1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Penyelenggaraan pelayanan publik memiliki salah satu fungsi dalam penyelenggaraan pemerintah yang menjadi kewajiban bagi para aparatur pemerintah atau aparatur sipil negara (ASN), maka oleh sebab itu bantuan publik atau pelayanan yang berkualitas menjadi sebuah gambaran terhadap birokrasi pemerintahan dimana pada era reformasi saat ini sangat berpengaruh pada kompleksitas dalam bidang pelayanan publik.
Perkembangan serta tuntutan masyarakat di era reformasi saat ini tidak sepenuhnya disikapi oleh pemerintah baik pada pemerintah pusat hingga pemerintah daerah, sehingga hal ini menyebabkan bahwa adanya keterlibatan masyarakat dalam memajukan public service quality (kualitas pelayanan publik).
Pada era reformasi saat ini sebenarnya banyak pendekatan yang telah dilakukan oleh otoritas publik sebagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan administrasi publik, salah satunya pelaksanaan kerja independensi daerah dimana hal tersebut sebuah strategi dalam bekerja sehingga mendorong pengembangan terhadap administrasi sektor publik serta kinerja pegawai.
Kecamatan Tanjung Palas Utara yaitu adalah sebuah bagian dari organisasi pemerintahan pada pengelolaan administrasi publik di sebuah daerah tepatnya pada Kabupaten Bulungan. Dimana Kecamatan Tanjung Palas Utara sendiri didukung oleh Peraturan Bupati Bulungan Nomor 60 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Kecamatan Dalam Wilayah Kabupaten Bulungan. Dari hal tersebut dalam Peraturan Bupati Bulungan pada Pasal 1 Ayat (7) menjelaskan “kecamatan adalah ruang lingkup satuan kerja daerah
2
dimana camat sebagai pemimpin pada kecamatan, sehingga menjadikan kedudukan camat sebuah unsur dari pelaksana pengurus wliayah pada sebuah kecmatan”.1
Hal tersebut selaras dengan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah dimana pada pasal 209 menjelaskan bahwa Kecamatan merupakan perangkat daerah Kabupaten/Kota. Sehingga kedudukan Kecamatan dalam pasal 221 UU No. 23 Tahun 2014 menjelasakan bahwa Pertama, kabupaten maupun kota dapat mengatur kecamatan dengan maksud tujuan untuk mengembangkan penyelarasan terhadap instansi didaerah dan administrasi publik baik itu terkait pada penguatan masyarakat didesa. Kedua, kecamatan hadir atas kebijakan daerah atau perturan yang dibuat dari kota maupun kabupaten yang bertumpu pada kaidah maupun perturan pemerintah. Ketiga, tata cara aturan daerah kabupaten maupun kota terkaiti penataan kecamatan yang selesai mencapai pengesahan dibarengi terhadap walikota dan bupati serta pada dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten.2
Selain itu kecamatan telah diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan dimana dalam pasal 7 pada bagian pertama menerangkan bahwa berlandaskan pada keperluan diplomatis territorial maka pemerintah memberikan beban kerja pada pemerintah didaerah baik kota maupun kabupaten melewati kepala daerah yaitu gubernur selaku perpanjangan tangan pemerintah dalam membina wilayah dikecamatan.
Dalam pemberian tugas serta kewenangan yang diberikan oleh pemerintah kepada daerah secara tidak langsung memberikan dampak pada pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah serta menjadi tanggung jawab pada daerah itu sendiri.
dari hal tersebut otonomi daerah memiliki tanggung jawab yang besar bagi daerah itu sendiri dengan dipimpin langsung oleh kepala pemerintah di daerah yang dimana daerah tersebut harus bisa mengelola serta mengatur urusan organisasi pemerintahannya, yang berarti mengurus penyerahan urusan pemerintahan kepada
1 Peraturan Bupati Nomor 60 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Kecamatan Dalam Wilayah Kabupaten Bulungan.
2 Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah
3
pihak eksekutif sehingga pemerintah daerah dapat membangun dinas-dinas sesuai urusan yang telah diserahkan.3
Pelayanan publik sendiri terkait dengan perkembangan kegiatan kerja yang dilakukan oleh pemerintah dalam memenuhi kebutuhan semua masyarakat bagi menginginkan beraneka ragam penyajian baik berupa barang maupun jasa hingga pada urusan administrasi kependudukan seperti missal, pembuatan e-KTP (Kartu Tanda Penduduk elektronik), hak waris, dan akte kelahiran maupun kematian penduduk, serta pembuatan surat izin usaha mikro kecil hingga lain lain. (Marzuki 2006:17).
Pemerintah seharusnya dapat memenuhi kebutuhan tersebut sebab setiap individu masyarakat atau warga negara kesatuan republik indonesia berhak atau bertanggung jawab atas kepemilikian identitas diri resmi yang dikeluarkan oleh negara seperti missal, memiliki akte kelahiran, e-KTP (Kartu Tanda Penduduk Elektronik), SIM atau Surat Izin Mengemudi serta hal yang berkaitan dengan
pelayanan lainnya.
Sehingga diperlukannya peran aktif aparatur Kecamatan Tanjung Palas Utara dalam memenuhi sasaran dengan baik dan tepat. Sebab kemampuan pegawai Kantor Camat Tanjung Palas Utara akan menjadi penentu sasaran keberhasilan sesuai dengan tujuan instansi. Aparatur Sipil Negara (ASN) di indonesia sangat menjunjung tinggi kesetiaan terhadap Pancasila, Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 serta berpedoman pada peraturan pemerintah. Sebab pegawai didalam kesetiaannya kepada negara mewujudkan perkembanagan dari pelayanan sektor publik yang diberikan kepada masyarakat.4 Namun pada implementasi atau pelaksanaanya masih belum optimal terkait kedisiplinan kerja, integritas, serta tanggung jawab pegawai dalam menjalankan tugasnya masih tidak terealisasi dengan baik dan tepat, sehingga usaha untuk meningkatkan kualitas kerja pegawai sendiri pemerintah membuat kebijakan, dimana didalam Undang-Undang No. 5 tahun 2014 mengatakan terhadap kedisiplinan pegawai, sesuai dengan bab
3 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan
4 Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara
4
atau pasal pertama berbunyi menjelaskan yaitu keharusan serta pembatasan yang wajib dihormati, diperhatikan dan direalisasikan pada seluruh kalangan Aparatur Sipil Negara.4
Berdasarkan pada data pada Kantor Camat Palas Utara sebagaimana dalam pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk) masih banyak yang belum terselesaikan.
Penyebab dari keterlambatan dalam proses pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) tersebut berdasarkan dari hasil wawancara penulis dengan Bapak Kasi Pemerintahan, salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya keterlambatan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yakni masyarakat yang berasal dari luar daerah sudah pernah memiliki KTP, hal tersebut menjadi salah satu faktor dalam keterlambatan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP).5
Aparatur pemerintah seharusnya menjadi sebuah jembatan serta saluran dalam melaksanakan kepentingan masyarakat sehingga proses penyelenggaran pelayanan publik berjalan semestinya. Disisi lain pegawai yang melaksanakan pekerjaanya wajib lebih responsive pada situasi atau kondisi dilapangan yang memiliki perubahan atau dinamis pada situasi masyarakat. Sehingga aparatur pemerintah dapat memahami maksud dari sasaran pemerintah serta mengerti pada kepentingan melayani masyarakat atau populasi yang membutuhkan sarana produk administrasi dari pegawai pemerintah itu sendiri.
Kecamatan Tanjung Palas Utara sebagai organisasi pemerintahan tehadap pelaksanaan desentralisasi Kabupaten Bulungan, beserta dibantu dengan kebijakan dari peraturan bupati Bulungan No.5 Tahun 2016 terkait Pembentukan maupun Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Bulungan, yang telah menjadikan kedudukan Kecamatan Tanjung Palas Utara sebagai unsur dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tersebut.6 Sehingga diperlukannya peran aktif aparatur Kecamatan Tanjung Palas Utara dalam mencapai tujuan secara efektif serta efisien, sebab kinerja aparatur Kecamatan Tanjung Palas Utara menjadi hal
5 Hasil wawancara dengan Bapak Wahyu Basuki (Kepala Seksi Pemerintahan & Trantib)
6 Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan susunan Perangkat Daerah Kabupaten Bulungan
5
yang sangat penting dalam penyelenggaran pelayanan dan hal tersebut dapat membantu sasaran kerja terhadap Kantor Camat Tanjung Palas Utara dan terlaksana sebagaimana mestinya.
Berdasarkan Daftar Urut Kepangkatan (DUK) Kecamatan Tanjung Palas Utara diatas maka bisa dilihat bahwa jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Camat Tanjung Palas Utara sebanyak 15 (lima belas) pegawai dengan masing- masing tugas dan fungsinya. Jumlah dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) lebih mendominasi dari tenaga kerja honorer, dimana jumlah dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjumlah 15 (lima belas) pegawai sedangkan tenaga kerja honorer berjumlah 4 (empat) orang.
Dengan demikian peningkatan kinerja aparutur menjadi hal yang sangat penting mengingat arah dari perubahan kebijakan pemerintah sebagaimana yang telah dikehendaki oleh semangat reformasi dalam memberi ruang gerak yang luas serta memberi peran yang lebih besar kepada masyarakat dimana pemerintah dan aparatur lebih berperan sebagai fasilitator. Sehingga dalam perubahan arah kebijakan pemerintah tersebut akan membawa dampak yang besar terhadap kemampuan professionalisme para pegawai dalam menjawab tantangan di era reformasi dan globalisasi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kinerja pegawai Kecamatan dalam meningkatkan pelayanan publik di Kantor Camat Tanjung Palas Utara
2. Apa saja faktor-faktor penghambat kinerja pegawai Kecamatan dalam meningkatkan pelayanan publik di Kantor Camat Tanjung Palas Utara 1.3 TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui kinerja pegawai Kecamatan dalam meningkatkan pelayanan publik di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
2. Untuk mengetahui faktor penghambat kinerja pegawai Kecamatan dalam meningkatkan pelayanan publik di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
6 1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai tambahan wawasan maupun infomasi serta fakta terkait kinerja pegawai Kecamatan dalam meningkatkan pelayanan publik. Penelitian yang dilakukan juga dapat dipersembahkan sebagai ilmu pengetahuan dengan strategi dalam peningkatan kinerja pegawai Kecamatan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Kecamatan Tanjung Palas Utara Kabupaten Bulungan, dari penelitian yang dilakukan memperoleh data yang efisien terkait dengan pada kinerja pegawai dalam meningkatkan pelayanan.
selanjutnya dari penelitian yang dilakukan dapat difungsikan terhadap informasi terkait dengan implementasi kebijakan strategi dalam upaya peningkatan kinerja pegawai di Kantor Camat Tanjung Palas Utara
b. Kepada Program Studi Ilmu Pemerintahan, penelitian yang dilakukan dapat difungsikan sebagai data valid terkait kinerja pegawai kecamatan dalam meningkatkan pelayanan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan dapat difungsikan sebagai informasi serta data terkait pada matakuliah Tata Kelola SDM Pemerintahan.
c. Kepada peneliti, penelitian yang dilakukan dapat dimanfaatkan untuk lampiran informasi serta data terkait kinerja pegawai kecamatan dalam meningkatkan pelayanan public di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
1.5 DEFINISI KONSEPTUAL
1. Kinerja
Kinerja merupakan tingkat pencapaian dari tujuan organisasi yang sesuai dengan wewenang serta tanggung jawab dari masing-masing yang
7
besifat legal dan sesuai dengan etika maupun moral. (Difka, 2012).7 Sehingga pengertian dari kinerja (performance) memiliki makna yang sangat luas, bukan hanya menyatakan sebagai sebuah hasil kerja tetapi juga bagaimana dinamika kerja tersebut berjalan secara langsung. Kinerja adalah sebuah tingkat keberhasilan seorang karyawan dalam melaksnakan pekerjaan. (Miner,1998:14).
Selain itu kinerja merupakan sebuah proses dari hasil karya personil atau anggota baik kualitas maupun kuantitas dari individu maupun kelompok kerja, sehingga dari hasil penampilan kerja tersebut pada personil yang memangku jabatan fungsional serta struktural tetapi kepada seluruh jajaran personil.
2. Dimensi Kinerja
Dimensi atau indikator kinerja menjadi aspek-aspek yang dapat jadi ukuran dalam menilai kinerja (Miner, 1998) meliputi:
a) Kualitas b) Kuantitas
c) Penggunaan waktu dalam kerja
d) Kerja sama dengan orang lain dalam bekerja
Berdasarkan dari empat dimensi kinerja diatas, maka dalam hasil pekerjaan meliputi kualitas hasil, kuantitas, penggunaan waktu kerja, dan kerjasama dengan orang lain. (Irawanti, 2018).8 Dari dimensi kinerja diatas, dua hal terkait dengan
7 Difka, Y. (2012). Kinerja Aparatur Dinas Pemakaman Dan Pertamanan Dalam Pengawasan Keberadaan Reklame Insidentil Di Kota Bandung. Universitas Komputer Indonesia.
8 Difka, Y. (2012). Kinerja Aparatur Dinas Pemakaman Dan Pertamanan Dalam Pengawasan Keberadaan Reklame Insidentil Di Kota Bandung. Universitas Komputer Indonesia.
Hardani, Hikmatul, A. N., Ardiani, H., Fardani, R. A., Ustiawaty, J., Utami, E. F., Sukmana, D. J.,
& Istiqomah, R. R. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif (A. Husnu (ed.);
Cetakan I, Issue March). CV. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta.
Irawanti. (2018). Kinerja Kerja Guru Pada SMP Negeri 1 Benteng Kabupaten Selayar.
Universitas Hasanuddin.
Syahza, A. (2021). Metodologi Penelitian, Edisi Revisi (Edisi Revi, Issue September). UR Press Pekanbaru.
8
aspek hasil kerja atau keluaran yakni; kualitas hasil, kuantitas keluaran, serta dua hal terkait aspek prilaku individu, yaitu; penggunaan waktu dalam kerja (tingkat kepatuhan terhadap jam kerja serta kedisiplinan) serta kerja sama. Sehingga dalam melaksanakan pekerjaannya dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang pelayanan sektor publik.
3. Kecamatan Tanjung Palas Utara
Kecamatan Tanjung Palas Utara menjadi sebuah bagian dari organisasi pemerintahan terhadap penyelenggaraan desentralisasi maupun pelaksanaan dari otonomi daerah diKabupaten Bulungan. Dimana Kecamatan Tanjung Palas Utara sendiri didukung oleh Peraturan Bupati Bulungan Nomor 60 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Kecamatan Dalam Wilayah Kabupaten Bulungan. Dari hal tersebut dalam Peraturan Bupati Bulungan pada Pasal 1 Ayat (7) menjelaskan terkait kecamatan adalah kawasan ruang lingkup pemimpin wilayah kecamatan yaitu Camat, sehingga menjadikan kedudukan kecamatan sebuah unsur dari pelaksana pelaksanaan pemerintah didaerah.9
9 Ibid
9 1.6 DEFINISI OPRASIONAL
Definisi oprasional merupakan makna dari indikator yang dijabarkan dan disesuaikan dengan variabel-variabel yang ada dilapangan. Definisi oprasional merupakan perumusan variabel berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel yang dapat diamati. Adapun definisi oprasional dalam penelitian ini menggunakan konsep John Miner tentang kinerja yaitu sebagai berikut :
1. Kualitas, mencakup :
Konsep kualitas dapat diartikan sebagai suatu produk barang maupun jasa yang memiliki sifat atau karakteristik yang diberikan kepada pelanggan. Kualitas adalah kemampuan kerja yang wajib dicapai oleh aparatur baik bekerja secara kelompok maupun secara individu, pencapaian tersebut juga akan berdampak kepada organisasi terkait dengan kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas kemampuan, dan produk barang maupun jasa yang diberikan kepada pelanggan. Adapun indikator dari kualitas menurut John Miner yaitu :
a) Tingkat kecermatan b) Tingkat kesalahan c) Tingkat kerusakan 2. Kuantitas, mencakup :
Pada jumlah pekerjaan yang dihasilkan untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam mengukur kinerja pegawai untuk mencapai tujuan organisasi tersebut maka dapat diketahui dari jumlah produk atau pekerjaan yang telah dihasilkan dengan artian bahwa dilihat dari efektivitas pekerjaan. Sehingga dari optimalnya jumlah pekerjaan yang dihasilkan tersebut dapat mewujudkan tujuan dari organisasi. Adapun indikator dari kuantitas menurut Mahmudi yaitu :
a) Produk pelayanan merupakan hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dan ditawarkan kepada masyarakat dengan makasud memberikan pelayanan
10
b) Sarana dan Prasarana yaitu sebagai alat yang membantu pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya untuk mencapai keberhasilan dalam proses pelayanan.
c) Biaya/tariff yaitu sesuatu yang digunakan dalam masukan atau keluaran yang digunakan pegawai sebagai pengurang yang harus dikorbankan untuk menghasilkan keuntungan.
3. Penggunaan Waktu dalam Kerja
Penggunaan waktu dalam bekerja merupakan foktor utama dalam organisasi untuk menentukan kinerja pegawai. Penggunaan waktu yang efektif dapat menciptakan kinerja yang baik bagi pegawai. Sehingga jika pegawai menggunakan waktu secara efektif maka akan terwujudnya efektivitas kinerja pada pegawai maupun organisasi. Menurut John Miner dalam pengukuran penggunaan waktu memiliki tiga indikator diantaranya :
a. Tingkat keterlambatan, yaitu jumlah dari keterlambatan yang dilakukan oleh pegawai untuk masuk kerja sehingga pegawai tidak tepat waktu dalam melaksanakan pekerjaannya.
b. Tingkat ketidakhadiran, yaitu jumlah dari penggunaan waktu pegawai tidak melakukan pekerjaan atau tidak menghadiri pekerjaan sesuai dengan kektentuan yang berlaku pada organisasi c. Waktu, yaitu waktu yang digunakan oleh pegawai dalam proses kegiatan yang dilakukan selama bekerja baik waktu yang digunakan maupun waktu yang terbuang saat melakukan pekerjaan. (Miner, 1998:16)
4. Kerja sama
Kerja sama merupakan kekompakan pegawai dalam melakukan pekerjaan yang dilakukan secara bersama dengan pegawai lainnya serta menjadi salah satu faktor yang terdapat dalam lingkungan organisasi, sehingga terciptanya tim yang efektif dalam mencapai tujuan organisasi maka dibutuhkannya tim yang dapat bekerja sama antara seorang pegawai dengan pegawai lainnya secara kelompok. Menurut John Miner
11
faktor penilaian kinerja dalam aspek kerja sama memiliki dua indikator yaitu :
a) Kompetensi, yaitu keterampilan pegawai dalam kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan serta sikap kerja yang baik dan dapat menciptakan kondisi kerja yang aman.
b) Prestasi kerja, yaitu pencapaian pegawai terkait dengan hasil kerja yang dilakukannya untuk meningkatkan kinerja dengan bentuk reward.
(Miner, 1998:17) 1.7. METODE PENELITIANN
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif, dimana pengambilan metode tersebut diperoleh dari fenomena atau peristiwa maupun permasalahan yang terjadi di Kantor Camat Tanjung Palas Utara terkait kinerja pegawai Kantor Camat Tanjung Palas Utara. Penelitian ini memfokuskan pada subjek maupun objek dari kinerja pegawai sehingga dapat membantu peneliti dalam memverifikasi serta mengelola data dan membantu menjwab permasalah Kinerja Pegawai Kecamatan Dalam Meningkatkan Pelayanan Publik di Kantor Camat Tanjung Palas Utara melalui metode deskriptif kualitatif.
Menurut Syahza, (2021:21), metode penelitian merupakan sebuah bidang keilmuan yang menganalisis serta mendalami dari tata cara menghasilkan sebuah penelitian secara baik dan ilmiah. Selain itu penelitian deskriptif memiliki tujuan yaitu memberikan deskriptif secara sistematis melaui penggambaran dengan mengenai fakta maupun factual pada penelitian yang dilakukan.
1. Jenis Penelitian.
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Selanjutnya sasaran atau fokus dari penelitian kualitatif yaitu merupakan metode yang memfokuskan pada sudut pandang suatu masalah atau fenomena dengan melakukan analisis secara mendalam pada fenomena.
12
Menurut Williams (2008) dalam Hardani et al., (2020:16) penelitian kualitatif mempunyai perihal ppenting dalam sebuah penelitian, ada beberapa perihal yang dianggap penting dalam sebuah penelitian yaitu Pertama, sudut pandang dasar terkait pada posibilitas maupun sifast realitis serta hubungan peneliti terhadap apa yang diteliti. Kedua, dilihat pada perilaku penelitian dengan pendekatan kualitatif itu sendiri. Ketiga, yaitu proses pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian kualitatif.
Model dari penelitian kualitatif deskriptif ini dapat difungsikan sebagai penyajian data penelitian guna memahami variabel terkait dengan Kinerja Pegawai Kecamatan Dalam Meningkatkan Pelayanan Publik di Kantor Camat Tanjung Palas Utara tanpa harus membandingkan variabel lain yang ada didalamnya.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian merupakan pihak yang menjadi sasaran penelitian guna memperoleh informasi terkait topik yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti memilih informan yang dianggap mengetahui serta memahai yang akan diteliti, meliputi :
a) Sekretaris Camat Tanjung Palas Utara
b) Kasi Pemerintahan & Trantib Kantor Camat Tanjung Palas Utara c) Kasi Sosial Ekonomi & Kesra Kantor Camat Tanjung Palas Utara d) Kasi Pelayanan Tanjung Palas Utara
e) Kasubbag Umum & Kepegawaian f) Kasubbag Perencanaan dan Keuangan
3. Sumber Data a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung terjun lapang.
Data primer merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dari lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan memerlukannya. Hasan (2002:82). Sehingga data primer akan dapat diperoleh melalui proses wawancara dan observasi langsung
13
yang dilakukan peneliti selama kegiatan penelitian ini di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada (Hasan, 2002:58). Data ini dapat digunakan sebagai pendukung data dan informasi primer yang telah diproses yaitu dari bahan pustaka, literature, penelitian terdahulu, buku dan lain sebagainya.
4. Teknik Pengumpulan Data
Strategi terhadap metode yang digunakan dalam mengumpulkan data serta mendapatkan informasi yang diperoleh adalah sebagai berikut ;
a) Observasi.i
Observasi atau pengamatan merupakan strategi pemilahan informasi yang digunakan untuk mengumpulkan informasi penelitian melalui persepsi serta pendeteksian data secara verifikatif/valid. Selanjutnya pengamatan penelitian yang dilakukan pada para pegawai diKantor Camat Tanjung Palas Utara. Pengamatan atau observasi adalah suatu metode pengumpulan maupun pengambilan informasi yang dilakukan secara langsung dengan memperhatikan atau memfokuskan pada objek penelitian yang dipelajari. Pengamatan penelitian mengandung arti bahwa setiap gerakan dapat diartikan sebagai pengambilan atau perkiraan data. Metode pengamatan atau observasi yang dilaksanakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode turun atau terjun kelapangan secara langsung maupun tidak langsung (virtual) di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
b) Wawancara
Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab antara peneliti dengan narasumber guna mendapatkan iinformasi. Narasumber dalam wawancara ini adalah para pegawai di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
14 5. Analisis Data
Analisis data merupakan metode dengan mengunakan observasi serta wawancara dengan menjawab sebuah pertanyaan. Informasi serta data dalam penelitian ini dapat dibedah melalui teknik yang bersifat deskipsi serta text sehingga pada informasi data yang terkandung dapat dilaksanakan dengan metode klarifikasi.
Pada strategi ini membutuhkan metodologi dari informasi secara sebjektif dan abstrak, jelas serta tepat.
Teknik kajian informasi subjektif atau kualitatif adalah strategi penanganan informasi dari atas ke bawah dengan informasi dari interview, refrensi, literatur, dan observasi. Manfaat dari teknik ini yaitu kedalaman pada hasil pemeriksaan maupun pengelolaan data dengan analisis. Kemudian, hal tersebut menjadi nilai tambahan dari teknik ilmiah yang subjektif, dimana peneliti mengambil bagian penting dalam siklus penyelidikan sebagai komponen penelitian ilmiah.
Menurut Miles dan Huberman, (1992) dalam Hardani et al., (2020:163) analisis data adalah informasi serta data yang dikumpulkan secara berwujud, maksudnya adalah data yang bersifat deskripsi atau kata-kata bukan data yang terkait dengan statistic atau ikatan angka. Selain itu dari analisis data dapat di kategorikan kedalam tiga dimensi, yaitu Pertama, reduksi data, Kedua, penarikan kesimpulan serta Ketiga, penyajian data. Berikut penjelasan terkait analisis data yaitu diantaranya :
a) Reduksi Data (data reduction).
Reduksi data yaitu merupakan pengambilan informasi data dengan cara memperhatikan pengabstrakan, transformasi data serta penyederhanaan data dari hasil yang telah diperoleh dilapangan secara langsung. Reduksi data dari penelitian yang dilakukan menjadi acuan maupun pedoman bagi peneliti dalam memahami serta mendeskripsikan permasalahan penelitian guna mengetahui hasil dari kinerja pegawai di Kantor Camat Tanjung Palas Utara.
15 b) Penyajiyan data
Penyajian data didalam penelitian kualitatif dapat diuraikan menjadi diskripsi singkat dengan menghubungkan kategori data serta flowchart atau diagram alur penelitian sehingga membantu peneliti dalam mengelola data serta memverifikasi data yang didapatkan dilapangan.
(Hardani et al., 2020:168). Selanjutnya data yang diperoleh peneliti dilapangan akan diolah melaui pengkategorian dari permasalahan serta pembahasan pada penelitian sehingga narasi dari penelitian tersusun secara sistematis dan benar.
c) Penarikan simpulan dan verifikasi data
Menurut Milies dan Huberman (1992) dalam Hardani et al., (2020:171) menjelaskan bahwa simpulan penelitian merupakan subtansi temuan penelitian yang berlandaskan pada pengambaran agrumentasi dengan uraian maupun pada keputusan yang diambil saat memperoleh data serta pola piker dari simpulan yaitu deduktif dan induktif sehingga penelitian yang dilaksanakan menjadi relevan terhadap fokus dari permasalahan penelitian. Selanjutnya penelitian ini mengaitkan Perbub Nomor 60 tahun 2016 pada pelaksanaan organisasi pemerintahan yang dilaksanakan oleh Kantor Camat Tanjung Palas Utara dapat ditarik kesimpulannya.