kotak Bivariate Correlations, masukan variable- variabelnya.
c. Tandai pilihan pengujian sesuai dengan jenisnya (Parametris atau nonparametris), klik ok.
(Nugroho, 2005 : 73-74) Kemudian hasil perhitungan korelasi tersebut dapat ditafsirkan dengan menggunakan ketentuan sebagai berikut :
Tabel 1.2 Kriteria Korelasi Besarnya
Product Moment (rxy)
Keterangan
0,00-0,20
Antara variabel X dan Y memang terdapat korelasi akan tetapi, korelasi itu diabaikan (dianggap tidak
ada korelasi antara variabel X dan variabel Y) 0,20-0,40 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang
lemah atau rendah
0,40-0,70 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup tinggi
0,70-0,90 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang tinggi
0,90-1,00 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang sangat tinggi atau sangat kuat
(Sudjana, dkk. 2005 : 100-101)
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.(Sugiono, 2015: 224) Hipotesis merupakan sutau pertanyaan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian dituntut untuk merumuskan hipotesis dengan jelas.
Ha : Adanya Pengaruh pekerjaan orang tua terhadap prestasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Barokah.
Ho : Tidak ada Pengaruh pekerjaan orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SMP Negeri 7 Kota Cirebon.Kota Cirebon
H. Penelitian Relavan
Penelitian relavan adalah suatu penelitian sebelumnya yang sudah pernah dibuat dan dianggap cukup relavan/mempunyai keterkaitan dengan judul dan topik yang akan diteliti yang berguna untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian dengan pokok permasalah yang sama. Penelitian relavan dalam penelitian juga bermakna berbagai referensi yang berhubungan dengan penelitian yang akan dibahas. Adapun judul yang dianggap mempunyai keterkaitan yang akan diteliti oleh penulis, sebagai berikut:
1. Skripsi yang ditulis oleh Daniel Wagimin mahasiswa Universitas Widya Dharma Klaten yang berjudul “Studi Komparasi Prestasi Belajar Siswa Antara Anak Pegawai Negeri Dengan Anak No Pegawai Negeri Di Sekolah Dasar (Sd) Negeri 2 Jembungan Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2007/2008”.
2. Skripsi yang ditulis oleh Yeti Mulyati mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Syekh Nurjati Cirebon “Pengaruh Tingkat Pendapatan Buruh Pabrik terhadap Tingkat Kecerdasan Kognitif Anak Usia 13-15 Tahun dalam Perspektif Islam Di RW 01 Desa Karangmulya Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon (Kasus Tahun 2013)”.
3. Skripsi yang ditulis oleh Iis Sulitian mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Syekh Nurjati Cirebon “Faktor Penyebab Rendahnya Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Siswa Kelas V Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Surakarta Kecamatan Surakarta Kabupaten Cirebon”.
Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Wagimin di SD Negeri 2 Jembungan menyatakan bahwa anak Pegawai Negeri Sipil prestasinya lebih
besar dari pada siswa non Pegawai Negeri itu terbukti setelah diteliti dari 21 siswa kelas VI dan kelas V.
Penelitian yang dilakukan oleh Yeti Mulyati di Desa Karangmulya Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon menyatakan bahwa kualitas nilai kecerdasan kognitif anak usia 13-15 tahun tremasuk dalam kategori tinggi dan pendapatan buruh pabrik di RW 01 desa Karangmulya kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon dalam kategori baik.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Iis Sulitian di Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Surakarta Kecamatan Surakarta Kabupaten Cirebon menyatakan bahwa prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) masih rendah karena hanya 45% siswa yang tuntas nilai tersebut jauh di bawah ketntasan belajar siswa yang diharapkan yaitu 85%. Ini sebabkan karena masih adanya kendala yang sering dihadapi yaitu minat siswa terhadap materi yang akan dipelajari dinilai masih renda. Dimana hal tersebut sangat menghambat proses pembelajaran.
Adapaun perbedaan dan persamaan antara penulis dengan skripsi yang sudah ada sebagai berikut: Perbedaan yang akan ditulis oleh penulis dengan skripsi Daniel Wagimin adalah terletak pada mata pelajaran dan tempat penelitian. Persamaannya terletak pada prestasi belajar terhadap keluarga Pegawai Negeri sipil. Perbedaan yang akan ditulis oleh penulis dengan skripsi Yeti Mulyati adalah terletak pada buruh pabrik saja dan wailayah kajian yang akan diteliti. Persamaannya terletak pada tingkat pendapatan keluarga buruh dan nilai kecerdasan kognitif. Sedangkan Perbedaan yang akan ditulis oleh penulis dengan skripsi Iis Sulitian hanya meneliti faktor penyebab rendahnya prestasi belajar. Persamaannya terletak pada prestasi belajar dan wailayah kajian.