• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN SERAT BAMBU UNTUK DINDING BETON RINGAN TANPA PASIR PRACETAK TULANGAN BAMBU DENGAN AGREGAT BATU APUNG^

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMANFAATAN SERAT BAMBU UNTUK DINDING BETON RINGAN TANPA PASIR PRACETAK TULANGAN BAMBU DENGAN AGREGAT BATU APUNG^"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

83

PEMANFAATAN SERAT BAMBU UNTUK DINDING BETON RINGAN TANPA PASIR PRACETAK TULANGAN BAMBU

DENGAN AGREGAT BATU APUNG^

Suparjo*

ABSTRAK

Berdasarkan pertimbangan kuat tarik bambu yang cukup tinggi, maka banyak penelitian tentang aplikasi bambu sebagai tulangan beton telah dilakukan baik ditingkat nasional maupun internasional. Penehtian mi mengaplikasikan bambu sebagai tulangan beton pada beton ringan tanpa pasir dengan penambahan serat S u Pemakaian serat bambu diharapkan dapat meningkatkan kuat tekan, kuat tarik beton, dan kuat lentur pelat Hasil ekperimen menunjukkan bahwa komposi campuran 1 semen : 3 batu apung, yang membenkan

S teka opLum. Komposisi serat bambu optimum terjadi pada penambahan 0 5 % terhadap^voume adukan Pelat dinding pracetak dengan tulangan bambu galah 3 mm x 15 mm berjarak 45 mm (,arak

o p l L tulangan bambu), yang kemudian dibuat dengan variasi ketebalanpetal berturut-tun^, 30 mm

mm, 40 mm, 45 mm, dan 50 mm, masing-masing mampu dibebani, 92 kg, 167 kg, 208i kg, 208 kg dan 225 kg sedangkan peningkatan kuat lentur dengan penambahan serat bambu berturut-turut adalah 90 /o, 35 /., 32

%, 68 %, dan 122 % terhadap tanpa serat. Dari data tersebut disimpulkan bahwa pelat pracetak beton nngan

tanpa pasir dengan penambahan serat bambu untuk ketebalan 3 cm cukup kuat untuk menahan beban sandaran orang 100 kg.

Kata kunci: tulangan bambu, serat bambu, kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur

ABSTRACT

Based on assumption that bamboo has high tensile strength, most researches about bamboo application as reinforced concrete have been done in the National and International level. This research tries to use bamboo as reinforced concrete for the light concrete without sand by adding bamboo's fiber. It is expected to increase the compressive strength, the tensile strength of concrete, and bending strength of precast wall-plate. The result shown that the mixture composition; 1 cement : 3 pumice, resulted in the optimum compressive

strength. The optimum compositon of bamboo's fiber occurs at 0,50 % of mixture volume. Pre-cast wall plate with bamboo galah as bar with the size 3 mm x 15 mm and distance about 45 mm. (the optimum spacing bamboo as bar), then plate specimen is made with the variation of thickness of 30 mm, 35 mm, 40 mm, 45 mm, and 50 mm respectively, will enable to carry 92 kg, 167 kg, 167 kg, 208 kg, 208 kg, and 225 kg load respectively, On the other words, by adding bamboo's fiber the bending strength will'increase as follows, 90 %, 35 %, 32 %, 68 %, and 122 % respectively. Base on the data it can be concluded that precast of plate light concrete without sand with the thickness of 30 mm added with bamboo's fiber is strong enouch

to carry live load of (100 kg).

B

Keywords: bamboo reinforced, bamboo's fiber, compressive strength, bending strength

1. PENDAHULUAN pembuatan bata dapat mengurangi luas lahan Perkembangan jumlah penduduk yang pesat di NTB, produktif, yang lebih lanjut juga akan menurunkan khususnya di pulau Lombok mengakibatkan naiknya P

r

°duksi hasil pertanian. Oleh karena itu pemakaian kebutuhan perumahan, yang berarti meningkatnya

b a t u b a t a

perumahan sebaiknya dicari kebutuhan bahan bangunan. Pembuatan batu bata

al

ternatif lain sebagai pengganti batu bata yang memerlukan tanah yang biasanya diambil dari lahan bermanfaat dan ringan untuk bahan dinding produktif, Pengambilan tanah yang berlebihan untuk bangunan.

* Jurusan T. Sipil, Universilas Mataram

(2)

Peluang yang cukup besar sebaga i penggant

i bat u

bata yaitu dinding

beton pracetak

yang bahan

bakunya dari baha n materia

l setempa t da

n muda h

uiuapai sen a nngan . Pula

u Lombo k termasu

k daera h

gunung berapi, diantarany

a Gunun g Rinjan

i yan g

merupakan gunung

tertinggi, da n perna h meletu

s

serta mengeluarkan

magma sehingga

batu apung

sangat banya k ditemu

i terutam a d

i daera h kak

i

gunung tersebut, yait

u d i sekita r daera

h Lombo k

Timur da n Lombo k Tengah

. Secar a tradisiona l bat

u

apung sering dijumpai sebaga

i agrega t kasa

r pad a

dinding pembatas pekarangan

. Bat u apun g yan

g

mempunyai bera t jeni s ringa n banya k dipaka

i untu k

menghasilkan beton ringan

yang dapat digunaka n

untuk berbagai tuiua

n sepert i sebaga

i penyekat ,

bahan pengisi yan

g mempunya i kekuata

n menenga h

dalam penggunaan

elemen struktural, sehingg

a

belum mempunyai fiings

i yan g maksimal . Aga

r

beton ringan dapat berpera n pentin

g dala m bidan g

bangunan, diharuska n memilik

i kua t teka n da n tari k

minimal sam a denga n beto

n normal .

Beton tanpa pasir termasu k jeni

s beto n ringan ,

dimana tersusun

dari agrega t kasa

r da n seme n

dicampur denga n air

, denga n tidak

adanya pasir

maka berkuranglah

keperluan pasta semen

untuk

nienVClimUti luasa n pp.rmukaa

n pasir . Berdasarka n

hal tersebu t mak

a kebutuha n seme

n untu k

pembuatan beton tersebut aka

n lebi h sediki t bil

a

dibandingkan dengan

beton normal.

Kelebihan beton yang memiliki kua

t teka n tingg i

tetapi lema h terhada

p kua t tarik . Untu k it

u

diperlukan bahan

tambahan untuk

memperbaiki

karakteristik beton

ringan tanpa pasir yan g

berkualitas. Baha n tamba

h alternati f dapa

t

dihasilkan dari hasi l ala m yan g muda h didapat

,

antara lain adalah

bambu. Sesua i denga

n

perkembangan teknologi, beberap

a penelit i teru

s

berusaha memperbaiki sifat-sifa

t beton , yan g antar a

lain dengan

menambahkan serat k e dala m aduka n

beton. Penambaha n sera

t pad a aduka n beto

n yan g

disebar merat a denga

n acak , aka n membua t beto

n

terhindar dar i retak-reta k yan

g terlal u dini .

Jenis sera t yan g dapa t untu k memperbaik i sifa

t

kurang baik dari beto n adala h baj

a (s te el) , plasti k

(p ol yp ro yl in e) , kac a (g la ss ), karbo n

(c ar bo n) da n

serat alamia h (

na tu ra l fi be rs ), sepert i iju

k da n sera t

tumbuh-tumbuhan lainnyajuga

bisa dipakai.

Bambu dipilih sebagai baha

n alternati f tulanga

n da n

serat, menginga t baj

a adala h hasi

l tamban g yan

g

suatu saat dapa t habis

. Ole h karen a it

u perl u

diadakan pengendalian

dalam pemakaian

baja,

disamping harganya

yang relatif maha

l bag i

penduduk yang hidupnya

dibawah garis kemiskinan ,

juga jarang mempunyai dimens

i yan g lebi h kecil .

Salah satu usaha untuk mencari penggant

i baj a

adalah dengan

memanfaatkan hasil ala m yan

g

mudah didapat da

n mura h hargany

a sert a dapa t

dipertanggungjawabkan secara

teknis. Hasi l ala m

yang cocok sebagai penggant

i baj a sebaga i tulanga

n

adalah bambu

dengan alasan

murah, berkekuata n

tinggi, dapa t diawetkan

, sert a bamb u denga

n

kualitas yan g bai k dapa t diperole h pad

a jangk a

pendek sekitar umu

r 3- 5 tahun , selai

n it u bamb u

termasuk bahan yang terbaharui.

Berdasarkan hasil penyelidika n yan

g dilakuka n ole

h

seksi Konstruks i Su

b Direktora t Baha

n Banguna n

dan Konstruks i (BBK)

, Direktora t penyelidika

n

Masalah Bangunan

tentang bambu

sebagai baha n

bangunan beton

(1984), sert a penelitia

n

Surjokusumo danNugreho

(1993), diketahu i bahw

a

bambu dapat digunaka

n sebaga i tulanga

n beto n

pengganti baja . Ha l in i jug a didukun g ole

h hasi l

penelitian Janssen

(1980), sert a Morisc o da

n

Mardjono (1995) yan

g menyataka n bahw

a bamb u

mempunyai kekuata n tari

k yan g tinggi , mendekat i

kekuatan baja struktur. Untu

k itula h perl u dilakuka n

pengujian dan penelitian

dengan pembuatan

dinding

beton ringan pracetak

dengan tulangan

bambu.

Penelitian bertujuan

untuk mengetahui perbandinga

n

bahan dinding

beton ringan

tanpa pasir praceta k

yang paling ekonomis, denga

n kekuata n lentu

r yan g

cukup memenuhi syarat

, jik a digunaka n sebaga

i

bahan dasar beto n tanp

a pasi r yait u campura n

semen, bat u apung , sera

t bambu , denga

n tulanga n

bambu.

(3)

IS

2. M E T O D O L O G I

2.1 Peralatan

Penelitian i n i . dilaksanakan dengan metode ekperimen laboratorium dengan benda uji silinder beton diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Plat pracetak dengan ukuran 550 mm x 1280 mm bertulangan bambu ukuran 15 mm x 3 mm seperti dalam Gambar 1.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu set alat uji bahan antara lain: timbangan, kerucut konus dan batang penumbuk, mesin Los Angeles, saringan getar, mesin aduk beton, kerucut Abrams, alat uji Compacting F a c t o r , mesin uji tekan beton, dan satu set uji lentur (Gambar 2).

2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan: semen Portland type I merek Tiga Roda dalam kemasan 50 kg, batu apung dari Lombek Timur, air dari Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Matafam, dan bambu galah dari Lombok Barat.

2.3 Pelaksanaan Penelitian 2.3.1 Persiapan bahan

Dalam tahap ini dilakukan penyiapan bahan dan alat yang akan digunakan dalam penelitian, dan dibagi dalam beberapa pekerjaan, yaitu:

a. Pemeriksaan bahan bambu dan batu apung,

meliputi: berat jenis, berat satuan, kadar air,

penyerapan air batu apung.

b. Pemeriksaan ketahanan aus agregat batu apung dengan mesin Los Angeles.

c. Pemeriksaan gradasi batu apung.

2.3.2 Rencana campuran beton ringan

Perencanaan adukan beton ringan dapat dilakukan

berdasarkan pedoman yang ada dalam

Standard

Practice for Selecting Proportions jo S t r u c t u r a l Lightweigt Concrete (ACI 2 1 1 . 2 - 8 ) . Pedoman ini memungkinkan nilai slam sebesar fif) - 1 Rn mm San faktor air semen (f.a.s) sebesar dan 0,40, dan diameter maksimum batu apung 20 mm.

15 mn 30 nnt i

Gambar 1. Plat dindingpracetak tulangan bambu.

D Sa 1 C?a uge s

Gambar 2. Set up pengujian pelat dinding •

Tra (Ulcer

(4)

2.3.3 Proses

pembuatan benda

uji

Bahan adukan

dibuat sesua i denga

n proporsiny a

yang telah ditentukan

diaduk

samriai rat a selama

±

3

menit. Sebelu m dituangka

n k e dala m cetakan

,

adukan diperiksa

kelecakannya dalam dua cara yaitu

uji sla m da

n fakto r pemadatan . Cetaka

n silinde r

dibuka setelah

satu hari, diber i tangga l pengecora

n

dan kode benda uji. Tahapa n pembuata

n bend a uj i

sebagai berikut :

4\m campuratv

semsxv

dan bat u apung

, denga n membua

t komposis i

campuran 1 : 2; 1 : 3

; 1 : 4

; 1 : 5

; 1 : 6

; da n 1 :

7.

V) DorJoamka

kiwi leka u

n optimu m poi

n a ) denga n

komposisi tertentu , kemudia

n dibua t silinde

r

dengan menambahkan

serat bamb u denga

n

volume fraksi: 0,5 0 %

; 1 , 0 %;

1 ,5 %; da n 2, 0 % .

c) Berdasarka n optimas

i poi n b ) denga n komposis

i

serat tertent u kemudia

n dibua t bend a uj

i pela t

seperti Gamba r 1

, ukura n 5

5 c m x 128 cm

dibuat dala m varias

i ketebala n pela

t 3 cm, 3, 5

cm, 4 cm, 4,

5 cm , da n 5 cm, kemudia n diuj

i

kuat lenturny a (Gamba

r 2) .

.3.4 7

Po ng uji an

Pengujian kuat teka n beto n berup a uj i teka n silinde r

pada waktu

mencapai umu r 2 8 hari , sedangka n

pengujian lentur pela

t yait u denga n

th er e po in t

bending pad a umu r 2 8 hari .

3.

HA SI L DA N PE MB AH AS AN

3.1 A gr eg at Ba tu A pu ng

Data hasil pemeriksaa

n agregat , beriku

t in i

disimpulkan hasil pemeriksaa n secar

a umum .

a. Bera t volum

e da n bera t satua n agrega t

Hasil pemeriksaa n menunjukka

n bera t volum e

batu apung kondisi SS

D ( Sa tu ra te d Surface D

ry )

sebesar 1,16 5 gram/cm

, sedangka 3

n bera t volum e

kering sebesar 0,81

5 gram/cm

. Agrega 3

t denga n

berat volum e tersebu

t tergolon g sebaga

i agrega t

ringan untuk

non-struktural, karen a bera

t

volumenya kurang dari 2,0 .

Pemeriksaan berat satua n

a gr e ga t dala m kondis i

SSD dilakukan

dalam dua keadaan, yait

u a g re g at

dalam k e ad a an lepas da

n padat . BefdSsafka

n

pemeriksaan yang dilakukan

dalam tiga kali

percobaan, diperole h bera

t satua n bat

u apun g

pada kondisi lepa

s da n pada t berturut -turut

sebesar 0,59 8 gram/cm

dan 3

0,656 gram/cm . 3

b. Kada r ai

r da n kada r lumpu r agrega

t

Pada penelituujAtii. ^

ik

&s ka h -psmefhcsaa n \ada

r

an Aa n kandunga

n lumpu r bat

u apun g yan

g

dianalisis dala m tig

a kal i percobaan , denga

n

berat bat u apun g yan g dianalisi s masing-masin

g

500 gram .

Hasil pemeriksaa n menunjukka

n bahw a kada r ai r

dan kandunga n lumpu

r rata-rat a bat

u apun g

tersebut berturut-turu t sebesa

r 62,6 7 % dan 45,43

%. Kandunga n lumpu

r bat u apun g disin i buka n

termasuk kadar lumpu r organi

k tetap i ab u dar i

batu apung itu sendiri.

c. Ketahana n au

s butira n agrega

t

Ketahanan aus agrega t kasa

r dapa t diperiks a

dengan menggunakan

mesin Los Angeles. Pad

a

pemeriksaan ini digunaka n conto

h butir -butir

agregat sebanya k 500

0 gra m denga

n

menggunakan 10 buah bola baja dengan

maksud

untuk mengetahui kekuata

n da n ketahana n au

s

agregat da n memberika n gambara

n kemungkina n

terjadinya pecah

butir-butir agrega t selam

a

penumpukan, pemindaha n maupu

n selam a

pengangkutan. Da n dar i hasi l pemeriksaa n

ketahanan aus pad a putara n ke-10

0 da n ke -500

diperoleh nilai keausa n bat

u apun g berturut -turut

sebesar 18,3 4 % dan 60,06

%. Diliha t dar

i hasi l

uji keausa n bat

u apun g pad a putara n k

e 50 0 lebi h

besar dar i 50%

, mak a dapa t dikataka n tida

k

memenuhi syara t untu

k materia l struktur

, hany a

untuk non struktur.

d. Gradas i butira

n agrega t

Pemeriksaan gradasi butira

n agrega t sebanya

k

1000 gra m pad

a penelitia n in

i 'mengac u pad

a

ketentuan-ketentuan S K SN I T-15-1990-0 3

mengenai ukura n butira

n yan g aka n berpengaru h

terhadap penyusunan

ayakan. Hasi l pemeriksaa n

(5)

87

menunjukkan gradasi batu apung dengan modulus kehalusan butir sebesar 6,37 berada pada daerah antara kurva I dan kurva II, dimana adukan beton yang diperoleh lebih kohesif, sehingga perlu faktor air semen yang tinggi.

3.2 Bambu dan Serat Bambu

HflSil pengujian sifat fisik bambu meliputi pengujian kadar air, kembang susut, dan kuat tarik bamboo, berikut ini disimpulkan hasil pemeriksaan secara umum.

a. K a d a r air dan kembang susut bambu

Jenis bambu yang digunakan pada pemeriksaan kadar air dan kembang susut bambu yaitu bambu Galah dengan nama botani G i g a n t o c h l o a a t t e r (Hassk) Kurz ex Munro, bambu Petung dengan nama botani D e n d r o c a l a m u s asper (Schult. F.) Backer ex Heyne yang masing-masing diperoleh di Desa Sedau, dan bambu Tutul dengan nama botani B a m h i t s a v u l g a r i s Schrad yang diperoleh di Desa Sesaot. Bambu yang digunakan kira-kira berumur 3 tahun dan bagian batang yang

dianalisis adalah bagian pangkal, tengah, dan ujung baik dengan nodia maupun tanpa nodia (internodia), yang masing-masing terdiri dari 3 sampel.

Ketiga jenis bambu di atas dipilih untuk dibandingkan karena ketiga jenis bambu tersebut memiliki kuat tarik yang cukup tinggi, masing-

masing bambu Galah 2530 kg/cm2, bambu

Petung 1900 kg/em2, dan bambu Tutul 2160

kg/cm2. Disamping kuat tariknya yang tinggi

ketiga jenis bambu tersebut dapat diperoleh di daerah Lombok.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar air dan kembang susut terkecil terdapat pada bambu Petung 9,039 %, diikuti oleh bambu Galah 11,188 %, dan yang kadar air dan kembang susutnya paling besar dimiliki oleh bambu Tutul 15,847 %. Hal ini dipengaruhi oleh umur, tempat tumbuh, jenis bambu dan waktu penebangan.

Bambu yang memiliki kadar air dan kembang susut terkecil yaitu bambu Petung seharusnya digunakan dalam penelitian ini namun sesuai

dengan tujuan dari penelitian ini agar beton ringan dengan menggunakan serat bambu ini dapat dijadikan bahan alternatif maka digunakan bambu yang banyak terdapat di daerah Lombok tetapi memiliki kadar air yang kecil atau hampir sama dengan bambu Petung yaitu bambu Galah disamping karena jenis bambu ini memiliki kuat tarik paling besar diantara ketiga jenis bambu tersebut.

b. Berat volume bambu

Untuk berat volume bambu dilakukan dalam 5 kali percobaan dengan berat masing-masing benda uji sebesar 1 gram. Hasil pemeriksaan diperoleh berat volume bambu rerata sebesar

0,203 gram/cm3.

c. K u a t tarik bambu

Untuk kuat tarik bambu dilakukan dalam 9 kali percobaan dengan mengambil masing-masing 3 benda uji pada bagian oanskal. tenyah. Ann ujung. Hasil pemeriksaan diperoleh kuat tarik batas rata-rata pada masing-masing bagian berturut-turut adalah: 51,45 M P a , 125,60 M P a ,

dan 79,60 M P a . Hasil ini jauh lebih kecil dari peneliti sebelumnya, hal ini disebabkan karena lokasi tumbuh, umur, dan waktu penebangan.

Untuk keperluan hitungan secara teoritis beban

ultimit (Pu) berdasarkan tegangan leleh bambu

terendah 51,45 MPa (514,5 kg/cm2).

3.3 K u a t T e k a n d a n K u a t T a r i k B e l a h Beton R i n g a n

3.3.1 K u a t tekan s i l i n d e r beton r i n g a n

Komposisi silinder beton yang akan diuji terbuat dari campuran semen, agregat batu apung, air dan serat bambu. Komposisi campuran semen dan batu apung, yaitu lpc : 2ba; lpc : 3ba; lpc : 4ba; lpc : 5ba; lpc : 6ba; dan lpc : 7ba, dengan f.a.s = 0,40 dapat dilihat dalam Tabel 1.

(6)

Tabel 1 . Hasi l uj i teka n silinde r beto

n ringa n tamp a pasi r pad a umu r 2 8 hari .

Kode Perbandingan

Campuran Kuat Teka

n (MPa) Kuat Teka

n Rerat a

(MPa)

BR12 i :

1 : 1 : 2 2 2 2 ,2

6 3 4,526 3,395 3,395

BR13 1 :

1 : 1 • 3 3 3 7 ,9

2 1 7 ,0 7 3

5 ,6 5 8 6 ,8

8 4

BR14 1

1 1 4 4 4 1 ,1

3 2 1 ,1 3 2

0,566 0 ,9

4 3

BR15 1

1 1 5 5 5 1 ,1

3 2 0,849 0,849 0 ,9

4 3

BR16 1

1

1

1 6 6 :6 1 ,1

3 2 0,566 0,849 0,849

BR17 1

1 1 :7 :7 : 7 0 ,5

6 6 0,849 0 ,5 6 6 0,660

Dari Tabe

diperoleh l 1

kuat teka n optimu

m

diperoleh yaitu pada komposi campura

n lp c : 3ba,

data ini kemudia n diperlakuka

n denga n

menambahkan serat-serat bambu

.

Penambahan serat-serat bambu

, denga n persentas

e

penambahan 0 % , 0, 5 % , 1 %, 1 ,5 %, da n 2 %

terhadap volume

adukan. Sera t bamb u yan g dipaka i

dengan panjang

60 mm dengan

diameter rata-rat a 1

mm. Fakto r ai

r seme n yan

g digunaka n pad

a

pembuatan silinder beto

n adala h 0,4

0 da n

perbandingan semen dengan

batu apung lpc : 3ba .

Pada umur 28 hari silinde

r beto n diuj i kua t teka n

dan tarik belah. Berdasarka

n hasi l pengujia n sla

m

pada setiap kali pengaduka n campura

n bend a uj i

silinder da n pela t diperole h nila

i sla m berkisa r

antara 2-3 cm.

Secara keseluruhan

kehancuran silinde r beto

n

umumnya terjadi pad

a bagia n atas

, ditanda i ole

h

timbulnya retak atau pecahan

tidak beraturan . Pad

a

saat sepertig a pembebana

n reta k awa l selal u terjad i

pada bagian

atas bend a uji

, selanjutny a reta

k

menyebar sediki t dem

i sediki t k

e bagia n bawah .

Penambahan retak untuk setiap peningkatan

beban

tidak selalu

merupakan kelanjutan

dari reta k

sebelumnya. Pad a saa t beba n mendekat

i beba n

maksimum retak semakin

memanjang pada daerah

retak awal da n jug a terdapa t retak-reta

k baru . Hasi l

pengujian kuat teka n secar

a umu m dapa

t diliha t

dalam Tabel 2 dan hubungan

volume fraksi da n kua t

tekan dapat diliha t dala m Gamba r 3

.

Berdasarkan hasil pengujia n kua

t teka n silinde r

beton ringan

dengan berbagai varias

i persentas e

penambahan serat bamb u k

e dala m campura n beto

n

ringan tanpa pasir denga n agrega

t kasar bat u apung ,

diperoleh hasil bahw a penambaha

n sera t bamb u k

e

dalam campuran

tersebut dapat meningkatka n kua

t

tekan beton yang dihasilkan. Ha

l in i terjad i karen a

dengan adanya

penambahan serat bamb u k

e dala m

campuran beton tersebut, mak

a beto n menjad i lebi

h

tahan retak sehingga

kekuatan yang dihasilkan

menjadi lebi h tinggi .

Dari Tabe l 2

, hasi l pengujia n kua

t teka n silinde r

beton ringan setelah berumur 2

8 har i diperole h kua

t

tekan untuk beton normal 6,88

4 MP a, maksimu m

terjadi kenaika n yan

g cuku p signifika

n denga n

penambahan serat bamb u 0,

5 % terhadap

volume

adukan sebesar 4

8 % .

Bila diperhatikan

prilaku setelah

tercapainya beban

maksimum, beto n denga n sera

t bamb u masi

h dapa t

mempertahankan tambahan

beban, yait u ditanda i

dengan beton serat tida k langsun g peca

h berkeping -

keping, karen a ad

a bagian-bagi'a n beto

n yan g terkai t

oleh serat tersebut . Pad

a beto n norma l ha

l in i tida k

tampak karena

bila telah mencapai teganga

n

maksimum beton

langsung hancur. Ha

l in i

(7)

89

Tabel 2. Hasil uji tekan silinder beton serat bambu pada umur 28 hari.

Kode Volume

Fraksi (%)

Kuat Tekan (MPa)

Kuat Tekan Rerata (MPa)

Persentase Kenaikan 1 Kuat Tekan

SABoo

0,0 0,0 0,0

7,921 7,073 5,658

6,884 0

SABos

0,5 0,5 0,5

10,610 10,610 9,337

10,186 48,0

SABio

1,0 1,0 1,0

8,488 8,935 10,610

9,344 35,7

SAB,j

1,5 1,5 1,5

7,818 9,920 8,817

8,852 28,6

S A B2 0

2,0 2,0 2,0

9,493 7,922 9,054

8,823 28,2

0.5 1.0 1.5 Volume fraksi serat (%)

2.0

Gambar 3. Hubungan antara volume silinder beton ringan.

membuktikan beton biasa bersifat getas, sehingga energi yang dapat diserap juga kecil. Sedangkan Silinder beton serat mempunyai sifat keruntuhan yang daktail. Penambahan serat memperbaiki perilaku bahan setelah mencapai tegangan atau beban puncaknya.

3.3.2 Kuat tarik-belah silinder beton ringan Komposisi campuran yang digunakan dalam pembuatan silinder beton untuk uji tarik belah sama dengan yang dipakai pada uji tekan. Keseluruhan hasil pengujian kuat tarik-belah dibandingkan dengan benda uji tanpa penambahan serat bambu (yslume fraksi 0 %). Pengujian tarik belah mengacu pada SK SNI M-60-1990-03, silinder diletakkan pada alat uji tekan dengan posisi rebah. Beban

fraksi serat bambu dan kuat tekan

vertikal dikerjakan sepanjang selimut silinder dan secara berangsur-angsur dinaikkan oemhehannnnya hingga dicapai nilai maksimum dan silinder pecah

terbelah oleh gaya tarik horizontal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kekuatan pasta semen jauh lebih tinggi daripada kekuatan agregat yang digunakan. Hal ini dapat diketahui dengan memperhatikan kenampakan bidang pecah beton, baik pada uji tekan maupun pada uji tarik- belah. Bila diamati lebih seksama, dari bidang pecah tersebut diperkirakan hampir seluruhnya batu apung tersebut pecah. Pada benda uji yang tidak terbelah menjadi dua bagian terdapat pecahan atau retaVnn yang agak teratur sepanjang sisi yang tertekan, baik pada diameter maupun pada tinggi silinder.

(8)

Hasil pengujia n kua

t tari k bela h silinde r beto

n 3.

4 Kua t Lentu r Pela

t Dindin g

ringan beriku t in i disajika n secar

a umu m hasi

l uj i

B e r d a s a r k a n h a s

il

p e n g u j

i

a n s

ili

n d e r b e t o n ringanj

tarik-bela h silinde r beto

n ringa n pad a umu r 2 8 har i ..

,„

„ , ,

o

, . n

. , , .

, ,

. t tank-bela n kua n da t teka n kua u didapatka A u ^ i T u A i u • i- ^ „ •

h . . antara hubungan dan l 3 m Tabe t dala aapat dihha

volume fraksi da n kua t tarik-bela h dapa

t diliha t

m a k s

u

P m a d a b e n d

* a d e

8 n

a

P^entase n

dalamGambar4. penambaha n sera

t bamb u sebanya

k 0, 5 % dari

volume adukan

beton. Bend a uj

i pela t dindin g

Tabel 3 . Hasi l uj i tari k bela h silinde r beto

n ringan berserat bamb

u pad a umu r 2 8 hari .

Kode Volume

Kuat Tari k Bela

Kuat Tari h

k Bela

KenaikanKuat h ) Rerata (MPa (MPa) Fraksi Kode

Tarik (%

) ) ( %

Rerata (MPa

Tarik )

(%

)

0,0 1,974

SABoo

2,031 0,0

1,850

0 1,546 0,0

0

0,5 1,980

SA B

0,5 05

2.241 2,162

1 7 2,264 0,5

1 7

1 ,0 1,878

SA B

1 ,0 10

1 ,8

2,022 7 8

9 2,311 1 ,0

1 ,5 1 ,8

9 1

SAB,

1 ,5 5

1 ,9

1,959 4 8

6 2,038 1 ,5

2,0 1 ,8

9 1

SA B

2,0 20

1 ,2

1 ,6 7 3

-12 2 1 1,698 2,0

0.5 1. 0.0

0 1.

5

Volume fraksi sera t bamb u (%

)

Gambar 4 . Hubunga n antar

a volum e fraks

i sera t bamb u da

n kua t tarik-bela h

silinder beto n ringan.

Dari hasi l pengujia n kua

t tari k bela h silinde r beto

n

setelah berumur 2

8 har i diperole h kua

t tarik-bela h

untuk beton normal sebesa

r 1,85 0 MPa , beto n sera t

bambu optimum

pada penambahan

serat 0, 5 %

yaitu, sera t bamb u 2,16 2 MP a (meningka t 1

7 %) .

tulangan bambu berukuran

128 x 5 5 x 3 cm

; 1 28 x

55 x 3, 5 cm

; 12 8 x 55 x 4 ,0 cm; 12 8 x 55 x 4 ,5 cm;

128 x 5 5 x 5,0 cm, sepert i dala

m Gamba r

1 . Pela t

dibuat sebanya k masing-masih

g 6 buah

dengan

spesifikasi 3 buah

benda uji tanp a sera t (sebaga i

pembanding), da n 3 buah

benda uji denga n

penambahan serat bamb u 0,

5 % dari volum e adukan

.

(9)

91 Pelat yang akan diuji diletakkan pada perletakan

yang tersedia, dimana jarak antar tumpuan 100 cm.

Pengujian kuat lentur dilakukan dengan pembebanan yang diberikan secara bertahap sampai pada pembebanan maksimum, dan benda uji mengalami patah atau kegagalan struktur. Hasil pengujian kuat lentur pelat dinding dapat dilihat dalam Tabel 4.

Berdasarkan hasil pengujian kuat lentur, diketahui bahwa benda uji dengan persentase penambahan serat bambu mempunyai kemampuan menahan beban lebih besar. Peningkatan tebal pelat diikuti pula dengan peningkatan kuat lentur, kecuali pelat tanpa serat mempunyai kecenderungan peningkatan yang tidak begitu tinggi dibandingkan dengan yang

Tabel 4. Hasil uji lentur pelat dinding beton ringan.

memakai serat. Ini berarti terjadi peningkatan kuat lentur akibat pengaruh dari penambahan serat yang dapat meningkatkan kuat tarik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penambahan serat bambu ke dalam campuran beton ringan tanpa pasir dengan agregat kasar batu apung dapat meningkatkan kuat lentur pelat dinding tersebut.

4. SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan

1) Kuat tekan beton ringan tanpa pasir dengan agregat batu apung maksimum terjadi kuat tekan dan kuat tarik belah pada perbandingan 1:3.

Beban Maksimum

(kg) ' Beban Maksimum Rerata

(kg) Beban

Maksimum (kg)

Kenaikan Normal Penambahan serat Bambu Normal Penambahan serat Bambu Teortis (%)

3.0 100

100 75

200 150

175 92 175 152,81 90

3.5 150

' 200 150

225 150

300 167 225 178,27 35

4.0 175

200 250

250 325

250 208 275 203,74 32

4.5 250

200 175

350 300

400 208 350 229,21 68

5.0 225

250 200

450 550

500 225 500 254,68 122

J? 600 , E 500

1 400 -

J2 300 - E 200 j

§ 100 .

—•—Normal

—»— Serat

bambu

—6— Teoritis

J? 600 , E 500

1 400 -

J2 300 - E 200 j

§ 100 .

—•—Normal

—»— Serat

bambu

—6— Teoritis

Q) V I 1 —1 1

3.0 3.5 4.0

4.5 5.0

Tebal pelat (cm)

Gambar 5. Hubungan antara beban maksimum dan tebal pelat.

(10)

2) Penambaha n sera

t bamb u k

e dala m aduka n

dapat meningkatka n kua

t teka n da n kua t

tarik-belah yang maksimal denga

n volum e

fraksi sera 5 % t 0,

pa dd perbandinga n 1

pc :

3 bat u apun g da

n fakto r ai r seme n 0

,4

sebesar 4 8 % dan

17 %, dibandingka n

dengan benda uji tanp a penambaha n serat

.

3) Kua t lentu r pela t dindin g beto

n ringa n tanp a

pasir denga n penambaha

n sera t bamb u

sebanyak 0 % dan 0,5 % pad a ketebala n

pelat 3 cm; 3, 5 cm

; 4 cm; 4, 5 cm

; da n 5 cm,

mengalami peningkata n kua

t lentu r berturut -

turut adala h 9

0 % , 3 5 % , 3 2 % , 68%

, da n

122 % , terhada p pela

t tanp a sera t bambu .

4 .2 Saran

Perlu diadakan

penelitian lebih lanjut tentan g beto

n

ringan dengan

penambahan serat alam i lainny

a

dengan persentase

yang lebih bervariasi, denga

n

faktor ai r seme n da

n perbandinga n seme

n da n

agregat ditentuka n melalu

i penelitia n pendahulua

n

sehingga didapat hasi

l yan g lebi h optimal .

DAFTAR ACUAN

Jansseri, J.J.A . (1980) , The

M

ec ha ni ca l P ro pe rt ie s of

Ba mb oo Used in C on st ru ct io n:

17 3- 18 8.

In

Lessard, G.

&

Ch ou na rd , A.

, Bambo o

Research i n Asia , IDRC , Canada .

Morisco dan Mardjono, F

. (1995) , S

tr en gh t of F ie ld

Ba mb oo J oi nt : 11 3- 12 0.

In R ao , I.

V.

R.

,

Shastry, C.B ., Ga na pa th y.

, P.

M. andJanssen,

Bamboo People

and The Environment,

Vol. 3 , Engineerin g an

d Utilization ,

IN BA R,

EBF, Governmen t o

f Netherlands , IPGRI

,

IDRC.

Surjokusumo, S . da n Nugroho ,

N.

(1993), Stud i

Penggunaan Bambu

Sebagai Baha n

Tulangan Beton, Lapora

n Penelitian ,

Fakultas Kehutana n IPB

, Bogor .

Referensi

Dokumen terkait

Faktor yang pertama adalah harga hewan ternak di pasar yang berlaku pada saat transaksi terjadi lebih rendah atau lebih tinggi dari harga jual yang ditetapkan MT Farm,

[r]

Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman Teks Cerita Anak Melalui Metode Survey, Question, Read, Recite, Review (Sq3r) D i Kelas V Sdn 2 Suntenjaya Kabupaten Bandung

Dengan terbentuknya struktur pasar oligopoli dalam industri manufaktur di Indonesia, yang merupakan bentuk persaingan tidak sempurna, maka saran yang dapat diberikan dalam

Dalam menulis lagu pada umumnya pengarang menggunakan bahasa yang indah atau bahasa yang khas, sehingga lagu yang diciptakan mempunyai nilai lebih yang bisa dilihat dari

Sebahagian dari dua puluh empat peserta yang berasal dari ketujuh provinsi tersebut adalah Odha dan Ohidha yang saling mendukung satu sama lain dalam berbagi pengalaman dan

daerah yang tertuang dalam proses penyusunan APBD mengalami perubahan.. yang sangat krusial karena di dalam proses penganggaran

We have isolated tomato leaf curl Java virus (ToLCJV), Ageratum yellow vein virus-[Java] (AYVV-[Java]), and two satellite DNAbs, DNAb01 and DNAb02, from tomato plants in