• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN STATUS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA MAKASSAR IKHWANUDDIN. Nomor Stambuk :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN STATUS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA MAKASSAR IKHWANUDDIN. Nomor Stambuk :"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN STATUS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA MAKASSAR

IKHWANUDDIN

Nomor Stambuk : 10564 315 08

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN STATUS KESEHATAN IBU DAN ANAK DI KOTA MAKASSAR

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Politik

Disusun Dan Diajukan Oleh IKHWANUDDIN

Nomor Stambuk : 10564 315 08

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)

ABSTRAK

IKHWANUDDIN. 2015. Peran Pemerintah Daerah dalam Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Makassar (dibimbing oleh Djuliati Saleh dan Ihyani Malik).

Peningkatan status kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu variabel tercapainya tujuan pembangunan milenium. Berdasarkan hal tersebut, peneliti terdorong untuk mencoba menggambarkan dan menjelaskan peran pemerintah daerah dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak di kota makassar.

Jenis penelitian adalah desktriptif kualitatif dengan menjelaskan peran pemerintah kota makassar dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak di kota Makassar. Data peran pemerintah kota dikumpul dengan menggunakan instrumen berupa; observasi dan dokumentasi serta dikembangkan dengan wawancara terhadap informan. Informan penelitian sebanyak 9 orang.

Hasil penelitian menunjukkan peran langsung Pemerintah Kota Makassar dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar belum dilakukan secara maksimal, menyeluruh dan merata. Peran Pemerintah Kota tersebut dipengaruhi oleh faktor; SDM, partisipasi masyarakat, sarana dan prasarana.

Kata kunci: Peran, Pemerintah Daerah, dan Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Pemerintah Daerah dalam Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Makassar”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Ibu Dra. Hj. Djuliati Saleh, M.Si selaku Pembimbing I dan Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos, M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak A. Luhur Prianto S.IP, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. 4. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Muhammadiyah Makassar.

5. Kedua orang tua dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan bantuan, baik moril maupun materil.

(5)

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini sangat bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 20 Januari 2015

(6)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan kesehatan yang merupakan salah satu domain dalam Human Development Index berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu Negara. Empat dari seluruh komitmen yang dicetuskan oleh negara-negara PBB dalam Millenium Development Goals (MDGs) terkait erat dengan masalah kesehatan, terutama tentang Kesehatan Ibu dan Anak. Program Kesehatan Ibu dan Anak menjadi sangat penting karena ibu dan anak merupakan unsur penting pembangunan, hal ini mengandung pengertian bahwa dari seorang ibu akan dilahirkan calon-calon penerus bangsa. Hingga saat ini, Angka Kematian Ibu dan Anak masih menduduki peringkat tertinggi di Asia walaupun telah mengalami penurunan setiap tahunnya.

Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Millenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melaksanakan 8 (delapan) tujuan pembangunan, yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan. Sebagai salah satu anggota PBB, Indonesia memiliki dan ikut melaksanakan komitmen tersebut.

(7)

Pembangunan secara umum sering diartikan sebagai upaya multidimensi untuk mencapai kualitas hidup seluruh penduduk yang lebih baik. Tujuan MDGs menempatkan manusia sebagai fokus utama pembangunan yang mencakup semua komponen kegiatan yang tujuan akhirnya ialah kesejahteraan masyarakat. Empat dari sasaran MDGs terkait secara langsung dengan peningkatan kesehatan masyarakat.

Masalah-masalah kesehatan yang banyak terjadi di Indonesia diantaranya adalah tingginya angka pertumbuhan penduduk, disparitas status kesehatan, beban ganda penyakit, yang mana data epidemiologi menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi penyakit, baik penyakit menular yang baru dan lama maupun tidak menular, peningkatan kematian akibat kecelakaan, dan menurunnya mutu kesehatan keluarga, terutama Kesehatan Ibu dan Anak (Konas Jen X, 2003; WHO Report, 2002).

Salah satu indikator yang digunakan untuk menggambarkan pencapaian pembangunan suatu Negara adalah Human Development Index (HDI)/ Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari tiga domain yakni kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. IPM Negara Indonesia berada di peringkat 108 dari 177 negara di dunia, lebih rendah dari negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Dari tahun ke tahun, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi sebagai salah satu bagian dari indikator IPM menurun landai dan masih menjadi masalah. Dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan.

(8)

Kesehatan Ibu dan Anak sebagai bagian dari tujuan MDGs dikarenakan masih tingginya Angka Kematian dan Kesakitan Ibu serta Angka Kematian Bayi yang merupakan indikator kesehatan umum dan kesejahteraan masyarakat. Populasi wanita di dunia pada umumnya akan lebih banyak dibandingkan populasi laki-laki dikarenakan ekspektansi Usia Harapan Hidup wanita lebih panjang daripada laki-laki. Usia Harapan Hidup sebagai indikator dalam menilai derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Keterkaitan Tujuan MDGs yang ke-3, yaitu kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita dan tujuan MDGs yang ke-6 memerangi HIV / AIDS dan penyakit menular lainnya terhadap Kesehatan Ibu dan Anak terutama dikaitkan dalam perolehan pendidikan yang oleh seorang wanita, yang diharapkan akan meningkatkan pengetahuan wanita tentang kesehatan, serta dengan demikian mampu mengerti tentang penyakit HIV / AIDS maupun menular lainnya yang membahayakan kesehatannya dan kesehatan anaknya.

Upaya mewujudkan pembangunan kesehatan tidak hanya dilakukan melalui perbaikan pelayanan di bidang kesehatan, melainkan yang tidak kalah pentingnya adalah upaya meningkatkan perbaikan gizi masyarakat. Masalah gizi berakar dari kemiskinan, masalah ini tidak mungkin hanya dipecahkan oleh nutritionst (ahli gizi), dan bukan semata-mata merupakan tanggung jawab Kementrian Kesehatan, melainkan perlu melibatkan beberapa lintas sektor, baik instansi pemerintah, LSM maupun perorangan. Salah satu faktor penghambat yang menyebabkan menurun dan stagnannya cakupan perbaikan gizi, antara lain dikarenakan belum optimalnya dukungan pemerintah, pemerintah daerah,

(9)

masyarakat, LSM dan dunia usaha, jumlah dan kemampuan petugas dalam pengelolaan program, serta lemahnya sistem informasi kesehatan. Tampak jelas bahwa semua stakeholder saling bantu-membantu dalam pembangunan kesehatan disesuaikan dengan peran masing-masing.

Pemerintah Kota Makasar telah melaksanakan berbagai program pembangunan di semua sektor dalam upaya untuk meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia serta mempercepat pencapaian Target MDGs 2015 dan percepatan pencapaian target RPJMD Kota Makassar tahun 2009 – 2014 yaitu Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk. Untuk mempercepat pencapaian tersebut maka Pemerintah Kota Makassar mencanangkan Tahun 2012 sebagai “Tahun Kesehatan Gizi, Ibu dan Anak ” dengan tema “Menyelamatkan 1000 hari pertama kehidupan”.

Kepala dinas kesehatan Makassar Naisyah Tun Azikin mengatakan, pencanangan tahun kesehatan ibu dan anak dilakukan melalui program menyelamatkan seribu hari awal kehidupan. Memaksimalkan program tersebut, Pemerintah Kota Makassar telah berkoordinasi dengan puskesmas, bidan, hingga pos kesehatan masyarakat yang berada di tingkat kelurahan.

Bentuk koordinasinya melalui membangun pemahaman mengenai sejumlah program yang telah dilaksanakan, seperti pembebasan biaya persalinan. “Peran kelurahan dan kader kesehatan yang dibentuk kami harapkan lebih ditingkatkan” harapnya.

(10)

Berdasarkan data kinerja kesehatan di Makassar, khususnya tingkat kematian ibu dan bayi menurun. Pada tahun 2011, kematian ibu hanya 11,4 %, dan angka kematian bayi mencapai 6,9 %. Jumlah tersebut berkontribusi positif terhadap target pencapaian IPM kesehatan tahun 2011 yang mencapai 82 %. Berdasarkan target MDGs, angka kematian ibu dan bayi hingga 2014 bisa mencapai 0 %. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai Peran Pemerintah Daerah dalam Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Makassar.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar?

2. Faktor apa yang mempengaruhi peningkatan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar.

b. Untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi tercapainya peningkatan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar.

(11)

2. Kegunaan Penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran yang jelas mengenai peran pemerintah daerah dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak di kota makassar.

b. Hasil Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan operasional pembangunan pelayanan di sektor kesehatan.

c. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan guna penyusunan dan penyempurnaan pembangunan pelayanan di sektor kesehatan.

d. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan baik bagi peneliti maupun lembaga pendidikan dan untuk menambah kepustakaan yang sudah ada.

e. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan atau pedoman untuk penelitian selanjutnya.

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori

1. Pengertian Peran

Peranan berasal dari kata peran yang berarti sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama. Peranan atau role juga diartikan sebagai suatu kelakuan yang diharapkan dari oknum dalam antar hubungan sosial tertentu yang berhubungan dengan status sosial tertentu. Melihat pengertian ini, jika dikaitkan dengan pengertian peranan dalam pemerintah daerah adalah tugas dan wewenang pemerintah daerah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu supaya pemerintah dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka harus menjalankan peranannya. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, Peranan adalah aspek dinamis dari kedudukan tertentu (status) apabila seseorang melaksanakan hak-hak tertentu serta kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan peranannya.

Peranan menurut Levinson sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto, sebagai berikut: Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

(13)

Dari beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa peran merupakan tugas dan fungsi seseorang untuk melaksanakan hak-hak tertentu serta kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Oleh karena itu, dalam konteks pembahasan ini maka peran dimaksudkan sebagai keterlibatan atau keikutsertaan secara aktif Pemerintah Kota Makassar dalam suatu pencapaian yang dilakukan terhadap Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak pada Kota Makassar dalam rangka terwujudnya Makassar Sehat Menuju Kota Dunia.

2. Pemerintah Daerah

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pengertian pemerintah itu sendiri. Istilah pemerintahan berasal dari kata pemerintah, sedangkan pemerintah berasal dari kata perintah. Arti kata-kata tersebut menurut Poerwardarminta, Pemerintah adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu.

Mengenai pengertian pemerintah, Bayu Suryaningrat mengatakan bahwa pemerintah dapat diartikan sebagai badan yang tertinggi memerintah sesuatu negara, sedangkan pengertian pemerintahan adalah perbuatan atau cara atau urusan memerintah.

Pemerintah menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta pembantu-pembantunya. Pemerintah itu adalah suatu badan/lembaga negara (statis). Sedangkan yang dilakukan pemerintah (dinamis) secara umum yang

(14)

dimaksud dengan pemerintah adalah bagaimana caranya mengendalikan suatu negara di dalam usahanya untuk mencapai tujuan negara.

Pada umumnya yang disebut pemerintah adalah suatu kelompok individu yang mempunyai wewenang tertentu untuk melaksanakan kekuasaan. Dengan demikian pemerintah suatu negara ini mempunyai hal untuk mengatur dan mengurus urusannya sendiri atau rumah tangga nasional dan memiliki kekuasaan untuk melaksanakan yang sifatnya memaksa, apabila tersebut bersangkut paut dengan kepentingan negara.

Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Pemerintah juga adalah organ yang berwenang memproses pelayanan publik dan berkewajiban memproses pelayanan sipil bagi setiap orang melalui hubungan pemerintahan, sehingga setiap anggota masyarakat yang bersangkutan menerimanya pada saat diperlukan, sesuai dengan tuntutan (harapan) yang diperintah.

Menurut Sarundajang, pemerintah daerah adalah suatu unit organisasi pemerintahan berbasis geografis tertentu yang ada dalam suatu negara berdaulat; misalnya, “provinsi” atau “negara bagian” sebagai unit antara (intermediate unit) dan “kota” atau “distrik” sebagai unit dasar (basic unit). Diketahui bahwa jenis pemerintahan daerah dibedakan oleh 2 variabel utama yaitu tujuan (tujuan umum atau general purpose dan tujuan khusus atau special purpose) dan representasi (perwakilan atau representative dan nonperwakilan atau nonrepresentative). Namun jenis yang paling sering

(15)

dijumpai di banyak negara di dunia adalah pemerintah daerah sebagai unit perwakilan dengan tujuan umum. Artinya, pemerintah daerah memiliki sekurang-kurangnya kepala daerah dan dewan perwakilan, dan bertujuan menyelenggarakan pelayanan dan pengaturan umum di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.

Pentingnya pemerintahan daerah merupakan konsekuensi logis dari adanya perbedaan etnis, linguistik, agama, dan institusi sosial berbagai kelompok masyarakat lokal di suatu negara. Fungsi pelayanan dan pengaturan umum di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, perlu didistribusikan secara sentral dan lokal, agar ia benar-benar aspiratif baik terhadap kepentingan nasional maupun terhadap tuntutan heterogenitas lokal tersebut. Adanya pemerintahan daerah akan memperbesar akses setiap warga negara untuk berhubungan langsung dengan pemimpinnya, dan sebaliknya, pimpinan daerah akan memperoleh kesempatan yang luas untuk mengetahui sumber daya, masalah, kendala, dan kebutuhan daerahnya, serta menghilangkan mekanisme pembuatan keputusan yang kurang efisien. Di samping itu, unit daerah dengan populasi yang relatif homogen akan lebih berpeluang untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang antagonistik dengan kondisi dan kebutuhan anggota masyarakat yang dominan di wilayah tertentu.

Ada 2 jenis daerah unit dasar yang sering dijumpai yaitu daerah perkotaan dan daerah perdesaan (di Indonesia berturut-turut dikenal sebagai kotamadya dan kabupaten). Perbedaannya terletak pada jangkauan otoritas

(16)

(misalnya pelayanan umum di daerah perkotaan yang karena populasinya lebih padat relatif lebih luas ketimbang yang ada di daerah pedesaan) di samping akses terhadap sumber daya (fasilitas, keuangan, dan aparat). Namun demikian, persamaannya ialah bahwa masing-masing kota, pedesaan atau perkotaan, mempunyai status hukum yang sama. Artinya, keduanya diorganisasikan secara seragam dengan hak dan kewajiban setiap institusi yang sama. Di Indonesia, Kabupaten membawahi kota-kota administrasi dan kota-kota lainnya (kota kecamatan).

Kepala daerah merupakan figur inti untuk mengkoordinasi aspek-aspek perwakilan dan administratif dari proses pemerintahan daerah. Di banyak negara, ia dikenal sebagai walikota, tapi di negara lain ia disebut manajer (di Indonesia, kepala daerah kabupaten disebut bupati). Yang menarik untuk diketahui ialah sulitnya membuat generalisasi bahwa seorang kepala daerah semata-mata adalah pimpinan ekseskutif, mengingat pada negara-negara dengan sistem pemerintahan daerah yang menggunakan komisi (eksekutif beranggota banyak) dijumpai adanya ketua komisi yang sering merupakan kepalah daerah yang berasal dari dewan; jadi, kepala daerah juga adalah ketua dewan.

Kalaupun kepala daerah adalah eksekutif tunggal, peranannya dalam proses pemerintahan perwakilan ternyata juga cukup besar. Fungsi pokok kepala daerah adalah koordinasi menyeluruh terhadap berbagai fungsi dan pelaksanaan peraturan, namun dalam praktik ia memiliki pengaruh yang pada proses pembuatan dan penerapan peraturan itu sendiri. Dari empat

(17)

tahapan proses pembuatan peraturan daerah yaitu penciptaan gagasan, pembahasan rancangan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan keputusan. Maka kecuali tahap ketiga kepala daerah senantiasa mendominasi sebagian besar tahapan proses pemerintahan perwakilan daerah.

Sebagai puncak suatu piramida hierarki administratif, kepala daerah bertugas menjalankan keseluruhan peraturan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh badan perwakilan daerah atau oleh unit pemerintahan yang lebih tinggi. Ini berarti bahwa ia memiliki kewenangan penuh untuk membuat keputusan-keputusan yang diperlukan guna operasionalisasi dari peraturan atau kebijaksanaan yang dibuat oleh dewan perwakilan atau instansi yang lebih tinggi. Ruang lingkup tugas kepala daerah (chief executive) yang banyak dijumpai, merupakan pencerminan dari statusnya sebagai pemimpin eksekutif (local excecutive leader), antara lain dalam mempersiapkan dan mengawasi penggunaan anggaran belanja daerah, kegiatan dan efisiensi aparatur daerah, dan terkadang kegiatan kepolisian, serta tugas-tugas yang secara langsung diberikan oleh pemerintah pusat.

Secara historis, asal usul dari struktur pemerintahan daerah yang kita kenal saat ini berakar dari Eropa di abad ke-11 dan ke-12. Beberapa istilah yang digunakan untuk pemerintahan daerah masih termasuk lama, berasal dari Yunani dan Latin Kuno. Koinotes (komunitas) dan demos (rakyat atau distrik) adalah istilah-istilah pemerintahan daerah yang digunakan di Yunani sampai sekarang. Municipality (kota atau kotamadya) dan varian-variannya

(18)

berasal dari istilah hukum Romawi municipium. City (kota besar), berasal dari istilah Romawi civitas yang juga berasal dari kata civis (penduduk). County (kabupaten) berasal dari comitates, yang berasal dari kata comes, kantor dari seorang pejabat kerajaan (Norton, 1994).

Pada dasarnya, konsep-konsep pemerintahan daerah muncul dari kesadaran bahwa “bahasa menunjukkan keyakinan dan praktik para pelaku-pelaku politik” (Ball et al., 1989). Kata Perancis commune, bukan berarti

suatu organisasi yang dikendalikan oleh wakil-wakil rakyat terpilih melainkan komunitas swakelola dari sekelompok penduduk suatu wilayah. Ide mendasar tentang commune adalah “suatu pengelompokan alamiah dari penduduk yang tinggal pada suatu wilayah tertentu, dengan kehidupan kolektif yang dekat, dan memiliki kesamaan minat dan perhatian yang bermacam-macam” (Bourjol & Bodard, 1984). Pengertian yang sama juga digunakan di Italia dan negara-negara lain yang menggunakan istilah yang sama. Di Indonesia, pengertian sejenis berlaku untuk “desa” yang setidaknya sebelum pemberlakuan UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan UU No. 22 Tahun 1991 serta UU No. 32 Tahun 2004, bukan merupakan organisasi pemerintahan perwakilan tetapi lebih sebagai suatu komunitas yang berkelompok secara alamiah pada suatu wilayah tertentu dan dikendalikan oleh tradisi dan budaya yang berlaku dan dipraktikkan penduduknya (Manan, 1994).

Dalam perkembangannya, pemerintah daerah kemudian dipandang sebagai unit organisasi pemerintahan berbasis geografis tertentu yang ada

(19)

dalam suatu negara berdaulat. Jenis pemerintahan ini termasuk unit perantara (intermediate unit) seperti provinsi dan unit dasar (basic unit) seperti kota besar (city), kotamadya (municipality), atau kabupaten (county atau regency) dan dibeberapa negara berupa subkota (submunicipal).

Di Indonesia, konsep atau pengertian daerah yang terakhir diberlakukan merujuk pada pemahaman sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut, istilah daerah secara teknis dibedakan dari istilah wilayah, dalam hal yang pertama dipergunakan manakala topik yang dibahas terkait dengan azas desentralisasi, sedang yang kedua terkait dengan azas dekonsentrasi. Dengan kata lain, disebut daerah apabila ia memiliki institusi-institusi untuk menyelenggarakan sendiri (otonomi) urusan-urusan yang telah diserahkan pusat kepadanya. Dalam konteks ini, desa dan kecamatan tidak dapat dikategorikan sebagai daerah oleh karena desa tidak menjalankan otonomi atas urusan-urusan yang diserahkan, sedang kecamatan sepenuhnya menjalankan tugas-tugas dekonsentrasi (Manan, 1991, Utama; 1991). Ringkasnya, konsep “pemerintahan daerah” menurut Undang-Undang No.5 Tahun 1974 mengacu pada suatu organisasi pemerintahan berbasis wilayah dan penduduk tertentu yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan-urusan yang telah diserahkan kepadanya oleh pemerintahan diatasnya.

Sebagai suatu subbagian geografis dari suatu negara berdaulat, pemerintah daerah berfungsi memberikan pelayanan umum dalam suatu

(20)

wilayah tertentu. Pemerintah daerah memiliki semua atau sebagian besar dari ciri-ciri yang meliputi wilayah yang dibatasi, suatu populasi, suatu organisasi yang berkelanjutan, otoritas dan kekuatan untuk melaksanakan kegiatan umum, kemampuan untuk menuntut dan dituntut, serta membuat kontrak, menagih pajak dan retribusi, di samping hal-hal lain sebagai kewenangan yang dilimpahkan oleh pemerintah diatasnya.

Di setiap negara di dunia, kewenangan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum didistribusikan secara sentral dan lokal (Maas, 1961). Secara sentral, kewenangan telah dibagi berdasarkan kegiatan di berbagai kementerian yang ada di ibukota. Di tingkat lokal, kewenangan dibagi berdasarkan wilayah yang ada di berbagai pemerintahan daerah di seluruh negara. Kedua sistem tersebut saling terkait dan melengkapi, sungguhpun dalam praktik sering tumpang tindih dan saling bersaing. Di antara faktor yang telah mendorong peningkatan distribusi kewenangan pusat ke daerah ialah berkembangnya sistem komunikasi yang cepat dan langsung, transportasi yang lebih baik, meningkatnya profesionalisme, tumbuhnya asosiasi-asosiasi di samping tuntutan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, pelayanan lebih baik, serta kepemimpinan politik dan administratif yang lebih efisien.

Manfaat seperti ini erat kaitannya dengan perbedaan yang ada di antara masyarakat daerah yang terpencar. Misalnya, banyak dari provinsi dan kota yang ada dewasa ini telah eksis dalam bentuk tertentu, sebelum terbentuknya negara berdaulat di mana daerah tersebut menjadi bagiannya

(21)

sekarang. Perbedaan yang berkaitan dengan latar belakang etnis, bahasa, budaya dan agama, di samping institusi sosial dan pertimbangan politik maupun administratif, pada umumnya merupakan indikator penting bagi perlunya mempertahankan keberadaan sebuah daerah (Maas, 1961).

Kebutuhan untuk memanfaatkan institusi daerah pada dasarnya disebabkan oleh adanya variasi dalam hal kepadatan penduduk, intensitas kebutuhan, dan minimnya sumber daya yang tersedia pada masyarakat (Norton, 1994). Dalam dua dekade terakhir, misalnya kepentingan potensial pemerintah daerah telah meningkat sejalan dengan tuntutan yang semakin besar terhadap pembangunan daerah dan peningkatan pelayanan. Di samping itu, walaupun fenomena di atas mempengaruhi semua pemerintah daerah, tuntutan pelayanan bagi yang ada di wilayah perkotaan makin tinggi. Semakin besar hambatannya, semakin tidak dapat dihindarkan masalah kriminalitas, pemukiman kumuh, jalanan yang bersesakan, persediaan air yang tidak mencukupi, fasilitas kebersihan yang terbatas, persekolahan yang tidak memuaskan, dan pengangguran.

Perbedaan dalam kondisi daerah, kebutuhan daerah, sumber daya daerah, aspirasi daerah, dan bahkan prioritas daerah menuntut perlunya diciptakan alat transformasi kebijaksanaan nasional yang efektif ke dalam program daerah secara responsif dan bertanggung jawab. Kesulitan untuk menjalankan serangkaian pelayanan kepada masyarakat daerah oleh kementerian yang ada di pusat negara senantiasa dijumpai di negara mana

(22)

pun di dunia ini. Bahkan, banyak pejabat dalam birokrasi nasional memiliki pemahaman yang minim dalam hal keberagaman kondisi daerah.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah menyatakan bahwa pemerintahan daerah terdiri dari tiga tingkatan: wilayah Provinsi dan Ibukota Negara; wilayah kabupaten dan Kotamadya; dan wilayah Kecamatan. Sedang wilayah pemerintahan terendah adalah Desa sebagaimana diatur tersendiri dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Desa. Namun dalam kaitan dengan otonomisasi, dikenal hanya ada dua tingkatan pemerintahan daerah: Daerah Tingkat I (Provinsi) dan Daerah Tingkat II (Kabupaten dan Kotamadya), masing-masing dilengkapi dengan suatu badan perwakilan yang dinamakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I dan Tingkat II. Hal ini sama dengan UU No. 22 Tahun 1999 atau penggantinya UU No. 32 Tahun 2004, di mana Daerah Otonom adalah Provinsi, Kabupaten dan Kota (tidak ada lagi nomenklatur Daerah Tingkat I atau Daerah Tingkat II). 3. Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. (Pasal 1 butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

Istilah kesehatan didalam Undang-undang no. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok, Bab I pasal 2 didefinisikan sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan kesehatan dalam undang-undang ini ialah keadaan yang meliputi

(23)

kesehatan badan, rohani (mental), dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacar dan kelemahan”.

Defenisi kesehatan tersebut sangat mirip dengan defenisi yang dianut oleh Organisasi Kesehatan Dunia sebagai berikut: “Health is defined as a state of complete physical, mental, and social wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity”.

Istilah ini telah sedikit berubah di dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor: 23 tahun 1992 tentang kesehatan Bab 1 pasal 1 sebagai berikut: “Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis”. Kesehatan Ibu dan Anak menjadi target dalam Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs), tepatnya pada tujuan 4 dan tujuan 5 yaitu Menurunkan Angka Kematian Anak dan Meningkatkan Kesehatan Ibu. Program Kesehatan Ibu dan Anak menjadi sangat penting karena ibu dan anak merupakan unsur penting pembangunan, hal ini mengandung pengertian bahwa dari seorang ibu akan dilahirkan calon-calon penerus bangsa yaitu anak. Untuk mendapatkan calon penerus bangsa yang akan dapat memberikan manfaat bagi bangsa maka harus diupayakan kondisi ibu dan anak yang sehat.

Angka Kematian Ibu (AKI) mengacu kepada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Laporan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) terakhir memperkirakan Angka Kematian Ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.

(24)

Bahkan WHO, UNICEF, UNFPA, World Bank memperkirakan Angka Kematian Ibu yang lebih tinggi, yaitu 420 per 100.000 kelahiran hidup (Trisnantoro L, 2011).

Untuk meningkatkan status kesehatan ibu, target yang ingin dicapai MDGs adalah:

a. Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-perempat antara tahun 1990-2015 dengan indikator tingkat kematian ibu (per 100.000) dan kelahiran yang dibantu tenaga terlatih.

b. Menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada tahun 2015 dengan indikator wanita menikah pada usia 15-49 tahun yang menggunakan alat KB, tingkat kelahiran usia muda (per 1000 perempuan usia 15-19 tahun) dalam berkunjung ke fasilitas kesehatan, serta kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (Stalke P, 2008).

Itulah sebabnya, tujuan ke empat MDGs adalah mengurangi jumlah kematian anak. Targetnya adalah menurunkan angka kematian balita sebesar dua-pertiganya antara tahun 1990 sampai dengan 2015. Ada empat indikator mencapai target tersebut, yaitu:

a. Tingkat Kematian Anak (1-5 tahun) per 1.000 b. Tingkat Kematian Bayi (per 1.000)

c. Tingkat Imunisasi Campak (usia 12 bulan)

(25)

Target yang diharapkan dicapai pada tahun 2015 untuk Angka Kematian Bayi adalah menurun menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup, dan untuk Angka Kematian Balita menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup.

Program kesehatan yang terkait meningkatkan status kesehatan ibu dan anak dapat diperoleh melalui pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas, bidan desa, penyuluhan-penyuluhan kesehatan, dan sebagainya. Masalah reproduksi memiliki dampak yang luas serta menyangkut berbagai aspek kehidupan. Selain itu, dapat digunakan sebagai parameter kemampuan Negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kesehatan sistem reproduksi sangat erat kaitannya dengan angka kematian ibu dan anak.

Pemerintah dan petugas kesehatan diharapkan memahami dan peduli pada permasalahan-permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Untuk mengatasi masalah kesehatan remaja, perlu pendekatan yang adolescent friendly, baik dalam menyampaikan informasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), yang diharapkan menyediakan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah dan kebutuhan remaja.

Ketimpangan yang sering terjadi di masyarakat awam Indonesia adalah pemahaman tentang alur rujukan ini sangat rendah sehingga sebagian mereka tidak mendapatkan pelayanan yang sebagaimana mestinya. Masyarakat kebanyakan cenderung mengakses pelayanan kesehatan terdekat atau mungkin paling murah tanpa memperdulikan kompetensi institusi ataupun operator yang memberikan pelayanan. Hal ini merupakan

(26)

salah satu akibat dari tidak berjalannya sistem rujukan kesehatan di Indonesia.

Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua, dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka tanggung jawab diserahkan ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya.

Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi, transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan tepat. Sebuah penelitian yang meneliti tentang sistem rujukan menyatakan bahwa beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan adalah tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait, keterbatasan sarana, tidak ada dukungan peraturan.

Hasil penelitian Murray dan Pearson bahwa penerapan sistem rujukan merupakan elemen penting dalam menyukseskan program Safe Motherhood di Negara-negara berkembang. Sistem rujukan harus dipertimbangkan sebagai komponen penting dari sistem kesehatan secara keseluruhan. Dengan demikian, sistem rujukan obstetri dapat digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai sistem pelayanan kesehatan ibu. Agar sistem rujukan maternal dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan penyusunan

(27)

strategi rujukan sesuai dengan sistem kesehatan dan kondisi masyarakat setempat.

Masih tingginya Angka Kematian Ibu maupun masih rendahnya jumlah ibu yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan disebabkan kendala biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Dalam upaya menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal).

Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan yang di dalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir.

Mengingat bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak konstitusional sebagaimana amanat Amandemen Kedua UUD 1945 Pasal 28 ayat (1) huruf h dan Pasal 34 ayat (4), dan mempunyai sasaran seluruh penduduk negeri tanpa terkecuali sejak konsepsi hingga lanjut usia serta sebagai penentu kualitas sumber daya manusia. Dan merujuk UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 13 dan Pasal 14 penanganan kesehatan merupakan urusan yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, maka Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus dapat memenuhi hak-hak konstitusional bagi seluruh

(28)

warga masyarakatnya, dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Sesuai dengan PP No 38 Tahun 2007 maka urusan bidang kesehatan yang menjadi urusan daerah, baik Daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Penyuluhan, koordinasi, pendekatan, pembinaan, dan pengendalian merupakan sebagian dari yang menjadi urusan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

a. Penyuluhan

Setiap warga negara mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas termasuk pelayanan informasi. Untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar, Pemerintah Kota Makassar beserta dinas-dinas terkait, melakukan penyebarluasan informasi kesehatan. Sosialisasi yang tak hanya dilakukan di tiap fasilitas kesehatan (Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit) melainkan juga di tiap fasilitas pendidikan, seperti di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Baik itu sosialisasi secara langsung, misalnya melalui berbagai penyuluhan, pertemuan, lokakarya, seminar. Maupun secara tidak langsung, misalnya dengan menggunakan media informasi yang ada, baik itu koran, radio, televisi, internet. Secara berkala hendaknya Pemerintah Kota Makassar senantiasa mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dengan cara menanamkan pola pikir dan prilaku hidup bersih dan sehat. Mensosialisasikan seluruh program kesehatan terkait dengan meningkatkan status kesehatan ibu dan anak seperti program pelayanan kesehatan gratis, Tahun Kesehatan-Gizi Ibu

(29)

dan Anak, Buku KIA, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), Kartu Menuju Sehat (KMS), Sistem Rujukan Berjenjang.

Penyampaian materi dan pesan-pesan harus diberikan secara bertahap, berulang-ulang dan bervariasi, sesuai dengan daya serap dan kemampuan kelompok sasaran untuk melaksanakan perilaku yang diharapkan. Materi dan pesan yang bervariasi tidak membosankan sehingga penerima pesan tertarik dan senang dengan informasi yang diterima. Perlu diolah sedemikian rupa agar akrab dengan kondisi dan lingkungan kelompok sasaran melalui pemilihan bahasa, media, jalur dan metode yang sesuai.

Pihak tenaga kesehatan seperti bidan dan kader kesehatan di Puskesmas, Pustu, dan Posyandu hendaknya agar memberikan informasi tentang antenatal care dan kehamilan lebih ditingkatkan pada temu wicara (konseling). Selain itu, petugas KIA juga perlu menghimbau keluarga ibu hamil untuk lebih memotivasi ibu hamil memeriksakan kandungannya dan melahirkan di fasilitas kesehatan. Peningkatan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, bayi dan balita. Penggunaan buku KIA, Konsep SIAGA(Siap, Antar, Jaga), Penyediaan dana, transportasi, donor darah untuk keadaan darurat, serta peningkatan penggunaan ASI Eksklusif.

(30)

Koordinasi penting artinya dalam usaha pencapaian tujuan apapun, sebab koordinasi mempunyai tujuan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam suatu pekerjaan. Koordinasi sangat diharapkan mulai dari tahap persiapan/perencanaan, pelaksanaan bahkan penilaian, baik dari segi motivasi maupun teknis dari masing-masing sektor. Koordinasi dan pergerakan antara pusat dan daerah, antara provinsi dan kabupaten/kota, antara kota dan kabupaten. Kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah dan legislatif. Pelaksanaan program melalui jejaring yang sudah dibentuk di masing-masing sektor terkait.

Mengintegrasikan pelayanan KIA, KB, dan Gizi dalam satu komponen. Pelaksanaan program mengikuti mengikuti asas-asas desentralisasi, sedangkan pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan nasional. Mendukung adanya komitmen, peraturan dan kontribusi pembiayaan termasuk dengan berbagai pihak terkait. Peningkatan keterlibatan LSM, organisasi profesi, swasta dan sebagainya.

Secara rinci koordinasi antar lembaga mencakup koordinasi Puskesmas dengan Rumah Sakit Pemerintah, Puskesmas dengan Rumah Sakit Swasta, Puskesmas dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dengan Dinas Kesehatan. Koordinasi antar profesi misal antara Dokter spesialis dengan bidan dan dokter umum di Puskesmas dan di Rumah Bersalin, antar dokter spesialis di Rumah Sakit, dan antara Kepala Dinas Kesehatan dengan Kepala Rumah Sakit dan Kepala Puskesmas. Dalam

(31)

hal koordinasi tersebut harus didukung dengan SOP atau Juknis (Petunjuk Teknis) yang jelas.

Bila dilihat secara mendasar, kematian ibu dan bayi dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya sosial, ekonomi, demografi, geografi, dan jangkauan pelayanan kepada masyarakat. Melalui kerjasama antara tenaga kesehatan dengan keluarga, tokoh masyarakat, termasuk kader kesehatan, diharapkan permasalahan pelayanan kesehatan secara bertahap dapat ditanggulangi. Dengan demikian, permasalahan kesehatan ibu hamil dan bayi bukan hanya dititikberatkan kepada tenaga kesehatan saja, melainkan juga untuk partisipatif aktif keluarga dan masyarakat melalui kemitraan. Upaya kesehatan harus dilakukan secara terkoordinasi dan berkesinambungan melalui prinsip kemitraan dengan pihak-pihak terkait serta harus membangkitkan dan mendorong keterlibatan dan kemandirian.

c. Pendekatan

Tokoh masyarakat atau pemimpin informal sangat besar pengaruhnya baik terhadap masyarakat maupun terhadap pemerintah. Dengan kata lain pemimpin informal bisa menjembatani antara masyarakat dengan pemerintah. Melihat keadaan demikian, usaha untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak tidak mengesampikan peran penting tokoh masyarakat maupun pemimpin informal tersebut.

Mengenai hubungan antara pemerintah dengan tokoh masyarakat dalam meningkatkan status kesehatan ibu dan anak tidak dapat

(32)

dikesampingkan. Adapun caranya dengan mengadakan pendekatan-pendekatan dengan tokoh masyarakatnya atau terjun langsung ke lapangan bertemu dengan masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan cara silaturahmi atau komunikasi sambung rasa dan lain sebagainya. Dalam mewujudkan paradigma sehat, dikembangkan pelayanan kesehatan dengan pendekatan keluarga. Pendekatan keluarga adalah suatu pendekatan yang memberdayakan potensi keluarga dalam menangani masalah kesehatan keluarga secara mandiri, dengan memperhatikan aspek fisik, biologis, sosial ekonomi dan budaya, terutama kesehatan ibu, bayi, balita, remaja, Pasangan Usia Subur, tenaga kerja, dan usia lanjut.

Pendekatan keluarga untuk pemberdayaan keluarga antara lain dilakukan dengan mengunjungi pasien resiko tinggi dan dilakukan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) secara menyeluruh pada keluarga. Metode pendidikan kesehatan dengan pendekatan keluarga menggunakan proses pendidikan dua arah (metode sokratik) melalui komunikasi intrapersonal, konseling dan negosiasi kepada keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengenali masalah dan melakukan pemecahan masalah secara mandiri. d. Pembinaan

Seperti diketahui bahwa Dinas Kesehatan merupakan lembaga pemerintah, sedangkan selain dari itu ada beberapa lembaga penunjang atau yang membantu lembaga pemerintah yaitu lembaga

(33)

kemasyarakatan. Mengingat betapa pentingnya lembaga tersebut, pemerintah hendaknya memberi perhatian khusus dengan mengadakan pembinaan terhadap lembaga kemasyarakatan. Pelaksanaan pembinaan ini tentu saja harus melibatkan semua unsur, dimana camat melalui koordinasi vertikal dibantu oleh Kepala Kelurahan mengarahkan dan membina lembaga kemasyarakatan tadi, disamping itu melibatkan juga semua komponen masyarakat.

Upaya kesehatan masyarakat harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mendukung peningkatan status kesehatan ibu dan anak terutama upaya pendidikan kesehatan yang seimbang. Upaya pendidikan kesehatan dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal, dengan memberdayakan para tenaga pendidik dan pengelola pendidikan pada sistem pendidikan yang ada.

Pemberian pelayanan kesehatan remaja melalui penerapan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) atau pendekatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Integratif di tingkat pelayanan dasar yang bercirikan “peduli remaja” dengan melibatkan remaja secara penuh.

Pelaksanaan pendidikan kesehatan remaja melalui integrasi materi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembangkan kegiatan ekstrakulikuler seperti bimbingan dan konseling, Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

(34)

Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional khususnya di bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan mengikutsertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab. Keikutsertaan masyarakat dalam operasional pelayanan akan meningkatkan efisiensi pelayanan dan akan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan.

Dan upaya pemberdayaan keluarga, diharapkan masing-masing keluarga bisa mengenali sendiri masalahnya, mampu mengatasi masalahnya, serta mampu menggunakan potensi yang ada dalam keluarga dan memanfaatkan peluang yang ada di lingkungannya semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah mereka. Pemberdayaan keluarga akan menghasilkan kemandirian keluarga, utamanya untuk mengatasi masalah-masalah terkait meningkatkan status Kesehatan Ibu dan Anak.

Pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat noninstruktif, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk mengindentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahan masalahnya, tanpa atau dengan bantuan pihak lain, dengan memanfaatkan potensi keluarga dan fasilitas yang ada masyarakat. Dalam rangka mengatasi masalah atau kasus, dimulai

(35)

dengan mencari fakta dan informasi untuk menetapkan masalah dan sebab masalah serta mengindentifikasi potensi individu dan keluarga, merumuskan langkah-langkah intervensi melalui pendekatan keluarga dengan pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan kemandirian. e. Pengendalian

Membangun sistem pelayanan kesehatan melalui pelayanan kesehatan dasar dan rujukannya serta melakukan pelayanan pro aktif dengan mendekatkan pelayanan kepada sasaran. Melakukan survei / penelitian untuk mengetahui permasalahan kesehatan dan tindak lanjutnya untuk pemantapan pelayanan kesehatan. Melakukan monitoring dan evaluasi program dilakukan berkala, terintegrasi dengan menggunakan indikator-indikator pencapaian dalam periode tahunan maupun lima tahunan.

Kegiatan pengendalian mencakup telaah penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, baik itu telaah internal maupun telaah eksternal. Telaah internal adalah telaah bulanan terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai oleh puskesmas dibandingkan dengan rencana dan standar pelayanan. Telaah eksternal adalah telaah triwulan terhadap hasil yang dicapai oleh sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama serta sektor lainnya yang terkait.

B. Kerangka Pikir

Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir harus melalui jalan yang terjal. Upaya untuk meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

(36)

serta mempercepat pencapaian Target MDGs 2015 dan percepatan pencapaian target RPJMD Kota Makassar tahun 2009–2014 yaitu Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk. Waktu yang tersisa hanya tinggal kurang lebih satu tahun, tidak akan cukup untuk mencapai sasaran itu tanpa upaya-upaya yang luar biasa.

Kejadian kematian ibu dan bayi yang terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan bayi masih menjadi tragedi yang terus terjadi di negeri ini. Untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir diperlukan upaya dan inovasi baru, tidak bisa dengan cara-cara biasa. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyebab langsung kematian ibu hampir 90 persen terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Sementara itu, risiko kematian ibu juga makin tinggi akibat adanya faktor keterlambatan, yang menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu. Ada tiga risiko keterlambatan, yaitu terlambat mengambil keputusan untuk dirujuk (termasuk terlambat mengenali tanda bahaya), terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan darurat dan terlambat memperoleh pelayanan yang memadai oleh tenaga kesehatan. Sedangkan pada bayi, dua pertiga kematian terjadi pada masa neonatal (28 hari pertama kehidupan). Penyebabnya terbanyak adalah bayi berat lahir rendah dan prematuritas, asfiksia (kegagalan bernapas spontan) dan infeksi.

Pemerintah Kota Makassar diharapkan memiliki komitmen untuk terus memperkuat sistem kesehatan. Pemerintah Kota Makassar diharapkan untuk

(37)

mendukung peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. Pelayanan kesehatan dasar yang diberikan melalui Puskesmas hendaknya diimbangi dengan ketersediaan Rumah Sakit Rujukan Regional yang terjangkau dan berkualitas. Peran Pemerintah Kota Makassar sangat diharapkan dalam implementasi upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi. Antara lain melalui penguatan SDM, ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan, dan penerapan tata kelola yang baik (good governance).

Mengingat bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak konstitusional sebagaimana amanat Amandemen Kedua UUD 1945 Pasal 28 ayat (1) huruf h dan Pasal 34 ayat (4), dan mempunyai sasaran seluruh penduduk negeri tanpa terkecuali sejak konsepsi hingga lanjut usia serta sebagai penentu kualitas sumber daya manusia. Dan merujuk UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 13 dan Pasal 14 penanganan kesehatan merupakan urusan yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, maka Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus dapat memenuhi hak-hak konstitusional bagi seluruh warga masyarakatnya, dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Sesuai dengan PP No 38 Tahun 2007 maka urusan bidang kesehatan yang menjadi urusan daerah, baik Daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Penyuluhan, koordinasi, pendekatan, pembinaan, dan pengendalian merupakan sebagian dari yang menjadi urusan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Pemerintah Kota Makassar meliputi Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dinas Kesehatan sebagai

(38)

instansi penyelenggara pemerintah daerah di Bidang Kesehatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 20 Tahun 2005 Tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kota Makassar dalam daerah Kota Makassar, mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kewenangan yang dilimpahkan oleh Walikota, yaitu : merumuskan, membina, dan mengendalikan kebijakan di bidang kesehatan meliputi pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Dinas Kesehatan menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan rumusan kebijaksanaan teknis di bidang pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.

b. Penyusunan rencana dan program di bidang pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.

c. Pelaksanaan pengendalian dan penanganan teknis operasional pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat. d. Pemberian perizinan dan pelayanan umum di bidang kesehatan meliputi

pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan dan peran serta masyarakat.

(39)

e. Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai dengan bidang dan fungsinya.

Bagan Kerangka Pikir

C. Fokus Penelitian

Pentingnya fokus penelitian dalam kualitatif adalah untuk membatasi studi dan bidang kajian penelitian. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum (Sugiyono,

Faktor Mempengaruhi  Sarana & Prasarana  SDM  Partisipasi Masyarakat Peran Pemerintah  Penyuluhan  Koordinasi  Pendekatan  Pembinaan  Pengendalian n Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak  Menurunnya Angka Kematian Ibu  Menurunnya Angka Kematian Anak  Menurunnya Angka Gizi Buruk

(40)

2006). Tanpa adanya fokus penelitian, maka penelitian akan terjebak pada melimpahnya volume data yang diperolehnya di lapangan. Karena itu, fokus penelitian memiliki peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan jalannya penelitian.

Melalui fokus penelitian ini, suatu informasi di lapangan dapat dipilah-pilah sesuai dengan konteks permasalahan. Sehingga rumusan masalah dan fokus penelitian saling berkaitan karena permasalahan penelitian dijadikan acuan penentuan fokus penelitian saling berkaitan karena permasalahan penelitian dijadikan acuan penentuan fokus penelitian, meskipun fokus dapat berubah dan berkurang sesuai dengan data yang ditentukan di lapangan. Penelitian ini lokus pada Dinas Kesehatan Kota Makassar sebagai instansi penyelenggara pemerintah daerah di bidang kesehatan dengan fokus penelitian pada penyuluhan, koordinasi, pendekatan, pembinaan, dan pengendalian terkait Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Makassar.

D. Deskripsi Fokus Penelitian 1. Peran Pemerintah

Pemerintah Kota memiliki peran dalam meningkatkan kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak sehingga tercipta masyarakat yang sehat, adapun peran pemerintah yang dimaksud yaitu:

a. Memberikan penyuluhan terhadap masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Mensosialisasikan seluruh program kesehatan terkait dengan meningkatkan status kesehatan ibu dan anak seperti

(41)

program dua anak lebih baik, program menyelamatkan 1000 hari kehidupan, dll.

b. Mengadakan koordinasi dengan semua unsur terkait.

Koordinasi dengan semua unsur terkait dilakukan dengan cara pendekatan, konsultasi, mencari informasi, dan kerjasama dengan semua pihak. Berkoordinasi dengan Kecamatan, Kelurahan, Rumah sakit, dan Puskesmas dalam upaya meningkatkan status kesehatan ibu dan anak. Bentuk koordinasinya melalui membangun pemahaman mengenai sejumlah program yang telah dilaksanakan, seperti pembebasan biaya persalinan.

c. Mengadakan pendekatan terhadap masyarakat

Pendekatan terhadap masyarakat dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

1) Pendekatan perorangan dengan mendatangi setiap rumah penduduk sehingga dapat memberikan informasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

2) Pendekatan kelompok dengan mendatangi beberapa kelompok masyarakat seperti Kader Posyandu dan Tokoh pemuda.

3) Pendekatan massa dengan mengumpulkan masyarakat yang bertujuan sehingga tercipta rasa emosional antara pemerintah dan masyarakat.

(42)

d. Mengadakan pembinaan terhadap semua unsur terkait.

1) Dengan cara meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gizi, ibu dan anak, serta pengaruhnya terhadap peningkatan status kesehatan ibu dan anak di masyarakat.

2) Bagaimana masyarakat bisa memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah mendasar yang berdampak terhadap masalah kesehatan ibu dan anak. Serta melakukan pelatihan APN, PONED, PONEK, manajemen asfiksia, dan manajemen puskesmas dalam rangka meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

3) Adanya praktek langsung dari masyarakat dalam menjaga kesehatan dan praktek langsung dari masyarakat dalam menyukseskan program pemerintah dalam peningkatan status kesehatan ibu dan anak seperti mengikuti program KB, Imunisasi, dll.

4) Melakukan pembinaan terhadap puskesmas mengenai Pembenahan manajemen fasilitas kesehatan, Pembenahan standar pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, Pembenahan kepatuhan pelaksanaan pelayanan sesuai dengan SOP, Pembenahan sarana dan prasarana sesuai dengan standar, Kalibrasi alat kesehatan / laboratorium serta melakukan perawatan secara berkala.

(43)

e. Pengendalian

Pengendalian lapangan dapat dilakukan dengan cara melakukan segala upaya pencegahan yang dapat menjaga kondisi masyarakat supaya tetap sehat. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pengawasan secara berkala ke Rumah Sakit dan Puskesmas terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang sesuai dengan standar serta mengawasi pelaksanaan sistem rujukan.

2. Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak

Peningkatan status kesehatan ibu dan anak yang dimaksud adalah pembangunan kesehatan yang diarahkan untuk perbaikan kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada ibu dan anak yang lebih baik agar dapat melindungi masyarakat dari segala kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan gangguan atau bahaya kesehatan sehingga menurunnya angka kematian ibu, menurunnya angka kematian anak, dan menurunnya angka gizi buruk.

Angka Kematian Ibu (AKI) mengacu kepada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Angka Kematian Anak (AKA) mengacu pada jumlah kematian anak yang terkait masalah neonatal (asfiksia, BBLR, infeksi, dan lain-lain).

Dalam meningkatkan kesehatan ibu, jelas bahwa sangat besar peran serta pemerintah kota Makassar. Pemerintah kota dapat memberikan distribusi

(44)

kepada masyarakat akan pentingnya kesadaran dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar. Keterlibatan tenaga kesehatan seperti, dokter layanan primer (dokter umum), dokter spesialis (ahli kandungan), dan bidan terutama.

Usaha Kesehatan Ibu dan Anak yang bergerak dalam pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit, penanggulangan, dan peningkatan kesehatan penting sekali untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di Kota Makassar. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak bagian dari indikator peningkatan status Kesehatan Ibu dan Anak dikarenakan masih tingginya Angka Kematian dan Kesakitan Ibu serta Angka Kematian Bayi yang merupakan indikator kesehatan umum dan kesejahteraan masyarakat.

Upaya mewujudkan peningkatan status kesehatan ibu dan anak tidak hanya dilakukan dengan perbaikan pelayanan di bidang kesehatan, melainkan yang tidak kalah pentingnya adalah upaya meningkatkan perbaikan gizi masyarakat. Pemenuhan kebutuhan gizi dilakukan melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perilaku sadar gizi, aktifitas gizi, meningkatkan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi, serta meningkatkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi.

Peran serta pemerintah di dalam pemenuhan kebutuhan gizi dilakukan dengan cara meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status kesehatan ibu dan anak di masyarakat, sehingga masyarakat dapat memahami yang dimaksud dengan gizi seimbang, selain itu juga pemerintah bertanggung

(45)

jawab dalam angka kecukupan gizi, standar pelayanan gizi, dan standar tenaga gizi pada berbagai tingkat pelayanan.

3. Faktor-faktor yang berpengaruh

Dari beberapa peran yang dilaksanakan pemerintah, terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan status kesehatan ibu dan anak.

a. Sumber Daya Manusia (tenaga ahli), Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga kesehatan terampil sangat diperlukan untuk memastikan ibu lahir selamat dan bayi sehat. Perlunya komitmen yang tegas dari semua pihak mulai dari disiplin petugas kesehatan sebagai lini terdepan.

b. Sarana dan prasarana kesehatan yang harus disediakan, khususnya Rumah Sakit, Puskesmas, Posyandu, Pustu, dan Puskesmas Keliling. c. Partisipasi masyarakat dalam usaha-usaha yang menunjang berhasilnya

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam wilayah Pemerintah Kota Makassar dan yang menjadi titik fokus yaitu Dinas Kesehatan Kota Makassar. Lokasi penelitian ini dipilih dikarenakan Dinas Kesehatan merupakan instansi penyelenggara pemerintah daerah di Bidang Kesehatan yang berwenang merumuskan dan mengendalikan kebijakan di bidang kesehatan meliputi pelayanan kesehatan, pembinaan rumah sakit dan puskesmas, pemberantasan dan pencegahan penyakit. Waktu penelitian dilaksanakan kurang lebih 2 bulan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-November 2014.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian studi kasus yaitu dimana obyek/masalah yang dipilih dan diamati, kemudian dianalisis secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan yang terintegritas dengan tujuan akan memperoleh informasi dari sejumlah informan yang dianggap dapat mewakili populasi.

2. Tipe Penelitian

Tipe Penelitian adalah deskriptif-kualitatif bertujuan untuk memberikan gambaran atau penjelasan tentang Peran Pemerintah Daerah dalam Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Makassar. Disamping itu, menggambarkan dan menganalisis Faktor-Faktor Yang

(47)

Mempengaruhi Peran Pemerintah dalam Peningkatan Status Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Makassar.

C. Sumber Data

Data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data langsung yang diperoleh dari informan penelitian melalui hasil wawancara dari informan serta hasil observasi. Sementara data sekunder merupakan data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang memiliki keterkaitan dengan masalah dalam penelitian ini seperti literatur, jurnal ilmiah, koran, dan majalah yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Penelitian kepustakaan (library research), yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengkaji berbagai informasi dan data melalui tulisan-tulisan ilmiah, seperti buku-buku, makalah, dan yang lainnya yang mempunyai relevansi dengan masalah yang dikaji / diteliti.

2. Penelitian lapangan (field research) yaitu metode pengumpulan data secara langsung pada obyek yang diteliti. Untuk memperoleh data lapangan dalam penelitian ini, digunakan teknik observasi, wawancara, dan penelusuran dokumen :

a. Observasi yaitu mengamati langsung ke obyek penelitian untuk mendengar dan melihat langsung berbagai peristiwa yang terjadi pada obyek tersebut.

(48)

b. Wawancara (interview) digunakan untuk pengumpulan data dan informasi melalui wawancara langsung dengan informan.

c. Dokumentasi, yaitu dokumen yang didapat dari berbagai macam sumber, tidak hanya dokumen resmi bisa juga melalui internet dan siaran televisi. D. Informan Penelitian

Pemilihan informan dalam penelitian ini digunakan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa informan terpilih mempunyai pemahaman yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian guna memperoleh data dan informasi yang lebih akurat. Informan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

No. Informan/Jabatan Jumlah

1 Bidang Bina Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Makassar

1 orang

2 Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Makassar

1 orang

3 Bidang Bina Pengembangan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Makassar

1 orang

4 Bidan Puskesmas di Kota Makassar 3 orang

5 Masyarakat Kota Makassar yang Memiliki Balita 3 orang

Jumlah 9 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data diawali dengan pengurusan surat izin dari program studi. Setelah mendapatkan surat izin selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan dengan metode :

(49)

1. Observasi yaitu mengamati langsung ke obyek penelitian untuk mendengar dan melihat langsung berbagai peristiwa yang terjadi pada obyek tersebut. Pengamatan langsung terhadap objek kajian yang sedang berlangsung untuk memperoleh keterangan dan informasi sebagai data yang akurat tentang hal-hal yang diteliti serta untuk mengetahui relevansi antara jawaban informan dengan kenyataan yang ada, dengan melakukan pengamatan langsung yang ada di lapangan yang erat kaitannya dengan objek penelitian.

2. Wawancara yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab langsung pada pegawai pemerintahan dan masyarakat untuk mendapatkan dukungan informasi. Teknik pengumpulan data yang dimaksudkan untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui dialog langsung antara peneliti dengan para informan. Wawancara dilakukan dengan secara mendalam dan terbuka. Data yang diperoleh terdiri dari kutipan langsung dari informan tentang pengalaman, pendapat, pengetahuannya, dan gagasan yang berkaitan erat dengan penelitian ini. 3. Dokumentasi yaitu dengan cara mengumpulkan data melalui catatan yang

telah didokumentasi oleh instansi atau lembaga yang terkait dengan penelitian ini. Dokumen dapat diperoleh dari berbagai sumber, tidak hanya dokumen resmi bisa juga melalui internet dan siaran tv. Dokumen dapat dikatakan dokumen primer, jika dokumen ini ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa. Dan dokumen sekunder, jika peristiwa dilaporkan oleh orang lain yang selanjutnya didokumentasi oleh peneliti.

(50)

F. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan analisis data dalam metode penelitian dengan menjawab rumusan masalah maka dengan menggunakan analisis data deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono (2009:366), penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpulkan sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Dengan kata lain tujuan penelitian deskriptif secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat daerah tertentu. Pedoman pada jenis penelitian deskriptif, dimana data terkumpul dengan tekhnik wawancara dan dokumenter kemudian proses selanjutnya adalah penyederhanaan melalui beberapa proses, baik pencatatan, pengetikan, penyuntingan agar mudah dibaca dan dipahami serta upaya mencari jawaban atas permasalahan yang dirumuskan. Setelah dilakukan pengumpulan data yang diperoleh dengan menggunakan teknik kualitatif dengan menggunakan data yang tersedia.

Analisis data tersebut menunjukkan pada petunjuk makna, deskripsi dan penempatan data pada konteksnya masing-masing serta seringkali melukiskan kata-kata dalam bentuk yang sederhana.

G. Pengabsahan Data

Menurut Sugiyono (2009:366), teknik pengumpulan data triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Menurut Sugiyono (2009:368), ada 3 macam triangulasi yaitu :

Referensi

Dokumen terkait

Korelasi yang lemah antara curah hujan dan ketinggian muka air di stasiun lebung Suak Buayo (stasiun 3) diduga disebabkan Suak Buayo merupakan lebung yang memiliki

Dengan demikian strategi yang tepat bagi pembangunan kehutanan di Pegunungan Arfak haruslah berangkat dari kekayaan sosial budaya dan kearifan lokal dalam menjaga, memanfaatkan dan

Berdasarkan hasil analisis antara fakta dan teori diatas tersebut dapat disimpulkan campuran mahkota dewa, jinten hitam dan kunyit putih mampu mengontrol faktor

Dari 30 % pasien dengan pengetahuan dan perilaku diet kurang, di akibatkan informasi mengenai diet DM kurang begitu jelas serta kejenuhan pasien terhadap makanan

Menurut peneliti adanya hubungan antara pengetahuan dengan sikap yangdalam hal ini adalah sikap pemenuhan nutrisi ibu post partum, menunjukkan bahwa pengetahuan

Sedangkan dalam model Make a Match juga terdapat sintak yang mengatakan bahwa guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa.. Dalam dua model tersebut sudah terdapat

Pada Hari ini, Jum’at tanggal Delapan bulan Februari tahun Dua Ribu Tiga Belas,. bertempat di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara,

Leok II, Kec.Biau - Buol pada Tahun Anggaran 2013 akan melaksanakan Pengadaan dengan Pekerjaan sebagai berikut