• Tidak ada hasil yang ditemukan

KURIKULUM SEKOLAH PENGGERAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KURIKULUM SEKOLAH PENGGERAK"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

KURIKULUM SEKOLAH PENGGERAK

berbagi bersama

MKKS SMA/SMK NEGERI KABUPATEN SIDOARJO

Dr. ABU BAKAR, M.Pd

Pengawas SMA Kota Malang-Kota Batu Dosen Luar Biasa UMM

IN Komite Pembelajaran PSP Pengajar/Mentor Diklat CPS

Horizon Hotel Kota Batu

9- OKTOBER - 2021

▸ Baca selengkapnya: contoh sk komunitas belajar sekolah penggerak

(2)

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 162/M/2021 TENTANG

PROGRAM SEKOLAH PENGGERAK

MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN

TEKNOLOGI,

(3)

A. Latar Belakang

• Angka partisipasi sekolah dan angka rata-rata lama sekolah (RLS)

meningkat. Pada 1950, RLS penduduk Indonesia kurang dari 2 (dua) tahun, kemudian meningkat menjadi 4 (empat) tahun pada tahun 1990, dan

berlipat ganda menjadi 8 (delapan) tahun saat ini

• Hasil survey PISA tahun 2018 menunjukkan 60% (enam

puluh persen) sampai dengan 70% (tujuh puluh persen) peserta didik di Indonesia masih berada di bawah standar kemampuan minimum dalam sains, matematika, dan membaca

• Hasil UjianNasional Berbasis Komputer (UNBK) yang terakhir pada tahun 2019 menunjukkan skor rata-rata dari 2 (dua) provinsi di pulau Jawa

mengalahkan rata-rata skor kelompok 10% (sepuluh persen) tertinggi

di 10 (sepuluh) provinsi lain di luar pulau Jawa

(4)

• Rata-rata skor uji kompetensi guru di Indonesia yaitu 57 (lima puluh tujuh) dari skala 0 (nol)-100 (serratus)

• Studi The Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2015 menunjukkan interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran tidak merangsang adanya kemampuan analitis dan berpikir aras tinggi (higher order thinking skills)

• Program Sekolah Penggerak bertujuan untuk mendorong proses transformasi satuan pendidikan agar dapat meningkatkan capaian hasil belajar peserta didik secara holistik baik dari aspek kompetensi kognitif maupun non-kognitif

(karakter) dalam rangka mewujudkan profil pelajar Pancasila

(5)

KONDISI SAAT INI PERUBAHAN

KTSP masih sekadar formalitas untuk memenuhi administrasi dokumen, kurang relevan dengan praktik pembelajaranSulit dikontekskan sesuai karakteristik satuan pendidikan

Kurikulum operasional menekankan bahwa dokumen disusun dan digunakan sesuai konteks dan karakteristik satuan pendidikan

Bukan proses yang dipandu tapi hasilnya cenderung harus menggunakan format tertentu, tidak

mendorong sekolah untuk kreatif dan inovatif dalam pembelajaran

Prinsip panduan penyusunan kurikulum operasional sekolah

membebaskan satuan pendidikan untuk melakukan pengembangan selama selaras dengan tujuan

KTSP disusun hanya oleh tim tertentu yang

ditetapkan kepala sekolah, tidak melibatkan seluruh pemangku kepentingan

● Proses dalam penyusunan kurikulum operasional

→melibatkan stakeholder

→proses yang reflektif (bolak balik)

→fasilitatif, bukan ditentukan sepihak oleh orang-orang tertentu Satuan pendidikan masih cenderung menggunakan

struktur kurikulum yang seragam

Semua jenjang satuan pendidikan dapat mengorganisasikan muatan pelajaran menggunakan pendekatan berbasis mata pelajaran, tematik, atau unit inkuiri

● KTSP dianggap menjadi beban administrasi (dokumen terlalu banyak,

banyak info yang perlu disajikan dan berulang)

● Dokumen dipisah-pisah antara dokumen 1, 2, dan 3

● Kurikulum operasional menekankan komponen esensial, hal-hal yang sudah ada di dokumen lain tidak perlu dicantumkan kembali

● Dokumen rancangan pembelajaran hanya dilampirkan sebagai

contoh pembelajaran (tidak perlu memasukkan semua silabus dan

● Dokumen kurikulum operasional dibuat secara komprehensif, RPP) tidak terpisah-pisah

(6)

UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003

Pasal 36 Ayat 2

Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan

dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan

pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik

(7)

PP SNP Nomor 57 Tahun 2021

Pasal 38 Ayat 2

Pengembangan kurikulum Satuan Pendidikan dilakukan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan Satuan

Pendidikan, potensi daerah, dan Peserta Didik

Prinsip diversifikasi dalam pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian

program pendidikan pada Satuan Pendidikan dengan

kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah

(8)

B. Tujuan

Program Sekolah Penggerak bertujuan untuk:

1. meningkatkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila;

2. menjamin pemerataan kualitas pendidikan melalui program peningkatan kapasitas kepala sekolah yang mampu memimpin satuan pendidikan dalam mencapai layanan berkualitas

3. Membangu ekosistem Pemdidikan yang lebih kuat yang befokus pada peningatan kualitas

4.Menciptakan iklim kolaboratif bagi para pemangku kepentingan

dibidang pendidikan, baik lingkungan sekolah, pemerintah daerah

maupun pemerintah pusat

(9)

C. Sasaran

Sasaran penyelenggaraan Program Sekolah Penggerak meliputi:

1. guru/pendidik PAUD;

2. kepala satuan pendidikan; dan 3. pengawas sekolah/penilik,

yang berlokasi di provinsi/kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai pelaksana Program Sekolah Penggerak

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penyelenggaraan Program Sekolah Penggerak ini meliputi:

1. sosialisasi Program Sekolah Penggerak;

2. penetapan provinsi/kabupaten/kota sebagai penyelenggara Program Sekolah Penggerak;

3. penetapan satuan pendidikan sebagai pelaksana Program Sekolah Penggerak;

4. pelaksanaan kegiatan Program Sekolah Penggerak pada pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota;

5. pelaksanaan kegiatan Program Sekolah Penggerak pada satuan pendidikan; dan 6. evaluasi penyelenggaraan Program Sekolah Penggerak.

(10)

Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya

• Program Sekolah Penggerak merupakan

01 Program kolaborasi antara Kemdikbud dengan Pemerintah Daerah di mana komitmen Pemda menjadi kunci utama

02 03 04

Intervensi dilakukan secara holistik , mulai dari SDM sekolah, pembelajaran, perencanaan, digitalisasi, dan pendampingan Pemerintah Daerah

Memiliki ruang lingkup yang mencakup seluruh kondisi sekolah, tidak hanya sekolah unggulan saja, baik negeri dan swasta

Pendampingan dilakukan selama 3 tahun ajaran dan sekolah melanjutkan upaya transformasi secara mandiri

05 Program dilakukan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh

sekolah di Indonesia menjadi Sekolah Penggerak

(11)

Program Sekolah Penggerak terdiri dari lima intervensi yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan

Pendampingan konsultatif dan asimetris

Program kemitraan antara Kemendikbud dan pemerintah daerah di mana Kemendikbud memberikan pendampingan implementasi Sekolah Penggerak

Pembelajaran dengan paradigma

Pembelajaran yang

baru

berorientasi pada

penguatan kompetensi dan pengembangan karakter yang sesuai nilai-nilai

Pancasila, melalui kegiatan pembelajaran di dalam dan luar kelas.

Perencanaan berbasis

Manajemen berbasis

data

sekolah:perencanaan berdasarkan refleksi diri sekolah

Penguatan SDM sekolah

Penguatan Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Penilik, dan Guru melalui program pelatihan dan

pendampingan intensif (coaching one to one) dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemdikbud.

Digitalisasi sekolah

Penggunaan berbagai platform digital bertujuan mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang

disesuaikan

Profil Pelajar Pancasila

(12)

Tujuan Pendidikan Nasional

Profil Pelajar Pancasila

Standar Kelulusan

Standar isi

Standar Proses

Standar Penilaian

Standar Lain

Capaian Pembelajarn

Prinsip

Pembelajara n dan

Asesmen Struktur

Kurikulum Kerangka

Kurikulum

ditetapkan oleh Pemerinah

Pusat dengan mengacu pada Tujuan

Pendidikan Naional

Kerangka

Dasar

(13)

Contoh

Perangkat Ajar:

Buku Teks

Pelajaran, Bahan Ajar, modul

ajar mata pelajaran dan projek profil pelajar

Pancasila, contoh kurikulum satuan pendidikan

Fleksibel/Dinamis Satuan pendidikan mengembangkan

kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan

• Visi & Misi

satuan pendidikan

• Konteks dan kebijakan lokal

• Kurikulum operasional di satuan pendidikan

• Perangkat ajar yang dikembangkan secara mandiri

GB. Hubungan Antara Kerangka Dasar Kurikulum, Contoh Perangkat Ajar, dan Kurikulum Operasional di Satuan

Ppendidikan

(14)

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

PROFIL PELAJAR PANCASIL

A Struktur Kurikulum Prinsip Pembelajaran dan

Asesmen

Capaian Pembelajaran

Merumuskan VISI MISI TUJUAN

evaluasi jangka pendek

(semester/tahunan)

Proses

Penyusunan Kurikulum

Operasional di Satuan

Pendidikan

Menganalisis konteks KARAKTERISTIK

SATUAN PENDIDIKAN

Menentukan PENGORGANISASI

AN

PEMBELAJARAN

Menyusun RENCANA PEMBELAJARAN

Merancang PENDAMPINGAN,

EVALUASI, DAN PENGEMBANGAN

PROFESIONAL

TETAP

Ditetapkan oleh pemerintah pusat

FLEKSIBEL/DINAMIS

Satuan pendidikan

mengembangkan kurikulum

operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan

. .

1

2

3

4

5

(15)

Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan (1/3)

Berpusat pada Peserta Didik

Pembelajaran harus memenuhi potensi, kebutuhan

perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik. Profil Pelajar Pancasila selalu menjadi rujukan pada semua

tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah.

Menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan, serta dunia

kerja dan industri

Kontekstual

DRAFT - UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK

(16)

Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan (2/3)

Esensial

Semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan oleh para pemegang kepentingan tentang kurikulum yang digunakan di

satuan pendidikan dapat diperoleh di dokumen tersebut.

Bahasanya lugas dan mudah dipahami, tidak mengulang naskah/kutipan yang sudah ada di naskah lain. Dokumen tidak perlu memuat kembali misalnya lampiran Kepmendikbud seperti

CP, struktur, dll., dalam dokumen kurikulum operasional

(17)

Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan (3/3)

Melibatkan berbagai pemangku

kepentingan

Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara

lain orang tua, organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia kerja untuk SMK, di bawah koordinasi dan supervisi dinas

Pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan

kewenangannya.

Akuntabel Dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual

DRAFT - UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK

(18)

Karakteristik Satuan Pendidikan

Visi, Misi, dan Tujuan

Dari analisis konteks, dirumuskan karakteristik sekolah yang menggambarkan keunikan sekolah dalam hal peserta didik, sosial, budaya, guru, dan tenaga kependidikan.

Visi

● menggambarkan bagaimana peserta didik menjadi subjek dalam tujuan jangka panjang sekolah dan nilai-nilai yang dituju

● nilai-nilai yang mendasari penyelenggaraan pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai Profil Pelajar Pancasila

Misi

● misi menjawab bagaimana sekolah mencapai visi

● Nilai-nilai yang penting untuk dipegang selama menjalankan misi Tujuan

● tujuan akhir dari kurikulum sekolah yang berdampak kepada peserta didik

● tujuan menggambarkan patok-patok (milestone) penting dan selaras dengan misi

● strategi sekolah untuk mencapai tujuan pendidikannya

● Kompetensi/karakteristik yang menjadi kekhasan lulusan sekolah tersebut dan selaras dengan profil Pelajar Pancasila

Komponen ini menjadi komponen utama yang

ditinjau setiap 4-5 tahun

(19)

Pengorganisasian Pembelajaran

Cara sekolah mengatur muatan kurikulum dalam satu rentang waktu, dan beban belajar, cara sekolah mengelola pembelajarannya untuk mendukung pencapaian CP dan Profil Pelajar Pancasila (mis: mingguan, sistem blok, atau cara pengorganisasian lainnya).

● Intrakurikuler, berisi muatan/mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (mulok)

● Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila, menjelaskan pengelolaan projek yang mengacu pada profil Pelajar Pancasila pada tahun ajaran tersebut.

● Ekstrakurikuler. Gambaran ekskul dalam bentuk matriks/tabel

Rencana

Pembelajaran

Rencana pembelajaran untuk ruang lingkup sekolah: menggambarkan rencana pembelajaran selama setahun ajaran. Berisi alur pembelajaran/unit mapping (untuk sekolah-sekolah yang sudah menjalankan pembelajaran secara integrasi), program prioritas satuan pendidikan

DRAFT - UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK

Komponen ini menjadi komponen utama

yang ditinjau setiap tahun

(20)

Pendampingan, evaluasi, dan

pengembangan profesional

Kerangka bentuk pendampingan, evaluasi, dan pengembangan profesional yang dilakukan untuk peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan di satuan pendidikan. Pelaksanaan ini dilakukan oleh para pemimpin satuan pendidikan secara internal dan bertahap sesuai dengan kemampuan satuan pendidikan.

Lampiran

● Contoh-contoh rencana pembelajaran ruang lingkup kelas: menggambarkan rencana pembelajaran per tujuan pembelajaran dan/atau per tema (untuk sekolah-sekolah yang sudah menjalankan pembelajaran secara integrasi)

● Contoh penguatan Profil Pelajar Pancasila penjabaran pilihan tema dan isu spesifik yang menjadi projek pada tahun ajaran tersebut (deskripsi singkat tentang projek yang sudah dikontekstualisasikan dengan kondisi lingkungan sekolah dan kebutuhan peserta didik, tidak perlu sampai rincian

pembelajarannya)

● Referensi landasan hukum atau landasan lain yang kontekstual dengan karakteristik sekolah

Komponen ini menjadi komponen

utama yang ditinjau setiap tahun

(21)

Struktur Kurikulum SMA Kelas X

Alokasi waktu mata pelajaran SMA Kelas X

Asumsi 1 Tahun = 36 minggu

Kurikulu

m 2013

Alokasi per tahun (minggu)

Projek (minimal 25% dari total per tahun

TOTAL JP PER TAHUN

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* , KRISTEN, KATOLIK, HINDU, BUDHA, KONGHUCU, sd Aliran kepercayaan

3

72 (2) 36 (33%) 108

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

54 (2) *** 18 (25%) 72

Bahasa Indonesia

4

108 (3) 36 (25%) 144

Matematika

4

108 (3) 36 (25%) 144

Ilmu Pengetahuan Alam: Fisika, Kimia, Biologi

3

216 (6) 93 (30%) 309

Ilmu Pengetahuan Sosial: Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, Geografi

3

288 (8) 123 (30%) 411

Bahasa Inggris

2

54 (2) *** 18 (25%) 72

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

3

72 (2) 36 (33%) 108

3

(22)

Pilihan minimal 1:

o Seni Musik o Seni Rupa o Seni Teater

o Seni Tari o Prakarya

2 54 (2) *** 18

(25%) 72

Muatan Lokal 3 72 (2) ** - 72**

Total: 44/Minggu 1098 (33) 450 1548

(23)

Keterangan:

* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing.

** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.

*** Pembelajaran reguler tidak penuh 36 minggu untuk memenuhi alokasi projek (27 minggu untuk Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan (PPKn), Bahasa Inggris, serta Seni dan Prakarya).

**** Satu JP beban belajar di SMA adalah 45 menit.

(24)
(25)
(26)

Kelompok Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti

Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Budi Pekerti

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris

Sejarah

Matematika

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

Pilihan: Seni Musik/Seni Tari/Seni Rupa/Seni Teater

Kelompok Mata Pelajaran MIPA

Biologi

Kimia

Fisika

Informatika

Matematika lanjutan

Kelompok Mata Pelajaran IPS

Sosiologi

Ekonomi

Geografi

Antropologi

Kelompok Mata Pelajaran Bahasa dan Budaya

Bahasa dan Sastra Indonesia

Bahasa dan Sastra Inggris

Bahasa Korea

Bahasa Arab

Bahasa Mandarin

Bahasa Perancis

Bahasa Jepang

Bahasa Jerman

Kelompok Mata Pelajaran Vokasi dan Prakarya

Prakarya

Mata Pelajaran yang

dikembangkan satuan pendidikan bersama masyarakat/industri

Aturan pemilihan mata pelajaran

Siswa memilih mata pelajaran dari kelompok pilihan

Siswa memilih mata pelajaran dari minimum 2 kelompok pilihan hingga syarat minimum jam pelajaran

terpenuhi (total JP: 40/minggu; JP untuk mapel pilihan: 22 JP/minggu)

Sekolah membuka minimum 2 kelompok mata pelajaran.

Apabila sumberdaya memungkinkan, sekolah dapat membuka lebih dari dua kelompok

Aturan pemilihan mata pelajaran SMA kelas 11-12

sesuai minat, bakat, dan aspirasi pelajar, tidak ada program peminatan di SMA

(27)

Kelompok Mata Pelajaran Umum 18 JP/minggu (wajib diambil)

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris Matematika Seni Musik

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Sejarah

Kelompok Mata Pelajaran MIPA 10 JP/minggu

Biologi Kimia

Kelompok Mata Pelajaran IPS 5 JP/minggu

Sosiologi

Kelompok Mata Pelajaran Bahasa dan Budaya

5 JP/minggu

Bahasa dan Sastra Inggris

Contoh ilustrasi untuk pemilihan mata pelajaran SMA kelas 11-12

sesuai minat, bakat, dan aspirasi pelajar, tidak ada program peminatan di SMA

Wayan masih belum yakin, ingin kuliah Bisnis atau Teknik Sipil, maka berikut mata pelajaran yang ia ambil di kelas 11 dan kelas 12:

Kelompok Mata Pelajaran Umum 18 JP/minggu (wajib diambil)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris Matematika Seni Teater

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Sejarah

Kelompok Mata Pelajaran MIPA 10 JP/minggu

Fisika

Matematika Peminatan

Kelompok Mata Pelajaran IPS 10 JP/minggu

Ekonomi Geografi

Wayan mengambil mata pelajaran dari 2 kelompok,

sebagaimana syarat minimum, meskipun sekolahnya membuka 3 kelompok mata pelajaran pilihan.

Ani ingin kuliah kedokteran, berikut mata pelajaran yang ia ambil di kelas 11 dan kelas 12:

(28)

Kurik ulum

Pemb elaja Ases ran

men

Profil Pelajar Pancasila

Kerangka

Pengembangan

Pembelajaran Pada Pembelajaran

Paradigma Baru

(29)

IMTAQ

Gotong royong Kreatif

Kerangka Pengembangan Pembelajaran Pada

Pembelajaran Paradigma Baru

Bernala r kritis

Keanek global aan Mandiri

Profil

Pelajar

Pancasila

(30)
(31)

Tujuh Tema untuk dipilih sekolah

SD wajib memilih minimal 2 tema per tahun.

SMP, SMA, dan SMK wajib memilih minimal 3 temaper tahun.

Sekolah menentukan tema dan mengembangkannya untuk setiap kelas/angkatan.

Gaya Hidup Berkelanjutan

(SD-SMA/K)

Memahami dampak dari aktivitas manusia, baikjangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungansekitarnya.

- peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir sistem untuk memahami keterkaitan aktivitasmanusia dengan dampak-dampak global yang menjadi

akibatnya, termasuk perubahan iklim.

- peserta didik dapat dan membangun kesadaranuntuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan serta mencari jalan keluar untuk masalah lingkungan serta mempromosikan gaya hidup serta perilaku yang lebih berkelanjutan dalam keseharian.

- peserta didik juga mempelajari potensi krisis

keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya (bencana alam akibat perubahan iklim, krisis pangan, krisis air bersih dan lain sebagainya), serta

mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya.

Contoh muatan lokal:

Jakarta: situasi banjir

Kalimantan: hutan sebagai paru-parudunia

Kearifan Lokal

(SD-SMA/K)

Membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi tentang budaya dan kearifanlokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta perkembangannya.

- peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/ daerah berkembang seperti yang ada, bagaimana perkembangan tersebutdipengaruhi oleh situasi/konteks yang lebih besar (nasional dan internasional), serta memahami apa yang berubah dari waktu ke waktu apa yang tetapsama.

- peserta didik juga mempelajari konsep dan nilai-nilai dibalik kesenian dan tradisi lokal, serta merefleksikan nilai-nilai apa yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan mereka.

- peserta didik juga belajar untuk mempromosikan salah satu hal yang menarik tentang budaya dan nilai- nilai luhur yang dipelajarinya.

Contoh muatan lokal:

Jawa Barat: sistem masyarakat di KampungNaga Papua: sistem masyarakat di LembahBaliem

UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

(32)

Bhinneka TunggalIka

(SD-SMA/K)

Mengenal belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman kelompok agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sekitar dan di Indonesia serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya.

- peserta didik mempelajari perspektif berbagai agama dan kepercayaantentang fenomena global misalnya masalah

lingkungan, kemiskinan, dsb.

- peserta didik secara kritis dan reflektif menelaah berbagai stereotip negatif yang biasanya dilekatkan pada suatu kelompok agama, dan dampaknya terhadap terjadinya konflik dan kekerasan.

- Melalui projek ini, peserta didik mengenal dan mempromosikan budaya perdamaian dan anti kekerasan.

Contoh muatan lokal:

Menangkap isu-isu atau masalah

keberagaman di lingkungan sekitardan mengeksplorasi pemecahannya.

Suara Demokrasi

(SMP-SMA/K)

Dalam “negara kecil” bernama sekolah, sistem demokrasi dan pemerintahan yang diterapkan di Indonesia dicoba untuk dipraktikkan, termasuk namun tidak

terbatas pada proses pemilihan umum dan perumusan kebijakan.

- peserta didik merefleksikan makna demokrasi dan memahamiimplementasi demokrasi serta tantangannya dalam konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi sekolah dan/atau dalam dunia kerja.

- Menggunakan kemampuan berpikir sistem, peserta didik menjelaskan keterkaitan antara peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila.

Contoh muatan lokal:

Sistem musyawarah yangdilakukan masyarakat adat tertentu untuk memilih kepaladesa.

Bangunlah Jiwadan Raganya

(SMP-SMA/K)

Membangun kesadaran dan keterampilan untuk memelihara kesehatan fisik dan mental, baikuntuk dirinya maupun orang sekitarnya.

- peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing) mereka serta mengkaji fenomena perundungan (bullying) yang terjadi di sekitar mereka, baik dalam lingkungan fisik maupun dunia maya, serta berupaya mencari jalan keluarnya.

- peserta didik juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraanfisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. peserta didik merancang kegiatan dan komitmen untuk senantiasa menjaga kesejahteraan dirinya dan orang lain, serta

berusaha untuk mengkampanyekan isu terkait.

Contoh muatan lokal:

Mencari solusi untuk masalah cyber bullying yang marak di kalangan remajalokal.

UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

(33)

Kewirausahaan

(SD-SMA/K)

Mengidentifikasi potensi ekonomi di tingkat lokal dan masalah yang ada dalam pengembangan potensi tersebut, serta kaitannya dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraanmasyarakat.

- peserta didik kemudian merancang strategi untukmeningkatkan potensi ekonomi lokal dalam kerangka pembangunan

berkelanjutan.

- Melalui kegiatan dalam projek ini seperti terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga, berkreasi untuk menghasilkan karya bernilai jual, dan kegiatan lainnya, yang kemudian diikuti dengan proses analisis dan refleksi hasil kegiatanmereka.

- Melalui kegiatan ini, kreatifitas dan budaya kewirausahaan akan ditumbuhkembangkan. peserta didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhanmasyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas.

Contoh muatan lokal:

Membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual.

Berekayasa dan Berteknologiuntuk Membangun NKRI

(SD-SMA/K)

Berkolaborasi dalam melatih daya pikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus

kemampuan berempati untuk berekayasa membangun produk berteknologi yang memudahkan kegiatan dirinya dan jugasekitarnya.

- peserta didik mengasah berbagai keterampilan berpikir (berpikir sistem, berpikir komputasional, atau design thinking) dalam mewujudkan produk berteknologi.

- peserta didik dapat mempelajari dan mempraktikkan proses rekayasa (engineering process) secara sederhana, mulai dari menentukanspesifikasi sampai dengan uji coba, untuk membangun model atau prototipe produk bidang rekayasa (engineering).

- peserta didik juga dapat mengasah keterampilan coding untukmenciptakan karya digital, dan berkreasi di bidang robotika. Harapannya, para pesertadidik dapat membangun budaya smart society dengan menyelesaikan persoalan- persoalan di masyarakat sekitarnya melalui inovasi dan penerapan teknologi, mensinergikan aspek sosial dan aspekteknologi.

Contoh muatan lokal:

Membuat desain inovatif sederhana yang menerapkan teknologi yang dapat menjawab permasalahan yang ada di sekitarsekolah.

UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

(34)

TAHAPAWAL

32

TAHAPBERKEMBANG TAHAPLANJUTAN

Temapilihan

Pemberian opsi tema

Penentuantopik

Sekolah menentukan 2 tema untuk SD, atau 3 tema untuk SMP-SMAdi awal tahun ajaran.

Sekolah menentukan 2 tema untuk SD, atau 3 tema untuk SMP-SMAdi awal tahun ajaran.

Sekolah menentukan 2 tema untuk setiap kelas SD, atau 3 tema untuk setiap kelasSMP- SMA di awal tahun ajaran (setiap kelas dapat memilih tema yang berbeda).

Sekolah menelaah isu yang sama untuk semuakelas.

Sekolah menelaah isu yang sama untuk setiap 1-2kelas.

Setiap kelas menelaah isu yang berbeda sesuai pilihan peserta didik.

Sekolah yang menentukantema dan topik projek.

Sekolah mempersiapkan beberapa tema dantopik

projek untuk dipilih olehpeserta didik.

peserta didik mendiskusikan tema dan topik projekdengan bimbingan guru.

Penentuan tema dan topik spesifik sesuaidengan tahapan sekolah

UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

(35)

Peran Kepala Sekolah dan Pemangku Kepentingan dalam Penyelenggaraan Projek

• KEPALA SEKOLAH

• Membentuk tim projek dan turut merencanakan projek.

• Mengawasi jalannya projek dan melakukan pengelolaan sumber daya sekolah secaratransparan dan akuntabel.

• Membangun komunikasi untuk kolaborasi antara orang tua peserta didik, warga sekolah, dan narasumber pengaya projek: masyarakat, komunitas, universitas, praktisi, dsb.

• Mengembangkan komunitas praktisi di sekolah untuk peningkatan kompetensi pendidik yang berkelanjutan.

• Melakukan coaching secara berkala bagi pendidik.

• Merencanakan, melaksanakan, merefleksikan, dan mengevaluasi pengembangan

projek dan asesmen yang berpusat pada peserta didik.

(36)

GURU

• Perencana projek - Melakukan perencanaan projek, penentuan alur kegiatan, strategi pelaksanaan, dan penilaian projek.

• Fasilitator - Memfasilitasi peserta didik dalam menjalankan projek yang sesuai dengan minatnya, dengan pilihan cara belajar dan produk belajar yang sesuai dengan preferensi peserta didik.

• Pendamping - Membimbing peserta didik dalam menjalankan projek, menemukan isu yang relevan, mengarahkan peserta didik dalam

merencanakan aksi yang berkelanjutan.

• Narasumber - Menyediakan informasi, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik dalam melaksanakan projek.

• Supervisi dan konsultasi - Mengawasi dan mengarahkan peserta didik dalam pencapaian projek, memberikan saran dan masukan secara

berkelanjutan untuk peserta didik, dan melakukan asesmen performa

peserta didik selama projek berlangsung.

(37)

PESERTA DIDIK

●Menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

●Berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sesuai minat

dan kelebihan yang dimiliki.

(38)

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI & KABUPATEN/KOTA

• Memastikan satuan pendidikan memiliki sumber daya dan sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk pelaksanaan

pembelajaran paradigma baru, khususnya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

• Memberikan dukungan untuk peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan dan secara

berkelanjutan.

• Memastikan hasil asesmen dipergunakan sebagai umpan balik dalam pelaksanaan projek.

• Memastikan keterlibatan dan sinergi antar pemangku kepentingan berjalan dengan baik untuk mendukung projek.

• Mengawasi apakah projek sudah berjalan sesuai dengan yang

diharapkan

(39)

PENGAWAS

Mengawasi apakah projek sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Memberikan pendampingan dan pembinaan kepada satuan pendidikan.

Memberikan informasi terbaru berkaitan dengan kebijakan pendidikan khususnya yang berhubungan dengan kurikulum dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Memberikan solusi alternatif ketika sekolah mengalami kendala dalam menjalankan projek.

KOMITE SEKOLAH

● Memberikan pengawasan dan dukungan terkait pelaksanaan projek di

sekolah

(40)

MASYARAKAT (ORANG TUA, MITRA)

- Menjadi sumber belajar yang bermakna bagi

peserta didik dengan terlibat dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

- Membantu dalam menemukan atau

mengidentifikasi isu atau masalah yang ada,

memberikan informasi sebagai narasumber atau

menyediakan bukti-bukti dari isu tersebut.

(41)

Kurikulum Operasional

Alur Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran

Modul Ajar

Rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis, menurut urutan pembelajaran sejak awal

hingga akhir suatu fase

Jabaran kompetensi yang dicapai peserta didik dalam

satu atau lebih kegiatan pembelajaran

Kurikulum operasional satuan pendidikan dan alur tujuan pembelajaran (ATP) memiliki fungsi yang sama dengan silabus, yaitu sebagai acuan perencanaan pembelajaran.

Jika satuan pendidikan memiliki kurikulum operasional dan ATP,

pengembangan perangkat ajar dapat merujuk kedua dokumen tersebut

Alur Tujuan Pembelajaran dan Modul Ajar Sebagai Dokumen Rencana

Pembelajaran

(42)
(43)

• Modul ajar merupakan salah satu jenis perangkat ajar.

• Satuan pendidikan yang menggunakan modul ajar yang disediakan pemerintah, maka modul ajar tersebut dapat dipadankan dengan RPP Plus , karena modul ajar tersebut memiliki komponen yang lebih lengkapdibanding RPP.

• JIka satuan pendidikan mengembangkan modul ajar secara mandiri maka modul ajar

tersebut dapat dipadankan dengan RPP selama disusun dengan komponen yang minimal sama dengan komponen RPP.

• Satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai perangkat ajar termasuk modul ajar

atau RPP dengan kelengkapan komponen dan format yang beragam

(44)

Kepmen RI Nomor 958 tahun 2020 Tentang Capaian

Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Dan Pendidikan Menengah dinyatakan bahwa

• Capaian Pembelajaran merupakan bentuk pengintegrasian kompetensi inti dan kompetensi dasar yang disusun secara

komprehensif dalam bentuk narasi yang meliputi: sekumpulan kompetensi dan lingkup materi sehingga CP memungkinkan

setiap anak memperdalam pengetahuannya tanpa harus

terstandar oleh sistem.

(45)

CP secara garis besar diartikan sebagai >>>

• Kualitas hasil pembelajaran :

yang meliputi tingkat pengetahuan, kedalaman pemahaman,

kompleksitas ketrampilan yang akan dicapai peserta didik dalam suatu mata pelajaran

CP Pendidikan Khusus :

capaian pembelajaran bagi pelajar berkebutuhan khusus yang mengacu pada CP untuk sekolah reguler dan

Perdirjen Dikdasmen Nomor 10/D/KR/2017.

(46)

Perlu diingat …

• Pemahaman dan kompetensi sebagai acuan CP bukan materi asesmen yang secara langsung diuji di kelas.

• Sederet perkembangan yang akan dicapai secara utuh dari pendidikan dasar sampai menengah bukan target yang dilihat secara terpisah- pisah.

• Tingkat kedalaman pemahaman konsep dan kompleksitas kompetensi dalam setiap mata pelajaran bukan rancangan aktivitas pembelajaran

• Penjelasan singkat mengenai konsep dan kemampuan kunci, yang dapat ditunjukkan dengan performa yang nyata, bukan objektif

pembelajaran yang hanya berisi topik dan konten yang konkret.

(47)

TUJUAN CAPAIAN PEMBELAJARAN

PAUD

memberikan arah yang sesuai dengan usia perkembangan anak - nilai agama,

- fisik-motorik,

- emosional, anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya - bahasa, dan

- kognitif)

SD-SMA

menunjukkan kemajuan belajar yang digambarkan secara vertikal

dan didokumentasikan dalam suatu kerangka kualifikasi.

(48)

PRINSIP PENYUSUNAN CP

TERUKUR dan SPESIFIK

✓ ditulis berdasarkan taksonomi Bloom

✓ Memperhatikan aspek pengetahuan dan pemahaman

✓ Praktis

✓ Ketrampilan generik

FLEKSIBEL

✓ Sesuai proses dan tahapan belajar

OTONOMI

(49)

RUANG

LINGKUP

CP

(50)

TUJUAN CP DIRUMUSKAN PER FASE

materi pelajaran tidak terlalu padat

peserta didik mempunyai

cukup banyak waktu untuk memperdalam materi dan

mengembangkan kompetensi

(51)

Penggunaan istilah “fase” dalam CP

❑ untuk membedakannya dengan kelas

❑ karena peserta didik di satu kelas yang sama

bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang

berbeda.

(52)

FASE dalam CAPAIAN PEMBELAJARAN

Sekolah Umum (Reguler)

• Fase A : Pada umumnya SD Kelas 1-2

• Fase B : Pada umumnya SD Kelas 3-4

• Fase C : Pada umumnya SD Kelas 5-6

• Fase D : Pada umumnya SMP Kelas 7-9

• Fase E : Pada umumnya SMA Kelas 10

• Fase F : Pada umumnya SMA Kelas 11-12

Sekolah Luar Biasa

• Fase A : Pada umumnya usía mental (≤7 tahun)

• Fase B : Pada umumnya usía mental (±8 tahun)

• Fase C : Pada umumnya usia mental (±8 tahun)

• Fase D : Pada umumnya usía mental (±9 tahun)

• Fase E : Pada umumnya usía mental (±10 tahun)

• Fase F : Pada umumnya usía mental (±10 tahun)

Untuk SLB CP memakai acuan usía

mental yang ditetapkan berdasarkan

hasil asesmen

(53)

Prinsip Asesmen

(54)

No Prinsip Asesmen Hal-hal yang perlu diperhatikan Hal-hal yang perlu dihindari

1 Asesmen merupakan bagian

terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, dan menyediakan informasi yang holistik sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua, agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.

Asesmen merujuk pada kompetensi yang didalamnya tercakup ranah sikap,

pengetahuan, dan keterampilan.

Asesmen pada ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan dilakukan secara terpisah-pisah.

Asesmen dilakukan terpadu dengan pembelajaran

Asesmen dilakukan secara terpisah dari pembelajaran

Melibatkan peserta didik dalam

melakukan asesmen, melalui penilaian diri (self assessment), penilaian antar

teman (peer assessment), refleksi diri, dan pemberian umpan balik antar teman (peer feedback).

Asesmen hanya dilakukan oleh Guru

Pemberian umpan balik dilakukan dengan mendeskripsikan usaha terbaik untuk menstimulasi pola pikir bertumbuh, dan

Umpan balik berupa kalimat pujian yang pendek,misal bagus, keren, pintar, pandai, cerdas, dan sebagainya.

PrinsipAsesmen

Apa yang perlu diperhatikan dalam

menerapkan prinsip pembelajaran pada pembelajaran paradigma baru?

UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

(55)

No Prinsip Asesmen Hal-hal yang perludiperhatikan Hal-hal yang perlu dihindari

2 Asesmen dirancang dan

dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran.

Membangun komitmen dan menyusun perencanaan asesmen yang berfokus pada asesmen formatif

Berfokus pada asesmen sumatif

Menggunakan beragam jenis, teknik dan instrumen penilaian formatif dan sumatif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, capaian

pembelajaran, tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa

Tidak menggunakan instrumen penilaian atau. menggunakan instrumen asesmen, namun tidak sejalan dengan dengan karakteristik mata pelajaran, capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa

Asesmen dilakukan dengan alokasi waktu yang terencana

Asesmen dilakukan mendadak

Mengkomunikasikan kepada peserta didik tentang jenis, teknik, dan instrumen penilaian yang akan digunakan. Harapannya, peserta didik akan berusaha mencapai kriteria yang terbaik sesuai dengan kemampuannya

Jenis, teknik, dan instrumen asesmen hanya dipahami oleh Guru, sehingga peserta didik tidak memiliki gambaran kriteria terbaik yang dapat dicapai

(56)

UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

No Prinsip Asesmen Hal-hal yang perludiperhatikan Hal-hal yang perludihindari 3 Asesmen dirancang secara adil,

proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar dan menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya.

Asesmen dilakukan dengan memenuhi prinsip keadilan tanpa dipengaruhi oleh latar belakang pesertadidik

Asesmen lebih menguntungkan peserta didik karenalatar belakang tertentu.

Menerapkan moderasi asesmen, yaitu

berkoordinasi antar Guru untuk menyamakan persepsi kriteria, sehingga tercapai prinsip keadilan

Adanya unsur subjektivitas dalamasesmen

Menggunakan instrumen asesmen yang mampu

mengukur capaian kompetensi dengan tepat Menggunakan instrumen asesmen yang tidak sesuai dengan tujuan dan aktivitas pembelajaran

4 Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai serta strategi tindak lanjutnya.

Jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak. Bahasa yang kompleks dan terlaluilmiah. Penggunaan kata atau kalimat negatif.

Ketercapaian kompetensi dituangkan dalam

bentuk angka dan deskripsi Ketercapaian kompetensi dituangkan hanya dalam bentuk angka

Laporan kemajuan belajar hendaknya didasarkan pada bukti dan pencatatan perkembangan

kemajuan belajar peserta didik

Laporan kemajuan belajar tidak didasarkan pada bukti dan pencatatan perkembangan kemajuan belajar atau didasarkan hanya pada bukti yang tidakmencukupi

(57)

57 UNTUK INTERNAL TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN

No PrinsipAsesmen Hal-hal yang perlu

diperhatikan Hal-hal yang perludihindari

Laporan kemajuan belajar digunakan sebagai dasar penerapan strategi tindak lanjut untuk pengembangan kompetensi peserta didik

Laporan kemajuan belajar hanya dijadikan sekumpulan data atau dokumen tanpa adanya tindak lanjut

5 Hasil asesmen digunakan oleh peserta didik,

pendidik, tenaga

kependidikan, dan orang tua sebagai bahan refleksi untuk

meningkatkan mutu

pembelajaran

Hasil asesmen digunakan untuk perbaikan pembelajaran

berkesinambungan pada seluruh aspek dalam pengelolaan satuan pendidikan

Hasil asesmen hanya digunakan sebagai umpan balik bagi

peserta didik dan guru

(58)
(59)
(60)

TERIMAKASIH

Referensi

Dokumen terkait

menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan, misalnya menerapkan projek penguatan profil pelajar Pancasila sebagai

• Minta peserta memilih apa perasaan dirinya terkait Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang peristiwanya sudah diklarifikasi tadi (peserta boleh merenungkan

Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan Pendidikan, misalnya menerapkan projek penguatan profil pelajar Pancasila sebagai

Guru meminta siswa untuk bertanya kepada teman sekelasnya mengenai makanan kesukaan (sesuai dengan 5 pilihan yang tersedia) dan menuliskannya pada tabel yang telah

Pendidik dapat menggunakan rujukan, strategi dan format lain untuk merancang dan melaksanakan projek penguatan Profil Pelajar Pancasila, selama hasil yang diharapkan

Di akhir kegiatan guru akan mengajak siswa untuk membuat kesepakatan Bersama dengan menulis di buku masing-masing “Aku akan melakukan sarapan setiap hari agar aku bisa belajar

➢ Peserta didik secara berkelompok yang terdiri dari 3 orang menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dan waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaan projek serta cara

Oleh karena itu Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau bisa disebut dengan P5, dengan tema “Hidup Berkelanjutan” dan dengan mengangkat topic Cerdik Kelola