• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan religiositas terhadap pertimbangan profesional auditor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Peranan religiositas terhadap pertimbangan profesional auditor"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Peranan religiositas terhadap pertimbangan profesional auditor

Ricky Bryan D. P. Tampubolon [email protected]

Program Studi Akuntansi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Bunda Mulia, Tangerang, Indonesia

Maria Fransisca [email protected]

Program Studi Akuntansi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Bunda Mulia, Tangerang, Indonesia

Abstract

This study aims to examine the influence of task complexity, obedience pressure, and ethical perception on pertimbangan profesional, as well as to explore the role of religiosity as a moderator in the relationship between these variables. The sample used in this study consists of 37 senior and supervisory auditors in public accounting firms in Jakarta. The study uses a survey method with purposive sampling technique. The results show that task complexity has a significant positive effect on pertimbangan profesional, while obedience pressure has no significant effect, and ethical perception has a significant negative effect on pertimbangan profesional. Furthermore, task complexity, obedience pressure, and ethical perception simultaneously influence pertimbangan profesional. The study also shows that religiosity weakens the influence of task complexity on pertimbangan profesional, while strengthening the influence of obedience pressure on pertimbangan profesional. However, religiosity does not moderate the influence of ethical perception on pertimbangan profesional. This study provides an important contribution to public accounting firms and external auditors in developing professional training and development programs aimed at improving audit quality and addressing obedience pressure related to increasingly complex tax avoidance practices.

Keywords: tax complexity; obedience pressure; ethical perception; religiosity; pertimbangan profesional

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis terhadap pertimbangan profesional, serta untuk mengeksplorasi peran religiositas sebagai moderator dalam hubungan antara variabel tersebut. Sampel yang digunakan adalah 37 auditor senior dan supervisor pada KAP yang ada di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas tugas berpengaruh positif signifikan terhadap pertimbangan profesional, sementara tekanan ketaatan tidak berpengaruh signifikan, dan persepsi etis berpengaruh negatif signifikan terhadap pertimbangan profesional. Selain itu, kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis secara simultan berpengaruh terhadap pertimbangan profesional. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa religiositas memperlemah pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional tetapi memperkuat pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional. Namun, religiositas tidak memoderasi pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan profesional. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi KAP dan auditor eksternal dalam mengembangkan program pelatihan dan pengembangan

(2)

profesional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas audit dan menangani tekanan ketaatan yang terkait dengan praktik penghindaran pajak yang semakin kompleks.

Kata kunci: kompleksitas tugas; tekanan ketaatan; persepsi etis; religiositas; pertimbangan professional

PENDAHULUAN

Perusahaan yang menawarkan saham kepada masyarakat harus bertanggung jawab secara publik dengan cara melaporkan kinerjanya melalui annual report. Laporan ini menyuguhkan informasi terkait kinerja perusahaan selama periode tertentu, sehingga masyarakat dapat mengevaluasi kinerja dari perusahaan itu. Dengan demikian, perusahaan harus mengeluarkan annual report tepat waktu. Hal ini dikarenakan laporan yang terlambat diterbitkan dapat memberikan informasi yang tidak relevan (Kurniawati, 2016).

Publik mengalami kesulitan untuk memercayai laporan keuangan perusahaan sebelum diperiksa oleh auditor independen karena persaingan yang ketat antar perusahaan, dari yang berskala besar hingga kecil. Itu menyebabkan manajemen di perusahaan melakukan praktik earning management (Pangestu, 2022). Oleh karena itu, setelah selesai memeriksa financial statement, auditor harus memberikan opini yang sejalan dengan fakta. Opini audit tersebut kemudian menjadi acuan bagi pengguna laporan keuangan untuk mempercayai laporan keuangan tersebut. Namun, skandal-skandal akuntansi yang telah terjadi menimbulkan keraguan dari para stakeholder apakah opini audit telah diberikan secara tepat oleh auditor.

Skandal-skandal akuntansi yang menimpa berbagai perusahaan telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan stakeholders. Meskipun perusahaan-perusahaan tersebut telah diaudit oleh KAP dengan reputasi yang sangat baik, opini yang diberikan tidak mencerminkan kinerja perusahaan dengan benar. Padahal, stakeholders sangat bergantung pada auditor eksternal dalam menggunakan laporan keuangan, dan ketergantungan ini menjadi masalah besar karena auditor ternyata tidak memberikan opini yang akurat terhadap perusahaan yang terkena skandal.

Skandal akuntansi yang paling terkenal di dalam dunia bisnis adalah skandal yang terjadi pada perusahaan Enron, Satyam, dan WorldCom (Bhadeshiya, 2015). Selain perusahaan tersebut, ada juga skandal akuntansi yang terjadi pada perusahaan lain, yaitu Luckin Coffee (Feng & Chen, 2021) dan Wirecard (Jo, Hsu, Popolizio, & Vega, 2021). Skandal ini telah merugikan banyak investor dan dalam jumlah besar. Padahal, apabila auditor memberikan opini auditnya dengan benar, maka investor akan dapat mengambil keputusan yang tepat untuk meminimalkan kerugian.

Skandal akuntansi lain yang juga terjadi adalah skandal pada Waste Management Inc. yang terjadi pada tahun 1998 (Nevin, Rao, & Jr., 2014). Perusahaan diketahui telah memalsukan pendapatan sebesar $1,7 miliar. Pemalsuan pendapatan ini terjadi dari tahun 1992 sampai dengan 1997. Kantor akuntan publik yang melakukan audit atas Waste Management adalah KAP Arthur Anderson. Atas skandal yang terjadi, CEO A. Maurice Meyers dinyatakan bersalah dan SEC mendenda Arthur Anderson sebesar lebih dari $7 juta.

KAP Arthur Anderson juga memiliki andil dalam skandal akuntansi Enron yang terjadi pada tahun 2001. Hasil investigasi menemukan bahwa Enron memanfaatkan celah akuntansi untuk menyembunyikan kredit macet sebanyak miliaran dolar. Skandal Enron ini membuat KAP Arthur Anderson harus dibubarkan.

Pembubaran Arthur Anderson tidak serta merta membawa perubahan positif pada dunia bisnis. Skandal akuntansi masih saja terjadi, seperti pada Luckin Coffee. Perusahaan ini telah mengakui pendapatan fiktif paling tidak sebesar $310 juta. Skandal ini membuat perusahaan dihapus (delisting) dari bursa NASDAQ.

(3)

Skandal akuntansi yang lain terjadi pada Wirecard. Pada awalnya, Wirecard dianggap sebagai salah satu perusahaan teknologi paling sukses di Jerman. Namun, perusahaan ini akhirnya menyatakan bangkrut pada 25 Juni 2020. Padahal, Wirecard sebelumnya mengakui kepemilikan atas kas sebesar lebih dari $2 miliar. Ini membuktikan bahwa sebenarnya Wirecard tidak memiliki kas sebesar itu. Kantor akuntan publik yang terlibat dalam skandal ini adalah KAP Ernst & Young (EY). Oleh karena skandal yang terjadi, banyak investor Wirecard yang mengambil tindakan hukum terhadap KAP EY.

Dalam rangka mencegah skandal akuntansi, KAP sebagai penyedia jasa audit perlu terus meningkatkan kualitas pelayanan jasa audit melalui peningkatan kualitas audit (Olivia, 2019).

Peningkatan ini ditujukan untuk memberikan opini audit dengan tepat agar dapat menghindari skandal akuntansi. Opini audit diberikan oleh auditor berdasarkan pertimbangan profesional auditor, yaitu penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan, dalam konteks standar audit, akuntansi, dan etika, dalam membuat keputusan yang diinformasikan tentang tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi dalam perikatan audit (Institut Akuntan Publik Indonesia, 2008). Meskipun demikian, terdapat perbedaan pertimbangan profesional antara satu auditor dengan auditor lainnya, sehingga beberapa perusahaan mungkin lebih memilih KAP tertentu daripada KAP lainnya.

Kesalahan auditor ketika memperoleh, memproses, dan mengevaluasi setiap informasi dapat disebabkan oleh tugas yang kompleks. Kompleksitas tugas ini terdiri dari beberapa bagian yang beragam dan saling terkait, sehingga dapat membingungkan auditor dan memengaruhi pertimbangan profesional mereka (Maghfirah, 2018).Untuk mengatasi masalah tersebut, auditor perlu meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dalam menghadapi tugas-tugas yang kompleks. Selain itu, manajemen KAP juga dapat memberikan dukungan dan sumber daya yang cukup kepada auditor agar mereka dapat menyelesaikan setiap tugas-tugas itu secara baik. Dengan begitu, kesalahan-kesalahan dalam audit dapat diminimalkan, dan opini audit yang diberikan dapat lebih akurat dan dipercaya oleh stakeholders entitas yang diaudit.

Tekanan untuk mematuhi (compliance pressure) seringkali dialami oleh karyawan termasuk auditor. Tekanan ketaatan merupakan hal yang dihadapi oleh kebanyakan auditor muda yang mendorong mereka terpaksa melakukan perilaku yang tidak sesuai dengan baik standar di dalam etika maupun profesionalisme, baik dari pemimpin mereka maupun dari entitas yang sedang diperiksa (Muslim, 2018). Dalam kata lain, tekanan ketaatan ini didapatkan auditor dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan. Meskipun begitu, auditor tetap harus melakukan audit sejalan dengan etika profesi dan standar audit. Hal ini akan menyebabkan konflik di dalam diri auditor karena auditor harus memilih antara mematuhi etika profesi dan standar audit atau mematuhi perintah dari atasan dan/atau auditee.Namun, di sisi lain, ketika auditor mengalami tekanan ketaatan yang berlebihan, hal ini dapat memengaruhi independensi auditor dan kualitas audit yang dihasilkan. Oleh karena itu, KAP perlu memberikan perhatian khusus pada masalah tekanan ketaatan dalam pengembangan program pelatihan dan manajemen risiko. Dengan demikian, diharapkan auditor dapat menjaga integritas dan independensi dalam melaksanakan tugas audit mereka.

Perilaku etis merujuk pada keperilakuan yang sejalan dengan (1) norma, (2) aturan, dan (3) hukum yang berlaku (Himmah, 2013). Meskipun seorang auditor memiliki keterampilan dan keahlian yang cukup, namun ketika ia tidak memiliki kesadaran etis dalam melaksanakan pekerjaannya, maka hal tersebut menjadi dampak buruk atas hasil audit yang dihasilkan.

Auditor, apabila tidak memiliki kesadaran etis yang baik, cenderung mengabaikan prosedur audit yang seharusnya dilakukan demi mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, pengembangan dan penguatan nilai-nilai etis sangat penting dalam profesi audit, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap profesi audit dan hasil audit. Upaya peningkatan yang dapat dilakukan adalah melalui pelatihan dan pengembangan etika profesi bagi auditor, serta penerapan sanksi tegas bagi auditor yang melanggar kode etik profesi audit.

(4)

Religiositas dapat dijelaskan sebagai suatu konsep yang mencakup sistem kepercayaan, gaya hidup, kegiatan keagamaan, dan pengertian intuitif. Ini menghasilkan makna pada kehidupan yang dijalani manusia serta memperkuat nilai-nilai kesucian atau tertinggi (Nazaruddin, dalam Surya 2019). Individu yang memiliki nilai religius yang kuat cenderung mencerminkan nilai religius di dalam kehidupannya yang sehari-hari, tentu saja termasuk di dalam bidang pekerjaan. Oleh karena itu, terdapat asumsi bahwa religiositas memiliki peran penting dalam pembentukan pertimbangan profesional.

Penelitian ini dibuat guna melihat bagaimana pengaruh dari (1) kompleksitas tugas, (2) tekanan ketaatan, dan (3) persepsi etis terhadap pertimbangan profesional dengan religiositas sebagai moderasi. Ini bagus untuk dilakukan karena pertimbangan profesional adalah penentu bagi auditor untuk memberikan opini audit. Apabila pertimbangan profesional buruk, maka opini audit yang dihasilkan tentu tidak akan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Raiyani (2014) menemukan bahwasanya tugas yang kompleks berpengaruh positif terhadap pertimbangan profesional. Namun, penelitian sebelumnya dari Yustrianthe (2012) menemukan bahwasanya tugas yang kompleks berpengaruh positif terhadap pertimbangan profesional. Ini mengindikasikan bahwa belum ada kesepakatan mengenai bentuk pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional.

Surya (2019) menemukan bahwasanya tekanan berpengaruh terhadap judgment. Itu didukung dengan penelitian Tampubolon (2018) bahwasanya tekanan ketaatan berpengaruh positif signifikan terhadap pertimbangan profesional. Namun, Sari (2016) dan Rumondang (2022) justru menemukan bahwasanya tekanan ketaatan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan profesional. Padahal, secara teori, tekanan ketaatan seharusnya berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan profesional.

Surya (2019) menemukan bahwa religiositas mampu memperlemah pengaruh dari tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional. Namun, itu belum pasti terjadi di populasi yang lain. Religiositas yang tinggi masih tetap memiliki potensi untuk tidak memperkuat ataupun memperlemah tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional.

KAJIAN TEORI

Teori professional judgment

Judgment professional (pertimbangan profesional) merupakan penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan, dalam konteks standar audit, akuntansi, dan etika, dalam membuat keputusan yang diinformasikan tentang tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi dalam perikatan audit (Institut Akuntan Publik Indonesia, 2008). Sejalan dengan itu, pertimbangan profesional juga dapat didefinisikan sebagai penerapan akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui pelatihan akuntansi atau audit yang relevan, dengan menggunakan standar etika, yang menghasilkan keputusan yang tepat tentang tindakan yang tepat dalam keadaan tertentu, seperti misi audit dan/atau akuntansi atas transaksi ekonomi, dengan memperhatikan prinsip-prinsip akuntansi (Ivan, 2016).

Teori keputusan

Teori keputusan merupakan teori yang menyatakan bahwa setiap investor memiliki ekspektasi awal (prior-expectation) terhadap satu perusahaan berdasarkan informasi yang dimilikinya (Sumanti & Kandouw, 2011).Dalam konteks ini, auditor dapat memainkan peran penting dalam memberikan informasi yang akurat dan terpercaya tentang perusahaan kepada para pemangku kepentingan. Dengan demikian, auditor dapat membantu investor dalam membuat keputusan investasi yang lebih baik dan berdasarkan informasi yang benar-benar memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, kemampuan auditor dalam memahami teori

(5)

keputusan dan menerapkannya dalam pekerjaan mereka sangat penting untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan.

Teori keputusan menekankan pada pentingnya pengambilan keputusan yang rasional dan logis dengan mempertimbangkan semua informasi yang tersedia. Teori keputusan dapat membantu auditor dalam melakukan penilaian independen yang objektif terhadap proses bisnis perusahaan dengan mempertimbangkan informasi yang ada. Dalam hal ini, auditor harus mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang relevan dan dapat dipercaya untuk membuat keputusan yang tepat terkait efektivitas dan efisiensi operasi perusahaan serta kepatuhan terhadap kebijakan dan regulasi yang berlaku.

Pertimbangan profesional auditor

Pertimbangan profesional dikenal sebagai pertimbangan dalam membangun opini terhadap laporan keuangan suatu perusahaan setelah melalui proses audit. Sejalan dengan ini, Arifuddin (2014) menyatakan bahwa pertimbangan audit adalah pertimbangan yang memengaruhi dokumentasi bukti dan keputusan opini yang dibuat oleh auditor. Dalam membentuk kebijakan tersebut, auditor akan melakukan penilaian yang sistematis dan kritis terhadap laporan keuangan. Tujuan dari pertimbangan profesional adalah guna memberikan reasonable assurance dan memadai atas financial statement yang sedang diaudit. Keputusan penting akan diambil oleh auditor dalam membentuk pertimbangan profesional dan itu akan berdampak langsung pada kredibilitas laporan keuangan yang diaudit.

Proses pembentukan pertimbangan profesional melibatkan beberapa faktor penting, antara lain adalah aspek materialitas, risiko, dan ketidakpastian (Agoes, 2012). Auditor akan mengevaluasi setiap aspek tersebut secara cermat untuk membentuk pertimbangan profesional yang akurat. Misalnya, auditor harus mempertimbangkan faktor materialitas dalam menilai apakah suatu kesalahan pada financial statement akan memengaruhi pengguna financial statement.

Selain itu, auditor juga harus mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dari fraud atau error dalam laporan keuangan. Auditor harus memastikan bahwa mereka telah melakukan pengujian yang cukup untuk meminimalkan risiko tersebut. Terakhir, auditor harus mempertimbangkan ketidakpastian dalam proses audit, seperti penggunaan estimasi oleh manajemen atau adanya informasi yang tidak lengkap. Semua faktor ini harus diperhitungkan oleh auditor dalam membentuk pertimbangan profesional.

Pembentukan pertimbangan profesional oleh auditor harus didasarkan pada informasi yang valid dan akurat. Auditor harus memeriksa dan menilai semua bukti audit yang telah mereka kumpulkan. Setelah itu, auditor harus membentuk opini yang wajar dan memadai berdasarkan pada hasil audit mereka. Opini, yang diberikan oleh auditor, kemudian dipakai oleh pemakai financial statement untuk membuat keputusan bisnis yang penting, sehingga sangat penting bagi auditor untuk membentuk pertimbangan profesional dengan hati-hati dan akurat.

Kompleksitas tugas

Dalam dunia bisnis, kompleksitas tugas dapat didefinisikan sebagai kesulitan dan kerumitan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Kompleksitas tugas dapat terjadi dalam berbagai bidang, termasuk dalam audit dan akuntansi. Kompleksitas tugas audit dan akuntansi terutama berkaitan dengan tugas-tugas yang memerlukan pemahaman mendalam tentang standar akuntansi dan keuangan, hukum dan peraturan, dan teknologi yang terus berkembang.

Selain itu, kompleksitas tugas juga dipengaruhi oleh lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat dan persyaratan pelaporan keuangan yang semakin ketat.

Contoh tugas audit auditor adalah melakukan evaluasi terhadap sistem pengendalian internal perusahaan, melakukan pengujian atas bukti-bukti transaksi, serta melakukan penilaian

(6)

terhadap risiko fraud dan error. Hal ini memerlukan pemahaman mendalam tentang standar audit dan teknologi informasi.

Kompleksitas tugas juga dapat timbul karena banyaknya pemangku kepentingan atau stakeholder yang terlibat dalam tugas tersebut. Dalam dunia bisnis, terdapat berbagai stakeholder yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda, seperti pemegang saham, karyawan, pemerintah, dan masyarakat umum. Setiap stakeholder memiliki persyaratan pelaporan dan informasi yang berbeda-beda, sehingga menambah kompleksitas dalam tugas audit. Selain itu, kompleksitas tugas juga berkaitan dengan berbagai risiko yang terkait dengan tugas tersebut. Misalnya, dalam tugas audit, auditor harus menilai risiko fraud dan error, risiko reputasi, serta risiko hukum.

Tekanan ketaatan

Dalam praktiknya, auditor sering menghadapi tekanan untuk mematuhi keinginan klien atau atasan mereka, bahkan jika itu melibatkan tindakan yang tidak etis. Fenomena ini dikenal sebagai tekanan ketaatan. Tekanan ini dapat terjadi pada semua tingkatan organisasi, dari auditor junior hingga partner di sebuah kantor akuntan publik. Tekanan ketaatan sering kali terjadi ketika auditor merasa sulit untuk menolak permintaan atau instruksi klien atau atasan mereka, meskipun mereka tahu bahwa tindakan tersebut mungkin tidak benar atau tidak etis.

Tekanan ketaatan dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk manajemen klien yang menginginkan laporan keuangan yang menguntungkan atau melakukan manipulasi laporan keuangan. Tekanan juga dapat datang dari atasannya sendiri, yang mungkin memiliki target penjualan atau hasil yang harus dipenuhi, dan memberikan instruksi kepada auditor untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, tekanan juga dapat berasal dari rekan kerja atau kolega, yang dapat memengaruhi auditor untuk mengikuti perilaku yang dianggap umum dalam lingkungan kerja mereka.

Tekanan ketaatan dapat berdampak negatif pada integritas dan independensi auditor, serta dapat merugikan kepentingan publik. Ketika auditor tidak mampu menolak tekanan klien atau atasan mereka, laporan keuangan perusahaan mungkin tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini dapat mempengaruhi keputusan investor, kreditor, dan stakeholder lainnya, yang bergantung pada keandalan informasi dalam laporan keuangan.

Untuk mengatasi tekanan ketaatan, auditor harus membangun kemampuan untuk menolak permintaan yang tidak etis atau tidak sah. Auditor harus memiliki integritas, independensi, dan objektivitas yang tinggi dalam menjalankan tugas mereka. Mereka harus memahami dan mematuhi standar etika dan standar audit yang berlaku, serta memiliki keberanian untuk melaporkan perilaku yang tidak etis atau tidak sah.

Manajemen kantor akuntan publik harus memastikan bahwa auditor memiliki lingkungan kerja yang mendukung integritas dan independensi mereka. Manajemen harus memastikan bahwa prosedur audit dan pengendalian kualitas yang memadai telah diimplementasikan dan dipatuhi, serta memberikan pelatihan dan dukungan yang diperlukan kepada auditor untuk menghadapi tekanan ketaatan.

Dalam situasi ekstrem, di mana auditor merasa terancam atau tidak dapat menolak permintaan klien atau atasan mereka, mereka harus melaporkan perilaku tersebut kepada otoritas yang berwenang atau melepaskan diri dari tugas audit. Tindakan ini mungkin sulit atau merugikan bagi auditor secara finansial atau profesional, tetapi itu adalah tindakan yang benar dan etis, serta dapat memastikan keandalan laporan keuangan perusahaan.

Persepsi etis

Persepsi etis merupakan suatu konsep yang penting dalam audit. Persepsi etis dapat didefinisikan sebagai pandangan atau sikap seseorang terhadap perilaku etis yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukannya. Auditor dengan persepsi etis tinggi, biasanya akan

(7)

mempertimbangkan aspek etika dalam setiap keputusan atau tindakan yang dilakukannya.

Dalam konteks audit, persepsi etis sangat penting karena auditee mengandalkan auditor untuk memberikan opini yang adil dan objektif mengenai laporan keuangan.

Auditor harus mempertimbangkan standar etika yang ditetapkan oleh profesi auditor. Hal ini mencakup integritas, objektivitas, kompetensi, kerahasiaan, dan keterbukaan. Integritas mengacu pada kewajiban seorang auditor untuk bertindak dengan jujur dan etis. Objektivitas mengacu pada kemampuan seorang auditor untuk mempertimbangkan semua fakta dan bukti yang relevan dalam membuat keputusan yang adil dan obyektif. Kompetensi mengacu pada kemampuan seorang auditor untuk melakukan tugas-tugasnya dengan baik dan mempertimbangkan semua hal yang relevan. Kerahasiaan mengacu pada kewajiban seorang auditor untuk menjaga kerahasiaan informasi yang diperolehnya selama melakukan audit.

Keterbukaan mengacu pada kewajiban seorang auditor untuk memberikan informasi yang jelas dan terbuka mengenai tugas-tugas dan tanggung jawabnya.

Auditor memiliki tanggung jawab terhadap stakeholder, seperti pemilik saham, kreditur, dan publik, untuk memberikan informasi yang benar dan objektif mengenai laporan keuangan perusahaan. Sebagai auditor yang independen, auditor memiliki kewajiban moral dan profesional untuk bertindak dengan integritas, objektivitas, dan kecermatan dalam melakukan audit. Persepsi etis seorang auditor dapat memengaruhi kemampuannya untuk memenuhi tanggung jawab ini.

Religiositas

Religiositas adalah dasar yang dipunyai seseorang untuk membuat komitmen pada ajaran agama yang dipeluknya dalam hal keperilakuan sebagai seorang individu dalam (1) bertindak dan (2) bersikap (Winarsih, 2018). Landasan ini dijadikan pedoman oleh manusia (tidak setiap manusia) dalam menjalani hidup, termasuk dalam pekerjaan. Dengan begitu, pekerjaan yang dilakukannya menjadi pekerjaan yang berlandaskan nilai-nilai religius.

Judgment yang dibuat oleh auditor berasal dari nilai-nilai yang dimiliki oleh auditor.

Religiositas seharusnya memiliki andil dalam judgment yang dibangun auditor. Ini disebabkan karena nilai-nilai religius memberikan pedoman bagi auditor untuk menghadapi setiap masalah yang ditemuinya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat kuantitatif. Populasinya adalah auditor senior dan supervisor di KAP yang ada di Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Sampel yang memberi respon ada 37 orang auditor dengan jabatan senior auditor dan supervisor.

Kompleksitas tugas berpengaruh terhadap pertimbangan profesional

Penelitian dari Surya (2018), Muslim (2018), dan Putri (2018) menunjukkan bahwasanya kompleksitas tugas berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan profesional sehingga hipotesisnya adalah:

H1: Kompleksitas tugas berpengaruh negatif terhadap pertimbangan professional.

Tekanan ketaatan berpengaruh terhadap pertimbangan profesional

Penelitian dari Tampubolon (2018), Pramuditha (2020), dan Sari (2017) menunjukkan bahwasanya tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan profesional sehingga hipotesisnya adalah:

(8)

H2: Tekanan ketaatan berpengaruh negatif terhadap pertimbangan professional.

Persepsi etis berpengaruh terhadap pertimbangan profesional

Penelitian dari Riantono (2018) dan Operasianti (2015) menunjukkan bahwasanya persepsi etis berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan profesional sehingga hipotesisnya adalah:

H3: Persepsi etis berpengaruh positif terhadap pertimbangan professional.

Kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis berpengaruh terhadap pertimbangan profesional

Penelitian dari Pangesti & Setyowati (2018) menunjukkan bahwasanya kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis berpengaruh terhadap pertimbangan profesional sehingga hipotesisnya adalah:

H4: Kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis berpengaruh terhadap pertimbangan professional.

Religiositas memoderasi pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional

Penelitian dari Surya (2018) menunjukkan bahwasanya religiositas memoderasi pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional sehingga hipotesisnya adalah:

H5: Religiositas dapat memperlemah pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan professional.

Religiositas memoderasi pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional Penelitian dari Surya (2019) menunjukkan bahwasanya religiositas memoderasi pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional sehingga hipotesisnya adalah:

H6: Religiositas dapat memperlemah pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan professional.

Religiositas memoderasi pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan profesional Hipotesis untuk ketiga variabel ini adalah:

H7: Religiositas dapat memperkuat pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan professional.

Kerangka pemikiran dan model penelitian

Gambar 1. Kerangka pemikiran teoretis Kompleksitas Tugas (X1)

Tekanan Ketaatan (X2) Persepsi Etis (X3)

Religiositas (M)

Pertimbangan profesional (Y)

(9)

Model penelitian

Model penelitian dalam penelitian ini ada dua, yaitu:

1. Menguji hipotesis 1-3

Yi = a + b1X1i + b2X2i + b3X3i + ei (1) 2. Menguji hipotesis 5-7

Yi = a + b1X1i + b2X2i + b3X3i + b4Zi + b5X1i.Zi + b6X2i.Zi+ b7X3i.Zi + ei (2)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Uji validitas

Tabel 1. Hasil uji validitas

X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X1.10

Kompleksitas tugas

Pearson Correlation

,519 ,540 ,636 ,488 ,486 ,634 ,636 ,359 ,588 ,456

Sig. (2-tailed) ,001 ,001 ,000 ,002 ,002 ,000 ,000 ,029 ,000 ,005 Tekanan

ketaatan

Pearson Correlation

,648 ,482 ,710 ,438 ,434 ,569 ,407 ,531 ,541 ,530

Sig. (2-tailed) ,000 ,003 ,000 ,007 ,007 ,000 ,013 ,001 ,001 ,001 Persepsi etis Pearson

Correlation

,567 ,589 ,571 ,484 ,485 ,557 ,395 ,576 ,616 ,405

Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,002 ,002 ,000 ,016 ,000 ,000 ,013 Religiositas Pearson

Correlation

,589 ,539 ,632 ,485 ,659 ,511 ,360 ,535 ,542 ,381

Sig. (2-tailed) ,000 ,001 ,000 ,002 ,000 ,001 ,029 ,001 ,001 ,020 Pertimbangan

profesional auditor

Pearson Correlation

,460 ,598 ,633 ,531 ,607 ,513 ,443 ,494 ,665 ,402

Sig. (2-tailed) ,004 ,000 ,000 ,001 ,000 ,001 ,006 ,002 ,000 ,014

N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37

Tabel-tabel di atas menunjukkan bahwasanya nilai signifikansi untuk setiap pertanyaan < dari 0,05 sehingga valid.

Uji relibialitas

Tabel 2. Hasil uji relibialitas

Variable Cronbach's Alpha N

Kompleksitas tugas ,719 10

Tekanan ketaatan ,713 10

Persepsi etis ,710 10

Religiositas ,705 10

Pertimbangan profesional auditor ,725 10

Tabel-tabel di atas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha setiap variabel adalah > dari 0,7.

Ini menunjukkan bahwa kuesioner untuk setiap variabel adalah reliabel.

(10)

Asumsi klasik Uji normalitas

Tabel 3. Hasil uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov)

Elements Unstandardized

residual

Normal parametersa,b Mean ,0000000

Std. deviation 6,59359629 Most extreme

differences

Absolute ,110

Positive ,107

Negative -,110

Test statistic ,110

Asymp. sig. (2-tailed) ,200c.d

a. Test distribution is normal. (N=37)

Tabel pengujian normalitas, metode K-S, menunjukkan signifikansi sebesar 0,200, sehingga data adalah normal.

Uji multikolinearitas

Tabel 4: Hasil uji multikolinearitas Tolerance VIF

Kompleksitas tugas ,970 1,031

Tekanan ketaatan ,979 1,022

Persepsi etis ,973 1,028

Religiositas ,976 1,024

Nilai tolerance > 0,1 dan VIF < 10 sehingga tidak memiliki gejala multikolinearitas.

Uji heteroskedastisitas

Tabel 5. Hasil uji heteroskedastisitas

B Std. error Beta t Sig.

(Constant) ,128 4,573 ,028 ,978

Kompleksitas tugas ,137 ,073 ,317 1,888 ,068

Tekanan ketaatan -,040 ,076 -,088 -,527 ,602

Persepsi etis ,032 ,077 ,071 ,421 ,677

Religiositas ,046 ,077 ,101 ,604 ,550

Signifikansi setiap variabel > 0,05, yaitu 0,068, 0,602, 0,677, dan 0,550 sehingga tidak menunjukkan heteroskedastisitas.

Uji autokorelasi

Tabel 6. Hasil uji autokorelasi R R square Adjusted R

square

Std. error of the estimate

Durbin- Watson

,454a ,206 ,107 6,994 2,097

1,7375 (du) < 2,097 (D-W) < 2,2625 (4-du) sehingga tidak ada masalah autokorelasi.

(11)

Analisis regresi linear berganda

Tabel 7. Hasil regresi linear berganda

B Std. error Beta t Sig.

(Constant) 32,286 7,402 4,362 ,000

Kompleksitas tugas ,378 ,145 ,403 2,601 ,014

Tekanan ketaatan -,105 ,150 -,107 -,701 ,488

Persepsi etis -,346 ,154 -,348 -2,244 ,032

Persamaan regresi Y = 32,286 + 0,378X1 – 0,105X2 – 0,346X3 + e

Pertama, konstanta dari persamaan linear berganda ini adalah 32,286 yang menunjukkan nilai audit judgment ketika kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis memiliki nilai konstan. Kedua, koefisien regresi kompleksitas tugas sebesar 0,378 dengan tanda positif.

Ini menandakan bahwa setiap peningkatan nilai variabel kompleksitas tugas akan meningkatkan nilai pertimbangan profesional sebesar 0,378. Ketiga, koefisien regresi variabel tekanan ketaatan sebesar 0,105 dengan tanda negatif. Ini menunjukkan bahwanya setiap peningkatan nilai tekanan ketaatan akan menurunkan nilai pertimbangan profesional sebesar 0,105. Keempat, koefisien regresi persepsi etis 0,346 dengan tanda negatif. Hal ini menandakan bahwa setiap peningkatan nilai variabel persepsi etis akan menurunkan nilai pertimbangan profesional sebesar 0,346. Hasil ini juga memberikan kesimpulan atas pengujian hipotesis. Dari t hitung kompleksitas tugas 2,601, signifikansi 0,014, bernilai positif, maka H1 ditolak.

Kemudian, t hitung tekanan ketaatan -0,701 dan signifikansi sebesar 0,488, maka H2 ditolak.

Dan, t hitung persepsi etis -2,244, signifikansi sebesar 0,032, bernilai negatif, maka H3 ditolak.

Analisis regresi moderasi

Tabel 8. Hasil regresi moderasi

B Std. error Beta t Sig.

(Constant) 77,538 16,752 4,629 ,000

Kompleksitas tugas -,347 ,339 -,531 -1,025 ,314

Tekanan ketaatan -,817 ,338 -1,189 -2,417 ,022

Persepsi etis -,456 ,401 -,657 -1,138 ,265

Religiositas -1,506 ,541 -2,166 -2,781 ,009

Kompleksitas tugas * religiositas ,025 ,011 1,497 2,179 ,038 Tekanan ketaatan * religiositas ,023 ,011 1,509 2,115 ,043

Persepsi etis * religiositas ,004 ,013 ,232 ,284 ,778

Regresi moderasi Y = 77,538 – 0,347X1 – 0,817X2 – 0,456X3 – 1,506Z + 0,025X1*Z + 0,023X2*Z + 0,004X3*Z + e

Dari hasil tersebut, dapat dijelaskan bahwa, koefisien regresi untuk kompleksitas tugas yang dimoderasi religiositas adalah sebesar 0,025 dan bertanda positif. Ini menunjukkan bahwasanya kenaikan variabel “kompleksitas tugas x religiositas” akan mengakibatkan variabel pertimbangan profesional naik sebesar 0,025. Selain itu, koefisien regresi untuk tekanan ketaatan yang dimoderasi religiositas adalah sebesar 0,023 dan bertanda positif. Ini menunjukkan bahwasanya kenaikan variabel “tekanan ketaatan x religiositas” akan mengakibatkan variabel pertimbangan profesional naik sebesar 0,023. Dan, koefisien regresi untuk persepsi etis yang dimoderasi religiositas adalah sebesar 0,004 dan bertanda positif. Ini menunjukkan bahwasanya kenaikan variabel “persepsi etis x religiositas” akan mengakibatkan variabel pertimbangan profesional naik sebesar 0,004.

(12)

Koefisien determinasi

Tabel 9. Koefisien determinasi R R square Adjusted R

square

Std. error of the estimate

,501a ,251 ,183 6,689

Koefisien korelasi (R) adalah sebesar 0,501 sehingga variabel independen dan variabel dependen memiliki derajat korelasi sebesar 50,1%. Koefisien determinasi adjusted R Square adalah sebesar 0,183 sehingga 18,3% dari variabel pertimbangan profesional dapat dijelaskan oleh variabel kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis. Sisanya sebesar 81,7%

adalah dari variabel lain di luar penelitian ini.

Tabel 10. Koefisien determinasi setelah moderasi R R square Adjusted R

square

Std. error of the estimate

,563a ,317 ,152 6,818

Setelah moderasi, maka hasil analisis menunjukkan angka adjusted R Square sebesar 0,152 sehingga 15,2% dari variabel pertimbangan profesional bisa dijelaskan oleh kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis yang dimoderasi oleh variabel religiositas. Sisanya sebesar 84,8% adalah berasal dari variabel lain di luar penelitian ini.

Uji F (Simultan)

Tabel 11. Hasil uji F (Simultan)

Sum of squares df Mean square F Sig.

Regression 495,781 3 165,260 3,694 ,021b

Residual 1476,327 33 44,737

Total 1972,108 36

Dari hasil tersebut terdapat nilai signifikansi 0,021 yang lebih kecil dari 0,05, maka H4 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa, secara bersamaan, kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis berpengaruh terhadap pertimbangan professional.

PEMBAHASAN

Pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional

T hitung 2,601, signifikansi 0,014, bernilai positif sehingga H0 menjadi ditolak.

Pengaruhnya bersifat positif signifikan. Artinya, semakin kompleks tugas, maka semakin bagus pertimbangan profesional.

Tugas yang kompleks memainkan peran penting dalam memengaruhi kualitas pertimbangan profesional. Oleh karena itu, auditor perlu memperhatikan faktor kompleksitas tugas saat mengevaluasi kualitas pertimbangan profesional mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan dan keahlian dalam menangani tugas yang kompleks, serta dengan mengambil tindakan lain seperti konsultasi dengan auditor senior atau menggunakan teknologi audit yang lebih canggih.

Kompleksitas tugas harus dipertimbangkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit.

Perencanaan audit yang baik dapat membantu mengidentifikasi tugas-tugas yang kompleks dan mempersiapkan sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Selain itu,

(13)

penggunaan teknologi audit yang canggih juga dapat membantu mengurangi kompleksitas tugas dan meningkatkan efisiensi proses audit.

Tugas yang kompleks menghasilkan pertimbangan profesional yang baik berdasarkan penelitian ini. Ini bisa saja disebabkan oleh kekompleksan tugas yang membuat auditor semakin teliti dalam mengerjakan tugas. Selain itu, kekompleksan tugas juga akan membuat auditor terlatih dan terbiasa dalam mengerjakan tugas-tugas yang kompleks. Dengan demikian, pertimbangan profesional auditor juga menjadi bertambah baik.

Tugas kompleks tentu mempunyai risiko yang lebih tinggi daripada tugas yang sederhana.

Ini akan melatih auditor sehingga auditor akan menjadi lebih terbiasa dalam mengerjakan tugas yang kompleks dan semakin akurat dalam membangun sebuah pertimbangan profesional.

Kreatifitas dan inovasi baru dalam melakukan audit akan muncul sehingga keputusan- keputusan yang dibuat akan relevan dengan masalah yang dihadapi.

Kesimpulan riset ini sejalan dengan temuan Parhan (2017) dan Chotimah (2017). Studi- studi tersebut juga menunjukkan bahwa tugas yang kompleks mempunyai pengaruh positif signifikan atas pertimbangan profesional.

Pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional

T hitung -0,701 dan signifikansi 0,488 sehingga H2 ditolak. Dengan demikian, judgment auditor tidak didasarkan pada tekanan yang diterima. Tekanan ketaatan dapat muncul dari internal maupun eksternal. Akan tetapi, auditor tentu sudah dibekali dengan pelatihan untuk mengatasi tekanan tersebut. Selain itu, auditor memiliki tim dalam bekerja sehingga dapat berkonsultasi dengan rekan sesama auditor untuk menghadapi tekanan.

Auditor juga tidak akan terpengaruh oleh tekanan apabila lingkungan kerjanya stabil.

Kestabilan ini ditandai dengan manajemen yang baik dan transparan, praktik audit yang sejalan dengan standar, dan komunikasi yang baik antar auditor dengan jabatan yang sama maupun dengan atasannya. Prosedur penerimaan auditee yang penuh kehati-hatian juga berkontribusi terhadap kestabilan lingkungan kerja. Penelitian ini serupa dengan penelitian Gulo (2021) dan Andryani (2019). Penelitian tersebut menemukan bahwa tekanan tidak memiliki pengaruh atas pertimbangan profesional.

Pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan profesional

T hitung -2,244 dan signifikansi sebesar 0,032. Namun, t hitung bernilai negatif sehingga H3 ditolak. Artinya, persepsi etis berpengaruh negatif signifikan atas pertimbangan profesional. Semakin tinggi persepsi etis auditor, maka akan menurunkan pertimbangan profesional yang dibuatnya.

Auditor yang memiliki persepsi etis yang tinggi memang baik. Namun, tidak semua auditor memiliki persepsi etis yang benar. Contohnya, auditor yang memiliki klien dengan masalah going concern. Auditor yang memiliki persepsi etis yang tidak benar akan merasa kasihan dengan klien dan tidak jadi memberikan opini going concern. Hal tersebut bukanlah hal yang benar untuk dilakukan oleh auditor. Auditor harus mengevaluasi kemungkinan perusahaan tidak dapat beroperasi sebagai going concern dalam waktu yang cukup panjang selama proses pemeriksaan. Kemudian, jika akuntan menemukan fakta yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak dapat beroperasi sebagai going concern dalam waktu yang cukup panjang, maka laporan audit harus menyatakan hal ini dan memberikan penjelasan yang sesuai dalam paragraf khusus.

(14)

Pengaruh kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis terhadap pertimbangan profesional

ANOVA menunjukkan signifikansi 0,021 < 0,05 sehingga H4 diterima. Itu membuktikan bahwa kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertimbangan profesional.

Pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional dengan religiositas sebagai moderasi

Analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,038 untuk pengaruh kompleksitas tugas yang sudah dimoderasi oleh religiositas sehingga H5 diterima. Nilai beta kompleksitas tugas adalah -0,347, lebih kecil dari nilai beta kompleksitas tugas sebelum dimoderasi, yaitu 0,378.

Ini membuktikan bahwa religiositas memperlemah pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional.

Seorang penganut religiositas yang tinggi akan lebih terkendali oleh nilai-nilai agama yang lebih tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Setiap kali auditor menghadapi tugas yang sulit, auditor akan mengaplikasikan nilai-nilai religius dalam mengerjakan tugas tersebut. Hal tersebut mengakibatkan kompleksitas tugas tidak selalu memengaruhi kualitas pertimbangan profesional.

Kemampuan variabel religiositas untuk menjadi moderasi berarti auditor yang religius lebih cenderung untuk mengeluarkan waktu dan usaha yang lebih besar dalam menyelesaikan tugas yang lebih kompleks. Selain itu, auditor lebih mengutamakan kualitas dalam pengambilan keputusan auditnya. Ini merupakan bentuk pengaplikasian nilai-nilai agama yang mengajarkan tanggung jawab kepada penganutnya.

Pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional dengan religiositas sebagai moderasi

Analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,043 untuk pengaruh tekanan ketaatan yang sudah dimoderasi oleh religiositas sehingga H6 diterima. Nilai beta tekanan ketaatan adalah -0,817, lebih besar dari nilai beta tekanan ketaatan sebelum dimoderasi, yaitu -0,105.

Ini membuktikan bahwa religiositas memperkuat pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional.

Auditor yang memiliki nilai religius yang tinggi akan merasa bersalah ketika melakukan prosedur audit yang tidak sesuai dengan standar. Rasa bersalah ini kemudian menjadi sebuah tekanan bagi auditor karena ia sudah melanggar nilai religiusnya. Ini menyebabkan pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional akan menjadi semakin besar.

Pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan profesional dengan religiositas sebagai moderasi

Analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,778 untuk persepsi etis yang sudah dimoderasi oleh religiositas sehingga H7 ditolak. Hasil sebelum ada moderasi menunjukkan bahwa persepsi etis memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap pertimbangan profesional.

Itu berarti bahwasanya tingkat persepsi etis yang tinggi membuat tingkat pertimbangan profesional semakin rendah. Hal ini berarti persepsi etis yang tinggi dapat membuat auditor merasa cemas atau tidak nyaman dalam mengambil keputusan. Selain itu, persepsi etis yang tinggi mungkin mengarah pada konflik dengan kepentingan lain yang dipertimbangkan dalam proses audit, contohnya pemberian opini going concern.

Religiositas sebagai pemoderasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hubungan antara persepsi etis dan pertimbangan profesional. Ini bisa saja disebabkan karena religiositas memiliki dampak pada pemikiran dan perilaku seseorang melalui normatif- perspektif yang diterima oleh individu. Namun, ketika persepsi etis tidak di dalam konteks

(15)

normatif-perspektif religiositas, maka religiositas tidak memoderasi pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan profesional.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa, kompleksitas tugas berpengaruh positif signifikan terhadap pertimbangan profesional. Hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar 2,601 dan signifikansi sebesar 0,014. Selain itu, tekanan ketaatan tidak berpengaruh terhadap pertimbangan profesional. Kemudian, persepsi etis berpengaruh negatif signifikan terhadap pertimbangan profesional. Secara bersamaan, kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan persepsi etis secara simultan berpengaruh terhadap pertimbangan profesional. Untuk moderasi, religiositas memperlemah pengaruh kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional.

Sedangkan, religiositas memperkuat pengaruh tekanan ketaatan terhadap pertimbangan profesional. Dan, religiositas tidak memoderasi pengaruh persepsi etis terhadap pertimbangan profesional.

Saran

Dari penelitian ini disarankan bahwa, kantor akuntan publik (KAP) dapat memberikan pelatihan kepada para auditornya terkait penanganan tugas yang kompleks. Ini bertujuan agar tugas yang kompleks semakin meningkatkan pertimbangan profesional. Selain itu, kantor akuntan publik (KAP) dapat memberi penekanan lebih kepada auditor terkait ketaatan terhadap standar audit. Ini bertujuan agar tekanan ketaatan menjadi hal yang positif sehingga meningkatkan pertimbangan profesional. Kantor akuntan publik (KAP) juga dapat mengembangkan program etika agar auditor memiliki persepsi yang benar terhadap etika. Ini bertujuan agar persepsi etis yang benar membuat auditor dapat lebih baik dalam membuat pertimbangan profesional. Kantor akuntan publik (KAP) dapat mengembangkan program religius yang sesuai dengan nilai-nilai religius yang dianut oleh masing-masing auditor. Ini bertujuan agar auditor selalu menerapkan nilai-nilai religius dalam menghadapi kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, dan etika yang berlaku di masyarakat ketika membuat pertimbangan profesional. Dan penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan meningkatkan ukuran sampel sehingga memperkuat kekuatan hasil statistik.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, S. (2012). Auditing petunjuk praktis pemeriksaan akuntan oleh akuntan publik. Jakarta:

Salemba Empat.

Anand, D. (2017). Persepsi auditor, mahasiswa akuntansi dan akuntan pendidik terhadap atribut keahlian akuntan publik. Jurnal Kajian Akuntansi, 1(2), 116-132.

Andryani, H., Piturungsih, E., & Furkan, L. M. (2019). Pengaruh tekanan ketaatan, keahian audit dan pengalaman audit terhadap pertimbangan profesional dengan kompleksitas tugas sebagai pemoderasi. Jurnal Riset Akuntansi Aksioma, 18(2), 79-115.

Arifuddin. (2014). The effect of performance incentive on audit judgement by using the effort as the intervening variable and the task complexity as the moderating variable.

International Journal of Applied Business and Economic Research, 12(4), 1305-1314.

Ayem, S., & Leni, L. D. (2020). Pengaruh pengetahuan etika terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi dengan love of money sebagai variabel intervening (Studi kasus mahasiswa program studi akuntansi di lima perguruan tinggi daerah istimewa Yogyakarta). Jurnal Akuntansi, 12(2), 277-293.

(16)

Azizah, N., Kustono, A. S., & Fitriya, E. (2019). Pengaruh kompetensi audit, kompleksitas tugas dan locus of control terhadap pertimbangan profesional. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1), 46-51.

Bhadeshiya, H. B. (2015). Creative accounting in Satyam: A tale of India’s Enron. PARIPEX - Indian Journal of Research, 4(8), 363-364.

Chotimah, C., & Kartika, A. (2017). Pengaruh gender, tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, dan pengalaman auditor terhadap pertimbangan profesional. Dinamika Akuntansi, Keuangan dan Perbankan, 6(1), 28-39.

Feng, Y., & Chen, C. (2021). The Impact of financial fraud on financial risks: A case study of luckin coffee. Proceedings of the 2021 International Conference on Financial Management and Economic Transition (FMET 2021). Zhengzhou.

Gulo, S. N., Andriyanto, W. A., & Guritno, Y. (2021). Pengaruh tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, dan skeptisme profesional terhadap audit judgement. Prosiding BIEMA, 2, pp. 267-286.

Haryanto. (2018). Pengaruh framing dan urutan bukti terhadap pertimbangan profesional:

Komparasi dan interaksi keputusan individu-kelompok. Jurnal Akuntansi dan Auditing, 15(1), 1-36.

Himmah, E. F. (2013). Persepsi etis mahasiswa akuntansi mengenai skandal etis auditor dan corporate manager. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 4(1), 26-39.

Institut Akuntan Publik Indonesia. (2008). Standar profesional akuntan publik.

Ivan, I. (2016). The importance of professional judgement applied in the context of the international financial reporting standards. Audit Financiar, 14(10), 1127-1135.

Jo, H., Hsu, A., Popolizio, R. L., & Vega, J. V. (2021). Corporate governance and financial fraud of wirecard. European Journal of Business and Management Research, 6(2), 96- 106.

Kurniawati. (2016). Perubahan opini audit dan laba tak terduga terhadap waktu penyampaian laporan keuangan (Studi empiris pada perusahaan basic industry & chemicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014). Jurnal Akuntansi Bisnis, 9(1), 72-90.

Maghfirah, I., & Yahya, M. R. (2018). Pengaruh kompleksitas tugas, self-efficacy, dan pengalaman audit terhadap audit judgement (studi pada auditor BPK RI perwakilan Provinsi Aceh). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 3(2), 276-288.

Miftarahma, Hasan, A., & Andreas. (2018). The effect of experience audit, auditor’s professionalism and obedience pressure on pertimbangan profesional with task complexity as moderation (Study on BPK RI Riau Province representative). Pekbis Jurnal, 10(2), 92-102.

Muslim, & Pelu, M. F. (2018). Pengaruh kompetensi auditor, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional. Bongaya Journal for Research in Accounting, 1(2), 08-17.

Nevin, J., Rao, A., & Jr., C. L. (2014). Waste management Inc. Journal of the International Academy for Case Studies, 20(4), 39-46.

Olivia, T., & Setiawan, T. (2019). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit.

Journal of Business and Applied Management, 12(2), 187-201.

Operasianti, S. A., Gunawan, H., & Maemunah, M. (2015). Pengaruh insentif kerja, persepsi etis, dan skeptisme profesional terhadap pertimbangan profesional (Survey pada Kantor Akuntan Publik di Kota Bandung). Prosiding Akuntansi, (pp. 43-50).

Pangesti, D. B., & Setyowati, W. (2018). Pengaruh persepesi etis, pengalaman auditor, tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap kualitas audit judgement. Prosiding SENDI_U, (pp. 737-743).

(17)

Pangesti, D. B., & Setyowati, W. (2018). Pengaruh persepsi etis, pengalaman auditor, tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap kualitas audit judgement. Prosiding_SENDI.

Pangestu, J. C., Rusli, Y. M., & Margaretha, P. (2022). Peran audit committee sebagai pemoderasi antara tax management policy dan intencity capital terhadap earnings management practices pada saat pandemik Covid-19. Jurnal Administrasi Kantor, 10(1), 50-60.

Parhan, I., & Kurnia. (2017). Pengaruh skeptisme audit, independensi dan kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 6(12).

Pramuditha, P. Y., & R, E. N. (2020). Pengaruh tekanan ketaatan, pengetahuan audit, dan pengalaman audit terhadap audit judgement (Studi empiris di Inspektorat Provinsi Sumatera Barat). Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 2(4), 3755-3770.

Putri, A. U. (2018). Pengaruh tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, dan pengalaman auditor terhadap auditor judgement (Studi kasus pada Kantor Akuntan Publik di Kota Palembang). Jurnal Ilmiah Ekonomi Global Masa Kini, 9(2), 95-102.

Raiyani, N. L., & Suputra, I. D. (2014). Pengaruh kompetensi, kompleksitas tugas, dan locus of control terhadap pertimbangan profesional. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 6(3), 429-438.

Riantono, I. E. (2018). Faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan profesional studi empiris big four di Jakarta. Jurnal Kajian Akuntansi, 2(2), 178-194.

Rumondang, S., Zakaria, A., & Noviarini, D. (2022). Analisis pengaruh self-efficacy, pengetahuan auditor dalam mendeteksi kekeliruan, dan tekanan ketaatan terhadap pemberian pertimbangan profesional. Jurnal Akuntansi, Perpajakan dan Auditing, 3(2), 384-402.

Sari, D. I., & Ruhiyat, E. (2017). Locus of control, tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap pertimbangan profesional. Jurnal Aset (Akuntansi Riset), 9(2), 23-34.

Sari, I. P., Desmiyawati, & Susilatri . (2016). Pengaruh gender, tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, pengalaman auditor, pengetahuan auditor dan kompleksitas dokumen audit terhadap audit judgement (Studi empiris pada Badan Pemeriksa Keuangan RI Pusat).

JOM Fekon, 3(1), 2008-2022.

Sumanti, E., & Kandouw, S. (2011). Analisa Relevansi laporan arus kas beserta komponen arus kas yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia 2008-2010. Journal of Business and Economics, 10(1), 63-69.

Surya, L. P., & Dewi, C. I. (2019). Pengaruh tekanan ketaatan pada pertimbangan profesional dengan religiusitas sebagai variabel pemoderasi. e-Jurnal Akuntansi, 29(2), 673-682.

Surya, L. P., Dewi, C. I., & Yudha, C. K. (2018). Pengaruh kompleksitas tugas pada pertimbangan profesional dengan variabel religiusitas sebagai pemoderasi. Jurnal Riset Akuntansi Aksioma, 17(2), 225-258.

Tampubolon, L. D. (2018). Dampak tekanan ketaatan,pengetahuan, dan pengalaman auditor terhadap pertimbangan profesional. Jurnal Keuangan dan Perbankan, 14(2), 62-70.

Winarsih. (2018). Religiusitas auditor terhadap kualitas auditor eksternal dengan independensi dan profesionalisme auditor sebagai variabel mediasi. Management & Accounting Expose, 1(1), 1-12.

Yendrawati, R., & Mukti, D. K. (2015). Pengaruh gender, pengalaman auditor, kompleksitas tugas, tekanan ketaatan, kemampuan kerja dan pengetahuan auditor terhadap audit judgement. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, 4(1), 1-8.

Yustrianthe, R. H. (2012). Beberapa faktor yang mempengaruhi pertimbangan profesional auditor pemerintah. Jurnal Dinamika Akuntansi, 4(2), 72-82.

Referensi

Dokumen terkait

konsep elektronika yang digunakan dalam proses kontrol di industry, komponen-komponen yang digunakan dalam elektronika industri (Sensor dan transduser, Aktuator, Motor listrik,

Dengan begitu, bukan tidak mungkin para wisatawan rela untuk membayar lebih agar bisa menginap, bukan hanya karna fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan hampir menyamai

perkawinan selain diatur dalam hukum Islam juga merupakan tambahan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam, tentang

Oleh karena itu, formulasi terbaik yang dipilih adalah T4 yaitu yoghurt dengan penambahan 0,25% ekstrak kayu secang dan 0,25% ekstrak daun stevia yang memiliki antioksidan

interaktif yang telah dikembangkan berdasarkan penilaian ahli dan praktisi telah dinyatakan valid, dengan profil sebagai berikut, Multimedia pembelajaran

+engunjung yang menginap, yaitu orang yang menggunakan asilitas akomodasi hotel sebagai tempat untuk menginap dan beristirahat. !dapun kegiatan3kegiatan tamu dalam

Sampel dari penelitian ini ditentukan secara purposive sampling yaitu dengan kriteria terdapat tanah hak guna bangunan yang diindikasikan terlantar atau telah ditetapkan

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Isolasi dan Identifikasi Bakteri Pada Saluran Pencernaan Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) Melalui Uji Gram dan Uji Metil