• Tidak ada hasil yang ditemukan

Key words: Kepribadian, al-qur an, Mahasiswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Key words: Kepribadian, al-qur an, Mahasiswa"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MELALUI

PEMAHAMAN AL-QUR’AN PADA MAHASISWA PRODI BPI FAK. DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU Oleh : Miftahuddin

Email: [email protected]

Abstrak

Background pendidikan ini kemudian dapat dijadikan ukuran sejauh mana penguasaan pembelajaran khusus untuk mata kuliah keislaman, semisal Tafsir al-Qur‟an. Padahal pembelajaran tidak sekedar mendapatkan nilai, tetapi bagaimana mahasiswa dapat bertransformasi dan berinternalisasi dengan pengetahuan tersebut, yang pada akhirnya mahasiwa dapat membentuk dan mengembangkan kepribadiannya.

Key words: Kepribadian, al-Qur’an, Mahasiswa

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya bersumber dari wahyu Allah yang diturunkan kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Berbagai segi dan ilmu yang menjadi cakupan Islam bersumber al-Quran dan Sunnah (Hadis). Dari kedua sumber pokok ini para pemikir Islam berhasil mengambil berbagai ajaran atau konsep dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Konsep yang terpenting dalam Islam adalah tauhid, yaitu ajaran yang menjadi dasar dari segala dasar dalam Islam, yakni pengakuan tentang adanya satu Tuhan, yaitu Allah (Nasution, 1985: 30). Konsep lain yang terkandung dalam Islam di antaranya adalah konsep moral (akhlak).

Berkaitan dengan hal ini, M. Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa inti pendidikan Islam adalah budi pekerti (akhlak). Jadi, pendidikan budi pekerti (akhlak) adalah jiwa pendidikan dalam Islam. Mencapai akhlak yang karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Di samping membutuhkan kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, peserta didik juga membutuhkan

(2)

2

pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa, dan kepribadian (al- Abrasyi, 1987:1).

Sejalan dengan konsep ini maka semua mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa harus mengandung muatan pelajaran akhlak dan dosen juga harus memerhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya. Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ilmu, akan tetapi yang dimaksud adalah ilmu yang amaliyah. Artinya, seorang yang memperoleh suatu ilmu akan dianggap berarti apabila ia mau mengamalkan ilmunya.

Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai teknik atau skill, bahkan sebagai sebuah ilmu yang bertujuan untuk memberi manusia pengetahuan dan watak (disposition) yang dibutuhkan untuk mengikuti petunjuk Tuhan sehingga dapat beribadah kepada Tuhan dan mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup (Alavi, 2007: 312).

Masalah moral adalah suatu masalah yang menjadi perhatian banyak orang, baik dalam masyarakat yang telah maju maupun dalam masyarakat yang terbelakang. Hal ini disebabkan karena moralitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik dan buruk. Dalam pembahasan moral tedapat istilah amoral yang berarti tidak mempunyai moral dan inmoral yang berarti moral yang buruk atau rusak (Poespoprodjo, 1998:118).

Kerusakan moral seseorang akan mengganggu ketenteraman yang lain. Jika dekadensi moral terjadi pada masyarakat, maka akan kacau masa depan masyarakat itu. Begitu juga dalam suatu negara, jika warga negaranya tidak bermoral maka negara atau bangsa itu tidak akan berarti.

Sistem nilai dan moral dalam Islam adalah suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang satu sama lain saling mempengaruhi atau bekerja dalam satu kesatuan atau keterpaduan yang bulat yang berorientasi kepada nilai dan moral Islami. Sistem nilai atau sistem moral yang dijadikan kerangka acuan dan menjadi rujukan cara berperilaku lahiriah dan rohaniah manusia Muslim ialah nilai dan moralitas yang diajarkan oleh agama Islam sebagai wahyu Allah, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw (Arifin,

(3)

3

1991:139). Sebagai seorang Muslim tentunya tahu bahwa Nabi telah mewariskan dua pusaka yaitu al-Qur‟an dan sunnah yang harus menjadi rujukan dan pedoman dalam semua aspek kehidupan.

Dilihat dari segi normatif nilai–nilai dalam Islam mengadung dua kategori yaitu pertimbangan baik dan buruk, benar dan salah, haq dan batal. Menurut Sayyid Qutb moralitas Islami itu besumber dari watak tabi‟at manusia yang senafas dengan nilai Islami yaitu dorongan batin yang menuntut kebebasan jiwa dari beban batin karena perbuatan dosa dan keji bertentangan dengan perintah Illahi. Atas dorongan batin inilah manusia dengan fitrahnya merasa wajib untuk berbuat kebajikan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk sesamanya sesuai pesan pesan al-Qur‟an.

Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau merupakan salah satu Jurusan di lingkungan UIN Suska Riau yang memiliki kekhasan karena terdiri dari dua varian keilmuan berbeda, yaitu Bimbingan dan Konseling. Walaupun tidak tercatat, bahwa mahasiswa jurusan BPI lebih didominasi alumni SMA (termasuk SMK).

Background pendidikan ini kemudian dapat dijadikan ukuran sejauh mana penguasaan pembelajaran khusus untuk mata kuliah keislaman, semisal Tafsir al- Qur‟an. Padahal pembelajaran tidak sekedar mendapatkan nilai, tetapi bagaimana mahasiswa dapat bertransformasi dan berinternalisasi dengan pengetahuan tersebut, yang pada akhirnya mahasiwa dapat membentuk dan mengembangkan kepribadiannya.

Berdasarkan pra research yang peneliti lakukan, dapat ditemukan gejala- gejala sebagai berikut:

1. Ada mahasiswa lemah dalam kemampuan membaca, menterjemahkan dan memahami al-Qur‟an masih rendah, seharusnya mereka memiliki kompetensi tersebut.

2. Ada mahasiswa yang sikap mentalnya tidak sesuai dengan al-Qur‟an, seharusnya mengacu pada al-Qur‟an.

(4)

4

3. Ada mahasiswa yang berperilaku tidak mencerminkan al-Qur‟an, seharusnya yang bersangkutan dapat berperilaku Islami.

Berangkat dari gejala-gejala di atas, peneliti merancang penelitian berjudul Pembentukan Kepribadian Melalui Pemahaman al-Qur‟an pada Mahasiswa Jurusan BPI Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Berdasarkan uraian yang terdapat latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu : Bagaimana Pembentukan Kepribadian melalui Pemahaman al-Qur‟an pada Mahasiswa Jurusan BPI Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim Riau?

B. Pemahaman al-Qur’an

Al-Qur`an yang merupakan kalam suci Allah memiliki peristiwa kebahasaan, kebudayaan dan keagamaan (fakta al-Qur`an) sebagai garis pemisah dalam sejarah Arab antara “pemikiran primitive” yaitu pemikiran manusia di masa sebelum al-Qur`an dibumikan dan “pemikiran berbudaya” yaitu pemikiran manusia setelah al-Qur`an dibumikan, yang dikenal dalam dunia Islam dengan zaman Jahiliyah dan zaman yang bercahaya (Arkoun, 1996:1).

Al-Qur`an, selain merupakan salah satu teks yang memiliki kandungan yang universal (Arkoun, 1997:1) dan multi makna (Hidayat, 1996:165) yang jiwa atau semangat ayat-ayatnya meliputi segala aspek ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia (Shihab, 1996:1-5), juga pengetahuan yang diwahyukan al-Qur`an berfungsi memperkaya penglihatan batin dan mengarahkan ke atas, do‟a-do‟a, pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan manusia.

Dalam memperoleh petunjuk al-Qur`an, manusia tidak terlepas dari usaha pembacaan atau pengkajian kepadanya. Bentuk upaya tersebut telah dilakukan manusia, yaitu berupa penafsiran dan penakwilan. Kedua

(5)

5

upaya tersebut terus mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga sekarang, seiring dengan situasi dan kondisi, serta problematika yang dihadapi manusia.

Mengingat al-Qur‟an bagaikan lautan yang keajaiban-keajaibannya tidak akan pernah habis dan kecintaan kepadanya tidak pernah lapuk oleh zaman, maka Kitab suci itu menempati posisi yang sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu ke-Islaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat Islam (Quraish, 1994:85). Untuk menempatkan al-Qur‟an sesuai dengan fungsinya sebagai petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia, sebagaimana dijelaskan Allah SWT, dalam QS. al-Baqarah ayat 185:

رهش ناقرفلاو ىدهلا نم تنيبو س انلل ىده ناءرقلا هيف لزنا ىدلا ناضمر Artinya: Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan

al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan bathil (Depag,1991:45)

Maka diperlukan suatu penjelasan dan pemahaman yang benar tentang isi dan kandungan ayat-ayatnya melalui suatu upaya yang dikenal dengan istilah tafsir, yang menurut al-Dzahabi didefenisikan sebagai

“Pengetahuan yang membahas tentang maksud-maksud Allah dalam al- Qur‟an sesuai dengan kemampuan manusia dengan didukung oleh beberapa disiplin ilmu terkait untuk memahami maksud-maksud Allah tersebut.(Az-Zahabi, 1990:15) Namun demikian, hal ini bukanlah upaya yang mudah, karena penafsiran al-Qur‟an yang paling tidak harus sesuai dengan kehendak yang menurunkan kitab suci tersebut. Di samping mufassir harus mengutamakan ilmu pengetahuan yang komprehensif tentang kaidah-kaidah yang berhubungan dengan ilmu tafsir dan ditunjang oleh kepribadian, serta keilmuan mufassir itu sendiri (Baidan, 1993:2-3).

(6)

6

Memahami kitab Allah dengan pemahaman yang benar adalah tujuan setiap insan muslim. Ini adalah buah karya ilmiah yang diharapkan dari mentadabburinya. Sebagaimana buah amaliah adalah menjalankan hukum-hukumnya dan tuntunan keimanan, beramal dan mendakwahkannya (Qardhawi, 2001:311). Kitab suci al-Qur‟an adalah sumber ajaran Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

dengan perantaraan Malaikat Jibril, kitab suci itu telah mengupas berbagai persoalan kehidupan manusia, baik yang bersifat fisik maupun non fisik, mental maupun spritual. Untuk dapat memahami al-Qur‟an dengan benar diperlukan suatu penafsiran yang tidak hanya mengandalkan penguasaan bahasa Arab secara baik, melainkan perlu pula pengetahuan yang komprehensif tentang ilmu-ilmu tentang penafsiran al-Qur‟an itu sendiri dan kaedah-kaedah dari ilmu-ilmu tersebut, seperti : Tarikh Nuzul al- Qur’an, Asbab al-Nuzul, al-Nasikh dan al-Mansukh, al-Muhkam dan al- Mutasyabbih, ‘Am, Khas, Makiyyah dan Madaniyah, dan sebagainya.

Kesemua istilah ini merupakan topik-topik pembahasan Ulum al-Qur’an, atau yang lebih spesifik disebut sebagai Ilmu Tafsir.

C. Pembentukan Kepribadian

Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat- sifat kepribadian yang bersifat menetap.

Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun yaitu:

(1) Tahap oral, Mouth rule (menghisap, menggigit, mengunyah), Lima mode pada tahap oral yang masing-masing membentuk suatu prototipe karakteristik kepribadian tertentu di kemudian hari, yaitu mode :

(7)

7

mengambil, memeluk, menggigit, meludah dan membungkam.

Mengambil : menjadi petunjuk tingkah laku rakus, Memeluk : menjadi petunjuk dalam mengambil keputusan dan tingkah laku keras kepala.

Menggigit : menjadi petunjuk tingkah laku destruktif; sarkasme, sinis

& mendominasi, Meludah : prototipe tingkah laku reject, Membungkam: tingkah laku reject, introvert

(2) tahap anal: 1-3 tahun, Akhir tahap oral bayi dianggap telah dapat membentuk kerangka kasar kepribadian, meliputi : sikap, mekanisme untuk memenuhi tuntutan id dan realita, dan ketertarikan pada suatu aktivitas atau objek. Kebutuhan menyangkut pemuasan anak terhadap kontrol mengenai hal-hal yang menyangkut anal (mis: bagaimana anak mengontrol keinginan untuk BAK dan bagaimana beradaptasi dengan toilet. Tujuan tahap ini : terpenuhinya pemuasan anak dengan tidak berlebihan akan membentuk self control yang adekuat

(3) tahap phalic: 3-6 tahun, Solusi permasalahan pada fase oral & anal membentuk pola kerangka yang mendasar tahap berikutnya yaitu phalik. Pada tahap ini kesenangan dan permasalahan berpusat sekitar alat kelamin. Stimulasi pada alat genital menimbulkan dorongan biologis, dorongan dikurangi timbul kepuasan.

(4) tahap laten: 6-12 tahun, Periode lambat , dimana desakan seksual mengendur. Sebaiknya digunakan untuk mencari keterampilan kognitif/pengetahuan dan mengasimilasi nilai-nilai budaya. Pada periode ini ego & superego terus dikembangkan

(5) tahap genital: 12-18 tahun, Dorongan/impuls-impuls menguat lagi dengan drastis. Pecapaian ego ideal sudah tercapai pada tahap ini (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia

senja.

Konsep psikolanalisis menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep

(8)

8

pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual.

Dalam sistem pembinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

Dalam hal ini sebuah hadis Nabi menyatakan bahwa “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orang tuanyalah yang ikut mewarnainya sampai dewasa.” Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa “Tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakan oleh ayah-ibunya”.

Hadis dan syair tersebut di atas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil.

Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidak begitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu juga bersifat baharu.

Perkembangan Kepribadian dalam sumber yang dapat diakses melalui beberapa macam pendekatan tentang hal ini, yaitu pendekatan psikoanalisis klasik yang meliputi pendekatan Freudian maupun neo- Freudian. Pendekatan psikoanalisis klasik ini lebih menekankan pada aspek psikoseksual seorang individu, di mana perkembangan yang terjadi digerakkan oleh libido yang mempengaruhi tiga komponen kepribadian yaitu ego, id dan superego. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan interpersonal, di mana individu dilihat sebagai suatu makhluk sosial yang dibentuk oleh lingkungan budaya dan interpersonal. Perkembangan kepribadian seseorang dilihat pada interaksi yang terjadi antara individu yang sedang berkembang dengan teman sebaya, orang tua, sahabat, musuh, dan masyarakat sekitar.

(9)

9

Interaksi yang terjadi merupakan suatu pertukaran cinta, kasih sayang dan perhatian. Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan epigenesis, di mana tahapan perkembangan yang terjadi tidak berdiri sendiri-sendiri, namun tahapan perkembangan sebelumnya menjadi fondasi bagi tahapan perkembangan berikutnya. Salah satu teori besar yang didasarkan pada pendekatan epigenesis ini adalah teori perkembangan menurut Erikson.

Kepribadian terbentuk setelah melalui proses:

a. adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber

b. Nilai inin kemudian membentuk pola pikir yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk rumusan visi

c. Visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas

d. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap

e. Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara komulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian.

D. Pembentukan Kepribadian via Pemahaman al-Qur’an

Indikator Pembentukan Kepribadian melalui Pemahaman al-Qur‟an pada Mahasiswa adalah sebagai berikut:

1) Mahasiswa mampu membaca ayat al-Qur‟an 2) Mahasiswa mampu menterjemahkan ayat al-qur‟an 3) Mahasiswa mampu menafsirkan ayat al-Qur‟an 4) Mahasiswa mampu memahami ayat al-Qur‟an

5) Mahasiswa mampu mengamalkan ayat al-Qur‟an dalam kehidupan sehari hari

6) Mahasiswa mampu menyerap nilai dari ayat al-Qur‟an

7) Mahasiswa mampu membentuk pola pikir dari nilai yang diserap

(10)

10

8) Mahasiswa memiliki sikap mental yang mencerminkan al-Qur‟an 9) Mahasiswa bersikap sesuai dengan ayat al-Qur‟an

10) Mahasiswa mencitrai dirinya dengan kepribadian mulia

Kemudian data-data yang diperoleh melalui angket, semua akan disajikan ke dalam bentuk tabel. Selanjutnya, tabel-tabel tersebut akan penulis uraikan sesuai dengan hasil tanggapan responden.

Tabel 1

Mahasiswa mampu membaca ayat al-Qur‟an

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Mampu Cukup Tidak

9 - -

100,00

Jumlah 9 100,00

Berdasarkan tabel di atas, dapat diperoleh jawaban bahwa 9 responden atau 100 % menyatakan bahwa mereka mampu membaca al-Qur‟an dengan baik.

Kemudian untuk mengetahui lebih jelasnya bagaimana tanggapan responden dalam hal guru mengarahkan kepada siswanya untuk memiliki sikap yang positif dalam melakukan setiap tindakan, dapat dilihat melalui uraian tabel tanggapan responden sebagai berikut:

Tabel 2

Mahasiswa mampu menterjemahkan ayat al-Qur‟an

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Mampu Cukup Tidak

3 2 4

54,54 18,18 27,27

Jumlah 9 100,00

Dari tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 3 responden atau sebesar 54,54 % siswa menyatakan mampu. Hal ini tentu saja sudah menjadi kewajaran, karena seorang mahasiswa jurusan Agama harus mampu menerjemahkan al- Qur‟an.

(11)

11

Kemudian berdasarkan tanggapan responden, dimana terdapat sebanyak 2 responden atau sebesar 18,18% memberikan jawaban bahwa cukup mampu untuk menerjemahkan al-Qur‟an. Selanjutnya, terdapat 4 responden atau sebesar 27,27

% yang memberikan tanggapan bahwa mereka tidak mampu untuk menerjemahkan al-Qur‟an.

Tabel 3

Mahasiswa mampu menafsirkan ayat al-Qur‟an

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Ya

Kadang-kadang Tidak

6 3 -

45,45 36,36 18,18

Jumlah 9 100,00

Dari uraian tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 6 responden atau sebesar 45,45% menyatakan mahasiswa mampu menafsirkan ayat al-Qur‟an. Kemudian terdapat sebanyak 4 responden atau sebesar 36,36% yang menyatakan mahasiswa mampu menafsirkan ayat al-Qur‟an.

Tabel 4

Mahasiswa mampu memahami ayat al-Qur‟an

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Ya

Kadang-kadang Tidak

6 3 -

45,45 36,36 18,18

Jumlah 9 100,00

Dari tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 3 responden atau sebesar 45,45% menyatakan mampu memahami ayat al-Qur‟an dengan baik. Namun sebagian besar responden yakni sebanyak 6 orang atau sebesar 54,54 % menyatakan cukup mampu memahami ayat al-Qur‟an.

(12)

12

Tabel 5

Mahasiswa mampu mengamalkan ayat al-Qur‟an dalam kehidupan sehari hari No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Mampu Cukup Tidak

5 4 -

45,45 36,36 18,18

Jumlah 9 100,00

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 5 responden atau sebesar 27,27% menyatakan Mahasiswa mampu mengamalkan ayat al-Qur‟an dalam kehidupan sehari hari. Sedangkan 4 responden atau sebesar 45,45%

memberikan tanggapan bahwa mereka cukup mampu mengamalkan ayat al- Qur‟an dalam kehidupan sehari hari

Tabel 6

Mahasiswa mampu menyerap nilai dari ayat al-Qur‟an

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Mampu Cukup Tidak

5 4 -

45,45 36,36 18,18

Jumlah 9 100,00

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 5 responden atau sebesar 45.45 % menyatakan mampu menyerap nilai dari ayat al-Qur‟an.

Sedangkan 4 orang atau sebesar 36,36% menyatakan cukup mampu saja.

Tabel 7

Mahasiswa mampu membentuk pola pikir dari nilai yang diserap No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

A B C

Mampu Cukup Tidak

7 2 -

63,63 36,36 0

Jumlah 9 100,00

(13)

13

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 7 responden atau sebesar 63,63% menyatakan mampu membentuk pola fikir dari nilai yang diserap.

Sedangkan sebanyak 2 responden atau sebesar 36,36% menyatakan cukup mampu.

Tabel 8

Mahasiswa memiliki sikap mental yang mencerminkan al-Qur‟an No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Baik Cukup Tidak

7 2 -

72,72 27,27

0

Jumlah 9 100,00

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 7 responden atau sebesar 63,63% memiliki sikap mnetal yang mencerminkan al-Qur‟an. Sedangkan sebanyak 2 responden atau sebesar 36,36% menyatakan cukup memiliki.

Tabel 9

Mahasiswa bersikap sesuai dengan ayat al-Qur‟an

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Baik Cukup Tidak

5 4 -

72,72 27,27

0

Jumlah 9 100,00

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 5 responden atau sebesar 63,63% memiliki sikap mnetal yang mencerminkan al-Qur‟an. Sedangkan sebanyak 4 responden atau sebesar 36,36% menyatakan cukup memiliki.

Tabel 10

Mahasiswa mencitrai dirinya dengan kepribadian mulia

No Alternatif Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%) A

B C

Baik Cukup Tidak

5 4 -

72,72 27,27

0

Jumlah 9 100,00

(14)

14

Dari tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 5 responden atau sebesar 45,45 menyatakan mencitrai diri mereka dengan akhlak mulia. sedangkan 4 responden atau sebesar menyatakan cukup mencitrai.

Berdasarkan tanggapan responden tersebut di atas, maka data yang dianalisa adalah data yang diperoleh dari tanggapan responden tentang Pembentukan Kepribadian Melalui Pemahaman al-Qur‟an pada Mahasiwa Jurusan BPI Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau.

Untuk memudahkan analisa data tersebut, perlu dibuat rekapitulasi hasil angket yaitu dari hasil data tabel 1 sampai table 10 ke dalam tabel 11 berikut ini.

Tabel 11

Penghitungan untuk Mencari Data dari Hasil Penyebaran Angket

No Pilihan Jawaban Butir Soal

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml

1 A 9 3 6 6 5 5 7 7 5 5 58

2 B - 2 3 3 4 4 2 2 4 4 28

3 C - 4 - - - 4

Untuk mencari rata-rata persentase kuantitatif dari data di atas digunakan rumus:

P = F x 100 % N

Maka Nilai N dapat diketahui:

N = FA (58) + FB (28) + FC (4) N = 90

Sedangkan Nilai F adalah:

Frekuensi Alternatif Jawaban A= 174 Frekuensi Alternatif Jawaban B= 56 Frekuensi Alternatif Jawaban C= 4 +

234 Jadi Nilai P adalah:

(15)

15

P = F x 100 %

N

P = 692 x 100 % 90

P = 59, 11 %

E. Kesimpulan

Dari uraian-uraian dan pembahasan yang telah penulis gambarkan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwa Pembentukan Kepribadian melalui Pemahaman al-Qur‟an pada Mahasiswa Jurusan BPI dapat dikatakan kurang baik yaitu hanya 59, 11.

Daftar Pustaka

Al-Abrasyi, M. Athiyah, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, Terj. Bustami A.Ghani. dan Djohar Bahry, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Arifin, M., Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.

Alavi, Hamed Reza. 2007. “Al-Ghazali on Moral Education”. dalam Jurnal of Moral Education. Vol. 36, No. 3, September 2007, pp. 309-319. ISSN 1465-3877.

Arkoun, Muhammad, Berbagai Pembacaan al-Qur`an, Terj. Machasin, Jakarta:

INIS, 1997.

Baidan, Nasiruddin, Metode Penafsiran Ayat-ayat yang Beredaksi Mirip Dalam al-Qur’an, Tunas Harapan, Pekanbaru, 1993.

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta: Paramadina, 1996.

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I. Jakarta: UI Press, 1995, Cetakan V.

Poespoprodjo, W., Filsafat moral kesusilaan dalm teori dan praktek, Pustaka Grafika, Bandung, 1998.

Qardhawi, Yusuf, Berintekrasi Dengan al-Qur’an, Terjemahan oleh Hayyei al- Kattan, Gema Insani Press, Jakarta, 2001, Cet III

(16)

16

Al-Qattan, Manna‟ Khalil, Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an, Dar al-„Ilm al- Malayin, Beirut, Jakarta, tt.

Al-Salih, Subhi, Mababits Fi ‘Ulum al-Qur’an, Beirut, Dar al-„Ilm al-Malayin.

1988.

Shihab, Muhammad Quraish, Wawasan al-Qur`an: Tafsir Maudhu’i atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.

……….., Membumikan al-Qur’an, Mizan, Bandung, 1994.

Tim Penterjemah Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Khadim al-Haramain, Mekkah al-Mukarrahmah 1991.

Al-Zahabi, Muhammad Husayn, Tafsir wa al-Mufassirun, Jilid I, Dar al-Qalam, Beirut, 1990.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam setiap penerbitan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah, selalu dilakukan berbagai upaya perbaikan, baik dari segi materi maupun tampilan fisiknya, sesuai

Selanjutnya, dalam rangka meningkatkan upaya penganggulangan dan kewaspadaan terhadap ancaman separatisme, sejumlah kajian telah dilakukan, di antaranya adalah kajian tindak

Seminar Nasional Lahan Basah 2016 ini merupakan wadah temu ilmiah yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarat (LPPM) Universitas Lambung

Berhubung hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara parsial varia- bel kualitas produk tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen, melainkan

Pengenalpastian kawasan yang hendak dimajukan sahaja tidak memadai kerana perancangan pembangunan seharusnya mengambilkira bukan hanya persekitaran fizikal dan manusia di

(9) Dalam hal Dana Desa yang telah digunakan untuk pembayaran BLT Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (8) masih terdapat sisa, kepala desa dapat menggunakan sisa Dana

Dokumen Piagam PBB dan Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia PBB Dokumen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dokumen Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui total fenol, kandungan flavonoid, dan aktivitas antioksidan yang optimum dari ekstrak daun sirsak yang diperoleh