• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN HISTORIOGRAFI KESULTANAN ISLAM NUSANTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEMBANGUN HISTORIOGRAFI KESULTANAN ISLAM NUSANTARA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

5

MEMBANGUN HISTORIOGRAFI KESULTANAN ISLAM NUSANTARA

Mengkaji sejarah masuknya Islam dan perkembangan kesultanan Islam di Nusantara atau di kawasan Melayu yang sekarang menjadi Asia Tenggara, merupakan salah satu tema kajian yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Para ahli sejarah hingga sekarang dapat dikatakan belum menemukan kesepakatan terutama mengenai kapan masuknya, siapa pembawanya, wilayah mana yang pertama kali diislamkan, dan bagaimana proses berdirinya sistem kesultanan dan upaya pengislamannya terhadap kebudayaan lokal, jelas pekerjaan yang hingga kini masih belum terselesaikan. Sedangkan terkait dengan perkembangan sistem kesultanannya, masih banyak tema yang menyisakan berbagai pertanyaan. Misalanya, dari aspek politik, kapan komunitas muslim berada di wilayah Nusantara kemudian mencapai proses kekuasaan politik hingga menjadi sebuah ―negara‖; apakah setiap wilayah mencapai kekuasaan politiknya sama dan dalam bentuk apa sistem kekuasaannya mewujud; bagaimana kekuasaan itu diperoleh dan membentuk sistem kenegaraannya, bagaimana pula relasi politik di antara berbagai wilayah kekuasaan kesultanan terbentuk, bagaimana menentukan batas-batas kekuasaan politiknya.

Kajian etno-linguistik dan geo-politik terhadap sejumlah kesultanan Islam di Nusantara pada kuruun abad ke 16 – 17 Masehi, bisa menjadi sesi tersendiri dan memerlukan kajian metodologis yang

(2)

6

cukup komprehensif. Sebut saja misalnya relasi antara kesultanan- kesultanan Islam yang pernah ada, mulai dari Samudera Pasai di Aceh, Malaka di Semenanjung Malaya, Tumasik di Singapura, Demak, Cirebon, Sumedang Larang, Banten, Aceh Darussalam, Palembang, Riau, Goa-Tallo, Ternate-Tidore, Banjar, Sumbawa, Bima, dan lain-lain di Indonesia. Demikian juga di kawasan Asia Tenggara yang dulunya menggunakan bahaya Melayu sebagai lingua franka, seperti kesultanan di Pattani di Thailand, Mindanao dan Sulu di Filipina, serta seluruh wilayah yang sekarang menjadi Malaysia dan Brunei Darussalam, semuanya perlu dilihat secara komprehensif yang melibatkan bukan hanya kajian-kajian diplomatik dengan coraknya yang ada pada kurun waktu tersebut, tapi juga sikap-sikap politik sistem kesultanan dalam menghadapi dunia luar ―Islam‖ dan sejumlah pola-pola kebudayaan Islam yang mengiringinya sebagai ―ijtihad dalam menyatukan Islam dan kekautan lokal‖.7

Pertanyaan-pertanyaan metodologis tersebut bisa banyak dimunculkan, namun menemukan sejumlah fakta-fakta historisnya nampaknya tidak semudah sebagaimana membuat pertanyaannya.

Namun fakta-fakta sejarah selalu berangkat dari sejumlah pertanyaanya.

Inilah kajian sejarah, sebagai ilmu yang memiliki keunikannya dalam menjelaskan fenomena ke-manusia-an dalam ruang dan waktunya.

A. Kesultanan Melayu sebagai Peradaban Dunia Islam

Menjelaskan secara lebih tegas mengenai daya tarik kesultanan Islam di Asia Tenggara untuk terus diteliti dan membandingkannya dengan kajian-kajian Islam Timur Tengah dengan sejumlah daulat- daulat kecil (al-duwailât) yang pernah ada8, jauh lebih menarik dan bisa membuktikan posisi Islam Asia Tenggara punya daya tawar yang

7 Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam; Perspektif Etno-linguistik dan Geo-politik, cet.2, Rajagrafindo, Jakarta, 2011

8 Sejumlah negara-negara kecil dalam bentuk daulat-daulat yang mendiri, sebut saja mislanya yang berada di sebelah Barat Baghdad, Amawiyah II, Thuluniyah. Ikhsyidiyah, Aghlabiyah, Idrisiyah, Fathimiyah, Hamdaniyah dan lain-lain. Sebelah Timur Baghdad, Thahiriyah, Samaniyah, Shafariyah, Ghaznawiyah, dan lain-lain bahkan yang mendominasi pusat kekhalifahan Abbasiyah, seperti Buwaihiyah, Seljukiyah dan lain-lain. Lihat Philip K. Hitti, History of the Arab,The Macmillan Press.LTD, 1974, C.E.Bosworth, Dinasti-dinasti Islam, Mizan, 1989.

(3)

7

seimbang bahkan lebih menarik secara metodologis bagi para pengkaji ilmu-ilmu sosial humaniora khususnya dalam melihat relasi antara agama dan asimilasi dengan budaya lokal. Dikatakan bahwa ―Asia Tenggara tidak hanya sekedar tempat bagi agama besar dunia –Islam, Budha, Kristen dan Hindu—mengelaborasikan diri tetapi juga penyebarannya sedemikian rupa sehingga ikatan-ikatan yang mempersatukan pengikutnya dapat mengaburkan dan sekaligus menegaskan batas-batas perbedaan politis dan territorial yang pernah ada. Dalam masalah ini kasus Islam adalah hal yang paling menarik, mengingat para pengikutnya terdapat di hampir semua negara Asia Tenggara dalam jumlah yang cukup besar, dan di antara beberapa negara tersebut menembus batas-batas politik yang menghalanginya.9

Kajian Islam di Asia Tenggara mendapat perhatian secara lebih khusus dari para sarjana dan sejarawan Asia Tenggara sendiri pada tahun 1980-an. Beberapa hasil diterbitkan dalam buku bunga rampai yang diberi judul Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara (Taufik Abdullah dan Sharon Shiddique [Eds.], 1989). Akan tetapi upaya tersebut hingga kini masih memerlukan perhatian yang lebih besar karena sejak kajian-kajian yang telah dilakukan tersebut masih meninggalkan sejumlah persoalan terutama terkait dengan sejarah awal perkembangan kesultanan di kawasan ini.

Ada beberapa alasan mengapa betapa beratnya mengkaji Islam Asia Tenggara ini, hal tersebut pernah dimunculkan oleh Azyumardi Azra10 antara lain:

1. Orang perlu menghabiskan waktu untuk menguasai ilmu lain, semacam bahasa Belanda.

2. Ia harus siap ―berbungkus lumus‖ mengumpulkan bahan-bahan atau arsip yang terpencar di mana-mana.

3. Ia juga harus siap untuk menambah tebal kaca matanya, karena matanya ―rusak‖ membaca arsip dan naskah tulisan tangan yang tidak mudah dibaca dan dipahami.

9 Taufik Abdullah dan Sharon Shiddique [Eds.], Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, LP3ES, 1989: x

10 Lihat Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, Gramedia, 2002,

(4)

8

4. Alasan yang tak kurang pentingnya bahwa ia harus bisa berbeda dengan apa yang pernah ditulis orang lain (khususnya sarjana asing) jika ia berharap studinya punya arti penting.

Pernyataan terakhir inilah yang nampaknya masih banyak dimungkinkan untuk terus bisa kita kembangkan dalam melihat kembali arti penting Islam di Asia Tenggara, khususnya kajian secara komprehensif untuk menuliskan tentang kesultanan Islam di Nusantara.

Membandingkan dengan karya karya C.E.Bosworth, Islamic Dynasties; a Chronological and Geneological handbook, Edinburgh University Press 1963, nampaknya bisa memberi inspirasi ketika kita bisa menuliskan kembali posisi, geneologi, artikulasi, dan peran-peran kesultanan Islam Nusantara dalam membentuk kebudayaan Islam Nusantara. Wajah Islam Indonesia seperti yang mewujud sekarang, merupakan perwujudan politik dari sistem kesultanan yang pernah ada sebelumnya.

Nampaknya para sejarawan hampir tidak mungkin mengamati secara keseluruhan dinamika masyarakat muslim nusantara secara detil dan menyeluruh, --meskipun pernah dicoba oleh Denys Lombart, Nusa Jawa:Silang Budaya (jilid 1-3) Gramedia,1996--, kecuali dengan lebih mudah melihat dinamika kebudayaan yang dilakukan oleh pranata kesultanan dan lembaga-lembaga pranata keagamaannya. Mengingat budaya tulis muslim nusantara yang merekam jejak seluruh apa yang ada, biasanya sudah terbiasa dilakukan di masing-masing kesultanan nusantara.

B. Memahami Eksistensi Kesultanan Islam Nusantara dari Dalam Menyatukan pemetaan dan mengkronologisasi kesultanan Islam Nusantara dalam kerja sejarah hingga kini belum dikerjakan secara akademik, dan ini kesempatan untuk melakukanya secara team oleh sejumlah tenaga akademik dari seluruh Prodi Sejarah dan Peradaban Islam di lingkungan UIN, IAIN dan STAIN se- Indoensia.

Kesultanan Islam di Kepulauan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara Barat dengan wilayah-wilayah Timur Papua perlu dituliskan secara utuh dan menyeluruh.

(5)

9

Menggambarkan geneologi kesultanan di tiap-tiap kepulauan nusantara dan periodesasi perkembangannya akan menunjukkan arti kebesaran Islam Nusantara di tengah-tengah peradaban dunia Islam lainnya. Jika di Asia Selatan masyarakat muslim India dan Pakistan akan membanggakan arti penting kesultanan Mughol-nya, masyarakat Iran dengan dinasti Safawiyah-nya, masyarakat Turki dengan Turki Utsmaniyah-nya, maka Islam keindonesiaan dan rumpun Melayu-nya akan mudah dilihat dengan sejumlah fenomena kesultannya yang tersebar dari mulai ujung kepulauan Sumatra hingga kepulauan Maluku dan Tidore-nya dan kesultanan Bima dan pranata Islam di Papua.

Jika sumber-sumber sejarah yang dimiliki dari masing-masing kesultanan tersebut ada keterbatasan, namun selama kesultanan masih memiliki situs kesejarahannya dan selalu muncul dalam memori masyarakatnya, semuanya bisa direkonstruksi secara historis meskipun sebagai langkah awal baru tahap pendataan. Karena sesungguhnya cara-cara kerja sejarah selalu memiliki tahapan-tahapan akademiknya masing-masing, misalnya dengan menggunakan cara kerja sejarah yang fleksibel, seperti dengan cara-cara pendekatan sejarah lisan, atau paling tidak melalui oral tradition (tradisi lisan) atau folkloor (cerita rakyat) yang berkembang di masyarakat setempat. Karena atas alasan apapun realitas sumber-sumber lokal harus diapresiasi secara sebenarnya, dan orang- orang pribumi lah yang lebih mudah memahaminya. Karena setiap budaya manusia selalu lahir dari dimensi ruangnya masing-masing.

Maka cara-cara mengungkap dari dalam itulah yang perlu banyak dikaji oleh para sejarawan muslim nusantara. Oleh karenanya memperlakukan sumber-sumber sejarah Islam Nusantara, perlu melibatkan sejumlah dinamika kebudayaanya, baik sastra, dongeng, legenda dan sejumlah rekaman tentang masa lalu masyarakatnya.

Menurut Al-Attas, ia menyebutkan, ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan kajian sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara 11.

11 Islamic Studies Forum for Indonesia, Kuala Lumpur, Malaysia;

http://id.wikipedia.org/wiki/Syed_Muhammad_Naquib_al-Attas; hidayatullah.com, Benarkah Nusantara telah dikenal di jaman Nabi; Sumber:

http://yasirmaster.blogspot.com/2012/10/sumatra-telah-dikenal-sejak-zaman_4804.html

(6)

10

Pertama, sumber dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam huruf Jawi/Pego (Arab latin) oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat karena tidak banyak dari mereka yang pandai membaca tulisan Jawi

Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan.

Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya bisa dipelajari dari sudut filologi atau linguistik, dan tidak bisa diterima sebagai sumber sejarah yang sempurna dan benar

Keempat, karena minimnya sumber dan kajian sejarah Islam Nusantara membuat para ilmuwan Barat hanya menggunakan sumber, kajian dan tulisan dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang terdapat dalam berbagai sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah dari wilayah Nusantara.

Padahal jika sejarawan muslim mampu memposisikan sumber- sumber sejarah lokal sebagai sumber sejarah dan memahaminya secara substantif arti dari informasi ke masa laluannya, pasti akan bernilai secara historis. Misalnya mengapa sumber-sumber babad selalu lebih bersifat penyanjungan ―hagiografi‖ pada ketokohan yang digambarkannya, maka yang harus perlu dilihat karena tradisi penulisan babad harus dihubungkan dengan trend corak penulisan historiografi Islam secara umum di Timur Tengah saat itu. Khususnya Baghdad, Damaskus dan Turki pada periode Pertengahan Sejarah Islam, corak- corak penulisan manaqib tokoh-tokoh sufi sedang berkembang pesat.

Sehingga memahami ―hagiografi‖, legenda, dongeng dan cerita-cerita rakyat lainnya sebagai fakta sejarah juga harus didekati secara semiotik dan simbolik, bukan hanya sekedar dari aspek-aspek filologis belaka.

Termasuk nama-nama tokoh penting sejarah kesultanan Nusantara, banyak yang memiliki nama-nama samaran atau dalam tradisi Arab sebagai ―laqab‖, gelar-gelar yang bisa menyangkut prestasi atau prestise

(7)

11

dari masyarakat Nusantara. Juga tempat-tempat yang biasa disebut secara simbolik, perlu dilihat secara metodologis yang komprehensif.

Misalnya nama-nama tempat ―pasarean‖, ―patapan‖, ―panglinggihan‖, dan lain-lain, harus dilihat dari fungsi dan dinamika antara ruang dan pelakunya. Aspek-aspek tersebut biasanya seringkali untuk menggambarkan berbagai realitas ketokohan yang ada di masing- masing tradisi kesultanan, yang pada ujungnya berkait dengan tradisi penulisan ―hagiografi‖ para sufi di Timur tengah.

Salah satu langkah bagaimana keberanian memperlakukan sumber-sumber lokal sebagai fakta sejarah, misalnya upaya yang dilakukan oleh Hoesein Djajadiningrat ketika menjelaskan kebudayaan masyarakat dan kesultanan Banten, dengan karyanya yang cukup terkenal, Critische Becschouing van de Sadjarah Banten. Karya disertasi ini ditulis tahun 1913; karya sejarah pertama kali yang mengulas sejarah Indonesia, oleh orang Indonesia dan menggunakan sumber-sumber lokal. Hasilnya sangat memuaskan dan bisa mengangkat keindonesiaan secara akademik di mata sarjana Barat. Sumber-sumber yang digunakan dari sejenis legenda, folkloor dan manuskrip-manuskrip lokal, dan berhasil menjelaskan entitas kebudayaan masyarakat Banten dan kesultanannya secara detil.12

Begitupula apa yang dilakukan oleh Muhammad Syed Naguib al-Attas tentang Awal Masuk Islam Nusantara. Benarkah pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu?

Pernyataan ini diungkap Muhammad Syed Naquib al-Attas13 di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction‖ yang di seminarkan November 2011 lalu. Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang

12 Lihat Hoesein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Sejarah Banten, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1984

13 Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur. Ia juga menulis berbagai buku di bidang pemikiran dan peradaban Islam, khususnya tentang sufisme, kosmologi, filsafat, dan literatur Malaysia.

(8)

12

sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta misalnya yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas.

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:

“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla‟llahu „alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi:

“Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya.

Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta‟ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As- Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam. Bahkan, sekian diantara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di Tanah Jawa.

Kedua, berupa terma ―kāfūr‖ yang terdapat di dalam Al-Qur‘an.

Kata ini berasal dari kata dasar ―kafara‖ yang berarti menutupi. Kata

―kāfūr‖ juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan

(9)

13

produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena ―menutupi‖

bau jenazah sebelum dikubur. Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi. Perlu di ketahui, bahwa asal-usul penamaan pulau "Sumatera" sendiri berasal dari kata "Samudera" Pasai. Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.

Sesungguhnya jika kita menengok jauh ke masa silam, sejarah awal Islam dan perkembangannya di Asia Tenggara tidak bisa dilepaskan dari hubungan kawasan ini dengan dunia luar, seperti Arab, Persia, India, Cina, dan lain-lain, termasuk Mesir. Bukti-bukti mengenai adanya hubungan Asia Tenggara dengan kawasan lain dapat terungkap dari berbagai kajian tentang hubungan dan jalur dangan internasional masa lalu, terutama sebelum Islam datang di Asia Tenggara. Beragam bangsa dan kawasan yang berhubungan dengan Asia Tenggara inilah yang kemudian melahirkan berbagai perspektif dalam hal teoritisasi mengenai kedatangan Islam di kawasan ini sehingga masih diperdebatkan sampai saat ini. Oleh karena itu, tidak heran jika terjadi perbedaan pendapat, apakah Islam yang masuk ke Indonesia itu berasal dari Arab, India, Gurajat, Persia, atau Cina. Semuanya bisa jadi benar jika diyakini perkembangan Islam di berbagai kawasan di Asia Tenggara terjadi secara simultan. Ketika Islam masuk ke Aceh, misalnya, bisa jadi pada saat yang sama, Islam juga datang di tanah Jawa. Ketika para pedagang Arab berniaga dengan penguasa Sriwijaya

Referensi

Dokumen terkait

menggunakan strategi PORPE baik dari segi hasil belajar maupun dari proses pembelajaran pada tahap. prabaca, saat baca,

Hal ini dikarenakan dalam pertumbuhan tanaman gandum ketika pembentukan ukuran panjang malai maksimal maka secara langsung jumlah spikelet akan bertambah karena malai

[r]

Pengadaan Barang/Jasa Sekretariat Daerah Kota Tanjungpinang Tahun Anggaran 2012 dan Jaminan Pelaksanaan ditujukan kepada Pengguna Anggaran Sekretariat Daerah

Katalis berfungsi untuk memepercepat reaksi dan menurunkan energi aktiviasi sehingga reaksi dapat berlangsung pada suhu kamar sedangkan tanpa katalis reaksi dapat berlangsung

Dalam proses kegiatan belajar mengajar program pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Intensive Science Class (ISC) interaksi guru dengan peserta didik sudah

Metode Six Sigma bertujuan untuk memperbaiki kinerja, menemukan dan mengurangi faktor-faktor penyebab kecacatan dan kesalahan, mengurangi biaya operasi serta

Temuan penelitian tersebut bahwa untuk membangun kepuasan klien maka kualitas layanan yang diberikan harus bisa diandalkan (reliability), daya tanggap penyaji jasa