• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

47

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari tanggal 1-17 November 2022 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa tingkat akhir yang berusia 20-25 tahun keatas. Data partisipan pada penelitian ini terdapat 108 partisipan yang mengikuti penelitian ini, dimana partisipan dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Variabel bebas pada penelitian ini orientasi masa depan, sedangkan untuk variabel terikat dalam penelitian ini adalah kecemasan.

Hasil penelitian ini telah ditabulasi dan dilakukan analisa menggunakan teknik korelasi non parametrik Spearman’s Rho yang terdapat pada program IBM SPSS 25 for windows. Peneliti menggunakan teknik korelasi non parametrik Spearman’s Rho dalam pengambilan uji hipotesis dikarenakan adanya data yang tidak normal pada saat uji normalitas yang dilakukan. Hasil uji korelasi untuk membuktikan hipotesis tentang adanya hubungan antara orientasi masa depan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir sebagai berikut:

Tabel 1.7 Hasil Korelasi Spearman’s Rho

rxy p Keterangan

-0,269 0,005 Terdapat hubungan negatif

Berdasarkan uji hipotesis melalui teknik korelasi Spearman’s Rho pada penelitian ini sebesar -0,269 dengan p = 0,005 (p < 0,05). Artinya hipotesa pada penelitian ini yang mengatakan bahwa ada hubungan negatif antara orientasi masa depan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja dapat diterima.

Adapun deskripsi subjek yang mengisi skala penelitian ini sebagai berikut:

(2)

Tabel 1.8 Rekapitulasi Usia Responden

Usia Jumlah

Responden

Presentase (%)

20 Tahun 38 35,8

21 Tahun 45 42,5

22 Tahun 17 16

23 Tahun 5 4,7

24 Tahun 1 1

Total 108 100

Responden dalam penelitian ini merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan rentang umur 20-25 tahun ke atas, yang melibatkan 108 responden dengan rentang umur 20- 24 tahun. Responden dengan umur 20 tahun sebanyak 38 orang (35,8%), 21 tahun sebanyak 45 orang (45%), 22 tahun sebanyak 17 orang (16%), 23 tahun sebanyak 5 orang (4,7%), 24 tahun sebanyak 1 orang (1%).

Tabel 1.9 Rekapitulasi Semester

Semester Jumlah

Responden

Persentase (%)

5 69 65,1

7 36 34

9 1 1

Total 108 100

Pengambilan responden dari penelitian ini diambil dari semester 5-9 keatas. Semester 5 sebanyak 69 orang (65,1%), semester 7 sebanyak 36 orang (34%), semester 9 sebanyak 1 orang (1%).

(3)

Tabel 1.10 Rekapitulasi Karakteristik Responden

Sudah bekerja 14 Responden

Belum bekerja 92 Responden

Pernah mencoba melamar pekerjaan

51 Responden

Belum pernah mencoba melamar pekerjaan

55 Responden

Cemas dengan masa depan 90 Responden Tidak cemas dengan masa

depan

16 Responden

Karakteristik responden pada penelitian ini yaitu mahasiswa yang sudah bekerja dan belum bekerja, pernah mencoba melamar pekerjaan dan belum pernah mencoba melamar pekerjaan, cemas dengan masa depan dan tidak cemas dengan masa depan. Responden dalam penelitian ini yang sudah bekerja sebanyak 14 orang, yang belum bekerja sebanyak 92 orang.

Responden yang pernah mencoba melamar pekerjaan sebanyak 51 orang, yang belum pernah melamar pekerjaan sebanyak 55 orang. Responden yang cemas dengan masa depan sebanyak 90 orang, yang tidak cemas dengan masa depan sebanyak 16 orang.

Tabel 1.11 Perbandingan Mean

No Variabel Mean

Empiris

Mean Hipotetik

Keterangan

1 Orientasi masa depan

87,41 66 Orientasi

masa depan sangat Tinggi

2 Kecemasan 142,41 108 Kecemasan

sangat Tinggi Pada penelitian ini terdapat mean empiris dan mean hipotetik. Mean empiris orientasi masa depan sebesar 87,41 dan kecemasan sebesar

(4)

142,41, mean hipotetik orientasi masa depan sebesar 66 dan kecemasan sebesar 108. Dapat disimpulkan bahwa responden kategori orientasi masa depan sangat tinggi mengalami kecemasan sangat tinggi.

B. Pembahasan

Hipotesis penelitian ini dinyatakan terbukti atau dapat diterima.

berdasarkan hasil uji korelasi Spearman’s Rho yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara orientasi masa depan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Artinya mahasiswa yang belum memiliki orientasi masa depan yang jelas disebabkan karena rendahnya orientasi masa depan yang dimiliki mahasiswa. Belum memiliki kepastian bagaimana mereka kelak setelah lulus dari perguruan tinggi memicu timbulnya perasaan cemas pada mahasiswa tingkat akhir, ketidak pastian ini menyangkut orientasi masa depan mereka yang belum jelas akan seperti apa nantinya.

Orientasi masa depan merupakan tindakan yang dapat diartikan sebagai cara pandang individu yang berisi harapan, tujuan, perencanaan dan strategi pencapaiyan tujuan terhadap masa depannya. Syahrina dan Wulan (2015) menjelaskan agar orientasi masa depan berkembang dengan baik, maka sangat penting adanya pengetahuan mengenai konteks masa depan sebab dengan adanya pengetahuan dapat memberikan informasi sebagai penentu tujuan objektif dan mengontrol bagaimana realisasinya dilakukan. Oleh karena itu orientasi masa depan sangat penting bagi mahasiswa yang akan melalui periode perkembangan transisi dimana diharapkan untuk mempersiapkan diri untuk masa depan mereka. Selain itu ketika individu menentukan tujuan di masa depan, mahasiswa juga harus memiliki informasi yang cukup mengenai tujuan tersebut agar mahasiswa terkontrol dan memiliki arah yang jelas dalam mencapainya.

Orientasi masa depan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor individu dan lingkungan. Faktor individu merupakan dasar terbentuknya proses dalam orientasi masa depan yang kemudian dipengaruhi oleh lingkungan.

Orientasi masa depan sebagai antisipasi individu pada setiap tahapan perkembangannya, antisipasi perkembangan yang diamksud yaitu tugas pada setiap tahapan perkembangan yang merupakan standar kajian yang ditetapkan oleh lingkungan kemudian berhasil dicapai oleh individu. selain

(5)

itu Agusta (2015) menjelaskan faktor yang mempengaruhi orientasi masa depan yaitu konsep diri, perkembangan kognitif, jenis kelamin, usia, status sosial ekonomi, teman sebaya, dan hubungan dengan orang tua.

Halgin dan Whitbourne (dalam, Hanim & Ahlas, 2019) mengemukakan individu yang memiliki orientasi masa depan dalam hal pekerjaan dan membuat perencanaan-perencanaan terbaik untuk mengurangi perasaan cemas, gelisah, dan ketidaknyamanan terhadap kemungkinan buruk yang terjadi. Apabila individu belum memiliki orientasi masa depan terutama pada pekerjaan makan tingkat perencanaannya akan rendah sehingga menimbulkan perasaan cemas, gelisah, dan tidak nyaman saat menghadapi dunia kerja.

Kecemasan menghadapi dunia kerja adalah perasaan khawatir yang muncul karena penilaian individu mengenai tujuannya menghadapi dunia kerja sehingga menimbulkan konflik baik dari dalam diri individu maupun dari luar individu itu sendiri. Greenberg dan Padesky (2009) kecemasan merupakan suatu keadaan khawatir, gugup atau takut ketika berhadapan dengan pengalaman yang sulit dalam kehidupan seseorang dan menganggap bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Greenberg dan Padesky (2004) menyatakan terdapat dua faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam menghadapi dunia kerja, yaitu: 1) faktor kognitif mencangkup pada kecemasan yang disertai dengan keyakinan bahwa suatu hal yang buruk menimpa individu tersebut sehingga gejala fisik seperti perasaan cemas menjadi respon atas keadaan bahaya atau mengancam yang bersifat fisik maupun sosial. Pandangan atau keyakinan mengenai kecemasan yang mengancam atau berbahaya berbeda-beda antar individu satu dengan lainnya dan sebagian individu menjadikan pengalaman sebagai suatu hal yang menimbulkan persepsi bahwa mereka merasa terancam kemudian dari persepsi tersebut akan muncul perasaan cemas. Pemikiran tentang perasaan cemas ini biasanya memiliki orientasi pada masa depan dan terkadang memprediksi suatu hal tentang malapetaka. 2) Faktor kepanikan, perasaan panik timbul akibat perasaan cemas yang dialami individu secara ekstrem. Rasa panik muncul akibat dari kombinasi pada emosi dan gejala fisik pada masing-masing individu. Perasaan panik juga disertai dengan gejala-gejala perubahan pada sensasi fisik maupun mental individu yang merasakan gangguan panik

(6)

bahkan terdapat interaksi antara gejala fisik, emosi, maupun kognitif sehingga menimbulkan perubahan secara cepat. Pemikiran dari perasaan panik menimbulkan ketakutan dan kecemasan dalam diri individu hal inilah yang akan merangsang keluarnya adrenalin.

Nugroho (2010) menjelaskan kecemasan menghadapi dunia kerja adalah perasaan khawatir yang dirasakan individu ketika menghadapi dunia kerja, yang disebabkan oleh beberapa hal seperti sempitnya peluang kerja, pengalaman yang sedikit, persaingan ketat, adanya kompetisi pengetahuan dan sikap. Kecemasan menghadapi dunia kerja dialami oleh mahasiswa tingkat akhir yang memiliki rencana untuk bekerja sesuai dengan bidang yang diminati. Kecemasan dalam menghadapi dunia kerja tidak selalu tentang kecemasan negatif, ketika individu mengalami tingkat kecemasan yang wajar hal ini akan memberikan dampak yang positif bagi individu. Namun apabila individu mengalami kecemasan yang negatif akan memberikan dampak yang buruk bagi individu seperti kehilangan motivasi, kurang percaya diri, dan tidak memiliki pikiran yang rasional.

Subjek dalam penelitian ini yaitu mahasiswa tingkat akhir Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Sebagian mahasiswa tingkat akhir sudah mulai berpikir mengenai masa depan sehingga mereka tidak hanya bergantung pada gelar sarjana dan menjadi pengangguran terdidik. Mahasiswa tingkat akhir juga belum mampu mengontrol gejala kecemasan fisik seperti berkeringat, otot tegang, pusing, dan jantung berdebar. Juga kecemasan suasana hati seperti gugup, jengkel, panik, dan khawatir. Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang berjudul orientasi masa depan dan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa, dimana diketahui bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara orientasi masa depan dengan kecemasan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa orientasi masa depan menjadi salah satu faktor penting dan berhubungan dengan kemasan menghadapi dunia kerja yang dialami mahasiswa tingkat akhir. Sehingga mahasiswa tingkat akhir yang mengalami kecemasan menghadapi dunia kerja perlu memiliki persiapan perencanaan masa depan yang dapat mengoptimalkan kemampuannya dalam bersaing di dunia kerja. Mahasiswa yang mampu memprediksi tujuan karir sesuai dengan kemampuannya memiliki kematangan karir yang tinggi. Kemampuan untuk berorientasi

(7)

terhadap pekerjaan akan mempengaruhi individu dalam menyusun perencanaan karir yang lebih matang sehingga mengurangi perasaan cemas yang dialami individu. Orientasi masa depan memberikan sumbangsih sebesar 58% terhadap kecemasan menghadapi dunia kerja dan 42% dipengaruhi oleh faktor lain.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Selain dari beberapa karya di atas, Fazlur Rahman pernah menulis artikel yang berjudul “Iqbal in Modern Muslim Thoght” Rahman mencoba melakukan survei terhadap

Dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan adaptasi yang dikembangkan PDAM dan pemangku kepentingan, IUWASH juga merekomendasikan untuk mempertimbangkan aksi-aksi adaptasi

Penegakan s Penegakan sanksi anksi pidana pidana pada pasal 157 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan pada pasal 157 Undang-Undang Nomor 1 Tahun

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air Sungai Gandong dengan menggunakan bioindikator makroinvertebrata dan memanfaatkan hasil penelitian ini untuk

· Peserta didik melakukan percobaan mengenai identifikasi sifat larutan asam dan basa dengan menggunakan indikator, serta penentuan  bahan alam yang dapat dijadikan sebagai

Pada umumnya pembeli atau konsumen di pasar luar negeri sangat memperhatikan barang-barang yang mereka beli, baik itu menyangkut kualitas, harga dan waktu penyerahan

Berdasarkan pada rumus regresi korelasi untuk memprediksi tinggi badan perempuan dari populasi Jawa oleh Bergmann dan Hoo (1955), maka diperkirakan bahwa individu Leran 5